• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIFITAS GLISEROL MONOSTEARAT TERHADAP MUTU DONAT LABU KUNING.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "EFEKTIFITAS GLISEROL MONOSTEARAT TERHADAP MUTU DONAT LABU KUNING."

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Oleh :

Roseria Anggiarini Lestari

NPM . 0333010021

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”JAWA TIMUR SURABAYA

▸ Baca selengkapnya: laporan pembuatan donat kentang pdf

(2)

DAFTAR ISI ……….

DAFTAR TABEL ……….

DAFTAR GAMBAR ……...……….

DAFTAR LAMPIRAN ....…...……….

INTISARI ………..………....

BAB I. PENDAHULUAN ………

A. Latar Belakang ………...

B. Tujuan ……….

C. Manfaat ………...

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ……….

A. Roti ……...………...………...

B. Bahan Utama pembuat donat .………...

1. Tepung Terigu ………..

2. Labu kuning………. ………

3. Gliserol Monostearat (GMS) ...

4. Air ...

5. Yeast (Ragi Roti) ………..

C. Bahan tambahan pembuatan donat………...………..

(3)

Finansial..………..

1. Break Even Point (BEP) (Pujawan,

2003)…………..……..

2. Net Present Value (NPV) (Pujawan,

2003)………

3. Internal Rate Of Return (IRR) (Pujawan,

2003)…………....

4. Payback Periode (PP) (Pujawan,

2003)………

5. Gross Benefit Cost Ratio(GrossB/C Ratio)

(Pujawan,2003)……….………

….

G Landasan Teori

………...………....

H. Hipotesa..………..

BAB III. BAHAN DAN METODE..

……..………...

A. Waktu dan Tempat Penelitian

………..………...

B. Bahan yang

Digunakan………..………..…………..

C. Peralatan yang

Digunakan...……….……….

D. Metode Penelitian ………....

1. Rancangan percobaan...………...

2. Peubah penelitian…..………

E. Parameter yang Diamati….………...…………

(4)

B. Hasil Analisa Produk Donat Labu kuning ...……….….…….

1. Kadar Air...……….………...

2. Kadar Protein...………..………....

3. Volume Pengembangan ...

4. Tekstur (Pnetrometer) ………..

C. Uji Organoleptik ..…………...………...

1. Uji Kesukaan Rasa.………..……….….………

2. Uji Kesukaan Warna ………..………

3. Uji Kesukaan Tekstur...…………...……….………..

D. Analisis Keputusan ………..……….……….….

E. Analisis Finansial ………...………

1. Kapasitas Produksi ……….……..

2. Biaya Produksi ……….

3. Harga Pokok Produksi ……….…….

4. Harga Jual Produksi ………..

5. Break Even Point (BEP) ………..

6. Net Present Value (NPV) ……….

7. Gross Benefit Cost Ratio (Gross B/C Ratio) ………

8. Internal Rate Of Return (IRR)………

9. Payback Periode (PP) ……….…..

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ………..

(5)

Tabel 2.

Komposisi kimia labu kuning per 100 gram bahan...

Daftar komposisi ragi roti per 100 gram bahan ….………..

Daftar komposisi gula per 100 gram bahan ...

Daftar komposisi susu skim per 100 gram bahan …………

Hasil analisa bahan baku ...

Rerata kadar air donat dari perlakuan substitusi labu

kuning dan penambahan gliserol monostearat...

Rerata kadar protein donat dari perlakuan substitusi labu

kuning………

Nilai rata-rata kadar protein donat dari perlakuan

penambahan gliseol monostearat………...

Rerata volume pengembangan donat dari perlakuan

substitusi labu kuning dan penambahan gliserol

monostearat………..

Rerata kekerasan donat dari perlakuan substitusi labu

kuning dan penambahan gliserol monostearat...

Nilai rata-rata uji organoleptik terhadap tingkat kesukaan

rasa dari perlakuan substitusi tepung terigu : labu kuning

dan penambahan gliserol monostearat ...

Nilai rata-rata uji organoleptik warna donat dari perlakuan

substitusi tepung terigu : labu kuning dan penambahan

gliserol monostearat ...

Nilai rata-rata uji organoleptik tekstur donat dari perlakuan

subsitusi tepung terigu : labu kuning dan penambahan

gliserol monostearat ...

Data Hasil Analisis Donat labu kuning ………….………..

(6)

Gambar 1.

Struktur kimia gliserol monostearat (GMS) ...…

Pembuatan donat Metode Adonan Langsung Cepat

(Straight dought) ………..………

Diagram Alir Proses Pembuatan Donat

(Tepung Terigu : Labu Kuning) dengan metode sponge

and dough ……….

Hubungan antara substitusi labu kuning dan penambahan

gliserol monostearat terhadap kadar air donat...………….

Hubungan antara substitusi labu kuning dan penambahan

gliserol monostearat terhadap volume pengembangan

donat……….

Hubungan antara substitusi labu kuning dan penambahan

gliserol monostearat terhadap tekstur donat………...

Diagram alir penelitian...

Grafik Break Event Point (BEP)...

(7)

Lampiran 2.

Lembar Kuisioner Organoleptik ……...………..

Data Hasil Pengamatan dan Analisis Ragam Kadar Air

Donat Labu Kuning ...……….………...

Data Hasil Pengamatan dan Analisis Ragam Kadar

Protein Donat Labu Kuning...………..………...

Data Hasil Pengamatan dan Analisis Ragam Kadar

Volume Pengembangan Roti Tawar Bekatul ...……..

Data Hasil Pengamatan dan Analisis Ragam Kadar

Tekstur (Pnetrometer) Donat Labu Kuning ...…..…...

Data hasil uji organoleptik Rasa Dengan Uji scoring

donat labu kuning ...

Data hasil uji organoleptik warna dengan uji scoring

donat labu kuning ...

Data hasil uji organoleptik Tekstur dengan uji scoring

donat labu kuning...

Analisis finansial produk donat dari labu kuning …….

Penghitungan Modal Produksi Perusahaan

Perkiraan Biaya Produksi Perusahaan Tiap Tahun

Perhitungan Keuntungan Produksi Donat Labu Kuning

Perhitungan Payback Period dan Break Event Point

Produksi Donat Labu kuning...

Grafik Break Event Point (BEP)

Laju Pengembalian Modal...

Laporan Rugi Laba Selama Umur Ekonomis Proyek

(5 tahun)……….

(8)

EFEKTIFITAS GLISEROL MONOSTEARAT TERHADAP MUTU DONAT LABU KUNING

Roseria Anggiarini Lestari NPM. 0333010021

INTISARI

Donat didefinisikan sebagai produk yang diperoleh dari adonan tepung terigu yang diragikan dengan ragi roti dan digoreng. Tepung terigu merupakan bahan dasar dari pembuatan donat. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap tepung terigu dan menambah kandungan serat serta penganekaragaman pangan perlu penggantian sebagian tepung terigu dengan bahan lainnya, misalnya labu kuning. Permasalahan yang timbul dalam pembuatan donat dari bahan baku tepung campuran (tepung terigu dan labu kuning kukus) adalah tekstur roti yang keras dan kurang mengembang sehingga perlu penambahan Gliserol Monostearat yang berfungsi untuk menguatkan kerja gluten dan pati dalam menangkap karbondioksida (CO2)..

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sustitusi labu kuning dan penambahan gliserol monostearat terhadap sifat fisik, kimia dan organoleptik donat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor dengan 3 kali ulangan, faktor I adalah sustitusi labu kuning kuning (10%; 20%; 30%) dan faktor II adalah penambahan gliserol monostearat (1; 2; 3 % bb).

(9)

A. Latar Belakang

Roti sudah dikenal sebagai makanan sehari-hari terutama golongan

masyarakat umum. Hal ini dapat dibuktikan dengan semakin banyaknya berdiri

industri roti baik dalam skala rumah tangga maupun industri menengah (Marleen,

2002).

Bahan utama dalam pembuatan roti adalah tepung terigu. Tepung ini

mempunyai sifat yang unik apabila dibasahi dengan air dan diperlakukan secara

mekanis, yaitu membentuk adonan yang mudah direntangkan dan bersifat elastis.

Hal ini terjadi karena adanya gluten yang merupakan penyusun terbesar tepung

terigu. Gluten tersusun atas gliadin dan glutenin yang mempunyai fungsi menahan

gas pada proses pembuatan roti yang berpengaruh terhadap kualitas roti yang

dihasilkan (volume pengembangan dan tekstur). Tepung terigu saat ini masih

diimport dari luar negeri. Salah satu cara untuk mengurangi kebutuhan tepung

terigu pada pembuatan donat yaitu dengan mengganti sebagian dari tepung terigu

dengan bahan local misalkan dengan labu kuning.

Labu kuning merupakan sumber pro vitamin A yang potensial, termasuk

dalam jenis tanaman sayuran yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai jenis

makanan seperti donat, dodol, kolak, manisan dan sebagainya.

Labu kuning (waluh) mempunyai kandungan gizi yang lengkap seperti

(10)

labu kuning sangat tinggi yaitu sebesar 180,00 SI, karena kandungan karotennya

tinggi dengan kandungan gizi yang lengkap, labu kuning dapat menjadi olahan

pangan yang kaya gizi dan harganya pun terjangkau oleh masyarakat.

(Sudarto,1996).

Selama ini produk olahan labu kuning masih terbatas. Salah satu produk

olahan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan adalah donat labu

kuning. Pengolahan labu kuning menjadi donat merupakan salah satu alternatif

untuk meningkatkan nilai ekonomis dari labu kuning tersebut, selain itu juga

untuk penganekaragaman produk olahan labu kuning.

Pada pembuatan donat yang perlu mendapatkan perhatian adalah

keseimbangan antara kemampuan menghasilkan gas dan kemampuan untuk

menahan gas selama fermentasi. Parameter yang digunakan untuk penentu

kualitas donat adalah volume pengembangan, warna kulit dan flavor yang

dihasilkan. Penurunan kualitas donat dapat mengakibatkan perubahan respon

sensoris, sehingga tingkat penerimaan konsumen terhadap produk tersebut

menurun.

Dari beberapa hasil penelitian, pada pembuatan roti dengan substitusi

tepung selain tepung terigu perlu penambahan surfactant seperti gliserol

monostearat (GMS) sehingga dapat meningkatkan kualitas roti tersebut

(Hasenhueld, 1999).

Hasil penelitian Suparti (1992), menunjukkan bahwa penggunaan GMS

1% pada pembuatan roti dari campuran tepung jagung dan tepung sorghum, dapat

(11)

sebagai bahan pengembang dengan konsentrasi 1-3%. Hal tersebut juga ditunjang

oleh hasil penelitian Mudjisihono (1993), GMS dengan konsentrasi 1% ternyata

dapat meningkatkan volume pengembangan roti per satuan massa lebih dari

100%.

Hasil penelitian Hidayat (2006), menunjukkan bahwa penggunaan GMS

4% pada pembuatan roti dengan substitusi tepung tapioka 10% dapat

(12)

B. Tujuan

1. Mengkaji pengaruh substitusi labu kuning dan penambahan GMS

(Gliserol monostearat) terhadap kualitas donat.

2. Menentukan kombinasi perlakuan terbaik antara substitusi labu kuning dan

GMS (Gliserol monostearat) sehingga dihasilkan donat dengan kualitas

yang baik dan disukai oleh konsumen.

C. Manfaat

1. Dapat meningkatkan nilai ekonomis labu kuning.

2. Penganekaragaman produk donat yaitu dengan substitusi labu kuning.

3. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang metode pembuatan

(13)

A. Roti

Roti merupakan salah satu produk yang mampu membentuk adonan, yang

sebagian besar volume rotinya tersusun dari gelembung-gelembung gas. Roti

dibuat dari bahan tepung terigu, air, shortening, gula, dan yeast melalui tahap

pembentukan adonan, fermentasi dan pemanggangan. Adonan roti dapat

mengembang karena timbulnya gas karbondioksida sebagai hasil fermentasi gula

oleh yeast (Marleen, 2002)

Produk roti terdiri atas gas sebagai fase diskontinyu dan zat padat sebagai

fase kontinyu. Oleh karena itu yang perlu diperhatikan dalam pembuatan roti

adalah keseimbangan antara pembentukan dan kemampuan menahan gas. (Matz,

1972). Menurut Sultan (1981), pembentukan gas terjadi pada saat fermentasi,

sedangkan penahanan gas disebabkan oleh gluten yang merupakan substansi yang

ulet, elastis dan mudah direnggangkan apabila tepung terigu dicampur dengan air.

Roti jenis ini mempunyai standart dan peraturan dengan formulasi tertentu.

Beberapa Negara, roti hanya dibuat dari gandum. Selain gandum, jenis serealia

seperti barley, beras, jagung, oats dan sorghum dapat ditambahkan dengan

formula tertentu. (Bushuk and Rasper, 1996). Menurut Kent (1975), roti dengan

kualitas baik mempunyai karakteristik volume yang besar, penampakan bentuk,

(14)

Donat merupakan roti bundar yang berlubang di tengahnya dan sebenarnya

donat adalah adonan roti yang digoreng. Setelah bahan dicampur, difermentasi

dan dicetak, kemudian digoreng. Bentuk donat juga tidak harus bundar dan

berlubang di tengahnya. Adonannya bisa dimodifikasi dalam berbagai bentuk

sebelum digoreng misalnya : bentuk kepang, pilin, bulat dan lain-lain

(Anonymous, 2008).

Adonannya juga bisa diperkaya dengan berbagai bahan jadi tidak terigu saja tetapi

bisa juga dari kentang, ubi, singkong, dan juga labu kuning.

Secara garis besar ada 3 jenis formula adonan roti yaitu:

1. Metode Adonan Langsung (Straight Dough).

Metode ini merupakan salah satu proses langkah tunggal yaitu semua

bahan dicampur secara bersamaan dalam suatu campuran tunggal. Pencampuran

dilakukan sampai masa adonan mencapai kehalusan dan kenampakan yang

dikehendaki dan kalis. Suhu adonan pada saat pencampuran harus diantara 78oF -

82oF. Keuntungan metode ini adalah kebutuhan tenaga pada tingkat minimum,

waktu fermentasi lebih pendek dari pada metode spon dan adonan dan adonan

langsung cepat. Kerugian metode ini adalah tidak fleksibel, memerlukan

fermentasi yang tepat, adonan masak harus segera dipanggang bila sudah siap dan

hanya sedikit yang digunakan untuk memperbaikinya sebagai akibat dari

(15)

2. Metode Spon dan Adonan (Sponge and Dough).

Metode ini terdiri dari 2 tahap yang berbeda, pertama pembentukan spon

dan kedua pengembangan adonan. Tahap pembentukan spon meliputi

pencampuran bagian bahan adonan yang mengandung kurang lebih 50-75% dari

jumlah tepung, ragi roti, malt dan air yang cukup untuk menghasilkan adonan

yang agak keras diikuti dengan fermentasi awal. Dalam tahap adonan, spon yang

difementasi diaduk kembali menjadi satu dengan bahan – bahan yang tersisa

kemudian difermentasi kedua dengan waktu yang singkat. Suhu pencampuran

yang digunakan lebih rendah dari metode adonan langsung yaitu 72oF – 78oF.

Keuntungan metode ini adalah penghematan kebutuhan ragi roti, roti

dihasilkan cenderung memiliki volume yang lebih besar dan tekstur yang lebih

baik sehingga memungkinkan mempunyai masa simpan lebih lama. Kerugian

metode ini adalah tenaga dan biaya pengolahan yang dibutuhkan lebih banyak.

3. Metode Adonan Langsung Cepat (No time Dough).

Metode ini pada intinya sama dengan kedua metode di atas tetapi tanpa

adanya fermentasi. Pembuatan adonan lebih ditekankan dengan bantuan bahan

pengembangan (Bread Improver). Keuntungan metode ini adalah waktu yang di

butuhkan sangat singkat dan produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik.

(16)

B. Bahan Utama Pembuatan Donat

1. Tepung terigu

Tepung terigu merupakan tepung yang dihasilkan dari penggilingan biji

gandum. Tepung terigu sangat dibutuhkan dalam pembuatan roti karena

mengandung protein gluten. Protein dalam tepung terigu merupakan komponen

yang penting dalam pembentukan adonan. Tepung terigu dapat membentuk

adonan yang liat dan dapat menahan gas-gas selama fermentasi dan penggorengan

sehingga dihasilkan donat yang mengembang dan ringan.

Gluten sebagian besar terdiri dari protein (75-80%), pati yang tidak tercuci

(5-15%) dan lemak (5-10%). Gluten terbentuk dari gliadin dan glutenin yang

mempunyai sifat lentur dan dapat direntangkan (Utami,1992).

Gluten terbentuk dari gliadin dari glutenin yang bereaksi dengan air,

dipercepat dengan perlakuan mekanis membentuk jaringan tiga dimensi serta

mampu memperangkap granula pati. Gluten mempunyai sifat elastis dan dapat

direntangkan (ekstansibilitas). Gliadin berperan sebagai perekat elastis dan

glutenin berperan dalam kestabilan dan keteguhan adonan (Matz,1972).

Menurut Anonym (1994) berdasarkan kandungan protein tepung terigu

dibedakan menjadi 3 golongan yaitu :

a. Hard Wheat Flour (Protein Tinggi).

Merupakan tepung terigu hasil penggilingan 100% jenis gandum keras,

mempunyai sifat gluten yang ulet dan kuat. Kandungan protein berkisar

antara 11-13% serta cocok untuk pembuatan berbagai roti beragi, hard rolls, dan

(17)

b. Medium Wheat Flour (Protein sedang).

Merupakan tepung hasil penggilingan dari campuran antara jenis gandum

keras dan lunak. Kandungan protein berkisar antara 9-11% serta cocok untuk

pembuatan pastry, cake dan mie. Di pasaran lebih dikenal dengan merk dagang

cap Gunung Bromo.

c. Soft Wheat Flour (Protein rendah).

Merupakan tepung hasil penggilingan 100% jenis gandum lunak

mempunyai sifat gluten yang kurang baik, kandungan protein berkisar antara

7-9%. Tepung ini baik untuk pembuatan cake, biskuit, dan kue kering.

Menurut Utami (1991), tepung terigu jadi mengandung unsure lain seperti

karbohidrat, lemak, abu dan serat seperti terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Daftar komposisi kimiawi tepung terigu protein tinggi dalam 100 gram.

No. Komposisi Kadar

1. Air (%) 12,34

Sumber : Samuel A. Matz (1992).

2. Labu Kuning

Menurut Kartesz (1951) dalam Astawan (2004) , labu kuning atau waluh

merupakan bahan pangan yang kaya vit A dan C, mineral, serta karbohidrat.

(18)

kanker. Labu kuning juga mengandung beberapa senyawa gula yang berupa

sukrosa, fruktosa dan glukosa.

Labu kuning dapat digunakan untuk berbagai jenis makanan dan cita

rasanya enak. Daunnya berfungsi sebagai sayur dan bijinya bermanfaat untuk

dijadikan kuaci. Air buahnya berguna sebagai penawar racun binatang berbisa,

sementara bijinya dapat mejadi obat cacing pita (Astawan ,2004).

Labu kuning mempunyai kulit yang sangat tebal dan keras, sehingga dapat

bertindak sebagai penghalang laju respirasi, keluarnya air melalui proses

penguapan, maupun masuknya udara penyebab proses oksidasi. Hal tersebut yang

menyebabkan labu kuning relatif awet di banding buah lainnya. Daya awet dapat

mencapai 6 bulan atau lebih, tergantung cara penyimpanannya, namun buah yang

telah dibelah harus segera diolah karena akan sangat rusak. Hal tersebut menjadi

kendala dalam pemanfaatan buah labu kuning pada skala rumah tangga sebab

buah labu kuning yang besar tidak dapat diolah sekaligus (Astawan, 2004).

Menurut Astawan (2004), buah labu kuning dalam olahan segar dapat

digunakan sebagai sayur, soup, atau desert. Masyarakat umumnya memanfaatkan

labu kuning yang masih muda sebagai sayuran. Labu kuning setelah dikukus

dapat dibuat aneka makanan tradisional, seperti dawet, lepet, jenang dodol dan

lain lain. Sesuai namanya labu kuning mempunyai warna kuning atau jingga

akibat kandungan karotenoidnya yang sangat tinggi. Oleh sebab itu air perasan

labu kuning biasanya digunakan sebagai pewarna alami dalam pengolahan

berbagai macam makanan tradisional. Karotenoid, dalam buah labu kuning

(19)

mata dari serangan katarak. Beta-karoten dalam buah labu kuning juga berfungsi

untu melindungi dari serangan jantung, kanker dan beberapa penyakit lainnya.

Komposisi kimia labu kuning dapat dilihat pada Tabel 2

Tabel 2. Komposisi Kimia Labu Kuning (tiap 100gr bahan segar)

No. Komponen Kadar

1 Kalori 29,00 kal

Sumber : Daftar Komposisi Bahan Makanan. Direktorat Gizi Depkes RI (1992)

Buah labu kuning yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan sayuran.

Buah labu kuning yang sudah tua dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuat

jenang, jenang dodol, kolak, manisan, agar agar dan aneka jenis cake lainnya

(Astawan, 2004).

3. Gliserol Monostearat (GMS)

Monogliserida termasuk juga gliserol monostearat adalah suatu emulsifier

buatan yang merupakan bahan surfaktan (Surfare Active Agent). Fungsi utamanya

adalah mendorong pembentukan dan mempertahankan emulsi agar tetap stabil.

Ciri khas dari emulsifier adalah adanya gugus hidrofilik dan hidrofobik yang

dapat mengikat air dan lemak menjadi satu kesatuan yang lebih stabil (Fenema,

(20)

Gliserol monostearat merupakan emulsifier buatan yang digunakan dalam

proses pengolahan dalam kategori Generally Recognized As Safe (GRAS).

Pada pembuatan roti, fungsi gliserol monostearat adalah membentuk reaksi

kompleks dengan pati, menghambat laju retrogradasi, mencegah pemecahan dan

peremahan roti (Furia, 1968).

Penambahan gliserol monostearat dapat meningkatkan volume roti goreng.

Hal ini disebabkan gliserol monostearat yang berfungsi sebagai emulsifier dan

sebagai bahan pengelat antar granula pati. Gliserol monostearat mampu

berinteraksi dengan molekul-molekul amilosa sehingga dapat menahan gas CO2

hasil dari fermentasi yeast, akibatnya adonan menjadi lebih berkembang

(Mudjisihono, 1993).

Struktur dari gliserol monostearat dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar. 1 . Struktur kimia Gliserol monostearat (Bailey’s, 1996).

Menurut Kim dan Ruiter (1968), pengaruh gliserol monostearat dapat

mencegah pengerasan dan peremahan (stalling) akibat interaksi dengan pati.

Selain itu adanya ikatan antar granula pati ini memberikan kekuatan untuk

(21)

Menurut Winarno (1986), gliserol monostearat merupakan emulsifier

buatan yang tersusun dari radikal asam stearat sebagai gugus non polar dan

mempunyai dua gugus hidroksil dari gliserol sebagai gugus polar. Adanya dua

gugus hidroksil dari gliserol sebagai gugus polar maka satu gugus hidroksil (-OH)

pada akhir rantai gliserol monostearat bereaksi dengan molekul-molekul amilosa

secara heliks. Akibat reaksi tersebut membentuk ikatan kompleks antar

molekul-molekul amilosa sehingga selama fermentasi gas CO2 dapat tertahan dan adonan

menjadi berkembang (Barley’s, 1996).

Menurut Keetels (1995), gliserol monostearat pada roti dapat

memperpanjang umur simpan (Shelf life) dan memperbaiki volume roti. Hal ini

karena gliserol monostearat bertindak sebagai conditioner pada adonan dalam dua

cara. Pertama, gliserol monstearat dapat berinteraksi dengan gluten sehingga

menghasilkan penguat jaringan gluten. Kedua, gliserol monostearat dapat

meningkatkan kestabilan sel gas dalam adonan sehingga volume roti dan tekstur

dapat tercapai.

Bagian n-alkyl pada emulsifier seperti bentuk gliserol monostearat

membentuk suatu kompleks bagian helical pati. Hal ini diduga menjadi tanggung

jawab dari gliserol monostearat yang mampu menghambat kristalisasi pati dalam

remah roti, memperlambat proses kerusakan tekstur (stalling) (Bailey’s , 1996).

4. Air

Fungsi air adalah untuk menghidrasi tepung sehingga dapat membentuk

adonan yang baik. Air berperan dalam melarutkan bahan-bahan seperti garam,

(22)

mengikat pati membentuk gel dengan adanya panas. Banyak air yang

ditambahkan dalam pembuatan adonan roti akan menentukan mutu roti yang

dihasilkan menjadi baik (Marliyati, 1992).

Menurut Sultan (1981), air berperan dalam melarutkan bahan, membantu

aktifitast, membantu pembentukan gluten, membentuk gelatinisasi pati serta

menghasilkan uap air yang membantu pengembangan adonan selama pembakaran.

5. Yeast

Ragi yang digunakan dalam pembuatan roti dari sel Saccharomyces

cereviceae. Suhu optimum fermentasi sekitar 25oC – 30oC dan suhu maksimum

35oC – 47oC. Kebanyakan khamir lebih menyukai tumbuh pada keadaan asam

pada pH 4 - 4,5. Ragi ini memfermentasikan gula dalam keadaan anaerob dengan

menghasilkan gas CO2 dan alkohol (Fardiaz, 1992).

Yeast adalah penghasil gas CO2 yang berperan dalam mengembangkan

adonan donat dan penghasil aroma pada saat proses fermentasi (Meyer, 1980).

Menurut Sultan (1981), yeast mampu menghasilkan gas karbondioksida yang

diperangkap oleh gluten dan mengakibatkan adonan roti mengembang pada saat

fermentasi.

Yeast dapat langsung dicampur dengan tepung terigu dan bahan kering

lainnya ataupun dicairkan terlebih dahulu dengan air pada suhu 40oC – 45oC

sebelum digunakan pada saat pengadonan. Yeast yang ditambahkan ke dalam

adonan memerlukan waktu adaptasi selama ± 45menit sebelum memperbanyak

(23)

Yeast mempunyai 3 fungsi dalam pembuatan roti yaitu memproduksi gas

yang mengembangkan adonan, memodifikasi reologi adonan dan memberikan

kontribusi pada flavor produk akhir. Jumlah yeast yang digunakan dalam proses

penggorengan tergantung pada komposisi adonan yang difermentasi (jumlah gula

dan panjang proses yang digunakan) (Wood, 1998). Komposisi ragi roti dapat

dilihat pada Tabel 3

Tabel 3. Daftar komposisi ragi roti per 100gr

No. Komposisi Kadar

1. Kalori (kal) 136

C. Bahan Tambahan Pembuatan Donat

1. Gula

Gula merupakan salah satu bahan utama dalam pembuatan roti, karena

dapat memenuhi beberapa fungsi antara lain substrat bagi yeast, memberikan rasa

manis, mengatur fermentasi dan pembentukan warna pada kulit roti.

Menurut Marliyati (1992), gula merupakan substat bagi yeast pada proses

fermentasi sehingga memproduksi gas CO2 pada donat atau roti. Gula yang tersisa

setelah fermentasi disebut sisa gula yang akan memberikan warna pada kulit roti

donat dan rasa pada roti donat. Warna ini merupakan hasil reaksi Browning non

enzimatis antara gula dengan protein dari tepung. Gula sangat bersifat higroskopis

(24)

ditambahkan sebaiknya gula yang bermutu tinggi dan jumlah gula yang

ditambahkan sebaiknya tidak melebihi 8% karena akan menghambat proses

fermentasi.

Menurut Kotschevar (1995), penambahan gula dalam jumlah terlalu

banyak dapat mengakibatkan sifat pengawet pada gula muncul sehingga

menurunkan aktivitas yeast. Menurut Desrosier (1988), bila kadar gula meningkat,

adonan menjadi lebih cair, maka dalam kondisi ini jumlah udara yang

terperangkap akan menjadi berkurang.

Ketaren (1986), menyatakan bahwa penambahan gula dalam roti

disamping memberikan rasa manis juga berfungsi sebagai pengempuk adonan.

Penambahan gula terlalu banyak dapat mengakibatkan adonan meleleh dan hancur

selama penggorengan, karena terbentuknya butiran keras (set form) akibat

koagulasi pati dan gluten pada tepung. Komposisi gula pasir dapat dilihat pada

Tabel 4.

Tabel 4. Daftar Komposisi gula pasir per 100gr bahan

No. Komponen Jumlah

1. Kalori (kal) 364

Sumber : Departemen Kesehatan RI (1996).

2. Susu skim

(25)

kalsium. Selain itu susu dapat memberikan efek terhadap warna yaitu sebagai

hasil reaksi browning non enzimatis antara gula dengan protein dan memperkuat

gluten karena kandungan kalsiumnya. (Marliyak , 1992).

Menurut Natalia (1990), susu digunakan untuk memberikan flavor yang

spesifik serta pembentukan kulit roti sebab susu mengandung laktosa yang tidak

dapat difermentasi oleh yeast. Selain itu, susu dapat memperbaiki nilai nutrisi roti

goreng sebab mengandung protein yang cukup tinggi (37,96%).

Komposisi kimiawi susu skim dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel. 5 . Daftar komposisi susu skim per 100gr bahan.

No. Komponen Jumlah

1. Kalori (kal) 36

Margarin adalah produk yang hampir sama dengan mentega yang dibuat

dari minyak nabati, jadi dapat berasal dari minyak kelapa, kelapa sawit, minyak

kedelai, jagung dan sebagainya .Fungsi lemak menurut Sultan (1983) adalah

memberikan rasa lemak pada produk akhir, memperbaiki kualitas bahan pada

produk, meningkatkan cita rasa, memperbaiki tekstur.

Margarin yang ditambahkan dalam pembuatan roti goreng donat ini

(26)

didukung Matz (1972), yang menyatakan lemak (margarin) digunakan untuk

mempertahankan aroma dan memperbaiki tekstur (lembut).

Menurut Sandra (2002), standart penggunaan margarin yang ditambahkan

pada pembuatan donat yaitu 5% dari berat bahan.

D. Proses Pembuatan Roti

Proses pembuatan roti secara garis besar meliputi proses pencampuran

(mixing), pengadonan, fermentasi, pencetakan dan pemanggangan.

Donat merupakan produk makanan yang dihasilkan dari proses pengadonan,

fermentasi dan pemanggangan dari tepung terigu yang ditambah air, gula, garam,

shortening dan yeast. Pengembangan volume roti donat merupakan parameter

yang penting dalam menentukan kualitas roti, sehingga proses pengadonan,

fermentasi dan pemanggangan yang menentukan berkembang tidaknya roti

tersebut. (Anonymous, 2008).

1. Pengadonan

Pengadonan merupakan pencampuran antara bahan-bahan pembuatan

donut seperti air, susu skim, gula, margarine, telur dan tepung terigu dengan

perbandingan yang tepat. Proses pengadonan, di dalamnya terkait suhu dan waktu

pengadonan. Suhu yang tepat pada saat penngadonan adalah 28oC – 30oC. Pada

suhu tersebut, yeast sebagai penghasil gas CO2 dalam keadaan optimal untuk

mencegah glukosa dan fruktosa serta gula yang terdapat dalam tepung ataupun

(27)

2. Fermentasi

Proses fermentasi sering didefinisikan sebagai proses pemecahan

karbohidrat dan asam amino secara anaerobik. Fermentasi merupakan perubahan

konvensional substrat yang dilakukan oleh mikroorganisme sel vegetatif atau

enzim dalam bahan. (Spreer,1998)

Selama fermentasi terjadi perubahan gula menjadi gas CO2 dan alkohol

sebagai berikut :

Tahap fermentasi ada dua yaitu 1). Fermentasi gula dalam tepung oleh

yeast, 2). Berkembang biaknya yeast lebih lanjut dengan adanya gula dan

menghasilkan gas CO2 dan alkohol. Suhu optimal untuk fermentasi adonan adalah

33oC – 35oC atau 41oC – 43oC dengan kelembaban relatif 80-85% serta lama

fermentasi 60 – 90 menit. Yeast membawa perubahan pada adonan selama

fermentasi, seperti penipisan substrat yang dapat difermentasi, akumulasi produk

akhir dalam bentuk alkohol, dan gas CO2.(Hui,1992)

Tepung dan yeast mengandung enzim protese dan peptidase. Enzim –

enzim tersebut aktif memecah protein dalam adonan selama fermentasi dan

membebaskan asam-asam amino. (Subarna,1992).

3. Pemanggangan

Pemanggangan roti merupakan langkah terakhir dan sangat penting dalam

memproduksi roti. Hal yang perlu diperhatikan dalam proses penggorengan

adalah mempersatukan uap air dengan gelembung udara semaksimal mungkin,

yang dapat diawasi dengan cara : 1) mengusahakan agar lemak dapat menyerap

(28)

udara dalam jumlah yang cukup besar dan 2) distribusi mentega atau lemak dalam

adonan sebaik mngkin, sehingga ruang udara dalam adonan terbentuk secara

merata. Gelembung udara dalam adonan merupakan tempat akumulasi uap air dan

gas CO2 yang dihasilkan oleh fermentasi yeast. Pada waktu adonan digoreng,

gelembung udara yang berisi uap air dan gas CO2 akan memuai dan mendesak

dinding sekitarnya. Akibatnya volume ruang udara terbentuk bertambah besar.

Makin besar jumlah gelembung udara yang diserap oleh lemak dalam adonan

maka semakin besar volume roti yang dihasilkan dan teksturnya semakin halus.

(Ketarn, 1986)

Pomeranz (1971) melaporkan bahwa pada suhu 50oC – 60oC bakteri dan

khamir mati. Pada saat suhu diatas 60oC terjadi gelatinisasi pati, koagulasi protein,

dan inaktivasi enzim. Pada suhu 100oC mulai terbentuk uap dan volume roti

mencapai maksimum.

Selama pemanggangan roti akan terjadi perubahan struktur dari adonan

dan perubahan warna pada kulit roti. Perubahan warna coklat pada kulit roti

merupakan hasil dari reaksi maillard akibat gugus asam amino primer protein dan

gula pereduksi oleh adanya panas. Gugus amino membentuk warna coklat yang

disebut melanoidin. (Winarno,1995)

(29)

Terigu (100%) Ragi roti (1% - 1,5%) Garam (1,75% - 2,5%) Gula (7,5%)

Susu

Margarin

Roti

Gambar 2. Pembuatan Roti Metode Spon dan Adonan (Sponge and Dough) (Anonymous, 2008).

Pencampuran

Fermentasi awal 30 menit (dalam wadah terutup)

Pencetakan

Fermentasi akhir 30 menit dalam (wadah terutup) Pembulatan adonan

Pengadukan adonan

Pengadukan adonan sampai halus

(30)

E. Analisis Keputusan

Keputusan adalah suatu kesimpulan dari suatu proses untuk memilih

tindakan yang terbaik dari sejumlah alternatif yang ada. Pengambilan keputusan

yaitu usaha menyeleksi dari antara alternatif-alternatif suatu arah tindakan yang

merupakan inti perencanaan.(Koontz, 1984)

Analisa keputusan pada dasarnya adalah suatu prosedur yang logis dan

kuantitatif yang tidak hanya menerangkan mengenal pengambilan keputusan,

tetapi juga merupakan suatu cara untuk membuat keputusan. (Mangkusubroto dan

listiani, 1987)

F. Analisis Finansial

Analisis kelayakan adalah analisa yang ditujukan untuk meneliti suatu

proyek layak atau tidak layak untuk proses tersebut harus di kaji, diteliti dari

beberapa aspek-aspek tertentu sehingga memenuhi syarat untuk dapat

berkembang atau tidak. (Susanto, 1994)

Analisis finansial dilakukan untuk menghitung :

1. Break Even Point (BEP) (Pujawan, 2003)

Break Even Point adalah nilai suatu parameter atau variabel yang

menyebabkan dua atau lebih alternatif sama baiknya disebut nilai titik impas.

Apabila nantinya pengambilan keputusan bisa mengestimasi besarnya nilai aktual

dari variabel nilai yang bersangkutan (lebih besar atau lebih kecil dari nilai BEP)

maka akan bisa ditentukan alternatif mana yang lebih baik. Penentuan BEP dapat

(31)

Po = ____FC___

VC

Keterangan :

Po = Produk pokok

FC = Biaya tetap

VC = Biaya tidak tetap persatuan produk (Rp)

Rumus untuk mencari titik impas adalah sebagai berikut :

a. Biaya Titik Impas

BEP = Biaya tetap

1 – (biaya tidak tetap / pendapatan)

b. Persentase

Titik Impas :

BEP (Rp)

BEP (%) = x 100 %

Pendapatan

c. Kapasitas Titik Impas

Kapasitas titik impas adalah jumlah produksi yang harus dilakukan untuk

mencapai titik impas. Rumus kapasitas titik impas adalah sebagai berikut :

Kapasitas Titik Impas = Persen Titik Impas x Pendapatan

2. Net Present Value (NPV) (Pujawan, 2003)

Net Present Value (NPV) merupakan selisih antara present value dari

benefit dan present value dari pada biaya. Rumus perhitungan NPV adalah sebagi

(32)

n

NPV = ∑ Bt – Ct t – 1 (1 + i) t

Keterangan :

Bt = Benefit sosial kotor sehubungan dengan suatu proyek pada tahun t

Ct = Biaya sosial kotor sehubungan dengan proyek pada tahun t

t = 1, 2, 3,………n

n = Umur ekonomi daripada proyek

i = Sosial discount rate

3. International Rate of Return (IRR) (Pujawan, 2003)

International Rate of Return adalah tingkat suku bunga yang menunjukkan

persamaan antara lain penerimaan bersih sekarang dengan jumlah investasi

(modal) awal dari produk yang sedang dikerjakan. IRR merupakan nilai

discount rate I yang membuat nilai NPV di proyek =0. Bila nilai IRR ≥ dari

suku bunga yang berlaku di bank maka proyek dinyatakan layak untuk

dilaksanakan.

IRR = I’ + NPV’ x ( I” – I’ )

NPV” + NPVP’

Keterangan : I’ = Tingkat suku bunga sekarang

I” = Tingkat suku bunga tahun yang akan datang

NPV’ = Net Present Value tahun yang akan datang

(33)

4. Payback Periode (PP) (Pujawan, 2003)

Payback Periode adalah jumlah periode (tahun) yang diperlukan untuk

mengembalikan (menutup) ongkos investasi awal dengan tingkat pengembalian

tertentu. Kriteria ini memberikan nilai bahwa proyek akan dipilih jika waktu

payback periode yang paling cepat.

Nilai harapan ditunjukkan pada persamaan sebagai berikut:

I PP =

Ab

Keterangan : I = Total investasi

Ab = Keuntungan bersih pertahun

5. Gross Benefit Cost Ratio (Gross B/C Ratio) (Pujawan, 2003)

Gross B/C Ratio merupakan perbandingan antara penerimaan kotor

dengan biaya kotor yang telah di present valuekan (dirupiahkan sekarang).

Σ Bt / (I + i)t Gross B/C =

Σ Ct / (I+i)t

Keterangan : Bt = Penerimaan pada tahun ke-t

Ct = Biaya pada tahun ke-t

N = Umur ekonomis proyek

(34)

H. Landasan Teori

Donat merupakan suatu produk pangan dari tepung terigu yang dibuat

melalui tahapan proses pengadonan, fermentasi, dan penggorengan. Bahan yang

memegang peranan penting dalam pembuatan donat adalah jenis protein gluten

yang terdapat dalam tepung terigu.

Proses pengulenan dan pengadonan akan terbentuk sifat elastis kohesif

dari gluten yang mengikat molekul air. Terjadinya struktur elastis kohesif di awali

dengan terjadinya ikatan hydrogen antar molekul protein tepung terigu sehingga

membentuk struktur melingkar, selain itu juga terjadi ikatan disulfida. Pada

pencampuran dengan air, protein, tepung terigu mengikat air hingga keseluruhan

adonan menjadi kalis. (Wibowo, 1992). Menurut Fance (1975), jika pengadonan

dilangsungkan terus maka akan terjadi pengenduran lebih lanjut kerena adonan

menjadi lembek dan lengket disebabkan terjadi pemutusan ikatan disulfida (-S-S-)

yang berlebihan.

Pada proses fermentasi terjadi penguraian baik pati dari tepung terigu dan

sukrosa yang ditambahkan. Enzim α dan β amylase yang secara alamiah terdapat

dalam tepung terigu akan memecah pati menjadi maltosa yang akan digunakan

dalam fermentasi yeast.(Manley, 1983). Sel-sel yeast menghasilkan enzim maltase

yang mengubah maltosa menjadi glukosa (Buckle et. Al., 1987). Sedangkan

sukrosa yang ditambahkan akan dipecah oleh yeast menjadi glukosa dan fruktosa

kemudian dipecah lagi menghasilkan gas CO2 dan etanol (Sadjoko, 1991).

Adonan donat dapat mengembang dengan baik karena adanya gas CO2

(35)

labu kuning akan berpengaruh terhadap keseimbangan pembentukan dan

penahanan gas CO2 selama fermentasi,serta mutu orgonoleptik donat yang

dihasilkan. Substitusi tepung terigu dan labu kuning menyebabkan jumlah gluten

pada adonan menjadi berkurang maka dari itu substitusi tepung terigu dan labu

kuning kukus tanpa bahan surfactant seperti gliserol monostearat berakibat

kurang mengembangnya volume roti tersebut. Hal ini disebabkan gliserol

monostearat mempunyai dua gugus yaitu gugus polar dan gugus non polar,

sedangkan gugus polar berinteraksi dengan fraksi amilosa membentuk ikatan

kompleks dan matriks(film) sehingga dapat membantu kerja gluten dalam

memperangkap gas CO2 hasil fermentasi, sedangkan gugus non polar juga

berinteraksi dengan amilopektin yaitu pada pemanasan pati lebih lanjut

mengakibatkan pelarutan. Molekul-molekul amilosa menjadi terlarut berbentuk

puntiran-puntiran. Atom-atom hydrogen dan oksigen mengarah ke dalam,

sehingga bagian dalam puntiran bersifat hidrofobik. Bagian tersebut dapat

merangkap gugus hidrofobik senyawa lain seperti gliserol monostearat

(Bailley’s,1996).

Akibat reaksi tersebut membentuk ikatan antar molekul-molekul amilosa

sehingga selama fermentasi gas CO2 dapat tertahan dan adonan menjadi

mengembang. (Mudjisihono,1993)

Penggorengan merupakan tahap akhir untuk menentukan kualitas roti yang

diinginkan. Pada proses penggorengan, terjadi pembebasan gas CO2 karena

kenaikan suhu sampai 48.9oC. Gas yang dibebaskan ini ditahan oleh gluten

(36)

naiknya suhu adonan sampai 60oC terjadi kenaikan aktifitas metabolisme di dalam

sel khamir,meningkat sampai titik kematian thermal khamir. Aktivitas amylase

juga bertambah oleh kenaikan suhu, membantu reaksi produk dan akhirnya system

enzim menjadi rusak. Mendekati suhu 73,3oC alcohol yang dihasilkan selama

fermentasi juga dibebaskan dan membantu pengembangan tambahan dari sel gas.

Pertama, granula pati bertambah ukurannya dan menjadi lebih terikat di dalam

gluten. Kedua, air yang diperlukan oleh pati diambil dari struktur gluten selain

terjadi gelatinisasi pati, jaringan gluten mulai mengalami denaturasi. Sedang

penggorengan permukaan menyebabkan pencairan gluten selanjutnya

penggorengan yang diteruskan menyebabkan pelepasan air dari gluten dan

memindahkannya kedalam sistem pati. Karena penggorengan berlangsung terus,

kenaikan tekanan hasil pengembangan gas dalam adonan yang digoreng berubah

pelan-pelan dan dimantapkan perlahan kulit berkembang menjadi warna coklat

keemasan akibat proses pencoklatan (reaksi maillard), disertai aroma dan tekstur

(37)

I. Hipotesis

Diduga terdapat interaksi yang nyata antara substitusi labu kuning

kukus dan penambahan gliserol monostearat (GMS) terhadap kualitas

(38)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Pengolahan

Pangan, Analisa Pangan dan Uji Inderawi Progdi Teknologi Pangan Fakultas

Teknologi Industri UPN “Veteran” Jawa Timur dan Universitas Muhammadiyah

Malang. Mulai bulan Oktober 2010 sampai Maret 2011.

B. Bahan

Bahan baku yang digunakan untuk pembuatan donat adalah labu kuning

dan tepung terigu protein tinggi yang diperoleh dari Pasar tradisional, sedangkan

bahan penunjang yang digunakan adalah gliserol monostearat (GMS), air, ragi

roti, gula, susu skim, dan margarin yang diperoleh dari toko bahan kimia di

Surabaya..

Bahan kimia untuk analisa meliputi: Aquades, NaOH 50%, K2 SO4 4%,

HCl 0,1N, NaOH 1 N, Etanol 95%, indikator metal merah, petroleum eter (PE),

potassium dikromat.

C. Alat

Alat yang digunakan untuk proses pengolahan adalah mixer roti (Bosh)

(39)

Alat yang digunakan untuk analisa meliputi : pengaduk, timbangan analitik, gelas

ukur, buret, erlenmeyer, labu kjeldahl, labu soxhlet, penggaris dan kertas bersih.

D. Metode Penelitian

1. Rancangan Percobaan

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap

(RAL) pada faktorial dengan 2 faktor dan diulangi sebanyak 3 kali, selanjutnya

dianalisis ragam untuk mengetahui adanya perbedaan diantara dua perlakuan

maka dilanjutkan dengan uji Duncan (DMRT).

Faktor I : Substitusi labu kuning kukus terhadap tepung terigu (% b/b)

A1 : 10%

A2 : 20%

A3 : 30%

Faktor II : Penambahan gliserol monostearat (% b/b)

B1 : 1%

B2 : 2%

S3 : 3%

Kombinasi dari kedua faktor diatas akan menghasilkan kombinasi

perlakuan sebagai berikut :

B1 B2 B3

A1 A1B1 A1B2 A1B3

A2 A2B1 A2B2 A2B3

(40)

Dari dua faktor diatas, maka akan didapat 9 kombinasi perlakuan

A1B1 = Substitusi labu kuning 10% dengan penambahan Gliserol Monostearat (GMS) 1%

A1B2 = Substitusi labu kuning 10% dengan penambahan Gliserol Monostearat (GMS) 2%

A1B3 = Substitusi labu kuning 10% dengan penambahan Gliserol Monostearat (GMS) 3%

A2B1 = Substitusi labu kuning 20% dengan penambahan Gliserol Monostearat (GMS) 1%

A2B2 = Substitusi labu kuning 20% dengan penambahan Gliserol Monostearat (GMS) 2%

A2B3 = Substitusi labu kuning 20% dengan penambahan Gliserol Monostearat (GMS) 3%

A3B1 = Substitusi labu kuning 30% dengan penambahan Gliserol Monostearat (GMS) 1%

A3B2 = Substitusi labu kuning 30% dengan penambahan Gliserol Monostearat (GMS) 2%

A3B3 = Substitusi labu kuning 30% dengan penambahan Gliserol Monostearat (GMS) 3%

Menurut Vincent (1999), model statistika untuk RAL pola faktorial dengan 2

faktor sebagai berikut:

Dimana:

Yijk = Nilai pengamatan pada satuan percobaan ke-k yang memperoleh

kombinasi perlakuan ij (taraf ke-i dari faktor I dan taraf ke-j dari

faktor II)

µ = Nilai tengah populasi (rata – rata yang sesungguhnya)

αi = Pengaruh aditif ke-i dari faktor I

βj = Pengaruh aditif ke-j dari faktor II

(αβ)ij = Pengaruh interaksi taraf ke-i dari faktor I dan taraf ke-j dari faktor II

ε = Pengaruh kesalahan (galat dari satuan percobaan ke-k yang

memperoleh kombinasi dari perlakuan ij)

(41)

2. Peubah Tetap Penelitian

Peubah yang digunakan dalam penelitian :

a. Total berat (tepung terigu : labu kuning kukus) = 100 gram

b. Berat gula pasir = 20 gram

c. Berat susu skim = 3 gram

d. Berat ragi/yeast = 2,2 gram

e. Berat mentega cair = 10 gram

f. Kuning telur = 1 buah

g. Volume air = 20 ml

h. Lama fermentasi I = 25 menit

i. Lama fermentasi II = 45 menit

j. Lama penggorengan = 10 menit

k. Suhu penggorengan =1800C-1900C

E. PARAMETER

1. Parameter yang diamati untuk bahan baku ( labu kuning kukus) meliputi:

a. Analisa Kadar air metode oven (Sudarmadji,dkk, 2003)

b. Analisa kadar β-karoten (AOAC, 1992)

2. Parameter yang diamati untuk produk donat labu kuning meliputi :

a. Analisa Kadar air metode oven (Sudarmadji,dkk, 2003)

b. Analisa Kadar protein metode Kjeldhal (Sudarmadji, 1997)

c. Volume pengembangan

(42)

e. Organoleptik (warna, rasa, dan tekstur)

3. Parameter yang diamati untuk produk donat labu kuning yang terbaik

meliputi :

a. Analisa kadar beta karoten (AOAC, 1992)

F. PROSEDUR PENELITIAN

2. Proses Pembuatan Roti Donat

a. Persiapan bahan

Tahap persiapan dimulai dengan penimbangan bahan-bahan antara lain tepung

terigu (90gr, 80gr, 70gr) dan labu kuning (10gr ; 20gr ; 30gr). Gliserol

monostearat (1%; 2%; 3%), gula pasir (20 gr), mentega cair (10gr), ragi roti (2,2

gr), susu (3 gr).

b. Pencampuran I

Tahap pencampuran I dilakukan untuk mencampur terlebih dahulu bahan-bahan

seperti berikut : tepung terigu, labu kuning kukus, gula pasir, ragi roti, susu.

c. Pencampuran II

Setelah pencampuran pertama dilakukan kemudian air dan mentega cair

dicampur juga dengan perlahan-lahan dalam kondisi alat pengadonan (bosh)

berputar pelan (speed one).Lalu diaduk secara homogen.

d.Pengadonan

Pengadonan dilakukan dengan kecepatan sedang (speed two) selama 30 menit

(43)

e. Fermentasi awal

Fermentasi awal dilakukan diwadah baskom selama 30 menit dengan suhu kamar

dalam kondisi wadah tertutup

f. Penimbangan dan pembentukan

Penimbangan ditujukan untuk mengetahui berat adonan setelah fermentasi awal

pembentukan yang dilakukan untuk memberikan adonan bentuk yang disukai

sehingga produk akhir dapat menarik konsumen.

g. Fermentasi akhir

Fermentasi akhir dilakukan didalam loyang selama 30 menit dengan suhu kamar

dalam kondisi tertutup.

h. Penggorengan

Penggorengan dilakukan pada suhu 150oC-190oC sampai matang. Pada

penggorengan adonan berubah warna menjadi kecoklatan.

i. Analisa produk

Roti donat yang dihasilkan dilakukan analisis terhadap rendemen, kadar air, kadar

protein, volume pengembangan, tekstur dan uji organoleptik (warna, rasa, dan

tekstur) dan beta karoten pada perlakuan yang terbaik.

(44)

substitusi labu kuning kukus Tepung terigu Pencampuran / pengadukan adonan menggunakan alat pengadonan (bosh) selama

20 menit

Fermentasi awal (suhu kamar, selama 30 menit) dalam baskom tertutup

Penimbangan danpencetakan

Fermentasi akhir (suhu kamar, selama 30 menit) dalam loyang tertutup

(45)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Analisa Bahan Baku

Pada penelitian pembuatan donat dengan subtitusi labu kuning dan

penambahan gliserol monostearat, dilakukan analisis bahan baku terhadap labu

kuning dan gliserol monostearat. Hasil analisis bahan baku dapat dilihat pada

Tabel 6.

Tabel 6. Hasil Analisa bahan baku

No. Komposisi Labu kuning Labu kuning

kukus

1 kadar air 90,795 (%) 88,88 (%)

2 kadar pati 6,20 (%) 5,41 (%)

3 B.karotein 18,797 (mg/100gr) 18,363 (mg/100gr)

Dari Tabel 6 diatas dapat diketahui komposisi labu kuning menurut

Anonimous (1992), tidak berbeda jauh dengan hasil.

Menurut Anonymous (1992), labu kuning mempunyai kadar air 91,20%

dan kadar pati 6,6%, sedangkan menurut hasil penelitian labu kuning mempunyai

(46)

B. Kadar Air

Berdasarkan analisis ragam (Lampiran 3) menunjukkan bahwa perlakuan

subtitusi labu kuning dan penambahan gliserol monostearat terdapat interaksi

yang nyata (p < 0,05) terhadap kadar air donat yang dihasilkan. Demikian

juga antara masing-masing perlakuan terdapat perbedaan yang nyata. Rerata

kadar air donat tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Rerata kadar air donat dari perlakuan substitusi labu kuning dan penambahan gliserol monostearat.

Perlakuan Kadar Air Notasi DMRT

Labu Kuning

Keterangan : Nilai rerata yang diikuti huruf berbeda berarti berbeda nyata

Pada Tabel 7 terlihat pada perlakuan substitusi labu kuning 30% dan

penambahan gliserol monostearat 3% memiliki kadar air yang paling tinggi

26,040%, sedangkan pada perlakuan substitusi labu kuning 10% dan

penambahan gliserol monostearat 1% memiliki kadar air yang paling rendah

20,943%. Hubungan antara perlakuan substitusi labu kuning dan penambahan

(47)

Gambar 4. Hubungan antara substitusi labu kuning kukus dan penambahan gli- serol monostearat terhadap kadar air donat.

Gambar 4. menunjukkan bahwa dengan semakin tinggi penambahan

gliserol monostearat dan semakin tinggi substitusi labu kuning kukus maka

kadar air donat semakin meningkat

Hal ini disebabkan karena selama proses pengukusan labu kuning akan

mengalami proses gelatinisasi yang akan menyebabkan granula pati dalam

labu kuning membengkak dan menyerap air, sehingga semakin tinggi labu

kuning yang ditambahkan maka kadar air semakin meningkat, hal ini

disebabkan baik labu kuning dan gliserol monostearat mempunyai sifat

mengikat air.

Menurut Widjanarko (2008), proses pemanasan adonan tepung akan

menyebabkan granula semakin membengkak karena penyerapan air semakin

(48)

Selanjutnya pengembangan granula pati juga disebabkan masuknya air ke

dalam granula dan terperangkap pada susunan molekul-molekul penyusun

pati.

Purnomo (1994) menyatakan bahwa peningkatan daya serap air oleh

gliserol monostearat disebabkan adanya kemampuan pengikatan air oleh

gugus polar (hidrofilik) yang dimilikinya. Menurut Mudjisihono (1993), roti

yang ditambah gliserol monostearat memiliki kapasitas penyerapan air lebih

tinggi dibandingkan dengan roti tanpa gliserol monostearat. Hal ini

disebabkan gliserol monostearat dapat menghalangi penggabungan

molekul-molekul pati dengan matriks protein sehingga –OH bebas pada gliserol

monostearat yang berikatan jumlahnya masih relative banyak.

C. Kadar Protein

Berdasarkan analisis ragam (Lampiran 4) menunjukkan bahwa perlakuan

substitusi labu kuning dan penambahan gliserol monostearat terdapat interaksi

tidak nyata (p < 0,05) terhadap kadar protein roti donat yang dihasilkan tetapi

perlakuan substitusi tepung terigu : labu kuning kukus dan penambahan gliserol

monostearat antar masing-masing perlakuan terdapat perbedaan yang nyata.

Nilai rata-rata kadar protein donat dengan perlakuan substitusi labu kuning

kukus dapat dilihat pada Tabel . 8 Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata

(49)

Tabel 8. Rerata kadar protein donat dari perlakuan substitusi labu kuning

Perlakuan Notasi DMRT

Labu Kuning

Keterangan : Nilai rerata yang diikuti huruf berbeda berarti berbeda nyata

Dari table 8. menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah substitusi labu

kuning kukus atau semakin rendah jumlah tepung terigu maka kadar protein

donat semakin menurun. Hal ini disebabkan karena tepung terigu yang

digunakan adalah tepung terigu yang mengandung protein tinggi (hard flour)

dengan kandungan protein sebesar 11-12%. Dalam hal ini, kandungan protein

tepung terigu lebih tinggi dibandingkan kadar protein pada labu kuning (1-2%).

Sehingga semakin banyak labu kuning kukus yang ditambahkan maka kadar

protein donat yang dihasilkan semakin menurun. Menurut Anonymous (2008),

kandungan protein pada tepung terigu protein tinggi adalah 11,93%.

Nilai rata-rata kadar protein donat dengan perlakuan penambahan gliserol

monostearat dapat dilihat pada Tabel 9. Hasil penelitian menunjukkan nilai

rata-rata kadar protein dengan kisaran antara 7,072%-7,597 %.

Tabel 9. Nilai rata-rata kadar protein donat dari perlakuan penambahan gliserol monostearat

Perlakuan Notasi DMRT

Gliserol

(50)

Dari Tabel 9. menunjukkan bahwa semakin meningkatnya penambahan

gliserol monostearat maka kadar protein donat semakin menurun. Semakin tinggi

gliserol monostearat maka kadar air semakin tinggi karena konsentrasi gizi

(protein) di dalam massa yang tertinggal per berat kering bahan semakin menurun

sehingga kadar protein semakin turun. Hal ini sesuai dengan pendapat

Mudjisihono dkk (1993), variasi penambahan gliserol monostearat tidak

menyebabkan perbedaan kadar protein pada roti tawar yang dihasilkan karena

gliserol monostearat sebagian besar tersusun bukan oleh fraksi protein

D. Volume Pengembangan

Berdasarkan analisis ragam (Lampiran 7) menunjukkan bahwa

perlakuan subtitusi labu kuning dan penambahan gliserol monostearat terdapat

interaksi yang nyata (p < 0,05) terhadap volume pengembangan donat yang

dihasilkan. Demikian juga antara masing-masing perlakuan terdapat interaksi

yang nyata. Rerata volume pengembangan donat tiap perlakuan dapat dilihat

(51)

Tabel 10. Rerata volume pengembangan donat dari perlakuan substitusi labu kuning kukus dan penambahan gliserol monostearat.

Perlakuan Notasi DMRT

Labu kuning

Keterangan : Nilai rerata yang diikuti huruf berbeda berarti berbeda nyata

Pada Tabel 10. terlihat pada perlakuan substitusi labu kuning 30% dan

penambahan gliserol monostearat 1% memiliki volume pengembangan yang

rendah 81%, sedangkan pada perlakuan substitusi labu kuning 10% dan

penambahan gliserol monostearat 3% memiliki volume pengembangan yang

paling tinggi 118%. Hubungan antara perlakuan substitusi labu kuning dan

penambahan gliserol monostearat terhadap volume pengembangan donat

(52)

Gambar 5. Hubungan antara substitusi labu kuning kukus dan penambahan Gliserol monostearat terhadap volume pengembangan donat.

Gambar 5. menunjukkan bahwa dengan semakin tingi penambahan

gliserol monostearat dan semakin menurunnya substitusi labu kuning

menyebabkan volume pengembangan donat semakin meningkat.

Hal ini dikarenakan gliserol monostearat yang berfungsi sebagai bahan

pengikat antar granula pati. Gliserol monostearat mempunyai dua gugus yaitu

gugus polar dan gugus nonpolar, sedangkan gugus polar akan berinteraksi dengan

fraksi amilosa membentuk ikatan kompleks dan matriks (film) sehingga dapat

membantu kerja gluten dalam memperangkap gas CO2 hasil fermentasi,

sedangkan gugus nonpolar juga berinteraksi dengan amilopektin yaitu pada

(53)

volume pengembangan pada menurunnya substitusi labu kuning kukus

dikarenakan jumlah tepung terigu menjadi banyak. Semakin banyak tepung terigu

dalam adonan maka jumlah gluten dalam adonan akan semakin meningkat,

sehingga akan meningkatkan kemampuan adonan dalam menahan gas CO2 yang

mengakibatkan terjadinya peningkatan volume pengembangan roti.

Menurut Subarna (1992), gluten memiliki sifat fisik yang elastis dan

ekstensibel sehingga memungkinkan adonan dapat menahan gas CO2 dan adonan

dapat menggelembung seperti balon. Hal inilah yang memungkinkan produk roti

mempunyai struktur berongga yang seragam dan halus. Pendapat tersebut diatas

diperkuat oleh Matz (1972) yang menyatakan bahwa volume roti dipengaruhi oleh

terbentuknya gas CO2 hasil aktivitas ragi roti (yeast) serta kemampuan adonan

menahan gas CO2 tersebut. Kemampuan adonan dalam menahan gas CO2 ini

dipengaruhi oleh kandungan gluten dalam tepung terigu.

Menurut Anonymous (2006), gliserol monostearat berfungsi

meningkatkan kualitas adonan dengan memperbaiki ikatan gluten antar

komponen-komponen roti. Kekuatan adonan akan meningkat jika semakin banyak

jembatan disulfida yang terbentuk oleh gluten. Gliserol monostearat sering

digunakan untuk memperkuat jaringan protein gluten agar didapatkan retensi gas

(gas retention) yang lebih baik sehingga dapat mengembangkan volume roti

tawar.

Menurut Purnomo (1994), pengembangan roti juga dipengaruhi oleh

kandungan protein gluten dalam tepung terigu. Tepung terigu mempunyai

(54)

Gluten berperan sebagai bahan konstruksi struktur adonan sehingga

penahanan gas CO2 selama fermentasi dapat ditahan.

Dalam Mudjisihono (1993), gliserol monostearat mampu berinteraksi

dengan molekul amilosa sehingga dapat menahan gas yang berakibat adonan

menjadi lebih mengembang.

Purnomo (1994) yang menyatakan bahwa, adonan yang mengalami

penambahan gliserol monostearat memiliki volume yang lebih tinggi karena

kapasitas penahanan dari gas CO2 yang meningkat. Lebih lanjut Mudjisihono

(1993), menyatakan bahwa gliserol monostearat yang ditambahkan pada

adonan roti tawar berinteraksi secara heliks dengan molekul-molekul amilosa

saat gelatinisasi pati dan cukup mampu untuk menahan gas CO2 sehingga

adonan akan mengembang.

E. Tekstur (dengan Penetrometer)

Berdasarkan analisa ragam (Lampiran 9) menunjukkan bahwa perlakuan

subtitusi labu kuning dan penambahan gliserol monostearat terdapat interaksi

yang nyata (p < 0,05) terhadap kekerasan donat yang dihasilkan. Demikian

juga antara masing-masing perlakuan terdapat perbedaan yang nyata. Rerata

(55)

Tabel 11. Rerata kekerasan Donat dari perlakuan substitusi labu kuning kukus dan penambahan gliserol monostearat.

Perlakuan Tekstur Notasi DMRT

Labu kuning

kukus Gliserol Monostearat (mm/gr dt) 5%

(%) (%)

10 1 0.363 g 0.0152

2 0,430 h 0,0153

3 0,443 i 0,0153

20 1 0,257 d 0,0145

2 0,303 e 0,0148

3 0,333 f 0,0150

30 1 0,127 a -

2 0,183 b 0,0134

3 0,227 c 0,0141

Keterangan : Nilai rerata yang diikuti huruf berbeda berarti berbeda nyata

Semakin tinggi nilai tekstur berarti produk donat semakin

empuk.

Pada Tabel 11. terlihat pada perlakuan substitusi labu kuning kukus 30%

dan penambahan gliserol monostearat 1% memiliki tingkat tekstur (kekerasan)

yang rendah 0,127 mm/gr dt, sedangkan pada perlakuan substitusi labu kuning

kukus 10% dan penambahan gliserol monostearat 3% memiliki tingkat tekstur

(kekerasan) yang paling tinggi yaitu 0,443 mm/gr dt. Hubungan antara

perlakuan substitusi labu kuning kukus dan penambahan gliserol monostearat

(56)

Gambar 6. Hubungan antara substitusi labu kuning kukus dan penambahan Gliserol monostearat terhadap tekstur donat.

Gambar 6. menunjukkan bahwa dengan semakin tinggi penambahan

gliserol monostearat dan semakin menurunnya substitusi labu kuning kukus

menyebabkan nilai tekstur yang dihasilkan semakin meningkat (empuk)..

Hal ini disebabkan karena penurunan substitusi labu kuning kukus

menyebabkan meningkatnya jumlah tepung terigu sehingga jumlah pati dan

kandungan gluten dalam adonan lebih besar, ditambah pula dengan penambahan

gliserol monostearat yang berfungsi surfaktan dan membantu kerja gluten dan pati

dalam memerangkap CO2 sebagai hasil fermentasi.

Menurut Mudjisihono (2002), selama pembakaran granula pati

mengalami pembengkakan, dengan adanya gliserol monostearat dan shortening

dapat menekan pembengkakan pati. Menurut Martin et. al. (1991), monogliserida

(57)

dan menyebabkan ikatan silang pati dan protein menjadi lemah sehingga tingkat

kekerasan roti menurun.

F. Uji Organoleptik

1. Rasa

Berdasarkan analisis uji Friedman (Lampiran 10) menunjukkan bahwa

perlakuan substitusi labu kuning dan penambahan gliserol monostearat terdapat

interaksi yang nyata (p < 0,05) dari uji organoleptik terhadap tingkat kesukaan

rasa pada masing-masing panelis maupun sampel. Hasil uji organoleptik terhadap

tingkat kesukaan rasa ditunjukkan pada Tabel 12.

Tabel 12. Hasil Organoleptik terhadap tingkat kesukaan rasa

Perlakuan

Dari Tabel 12. Menunjukkan bahwa perlakuan substitusi labu kuning

kukus 30% dan penambahan gliserol monostearat 3% menunjukkan tingkat

kesukaan terendah (49) sedangkan tingkat kesukaan tertinggi (119) pada substitusi

labu kuning kukus 10% dan penambahan gliseril monostearat 2%.

Substitusi labu kuning kukus 10% memberikan rasa yang paling disukai

(58)

donat akan menurun sejalan dengan substitusi labu kuning kukus. Pada substitusi

labu kuning kukus 10% dalam donat panelis masih menyukai rasa pada donat

tersebut, sedangkan substitusi donat 30% menyebabkan ketidaksukaan panelis

terhadap donat tersebut. Hal ini karena rasa khas dari labu kuning sudah dapat

dirasakan yang dapat menimbulkan after taste (jejak rasa) pada donat.

Menurut Winarno (1984), penyebab terjadinya peningkatan kegurihan dari

suatu produk pangan ditentukan oleh besarnya protein dan lemak dalam produk

tersebut. Pernyataan tersebut didukung oleh Sudarmadji, dkk (1997) bahwa

kandungan protein dari suatu bahan makanan berkolerasi cukup tinggi terhadap

penilaian konsumen terutama dalam hal rasa.

2. Warna

Hasil uji Friedman terhadap panelis pada warna roti tawar (Lampiran 11)

tidak terdapat interaksi yang nyata (p < 0,05) terhadap warna pada

masing-masing panelis maupun sampel. Hasil uji Friedman pada warna donat terhadap

labu kuning dan gliserol monostearat ditunjukkan pada Tabel 13.

Tabel 13. Hasil Organoleptik warna terhadap donat

(59)

Pada Tabel 13. menunjukkan bahwa nilai tertinggi substitusi labu kuning

10% dan penambahan gliserol monostearat 1% yaitu 129 (kuning kecoklatan) dan

nilai terendah pada labu kuning 30% dan penambahan gliserol monostearat 3%

yaitu 70 (coklat kehitaman).

Donat yang dihasilkan berwarna kuning kecoklatan hingga coklat

kehitaman. Warna donat tersebut berasal dari bahan baku yang digunakan yaitu

labu kuning kukus dan tepung terigu. Warna donat yang disukai oleh panelis yaitu

berwarna kuning pada bagian dalam dan berwarna kuning kecoklatan pada bagian

luar, sedangkan warna yang tidak disukai oleh panelis yaitu warna kulit luar donat

coklat kehitaman dan warna kekuningan pada bagian dalam donat.

Hal ini diduga rendahnya substitusi labu kuning yang berarti juga tinggi

kadar protein dalam adonan labu kuning sehingga akan menghasilkan warna donat

yang disukai yaitu kuning kecoklatan akibat reaksi Mallard, sedangkan

penambahan gliserol monostearat tidak mempengaruhi warna donat yang

dihasilkan dikarenakan gliserol monostearat merupakan emulsifier dan tidak

berpengaruh terhadap warna.

Reaksi Maillard terjadi selama penggorengan donat yang berakibat warna

coklat pada donat yang dihasilkan Menurut Winarno (1995), reaksi Maillard

(60)

3. Tekstur

Hasil uji Friedman terhadap panelis (Lampiran 12) terdapat interaksi yang

nyata (p < 0,05) terhadap tekstur pada masing-masing panelis maupun sampel.

Hasil uji organoleptik terhadap tekstur ditunjukkan pada Tabel 13.

Tabel 14. Uji Organoleptik donat terhadap tekstur

Pada Tabel 14. dapat dilihat bahwa perlakuan substitusi labu kuning 10%

dan penambahan gliserol monostearat 2% memiliki nilai tertinggi (112) yaitu

memiliki tingkat kekerasan rendah (empuk). Sedangkan nilai terendah (53) yang

diberikan oleh panelis yaitu pada substitusi labu kuning 30% dan penambahan

gliserol monostearat 3% yaitu memiliki tingkat kekerasan tinggi (keras). Hal ini

disebabkan semakin sedikit substitusi labu kuning dalam adonan maka tekstur

donat menjadi baik (empuk) dan panelis memberikan penilaian yang tinggi.

Semakin banyak labu kuning yang ditambahan dalam adonan akan mengurangi

kandungan protein gluten sehingga donat menjadi kurang empuk dan sebaliknya

semakin sedikit labu kuning yang ditambahkan dalam adonan maka donat yang

(61)

Peningkatan substitusi labu kuning kukus dapat mengurangi jumlah

protein gluten yang terdapat dalam adonan. Hal ini disebabkan penurunan

kandungan gluten dalam adonan donat yang menyebabkan adonan lebih bersifat

hidrofilik, sehingga terjadi interaksi lebih kuat diantara granula pati. (He dan

Hoseney dalam Marleen 2002).

Menurut Griffin dan Lynch (1968) dalam Marleen (2002), tekstur roti

tawar erat hubungannya dengan pengkristalan fraksi amilopektin yang

berlangsung secara perlahan-lahan setelah roti selesai dipanggang.

Menurut Martin et. al. (1991), monogliserida seperti gliseril monostearat

dan shortening dapat berinteraksi dengan bagian molekul pati yang membengkak

dan menyebabkan ikatan silang pati dan protein menjadi lemah sehingga tingkat

kekerasan atau tekstur donat menurun.

G. Analisis Keputusan

Data-data yang diperlukan untuk analisis keputusan adalah aspek kuantitas

yang meliputi kadar air, kadar protein, volume pengembangan, tingkat kekerasan

(tekstur) dan juga aspek kualitas yang meliputi rasa, warna, tekstur pada produk

donat yang dihasilkan. Dari data-data tersebut diambil perlakuan yang terbaik

berdasarkan standart mutu yang ditentukan serta penerimaan konsumen terhadap

produk pada uji organoleptik.

Analisis keputusan terbaik pada pembuatan donat dengan substitusi labu

kuning dan penambahan gliseril monostearat dilakukan berdasarkan hasil uji

Gambar

Tabel   2.    Komposisi Kimia Labu Kuning (tiap 100gr bahan segar)
Tabel 4. Tabel   4.    Daftar Komposisi gula pasir per 100gr bahan
Tabel 6. Hasil Analisa bahan baku
Tabel 7. Rerata  kadar air donat dari perlakuan substitusi labu kuning dan penambahan gliserol monostearat
+6

Referensi

Dokumen terkait

tepung tapioka, tepung terigu, bawang putih, garam dan penyedap rasa. Pembuatan kerupuk labu kuning yaitu labu kuning dikukus lalu. dihancurkan dicampur dengan

Formulasi tepung labu kuning dan terigu pada pembuatan roti manis perlu dikaji untuk menghasilkan roti manis yang menghasilkan roti manis dengan derajat pengembangan adonan dan

Permasalahan yang timbul dalam pembuatan roti tawar dari bahan baku tepung campuran (tepung terigu dan tepung beras hitam) adalah produk yang dihasilkan

Mengetahui pengaruh penggunaan tepung labu kuning sebagai bahan pensubstitusi tepung terigu terhadap tingkat pengembangan dan daya terima cake labu kuning. Mengukur

Berdasarkan hasil penelitian daya terima hedonik donat F3 mempunyai skor paling tinggi, tetapi untuk tekstur mengalami perbedaan yang nyata lebih keras karena substitusi

Formulasi penggunaan tepung labu kuning dan koro pedang terhadap terigu pada pembuatan cake berpengaruh nyata terhadap kesukaan warna, rasa, tekstur, keseluruhan,

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh substitusi tepung labu kuning pada tepung terigu memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap terhadap kadar air,

Pada perlakuan perbandingan P5 dengan komposisi perbandingan labu kuning dan tepung terigu sebesar (40% labu kuning : 60% tepung terigu) menghasilkan adonan kue