• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PEMBELAJARAN PKN BERBASIS PORTOFOLIO TERHADAP PENGEMBANGAN KARAKTER SISWA SEBAGAI WARGANEGARA :Studi Eksperimental Kuasi Pada Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Kelas X SMA Bina Dharma 2 Bandung.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH PEMBELAJARAN PKN BERBASIS PORTOFOLIO TERHADAP PENGEMBANGAN KARAKTER SISWA SEBAGAI WARGANEGARA :Studi Eksperimental Kuasi Pada Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Kelas X SMA Bina Dharma 2 Bandung."

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL DAN GAMBAR..………...

BAB I PENDAHULUAN………

A. Latar Belakang Masalah………..

B. Rumusan Masalah………

C. Tujuan Penelitian………...

D. Manfaat Penelitian………

E. Asumsi dan Hipotesis ………..

1. Asumsi ……….

2. Hipotesis Penelitian……….

F. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional………..

1. Variabel Penelitian………..

2. Definisi Operasional………

G. Rencana Analisis Data………..

H. Metodologi Penelitian………

I. Populasi Dan Sampel Penelitian………

J. Paradigma Penelitian ………

BAB II KAJIAN PUSTAKA………..

A. Tinjauan Tentang Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) ………

1. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan………

2. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan………

3. Ruang Lingkup Pendidikan Kewarganegaraan……… 4. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan………

B. Model Portofolio………

1. Pengertian Portofolio………

2. Dasar Filosofi Pembelajaran Berbasis Portofolio……… 3. Prinsip Dasar Pembelajaran Portofolio………

4. Sifat-sifat Pembelajaran Portofolio……….

5. Landasan Pemikiran Pembelaiaran Portofolio………

6. Maksud dan Tujuan Pembelajaran Berbasis Portofolio………

7. Profil Pedagogis Pembelajaran Berbasis Portofolio……… 8. Kelebihan dan Kelemahan Metode Pembelajaran Portofolio……… C. Konsep Karakter Siswa sebagai Warganegara ………

(2)

1. Pengertian Karakter…………..……….

2. Karakter Warga Negara ………

3. Karakter yang baik (Good Character) ………

4. Pendidikan Karakter sebagai Pendidikan PKn………

D. Hasil Penelitian Yang Relevan.. ………...

BAB III METODE PENELITIAN………

A. Metode dan Alur Penelitian………...

B. Populasi dan Sampel Penelitian……….

C. Prosedur Penelitian………

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………..

A. Deskripsi Lokasi penelitian………

1. Sejarah dan Profil SMA Bina Dharma 2 Bandung………

2. Visi dan Misi SMA Bina Dharma 2 Bandung………. 3. Struktur Organisasi SMA Bina Dharma 2 Bandung………

4. Prestasi Sekolah/Siswa……….

5. Jumlah Siswa dan Tenaga Pendidik Bina Dharma 2 Bandung………

6. Denah SMA Bina Dharma 2 Bandung………

B. Hasil Pengolahan Data……….

1. Gambaran Umum Pembelajaran PKn Berbasis Portofolio di Kelas X

SMA Bina Dharma 2 Bandung………

2. Gambaran Karakter Siswa Kelas X di SMA Bina Dharma 2 Sebagai

Warganegara………….………

3. Analisis Data dan Pengujian Hipotesis………

a. Uji Prasyarat penelitian………

b. Uji Hipotesis Statistik………...

C. Pembahasan Hasil Penelitian……….

1. Pembelajaran PKn dengan Portofolio Berpengaruh Terhadap

Karakter Siswa Sebagai Warganegara……….

2. Pembelajaran PKn dengan Portofolio Berpengaruh Terhadap Moral

Knowing, Moral Loving/Feeling dan Moral Action Siswa…………...

3. Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Berbasis

Portofolio di SMA Bina Dharma 2 Bandung………

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI……….

(3)

B. Kesimpulan Khusus………...

C. Rekomendasi………..

DAFTAR PUSTAKA……….

150 151 155

LAMPIRAN

(4)

Tabel 1.1 Hasil Validitas Instrumen Penelitian... Tingkat Reabilitas Instrumen Reabilitas Statistics... Klasifikasi Indeks Kemudahan Soal... Klasifikasi Indeks Daya Pembeda Soal... Kriteria Tingkat Gain... Kepala Sekolah yang menjabat sampai sekarang... Prestasi Akademik : UN...

Jumlah rombongan belajar dari tahun 2007 sampai 2011……….

Tenaga Pendidik dan Kependidikan... Statistik Deskriptif Skor Praktek Pembelajaran PKn Berbasis

Portofolio... Rekapitulasi Kategorisasi Praktek Pembelajaran PKn Berbasis Portofolio... Persentase Ketercapaian Skor Praktek Pembelajaran PKn

Berbasis Portofolio pada masing-masing Sub Variabel………...

Tabel 4.8 Rata-rata dan Standar Deviasi Skor Karakter Siswa sebagai Warganegara... Tingkat Persentase Ketercapaian Skor Karakter siswa sebagai

warganegara Kelompok Eksperimen dan Kelompok

Kontrol……... Persentase Ketercapaian Skor Karakter Siswa sebagai

Warganegara pada masing-masing Sub Variabel……….

Hasil Uji Normalitas Data Hasil Penelitian... Hasil Penghitungan Uji Homogenitas Data Variabel... Hasil Uji-t Perbedaan Pre Test Karakter Siswa... Sebagai Warganegara Kelompok Eksperimen dan

Kelompok Kontrol... ... Hasil Uji-t Perbedaan Karakter siswa Kelas Eksperimen sebagai

warganegara Sebelum dengan Sesudah diberi Pembelajaran PKn Berbasis Portofolio... ... Hasil Uji-t Perbedaan Karakter siswa Kelas Eksperimen

(5)

Daftar Tabel

Gambar 1.1 Keterkaitan antar Variabel Penelitian………...

Gambar 1.2 Paradigma Penelitian……….... Gambar 2.1 Komponen Karakter Baik……… Gambar 3.1 Alur Penelitian………

Gambar 4.1 Struktur Organisasi SMA Bina Dharma 2 Bandung………..

Gambar 4.2 Denah Ruangan SMA Bina Dharma 2 Bandung………

Gambar 4.3 Gambaran Persentase Ketercapaian Skor Sub Variabel Praktek

Pembelajaran PKn Berbasis Portofolio……….

Gambar 4.4 Tingkat Persentase Ketercapaian Skor Karakter siswa sebagai warganegara Siswa Kelompok Eksperimen dan Kelompok

Kontrol………..

Gambar 4.5 Gambaran Persentase Ketercapaian Skor Sub Variabel Karakter

Siswa Sebagai Warganegara……….

13 19 57 74 96 100

106

109

(6)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Krisis multidimensi yang terjadi di negeri ini seakan sudah akut dan

menjadi persoalan pelik yang perlu untuk segera dicari solusinya. Setiap hari

kita disuguhi berita tentang tindakan kekerasan, kriminal dan amoral remaja.

Merebaknya isu-isu moral dikalangan remaja seperti pengunaan narkotika,

meminum-minuman keras, perkelahian antar pelajar, pornografi,

pengeroyokan, genk motor, melawan kepada orang tua dan guru, bahkan

melakukan seks bebas. Krisis etika dan moral ini telah memporakporandakan

sendi agama dan masyarakat dalam kehidupan berbangsa. Etika dan tata karma

bangsa yang dijunjung tinggi telah mengalami pergeseran menjadi retorika

belaka. Fenomena ini menandakan sebagai cerminan dari rendahnya mutu

pendidikan dan kegagalan suatu bangsa dalam mencapai tujuan pendidikan

nasionalnya serta sebagai bukti dari bentuk penanaman karakter terhadap anak

bangsa yang masih sangat lemah, barangkali karena pelaksanaan pendidikan di

negeri ini masih lebih mengedepankan kecerdasan kognitif semata dan hanya

terjebak pada pencapaian prestasi yang diukur dari penilaian kecerdasan

berpikir saja. Jamaludin (2012).

Kritik terhadap sistem pendidikan dan pembelajaran dilayangkan.

(7)

emosi dan moral. Sebagian bahkan menilai pendidikan kita terkesan

mekanistik, full hafalan, dan mematikan kreativitas siswa (musfiroh, 2008: 25).

Pakar pendidikan nilai, Djahiri (1995) berpendapat bahwa pendidikan

dan pengajaran merupakan upaya pembermaknaan seluruh potensi cognitive,

affective dan psikomotor, Terjadinya dekadensi moral pada generasi muda

adalah cerminan dari krisis karakter pada bangsa ini. Maka diperlukan

perubahan mendasar dari paradigma pendidikan kita, yang tadinya sangat

cognitive oriented, kepada pengikutsertaan pembentukan karakter yang baik.

Pendidikan dan pengajaran sangat menentukan keberhasilan kognitif anak.

Hal tersebut sejalan dengan temuan lapangan yang diungkapkan

Sudarman (2007) bahwa pembelajaran di sekolah kurang diarahkan untuk

mengembangkan dan membangun karakter serta potensi yang dimiliki siswa,

termasuk didalamnya kurang bahkan tidak memberikan kesempatan kepada

siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri. Proses pendidikan kita

kurang diarahkan untuk membentuk manusia cerdas yang memiliki

kemampuan memecahkan masalah-masalah kehidupan.

Pendidikan secara umum menuju pada pengembangan secara kaffah.

Namun dalam kenyataan masih bersifat parsial, hal ini diungkapkan oleh

Djahiri (2006: 4) bahwa dalam dunia pendidikan (terutama pendidikan formal)

secara kurikuler rumusan sosok keluarannya dinyatakan harus utuh bulat

(8)

keluarannya (outcomes) bersifat parsial. Totalitas diri anak hampir tidak

pernah dibelajarkan secara kaffah target penyelesaian bahan ajar yang

konseptual-teoritik- keilmuan/normative atau struktural disipliner dan

target nilai angka (marking) atau NEM tinggi yang diiringi

ketidaktahuan/profesionalan guru melahirkan pendidikan dan pembelajaran

parsial. Masalah potensi ragawi dan nilai-moral serta norma hampir tidak

masuk hitungan termasuk dalam program khusus MKU (PKN, PAI, dan

lain-lain).

Pendidikan akan lebih efektif bila dilakukan secara holistik yaitu

pendidikan yang selalu mengacu pada tujuan pengembangan kepribadian

peserta didik secara utuh. (Bawazir, 2007: 73). Oleh karena itu, kepribadian

seseorang harus dilihat secara menyeluruh dari sepanjang sejarah hidupnya.

Melalui proses pembelajaran yang tepat, dan penerapan kompetensi

kewarganegaraan di sekolah, maka diharapkan PKn dapat membina karakter

warganegara yang kelak menjadi warganegara dewasa serta memiliki 9

karakteristik kewarganegaraan yang dijabarkan oleh Cogan yaitu : secara

konseptual seorang warganegara seyogyanya memiliki 5 atribut pokok (Cogan,

1998: 2-3) yakni: "... a sense of identity; the enjoyment of certains rights; the

fulfillment of corresponding obligations; a degree of interest and involvement

in public affairs; and an acceptance of basic societal values " jati diri;

(9)

terkait; tingkat minat dan keterlibatan dalam urusan publik; dan pemilikan

nilai-nilai dasar kemasyarakatan.

Pembelajaran PKn pada jenjang persekolahan akan mampu membentuk

karakter jika dilakukan secara kontekstual, bukan tekstual. Pembelajaran yang

berdasarkan kontekstual artinya pembelajaran berangkat dari kehidupan nyata

siswa. Pembelajaran tekstual lebih menekankan pada hafalan semata. Namun

demikian, bukan berarti pada praktik pembelajaran tekstual tidak penting,

tekstual memiliki peranan sebagai sumber hukumnya, tetapi kontekstual

sebagai aplikasi dari tekstual tersebut

Pendidikan kewarganegaraan memiliki misi untuk mengembangkan

warganegara yang demokratis, sekolah yang diharapkan mampu

mengembangkan kompetensi kewarganegaraan siswa. baik pengetahuan

kewarganegaraan (civic knowledge). watak atau karakter kewarganegaraan

(civic dispositions) dan keterampilan kewarganegaraan (civic skill) siswa,

namun saat ini pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah baru

mampu menyentuh aspek pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge)

saja.

Hal diatas sesuai dengan pendapat Winataputra dan Budimansyah

(2007 : 121), yang mengemukakan permasalahan mendasar dan menjadi

penghambat dalam peningkatan kualitas PKn, yaitu 1) penggunaan alokasi

waktu yang tercantum dalam struktur kurikulum pendidikan dijabarkan secara

(10)

dominan, sehingga guru tidak dapat berimprovisasi secara kreatif untuk

melakukan aktivitas lainnya selain pembelajaran rutin tatap muka yang

terjadwal dengan ketat; 2) pelaksanaan pembelajaran PKn yang lebih

didominasi oleh kegiatan peningkatan dimensi kognitif mengakibatkan porsi

peningkatan dimensi lainnya menjadi terbengkalai, disamping keterbatasan

media pembelajaran; 3) pembelajaran yang terlalu menekankan pada dimensi

kognitif berimplikasi pada penilaian yang juga menekankan pada penguasaan

kemampuan kognitif saja, sehingga mengakibatkan guru harus selalu mengejar

target pencapaian rnateri.

Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran di

persekolahan yang mempunyai kontribusi penting dalam membentuk dan

mewujudkan karakter bangsa yang dicita-citakan yaitu smart and good

citizenship seperti ditegaskan dalam UU No. 20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa

aspek kepribadian warganegara yang perlu dikembangkan adalah menjadi

manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan

zaman. Sejalan dengan visi Pendidikan Nasional, Depdiknas berhasrat pada

tahun 2025 dapat menghasilkan insan Indonesia yang cerdas komprehensif dan

kompetitif. Pendidikan Kewarganegaraan memiliki peranan penting dalam

upaya untuk mengembangkan karakteristik warganegara. Dalam

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

(Sisdiknas), Pendidikan Kewarganegaraan merupakan nama mata pelajaran

(11)

untuk kurikulum pendidikan tinggi (Pasal 37). Ketentuan ini lebih jelas dan

diperkuat lagi pada Pasal 37 bagian Penjelasan dari Undang-Undang tersebut

bahwa “Pendidikan Kewarganegaraan dimaksudkan untuk membentuk peserta

didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air”. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan menurut Cogan (1998: 13) adalah

citizenship education has been described as the contribution of education to

the development of those characteristics of being a citizen. Dengan demikian

Pendidikan Kewarganegaraan digambarkan sebagai kontribusi pendidikan

untuk pengembangan karakteristik-karakteristik warganegara. Oleh karena itu

pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan harus dilaksanakan secara efektif

agar dapat mendorong masyarakat berpartisipasi dalam lingkungan kehidupan

sehingga dapat memberikan kontribusi perubahan dalam masyarakat kearah

yang lebih baik.

Pembelajaran selama ini berjalan dengan verbalistik dan berorientasi

semata-mata kepada penguasaan isi dari mata pelajaran pendidikan

kewarganegaraan. Pengamatan terhadap praktek pembelajaran sehari-hari

menunjukkan bahwa pembelajaran difokuskan agar siswa menguasai informasi

yang terkandung dalam materi pelajaran dan kemudian dievaluasi seberapa

jauh penguasaan itu dicapai oleh siswa. Pembelajaran seakan terlepas dari

kehidupan sehari-hari, oleh karena itu siswa tidak mengetahui manfaat apa

yang dipelajari, seringkali tidak tahu bagaimana menggunakan apa yang telah

(12)

Bertolak dari masalah tersebut kiranya perlu dilakukan langkah-langkah

agar pendidikan dapat membekali peserta didik dengan kecakapan hidup, yaitu

kemampuan dan keberanian menghadapi problema kehidupan, kemudian

secara kreatif menemukan solusi serta mampu mengatasinya. Pembelajaran

merupakan bagian atau elemen yang memiliki peran yang sangat dominan

untuk mewujudkan kualitas baik proses maupun lulusan (output) pendidikan.

Dan hal ini pun sangat tergantung pada guru dalam melaksanakan proses

belajar mengajar di kelas. Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan oleh

Muchith (2008: 1), bahwa pembelajaran sangat tergantung dari kemampuan

guru dalam melaksanakan atau mengemas proses pembelajaran. Pembelajaran

yang dilaksanakan secara baik dan tepat akan memberikan kontribusi sangat

dominan bagi siswa, sebaliknya pembelajaran yang dilaksanakan dengan cara

yang tidak baik akan menyebabkan potensi siswa sulit dikembangkan atau

diberdayakan. Melalui model pembelajaran portofolio, selain diupayakan dapat

membangkitkan minat belajar siswa secara aktif, kreatif, juga dapat

mengembangkan pemahaman nilai-nilai kemampuan berpartisipasi secara

efektif, serta diiringi suatu sikap tanggung jawab.

Implementasi model pembelajaran portofolio akan menjadikan PBM

Pendidikan Kewarganegaraan yang sangat menyenangkan bagi siswa, bila

pembelajaran tersebut beserta komponennya memiliki manfaat bagi siswa

dalam kehidupannya. Model ini dapat digunakan untuk mengembangkan

(13)

afektif, maupun psikomotorik siswa, terutama pembinaan tatanan nilai, yaitu

kepemimpinan diri pada siswa. Model ini sangat potensial dalam

meningkatkan motivasi atau semangat belajar siswa dengan tujuan agar siswa

menjadi A Good Young Citizenship yang berkualitas sebagai warganegara yang

cerdas, kreatif, partisipatif, prospektif dan bertanggung jawab.

Penggunaan model pembelajaran portofolio dalam pembelajaran

Pendidikan Kewarganegaraan berimplikasi luas terhadap khasanah piranti

professional guru sebagai seorang facilitator, director-motivator, mediator,

reconstructor pembelajaran bagi siswa, dalam upaya mengembangkan dan

membekali sejumlah keterampilan dan wawasan life skill kewarganegaraan

siswa, yaitu : civic life, civic skill, civic participation, yang wajib dimiliki oleh

setiap insan, agar siswa dapat hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara

sesuai dengan hak dan kewajibannya.

Guru sebagai agen perubahan bagi siswa-siswanya memerlukan upaya

maksimal dalam membelajarkan siswa melalui pendekatan, model, metode,

dan strategi yang tujuamya diharapkan siswa lebih paham terhadap konsep

yang mereka pelajari. Gejala peran guru sebagai teacher centre kiranya dapat

diubah melalui student oriented sehingga guru tidak berfungsi sebagai transfer

of knowledge, melainkan sebagai facilitator dan transfer of value.

Pengembangan pembelajaran ini salah satunya dapat diakomodasikan melalui

model portofolio dengan asumsi model portofolio memungkinkan siswa

(14)

Untuk itu, maka proses pembelajaran yang perlu dikembangkan adalah

yang memberdayakan siswa untuk berpikir kritis dalam pemecahan masalah

atau “critical thinking oriented and problem solving oriented models” salah

satu cara yang akan diterapkan pada penelitian ini yaitu portofolio. Model ini

dikenal sebagai “A portfolio-based civic education project” yang dirancang

untuk membentuk karakter baik siswa, yaitu yang melibatkan siswa melalui

suatu "proyek belajar".

Dari permasalahan dan gambaran di atas penulis merasa tertarik dan

mencoba untuk melakukan penelitian mengenai Pengaruh Pembelajaran Pkn

Berbasis Portofolio Terhadap Pengembangan Karakler Siswa sebagai

Warganegara.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka secara umum yang

dipertanyakan dalam penelitian ini adalah “Pengaruh Pembelajaran PKn

Berbasis Portofolio terhadap Pengembangan Karakter Siswa sebagai

Warganegara. Selanjutnya penulis mengidentifikasi permasalahan yang ingin

diungkapkan dalam penelitian ini, yaitu:

1. Apakah ada perbedaan antara hasil pre-test dengan post-test karakter

siswa sebagai warganegara pada siswa kelas eksperimen yang diberi

(15)

2. Apakah ada perbedaan antara hasil pre-test dengan post-test karakter

siswa sebagai warganegara pada siswa kelas kontrol yang diberi

pembelajaran PKn secara konvensional?

3. Apakah ada perbedaan peningkatan karakter siswa sebagai warganegara

muda antara siswa kelas eksperimen yang mendapat pembelajaran PKn

berbasis portofolio dengan kelas kontrol yang hanya mendapat

pembelajaran PKn secara konvensional?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini secara umum adalah mengungkapkan tentang

pengaruh pembelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis portofolio

terhadap pengembangan karakter siswa sebagai warganegara. Sedangkan

tujuan khususnya adalah untuk mengetahui:

1. Ada tidaknya perbedaan antara hasil pre-test dengan post-test karakter

siswa sebagai warganegara pada siswa kelas eksperimen yang diberi

pembelajaran PKn berbasis portofolio.

2. Ada tidaknya perbedaan antara hasil pre-test dengan post-test karakter

siswa sebagai warganegara pada siswa kelas kontrol yang diberi

pembelajaran PKn secara konvensional.

3. Ada tidaknya perbedaan peningkatan karakter siswa sebagai

(16)

pembelajaran PKn berbasis portofolio dengan kelas kontrol yang hanya

mendapat pembelajaran PKn secara konvensional.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat penulis sumbangkan dari hasil penelitian secara

teoritis adalah dapat memberikan sumbangan pikiran atau bahan kajian dalam

dunia Pendidikan Kewarganegaraan melalui penerapan pembelajaran berbasis

portofolio. Selain itu juga dapat memberikan manfaat secara praktis sebagai

berikut:

1. Bagi guru, diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu rujukan dalam

menerapkan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan berbasis

portofolio yang dapat mengembangkan karakter siswa sebagai

warganegara.

2. Bagi siswa, diharapkan dapat memberikan masukan dan motivasi

mengenai efektivitas pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan berbasis

portofolio dalam mengembangkan karakter siswa sebagai warganegara.

3. Bagi penulis, dapat menambah wawasan penelitian dalam memahami

pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan berbasis portofolio, serta

(17)

E. Asumsi dan Hipotesis

1. Asumsi

Sebagai pangkal tolak pemikiran dalam penelitian ini, penulis merasa

perlu mengemukakan asumsi penelitian. Adapun asumsi penelitian ini adalah

sebagai berikut:

a. Pembelajaran portofolio adalah suatu inovasi pembelajaran yang

dirancang untuk membantu peserta didik memahami teori secara

mendalam melalui pengalaman belajar praktik empirik. Dalam hal ini

pelajaran merupakan program pendidikan yang mendorong kompetensi,

tanggung jawab dan partisipasi peserta didik khususnya dalam belajar

menilai dan mempengaruhi kebijakan umum (public policy),

memberanikan diri untuk berperan serta dalam kegiatan antar siswa,

sekolah maupun anggota masyarakat. (Budimansyah, 2009 :1)

b. Pembelajaran PKn berbasis portofolio diharapkan mampu melibatkan

siswa dalam keseluruhan proses pembelajaran dan melibatkan seluruh

aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik siswa.

c. Agar pembelajaran PKn bermakna mesti ditunjang oleh berbagai strategi

belajar yang berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir kritis

dan memecahkan masalah sosial yang bertujuan memfasilitasi siswa untuk

menjadi warganegara yang dewasa (Djunaedi, 2007:91)

Merujuk pada asumsi penelitian di atas, kiranya dapat dipaparkan

(18)

2. Hipotesis Penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

1. Terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pre-test dengan

post-test karakter siswa sebagai warganegara pada siswa kelas eksperimen

yang diberi pembelajaran PKn berbasis portofolio.

2. Terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pre-test dengan

post-test karakter siswa sebagai warganegara pada siswa kelas kontrol yang

diberi pembelajaran PKn secara konvensional.

3. Terdapat perbedaan yang signifikan pada peningkatan karakter siswa

sebagai warganegara muda antara siswa kelas eksperimen yang

mendapat pembelajaran PKn berbasis portofolio dengan kelas kontrol

yang hanya mendapat pembelajaran PKn secara konvensional.

F. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

1. Variabel Penelitian

Penelitian ini terdiri dari variabel independen (variabel bebas) atau

variabel X adalah Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Berbasis

Portofolio. Sedangkan variabel dependen (variabel terikat) atau variabel Y

yaitu Karakter Siswa Sebagai Warganegara.

Gambar 1.1

Keterkaitan antar Variabel Penelitian

(19)

rXY = Pengaruh Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan berbasis

Portofolio terhadap Karakter Siswa sebagai Warganegara.

Tabel 1.1

Indikator Alat ukur

Pembelajaran

2.Memilih masalah untuk

materi kajian kelas

2.Menunjukan cara untuk

(20)

6. Merefleksika

1.Kesadaran akan jati diri 2.Percaya diri

3.Habit (Kebiasaan)

Skala Sikap Likert

1) Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dalam penelitian ini adalah

proses belajar mengajar di sekolah yang didesain untuk membina dan

mengembangkan warganegara yang cerdas, mampu dan memahami: 1)

(21)

warganegara Indonesia yang cerdas dan terampil, 3) warganegara yang

berkarakter, sesuai yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.

2) Metode Pembelajaran Portofolio

Pembelajaran portofolio merupakan pembelajaran sebagai proses

kegiatan belajar mengajar (KBM) yang bersoko guru pada aktivitas belajar

siswa kadar tinggi dan multi domain serta multi dimensional, proses ajar utuh

terpadu, interdisipliner, akan memberdayakan pelakon berbagai kegiatan dan

kemahiran siswa menjadi warga masyarakat serta anak bangsa yang baik,

demokratis, cerdas dan berbudaya Indonesia (Djahiri, 2004:1).

Sedangkan langkah-langkah yang ditempuh dalam pembelajaran

portofolio ini meliputi :

1. Identifikasi masalah-masalah dalam pembelajaran PKn berbasis

portofolio (X1).

2. Pemilihan masalah untuk dijadikan kajian kelas (X2).

3. Mengumpulkan informasi (X3).

4. Mengembangkan portofolio kelas (X4).

5. Menyajikan portofolio kelas (X5).

6. Merefleksikan pengalaman belajar (X6).

3) Karakter Siswa Sebagai Warganegara

Karakter seseorang dapat berkembang manakala terdapat proses

organik yang manusiawi, hal ini diungkapkan secara lebih lugas oleh Lickona

(22)

and to help them become good, sehingga karakter yang utuh akan mencakup

kemampuan mengetahui hal-hal yang baik, menginginkan kebaikan untuk

sesama, dan melakukan kebaikan sebagai bentuk tanggung jawab sosialnya.

Lebih lanjut Lickona dalam Sabarudin (2010:13) menyebutkan 3 dimensi

karakter unggul seeorang yang meliputi :

a. Pengetahuan tentang moral (Moral Knowing).

Yang dimaksud dengan Moral Knowning dalam penelitian ini memiliki enam unsur, yaitu kesadaran moral (moral awareness), pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values), penentuan sudut pandang (perspective taking), logika moral (moral

reasoning), keberanian mengambil/menentukan sikap (decision making), dan pengenalan diri (self knowledge). Keenam unsur adalah

komponen-komponen yang harus diajarkan kepada siswa untuk mengisi ranah kognitif mereka.

b. Perasaan/sikap (Moral Loving/feeling)

Yang dimaksud dengan Moral Loving atau Moral Feeling dalam penelitian ini merupakan penguatan aspek emosi iswa untuk menjadi manusia berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan bentuk-bentuk sikap yang harus dirasakan oleh siswa, yaitu kesadaran akan jati diri, percaya diri (self esteem), kepekaan terhadap derita orang lain (emphaty), cinta kebenaran (loving the

good), pengendalian diri (self control), kerendahan hati.

c Perilaku/tindakan Moral (Moral Acting)

Yang dimaksud dengan Moral Acting dalam penelitian ini adalah perwujudan dari Moral Knowing dan Moral Loving/Feeling dalam bentuk Competence, will dan habit.

G. Rencana Analisis Data

1. Memperkenalkan pembelajaran PKn berbasis portofolio pada siswa di

kelas.

2. Melakukan uji coba tes, mengadakan pre-test pada kelompok eksperimen

dan kontrol untuk mengetahui pemahaman siswa tentang pembelajaran

(23)

3. Menerapkan pembelajaran PKn berbasis portofolio terhadap

pengembangan warganegara muda pada kelas eksperimen dan

pembelajaran konvensional pada kelas kontrol.

4. Melakukan observasi keterlaksanaan pembelajaran PKn berbasis

portofolio terhadap pengembangan warganegara muda.

5. Memberikan post-test pada kelas eksperimen dan kelas kontrol untuk

mengetahui pembelajaran PKn berbasis portofolio terhadap

pengembangan warganegara muda setelah mendapat perlakuan.

6. Pengolahan dan Analisis Data, menghitung daya gain yang dinormalisasi

pemahaman pembelajaran PKn berbasis portofolio terhadap

pengembangan warganegara muda untuk eksperimen dan kelas kontrol,

melakukan uji normalitas data gain yang dinormalisasi, melakukan uji

homogenitas varians, melakukan uji kesamaan dua rata-rata, serta

melakukan analisis data angket dan observasi.

H. Metodologi Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuasi

eksperimen dengan desain non-equivalen control groups pre-test post-test

design. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan

menggunakan tes Sematik Deferential Osgood, skala Likert, kuesioner dan

observasi. Analisis terhadap data dilakukan dengan bantuan statistical

(24)

I. Populasi Dan Sampel Penelitian

Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas

X SMA Bina Dharma 2 Bandung yang terdiri dari 2 kelas dengan jumlah 60

siswa. Yang beralamat di Jalan Babakan Sari I no 131 Kelurahan Babakan Sari

Kecamatan Kiaracondong. Sedangkan yang menjadi sampelnya dalam

penelitian ini adalah siswa SMA Bina Dharma 2 Bandung Kelas X-2 yang

berjumlah 30 siswa sebagai kelas eksperimen dan siswa SMA Bina Dharma 2

Bandung Kelas X-1 yang berjumlah 30 siswa sebagai kelas control.

J. Paradigma Penelitian

(25)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode dan Alur Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

Eksperimen kuasi. Dalam penelitian, yang menjadi fokus adalah pengaruh

pembelajaran PKn berbasis portofolio terhadap pengembangan karakter siswa

sebagai warganegara. Penelitian bermaksud melihat hubungan sebab akibat.

Variabel bebasnya pembelajaran PKn berbasis portofolio, sedangkan variabel

terikatnya adalah karakter siswa sebagai warganegara. Metode yang digunakan

adalah penelitian Eksperimen kuasi (Best, 1982). Metode tersebut dilakukan

untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang

dapat diperoleh dengan eksperimental sesungguhnya, dalam keadaan tidak

memungkinkan untuk mengontrol atau mengendalikan semua variabel.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan

desain penelitian Eksperimen kuasi yang bertujuan untuk mengetahui

pengaruh pembelajaran PKn berbasis portopolio terhadap pengembangan

karakter siswa sebagai warganegara. Desain yang digunakan dalam penelitian

ini adalah non-equivalent control group pre-test post-test design (Campbell

dan Stanley, 1963: 47). Dalam desain ini kedua kelompok tidak dipilih secara

random. Dengan desain ini sampel dibagi dalam 2 kelompok yaitu satu

(26)

kontrol. Kelompok eksperimen mendapatkan pembelajaran PKn berbasis

portofolio sedangkan kelompok kontrol mendapatkan pembelajaran dengan

model konvensional. Terhadap dua kelompok dilakukan pre-test – post-test

untuk melihat pengaruh pembelajaran PKn berbasis portofolio terhadap

pengembangan karakter siswa sebagai warga negara seperti yang digambarkan

di bawah ini:

Tabel 3.1.

Rancangan Eksperimen

Kelompok Random Pre- test Treatment Post- test

Eksperimen R O1 V O2

Kontrol R O1 0 O2

Keterangan:

R : Pemilihan kelas secara acak O1 : Tes awal (pre-test)

O2 : Tes akhir (post-test)

X : Perlakuan pembelajaran berbasis portofolio

0 : Perlakuan pembelajaran konvensional

Pada bagan diatas terlihat bahwa kelompok eksperimen diberi

perlakuan sedangkan kelompok kontrol tidak diberi perlakuan, kedua-duanya

diuji baik pre-tes maupun post test. Tujuan dilakukan pre-test untuk melihat

baik kelas control maupun kelas eksperimen memiliki tingkat homogenitas

yang sama terutama tingkat aspek akademis siswa sehari-hari dalam

pembelajaran PKn. Sedangkan pengujian post-test digunakan untuk

membuktikan bahwa kelompok eksperimen yang diberi perlakuan dengan

pembelajaran portofolio berpengaruh signifikan terhadap pengembangan

(27)

Adapun alur penelitian dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 3.1. Alur Penelitian

Studi Pendahuluan tentang Pembelajaran Pkn di SMA Bina Dharma 2

Studi literatur tentang:

 Buku Pelajaran Pkn Kelas X

 Kurikulum KTSP 2006 dan Kompetensi siswa

 Portofolio

Merumuskan masalah dan menentukan tujuan peneltian

(28)

B. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian adalah seluruh siswa kelas X di SMA Bina

Dharma 2 Bandung, yang terdiri dari 2 kelas dengan jumlah 60 peserta didik.

Kedua kelas tersebut menjadi sampel dalam penelitian ini, untuk menentukan

kelas eksperimen dan kelas kontrol peneliti menentukan secara acak. Hasil

secara acak didapat kelas X-2 sebagai kelas eksperimen yang berjumlah 30

peserta didik yang akan diberikan perlakuan dengan menggunakan

Pembelajaran berbasis portofolio dan kelas X-1 sebagai kelas kontrol dengan

jumlah 30 peserta didik yang tidak diberi perlakuan atau dengan menggunakan

model pembelajaran konvensional. Penelitian ini dilaksanakan pada semester

genap tahun pelajaran 2011-2012.

C. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian meliputi tahapan-tahapan sebagai berikut:

1. Tahapan persiapan

Persiapan yang dilakukan dalam penelitian meliputi:

a. Melakukan studi pendahuluan yang meliputi kajian tentang

pembelajaran PKn.

b. Menyusun perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian.

c. Melakukan validasi instrumen.

(29)

2. Pelaksanaan

a. Memperkenalkan pembelajaran PKn berbasis portofolio pada siswa di

kelas.

b. Melakukan uji coba tes, mengadakan pre-test pada kelompok

eksperimen dan kontrol untuk mengetahui pembelajaran PKn berbasis

portofolio.

c. Menerapkan pembelajaran PKn berbasis portofolio pada kelas

eksperimen dan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol.

d. Melakukan observasi keterlaksanaan pembelajaran PKn berbasis

portofolio.

e. Memberikan post-test pada kelas eksperimen dan kelas kontrol untuk

mengetahui pembelajaran PKn berbasis portofolio setelah mendapat

perlakuan.

f. Menyebarkan angket tanggapan siswa terhadap penggunaan

pembelajaran PKn berbasis portofolio.

3. Pengolahan dan Analisis Data

Menghitung daya gain ternormalisasi pemahaman materi untuk kelas

eksperimen dan kelas kontrol, melakukan uji normalitas data gain yang

ternormalisasi, melakukan uji homogenitas varians, melakukan uji kesamaan

(30)

D. Instrumen Penelitian

Untuk menjawab permasalahan penelitian dibuat instrumen penelitian

sebagai alat bantu untuk mengumpulkan data- Instrumen yang digunakan

berupa: tes pemahman konsep, angket tanggapan siswa dan wawancara

terhadap siswa tentang pengaruh pembelajaran PKn berbasis portofolio

terhadap pengembangan karakter siswa sebagai warganegara.

Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran langsung tentang

proses pembelajaran PKn berbasis portofolio terhadap pengembangan karakter

siswa sebagai warganegara. Observasi pengajaran dilakukan oleh observer

dengan mencatat hasil observasi pada lembar observasi dengan memberikan

tanda cek. Adapun tujuannya adalah untuk melihat proses pembelajaran.

Wawancara terhadap siswa terutama dilakukan untuk melihat respon

mereka tentang pengaruh pembelajaran PKn berbasis portofolio terhadap

pengembangan karakter siswa sebagai warganegara. Siswa yang diwawancarai

terdiri atas 3 orang siswa, yaitu masing-masing 1 orang dari kelompok tinggi,

sedang dan rendah berdasarkan skor hasil tes penguasaan kompetensi yang

diperoleh pada awal pengajaran. Wawancara dalam penelitian ini dimaksudkan

untuk mempertajam temuan dan hasil-hasil penelitian.

E. Analisis Tes

Uji coba soal tes pemahaman konsep dilakukan di kelas X Untuk

(31)

diketahui dulu tingkat validitas, reliabilitas dan analisis butir soal sebelum

digunakan dalam pengumpulan data.

1. Validitas Butir Soal.

Sebuah alat tes disebut valid apabila mampu mengukur apa yang

hendak diukur, sehingga perlu diuji validitasnya untuk mengetahui kesahihan

alat tes tersebut. Validitas butir soal digunakan untuk mengetahui dukungan

suatu butir soal terhadap skor total. Untuk menguji validitas setiap butir soal,

skor-skor yang ada pada butir soal yang dimaksud dikorelasikan dengan skor

total. Sebuah soal akan memiliki validitas yang tinggi jika skor soal tersebut

memiliki dukungan yang besar terhadap skor total. Dukungan setiap butir soal

dinyatakan dalam bentuk korelasi sehingga untuk mendapatkan validitas suatu

butir soal digunakan rumus korelasi.

Rumus yang digunakan menghitung validitas keseluruhan soal tes

adalah korelasi product moment. (Arikunto, 2007: 70).

rxy=

N ∑XY− ∑X (∑Y)

N ∑X2− ∑X 2 [NY2(Y2)]

Keterangan:

rxy : koefisien korelasi antara variabel X dan Y.

N : jumlah siswa

X : skor tiap, butir soal

(32)

Kriteria validitas berdasarkan besarnya koefisien korelasi adalah

sebagai berikut:

0,80 sampai dengan 1,00 : sangat tinggi

0,60 sampai dengan 0,79 : tinggi

0,40 sampai dengan 0,59 : cukup

0,20 sampai dengan 0,39 : rendah

0,00 sampai dengan 0,19 : sangat rendah

Nilai r yang diperoleh dengan menggunakan rumus Product Moment dari

Karl’s Pearson, harus diuji keberartiannya. Uji keberartian nilai r dilakukan

dengan menggunakan statistik uji-t sebagai berikut:

= −2

1− 2 (Sudjana, 1986: 377)

dengan,

r = koefisisen korelasi (validitas)

n = jumlah responden

t = harga t hitung

Menurut Sudjana (1986: 377), jika t-hitung > t-tabel, maka item

dianggap berarti atau dalam hal ini soal tersebut dapat dikatakan valid. Dan

sebaliknya apabila, t-hitung < t-tabel maka butir item tersebut dianggap tidak

valid. Dimana t tabel, adalah nilai peluang distribusi t dengan taraf signifikansi

1 dan dkn2.

Dengan menggunakan metode perhitungan sebagaimana diuraikan di

atas, hasil uji validitas item atas instrumen dalam penelitian ini adalah

(33)

Tabel 3.2

Hasil Validitas Instrumen Penelitian

Variabel

Jumlah Item Angket Jumlah

Soal

Item Tidak Valid

Jml Valid

Pembelajaran PKn Berbasis Portofolio 36 - 36

Karakter Siswa sebagai Warganegara

Moral Knowing 24 7, 21 22

Moral Loving/Feeling 24 33, 48 22

Moral Action 15 55 14

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dari instrumen penelitian

yang digunakan dalam penelitian ini terdapat beberapa item yang tidak valid.

Pada variabel pembelajaran PKn berbasis portofolio tampak bahwa

semua item dinyatakan valid. Adapun pada variable karakter siswa sebagai

warganegara terdapat 5 item yang tidak valid. Dari kelima item yang tidak

valid tersebut, dua diantaranya merupakan bagian dari sub variable moral

knowing yakni item nomor 7 dan 21. Dua item lainnya merupakan bagian dari

sub variabel moral loving/feeling yakni nomor 33 dan 48. Adapun sisanya

sebanyak satu soal yakni nomor 55 merupakan item yang merupakan bagian

dari sub variable moral action.

Dengan demikian, maka kelima item yang tidak valid tersebut gugur

dan tidak dapat diikutsertakan dalam analisis selanjutnya. Adapun item-item

yang lainnya dinyatakan valid dan layak dijadikan sebagai alat ukur variabel

(34)

2. Reliabilitas Tes

Koefisien reliabilitas instrumen dimaksudkan untuk melihat konsistensi

jawaban butir-butir pemyataan yang diberikan oleh responden. Adapun alat

analisisnya menggunakan metode rumus Alpha:

a) Nilai reliabilitas dihitung dengan menggunakan rumus alpha seperti

berikut:

k = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya item

∑n2 = jumlah varian butir

(∑X)2 = kuadrat jumlah skor seluruh responden dari setiap item

∑X2

= jumlah kuadrat jawaban responden dari setiap item

Varians total dihitung dengan rumus:

(35)

dengan:

t2 = varians total

n = jumlah responden uji coba instrumen

(∑Y)2 = kuadrat jumlah skor seluruh responden dari setiap item

∑Y2

= jumlah kuadrat skor responden

Pedoman dari Sugiyono (2000: 109), pemberian interpretasi terhadap

reliabilitas (r1) pada umumnya digunakan patokan sebagai berikut : 1)

Reliabilitas (rl) uji coba sama dengan atau lebih dari 0,70 berarti hasil uji coba

tesnya memiliki reliabilitas tinggi; 2) Reliabilitas (r1) uji coba kurang dari 0,70

berarti hasil uji coba tesnya memiliki reliabilitas kurang (un-reliable).

Kriteria besarnya reliabilitas adalah sebagai berikut:

0,80 sampai dengan 1,00 : sangat tinggi

0,60 sampai dengan 0,79 : tinggi

0,40 sampai dengan 0,59 : cukup

0,20 sampai dengan 0,39 : rendah

0,00 sampai dengan 0,19 : tidak reliabel

Hasil uji reliabilitas berdasarkan rumus sebagaimana diuraikan di atas,

adalah sebagaimana ditunjukkan table berikut.

Tabel 3.3

Tingkat Reabilitas Instrumen Reabilitas Statistics

Instrumen Penelitian Cronbach Alpha N of Items

Pembelajaran PKn berbasis Portofolio 0,977 36

Karakter Siswa Sebagai Warganegara

Moral Knowing 0,835 24

Moral Loving/Feeling 0,856 24

Moral Action 0,730 15

Pada tabel 3.2 disajikan interpretasi ketercapaian tingkat reabilitas

(36)

instrumen berada pada derajat keterandalan tinggi dan sangat tinggi. Artinya

kesemua instrumen tersebut mampu menghasilkan skor-skor pada setiap item

dengan konsisten serta layak untuk digunakan dalam penelitian.

3. Tingkat Kemudahan Soal

Yaitu bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal.

Besarnya indeks kemudahan soal dapat dihitung dengan rumus:

P = � � ℎ� � � � � �

� � ℎ � �

Keterangan:

P = Indeks kemudahan soal

Jumlah skor ideal = jumlah responden x bobot maksimal soal

Kriteria indeks kemudahan soal adalah:

Tabel 3.4

Klasifikasi Indeks Kemudahan Soal

P Klasifikasi Soal

00,0 ≤ P ≤ 0,30 0,3 < P ≤ 0,70 0,70 < P ≤ 1,00

Sukar Sedang Mudah Sumber (Arikunto, 2008: 210)

Berdasarkan hasil perhitungan, diketahui bahwa tingkat kemudahan

instrumen penelitian pembelajaran PKn berbasis portofolio untuk semua item

yang berjumlah 36 soal termasuk pada kategori sedang. Hasil perhitungan

(37)

4. Daya Pembeda

Uji daya pembeda, dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tiap butir

soal mampu membedakan antara siswa yang memahami konsep dengan yang

tidak memahami konsep. Daya pembeda butir soal dihitung dengan

menggunakan persamaan (Arikunto, 2006) :

B

dengan ID merupakan indeks daya pembeda, BA adalah banyaknya peserta tes

kelompok atas yang menjawab soal dengan benar. BB adalah banyaknya

peserta tes kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar, JA merupakan

banyaknya peserta tes kelompok atas, dan JB adalah banyaknya peserta tes

kelompok bawah.

Tabel 3.5

Klasifikasi Indeks Daya Pembeda Soal

ID Klasifikasi

Tidak baik, harus dibuang

Hasil analisis daya pembeda item menunjukkan bahwa dari 36 soal

yang digunakan dalam penelitian pembelajaran PKn berbasis portofolio, 27

diantaranya memiliki tingkat daya pembeda yang cukup, 8 item

diantaranya memiliki tingkat daya pembeda yang tergolong baik,

(38)

item yang memiliki tingkat daya pembeda jelek yakni nomor 9 dibuang dan

tidak digunakan dalam analisis selanjutnya.

F. Teknik Analisis Data

Setelah penelitian diperoleh data. Data tersebut merupakan data mentah

yang harus diolah agar dapat memberikan gambaran nyata mengenai

permasalahan yang diteliti dan memberikan arah untuk mengkajian lebih

lanjut. Adapun untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep siswa

tentang demokrasi terdiri atas data pre test dan post test menggunakan skor

gain yang dinormalisasi. Gain yang dinormalisasi dapat dihitung dengan

menggunakan rumus gain score ternormalisasi dengan rumusan Meltzer

(Dewi, 2004)sebagai berikut:

� � � � ���� =� −

� � � 100%

Pengolahan Data

Pengolahan dan analisis data menggunakan uji statistik inferensial

parametrik sebagai berikut:

1. Menyeleksi data

Menyeleksi data agar dapat diolah lebih lanjut, yaitu dengan memeriksa

jawaban responden sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.

(39)

Penentuan bobot nilai untuk setiap kemungkinan jawaban pada setiap item

variabel penelitian dengan menggunakan skala penilaian yang telah

ditentukan, kemudian menentukan skornya.

3. Pemberian koding

Untuk setiap jawaban pada angket selanjutnya skor tersebut dijumlahkan.

Hal ini dilakukan untuk mengetahui kecenderungan jawaban responden

secara umum terhadap setiap variabel penelitian.

Rumus:

P = 100%

id

Dengan keterangan:

P = Prosentase skor rata-rata yang dicari X = Skor rata-rata setiap variabel

id

 = Skor rata-rata ideal setiap variabel

4. Melakukan analisis secara deskriptif, untuk mengetahui kecenderungan

data. Dari analisis ini dapat diketahui rata-rata median, standar deviasi,

dan varians data dari masing-masing variabel.

5. Pemeriksaan distribusi populasi data sampel

Pengujian distribusi populasi dari data sampel bertujuan untuk mengetahui

sebaran dari populasi data sampel yang diperoleh, apakah data sampel

berasal populasi yang berdistribusi normal atau distribusi teoritis lainnya.

Hal ini sangat berpengaruh terhadap pemilihan uji statistik yang

(40)

berdistribusi normal. Oleh karena itu, pengujian atas asumsi tersebut

dilakukan dengan uji kecocokan atau lebih dikenal sebagai uji

kolmogorov-smirnov. Pengujian dilakukan dengan menggunakan bantuan

software statistik SPSS.

6. Menghitung skor gain ternormalisasi.

Untuk menjawab pertanyaan penelitian tentang pembelajaran konsep

demokrasi berbasis sketsa kewarganegaraan antara sebelum dan sesudah

pembelajaran, dilakukan berdasarkan pertimbangan hasil perhitungan skor

gain yang dinormalisasi dengan rumus:

g = S post - S pre

S Maks - S pre

Keterangan:

Spost = skor tes akhir

Spre = skor tes awal

Smaks = skor maksimum

Kriteria tingkat gain ternormalisasi adalah:

Tabel 3.6 Kriteria Tingkat Gain

Tingkat gain Kriteria

g 0,7 Tinggi

0,3 g < 0,7 Sedang

g < 0,3 Rendah

(41)

7. Uji Normalitas

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menguji normalitas suatu

sampel salah satunya adalah dengan rumus Chi-Kuadrat. Uji normalitas

dilakukan untuk melihat bahwa data yang diperoleh tersebar secara normal

atau tidak. Menguji normalitas dapat dilakukan dengan langkah-langkah

sebagai berikut:

a) Menemukan batas kelas interval (L), yaitu dengan cara nilai ujung bawah

kelas interval – 0,5 dan ujung kelas interval ditambah 0,5.

b) Mentransformasikan batas kelas interval ke dalam bentuk normal standar

(z), dengan rumus:

c)

d) Menghitung luas kelas interval (L), dihitung dengan menggunakan dagtar

Z yaitu dengan cara Za-Zb

e) Menghitung frekuensi yang diharapkan (Ei), dihitung dengan rumus:

Ei = L x N

Dimana:

Ei : Frekuensi yang diharapkan

L : Luas kelas interval

N : Jumlah data

f) Menghitung Chi Kuadrat dengan rumus:

2

X

E

2

) 0 (

X1– X

(42)

g) Menentukan derajat kebebasan dengan rumus:

dk = k - 3

h) Menentukan nilai Chi-Kuadrat pada daftar nilai x2ditentukan pada α = 0,05

dan dk-3

i) Menentukan kriteria uji normalitas:

Jika x2hitung < x2tabel maka data terdistribusi normal dan jika diluar

kriteria tersebut maka data terdistribusi tidak normal.

8. Uji homogenitas

Uji homogenitas dilakukan dengan menggunakan uji variansi data gain

yang dinormalisasi dua kelompok dengan rumus:

F = S² besar S² kecil

Kriteria (Sudjana, 1996):

Pada taraf signifikansi α, variansi sampel dikatakan homogen jika: F ( Ftab

dengan Ftabel = F1/2α,(v1,v2).

9. Uji Keseimbangan

Uji keseimbangan dimaksudkan untuk menguji

matching/keseimbangan antara kelompok eksperimental dan kelompok

kontrol sebelum pembelajaran untuk memastikan kedua kelompok tersebut

berangkat dari titik tolak yang sama. Dengan kata lain, uji ini dilakukan

(43)

sebelum mendapatkan perlakuan. Statistik yang digunakan adalah uji

independent sample t test.

, dimana =

Keterangan :

Simpangan baku gabungan

Jumlah sampel kelompok 1

Kriteria pengujian adalah diterima hipotesis Ha, jika H0 diterima dan

H1 ditolak jika thitung < ttabel atau -thitung > -ttabel. Untuk harga-harga lainnya

ditolak.

10.Uji Hipotesis

Uji signifikansi perbedaan karakter siswa sebagai warganegara muda

dari sebelum dengan sesudah perlakuan dihitung menggunakan uji t rata-rata

dua sampel berpasangan, dengan pendekatan rumus:

(44)

t = Nilai t hitung yang dicari

D = Rata-rata nilai beda

D2 = kuadrat nilai beda

N = Jumlah sampel

Kriteria pengujian adalah diterima hipotesis Ha, jika jika thitung > ttabel

atau -thitung < -ttabel didapat dari daftar distribusi dengan

dk

 

n

1

dan peluang

 

1

. Untuk harga-harga t lainnya ditolak.

11. Uji Kesamaan Dua Rata-Rata (bebas)

Uji Kesamaan Dua Rata-Rata (bebas) dilakukan dengan menggunakan uji

-t (t-test). Tujuan dari uji hipotesis adalah untuk mencari gain yang lebih

besar antara peningkatan (gain) kelompok kontrol dengan kelompok

eksperimen. Rumus yang digunakan adalah (Sudjana, 1996):

= −E K

� 1E+ 1 K

²=(

E−1)�E²+ ( K−1)�K²

E+ K -2

Keterangan:

� E = rata-rata N-gain skor kelompok eksperimen

� K = rata-rata N-gain skor kelompok kontrol nE = banyaknya subjek kelompok eksperimen

nK = banyaknya subjek kelompok control

(45)

Kriteria (Sudjana, 1996):

t ≥t(1- α ) maka hipotesis (HI)diterima dan sebaliknya jika t < t(I - α),maka

(46)

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan Umum

Berdasarkan analisis dan pengujian hipotesis yang dilakukan oleh

penelitian serta hasil pembahasan, secara umum dapat disimpulkan bahwa

Penggunaan model pembelajaran konvensional dan pembelajaran portofolio

keduanya dapat mengembangkan karakter siswa sebagai warganegara. Tetapi

hasil penelitian menunjukan bahwa perkembangan karakter siswa pada kelas

yang menggunakan model pembelajaran potofolio perkembangannya

mengalami peningkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang

menggunakan model pembelajaran konvensional.

Berdasarkan rumusan masalah, sebagaimana telah diuraikan dalam bab

IV, maka tampak pengaruh pembelajaran PKn berbasis portofolio terhadap

pengembangan karakter siswa sebagai warganegara di SMA Bina Dharma 2

Bandung dapat dirinci sebagai berikut:

1. Terdapat peningkatan yang signifikan pada karakter siswa kelas

eksperimen sebagai warganegara dari sebelum dengan sesudah diberi

pembelajaran PKn berbasis portofolio. Hal ini karena pembelajaran PKn

dengan menggunakan portofolio memberikan kontribusi dalam

(47)

dispositions dan civic skills) melalui pengalaman selama proses

pembelajaran yang didukung semua pihak yang terkait dan terlibat melalui

program nyata yang terencana, terarah, terpadu, menyeluruh secara

kontinu.

2. Terdapat peningkatan yang signifikan pada karakter siswa kelas kontrol

sebagai warganegara dari sebelum dengan sesudah diberi pembelajaran

PKn secara konvensional. Pada kelas kontrol pembentukan karakter siswa

sebagai warganegara mengalami peningkatan yang sedikit lebih rendah

karena siswa tidak terlibat langsung dalam pembelajaran, guru yang lebih

dominan dalam pembelajaran konvensional.

3. Terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata skor peningkatan

karakter siswa sebagai warganegara siswa kelas eksperimen yang

mendapat pembelajaran PKn berbasis portofolio dengan siswa kelas

kontrol yang tidak mendapat perlakuan serupa dimana peningkatan

karakter siswa sebagai warganegara siswa kelas eksperimen lebih tinggi

dibanding peningkatan karakter siswa sebagai warganegara siswa kelas

kontrol. Hal ini karena pembelajaran PKn berbasis portofolio lebih efektif

dalam mempengaruhi peningkatan karakter siswa sebagai warganegara

dibanding model pembelajaran konvensional.

B. Kesimpulan Khusus

1. Peningkatan mutu pembelajaran PKn dengan menggunakan model

(48)

2. Penggunaan portopolio dapat memberikan solutif, inovatif, adaptif

dan kreatif yang menumbuhkan partisifasi siswa yang bermutu dalam

berbagai permasalahan dan kebijakan publik, termasuk kehidupan

politik dan kehidupan bermasyarakat.

3. Hambatan-hambatan dalam mengimplementasikan pembelajaran PKn

menggunakan model portofolio, waktu pelaksanaan lebih dari jumlah

pelajaran yang dibutuhkan, biaya yang disediakan untuk pemenuhan

kegiatan baik dilapangan dan di kelas, oleh guru dan siswa senantiasa

berupaya diminimalisir melalui koordinasi dengan berbagai pihak

yang terkait sehingga pembelajarannya bermakna, utuh, terintegrasi,

guna mendorong dan terwujudnya siswa yang memiliki karakter

sebagai warganegara.

4.

C. Rekomendasi

Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan, dan kesimpulan yang telah

dikemukakan di atas, maka pada bagian ini dikemukakan beberapa

rekomendasi yang diperlukan. Rekomendasi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Untuk Guru

a. Pembelajaran PKn baik dari segi materi, media, metode harus terus

ditingkatkan, dievaluasi dan diinovasi, sebab meskipun berpengaruh

(49)

tetapi pengaruhnya lebih rendah dengan menggunakan pembelajaran

konvensional dibandingkan dengan menggunakan portofolio.

b. Agar guru mampu menciptakan suasana yang kretif, inovatif dan

menyenangkan sehingga para siswa mendapatkan pengalaman belajar

selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung dan memperolah

hasil pembelajaran yang maksimal dengan cara memilih strategi atau

metode dan media pembelajaran yang tepat untuk memaksimalkan

proses dan hasil pembelajaran.

c. Agar para guru merancang suatu pembelajaran yang dimulai dari

proses persiapan, penyajian materi pembelajaran penyajian materi

pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran secara baik dengan

harapan memperoleh hasil yang maksirnal. Guru hendaknya lebih

memperluas wawasan pengetahuan dan keterampilannya dengan

isu-isu aktual, agar dapat memancing siswa untuk mampu berpikir lebih

kritis terhadap permasalahan yang ada disekitamya.

d. Pada tahapan langkah-langkah dan strategi dalam implementasi

pembelajaran portofolio sebaiknya terarah, terencana, lengkap dan

konsisten agar memberikan dampak positif dan baik dalam

meningkatkan kompetensi siswa.

2. Untuk Siswa

Senantiasa perlu meningkatkan motivasi belajarnya, dan mengubah

(50)

oleh guru saja tetapi belajar bisa dilakukan di dalam kelas, tetapi juga

dapat belajar dari lingkungan dan masyarakat.

3. Untuk Sekolah

a. Ciptakan iklim sekolah yang tertib dan aman serta menyenangkan.

b. Perlunya diciptakan iklim belajar yang objektif, penuh kebebasan dan

yang terarah, dihargai potensi dirinya, tidak pilih kasih atau

diskriminatif, hangat, kekeluargaan, terbuka dan tidak ada paksaan

dalam bentuk apapun juga.

c. Menjadikan kelas sebagai “democratic laboratory”, lingkungan

sekolah sebagai “micro cosmos of democracy” dan masyarakat sebagai

open global classroom

d. Sekolah hendaknya memberikan berbagai pengalaman sehingga siswa

dapat belajar dan mempraktekkan tingkah laku yang tepat untuk

berbagai tujuan dalam rangka menumbuhkan warganegara yang

akademis, demokratis dan berkarakter.

4. Untuk Dinas Pendidikan

a. Dengan menggunakan model portofolio pada pembelajaran PKn,

respon siswa sangat antusias, positif. Sebaiknya dilaksanakan lomba

(51)

menjadi solusi alternative dan inovatif guna mendukung peningkatan

mutu pembelajaran dan pembentukan karakter warga negara

b. Hasil penelitian ini diharapkan agar Dinas Pendidikan Kota Bandung

hendaknya memiliki komitmen yang kuat untuk memperbaiki mutu

pendidikan dalam keseluruhan sistemnya secara komprehensif dan

sinergis. Kemudian hasil penelitian ini ditujukan sebagai tambahan

informasi bagi Dinas Pendidikan dapat menerapkan portofolio dalam

Gambar

Gambar 1.1 Keterkaitan antar Variabel Penelitian…………………………... Gambar 1.2 Paradigma Penelitian…………………………………………...
Gambar 1.1  Keterkaitan antar Variabel Penelitian
Tabel 1.1  Penjelasan variabel
Gambar 1.2 Paradigma Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

metode enam tahapan berpikir di kelas eksperimen?.. 3) Adakah perbedaan yang signifikan antara hasil pembelajaran menulis biografi.. sebelum dan sesudah menggunakan

Hasil uji t hasil belajar menunjukkan p-value sebesar 0,000 &lt; 0,05 yang artinya ada perbedaan yang signifikan. Selanjutnya dari segi penanaman karakter toleransi siswa

Apakah terdapat perbedaan peningkatan kemampuan pemahaman konsep siswa antara kelas eksperimen yang diberi perlakuan media audio visual berbasis video dengan siswa

Berdasarkan perhitungan uji t dan perbandingan nilai rata-rata antara kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2, maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan hasil belajar

Berdasarkan data penelitian dari kelas eksperimen dan kelas kontrol maka dapat diperoleh pernyataan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar

keterampilan menulis cerita pendek siswa kelompok kontrol. Dengan demikian, hasil uji-t menunjukkan adanya perbedaan keterampilan menulis cerita pendek siswa kelompok