BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia adalah negara dengan luas kawasan terbesar, penduduk terbanyak, dan sumber daya alam terkaya di Asia Tenggara. Hal tersebut menempatkan Indonesia sebagai kekuatan utama negara-negara di Asia Tenggara. Di sisi lain, konsekuensi dari diimplementasikannya komunitas ekonomi ASEAN dan terdapatnya Asean – China Free Trade Area (ACFTA) mengharuskan Indonesia meningkatkan daya saingnya guna mendapatkan manfaat nyata dari adanya integrasi ekonomi tersebut (MP3EI, 2011).
World Economic Forum (WEF, 2011) mendefinisikan daya saing sebagai
kondisi institusi, kebijakan, dan faktor-faktor yang menentukan tingkat produktivitas ekonomi suatu negara. Produktivitas yang tinggi mencerminkan daya saing yang tinggi, dan daya saing yang tinggi berpotensi memungkinkan pertumbuhan ekonomi tinggi, yang selanjutnya akan meningkatkan kesejahteraan penduduk.
Peringkat daya saing Indonesia dibandingkan dengan negara lain di kawasan ASEAN belum menempatkan Indonesia sebagai kekuatan utama. Beberapa indikator yang menunjukkan hal tersebut diantaranya adalah posisi daya saing Indonesia pada tahun 2011-2012 berada di urutan ke 46 dari 133 negara di dunia. Tahun 2012-2013 posisi daya saing Indonesia turun empat tingkat sehingga berada dalam peringkat 50 dari 133 negara. Namun di tahun 2013-2014 peringkat Indonesia naik menjadi ranking 34 (WEF, 2014-2015).
IMD (International Institute for Management Development) yang menerbitkan WCR (World Competitiveness Report), posisi Indonesia berada pada urutan 58 dari 60 negara yang diteliti. UNIDO (United Nations Industrial
Development Organization) yang mengembangkan indicator CIP
(Competitiveness Industrial Performance), peringkat kinerja industri manufaktur Indonesia berada pada urutan ke-38 dari 93 negara.
Tabel 1.1 Ranking Global Competitiveness Indeks (GCI) Tahun 2011-2013 (WEF, 2013)
No. Negara GCI 2011-2012 Rank GCI 2012-2013 Rank GCI 2013-2014 Rank 1 Indonesia 46 50 34 2 Thailand 38 39 31 3 Singapura 3 2 2 4 Vietnam 59 65 68 5 Malaysia 26 21 20 6 India 51 56 59 7 China 27 26 29 8 Philipina 85 75 52
Lemahnya daya saing tersebut merupakan akibat dari berbagai faktor. Menurut tolok ukur WEF, diidentifikasi 5 (lima) faktor penting yang menonjol. Pada tataran makro, terdapat 3 (tiga) faktor, yaitu: (a) tidak kondusifnya kondisi ekonomi makro; (b) buruknya kualitas kelembagaan publik dalam menjalankan fungsinya sebagai fasilitator dan pusat pelayanan; dan (c) lemahnya kebijakan pengembangan teknologi dalam memfasilitasi kebutuhan peningkatan produktivitas. Sementara itu, pada tataran mikro atau tataran bisnis, 2 (dua) faktor yang menonjol adalah: (a) rendahnya efisiensi usaha pada tingkat operasionalisasi perusahaan; dan (b) lemahnya iklim persaingan usaha.
Menurut catatan IMD, rendahnya kondisi daya saing Indonesia, disebabkan oleh buruknya kinerja perekonomian nasional dalam 4 (empat) hal pokok, yaitu: (a) buruknya kinerja perekonomian nasional yang tercermin dalam kinerjanya di perdagangan internasional, investasi, ketenagakerjaan, dan stabilitas harga, (b) buruknya efisiensi kelembagaan pemerintahan dalam mengembangkan kebijakan pengelolaan keuangan negara dan kebijakan fiskal, pengembangan berbagai peraturan dan perundangan untuk iklim usaha kondusif, lemahnya koordinasi akibat kerangka institusi publik yang masih banyak tumpang tindih, dan kompleksitas struktur sosialnya, (c) lemahnya efisiensi usaha dalam mendorong peningkatan produksi dan inovasi secara bertanggung jawab yang tercermin dari tingkat produktivitasnya yang rendah, pasar tenaga kerja yang
belum optimal, akses ke sumberdaya keuangan yang masih rendah, serta praktik dan nilai manajerial yang relatif belum profesional, dan (d) keterbatasan di dalam infrastruktur, baik infrastruktur fisik, teknologi, dan infrastruktur dasar yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat akan pendidikan dan kesehatan.
Persoalan daya saing industri senantiasa terkait dengan competitive strategy (Porter, 1990). Suatu keunggulan kompetitif muncul ketika sebuah perusahaan dapat menghasilkan produk yang sama yang dihasilkan pesaingnya dengan biaya yang lebih rendah (cost advantage), atau menghasilkan produk/jasa yang berbeda dan lebih baik yang dihasilkan pesaingnya (differentiation
advantage). Keunggulan kompetitif akan memungkinkan perusahaan untuk
menciptakan nilai lebih untuk pelanggannya dan perusahaan dapat memperoleh keuntungan yang lebih tinggi. Cost advantage dan differentiation advantage
dikenal sebagai positional advantage karena dapat menjelaskan posisi perusahaan dalam industri sebagai pemimpin dalam hal biaya (cost) ataupun dalam hal keunikannya (differentiation). Selain itu, ada pandangan yang melihat keunggulan kompetitif dari sudut pandang kapabilitas (capabilities) dan sumberdaya (resources) yang dimilikinya.
Dari sisi teknologi, pengalaman Korea Selatan dan Taiwan menunjukkan bahwa pengembangan kemampuan teknologi perusahaan manufaktur merupakan suatu unsur pokok dalam daya saing internasional, khususnya kinerja ekspor perusahaan tersebut. Jika kemampuan teknologi didefinisi sebagai kemampuan untuk menggunakan teknologi secara efektif dan efisien (Bell, et al. 1984), maka perlu ditekankan bahwa menggunakan teknologi secara efektif dan efisien bukanlah suatu proses otomatis dan pasif dengan hanya mengimpor mesin yang moderen disertai petunjuk bagaimana menggunakan mesin ini. Pengembangan
kemampuan teknologi oleh perusahaan meliputi upaya teknologi (technological effort) untuk memperoleh pengertian teknis yang baik tentang teknologi yang di-impor/dibeli, informasi teknis, keterampilan teknis, praktek manajemen modern, dan kaitan dengan perusahaan lain dan lembaga-lembaga iptek domestik. Masalahnya adalah bahwa di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, banyak perusahaan manufaktur sering tidak tahu atau kurang mampu untuk
mengoperasikan teknologi yang mereka impor/beli pada tingkat praktek terbaik di dunia (world best practice levels) (Lall & Weiss, 2003).
Hingga kini kebijakan industri di Indonesia belum memberikan perhatian yang memadai pada mekanisme-mekanisme yang dapat mendorong penyebaran yang luas dan teknologi praktek terbaik (best practice technologies) yang dapat membantu industri-industri manufaktur Indonesia untuk bersaing dengan lebih baik di pasar internasional. Pengalaman di ‘Empat Macan’ Asia Timur, khususnya Korea Selatan dan Taiwan, yang berhasil meningkatkan daya saing internasional industri-industri manufaktur mereka melalui pengembangan teknologi industri, menunjukkan bahwa beberapa prasyarat (kondisi) perlu dipenuhi. Dalam memenuhi prasyarat ini, baik prasyarat pokok (basic conditions) maupun prasyarat pendukung (enabling conditions), kebijakan pemerintah bisa dan perlu memegang peranan penting (Thee, 2006).
Prasyarat pokok untuk mendorong pengembangan kemampuan teknologi industri adalah (1) Stabilitas makro ekonomi, (2) Kebijakan ekonomi yang mendorong persaingan (pro-competition policies), dan (3) Pengembangan sumber daya manusia (Thee, 1998). Di samping prasyarat ini, perlu dipenuhi beberapa prasyarat pendukung (enabling conditions) , yaitu kebijaksaan pemerintah yang mempengaruhi, yaitu (1) Mempermudah akses ke teknologi asing, (2) Ketersediaan dan akses ke dana untuk membiayai pengembangan teknologi, dan (3) Penyediaan jasa-jasa pendukung teknologi (technology support services).
Daya saing suatu bangsa ditentukan oleh kemampuan daya saing dari pelaku pembangunan atau pelaku usaha, kemampuan daya saing masyarakatnya dan kemampuan daya saing negara. Daya saing perusahaan mempunyai arti kemampuan perusahaan untuk bersaing (Zuhal, 2010). Perusahaan mempunyai strategi sendiri untuk menurunkan biaya, meningkatkan kualitas produk, dan mendapatkan jaringan pemasaran. Pengembangan industri membutuhkan peningkatan daya saing di pasar domestik dan internasional (ADB, 2003).
Dari perpektif perusahaan, daya saing merupakan kemampuan berkompetisi sebuah perusahaan. Kemampuan kompetisi itu bisa dilihat dari penguasaan pasar, pangsa pasar, dan tingkat keuntungan perusahaan. Daya saing
pada tingkat negara dapat diasumsikan sama dengan perusahaan. Daya saing adalah gambaran bagaimana suatu bangsa termasuk perusahaan-perusahaan dan SDM-nya mengendalikan kekuatan kompetensi yang dimilikinya secara terpadu guna mencapai kesejahteraan dan keuntungan (Zuhal, 2010).
Perusahaan perlu mengerahkan dua kekuatan daya saingnya sekaligus untuk berkompetisi. Pertama, keunggulan komparatif, yang melekat pada rendahnya biaya-biaya faktor produksi, seperti tenaga kerja, bahan mentah, kapital atau insfrastruktur fisik, dan ukuran skala usaha. Kedua, keunggulan kompetitif, yang terdapat pada kemampuan kreativitas, produktivitas, dan inovasi yang meliputi inovasi teknologi, inovasi cara pemasaran, inovasi posisi produk diantara produk-produk pesaing, dan inovasi kualitas pelayanan. Kekuatan daya saing yang bertumpu pada keunggulan komparatif merupakan kekuatan yang semata mempertimbangkan fisik atau tangible. Sementara itu, kekuatan daya saing kompetitif adalah kekuatan daya saing intangible.
Avella, et al., (2001) dan Miltenburg, (2008), menegaskan pentingnya strategi manufaktur sebagai penentu daya saing perusahaan. Empat kunci kompetitif manufaktur yang digunakan adalah cost, quality, delivery and flexibility. Sohn, et al., (2007) melakukan penelitian pada 246 responden dengan menggunakan Maximum Likelihood Estimation (MLE),dan Partial Least Square (PLS) dengan model persamaan struktural untuk mengevaluasi kinerja R & D melalui tiga aspek yaitu output, outcome dan dampak yang diberikan dengan mengadopsi kriteria MBNQA (Malcolm Baldrige National Quality Award).
Pembuat kebijakan industri di seluruh dunia semakin sering menggunakan teknologi dan klasifikasi pasar untuk menilai daya saing industri manufaktur. Sektor industri manufaktur yang intensif teknologi mempunyai pertumbuhan dan prospek dagang lebih baik, menawarkan kesempatan belajar, dan seringkali menghasilkan eksternalitas bagi perekonomian. Selain itu, sektor manufaktur yang intensif teknologi juga menghasilkan nilai tambah lebih tinggi dan memberikan hambatan masuk lebih tinggi bagi pendatang baru (Reinhardt, 2005)
Holsapple, et al., (2001) menggunakan Porter’svalue chain model untuk membuktikan bahwa terdapat hubungan antara aktivitas knowledge management
dan daya saing. Dengan model rantai nilai dari Porter menggambarkan peran masing-masing kegiatan terhadap peningkatan nilai tambah bagi organisasi untuk meningkatkan daya saing melalui peningkatan produktivitas, kelincahan, reputasi dan inovasi. Hasil penelitian Amoako-Gyampah, et al., (2008) menegaskan pengaruh antara strategi manufaktur dan strategi bersaing terhadap kinerja perusahaan. Strategi bersaing yang digunakan adalah cost leadership dan
differentiation. Strategi manufaktur yang digunakan adalah cost, delivery, flexibility, dan quality. Ukuran kinerja perusahaan yang digunakan adalah market share dan sales growth.
Tingkat daya saing dan produktivitas suatu perusahaan saling berkaitan (Oral, et al. 1999). Menurut model ini tingkat daya saing perusahaan adalah kinerja keseluruhan dari perusahaan dibandingkan dengan pesaingnya di pasar dan didefinisikan sebagai dua fungsi utama yaitu industrial mastery dan cost superiority. Sementara Sirikrai, et al., (2006) dan Chou, et al., (2008) dengan menggunakan metode AHP menyajikan sebuah model AHP berbasis komprehensif yang mengekplorasi berbagai tingkat kepentingan dari indikator daya saing. Indikator daya saing yang digunakan meliputi manufacturing excellence, value-added of product, market expansion, financial returns and intangible values.
Rochman, et.al., (2011) mengkombinasikan metode SWOT dengan AHP dalam menganalisis daya saing industri agro di Indonesia. Faktor yang digunakan untuk memilih prioritas dari industri agro yang potensial untuk mengembangkan
nanotechnology adalah faktor lingkungan internal yang terdiri dari 7 kriteria dan factor eksternal yang terdiri dari 7 kriteria. Industri agro yang dijadikan obyek penelitian adalah Fertilizer Industry, Pesticide Industry, dan Food Industry. Berbeda dengan penelitian-penelitian terdahulu, penelitian ini secara spesifik akan mengembangkan sebuah model daya saing industri manufaktur dan industri kreatif. Hal yang berbeda dengan penelitian sebelumnya adalah dimasukkannya variabel kemitraan/kolaborasi sebagai salah satu variabel penentu daya saing digabungkan dengan variabel lainnya yang telah digunakan oleh para peneliti sebelumnya. Kemitraan mengandung pengertian adanya hubungan kerja
sama usaha diantara berbagai pihak yang sinergis, bersifat sukarela, dan dilandasi oleh prinsip saling membutuhkan, saling menghidupi, saling memperkuat dan saling menguntungkan. Sebagai suatu strategi pengembangan usaha, kemitraan telah terbukti berhasil diterapkan di banyak negara, antara lain di Jepang dan empat negara di Asia, yaitu Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura. Di negara-negara tersebut kemitraan umumnya dilakukan melalui pola subkontrak yang memberikan peran kepada industri kecil dan menengah sebagai pemasok bahan baku dan komponen industri besar (Kartasasmita, 1997).
Kunci sukses berkembangnya kemitraan di negara-negara maju adalah karena kemitraan usahanya terutama didorong oleh adanya kebutuhan dari pihak-pihak yang bermitra itu sendiri, atau diprakarsai oleh dunia usahanya sendiri sehingga kemitraan dapat berlangsung secara alamiah. Hal ini dimungkinkan mengingat iklim dan kondisi ekonomi mereka telah cukup memberikan dukungan ke arah kemitraan yang berjalan sesuai dengan kaidah ekonomi yang berorientasi pasar. Kondisi ideal ini belum sepenuhnya tercipta di negara kita. Indikator yang menunjukkan hal ini adalah masih kuatnya kecenderungan usaha besar untuk menguasai mata rantai produksi dan distribusi dari perekonomian nasional.
Kemitraan yang baik harus didasarkan atas kepercayaan (trust) antara pihak-pihak yang saling bekerjasama. Jika dasar kepercayaan telah terbangun dan berjalan dengan baik maka langkah selanjutnya adalah penguatan organisasi (compatibility organizational) dan untuk menjamin kelangsungan kemitraan dalam jangka panjang mutual agreement merupakan langkah yang harus dilakukan oleh pihak-pihak yang saling bekerjasama. Tiga hal ini (trust, compatibility organizational, dan mutual agreement) merupakan supply chain value yang sangat berguna dalam menjalankan kemitraan dengan baik.
Beberapa indikator kemitraan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kemitraan internal, kemitraan dengan pemasok, kemitraan dengan pelanggan, dan kemitraan dengan pesaing potensial. Kemitraan internal merupakan usaha penciptaan suatu lingkungan yang didalamnya terdapat mekanisme terstruktur dan membentuk aliansi yang saling mendukung antara manajer dan karyawan, tim, dan karyawan individual yang memaksimumkan potensi sumber daya manusia
yang dimiliki suatu perusahaan. Kemitraan dengan pemasok diperlukan untuk menciptakan dan memelihara hubungan yang loyal, saling percaya, dan dapat diandalkan sehingga akan menguntungkan kedua belah pihak. Kemitraan dengan pelanggan diperlukan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dan daya saing perusahaan. Cara terbaik untuk menjamin kepuasan pelanggan adalah melibatkan pelanggan sebagai mitra dalam proses pengembangan produk. Kemitraan dengan pesaing potensial juga bertujuan untuk meningkatkan daya saing. Strategi ini lebih banyak diterapkan pada perusahaan-perusahaan kecil dan menengah.
Variabel lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah , manufacturing strategy, competitive strategy, dan teknologi. Strategi manufaktur merupakan salah satu dimensi daya saing yang sering digunakan (Amoako-Gyampah, et.al., 2008; Avella, et.al., 2001; Demeter, 2003; Miltenburg, 2008). Empat kunci kompetitif manufaktur yang digunakan adalah cost, quality, delivery dan
flexibility. Indikator kemampuan teknologi yang digunakan pada penelitian ini adalah existing production capability, access to new technology, process improvement capability, product improvement capability, dan new product development capability (Sirikrai, et al. 2006). Existing production capability
mengacu pada pengetahuan tentang proses manufaktur serta kemampuan produksi. Access to new technology mengacu pada kemampuan untuk memperoleh dan menggunakan teknologi baru melalui bantuan teknis perjanjian atau lisensi, dan pengembangan usaha patungan atau joint proyek pengembangan teknologi. Process improvement capability mengacu pada kemampuan untuk meningkatkan teknologi manufaktur saat ini untuk memenuhi persyaratan pelanggan. Product improvement capability mengacu pada kemampuan untuk meningkatkan produk yang ada meliputi karakteristik, kinerja atau penampilan, untuk lebih memuaskan pelanggan. New product development capability
merupakan kemampuan untuk merancang dan mengembangkan produk baru untuk memuaskan pelanggan, baik dengan sendiri atau dengan perusahaan lain.
Penelitian ini dimulai dengan memetakan kondisi industri manufaktur yang ada berdasarkan standard klasifikasi ISIC 2 digit dan industri kreatif yang terdiri dari 14 sektor. Berdasarkan hasil pemetaan ini, kemudian diidentifikasi
variabel-variabel yang mempengaruhi daya saing kedua industri. Untuk menganalisis pola hubungan di antara variabel-variabel digunakan metode
structural equation modelling (SEM). Hasil dari pola hubungan antar variabel kemudian dibuat skala prioritas dengan analytical hierarchy process (AHP) untuk menentukan bobot prioritas masing-masing kriteria. Hasil pembobotan kriteria ini kemudian digunakan sebagai pengembangan model daya saing industri kedua sektor industri melalui analisis SWOT. Kontribusi dari penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan sebuah model daya saing yang dapat menjawab tantangan di masa mendatang.
1.2. Rumusan Masalah
Perumusan masalah dalam penelitian ini dapat dinyatakan sebagai berikut: 1. bagaimana menentukan variabel-variabel yang mempengaruhi daya saing
industri manufaktur dan industri kreatif?
2. bagaimana menentukan bobot kriteria yang mempengaruhi daya saing industri pada masing-masing subsektor industri?
3. bagaimana menyusun model pengembangan daya saing industri manufaktur dan industri kreatif?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. menentukan variabel-variabel yang mempengaruhi daya saing industri manufaktur dan industri kreatif,
2. menentukan bobot kriteria yang mempengaruhi daya saing industri manufaktur pada masing-masing subsektor industri,
3. menyusun strategi pengembangan daya saing industri manufaktur dan industri kreatif berdasarkan bobot kriteria.
1.4. Batasan Masalah
Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. industri manufaktur yang dimaksud dalam penelitian ini berdasarkan definisi yang dikeluarkan oleh BPS,
2. klasifikasi industri manufaktur yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan standard klasifikasi ISIC (international standard industrial classification) 2 digit yang terdiri dari 9 subsektor industri.
3. industri kreatif yang digunakan berdasarkan cetak biru pengembangan ekonomi kreatif Indonesia 2009-2025 dari Departemen Perdagangan RI yang terdiri dari 14 subsektor industri.
1.5. Asumsi
Asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. sifat persaingan pasar adalah non monopoli,
2. model daya saing yang dikembangkan ada pada level industri, 3. indikator yang digunakan dalam variabel laten bersifat independent.
1.6. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. memberi masukan bagi pelaku industri mengenai variabel-variabel penentu yang mempengaruhi daya saing industri manufaktur dan industri kreatif sehingga dapat meningkatkan potensi daya saingnya,
2. memberikan informasi bagi pelaku industri agar dapat melakukan pengembangan industri manufaktur dan kreatif di wilayahnya berdasarkan model daya saing dalam penelitian ini.