• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. KROMATOGRAFI CAIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV. KROMATOGRAFI CAIR"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV. KROMATOGRAFI CAIR

A. INTERAKSI SOLUT-FASE GERAK-FASE DIAM

Sistem paling sedrhana dari kromatografi cair adalah kromatografi kolom terbuka. Sistem ini tergolong non-instrumental method. Hampir semua sampel dapat dianalisis dengan metode ini dan tidak perlu pre treatment seperti penguapan pada kromatografi gas. Hal yang menjadi kekurangan dari sistem ini adalah keterbatasannya dalam menjaga laju alir fase gerak dan membuat fase diam terpacking secara merata. Oleh karena itu dalam banyak kasus sering terjadi pelebaran pita kromatogram.

Ada banyak macam interaksi solut-fase diam-fase gerak yang mendasari terjadinya proses pemisahan dalam kromatografi ini, yaitu : Adsorpsi permukaan (didasarkan pada mekanisme adsorpsi-desorpsi solut dalam fase diam)

1. Partisi (didasarkan pada partisis solut dalam fase diam dan fase gerak) 2. Ion exchange atau pertukaran ion (didasarkan pada pertukaran ion solut

dan fase diam)

3. Eksklusi (didasarkan pada perbedaan ukuran partikel solut)

Kromatografi adsorpsi

Dalam kromatografi adsorpsi fase diam yang digunakan merupakan padatan biasanya silika dan alumina. Solut dan fase gerak dapat berinteraksi dengan sisi polar dari fase diam. Pemisahan terjadi oleh karena perbedaan kekuatan adsorpsi solut terhadap fase diam.

Fase diam alumina dapat digunakan untuk analisis amina dan derivatnya. Fase gerak yang dapat dipakai adalah heksana, kloroform atau 2-propanol. Sedangkan fase diam silika dapat digunakan untuk analisis eter, ester, porphirin dan vitamin larut lemak. Fase gerak yang dapat dipakai adalah heksana, kloroform dan 2-propanol.

Kromatografi Partisi

Pemisahan dalm kromatografi partisi terjadi oleh karena adanya partisis solut dalam dua fase cair yang berbeda. Perjalanan solut dalam kolom hampir sama dengan perjalanan solut dalam ekstraksi berkelanjutan. Solut yang lebih larut dalam fase diam akan tertahan lebih lama dalam kolom daripada solut yang

(2)

kelarutannya dalam fase diam kecil. Ada dua tipe dalam kromatografi partisi yaitu :

1. Normal phase chromatography atau kromatografi fase normal, bila fase diamnya bersifat polar dan fase geraknya bersifat non polar. Fase diam yang dapat digunakan adalah amino (-NH2), Cyano (-CN) dan Diol (glycidoxy-ethilmethokxysilane)

2. Reverse phase chromatography atau kromatografi fase terbalik, bila fase diamnya bersifat non polar dan fase geraknya bersifat polar. Fase diam yang dapat digunakan adalah RP-2 ( Si-CH2-CH3 ), RP-8 (Si-(CH2)7 -CH3), RP-18 (Si-(CH2)17-CH3.

Ion Exchange Chromatography atau Kromatografi Penukar Ion

Fase diam yang digunakan adalah molekul yang memiliki muatan ionik di permukaannya dan muatannya berlawanan dengan muatan ionik solut. Kadang molekul fase diam ini diikatkan pada bahan penyangga. Kromatografi tipe ini cocok digunakan untuk pemisahan senyawa-senyawa ionik.

Pada gambar di atas fase diam mempunyai muatan positif. Bila ada solut yang bermuatan positif lebih kuat maka dapat mendesak dan menggantikan muatan positif fase diam dan terjadilah proses retensi solut dalam fase diam. Adanya perbedaan kekuatan interaksi antara solut dan fase diam menyebabkan terjadinya pemisahan. Ada dua macam kromatografi penukar ion yaitu :

1. Penukar kation (cationic exchange}, bila muatan yang dipertukarkan adalah positif

X+ + R-K+ X+R- + K+

Penukar kation kuat dapat menggunakan golongan asam sulfonat, sedangkan penukar kation lemah dapat menggunakan golongan karboksilat (-COOH)

2. Penukar anion (anionic exchange), bila muatan yang dipertukarkan adalah negatif

x- + R+Cl- X-R+ + Cl

-Penukar anion kuat dapat menggunakan golongan amino quarterner, sedangkan penukar anion lemah dapat menggunakan golongan amin primer.

(3)

Di samping pemilihan fase diam, perlu mendapat perhatian adalah pemilihan buffer. Derajat keasaman (pH) buffer harus dipilih pada pH di mana komponen sampel yang akan dianalisis berada dalam bentuk ion. Untuk pemisahan anion disarankan pH>6 atau pH>pKa, sedangkan untuk pemisahan kation disarankan pH<6 atau pH<pKa. Konsentrasi buffer juga harus seminimal mungkin untuk menghindari terjadinya kompetisi dengan solut.

Size Exclusion Chromatographyatoau Kromatografi Eksklusi

Kromatografi eksklusi juga disebut kromatogarfi permeasi gel. Proses pemisahan didasarkan pada ukuran partikel solut. Sebagai fase diam adalah material yang terkontrol ukuran partikelnya, bisa silika atau gelas yang ukuran partikelnya terkontrol atau gel organik seperti agarosa dan poliakrilamid. Sistem kromatografi ini biasa dipakai untuk menentukan ukuran partikel dari senyawa polimer seperti protein. Partikel solut denan ukuran partikel besar akan terelusi lebih cepat karena mereka melewati ruang antar partikel fase diam. Sebaliknya, partikel solut dengan ukuran partikel kecil akan terelusi lebih lama karena mereka harus melewati pori-pori fase diam.

Ion Pair Chromatography atau Kromatografi Pasangan Ion

Prinsip pemisahan tidak berbeda jauh dengan kromatografi penukar ion yaitu adanya pergantian ion solut dengan ion fase diam seperti pada gambar III.6. Hanya saja fase diam yang dipakai adalah fase diam reverse phase Q atau C18. Lapisan muatan fase diam dibuat dengan jalan melewatkan fase gerak yang berisi pasangan ion. Pasangan ion selanjutnya akan mengimpregnasi C8 atau C18 sehingga fase diam menjadi bermuatan. Pasangan ion fase gerak tertata melapisi C8 atau C18 dengan muatan positif berada bebas dan muatan negatif terikat pada C8 atau Q8. Bila terdapat ion positif lebih kuat daripada muatan positif fase gerak, maka ion solut ini akan mengganti kedudukannya dan menjadi tertahan dalam kolom. Untuk mengeluarkan solut maka dilakukan pendesakan dengan fase gerak yang memiliki kekuatan muatan positif jauh lebih kuat daripada muatan ion positif ion solut.

(4)

B. Pemilihan Fase Gerak

Untuk menentukan jenis fase gerak maka perlu mengetahui terlebih dahulu sistem kromatografi apa

kromatografi didasarkan pada jenis dan sifat dari solut yang akan dianalisis. Berikut ini garis besar menentukan sistem kromatografi yang sesuai.

Dalam memilih fase gerak, perlu memperhatikan dua hal penting yaitu : 1. Solvent strength,

Sebagai fase diam acuan adalah silika atau alumina.

2. Polarity index, yaitu kepolaran dari fase gerak, terutama dalam kromatografi fase terbalik.

Harga solvent strength

mencampur lebih dari satu macam pelarut.

Pemilihan fase gerak untuk kromatografi fase terbalik didasarkan pada hukum Snyder. Menurut Snyder solven atau pelarut dapat diklasifikasikan menjadi tujuh golongan berdasarkan keasaman,

sifat kimianya, seperti gambar IV. 1 dan tabel IV. 1 berikut ini.

Gambar IV. 1. Skema pemilihan sistem kromatografi Pemilihan Fase Gerak

Untuk menentukan jenis fase gerak maka perlu mengetahui terlebih dahulu sistem kromatografi apa yang akan dikerjakan. Pemilihan sistem kromatografi didasarkan pada jenis dan sifat dari solut yang akan dianalisis. Berikut ini garis besar menentukan sistem kromatografi yang sesuai.

Dalam memilih fase gerak, perlu memperhatikan dua hal penting yaitu : Solvent strength, yaitu kemampuan membawa solut melintasi fase diam. Sebagai fase diam acuan adalah silika atau alumina.

yaitu kepolaran dari fase gerak, terutama dalam kromatografi

solvent strength dan plarity yang optimum dapat dicari dengan mencampur lebih dari satu macam pelarut.

Pemilihan fase gerak untuk kromatografi fase terbalik didasarkan pada Menurut Snyder solven atau pelarut dapat diklasifikasikan menjadi tujuh golongan berdasarkan keasaman, kebasaan, momen dipol dan sifat kimianya, seperti gambar IV. 1 dan tabel IV. 1 berikut ini.

Gambar IV. 1. Skema pemilihan sistem kromatografi

Untuk menentukan jenis fase gerak maka perlu mengetahui terlebih yang akan dikerjakan. Pemilihan sistem kromatografi didasarkan pada jenis dan sifat dari solut yang akan dianalisis. Berikut ini garis besar menentukan sistem kromatografi yang sesuai.

Dalam memilih fase gerak, perlu memperhatikan dua hal penting yaitu : yaitu kemampuan membawa solut melintasi fase diam.

yaitu kepolaran dari fase gerak, terutama dalam kromatografi

optimum dapat dicari dengan

Pemilihan fase gerak untuk kromatografi fase terbalik didasarkan pada Menurut Snyder solven atau pelarut dapat diklasifikasikan kebasaan, momen dipol dan

(5)

Tabel IV. 1. Klasifikasi solven menurut Snyder GOLONGAN

I ETER ALIFATIK, ALKIL II ALKOHOL ALIFATIK

III TETRA HIDRO FURAN, PIRIDIN, DIMETIL SULFOKSIDA, AMIDA

IV FORNAMIDA, ASAM ASETAT, GLIKOL

V DIKLORMETAN, 1,2

VI ALKIL HALIDA, ESTER, KETON, NITRIL VII BENZENA DAN DERIVATNYA

VIII KLOROFORM, M

Gambar IV.2. Pembagian solven berdasarkan Snyder

Dalam praktek tidak semua solven tersebut dapat dipakai karena beberapa alasan, antara lain :

Tidak semua dapat dicampur pada berbagai perbandingan Menimbulkan interaksi kimia

Mengganggu sinyal de Viskositas sangat tinggi Toksik dan mudah terbakar

Tabel IV. 1. Klasifikasi solven menurut Snyder

CONTOH SOLVEN ETER ALIFATIK, ALKIL AMINA

ALKOHOL ALIFATIK

TETRA HIDRO FURAN, PIRIDIN, DIMETIL SULFOKSIDA, AMIDA

FORNAMIDA, ASAM ASETAT, GLIKOL DIKLORMETAN, 1,2-DIKLOROETIL ALKIL HALIDA, ESTER, KETON, NITRIL BENZENA DAN DERIVATNYA

KLOROFORM, M-KRESOL, AIR

Gambar IV.2. Pembagian solven berdasarkan Snyder

Dalam praktek tidak semua solven tersebut dapat dipakai karena beberapa alasan, antara lain :

Tidak semua dapat dicampur pada berbagai perbandingan Menimbulkan interaksi kimia

Mengganggu sinyal detektor, seperti dapat menyerap sinar ultra violet Viskositas sangat tinggi

Toksik dan mudah terbakar

TETRA HIDRO FURAN, PIRIDIN, DIMETIL SULFOKSIDA,

Gambar IV.2. Pembagian solven berdasarkan Snyder

Dalam praktek tidak semua solven tersebut dapat dipakai karena

Tidak semua dapat dicampur pada berbagai perbandingan

(6)

Tekanan uapnya terlalu tinggi Terlalu mahal

Dari sekian jenis solven yang paling sering digunakan adalah : Metanol, mewakili golongan asam

Asetonitril, mewakili golongan basa

Terra hidro furan, mewakili golongan yang mempunyai momen dipol besar

Air, untuk mengatur polaritas

Syarat fase gerak yang baik untuk kromatografi cair adalah : Viskositas rendah

Tersedia dalam kemurnian yang tinggi Tidak menginterferensi sinyal detektor

Dapat bercampur dengan fase gerak yang lain

Untuk meningkatkan resolusi pemisahan dan efektifitas elusi, maka teknik elusi dapat dikembangkan, yaitu dengan teknik elusi gradien. Elusi gradien adalah elusi menggunakan komposisi fase gerak yang diubah-ubah secara terprogram, sedangkan bila elusi dikerjakan dengan satu macam komposisi fase gerak mulai dari start hingga finish disebut elusi isokratik. Perubahan komposisi fase gerak dapat dikerjakan secara linear atau non linear (curved program). Dengan teknik elusi gradien maka resolusi dapat diatur sedemikian rupa sehingga waktu analisis dapat dipersingkat. Teknik elusi gradien ini terutama ditujukan untuk :

Sampel yang terdiri dari campuran senyawa yang meiliki kisaran harga factor kapasitas 0.5<k'<20

Sampel yang terdiri dari molekul-molekul dengan berat molekul cukup besar (BM>1000)

Sampel yang mengandung senyawa pengganggu dengan waktu retensi sangat besar

Sampel dengan konsentrasi sangat encer sehingga volume yang dianalisis sangat banyak. Dengan teknik ini diharapkan dapat meminimalkan pelebaran pita kromatogram karena overload volume.

(7)

C. Instrumentasi Kromatografi Kolom Terbuka

Instrumentasi dalam kromatografi cair kolom terbuka hanya terdiri dari kolom tempat fase diam yang terbuat dari kaca, tempat fase gerak dan tampungan hasil elusi yang dapat menggunakan erlenmeyer atau beker glass. Hasil elusi selanjutnya dapat dianalisis menggunakan detektor yang sesuai.

Gambar IV.3. Instrumentasi kromatografi kolom

Kromatografi kolom terbuka biasanya dimanfaatkan untuk clean up atau pembersihan suatu larutan atau ekstrak sampel sebelum akhirnya dianalisis secara instrumentasi. Seperti misalnya pada penghilangan klorofil dari ekstrak tanaman menggunakan kolom berisi fase diam florisil atau penghilangan lemak dari ekstrak makanan dengan menggunakan kolom berisi fase diam alumina.

D. Solid Phase Extraction SPE (Ekstraksi Padat Cair)

Bila dibandingkan dengan ekstraksi cair-cair seperti yang umum dipakai, SPE memiliki banyak keuntungan, yaitu :

Ekstraksi analit lebih komplit atau sempurna

Pemisahan bahan pengganggu dari analit lebih efisien Mengurangi kebutuhan pelarut

Fraksinasi terhadap larutan sampel lebih mudah dikerjakan Dapat menghilangkan partikulat

Mudah dilakukan otomatisasi

(8)

cartridge cukup besar dan sering terjadi adsorbs! irreversibel komponen dalam cartridge.

Teknik SPE ini dapat diaplikasikan untuk keperluan antara lain : Menghilangkan material pengganngu dan perusak kolom HPLC Pemekatan sampel

Desalting atau menghilangkan garam Penggantian pelarut

Derivatisasi in situ

Penyimpanan sampel terutama dalam masa transportasi sampel

E. High Performance Liquid Chromatography (HPLC) atau Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

HPLC merupakan pengembangan dari kromatografi kolom terbuka. HPLC digunakan untuk analisis senyawa yang non vol

dalam HPLC merupakan material yang dipacking dalam kolom dan memiliki ukuran partikel berdiameter 3

melewati fase diam hanya dengan mengandalkan gaya gravitasi seperti pada kromatografi kolom terbuka. Diperlukan suatu pompa yang mendorong fase gerak agar dapat melewati fase diam dengan kecepatan tertentu yang dapat memberikan jumlah lempeng teoritik maksimum, sehingga mendapatkan pemisahan yang maksimal.

Pilihan detektor untuk HPLC

kromatografi gas. Detektor yang paling banyak dipergunakan adalah spektrofotometer dengan keterbatasan hanya molekul yang dapat mengabsorpsi sinar saj'a yang dapat dianalisis.

cartridge cukup besar dan sering terjadi adsorbs! irreversibel komponen dalam cartridge.

Teknik SPE ini dapat diaplikasikan untuk keperluan antara lain : Menghilangkan material pengganngu dan perusak kolom HPLC Pemekatan sampel

Desalting atau menghilangkan garam-garam Penggantian pelarut

Derivatisasi in situ

Penyimpanan sampel terutama dalam masa transportasi sampel

High Performance Liquid Chromatography (HPLC) atau Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

HPLC merupakan pengembangan dari kromatografi kolom terbuka. HPLC digunakan untuk analisis senyawa yang non volatil dan termolabil. Fase diam dalam HPLC merupakan material yang dipacking dalam kolom dan memiliki ukuran partikel berdiameter 3-10µm. Oleh karena itu fase gerak tidak dapat melewati fase diam hanya dengan mengandalkan gaya gravitasi seperti pada grafi kolom terbuka. Diperlukan suatu pompa yang mendorong fase gerak agar dapat melewati fase diam dengan kecepatan tertentu yang dapat memberikan jumlah lempeng teoritik maksimum, sehingga mendapatkan pemisahan yang maksimal.

Pilihan detektor untuk HPLC lebih terbatas bila dibandingkan dengan kromatografi gas. Detektor yang paling banyak dipergunakan adalah spektrofotometer dengan keterbatasan hanya molekul yang dapat mengabsorpsi sinar saj'a yang dapat dianalisis.

Gambar IV.4. Bagan alat HPLC

cartridge cukup besar dan sering terjadi adsorbs! irreversibel beberapa

Teknik SPE ini dapat diaplikasikan untuk keperluan antara lain : Menghilangkan material pengganngu dan perusak kolom HPLC

Penyimpanan sampel terutama dalam masa transportasi sampel

High Performance Liquid Chromatography (HPLC) atau Kromatografi

HPLC merupakan pengembangan dari kromatografi kolom terbuka. HPLC atil dan termolabil. Fase diam dalam HPLC merupakan material yang dipacking dalam kolom dan memiliki m. Oleh karena itu fase gerak tidak dapat melewati fase diam hanya dengan mengandalkan gaya gravitasi seperti pada grafi kolom terbuka. Diperlukan suatu pompa yang mendorong fase gerak agar dapat melewati fase diam dengan kecepatan tertentu yang dapat memberikan jumlah lempeng teoritik maksimum, sehingga mendapatkan

lebih terbatas bila dibandingkan dengan kromatografi gas. Detektor yang paling banyak dipergunakan adalah spektrofotometer dengan keterbatasan hanya molekul yang dapat mengabsorpsi

(9)

Solven atau fase gerak untuk HPLC hendaknya memenuhi kriteria : Mempunyai kemurnian tinggi

Sebelum digunakan disaring terlebih dahulu dengan kertas saring dengan ukuran pori 0.2 µm

Bebas dari gas yang dapat mengganggu detektor atau menyumbat kolom.Dapat dilakukan dengan memanaskan solven sebelum digunakan atau mengaplikasikan motor vaccum.

Keterangan Bagan Alat HPLC

Gradient controller atau pengatur gradien, adalah alat untuk mengatur komposisi fase gerak apabila elusi dikerjakan secara gradien

Pump/dampning system, adalah pompa yuntuk menyedot fase gerak yang dilengkapi dengan peredam getaran, sehingga aliran fase gerak stabil tidak dipengaruhi oleh getaran pompa selama bekerja.

Sample introduction, adalah alat untuk memasukkan sampel biasanya berupa rotary loop. Ketika injektor berada dalam posisi load sampel dimasukkan dengan bantuan syringe, sehingga sampel akan memenuhi tempat penampungan sampel. Bila volume sampel terlalu besar, maka kelebihan sampel akan terbuang secara otomatis ke saluran pembuangan (vent). Ketika injektor ini diposisikan inject, maka aliran fase gerak akan berubah, fase gerak akan mengalir dengan membawa sampel ke arah kolom.

Column/Pre column, adalah bagian jantung pemisahan dalam HPLC. Kolom biasanya terbuat dari bahan stainless steel dan ukuran diameter dalam terukur dengan presisi tinggi. Guard column adalah kolom berukuran kecil yang diletakkan di antara injektor dan kolom analitik. Fungsinya adalah untuk menahan senyawa yang kemungkinan dapat menyumbat kolom analitik. Fase diam dibuat dari jenis bahan yang sesuai dengan fase diam pada kolom analitik. Kolom analitik biasanya berukuran panjang 15 cm, diameter dalam 4.6 mm dengan ukuran partikel fase diam 10 µm (memiliki jumlah lempeng teoritik sekitar 5000), 5 µm (memiliki jumlah lempeng teoritik sekitar 9000), 3 µm (memiliki jumlah lempeng teoritik sekitar 15000). Agar diperoleh hasil pemisahan yang baik, maka perlu dilakukan evaluasi kolom secara berkala. Evaluasi terhadap kelayakan kolom dapat dipantau dengan mengevaluasi harga beberapa parameter di bawah ini secara berkala :

(10)

Faktor kapasitas berkisar 2-10

Jumlah lempeng teoritik tidak mengalami perubahan yang signifikan Faktor resolusi (Rs) harus > 1.5

Peak asimetri < 1.2

Tekanan kolom dalam kisaran normal (dapat dikerjakan oleh pompa dengan ringan)

Ada banyak faktor yang mempengaruhi efisiensi kolom sehingga harus dioptimasi agar diperoleh pemisahan yang baik, yaitu :

Kecepatan alir fase gerak, kecepatan alir yang sangat lambat akan menyebabkan terjadinya difusi longitudinal, sedangkan bila terlalu cepat akan menyebabkan terjadinya transfer masa non ekuilibrium, sehingga terjadi pelebaran pita kromatogram

Ukuran partikel fase diam, semakin kecil ukuran partikel maka efisiensi semakin baik Tetapi menyebabkan tekanan dalam kolom semakin besar sehingga dibutuhkan kekuatan pompa yang semakin besar.

Panjang kolom, semakin panjang akan semakin besar harga efisiensi kolom, tetapi dapat menyebabkan terjadinya pelebaran pita.

Viskositas fase gerak, semakin kecil harga viskositas fase gerak maka efisiensi kolom semakin besar.

Temperatur, semakin tinggi temperatur maka viskositas semakin rendah dan efisiensi kolom menjadi lebih besar.

Volume ekstra kolom, semakin besar volume ekstra kolom maka kemungkinan terjadinya pelebaran pita semakin besar, sehingga efisiensi semakin berkurang.

Jumlah sampel dan volume sampel, bila jumlah maupun volume sampel sangat besar (overload) maka kemungkinan terjadinya pelebaran pita semakin besar, sehingga efisiensi semakin berkurang.

Detector, merupakan alat untuk melihat adanya sinyal dari analit atau solut yang sedang dianalisis. Hendaknya memiliki kriteria : sensitivitasnya tinggi, batas deteksi rendah, linearitas respon tinggi dan reprodusibilitasnya tinggi. Ada banyak detektor yang dapat diaplikasikan, yaitu :

Detektor spektrofotometer UV/Vis, merupakan detektor universal dan dapat diaplikasikan pada semua analit yang dapat menyerap sinar uv/vis.

(11)

Fase gerak yang dipakai tidak boleh menyerap sinar uv/vis pada panjang gelombang yang dipilih.

Detektor spektrofluorometer, merupakan detektor yang lebih selektif dan lebih sensitif daripada detektor spektrofotometer. Tidak semua senyawa bersifat fluoresens dan tidak semua senyawa yang berfluorsens memiliki panjang gelombang eksitasi dan emisi yang sama dengan senyawa lain. Detektor indeks bias, merupakan detektor yang sinyalnya tergantung

pada perubahan harga indeks bias fase gerak oleh karena adanya analit atau solut.

Detektor elektrokimia, ada banyak jenisnya antara lain : detektor konstanta dielektrika (didasarkan pada perubahan polaritas fase gerak oleh karena adanya solut), detektor konduktometer (didasarkan pada perubahan sifat penghantaran listrik dari fase gerak oleh karena adanya solut), detector amperometer (didasarkan adanya perubahan kekuatan medan listrik dari fase gerak karena adanya solut).

Contoh Aplikasi Pemisahan Peptida Dan Protein Dengan Rp-HPLC

Kondisi Awal Yang Bisa Dipakai:

VARIABEL PEPTIDA PROTEIN

Kolom Bonded phase Dimensi Partikel C18 atau C8 0.46 X 15 atau 25 cm 3.5-10 µm (diameter) 80-300 A° (pori) C4, C3, CN 0.46 x 5-15 cm 3.5-10 µm (diameter) 300 A° (pori)

Fase gerak Solven A Solven B Gradien 0.12% TFA/air 0.10%TFA/air 0-60% B/60 menit 0.12% TFA/air 0.10%TFA/air 0-60% B/60 menit Temperatur 40 - 80 °C 40 - 80 °C

Kecepatan alir 0.5 - 2 ml/menit 0.5 - 2 ml/menit Ukuran sampel Volume

Berat

10-50 µL 1-100 µg

10-50 µL 1-100 µg

(12)

Problem yang mungkin muncul:

Bentuk pita yang jelek : melebar, tailing Recovery rendah

Timbul pita yang misterius Pita ganda untuk satu jenis analit

Performance kolom berubah, tr tidak reprodusibel Faktor penyebab :

Kolom rusak, terlalu asam, terlalu hidrofob, terlalu kecil ukuran pori-porinya

Denaturesi sampel Isomerisasi (cis ke trans) Pengatasannya :

Pemisahan pada ph rendah (fase gerak 0.1 % Tetra fluoro Acid)

Gunakan asetonitril sebagai solven organik. Untuk sampel yang hidrofob gunakan propanol

Analisis dikerjakan pada temperatur kolom 50 - 80°c Gunakan zwitterionic detergent

Contoh aplikasi pemisahan peptida dan protein dengan ion exchange HPLC Kondisi yang bisa dipakai :

VARIABEL PROTEIN ASAM

(ANION EXCHANGE) PROTEIN BASA (KATION EXCHANGE) Kolom Bonded phase Ukuran

DEAE, SAX, PEI 5-25 x 0.46cm CM, SP 5-25 x 0.46 cm Fase gerak Solven A Solven B Gradien

10mm tris atau phosphat (pH 8) Solvent A + 0.5m NaCI atau Na-asetat

0-100% B dalam 30 menit

10mm bis-tris atau phosphat (pH 6) Solvent A + 0.5m NaCI atau Na-asetat

0-100% B dalam 30 menit

Temperatur 35 °c 35 °c

(13)

Ukuran sampel Volume Berat 10-50 µl 1-100 µg 10-50 µl 1-100 µg Keuntungan :

Konformasi protein tetap terjaga, Kemungkinan denaturasi kecil,

Dapat digunakan untuk isolasi dan purifikasi protein dengan tetap berbentuk bioaktif

Protein basa biasa memakai kation exchange, dengan ph 3 Problem yang sering muncul:

Recovery rendah dan dapat diatasi dengan menggunakan gradien elusi dengan fase gerak mengandung garam.

Contoh analisis campuran aspartam, benzoat dan kafein dengan RP-HPLC

Variabel Kondisi

Fase diam C18, panjang 15 cm

Fase gerak A : asam asetat 0.02 M dalam air pH 4.0; B : asetonitril

Elusi 85 % A dan 15 % B, kecepatan alir 1 ml/menit

Temperatur Temperatur kamar

Detektor Spektrofotometer UV 254 nm

Volume injeksi 20 µl

Perhitungan Standard eksternal

Contoh analisis campuran asam salisilat, kafein dan parasetamol dengan RP-HPLC

Variabel Kondisi

Fase diam C18, panjang 15 cm

Fase gerak A : buffer TBA, dibuat dengan melarutkan 4.0 gram KH2P04 dan 1.5 gram Tetra butilamonium bromida dalam 350 ml aquadest (larutan 1).

(14)

Melarutkan NaaHP04 dalam aquadest hingga diperoleh konsentrasi lg/100 ml (larutan 2). Campur larutan 1 dan 2 hingga diperoleh pH 6. Encerkan dengan aquadest hingga 1 L.

B : Asetonitril

Elusi 85 % A dan 15 % B, kecepatan alir l ml/menit

Temperatur Temperatur kamar

Detektor Spektrofotometer UV 254 nm atau ߣ, maksimumnya

Volume injeksi 20 µl

Gambar

Gambar IV. 1. Skema pemilihan sistem kromatografiPemilihan Fase Gerak
Tabel IV. 1. Klasifikasi solven menurut Snyder GOLONGAN
Gambar IV.3. Instrumentasi kromatografi kolom
Gambar IV.4. Bagan alat HPLC

Referensi

Dokumen terkait

Pemeriksaan kadar pirazinamida dalam plasma darah dapat dilakukan dengan cara kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) menggunakan kolom ODS- C18 dengan fase gerak campuran

Kadar pirazinamida dalam plasma darah pasien TB dapat dilakukan secara kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) menggunakan kolom ODS-C18 dengan fase gerak campuran buffer fosfat

Dalam penelitian ini dilakukan penetapan kadar kaptopril secara kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) metode fase balik menggunakan kolom VP-ODS (4,6 mm x 25 mm), fase gerak

Prinsip kerja dari kromatografi lapis tipis, adalah fase gerak yang. berperan penting pada proses elusi bagi senyawa untuk melewati fase

Pada sebagian besar kromatografi kolom menggunakan fase diam yang bersifat polar dengan fase gerak yang non-polar dengan  begitu waktu retensi akan menjadi lebih singkat.. Semakin

Dalam kromatografi gas-cair, fase gerak adalah gas seperti helium dan fase diam adalah cairan yang mempunyai titik didih yang tinggi diserap pada

Sampel-sampel cair dan larutan disuntikkan secara langsung ke dalam fase gerak yang mengalir di bawah tekanan menuju kolom menggunakan alat penyuntik yang terbuat dari tembaga

Bila ada kelebihan volume maka Kromatografi gas adalah sistem kromatografi yang menggunakan fase gerak berupa gas dan fase diam berupa padatan atau cairan yang