• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUNGSU RIANA /AKK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BUNGSU RIANA /AKK"

Copied!
136
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KARAKTERISTIK INDIVIDU, PENGETAHUAN,

SIKAP DAN PERAN PETUGAS TERHADAP KEPEMILIKAN

RUMAH SEHAT DI KECAMATAN PEUREULAK TIMUR

KABUPATEN ACEH TIMUR

TAHUN 2008

T E S I S

Oleh BUNGSU RIANA 067012004/AKK

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2008

(2)

PENGARUH KARAKTERISTIK INDIVIDU, PENGETAHUAN,

SIKAP DAN PERAN PETUGAS TERHADAP KEPEMILIKAN

RUMAH SEHAT DI KECAMATAN PEUREULAK TIMUR

KABUPATEN ACEH TIMUR

TAHUN 2008

T E S I S

Untuk memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M. Kes) Dalam Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan

Konsentrasi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh

BUNGSU RIANA 067012004/AKK

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

M E D A N

2008

(3)

Judul Tesis : PENGARUH KARAKTERISTIK INDIVIDU, PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERAN PETUGAS TERHADAP KEPEMILIKAN RUMAH SEHAT DI KECAMATAN PEUREULAK TIMUR KABUPATEN ACEH TIMUR TAHUN 2008

Nama Mahasiswa : Bungsu Riana Nomor Pokok : 067012004

Program Studi : Administrasi dan Kebijakan Kesehatan

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Dr.Drs.R.Kintoko Rochadi, MKM) (Ir.Evi Naria, M.Kes)

Ketua Anggota

Ketua Program Studi Direktur

(Dr.Drs.Surya Utama, MS) (Prof.Dr.Ir.T.Chairun Nisa B., MSc)

(4)

Telah diuji

Pada tanggal : 20 Oktober 2008

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, MKM Anggota : 1. Ir. Evi Naria, M.Kes

2. Drs. Tukiman, MKM 3. Ir. Indra Chahaya, MSi

(5)

PERNYATAAN

PENGARUH KARAKTERISTIK INDIVIDU, PENGETAHUAN,

SIKAP DAN PERAN PETUGAS TERHADAP KEPEMILIKAN

RUMAH SEHAT DI KECAMATAN PEUREULAK TIMUR

KABUPATEN ACEH TIMUR

TAHUN 2008

T E S I S

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, Oktober 2008

(6)

ABSTRAK

Derajat kesehatan masyarakat yang optimal dapat diwujudkan jika masyarakat Indonesia hidup dalam lingkungan dan perilaku yang sehat termasuk rumah sehat. Indikator rumah sehat dapat dilihat dari komponen rumah seperti lantai, dinding, ventilasi, langit-langit, lubang asap dapur dan pencahayaan, sarana sanitasi dan perilaku penghuni. Cakupan perumahan di Kecamatan Peureulak masih 37,15% dibandingkan Indikator Indonesia Sehat 2010 yaitu 80%.

Penelitian ini merupakan penelitian survai dengan type explanatory research bertujuan untuk mengetahui pengaruh karakteristik individu, pengetahuan, sikap dan peran petugas terhadap kepemilikan rumah sehat di Kecamatan Peureulak Timur tahun 2008. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kepala rumah tangga yang ada di kecamatan Peureulak Timur berjumlah 2.259 kepala keluarga dengan jumlah sampel180 rumah yang diambil secara proporsional sampling. Pengumpulan data meliputi data primer melalui wawancara dan pengamatan dan data sekunder dari dokumen kepala desa dan puskesmas Peureulak Timur. Data dianalisis menggunakan uji regresi logistik pada taraf kepercayaan 95%.

Hasil penelitian menunjukkan hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan karakteristik individu (pendidikan (p=0,002), pekerjaan (p=0,030),

pendapatan (p=0,030)), pengetahuan ((p=0,000), sikap (p=0,001), dan peran petugas (p=0,013) dengan kepemilikan rumah sehat. Hasil analisis regresi logistik tidak ada pengaruh variabel pendidikan (p=0,026), pekerjaan (p=0,255), pendapatan

(p=0,971), dan peran petugas (p=0,430), dan ada pengaruh variabel pengetahuan (p=0,000), dan sikap (p=0,000) terhadap kepemilikan rumah sehat. Variabel

pengetahuan merupakan variabel paling dominan mempengaruhi kepemilikan rumah sehat di Kecamatan Peureulak Timur.

Disarankan kepada petugas sanitasi supaya memberi penyuluhan kepada masyarakat secara berkala untuk meningkatkan pengetahuan tentang rumah sehat di Kecamatan Peureulak Timur Kabupaten Aceh Timur.

Kata Kunci : Karakteristik Individu, pengetahuan, sikap, peran petugas, rumah sehat

(7)

ABSTRACT

An optimum health standard of community can be materialized if the people of Indonesia live in a healthy behavior and environment including healthy house. The indicator of healthy house base on indicators from the components of the house itself such as floor, walls, ventilation, ceiling, kitchen’s chimney, lighting, sanitation facility, and residents’ behavior. The indicator of healthy house in Peureulak Timur Sub-district is still 37.15% compared to the Indonesian Healthy Indicator 2010 which is 80%.

The purpose of this study with explanatory research type is to examine the influence of individual characteristic, knowledge, attitude and sanitarian activity on the ownership of healthy house in Peureulak Timur Sub-district in 2008. The

population for this study is 2.259 heads of household living in Peureulak Timur Sub-district and 180 of them were selected to be the samples for this study by means of proportional sampling technique. The primary data for this study were collected through observation and interviews and the secondary data were collected from the documents available at the office of the Head of Village and the Peureulak Timur Community Health Center (Puskesmas). The data obtained were analyzed through logistic regression test at the level of confidence of 95%.

The result of bivariate analysis shows that there is a relationship between the individual characteristic of sanitarian including their education (p = 0.002),

occupation (p = 0.030), income (p = 0.030), knowledge (p = 0.000), attitude (p = 0.001) and role (p = 0.013) and the ownership of healthy house. The result of logistic regression analysis shows that the variables of education (p = 0.026), occupation (p = 0.255), income (p = 0.971), and sanitarian activity (p = 0.430) have no influence on the ownership of healthy house, but the variables of knowledge (p = 0.000), and attitude (p = 0.000) have an influence on the ownership of healthy house. Education is the most dominant variable influencing the ownership of healthy house in

Peureulak Timur Sub-district.

The sanitarian are suggested to provide periodical extensions to improve the knowledge of the community living in Peureulak Timur Sub-district, Aceh Timur District, on the benefit of healthy house.

Key words : Individual Characteristic, Knowledge, Attitude, Sanitarian Activity, Healthy House

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas rahmat dan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul : “Pengaruh Karakteristik Individu, Pengetahuan, Sikap dan Peran Petugas terhadap Kepemilikan Rumah Sehat di Kecamatan Peureulak Timur Kabupaten Aceh Timur Tahun 2008”.

Proses penulisan tesis ini tidak terlepas dari dukungan dan bantuan berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus dan tidak terhingga kepada :

1. Ibu Prof.Dr.Ir.T.Chairun Nisa B., MSc, selaku Direktur Sekolah Pascasarjana USU Medan atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada kami untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan program Magister.

2. Bapak Dr. Drs. Surya Utama, MS, selaku Ketua Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK) Sekolah Pascasarjana USU Medan.

3. Ibu Dr. Dra. Ida Yustina, MSi, selaku Sekretaris Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK) Sekolah Pascasarjana USU Medan.

4. Bapak Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, MKM, selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah membimbing dan memberi banyak masukan dan arahan kepada penulis dalam penyelesaian tesis.

(9)

5. Ibu Ir. Evi Naria, M.Kes, selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah banyak memberikan masukan, arahan dan bimbingan ilmunya yang sangat berharga dan bermanfaat untuk kesempurnaan tesis ini.

6. Bapak Drs.Tukiman, MKM, selaku Penguji yang telah banyak memberikan masukan, arahan, dan bimbingan ilmunya yang sangat berharga dan bermanfaat untuk kesempurnaan tesis ini.

7. Ibu Ir. Indra Chahaya, MSi, selaku Anggota Penguji yang telah membantu penulis dengan berbagai masukan, petunjuk, arahan dan sumber-sumber pustaka, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.

8. Ayahanda Mahmud Abdullah, Ibunda Salbiah, Ayahanda Mertua T.Muhammad dan Ibunda Mertua Fatimah tercinta yang penuh kasih sayang dan kesabaran, serta ketulusan hati selalu memberi support teladan, spritual dan psikologis serta mengiringi doa dengan penuh pengharapan kelak ananda menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah SWT dan berguna bagi nusa dan bangsa.

9. Kanda Ir.T.Mufadlisyah suami tercinta dan T.M.Ichza Fachrian Zikri ananda tersayang yang selalu dan senantiasa menunggu dengan kesabaran, kesetiaan dan penantian, memberikan support spiritual, psikologis, inspirasi, serta motivasi, baik moril, materi dan pengorbanan lahir batin, mengiringi tangis, tawa, dan senyum demi terselesaikan tesis ini.

10. Bapak Bupati, Wakil Bupati, Sekda dan seluruh jajaran Pemda Kabupaten Aceh Timur yang telah banyak membantu penulis dalam proses pendidikan di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.

(10)

11. Bapak H.Aiyub, SKM., selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Timur beserta staf yang telah banyak memberi data dan informasi, memotivasi penulis untuk menyelesaikan tesis ini.

12. Camat Kecamatan Peureulak Timur Kabupaten Aceh Timur beserta staf yang telah memberi bantuan kepada penulis untuk melakukan penelitian di wilayah kerjanya.

13. Para masyarakat yang menjadi subjek penelitian yang telah meluangkan waktu untuk diwawancarai.

14. Teman-teman mahasiswa-mahasiswi Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Angkatan 2006 yang telah banyak membantu memberikan saran dan masukan dalam penyusunan tesis ini.

Kepada Allah SWT kita semua dan segalanya berserah diri dan bertawakkal untuk mendapatkan ampunan, petunjuk, anugerah, dan ridhaNya dalam penyelesaian tesis ini sampai selesai meraih Magister Kesehatan. Amin

Medan, September 2008 Penulis,

(11)

RIWAYAT HIDUP

BUNGSU RIANA dilahirkan di Langsa pada tanggal 5 Januari 1973, beragama Islam, anak Keenam dari enam bersaudara dari pasangan Ayahanda Mahmud Abdullah dan Ibunda Salbiah. Telah menikah dengan Ir. T. Mufadlisyah dan mempunyai satu orang putra T.M. Ikhza Fakhrian Zikri sekarang menetap di Jl.Matai Simpang Puni Banda Aceh Kabupaten Aceh Besar Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Memulai pendidikan di SD Rantau Selamat lulus tahun 1985, melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 4 Langsa lulus tahun 1989. Selanjutnya meneruskan pendidikan di Sekolah Perawat Langsa lulus tahun 1992. Melanjutkan pendidikan Bidan di Langsa lulus tahun 1993. Kemudian melanjutkan pendidikan Akademi Keperawatan Depkes di Medan lulus tahun 2000. Kemudian masuk S-1 Kesehatan Masyarakat di Banda Aceh lulus tahun 2004. Dan melanjutkan lagi S-2 Kesehatan Masyarakat di Universitas Sumatera Utara dari tahun 2006 sampai 2008.

Pernah bekerja sebagai Staf Puskesmas Seuriget dari tahun 1993 – 1996 di Kota Langsa, Staf Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Timur dari tahun 1997-2004. Selanjutnya sekarang bekerja di Rumah Sakit Meuraxa Kota Banda Aceh dari tahun 2004 sampai sekarang.

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT... ii

KATA PENGANTAR... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI... vii

DAFTAR TABEL ... ix DAFTAR GAMBAR... x DAFTAR LAMPIRAN ... xi BAB 1 PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Perumusan Masalah ... 6 1.3. Tujuan ... 7 1.4. Hipotesis... 7 1.5. Manfaat Penelitian... 7

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 8

2.1 Rumah ... 8

2.1.1 Konsep Rumah Sehat ... 8

2.1.2 Karakteristik Individu ... 27

2.1.3 Pengetahuan ... 30

2.1.4 Sikap... 31

2.1.5 Peran Petugas ... 33

2.2 Landasan Teori... 36

2.3 Kerangka Konsep Penelitian ... 38

BAB 3 METODE PENELITIAN ... 39

3.1 Jenis Penelitian... 39

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian... 39

3.3 Populasi dan sampel ... 39

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 42

3.5 Variabel dan Defenisi Operasional ... 42

3.5.1 Variabel Independen (Variabel Bebas) ... 42

3.5.2 Variabel Dependen (Variabel Terikat) ... 43

3.6 Metode Pengukuran... 45

(13)

BAB 4 HASIL PENELITIAN ... 49

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 49

4.2 Analisis Univariat... 50

4.2.1 Variabel Independen... 50

4.2.2 Kepemilikan Rumah Sehat... 56

4.3 Analisis Bivariat ... 58

4.4 Analisis Multivariat... 61

BAB 5 PEMBAHASAN... 63

5.1 Pengaruh Pendidikan Terhadap Kepemilikan Rumah Sehat.... 63

5.2 Pengaruh Pekerjaan Terhadap Kepemilikan Rumah Sehat... 64

5.3 Pengaruh Pendapatan Terhadap Kepemilikan Rumah Sehat ... 65

5.4 Pengaruh Pengetahuan Terhadap Kepemilikan Rumah ... 65

5.5 Pengaruh Sikap Terhadap Kepemilikan Rumah Sehat ... 67

5.6 Pengaruh Peran Petugas Terhadap Kepemilikan Rumah Sehat 68 BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 70

6.1 Kesimpulan ... 70

6.2 Saran ... 71

(14)

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

3.1 Jumlah Rumah Terpadat di Lima Desa di Kecamatan Peureulak

Timur Kabupaten Aceh Timur Tahun 2008... 41

4.1 Distribusi Penduduk berdasarkan Desa di Kecamatan Peureulak Timur tahun 2008 ... 50

4.2 Distribusi Karakteristik Responden Kecamatan Peureulak Timur Kabupaten Aceh Timur Tahun 2008... 51

4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Indikator Pengetahuan ... 52

4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan ... 52

4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Indikator Sikap... 54

4.6 Distribusi Responden Berdasarkan Sikap ... 54

4.7 Distribusi Responden Berdasarkan Indikator Peran Petugas... 55

4.8 Distribusi Responden Berdasarkan Peran Petugas... 55

4.9 Distribusi Responden Berdasarkan Komponen Rumah Sehat ... 57

4.10 Distribusi Responden Berdasarkan Kepemilikan Rumah ... 58

4.11 Hasil Analisa antara Variabel Independen dengan Variabel Dependen ... 58

4.12. Hasil Analisis Multivariat Model Regresi Logistik ... 61

(15)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1. Kuesioner Penelitian Pengaruh Karakteristik Individu, Pengetahuan, Sikap dan Peran Petugas Terhadap

Kepemilikan Rumah Sehat di Kecamatan Peureulak Timur

Kabupaten Aceh Timur Tahun 2008... 76 2. Formulir Penilaian Rumah Sehat ... 81 3. Master Data Pengaruh Karakteristik Individu,

Pengetahuan, Sikap dan Peran Petugas Terhadap

Kepemilikan Rumah Sehat di Kecamatan Peureulak Timur

Kabupaten Aceh Timur Tahun 2008... 84 4. Hasil Pengolahan Data Penelitian Pengaruh Karakteristik

Individu, Pengetahuan, Sikap dan Peran Petugas Terhadap Kepemilikan Rumah Sehat di Kecamatan Peureulak Timur

Kabupaten Aceh Timur ... 94 5. Surat Izin Penelitian ... 111 6. Surat Selesai Penelitian... 112

(17)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap manusia dimanapun berada membutuhkan tempat untuk tinggal yang disebut rumah. Rumah berfungsi sebagai tempat untuk melepaskan lelah, tempat bergaul dan membina rasa kekeluargaan di antara anggota keluarga, tempat berlindung dan menyimpan barang berharga, dan rumah juga merupakan status lambang sosial (Mukono, 2000). Perumahan merupakan kebutuhan dasar manusia dan juga merupakan determinan kesehatan masyarakat. Karena itu pengadaan perumahan merupakan tujuan fundamental yang kompleks dan tersedianya standar perumahan merupakan isu penting dari kesehatan masyarakat. Perumahan yang layak untuk tempat tinggal harus memenuhi syarat kesehatan sehingga penghuninya tetap sehat. Perumahan yang sehat tidak lepas dari ketersediaan prasarana dan sarana yang terkait, seperti penyediaan air bersih, sanitasi pembuangan sampah, transportasi, dan tersedianya pelayanan sosial (Krieger and Higgins, 2002).

Rumah adalah struktur fisik terdiri dari ruangan, halaman dan area sekitarnya yang dipakai sebagai tempat tinggal dan sarana pembinaan keluarga (UU RI No. 4 Tahun 1992). Menurut World Health Organization (WHO), bahwa rumah adalah struktur fisik atau bangunan untuk tempat berlindung, dimana lingkungan berguna

(18)

untuk kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosialnya baik untuk kesehatan keluarga dan individu (Komisi WHO Mengenai Kesehatan dan Lingkungan, 2001). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rumah sehat adalah bangunan tempat berlindung dan beristirahat serta sebagai sarana pembinaan keluarga yang menumbuhkan kehidupan sehat secara fisik, mental dan sosial, sehingga seluruh anggota keluarga dapat bekerja secara produktif. Oleh karena itu keberadaan perumahan yang sehat, aman, serasi, teratur sangat diperlukan agar fungsi dan kegunaan rumah dapat terpenuhi dengan baik.

Derajat kesehatan masyarakat yang optimal dapat diwujudkan jika masyarakat Indonesia hidup dalam lingkungan dan perilaku yang sehat termasuk rumah sehat. Hal ini merupakan salah satu indikator Indonesia Sehat 2010 dan target Millenium Development Goal (MDGs) Tahun 2015 (Depkes RI, 2004).

Perumahan sehat merupakan konsep dari perumahan sebagai faktor yang dapat meningkatkan standar kesehatan penghuninya. Konsep tersebut melibatkan pendekatan sosiologis dan teknis pengelolaan faktor risiko dan berorientasi pada lokasi bangunan, kualifikasi, adaptasi, manajemen, penggunaan dan pemeliharaan rumah dan lingkungan di sekitarnya, serta mencakup unsur apakah rumah tersebut memiliki penyediaan air minum dan sarana yang memadai untuk memasak, mencuci, menyimpan makanan, serta pembuangan kotoran manusia maupun limbah lainnya (Komisi WHO Mengenai Kesehatan dan Lingkungan, 2001).

(19)

Rumah sehat menurut Depkes (2002), dapat dinilai berdasarkan komponen rumah, sarana sanitasi, dan perilaku penghuni yang ditinjau dari masing-masing komponen memenuhi kriteria.

Berdasarkan profil Indonesia tahun 2006, diketahui bahwa kondisi rumah yang memenuhi syarat sehat untuk tingkat nasional adalah 43,89%. Kondisi sarana pembuangan limbah yang memenuhi syarat sebanyak 62,11% dan kondisi jamban yang memenuhi syarat 46,54 % (Depkes RI, 2006), keadaan tersebut menunjukkan bahwa kondisi perumahan di Indonesia saat ini belum memenuhi syarat kesehatan.

Berdasarkan Profil Kesehatan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Tahun 2006, diketahui masalah perumahan sehat masih merupakan masalah utama dalam pembangunan kesehatan di NAD, data menunjukkan kondisi rumah sehat 54,22%, kondisi sarana pembuangan limbah yang memenuhi persyaratan sehat sebanyak 67,12% dan 49,20% untuk kondisi jamban. Salah satu Kabupaten yang masih memiliki perumahan kategori tidak memenuhi syarat adalah Kabupaten Aceh Timur, dan termasuk dalam 10 besar kabupaten yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Data Profil Kabupaten Aceh Timur tahun 2006, diketahui kondisi rumah sehat sebanyak 57,23%, rumah kondisi yang memiliki sarana air bersih 24,19%, sarana pembuangan limbah yang memenuhi syarat sebanyak 26%, dan kondisi jamban 49,46% yang memenuhi syarat (Dinkes Aceh Timur, 2006)

(20)

Berdasarkan profil kesehatan Kabupaten Aceh Timur (2006) bahwa dari 21 kecamatan, diketahui kecamatan yang paling rendah cakupan rumah sehat adalah Kecamatan Peureulak Timur yaitu rumah sehat sebesar 37,15%, kondisi sarana pembuangan limbah yang memenuhi syarat sebanyak 42,18%, tempat pembuangan sampah yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 24,54% dan 49,92%, jamban yang memenuhi syarat kesehatan. Keadaan ini secara keseluruhan menunjukkan bahwa perumahan di Kecamatan Peureulak Timur masih belum memenuhi syarat kesehatan, dibandingkan dengan indikator Indonesia Sehat 2010, yaitu untuk rumah sehat 80%, dan persentase rumah tangga yang mempunyai akses terhadap air bersih sebesar 85% (Depkes RI, 2006).

Beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa kondisi perumahan tidak sehat mempunyai hubungan terhadap kejadian penyakit. Penelitian Wahyuni (2005), balita yang menderita DBD 64% dari rumah tidak mempunyai saluran pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Hasil penelitian Sulistyorini dan Nindya (2005), bahwa rumah yang mempunyai ventilasi tidak memenuhi syarat kesehatan 74% berpotensi terhadap kejadian Infeksi Saluran pernafasan Akut (ISPA) pada Balita.

Selain itu dilihat dari beberapa komponen rumah, diketahui rumah yang jendelanya kecil dapat menyebabkan pertukaran udara tidak dapat berlangsung dengan baik, akibatnya asap dapur dan asap rokok dapat terkumpul dalam rumah. Bayi dan anak yang sering menghisap asap lebih mudah terserang ISPA.

(21)

Rumah yang lembab dan basah karena banyak air yang terserap di dinding tembok dan matahari pagi sukar masuk dalam rumah juga memudahkan anak-anak terserang ISPA (Ranuh, 1997).

Menurut Panudju (1999), faktor yang mempengaruhi kepemilikan rumah sehat di antaranya faktor pekerjaan dan pendapatan. Masyarakat kecil berpenghasilan rendah tidak mampu memenuhi persyaratan mendapatkan perumahan yang layak. Sebaliknya pemerintah dan swasta pengembang perumahan tidak dapat memenuhi kebutuhan perumahan untuk masyarakat. Hal tersebut menimbulkan masalah sosial yang serius dan menumbuhkan lingkungan pemukiman kumuh dengan gambaran berhubungan erat dengan kemiskinan, kepadatan penghuni tinggi, sanitasi dasar perumahan rendah.

Penelitian Lubis (2002), bahwa tingkat pendidikan menunjukkan tingkat bermakna terhadap kepemilikan rumah sehat. Bila pendidikan rendah maka pengetahuan cara hidup sehat belum dipahami dengan baik.

Menurut Sarwono (2007), manusia adalah makhluk yang sehat berbeda dengan makhluk rasional, bahwa rasio tidak tergantung pada situasi, sedangkan akal sehat tergantung pada situasi. Sebagai makhluk rasional, misalkan manusia tahu apabila membuang sampah sembarangan, ia akan mengotori lingkungan.

(22)

Apabila ia berada di suatu tempat yang memang terjaga kebersihannya, akal sehatnya akan mengatakan bahwa tidak layak ia mengotori tempat itu walau hanya dengan setitik debu, tempat sampah yang sudah tersedia disitu sehingga akal sehatnya membuang sampah pada tempatnya. Tingkah laku tidak hanya ditentukan oleh lingkungan dan sebaliknya, melainkan kedua hal itu saling menentukan dan tidak dapat dipisahkan.

Bahwa banyak perilaku yang tidak sesuai dengan kepemilikan rumah sehat, belum tentu menggambarkan pengetahuan dan sikap terhadap kepemilikan rumah sehat juga tidak baik.

Sudjarwo dalam Azwar (2007), menyatakan bahwa sikap yang positif terhadap sesuatu mencerminkan perilaku yang positif. Ada beberapa alasan yang menyebabkan untuk berperilaku negatif, peneliti menduga bahwa karakteristik individu berperan dalam pembentukan perilaku kesehatan seseorang, namun juga dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan seperti ada tidaknya sarana yang mendukung untuk berperilaku sehat misalnya tersedia jamban.

Berdasarkan hasil penelitian Wahyuni (2005), bahwa penerimaan masyarakat suku Dayak terhadap perumahan dan pemukiman sehat salah satunya dipengaruhi oleh peran petugas dalam mensosialisasi dan memberikan penyuluhan terhadap pentingnya rumah sehat, selain itu jumlah petugas kesehatan yang ditugaskan juga harus mencukupi dan mengakomodir setiap kepala keluarga, sehingga secara rutin dapat merubah perilaku dan pemahaman masyarakat dalam menjaga sanitasi perumahan yang sudah dibangun oleh pemerintah maupun swadana masyarakat.

(23)

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang Pengaruh Karakteristik Individu, Pengetahuan, Sikap dan Peran Petugas Terhadap Kepemilikan Rumah Sehat di Kecamatan Peureulak Timur Kabupaten Aceh Timur, sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap pemerintah daerah dalam peningkatan kualitas rumah yang memenuhi syarat kesehatan, meskipun perumahan sederhana.

Perumusan Masalah

Perumahan di Kecamatan Peureulak Timur masih belum memenuhi syarat kesehatan yaitu hanya 37,15% dibandingkan dengan indikator Indonesia Sehat 2010, yaitu cakupan rumah sehat 80%, maka apakah karakteristik individu, pengetahuan, sikap dan peran petugas berpengaruh terhadap kepemilikan rumah sehat di Kecamatan Peureulak Timur Kabupaten Aceh Timur Tahun 2008.

Tujuan

Untuk menjelaskan pengaruh karakteristik individu, pengetahuan, sikap dan peran petugas terhadap kepemilikan rumah sehat di Kecamatan Peureulak Timur Kabupaten Aceh Timur tahun 2008.

Hipotesis

Karakteristik individu, pengetahuan, sikap dan peran petugas berpengaruh terhadap kepemilikan rumah sehat di Kecamatan Peureulak Timur Kabupaten Aceh Timur tahun 2008.

(24)

1.2 Manfaat Penelitian

Sebagai bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Timur dalam membuat kebijakan penyehatan perumahan sehat di Kecamatan Peureulak Timur. Memberikan masukan kepada dinas kesehatan untuk memberikan rekomendasi terhadap peningkatan keberadaan rumah sehat.

Sebagai bahan masukan bagi petugas sanitasi di Puskesmas Pereulak dalam rangka meningkatkan kegiatan penyuluhan tentang rumah sehat.

(25)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Rumah

2.4.1 Konsep Rumah Sehat

Perumahan adalah suatu struktur fisik dimana orang yang menggunakan sebagai tempat berlindung, dimana lingkungan dari struktur tersebut juga semua fasilitas dan pelayanan yang diperlukan untuk kesehatan jasmani dan rohani (Sanropie, 1992).

Menurut Blaang (1996), rumah merupakan kebutuhan pokok untuk kelangsungan hidup dan kesejahteraan sosialnya, setiap orang membutuhkan perumahan yang sehat dan layak huni. Di lain pihak rumah merupakan dambaan setiap keluarga, artinya setiap keluarga mampu meraihnya sesuai dengan apa yang diinginkannya, untuk memperolehnya dapat dengan berbagai cara, ada yang mampu membeli secara tunai dan ada pula yang membeli secara angsuran sesuai dengan kemampuannya.

Menurut Anung (2002) memiliki rumah adalah merupakan kebahagiaan tersendiri dengan kepastian batin dalam membina anak-anak dan keluarga menghadapi ketenangan, kebahagiaan bagi setiap penghuninya lahir dan batin pribadi maupun keluarga.

(26)

Menurut American Public Health Association (APHA) rumah dikatakan sehat apabila : (1) Memenuhi kebutuhan fisik dasar seperti temperatur lebih rendah dari udara di luar rumah, penerangan yang memadai, ventilasi yang nyaman, dan kebisingan 45-55 dB.A.; (2) Memenuhi kebutuhan kejiwaan; (3) Melindungi penghuninya dari penularan penyakit menular yaitu memiliki penyediaan air bersih, sarana pembuangan sampah dan saluran pembuangan air limbah yang saniter dan memenuhi syarat kesehatan; serta (4) Melindungi penghuninya dari kemungkinan terjadinya kecelakaan dan bahaya kebakaran, seperti fondasi rumah yang kokoh, tangga yang tidak curam, bahaya kebakaran karena arus pendek listrik, keracunan, bahkan dari ancaman kecelakaan lalu lintas (Azwar, 1996).

Rumah sehat dapat diartikan rumah untuk berlindung, bernaung, dan tempat untuk beristirahat, sehingga menimbulkan kehidupan yang sempurna baik fisik, rohani, sosial (Sanropie, 1989).

Menurut WHO (2001) mengemukakan beberapa prinsip standar rumah sehat. Prinsip ini dapat dibedakan atas dua bagian :

1. Yang berkaitan dengan kebutuhan kesehatan, terdiri atas : a. Perlindungan terhadap penyakit menular, melalui pengadaan air minum, sistem sanitasi, pembuangan sampah, saluran air, kebersihan personal dan domestik, penyiapan makanan yang aman dengan struktur rumah yang aman dengan memberi perlindungan, b. Perlindungan terhadap trauma/benturan, keracunan dan pnyakit kronis dengan memberikan perhatian pada struktur rumah, polusi udara rumah, polusi udara dalam rumah, keamanan dari bahaya kimia dan perhatian pada

(27)

pnggunaan rumah sebagai tempat bekerja, dan c. Stress psikologi dan sosial melalui ruang yang adekuat, mengurangi privasi, nyaman, memberi rasa aman pada individu, keluarga dan akses pada rekreasi dan sarana komunitas pada perlindungan terhadap bunyi.

2. Yang berkaitan dengan kegiatan melindungi dan meningkatkan kesehatan terdiri atas : a. Informasi dan nasehat tentang rumah sehat dilakukan oleh petugas kesehatan umumnya dan kelompok masyarakat melalui berbagai saluran media dan kampanye, b. Kebijakan sosial ekonomi yang berkaitan dengan perumahan harus mendukung penggunaan tanah dan sumber daya perumahan untuk memaksimalkan aspek fisik, mental dan sosial, c. Pembangunan sosial ekonomi yang berkaitan dengan perumahan dan hunian harus didasarkan pada proses perencanaan, formulasi dan pelaksanaan kebijakan publik dan pemberian pelayanan dengan kerjasama intersektoral dalam manajemen dan perencanaan pembangunan, perencanaan perkotaan dan penggunaan tanah, standar rumah, desain, dan konstruksi rumah, pengadaan pelayanan bagi masyarakat dan monitoring serta analisis situasi secara terus menerus, d. Pendidikan pada masyarakat profesional, petugas kesehatan, perencanaan dan penentuan kebijakan akan pengadaan dan penggunaan rumah sebagai sarana peningkatan kesehatan, dan e. Keikutsertaan masyarakat dalam berbagai tingkat melalui kegiatan mandiri diantara keluarga dan perkampungan.

(28)

Menurut Depkes RI (2002), suatu rumah dikatakan sehat apabila : 1. Memenuhi kebutuhan fisiologis antara lain pencahayaan, penghawaan dan ruang

gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu, 2. Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain privacy yang cukup, komunikasi yang sehat antar anggota dan penghuni rumah, 3. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni rumah dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindunginya makanan dan minuman dari pencemaran, disamping pencahayaan dan penghawaan yang cukup, dan 4. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah antara lain persyaratan sempadan jalan, komponen yang tidak roboh, tidak mudah terbakar, dan tidak cenderung membuat penghuninya jatuh tergelincir.

Parameter yang dipergunakan untuk menentukan rumah sehat adalah sebagaimana tercantum dalam Permenkes Nomor 892/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan.

Menurut Depkes RI (2002), indikator rumah yang dinilai adalah komponen rumah yang terdiri dari : langit-langit, dinding, lantai, jendela kamar tidur, jendela ruang keluarga dan ruang tamu, ventilasi, dapur dan pencahayaan dan aspek perilaku. Aspek perilaku penghuni adalah pembukaan jendela kamar tidur, pembukaan jendela ruang keluarga, pembersihan rumah dan halaman.

(29)

Komponen yang harus dimiliki rumah sehat adalah : (1) Fondasi yang kuat untuk meneruskan beban bangunan ke tanah dasar, memberi kestabilan bangunan, dan merupakan konstruksi penghubung antara bagunanan dengan tanah; (2) Lantai kedap air dan tidak lembab, tinggi minimum 10 cm dari pekarangan dan 25 cm dari badan jalan, bahan kedap air, untuk rumah panggung dapat terbuat dari papan atau anyaman bambu; (3) Memiliki jendela dan pintu yang berfungsi sebagai ventilasi dan masuknya sinar matahari dengan luas minimum 10% luas lantai; (4) Dinding rumah kedap air yang berfungsi untuk mendukung atau menyangga atap, menahan angin dan air hujan, melindungi dari panas dan debu dari luar, serta menjaga kerahasiaan (privacy) penghuninya; (5) Langit-langit untuk menahan dan menyerap panas terik matahari, minimum 2,4 m dari lantai, bisa dari bahan papan, anyaman bambu, tripleks atau gipsum; serta (6) Atap rumah yang berfungsi sebagai penahan panas sinar matahari serta melindungi masuknya debu, angin dan air hujan (Depkes RI, 2001).

Adapun aspek konstruksi atau komponen rumah yang memenuhi syarat rumah sehat adalah : (Entjang, 1993)

1. Langit–langit.

Dibawah kerangka atap/kuda-kuda biasanya dipasang penutup yang disebut langit-langit yang tujuannya antara lain: (a) Untuk menutup seluruh konstruksi atap dan kuda-kuda penyangga, agar tidak terlihat dari bawah,sehingga ruaangan terlihat rapi dan bersih ; (b) Untuk menahan debu yang jatuh dan kotoran yang lain juga menahan tetesan air hujan yang menembus melalui celah-celah atap dan

(30)

(c)Untuk membuat ruangan antara yang berguna sebagai penyekat sehingga panas atas tidak mudah menjalar kedalam ruangan dibawahnya.

Adapun persyaratan untuk langit-langit yang baik adalah : (a) Langit-langit harus dapat menahan debu dan kotoran lain yang jatuh dari atap, (b) Langit-langit harus menutup rata kerangka atap kuda-kuda penyangga dengan konstruksi bebas tikus, (c) Tinggi langit-langit sekurang-kurangnya 2,40 dari permukaan lantai kecuali, (d) Dalam hal langit-langit/kasau-kasaunya miring sekurang-kurangnya mempunyai tinggi rumah 2,40m,dan tinggi ruang selebihnya pada titik terendah titik kurang dari 1,75m, dan e.Ruang cuci dan ruang kamar mandi diperbolehkan sekurang kurangnya sampai 2,40 m.

Dinding

Adapun syarat-syarat untuk diding antara lain : (a) Dinding harus tegak lurus agar dapat memikul berat sendiri, beban tekanan angin dan bila sebagai dinding pemikul harus pula dapat memikul beban diatasnya, (b) Dinding harus terpisah dari pondasi oleh suatu lapisan air rapat air sekurang-kurangnya 15 cm dibawah permukaan tanah sampai 20 cm di atas lantai bangunan, agar air tanah tidak dapat meresap naik keatas, sehingga dinding temok terhindar dari basah dan lembab dan tampak bersih tidak berlumut, dan (c) Lubang jendela dan pintu pada dinding, bila lebarnya kurang dari 1 m dapat diberi susunan batu tersusun tegak di atas batu, batu tersusun tegak di atas lubang harus dipasang balok lantai dari beton bertulang atau kayu awet.Untuk memperkuat berdirinya tembok ½ bata digunakan rangka pengkaku yang terdiri dari plester-plester atau balok beton bertulang setiap luas 12 meter.

(31)

2. Lantai

Lantai harus cukup kuat untuk manahan beban diatasnya. Bahan untuk lantai biasanya digunakan ubin, kayu plesteran, atau bambu dengan syarat-syarat tidak licin, stabil tidak lentur waktu diinjak, tidak mudah aus, permukaan lantai harus rata dan mudah dibersihkan. Macam-macam lantai : (a) Lantai Tanah Stabilitas. Lantai tanah stabilitas terdiri dari tanah, pasir, semen, dan kapur. Contoh: Tanah tercampur kapur dan semen.Untuk mencegah masuknya air kedalam rumah sebaiknya lantai dinaikkan 20cm dari permukaan tanah ; (b) Lantai papan. Pada umumnya lantai papan dipakai di daerah basah/rawa. Yang perlu diperhatikan dalam pemasangan lantai adalah : 1) Sekurang-kurangnya 60 cm di atas tanah dan ruang bawah tanah harus ada aliran tanah yang baik, 2) Lantai harus disusun dengan rapi dan rapat satu sama lain, sehingga tidak ada lubang-lubang ataupun lekukan dimana debu bisa bertepuk. Lebih baik jika lantai seperti ini dilapisi dengan perlak atau kampal plastik ini juga berfungsi sebagai penahan kelembaban yang naik dari di kolong rumah, 3) Untuk kayu-kayu yang tertanam dalam air harus yang tahan air dan rayap serta untuk konstruksi diatasnya agar digunakan lantai kayu yang telah dikeringkan dan dan diawetkan ; (c) Lantai ubin. Lantai ubin adalah lantai yang terbanyak digunakan pada bangunan perumahan karena :Lantai ubin murah/tahan lama,dapat mudah dibersihkan dan tidak dapat mudah dirusak rayap.

(32)

3. Pembagian ruangan/tata ruang

Setiap rumah harus mempunyai bagian ruangan yang sesuai dengan fungsinya. Penataan ruang dalam rumah harus disesuaikan dengan persyaratan kesehatan rumah, misalnya pemisahan kamar tidur, dapur dan ruangan lainnya, jumlah kamar tidur yang cukup untuk seluruh anggota keluarga, jendela yang dibuka pada siang hari agar cahaya matahari dapat masuk dan udara dapat berputar sehingga akan memperkecil resiko penularan penyakit infeksi. Rancangan ruang termasuk peletakan dan pemilihan bahan bangunan untuk jendela, pintu dan ventilasi di tiap ruang, ikut menentukan adanya kualitas udara yang baik dalam rumah.

Telah dikemukakan dalam persyaratan rumah sehat, bahwa rumah sehat harus mmpunyai cukup banyak ruangan-ruangan seperti : ruang duduk/ruang makan, kamar tidur, kamar mandi, jamban, dapur, tempat cuci pakaian, tempat berekreasi dan tempat beristirahat, dengan tujuan agar setiap penghuninya merasa nikmat dan merasa betah tinggal di rumah tersebut.

Adapun syarat-syarat pembagian ruangan yang baik adalah sebagai berikut : a. Adanya pemisah yang baik antara ruangan kamar tidur kepala keluarga (suami

istri) dengan kamar tidur anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, terutama anak-anak yang sudah dewasa.

b. Memilih tata ruangan yang baik, agar memudahkan komunikasi dan perhubungan antara ruangan di dalam rumah dan juga menjamin kebebasan dan kerahasiaan pribadi masing-masing terpenuhi.

(33)

c. Tersedianya jumlah kamar/ruangan kediaman yang cukup dengan luas lantai sekurang-kurangnya 6 m2 agar dapat memenuhi kebutuhan pnghuninya untuk melakukan kgiatan kehidupan.

d. Bila ruang duduk digabung dengan ruang tidur, maka luas lantai tidak boleh kurang dari 11 m2 untuk 1 orang, 14 m2 bila digunakan 2 orang, dalam hal ini harus dipisah.

e. Dapur (a) Luas dapur minimal 14 m2 dan lebar minimal 1,5 m2., (b) Bila penghuni tersebut lebih dari 2 orang, luas dapur tidak boleh kurang dari 3 m2, (c) Di dapur harus tersedia alat-alat pengolahan makanan, alat-alat masak, tempat cuci peralatan dan air bersih, (d) Didapur harus tersedia tempat penyimpanan bahan makanan. Atau makanan yang siap disajikan yang dapat mencegah pengotoran makanan oleh lalat. Debu dan lain-lain dan mencegah sinar matahari langsung.

f. Kamar mandi dan jamban keluarga : 1) Setiap kamar mandi dan jamban paling sedikit salah satu dari dindingnya yang berlubang ventilasi berhubungan dengan udara luar. Bila tidak harus dilengkapi dengan ventilasi mekanis untuk mengeluarkan udara dari kamar mandi dan jamban tersebut, sehingga tidak mengotori ruangan lain, 2) Pada setiap kamar mandi harus bersih untuk mandi yang cukup jumlahnya, dan 3) Jamban harus berleher angsa dan 1 jamban tidak boleh dari 7 orang bila jamban tersebut terpisah dari kamar mandi.

(34)

4. Ventilasi

Dengan adanya ventilasi silang (cross ventilation) akan Ventilasi adalah proses penyediaan udara segar kedalam suatu ruangan dan pengeluaran udara kotoran suatu ruangan tertutup baik alamiah maupun secara buatan. Ventilasi harus lancar diperlukan untuk menghindari pengaruh buruk yang dapat merugikan kesehatan manusia pada suatu ruangan kediaman yang tertutup atau kurang ventilasi.

Pengaruh-pengaruh buruk itu ialah (Sanropie, 1989) : a. Berkurangnya kadar oksigen diudara dalam ruangan kediaman, b. Bertambahnya kadar asam karbon (CO2) dari pernafasan

manusia, c.Bau pengap yang dikeluarkan oleh kulit, pakaian dan mulut manusia, d. Suhu udara dalam ruang ketajaman naik karena panas yang dikeluarkan oleh badan manusia, dan e. Kelembaban udara dalam ruang kediaman bertambah karena penguapan air dan kulit pernafasan

terjamin adanya gerak udara yang lancar dalam ruang kediaman. Caranya ialah dengan memasukkan kedalam ruangan udara yang bersih dan segar melalaui jendela atau lubang angin di dinding, sedangkan udara kotor dikeluarkan melalui jendela/lubang angin di dinding yang berhadapan.

Tetapi gerak udara ini harus dijaga jangan sampai terlalu besar dan keras, karena gerak angin atau udara angin yang berlebihan meniup badan seseorang, akan mengakibatkan penurunan suhu badan secara mendadak dan menyebabkan jaringan selaput lendir akan berkurang sehingga mengurangi daya tahan pada jaringan dan memberikan kesempatan kepada bakteri-bakteri penyakit berkembang biak, dan selanjutnya menyebabkan gangguan kesehatan, yang antara lain : masuk angin, pilek atau kompilasi radang saluran pernafasan.

(35)

Gejala ini terutama terjadi pada orang yang peka terhadap udara dingin. Untuk menghindari akibat buruk ini , maka jendela atau lubang ventilasi jangan terlalu besar/banyak, tetapi jangan pula terlalu sedikit.

Agar dalam ruang kediaman, sekurang-kurangnya terdapat satu atau lebih banyak jendela/lubang yang langsung berhubungan dengan udara dan bebas dari rintangan-rintangan, jumlah luas bersih jendela/lubang itu harus sekurang-kurangnya sama 1/10 dari luas lantai ruangan, dan setengah dari jumlah luas jendela/lubang itu harus dapat dibuka. Jendela/lubang angin itu harus meluas kearah atas sampai setinggi minimal 1,95 di atas permukaan lantai. Diberi lubang hawa atau saluran angin pada ban atau dekat permukaan langit-langit (ceiling) yang luas bersihnya sekurang-kurangnya 5% dari luas lantai yang bersangkutan. Pemberian lubang hawa/saluran angin dekat dengan langit-langit bergua sekali untuk mengluarkan udara panas dibagian atas dalam ruangan tersebut.

Ketentuan luas jendela/lubang angin tersebut hanya sebagai pedoman yang umum dan untuk daerah tertentu, harus disesuaikan dengan keadaan iklim daerah tersebut. Untuk daerah pengunungan yang berhawa dingin dan banyak angin, maka luas jendela/lubang angin dapat dikurangi sampai dengan 1/20 dari luas ruangan. Sedangkan untuk daerah pantai laut dan daerah rendah yang berhawa panas dan basah, maka jumlah luas bersih jendela, lubang angin harus diperbesar dan dapat mencapai 1/5 dari luas lantai ruangan.

(36)

Jika ventilasi alamiah untuk pertukaran udara dalam ruangan kurang memenuhi syarat, sehingga udara dalam ruangan akan berbau pengap, maka diperlukan suatu sistem pembaharuan udara mekanis. Untuk memperbaiki keadaan udara dalam ruangan, sistem mekanis ini harus bekerja terus menerus selama ruangan yang dimaksud digunakan. Alat mekanis yang biasa digunakan/dipakai untuk sistem pembaharuan udara mekanis adalah kipas angin (ventilating, fan atau exhauster), atau air conditioning.

5. Pencahayaan

Sanropie (1989) menyatakan bahwa cahaya yang cukup kuat untuk penerangan di dalam rumah merupakan kebutuhan manusia. Penerangan ini dapat diperoleh dengan pengaturan cahaya buatan dan cahaya alam.

(37)

a. Pencahayaan alamiah

Pencahayaan alamiah diperoleh dengan masuknya sinar matahari ke dalam ruangan melalaui jendela, celah-celah atau bagian ruangan yang terbuka. Sinar sebaiknya tidak terhalang oleh bangunan, pohon-pohon maupun tembok pagar yang tinggi. Kebutuhan standar cahaya alami yang memenuhi syarat kesehatan untuk kamar keluarga dan kamar tidur menurut WHO 60-120 Lux. Suatu cara untuk menilai baik atau tidaknya penerangan alam yang terdapat dalam rumah, adalah sebagai berikut : 1) baik, bila jelas membaca koran dengan huruf kecil ; 2) cukup, bila samar-samar bila membaca huruf kecil ; 3) kurang, bila hanya huruf besar yang terbaca dan 4) buruk, bila sukar membaca huruf besar.

Pemenuhan kebutuhan cahaya untuk penerangan alamiah sangat ditentukan oleh letak dan lebar jendela. Untuk memperoleh jumlah cahaya matahari pada pagi hari secara optimal sebaiknya jendela kamar tidur menghadap ke timur. Luas jendela yang baik paling sedikit mempunyai luas 10-20 % dari luas lantai.

Apabila luas jendela melebihi 20% dapat menimbulkan kesilauan dan panas, sedangkan sebaliknya kalau terlalu kecil dapat menimbulkan suasana gelap dan pengap.

b. Pencahayaan buatan

Untuk penerangan pada rumah tinggal dapat diatur dengan memilih sistem penerangan dengan suatu pertimbangan hendaknya penerangan tersebut dapat menumbuhkan suasana rumah yang lebih menyenangkan. Lampu Flouresen (neon) sebagai sumber cahaya dapat memenuhi kebutuhan penerangan karena pada kuat penerangan yang relatif rendah mampu menghasilkan cahaya yang baik

(38)

bila dibandingkan dengan penggunaan lampu pijar. Bila ingin menggunakan lampu pijar sebaiknya dipilih yang warna putih dengan dikombinasikan beberapa lampu neon.

Untuk penerangan malam hari dalam ruangan terutama untuk ruang baca dan ruang kerja, penerangan minimum adalah 150 Lux sama dengan 10 watt lampu TL, atau 40 watt dengan lampu pijar.

Dilihat dari aspek sarana sanitasi, maka beberapa sarana lingkungan yang berkaitan dengan perumahan sehat adalah sebagai berikut :

1. Sarana Air Bersih

Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak (Per Men Kes No.416/MENKES/Per/IX/1990). Air minum adalah air yang syaratnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum yang berasal dari penyediaan air minum (Dep Kes RI,1994).

Sarana air bersih adalah semua sarana yang dipakai sebagai sumber air bagi penghuni rumah untuk digunakan bagi penghuni rumah yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari.

Yang perlu diperhatikan antara lain: a. Jarak antara sumber air dengan sumber pengotoran (seperti septik tank, tempat pembuangan sampah, air limbah) minimal 10 meter, b. Pada sumur gali sedalam 3 meter dari permukaan tanah dibuat kedap air, yaitu dilengkapi dengan cincin dan bibir sumur, dan c. Penampungan air hujan pelindung air, sumur artesis atau terminal air atau perpipaan/kran atau sumur gali terjaga kebersihannya dan dipelihara rutin.

(39)

Jumlah air untuk keperluan rumah tangga per hari per kapita tidaklah sama pada tiap negara. Pada umumnya dapat dikatakan dinegara-negara yang sudah maju, jumlah pemakaian air perhari perkapita lebih besar dari pada negara-negara yang sedang berkembang, syarat tersebut terdiri dari :

Syarat Fisik

Yaitu air yang tidak berwarna, tidak berbau, jernih dengan suhu sebaiknya dibawah suhu udara sehingga menimbulkan rasa nyaman

Bau : Penyimpangan standard terhadap parameter dapat terjadi. Air yang memenuhi standard kualitas harus bebas dari bau (tidak berbau), biasanya bau disebabkan oleh bahan-bahan organik yang dapat membusuk dan senyawa kimia lainnya seperti phenol.Jika air berbau akan mengganggu estetika.

Rasa : Biasanya rasa terjadi bersama-sama yaitu akibat adanya dekomposisi bahan organik di dalam air, demikian juga senyawa kimia tersebut.

Warna : Warna dapat mengganggu estetika, air tersebut tidak diterima masyarakat sebagai konsumen.

Syarat Kimia

Yaitu tidak mengandung zat-zat yang berbahaya untuk kesehatan seperti zat-zat organik lebih tinggi dari jumlah yang telah ditentukan. Misalnya: KMNO4 : di dalam standar kualitas tertentu maksimal angka permanganat adalah 10mg/liter. Penyimpangan standar kualitas tersebut akan mengakibatkan timbulnya bau tidak sedap dan dapat menyebabkan sakit perut.

(40)

a. Syarat bakteriologis

Air tidak boleh mengandung suatu mikroorganisme. Penyakit-penyakit yang sering menular dengan perantaran air adalah penyakit yang tergolong dalam golongan “water borne diseases” Yaitu :Cholera ,Paracholera Eltor, Thypus abdominalis, Dysentrian bacillaris, Hipatitis infectiosa,Poliomylitis anterior accuta, penyakit-penyakit karena cacing. Karena mikroorganisme keluar bersama faeces penderita, maka disyaratkan air rumah tangga tidak boleh dikotori faeces manusia. Sebagai petunjuk bahwa air telah dikotori oleh manusia, adalah adanya E-coli, karena bakteri ini selalu terdapat dalam faeces manusia baik yang berasal dari orang sakit atau orang sehat, mungkin juga karena kita menyediakan air rumah tangga yang steril, maka air boleh mengandung bakteri tanah yang saprofit dalam batas-batas tertentu.

2. Jamban (sarana pembuangan kotoran)

Kotoran manusia yaitu segala benda atau zat yang dihasilkan oleh tubuh dan dipandang tidak berguna lagi sehingga perlu dikeluarkan untuk dibuang. Ditinjau dari pengertia ini jelaslah bahwa yang disebut kotoran manusia mencakup bidang yang amat luas. Kotoran manusia ini mempunyai karakteristik tersendiri yang dapat menjadi sumber penyebab timbul penyakit (Azwar, 1990). Pembuangan kotoran yaitu suatu pembuangan yang digunakan oleh keluarga atau sejumlah keluarga untuk buang air besar.

a. Cara pembuangan tinja : 1) Kotoran manusia tidak mencemari permukaan tanah, 2) Kotoran manusia tidak mencemari air permukaan maupun air tanah. Kotoran manusia tidak boleh dibuang langsung kesungai, danau, laut, jarak

(41)

jamban >10 meter dari sumur dan bila membuat lubang jamban jangan sampai dalam lubang tersebut mencapai sumber air, 3) Kotoran manusia tidak dijamah oleh lalat. Kotoran manusia yang dibuang harus tertutup rapat, dalam arti agar lalat tidak bisa menghinggapinya. Oleh karena itu jamban yang sehat dapat dibuat dengan menggunakan leher angsa atau dilengkapi dengan tutup, 4) Jamban tidak menimbulkan sarang nyamuk, 5) Jamban tidak menimbulkan bau yang mengganggu, jamban agar tidak bau perlu dilengkapi leher angsa atau lubang ventilasi yang cukup besar dan cukup tinggi, dan 6) Konstruksi jamban tidak menimbulkan kecelakaan misalnya atapnya terlalu rendah, pegangan penutup lubung jamban yang tajam dan sebagainya

Ada 4 cara pembuangan tinja, yaitu : (Azwar, 1990)

1) Pembuangan tinja di atas tanah. Pada cara ini tinja dibuang begitu saja di atas permukaan tanah, halaman rumah, di kebun, di tepi sungai dan sebagainya. Cara demikian tentunya sama sekali tidak dianjurkan, karena dapat mengganggu kesehatan.

2) Kakus lubang gali (pit privy). Cara ini merupakan salah satu yang paling mendekati persyaratan yang harus dipenuhi. Tinja dikumpulkan kedalam tanah dan lubang dibawah tanah,umumnya langsung terletak dibawah tempat jongkok. Fungsi dari lubang adalah mengisolasi tinja sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan penyebaran dari bakteri secara langsung ke penjamu yang baru. Untuk keperluan suatu keluarga, garis

(42)

tengah lubang + 90 cm = kedalaman sekitar 2,50 m. Dindingnya diperkuat dengan batu, dapat di tembok ataupun tidak, macam kakus ini hanya baik digunakan ditempat dimana air tanah letaknya dalam.

3) Kakus Air (Aqua pravy). Cara ini hampir mirip dengan kakus lubang gali, hanya lubang kakus dibuat dari tangki yang kedap air yang berisi air, terletak langsung dibawah tempat jongkok. Cara kerjanya merupakan peralihan antara lubang kakus dengan septic Tank. Fungsi dari tank adalah untuk menerima, menyimpan, mencernakan tinja serta melindunginya dari lalat dan serangga lainnya. Bentuk bulat, bujur sangkar atau 4 persegi panjang, diletakkan vertikal dengan diameter antara 90-120 cm.

4) Septic Tank. Septic Tank merupakan cara yang paling memuaskan dan dianjurkan diantara pembuangan tinja dan dari buangan rumah tangga. Terdiri dari tanki sedimentasi yang kedap air dimana tinja dan air ruangan masuk dan mengalami proses dekomposisi. Di dalam tanki, tinja akan berada selama 1-3 minggu tergantung kapasitas tanki.

b. Hubungan Tinja dengan kesehatan

Pembuangan kotoran yang buruk sekali berhubungan dengan kurangnya penyedian air bersih dan fasilitas kesehatan lainya. Kondisi-kondisi demikian ini akan berakibat terhadap serta mempersukar penilaian peranan masing-masing komponen dalam transmisi penyakit namun sudah diketahui bahwa terhadap hubungan antara tinja dengan status kesehatan. Hubungan keduanya dapat bersifat langsung ataupun tak langsung. Efek langsung misalnya dapat

(43)

mengurangi insiden dari penyakit tertentu yang dapat ditularkan karena kontaminasi dengan tinja, misalnya thypus addominalis, kolera dan lain-lain sedangkan hubungan tak langsung dari pembuangan tinja ini bermacam-macam, tetapi umumnya berkaitan dengan komponen-komponen lain dalam sanitasi lingkungan.

3. Pembuangan Air Limbah (SPAL)

Air limbah adalah air yang tidak bersih mengandung berbagai zat yang bersifat membahayakan kehidupan manusia ataupun hewan, dan lazimnya karena hasil perbuatan manusia.

Menurut Azwar (1990) air limbah dipengaruhi oleh tingkat kehidupan masyarakat, dapat dikatakan makin tinggi tingkat kehidupan masyarakat, makin kompleks pula sumber serta macam air limbah yang ditemui. Dalam kehidupan sehari-hari, sumber air limbah yang lazim dikenal adalah : a. Berasal dari rumah tangga misalnya air, dari kamar mandi, dapur, b. Berasal dari perusahaan misalnya dari hotel, restoran, kolam renang, c. Berasal dari industri seperti dari pabrik baja, pabrik tinta dan pabrik cat, dan d. berasal dari sumber lainnya seperti air tinja yang tercampur air comberan, dan lain sebagainya.

(44)

4. Sampah

Sampah adalah semua atau produk sisa dalam bentuk padat, sebagai akibat aktifitas manusia, yang dianggap tidak bermanfaat dan tidak dikehendaki oleh pemiliknya dan dibuang sebagai barang yang tidak berguna. Dalam ilmu kesehatan lingkungan sampah dibedakan atas :

1. Garbage : adalah sisa-sisa pengolahan atau makanan yang mudah membusuk 2. Rubbish : adalah bahan-bahan sisa pengolahan yang tidak membusuk.

Rubbish ini ada yang mudah terbakar misalnya : kayu, kertas, ada yang tidak terbakar , misalnya kaleng, kawat.

3. Ashes : adalah segala jenis abu, misalnya yang terjadi sebagai hasil pembakaran kayu, batu bara di rumah-rumah atau industri

4. Dead animal : adalah segala jenis bangkai terutama yang besar seperti kuda, sapi, bangkai binatang kecil seperti cicak, lipas tidak termasuk kedalamnya. 5. Street sweeping : adalah segala sampah atau segala kotoran yang berserakan

di jalan dibuang oleh pengendara mobil atau masyarakat.

6. Industrial waste : benda-benda padat yang merupakan sampah hasil industri. Entjang berpendapat bahwa agar sampah tidak membahayakan kesehatan manusia, maka perlu pengaturan pembuangannya, seperti penyimpanan sampah yaitu tempat penyimpanan sementara sebelum sampah tersebut dikumpulkan untuk diangkut serta dibuang (dimusnahkan). Untuk tempat sampah tiap-tiap rumah isinya cukup 1 meter kubik. Tempat sampah janganlah ditempatkan di dalam rumah atau pojok dapur, karena akan merupakan gudang makanan bagi tikus-tikus sehingga rumah banyak tikusnya.

(45)

Syarat tempat sampah : a) terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, kuat sehingga tidak mudah bocor, kedap air ; b) tempat sampah harus mempunyai tutup, tetapi tutup ini dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dibuka, dikosongkan isinya serta dibersihkan. Sangat dianjurkan agar tutup sampah ini dapat dibuka atau ditutup tanpa mengotori tangan ; c) ukuran tempat sampah sedemikian rupa sehingga mudah diangkat oleh satu orang dan ditutup ; dan 4) harus ditutup rapat sehingga tidak menarik serangga atau binatang-binatang lainnya seperti : tikus, ayam, kucing dan sebagainya.

2.4.2 Karakteristik Individu 1. Pendidikan

Cumming dkk (Azwar, 2007), mengemukakan bahwa pendidikan sebagai suatu proses atau kegiatan untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan individu atau masyarakat. Ini berarti bahwa pendidikan adalah suatu pembentukan watak yaitu sikap disertai kemampuan dalam bentuk kecerdasan, pengetahuan, dan keterampilan. Seperti diketahui bahwa pendidikan formal yang ada di Indonesia adalah tingkat sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama, sekolah lanjutan tingkat atas, dan tingkat akademik/perguruan tinggi. Tingkat pendidikan sangat menentukan daya nalar seseorang yang lebih baik, sehingga memungkinkan menyerap informasi-informasi juga dapat berpikir secara rasional dalam menanggapi informasi atau setiap masalah yang dihadapi.

(46)

Pendidikan adalah segala usaha untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia Indonesia jasmani dan rohani yang berlangsung seumur hidup, baik di dalam maupun di luat sekolah dalam rangka pembangunan persatuan Indonesia dan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila (Hasibuan, 2005).

Koentjoroningrat (1997), mengatakan pendidikan adalah kemahiran menyerap pengetahuan atau meningkatkan sesuai dengan pendidikan seseorang dan kemampuan ini berhubungan erat dengan sikap sesorang terhadap pengetahuan sesoerang yang diserapnya, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin mudah untuk dapat menyerap pengetahuan.

Menurut Daryanto (1997), pendidikan adalah upaya peningkatan manusia ke taraf insani itulah yang disebut mendidik, sedangkan menurut Dictionary of Education (1984), pendidikan adalah proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk tingkah laku lainnya di dalam lingkungan masyarakat. 2. Pekerjaan

Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan atau pencaharian yang dijadikan pokok penghidupan seseorang yang dilakukan untuk mendapatkan hasil (Depdikbud, 1998). Pekerjaan lebih banyak dilihat dari kemungkinan keterpaparan khusus dan derajat keterpaparan tersebut serta besarnya risiko menurut sifat pekerjaan juga akan berpengaruh pada lingkungan kerja dan sifat sosial ekonomi karyawan pada pekerjaan tertentu (Notoatmodjo, 2003).

(47)

3. Pendapatan

Pendapatan adalah tingkat penghasilan penduduk, semakin tinggi penghasilan semakin tinggi pula persentase pengeluaran yang dibelanjakan untuk barang, makanan, juga semakin tinggi penghasilan keluarga semakin baik pula status gizi masyarakat (BPS, 2006).

Tingkat pendapatan yang baik memungkinkan anggota keluarga untuk memperoleh yang lebih baik, misalnya di bidang pendidikan, kesehatan, pengembangan karir dan sebagainya. Demikian pula sebaliknya jika pendapatan lemah akan maka hambatan dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Keadaan ekonomi atau penghasilan memegang peranan penting dalam meningkatkan status kesehatan keluarga. Jenis pekerjaan orangtua erat kaitannya dengan tingkat penghasilan dan lingkungan kerja, dimana bila penghasilan tinggi maka pemanfaatan pelayanan kesehatan dan pencegahan penyakit juga meningkat, dibandingkan dengan penghasilan rendah akan berdampak pada kurangnya pemanfaatan pelayanan kesehatan dalam hal pemeliharaan kesehatan karena daya beli obat maupun biaya transportasi dalam mengunjungi pusat pelayanan kesehatan (Zacler dalam Notoatmodjo,1997).

(48)

2.4.3 Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan hal ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).

Margono dalam Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa pengetahuan adalah kemampuan untuk mengerti dan menggunakan informasi.

Staton dalam Notoatmodjo (2003), menyatakan pengetahuan atau knowledge adalah individu tahu apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya.

Notoatmodjo (2003), berpendapat bahwa pengetahuan adalah hasil tahu seseorang terhadap obyek melalui indra yang dimilikinya dan dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap obyek. Pengetahuan seseorang terhadap obyek mempunyai intensitas dan tingkat yang berbeda-beda, yang secara garis besar dapat dibagi dalam 6 (enam) tingkat pengetahuan, yaitu :

a. Tahu (know).

Merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah, termasuk dalam tingkatan ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

(49)

b. Memahami (comprehension)

Pada tingkatan ini orang sudah paham dan dapat menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar juga.

c. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.

d. Analisis (analysis)

Pada tingkatan ini sudah ada kemampuan untuk menjabarkan materi yang telah dipelajari dalam komponen-komponen yang berkaitan satu sama lain.

e. Sintesis (synthetis)

Sintesis merupakan kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada dengan cara meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau obyek, dimana penilaian berdasarkan pada kriteria yang dibuat sendiri atau pada kriteria yang sudah ada.

2.4.4 Sikap

Menurut Azwar (2007), sikap adalah keteraturan tertentu dalam hal perasaan atau afeksi, pemikiran (koneksi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya.

(50)

Sikap dapat dirumuskan sebagai kecenderungan untuk berespons (secara positif maupun negatif) terhadap orang, objek atau situasi tertentu. Sikap seseorang dapat berubah dengan diperolehnya tambahan informasi tentang objek melalui persuasi serta tekanan dari kelompok sosialnya (Sarwono, 2007).

Menurut Notoatmodjo (2003), sikap adalah penilaian (berupa pendapat) seseorang terhadap stimulus atau objek (masalah kesehatan, termasuk penyakit), setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek, proses selanjutnya akan menilai atau bersikap terhadap stimulus atau objek kesehatan.

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku (Bloom dalam Notoatmodjo, 2003).

Menurut Allport dalam Notoatmodjo (2003), sikap mempunyai 3 (tiga) komponen pokok yaitu kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek dan kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek serta kecenderungan untuk bertindak. Ketiga komponen ini secara bersama membentuk sikap yang utuh (total attitude).

(51)

Kothandapani dalam Azward (2007), merumuskan tiga komponen sikap yaitu kognitif (kepercayaan atau beliefs), komponen emosional (perasaan) dan komponen perilaku (tindakan).

2.45 Peran Petugas

Menurut Depkes (1998), peran petugas sanitasi dan kepala puskesmas sangat menentukan keberhasilan cakupan pelaksanaan inspeksi sanitasi di wilayah

puskesmas selama 1 (satu) tahun. Petugas sanitasi dan kepala puskesmas kurang memahami akan pentingnya inspeksi sanitasi terhadap rumah sehat dan sarana kesehatan lingkungan, makanya cakupan inspeksi dan sanitasi tidak memenuhi target yang ditetapkan.

Sanitarian adalah jumlah tenaga kesehatan yang memiliki latar belakang pendidikan terakhir bidang kesehatan lingkungan dan sanitarian yang bekerja di puskesmas yang bersangkutan menurut jenis kelamin. Yang termasuk tenaga sanitarian adalah SPH, D-III Kesehatan Lingkungan, D-III Penyuluh Kesehatan.

Program pokok kesehatan lingkungan adalah informasi mengenai apakah program kesehatan lingkungan diselenggarakan oleh tenaga sanitasi di puskesmas yang bersangkutan atau tidak. Peralatan petugas sanitasi (water test kit dan sanitarian kit) yaitu informasi mengenai peralatan yang didapatkan dengan kondisi berfungsi atau tidak yang dimiliki untuk melaksanakan kegiatan sanitasi.

(52)

Menurut Syafri (1993), usaha-usaha sanitasi ditujukan kepada seluruh masyarakat, langkah awal yang dapat dilakukan adalah mengupayakan perubahan perilaku masyarakat ke arah yang lebih baik. Beberapa cara yang dapat diterapkan sebagai usaha meningkatkan kesadaran dan peran serta masyarakat adalah sebagai berikut :

a. Menggalakkan penyuluhan tentang hidup sehat. Kepedulian dari lembaga-lembaga kesehatan sangat diharapkan masyarakat. Pemanfaatan tempat-tempat pelayana kesehatan masyarakat merupakan upaya ideal dalam mewujudkan kesadaran masyarakat untuk berperilaku sehat. Kepercayaan masyarakat terhadap petugas-petugas kesehatan di lingkungan adalah merupakan nilai tambah tersendiri. Masyarakat akan lebih mudah menerima masukan-masukan yang diberikan. Gambaran umum menunjukkan bahwa lingkungan yang bermasalah bagi kesehatan didominasi oleh penduduk berpenghasilan rendah dengan tingkat pengetahuan yang rendah. Adanya asumsi bahwa timbulnya penyakit karena kutukan adalah tidak relevan sama sekali. Masyarakat harus diberitahu bahwa terjadinya penyakit adalah karena adanya interaksi antara 3 faktor, yaitu environment, host dan agent. Penyuluhan-penyuluhan dapat diberikan pada saat kejadian-kejadian masyarakat berlangsung. Penyuluhan yang cukup efektif dapat dilakukan terhadap ibu rumah tangga, karena kondisi kesehatan keluarga erat hubungannya dengan tingkat pengetahuan ibu. Pembinaan terhadap ibu-ibu dapat dilakukan posyandu. Ibu rumah tangga dapat dianjurkan untuk memulai perilaku sehat secara dini terhadap balitanya.

(53)

b. Memberi contoh lingkungan sehat bagi masyarakat. Kebanyakan masyarakat tidak akan menerima langsung isi penyuluhan-penyuluhan tentang kesehatan. Masyarakat lebih tertarik dengan hal-hal yang praktis dan kurang sukar memikirkan secara mendalam apa yang harus dilakukan terhadap lingkungannya agar mereka terhindar dari penyakit. Sebaiknya masyarakat langsung ditunjukkan contoh-contoh lingkungan sehat yang akan dijadikan panutan agar lebih efektif dan membantu. Contoh lingkungan sehat bagi masyarakat yang cocok adalah suatu rumah sederhana dengan perkarangan yang bersih, mempunyai jamban yang cukup syarat kesehatan, air yang cukup tersedia, dan tempat pembuangan air limbah serta sampah tersedia baik.

Dari adanya contoh-contoh seperti ini, masyarakat akan mengerti bahwa dengan kesederhanaan yang mereka miliki, mereka dapat juga menikmati lingkungan yang sehat dan terhindar dari penyakit-penyakit yang timbul karena keadaan lingkungan sekitar mereka. Poster-poster sederhana juga dapat membantu masyarakat mengenal dan menerapkan sanitasi lingkungan. Sarana-sarana desa seperti balai desa dan pusat pelayanan kesehatan tersebut sering dikunjungi masyarakat.

c. Menunjang kesehatan masyarakat dalam bidang sanitasi lingkungan. Konsep dan teknis sanitasi yang cocok bagi suatu wilayah, kadangkala dapat timbul dari masyarakat sendiri. Hal ini merupakan sumbangan besar bagi terlaksananya usaha sanitasi lingkungan. Sanitasi lingkungan yang dilakukan masyarakat kadang-kadang hanya tidak sengaja. Sebagai contoh, pemanfaatan sampah rumah tangga

(54)

oleh masyarakat tani untuk dijadikan kompos. Tujuan utama mereka adalah untuk menambah bahan organik pada tanaman yang diusahakan. Secara tidak sadar sebenarnya mereka telah ikut meniadakan vektor-vektor penyakit yang hidup di sampah-sampah. Kegiatan-kegiatan sanitasi seperti ini merupakan suatu potensi. Adanya dukungan dari pihak-pihak yang berkompeten akan menumbuhkan peran serta masyarakat. Masyarakat diberitahu bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah satu cara melepaskan mereka dari gangguan vektor penyakit.

d. Pemberian penghargaan bagi lingkungan sehat. Keinginan untuk dihargai adalah mutlak dalam diri manusia. Penghargaan dapat dinyatakan melalui dukungan terhadap apa yang telah dilakukan, pemberian tambahan sarana-sarana dan hadiah jika memungkinkan. Adanya penghargaan akan lebih memotivasi masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap keadaan lingkungan yang berkaitan dengan kesehatan.

2.5 Landasan Teori

Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia disamping sandang dan pangan, sehingga rumah harus sehat agar penghuninya dapat bekerja secara produktif. Konstruksi rumah dan lingkungannya yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor risiko sebagai sumber penularan berbagai penyakit, khususnya penyakit yang berbasis lingkungan.

(55)

Faktor yang berpengaruh terhadap kepemilikian perumahan yang layak dan sehat adalah tingkat ekonomi masyarakat yang masih rendah; pekerjaan, lingkungan fisik, biologi, sosial dan budaya setempat yang belum mendukung; tingkat kemajuan teknologi pembangunan perumahan masih terbelakang; serta belum konsistennya kebijaksanaan pemerintah dalam tata guna lahan dan program pembangunan perumahan untuk rakyat (Panudju, 1999).

Menurut penelitian Lubis (2000) ada empat parameter perumahan yang menunjukkan resiko bermakna yakni jenis lantai, jenis dinding, jendela kamar tidur, ventilasi, pencahayaan dan kepadatan penghuni. Selain itu apabila faktor lingkungan dianalisis bersama-sama dengan faktor sosial (umur, tempat kerja, media informasi yang ada, tingkat pendidikan, ternyata menunjukkan hasil yang bermakna penyakit berbasis lingkungan.

Margono dalam Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa pengetahuan adalah kemampuan untuk mengerti dan menggunakan informasi.

Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan merupakan salah satu unsur yang diperlukan seseorang diantaranya : a) Pengetahuan/pengertian dan pemahaman tentang apa yang dilakukannya ; b) Keyakinan dan kepercayaan tentang manfaat dan kebenaran dari apa yang dilakukannya : c) Sarana yang diperlukan untuk melakukannya ; dan d) Dorongan atau motivasi untuk berbuat yang dilandasi oleh kebutuhan yang dirasakan.

(56)

Menurut Depkes (1998), peran petugas sanitasi dan kepala puskesmas sangat menentukan keberhasilan cakupan pelaksanaan inspeksi sanitasi di wilayah puskesmas selama 1 (satu) tahun. Petugas sanitasi dan kepala puskesmas kurang memahami akan pentingnya inspeksi sanitasi terhadap rumah sehat dan sarana kesehatan lingkungan, makanya cakupan inspeksi dan sanitasi tidak memenuhi target yang ditetapkan.

2.6 Kerangka Konsep Penelitian

Berdasarkan landasan teori, maka penelitian merumuskan kerangka konsep penelitian sebagai berikut :

Variabel

Independen

Variabel Dependen

Karakteristik Individu - Pendidikan - Pekerjaan - Pendapatan Pengetahuan tentang rumah sehat

Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian

Rumah : - Sehat - Tidak Sehat Sikap tentang rumah

sehat

(57)

Gambar

Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian
Tabel 3.1 Jumlah Rumah Terpadat di Lima Desa di Kecamatan Peureulak  Timur Kabupaten Aceh Timur Tahun 2008
Tabel 4.1   Distribusi  Penduduk  berdasarkan  Desa di Kecamatan Peureulak Timur  tahun 2008
Tabel 4.2 Distribusi Karakteristik Responden Kecamatan Peureulak Timur Kabupaten  Aceh Timur Tahun 2008
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sah atau tidaknya suatu perkawinan, baik yang umum (satu laki-laki dewasa dengan satu perempuan dewasa) atau yang khusus (satu laki-laki dewasa dengan lebih dari satu

Salah satu fenomena tersebut adalah perihal tentang memilih kriteria perempuan yang baik untuk dijadikan istri karena pada saat ini banyak dari kalangan laki-laki yang

Pada form istri wafat terdapat inputan jumlah harta warisan, biaya pemakaman, beban hutang, wasiat pewaris dan pilihan : anak laki – laki, anak laki dan perempuan, anak perempuan,

Cabang olahraga permainan tenismeja adalah salah satu cabang olahraga yang banyak digemari, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa baik laki-laki maupun

Ruang lingkup penelitian ini tentang perlindungan hukum anak sebagai korban kekerasan seksual, baik laki-laki maupun perempuan dan anak atau dewasa, yang mulai

Pendidikan terhadap anak-anak baik laki- laki maupun perempuan juga menjadi perhatian pada masa Nabi, dimana setiap orang dewasa diberi tanggungjawab untuk mendidik dan

pembunuhan maupun aborsi. Orang-orang yang menjadi korban tindak pidana tersebut tidak hanya perempuan dewasa, tetapi banyak korban yang masih anak- anak, baik laki-laki

 Kerjasama secara setara dan berkeadilan antara suami dan istri serta anak- anak baik laki-laki maupun perempuan tercermin dalam semua fungsi keluarga melalui pembagian