ISSN 1978-502X
1) Komunikasi Penulis
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA
BERBASIS KEARIFAN LOKAL
Azizahwati1,2), Ruhizan Mohd Yasin2)
1)
Program Studi Pendidikan Fisika FKIP, Universitas Riau,
2)
Fakulti Pendidikan, University Kebangsaan Malaysia
e-mail: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan lembar kerja siswa berbasis kearifan lokal untuk siswa SMP kelas VIII yang valid. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan mengacu pada model 4_D. Instrumen yang digunakan adalah lembar validasi LKS dan angket respon pengguna dari guru dan siswa. Penelitian yang telah dilaksanakan memberikan kesimpulan: kualitas LKS yang dikembangkan mendapatkan nilai dengan kategori tinggi serta respon pengguna dari guru yang sangat tinggi dan dari siswa yang berkategori tinggi sehingga layak digunakan.
Kata kunci: kearifan lokal, Lembar Kerja Siswa, research and development
Abstract
This study aims to develop an indigenous knwledge-based student worksheets for valid Grade VII junior high school students. This research uses Research and Development (R & D) method with reference to model 4_D. The instruments used are LKS validation sheets and user response questionnaires from teachers and students. The research that has been carried out concludes: the quality of the developed LKS scores with high category as well as the user response from very high teachers and from the high categorized students so it is good to use.
Keywords: indigenous knowledge, the worksheets, research and development
Pendahuluan
Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan salah satu sumber belajar yang umumnya digunakan guru. LKS harus dapat memandu aktivitas belajar siswa secara terarah dan sistematis dalam mencapai tujuan pembelaja ran (Trianto, 2013). Lembar Kerja siswa (LKS) dapat berupa panduan untuk latihan pengem bangan aspek kognitif maupun panduan untuk pengembangan semua aspek
pembelajaran dalam bentuk panduan
eksperimen atau demonstrasi. Menurut Andi Prastowo (2012) LKS memiliki 4 fungsi
sebagai berikut: 1. Sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran pendidik, namun lebih mengaktifkan peserta didik. 2. Sebagai bahan ajar yang mempermudah peserta didik untuk memahami materi yang diberikan. 3. Sebagai bahan ajar yang ringkas dan kaya
tugas untuk berlatih. 4. Memudahkan
pelakasanaan pengajaran kepada peserta didik. Tujuan pembuatan LKS (Belawati et al., 2012) adalah sebagai berikut: 1) Menyajikan bahan ajar yang memudahkan peserta didik untuk berinteraksi dengan materi yang diberikan. 2)
Menyajikan meningkatkan tugas-tugas
materi yang diberikan. 3) Melatih kemandirian belajar peserta didik. 4) Memudahkan pendidik dalam tugas kepada peserta didik.
LKS yang dikombinasikan dengan kearifan lokal dapat digunakan guru sebagai sarana untuk melatihkan keterampilan siswa melakukan eksperimen. Lembar kerja siswa berbasis kearifan lokal akan sangat membantu dalam proses pembelajaran maupun proses kegiatan praktikum dilabor dalam menemukan dan memecahkan masalah sehingga menjadi temuan konsep baru dalam sains. Zuhdan K. Prasetyo (2013) menilai bahwa justru nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat lokal yang penuh dengan nilai-nilai kearifan lokal
diabaikan dalam berbagai pembelajaran,
termasuk pembelajaran sains di sekolah. Padahal jika kearifan lokal dimasukkan ke dalam pembelajaran sains dapat meningkatkan
kualitas pembelajaran tersebut sehingga
pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa. Menurut Hairida (2010) buku-buku yang
digunakan dalam pembelajaran telah
memenuhi sejumlah kriteria kelayakan yaitu kelayakan isi, penyajian, bahasa, dan grafik, akan tetapi bahan-bahan ajar termasuk LKS tersebut masih belum memadai sehingga pembelajran menjadi kurang bermakna. Disini terlihat perlunya pengembangan LKS yang dapat mengintegrasikan nilai-nilai budaya, dimana bahan ajar tersebut dapat dikonsumsi oleh siswa dimanapun mereka berada dan memiliki daya tarik kuat bagi siswa sehingga perlu digunakan nuansa kearifan lokal.
Menurut Gondwe dan Nancy (2014) kearifan lokal meliputi; nilai-nilai, norma-norma, kepercayaan dan praktek-praktek yang dibagi, dibuat dan diwariskan dari generasi ke generasi yang disertai dengan teknologi lokal. Pemanfaatan budaya yang merupakan unsur kearifan lokal dapat menumbuhkan kesadaran diri dalam menjaga kelestarian alam (Clayton, 2009). Masyarakat telah mengembangkan pengetahuan yang telah diwariskan sebagai cara-cara atau teknologi asli daerah guna mendayagunakan sumber daya alam bagi kelangsungan hidup. Pengungkapan gagasan masyarakat yang bersifat lokal kedaerahan, dapat menguatkan hakekat belajar bermakna, dan mendorong setiap siswa di sekolah untuk bersifat bijaksana, penuh kearifan sehingga
dapat memecahkan permasalahan dalam
kehidupan sehari-hari. Materi ajar yang
sekedar berisi konsep, dikhawatirkan
menghasilkan generasi yang mengabaikan kearifan lokal sebagai pilar jati diri bangsa. Budaya yang merupakan unsur kearifan lokal yang berkembang dimasyarakat yang secara
jelas telah teruji mampu menjaga
keseimbangan lingkungan, sudah semestinya dijadikan bahan dalam pengembangan materi ajar sains.
Proses pembelajaran sains yang tepat memerlukan perencanaan yang tepat pula, perancangan LKS merupakan salah satu perencanaan yang harus disiapkan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. LKS merupakan media, petunjuk, dan pedoman
yang akan digunakan dalam proses
pembelajaran (Suhadi dalam Rusmiati, 2007). Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan LKS berbasis kearifan lokal kelas VIII yang valid.
Bahan dan Metode
Bentuk penelitian ini menggunakan development research yang dkembangkan oleh Thiagarajan, Semmel, dan Semmel (Nur, 2011). Kegiatan penelitian meliputi empat tahap, yaitu pendefinisian (define), peran cangan (design), pengembangan (develop), dan desiminasi terbatas ataupun luas.
Kegiatan penelitian diawali dengan tahap define yaitu dengan melaukan analisis kebutuhan yang meliputi: studi lapangan, menganalisis Kompetensi Dasar IPA (sanis) SMP, mereviu literatur tentang pengembangan lembar kerja siswa SMP kelas VIII. Tahap perancangan (design) melakukan perancangan LKS sesuai format sehingga dihasilkan draft
awal (prototipe). Tahap pengembangan
(develop), pada tahap ini dilakukan validasi dan revisi oleh pakar selanjutnya dilakukan uji
coba kecil (praktikalitas) sebelum di
diseminate (uji coba luas). Pada uji coba kecil ini diperoleh respon dari pengguna dalam hal ini guru dan siswa sebagai penambahbaikan LKS yang di kembangkan. Draf prototipe
perangkat pembelajaran Fisika berbasis
kearifan lokal divalidasi oleh 5 (lima) orang pakar pendidi kan sains fisika. Kegiatan validasi dilakukan dalam bentuk tertulis dan diskusi sampai tercapai suatu kondisi yang mana para validator berpendapat bahwa LKS yang dikembangkan sudah valid. LKS berbasis kearifan lokal yang telah direvisi dan valid
menurut pakar, diuji coba (uji coba kecil) ke pengguna dalam hal ini guru dan siwa SMP untuk dimintai responnya terhadap LKS yang
sudah dibuat. Masukan dari pengguna
digunakan sebagai penambahbaikan perangkat sebelum di disseminate.
1. Instrument Pengumpulan Data
Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah: a) Lembar validasi perangkat pembelajara untuk pakar b) Angket
respon guru dan siswa terhadap
pembelajaran berbasis kearifan lokal. 2. Teknik Pengumpulan data
Teknik pengumpulan data dalam
penelitian ini adalah 1). Angket yang digunakan untuk memperoleh data tentang tingkat validitas LKS yang dikembangkan bila digunakan dalam pembelajaran sains. Angket tersebut diberikan kepada validator. 2). Angket
respon guru dan siswa (sebagai
pengguna) terhadap LKS yang
dikembangkan. 3. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
deskriptif, yakni dengan cara
menghitung rata-rata skor validitas dari setiap indikator validitas LKS dan rata-rata skor respon pengguna. Kevalidan ditentukan skor yang diberikan oleh ahli sebagai hasil validasi. Kelayakan LKS yang dikembangkan diperoleh dari skor Respon penngguna (pada uji coba skla kecil).
Tabel 1. Kategori validitas format LKS
Persentase Kategori 78% ≤ ̅ < 100 % 56% ≤ ̅ < 78 % 33% ≤ ̅ < 56% Tinggi Sedang Rendah
Analisis data hasil validasi adalah sebagai berikut :
a. Menentukan validitas format LKS dengan berdasarkan ketentuan kategori validitas format LKS menurut Tabel 1.
b. Menghitung validitas isi LKS dengan langkah-langkah sebagai berikut
1) Menentukan skor untuk jawaban angket menggunakan skala Likert seperti pada Tabel 2.
2) Mencari rata-rata tiap indikator angket 3) Mencari rata-rata keseluruhan angket. 4) Menentukan kategori rata-rata validasi.
Tabel 2. Skor penilaian angket
No Kategori Skor 1 2 3 4 Sangat Tinggi Tinggi Rendah Sangat Rendah 4 3 2 1 Sumber: (Sugiyono, 2015)
Tabel 3. Kategori validitas isi LKS
No. Interval Nilai
Respon (%) Kategori 1 3,25 ≤ V < 4 Sangat Tinggi 2 2,50 ≤ V < 3,25 Tinggi 3 1,75 ≤ V < 2,50 Rendah 4 1,00 ≤ V < 1,75 Sangat Rendah
Kriteria penarikan kesimpulan terhadap LKS yang dikembangkan ditetapkan sebagai berikut:
a. Masing-masing komponen penilaian
format LKS dinyatakan valid apabila validitasnya tinggi sesuai Tabel 1.
b. Masing-masing komponen penilaian isi LKS dinyatakan valid apabila setiap pernyataan pada indikator memperoleh skor 3 dan 4, validitasnya tinggi atau sangat tinggi sesuai dengan Tabel 3 dan 4.
Tabel 4. Kriteria respon pengguna LKS Fisika SMP berbasis kearifan lokal
No. Interval Respon Kategori Respon
1 3,25 ≤ R < 4 Sangat Tinggi 2 2,50 ≤ R < 3,25 Tinggi 3 1,75 ≤ R < 2,50 Rendah 4 1,00 ≤ R < 1,75 Sangat Rendah Sumber: (Sugiyono,2015)
Praktikalitas (respon pengguna) LKS berbasis kearifan lokal, dilihat dari respon guru dan peserta didik terhadap LKS. LKS dinyatakan layak digunakan jika respon pengguna berada pada kategori tinggi atau sangat tinggi.
Hasil dan Pembahasan
Penegembangan LKS berbasis kearifan lokal yang telah dilakukan menunjukkan hasil seperti pada Tabel 5 dan Tabel 6.
Tabel 5. Hasil validasi format LKS berbasis kearifan lokal No Indikator Persentase (%)/Kategori 1 Judul 100/Tinggi 2 Mencantumkan tujuan 100/Tinggi
3 Alat/bahan (jika ada) 100/Tinggi
4 Langkah kerja 100/Tinggi
5 Kolom
pengamatan/grafik
100/Tinggi
6 Pertanyaan 100/Tinggi
Rata-rata/Kategori 100/Tinggi
Hasil validasi format LKS pada Tabel 5
memperlihatkan validitas 100% yang
menggambarkan kelengkapan komponen LKS.
Tabel 6 menunjukkan bahwa secara
keseluruhan LKS yang dikembangkan valid. Produk awal yang divalidasi oleh 5 validator mendapatkan penilaian yang “tinggi”. Hal ini disebabkan oleh ketaatan terhadap pedoman pengembangan LKS yang ada. Menurut Andi Prastowo (2012), LKS yang merupakan bagian dari perangkat pembelajaran yang dikembang kan sesuai dengan pedoman yang ada, akan berpengaruh pada kualitas pembelajaran di kelas.
Hasil respon pengguna dalam hal ini guru dan siswa mengindikasikan bahwa konsep sains berkaitan dengan budaya di masyarakat, diharapkan mampu memuncul
keinginan untuk berinteraksi dengan
lingkungan secara lebih bijaksana. Menurut Baynes & Austin (2012) memasukkan budaya yang merupakan unsur dari kearifan lokal dalam kurikulum sekolah, bermanfaat bagi semua siswa. Kearifan lokal dapat membantu
siswa dalam menghubungkan ilmu
pengetahuan dan mengembangkan identitas budaya yang positif sehingga penbelajaran menjadi lebih bermakna.
Tabel 6. Hasil validasi format isi LKS berbasis kearifan lokal
Indikator V-I V-2
Memberi peluang keggiatan bagi yang cepat maupun yang lambat
3,13 3,13
Membuat langkah-langkah untuk menemukan apa yang hendak dicapai 3,18 3,23 Memberikan kegiatan untuk pengembangan hubungan sosial 3,18 3,23
Kalimat yang digunakan sederhana dan jelas
3,08 3,08
Pertanyaan disusun secara sistematis
3,18 3,18
Tersedia ruang yang cukup untuk menuliskan jawaban atau untuk menggambar
3,18 3,18
Menvantumkan tujaun kegiatan
3,15 3,15
Ditulis dengan
menggunakan huruf cetak
3,25 3,25
Huruf untuk topik dengan informasi atau instruksi telah jelas bedanya
3,23 3,23
Gambar cukup jelas 3,15 3,15
Rata-rata/Kategori 3,17/
T
3,18/ T
Keterangan: V-1 = validasi-1; V-2 = validasi-2; T = Tinggi
Tabel 7. Hasil respon pengguna terhadap LKS berbasis kearifan lokal
Pengguna Rata-rata Kategori
Guru 3,29 Sangat Tinggi
Siswa 3,18 Tinggi
Hasil penelitian ini, mengindikasikan bahwa kearifan lokal haruslah diintegrasikan di dalam pembelajaran sains di sekolah. Hal ini sejalan dengan penelitian Castagno, Brayboy, (2008) yang menyataka bahwa kearifan lokal mampu menguhubungkan sains
dengan kehidupan sehari-hari sehingga memudahkan bagi guru untuk menjelaskan informasi kepada siswa. Siswa perlu dibekali pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai konservasi dalam hali ini adalah kearifan lokal. Hal ini bertujuan agar potensi intelektual yang
dimiliki, diimbangi oleh kecerdasan
emosional, sosial, dan spiritual yang sangat dibutuhkan untuk berkompetisi (Marukhi, 2012).
Kesimpulan dan Saran
LKS yang dikembangkan dinyatakan valid dimana validitas format LKS dengan kategori tinggi. Validitas isi LKS berkategori tinggi. Respon pengguna dalam hal ini guru dan siswa menunjukkan bahwa LKS yang dikembangkan memberikan respon yang sangat tinggi dan tinggi sehingga LKS berbasis kearifan lokal ini dinyatakan valid dan layak digunakan.
Penelitian ini diharapkan dapat dilanjut kan ke tahap ujicoba skala besar (disseminate) dan dikembangkan pada pokok bahasan lain sehingga bisa lebih mengeksplor kearifan lokal yang ada.
Daftar Pustaka
Andi Prastowo, 2012. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Diva Press, Yogjakarta.
Baynes, R., & Austin, J., 2012. Indigenous Knowledge in the Australian National Curriculum for Science: from Conjec ture to Classroom Practice. Paper Presented at the 5th Biennial Inter
national Indigenous Development
Research Conference, Auckland: New Zealand.
Belawati, Tian, et al., 2003. Pengembangan BahanAjar. Pusat penerbitan Universi tas Terbuka, Jakarta.
Castagno, A.E., Brayboy, B.M.J., 2008. “Culturally Responsive Schooling for
Indigenous Youth: A Review of
Literature” dalam Review of Educa tional Research, 78 (4), 941-993.
Clayton, S. & Myers, G., 2009. Psikologi
Konservasi (Terjemahan). Pustaka
Pelajar. Jakarta, Indonesia.
Gondwe, N. & Longnecker, N., 2014. Scientific and Cultural Knowledge in Intercultural Science Education: Stu dent Perceptions of Common Ground. Res Sci Educ. Springer.
Hairida, 2010. Pemanfaatan Budaya dan
Teknologi Lokal dalam Rangka
Pengembangan Sains. Jurnal Pendidi kan Matematika dan IPA, Vol.1. No.1. Januari 2010.
Masrukhi, 2012. Membangun Karakter Maha siswa Berbasis Nilai Konservasi. Arti kel Simposium Pendidikan dan Kemaha siswaan di Universitas Sebelas Maret. 23 Juni 2012.
Nur, Mohamad, 2011. Model Pengembangan
Perangkat Pembelajaran, Unesa.
Surabaya.
Rusmiati, A., 2007. Pengembangan Model Pengajaran dengan Problem Based Instruction pada Pokok Bahasan Untuk Menumbuhkan Keterampilan Proses Sains. Universitas Negeri Semarang, Semarang.
Sugiyono, 2010. Metodologi Penelitian
Pendidikan. Alfabeta, Bandung.
Trianto, 2013. Model Pembelajaran Terpadu. PT. Bumi Aksara, Jakarta.
Zuhdan K. Prasetyo, 2013. Pembelajaran Sains Berbasis Kearifan Lokal. Makalah seminar nasional fisika dan pendidikan fisika 2013 Program Studi Pendidikan
Fisika PMIPA. FKIP Universitas