DAFTAR ISI DAFTAR ISI 1 DAFTAR GAMBAR 3 DAFTAR TABEL 4

153  Download (0)

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI 1 DAFTAR GAMBAR 3 DAFTAR TABEL 4 BAB I PENDAHULUAN 6 1.1 LATAR BELAKANG 6

1.2 DASAR HUKUM PENYUSUNAN 7

1.3 HUBUNGAN ANTAR DOKUMEN RPJPD DENGAN DOKUMEN RENCANA

PEMBANGUNAN DAERAH LAINNYA 8

1.4 SISTEMATIKA PENYAJIAN 9

1.5 MAKSUD DAN TUJUAN 10

1.5.1 Maksud 10

1.5.2 Tujuan 10

BAB II

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 12

2.1 ASPEK GEOGRAFI DAN DEMOGRAFI 12

2.1.1 Karakteristik Lokasi dan Wilayah 12

2.1.2 Potensi Pengembangan Wilayah 19

2.1.3 Wilayah Rawan Bencana 23

2.1.4 Aspek Demografi 25

2.2 ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT 28

2.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 28

2.2.2 Fokus Kesejahteraan Sosial 34

2.3 ASPEK PELAYANAN UMUM 39

2.3.1 Fokus Layanan Urusan Wajib 39

2.3.2 Fokus Layanan Urusan Pilihan 45

2.4 ASPEK DAYA SAING DAERAH 47

BAB III

ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS 57

3.1 PERMASALAHAN PEMBANGUNAN 57

(2)

BAB IV

VISI DAN MISI DAERAH 65

4.1 VISI 65

4.2 MISI 67

BAB V

ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH 69

5.1 SASARAN POKOK DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN 69

5.2 TAHAPAN DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN 93

5.2.1 Tahap Lima Tahun Ke-1 (2006-2011) 94

5.2.2 Tahap Lima Tahun Ke-2 (2012-2016) 105

5.2.3 Tahap Lima Tahun Ke-3 (2017-2022) 116

5.2.4 Tahap Lima Tahun Ke-4 (2022-2025) 122

5.2.5 Sasaran Pokok, Arahan Kebijakan, dan Tahapan Pembangunan Jangka

Menengah Provinsi Papua Barat 130

BAB VI KAIDAH PELAKSANAAN 149 6.1 STRATEGI IMPLEMENTASI 151 6.1.1 Strategi Internal 151 6.2.2 Strategi Eksternal 152 BAB VII PENUTUP 153

(3)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2-1 Persentase Kampung/Kelurahan Berdasarkan Karakteristik Wilayah Tahun

2011 13

Gambar 2-2 Zona Rawan Gempa Bumi Berdasarkan Tingkat Kerawanan 24 Gambar 2-3 Zona Rawan Longsor Papua Barat Berdasarkan Tingkat Kerawanan 24

Gambar 2-4 Piramida Penduduk Provinsi Papua Barat 26

Gambar 2-5 Perbandingan Laju Pertumbuhan PDRH ADHK 2000 Dengan Migas dan Tanpa

Migas Tahun 2006-2010 29

Gambar 2-6 Sumber Pertumbuhan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007-2010

(dalam %) 30

Gambar 2-7 Peranan Sektor Dominan Terhadap Penciptaan PDRB Atas Dasar Harga

Berlaku Tahun 2007-2010 (dalam %) 31

Gambar 2-8 Sumber Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Migas Menurut Lapangan Usaha Tahun

2007-2010 (dalam %) 32

Gambar 2-9 Peranan Sektor Dominan terhadap Penciptaan PDRB Tanpa Migas Atas Dasar

Harga Berlaku Tahun 2007-2010 (dalam %) 32

Gambar 2-10 Perkembangan Angka Melek Huruf dan Angka Buta Huruf di Provinsi Papua

Barat Tahun 2007-2010 34

Gambar 2-11 Perkembangan Angka Melek Huruf Berdasarkan Jenis Kelamin di Provinsi

Papua Barat Tahun 2007 s.d 2010 35

Gambar 2-12 Angka Partisipasi Sekolah (APS) dan Angka Partisipasi Murni (APM) Antar

Jenjang Pendidikan Tahun 2010 36

Gambar 2-13 Angka Kematian Bayi dan Angka Harapan Hidup di Provinsi Papua Barat 37 Gambar 2-14 Perbandingan Jumlah Penduduk Provinsi Papua Barat Berdasarkan Status

Kemiskinan Tahun 2010 37

Gambar 2-15 Cakupan Layanan Keseatan di Provinsi Papua Barat Taun 2006-2009 450

Gambar 2-16 Rencana Jaringan Provinsi Papua Barat 402

Gambar 2-17 Kondisi Jalan Strategis di Provinsi Papua Barat 423 Gambar 2-18 Kelayakan Rumah di Provinsi Papua Barat Berdasarkan Rumah Tangga 435 Gambar 2-19 Cakupan Pelayanan Listrik dan Air Bersih Pada Perkampungan 54 Gambar 2-20 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Papua Barat dan

Perkembangannya 56

(4)

DAFTAR TABEL

Tabel 2-1 Daerah Administratif Provinsi Papua Barat menurut Kabupaten/Kota Tahun

2010 12

Tabel 2-2 Pembagian Satuan Wilayah Sungai di Provinsi Papua Barat 14 Tabel 2-3 Debit Sungai Dirinci Menurut DPS di Provinsi Papua Barat 16 Tabel 2-4 Luas dan Penyebaran Danau di Provinsi Papua Barat 17 Tabel 2-5 Keadaan Iklim menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2010 18 Tabel 2-6 Penggunaan Lahan di Provinsi Papua Barat Berdasarkan Kabupaten/Kota dan

Jenis Penggunaan Tahun 2010 (Ha) 19

Tabel 2-7 Indikator Kependudukan Provinsi Papua Barat Tahun 2008-2010 27 Tabel 2-8 Indikator Kependudukan Asli Papua dan Non Asli Papua di Provinsi Papua

Barat 28

Tabel 2-9 Laju Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Papua Barat Menurut Penggunaan

Tahun 2006–2009 30

Tabel 2-10 Rencana dan Realisasi Saluran Irigasi Provinsi Papua Barat Tahun 2009 44

Tabel 2-11 Kondisi Investasi Provinsi Papua Barat 55

Tabel 4-1 Visi Misi Pembangunan Jangka Panjang Provinsi Papua Barat 67 Tabel 5-1 Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-1 70 Tabel 5-2 Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-2 71 Tabel 5-3 Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-3 72 Tabel 5-4 Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-4 75 Tabel 5-5 Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-5 77 Tabel 5-6 Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-6 81 Tabel 5-7 Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-7 83 Tabel 5-8 Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-8 84 Tabel 5-9 Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-9 85 Tabel 5-10 Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-10 86 Tabel 5-11 Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-11 87 Tabel 5-12 Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-12 88 Tabel 5-13 Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-13 91 Tabel 5-14 Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-14 92 Tabel 5-15 Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Pembangunan Tahap Lima Tahun Ke-1

(2012-2016) 94

Tabel 5-16 Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Pembangunan Tahap Lima Tahun Ke-2

(2017-2021) 106

Tabel 5-17 Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Pembangunan Tahap Lima Tahun Ke-3

(5)

Tabel 5-18 Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Pembangunan Tahap Lima Tahun Ke-4

(2027-2025) 122

Tabel 5-19 Sasaran Pokok, Arahan Kebijakan, dan Masing-masing Tahapan

(6)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Dalam kurun waktu 1998–2010 bangsa Indonesia mengalami reformasi di segala bidang yang mengharuskan lahirnya paradigma baru pembangunan nasional, yang cukup dirasakan dampaknya di seluruh wilayah Indonesia. Perubahan paradigma tersebut merupakan variabel yang didapati dari adanya pergeseran dari sentralistik otoriter menjadi desentralistik demokratis. Perubahan politik Nasional ke arah demokratisasi membawa dampak terhadap lahirnya Provinsi Papua Barat sesuai dengan usulan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Irian Jaya dengan Surat Keputusan Nomor 10 Tahun 1999 tentang pemekaran Provinsi Irian Jaya menjadi tiga provinsi. Sehingga lahirnya Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999 tentang pembentukan Provinsi Irian Jaya Barat, Provinsi Irian Jaya Tengah, Kabupaten Mimika, Kabupaten Paniai, Kabupaten Puncak Jaya, dan Kota Sorong, namun penjabaran dari regulasi tersebut mengalami kevakuman dalam kurun waktu 1999-2002 yang diakibatkan oleh kondisi politik lokal di tanah Papua yang tidak kondusif bagi penyelenggaran pemerintahan di Provinsi Irian Jaya Barat.

Upaya untuk menindak lanjuti eksistensi Provinsi Irian Jaya Barat menjadi kebutuhan dan tuntutan yang semakin mengkristal di kalangan masyarakat, atas permintaan masyarakat Irian Jaya Barat yang diwakili Tim 315 mendorong untuk mengaktifkan kembali lahirnya Pemerintah Provinsi Irian Jaya Barat berdasarkan Inpres Nomor I Tahun 2003. Sejak saat itu, Provinsi Irian Jaya Barat perlahan membentuk dirinya menjadi provinsi definitif. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2007, nama Provinsi Irian Jaya Barat diganti menjadi Provinsi Papua Barat, dimana terbentuknya Provinsi Papua Barat tersebut, maka secara otomatis terjadi perubahan struktur dan pola ruang untuk Wilayah tanah Papua yang terbagi menjadi dua Provinsi.

Papua Barat memiliki potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang mampu mendukung proses pembangunan daerah, namun disisi lain masih didapati berbagai kelemahan terkait dengan sumber dana pembangunan yang terbatas, Sumber Daya Manusia (SDM) yang rendah, kondisi geografis yang masih tertutup, kultur dan perilaku budaya yang kurang sesuai dengan tuntutan pembangunan daerah, sehingga hal ini belum memberikan dampak yang optimal terhadap upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Mencermati kondisi aktual daerah diatas yang disignifikasikan dengan pemberlakuan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang memberikan kewenangan kepada daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan, baik urusan wajib maupun urusan pilihan dalam rangka desentralisasi. Peluang lain yang diberikan kepada daerah adalah Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua, Undang Nomor 35 tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 untuk Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat, dalam upaya percepatan pembangunan, serta fakta kinerja pembangunan daerah yang kurang memberikan perubahan dalam

(7)

struktur kehidupan masyarakat, hal ini besar dipengaruhi oleh kapasitas perencanaan pembangunan daerah. Oleh sebab itu dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), yang mengamanatkan Pemerintah, Pemerintah Daerah untuk menyusun Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 20 tahun, Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 5 tahun, Rencana Kerja Pemerintah/Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKP/RKPD) dan Rencana Kerja K/L/SKPD, serta Rencana Strategi K/L/SKPD. Terkait dengan Rencana Jangka Panjang Daerah Papua Barat untuk perioKampungsi 2012-2025 yang diharapkan akan menjadi arah dan petunjuk bagi pemerintah, masyarakat dan stakeholder lainnya dalam proses pembangunan. RPJPD dalam penjabarannya berisikan visi, misi dan arah kebijakan pembangunan daerah yang dibagi dalam empat tahapan dalam 20 tahun kedepan.

1.2 DASAR HUKUM PENYUSUNAN

Landasan idiil RPJPD Provinsi Papua Barat adalah Pancasila dan landasan konstitusional Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Landasan operasionalnya meliputi seluruh ketentuan peraturan perUndang-Undangan yang berkaitan langsung dengan pembangunan daerah, yaitu:

1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025;

2. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua menjadi Undang-Undang;

3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencananaan Pembangunan Nasional (SPPN);

4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2004, tentang Rencana Kerja Pemerintah;

5. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan perUndang-Undangan; 6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana telah diubah

dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang;

7. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua; yang bagi Provinsi Papua Barat diatur oleh Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001;

8. Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999 tentang Pembentukan Provinsi Irian Jaya Barat, Provinsi Irian Jaya Tengah, Kabupaten Mimika, Kabupaten Paniai, Kabupaten Puncak Jaya, dan Kota Sorong , yang diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2007;

(8)

9. Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;

10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;

1.3 HUBUNGAN ANTAR DOKUMEN RPJPD DENGAN DOKUMEN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH LAINNYA

1. Hubungan RPJPD Provinsi Papua Barat dengan RPJPN

Menyadari bahwa rencana pembangunan memiliki nilai strategis dalam sistem perencanaan pembangunan nasional, pembangunan daerah dan pembangunan sektoral dengan tetap mengedepankan pendekatan sistemik dalam pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan. Oleh sebab itu visi, misi dan arah kebijakan pembangunan yang diamanatkan dalam RPJPN merupakan acuan dalam proses penyusunan RPJPD.

2. Hubungan RPJPD Provinsi Papua Barat dengan RTRWP/K/T

Kegiatan pembangunan yang akan diselenggarakan oleh pemerintah, masyarakat dan pemangku kepentingan/stakeholder lainnya di Provinsi Papua Barat membutuhkan daya dukung lahan yang efisien, efektif, produktif dan lestari. RPJPD berpedoman Struktur, Pola dan Arahan Kebijakan Pemanfaatan Ruang dalam RTRW Provinsi merupakan arahan lokasi dan kebijakan pemanfaatan ruang yang mengakomodir arahan, tahapan, prioritas pembangunan Provinsi Papua Barat yang termuat dalam RPJPD Provinsi Papua Barat. Hal ini untuk menjamin agar arah kebijakan dan sasaran pokok dalam RPJPD Provinsi Papua Barat selaras dengan atau tidak menyimpang dari arah kebijakan RTRW Provinsi Papua Barat.

3. Hubungan RPJPD Provinsi Papua Barat dengan RPJPD Kabupaten/Kota

Visi, Misi dan Kebijakan jangka panjang daerah Provinsi Papua Barat menjadi acuan bagi Visi, Misi dan Kebijakan jangka panjang daerah seluruh kabupaten Provinsi Papua Barat.

4. Hubungan RPJPD Provinsi Papua Barat dengan RPJMD Provinsi

Kebijakan dan program jangka menengah daerah Kabupaten/Kota dalam RPJMD Kabupaten/Kota mengacu kepada kebijakan jangka panjang daerah dan tahapan pembangunan sebagaimana termuat dalam RPJPD Provinsi Papua Barat.

(9)

Gambar 1-1 Hubungan RPJPD Dengan Dokumen Lainnya

1.4 SISTEMATIKA PENYAJIAN

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Papua Barat Tahun 2012-2025 disusun dalam tata urut sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Berisi hal-hal yang mendasari penyusunan RPJPD Provinsi Papua Barat, meliputi pengantar, pengertian, maksud dan tujuan, landasan hukum, dan sistematika penyajian.

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI UMUM

Berisi pemaparan mengenai kondisi eksisting, tantangan, dan modal dasar yang dimiliki Provinsi Papua Barat untuk menyelenggarakan pembangunan.

(10)

BAB III ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Berisi tentang permasalahan pembangunan yang sedang dihadapi serta isu-isu strategis saat ini yang sedang dihadapi di Provinsi Papua Barat.

BAB IV VISI DAN MISI PEMBANGUNAN PROVINSI PAPUA BARAT

Berisi pemaparan mengenai visi dan misi pembangunan Provinsi Papua Barat berdasarkan RPJPN dan kondisi umum yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya.

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH PROVINSI PAPUA BARAT

Berisi arahan pembangunan serta tahapan dan skala prioritas yang diarahkan untuk empat periode RPJMD.

BAB VI KAIDAH PELAKSANAAN

Berisi tentang pedoman transisi, kaidah pelaksanaan, dan strategi implementasi RPJP Provinsi Papua Barat.

Berisi narasi penutup dan kesimpulan umum singkat dari paparan RPJPD Provinsi Papua Barat Tahun 2012-2025.

1.5 MAKSUD DAN TUJUAN 1.5.1 Maksud

RPJPD Provinsi Papua Barat Tahun 2012-2025 ditetapkan dengan maksud memberikan arah sekaligus menjadi acuan bagi seluruh komponen pembangunan (pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha) di dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan pembangunan nasional dan Otonomi Khusus Papua sesuai dengan visi, misi, dan arah pembangunan yang disepakati bersama sehingga seluruh upaya yang dilakukan oleh pelaku pembangunan bersifat sinergis, koordinatif, dan saling melengkapi satu dengan yang lainnya di dalam satu pola sikap dan pola tindak.

1.5.2 Tujuan

Berdasarkan Pasal 2 ayat (4) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004, tujuan penyusunan sistem perencanaan adalah:

a. mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan;

b. menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi dan sinergi antara daerah, antara ruang, antara waktu, dan antara fungsi pemerintah;

(11)

c. menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan;

d. mengotimalkan partisipasi masyarakat; dan,

e. menjamin tercapainya penggunaan sumberdaya secara efisien, efektif, berkeadilan dan berkelanjutan

RPJPD Provinsi Papua Barat Tahun 2012-2025 disusun dengan tujuan sebagai berikut:

a. memberikan acuan bagi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Papua Barat demi terjaminnya keterkaitan dan konsistensi perencanaan pembangunan jangka panjang, menengah, dan pendek (dalam bentuk rencana kerja) dalam pemilihan program yang sesuai dengan kebutuhan daerah;

b. menciptakan integrasi, sinkronisasi, dan sinergi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Papua Barat, pemerintah setiap Kabupaten/Kota, sampai pada pemerintah di tingkatan administratif yang paling rendah dalam variabel ruang, waktu, dan fungsi;

c. mengoptimalkan partisipasi stakeholders dan masyarakat Provinsi Papua Barat dari mulai proses penyusunan rencana dan anggaran melalui forum musrenbang, proses pelaksanaan, dan proses pengawasan sehingga mereka memiliki sense of belonging (rasa memiliki) untuk bersama-sama membangun dan mewujudkan visi Provinsi Papua Barat;

d. memberikan koridor bagi seluruh komponen daerah (Pemerintah Daerah, masyarakat, swasta, dan pemerhati) Provinsi Papua Barat dalam melaksanakan pembangunan sesuai dengan visi, misi dan arah kebijakan yang disepakati bersama; dan,

e. mengoptimalkan pengaturan sumberdaya agar dapat dimanfaatkan secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

(12)

BAB II

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.1 ASPEK GEOGRAFI DAN DEMOGRAFI 2.1.1 Karakteristik Lokasi dan Wilayah

1. Luas dan Batas Wilayah Administrasi

Luas wilayah Provinsi Papua Barat mencapai 97.024,37Km² (berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2008) habis dibagi menjadi 10 kabupaten dan 1 kota, yang terdiri atas 154 Distrik dan 1.421 Kampung.

Tabel 2-1 Daerah Administratif Provinsi Papua Barat menurut Kabupaten/Kota Tahun 2010 Kabupaten/Kota Ibukota Jumlah Distrik Kampung Jumlah Kelurahan Jumlah

Kabupaten Fakfak Fakfak 9 120 5

Kabupaten Kaimana Kaimana 7 84 2

Kabupaten Teluk Wondama Raisei 13 75 1

Kabupaten Teluk Bintuni Bintuni 24 115 2

Kabupaten Manokwari Manokwari 29 412 9

Kabupaten Sorong Selatan Teminabuan 13 117 2

Kabupaten Sorong Aimas 19 128 15

Kabupaten Raja Ampat Waisai 24 117 4

Kota Sorong Sorong 6 - 31

Kabupaten Tambrauw Sausapor 7 53 0

Kabupaten Maybrat Kumurkek 11 128 1

Total 154 1.421 72

Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka 2011

Sedangkan untuk batas wilayah secara administratif adalah sebagai berikut:  Sebelah Utara : Samudera Pasifik

 Sebelah Selatan : Laut Banda dan Provinsi Maluku  Sebelah Barat : Laut Seram dan Provinsi Maluku  Sebelah Timur : Provinsi Papua

2. Letak dan Kondisi Geografis

a. Provinsi Papua Barat secara astronomis terletak pada 124°-132° Bujur Timur dan 0°-4° Lintang Selatan, tepat berada di bawah garis khatulistiwa dengan ketinggian 0-100 meter dari permukaan laut.

(13)

b. Wilayah Provinsi Papua Barat terdiri dari 7,95% merupakan puncak gunung, 18,73% berada di lembah. Wilayah lain lebih dari separuhnya berada di daerah hamparan. Seluruh wilayah Kabupaten/Kota di Papua Barat berbatasan dengan laut, namun hanya 37,04% Kampung yang berada di daerah pesisir. Wilayah Kampung lainnya tidak berbatasan dengan laut (bukan pesisir), yaitu sebesar 62,96%

Gambar 2-1 Persentase Kampung/Kelurahan Berdasarkan Karakteristik Wilayah Tahun 2011

Sumber: Sensus Potensi Kampung (Podes), 2011 (angka sementara)

3. Topografi

a. Kondisi topografi Provinsi Papua Barat sangat bervariasi membentang mulai dari dataran rendah, rawa sampai dataran tinggi, dengan tipe tutupan lahan berupa hutan hujan tropis, padang rumput dan padang alang-alang. Ketinggian wilayah di Provinsi Papua Barat bervariasi dari 0 s.d > 1000 m. Kondisi topografi antar wilayah di Provinsi Papua Barat cukup bervariasi. Kondisi ini merupakan salah satu elemen yang menjadi barrier transportasi antar wilayah, terutama transportasi darat, serta dasar bagi kebijakan pemanfaatan lahan.

b. Sebagian besar wilayah Provinsi Papua Barat memiliki kelas lereng > 40% dengan bentuk wilayah berupa perbukitan. Kondisi tersebut menjadi kendala utama bagi pemanfaatan lahan baik untuk pengembangan sarana dan prasarana fisik, sistem transportasi darat maupun bagi pengembangan budidaya pertanian terutama untuk tanaman pangan. Sehingga, dominasi pemanfaatan lahan diarahkan pada hutan konservasi disamping untuk mencegah terjadinya bahaya erosi dan longsor.

(14)

4. Geologi

a. Secara geofisik, evolusi tektonik Wilayah Papua Barat (bersama Papua) merupakan produk dari pertumbukan benua yang dihasilkan dari tubrukan Lempeng Samudera Pasifik dan Lempeng Australia. Kondisi inilah yang menyebabkan wilayah ini rentan terhadap gempa bumi, karena berada dalam lintasan sesar besar. Informasi yang dipetakan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika menunjukkan bahwa Papua Barat merupakan kawasan yang aktif mengalami gempa bumi yang potensial menimbulkan tsunami.

b. Karakteristik bencana yang ada di Provinsi Papua Barat yaitu gempa dan tsunami. Kawasan rawan bencana alam ini meliputi kawasan rawan gempa dan tsunami yang terletak di daerah pesisir maupun daratan di Provinsi Papua. Umumnya daerah patahan aktif Sesar Sorong merupakan zona yang sangat rawan gempa bumi. Wilayah Manokwari merupakan daerah yang rawan gempa. Akan tetapi, secara umum wilayah Papua Barat rawan terhadap gempa bumi.

5. Hidrologi

a. Provinsi Papua Barat terdapat beberapa sungai yang membentuk beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS). Sebagian besar Daerah Aliran Sungai yang terbentuk adalah pada kabupaten-kabupaten di Wilayah Pengembangan Sorong. Sungai-sungai yang termasuk dalam kategoti terpanjang adalah Sungai Kamundan (425 km), Sungai Beraur (360 km), dan Sungai Warsamsan (320 km), sedangkan sungai-sungai yang termasuk kategori terlebar adalah Sungai Kaibus (80-2700 m), Sungai Minika (40-2200 m), Sungai Karabra (40-1300 m), Sungai Seramuk (45-1250 m), dan Sungai Kamundan (140-1200 m). Sungai-sungai ini sebagian besar terletak di kabupaten-kabupaten di Wilayah Pengembangan Sorong. Berdasarkan pada tabel di atas, beberapa sungai yang memiliki kecepatan arus paling deras antara lain adalah Sungai Seramuk (3,06 km/jam), Sungai Kaibus (3,06 km/jam), Sungai Beraur (2,95 km/jam), Sungai Aifat (2,88 km/jam), dan Sungai Karabra (2,88 km/jam). Sungai-sungai tersebut terletak pada Wilayah Pengembangan Sorong.

Tabel 2-2Pembagian Satuan Wilayah Sungai di Provinsi Papua Barat

Kabupaten Wilayah Sungai Nama Das Luas (Km2)

Teluk Bintuni B-50 Kamundan-Sebyar Wasian 4.851,000

Teluk Bintuni B-50 Kamundan-Sebyar Sebyar 12.981,400

Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Kasi 693,200

Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Mangopi 1.917,200

Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Prafi 1.169,300

Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Maruni 193,320

(15)

Kabupaten Wilayah Sungai Nama Das Luas (Km2)

Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Ransiki 584,300

Teluk Wondama B-50 Kamundan-Sebyar Windesi 23,560

Teluk Wondama B-50 Kamundan-Sebyar Wosimi 617,400

Teluk Wondama B-50 Kamundan-Sebyar Wondiwoi 172,820

Teluk Wondama B-50 Kamundan-Sebyar Woworama 279,700

Kaimana, Nabire A2-27 Omba Omba 8.610,200

Kaimana A2-27 Omba Laenatum 379,500

Kaimana A2-27 Omba Lengguru 1.870,000

Kaimana A2-27 Omba Berari 1.029,900

Kaimana, Fak Fak A2-27 Omba Madefa 4.605,570

Fak Fak, Fak Fak A2-27 Omba Karufa 477,400

Fak Fak A2-27 Omba Bedidi 1.355,600

Fak Fak A2-27 Omba Fak Fak 88,760

Fak Fak, T. Bintuni A2-27 Omba Bomberai 2.033,300

Sorong Selatan, Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Wariagar 6.720,000

Manokwari, Sorong Selatan B-50 Kamundan-Sebyar Kamundan 9.732,250

Sorong Selatan B-50 Kamundan-Sebyar Kais 4.232,740

Sorong Selatan B-50 Kamundan-Sebyar Sekak 830,700

Sorong Selatan B-50 Kamundan-Sebyar Waromga 810,430

Sorong Selatan, Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Seremuk 884,600

Sorong Selatan, Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Karabra 5.989,230

Sorong Selatan, Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Kladuk 3.131,150

Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Klasegun 848,510

Raja Ampat B-50 Kamundan-Sebyar Misol 848,160

Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Salawati 368,910

Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Samate 82,000

Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Batanta 69,490

Raja Ampat B-50 Kamundan-Sebyar Waigeo 598,160

Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Remu 46,440

Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Warsamson 2.437,131

Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Mega 1.048,340

MANOKWARI B-50 KAMUNDAN-SEBYAR MAON 682,300

Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Wesauni 626,933

T. Bintuni B-50 Kamundan-Sebyar Kasuari 1.971,850

T. Bintuni B-50 Kamundan-Sebyar Wagura 1.799,100

T. Wondama B-50 Kamundan-Sebyar Arumasa 2.497,000

T. Bintuni, Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Muturi 5.381,300

Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air, Jayapura 2005

b. Wilayah Provinsi Papua Barat dilewati beberapa sungai yang tersebar di beberapa wilayah Kabupaten/Kota. Dari sungai besar di Papua Barat sebagian besar mengalir di wilayah pengembangan Sorong. Sungai-sungai tersebut menjadi sebuah sistem daerah aliran sungai yang mengalir sepanjang tahun.

(16)

Tabel 2-3Debit Sungai Dirinci Menurut DPS di Provinsi Papua Barat

No No. DPS NAMA DPS SWS Catchment Area (Km2) Qn (m3/s) Kabupaten 1 17 Omba B - 49 8,610.200 316.919 Kaimana, Nabire 2 18 Laenatum B - 49 379.500 29.086 Kaimana 3 19 Lengguru B - 49 1,870.000 141.454 Kaimana 4 20 Berari B - 49 1,029.900 96.869 Kaimana

5 21 Madefa B - 50 4,605.570 374.730 Kaimana, Fak Fak 6 22 Karufa B - 49 477.400 38.903 Kaimana, Fak Fak 7 23 Bedidi B - 49 1,355.600 107.968 Fak Fak

8 24 Fak Fak B - 49 88.760 11.747 Fak Fak

9 25 Bomberai B - 49 2,033.300 146.870 Fak Fak, T. Bintuni 10 26 Kasuari B - 50 1,971.850 142.232 T. Bintuni

11 27 Wagura B - 50 1,799.100 165.546 T. Bintuni 12 28 Arumasa B - 50 2,497.000 127.979 T,Wondama

13 29 Muturi B - 50 5,381.300 476.337 T. Bintuni, Manokwari 14 30 Wasian B - 50 4,851.000 364.562 T. Bintuni, Manokwari 15 31 Sebyar B - 50 12,981.400 825.032 T. Bintuni, Manokwari 16 32 Wariagar B - 50 6,720.000 432.319 Sorong Selatan, Manokwari 17 33 Kamundan B - 50 9,732.250 796.177 Manokwari, Sorong Selatan 18 34 Kais B - 50 4,232.740 221.554 Sorong Selatan

19 35 Sekak B - 50 830.700 46.634 Sorong Selatan 20 36 Waromga B - 50 810.430 50.282 Sorong Selatan

21 37 Seremuk B - 50 884.600 58.182 Sorong Selatan, Sorong 22 38 Karabra B - 50 5,989.230 302.739 Sorong Selatan, Sorong 23 38 a Kladuk B - 50 3,131.150 195.716 Sorong

24 39 Klasegun B - 50 848.510 58.497 Sorong 25 40 Misol B - 50 848.160 53.437 Raja Ampat 26 41 Salawati B - 50 368.910 27.064 Sorong 27 42 Samate B - 50 82.000 6.183 Sorong 28 43 Batanta B - 50 69.490 5.338 Sorong 29 44 Waigeo B - 50 216.500 13.309 Raja Ampat

30 45 Remu B - 50 46.440 4.721 Sorong 31 46 Warsamson B - 50 2,437.131 147.467 Sorong 32 47 Mega B - 50 1,048.340 120.947 Sorong 33 48 Koor B - 50 1,202.800 140.594 Sorong 34 49 Maon B - 50 682.300 104.163 Manokwari 35 50 Wesauni B - 50 626.933 108.648 Manokwari 36 51 Kasi B - 50 0.000 128.883 Manokwari 37 52 Mangopi B - 50 1,917.200 222.960 Manokwari 38 53 Prafi B - 50 1,169.300 161.814 Manokwari 39 54 Maruni B - 50 193.320 25.129 Manokwari 40 55 Masawui B - 50 111.110 18.958 Manokwari 41 56 Ransiki B - 50 584.300 76.153 Manokwari

(17)

No No. DPS NAMA DPS SWS Catchment Area (Km2) Qn (m3/s) Kabupaten 42 57 Windesi B - 50 23.560 3.574 T,Wondama 43 58 Wosimi B - 50 617.400 45.854 T,Wondama 44 59 Wondiwoi B - 50 172.820 18.816 T,Wondama 45 60 Woworama B - 50 279.700 30.974 T,Wondama

Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air, Jayapura 2005.

Tabel 2-4 Luas dan Penyebaran Danau di Provinsi Papua Barat

No Nama Danau Luas (Ha) Kabupaten

01 Aiwasa 10,240 Kaimana 02 Laamora 16,740 Kaimana 03 Urema 12,600 Kaimana 04 Mbula 6,024 Kaimana 05 Kamakawalor 23,340 Kaimana 06 Berari 6,916 Kaimana

07 Makiri 7,527 Tel. Bintuni

08 Tanemot 17,640 Tel. Bintuni

09 Anggi Gigi 21,370 Manokwari

10 Anggi Gita 22,830 Manokwari

11 Ayamaru 10,850 Sorong Sel.

12 Hain 4,596 Sorong Sel.

Sumber: Dinas PU (2003). Studi Aplikasi SWS di Tanah Papua

6. Klimatologi

a. Provinsi Papua Barat memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Pada bulan Juni sampai dengan September arus angin berasal dari Australia dan tidak banyak mengandung uap air, sehingga mengakibatkan musim kemarau. Sebaliknya pada bulan Desember sampai dengan Maret arus angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Asia dan Samudera Pasifik sehingga terjadi musim penghujan.

b. Berdasarkan jumlah curah hujannya wilayah Papua Barat memiliki tiga kelas curah hujan, yaitu :

- kelas I dengan curah hujan antara 0 s.d. 1000 mm/tahun; - kelas II dengan curah hujan antara 1000 s.d. 2000 mm/tahun; - kelas III dengan curah hujan antara 2000 s.d. 3000 mm/tahun; - kelas IV dengan curah hujan antara 3000 s.d. 4000 mm/tahun; - kelas V dengan curah hujan antara 4000 s.d. 5000 mm/tahun.

(18)

Hampir seluruh wilayah Papua Barat memiliki kelas curah hujan tipe III pola C, dengan curah hujan sekitar 2000 s.d. 3000 mm/tahun.

Tabel 2-5 Keadaan Iklim menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2010

Uraian Minimum Maksimum

Suhu Udara Rata-rata (Fakfak) 26,60 (Kab. Sorong) 27,30 Rata-rata Kelembaban Udara (Kaimana) 83,00 (Fakfak) 85,60 Tekanan Udara Rata-rata (Fakfak) 993,35 (Kab. Sorong) 1.006,80 Curah Hujan (Manokwari) 1.581,0 (Kab. Sorong) 4.306,0 Hari Hujan (Manokwari) 219 (Kab. Sorong) 286 Rata-rata Penyinaran Matahari (Kaimana) 25,33 (Fakfak) 135,74 Sumber: Papua Barat Dalam Angka Tahun 2011

7. Penggunaan Lahan

Pencatatan data mengenai penggunaan lahan di Papua Barat masih sangat terbatas. Data mengenai lahan antara satu dan yang lainnya kerap menunjukkan perbedaan. Faktor kondisi fisik Provinsi Papua Barat yang berbukit dengan banyak pulau menyebabkan pencatatan penggunaan lahan relatif lebih sulit dilakukan. Berikut ini adalah data penggunaan lahan di Provinsi Papua Barat yang dibedakan ke dalam beberapa kategori penggunaan lahan secara umum.

(19)

Tabel 2-6Penggunaan Lahan di Provinsi Papua Barat Berdasarkan Kabupaten/Kota dan Jenis Penggunaan Tahun 2010 (Ha)

Kampung/

Perumahan Sawah Tegalan Kebun Campur Kebun Hutan Semak Tanah Rusak Lain- lain

Fak-Fak - - - - Kaimana 1.754,73 - 424,27 4.426,73 5.395,91 173.280,12 37.489,11 84.731,3 Teluk Wondama - - - - Teluk Bintuni 19.636,95 - 169,64 9.642,64 4.303,06 1.844.082,43 23.600,67 - 115.430,82 Manokwari 11.466,2 3.974,47 5.905,59 12.838,57 15.999,48 1.292.134,84 141.863,38 - 47.794,83 Sorong Selatan 3.907,35 - 90,52 - 29.372, 48 1.015.973,59 55.831,44 - 82.428,59 Sorong - - - - Raja Ampat 29.533,54 - 132,48 - 994,87 699.981,84 26.343,14 - 29.602,61 Kota Sorong - - - - Tambrauw - - - - Maybrat - - - - Papua Barat 66.289,77 3.974,47 6.712,50 26.889,76 55.955,79 6.590.452,82 285.127,74 - 359

Sumber: Papua Barat Dalam Angka Tahun 2011

2.1.2 Potensi Pengembangan Wilayah

Sektor unggulan yang ada di Papua Barat adalah pertanian subsektor perikanan dan kehutanan, pertambangan migas, dan bangunan. Untuk sektor pertanian dapat dikembangkan pada daerah datar dengan kondisi keairan yang baik pada daerah tengah Kepala Burung. Untuk lebih detail mengenai potensi pengembangan wilayah Papua Barat adalah sebagai berikut;

1. Pertanian

a. Sektor pertanian sampai dengan tahun 2008 selalu memberikan kontribusi utama dalam perekonomian Papua Barat. Persentase penduduk yang bekerja sebagai petani pun sampai saat ini selalu memiliki persentase tertinggi. Sejak tahun 2009, sektor pertanian menjadi kontributor terbesar kedua dalam PDRB Papua Barat,di Tahun 2010 kontribusinya sebesar 20,71% dan persentase penduduk yang bekerja di sektor pertanian mencapai 54,04%. (Sumber: Statistik Daerah Provinsi Papua Barat, 2011).

b. Produksi dan luas panen tanaman jagung tahun 2010 kembali mengalami peningkatan. Luas panen meningkat dari 965 ha di tahun 2009 menjadi 1.162 ha di tahun 2010. Sedangkan produksinya kembali meningkat dari 1.584 ton di tahun 2009 menjadi 1.930 ton di tahun 2010. Peningkatan luas panen dan produksi jagung turut mendongkrak produktivitas jagung, pada tahun 2010 produktivitasnya meningkat tipis menjadi 16,61 kwintal/ha dibandingkan dengan tahun 2009 sebesar 16,41 kwintal/ha.

(20)

c. Komoditas unggulan di subsektor perkebunan diantaranya adalah pala, kelapa sawit, dan kakao. Perkebunan kelapa sawit berada di kabupaten Manokwari, sedangkan perkebunan pala terutama di kabupaten Fakfak dan kabupaten Kaimana.

i. Produksi pala tahun 2010 mencapai 1.921 ton dengan luas areal perkebunan seluas 5.492 ha.

ii. Produksi kelapa sawit mencapai 17.116 ton dengan luas areal perkebunan seluas 15.937 ha.

iii. Produksi kakao mencapai 5.152 ton dengan areal seluas 11.154 ha.

d. Dari sisi peternakan, peningkatan yang paling signifikan adalah pada peternakan babi. Ternak babi meningkat dari 43.678 ekor di tahun 2008 menjadi 53.706 ekor di tahun 2009. Jumlah tersebut kembali meningkat di tahun 2010 menjadi 63.138 ekor. Tingginya peningkatan jumlah ternak babi diduga terjadi karena tingginya permintaan konsumsi daging babi. Sedangkan pada ternak sapi dan kambing, peningkatannya tidak setinggi pada ternak babi.

e. Nilai produksi perikanan tahun 2010 mencapai 116.593,30 ton. Tiga kabupaten/kota dengan produksi tertinggi adalah Kota Sorong, kabupaten Fakfak, dan kabupaten Manokwari, dengan nilai produksi berturut-turut adalah 36.786,4 ton; 24.571,2 ton; dan 11.987,2 ton. Beberapa komoditi ekonomis penting perikanan yang merupakan sumberdaya perikanan dari perairan 4 (empat) wilayah pengembangan seperti (kakap, kerapu dan napoleon) memiliki peluang ekspor yang besar dengan permintaan yang tinggi di pasaran luar negeri.

f. Sumber daya kehutanan masih sangat potensial untuk lebih mengembangkan nilai tambah dari produksi hasil hutan.

2. Pertambangan dan Energi

a. Papua Barat adalah salah satu provinsi yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA). Banyak potensi SDA berupa bahan tambang di Papua Barat yang masih belum tereksplorasi maupun yang telah dieksploitasi untuk dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat. Dua tambang besar yang dimiliki Papua Barat adalah tambang minyak di kabupaten Sorong dan tambang Liquid Natural Gas (LNG) di kabupaten Teluk Bintuni. Bahkan tambang LNG ini diperkirakan memiliki kandungan gas alam cair yang besar dan termasuk tiga produsen LNG terbesar di Indonesia.

b. Besarnya PDRB atas dasar harga berlaku sektor pertambangan dan penggalian Papua Barat tahun 2010 mencapai 2.302,78 miliar rupiah. Nilai tersebut setara dengan 10,22% dari total PDRB Papua Barat yang mencapai 22.527,36 miliar rupiah. Kontribusi sektor ini adalah yang terbesar ketiga di Papua Barat setelah sektor industri pengolahan (35,45%) dan sektor pertanian (20,71%).

(21)

c. Cadangan bahan tambang baik mineral non logam maupun non logam masih tinggi. Potensi pertambangan yang dieksplorasi dan dieksploitasi di Papua Barat adalah pertambangan nikel di pulau-pulau sekitar Kepala Burung seperti Waigeo. Potensi batugamping dapat dijumpai di sekitar Pegunungan Kemum.

d. Khusus untuk potensi minyak dan gas di daerah Papua Barat ada pada Cekungan Bintuni, Cekungan Salawati, dan Cekungan Waiponga.

3. Industri Pengolahan

a. Kontribusi sektor industri pengolahan dalam perekonomian Papua Barat memiliki prospek yang sangat baik. sektor ini terus mengalami peningkatan share terhadap total PDRB. Di tahun 2010 kontribusinya meningkat sangat signifikan menjadi 35,45%. Kontribusi sektor industri pengolahan menempati posisi pertama dalam PDRB Papua Barat sejak tahun 2009.

b. Pada tahun 2010 sektor ini tumbuh mencapai 149,52% dibandingkan tahun 2009 dipicu oleh mulai beroperasinya industri LNG di Kabupaten Teluk Bintuni.

c. Tahun 2009, ada 21 perusahaan industri besar-sedang. Jenis industri terbanyak yaitu industri makanan dan minuman sebesar 47,62%. Industri terbanyak kedua adalah industri kayu (selain mebeller) yaitu sebesar 19,05%. Industri lainnya adalah industri penerbitan, percetakan, dan reproduksi media rekam; industri barang-barang dari batubara, pengilangan dan pengolahan minyak bumi; industri barang galian bukan logam; dan industri alat angkutan selain kendaraan bermotor roda empat atau lebih dengan persentase kurang dari 35%.

d. Menurut sebarannya, industri besar-sedang hanya terdapat di 4(empat)Kabupaten/Kota, yaitu Kabupaten Teluk Bintuni (5,92%), Manokwari (19,05%), Sorong (14,29%), dan Kota Sorong (57,14%).

e. Menurut kepemilikanya, sebesar 9,52% adalah milik pemerintah pusat; 4,76% milik pemerintah daerah; 61,90% milik swasta nasional dan asing; serta 4,76% adalah milik pemerintah pusat dan asing.

4. Konstruksi

PDRB sektor konstruksi Papua Barat tahun 2009 mencapai 648,21% miliar Rupiah. Share sektor ini terus mengalami peningkatan beberapa tahun ini. Kontribusinya sebesar 8,00% di tahun 2009. Walaupun bukan sebagai kontributor utama dalam PDRB Papua Barat namun pertumbuhannya berada pada peringkat kedua setelah sektor pengangkutan dan komunikasi. Sektor bangunan/konstruksi mampu menyerap banyak tenaga kerja (memiliki nilai pengganda tinggi).

(22)

5. Hotel dan Pariwisata

a. Subsektor hotel dan pariwisata cukup menjanjikan meskipun kontribusinya hanya sekitar 0,19% dari total PDRB Papua Barat. Pertumbuhan subsektor ini cukup pesat. Pada tahun 2010 jumlah hotel menjadi 80 unit, yang terdiri dari 10 hotel Bintang dan 70 hotel Melati. Hotel Berbintang hanya tersebar di kabupaten Fakfak, Manokwari, dan Kota Sorong.

b. Jumlah objek wisata di Papua Barat tahun 2010 sebanyak 79 objek. Objek wisata tersebut terdiri dari 20 objek wisata alam, 8 objek wisata tirta/bahari, 32 objek wisata budaya, dan 19 objek wisata agro. Objek wisata yang telah mendunia saat ini adalah objek wisata bawah laut di Kepulauan Raja Ampat.

c. Papua Barat terkenal dengan panorama keindahan alam yang eksotis. Sebagian besar panorama alam tersebut bahkan masih sangat alami dan belum terjamah komersialisasi pariwisata. Sebagian besar objek wisata belum terekspos sehingga belum banyak dikenal khalayak umum. Salah satu objek wisata yang mulai popular adalah wisata bawah laut Kepulauan Raja Ampat. Kurang lebih ada 610 pulau. Hanya sekitar 35 pulau yang berpenghuni. Perairan Raja Ampat merupakan salah satu dari 10 perairan terbaik untuk diving site di seluruh dunia. Bahkan diperkirakan menjadi nomor satu untuk kelengkapan dan keanekaragaman hayati flora dan fauna bawah laut saat ini.

d. Wisata alam lain yang menjadi andalan Papua Barat adalah Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC) yang terletak di Kabupaten Teluk Wondama. Panjang garis pantainya 500 km dengan luas daratan mencapai 68.200 ha, luas laut 1.385.300 ha dengan rincian 80.000 ha kawasan terumbu karang dan 12.400 ha lautan.

e. Ekowisata di kepala burung pulau Papua terdapat Cagar AlamPegunungan Arfak di Kabupaten Manokwari, dengan luas mencapai 68.325 ha dengan ketinggian mencapai 2.940 mdi atas permukaan laut. Terdapat juga Danau Anggi Giji dan Danau Anggi Gita yang berada pada ketinggian 2000 mdi atas permukaan laut.

f. Di Kabupaten Manokwari saja ditemukan sebuah gua yang diklaim sebagai goa terdalam di dunia oleh Tim Ekspedisi Spekologi (ahli goa) Perancis yang terdapat di Kawasan Pegunungan Lina di Iranmeba, distrik Didohu dengan kedalaman goa mencapai 2000 meter.

g. Di Kabupaten Kaimana terdapat wisata pantai dan laut Teluk Triton disamping keindahan panorama Senja di Kaimana yang melegenda.

(23)

6. Transportasi dan Komunikasi

a. Dalam perekonomian Provinsi Papua Barat Tahun 2010, sektor pengangkutan (transportasi) dan komunikasi memang tidak memberikan kontribusi hanya 6,38% dengan nilai agregat PDRB sebesar 1.437,07 miliar Rupiah atas dasar harga berlaku (ADHB) atau 612,20 miliar Rupiah atas dasar harga konstan (ADHK).

b. Pada tahun 2010, sektor transportasi dan komunikasi memiliki angka pertumbuhan tertinggi kedua terhadap tahun 2009 dibandingkan dengan sektor tersier lainnya. c. Salah satu program pendukung percepatan pembangunan Papua Barat yang

diamanahkan dalam Perpres Nomor 65 Tahun 2011 tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat adalah Program Pengembangan Infrastruktur Dasar. Program tersebut rencananya akan membangun dan meningkatkan jalan Trans Papua dan Trans Papua Barat.

d. Sebagian besar orang memanfaatkan fasilitas perhubungan laut dan udara. Namun tren pengguna fasilitas perhubungan laut cenderung menurun, sebaliknya jumlah pengguna fasilitas perhubungan udara meningkat signifikan 2008-2010.

7. Perbankan dan Investasi

a. Dalam tiga tahun, fasilitas kredit perbankan yang disalurkan ke masyarakat baik rupiah maupun valuta asing lebih banyak digunakan untuk investasi. Penggunaan kredit untuk keperluan modal kerja/usaha justru lebih kecil digunakan dari penggunaan kredit untuk keperluan konsumsi.

b. Penggunaan kredit perbankan untuk investasi meningkat dari 40,58% di tahun 2007menjadi 57,60% di tahun 2010. Hal tersebut menyiratkan bahwa kesadaran masyarakat untuk berinvestasi dalam perbankan semakin membaik. Sedangkan lebih tingginya penggunaan kredit untuk konsumsi daripada untuk modal kerja menunjukkan perilaku konsumtif masyarakat meskipun persentasenya berangsur-angsur menurun.

2.1.3 Wilayah Rawan Bencana

Secara geologi, Provinsi Papua Barat memiliki struktur yang cukup kompleks dengan kelurusan umum kearah barat-timur (diapit dua lempeng tektonik, lempeng Australia dan lempeng Pasifik) yang berpengaruh terhadap kerawanan terhadap gempa tektonik berpotensi diikuti oleh tsunami.Seluruh wilayah kepala burung rawan gempa bumi. Dari data, daerah Tsunami di wilayah ini, tingginya mencapai 15 m, meliputi daerah Oransbari, Yapen, dan Nabire.

(24)

Sebagai gambaran, zona rawan gempa bumi berdasarkan tingkat kerawanannya dapat dilihat pada Gambar 2-2.Untuk tingkat kerawanan bencana lainnya seperti banjir dan longsor di wilayah Papua Barat, kondisi lingkungan yang rata-rata memiliki tekstur pegunungan yang terjal dan dataran rendah di bagian tengah yang mengalir sungai-sungai secara intensif berpotensi tinggi memberikan kontribusi bencana yang fluktuatif. Sebagai gambaran, zona rawan longsor berdasarkan tingkat kerawanannya dapat dilihat pada Gambar 2-3.

Gambar 2-2 Zona Rawan Gempa Bumi Berdasarkan Tingkat Kerawanan

(Zona 1 paling rawan gempa, sedangkan Zona 6 paling aman dari gempa)

Sumber: Draft RTRW Provinsi Papua Barat 2008-2028

Gambar 2-3 Zona Rawan Longsor Papua Barat Berdasarkan Tingkat Kerawanan

Sumber: Draft RTRW Provinsi Papua Barat 2008-2028

Belum ada jalur resmi evakuasi bencana yang direncanakan, baik dalam skala regional maupun lokal. Bencana alam besar yang terjadi pada Oktober 2010 di Kabupaten Teluk Wondama seharusnya menjadi pemantik bagi pemerintah untuk segera membuat rencana jalur evakuasi bencana.

(25)

Alat pemadam kebakaran dinamis berupa mobil pemadam kebakaran dengan jumlah yang sangat terbatas telah ada di setiap ibukota kabupaten kecuali di Kabupaten Tambrauw dan Kabupaten Maybrat. Untuk alat pemadam kebakaran statis berupa hidran umum belum banyak terdapat di area publik atau pusat permukiman penduduk, hanya terdapat di gedung-gedung tertentu saja misalnya gedung kantor pemerintahan.

Perangkat posko bencana baru terdapat dengan jumlah yang terbatas di Kabupaten Manokwari, selebihnya masih mengandalkan bantuan dari lembaga-lembaga pemerhati kebencanaan dan sifatnya insidental. Perangkat peringatan dini belum dimiliki oleh wilayah-wilayah potensi bencana tsunami dan gempa bumi. Perangkat evakuasi belum dimiliki selain mengandalkan kendaraan milik pemerintah, polisi, dan tentara.

2.1.4 Aspek Demografi

1. Sejak pertama kali dilaksanakan sensus penduduk pada Tahun 1971, Papua Barat mengalami pertumbuhan penduduk dengan oika kurva mirip distribusi logistik.

2. Data paling mutakhir jumlah penduduk Papua Barat diperoleh dari hasil sensus penduduk tahun 2010 adalah 760.422 jiwa, terdiri dari 402.398 laki-laki dan 358.024 perempuan. Jumlah tersebut menjadikannya sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terkecil di Indonesia, kontribusinya hanya sekitar 0,32% terhadap total penduduk nasional.

3. Rata-rata pertumbuhan penduduk per tahun sebesar 3,71%. Laju pertumbuhan penduduk Papua Barat adalah yang terbesar ke-empat di Indonesia setelah Provinsi Papua (5,39%), Provinsi Kepulauan Riau (4,95%), dan Provinsi Kalimantan Timur (3,81%). Pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi ini juga dipengaruhi tingkatmigrasi masuk karena memiliki faktor penarik migran akibat SDA dan prospek ekonominya. Laju pertumbuhan penduduk palimg tinggi di Kabupaten Sorong (5,41% per tahun) dan terendah adalah Kabupaten Tambrauw (0,38% per tahun)

4. Struktur penduduk Papua Barat dilihat dari piramida penduduk tergolong dalam struktur penduduk muda. Struktur penduduk ini masih sangat dipengaruhi oleh tingginya fertilitas. Hal ini terlihat pada alas piramida penduduk yang paling lebar pada kelompok umur 0-4 tahun. Dilihat dari median umur pun semakin menguatkan bahwa komposisi penduduk muda begitu dominan. Median umur penduduk Papua Barat adalah 18,60 tahun. Jumlah penduduk usia produktif termasuk tinggi sehingga sumber daya manusia masih ada kesempatan untuk digali kembali.

(26)

Gambar 2-4 Piramida Penduduk Provinsi Papua Barat

Sumber: Hasil Sensus Penduduk 2010

5. Sebaran penduduk Provinsi Papua Barat menurut kabupaten/kota masih dominan di dua daerah yaitu di Kota Sorong (25,07%) dan Kabupaten Manokwari (24,69%). Hampir setengah dari total penduduk Papua Barat tinggal di kedua daerah tersebut. Kota Sorong menjadi pintu gerbangnya Papua Barat dari ‘dunia luar’ karena terdapat bandar udara dan pelabuhan kapal besar sebagai pintu masuk penumpang dan barang dari dan ke Papua Barat maupun kabupaten lainnya di Papua Barat.

6. Kabupaten Manokwari semakin padat ketika Papua Barat dimekarkan dari Provinsi Papua dan Kabupaten Manokwari ditetapkan sebagai ibukota dan pusat pemerintahan Provinsi Papua Barat. Sebagai pusat pemerintahan, Kabupaten Manokwari aktif membangun, mulai dari fasilitas pemerintahan, akses transportasi, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur lainnya.

7. Jika dilihat dari kepadatan penduduknya, Papua Barat adalah provinsi dengan kepadatan terendah di Indonesia. Kepadatan penduduknya hanya 8 jiwa/Km2. Kepadatan penduduk

tertinggi di Papua Barat berada di Kota Sorong sebesar 290 jiwa/Km2 sementara kepadatan

penduduk terendah adalah Kabupaten Tambrauw yaitu 1 jiwa/Km2.

8. Sex ratio Papua Barat adalah sebesar 112,39%, artinya diantara 100 orang penduduk perempuan, 112 orang adalah laki-laki. Sex ratio Papua Barat adalah yang tertinggi kedua di Indonesia setelah Provinsi Papua (113,44%).

9. Dependency ratio atau rasio ketergantungan Papua Barat sebesar 55,72%, artinya dari 100 orang usia produktif harus menanggung beban hidup sekitar 55-56 orang yang belum produktif dan tidak produktif. Beban tanggungan perempuan lebih besar daripada laki-laki, terlihat dari rasionya yaitu 54,21% untuk laki-laki dan 57,46% untuk perempuan.

(27)

Tabel 2-7Indikator Kependudukan Provinsi Papua Barat Tahun 2008-2010

Uraian 2008 2009 2010

Jumlah Penduduk (jiwa) 729.962 743.860 760.422 Pertumbuhan Penduduk (%) 1,95 1,90 2,23

Sex Ratio (%) 110,44 110,20 112,39

Jumlah Rumah Tangga (ruta) 169.439 169.945 168.080 Rata-rata ART (jiwa/ruta) 4,31 4,38 4,52 Penduduk menurut kelompok umur (%)

0-14 32,16 31,08 34,13

15-64 68,33 67,39 64,22

65+ 1,47 1,53 1,65

Sumber: Proyeksi Penduduk dan SP 2010, BPS.

10. Penduduk Asli Papua di Papua Barat

a. Jumlah penduduk Asli Papua adalah 405.074 jiwa, terdiri dari 208.658 laki-laki dan 196.416 perempuan. Dengan demikian, jumlah penduduk non Asli Papua sudah hampir berimbang dengan penduduk Asli Papua dengan perbandingan 46,73% dan 53,27%.

b. Dari 405.074 jiwa penduduk Asli Papua yang tinggal dalam 84.747 rumah tangga tersebut, 91,76% benar-benar penduduk Asli Papua karena memiliki ayah dan ibu Papua. Sementara itu, yang memiliki ayah Papua atau ibu Papua saja sebesar 2,28% dan 2,12%.

c. Sex ratio Penduduk Asli Papua 106,23%.

d. Penduduk Asli Papua tersebar di seluruh Kabupaten/Kota di Papua Barat. Persentase penduduk asli Papua terbesar berada di Kabupaten Maybrat (96,04%) dan Kabupaten Tambrauw (95,67%). Sementara penduduk asli papua terkecil berada di Kabupaten Sorong (37,38%) dan Kota Sorong (32,56%).

e. Berdasarkan distribusinya, lebih dari seperempat penduduk Asli Papua tinggal di kabupaten Manokwari. Jumlahnya mencapai 107.857 jiwa (26,63%). Sedangkan kota Sorong memberikan kontribusi terbesar kedua, yaitu 62.070 jiwa (15,32%). Kontributor terkecil penduduk Asli papua adalah kabupaten Tambrauw, yaitu 1,45%.

f. Struktur penduduk Asli Papua sangat berbeda dengan penduduk Non Asli Papua. Pada piramida penduduk Asli Papua, penduduk usia muda sangat dominan karena dipengaruhi oleh tingkat fertilitas yang tinggi. Sedangkan struktur penduduk Non Asli Papua didominasi oleh penduduk usia produktif, terutama 25-29 tahun.

g. Dependency ratio pada pendudukNon Asli Papua hanya sebesat 47,27% sedangkan pada penduduk Asli Papua sebesar 64,07. Rendahnya dependency ratio pada penduduk Non Asli

(28)

Papua tidak lepas dari tingginya persentase penduduk usia produktif (15-64 tahun) yang mencapai 67,90, terutama disumbang oleh penduduk laki-laki.

Tabel 2-8Indikator Kependudukan Asli Papua dan Non Asli Papua di Provinsi Papua Barat

Uraian Penduduk Asli Papua Penduduk Non Asli Papua

Jumlah Penduduk (jiwa) 405.074 355.348

Laki-laki 208.658 193.740 Perempuan 196.416 161.608 Persentase Penduduk (%) 53,27 46,73 Sex Ratio (%) 106,23 119,88 Median Umur (th) 16,39 20,19 Dependency Ratio (%) 64,07 47,27

Penduduk menurut kelompok umur (%)

0-14 37,30 30,57

15-64 60,95 67,90

65+ 1,75 1,53

Jumlah Rumah Tangga 84.747 83.333

Sumber: Statistik Daerah Provinsi Papua Barat Tahun 2011

2.2 ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

Aspek kesejahteraan masyarakat terdiri dari kesejahteraan dan pemerataan ekonomi, kesejahteraan sosial, serta seni budaya dan olahraga, dipaparkan sebagai berikut :

2.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 1. Pertumbuhan PDRB

Dalam perkembangan PDRB Papua Barat, baik dari segi nilai tambah bruto maupun kontribusi sektoral memiliki kontribusi terhadap PDB Nasional sekitar 0,26% di Tahun 2009, yang berarti kapasitas perekonomian wilayah ini masih sebatas pada level lokal saja. Nilai absolut PDRB Papua Barat (harga konstan Tahun 2000) pada Tahun 2008 sebesar Rp. 6.369,37 miliar, naik menjadi Rp. 6.768,20 miliar pada Tahun 2009. Kenaikan ini cukup positif akan tetapi belum menunjukan perubahan yang signifikan terhdap pembangunan Provinsi Papua Barat

(29)

Gambar 2-5 Perbandingan Laju Pertumbuhan PDRH ADHK 2000 Dengan Migas dan Tanpa Migas Tahun 2006-2010

Sumber: Papua Barat Dalam Angka 2011

Terkait dengan tingkat kesejahteraan, meskipun PDRB Provinsi Papua Barat memiliki laju pertumbuhan yang cukup baik namun prosentase tingkat kemiskinan Provinsi Papua Barat berada di posisi kedua nasional. Berbagai faktor berpengaruh atas kenaikan garis kemiskinan seperti kebijakan energi, kebijakan harga, kelancaran arus distribusi barang, kondisi alam dan lain-lain. Papua Barat tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh dari luar disamping dari internal wilayah ini sendiri. Garis kemiskinan di perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di peKampungan karena perbedaan harga barang dan jasa antara Kota dan Kampung dimana harga di perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di peKampungan.

PDRB Dengan Migas

a. Dalam kurun waktu 2007-2010 Papua Barat dapat dikatakan stabil memperlihatkan pertumbuhan yang tinggi dan menunjukkan percepatan setiap tahunnya. Hal ini jelas terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 26,82% pada Tahun 2010 setelah memasukkan nilai tambah gas alam cair (LNG). Sementara pertumbuhan tanpa migas mencapai 6,83%.

b. Pada Tahun 2010, pertumbuhan tertinggi sebesar 149,52% dicapai oleh sektor industri pengolahan didorong oleh pertumbuhan subsektor migas terutama pertumbuhan gas alam cair akibat tercakupnya produksi gas alam cair di Teluk Bintuni. Sementara sektor pertambangan dan penggalian justru mengalami kontraksi mencapai minus 0,84%. c. Sektor pertanianm industri pengolahan, dan bangunan tetap menjadi sumber utama

pertumbuhan ekonomi. Bahkan 21,94% dari pertumbuhan ekonomi 26,82& pada tahun 4.55

6.95 7.84 7.02

26.82

7.63 8.61 9.25 7.86 6.83

2006 2007 2008 2009 2010

(30)

2010 berasal dari sektor industri pengolahan. Sektor pertanian memberikan kontribusi pertumbuhan sebesar 0,93%.

d. Sektor-sektor utama perekonomian Papua Barat pada periode 2007-2010 adalah sektor pertanian, sektor industri pengolahan, dan sektor pertambangan dan penggalian. Ketiga sektor tersebut memberikan kontribusi lebih dari 60% PDRB Papua Barat.

e. PDRB per kapita Papua Barat ADHB pada tahun 2010 meningkat 26,63% terhadap Tahun 2009, yaitu dari 23,40 juta Rupiah menjadi 29,62 juta rupiah. PDRB per kapita Papua Barat ADHK mencapai 11,42 juta Rupiah atau meningkat 22,72% terhadap tahun 2009 (9,31 juta Rupiah).

Gambar 2-6 Sumber Pertumbuhan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha Tahun 2010 (dalam %)

Sumber: Buku PDRB Papua Barat 2011

Tabel 2-9Laju Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Papua Barat Menurut Penggunaan Tahun 2006– 2009

No Sektor 2006 2007 2008 2009

% % % %

1 Konsumsi Rumah Tangga 9.19 6.15 10.57 6.18

2 Lembaga Swasta Nirlaba 9.54 7.59 5.3 19.91

3 Konsumsi Pemerintah 19.21 15.61 10.62 5.45

4 Pembentukan Modal Tetap Bruto 4.08 5.53 2.46 4.01

5 Perubahan Stok 2.19 2.24 -0.38 -11.04 6 Ekspor 11.04 0.18 -6.99 -27.15 7 Dikurangi Impor 17.88 1.47 -3.98 -24.1 PDRB Dengan Migas 4.55 6.95 7.33 6.26 1.72 -0,13 21.94 0.03 0.93 0.42 0.88 0.25 0.80

(31)

Gambar 2-7 Peranan Sektor Dominan Terhadap Penciptaan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007-2010 (dalam %)

Sumber: Buku PDRB Papua Barat 2011

PDRB Tanpa Migas

a. Pertumbuhan ekonomi tanpa migas yang tercipta pada tahun 2010 sebesar 6,83%. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh 12,20%. Kemudian diikuti oleh pertumbuhan di sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan sebesar 11,02%; sektor pengangkuan dan komunikasi 10,93%; sektr bangunan 9,77%; sektor jasa-jasa 7,34%; sektor listrik dan air bersih 7,30%; sektor pertanian 6,20%; sektor pengangkutan dan komunikasi 3,99%. Sementara sektor industri pengolahan hanya tumbuh 2,77%.

0 20 40 60 80 100 2007 2008 2009 2010 62.27 62.27 62.29 66.37 37.28 37.73 37.71 33.63

Sektor Pertanian, Pertambangan & Penggalian, Industri Pengolahan Sektor Lainnya

(32)

Gambar 2-8 Sumber Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Migas Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007-2010 (dalam %)

Sumber: Buku PDRB Papua Barat 2011

b. Dalam rentang waktu empat tahun terakhir, tiga sektor utama yang mendominasi penciptaan PDRB tanpa migas di Papua Barat adalah sektor pertanian, sektor bangunan, dan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Ketiga sektor tersebut memberikan kontribusi lebih dari 60% terhadap PDRB tanpa migas Papua Barat.

Gambar 2-9 Peranan Sektor Dominan terhadap Penciptaan PDRB Tanpa Migas Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007-2010 (dalam %)

Sumber: Buku PDRB Papua Barat 2011

- 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 2.19 0.14 0.29 0.04 1.19 0.53 1.12 0.31 1.01 0 20 40 60 80 100 2007 2008 2009 2010 63.79 63.63 63.07 62.69 36.21 36.37 36.93 37.31

Sektor Pertanian, Bangunan, Perdagangan, Hotel, & Restoran Sektor Lainnya

(33)

PDRB per kapita ADHB mencapai 18,01 juta Rupiah. Nilai tersebut mengalami peningkatan sebesar 10,15% dibandingkan dengan PDRB per kapita pada tahun 2009. Sementara PDRB per kapita ADHK 2000 bernilai 7,55 juta Rupiah dan mengalami pertumbuhan sebesar 3,37% dibandingkan keadaan tahun 2009.

2. Laju Inflasi Provinsi

a. Indeks Harga Konsumen (IHK) Papua Barat tahun 2010 sebesar 143,49% artinya terjadi kenaikan harga secara umum sebesar 43,49% dibandingkan dengan harga tahun dasar 2007, atau dengan kata lain, harga secara umum saat ini hampir satu setengah kali lebih mahal daripada Tahun 2007. Selama tahun 2008-2011, inflasi lebih banyak terjadi daripada deflasi. Bila mencermati fluktuasi yang ada, tampaknya perkembangan harga belum terkontrol dengan baik

b. Selama Januari 2009 - September 2011 inflasi gabungan tertinggi sebesar 2,35% yang terjadi di Juli 2010. Sedangkan deflasi terendah terjadi di September 2010 sebesar -0,76%.

c. Inflasi tahun 2010 tercatat 6,25%. Penyumbang inflasi terbesar dari kelompok pengeluaran bahan makanan, yaitu sebesar 8,34%. Inflasi kelompok pengeluaran sandang memiliki tingkat inflasi terendah, yaitu hanya 2,36%. Pada tahun 2010 inflasi terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran.

d. Laju inflasi peKampungan tahun kalender tahun 2010 sebesar 5,86%, lebih tinggi dari Tahun 2009 sebesar 4,53%. Berarti tingkat kenaikan harga di tahun 2010 lebih tinggi dibandingkan tahun 2009.

e. Selama Januari 2009 - September 2011 inflasi gabungan tertinggi sebesar 2,35% yang terjadi di Juli 2010. Sedangkan deflasi terendah terjadi di September 2010 sebesar -0,76%.

f. Inflasi Tahun 2010 tercatat 6,25%. Penyumbang inflasi terbesar dari kelompok pengeluaran bahan makanan, yaitu sebesar 8,34%. Inflasi kelompok pengeluaran sandang memiliki tingkat inflasi terendah, yaitu hanya 2,36%. Pada Tahun 2010 inflasi terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran.

g. Laju inflasi perkampungantahun kalender tahun 2010 sebesar 5,86%, lebih tinggi dari tahun 2009 sebesar 4,53%. Berarti tingkat kenaikan harga di Tahun 2010 lebih tinggi dibandingkan tahun 2009.

(34)

3. Indeks Gini

Koefisien gini pada tahun 2007 sebesar 0,33 naik menjadi 0,35 pada tahun 2009 dan pada tahun 2010 menjadi 0,37. Meskipun terjadi kenaikan koefisien gini, namun status ketimpangan pendapatan masih pada posisi diantara ketimpangan rendah.

4. Tingkat Pemerataan Pendapatan Menurut Bank Dunia

a. Tingkat kemerataan menurut Bank Dunia, Provinsi Papua Barat masih dalam kategori ketimpangan rendah.

b. Selama periode 2007-2010, proporsi pengeluaran dari kelompok penduduk 40% terbawah terhadap total pengeluaran seluruh penduduk masih diatas 17%.

2.2.2 Fokus Kesejahteraan Sosial 1. Pendidikan

a. Angka Melek Huruf (AMH) Provinsi Papua Barat tahun 2010 adalah sebesar 93,19%,. dan 92,34%. Angka melek huruf pada tahun 2010 meningkat dibandingkan dengan tahun 2009 sebesar 90,15%; tahun 2008 sebesar 92,15%; pada tahun 2007 sebesar 90,32%; dan tahun 2006 sebesar 88,55%. Semakin tinggi angka melek huruf maka kenaikan persentase angka melek huruf ini akan cenderung semakin lambat. Dalam artian pertumbuhan angka melek hurufnya semakin kecil atau mengalami perlambatan. Dengan menggunakan angka melek huruf dapat diketahui jumlah penduduk yang berumur 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya.

Gambar 2-10 Perkembangan Angka Melek Huruf dan Angka Buta Huruf di Provinsi Papua Barat Tahun 2007-2010

90.32% 92.15% 92.94% 93.19%

9.68% 7.85% 7.06% 6.81%

2007 2008 2009 2010

(35)

b. AMH penduduk laki-laki tahun 2009 sebesar 94,95% atau mengalami peningkatan dibandingkan dengan kondisi tahun 2008yaitu sebesar 93,01% dan kembali mengalami peningkatan pada Tahun 2010 menjadi 95,33%.

c. AMH penduduk perempuan walaupun selalu lebih rendah daripada laki-laki namun selalu mengalami peningkatan menjadi 90,83% di tahun 2010 dibandingkan dengan tahun 2009 dan 2008 yang masing masing sebesar 88,55% dan 88,35%.

Gambar 2-11 Perkembangan Angka Melek Huruf Berdasarkan Jenis Kelamin di Provinsi Papua Barat Tahun 2007 s.d 2010

d. Angka rata-rata lama sekolah terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2010 rata-rata lama sekolah sebesar 8,21 tahun atau mengalami peningkatan dari tahun 2009 dan 2008 yakni sebesar 8,01 tahun dan 7,67 tahun. Artinya rata-rata penduduk baru mampu menempuh pendidikan sampai kelas 2 SLTP. Berarti pencapaian pendidikan di Provinsi Papua Barat belum memenuhi Program Wajib Belajar 9 Tahun. Meskipun demikian, masih ada disparitas gender, dimana penduduk perempuan belum sepenuhnya memperoleh pendidikan yang setara dengan penduduk laki–laki. Sehingga perlu diperhatikan lagi faktor–faktor yang menjadi penyebab masih lambatnya kemajuan peningkatan pendidikan bagi perempuan di Provinsi Papua Barat.

e. Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI pada tahun 2010 sebesar 91,91% meningkat dari tahun 2009 sebesar 91,25%. APM SLTP/MTs meningkat menjadi 49,65% di tahun 2010 setelah tahun sebelumnya sebesar 49,03%. Artinya banyak penduduk yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SLTP/MTs. APM SLTA/MA tahun 2010 hanya mencapai 43,93% atau mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2009 sebesar 43,55%. 92.69 93.61 94.95 95.33 87.86 88.35 89.55 93.19 2007 2008 2009 2010

(36)

Gambar 2-12 Angka Partisipasi Sekolah (APS) dan Angka Partisipasi Murni (APM) Antar Jenjang Pendidikan Tahun 2010

f. APK SD/MI tahun 2010 sebesar 115,00%, menurun dibandingkan tahun 2009 sebesar 117,50. Tertinggi di Kabupaten Raja Ampat (142,15%) dan terendah di kabupaten Tambrauw (107,98%). APK SLTP/MTs tahun 2009 sebesar 66,29% mengalami peningkatan menjadi 66,68% pada tahun 2010 setelah sebelumnya mengalami penurunan dari 89,99% tahun 2008. Tertinggi di Kabupaten Teluk Wondama (87,72%) dan terendah Kabupaten Sorong Selatan (43,24%). APK SLTA/MA terus meningkat dari tahun 2008 sebesar 57,25% menjadi 62,04% di tahun 2009 dan 72,07% di tahun 2010. g. Angka Pendidikan yang Ditamatkan (APT) SD/MI mengalami penurunan pada tahun

2010 menjadi 26,24% sementara pendidikan tinggi (SLTA keatas) sebesar 32,95% dengan rincian 24,59% berpendidikan SLTA/sederajat dan 8,36% berpendidikan perguruan tinggi. Meningkat 1,54% dibandingkan dengan tahun 2008 dan 2009. Menandakan terdapat perbaikan kualitas pendidikan dengan menurunnya persentase pendidikan rendah dan meningkatnya persentase pendidikan tinggi. Kota Sorong dengan tingkat pendidikan tertinggi dan Kabupaten Tambrauw yang terendah.

2. Kesehatan

a. Angka rata-rata anak lahir hidup tahun 2010 sebesar 2,55 dan angka rata-rata anak masih hidup sebesar 2,39%.

b. Secara umum Angka Harapan Hidup (AHH) di masing-masing daerah mengalami kemajuan. Di tahun 2010 AHH Papua Barat mencapai 68,51 Tahun. AHH tertinggi di Kota Sorong sebesar 71,95/tahun dan terendah di Kabupaten Tambrauw sebesar 66,51/tahun. Tahun 2009-2010 AHH mengalami kemajuan 0,31/tahun. Peningkatan tertinggi di kabupaten Raja Ampat dan kota Sorong sebesar 0.42/tahun dan terendah di kabupaten Sorong Selatan sebesar 0,17/ tahun.

94,04 89.95 58,98 14,45 91,91 49,65 43,93 7,36 SD/MI SMP/MTS SMA/SMK/MA PT APS APM

(37)

c. Status gizi buruk pada Balita di Papua Barat tahun 2010 tercatat mencapai 9,1%, sedangkan gizi kurang mencapai 17,4%. Angka ini masih diatas angka nasional yang hanya mencapai 4,9% dan 13,1%.

Gambar 2-13 Angka Kematian Bayi dan Angka Harapan Hidup di Provinsi Papua Barat

3. Kemiskinan

a. Dilihat dari aspek ekonomi, jumlah penduduk miskin di Provinsi Papua Barat mengalami penurunan dari tahun ke tahun dalam kurun waktu tahun 2006 – 2010, meskipun sempat mengalami peningkatan sebesar dari 35,12% pada tahun 2008 menjadi 35,71% pada tahun 2009 atau meningkat sebesar 0,59%. Bila dilihat perbandingan antara penduduk miskin dan tidak miskin pada tahun 2010 di Provinsi Papua Barat, jumlah penduduk tidak miskin adalah sebesar 65,12%, sedangkan penduduk miskin adalah sebesar 34,88% dengan persentase penduduk miskin kota sebesar 1,32% dan penduduk miskin Kampung sebesar 33,56%.

Gambar 2-14 Perbandingan Jumlah Penduduk Provinsi Papua Barat Berdasarkan Status Kemiskinan Tahun 2010

36 32.7

31.6 30.5

2006 2007 2008 2009 2010

Angka Kematian Bayi

67.3 67.6 67.9 68.2 68.96

2006 2007 2008 2009 2010

Angka Harapan Hidup

Penduduk Miskin (Kota), 1.32% Penduduk Miskin (Desa), 33.56% Penduduk Tidak Miskin, 65.12% 41.34 39.31 35.12 35.71 34.88 2006 2007 2008 2009 2010 Persentase Penduduk Miskin

(38)

b. Penurunan angka kemiskinan di perkampungan pada tahun 2009 sebesar 44,71% menjadi 43,48% di tahun 2010 sedangkan angka kemiskinan di perkotaan naik dari 5,22% menjadi 5,73%.

c. Kabupaten Teluk Wondama, Teluk Bintuni, Tambrauw, dan Maybrat memiliki angka kemiskinan diatas 40% sehingga membutuhkan effort yg sangat besar untuk penanggulangannya. Diduga karena wilayahnya yang terbilang cukup terisolir sehingga tingginya biaya transportasi dalam pengadaan kebutuhan barang dan jasa.

d. Garis kemiskinan Provinsi Papua Barat tahun 2010 sebesar 294.727 Rupiah per kapita per bulan, terdiri dari garis kemiskinan makanan sebesar 237.147 rupiah dan garis kemiskinan non makanan sebesar 57.580 Rupiah. Kontribusi garis kemiskinan makanan terthadap garis kemiskinan sebesr 80,46%. Dibandingkan tahun 2009, garis kemiskinan tahun 2010 mengalami kenaikan sebesar 6,24%. Kenaikan garis kemiskinan di perkotaan (4,74%) lebih rendah daripada kenaikan garis kemiskinan di perkampungan (6,74%).

e. Indeks Kedalaman Kemiskinan turun dari 10,47% di tahun 2010 menjadi 8,78% di tahun 2011.

f. Indeks Keparahan Kemiskinan juga mengalami penurunan dari 4,30% menjadi 3,43% di tahun 2010.

g. Penurunan kedua indeks kemiskinan mengandung makna bahwa kondisi kemiskinan di Papua Barat semakin membaik. Artinya rata-rata pendapatan penduduk miskin dengan garis kemiskinan semakin dekat dan ketimpangan pendapatan antar penduduk miskin semakin rendah.

4. Kesempatan Kerja

a. Dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2007-2010 mencapai 13,54% dan laju pertumbuhan kesempatan kerja sebesar 0,65%, elastisitas kesempatan kerja Papua Barat hanya mencapai 0,05%. Artinya bahwa setiap kenaikan pertumbuhan ekonomi 1% hanya akan menciptakan kesempatan kerja sebesar 0,05%

b. Angkatan kerja tahun 2010 meningkat menjadi 342.888 orang dari 330.121 orang di tahun 2009 Dan 319.675 orang di tahun 2008. Pada periode 2008-2010, peningkatan angkatan kerja diikuti oleh peningkatan penduduk yang bekerja namun jumlah penduduk yang menganggur justru juga mengalami peningkatan. Jumlah penduduk bekerja meningkat dari 295.223 orang di tahun 2008 menjadi 316.547 orang di tahun 2010. Sementara jumlah penganggur meningkat dari 24.452 orang di tahun 2008 menjadi 26.341 orang di tahun 2010.

Figur

Tabel 2-1 Daerah Administratif Provinsi Papua Barat menurut Kabupaten/Kota Tahun 2010  Kabupaten/Kota  Ibukota  Jumlah

Tabel 2-1

Daerah Administratif Provinsi Papua Barat menurut Kabupaten/Kota Tahun 2010 Kabupaten/Kota Ibukota Jumlah p.12
Gambar 2-1  Persentase Kampung/Kelurahan Berdasarkan Karakteristik Wilayah Tahun 2011

Gambar 2-1

Persentase Kampung/Kelurahan Berdasarkan Karakteristik Wilayah Tahun 2011 p.13
Tabel 2-3Debit Sungai Dirinci Menurut DPS di Provinsi Papua Barat  No  No. DPS  NAMA DPS  SWS  Catchment

Tabel 2-3Debit

Sungai Dirinci Menurut DPS di Provinsi Papua Barat No No. DPS NAMA DPS SWS Catchment p.16
Tabel 2-5 Keadaan Iklim menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2010

Tabel 2-5

Keadaan Iklim menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2010 p.18
Gambar 2-3 Zona Rawan Longsor Papua Barat Berdasarkan Tingkat Kerawanan

Gambar 2-3

Zona Rawan Longsor Papua Barat Berdasarkan Tingkat Kerawanan p.24
Gambar 2-2 Zona Rawan Gempa Bumi Berdasarkan Tingkat Kerawanan  (Zona 1 paling rawan gempa, sedangkan Zona 6 paling aman dari gempa)

Gambar 2-2

Zona Rawan Gempa Bumi Berdasarkan Tingkat Kerawanan (Zona 1 paling rawan gempa, sedangkan Zona 6 paling aman dari gempa) p.24
Gambar 2-4  Piramida Penduduk Provinsi Papua Barat

Gambar 2-4

Piramida Penduduk Provinsi Papua Barat p.26
Gambar 2-5  Perbandingan Laju Pertumbuhan PDRH ADHK 2000 Dengan Migas dan Tanpa  Migas Tahun 2006-2010

Gambar 2-5

Perbandingan Laju Pertumbuhan PDRH ADHK 2000 Dengan Migas dan Tanpa Migas Tahun 2006-2010 p.29
Gambar 2-7  Peranan Sektor Dominan Terhadap Penciptaan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku  Tahun 2007-2010 (dalam %)

Gambar 2-7

Peranan Sektor Dominan Terhadap Penciptaan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007-2010 (dalam %) p.31
Gambar 2-9  Peranan Sektor Dominan terhadap Penciptaan PDRB Tanpa Migas Atas Dasar  Harga Berlaku Tahun 2007-2010 (dalam %)

Gambar 2-9

Peranan Sektor Dominan terhadap Penciptaan PDRB Tanpa Migas Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007-2010 (dalam %) p.32
Gambar 2-8  Sumber Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Migas Menurut Lapangan Usaha Tahun  2007-2010 (dalam %)

Gambar 2-8

Sumber Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Migas Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007-2010 (dalam %) p.32
Gambar 2-10  Perkembangan Angka Melek Huruf dan Angka Buta Huruf di Provinsi Papua Barat  Tahun 2007-2010

Gambar 2-10

Perkembangan Angka Melek Huruf dan Angka Buta Huruf di Provinsi Papua Barat Tahun 2007-2010 p.34
Gambar 2-11  Perkembangan Angka Melek Huruf Berdasarkan Jenis Kelamin di Provinsi Papua  Barat Tahun 2007 s.d 2010

Gambar 2-11

Perkembangan Angka Melek Huruf Berdasarkan Jenis Kelamin di Provinsi Papua Barat Tahun 2007 s.d 2010 p.35
Gambar 2-14  Perbandingan Jumlah Penduduk Provinsi Papua Barat Berdasarkan Status  Kemiskinan Tahun 2010

Gambar 2-14

Perbandingan Jumlah Penduduk Provinsi Papua Barat Berdasarkan Status Kemiskinan Tahun 2010 p.37
Gambar 2-13  Angka Kematian Bayi dan Angka Harapan Hidup di Provinsi Papua Barat

Gambar 2-13

Angka Kematian Bayi dan Angka Harapan Hidup di Provinsi Papua Barat p.37
Gambar 2-16 Rencana Jaringan Transportasi Provinsi Papua Barat

Gambar 2-16

Rencana Jaringan Transportasi Provinsi Papua Barat p.42
Gambar 2-17  Kondisi Jalan Strategis di Provinsi Papua Barat

Gambar 2-17

Kondisi Jalan Strategis di Provinsi Papua Barat p.43
Tabel 2-10 Rencana dan Realisasi Saluran Irigasi Provinsi Papua Barat Tahun 2009  Rencana

Tabel 2-10

Rencana dan Realisasi Saluran Irigasi Provinsi Papua Barat Tahun 2009 Rencana p.44
Gambar 2-18  Kelayakan Rumah di Provinsi Papua Barat Berdasarkan Rumah Tangga

Gambar 2-18

Kelayakan Rumah di Provinsi Papua Barat Berdasarkan Rumah Tangga p.45
Gambar 2-20  Indeks Pembangunan Manusia (IPM)  Provinsi Papua Barat dan Perkembangannya

Gambar 2-20

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Papua Barat dan Perkembangannya p.56
Tabel 5-1Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-1

Tabel 5-1Sasaran

Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-1 p.70
Tabel 5-3Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-3

Tabel 5-3Sasaran

Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-3 p.72
Tabel 5-5Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-5

Tabel 5-5Sasaran

Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-5 p.77
Tabel 5-6Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-6

Tabel 5-6Sasaran

Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-6 p.81
Tabel 5-12Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-12

Tabel 5-12Sasaran

Pokok dan Arahan Kebijakan Berdasarkan Misi ke-12 p.88
Gambar 5-1  Arahan Penekanan Visi/Tema Pembangunan Pada Setiap Periode PJM

Gambar 5-1

Arahan Penekanan Visi/Tema Pembangunan Pada Setiap Periode PJM p.93
Tabel 5-15Sasaran Pokok dan Arahan Kebijakan Pembangunan Tahap Lima Tahun Ke-1 (2006- (2006-2011)

Tabel 5-15Sasaran

Pokok dan Arahan Kebijakan Pembangunan Tahap Lima Tahun Ke-1 (2006- (2006-2011) p.94
Tabel  5-17Sasaran  Pokok  dan  Arahan  Kebijakan  Pembangunan  Tahap  Lima  Tahun  Ke-3  (2017- (2017-2022)

Tabel 5-17Sasaran

Pokok dan Arahan Kebijakan Pembangunan Tahap Lima Tahun Ke-3 (2017- (2017-2022) p.116
Tabel  5-18Sasaran  Pokok  dan  Arahan  Kebijakan  Pembangunan  Tahap  Lima  Tahun  Ke-4  (2022- (2022-2025)

Tabel 5-18Sasaran

Pokok dan Arahan Kebijakan Pembangunan Tahap Lima Tahun Ke-4 (2022- (2022-2025) p.122
Tabel 5-19Sasaran Pokok, Arahan Kebijakan, dan Masing-masing Tahapan Pembangunan Jangka  Menengah Provinsi Papua Barat 2012-2025

Tabel 5-19Sasaran

Pokok, Arahan Kebijakan, dan Masing-masing Tahapan Pembangunan Jangka Menengah Provinsi Papua Barat 2012-2025 p.130

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :