STUDI DESKRIPTIF TENTANG PERILAKU AGRESIF SUPORTER
TIM SEPAK BOLA PSM MAKASSAR
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Disusun oleh :
Patricius LeoTandiari
NIM : 019114014
Program Studi Psikologi Jurusan Psikologi
Fakultas Psikologi
Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta
PERSEMBAHAN
Seorang manusia,
tidak akan bisa mengusung kebahagiaan semua orang
sekaligus dan yang bisa dia lakukan
hanyalah melindungi kebahagian setiap orang
yang dia cintai satu per satu
Sejarah adalah jalan kehidupan setiap orang,
tidak peduli jalan apa yang kita tempuh,
Terus maju ke depan, jangan takut, jangan mundur,
jangan pernah bersembunyi,
dan ketika suatu waktu nanti kita tersadar, kita akan
melihat jalan terbaik yang sudah kita lalui
Karya sederhana ini kupersembahkan kepada :
Ia yang telah meletakkan batu pertama dalam hidupku dan memberi modal yang sangat cukup untuk membangun kehidupan yang baru ;
Alm.Bapak dan Ibu tercinta. Kepada keempat kakak-kakakku yang memberi berbagai pengalaman
My sweet Angel, Ike dan kepada semua orang yang telah memberikan cinta dan kepercayaannya
MOTTO
YOU’LL NEVER WALK ALONE
(LIVERPOOLDIAN)DOMINUS ERIT TECUM IN OMNE TEMPORE ET LOCO
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagaian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta,….., 2007 Penulis
ABSTRAK
STUDI DESKRIPTIF TENTANG PERILAKU AGRESIF SUPORTER TIM
SEPAK BOLA PSM MAKASSAR
Patricius Leo Tandiari Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran berbagai macam perilaku agresif yang dilakukan oleh para supporter saat menonton dan mendukung tim kesayangannya di dalam stadion.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain penelitian berupa deskriptif kualitatif. Subyek penelitian ini adalah kelompok suporter The Mac’z Man, yang merupakan kelompok suporter tim PSM Makassar. Pengumpulan data menggunakan dua metode yakni observasi dan wawancara. Observasi dilakukan pada tiga pertandingan dan dilakukan oleh dua observer. Pengamatan terhadap hasil rekaman video menambah keakuratan hasil observasi. Proses wawancara dilakukan terhadap tiga orang supporter yang selalu hadir dalam setiap pertandingan dan mempunyai posisi yang berbeda dalam struktur organisasi The Mac’z Man. Hasil wawancara digunakan sebagai pelengkap data observasi yang telah didapatkan.
ABSTRACT
DESCRIPTIVE STUDY ABOUT AGGRESIVE BEHAVIOR of PSM
MAKASSAR’S SUPPORTERS
Patricius Leo Tandiari
Faculty of Psychology
Sanata Dharma University
Yogyakarta
This research aim to know assorted picture of aggresive behavior done by the supporter when looking and supports their darling team in stadium.
This research is qualitative research with research design in the form of qualitative descriptive. This research subject is group of suporter The Mac'z Man, which is group of suporter team PSM Makassar. Data collecting applies two methods namely observation and interview. Observation done by three contests and done by two observer. Observation to result of video record adds accuracy result of observation. Interview process is done to three supporters who always present in every contest and has different position in organization chart of The Mac'z Man. Result of interview applied as complement of observation data which has been got.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tri Tunggal Maha Kudus dan Bunda Allah Santa Perawan Maria yang dengan rahmat-Nya senantiasa menyertai dan melindungi setiap umat-Nya yang berlindung pada- umat-Nya. Tuhan berkarya dalam berbagai cara dan jalan yang bahkan tidak akan terduga oleh siapapun dengan karya- Nya yang Agung, penulis akhirnya dapat menyelesaikan penulisan skirpsi ini.
Selama proses penulisan skripsi ini, penulis tidak pernah ditinggalkan oleh Allah yang Maha Kuasa yang setia mendampingi penulis hingga akhir penulisan skripsi yang nampak secara nyata dalam bentuk berbagai bantuan dan dukungan baik secara mental, spiritual, pemikiran, waktu, pendampingan dan bahkan materi dari berbagai pihak yang memungkinkan dan menolong penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis sangat berterima kasih atas segala bantuan dalam berbagai wujud tersebut dan pada kesempatan istimewa ini penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada :
1. YAHWE, Allah yang hidup, hidup dan berkuasa, hidup dan kekal. Engkau adalah Tuhan, orang tua, pendamping, rekan, teman, sahabat, yang selalu berjalan bersamaku kapan dan dimana pun aku berada. “Dominus Erit Tecum In Omne Tempore Et Loco.”
2 Bp. P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah memberi izin kepada penulis untuk melakukan penelitian.
4. Ibu M. L. Anantasari,S.Psi., M.Si., my mentor. Terima kasih atas pendampingan, dukungan, dan kebijakan yang ibu berikan utamanya atas waktu dan kesabaran yang diberikan dalam membaca, mengoreksi, membaca dan mengoreksi lagi serta membimbing anak bengal ini. Dalam bimbinganmu aku belajar, bekerja, dan berkembang.
5. Perdana Mentri kelompok suporter The Mac’z Man, Bapak Ocha Alim Bachri, yang telah memberi izin penelitian terhadap kelompok suporter The Mac’z Man. 6. Daeng Uki selaku dirigen lapangan, mentri bisnis dan usaha The Mac’z Man dan
ketua sektor Mamajang. Than’x untuk semua informasinya serta pendampingannya selama di lapangan.
7 Subyek D.U., Eff. dan Jef, yang sangat membantu dalam penulisan skripsi ini terutama dalam berbagai pengalaman menarik dan menegangkan saat berada dalam stadion yang penuh dengan gemuruh para suporter. Makasih banyak ces atas bantuannya, viva The Mac’z Man dan sampai jumpa di dalam stadion di Tribun Timur kebanggaan kita.
8. Ondi, my partner and my best friend , Than’x bos untuk semuanya. Sudah bantu saya, temani saya, cari orang, ketemu bencong, masuk stadion bareng, nongkrong bareng di stadion, cari tiket, jalan-jalan keliling Makassar. Ingat bos kalo pulang langsung ke rumah, jangan sering main ke Mall tanpa diketahui. Besok ada mi kartu anggotamu ces.ok!
eyes when I cuoldn’t see, for sharing everything, for being my part of my life, and
for everytihing you’ve done. Let’s realise our dream, sweety.
10. My best Partner Jogiaraja Warnold Paternus Sitanggang, meski jauh kita tak pernah terpisah. Thanx sobat dukungan dan doanya. Terima kasih untuk keluarga Sitanggang Belibis, rumah kedua saya.
11. The Mac’z Man, warga negara Republik The Mac’z Man. The Mac’z Man... EWAKO. Paentengi Siri’nu, Siri’ Na Pacce. Gunung tinggi kan kudaki lautan luas kan kusebrangi hanya untuk mendukungmu PSM.
12. Segenap dosen dan karyawan Fakultas Psikologi yang dengan tulus membagi ilmunya dan membimbing penulis selama menjalani masa studi. Bu Lusi, tiada semester tanpa kehadiranmu dan tiada ramai tanpa omelanmu. Bu Nimas, trima kasih atas izinya,boleh jadi asisten mesti dengan modal pas-pasan. Penguasa lantai III, Lab.Psikologi mas Muji Beckham, yang selalu sepi di awal musim tapi ramai saat tengah musim sampai akhir musim praktikum, GOD BLESS, you. Mas Doni dengan segala koleksi yang mendampinginya di ruang baca. Mbak Nani dan Mas Gandung (Milanista) di sekretariat yang membantu proses lancaranya segala macam administrasi. Spesial salam untuk pemegang kunci ruangan dan kartu lift, Pak Giyono, yang dengan keramahan dan senyumannya membuat suasana fakultas jadi beda dan ceria.Bapak yang sabar ya pak, meski datang paling pagi dan pulang paling sore.
semua yang telah kalian berikan selain menjalani hidup dengan lebih baik. Kalian meletakkan batu pertama dalam hidupku, memberikan modal yang lebih dari cukup sehingga aku bisa membangun rumah kehidupanku dengan baik. Terima kasih Tuhan, telah menyerahkan aku dalam bimbingan mereka.
14. Kakak-kakakku, Yanti, Fifi, Nini, Oce’... terima kasih atas semua yang kita lalui bersama. Trima kasih bos atas semua doa dan dukungan baik berupa materi maupun moril. Akhirnya saya lulus juga, jadi ibu tidak ada beban lagi dan sekarang marikita yang menjaga ibu. Ok ?
15. Buat keluarga di Daya’, om sama bunda, trima kasih atas dukungannya terlebih atas prakarsa, dukungan dan usulannya sehingga saya bisa kuliah di jogja. Terima kasih atas semua perhatian dan doanya.
16. Keluarga besar Ne’ Lotong yang telah memberi doa-doa dan segala macam dukungan. Terima kasih kakek, nenek, om, tante, kakak-kakak dan adik-adikku semua, Patric sudah lulus. Sapa lagi dari keluarga ta’ yang nyusul ?
17. Keluarga besarku dari Buntao’, terima kasih atas segala dukungannya selama ini dalam berbagai rupa utamanya Ma’ Desta, Ma’ Liwan dan Ma’ Sari. Bapak tidak ada bukan berarti kita semua putus hubungan. Terima kasih kakak-kakakku. 18. Siska ’01, S.Psi. Tahnx bu atas semuanya ; buku, panduan pemikiran dan inspirasi
yang diberikan lewat skripsi. Sukses selalu, GBU. Bherta, ’01, S. Psi. Skripsimu jadi inspirasiku saat-saat terakhir mengalami kebuntuan mencari jalan ke luar. Anak Gunung Agung, S.Psi. Saat semua pergi dan tidak ada teman untuk ‘pegangan’ tiba-tiba ada kamu. Thanx Bro
ke ke lainnya. I’ll Never Walk Alone. Pada akhirnya semua akan berpisah, bukan berakhir tetapi memulai sesuatu yang baru. Kita akan ketemu lagi sobat
20. Anak-anak Psikologi ’01 kelas A, B, C. Viva Bangsat. Thanx untuk semua yang telah kita lalui bersama hingga saat-saat akhir. Ingatlah kapan pun dan dimana pun kalian berada, tatkala mendengar kata BANGSAT, kalian tahu siapa yang dimaksud.
21. Teman-temanku di BEMF Psikologi periode 2002 – akhir 2003 (BEM-nya Agus) dan periode 2004 - 2005 (BEM-nya Anton). Thanx untuk pengalaman yangkita alami bersama.maju terus BEM Psikologi jangan mati.
22. Teman-temanku si Psikososial Yakkum, hari-hari pendampingan yang kita lalui bersama sungguh sangat berharga, takkan pernah bisa terganti oleh apa pun. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk menjadi salah satu bagian Psikososial Yakkum. Banyak pelajaran yang aku terima dari kalian. Than’x friends.
23. Kerukunan Keluarga Katolik Keuskupan Agung Makassar, (K2KAMSY) anak-anak Concat, Kayen, Klasman, Paingan, Kaliurang. Ayo bangkitkan lagi K2KAMSY jangan sampai mati. Kita bisa melakukannya semua sobat. Ingat satu hal apa pun acara dan kegiatannya yang penting makannya bung.
24. Jon Pepayu, Patrick Edi, S.E., Ak., Feni S.T., Marson ‘Anak Padi’, Banci Brothers Ronald & Rolens, kak Nunu’, angkatanku Fr.Lukas, Yuyud, Soelja. Trima kasih bos untuk semua bantuannya selama ini. Bantuan kalian sangat berarti bagiku. 23. Ikatan Persaudaraan Misdinar St. Jakobus, Mariso. Than’x atas semua dukungan
hinaan pujian yang terus memacu semangatku.
25. Semua teman-teman dan handai taulan yang terus mendukungku, maaf jika belum tertulis.
25. Semua pihak yang membantu saya untuk menyelesaikan karya ini, trima kasih.
Yogyakarta...2007 Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...i
HALAMAN PERSETUJUAN...ii
HALAMAN PENGESAHAN...iii
HALAMAN PERSEMBAHAN...iv
MOTTO...v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA...vi
ABSTRAK...vii
ABSTRACT...viii
KATA PENGANTAR...ix
DAFTAR ISI...xv
DAFTAR TABEL...xix
DAFTAR SKEMA...xx
DAFTAR LAMPIRAN...xxi
BAB I. PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang Masalah ……...……….1
B. Rumusan Masalah …….………..………...7
C. Tujuan Penelitian ………..………..……...7
D. Manfaat Penelitian ………...7
BAB II. LANDASAN TEORI...9
A. Perilaku Agresif………...………...9
1. Pengertian Perilaku Agresif...………..…...9
2. Jenis-Jenis Agresi..………..….10
3. Teori Agresi...…..………..15
b. Teori Belajar : Modelling and Conditioning...17
c. Teori Interaksi Sosial...18
4. Faktor-Faktor Pemicu Perilaku Agresif...20
B. Suporter Sepak Bola.………...23
1. Definisi Suporter Sepak Bola...………..………..23
2. The Mac’z Man .………...…………..………...25
C. Perilaku Agresif Suporter Sepak Bola PSM Makassar (The Mac’z Man) ...…………..………...…………...29
D. Kerangka Berpikir...34
BAB III. METODELOGI PENELITIAN...35
A. Metode Penelitian……….…...………...………..35
B. Responden...……….………..35
C. Batasan Istilah………...36
1. Perilaku Agresif...…………..………..36
2. Suporter SepakBola….…...………..38
3. Suporter Sepak Bola PSM Makassar...38
4. Perilaku Agresif Suporter Sepak Bola PSM Makassar...38
D. Tahap Penelitian ………...40
1. Perencanaan Penelitian……..…….………..40
2. Pelaksanaan Penelitian……….40
E. Metode Pengumpulan Data ….………..41
1. Metode Observasi …………...……..………...41
2. Metode Wawancara ...….………..………...42
F. Metode Analisis Data ..………...………...44
2. Analisis Data………...44
3. Interpretasi Data………...46
G. Kredibilitas dan Konfirmabilitas Penelitian ……….………47
1. Kredibilitas………..47
2. Konfirmabilitas………...48
BAB IV. PROSES PENELITIAN, ANALISIS PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA………50
A. Proses Penelitian………...50
1. Prosedur Awal Penelitian………...50
2. Deskripsi Kelompok Suporter The Mac’z Man………...52
3. Waktu Pengambilan Data……….58
4. Proses Pengambilan Data……….59
a. Observasi Awal……….59
b. Observasi………...59
c. Wawancara………....61
B. Analisis Hasil Observasi………....62
1. Perilaku Para Supporter Saat Pertandingan Berlangsung……….62
2. Deskripsi Perilaku Agreisf The Mac’z Man Saat Menonton Pertandingan………66
a. Observasi Pertandingan Oleh Observer I……….67
b. Observasi Pertandingan Oleh Observer II………...73
c. Kesimpulan Perilaku Agresif Suporter Saat Menonton Pertandingan………...76
4. Analisis Hasil Pengamatan Lewat Rekaman Video………..81
1. Bentuk-Bentuk Perilaku Suporter………..85
2. Alasan-Alasan Perilaku Agresif Suporter………..93
3. Kesimpulan Hasil Wawancara………...98
D. Dinamika Perilaku Agresif Suporter………101
E Pembahasan……….108
F. Keterbatasan Penelitian………119
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………...121
A. Kesimpulan………..121
B. Saran………122
DAFTAR PUSTAKA...123
DAFTAR TABEL
halaman
Tabel 1. Perilaku Agresif The Mac’z Man Pada Observasi Awal....39
Tabel 2 Interview Guides...………...43
Tabel 3 Kode Observasi Perilaku Agresif Suporter…………..……45
Tabel 4 Jadwal Penelitian………...…..58
Tabel 5 Pembagian Grup Turnamen Jusuf Cup……….67
Tabel 6 Kesimpulan Perilaku Agresif The Mac’z Man Pada Tiga Pertandingan………... 80
Tabel 7 Kesimpulan Hasil Rekaman Video………...83
Tabel 8 Kesimpulan Hasil Observasi……….84
Table 9 Kesimpulan Hasil Wawancara ……….99
Daftar lampiran
1. Kode Observasi Pertandingan
2. Kesimpulan Observasi Pertandingan
3. Kode Wawancara
4. Transkrip Wawancara
5. Surat keterangan penelitian dari Universitas
Daftar Skema
Skema 1. Alur Koordinasi Organisasi The Mac’z Man………...28
Skema 2. Alur Penelitian...………34
Skema 3. Denah Stadion PSM dan Tempat Duduk The Mac’z Man
di dalam Stadion………57
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perilaku agresif sebenarnya bukanlah hal baru dan mungkin sudah menjadi bagian dalam kehidupan bermasyarakat. Berbagai macam bentuk perilaku ini tidak jarang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti pemukulan, pelemparan, hinaan, makaian, ejekan bahkan sampai pada penganiayaan dan pembunuhan. Pemberitaan akan tindakan-tindakan kekerasan sebagai wujud perilaku agresif sangat gencar dan banyak. Media-media elektronik memberi waktu khusus untuk membahas berbagai macam perilaku agresif demikian pula media cetak yang bahkan ada yang mengkhususkan pada berita-berita yang mengandung unsur kekerasan dan agresi setiap hari. Pemberitaan lewat berbagai media dan kejadian-kejadian di sekitar kita seolah ingin menekankan bahwa perilaku agresif ada dan dekat dengan kehidupan manusia.
Perilaku agresif muncul karena terpicu oleh banyak hal. Selain karena sifat ini sudah menjadi bawaan sejak lahir yang merupakan fakor internal tetapi juga didukung oleh fakor-faktor ekstenal seperti rasa marah dan frustasi (Sears, 2001; Baron & Byrne, 2003), ingin melindungi diri (Sears, 2001) dari ancaman tertentu dan bahkan keadaan lingkungan yang tidak menyenangkan, seperti cuaca panas, dapat menimbulkan sifat ini (Sears, 2001), sehingga sifat dan perilaku agresif akan semakin berkembang jika faktor-faktor eksternalnya mendukung.
Sasaran atau obyek dari perilaku agresif yang sifatnya destruktif atau menghancurkan ini, tidak terbatas pada manusia atau makhluk hidup (Baron dan Byrne, 2005; Huffman, 2000; Bandura, 1973; Sears, 1985; Chaplin, 2002), tetapi juga pada benda-benda (Bandura,1973; Chaplin,2002). Bentuk-bentuk agresi pun beragam mulai dari fisik seperti pembunuhan, pengerusakan, perkelahian sampai pada non fisik seperti menghina, menyebarkan rumor dan mengintimidasi (Baron dan Byrne, 2003; Hall, 2001; Bandura, 1973). Adakalanya agresi dilakukan secara langsung seperti memukul orang lain, tetapi terkadang agresi juga dilakukan secara tidak langsung seperti sindiran dan tulisan-tulisan yang disampaikan lewat media massa. Variasi obyek dan bentuk agresi ini terkadang tidak disadari sehingga seseorang atau sekelompok orang merasa tidak melakukan agresi.
Tindak kekerasan dan perilaku agresif memang terkadang muncul dalam kegiatan olah raga utamnya olah raga bela diri dimana orang-orang yang mengikuti olah raga ini sebagaian besar harus kontak fisik dengan orang lain seperti memukul dan menendang. Perilaku-perilaku ini memang tidak tergolong dalam bentuk perilaku agresif karena diajarkan sebagai suatu keterampilan dan tetap terkontrol penggunaannya dalam olah raga yang bersangkutan. Faktanya, perilaku agresif terkadang terjadi pada olah raga lain selain bela diri, yang secara gamblang mengajarkan keterampilan untuk berperilaku agresif, dan yang paling sering adalah olah raga sepak bola yang mana perilaku agresif tidak hanya dilakukan oleh para pemain tetapi juga oleh para penonton pertandingan sepak bola atau yang kita kenal dengan istilah suporter.
mengakibatkan puluhan orang terluka dan patah tulang dan harus dirawat di Rumah Sakit. (Suara Karya, 17 Maret 2006).
Selain bentrok dengan suporter yang lain, para suporter fanatik ini terkadang mengadakan pengerusakan terhadap sarana dan prasarana sehingga menimbulkan teror di mayarakat. Pengerusakan fasilitas umum di pelabuhan Tanjung Perak oleh suporter PSM Makassar, gerbong kereta api yang rusak karena dilempari batu oleh para Bonek (suporter Persebaya Surabaya) (Suara Karya 17 Maret 2006), pembakaran fasilitas di stadion Bung Karno, Senayan, juga oleh para Bonek, penyerbuan rumah-rumah ibadat di Jawa Barat oleh suporter yang tidak dikenal, (BOLA, 20 September 2005) dan yang paling parah adalah pengeruskan sarana dan prasarana stadion 10 November di Surabaya oleh para Bonek (BOLA, 7 September 2006). Ada banyak kekerasan yang terjadi di lapangan sepak bola entah itu kekerasan oleh para pemain dan pengurus klub sepak bola maupun oleh suporter. Fakta-fakta tersebut semakin menguatkan image atau gambaran yang melukiskan olah raga sepak bola penuh dengan kekerasan.
Penelitian ini secara spesifik akan dilakukan terhadap kelompok suporter PSM Makassar, dimana telah diketahui bahwa kelompok suporter ini merupakan salah satu kelompok suporter sepak bola yang besar di Indonesia dan juga terkenal sering membuat keributan serta bentrok dengan kelompok suporter lain (Fajar Online, 8 Juli 2006). Pengerusakan fasilitas umum di pelabuhan Tanjung Perak, (Suara Karya 17 Maret 2006), bentrok dengan kelompok suporter Persija Jakarta, PSMS Medan, PSM Makassar dan Persebaya Surabaya di Jakarta mengakibatkan puluhan orang terluka dan patah tulang dan harus dirawat di Rumah Sakit (Suara Karya, 17 Maret 2006) adalah contoh kecil perilaku agresif suporter PSM Makassar. Bahkan saat bentrok dengan Bonek, yang bergabung dengan SNEX PSIS Semarang (Fajar Online 17 September 2005), suporter PSM Makassar telah mempersiapkan diri mereka dengan panah, pedang, parang, dan senjata tajam lainnya (Pembayun’s Father Diary, 8 Desember 2005) sehingga terkesan bahwa mereka memang berniat untuk membuat kerusuhan. Obyek perilaku mereka tidak hanya fasilitas umum dan kelompok suporter lain tetapi juga tim PSM sendiri. Suporter tim PSM Makassar melakukan pelemparan pada timnya saat bertanding dengan hasil seri malawan Persik Kediri. (BOLA, 23 Maret 2005), bahkan suporter PSM Makassar memberi ultimatum kepada pengurus PSM Makassar untuk mundur (Tribun Makassar,3 Maret 2006).
mereka tercatat melakukan berbagai perilaku agresif dan kerusuhan seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Perilaku agresif suporter termasuk The Mac’z Man baru terdeteksi dan akan ditanggapi ketika sudah menjadi besar dan bersifat komunal, namun melihat berbagai bentuk perilaku agresif yang ada, mungkinan saja telah ada perilaku-perilaku agresif yang mereka lakukan sebelumnya meski terkadang bersifat individual atau juga kelompok namun dalam skala kecil dan terkadang tidak disadari bahkan dianggap wajar. Peneliatian ini ingin menggambarkan apa dan bagaimana bentuk perilaku agresif yang dilakukan oleh suporter The Mac’z Man utamanya saat menonton pertandingan PSM Makassar melawan tim lain.
B. Rumusan Masalah
Pemaparan latar belakang telah memberikan suatu gambaran tentang permasalahan yang akan digali lebih dalam pada penelitian ini. Untuk lebih memperjelas fokus masalah yang akan dibahas maka disimpulkan dalam rumusan masalah ;
Bagaimana gambaran berbagai bentuk perilaku agresif yang dilakukan oleh The Mac’z Man (kelompok suporter PSM Makassar) saat mendukung tim PSM Makassar yang bertanding melawan tim lain.
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoretik :
Menambah kasanah pengetahuan ilmu psikologi utamanya di bidang Psikologi Sosial tentang perilaku agresif yang dilakukan oleh para suporter,
secara spesifik pada The Mac’z Man (suporter sepak bola tim PSM Makassar).
2. Manfaat praktis :
a. Sebagai bahan referensi bagi para petugas keamanan agar lebih memahami perilaku suporter di lapangan sehingga dapat mengantisipasi secara dini segala macam bentuk perilaku yang dapat menjurus ke arah perilaku anarkis yang dapat mengakibatkan perilaku agresif dalam skala yang besar seperti kerusuhan
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Perilaku Agresif
1. Pengertian Perilaku Agresif
Berbicara mengenai perilaku agresif tidak bisa lepas dari sifat agresif. Sebagai suatu sikap, agresi hanya dapat diamati melalui perilaku yang nampak dan inilah yang disebut sebagai perilaku agresif. Meskipun istilah ini tertuju pada suatu perilaku tertentu namun dalam pendefenisian terminologi ini, oleh banyak ahli, ternyata bermacam-macam. Menurut Bandura (1973), adanya berbagai macam definisi agresi sebagai suatu perilaku disebabkan oleh anggapan atau pemahaman dari para ahli. Ada beberapa ahli yang mendeskripsikan agresi semata-mata sebagai atribut suatu perilaku, namun ada juga yang mengasumsikan adanya peran dorongan, kesamaan emosi atau berdasarkan intensitas tindakan yang berpotensi untuk melukai. Ternyata dengan istilah yang sama tidak selalu menyiratkan kesamaan arti.
Melihat banyak ahli yang mendefenisikan perilaku ini sebagai suatu perilaku individu atau seseorang terhadap individu atau obyek lain maka definisi yang ditawarkan oleh Berkowitz memperlihatkan sesuatu yang berbeda. Berkowitz (1980) mengatakan bahwa agresi adalah suatu keinginan untuk melukai satu sama lain, baik secara fisik maupun psikologis. Ini berarti subyek dapat menjadi obyek agresi dalam waktu yang bersamaan. Lebih lanjut Berkowitz mengatakan bahwa keinginan ini bertujuan untuk menghindarkan rasa sakit bagi si pelaku. Keinginan tersebut dipengaruhi oleh berbagai motiv yang terkombinasi dan sering muncul saat emosi seseorang menjadi tinggi utamanya saat marah. Pada saat ini seseorang tidak akan berpikir akan akibat yang ditimbulkannya dan apa yang orang lain akan katakan mengenai dirinya. Yang penting adalah melukai orang yang memprovokasinya.
Dari berbagai definisi yang sudah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa perilaku agresi adalah suatu perilaku individu yang bermaksud untuk menyerang dan melukai orang, makhluk dan benda lain secara fisik maupun psikologis, dimana korban tidak ingin mendapat perlakuan tersebut.
2. Jenis-Jenis Agresi
Sebagai suatu sikap dan sifat, agresi tidak dapat dijabarkan dalam bentuk yang konkrit. Agresi hanya dapat dilihat dalam bentuk perilaku yang menggambarkan agresi itu sendiri. Ada berbagai macam perilaku yang menggambarkan suatu agresifitas. Perilaku-perilaku itu oleh beberapa ahli telah digolongkan, dan akhirnya muncullah suatu penggolongan perilaku agresi yang sering disebut sebagai bentuk-bentuk atau jenis-jenis agresi.
a. Agresi Instrumental. Ini adalah suatu bentuk agresi yang dilakukan oleh organisme atau individu sebagai alat atau cara untuk mencapai tujuan tertentu. b. Agresi impulsif (agresi benci). Ini adalah suatu bentuk agresi yang dilakukan
semata-mata sebagai pelampiasan keinginan untuk melukai atau menyakiti. Bentuk agresi ini tidak bertujuan selain untuk menimbulkan kerusakan, kesakitan atau kematian pada sasaran atau korban.
Kemudian Moyer (dalam Koeswara, 1988) membagi perilaku agresi
ke dalam berbagai bentuk. Moyer mambagi perilaku agresi ke dalam tujuh bentuk yaitu :
a. Agresi predatori adalah agresi yang dibangkitkan oleh kehadiran obyek alamiah (mangsa). Biasanya terdapat pada organisme atau species hewan yang menjadikan organisme atau species lain sebagai mangsanya.
b. Agresi antar jantan adalah agresi yang secara tipikal dibangkitkan oleh kehadiran sesama jantan pada suatu species
c. Agresi ketakutan adalah agresi yang dibangkitkan oleh tertutupnya kesempatan untuk menghindari ancaman.
d. Agresi tersinggung adalah agresi yang dibangkitkan oleh perasaan tersinggung atau kemarahan. Respon menyerang muncul terhadap stimulus yang luas (tanpa memilih sasaran), baik berupa obyek-obyek hidup maupun mati.
e. Agresi pertahanan adalah agresi yang dilakukan oleh organisme dalam rangka mempertahankan daerah kekuasaannya dari ancaman atau gangguan dari anggota species-nya sendiri. Ini disebut juga agresi teritorial.
g. Agresi instrumental adalah agresi yang dipelajari, diperkuat,dan dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.
Menurut Moyer (Koeswara, 1988), tidak ada satu pun dari ketujuh tipe agresi ini yang eksklusif artinya tipe-tipe ini dengan intensitas yang berbeda bisa ditemukan baik pada hewan maupun pada manusia. Moyer juga membagi agresi berdasarkan kuantitas dan normalitas pelakunya. Berdasarkan kuantitas pelakunya agresi dibedakan menjadi agresi individual yaitu agresi yang dilakukan secara individu atau perorangan dan agresi kolektif, yaitu agresi yang dilakukan secara kolektif atau bersama-sama oleh beberapa individu. Sedangkan berdasarkan normalitas pelakunya agresi dibedakan menjadi agresi normal yaitu agresi yang diakibatkan oleh stimulus yang jelas dan nyata dan agresi patologis yaitu agresi yang disebabkan oleh adanya penyakit mental.
Berbeda dengan Berkowitz dan Moyer yang memandang perilaku agresi berdasarkan motif-motif pelakunya, Sears membagi perilaku agresi berdasarkan norma yang ada dalam masyarakat. Sears (1991) membagi perilaku agresi ke dalam tiga bentuk yaitu : a. Agresi antisosial yaitu tindakan agresi yang tidak sesuai dengan norma sosial
yang ada seperti tindakan kriminal (perampokan, pembunuhan. pemukulan). b. Agrsesi prososial yaitu tindakan agresi yang diatur oleh norma sosial seperti
hukuman yang diberikan atas tindak kejahatan.
Pembagian bentuk-bentuk perilaku agresif yang cukup lengkap diutarakan oleh Buss (Pearlman& Cosby, 1983) dimana dia membagi perilaku agresif ke dalam tiga bentuk yaitu :
a. Perilaku agresi secara fisik dan verbal.
b. Perilaku agresi yang dilakukan secara aktif dan pasif.
c. Perilaku yang dilakukan secara langsung dan tidak langsung.
Dari ketiga kriteria ini Buss mengembangkannya menjadi delapan bentuk perilaku agresif yang merupakan kombinasi dari ketiga aspek di atas. Adapun delapan bentuk perilaku agresif tersebut adalah :
a. Fisik-aktif-langsung, dimana seseorang melakukan perilaku agresi secara fisik, dengan aktif dan langsung diarahkan pada obyek. Contoh perilaku ini adalah memukul langsung orang lain.
b. Fisik-aktif-tidak langsung, dimana seseorang melakukan perilaku agresi secara fisik, dengan aktif tetapi tidak langsung diarahkan pada obyek. Contoh perilaku ini adalah membuat jebakan untuk orang lain.
c. Fisik-pasif-langsung, dimana seseorang melakukan perilaku agresi secara fisik, tetapi pasif dan langsung diarahkan pada obyek. Contoh perilaku ini adalah tidak memberi jalan pada orang lain yang mau lewat. d. Fisik-pasif-tidak langsung, dimana seseorang melakukan perilaku agresi
secara fisik, tetapi pasif dan tidak langsung diarahkan pada obyek. Contoh perilaku ini adalah menolak mengerjakan sesuatu yang diperintahkan oleh orang lain.
f. Verbal-aktif-tidak langsung, dimana seseorang melakukan perilaku agresi secara verbal, dengan aktif tetapi tidak langsung diarahkan pada obyek. Contoh perilaku ini adalah menyebarkan gosip.
g. Verbal-pasif-langsung, dimana seseorang melakukan perilaku agresi secara verbal, tetapi pasif dan langsung diarahkan pada obyek. Contoh perilaku ini adalah menolak untuk berbicara.
h. Verbal-pasif-tidak langsung, dimana seseorang melakukan perilaku agresi secara verbal, tetapi pasif dan tidak langsung diarahkan pada obyek. Contoh perilaku ini adalah menggerutu.
Dari semua teori tentang bentuk-bentuk perilaku agresif yang telah diungkapkan, bentuk-bentuk perilaku agresif yang diungkapkan oleh Buss merupakan bentuk yang paling lengkap dimana mencakup semua aspek. Oleh karena itu bentuk-bentuk perilaku inilah yang akan digunakan sebagai acuan bentuk-bentuk-bentuk-bentuk perilaku agresif dalam penelitian ini.
3. Teori Agresi
a. Teori Hipotesis Frustrasi-Agresi
b. Teori Belajar : Modelling and Conditioning
Teori ini diungkapkan oleh Bandura dimana dia mengatakan bahwa individu tidak digerakkan untuk menyerang oleh keinginan dari dalam dirinya melainkan oleh keadaan lingkungannya (Bandura, 1973). Kemudian oleh Bandura dikatakan bahwa perilaku agresif dihasilkan oleh pola asuh (nurture) yang diperoleh melalui proses belajar. Pengondisian instrumental (reward and punishment) dan meniru (modelling) merupakan mekanisme yang kuat untuk memunculkan perilaku agresif Bandura dalam Krahe` 2005).
Bandura (1973) mempertegas pendekatan sosial learning dan membedakan dengan pendekatan lain dengan membuat suatu skema dimana dijelaskan bahwa kejadian yang tidak mengenakkan (aversif) akan membangkitkan emosional individu. Dilakukannya pengantisipasian kejadian dari individu akan memperkuat dan memotivasi individu untuk bertindak dan dari proses ini muncullah berbagai respon seperti : dependensi; achievement (pencapaian tujuan); withdrawal (penarikan diri) dan resignation (kepasrahan); agresi; psikosomatis; ketergantungan pada obat-obatan dan alkohol; membentuk problem solving (pemecahan masalah). Perilaku-perilaku tersebut tidak akan sama pada semua orang tergantung pada seberapa besar kemampuan coping individu terhadap stress akibat kejadian tertentu dan seberapa efektif tindakan itu bagi individu itu sendiri.
c. Teori Interaksi Sosial
2005). Perilaku koersif sendiri didefinisikan sebagai tindakan yang dilakukan dengan niat membuat orang lain menderita atau memaksa orang lain patuh (Krahe`, 2005).
Adapun bentuk koersif ada tiga yaitu :
1) Ancaman, komunikasi yang dilakukan untuk menyakiti target. 2) Hukuman, tindakan yang dilaksanakan untuk menyakiti target.
3) Paksaan badaniah, kontak fisik yang bertujuan untuk melarang atau memaksa orang lain melakukan sesuatu.
Pemilihan strategi koersif ditentukan oleh tingkat keefektifan perilaku koersif tersebut dimana semakin cepat hasil yang didapat maka perilaku itu yang akan dipilih. Dalam teroi ini ditekankan bahwa agresi adalah bentuk tindakan koersif khusus, yang merupakan salah satu tindakan sosial, dimana bukan satu-satunya strategi potensial untuk memaksa dan mempengaruhi individu lain .
Lindsay dan Anderson pada tahun 1996 (Baron & Byrne, 2005) membuat suatu model pembentukan perilaku agresi yang tergolong paling modern yang terkenal dengan nama GAAM (General Affective Aggression Model / Model Agresi Afektiv Umum), yang mana merupakan penyempurnaan dari berbagai model yang sudah ada. Dalam teori ini dikatakan bahwa banyak sekali variabel yang dapat menjadi pemicu munculnya perilaku agresi. Keseluruahan variabel terbagi ke dalam dua kelompok besar yaitu variabel perbedaan individual dan variabel situasional. Adapun variabel-variabel perbedaan individual meliputi :
1) Sifat yang mendorong individu melakukan agresi seperti mudah sekali marah.
3) Nilai mengenai kekerasan seperti pandangan bahwa kekerasan merupakan hal yang baik. Biasanya dianggap sebagai suatu kebanggaan tersendiri atau menunjukkan sifat maskulin.
4) Keterampilan spesifik yang terkait pada agresi seperti mengetahui cara berkelahi dan menggunakan senjata.
Sedangkan variabel-variabel situasional meliputi : 1) Perasaan frustrasi yang dialami.
2) Bentuk serangan tertentu dari orang lain seperti penghinaan.
3) Tanda-tanda yang berhubungan dengan agresi misalnya senapan atau senjata lainnya.
4) Hampir semua hal yang menyebabkan individu merasa tidak nyaman seperti suhu udara yang tinggi, rasa sakit, kebosanan, polusi udara dan lain sebagainya.
Selain variabel-variabel pemicu perilaku agresif, Anderson juga mengemukakan bahwa ada tiga proses dasar pembentukan perilaku agresif yang terjadi dalam diri individu yaitu :
1) Keterangsangan atau arousal ; bangkitnya keterangsangan pada fungsi-fungsi fisiologis dan antusiasme.
2) Keadaan afektif atau affective states ; bangkitnya perasaan hostile dan tanda-tanda yang tampak dari hal ini seperti ekspresi wajah marah.
3) kognisi atau cognition ; bangkitnya pikiran-pikiran hostile atau membawa ingatan hostile kedalam pikiran
Namun disamping itu perilaku agresif juga tergantung pada interpretasi individual akan situasi saat kejadian berlangsung dan faktor-faktor peringatan yang ada.
4. Faktor-Faktor Pemicu Perilaku Agresi
Sebagai suatu perilaku, maka pembentukan perilaku agresif tentu saja dipengaruhi oleh banyak hal. Banyak ahli menjabarkan faktok-faktor pemicu yang dapat memunculkan perilaku ini, mulai dari kepribadian individu; keadaan lingkungan dan orang-orang di sekitar bahkan sampai pada situasi setempat seperti suhu udara dan kepadatan ruangan. Baron dan Byrne (2005) membagi faktor-faktor pemicu munculnya perilaku agresif ke dalam tiga bagian besar yang kemudian diperinci lagi ke dalam beberapa bagian. Adapun variabel itu dijelasakan sebagai berikut :
a. Variabel sosial
1) Frustrasi ; termuat dalam hipotesis frustrasi agresi. Tidak terpenuhinya sesuatu yang diharapkan atau yang diinginkan membuat frustasi dan terkadang mengarah pada perilaku agresi.
2) Provokasi ; tindakan dari orang lain yang cenderung memicu agresi pada diri si penerima. Bentuknya bisa secara fisik maupun verbal. 3) Agresi yang dipindahkan; agresi pada seseorang yang bukan menjadi
sumber provokasi. Agresi ini terjadi karena orang yang ingin melakukan agresi tidak ingin atau tidak dapat melakukan agresi terhadap sumber provokasi awal.
5) Keterangsangan yang meningkat ; keterangsangan dalam suatu situasi dapat tersisa dan dapat muncul kembali saat mengahadapi situasi berikutnya. Hal ini dapat membuat agresi tidak meningkat tetapi juga dapat meningkatkan agresi tergantung pada pemikiran individu. b. Variabel pribadi
1) Kepribadian yang sudah ada pada tiap orang ; ada orang yang mempunyai kepribadian yang memicu perilaku agresif mereka. Ini tergolong sebagai orang tipe A yang memiliki kepribadian yang kompetitif, selalu terburu-buru, mudah tersinggung sedangkan bertolak belakang dengan orang-orang yang bertipe B yang kepribadian mereka tidak memicu perilaku agresif yaitu tidak kompetitif, tidak selalu terburu-buru, tidak mudah kehilangan kendali.
2) Bias atribusional hostile; saat individu memiliki kecenderungan untuk mempersepsikan buruk motif tindakan orang lain saat tindakan tersebut dirasa ambigu.
c. Variabel situasional
1) Suhu udara yang tinggi ; suhu udara yang tinggi akan cenderung meningkatkan agresi, tetapi hanya sampai titik tertentu. Di atas tingkat tertentu agresi menurun selagi suhu udara menigkat.
2) Konsumsi alkohol ; pengkonsumsian alkohol dapat meningkatkan agresi utamanya pada individu yang dalam keadaan normal menunkjukkan tingkat agresi yang rendah.
oleh Berkowitz digolongkan termasuk ke dalam variabel sosial dimana penciptaan senjata dapat memicu munculnya perilaku agresif (Berkowitz, 1980) dan adanya lembaga-lembaga yang menurut Zenden (1984) melegalkan perilaku agresif seperti akademi militer dan berbagai macam olah raga yang melakukan kontak fisik. Variabel situasional semakin diperkaya dengan beberapa pendapat ahli dimana diungkapkan bahwa kondisi yang tidak menyenangkan yang menimbulkan rasa sakit ( Berkowitz, 1980), kepadatan ruang dan Crowding (Krahe`, 2005), kebisingan (Donnerstain dan Wilson dalam Krahe`, 2005) dan polusi udara (Baron dan Bell dalam Krahe`,2005) dapat menjadi pemicu munculnya perilaku agresif.
B. Suporter Sepak Bola
1. Suporter Sepak Bola
Sepak bola sebagai suatu cabang olah raga mempunyai peminat yang cukup banyak. Olah raga sepak bola merupakan olah raga yang dimainkan oleh dua tim yang masing-masing tim, yang berjumlah sebelas orang, berlomba untuk memasukkan bola sebanyak-banyaknya ke dalam gawang lawan. Peraturan-peraturan yang ada dan segala teknik dan taktik yang dimainkan oleh para pemain sepak bola membuat permainan ini menjadi semakin menarik untuk ditonton (www.wikipedia.com). Seperti yang dikatakan dalam bab sebelumnya bahwa suporter dan sepak bola menjadi hal yang tak terpisahkan. Orang-orang yang menonton pertandingan sepak bola baik yang di stadion maupun hanya lewat layar kaca bahkan yang hanya bisa mendengar lewat radio tidak sekedar menikmati pertandingan sepak bola tetapi sudah lebih jauh dimana mereka mendukung tim yang disenanginya atau dijagokannya.
Suporter sepak bola diartikan sebagai para pendukung suatu tim sepak bola. Mereka ini biasanya membentuk kelompok suporter dengan berbagai nama untuk mendukung tim kesayangan mereka (BOLA, September 2005). Mereka datang ke stadion untuk melihat tim mereka bertanding dan mendukung mereka dengan harapan tim yang mereka dukung memenangi pertandingan. Berbagai seruan-seruan dan teriakan-teriakan penyemangat dilantunkan oleh para pendukung ini untuk membela tim mereka.
2. The Mac’z Man (Suporter PSM Makassar)
sendiri. Para suporter ini membentuk berbagai kelompok suporter yang mana kelompok-kelompok suporter tersebut menjadi wadah bagi para suporter untuk memberi dukungan nyata pada tim PSM.
The Mac’z Man adalah salah satu kelompok suporter kreatif PSM Makassar. Kata Mac’z Man sendiri terinspirasi dari kata Makassar Mania yang dimodifikasi sedemikian rupa. Organisasi yang berdiri pada tanggal 1 Februari 2000 ini mempunyai sekretariat yang juga berfungsi sebagai markas besar (Mabes) yang sering digunakan sebagai tempat kumpul anggota, mengurus administrasi dan sebagai tempat rapat. Adapun sekretariat organisasi ini tidak tetap, dan setiap tahun berpindah, berganti-ganti ke setiap sektor, dengan alasan untuk semakin mempererat persaudaraan antar suporter dan agar saling memperhatikan satu sama lain.
Sekretaris Jendral (sekjen) adalah jabatan berikutnya yang berada sederajat dengan perdana menteri. Sekjen ini membantu perdana mentri dalam mengurus administrasi dari masalah keanggotaan dan aturan-aturannya sampai pada penulisan dan pengumpulan lagu-lagu dan penataan gerak di lapangan. Oleh karena itu sekjen juga merangkap sebagai jendral lapangan.
Struktur tertakhir yang langsung dibawahi presiden dan fungsinya juga membantu presiden dalam pengembangan organisasi adalah divisi-divisi yang setiap divisi dikepalai oleh seorang mentri. Divisi-divisi tersebu terdiri dari : pertahanan dan keamanan (Hankam); kesejahteraan rakyat (Kesra); seni an kreasi; keuangan; penelitian dan pengembangan (Litbang); prasarana; penerangan; urusan peranan wanita (UPW); dan usaha dan bisnis.
Sebagai suatu organisasi kreatif, kegiatan Mac’z Man tidak terbatas hanya pada menyemangati pemain dalam stadion. Mereka melakukan berbagai aktivitas seperti mengadakan lomba sepak bola, mengadakan acara-acara musik dan juga membentuk sebuah band musik yang juga dinamakan Mac’z Man. The Mac’z Man juga membuka sebuah outlet (toko) penjualan merchandism yang menjual semua atribut The Mac’z Man dan PSM Makassar tetapi hanya melayani para anggota mereka.
perlombaan suporter terbaik se-Indonesia versi ANTV pada tahun 2005 dan sebagai suporter paling kreatif se-Asia saat memberi dukungan pada PSM Makassar yang bertanding mewakili Indonesia dalam kejuaraan Piala Champion Asia tahun 2003. (GOLO, Januari 2003)
Nama besar dan sejumlah prestasi yang diukir oleh The Mac’z Man menarik perhatian sejumlah sponsor untuk mendanai kegiatan The Mac’z Man sambil memasarkan produk mereka, mulai dari perusahaan minuman seperti Coca-cola dan Extra Joss, perusahaan jasa telepon yaitu PT. Telkom yang menggunakan ketenaran nama The Mac’z Man untuk meluncurkan produk baru mereka di Makassar, sampai pada perusahaan rokok besar yaitu PT.Djarum.
The Mac’z Man tumbuh menjadi suatu kelompok besar dan kreatif dengan berbagai kegiatan, sejumlah prestasi dan berbagai sponsor yang menjadi salah satu sumber dana. Nama mereka tidak hanya terkenal di Makassar tetapi juga di Indonesia dan bahkan sempat terkenal di luar negreri.
Skema 1. Alur Koordinasi Organisasi The Mac’z Man
Presiden
C. Perilaku Agresif Suporter Sepak Bola PSM Makassar (The Mac’z Man)
Sepak bola sebagai sebuah olah raga yang tak lepas dari kontak fisik, memang sangat rentan dengan unsur kekerasan. Terlepas dari kerasnya bentuk permainan sepak bola yang dapat menimbulkan suatu tindakan kekerasan, ternyata unsur kekerasan juga melekat pada kelompok penonton, yang mendukung sebuah tim dalam pertandingan, yang kerap dikenal sebagai suporter. suporter yang pada hakikatnya
Sekjen
Hankam Kesra Keuangan
P M
Litbang Seni kreasi
Penerangan Usaha Prasarana
bisnis UPW
Ketua-ketua sektor
adalah orang atau sekelompok orang yang memberi dukungan kepada sebuah tim dalam pertandingan berubah menjadi orang atau kelompok yang anarkis yang berperilaku agresif dan bahkan kerap menjadi simbol kekerasan dalam sepakbola.
Perilaku agresif pada suporter sepak bola sudah lama menjadi bahan penelitian oleh berbagai pengamat utamnya para pengamat sosial. Dalam dunia sepak bola, perilaku agresif (kekerasan) dikenal dengan nama hooliganisme. Hooliganisme dalam dunia sepak bola bukanlah hal yang baru melainkan hal yang akrab bahkan bisa dikatakan tak terpisahkan dengan dunia sepak bola. Hooliganisme suporter adalah suatu kericuhan yang yang dilakukan oleh suporter sepak bola yang disertai dengan berbagai macam tindakan kriminal baik sebelum, sementara berlangsung dan sesudah pertandingan sepak bola. Para suporter yang sering melakukan tindakan hooliganisme inilah yang sering dikenal dengan para hooligan. Pada prinsipnya mereka adalah suporter sepak bola yang mendukung tim mereka, sama dengan kelompok suporter lainnya, tetapi saat mereka melakukan tindakan kekerasan dan kriminal maka mereka adalah para hooligan (www.brontakzine.com, 2006).
Kerusuhan dan tindakan pengruskan lain adalah suatu bentuk akhir atau akumulasi perilaku agresif. Banyak perilaku agresif baik secara langsung atau tidak langsung yang entah disadari atau tidak bisa menjadi pemicu perilaku agresif dalam skala yang lebih besar. Saling mengejek atau menghina, provokasi dan bahkan kontak fisik secara langsung seperti saling memukul dan melempar dapat menjadi pemicu kerusuhan dalam skala yang besar dan merugikan. Para hooligan itu sendiri biasanya menyenangi suatu perkelahian dan banyak dari mereka berada dibawah pengaruh alkohol dan obat-obatan sebelum menonton pertandingan (www.brontakzine.com, 2006).
kepribadian mereka, rasa frustasi yang memuncak, kejadian di lapangan, adanya provokasi sampai pada pengaruh alkohol dan obat-obatan, juga akan menghasilkan berbagai bentuk perilaku agresif baik secara langsung maupun tidak langsung.
The Mac’z Man adalah satu dari sekian banyak kelompok suporter yang ada di Indonesia dan bahkan bukan satu-satunya kelompok suporter yang ada di daerahnya yaitu Makassar. Sebagai kelompok suporter yang fanatik, baik secara bersama maupun terpisah dengan ISM (Ikatan Suporter Makassar), mereka terus memberi dukungan pada tim kesayangan mereka dalam berbagai kesempatan dengan berbagai cara. Kelompok yang menjuluki diri mereka sebagai kelompok suporter kreatif PSM Makassar, terorganisir dengan rapi dalam struktur organisasi yang jelas. Sejumlah kegiatan diluar kegiatan utama mereka yakni memberi dukungan bagi tim PSM Makassar dan berbagai prestasi yang diraih membuat kelompok mereka semakin disegani dan dikenal baik di Makassar maupun di Indonesia.
satu contohnya. Pengurus tim pun tidak luput dari sasaran kemarahan mereka dimana mereka memberi ultimatum bagi pengurus untuk lebih baik mundur saja jika tidak berhasil dalam jangka waktu yang mereka tentukan (Tribun Timur, 3 Maret 2006).
The Mac’z Man sebagai salah satu kelompok suporter yang ada di Makassar secara tidak langsung menjadi aktor dari berbagai perilaku agresif suporter PSM Makassar. Bahkan nama mereka yang tertulis dalam berbagai media cetak dan disiarkan oleh media elektronik. Kreatifitas yang dijunjung tinggi dan berbagai prestasi yang diraih seolah tertutupi dengan perilaku agresif mereka. Reaksi orang saat mendengar The Mac’z Man, suporter dari Makassar lebih pada ketakutan dan kecemasan dari pada penghargaan dan penghormatan.
Perilaku agresif The Mac’z Man tentu bukanlah hal yang tanpa sebab dan dengan berbagai alasan atau pemicu tersebut tentu saja akan memunculkan berbagai macam perilaku agresif juga yang mungkin tidak disadari dan tidak dianggap sebagai perilaku agresi. Berikut gambaran alur pemikiran penelitian perilaku agresif pada The Mac’z Man :
Skema 2. alur penelitian
Datang menonton pertandingan di
stadion
Melakukan berbagai bentuk perilaku agresif Kelompok supporter The
Mac’z Man
Faktor-faktor yang berpengaruh memicu perilaku agresif :
1. Variabel sosial 2. Variabel situasional
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Desain penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dimana data dan hasil yang diperoleh berupa penggambaran yang ingin menerjemahkan pandangan dasar interpretatif dan fenomenologis dengan tujuan untuk memahami kehidupan sosial manusia (Poerwandari,2005), termasuk kegiatan, sikap, pandangan, proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruhnya dari suatu fenomena (Whitney dalam Natzir,1985).
B. Responden
Responden yang menjadi subyek pada penelitian ini adalah kelompok suporter tim sepak bola tim PSM Makassar. Secara spesifik, mereka yang menjadi responden adalah para suporter PSM Makassar yang dikenal dengan nama The Mac’z Man yang mana merupakan salah satu kelompok suporter sepak bola terbesar yang berada di Sulawesi Selatan khususnya di Makassar.
C. Batasan Istilah
1. Perilaku Agresif
a. Definisi Perilaku Agresif
Perilaku agresif adalah suatu perilaku destruktif atau merusak baik secara fisik maupun secara psikis yang bermaksud untuk menyakiti atau melukai orang lain dan merusak benda-benda. Orang lain dalam penelitian ini merupakan pihak lawan baik itu secara tim maupun personal, sedangkan benda-benda adalah sarana dan prasarana di dalam stadion.
b. Bentuk-Bentuk Perilaku Agresif
Perilaku agresif terbagi dalam tiga bentuk dasar yaitu : 1). Perilaku agresi secara fisik dan verbal.
2). Perilaku agresi yang dilakukan secara aktif dan pasif.
3). Perilaku agresi yang dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Kemudian bentuk-bentuk perilaku agresi ini dikombinasikan satu sama lain seingga terbentuk menjadi delapan perilaku agresif yaitu :
1). Fisik-aktif-langsung , dimana seseorang melakukan perilaku agresi secara fisik, dengan aktif dan langsung diarahkan pada obyek. Contoh perilaku ini adalah memukul langsung orang lain.
2). Fisik-aktif-tidak langsung, dimana seseorang melakukan perilaku agresi secara fisik, dengan aktif tetapi tidak langsung diarahkan pada obyek. Contoh perilaku ini adalah membuat jebakan untuk orang lain. 3). Fisik-pasif-langsung, dimana seseorang melakukan perilaku agresi
4). Fisik-pasif-tidak langsung, dimana seseorang melakukan perilaku agresi secara fisik, tetapi pasif dan tidak langsung diarahkan pada obyek. Contoh perilaku ini adalah menolak mengerjakan sesuatu yang diperintahkan oleh orang lain.
5). Verbal-aktif-langsung, dimana seseorang melakukan perilaku agresi secara verbal, dengan aktif dan langsung diarahkan pada obyek. Contoh perilaku ini adalah mencaci maki orang lain.
6). Verbal-aktif-tidak langsung, dimana seseorang melakukan perilaku agresi secara verbal, dengan aktif tetapi tidak langsung diarahkan pada obyek. Contoh perilaku ini adalah menyebarkan gosip.
7). Verbal-pasif-langsung, dimana seseorang melakukan perilaku agresi secara verbal, tetapi pasif dan langsung diarahkan pada obyek. Contoh perilaku ini adalah menolak untuk berbicara.
8). Verbal-pasif-tidak langsung, dimana seseorang melakukan perilaku agresi secara verbal, tetapi pasif dan tidak langsung diarahkan pada obyek. Contoh perilaku ini adalah menggerutu.
2. Suporter Sepak Bola
3. Suporter Sepak Bola PSM Makassar (The Mac’z Man)
The Mac’z Man adalah salah satu dari sekian banyak kelompok suporter di Makassar yang mendukung tim PSM Makassar. Keanggotaan para suporter yang tergabung dalam kelompok ini sangat jelas dan dibuktikan dengan adanya kartu anggota yang dimiliki oleh setiap orang yang mengaku dirinya Mac’z Man yang mana di dalamnya termuat identitas diri, asal sektor dan peraturan anggota yang harus ditaati.
4. Perilaku agresif pada suporter sepak bola PSM Makassar (The Mac’z
Man)
Tabel 1. Perilaku agresif The Mac’z Man pada observasi awal
Kategori Perilaku Agresif Bentuk Perilaku Agresif
Fisik Aktif Langsung Memanjat : memanjat pagar
memanjat tiang bendera
Fisik Aktif Tidak Langsung -
Fisik Pasif Langsung Pengusiran :mengusir penonton lain yang
tidak berbaju merah
Fisik Pasif Tidak Langsung Penolakan : divisi musik menolak
memukul drum
Verbal Aktif Langsung Intimidasi :- menghina/mencaci pemian
lawan
- menghina/ mencaci tim lawan
- mencaci / menghina pemain PSM
- memaki dengan nyanyian pada pemain lawan
- memaki dengan nyanyian pada tim lawan
- menekan tim lawan dengan nyanyian
- menekan pemain lawan dengan nyanyian
Verbal Aktif Tidak Langsung Membicarakan ketidakpuasan akan kinerja
PSM
Verbal Pasif Langsung Penolakan : suporter menolak menyanyi
saat disuruh dirigen
Verbal Pasif Tidak Langsung Menggerutu : - menggerutu saat pemain
PSM gagal mencetak gol - menggerutu saat pemain PSM gagal menguasai bola
- menggerutu saat pemain PSM bermain buruk
D. Tahapan Penelitian
1. Perencanaan Penelitian
a. Peneliti melakukan identifikasi dan pemilihan masalah penelitian.
c. Peneliti membangun raport atau menjalin relasi pada kelompok suporter dengan menghubungi pengurus suporter dan menemui langsung para suporter.
d. Peneliti melakukan pengamatan awal (observasi awal) dan wawancara awal sebelum masuk pada proses pelaksanaan penelitian. Pengamatan awal dilakukan untuk memperoleh gambaran awal tentang bagaimana bentuk perilaku agresif para suporter di lapangan saat mendukung tim kesayangannya, sedangkan wawancara awal yang dilakukan untuk memperoleh tambahan informasi mengenai gambaran awal tentang perilaku agresif mereka di lapangan.
2. Pelaksanaan Penelitian a. Observasi
Observasi pada tahap ini berbeda dengan observasi sebelumnya. Observasi ini lebih difokuskan pada perilaku-perilaku agresif yang muncul saat para suporter sedang mendukung tim kesayangannya sehingga data yang diperoleh sesuai dengan tujuan penelitian. Alat dan prosedur observasi telah dipersiapkan berdasarkan observasi awal.
b. Wawancara
Wawancara dilakukan untuk memperdalam temuan observasi dengan mengajukan pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya dan pertanyaan disesuaikan dengan tujuan penelitian.
c. Analisis Data Observasi
Data observasi yang didapat kemudian dikelompokkan, dikoding, dianalisis dan kemudian dideskripsikan.
d. Analisis Data Wawancara
Analisis data observasi disatukan dengan analisis data wawancara kemudian dibahas sesuai dengan tujuan awal penelitian.
f. Pengecekan Kelengkapan Data (Kredibilitas Data) 1) Laporan Observasi
2) Transkrip Wawancara
E. Metode Pengumpulan Data
1. Metode Observasi
Observasi adalah kegiatan memperhatikan, mengamati secara akurat, mencatat fenomena yang muncul serta mempertimbangkan hubungan antar aspek dan fenomena tersebut (Poerwandari, 1998). Pengamatan dilakukan secara apa adanya (naturalistic observation) dan difokuskan pada kejadian yang ingin diamati (event sampling), yaitu melihat perilaku agresif para supporter yang muncul saat mendukung tim kesayangannya (Irwin dan Bushnell, 1981).
Adapun bentuk-bentuk perilaku agresif itu disingkat dalam bentuk kode untuk memudahkan observasi nantinya. Apabila muncul respon baru pada saat observasi dan belum ada pada kode yang sebelumnya telah disusun, maka respon baru dapat ditambahkan dan langsung dituliskan pada lembar observasi (kode observasi bersifat fleksibel).
2. Metode Wawancara
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi atau keterangan langsung melalui tatap muka atau bercakap-cakap dengan subjek penelitian. Peneliti menggunakan kerangka pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya (interview guide) sebagai penduan dalam wawancara. Pertanyaan dibuat sesuai dengan tujuan penelitian. Pertanyaan dapat berkembang (semi terstruktur) saat proses wawancara berlangsung untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam.
Pencatatan data wawancara menggunakan metode narrative recording yaitu dengan alat bantu tape recorder untuk merekam saat proses wawancara berlangsung.
Tabel 2. interview guides
No. Tujuan Pertanyaan
1 Memahami perilaku suporter saat mendukung PSM
Makassar
1. Apa saja yang dilakukan para suporter di lapangan saat pertandingan ?
2. Bagaimana mereka melakukan kegiatan di lapangan ?
2 Sikap atas hasil pertandingan dan situasi di lapangan
Apa saja yang dilakukan oleh para suporter saat pertandingan sedang berlangsung ?
3 Alasan perilaku agresif suporter
Mengapa anda bersikap seperti itu ? (‘itu’ tergantung dari perilakunya)
4 Mendapatkan keterangan yang mendalam tentang perilaku agresif yang mereka lakukan
Rekaman video tentang kegiatan suporter saat pertandingan digunakan untuk semakin memperkuat hasil observasi yang sudah ada sehingga data observasi yang sudah ada semakin lengkap dan hasil observasi yang terlewatkan saat di lapangan dapat dicatat sebagai pelengkap hasil observasi.
F. Metode Analisis Data
Analisis data dilakukan berdasarkan isinya (content analysis) atau disebut juga dengan analisis isi (Suryabrata, 1998). Langkah-langkah analisis isi adalah sebagai berikut:
1. Organisasi Data
Analisis data diawali dengan pengorganisasian data sehingga mempermudah proses analisis data berikutnya. Data observasi maupun data wawancara diorganisasikan secara jelas dan sistematis. Data yang disimpan dan diorganisasikan (Poerwandari, 1999) meliputi:
a. Data mentah berupa tabel observasi dan kaset rekaman wawancara.
b. Data-data setelah memperoleh tahap proses awal yaitu data deskripsi observasi dan data transkrip wawancara.
c. Data observasi yang telah melalui tahapan proses pengkodingan dan pengelompokkan data.
d. Data wawancara yang telah diberi kode spesifik dengan penjelasan kode atau pengkategorian.
2. Analisis Data
a. Observasi, (Patton dalam Poerwandari, 1998)
1) Mendeskripsikan tabel observasi secara rinci dan lengkap.
2) Menganalisis data observasi para suporter berdasarkan kode analisis observasi.
3) Menjabarkan perilaku-perilaku agresif ke dalam bentuk perilaku agresif suporter yang lebih nyata dengan membuat kode tiap perilaku dari hasil observasi dan wawancara awal, yang nantinya akan diamati dalam observasi.
Tabel 3 Kode observasi perilaku agresif suporter
memanjat pengusiran intimidasi menolak gosip menggerutu
mt mp up cp ct cPs np nt it ip tp tn Gsp gm gk Gb
keterangan
mt : manjat tiang bendera mp : manjat pagar
up : usir penonton lain yang bukan berbaju merah cp : menghina/mencaci pemain lawan
ct : menghina/mencaci tim lawan cPs : menghina/mencaci pemain PSM
np : memaki dengan nyanyian pada pemain lawan nt : memaki dengan nyanyian pada tim lawan it : menekan tim lawan dengan nyanyian ip : menekan pemain lawan dengan nyanyian tp : menolak memukul drum
tn : menolak menyanyi saat disuruh dirigen
Gsp : membicarakan ketidakpuasan akan kinerja tim PSM gm : menggerutu saat pemainPSM gagal mencetak gol gk : menggerutu saat pemain PSM gagal menguasai bola gb : menggerutu saat pemain PSM bermain buruk
b. Wawancara (Poerwandari, 1998)
1) Menyusun transkrip verbatim kata perkata.
3) Menambahkan dua kolom kosong disamping verbatim untuk kode dan keterangan analisis.
4) Membuat kode analisis wawancara pengasuh. Kode Analisis Wawancara
KM : kegiatan saat menonton pertandingan MP : menghadapi hasil pertandingan TP : tujuan perilaku mereka
TK : terlibat kerusuhan
5) Menuliskan tema atau kata kunci yang mengungkap esensi dari data pada kolom analisis.
6) Mengumpulkan tema atau kategori yang didapat kemudian menganalisis hubungan antar tema dan ketegori tersebut.
3. Intepretasi Data
Intepretasi data merupakan upaya memahami data dengan lebih mendalam (Kvale dalam Poerwandari, 1998). Hasil analisis data observasi dan hasil analisis data wawancara dikaitkan dan dibahas dengan proses pemahaman secara mendalam dan dibantu dengan beberapa hasil dokumentasi berupa rekaman dan foto-foto saat pertandingan, sehingga dapat memberikan gambaran tentang bentuk-bentuk perilaku agresif yang dilakukan oleh para The Macz Man saat mendukung tim PSM bertanding melawan tim lain.
G. Kredibilitas dan Konfirmabilitas Penelitian
1. Kredibilitas.
proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang kompleks (Poerwandari, 2005). Adapun kredibilitas dalam penelitian ini adalah :
a. Konfirmasi (validasi komunikasi)
Tahap ini merupakan tahap dimana hasil wawancara dan analisis wawancara dengan subyek dikonfirmasikan lagi dengan subyek yang bermaksud agar subyek mengetahui dengan jelas hasil wawancaranya dengan peneliti. Penggunaan metode ini diharapkan terbentuknya suatu kepercayaan dari subyek terhadap peneliti bahwa data yang diambil benar seperti yang dia ungkapkan. Penggunaan metode ini pula akan membuat subyek penelitian terbuka untuk menambah atau mengurangi hal-hal yang dianggap kurang atau berlebihan, yang merupakan hasil dari wawancara peneliti dengan subyek yang bersangkutan. b. Natural (validitas ekologis)
Penelitian ini dilakukan dalam keadaan natural atau alami dari subyek atau pertisipan yang akan diteliti. Melalui cara ini pengumpulan informasi sesuai dengan realitas yang ada dan diharapkan data yang diperoleh semakin obyektif. c. Dokumen berupa rekaman video
2. Konfirmabilitas.
Reliabilitas penelitian sangat penting guna mengetahui ketepatan, kesesuaian atau konsistensi alat ukur dalam menggambarkan perilaku agresif para suporter sehingga dapat diandalkan untuk memperoleh gambaran yang sesuai. Adapun reliabilitas penelitian diupayakan dengan cara:
1. Inter-rater reliability
Salah satu cara pencapaian reliabilitas adalah dengan menggunakan jasa observer lain, dengan harapan bahwa hasil observasi yang diperoleh menjadi semakin tepat dan akurat karena pengamatan dilakukan oleh lebih dari satu orang pada waktu yang bersamaan dan dianalisis bersama untuk menemukan suatu kesesuaian atau konsistensi (Irwin dan Bushnell, 1981).
2. Koherensi, keterbukaan dan diskursus.
Dependability digunakan dalam penelitian kualitatif untuk menggantikan istilah reliabilitas. Sarantakos (dalam Poerwandari, 1999) mengungkapkan tentang hal-hal penting untuk meningkatkan dependability, meliputi:
a. Koherensi, yaitu metode yang dipilih memang membantu mencapai tujuan yang diinginkan.
b. Keterbukaan, yaitu peneliti membuka diri dalam memanfaatkan metode yang berbeda untuk mencapai tujuan dengan menuliskan dengan lengkap perencanaan, proses, analisis dan hasil penelitian dengan menggunakan dua metode yang berbeda.
BAB IV
PROSES PENELITIAN,
ANALISIS PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA
Proses Penelitian
1. Prosedur Awal Penelitian
Peneliti pada mulanya mencari tahu keberadaan organisasi suporter The Mac’z Man yang sudah sangat terkenal di Makassar. Kegiatan ini diawali dengan pencarian letak markas besar (selanjutnya disingkat MABES) The Mac’z Man dan setelah bertanya pada beberapa anggota The Mac’z Man maka peneliti sampai pada MABES The Mac’z Man yang berlokasi di jalan Beruang nomor 65, dan juga merupakan pusat penjualan Merchandise atau berbagai atribut yang berhubungan dengan suporter PSM Makassar utamanya The Mac’z Man dan tim PSM Makassar. MABES The Mac’z Man merupakan rumah hunian yang dimodifikasi sebagai tempat berkumpul para suporter dan ruang depannya sebagai tempat penjualan merchandise The Mac’z Man.
Peneliti bermaksud menemui pengurus The Mac’z Man yang ada di MABES, namun kenyataan yang dihadapi oleh peneliti ternyata MABES telah berpindah ke sektor lain yaitu sektor Buakana. Tempat yang disangka oleh peneliti sebagai MABES memang dulunya adalah MABES, tepatnya tahun 2005, dan dari pembicaraan peneliti dengan penunggu rumah itu, ternyata MABES berpindah tiap tahun dari satu sektor ke sektor lainnya. Tempat yang peneliti sangka MABES adalah sekretariat sektor Mamajang.
Buakana merujuk peneliti untuk bertemu langsung dengan Perdana Mentri The Mac’z Man, yang juga berprofesi sebagai fotografer surat kabar lokal, jika ingin meminta keterangan tentang The Mac’z Man dan meminta Izin melakukan penelitian.
Peneliti mendatangi kantor Perdana Mentri The Mac’z Man dan bertemu langsung dengan beliau, mengutarakan tujuan dan disetujui. Segera peneliti membuat janji dengan beliau untuk membahas tentang organisasi The Mac’z Man.
Profesi Perdana Mentri yang merupakan fotografer surat kabar lokal sangat menyibukkan dirinya sehingga beberapa janji yang telah dibuat terpaksa dibatalkan. Setelah beberpa kali pembatalan janji mulai dari janji bertemu dilapangan bola, di Masjid Agung selepas Jum’atan, sampai di kantornya, maka akhirnya peneliti tidak jadi bertemu dengan Perdana Mentri, namun Perdana Mentri sempat memberitahukan situs koran tempatnya bekerja dan mengatakan bahwa profil singkat dan sejarah The Mac’z Man pernah dimuat disana. Penelti segera mengunjungi situs tersebut dan juga tidak mendapatkan apa-apa.
Peneliti lalu bertemu dengan salah satu anggota The Mac’z Man yang menyarankan menemui Daeng Uki’ yang merupakan ketua sektor Mamajang karena menurut anggota tersebut, Daeng Uki’ adalah salah satu pengurus yang bertugas menangani suporter secara langsung saat pertandingan. Peneliti langsung menghubungi Daeng Uki’ di rumahnya yang merupakan sekretariat sektor Mamajang, yang pernah menjadi MABES.
tidak memberitahu bahwa perilaku itu adalah perilaku agresif. Hal ini dilakukan oleh peneliti untuk meminimalisasi bias yang mungkin terjadi. Peneliti disambut baik dan diperkenankan untuk melakukan penelitian. Daeng Uki’ yang merupakan ketua sektor Mamajang ternyata merupakan orang penting dengan berbagai jabatan mulai dari ketua sektor Mamajang, Mentri Usaha dan Bisnis yang diperkenankan membuka satu-satunya outlet merchandise The Mac’z Man, dan terlebih lagi beliau merupakan salah satu dari tiga dirigen yang memandu The Mac’z Man saat mendukung tim PSM di dalam stadion. Berbagai informasi penting tentang suporter utamnya saat di lapangan diperoleh dari Daeng Uki’ dan peneliti bekerja sama dengan beliau selama penelitian ini.
2. The Mac’z Man
The Mac’z Man adalah suatu kelompok suporter pendukung tim PSM Makassar, dimana beranggotakan sekitar tujuh ribu orang dan tersebar pada 63 sektor. Mereka yang tergabung sebagai anggota The Mac’z Man mendapatkan kartu anggota, yang berlaku selama dua tahun, sebagai bukti bahwa mereka adalah anggota resmi The Mac’z Man. Anggota The Mac’z Man berasal dari semua kalangan, dan usia. Mereka terkategori ke dalam tiga kategori yang dipakai dalam kriteria pembentukan sektor. Ketiga kategori tersebut adalah :
a. Umum
b. Siswa
c. Mahasiswa
siswa adalah kelompok kategori yang terbanyak setelah umum dimana anggotanya adalah para remaja dimana usianya antara lima belas sampai delapan belas tahun. Mereka adalah para siswa SMU yang membentuk sektor di sekolah-sekolah mereka, sehingga nama sektor mereka mengikuti nama sekolah mereka. Biasanya sektor-sektor SMU ini disebut dengan sektor pendidikan. Kategori yang terakhir adalah kategori masahasiswa. Sesuai dengan namanya, mereka yang tergabung dalam kategori ini adalah para mahasiswa. Mereka membantuk sektor perguruan tinggi yang mana anggotanya adalah para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Makassar. Berbeda dengan sektor pendidikan, sektor ini tidak dibentuk di perguruan tinggi-perguruan tinggi namun dibentuk hanya di suatu tempat dengan satu sekretariat.
Para suporter yang jumlahnya sangat banyak tersebar pada berbagai sektor dan tiap sektor mempunyai sekretariat sendiri. Sekretariat digunakan sebagai tempat berkumpulnya para suporter yang tergabung sebagai anggota pada sektor itu. Sekretariat juga digunakan sebagai pusat organisasi dan koordinasi para suporter di sektor yang bersangkutan. Untuk mengorganisir anggota secara keseluruhan maka organisasi ini dipusatkan pada suatu tempat dimana para pengurus organisasi berkumpul dan melakukan berbagai pertemuan. Tempat tersebut disebut Markas Besar atau yang biasa disingkat sebagai MABES.