v
RINGKASAN EKSEKUTIF
Perkembangan Makro Ekonomi Regional
Tren perbaikan ekonomi Banten masih terus berlangsung. Perekonomi Banten diperkirakan bertumbuh sebesar 4,79%(y-o-y), terus membaik dibandingkan dengan triwulan-triwulan sebelumnya pada tahun 2009. Dari sisi permintaan, konsumsi yang menjadi kontributor tertinggi perekonomian Banten diperkirakan meningkat. Peningkatan ini diindikasikan dari tingginya aktivitas perdagangan serta tumbuhnya berbagai restoran dan UMKM di Serang, Cilegon dan Tangerang. Selain itu, penjualan kendaraan baru maupun bekas juga relatif meningkat. Diperkirakan konsumsi petani pun meningkat yang tercermin dari meningkatnya daya beli petani dengan naiknya indeks Nilai Tukar Petani (NTP) pada Triwulan III 2009.
Sementara itu, realisasi investasi sendiri hingga Agustus 2009 adalah sekitar Rp 18 triliun dengan penyerapan tenaga kerja dapat mencapai sekitar 25.000 tenaga kerja. Di sisi lain pembiayaan perbankan untuk investasi sedikit menurun, sebagai akibat dari upaya konsolidasi perbankan untuk menekan risiko yang lebih tinggi, sehingga terdapat kecenderungan para pelaku ekonomi lebih banyak menggunakan dana sendiri untuk pembiayaan perusahaan. Perkembangan ekspor maupun impor pada triwulan ini sedikit melambat. Faktor permintaan luar negeri yang masih berfluktuatif ditambah adanya masalah pemberlakuan aturan baru mengenai PNBP ekspor menjadi penyebab tertahannya kinerja ekspor Banten. Masih tersendatnya ekspor kemudian mempengaruhi pula perlambatan impor dengan kondisi sebagian besar produk yang diimpor merupakan bahan baku/penolong.
Di sisi penawaran, hampir semua sektor bertumbuh lebih cepat dibandingkan dengan triwulan lalu kecuali sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta sektor jasa-jasa. Pemulihan ekonomi yang dipicu dari tetap tingginya konsumsi dan investasi mendorong sektor-sektor dominan di Banten mengalami peningkatan terutama sektor industri, perdagangan hotel dan restoran, bangunan/konstruksi, pengangkutan dan komunikasi serta sektor pertanian. Sementara itu tingginya realisasi investasi mendorong percepatan pertumbuhan sektor industri pengolahan.
Perkembangan Inflasi
Inflasi Banten terus membaik hingga akhir Triwulan III 2009. Setelah berada pada level tertinggi sebesar 14,56% (y-o-y) pada akhir Triwulan III 2008, inflasi tahunan Banten terus menurun dan kini berada pada level 3,12% (y-o-y). Deviasinya terhadap inflasi nasional pun terus mengecil menjadi sebesar 0,29% (y-o-y). Pada akhir Triwulan III 2009 seluruhnya mengalami inflasi dengan kecuali kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi sebesar -4,59% (y-o-y). Inflasi tertinggi selama periode laporan adalah pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau dimana pada akhir Triwulan III 2009 berada pada level 10,09% (y-o-y). Jika dilihat per kota, secara tahunan, inflasi Kota Serang cenderung selalu lebih tinggi dibandingkan dengan kedua kota lainnya.
vi
kelompok makanan jadi, minuman rokok dan tembakau menjadi kontributor utama inflasi triwulanan Banten. Kebutuhan bahan pokok Banten yang banyak dipasok dari luar daerah menimbulkan adanya ketergantungan sehingga adanya gangguan ataupun perubahan harga dari daerah pemasok akan menimbulkan efek domino terhadap inflasi Banten. Tidak berbeda dengan inflasi tahunan, Inflasi triwulanan Kota Serang juga merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan dua kota lainnya pada setiap periode, namun untuk beberapa kelompok komoditas tertentu seperti makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau serta kelompok sandang inflasinya jauh lebih tinggi di Tangerang dibandingkan dengan Serang maupun Cilegon.
Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran
Kegiatan intermediasi perbankan di Provinsi Banten masih berlangsung baik hingga triwulan laporan. Pertumbuhan kredit perbankan secara tahunan di Banten pada Triwulan III 2009 melambat namun tetap dapat bertahan pada level yang cukup tinggi di atas 20%. Tren peningkatan angka kredit bermasalah/Non Performing Loans (NPL) menyebabkan perbankan menjadi cenderung lebih selektif dan berhati-hati terutama untuk kredit dengan skala besar dan tingkat pengembalian yang cukup panjang seperti kredit investasi. Di sisi lain, penghimpunan Dana Pihak Ketiga bertumbuh lebih tinggi pada triwulan laporan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Kondisi tersebut kemudian menyebabkan LDR perbankan di Banten sedikit menurun menjadi sebesar 71,11% pada triwulan laporan. Sementara itu rasio NPL perbankan kembali meningkat namun masih berada dalam koridor aman di bawah 5%.
Hingga Triwulan III 2009 penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Banten relatif masih cukup baik meskipun pertumbuhannya tidak sepesat pada awal tahun 2009 dengan nilai Rp 335,51 triliun pada Agustus 2009. Pada aspek sistem pembayaran, seiring dengan membaiknya perekonomian di Banten, transaksi pembayaran non tunai melalui sarana kliring di Provinsi Banten pun menunjukkan peningkatan. Sementara itu berdasarkan data transaksi melalui RTGS, transaksi bisnis yang dilakukan di dalam daerah yang sama baik di Tangerang, Serang, Cilegon, Lebak maupun Pandeglang cenderung menurun pada triwulan ini.
Keuangan Daerah
Hingga Agustus 2009 realisasi pendapatan daerah Provinsi Banten mencapai Rp 1, 51 triliun atau 67,85% dari target pendapatan tahun 2009. Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga pertengahan triwulan laporan relatif melambat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Persentase realisasi pajak daerah yang merupakan komponen terbesar penyumbang PAD tidak secepat tahun sebelumnya, sehingga banyak berimbas pada tertahannya kecepatan realisasi PAD hingga triwulan ini.
vii Kesejahteraan Masyarakat
Berdasarkan berbagai indikator ketenagakerjaan dan kesejahteraan, secara umum kondisi kesejahteraan masyarakat Banten semakin membaik pada Triwulan III 2009. Imbas krisis keuangan global yang kian melemah menyebabkan perbaikan kondisi dunia usaha di Banten secara perlahan berangsur membaik. Dampak ikutannya, kesejahteraan masyarakat pun semakin membaik. Sejumlah indikator seperti tingkat pengangguran, indeks kesengsaraan, Nilai Tukar Petani (NTP) dan beberapa indikator lainnya memberikan sinyal yang positif. Membaiknya tingkat inflasi Banten ditambah menurunnya tingkat pengangguran mendorong peningkatan konsumsi. Namun demikian perlu diperhatikan bahwa kesenjangan ekonomi antar wilayah di Banten perlu mendapatkan prioritas penanganan yang lebih baik meskipun secara umum kondisi kesejahteraan masyarakat Banten membaik.
Outlook Perekonomian dan Inflasi
Perekonomian Banten pada Triwulan IV 2009 diperkirakan akan bertumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan laporan pada kisaran level yang diproyeksikan sebesar
4,97%±0,5% (y-o-y). Perbaikan ekonomi yang terlihat berlangsung sejak Triwulan II 2009
diperkirakan akan terus berlanjut hingga triwulan mendatang. Konsumsi swasta meskipun melambat diperkirakan akan tetap menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi Banten. Sementara investasi diperkirakan akan bertumbuh lebih baik seiring dengan bergeraknya perekonomian pada periode mendatang diindikasikan salah satunya dari ekspektasi kegiatan usaha yang membaik serta adanya progress dari pembangunan salah satu calon investor besar di Banten. Untuk ekspor dan impor, diperkirakan juga akan tumbuh sedikit lebih tinggi pada triwulan mendatang. Walaupun belum stabil karena banyak dipengaruhi oleh kondisi eksternal dan perekonomian negara mitra dagang, perbaikan kinerja ekspor diprediksi membaik seiring bertumbuhnya berbagai sektor perekonomian. Sementara itu impor juga cenderung mengikuti, dengan adanya kondisi membaiknya perekonomian Indonesia yang mendorong permintaan meningkat sehingga kebutuhan bahan baku/penolong meningkat, dan impor pun meningkat.
Di sisi penawaran, membaiknya perekonomian Banten diperkirakan direspon dengan tumbuhnya berbagai sektor. Dari sembilan sektor, diperkirakan beberapa sektor utama seperti sektor industri pengolahan, sektor jasa, sektor konstruksi bertumbuh lebih baik, sementara itu sektor perdagangan yang juga merupakan sektor utama hanya sedikit melambat pada Triwulan IV 2009 seiring dengan perlambatan konsumsi, sedangkan perlambatan di sektor pertanian disebabkan oleh berkurangnya produksi dengan masuknya musim tanam dan berakhirnya masa panen.
Sementara itu inflasi Banten diprakirakan akan dapat mendekati target inflasi nasional tahun
2009 yang ditetapkan pada kisaran 4,5±1% (y-o-y). Cenderung stabilnya ekspektasi
masyarakat terhadap harga-harga dan relatif melambatnya konsumsi diprakirakan akan membantu inflasi Banten terus membaik yang diproyeksikan dapat berada pada kisaran
BAB I Kondisi Makro Ekonomi Regional
Kondisi perekonomian Banten pada Triwulan III 2009 diperkirakan mulai bergerak ke arah perbaikan (rebound) dan diperkirakan akan tumbuh sebesar 4,79% (y-o-y). Dari sisi permintaan, konsumsi yang merupakan kontributor terbesar perekonomian diperkirakan meningkat, begitu pula dengan investasi yang bertumbuh tinggi dan bahkan telah melebihi target tahun 2009. Ekspor dan impor diperkirakan sedikit melemah dengan adanya beberapa hambatan baik dari luar negeri maupun fluktuasi permintaan luar negeri.
Dari sisi penawaran (sektoral) hampir semua sektor mengalami peningkatan pertumbuhan kecuali sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan jasa-jasa. Pemulihan ekonomi yang dipicu dari tetap tingginya konsumsi dan investasi mendorong sektor-sektor dominan di Banten mengalami peningkatan terutama sektor industri, perdagangan hotel dan restoran, bangunan/konstruksi, pengangkutan dan komunikasi serta sektor pertanian.
1.1. SISI PERMINTAAN
Setelah mengalami pertumbuhan ekonomi terendah pada triwulan II 2009 sebesar 4,59%, perekonomian Banten pada triwulan III 2009 telah melewati titik
kritis dan kembali menuju perbaikan (economic rebound) dengan perkiraan angka
pertumbuhan ekonomi sebesar 4,79%. Dari sisi permintaan/pengeluaran, pertumbuhan
ekonomi Banten pada triwulan laporan ditopang dari sisi konsumsi swasta dan investasi. Sementara itu, konsumsi pemerintah, ekspor dan impor cenderung menurun.
Konsumsi swasta pada triwulan laporan sudah mulai kembali meningkat yang didorong oleh faktor musiman, kembali terciptanya lapangan kerja dan tingkat
inflasi yang terkendali. Sementara itu belum tercapainya target realisasi APBD pada
triwulan III 2009 menyebabkan konsumsi pemerintah mengalami sedikit perlambatan. Namun secara umum angka pertumbuhan konsumsi tersebut masih pada level yang relatif cukup tinggi. Oleh sebab itu, konsumsi mampu menahan dan menjadi faktor dominan tetap tingginya angka pertumbuhan ekonomi Banten yang berada di atas ekonomi nasional.
Sejalan dengan itu, investasi meningkat secara signifikan terutama pada sektor industri dan bangunan. Realisasi investasi yang lebih baik hingga triwulan III 2009 di luar perkiraan ini telah melampaui pencapaian target sebelumnya dan mampu
menyokong angka pertumbuhan ekonomi tetap di atas 4,5%. Cara pandang (mindset)
pelaku ekonomi yang tajam telah melihat bahwa imbas krisis tidak akan berlangsung lama. Para investor tetap melakukan langkah upaya investasi di wilayah Banten di tengah menurunnya kondisi perekonomian nasional dan dunia sehingga turut menahan penurunan pertumbuhan ekonomi Banten lebih dalam.
dunia, dapat kembali stabil seperti kondisi sebelumnya pada periode mendatang. Apabila hal ini terjadi, maka angka pertumbuhan ekonomi di Banten akan lebih tinggi dibandingkan triwulan/periode sebelumnya.
Tabel I.1.1 Pertumbuhan Ekonomi Banten-Sisi Permintaan (% y-o-y)
Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III*
Konsumsi Swasta 6,72 6,62 6,65 5,70 6,41 5,40 5,20 5,30 Konsumsi Pemerintah 11,27 3,66 9,68 5,08 7,39 2,28 8,81 6,13
Investasi 5,07 4,87 4,77 3,50 4,54 3,40 3,60 5,00
Ekspor 7,90 8,00 8,10 2,40 6,53 0,15 1,28 -1,48
Impor 8,45 8,20 8,75 1,97 6,76 -0,05 1,50 -1,12
PDRB 6,04 5,88 5,81 5,19 5,73 4,68 4,59 4,79
2008
2008 2009
Banten
* Angka Proyeksi Bank Indonesia Sumber: BPS Banten
1. Konsumsi
Secara umum pertumbuhan konsumsi swasta pada triwulan III 2009 sebesar 5,30% sedikit meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 5,20%. Konsumsi masyarakat Banten relatif stabil dan cenderung meningkat khususnya pada ahir triwulan. Tingginya konsumsi tersebut terlihat dari tingginya aktivitas perdagangan di pasar-pasar tradisional dan modern serta tumbuhnya restoran dan UMKM di Serang, Cilegon, dan Tangerang. Sementara itu konsumsi daerah lainnya seperti Lebak dan Pandeglang relatif stabil. Penjualan kendaraan bermotor bekas juga meningkat menjelang Idul Fitri terutama di Tangerang Selatan dan Kota Tangerang dengan pertumbuhan hingga mencapai 50%.
Tabel I.1.2 Pendaftaran Kendaraan Bermotor Baru di Banten
T w I T w II T w III T w IV T w I T w II T w III*
1 S edan 709 636 890 509 211 197 207 2 J eep 451 495 504 273 98 64 100 3 Minibus 4,877 5,543 6,586 5,050 1,944 1,482 1,786 4 Microbus 75 98 89 76 26 23 21 5 B us 164 21 206 7 26 37 11 6 P ick up 795 1,029 1,249 681 342 240 336 7 T ruck 551 690 758 555 266 219 238 8 Kendaraan Alat B erat - 87 1 2 - - -9 S epeda Motor 65,127 80,864 85,818 63,804 27,642 25,916 28,926
72,749
89,463 96,101 70,957 30,555 28,178 31,625
*) Posisi s.d. Agustus 2009 Sumber: DPKAD Prov. Banten
2009
TOTAL
2008 J enis Kendaraan
B ermotor No.
-50 100 150 200 250 300 350 400
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8
2008 2009
Un
it
Sedan, Sedan Station dan Sejenisnya Jeep dan Sejenisnya
Microbus dan Sejenisnya
Grafik I.1.1. Perkembangan sedan, jeep dan mikrobus baru
Sumber: DPKAD Provinsi Banten, diolah
‐ 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000 35.000
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8
2008 2009
Un
it
Sepeda Motor
Grafik I.1.2. Perkembangan sepeda motor baru
Sumber: DPKAD Provinsi Banten, diolah
-500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8
2008 2009
Un
it
Minibus Dan Sejenisnya
Grafik I.1.3. Perkembangan minibus baru
Sumber: DPKAD Provinsi Banten, diolah
Tingginya konsumsi juga tercermin dari kegiatan gadai barang oleh
masyarakat di berbagai Perum Pegadaian di wilayah Banten. Sepanjang Ramadhan
dan menjelang Idul Fitri tahun ini omzet Perum Pegadaian di Tangerang terus meningkat, dan diperkirakan akan mencapai kenaikan sekitar 40% dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Tabel I.1.3. Indeks Nilai Tukar Petani Provinsi Banten
Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III
NTPP 93,17 92,18 92,63 91,36 91,8 92,34
NTPH 97,42 100,2 96,25 99,89 101,63 105,85
NTPR 114,1 113,59 110,21 112,99 110,29 105,38
NTPPT 106,74 110,3 110,1 104,65 105,28 107,05
NTN 90,1 91,79 93,28 98,27 96,53 99,51
NTP 96,9 97,43 96,65 96,72 97,05 98,26
2009 2008
NTP per Kelompok
Sumber: BPS Provinsi Banten
Peningkatan konsumsi masyarakat didorong oleh kenaikan pendapatan PNS dan pegawai swasta lainnya dengan dibayarkannya Tunjangan Hari Raya Pegawai
serta gaji pegawai pada pertengahan September 2009. Angka Indeks Nilai Tukar Petani
NTP terjadi pada berbagai indeks nilai tukar kelompok petani baik petani padi dan palawija (NTPP), petani holtikultura (NTPH), petani peternak (NTPPT), dan nelayan (NTN), kecuali petani perkebunan (NTPR) yang sedang menghadapi penurunan harga komoditas terutama komoditas kelapa sawit. Hal tersebut mendorong daya beli masyarakat di pedesaan pun meningkat. Peningkatan tersebut turut menambah kemampuan konsumsi masyarakat di wilayah tersebut. Keberpihakan program pemerintah dalam mengembangkan sektor pertanian terutama tanaman pangan mulai dari bantuan benih, pupuk, pestisida, alat dan mesin pertanian, pengairan serta pembinaan melalui petugas penyuluhan lapangan telah terbukti mampu meningkatkan nilai tambah di sektor pertanian. Program pemerintah ini terus perlu menjadi program multiyears agar kesejahteraan petani atau masyarakat di pedesaan tetap terjaga.
-20 -10 0 10 20 30 40 50
Tw I Tw II
Tw III
Tw IV
Tw I Tw II
Tw III
Tw IV
Tw I Tw II
Tw III
Tw IV
Tw I Tw II
Tw III
2006 2007 2008 2009
%
Modal Kerja Investasi Konsumsi
Grafik I. 1.4. Pertumbuhan Kredit per Jenis Penggunaan untuk Lokasi Proyek di Banten
Sumber: Bank Indonesia
Peningkatan konsumsi masyarakat sedikit tertahan dengan sikap kehati-hatian perbankan dalam menyalurkan kreditnya sebagai dampak adanya peningkatan risiko kredit yang tercermin dari rasio NPL kredit konsumsi berdasarkan lokasi
proyek di Banten. Hal ini menyebabkan perbankan di Banten cenderung lebih selektif
dalam menyalurkan kredit. Terlihat dari grafik 1.4. pertumbuhan kredit konsumsi secara tahunan pada triwulan laporan mengalami perlambatan meskipun masih bertumbuh sebesar 10,45%.
-20,0 40,0 60,0 80,0 100,0 120,0 Ja n Fe b Ma r A pr Me i Ju n i Ju li A g t Sep Ok t No v De s Ja n Fe b Ma r Ap r Me i Ju
n Jul
Ag t Se p Ok t No v De s Ja n Fe b Ma r
2007 2008 2009
Inde
k
s
Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja 6 Bulan y.a.d
Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja
Grafik I.1.5. Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja 6 Bulan y.a.d.
Sumber: Survei Konsumen Bank Indonesia, diolah
Dari hasil survei konsumen juga terlihat bahwa ekspektasi konsumen terhadap penghasilannya saat ini (triwulan laporan) menunjukkan rasa optimis akan adanya
peningkatan. Ditambah lagi dengan keyakinan konsumen terhadap kondisi perekonomian
ke depan terutama pasca telah terpilihnya calon pemimpin negara Indonesia untuk masa 5 tahun yang akan datang.
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 2007 2008 2009
Penghasilan saat ini
Penghasilan
saat ini
Indeks
Grafik I.1.6. Indeks Penghasilan Saat Ini
Sumber: Survei Konsumen Bank Indonesia, diolah
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9
2006 2007 2008 2009
Indeks Keyakinan Konsumen
Indeks Keyakinan Konsumen Indeks
Grafik I.1.7. Indeks Keyakinan Konsumen
Sumber: Survei Konsumen Bank Indonesia, diolah
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00 160.00
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 2006 2007 2008 2009
Indeks Ekspektasi Konsumen
Indeks Ekspektasi Konsumen Indeks
Grafik I.1.8. Indeks Ekspektasi Konsumen
Sementara itu, semakin meningkatnya kebutuhan konsumsi, diikuti pula dengan semakin meningkatnya penggunaan bahan bakar minyak terutama
premium bagi kendaraan bermotornya. Dengan mulai beralihnya penggunaan konsumsi
masyarakat dari minyak tanah ke bahan bakar elpiji, konsumsi akan minyak tanah terus menurun. Apalagi harga minyak tanah tidak lagi disubsidi sehingga sulit dijangkau lagi saat ini dimana harga per liternya dapat mencapai level Rp 8.000. Sementara itu konsumsi premium terlihat masih relatif stabil namun kecenderungannya terus meningkat hingga posisi akhir triwulan III 2009.
‐100.00
‐80.00
‐60.00
‐40.00
‐20.00 0.00 20.00 40.00
1 4 7 10 1 4 7 10 1 4 7 10 1 4 7
2006 2007 2008 2009
g.Kons Premium g.Kons Minyak Tanah
% Pertumbuhan Konsumsi BBM Rumah Tangga di Banten
Grafik I.1.9. Pertumbuhan Konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) Rumah Tangga di Banten
Sumber: Pertamina, diolah
Realisasi konsumsi/belanja pemerintah cukup baik dan semakin mendekati target realisasi yang diharapkan semula. Hingga pertengahan Triwulan III 2009, realisasi belanja Pemerintah Provinsi Banten berdasarkan data sementara dari DPKAD Provinsi Banten adalah sebesar Rp 1,78 triliun atau 75,05% dari APBD 2009. Dari hasil prognosis APBD Provinsi Banten, realisasi belanja Pemerintah Provinsi Banten diperkirakan akan mencapai Rp 2,36 triliun atau 99,67% dari target belanja daerah tahun 2009.
2. Investasi
Pertumbuhan pengeluaran investasi pada Triwulan III 2009 diperkirakan mencapai 5,00% (y-o-y) lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 3,60% (y-o-y). Berdasarkan keterangan dari BKPMD Provinsi Banten, pada Agustus 2009 nilai penanaman modal bertambah sebesar Rp 4,5 triliun, sehingga investasi yang terealisasi di Banten mencapai angka sekitar Rp 18 triliun pada
triwulan laporan. Penambahan Investasi sepanjang tahun 2009 tersebut berasal dari 75
Sementara itu, kondisi industri baja nasional semakin membaik, terindikasi dari rencana realisasi 13 perusahaan baja Cina di sub sektor hulu dan hilir mulai
dilakukan pada semester II 2009. Tertundanya rencana realisasi sebelumnya disebabkan
imbas krisis yang dirasakan perbajaan nasional sejak triwulan IV 2008. Ke-13 perusahaan
Cina tersebut akan masuk pada industri pengolahan bijih besi (iron making), billet (bahan
baku long product/baja lonjoran), steel bar, besi beton, baja profil, serta mur dan baut.
Totalnya mencapai USD 404,07 juta di Indonesia. 27,42% rencana realisasi lokasi pabriknya berada di Provinsi Banten atau sebesar USD 110,80 juta.
Tabel I.1.4. Realisasi Investasi 13 Perusahaan Baja Cina di Indonesia Tahun 2009
Nama perusahaan Nilai (USD juta) Lokasi Keterangan
PT. Indobaja Dayatama 38,8 Banten
PT. Jakarta Central Steel 36,6 Jakarta Lokasi di Tangerang Banten
PT. Lautan Steel Indonesia 10,6 Banten
PT. Bajaindo Eraprima 9,5 Jakarta Lokasi di Tangerang Banten
PT. Citra Baru Steel 9,0 Banten
PT. Hwan Lien Steel 4,0 Banten
PT. SMS Steel 2,3 Banten
Total Investasi di Banten 110,80
PT. Mandan Steel 250,0 Kalsel
PT. Putra Baja Deli 15,0 Sumut
PT. Liang Ying Steel 14,1 Jabar
PT. Bina Niaga Multiusaha Jabar
PT. Hua Hing Steel Jabar
PT. Karawang Prima Steel 2,0 Jabar
Total Investasi di Jabar 28,27
Total 404,07
Sumber: Depperin (yang telah dipublikasi oleh Harian Bisnis Indonesia), diolah
Harga bijih besi di pasar internasional pada triwulan III 2009 meningkat 15%
menyusul meningkatnya permintaan komoditas tersebut di pasar global. Peningkatan
investasi di industri baja akan mendorong peningkatan produksi nasional sehingga dapat mengurangi defisit pasokan produk baja di dalam negeri. Saat ini impor bahan baku/penolong cenderung meningkat secara bulanan dibandingkan dengan periode yang sama triwulan sebelumnya. Pada awal bulan Agustus 2009 terdapat 2 perusahaan yang bergerak di bidang elektronik yang akan memproduksi suku cadang kendaraan bermotor. Nilai investasi yang ditanamkan mencapai angka USD 40.000 dan mampu menyerap tenaga kerja sekitar 400 orang.
Konsolidasi kredit yang dilakukan perbankan sebagai upaya menekan risiko kredit yang lebih tinggi, menyebabkan pembiayaan dari perbankan untuk investasi
relatif lebih sulit diperoleh pada triwulan laporan. Kecenderungan ini menyebabkan
para pelaku ekonomi menggunakan dananya sendiri (pemilik/owner) untuk melakukan
‐10.00 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00
Tw I Tw II
Tw III
Tw IV
Tw I Tw II
Tw III
Tw IV
Tw I Tw II
Tw III 2007 2008 2009
Pertumbuhan Kredit Investasi di Banten (% y‐o‐y)
Grafik I.1.11. Pertumbuhan Kredit Investasi di Banten Berdasarkan Lokasi Proyek
Sumber: Bank Indonesia
3. Ekspor dan Impor
Ekspor
Pertumbuhan ekspor pada Triwulan III 2009 diperkirakan mencapai -1,48% (y-o-y). Perlambatan ini disebabkan oleh melambatnya ekspor baik ke luar negeri maupun ke luar daerah Banten. Mengingat angka ekspor nominal Banten ke luar negeri cukup signifikan bahkan mencapai USD 6,80 miliar pada tahun 2008, maka penurunan ekpor ke luar negeri turut mempengaruhi pertumbuhan ekspor PDRB Banten. Diperkirakan pada triwulan ini angkanya akan kembali minus yaitu sebesar -1,48% dari sebelumnya mencapai 1,28%.
Berdasarkan data PEB di Bank Indonesia diperoleh informasi bahwa pada triwulan III 2009 (per posisi Agustus 2009) pertumbuhan ekspor Banten mengalami
sedikit perlambatan dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya. Pada
triwulan III 2009, total nilai ekspor kumulatif Banten adalah USD 3,62 miliar, sedangkan pada posisi yang sama 1 tahun sebelumnya mencapai USD 4,64 miliar atau dengan pertumbuhan tahunan sebesar -30,85% (y-o-y). Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada
triwulan sebelumnya sebesar -21,72% (y-o-y). Apabila dihitung secara point to point pada
bulan yang bersangkutan, maka pertumbuhan negatifnya relatif stabil pada kisaran -20%. Indikator lainnya adalah kegiatan ekspor di beberapa pelabuhan ekspor yang masih menurun seperti Pelabuhan Indah Kiat di Banten. Biasanya dalam kondisi normal, kegiatan ekspor di pelabuhan tersebut dapat mencapai 30 kapal per bulan, tetapi setelah imbas krisis jumlahnya jauh berkurang. Selain itu, arus barang di Pelabuhan Tanjung Priuk juga turut mengalami penurunan hingga 11,06% (y-o-y).
Adanya pemberlakuan aturan baru mengenai pelunasan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) ekspor telah juga menghambat kegiatan ekspor di Tanjung Priok (sementara itu lebih dari 80% ekspor Banten terutama kargo dilakukan melalui
pelabuhan Tanjung Priok). Akibatnya dokumen pemberitahuan ekspor barang (PEB)
eksportir tidak dapat diproses apabila PNBP ekspor belum dilunasi, padahal sebelumnya eksportir diperkenankan melunasi pembayaran PNBP secara berkala yang diakumulasikan setiap bulan atau setelah melakukan kegiatan ekspor.
Economic Outlook-IMF, kondisi pertumbuhan ekonomi negara-negara maju, Asia dan Afrika akan terus menurun hingga akhir tahun 2009 tetapi akan kembali pulih
(rebound) pada triwulan I 2010. Dengan demikian pertumbuhan ekspor kemungkinan
akan tetap berfluktuasi hingga akhir tahun 2009. Kondisi fluktuasi tersebut dapat terlihat pada grafik 1.13. Perkembangan Ekspor dan Impor Banten.
Grafik I.1.12. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Kelompok Negara di Dunia
Sumber : World Economic Outlook April 2009, IMF
-30 -20 -10 0 10 20 30 40 50 60
0 100 200 300 400 500 600 700
12345678910111212345678910111212345678910111212345678
2006 2007 2008 2009
%
Jut
a
U
S
D
Perkembangan Ekspor Banten
Nilai Ekspor (bulanan) Growth (yoy)
Grafik I.1.13. Perkembangan Ekspor Banten
Nampaknya, untuk ekspor barang ke tujuan USA akan menunggu proses yang
lebih lama dibandingkan ke negara Eropa dan Asia. Namun apabila tujuan ekspornya ke
negara–negara Afrika, Eropa Timur dan Amerika Latin (pasar non konvensional) terlihat tidak
terlalu menghadapi kendala. Saat ini, ekspor terbesar Banten ke luar negeri adalah ke negara USA (sekitar 18%), Asia (sekitar 50%) dan Eropa (7%), sehingga belum pulihnya kondisi ekonomi di negara-negara tujuan ekspor tersebut akan menyebabkan belum stabilnya ekspor Banten yang tercermin dari fluktuasi angka pertumbuhan ekspor tetap dibawah 0% (pertumbuhan minus). Diperkirakan pada tahun 2010 kondisinya akan semakin membaik dan akan menolong angka pertumbuhan ekspor menjadi positif kembali.
Dilihat dari pangsa ekspornya, jenis barang yang diekspor ke luar negeri belum
begitu berubah sebagai akibat dampak krisis global. Namun kecenderungannya, jenis
ekspor barang manufaktur, barang tambang, minyak pelumas dan hewan serta makanan terlihat turun lebih besar dibandingkan jenis barang ekspor lainnya. Sebaliknya, yang dan mesin serta perlengkapan alat transportasi meningkat relatif lebih besar.
Tabel I.1.5. Pangsa Ekspor Barang Banten Secara Kumulatif Ke Luar Negeri
2008 2009 (s.d. Triwulan III)
FOOD AND LIVE ANIMALS 4.19 3.07
BEVERAGES AND TOBACCO 0.02 0.02
CRUDE MATERIALS, INEDIBLE 1.89 1.75
MINERAL FUELS,LUBRICANTS ETC 2.04 1.35
ANIMAL & VEGETABLE OILS&FATS 0.68 0.50
CHEMICAL 20.65 19.55
MANUFACTURED GOODS 31.87 28.16
MACHINERY & TRANSPORT EQP 7.84 8.78
MISC. MANUFACTURED ARTICLES 30.81 36.81
COMMODITIES &TRANSACTION NES 0.00 0.00
Total 100.00 100.00
Jenis Barang yang Diekspor (SITC 1 Digit) Pangsa Ekspor Barang Banten Ke Luar Negeri (%)
Sumber: Bank Indonesia, diolah
Impor
Tidak jauh berbeda dengan ekspor Banten, pertumbuhan impor PDRB wilayah ini mengalami penurunan menjadi -1,12 % dari sebelumnya sebesar 1,50% pada
triwulan II 2009. Masih tersendatnya ekspor, mempengaruhi besarnya impor mengingat
-60 -40 -20 0 20 40 60 80 100 120 140 160 0 200 400 600 800 1.000 1.200 1.400 1.600 1.800 12345678910111212345678910111212345678910111212345678
2006 2007 2008 2009
% Ju ta U S D
Perkembangan Impor Banten
Nilai Impor Growth (y-o-y)
Grafik 1.14. Perkembangan Impor Banten (Sumber: Bank Indonesia)
Sumber: Bank Indonesia, diolah
Impor Banten dari luar negeri bertumbuh stabil namun terlihat sedikit
menurun seperti terlihat pada Grafik 1.14. Impor jenis barang modal dan bahan baku
penolong terlihat semakin menurun pada triwulan laporan dibandingkan dengan kondisi triwulan sebelumnya. Penurunan bahan baku penolong terutama terjadi pada jenis bahan makanan dan minuman untuk industri. Semakin tingginya minat investasi pada pembuatan pabrik/industri sejenis dalam beberapa tahun 2009 menjadi suatu hal yang positif bagi perekonomian karena mampu mengurangi impor. Barang impor bahan baku yang menurun lainnya adalah impor barang oli/ pelumas untuk kendaraan bermotor. Di sisi lain, barang impor yang tetap mengalami pertumbuhan positif adalah barang sejenis suku cadang, peralatan transportasi dan asesoris kendaraan seiring meningkatnya kebutuhan kendaran bermotor yang umumnya berasal dari Jepang, Korea, Jerman dan Cina.
(50,00) -50,00 100,00 150,00 200,00 -100 200 300 400 500 600 700 800 900
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8
2008 2009 Jut a U S D %
Impor Barang Modal (USD) Growth (% y-o-y)
Grafik I.1.15. Perkembangan Impor Barang Modal Banten
Sumber: Bank Indonesia
(60.00) (40.00) (20.00) -20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00 160.00 -100 200 300 400 500 600 700 800 900 1,000
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7
2008 2009 Ju ta U S D %
Impor Bahan Baku/Penolong Growth (% y-o-y)
Grafik I.1.16. Perkembangan Impor Bahan Baku/Penolong Banten
Sumber: Bank Indonesia
Sisi menarik dari impor Banten setelah adanya imbas krisis terlihat bahwa impor barang kimia turun secara drastis dan menyebabkan pangsanya semakin
turun dari sebesar 23,47% menjadi 19,03%. Bahkan yang paling signifikan penurunan
RRC (15% dari total impor), Singapura (8%), Jepang (6%), Jerman, (6%), Perancis (6%) dan India (5%).
Tabel I.1.6. Pangsa Impor Secara Kumulatif Barang Banten Ke Luar Negeri
2008 2009 (s.d Trw III)
0 ‐ FOOD AND LIVE ANIMALS 2.95 3.37
1 ‐ BEVERAGES AND TOBACCO 0.00 0.00
2 ‐ CRUDE MATERIALS, INEDIBLE 5.90 3.84
3 ‐ MINERAL FUELS,LUBRICANTS ETC 0.15 0.13
4 ‐ ANIMAL & VEGETABLE OILS&FATS 0.02 0.02
5 ‐ CHEMICAL 23.47 19.03
6 ‐ MANUFACTURED GOODS 14.59 7.77
7 ‐ MACHINERY & TRANSPORT EQP 47.96 62.07
8 ‐ MISC. MANUFACTURED ARTICLES 4.95 3.76
9 ‐ COMMODITIES &TRANSACTION NES 0.00 0.00
BANTEN 100.00 100.00
Jenis Barang Impor Banten Pangsa Impor Banten (%)
Sumber: Bank Indonesia
1.2. SISI PENAWARAN
Dari sisi penawaran, hampir semua sektor mengalami peningkatan pertumbuhan kecuali sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan jasa-jasa. Pemulihan ekonomi yang dipicu dari tetap tingginya konsumsi dan investasi mendorong sektor-sektor dominan di Banten mengalami peningkatan terutama sektor industri, perdagangan hotel dan restoran, bangunan/konstruksi,
pengangkutan dan komunikasi serta sektor pertanian. Sektor industri pun meskipun
belum pulih sepenuhnya pada ekspor barang ke luar negeri, namun ekspor dalam negeri yang tetap stabil juga turut mencatat peningkatan pertumbuhan. Meningkatnya perdagangan kendaraan bermotor baik yang baru maupun bekas, menjamurnya pusat perbelanjaan dan restoran serta semakin tumbuhnya penambahan rumah-rumah baru mampu memulihkan kondisi ekonomi yang sempat terpuruk paling dalam pada Triwulan II 2009. Meskipun mengalami perlambatan ekonomi, sektor keuangan masih mampu tumbuh pada level yang tinggi. Sementara itu sektor lain yang juga tumbuh tinggi adalah sektor pengangkutan dan pertambangan dan penggalian.
Tabel I.2.1. Pertumbuhan Ekonomi Banten -Sisi Penawaran 2008
TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III*
1. P E R T ANIAN 5.62 2.61 3.37 1.39 3.25 5.35 3.58 3.61
2. P E R T AMB ANGAN DAN P E NGGAL IAN 13.08 7.63 12.41 7.50 10.07 9.40 9.79 9.81 3. INDUS T R I P E NGOL AHAN 2.49 2.27 2.28 2.21 2.31 0.89 1.62 1.74 4. L IS T R IK, GAS DAN AIR B E R S IH 3.12 4.57 3.18 7.36 4.57 5.16 2.50 2.65 5. B ANGUNAN/KONT R UKS I 10.63 14.97 7.74 0.33 7.92 13.66 5.61 6.80 6. P E R DAGANGAN,HOT E L DAN R E S T OR AN 13.60 11.96 9.47 9.11 10.95 4.25 6.45 7.06 7. P E NGANGKUT AN DAN KOMUNIKAS I 6.07 6.63 9.46 7.08 7.34 13.63 11.40 11.47 8. KE UANGAN,P E R S E WAAN DAN J AS A P E R US AHAAN 13.57 17.03 17.25 17.72 16.45 18.14 14.58 14.25 9. J AS A – J AS A 7.78 10.97 16.91 13.09 12.35 12.32 8.45 6.80 P DR B DE NGAN MINYAK DAN GAS B UMI 6.04 5.88 5.81 5.19 5.73 4.68 4.59 4.79
*)
Angka sangat sementara prediksi KB I S erang. S umber: B P S P rov insi B anten, diolah
2009
1. Pertanian
Sektor pertanian pada Triwulan III 2009 diperkirakan tumbuh sebesar 3,61% meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Pencapaian produksi dan luas panen tanaman pangan di Banten, berdasarkan ARAM III 2009 secara umum
menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan. Begitu pula dengan kondisi
produktivitasnya, terutama yang dialami tanaman padi, ubi kayu dan jagung yang merupakan komoditi dominan di sektor pertanian. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan di sektor ini pada triwulan ini dapat lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
Tabel I.2.2. Capaian Produksi Tanaman Pangan di Banten
Sumber: Dinas Pertanian Prov. Banten
Sumber: BPS Provinsi Banten
Produksi padi pada triwulan laporan akan mencapai angka 1,86 juta ton
(93,13% dari target tahun 2009). Data ARAM II 2009 sebelumnya, memperkirakan hasil
produksi padi mencapai angka 1,75 juta ton. Komoditi kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan kedelai juga diperkirakan akan mampu mencapai target bahkan diatas target 2009.
Dari rencana tanam, panen dan produksi padi, daerah Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, dan Kota Serang telah mampu
melampaui rencana yang telah ditetapkan. Tetapi yang perlu diwaspadai kedepan
adalah pencapaian realisasi padi di wilayah Kabupaten Pandeglang yang masih dibawah rencana semula, yaitu dari total rencana produksi sebesar 563.326 ton baru dicapai sebesar 517.353 ton. Namun secara total Banten, realisasi jumlah produksi padi sebesar 1,80 juta ton telah melampaui rencana awal sebesar 1,70 juta ton. Oleh sebab itu, akan terjadi surplus padi sekitar 100.000 ton pada tahun 2009.
Tabel I.2.3. Rencana dan Realisasi Komoditi Padi
Sumber: Data Olahan Statistik Pertanian (SP) dari Kabupaten/Kota
1 Padi 2,001,998 1,864,493 93.13
2 Jagung 53,508 27,674 51.72
3 Kedelai 18,560 16,063 86.55
4 Kacang Tanah 20,751 19,877 95.79
5 Kacang Hijau 1,907 1,904 99.84
6 Ubi Kayu 128,477 112,699 87.72
7 Ubi Jalar 57,745 35,805 62.01
No Komoditi Pencapaian
(%) SASARAN
2009
ARAM III 2009
Tanam Panen Produksi Tanam Panen Produksi (Jan-Agust) (Jan-Agust) (Jan-Agust) (Jan-Agust) (Jan-Agust) (Jan-Agust)
Pandeglang 76,923 110,414 563,326 51,907 107,568 517,353
Lebak 48,300 80,635 413,468 44,170 94,139 477,894
Tangerang 51,575 57,861 316,702 42,867 69,813 390,235
Serang 54,140 61,575 331,616 49,582 64,414 335,795
Kt. Serang 12,537 10,368 55,525 7,319 12,619 65,988
Kt. Tangerang 1,170 1,286 7,075 730 1,203 6,407
Kt. Cilegon 1,091 2,914 16,025 1,029 2,173 11,812
BANTEN 245,736 325,054 1,703,737 197,604 351,929 1,805,485
Rencana Realisasi
Kab./Kota
Tabel I.2.4. Perkembangan Produktivitas Tanaman Pangan di Banten
Sumber: Data Olahan Statistik Pertanian (SP) dari Kabupaten/Kota
Sementara itu, total luas lahan yang mengalami kekeringan pada triwulan ini dan pada tahun 2009 jauh lebih rendah daripada kondisi tahun 2008. Hanya 2.149 ha lahan sawah yang mengalami kekeringan pada tahun 2009 dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar 35.771 ha. Begitu pula dengan luas gagal panen yang juga yang jauh lebih rendah, yaitu hanya sebesar 87 ha, dibandingkan dengan sebelumnya mencapai 13.664 ha tahun 2008. Telah terindikasi sejak triwulan III 2009 ini bahwa perkiraan kehilangan produksi padi secara totalhanya berkisar pada jumlah 453 ton.
Tabel I.2.5. Lahan Sawah Yang Mengalami Kekeringan dan Produksi Padi di Banten per tahun
URAIAN 2007 2008 2009
Total luas lahan sawah yang mengalami kekeringan (Ha)
22.065 35.771 2.149
Luas lahan gagal panen (ha) 4.403 13.664 87
Perkiraan kehilangan produksi (ton) 22.441 71.224 453
Sumber: Dinas Pertanian Provinsi Banten
Keberhasilan yang telah dilakukan petani dan pemerintah ini disebabkan oleh kondisi cuaca yang mendukung dan berbagai program pemerintah dalam
rangka meningkatkan kesejahteraan petani. Program tersebut antara lain adalah:
1. Program peningkatan produktivitas melalui pemberian bantuan benih, pupuk, pestisida,
alat dan mesin pertanian, serta perbaikan sarana pengairan sawah melalui gabungan kelompok tani (gapoktan).
2. Program perluasan areal sawah antara lain melalui pencetakan sawah baru, optimalisasi
lahan, jaringan tingkat usaha tani (JITUT), jaringan irigasi desa (JIDES), tata air mikro (TAM), irigasi partisipatif dan program lainnya.
3. Program pengamanan produksi melalui pengendalian OPT dengan memobilisasi petugas
lapangan, mobilisasi petani, penguatan brigade proteksi, penyiapan sarana pengendalian dan pengamanan produksi lainnya.
2005
2006
2007
2008
2009 *)
1 PADI
49.68
50.27
50.90
50.14
50.50
0.42
2 JAGUNG
28.82
29.94
30.76
32.08
32.17
2.80
3 KEDELAI
13.63
13.03
12.84
12.97
13.03
(1.10)
4 KACANG TANAH
13.44
13.04
13.25
13.27
15.24
3.41
5 KACANG HIJAU
9.10
9.09
8.80
8.75
8.38
(2.02)
6 UBI KAYU
138.10
139.84
141.30
139.75
140.94
0.51
7 UBI JALAR
113.46
113.82
116.02
117.17
117.47
0.87
TAHUN
TUMBUH (%)
4. Program kelembagaan dan pembiayaan, antara lain melalui penguatan pembentukan kelompok tani dan gabungan kelompok tani, koperasi tani, dan saprodi. Selain itu memperkuat aparat pertanian sekaligus peningkatan kualitas SDM melalui magang, pelatihan , pendampingan, serta pengawalan teknologi. Tidak kalah pentingnya adalah pembiayaan usaha tani melalui program kemitraan, kredit usaha rakyat (KUR) dan program pembiayaan lainnya.
Dukungan cuaca terlihat dari hasil pengamatan BMKG dari sejak bulan Juli hingga September 2009 yang memperkirakan cuaca cenderung sedikit di bawah normal bahkan cenderung normal pada posisi akhir triwulan III 2009.
Grafik I.2.1. Perkiraan Sifat Hujan Juli – Agustus 09
Sumber: BMKG
Grafik I.2.3 Perkiraan Curah Hujan Sept 09
Sumber: BMKG
Grafik I.2.4. Perkiraan Sifat Hujan Sept 09
Sumber: BMKG
Tabel I.2.6. Program Fasilitasi Penyediaan Pupuk Bersubsidi (Ton)
Sumber: Dinas Pertanian Provinsi Banten
2008 2009 Peningkatan (%)
1 2 2 : 1
Urea 83,500 90,000 7.78 Superphos 15,700 30,000 91.08 ZA 1,450 6,000 313.79 NPK 14,900 30,000 101.34 Organik 19,950 20,950 5.01
Program penyediaan pupuk juga turut berperan dalam keberhasilan produksi
tanam pada periode laporan hingga tahun 2009. Bahkan penggunaan pupuk organik
bersubsidi pun mengalami peningkatan sebesar 5,01%, dimana secara bertahap akan terus diperkenalkan kepada petani agar dalam jangka panjang para petani tersebut semakin memiliki kesadaran menggunakan pupuk organik.
Indikator keberhasilan dalam sektor pertanian tersebut tercermin dari angka indeks nilai tukar petani (NTP) dalam berbagai kelompok mengalami peningkatan. Total indeks NTP Banten meningkat dari 97,05 menjadi 98,26. Hanya kelompok petani perkebunan rakyat yang pada periode ini sedikit mengalami penurunan NTP dari sebesar 110,29 menjadi 105, 38. NTP kelompok petani palawija sendiri pada triwulan laporan mencapai angka tertinggi dibandingkan triwulan sebelumnya pada tahun 2009 menjadi 92,34. Memang bukan sesuatu yang mudah untuk menaikkan angka NTP tersebut di atas 100 apabila program terintegrasi dan anggaran ke sektor ini kurang mencukupi karena fokus pada sektor yang lain.
Ada satu hal yang menarik, pembiayaan perbankan bagi sektor pertanian pada Triwulan III 2009 atau sejak Triwulan I 2009 terus mengalami pertumbuhan yang meningkat dan pada level pertumbuhan yang relatif tinggi dengan angka rasio kredit non lancar yang relatif rendah di saat risiko kredit pada sektor lainnya
meningkat. Hal ini menjadi tambahan indikator bahwa pada tahun 2009, sektor pertanian
telah mengalami berbagai perbaikan. Program KUR yang tersalur hingga Agustus 2009 telah mencapai Rp 335,51 miliar. Sebagian besar selain disalurkan ke sektor perdagangan juga disalurkan ke sektor pertanian sekitar 22% dari total yang disalurkan.
(40,00) (20,00) -20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 -100 200 300 400 500 600 700 Tw -I Tw -I I T w -III T w -I V Tw -I Tw -I I T w -III T w -I V Tw -I Tw -I I T w -III
2007 2008 2009
Rp M il ia r % Kredit Sektor Pertanian
Pertanian Growth (y-o-y)
Grafik I.2.5. Kredit untuk Sektor Pertanian Lokasi Proyek di Banten
Sumber: Bank Indonesia
2. Pertambangan
Sektor pertambangan dan penggalian pada triwulan laporan diperkirakan
akan tumbuh sedikit meningkat menjadi 9,81% dari sebelumnya 9,79%. Peningkatan
terutama didorong oleh makin maraknya pembangunan proyek infrastruktur dan air bersih oleh pemerintah, properti dan pembangunan pusat perbelanjaan oleh swasta di berbagai daerah terutama kota-kota besar di Banten seperti Tangerang, Serang dan Cilegon yang cukup banyak membutuhkan bahan galian seperti pasir dan batu kali.
Pertumbuhan kredit ke sektor ini pun cenderung meningkat secara signifikan
angka rasio kredit non lancar pada sektor ini relatif cukup besar yaitu pada kisaran 9%. Banyaknya proyek menyebabkan para pelaku usaha di sektor ini cenderung mengalami
kesulitan cash flow di saat pembayaran belum mereka terima. Namun diharapkan pada akhir
tahun 2009 rasio NPL tersebut akan semakin menurun seiring pembayaran yang akan diterima. (80,00) (60,00) (40,00) (20,00) -20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 -50 100 150 200 250 Tw -I Tw -I I Tw -I II Tw -I V Tw -I Tw -I I Tw -I II T w -I V Tw -I Tw -I I Tw -I II
2007 2008 2009
Rp M il ia r %
Kredit Sektor Pertambangan
Pertambangan Growth (y-o-y)
Grafik I.2.6. Kredit untuk Sektor Pertambangan Lokasi Proyek di Banten
Sumber: Bank Indonesia, diolah
3. Industri Pengolahan
Banyaknya realisasi investasi di sektor industri pengolahan dan mulai pulihnya sektor industri yang ditandai dari meningkatnya angka kapasitas utilisasi industri di Banten menyebabkan sektor industri tumbuh secara terbatas sebesar 1,74% atau naik dari sebelumnya sebesar 1,62%. Hingga triwulan laporan kapasitas utilitas industri
telah mencapai diatas 60%. Peningkatan terjadi pada industri kimia, refractories, sepatu,
tekstil dan besi baja. Sejalan dengan itu, penggunaan bahan bakar minyak untuk industri terlihat semakin meningkat. Membaiknya industri lokal (di luar Banten) turut menaikkan permintaan barang hasil industri di Banten.
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3
2007 2008 2009
Kapasitas
Utilitas
Industri
Banten
kapasitas utilitas
industri Banten
%
Grafik I.2.7. Grafik kapasitas Utilitas Industri Banten
Sumber: Bank Indonesia, diolah
Peningkatan sektor industri terutama yang terjadi pada sub sektor besi baja juga
didorong oleh penandatanganan perjanjian pinjaman export credit agency (ECA) antara salah
satu perusahaan baja terbesar di Banten dengan 2 bank di Eropa dengan total pinjaman mencapai EUR 38,7 juta. Pinjaman tersebut digunakan untuk membiayai proyek revitalisasi
pabrik hot strip mill untuk meningkatkan operasi. Selain itu, pinjaman ini juga digunakan
untuk membiayai peningkatan produksi hot strip coils sebesar 400.000 ton per tahun
guncangan (shake out) yang ditandai oleh jatuhnya permintaan dan kerugian yang sangat besar industri baja dunia.
Tabel I.2.7.
Uraian 2005 2006 2007 2008
Jumlah Perusahaan (unit) 269 279 287 302
Jumlah tenaga kerja (orang) 74871 76568 79352 84208
Utilisasi (%) 56,3 57,76 60,5 59,8
Total Investasi (Rp triliun) 26,37 29,99 30,99 33,56
Ekspor (USD juta) 1029,0 1752,4 1807,8 2428,1
Impor (USD juta) 4396,8 3747,5 5035,6 10349,3
Sumber: PT. Krakatau Steel dan Depperin, diolah
Profil Industri Baja Nasional 2005‐2008
Pada saat ini jumlah perusahaan baja di Indonesia ada sekitar 302 perusahaan
dengan menyerap sebanyak 84.208 tenaga kerja. Dari sisi permintaan, meskipun
diperkirakan secara keseluruhan konsumsi produk besi dan baja pada tahun 2009 lebih rendah 20% dibandingkan tahun 2008, yaitu dari sekitar 7,5 juta ton menjadi hanya 6 juta ton seiring dengan penurunan daya beli di pasar domestik, para pebisnis baja dalam negeri telah memberi isyarat industri lokal mulai meningkatkan utilisasinya sejak triwulan III 2009 secara bertahap dari sekitar 40% menjadi 90% untuk merespon pasar domestik yang mulai meningkat. Kendala yang mungkin dihadapi adalah sulitnya pasokan baja seiring dengan stok produksi lokal yang mulai menipis.
-9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0
-500.000 1.000.000 1.500.000 2.000.000 2.500.000
Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III
2008 2009
Un
it %
Gol II - V Growth Gol II-IV (% y-o-y)
Grafik I.2.8. Grafik Perkembangan Lalu Lintas Kendaraan Truk, Pick Up dan Alat Berat di Tol Tangerang-Merak
Sumber: Pengelola Tol Tangerang-Merak, diolah
Indikator lainnya terlihat dari lalu lintas kendaraan berat mengangkut hasil industri dari Banten ke luar Banten baik untuk kebutuhan domestik ataupun luar
negeri yang sebagian besar melalui Pelabuhan Tanjung Priuk di Jakarta. Data
(60,00) (40,00) (20,00) -20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00 160,00 -100 200 300 400 500 600 700 800 900 1.000
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7
2008 2009 Ju ta U S D %
Impor Bahan Baku/Penolong Growth (% y-o-y)
Grafik I.2.9. Perkembangan Impor Bahan Baku/Penolong Banten
Sumber: Bank Indonesia, diolah
Pesatnya kembali permintaan pasar domestik belum begitu diimbangi dari permintaan pasar luar negeri, sehingga impor bahan baku penolong dalam rangka
melakukan peningkatan stok belum dilakukan secara maksimal. Akibatnya
pertumbuhan sektor ini hanya bersifat moderat. Hal ini pula yang menyebabkan sektor perbankan belum melakukan ekspansi ke sektor industri yang diasumsikan belum stabil bahkan cenderung melakukan berbagai langkah konsolidasi untuk meminimalkan dampak krisis beberapa waktu sebelumnya. Efek selanjutnya para pelaku industri menghadapi kendala modal kerja dalam memenuhi kebutuhan bahan bakunya sehingga pertumbuhan sektor ini masih terbatas.
(20,00) (10,00) -10,00 20,00 30,00 40,00 -5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 Tw -I Tw -I I Tw -I II Tw -I V Tw -I Tw -I I Tw -I II Tw -I V Tw -I Tw -I I Tw -I II
2007 2008 2009
R p M ili a r %
Kredit Sektor Industri Pengolahan
Industri pengolahan Growth (y-o-y)
Grafik I.2.10. Kredit untuk Sektor Industri Pengolahan Lokasi Proyek di Banten
Sumber: Bank Indonesia, diolah
Membaiknya sektor industri ditandai dengan tingginya realisasi investasi baru
maupun perluasan di Banten. Salah satu perusahaan kimia di Banten telah mendapatkan
izin untuk melakukan investasi perluasan sekitar Rp 1 triliun, sedangkan perusahaan lain yang bergerak pada industri kain ban dan karet buatan mendapat izin realisasi investasi perluasan sekitar Rp 1,83 triliun. Berbagai industri lainnya di Banten saat ini juga sudah mulai meningkatkan kapasitas utilisasinya pada Triwulan III 2009 hingga berada pada kisaran level 60%.
4. Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR)
dapat mencatat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, yaitu pada level 7,06% atau terus mengalami peningkatan sejak awal tahun 2009. Namun apabila dilihat dari indikator penyaluran kredit perbankan ke sektor ini berdasarkan lokasi proyek di Banten (y-o-y), pergerakannya relatif fluktuatif mengikuti musimannya. Namun kecenderungan perbankan menyalurkan kredit juga sangat dipengaruhi oleh risiko bisnis dan kredit yang dihadapinya, sehingga karena rasio kredit bermasalah pada sektor ini cenderung meningkat, maka meskipun permintaan kredit cukup besar, jumlah atau pertumbuhan kredit yang dapat disetujui/direalisasikan masih terbatas.
-5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00 40,00 45,00 50,00 -1.000 2.000 3.000 4.000 5.000 6.000 7.000 8.000 Tw -I Tw -I I T w -III Tw -I V Tw -I Tw -I I T w -III Tw -I V Tw -I Tw -I I T w -III
2007 2008 2009
Rp M
il
ia
r
%
Kredit Sektor Perdagangan
Perdagangan Growth (y-o-y)
Grafik I.2.10. Kredit untuk Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Berdasarkan Lokasi Proyek di Banten
Sumber: Bank Indonesia, diolah
Perdagangan barang elektronik seperti kamera, handycam dan handphone menjelang
Hari Raya Lebaran di mal di wilayah Tangerang mengalami peningkatan sekitar 20%. Sementara itu, penjualan laptop di Kota Serang meningkat hingga 25% dibandingkan kondisi triwulan sebelumnya. Sedangkan perdagangan kebutuhan pokok, makanan dan sandang juga meningkat rata-rata 30% hampir di semua wilayah di Banten. Salah satu mal terbesar di Cilegon menargetkan pendapatan sekitar Rp 1 mliar melalui kegiatan bazaar lebaran.
Sementara itu, tingkat okupansi/hunian hotel mengalami peningkatan menjelang datangnya Bulan Ramadhan dari rata-rata 60%-70% menjadi 80% dari
total kamar yang tersedia. Namun pada saat Bulan Ramadhan biasanya kembali menurun
pada kisaran 50%, namun beberapa hotel melakukan antisipasi dengan berbagai paket yang menarik sehingga tingkat huniannya berhasil dipertahankan pada angka 60%-70%.
5. LGA
Perkembangan sektor ini cenderung sedikit meningkat dengan masih banyaknya proyek-proyek infrastruktur yang dibangun seperti pembangkit listrik
dan jaringan air bersih. Pertumbuhan sektor ini pada triwulan III 2009 akan mencapai
(50,00) -50,00 100,00 150,00 200,00 250,00 -500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 Tw -I Tw -I I T w -III Tw -I V Tw -I Tw -I I T w -III Tw -I V Tw -I Tw -I I T w -III
2007 2008 2009
R p M ilia r % Kredit Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih
Listrik,Gas dan Air Growth (y-o-y)
Grafik I.2.11. Kredit untuk Sektor LGA Lokasi Proyek di banten
Sumber: Bank Indonesia, diolah
6. Pengangkutan dan Komunikasi
Seiring dengan meningkatnya penggunaan sarana transportasi menjelang hingga pasca lebaran usai serta adanya kenaikan tarif baik darat, laut dan udara menyebabkan sektor ini mengalami sedikit pertumbuhan dari sebesar 11,40% menjadi 11,47%. Kenaikan tiket pesawat menjelang lebaran mencapai 40%, sehingga pengguna jasa penerbangan ini tidak sebanyak dari target yang diperkirakan oleh operator penerbangan. Angkutan kereta api dan laut merupakan angkutan yang paling banyak diminati pemudik, karena harganya relatif lebih murah. -10 -8 -6 -4 -2 0 2 4 6 8 10 -1.000.000 2.000.000 3.000.000 4.000.000 5.000.000 6.000.000
Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III
2008 2009
Un
it %
Gol I Gol II - V
Growth Gol. I (% y-o-y) Growth Gol II-IV (% y-o-y)
Grafik I.2.12. Perkembangan Lalu Lintas Kendaraan di Tol Tangerang – Merak
Sumber: Pengelola Tol Tangerang-Merak, diolah
Jumlah angkutan darat dapat didekati dari data pengguna jalan tol Jakarta Merak, dimana pada triwulan III 2009 terlihat adanya sedikit peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya terutama angkutan penumpang atau minibus, sedangkan untuk angkutan kendaraan berat cenderung tumbuh lebih moderat.
-50 100 150 200 250 300 350 400 450 500
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8
2008 2009
Un
it
Bus dan Sejenisnya Pick Up dan Sejenisnya Truck dan Sejenisnya
Grafik I.2.13. Perkembangan Kendaraan bus, truk dan pick-up baru
Sumber: DPKAD Provinsi Banten, diolah
Dari data yang dihimpun DPKAD Provinsi Banten tercatat adanya perkembangan jumlah kendaraan niaga roda empat pada triwulan III 2009
dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan
kendaraan niaga baik individu maupun perusahaan sebagai sarana transportasi dan distribusi. Kondisi meningkatnya realisasi investasi dan pulihnya kondisi perusahaan dan bisnis mendorong sektor angktan turut membaik.
(30,00) (20,00) (10,00) -10,00 20,00 30,00 40,00 -50 100 150 200 250 300 350 400 450 Tw -I Tw -I I Tw -I II Tw -I V Tw -I Tw -I I Tw -I II Tw -I V Tw -I Tw -I I Tw -I II
2007 2008 2009
R p M ilia r % Kredit Sektor Pengangkutan
Pengangkutan Growth (y-o-y)
Grafik I.2.14. Perkembangan Kredit Sektor Pengangkutan Lokasi Proyek di Banten
Sumber: Bank Indonesia, diolah
Kredit yang disalurkan perbankan kepada sektor ini juga mengalami
peningkatan sejak triwulan I 2009 hingga triwulan laporan. Ekspansi tersebut
didukung oleh angka rasio NPL yang relatif rendah (sekitar 5%) dibandingkan rasio NPL kredit untuk sektor produktif lainnya di Banten.
7. Bangunan /Konstruksi
Peningkatan yang cukup pesat di sektor ini terjadi dihampir semua daerah terutama wilayah perkotaan menyebabkan pertumbuhan ekonomi sektor bangunan/konstruksi meningkat cukup signifikan dari sebesar 5,61% pada triwulan II 2009 menjadi sebesar 6,80% pada triwulan ini. Data yang berhasil dihimpun dari para developer yang berada di wilayah Kota Serang, Cilegon dan Tangerang menunjukkan kebanyakan dibangun perumahan dengan segmen menengah ke bawah dengan tipe
bangunan berkisar dari 22 m2
s.d. 57m2
pendukung yang lengkap. Umumnya perumahan tersebut berlokasi di sekitar wilayah Tangerang. Di Kawasan BSD ada sekitar 125 unit dengan tipe luas bangunan paling kecil
140m2
dengan luas tanah terkecil 144m2
dan harga minimal Rp 800 juta pun dengan mudah terjual. Begitu pula yang terjadi di seputar perumahan Bintaro, Alam Sutera, Karawaci dan Kawasan Serpong serta Kota Tangerang.
Selain itu, di Tangerang Selatan, telah dilaksanakan lelang proyek perawatan jalan/infrastruktur yang rusak sebesar Rp 6 miliar. Rekonstruksi jalan Tol Tangerang Merak baru direalisasikan sebesar 10% dari target perbaikan tahun 2009 atau sepanjang 30 km. Pelaksanaan dilakukan secara bertahap hingga tahun 2014 guna menjaga kelancaran para pengguna jalan. Saat ini, konsentrasi perbaikan jalan dilakukan antara ruas Balaraja-Serang. Total rencana rekonstruksi dan pelebaran jalan sepanjang 144,8 km tersebut mengeluarkan dana sebesar Rp 3,5 triliun, Rp 767 miliar untuk rekonstruksi dan Rp 2,7 triliun untuk pelebaran jalan. Sumber dana 75% dari pinjaman perbankan dan 25% bersumber dari modal perusahaan. Kondisi kerusakan jalan tol tersebut saat ini mencapai 30%. Besarnya investasi untuk peningkatan pelayanan jalan tol mendorong pihak pengelola jalan tol mengusulkan kenaikan tarif tol melalui persetujuan pemerintah. Maka pada tanggal 4 September 2009, tarif tol tersebut naik pada kisaran 30% hingga 50% melalui Keputusan Menteri Perhubungan.
Pembangunan ruko, pusat perbelanjaan, pasar modern dan retail di sekitar
perumahan tersebut banyak dibangun dengan progress yang cepat. Dengan
pembangunan akses jalan yang saling terkoneksi, diperkirakan dalam waktu 5 tahun ke depan, wilayah Kabupaten dan Kota Tangerang serta Kota Tangerang Selatan akan semakin terintegrasi dengan DKI Jakarta. Bahkan apabila wilayah Tangerang sudah tidak mampu menampung ekspansi tersebut, maka pemerintah Kabupaten Lebak telah menyiapkan suatu kawasan di Kecamatan Maja sebagai penyangga perumahan. Apalagi dalam waktu dekat akan dibangun jalur kereta api double track dari Jakarta hingga stasiun kereta api Lebak yang melalui Kecamatan Maja. Semakin menjamurnya pembangunan perumahan semakin bayak aktivitas bisnis lainnya yang dapat dipengaruhi dari bertumbuhnya sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor transportasi, listrik, gas dan air bersih hingga ke sektor jasa-jasa.
Pembebasan lahan dengan biaya sekitar Rp 13,4 miliar terus dilakukan untuk segera merealisasikan pembebasan lahan sungai Cilemer dan Bendungan Karian sebagai
penyokong kebutuan air bersih bagi Provinsi Banten dan Jakarta. Pembangunan
(20,00) (10,00) -10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 -500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500 Tw -I Tw -I I T w -III Tw -I V Tw -I Tw -I I T w -III Tw -I V Tw -I Tw -I I T w -III
2007 2008 2009
Rp M il ia r %
Kredit Sektor Konstruksi
Konstruksi Growth (y-o-y)
Grafik I.2.14. Kredit untuk Sektor Konstruksi Lokasi Proyek di banten
Sumber: Bank Indonesia, diolah
8. Sektor Keuangan
Secara umum nilai tambah sektor ini relatif stabil namun sedikit melambat karena dibayang-bayangi oleh kenaikan rasio kredit non lancar/NPL perbankan dengan angka pertumbuhan sebesar 14,58% dari sebelumnya sebesar 14,25%. Angka pertumbuhan ekonomi pada sektor keuangan yang relatif tinggi tersebut disebabkan angka level pertumbuhan kredit perbankannya relatif tetap tinggi meski kondisinya sedang melambat (lihat Bab III tentang perbankan). Perlambatan dapat sedikit tertahan dari meningkatnya masyarakat yang memanfaatkan jasa pegadaian dan koperasi menjelang puasa dan hari raya lebaran. Sebagai contoh omset per hari kantor pegadaian di Cilegon yang meningkat sangat signifikan hingga mencapai 100% dari Rp 100 juta per hari menjadi Rp 200 juta. Barang yang digadaikan kebanyakan berupa emas seperti kalung dan gelang, sedang sisanya berupa barang elektronik seperti TV, telepon selular, laptop dan motor. Kondisi inipun terjadi pada beberapa kantor pegadaian di wilayah lainnya di Banten terutama di Kota Serang dan Tangerang.
Pertumbuhan kredit berdasarkan lokasi proyek yang tersalur di wilayah Banten
terlihat melambat dari 12,05% menjadi 4,78%. Bahkan di Kabupaten Tangerang
-2,57%. Pertumbuhan tertinggi terjadi di wilayah Kabupaten Serang seiring banyaknya realisasi investasi di wilayah ini.
Tabel I.2.8. Kredit Lokasi Proyek di Banten per Kota/Kabupaten
Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III
Kab. Tangerang 30.896.416 32.233.858 33.173.890 32.599.171 31.134.703 31.133.530 0,77 (2,57) Kab. Serang 6.559.578 7.558.797 8.674.808 8.916.462 8.489.568 8.519.998 29,42 22,64 Kab. Pandeglang 1.074.341 1.142.706 1.119.091 1.127.682 1.146.542 1.235.268 6,72 7,61 Kab. Lebak 895.783 1.037.219 844.900 1.055.870 1.140.895 1.186.344 27,36 16,62 Kota Cilegon 3.930.411 5.562.757 7.455.407 6.896.827 6.844.942 5.562.206 74,15 9,08 Kota Tangerang 6.149.689 5.996.906 6.309.404 6.342.599 6.716.813 7.178.989 9,22 16,82
Banten 49.506.218 53.532.243 57.577.500 56.938.611 55.473.463 54.816.335 12,05 4,78
Kota/Kab 2008 2009 Growth Tw II '09 (y-o-y) Growth Tw III '09 (y-o-y)
Sumber: Bank Indonesia, diolah
9. Jasa
Meskipun tetap tumbuh, pada triwulan laporan ini sektor jasa mengalami
perlambatan dari sebelumnya sebesar 8,45% menjadi 6,80%. Pertumbuhan kredit
menurun karena konsumsi masyarakat lebih memprioritaskan pemenuhan untuk kebutuhan primer dan sekunder serta untuk memperkuat modal kerja dan investasi usahanya.
-20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00
-500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500 4.000 4.500 5.000
Tw
-I
Tw
-I
I
Tw
-I
II
Tw
-I
V
Tw
-I
Tw
-I
I
Tw
-I
II
Tw
-I
V
Tw
-I
Tw
-I
I
Tw
-I
II
2007 2008 2009
R
p
M
ilia
r
% Kredit Sektor Jasa
Jasa Dunia Usaha Growth (y-o-y)
Grafik I.2.15 Kredit untuk Sektor Jasa Lokasi Proyek di Banten
PELUANG PENGEMBANGAN DAN PERMASALAHAN
PRODUKSI JAGUNG PIPILAN DENGAN METODE RAPID
RURAL APPRAISAL
Pendahuluan
Provinsi Banten memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan dan merupakan salah satu aset yang baik untuk pengembangan sektor riil. Salah satu potensi yang dapat dikembangkan di Banten adalah potensi komoditas bahan pangan yaitu Jagung. Jagung memiliki dua macam jenis yaitu jagung muda/ jagung manis yang dijadikan bahan pangan dan jagung tua/ jagung pipilan yang merupakan bahan makanan ternak. Apabila diperbandingkan antara Jagung manis dan jagung pipilan, dapat dilihat potensi jagung pipilan lebih besar daripada Jagung manis terutama pada harga, pangsa pasar, tenaga kerja dan sistem panennya (dapat dilihat pada bagan 1).
Tabel 1. Perbandingan produksi Jagung Manis dan Jagung Pipilan
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
Pangsa pasar jagung pipilan dapat dilihat pada jumlah permintaan jagung pipilan sebagai bahan baku pakan ternak di provinsi Banten yang diperkirakan mencapai 1.028.000 ton jagung per tahun. Kebutuhan tersebut untuk memenuhi kebutuhan 13 pabrik pakan ternak yang berlokasi di Provinsi Banten yakni:
1. PT. Bintang Terang Gemilang - Serang
2. PT. Cargil Indonesia - Serang
3. PT. Charoen Pokphand Indonesia - Tangerang
4. PT. Chell Jedang Superfeed - Serang
5. PT. Japfa Comfeed Indonesia - Tangnerang
6. PT. Kerta Mulya Sari Pakan - Serang
7. PT. Satwa Boga Sempurna - Tanngerang
8. PT. Sierad Produce, Tbk - Tangerang
No. Aspek yang dibandingkan Jagung Muda (Jagung Manis)
Jagung Tua(Jagung Pipilan)
1. Umur tanaman 70 hari 105 hari
2. Harga Harga menurun mulai
dari Rp.1.500,- hingga Rp.700,-
Rp.2.000,- s.d Rp.2.400,-
3. Kapasitas Pasar Rau
Kapasitas Pasar Tangerang Kapasitas Pasar Kramat jati
10 Ton/hari 20 Ton/hari 100 Ton/hari
Tidak terbatas Tidak terbatas Tidak terbatas
4. Masa Panen 2-3 kali per tahun 2 kali per tahun
5. Tenaga kerja pipil Tidak ada ada
6. Daya tahan 1-6 hari 3 bulan
7. Kapasitas produksi per hektar 7-10 Ton 7-8 Ton
8. Sistim panen berdasarkan
kemampuan Bandar dan pasar
Tidak bisa dipanen sekaligus
Bisa sekaligus dipanen dan dijual
9. PT. Wonokoyo Jaya Kusuma – Serang
10. PT. Cibadak Indah Sari Farm – Serang
11. PT. Ayam Manggis – Serang
12. PT. New Hope – Tangerang
13. PT. Puri Farming – Serang
Jumlah kebutuhan jagung pipilan yang begitu banyak saat ini belum mampu dipenuhi oleh petani jagung di Provinsi Banten, sehingga kebanyakan pabrik pakan ternak tersebut mengambil Jagung dari daerah lain, seperti PT. Puri Farming yang menerima suplay jagung pipilan dari Provinsi Lampung dan Jawa tengah. Hal ini menjadi ironis karena ditengah pangsa pasar yang tinggi, namun potensi alam belum maksimal diberdayakan untuk memasoknya.
Dalam hal ini Bank Indonesia ikut berperan dalam rangka pemberdayaan sektor riil petani Jagung untuk meningkatkan produksi jagung mereka agar dapat memasok kebutuhan pabrik pakan, sehingga perputaran keuntungan dari penjualan produksi jagung dapat mensejahterakan masyarakat Banten.
Untuk menganalisis permasalahan ini, Bank Indonesia menggunakan metode Rapid Rural Appraisal yaitu suatu cara untuk memahami kondisi masyarakat dan lingkungan perdesaan. Survey difokuskan pada peluang pengembangan dan permasalahan produksi jagung pipilan di desa Sukarame kecamatan Cikeusal kabupaten Serang, sebagai sample survey yang memiliki populasi petani sebanyak 1.337 orang (monografi desa Sukarame, tahun 2005) dengan luas tegalan sebesar 137 hektar (monografi koordinator PPL tahun 2005).
Permasalahan
Petani jagung di Desa Sukarame belum dapat memasok pangsa pasar jagung pipilan sebanyak 7 farming di sekitar desa tersebut yang diperkirakan kebutuhannya mencapai 900 Ton setiap bulannya. Sedangkan produksi jagung pipilan di Desa Sukarame hanya mencapai 220 Ton setiap bulannya. Hal tersebut disebabkan petani di desa ini lebih banyak memproduksi jagung manis yang dapat dilihat pada bagan 2 perbandingan produksi jagung manis dan jagung pipilan. Hal itu dikarenakan masa tanam jagung muda/jagung manis lebih pendek dari pada jagung pipilan (lihat bagan 1)
Tabel 2. Perbandingan produksi jagung manis dan jagung pipilan
Jenis Jagung Produksi Per Bulan Produksi Per tahun
Jagung Muda/ jagung manis
560 Ton 6720 Ton
Jagung Tua / Jagung Pipilan
220 Ton 3400 Ton
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
Provinsi Banten sebanyak 6.000 ton per hari atau sebanyak 1.028.000 ton jagung per tahun.
Permasalahan produksi jagung pipilan cukup banyak, sebagai contohnya adalah permasalahan yang dihadapi oleh Desa Sukarame seperti:
1. Masalah Produktivitas
a. Produksi per satuan hektar masih rendah (antara 4 ton – 4,5 ton jagung
pipilan kering)
b. Kebiasaan petani masih lebih suka memproduksi jagung muda (dikarenakan
jagung muda lebih cepat dijual dan menjadi uang),
c. Dukungan sarana pengairan kurang (belum adanya solusi pengadaan air pada
saat musim kemarau), 2. Masalah Areal Tanam
a. Areal tanam terbatas ( setiap petani rata-rata hanya menggarap lahan seluas
kurang lebih 0,2 – 0,37 hektar),
3. Masalah Pengamanan Produksi
a. Pengamanan produksi yang masih belum optimal, khususnya pada pada
proses pasca panen yakni proses pemipilan dan pengeringan (terkendala dengan tidak adanya mesin pengering/ driyer terutama pada musim tanam I
karena jatuh panen I pada musim hujan di bulan Januari– Februari),
4. Masalah Kelembagaan Pertanian, Dukungan Pembiayaan, Infrastruktur, Jaminan Pasar dan Harga
a. Peran kelembagaan pertanian belum optimal (perlu revitalisasi peran dan
fungsi Koperasi Unit Desa)
b. Dukungan pembiayaan dari sector perbankan kurang (yang ada baru kredit
program antara lain PUAP, dan P4K),
c. Dukungan sarana jalan dan transportasi kurang (jalan yang dilalui sepanjang
desa Sukarame belum semua beraspal, dan jarangnya angkutan transport
d. Belum adanya jaminan pasar, harga jagung tidak stabil, dan system
pembayaran jagung yang menggunakan tempo pembayaran.
Pembahasan
Analisis