• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Proyek Konstruksi - Chapter II (1.035Mb)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Proyek Konstruksi - Chapter II (1.035Mb)"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Proyek Konstruksi

Proyek konstruksi merupakan suatu proyek yang erat kaitannya dengan

pembangunan infrastruktur, termasuk di dalamnya bidang teknik dan arsitektur.

Pembangunan proyek tersebut dapat berjalan mulai dari proses survei sampai

bangunan dapat dioperasikan sesuai tujuan fungsionalnya. Proyek konstruksi

sebenarnya tidak hanya terlihat pada bangunan fisiknya saja, akan tetapi dalam

perencanaan menggunakan sistem rekayasa tertentu yang khusus digunakan dalam

pembangunan tersebut. Oleh karenanya kadang memang hanya melihat struktur

luar bangunan satu dengan bangunan yang lainnya tampak mirip, atau cenderung

sama. Namun hal sebenarnya tetap ada faktor-faktor teknis lain yang

mengharuskan dilakukan perubahan sesuai persyaratan. Walaupun letak yang

berdekatan sekalipun tetap ada persyaratan semisal pengaruh kondisi sekitar atau

parameter kekuatan tanahnya. Dari perbedaan perencanaan bangunan satu dengan

yang lainnya inilah merupakan tantangan yang ada dalam pelaksanaan proyek

konstruksi, hingga pada akhirnya membawa hal baru (Istimawan, 1995: 69-70).

Semula, biaya suatu proyek konstruksi tidak terlalu dipikirkan, yang

penting fisik bangunan dapat diselesaikan, berapapun biayanya, dan baru dapat

diketahui setelah bangunan selesai dilaksanakan. Namun demikian karena

berkembangnya pemikiran manusia, terlebih-lebih menyadari akan keterbatasan

sumber daya yang ada, maka mulailah dikenal apa yang disebut sebagai cost

(2)

2.2 Defenisi Manajemen Konstruksi

Manajemen konstruksi adalah suatu proses manajemen untuk pelaksanaan

konstruksi dalam rangka untuk mencapai sasaran, dalam bentuk produk konstruksi

secara rasional, efisien, dan efektif. Manajemen konstruksi adalah suatu cara

untuk mengelola pelaksanaan proyek dimana tahapan pelaksanaan diperlukan

sebagai satu kesatuan sistem membangun. Manajemen konstruksi adalah suatu

proses pengelolaan pekerjaan pelaksanaan pembangunan fisik yang ditangani

secara multi disiplin dimana tahapan-tahapan persiapan perencanaan perancangan,

pelaksanaan pekerjaan, dan penyerahan pengoperasiannya diperlukan sebagai

suatu sistem yang terpadu dengan tujuan untuk mencapai hasil yang optimal

dalam aspek memperkecil biaya dan mempertahankan kualitas proyek (Tarore dan

Mandagi, 2006).

Manajemen konstruksi terdiri dari dua kata yaitu “Manajemen” dan “Konstruksi”. Menurut Husen (2009), manajemen adalah suatu ilmu pengetahuan

tentang seni memimpin organisasi yang terdiri atas kegiatan perencanaan,

pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian terhadap sumber-sumber daya

terbatas dalam usaha mencapai tujuan dan sasaran yang efektif dan efisien.

Manajemen merupakan proses terpadu dimana individu-individu sebagai

bagian dari organisasi dilibatkan untuk memelihara, mengembangkan,

mengendalikan, dan menjalankan program-program yang kesemuanya diarahkan

pada sasaran yang telah ditetapkan dan berlangsung terus menerus seiring dengan

berjalannya waktu (Dipohusodo, 1996).

Sedangkan proyek adalah upaya yang diorganisasikan untuk mencapai

(3)

serta sumber daya yang tersedia, yang harus diselesaikan dalam jangka waktu

tertentu (Dipohusodo, 1996).

Menurut Husen (2009), proyek adalah gabungan dari sumber-sumber daya

seperti manusia material, peralatan, dan modal/ biaya yang dihimpun dalam suatu

wadah organisasi sementara untuk mencapai sasaran dan tujuan.

Sebuah proyek adalah usaha yang kompleks, tidak rutin, yang dibatasi

oleh waktu, anggaran, sumber daya, dan spesifikasi kinerja yang dirancang untuk

memenuhi kebutuhan pelanggan (Larson, 2006).

2.3 Defenisi Biaya

Biaya adalah semua pengorbanan yang perlu dilakukan untuk suatu proses

produksi, yang dinyatakan dengan satuan uang menurut harga pasar yang berlaku,

baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Biaya terbagi menjadi dua,

yaitu biaya eksplisit dan biaya implisit. Biaya eksplisit adalah biaya yang terlihat

secara fisik, misalnya berupa uang. Sementara itu, yang dimaksud dengan biaya

implisit adalah biaya yang tidak terlihat secara langsung, misalnya biaya

kesempatan dan penyusutan barang modal (http://id.wikipedia.org/wiki/Biaya).

Biaya adalah kewajiban pelaksana proyek, yang harus dibayarkan kepada

pihak-pihak terkait dalam rangka proses pelaksanaan pekerjaan. Dalam hal ini

juga belum berarti bahwa kewajiban tersebut sudah dibayarkan seluruhnya, tetapi

bisa saja baru dibayarkan sebagian atau bahkan seluruhnya, namun telah menjadi

suatu kewajiban dimana suatu saat sesuai perjanjian harus dibayar. Untuk istilah

umum sering digunakan Cost atau pembelian (Ir. Asiyanto, MBA, IPM : 2010). Menurut Supriyono (2000;16), Biaya adalah harga perolehan yang

(4)

yang akan dipakai sebagai pengurang penghasilan. Menurut Henry Simamora

(2002;36), Biaya adalah kas atau nilai setara kas yang dikorbankan untuk barang

atau jasa yang diharapkan memberi manfaat pada saat ini atau di masa mendatang

bagi organisasi.

Menurut Mulyadi (2001;8), Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis

yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi, sedang terjadi atau yang

kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Menurut Masiyah Kholmi, Biaya

adalah pengorbanan sumber daya atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk

mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat di saat sekarang

atau di masa yang akan datang bagi perusahaan.

Menurut Mulyadi (2005:13), Biaya digolongkan sebagai berikut;

1. Menurut Objek Pengeluaran, penggolongan ini merupakan penggolongan

yang paling sederhana, yaitu berdasarkan penjelasan singkat mengenai

suatu objek pengeluaran, misalnya pengeluaran yang berhubungan dengan

telepon disebut “biaya telepon”.

2. Menurut Fungsi Pokok dalam Perusahaan, biaya dapat digolongkan

menjadi 3 kelompok, yaitu: (1). Biaya Produksi, yaitu semua biaya yang

berhubungan dengan fungsi produksi atau kegiatan pengolahan bahan

baku menjadi produk selesai. Biaya produksi dapat digolongkan ke dalam

biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik. (2).

Biaya Pemasaran, adalah biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan

kegiatan pemasaran produk, contohnya biaya iklan, biaya promosi, biaya

sampel, dll. (3). Biaya Administrasi dan Umum, yaitu biaya-biaya untuk

(5)

contohnya gaji bagian akuntansi, gaji personalia, dll.

3. Menurut Hubungan Biaya dengan Sesuatu Yang Dibiayai. Ada 2

golongan, yaitu: (1). Biaya Langsung (direct cost), merupakan biaya yang terjadi dimana penyebab satu-satunya adalah karena ada sesuatu yang

harus dibiayai. Dalam kaitannya dengan produk, biaya langsung terdiri

dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. (2). Biaya Tidak

Langsung (indirect cost), biaya yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai, dalam hubungannya dengan produk, biaya tidak

langsung dikenal dengan biaya overhead pabrik.

4. Menurut Perilaku dalam Kaitannya dengan Perubahan Volume Kegiatan,

biaya dibagi menjadi 4, yaitu (1). Biaya Tetap (fixed cost), biaya yang jumlahnya tetap konstan tidak dipengaruhi perubahan volume kegiatan

atau aktivitas sampai tingkat kegiatan tertentu, contohnya; gaji direktur

produksi. (2). Biaya Variabel (variable cost), biaya yang jumlah totalnya

berubah secara sebanding dengan perubahan volume kegiatan atau

aktivitas, contoh; biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung. (3).

Biaya Semi Variabel, biaya yang jumlah totalnya berubah tidak sebanding

dengan perubahan volume kegiatan. Biaya semi variabel mengandung

unsur biaya tetap dan biaya variabel, contoh; biaya listrik yang digunakan.

(4). Biaya Semi Fixed, biaya yang tetap untuk tingkat volume kegiatan

tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi

tertentu.

5. Menurut Jangka Waktu Manfaatnya, biaya dibagi 2 bagian, yaitu; (1).

(6)

memberikan manfaat/benefit pada periode akuntansi atau pengeluaran

yang akan dapat memberikan manfaat pada periode akuntansi yang akan

datang. (2). Pengeluaran Pendapatan (Revenue Expenditure), pengeluaran yang akan memberikan manfaat hanya pada periode akuntansi dimana

pengeluaran itu terjadi.

2.4 Perencanaan Biaya Proyek

Perencanaan biaya untuk suatu proyek adalah prakiraan keuangan yang

merupakan dasar untuk pengendalian biaya proyek serta aliran kas proyek

tersebut. Pengembangan dari hal tersebut diantaranya adalah fungsi dari

estimasi biaya, anggaran, aliran kas, pengendalian biaya, dan profit proyek

tersebut (Chandra, et al., 2003). Estimasi biaya konstruksi memberikan indikasi

utama yang spesifik dari total biaya proyek konstruksi. Estimasi biaya (cost

estimate) digunakan untuk mencapai suatu harga kontrak sesuai persetujuan antara pemilik proyek dengan kontraktor, menentukan anggaran, dan sekaligus

mengendalikan biaya proyek.

Biaya yang diperlukan untuk suatu proyek dapat mencapai jumlah yang

sangat besar dan tertanam dalam kurun waktu yang cukup lama. Oleh karena

itu perlu dilakukan identifikasi biaya proyek dengan tahapan perencanaan

biaya proyek sebagai berikut :

1. Tahapan pengembangan konseptual, biaya dihitung secara global

berdasarkan informasi desain yang minim. Dipakai perhitungan

berdasarkan unit biaya bangunan berdasarkan harga per kapasitas

tertentu.

(7)

berdasarkan volume pekerjaan dan informasi harga satuan.

3. Tahapan pelelangan, biaya proyek dihitung oleh beberapa kontraktor

agar didapat penawaran terbaik, berdasarkan spesifikasi teknis dan

gambar kerja yang cukup dalam usaha mendapatkan kontrak pekerjaan.

4. Tahapan pelaksanaan, biaya proyek pada tahapan ini dihitung lebih

detail berdasarkan kuantitas pekerjaan, gambar shop drawing dan

metode pelaksanaan dengan ketelitian yang lebih tinggi.

Untuk menentukan biaya suatu unit pekerjaan sebagai bagian dari

kegiatan proyek, dilakukan estimasi biaya (Husen, 2009).

2.5 Estimasi Biaya

Salah satu hal penting dalam pembuatan proposal proyek adalah estimasi

dan penganggaran. Penting karena jika estimasi biaya dilakukan dengan dengan

kurang hati-hati sehingga menghasilkan perkiraan biaya yang terlalu tinggi, maka

akan berakibat perusahaan akan kalah bersaing dengan perusahaan lain yang

menawarkan harga lebih rendah dengan kualitas yang sepadan. Sebaliknya bila

estimasi biaya yang dilakukan ternyata terlalu rendah, maka meski menang dalam

tender namun dalam pelaksanaannya dapat mengalami kesulitan pendanaan yang

dapat berujung pada tidak selesainya proyek dan kehilangan kepercayaan dari

mereka yang memberi proyek.

Estimasi biaya harus sudah dilakukan sejak tahap konsepsi proyek.

Dengan demikian perkiraan biaya proyek dapat dilakukan dengan baik sehingga

menghasilkan estimasi biaya yang akurat. Artinya estimasi biaya tidak terlalu

tinggi yang menyebabkan tidak mampu bersaing dengan perusahaan lain dalam

(8)

namun ujungnya mengalami kesulitan pendanaan karena diangarkan kurang.

Terkadang perkiraan biaya yang rendah dilakukan dengan sengaja untuk maksud

sekedar memenangkan tender. Setelah tender dimenangkan, kemudian dilakukan

negosiasi dengan klien untuk memperbesar nilai proyek. Yang demikian ini

disebut buy in. Praktek seperti ini beresiko dan tidak etis, namun banyak

dilakukan yang berujung pada korupsi.

Perkiraan biaya digunakan untuk menyusun angaran dan menjadi dasar

untuk mengevaluasi performance proyek. Evaluasi dilakukan dengan

embandingkan tingkat pengeluaran aktual dengan tingkat pengeluaran yang

dianggarkan.. Dengan demikian tanpa estimasi yang baik, maka akan menyulitkan

evaluasi yang efektif dan efisien.

Memperkirakan biaya proyek relatif sulit dibanding memperkirakan biaya

untuk kegiatan yang sudah rutin dilakukan. Perkiraan biaya untuk kegiatan rutin

dapat dibuat dengan sekedar menambah y% dari anggaran tahun lalu. Tidak

demikian dengan perkiraan biaya pekerjaan proyek.

Estimasi biaya untuk pekerjaan yang sifatnya renovasi atau adaptasi bisa

didasarkan pada pekerjaan serupa yang pernah dilakukan, akan tatapi untuk

pekerjaan yang bersifat pengembangan dan belum pernah ada pekerjaan serupa di

masa lalu, maka estimasi benar-benar menjadi suatu pekerjaan yang kritikal.

Estimasi biaya memegang peranan penting dalam penyelenggaraan

proyek. Defenisi estimasi biaya, menurut National Estimating Society USA, ialah

seni memperkirakan kemungkinan jumlah biaya yang diperlukan untuk suatu

kegiatan yang didasarkan atas informasi yang tersedia pada waktu itu. Oleh

(9)

proyek dalam tahapan proyek ketika estimasi tersebut dilakukan. Estimasi

dibutuhkan pada saat proses perencanaan, disaat keputusan-keputusan preliminary

mengenai proyek harus ditentukan, kemudian selanjutnya dibutuhkan untuk

tujuan budgetary, lalu estimasi juga dibutuhkan pada tahap development proyek

baik dalam proses desain maupun pembangunan.

Rekayasa pembangunan pada dasarnya merupakan suatu kegiatan yang

berdasarkan analisis dari berbagai aspek untuk mencapai sasaran dan tujuan

tertentu dengan hasil seoptimal mungkin. Aspek itu dapat dikelompokkan menjadi

4 tahapan yaitu (Kodoatie, 1995):

1. Tahapan studi,

2. Tahapan perencanaan,

3. Tahapan pelaksanaan, dan

4. Tahapan operasi dan pemeliharaan.

Manfaat estimasi biaya bagi pihak pihak terkait dalam proyek sebagai berikut :

1.Bagi Pemilik proyek

• Sebagai dasar untuk meyediakan biaya untuk mewujutkan keinginanya

untuk membangun.

• Sebagai dasar untuk menyediakan biaya proyek atau investasi.

• Sebagai dasar untuk menetapkan besarnya biaya bagi jasa perencanaan.

• Sebagai dasar dalam menentukan mengevaluasi biaya penawaran calon

kontraktor yang mengajukan penawaran.

2.Bagi Pihak Konsultan

• Sebagai dasar dalam membuat perencanaan proyek sesuai dengan

(10)

• Sebagai dasar menetapkan perkiraan biaya proyek dalam merealesasikan.

• Sebagai dasar dalam mengevaluasi biaya penawaran oleh calon kontraktor.

3. Bagi Pihak Kontraktor

• Sebagai dasar dalam menetapkan besarnya biaya penawaran dalam

pelelangan.

• Sebagai acuan dalam menetapkan besarnya biaya pelaksanan pekerjaan.

• Sebagai dasar dalam negosiasi dengan sub kontraktor yang akan ikut serta

dalam pelaksanaan pekerjaan.

• Sebagai dasar dalam menetapkan keuntungan.

Pada tahap perencanaan sangat penting untuk memperhatikan perkiraan

biaya untuk membangun proyek karena memiliki fungsi dengan spektrum yang

amat luas bagi masing-masing organisasi peserta proyek dengan penekanannya

yang berbeda-beda. Bagi pemilik, angka yang menunjukkan jumlah perkiraan

biaya akan menjadi salah satu patokan untuk menentukan kelanjutan investasi.

Untuk kontraktor, keuntungan financial yang akan diperoleh tergantung kepada

seberapa jauh kecakapannya membuat perkiraan biaya, bila penawaran harga yang

diajukan terlalu tinggi kemungkinan besar kontraktor yang bersangkutan akan

mengalami kekalahan, sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu

rendah akan mengalami kesulitan di belakang hari. Untuk konsultan, angka

tersebut diajukan kepada pemilik sebagai usulan jumlah biaya terbaik untuk

berbagai kegunaan sesuai perkembangan proyek dan sampai derajat tertentu,

kredibilitasnya terkait dengan kebenaran atau ketepatan angka-angka yang

diusulkan (Soeharto, 1997).

(11)

approximating) kemungkinan jumlah biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan

yang didasarkan atas informasi yang tersedia pada waktu itu (Soeharto, 1997).

Dalam prosesnya, tiap-tiap kategori estimasi harus secara hati-hati

dipersiapkan dari tingkat estimasi konseptual sampai pada estimasi detail untuk

memperoleh keakuratan estimasi biaya konstruksi. Keakuratan estimasi biaya

konstruksi seharusnya meningkat sesuai dengan perubahan proyek, dari

perencanaan, desain hingga estimasi akhir pada saat penyelesaian proyek. Hal ini

bisa diprediksi dari estimasi konseptual yang akan membentuk batasan, dengan

tingkat keakuratannya relatif luas terhadap nilai kontrak proyek konstruksi, karena

tidak semua gambaran desain dan detail disebutkan selama perencanaan awal.

Terdapat bebrapa kategori estimasi biaya, antara lain:

Estimasi Order of Magnitude, digunakan untuk studi kelayakan,

memilih antar alternatif dan menentukan ekonomi dari suatu proyek pada

tahap awal (konseptual).

Estimasi Anggaran, digunakan untuk penganggaran dan persetujuan

pendanaan, serta sebagai dasar pengendalian biaya dasar 

Estimasi Definitif, estimasi detail di mana informasi yang digunakan

melingkupi gambar, spesifikasi, dan harga usulan dari sub-kontraktor dan

supplier.

Estimasi biaya dibedakan menjadi estimasi biaya konseptual dan estimasi

biaya detail. Estimasi biaya konseptual adalah estimasi biaya berdasarkan konsep

bangunan yang akan dibangun. Estimasi biaya konseptual ini bisa disebut juga

sebagai perkiraan biaya pendahuluan. Sebagaimana telah disampaikan

(12)

di mana dalam tahap ini semua aspek yang berkaitan dengan rencana investasi

dikembangkan, dikaji dan disaring untuk sampai pada suatu laporan yang dapat

dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan untuk tahap berikutnya (Soeharto,

1997).

Tuntutan yang harus dipenuhi untuk bisa berlanjutnya rencana investasi

adalah kualitas perkiraan biaya yang berkaitan dengan akurasi estimasi biaya

tersebut. Kualitas suatu estimasi biaya yang berkaitan dengan akurasi dan

kelengkapan unsur-unsurnya tergantung pada hal-hal berikut (Soeharto, 1997) :

1) Tersedianya data dan informasi,

2) Teknik atau metode yang digunakan,

3) Kecakapan dan pengalaman estimator, dan

4) Tujuan pemakaian perkiraan biaya.

Tersedianya data dan informasi memegang peranan penting dalam hal kualitas

perkiraan biaya yang dihasilkan. Hal ini juga memerlukan kecakapan, pengalaman

serta judgement dari estimator dan tergantung pula dengan metode perkiraan

biaya yang dipakai.

Menurut American Association of Cost Engineering (AACE), Estimasi

biaya perlu dibedakan atau diklasifikasikan, sesuai dengan tingkatan definisi

proyek itu sendiri. Yang nantinya pengkalsifikasian itu bertujuan untuk:

a. Sebagai guidelines untuk memudahkan dalam menyediakan dasar sebagai

bahan perbandingan dan mengkorelasikan karakteristik utama yang umum

dipakai dalam pengklaisifikasian estimasi biaya.

b. Menggunakan tingkatan defenisi proyek sebagai karakteristik dominan

(13)

c. Meningkatkan komunikasi antara seluruh stakeholder yang terlibat dalam

proses persiapan, eveluasi, serta mencegah mis-interprestasi estimasi biaya

atas kesalahan penafsiran atau kesalahan penggunaan estimasi.

Oleh karena itu pada sub-bab ini akan dijelaskan pengertian dan desktipsi

mengenai estimasi biaya proyek secara lebih mendetail, berilut dengan jenis-jenis

estimasi biaya menurut tahapan dalam siklus proyek, dilanjutkan dengan tingkat

keakurasian masing-masing tahap estimasi, beserta metode yang umum digunakan

untuk menghitung estimasi biaya proyek.

2.5.1. Estimasi Biaya Proyek Konstruksi

Menurut L.R Dysert, estimasi biaya merupakan prediksi biaya-biaya yang

mungkin terjadi dari suatu proyek dengan ruang lingkup yang sudah diberikan, di

mana proyek harus diselesaikan di lokasi yang telah ditentukan dan waktu yang

telah ditetapkan. Menurut National Estimating Society (USA), estimasi biaya ialah

pekerjaan analisa biaya yang menyangkut pengkajian biaya kegiatan-kegiatan

proyek terdahulu yang akan dipakai sebagai bahan untuk menyusun cost.

Di dalam dunia konstruksi, estimasi biaya adalah bagian yang sangant

penting. Estimasi biaya digunakan oleh konsultan untuk menyusun budget bagi

klien/owner, yang kemudian akan digunakan sebagai bench mark. Estimasi juga

digunakan untuk alasan monetary, bagi dasar perhitungan kebutuhan finding

kepada institusi finansial. Selain itu estimasi biaya digunakan oleh kontraktor

dalam antisipasi memenangkan kontrak proyek (bid estimate). Jika proyek

berlanjut, estimasi juga dibuat untuk menghitung actual budget yang mana akan

digunakan sebagai salah satu management tool proyek.

(14)

menurut Pratt, ialah:

a. Untuk melihat apakah perkiraan biaya konstruksi dapat terpenuhi oleh

biaya yang ada.

b. Untuk mengatur aliran dana ketika pelaksanaan konstruksi sedang

berjalan.

c. Untuk kompetensi pada saat proses penawaran. Estimasi biaya

berdasarkan spesifikasi dan gambar kerja yang disiapkan owner, harus

menjamin bahwa pekerjaan akan terlaksana dengan tepat dan kontraktor

dapat menerima keuntungan yang layak.

Estimasi biaya merupakan area dari kegiatan engineering dimana pengalaman dan perimbangan teknis dipakai dalam pengaplikasian ilmu

pengetahuan khususnya masalah perkiraan biaya dan pengendalian biaya.

Estimator harus mengetahui alur dan proses proyek secara spesifik, untuk

mempersiapkan tipe estimasi yang akan dilakukan secara tepat. Langkah berikut

ialah mengerti bagaimana proses proyek yang akan dibangun atau metode

pembangunannya. Dari mulai preliminary, engineering desain, sampai pengadaan, hingga tahap konstruksi, lalu start-up dan close-up. Hal tersebut ialah kunci dari

estimasi biaya suatu proyek yang sukses.

Menurut Barrie dan Paulson, keakuratan estimasi biaya tahap konseptual

dipengaruhi langsung oleh keahlian dan pengalaman estimator dalam menganalisa

rencana proyek yang minim akan informasi dan data. Tingkat akurasi dalam

estimasi biaya merupakan hal yang penting terutama pada tahap awal estimasi.

Tingkat akurasi merupakan suatu tingkatan dari pengukuran atau perhitunga yang

(15)

merupakan suatu indikasi dari tingkatan perkiraan biaya terhadap realisasi biaya

proyek yang dikeluarkan pada saat proyek selesai.

Menurut Dan E. Schottlander, mengapa estimasi yang akurat itu penting

karena tanpa keakurata, pembuatan keputusan yang efektif hanyalah sebuah

kompromi. Oleh karena itu, diperlukan persiapan bagi pencapaian perhitungan

estimasi biaya yang akurat, sebagai berikut: menganalisa pekerjaan, mereview

dokumen, mengetahui lingkup pekerjaan, mengunjungi site proyek, mengerti

metode konstruksi yang akan dipakai, membuat perkiraan layout, engineering

check (gambar teknik, pricing bahan, dan lain-lain), membuat jadwal pembuatan

estimasi, mengetahui sub kontraktor dan vendor, mengetahui faktor resiko,

allowance, porsi pricing, dan mark up.

2.5.2. Jenis-Jenis Estimasi Biaya Proyek

Estimasi biaya dilakukan beberapa kali selama perencanaan maupun saat

proyek berlangsung. Estimasi pada tiap tahap, yang akan mempengaruhi performa

estimasi tahap berikutnya. Pada tahap pertama, Estimasi biaya dipergunakan

untuk mengetahui berapa besar biaya yang diperlukan untuk membangun proyek

atau investasi, selanjutnya estimasi biaya berkembang, yaitu memiliki fungsi

dengan spektrum yang amat luas dalam merencanakan dan mengendalikan sumber

daya seperti material, tenaga kerja, pelayanan, maupun waktu.

a. Estimasi untuk Konstruksi

Ini merupakan perhitungan biaya berdasarkan set lengkap dari dokumen

kontrak. Estimasi untuk konstruksi dapat dibuat berdasarkan biaya

rata-rata historis atau dengan bendata pekerja serta pekerjaan dan menghitung

(16)

Seperti contohnya, konstruksi tipe gedung dan perumahan lebih banyak

menggunakan data historis untuk perhitungannya, sementara konstruksi

jalan raya biasanya mengacu pada produktivitas pekerjaan. Dalam tahap

ini , ekspetasi akurasi ialah ± 5%.

b. Estimasi untuk Change Order

Estimasi ini dilakukan pada saat proyek telah berjalan yang diakibatkan

oleh perubahan pekerjaan yang diminta oleh Owner pada proyek. Untuk

tiap-tiap tahapan estimasi tersebut tingkat keakurasian bergantung pada

ketersediaan informasi, sehingga keakurasian bertambah sesuai dengan

tingkatan tahapan proyek. Seperti pendapat Jamshid Sodikov, keakurasian

estimasi biaya meningkat seiring dengan berjalannya tahapan proyek yang

diakibatkan oleh bertambah detailnya informasi yang tersedia.

2.5.3. Metode Metode Estimasi Biaya Proyek

Untuk melakukan estimasi biaya terdapat beberapa cara atau metode,

sesuai dengan informasi yang tersedia atau tahapan konstruksi. Menurut Michael

D. Dell’Isola, metode estimasi biaya dapat dibagi menjadi empat kategori utama.

Penjelasan akan masing-masing metode yaitu sebagai berikut:

a. Metode Harga Unit Satuan

Metode harga unit satuan dapat juga dikategorikan menjadi pembagian

empat kategori utama:

a) Metode Akomodasi

Metode ini pada dasarnya merupakan metode dengan perhitungan

kalkulasi dari biaya yang diperlukan dalam membangun suatu

(17)

contohnya, estimasi biaya untuk sebuah tempat parkir. Perhitungan

tersebut dapat didasarkan pada unit price luas parkir bagi tiap unit

mobil yang kemudian dikalikan dengan kapasitas unit mobil yang

tersedia pada tempat parkir tersebut.

b) Metode Meter Kubik

Metode ini tidak biasa digunakan pada sistem estimasi biaya, kecuali

untuk konstruksi yang identik dengan volume, seperti misalnya gudang

penyimpanan. Berdasarkan sifat dari pengukurannya, metode meter

kubik akan bersifat sensitif terhadap volume dari konstruksi dan varian

yang mempengaruhinya. Negara-negara Eropa seperti Jerman sangat

sering menggunakan metode ini sebagai perhitungan biaya konstruksi.

Metode ini dapat juga efektif, namun cenderung rancu saat digunakan

pada konstruksi umum.

c) Metode Meter Persegi

Metode biaya per meter persegi merupakan metode yang paling sering

digunakan di Amerika. Area fungsional ditentukan sesuai dengan

ruang dengan masing-masing kegunaannya pada suatu bangunan;

misalnya, pada sekolah, area fungsionalmya antara lain ruang kelas,

kafetaria, gymnasium, dan lain-lain. Kelebihan metode ini dari metode

meter persegi ialah variasinya terletak pada ruang sehingga estimasi

dapat lebih sesuai.

b. Metode Cost-Modelling dan Parametrik

Metode ini mengutilisasi model yang telah terdeterminasi dari proyek

(18)

akan dibangun. Pendekatan ini biasanya diaplikasikan pada proyek yang

berulang dengan tipe yang serupa atau mirip lalu mereplikasi analisa

teoritis dan expectation-nya pada proyek yang diinginkan. Pada prosesnya fasilitas statistik dapat dimanfaatkan sebagai alat prediksi dan asesmen

cost terutama pada sistem konstruksi yang rumit, seperti piping atau proses komponen. Namun pendekatan ini memiliki aplikasi yang paling sedikit di

dunia konstruksi.

c. Analisa Biaya Sistem/Elemental

Sistem ini Menjembatani pendekatan estimasi biaya pada tahap konseptual

yang telah sebelumnya dengan estimasi quantity survey-based. Konsep

dasar dari estimasi dengan pendekatan ini ialah dengan merinci konstruksi

hingga komponen elemental, biasanya dengan basis UNIFORMAT. Saat

informasi mengenai desain sangat terbatas, merupakan hal yang pernting

untuk bekerjasama dengan desainer, dalam membuat asumsi untuk

menjadi basis estimasi. Data historis dari konstruksi setipe dapat

digunakan sebagai basis estimasi menurut komponen atau elemen

bangunannya. Langkah estimasi dengan metode ini ialah menyiapkan

format elemental untuk suatu tipe konstruksi spesifik. Kemudian dapat

dilakukan mekanisme pengkombinasian, seperti misalnya digunakan cost

dari data historis untuk komponen bangunan tertentu, yang kemudian

dikombinasikan dengan perhitungan biaya menurut sistem atau asembli

bagian konstruksi tertentu, dan analisa biaya detail untuk bagian

(19)

d. Metode Survey Kuantitas

Metode survey kuantitas biasanya digunakan saat detail desain secara

terinci tersedia dan estimastor diharuskan untuk menghitung cost

keseluruhan proyek atau paling tidak komponen utamanya. Pricing dapat

terdiri dari unit price seluruh bangunan, atau juga termasuk labor, material

dan alat. Tingkatan dari detail estimasi adalah individual unit pada tiap

pekerjaan, agar dapat diketahui bagaimana pekerjaan akan dilangsungkan.

2.6 Penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB)

Pengertian Biaya Proyek dan Definisi RAB Secara umum biaya dalam

suatu proyek dapat digolongkan menjadi:

1. Biaya Tetap (Modal Tetap/Fixed Capital) Merupakan bagian dari biaya proyek yang digunakan untuk menghasilkan produk yang diinginkan,

mulai dari studi kelayakan sampai atauinstalasi suatu proyek/pekerjaan

berjalan penuh. Dalam hal ini biaya tetap sendiri dibedakan menjadi dua,

yaitu:

a. Biaya Langsung (Direct Cost), yaitu himpunan pengeluaran untuk

tenaga kerja, bahan, alat-alat dan sub kontraktor. Apabila waktu

(duration) dipercepat, maka pada umumnya biaya langsung secara

total akan semakin tinggi.

b. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost), yaitu himpunan pengeluaran

untuk overhead, pengawasan resiko-resiko dan lain-lain. Apabila

waktu (duration) diperlambat, maka biaya tidak langsungnya akan

semakin tinggi.

(20)

digunakan untuk menutupi kebutuhan pada tahap awal operasi. Total biaya

yang dikeluarkan pada suatu proyek dapat dilihat pada bagan sebagai

berikut :

Gambar 2.1Klasifikasi Perkiraan Biaya Proyek (Imam Soeharto, 1995)

Dari uraian tersebut dapat digunakan untuk mendefinisikan tentang

pengertian Rencana Anggaran Biaya (RAB) tersebut. Dilihat dari asal katanya

yaitu :

Rencana, adalah himpunan planning, termasuk detail/penjelasan dan tata cara pelaksanaan pembuatan sebuah bangunan, terdiri dari : bestek dan gambar bestek.

Anggaran, adalah perkiraan/perhitungan biaya suatu bangunan berdasarkan bestek dan gambar bestek.

Biaya, adalah besar pengeluaran yang berhubungan dengan borongan yang tercantum dalam persyaratan-persyaratan yang terlampir.

Jadi Rencana Anggaran Belanja meliputi :

• Perencanaan bentuk bangunan yang memenuhi syarat

• Perkiraan terhadap biaya yang diperlukan

• Penyusunan tata cara pelaksanaan teknis dan administrasi Tujuan

Total Biaya Proyek

Modal Tetap (Fixed Capital)

Modal Kerja (Working Capital)

Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost) Biaya Langsung

(21)

pembuatan

Rencana Anggaran Belanja (RAB) adalah untuk memberikan gambaran yang

pasti mengenai: bentuk/konstruksi, besar biaya dan pelaksanaan serta

penyelesaian.

Berdasarkan pada proses perkembangan proyek dari mulai gagasan/ide sampai

proyek diserahkan dari kontraktor ke pemilik, Rencana Anggaran Biaya dibagi

dalam 4 jenis, yaitu:

1. Rencana Anggaran Biaya Kasar (Taksiran) Untuk Pemilik

Rencana Anggaran Biaya dibutuhkan oleh pemilik untuk memutuskan

akan melaksanakan ide/gagasan untuk membangun proyek atau tidak

(biasanya masih dibantu dengan Studi Kelayakan Proyeek). Rencana

Anggaran Biaya kasar ini juga dipakai ssbagai pedoman terhadap anggaran

biaya yang dihitung secara teliti. Rencana Anggaran Biaya ini dibuat

masih kasar/global sekali dan biasanya dihitung berdasarkan harga satuan

tiap meter persegi luas lantai atau dengan cara yang lain.

2. Rencana Anggaran Biaya Pendahuluan Oleh Konsultan Perencana

Perhitungan anggaran biaya ini dilakukan setelah gambar rencana (desain)

selesai dibuat oleh konsultan perencana. Perhitungan anggaran biaya ini

lebih teliti dan cermat sesuai ketentuan dan syarat-syarat penyusunan

anggaran biaya.

Penyusunan anggaran biaya ini didasarkan pada:

a. Gambar Bestek

Gunanya untuk menentukan/menghitung besarnya volume

(22)

b. Bestek atau Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)

Gunanya untuk menentukan spesifikasi bahan dan syarat-syarat teknis.

c. Harga Satuan Pekerjaan

Dihitung dari harga satuan bahan dan harga satuan upah berdasarkan

perhitungaan analisa BOW.

3. Rencana Anggaran Biaya Detail Oleh Kontraktor

Anggaran biaya ini dibuat oleh kontraktor setelah melihat desain konsultan

perencana (gambar bestek dan RKS) dan pembuatannya lebih terperinci

dan teliti karena sudah memperhitungkan segala kemungkinan (melihat

medan, mempertimbangkan meetode-meetode pelaksanaan, dsb). Rencana

Anggaran Biaya ini kemudian dijabarkan dalam bentuk penawaran oleh

kontraktor pada waktu pelelangan, dan menjadi harga yang pasti (fixed

prrice) bagi pemilik setelah salah satu rekanan ditunjuk sebagai pemenang dan Surat Perjanjian Kerja (SPK) telah ditandatangani.

4. Anggaran Biaya Sesungguhnya (Real Cost) Setelah Proyek Selesai

Bagi pemilik fixed price yang tercantum dalam kontrak adalah yang

terakhir, kecuali dalam pelaksanaan terjadi penambahan dan pengurangan

(meer and minder work). Bagi kontraktor nilai tersebut adalah penerimaan yang pasti, sedangkan pengeluaran yang sesungguhnya (Real Cost) yaitu

segala yang kontraktor keluarkan untuk menyelesaikan proyek tersebut.

Besarnya real cost tersebut hanya diketahui oleh kontraktor sendiri.

(23)

2.6.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perhitungan RAB

Pemilihan tarif yang tepat untuk estimasi tender tergantung pada banyak

faktor. Beberapa di antaranya dapat disesuaikan secara objektif, tetapi

tidak banyak keadaan hanya pengalaman dan perassaan atas proyek terebut

yang dapat membantu penentuan tarif yang tepaat.

1. Kondisi Pasar

Ketika menyiapkan estimasi, tarif dan harga yang dipakai biasanya

akan diperoleh dari proyek-proyek sebelumnya atau data biaya historis.

Akan tetapi estimasi pendekatan merupakan perkiraan harga tender

pada waktu tertentu di masa mendatang. Karenanya sangatlah perlu

untuk memperbarui harga-harga tersebut dengan menggunakan indeks

harga tender sehingga sesuai dengan tingkat harga sekarang. Selain itu

perlu pula untuk memasukkan peningkatan biaya buruh dan material

yang telah diumumkan tetapi belum dilaksanakan. Kelonggaran juga

pasti diberikan untuk memperhitungkan perubahan kondisi kontrak,

tipe owner, tersedianya buruh, beban kerja dan sebagainya serta naik

turunnya dunia industri.

2. Desain Ekonomi

Tarif dari proyek lama adalah ditetapkan berdasarkan standar kualitas

tertentu. Jika standar ini dinaikkan atau diturunkan maka diperlukan

adanya perubahan dalam tarif estimasi yang diajukan. Mungkin perlu

pula melakukan penyesuaian berdasarkan perkiraan atas peningkatan

standar kualitas, dengan menunjukkan keseluruhan perubahan.

(24)

memilih kualitas lapisan luar dinding bata yang lebih baik, maka tarif

estimasinya dapat disesuaiakan lebih ojektif.

3. Sarana-sarana Teknis

Masalah ini menimbulkan suatu peningkatan proporsi yang cukup

besar antara tapak-tapak bangunan. Pentingnya biaya ini menghendaki

agar peninjauannya terpisah dari komponen biaya bangunan lainnya.

Pada rencana proyek yang besar, Quantity Surveyor ahli pasti dipakai untuk memberikan pedoman terutama pada tahap estimasi perkiraan.

Sebagai contoh penyediaan alat pendingin udara (AC) dapat

meningkatkan biaya proyek yang cukup besar.

4. Pekerjaan Eksternal

Akibat sering terjadinya perbedaan yang cukup besar antara

tapak-tapak bangunan, maka terdapat hubungan biaya antara elemen

peekerjaan eksternal dengan bangunan sesungguhnya. Karenanya

umumnya perlulah mencakup biaya-biaya itu sebagai komponen

tersendiri dalam estimasi. Ukuran tapak atau lokasi dan pekerjaan yang

harus dilaksanakan merupakan faktor penting yang harus

dipertimbangkan.

5. Kealpaan

Usulan estimasi biaya harus secara jelas memperlihatkan apa saja yang

telah dicakup, melalui spesifikasi, dan apa saja yang tidak tercakup.

Owner mungkin dapat memaklumi atas pengasumsian bahwa estimasi satu juta telah mencakup semua pengeluarannya bagi proyek tersebut.

(25)

bahwa beberapa kelompok pengeluarannya luput ditinjau. Contoh

nyataa dari kealpaan ini antara lain: fee professional dan ongkos-ongkos lain, VAT (Value Added Tax, pajak pertambahan nilai), biaya

lahan, tagihan bunga, perabot kecil-kecil dan komponen-komponen

peralatan khusus yang mungkin dibutuhkan untuk bengkel atau

laboratorium.

6. Harga dan Resiko Desain

Estimasi disusun berdasarkan kombinasi tiga faktor yaitu: kualitas,

kuantitas dan harga. Dua hal pertama dari komponen ini menyangkut

teentang desain, yang selalu mengalami perubahan hingga penanda

tangan kontrak. Desain selanjutnya akan mempengaruhi metode

konstruksi yang dipakai oleh kontraktor. Pada permulaan skema suatu

desain akan digambarkan oleh sketsa denah dan elevasi, dan karena

kebutuhan, sketsa-sketsa ini akan lebih diperinci selama proses desain.

Proses ini dapat berdampak penting terhadap biaya konstruksi. Resiko

biaya yang berkaitan dengan desain akan lebih banyak terjadi pada

tahap permulaan dari pada tahap tender. Oleh karenanya persentase

yang lebih besar harus ditambahkan untuk menutup resiko desain pada

tahap permulaan, dari pada dalam tahap selanjutnya selama proses

desain terjadi.

2.7 Analisa Harga Satuan

Menurut Allan Ashworth (1988), analisa harga satuan pekerjaan

merupakan nilai biaya material dan upah tenaga kerja untuk menyelesaikan satu

(26)

suatu koefisien/indeks pengali untuk material dan upah tenaga kerja per satu

satuan pekerjaan. Harga bahan yang diperoleh di pasaran, dikumpulkan dalam

satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Bahan. Setiap bahan atau material

mempunyai jenis dan kualitas tersendiri. Hal ini menjadi harga material tersebut

beragam. Analisa harga satuan bahan merupakan proses perkalian antara indeks

bahan dan harga bahan, sehingga diperoleh nilai Harga Satuan Bahan.

Upah tenaga kerja didapatkan di lokasi, dikumpulkan dan dicatat dalam

satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Upah. Untuk menentukan upah pekerja

dapat diambil standar harga yang berlaku di pasaran atau daerah tempat pryek

dikerjakan. Analisa harga satuan upah merupakan proses perkalian antara indeks

tenaga kerja dan harga upah, dehingga diperoleh Harga Satuan Upah. Sedangkan

nilai Harga Satuan Pekerjaan dapat diperoleh melalui penjumlahan dari Harga

Satuan Bahan dan Harga Satuan Upah.

2.7.1 Harga Satuan Bahan

Analisa harga satuan bahan suatu pekerjaan adalah menghitung banyakna

bahan yang diperlukan, serta besarnya biaya bahan yang dibutuhkan untuk

menyelesaikan suatu jenis pekerjaan tertentu. Biaya bahan yang dibutuhkan untuk

menyelesaikan suatu jenis pekerjaan ternetu. Biaya bahan yang dibutuhkan dapat

ditentukan dengan rumus umum sebagai berikut:

Harga Satuan Bahan = Indeks bahan x Harga Bahan

Indeks bahan menunjukkan banyaknya bahan yang diperlukan untuk

menyelesaikan 1 m3, 1 m2atau 1 m’ volume suatu jenis pekerjaan tertentu.

2.7.2 Harga Satuan Upah

(27)

diperlukan, serta besarnya biaya upah yang dibtutuhkan untuk menyelesaikan

suatu jenis pekerjaan tertentu. Harga satuan upah tenaga kerja untuk setiap daerah

berbeda-beda. Jadi dalammenghitung dan menyusun anggaran biaya suatu proyek

harus berpedoman pada harga upah tenaga kerja di lokasi proyek. Analisa hrga

satuan upah mengandung dua unsur, yaitu:

• Harga upah, merupakan upah yang diberikan kepada tiap tenaga kerja

konstruksi per satuan waktu atau per volume pekerjaan atas jasa tenaga

yang digunakan sesuai dengan keterampilannya.

• Indeks tenaga, menunjukkan kebutuhan tenaga kerja untuk tiap posisi

dalam kelompoknya. Biaya upah tenaga kerja yang dibutuhkan dapat

ditentukan dengan rumus umum sebagai berikut:

Harga Satuan Upah = Indeks Tenaga Kerja x Harga Upah

Indeks tenaga kerja menunjukkan kebutuhan tenaga kerja untuk menyelesaikan 1

m3, 1 m2, 1 m volume pekerjaan per hari. Indeks ini dinyatakan dalam satuan

“OH” yang merupakan singkatan dari “Orang Hari”, yang artinya satuan tenaga

kerja per hari.

Tingkatan dan tugas tenaga kerja pada masing-masing pekerjaan adalah sebagai

berikut:

a. Pekerja, jenis tenaga kerja ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling

rendah. Upah yang diterima jenis tenaga ini pun paling rendah. Tugasnya

hanya membantu dalampersiapan bahan atau pekerjaan yang tidak

membutuhkan keahlian khusus.

b. Tukang, adalah tenaga kerja yang langsung mengerjakan pekerjaan di

(28)

tenaga kerja ini biasanya memiliki keterampilan dalam berbagai jenis

pekerjaan, seperti pasangan batu kali, pasangan bata, pekerjaan

flooring/pemasangan tegel, plesteran, dll.

c. Kepala tukang, merupakan tenaga kerja yang mengerjakan pekerjaan di

lapangan dalam bidang tertentu sesuai keterampilannya dan memberi

petunjuk sekaligus membawahi para tukang.

d. Mandor, jenis tenaga ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling tinggi

dan tugasnya hanya mengawasi pekerjaan.

2.7.3 Metode SNI

Menurut J. A. Mukomuko (1985) dalam bukunya “Dasar Penyusunan

Anggaran Bangunan”. Dalam menyusun rencana anggaran biaya diperlukan

data-data sebagai berikut:

a. Gambar rencana

b. Daftar harga upah

c. Daftar harga bahan (material)

d. Daftar analisa (buku pedoman analisa)

e. Dafatr jumlah (volume) tiap jenis pekerjaan

Sebelum menghitung harga satuan pekerjaan, estimator harus mampu

menguasai penggunaan analisa SNI. Analisa SNI merupakan pembaharuan dari

analisa BOW, sehingga terdapat perbedaan nilai indeks baik indeks bahan maupun

indeks bahan maupun indeks tenaga kerja.

2.7.4 Harga Satuan Jadi

Harga satuan jadi merupakan biaya nyata atau real cost yang dikeluarkan

(29)

2.7.5 Jenis Pekerjaan

Jenis pekerjaan yang akan dibahas merupakan pekerjaan-pekerjaan teknik

sipil untuk proyek gedung, yang meliputi:

a. Galian tanah pondasi

b. Pasangan pondasi batu kali

c. Pasangan bata merah

d. Plasteran dinding

e. Acian dinding

Prinsip pada metode SNI yaitu perhitungan harga satuan pekerjaan yang berlaku

untuk seluruh wilayah di Indonesia, berdasarkan harga satuan bahan dan harga

satuan alat di daerah setempat. Harga satuan pekerjaan yang diperoleh kemudian

disesuaikan dengan gambar teknis dan rencana kerja untuk memperoleh biaya

suatu pekerjaan konstruksi. Prinsip perhitungan harga satuan pekerjaan dengan

metode SNI hampir sama dengan metode BOW, akan tetapi terdapat perbedaan

pada besarnya nilai koefisien bahan dan koefisien tenaga kerja.

2.8 Analisis Data Penelitian 2.8.1 Analisis Data Deskriptif

Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok

manusia, suatu obyek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu

kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah

untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan

akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang

diselidiki. Termasuk tentang hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap,

(30)

pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Fenomena-fenomena tertentu sehingga

merupakan suatu studi komperatif (Moh. Nazir, 2003: 54-55).

Analisa Statistik Deskriptif berguna untuk mendapatkan informasi yang

bersifat deskriptif mengenai variabel-variabel penelitian. Statistik deskriptif

adalah untuk menganalisa data yang terkumpul sebagaimana adanya tanpa

bermaksud membuat suatu kesimpulan yang berlaku untuk umum atau

generalisasi. Sehingga analisa ini bersifat mendukung analisa data selanjutnya.

Deskripsi atau penggambaran sekumpulan data secara visual dapat

dilakukan dalam 2 bagian yaitu :

a. Deskripsi dalam bentuk tulisan / teks. Deskripsi tulisan terdiri atas

bagian-bagian yang penting yang menggambarkan isi data secara keseluruhan,

seperti mean (rata-rata) data, standar deviasi, varians data, dan sebagainya. b. Deskripsi dalam bentuk gambar/grafik. Grafik sebuah data biasanya

disajikan untuk melengkapi deskripsi berupa teks, agar data tampak lebih

impresif dan komunikatif.

2.8.2 Teknik Pengolahan Data 2.8.2.1 Uji Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat kevalidan atau

kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid mempunyai validitas

tinggi, sebaliknya instrumen yang kurang valid mempunyai produktivitas rendah.

Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan.

Cara untuk menguji validitas adalah sebagai berikut :

1. Mendefinisikan secara operasional konsep yang akan diukur, yaitu

dengan (1) mencari definisi dan merumuskan tentang konsep yang akan

(31)

tidak ditemukan dalam literatur maka untuk lebih mematangkan definisi

dan rumusan konsep tersebut peneliti harus mendiskusikannya dengan

para ahli. (3) menanyakan langsung kepada calon responden penelitian

mengenai aspek-aspek konsep yang akan diukur. Dari jawaban yang

diperoleh peneliti dapat membuat kerangka konsep dan kemudian

menyusun pertanyaan yang operasional.

2. Melakukan uji coba skala pengukuran yang dihasilkan dari langkah

pertama kepada sejumlah responden. Responden diminta untuk menjawab

apakah mereka setuju atau tidak setuju dari masing-masing pertanyaan.

Sangat disarankan agar jumlah responden untuk uji coba, minimal 30

orang agar distribusi skor (nilai) akan lebih mendekati kurva normal.

3. Mempersiapkan tabel tabulasi jawaban

Syarat minimum untuk dianggap memenuhi syarat validitas adalah jika r

hitung > r tabel dan taraf signifikannya sebesar 5% (Suharsimi Arikunto,1996:

150-160).

2.8.2.2 Uji Reliabilitas

Pengukuran reliabilitas adalah pengukuran tentang stabilitas dan

konsistensi dari alat pengukuran. Reabilitas menunjukkan pada satu pengertian

bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai

pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen reliabel

sebenarnya yang mengandung arti bahwa instrument tersebut cukup baik sehingga

mampu mengungkapkan data yang bisa dipercaya.

Cara pengujian reliabilitas dilakukan dengan bantuan komputer program

(32)

dengan nilai reliabilitas yang ditunjukkan pada table di bawah ini:

Tabel 2.1 Hubungan Jumlah Butir Dengan Reabilitas Instrumen

Jumlah Butir Reabilitas

5 0,2

10 0,33

20 0,5

40 0,67

80 0,8

160 0,89

360 0,94

2.8.2.3 Uji Korelasi

Korelasi menyatakan derajat hubungan antara dua variabel tanpa

memperhatikan variabel mana yang menjadi peubah. Karena itu hubugan korelasi

belum dapat dikatakan sebagai hubungan sebab akibat. Korelasi dapat ditentukan

dengan menggunakan rumus:

Keterangan:

r = hubungan variabel X dengan Variabel Y

X = Nilai variabel X

Y = Nilai variabel Y

(33)

1. Korelasi Positif 2. Korelasi Negatif

1. Hubungan positif menyatakan hubungan semakin besar nilai pada variabel

X, diikuti pula perubahan dengan semakin besar nilai pada variabel Y

2. Hubungan negatif menyatakan hubungan semakin besar nilai pada variabel

X, diikuti pula perubahan dengan semakin kecil nilai pada variabel Y.

3. r = 1,00 menyatakan hubungan yang sempurna kuat; r = 0,50 menyatakan

(34)

2.8.2.4Analisis Regresi Linear

Menurut Miro (2002), metode analisis regresi merupakan salah satu dari

model yang tergabung di dalam model statistik-matematika. Metode ini digunakan

untuk menghasilkan hubungan dalam bentuk numerik dan untuk melihat

bagaimana dua (regresi sederhana) atau lebih (regresi berganda) variabel-variabel

saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Salah satu langkah untuk

menyelesaikan analisis regresi adalah mengetahui pasti variabel-variabel yang

berhubungan dengan masalah yang ditinjau dan mengetahui dengan pasti variabel

yang dianggap sebagai variabel-variabel bebas atau variabel-variabel tidak bebas.

Untuk mengetahui dan menentukan variabel-variabel mana yang sesuai untuk

membuat suatu persamaan regresi, melibatkan beberapa hal yaitu dana, waktu dan

tenaga yang tidak sedikit, terutama apabila angka variabel yang hendak dipakai itu

besar. Jadi suatu model dianggap terbaik apabila model tersebut terdiri dari

beberapa variabel bebas yang sangat berkaitan dengan variabel tidak bebas.

2.8.2.4.1. Analisis Regresi Linear Berganda (Multiple Linear Regression Analysis)

Metode analisis regresi linear berganda digunakan untuk menghasilkan

hubungan dalam bentuk numerik dan untuk melihat bagaimana tiga atau lebih

variabel saling terkait.

Beberapa asumsi statistik yang harus dipertimbangkan dalam

menggunakan metode analisis regresi linear berganda, antara lain:

1. Variabel terikat (Y) adalah fungsi linear dari variabel bebas (X).

2. Variabel, terutama variabel bebas (X) adalah tetap atau telah diukur.

(35)

4. Variansi dari variabel terikat (Y) terhadap garis regresi adalah sama untuk

semua nilai variabel terikat (Y).

5. Nilai variabel terikat (Y) harus tersebar normal atau minimal mendekati

normal.

Secara khusus penelitian ini mengkaji faktor-faktor tersebut, termasuk

menentukan faktor-faktor utama yang berpengaruh pada obyek penelitian.

Model regresi linear berganda (Walpole, 1982) :

Y = B0 + B1X1 + B2X2 + ……. + BzXz

Dimana :

Y = peubah tidak bebas (variabel terikat)

B0 = konstanta

B1, B2, …, Bz = koefisien regresi

X1, X2, …, Xz = peubah bebas (variabel bebas)

2.9 Program dan Cara Kerja SPSS (Statistical Product and Service

Solution)

SPSS adalah program komputer yang dipakai untuk analisis statistika.

Sejak tanggal 28 Juli 2009, SPSS disebut sebagai PASW (Predictive Analytics SoftWare), karena perusahaan ini telah dibeli oleh perusahaan IBM dengan harga US$1,2 miliar. (https://id.wikipedia.org/wiki/SPSS)

Statistik adalah ilmu yang berhubungan dengan angkat. Oleh karena itu

statistik sering dikaitkan dengan data-data yang bersifat kuantitatif (angka), yang

salah satunya adalah program SPSS.

Untuk dapat memahami cara kerja software SPSS, berikut dikemukakan kaitan antara cara kerja computer dengan SPSS dalam mengolah data. Cara kerja

(36)

PROSES

Gambar 2.2 Cara kerja proses perhitungan dengan SPSS (Sumber : Singgih

Santoso, 2001)

Penjelasan proses statistik dengan SPSS:

1. Data yang akan diproses dimasukan lewat menu DATA EDITOR yang otomatis muncul dilayar saat SPSS dijalankan.

2. Data yang telah diinput kemudian kemudian diproses, juga lewat menu DATA EDIT.

3. Hasil pengolahan data muncul dilayar (Window) yang lain dari SPSS, yaitu

OUTPUT NAVITGATOR

Pada menu Output Navigator, informasi atau output statistic dapat ditampilkan secara:

a. Teks atau tulisan. Pengerjaan (perubahan bentuk huruf,

penambahan, pengurangan dan lainnya) yang berhubungan dengan

output teks dapat dilakukan lewat menu Teks Output Editor.

(37)

dapat dilakukan lewat menu Pivot table Editor.

Gambar

Gambar 2.1 Klasifikasi Perkiraan Biaya Proyek (Imam Soeharto, 1995)
Tabel 2.1 Hubungan Jumlah Butir Dengan Reabilitas Instrumen
Gambar 2.2 Cara kerja proses perhitungan dengan SPSS (Sumber : Singgih

Referensi

Dokumen terkait

konstruksi diantaranya tahapan perencanaan ( planning ), perancangan ( design ), pelaksanaan ( construction ) dan tahap penyelesaian ( operation and maintenance ).

Bila hasil BTA Positif, pasien yang berhenti pengobatan pada kategori. 1 maka dilanjutkan pada kategori

Disabilitas fisik adalah kelainan yang terjadi pada fisik yang terjadi akibat trauma atau akibat bawaan.Disabilitas fisik dibagi menjadi empat yaitu tunadaksa,

Metode kriging merupakan sebuah metode yang memberikan estimasi linier terbaik dari suatu titik atau rata-rata blok, yaitu memberikan nilai variansi minimum. Metode ini dikenal

Framing atau pembingkaian adalah aspek yang sangat penting guna menjabarkan alur cerita yang kemudian akan disajikan kepada penonton. Framing dibagi menjadi empat

Dari setiap pekerjaan diatas dapat dibagi menjadi beberapa bagian atau tahapan yang beruntun yang pada akhirnya dapat digunakan/dimanfaatkan menjadi suatu

Tinjauan pustaka terhadap Peraturan Perundang-undangan berikut dibagi berdasarkan kategori pelanggaran, yaitu (1) iklan pangan yang menggunakan kata-kata atau ilustrasi

Gejala dan Tahapan Klinis Dikutip dari alodokter.com gejala HIV dibagi dalam beberapa tahap.Tahap pertama adalah tahap infeksi akut, dan terjadi pada beberapa bulan pertama setelah