PRAKTIKUM TITIK BEKU KIMIA PENURUNAN TITIK

13  49 

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA

PENURUNAN TITIK BEKU

OLEH:

KELOMPOK 02

SMA NEGERI 1 SINGARAJA

SINGARAJA – BALI

(2)

DATA KELOMPOK

Judul :

Kelompok : Kelompok 02

Ketua Kelompok : Nama : Made Ayu Puspa Mahendrayani NIS : 12647

Kelas : XII MIA 7 No : 05

NAMA ANGGOTA :

Nama : Ni Putu Ayu Sri Laksmi Dewi Kelas : XII MIA 7

No : 06

Nama : Ni Luh Putu Ika Baktyarina Kelas : XII MIA 7

No : 13

Nama : Dion Kusuma Kelas : XII MIA 7 No : 08

Nama : Putu Ayu Widyaningsih Kelas : XII MIA 7

No : 07

Nama : Ida Ayu Rara Dwi Maharani Kelas : XII MIA 7

No : 27

(3)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat TUHAN yang maha esa, karena atas berkat dan karunia beliau-lah laporan “Sifat Koligatif Larutan terhadap Penurunan Titik Beku” dapat diselesaikan. Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai salah satu Sifat Koligatif Larutan yaitu Penurunan Titik Beku.

Pelaksanaan praktikum Penurunan Titik Beku diuraikan secara jelas pada laporan kegiatan ini, diantaranya : tujuan yang hendak dicapai, sasaran praktikum, waktu dan tempat serta output dari pelaksanaan praktikum.

Laporan ini dibuat dengan berbagai observasi dan bantuan dari berbagai pihak tertentu untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama pengerjaan laporan ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan praktikum ini.

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada laporan ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan laporan selanjutnya.

Akhir kata semoga laporan praktikum ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Singaraja, 26 Agustus 2015

(4)

DAFTAR ISI

2.1.1 PENGERTIAN SIFAT KOLIFATIF LARUTAN 5 2.1.2 PENGERTIAN TITIK BEKU 6

2.2 HIPOTESIS 7

BAB III METODE PRAKTIKUM

3.1 WAKTU PRAKTIKUM 8 3.2 ALAT DAN BAHAN 8

3.2.1 ALAT 8 3.2.2 BAHAN 8

3.3 LANGKAH KERJA 8

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

(5)

BAB

I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Di alam bebas, saat ditemukan suatu zat yang murni. Kebanyakan zat tersebut yang telah tercampur dengan suatu sama yang lain, baik dalam bentuk homogen atau heterogen salah satunya yaitu dalam bentuk larutan. Larutan merupakan campuran dua zat atau lebih yang menyatu menjadi homogen.

Ada banyak hal yang menyebabkan larutan yang mempunyai sifat yang berbeda dengan pelarutnya. Salah satu sifat terpenting dari larutan adalah sifat koligatif larutan. Sifat koligatif larutan didefinisikan sebagai sifat fisik larutan yang hanya ditentukan oleh jumlah partikel dalam larutan dan tidak tergantung pada jenis partikelnya.

Adanya zat pelarut didalam pelarut menyebabkan perubahan sifat fisik pelarut dan larutan tersebut. Sifat fisik yang mengalami perubahan misalnya, penurunan tekanan uap, penurunan titik beku, kenaikan titik didih, dan tekanan osmosis. Keempat sifat tersebut merupakan bagian dari sifat koligatif larutan.

1.2 JUDUL PRAKTIKUM

Pengaruh Zat Terlarut terhadap Penurunan Titik Beku

1.3 RUMUSAN MASALAH

1.3.1 Apa pengaruh zat terlarut terhadap titik beku larutan?

1.4 TUJUAN PRAKTIKUM

1.4.1 Untuk mengetahui pengaruh zat terlarut terhadap titik beku larutan

1.5 MANFAAT PRAKTIKUM

(6)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KAJIAN TEORI

2.1.1 Pengertian Sifat Koligatif Larutan

Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak tergantung pada macamnya zat terlarut tetapi bergantung pada jumlah atau kelompok partikel zat terlarut (konsentrasi zat terlarut) di dalam larutan.

Sifat koligatif meliputi:

1. Penurunan Tekanan Uap 2. Kenaikan Titik Didih 3. Penurunan Titik Beku 4. Tekanan Osmotik

Banyaknya partikel dalam larutan ditentukan oleh konsentrasi larutan dan sifat Larutan itu sendiri. Jumlah partikel dalam larutan non elektrolit tidak sama dengan jumlah partikel dalam larutan elektrolit, walaupun konsentrasi keduanya sama. Hal ini dikarenakan larutan elektrolit terurai menjadi ion-ionnya, sedangkan larutan non elektrolit tidak terurai menjadi ion-ion. Dengan demikian sifat koligatif larutan dibedakan atas sifat koligatif larutan non elektrolit dan sifat koligatif larutan elektrolit.

2.1.2 Pengertian Titik Beku

Titik beku adalah suhu dimana tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap padatannya. Titik beku larutan lebih rendah daripada titik beku pelarut murni. Hal ini disebabkan zat pelarutnya harus membeku terlebih dahulu, baru zat terlarutnya. Jadi larutan akan membeku lebih lama daripada pelarut. Setiap larutan memiliki titik beku yang berbeda.

(7)

Penurunan titik beku adalah selisih antara titik beku pelarut dan titik beku larutan dimana titik beku larutan lebih rendah dari titik beku pelarut. Titik beku pelarut murni seperti yang kita tahu adalah 00C. dengan adanya zat terlarut

misalnya saja gula yang ditambahkan ke dalam air maka titik beku larutan ini tidak akan sama dengan 0oC melainkan akan menjadi lebih rendah di bawah 0oC

itulah penyebab terjadinya penurunan titik beku yaitu oleh masuknya suatu zat terlarut atau dengan kata lain cairan tersebut menjadi tidak murni, maka akibatnya titik bekunya berubah (nilai titik beku akan berkurang) (Taufik, 2012)

Proses pembekuan suatu zat cair terjadi bila suhu diturunkan, sehingga jarak antarpartikel sedemikian dekat satu sama lain dan akhirnya bekerja gaya tarik menarik antarmolekul yang sangat kuat. Adanya partikel-partikel dari zat terlarut akan mengakibatkan proses pergerakan molekul-molekul pelarut terhalang, akibatnya untuk dapat lebih mendekatkan jarak antar molekul diperlukan suhu yang lebih rendah. Jadi titik beku larutan akan lebih rendah daripada titik beku pelarut murninya. Perbedaan titik beku akibat adanya partikel-partikel zat terlarut disebut penurunan titik beku (∆Tf). Penurunan titik beku larutan sebanding dengan hasil kali molalitas larutan dengan tetapan penurunan titik beku pelarut (Kf).

∆Tf = penurunan titik beku Kf = tetapan penurunan titik beku n = jumlah mol zat terlarut

p = massa pelarut

(8)

tertentu pelarut. Jadi penurunan titik beku (DTf ) = Kf . m, dimana m ialah molalitas larutan. Jika persamaan ini berlaku sampai konsentrasi satu molal, penurunan titik beku 1 m tiap non-elektrolit yang tersebut didalam pelarut itu = Kf yang karena itu dinamakan tetapan titik beku molal (molal freesinapoint constant) pelarut itu. Nilai numerik Kf = khas pelarut itu masing-masing (Anonim, 2013).

2.2 HIPOTESIS

(9)

BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 WAKTU PRAKTIKUM

Tanggal Pratikum : 24 Agustus 2015 Waktu : 07.45 – 08.30 WIB

Tempat : Lab. Kimia SMA Negeri 1 Singaraja

3.2 ALAT DAN BAHAN

3. Larutan CaCl2 (1m,5ml)

4. Aquades (5ml)

3.3 LANGKAH KERJA

1.

Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

2.

Masukkan es batu dan garam ke dalam gelas kimia 500ml

3.

Masukkan larutan CaCl2 (1m, 5ml) ke dalam tabung reaksi

4.

Masukkan Aquades (5ml) ke dalam tabung reaksi

5.

Tempatkan Tabung Reaksi yang sudah diisi dengan Aquades (5ml) tadi

6.

Tunggu hingga aquades (5ml) mulai membeku

7.

Saat sudah mulai muncul bunga – bunga es, keluarkan tabung reaksi dari gelas kimia 500ml tadi

8.

Segera ukur suhu dari aquades (5ml) menggunakan thermometer (00C –

1100C), lalu catat hasilnya

(10)

10.

Bandingkan hasil pengamatan antara Aquades (sml) dan CaCl2 (1m,5ml)

Larutan Molal (m) Titik Beku ∆ Tf

1. Aquades (5ml) - 1 -2. CaCl2 (5ml) 1m −2 3 3. NaCl (5ml) 1m −3 4 4. Gula (5ml) 1m −1 2

4.2 PEMBAHASAN

Data yang dapat kami peroleh dari percobaan pengaruh zat terlarut terhadap penurunan titik beku ialah dengan melakukan percobaan pada larutan CaCl2 1m dan aquades, sehingga nantinya dapat dicari penurinan

titik beku dari CaCl2 1m dengan cara titik beku air dikurang titik beku

larutan (∆Tf). Sedangkan untuk percobaan pada larutan NaCl 1m dan larutan gula dilakukan oleh kelompok lain.

Berdasarkan teori seharusnya penurunan titik beku larutan CaCl2 1m

lebih besar didandingkan dengan larutan NaCl dan larutan gula karena seperti yang telah kita ketahui factor Van’t Hoff (i) pada larutan CaCl2 1m

lebih besar dibandingkan larutan NaCl 1m, dengan rumus i = 1 + (n – 1) α. Jadi, seharusnya penurunan titik beku untuk larutan CaCl2 1m lebih besar

dibandingkan NaCl 1m, beda halnya dengan larutan gula yang bersifat non-elektrolit tidak dipengaruhi factor Van Hoof. Jadi, pada penurunan titik beku larutan gula data yang kami peroleh sesuai denngan teori yang ada tetapi pada larutan CaCl2 1m dan larutan NaCl tidak sesuai dengan

(11)

Perhitungan Faktor Van Hoof: 1. NaCl Na+ + Cl

-i = 1 + ( n – 1 ) α , α = 1 (karena elektrol-it kuat) i = 1 + ( 2 – 1 ) 1

i = 1 + 1 i = 2

2. CaCl2 Ca2+ + 2Cl

-i = 1 + ( n – 1 ) α , α = 1 (karena elektrol-it kuat) i = 1 + ( 3 – 1 ) 1

i = 1 + 2 i = 3

Jadi, diperoleh ( i ) pada NaCl = 2 dan pada CaCl2 = 3. Berdasarkan rumus

penurunan titik beku ∆Tf = Kf . m . i , maka jika nilai ( i ) besar, penurunan titik didihnya besar (berbanding lurus). Pada perolehan data percobaan, tidak sesuai dengan teori karena beberapa factor, contohnya pada saat larutan membeku, kita tidak dapat memastikan secara pasti keadaan larutan mulai membeku, seharusnya ketika larutan mulai membentuk bunga es titik bekunya harus segera diukur tetapi karena keterbatasan dalam memastikan terbentuknya bunga es menyebabkan adanya kesalahan dalam data percobaan (tidak sesuai teori).

(12)

BAB V

PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

Semakin banyak waktu yang diberikan maka semakin rendah titik beku yang dihasilkan. Dari percobaan yang telah kami lakukan, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

1. Penurunan titik beku tidak tergantung pada komposisi kimia dari zat tersebut tetapi tergantung pada jumlah partikel zat terlarut di dalam larutan, kemolalan larutan, massa zat terlarut dan massa pelarutnya.

2. Penurunan titik beku larutan elektrolit lebih besar dari larutan nonelektrolit disebabkan adanya faktor Van’t Hoff.

3. Perbedaan hasil pengukuran menurut teori dengan pengamatan langsung disebabkan oleh ketidaktelitian dalam mengamati skala thermometer serta pengaruh suhu luar.

5.2 Saran

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Susilowati, Endang. 2009. Theory and Application of Chemistry 3 for Grade XII of Senior High School and Islamic Senior High School.Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

Retnowaty, Priscilla. 2009. SeribuPena KIMIA untuk SMA/MA Kelas XII. Semarang: Erlangga

Rachmawati, M. Johari, J.M.C. 2008. KIMIA 3 SMA dan MA untuk Kelas XII. Jakarta: Erlangga

Rudi. 2011. Prakrikum Sifat Koligatif Larutan. https://www.academia.edu/8615405/LAPORAN_PRAKTIKUM_KIMIA_SIFAT _KOLIGATIF_LARUTAN. diakses pada 23 Agustus 2015

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...