KEEFEKTIFAN TEKNIK TERATAI ( TERJUN, AMATI, RANGKAI) DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VII SMP
NEGERI 3 SUNGGUMINASA
THE EFFECTIVENESS OF THE TERATAI TECHNIQUE (PLUNGING, OBSERVING, CHARGING ( TERJUN, AMATI, RANGKAI) IN WRITING POETRY IN CLASS VII STUDENTS OF STATE JUNIOR HIGH SCHOOL
3 SUNGGUMINASA
TESIS Oleh
WAHYUNI APRIANI
Nomor Induk Mahasiswa 105 04 13 00I 18
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
KEEFEKTIFAN TEKNIK TERATAI ( TERJUN, AMATI, RANGKAI) DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VII SMP
NEGERI 3 SUNGGUMINASA
TESIS
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Meraih Gelar Magister pada Jurusan Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Pascasarjana
Universitas Muhammadiyah Makassar
WAHYUNI APRIANI 105 04 13 00I 18
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
ABSTRAK
Wahyuni Apriani. 2020. Keefetifan Teknik Teratai (Terjun,Amati, Rangkai) dalam Pembelajaran Menulis Puisi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Sungguminasa.Tesis.Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Muhammad Rapi Tang dan pembimbing II Abd. Rahman Rahim,.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Perbedaan kemampuan menulis puisi antara siswa yang diberi pembelajaran dengan menggunakan teknik teratai dan tanpa menggunakan teknik teratai serta untuk membuktikan keefektifan Teknik teratai dalam pembelajaran Menulis puisi siswa kelas VII SMP Negeri 3 Sungguminasa.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian pre-test- posttest control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 3 Sungguminasa. Sampel penelitian ini siswa kelas VII A sebagai kelompok eksperimen dan VII B sebagai kelompok control. Kelas A terdiri dari 17 Peserta didik dan Kelas VII B terdiri dari 19 peserta didik. Teknik pengumpulan data yang digunakan merupakan tes menulis puisi. Uji Realibilitas dilakukan dengan rumus koefisien alpha cronbach, hasil perhitungan menunjukkan realibilitas sebesar lebih besar dari koefisien dan Teknik analisis data yang digunakan merupakan uji-t.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara keterampilan menulis puisi
siswa kelas VII SMP Negeri 3 Sungguminasa yang menggunakan teknik teratai dengan siswa yang tanpa teknik teratai. Hal ini didukung oleh analilisis statistik yang menyatakan bahwa nilai < yaitu 0,000 < 0,05 dan ℎ > yaitu 5,269 > 2,024. Jadi, kesimpulan yang dapat diperoleh adalah 0ditolak dan 1diterima.
Hal itu dibuktikan dari hasil uji-t pada skor post-test kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang dilakukan dengan bantuan program SPSS 23. Hasil perhitungan dinyatakan signifikan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa Teknik teratai efektif digunakan dalam pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Sungguminasa. Hal tersebut terbukti dari hasil uji-t pada selisih skor pre-test kepost-pre-test serta selisih rata-rata hitung kemampuan menulis puisi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang sehingga seignifikan. Selain itu, selisih pemerolehan rata-rata hitung pada kelompok eksperimen pada saat pre-test dan post-test lebih besar dibandingkan kelompok kontrol.
Kata kunci : Keefektifan, teknik teratai, kemampuan menulis puisi, siswa SMP.
MOTO
“Dan Hanya Kepada Tuhanmulah Engkau Berharap” ( Q.S : Al- Insyiroh Ayat 8 )
Sesuatu mungkin mendatangi mereka yang mau menunggu, namun hanya
didapatkan oleh mereka yang bersemangat mengerjarnya ( Abraham Lincoln )
“ Man jadda wa jadda, siapa yang berusaha pasti sukses.” ( Negeri 5 Menara )
“ Man shabara Zhafira, siapa yang bersabar pasti akan beruntung.” ( Ranah 3 Warna )
PERSEMBAHAN
Dengan mengucap syukur ke hadirat Allah swt., Tesis ini saya persembahkan untuk, bapak ( Alm ) Rodding S.Pd dan ibu Aminah Remadja yang telah memberikan limpahan kasih sayang, semangat, dukungan, dan doa yang selalu di panjatkan untuk kesuksesan anak-anaknya.
Kakak- kakakku tercinta Muhammad Irfan Robinson, Ahmad Rusmin Robinson dan Irfan Mursalim yang selalu memberikan dukungan dan doanya untukku. Adikku tercinta Ahmad Syaiful Agung yang selalu memberikan dukungan dan doanya untukku.
Untuk seluruh Keluarga besarku, Terimakasih untuk doa kalian untukku selama ini dan kupersembahkan juga Tesisku ini untuk almamaterku tercinta, Program Studi Program Pascasarja Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Makassar.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas segala rahmat, hidayah, dan petunjuk Allah swt., sehingga saya dapat menyelesaikan Tesis yang berjudul “ Keefektifan Teknik Teratai ( Terjun, Amati, Rangkai ) Dalam Pembelajaran Keterampilan Menulis Puisi Siswa kelas VII SMP Negeri 3 Sungguminasa” dengan baik. Tesis ini disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna meraih gelar Magaister Pendidikan.
Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam perampungan tulisan ini. Segala rasa hormat, penulis mengucapkan terima kasih kepada kepada kedua orang tua (Alm) Rodding S.Pd dan Aminah Remadja yang telah berjuang, berdoa, mengasuh,mendidik, dan membiayai penulis dalam proses mencari ilmu. Demikian pula penulis mengucapkn terima kasih kepada keluarga tercinta atas doanya, kepada Prof. Dr. Muhammad Rapi Tang, M.Si., Dr. Abd. Rahman Rahim, M.Hum., pembimbing I dan pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, arahan, serta motivasi sejak awal proposal hingga selesainya Tesis ini.
Tidak lupa juga penuis mengucapkan banyak terimakasih kepada; 1. Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., Rektor Universitas Muhammadiyah
Makassar
2. Dr. H Darwis Muhdina, M.Ag., Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Dr. Abd. Rahman Rahim, M. Hum., Ketua Program Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar.
Penulis juga sampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada Fajar Ma’ruf, S.Pd selaku kepala SMPN 3 Sungguminasa yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut, Nadrawati, S.Pd., selaku guru bahasa dan sastra Indonesia yang telah bekerja sama dengan baik dan membimbing penulis selama penelitian, dan siswa- siswi khususnya kelas VII A, VII B, Yang telah memberikan bantuan dan semangat kepada penulis dalam penyusunan Tesis ini.
Akhirnya, dengan segala kerendahan hati penulis senantiasa mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak. Saran dan kritikan tersebut sifatnya membangun karena penulis yakin bahwa suatu persoalan tidak akan berarti sama sekali tanpa adanya kritikan. Mudah-mudahan dapat memberi manfaat bagi para pembaca terutama bagi diri pribadi penulis. Amin.
Makassar, 26 November 2020 penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN... ii
HALAMAN PENERIMAAN PENGUJI... iii
ABSTRAK... iv
MOTTO ... vi
PERSEMBAHAN... vi
KATA PENGANTAR... vii
DAFTAR ISI... viii
DAFTAR TABEL... xiii
ABSTRAK ... xv
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah……….. 1
B. Rumusan Masalah……….. 7
C. Tujuan Penelitan……… 7
D. Manfaat Penelitian……… 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka………. 10
1. Penelitian Relevan………... 10
2. Teori Pembelajaran Sastra………...………….. 15
4. Model Pembelajaran Kontekstual………. 20
B. Teknik Teratai dalam Pembelajaran Puisi………. 25
1. Teknik Teratai...……….. 25
2. Teknik Teratai dalam Pembelajaran Menulis Puisi…...….. 29
3. Langkah- Langkah……….. 31
C. Kerangka Pikir... 32
D. Hipotesis Penelitian... 35
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian……… 36
1. Jenis Penelitian Penelitian……… 36
2. Desain Penelitian……….... 36
B. Variabel Penelitian……….. 37
C. Tempat dan Waktu Penelitian……… 38
D. Populasi dan Subjek... 39
1. Populasi Penelitian………. 39
2. Sampel Penelitian……….. 40
E. Teknik Pengumpulan Data……….. 41
F. Instrumen Penelitian……… 41
G. Prosedur Penelitian……….. 51
H. Teknik Analisis Data……….. 53
A. Hasil Penelitian………. 57
1. Analisis Statistik Deskritif………...………. 57
2. Analisis Statistik Inferensial…….………...……... 73
a. Uji Normalitas... 73
b. Uji Homogenitas... 75
c. Analisis Inferensial Keefektifan Teknik Teratai... 76
B. Pembahasan Hasil Penelitian……… 79
1. Deskripsi Kondisi Awal Kemampuan Menulis Puisi Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen……… 81
2. Perbedaan Keterampilan Menulis Puisi antara Siswa Kelompok Eksprimen dan Kelompok Kontrol……… 82
3. Tingkat Keefektifan Teknik Teratai dalam Pembelajaran Menulis Puisi Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Sungguminasa………… 84
BAB V PENUTUP A. Simpulan……….. 92
B. Saran……… 93
DAFTAR PUSTAKA………. 94 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Desain Penelitian Pre-test-Post-test dengan Kelompok
Kontrol ... 35
Tabel 2 Populasi Penelitian Siswa Kelas VII SMP Negeri 3
Sungguminasa ... 39
Tabel 3 Kriteria Penilaian Penulisan Puisi ... 41
Tabel 4 Rangkuman Nilai Statistik Hasil Pre-test Kelas Eksprimen ... 57
Tabel 5 Distribusi Frekuensi dan Persentase Hasil Pre-test Kelas Eksprimen Pembelajaran Keterampilan Menulis Puisi
Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Sungguminasa ... 58
Tabel 6 Hasil Pencapaian KKM Kelas Eksprimen Pembelajaran Keterampilan Menulis Puisi Siswa Kelas VII SMP Negeri
3 Sungguminasa ... 59
Tabel 7 Tingkat Kemampuan Pembelajaran Keterampilan Menulis
Puisi Nilai Pre-test Kelas Eksprimen ... 59
Tabel 8: Rangkuman Nilai Statistik Hasil Posttest Kelas Eksprimen
Tabel 9: Distribusi Frekuensi dan Persentase Hasil Post-test Kelas Eksprimen Pembelajaran Keterampilan Menulis Puisi
Kelas VII SMP Negeri 3 Sungguminasa ... 61
Tabel 10 : Hasil Pencapaian KKM Post-test ... 62
Tabel 11: Tingkat Kemampuan Pembelajaran Keterampilan Menulis
Puisi Nilai Post-test Kelas Eksprimen ... 63
Tabel 12: Rangkuman Nilai Statistik Hasil Pre-test Kelas Kontrol ... 64
Tabel 13: Distribusi Frekuensi dan Persentase Hasil Pre-test Kelas Kontrol Pembelajaran Keterampilan Menulis Puisi Kelas VII SMP Negeri 3 Sungguminasa ...65
Tabel 14: Hasil Pencapaian KKM Pretest Pada Kelas Kontrol Pemebelajaran Keterampilan Menulis Puisi Pada Kelas
VII SMP Negeri 3 Sungguminasa ... 66
Tabel 15: Tingkat Kemampuan Pembelajaran Keterampilan Menulis
Puisi Nilai Pre-test Kelas Kontrol ... 67
Tabel 16: Rangkuman Nilai Statistik Hasil Posttest Kelas Kontrol ... 68
Tabel 17: Distribusi Frekuensi dan Persentasi Hasil Posttest Kelas Kontrol Pembelajaran Keterampilan Menulis Puisi pada
Tabel 18: Hasil Pencapaian KKM Posttest Kelas Kontrol Pembelajaran Keterampilan Menulis Puisi Pada Siswa
Kelas VII SMP Negeri 3 Sungguminasa ... 70
Tabel 19: Tingkat Kemampuan Pembelajaran Keterampilan Menulis
Puisi Nilai Posttest Kelas Kontrol ... 71
Tabel 20: Uji Normalitas Shapiro – Wilk Data Pretest Eksprimen ... 72
Tabel 21: Uji Normalitas Shapiro- Wilk Data Post-test Kelas
Eksprimen ... 72
Tabel 22: Uji Normalitas Shapiro- Wilk Data Pretest Kelas Kontrol ... 73
Tabel 23 : Uji Normalitas Shapiro- Wilk Data Posttest Kelas Kontrol ... 73
Tabel24: Uji Homogenitas Data Posttest Kelas Eksprimen dan Kelas Kontrol... 74
A. Latar Belakang
Kurikulum adalah pedoman guru dalam proses pembelajaran. Kurikulum di Indonesia beberapa kali mengalami perubahan, hal itu dilakukan untuk menyempurnakan dan mengembangkan kurikulum sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini. Perubahan dan perkembangan kurikulum merupakan hal ilmiah yang harus terjadi karena harus menyesuaikan dengan tuntutan kebutuhan siswa dan perkembangan teknologi pembelajaran secara berkala (Sodiq, 2007: 61)
Keterampilan menulis adalah salah satu poin penting bagi siswa karena dengan menulis siswa dapat menuangkan ide, gagasan, pemikiran, perasaan atau apa saja dalam bentuk tulisan. Berlatih menulis bisa dimulai dari menulis catatan harian, menulis puisi, sampai menulis cerpen, dongeng, novel, dan sebagainya.
Puisi merupakan salah satu keterampilan menulis yang diajarkan di sekolah baik SMP maupun SMA. Melalui kegiatan menulis puisi siswa diajak untuk mengungkapkan hal-hal menarik disekitarnya atau perasaan yang mereka rasakan dalam sebuah tulisan yang berestetika.
اِ نﱠ ﻓِ ﻰ اﻟ ﺳﱠ ﻣٰ وٰ تِ وَا ﻻَۡ رۡ ضِ ﻻَٰ ﯾٰ تٍ ﻟِّﻠۡ ﻣُ ؤۡ ﻣِ ﻧِﯾۡ نَؕ Terjemahan
cenderung dihindari atau tidak diajarkan sehingga mereka menggangap menulis puisi merupkan kegiatan yang sangat sulit karena mereka harus memperhatikan pilihan kata yang digunakan,irama,rima dan ide. Minimnya kosakata dan pengalaman yang dimiliki untuk juga menjadi penghambat dalam menulis puisi. Selain itu,rendahnya kemampuan siswa tentang manfaat yang akan mereka peroleh setelah mampu menulis puisi. Sementara itu, disekolah kurang efektifnya pembelajaran juga menjadi penyebab rendahnya kemampuan siswa menulis puisi.
Menurut Hamruni (2012:107) pembelajaran berbasis masalah akan mendorong siswa untuk mengeksplorasi pengetahuan yang telah dimilikinya kemudian mengembangkan keterampilan pembelajaran. Diharapkan dengan pembelajaran berbasis masalah siswa mampu membangkitkan pengalaman pembelajaran sehingga siswa mempunyai peranan yang lebih luas dalam pembelajaran.
Strategi pembelajaran kontekstual (Langsung) memiliki 7 karakteristik yang melandasi pelaksanaan pembelajaran kontekstual tersebut. Dari salah satu asas strategi pembelajaran kontekstual ini terciptalah teknik pembelajaran yaitu “Teknik teratai” yang diambil dari langkah-langkah pembelajaran dalam asas atau metode pembelajaran inkuiri. Teratai sendiri adalah singkatan dari ter: terjun, at: amati, ai: rangkai. Teknik teratai inilah yang dilihat keefektifannya dalam pembelajaran menulis puisi.
Teknik teratai merupakan teknik mengajar siswa yang bersumber pada metode kontekstual ( Langsung). Dalam teknik teratai memiliki tiga kegiatan dasar, sesuai dengan nama teknik tersebut yaitu ter; terjun, at; amati, ai; rangkai.
sekitar lingkungan sekolah mereka, lalu siswa diminta untuk mengamati lingkungan sekitar sekolah lalu menuliskannya dalam sebuah puisi tentang keindahan alam. Dengan teknik ini diharapkan dapat mempermudah siswa dalam memperoleh inspirasi atau bahan agar siswa dapat menciptakan kreativitas siswa dalam menulis puisi yang tetap memperhatikan unsur-unsur pembangun puisi. Pembelajaran menulis puisi pada penelitian ini memilih tema tentang alam, karena SKKD yang digunakan penulis adalah menulis puisi tentang keindahan alam. Selain itu, dalam sejarah kebudayaan barat pada abad pertengahan ungkapan ut natura poiesis, yang berarti seni (puisi) harus) seperti alam, menjadi pandangan umum tentang seni (Teeuw, 2003: 183). Sehingga ,alam dianggap sangat cocok digunakan sebagai bahan membuat ide pokok atau tema puisi untuk siswa SMP kelas VII, hal ini diharapkan agar siswa lebih mudah untuk menulis puisi .
Keindahan alam sendiri memiliki beberapa defenisi yang beraneka ragam. Keindahan dapat diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus, benar, cantik dan elok.
Sehingga keindahan alam merupakan keadaan yang sangat enak dipandang, cantik, bagus, benar, elok yang mencakup segala yang ada di langit dan di bumi, lingkungan kehidupan, serta segala sesuatu yang termaksuk dalam satu lingkungan dan dianggap sebagai satu keutuhan. Guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 3 Sungguminasa telah melakukan berbagai cara untuk membuat siswa tertarik untuk menulis puisi sehingga teknik teratai ini dianggap cocok digunakan khususnya di siswa kelas VII SMP.
وَا ﻻَۡ رۡ ضَ ﻣَ دَ دۡ ﻧٰ ﮭَﺎ وَا َ ﻟۡ ﻘَﯾۡ ﻧَﺎ ﻓِﯾۡ ﮭَﺎ رَ وَا ﺳِ ﻰَ وَا َﻧۡۢﺑَ ﺗۡﻧَ ﺎ ﻓِﯾۡ ﮭَﺎ ﻣِ نۡ ﻛُ لِّ زَ وۡ ج ٍ ۢ ﺑَ ﮭِﯾۡ ﺞٍ
gunung yang kokoh dan kami tumbuhkan diatasnya tanam- tanaman yang indah,” ( surat Qaf ayat 7 )
Hamalik dalam buku Arsyad, 2016: 19) menyatakan bahwa media pembelajaran merupakan media yang digunakan dalam proses belajar mengajar
sehingga dapat membangkitkan minat, hasrat, motivasi dan rangsangan kegiatan
belajar bahkan mendatangkan pengaruh psikologis yang baru terhadap siswa.
Jadi, guru memerlukan referensi mengenai media, teknik, strategi, dan metode pembelajaran sastra yang dapat membangun kreativitas siswa sehingga pembelajaran sastra menjadi efektif.
Penggunaan teknik teratai ini dianggap sangat cocok diterapkan pada siswa SMP terutama kelas VII yang baru belajar mengenal tentang menulis puisi setelah diperkenalkan mengenai puisi disekolah dasar. Berdasarkan hasil observasi awal di SMPN 3 Sungguminasa, kegiatan pembelajaran menulis menjadi momok yang menakutkan bagi siswa Semuanya terjadi karena kemampuan siswa dalam menggali imajinasi sangatlah terbatas.
Karena mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran menulis (puisi) maka siswa menjadi enggan untuk konsentrasi dan serius mengikuti kegiatan pembelajaran.Pada umumnya, sosok guru identik dengan penampilan rapi dan disiplin ketat. Tak jarang pula profesi pahlawan tanpa tanda jasa ini dianggap membosankan bahkan banyak juga anggapan bahwa guru cenderung membuat murid merasa segan, bahkan takut.
Pentingnya masalah penelitian diantaranya adalah mengenai tingkat bahaya kalau tidak dilakukan penelitian dan tingkat kemanfaatan dari hasil penelitian yang dilakukan. Saya sebagai peneliti memiliki minat dan sangat
sungguh dalam melakukan penelitian akan berbeda hasilnya dengan seorang peneliti yang setengah hati bahkan terpaksa dalam melakukan sebuah penelitian.
Untuk mengantisipasi atau mengatasi masalah-masalah tersebut diperlukan strategi baru dalam pembelajaran menulis,Salah satu solusinya agar pembelajaran menulis efektif yaitu menggunakan teknik teratai. Dalam teknik teratai terdapat tiga hal pokok dalam perincian dari tahapan-tahapan pembelajarannya. Pertama, pembelajaran dilakukan di luar kelas (terjun ke alam terbuka),kedua, pembelajaran dilakukan dengan mengamati objek di alam terbuka, yaitu sebagai kegiatan pengumpulan bahan yang akan dijadikan bangunan puisi. Terakhir siswa merangkai atau menyususun bahan-bahan yang berupa sifat dan karakteristik benda yang diamati ke dalam sebuah baris, baik, atau keseluruhan puisi.
Dengan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan menggunakan teknik teratai sebagai strategi pembelajaran menulis puisi siswa kelas VII di SMPN 3 Sungguminasa. Penelitian tersebut berjudul “Keefektifan Teknik Teratai (Terjun, Amati, Rangkai) dalam Pembelajaran Keterampilan Menulis Puisi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Sungguminasa”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan batasan masalah yang telah ditentukan di atas, maka rumusan masalah ini adalah :
“Apakah teknik teratai efektif digunakan dalam pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Sungguminasa ?”
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan batasan dan rumusan masalah di atas penelitian ini bertujuan untuk: membuktikan teknik teratai efektif dalam pembelajaran menulis puisi siswa kelas VII SMP Negeri 3 Sungguminasa.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka dapat ditentukan manfaat penelitian sebagai berikut :
1. Manfaat Teoretis
Secara teoretis hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pengetahuan dalam pembelajaran bahasa dan sastra khususnya dalam pembelajaran menulis puisii.
2. Secara praktis a. Bagi Sekolah
Penelitian dapat bermanfaat bagi sekolah karena dapat menambah wawasan dan memberikan variasi pembelajaran yang kreatif di dalam kelas sehingga siswa tidak merasa jenuh atau bosan.
pembelajaran menulis puisi. c. Bagi Siswa
Bagi siswa penelitian ini dapat diggunakan untuk menumbuhkan minat siswa dalam menulis puisi.
d. Bagi Penulis
Penelitian ini sangat bermanfaat bagi penulis karena menambah wawasan mengenai teknik teratai yang kreatif dan tidak membosankan bagi siswa dalam pembelajaran menulis puisi
e. Bagi Pembaca
Penelitian ini bagi pembaca sangat bermanfaat karena menambah wawasan mengenai teknik pembelajaran yang kreatif.
57
A. Tinjauan Pustaka 1. Penelitian Relevan
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini yaitu penelitian yang dilakukan oleh Romillasari. Penelitian tersebut berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Puisi Melalui Penggunaan Media Video Clip Balada pada Siswa Kelas VIIIB SMP Negeri 2 Berbah Sleman (2012). Dalam penelitian tersebut, Romillasari mencoba menerapkan media video clip balada untuk meningkatkan keterampilan menulis puisi pada siswa kelas VIIIB SMP Negeri 2 Berbah Sleman. Penelitian tersebut memiliki kesimpulan bahwa media video clip balada mampu meningkatkan keterampilan menulis puisi yakni,peningkatan secara proses dan peningkatan secara produk.
Penelitian yang dilakukan oleh Romillasari tersebut relevan dengan penelitian ini karena memiliki persamaan yaitu sama-sama menggunakan media dalam pembelajaran menulis puisi. Selain persamaan tersebut, antara kedua penelitian ini juga memiliki perbedaan. Penelitian yang dilakukan oleh Romillasari adalah penelitian tindakan kelas dan mengunakan media vidio clip Balada , sedangkan penelitian ini mengunakan media Alam sebagai objek penelitian.
Penelitian Suhartiningsih yang berjudul Keefektifan Penggunaan Gambar Bertema Alam dalam Pembelajaran Menulis Puisi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 20 Purworejo (2011). Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara keterampilan menulis puisi pada kelompok yang mendapat pembelajaran menulis puisi menggunakan gambar bertema alam dengan kelompok yang mendapat pembelajaran menulis puisi tanpa menggunakan gambar bertema alam. Penelitian yang dilakukan oleh Suhartiningsih ini relevan dengan penelitian ini karena sama-sama menggunakan media dan teknik yang mengikutsertakan siswa untuk mengamati suatu objek dalam rangka mencari inspirasi sebagai bahan menulis puisi, sedangkan perbedaanya yaitu siswa hanya mengamati objek melaui gambar bertema alam sedangkan penelitian ini siswa diajak terjun langsung ke Alam.
Rikarani, Resdin Purba dan Risnawati Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Volume 3 nomor 2, Desember 2019 ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengembangan pola bahan ajar, kelayakan bahan ajar, dan keefektifan bahan ajar menulis paragraf argumentasi berbasis teknik teratai pada siswa kelas XII MAN Pematangsiantar. Penelitian pengembangan ini mengacu pada model Borg and Gall, yang terdiri atas materi, desain, uji coba. Data dikumpulkan melalui angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) validasi ahli materi kelayakan isi dengan rata-rata 82,35 pada kriteria sangat baik, kelayakan penyajian dengan rata-rata-rata-rata 86,54% pada kriteria sangat baik, aspek bahasa dengan ratarata 90,38%
pada kriteria sangat baik, (2) validasi ahli desain dengan rata-rata 85,00% pada kriteria sangat baik, (3) uji coba perorangan dengan rata-rata 82,87% dengankriteria sangat baik, (4) uji coba kelompok kecil dengan rata-rata 91,20% dengan kriteria sangat baik, dan (5) uji kelompok lapangan terbatas dengan rata-rata 95,10% dengan kriteria sangat baik, (6) keefektifan bahan ajar dengan presentasi 74,22% dengan kriteria baik. Dengan demikian, bahan ajar paragraf argumentasi berbasis teknik teratai yang telah dikembangkan layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran sebagai sumber belajar.Berdasarkan hasil penelitian di atas, persamaan penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah sama-sama menggunakan teknik teratai . Sedangkan perbedaannya adalah lokasi penelitian, materi dan penelitian ini membahas tentang paragraf argumentasi berbasis teknik teratai.
Penelitian ini juga relevan dengan penelitian yang dilakukan Tarmizi dengan Judul Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi Siswa dengan Teknik Pemodelan di Kelas VIII D SMP NEGERI 19 Kota Bengkulu ( 2015).. Penelitian juga melibatkan guru sebagai teman sejawat dalam kegiatan mulai dari: a) perencanaan, b) pelaksanaan tindakan, c) observasi, dan d) refleksi. Penelitian ini dilaksanakan Juli – September 2012, dengan subjek penelitian adalah siswa kelas VIII D SMP Negeri 19 Kota Bengkulu. Penelitian terdiri dua siklus dan dilaksanakan sebanyak enam kali pertemuan. Data penelitian diambil dari kegiatan awal berupa nilai rata-rata ulangan harian, nilai tes siklus pertama dan kedua
pembelajaran menulis puisi dengan teknik pemodelan. Selanjutnya data tersebut dianalisis dengan cara menentukan rata-rata dan persentase untuk mengetahui peningkatan kemampuan menulis puisi siswa. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan kemampuan menulis puisi siswa kelas VIII D SMP Negeri Bengkulu setelah dilakukan dua kali tindakan sebagai berikut: hasil rata-rata pada tindakan pertama model teknik setara adalah 27,57 atau 68,28%. Kemudian, hasil tindakan kedua dengan pemodelan teknik para ahli adalah 31,84 atau 78,86%. Selain itu penelitian yang relevan dengan penelitian ini yatu penelitian yang dilakukan oleh WidyaSari. Penelitian tersebut berjudul Keterampilan Menulis Puisi Menggunakan Media Foto dengan Teknik Akrostik ( 2018). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penerapan metode penggunaan media foto dengan teknik akrostik terhadap pembelajaran menulis puisi. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri atas dua siklus. Proses dalam penelitian ini melingkupi kegiatan awal, kegiatan inti, dan penutup.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media foto dengan teknik akrostik dapat meningkatkan hasil belajar menulis puisi pada siswa kelas VIII A MTs Mimbarul Huda Menggala Bumiayu. Hasil tes pada siklus I diperoleh nilai kelas rata-rata sebesar 67,97. Pada siklus II diperoleh nilai rata-rata kelas sebesar 80,00. Hal ini menunjukkan peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 12,03. Peningkatan keterampilan menulis puisi tersebut diikuti dengan perubahan perilaku
siswa semakin aktif dan antusias dalam pembelajaran menulis puisi menggunakan media foto dengan teknik akrostik.
.
2. Teori Pembelajaran Sastra
Pembelajaran apresiasi sastra yaitu bagian penting dan komponen integral dalam pemahaman bahasa. Sehingga, pembelajaran sastra terpusat pada pemahaman, penghayatan, dan penikmatan atas karya sastra. Terdapat beberapa Prinsip-prinsip pembelajaran apresisasi sastra yang perlu diperhatikan yaitu: (1) pembelajaran sastra dapat meningkatkan kepekaan rasa terhadap budaya bangsa, khususnya bidang kesenian; (2) pembelajaran sastra memberikan kepuasan batin dan keterampilan pengajaran karya estetis melalui bahasa; (3) pembelajaran sastra bukan pengajaran sejarah sastra, aliran, dan teori tentang sastra; (4) pembelajaran sastra yaitu pembelajaran untuk memahami nilai kemanusiaan dari karya tersebut.
Pembelajaran sastra di sekolah merupakan kegiatan bersastra yang lebih mengarahka pada tujuan membina apresiasi sastra. Hal ini didasarkan pada tiga fungsi pokok pembelajaran di sekolah, yaitu fungsi ideologis, fungsi kultural, dan fungsi praktis (Suwardi via Sayuti, 1994:12). Fungsi ideologis berhubungan dengan pembentukan jiwa pancasila yang tercermin dalam pribadi dengan sifat luhur, cakap, demokratis, dan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Fungsi kultural berhubungan dengan pewarisan karya sastra yaitu bagian dari
kebudayaan dari satu generasi yang berikutnya untuk dimiliki, dinikmati, dipahami, dan dikembangkan. Fungsi praktis berhubungan dengan pembekalan pengalaman-pengalaman agar siswa siap terjun dalam kehidupan nyata bermasyarakat.
Melalui kegiatan berapresiasi, fungsi pengajaran sastra diatas dapat dicapai dengan mengapresiasi sastra, siswa mendapat pencerahan batin melalui nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra, yang merupakan refleksi pengarang terhadap realitas. Siswa akan semakin kaya tentang nilai-nilai kehidupan yang ada di masyarakat. Nilai-nilai ini pada gilirannya akan membentuk manusia yang peka perasaannya, berhati luhur, dan bertanggung jawab. Pencerahan batin diatas dapat dipandang sebagai bentuk pewarisan budaya. Proses pencerahan batin dapat diartikan sebagai transfer nilai-nilai moral sehingga salah satu bentuk budaya dari generasi yang tua (sastrawan) ke generasi yang lebih muda (siswa). Keberhasilan kegiatan apresiasi sastra tidak terlepas dari proses pembelajaran yang dilaksanakan. Proses pembelajaran tanpa arah yang jelas dalam menyampaikan materi dan memposisikan siswa berujung pada kegagalan pencapaian tujuan pembelajaran.
Dapat disimpulkan dari penjelasan di atas bahwa pembelajaran sastra dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan siswa mengapresiasi karya sastra. Kegiatan mengapresiasikan karya sastra berkaitan erat dengan pelatihan mempertajam perasaan, penalaran, dan
daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan hidup.
3. Teori Pembelajaran Puisi a. Pengertian Menulis Puisi
Dewasa ini kurikulum yang digunakan adalah kurikulum K 13 yang sebelumnya menggunakan kurikulum KTSP sehingga kurikulum K13 memiliki standar kompetenis dalam mata pelajaran bahasa indonesia yang memiliki 2 standar yaitu standar bersastra dan standar kompetensi berbahasa. Dua standar tersebut terdiri atas empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Di Kurikulum 13,pada siswa kelas VII semester dua terdapat pembelajaran menulis karya sastra yaitu puisi dengan standar kompetensi: siswa mampu membuat pusi dari hasil pengamatan dilingkungan sekolah. Salah satu kompetensi dasar yang ada yaitu menulis kreatif puisi berkenaan dengan keindahan alam.Saini (1993: 152), menyatakan bahwa menulis puisi dapat membuat seseorang menggunakan kata-kata secara konotatif, menyusun irama dan bunyi, menyusun baris-baris dan bait-bait dengan memperhatikan pengilangan serta tipografi yang dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan. Pada pembelajaran menulis puisi siswa diharapkan dapat mengungkapkan pikiran dan perasaannya dalam bait-bait yang indah, penuh makna dan memiliki tipografi yang indah dan menarik.
Menulis puisi adalah kegiatan untuk melahirkan dan mengungkapkan perasaan, ide, gagasan dalam bentuk tertulis. Tentunya dengan memperhatikan diksi (pilihan kata), bentuk dan bunyi serta ditata secara cermat sehingga mengandung makna khusus sesuai dengan kondisi diri penulis dan lingkungan sosial yang ada di sekitarnya.
b. Manfaat Menulis Puisi
Menurut Akhadiah, dkk. (1996: 8), terdapat beberapa pengertian menulis, yaitu: (1) menulis adalah suatu bentuk komunikasi; (2) menulis adalah suatu proses pemikiran yang dimulai dengan pemikiran tentang gagasan yang akan disampaikan; (3) menulis merupakan bentuk komunikasi yang berbeda dengan bercakap-cakap (dalam tulisan tidak terdapat intonasi ekspresi wajah, gerakan fisik, serta situasi yang menyertai percakapan); (4) menulis adalah suatu ragam komunikasi yang perlu dilengkapi dengan “alat-alat” penjelas serta aturan ejaan dan tanda baca; dan (5) menulis adalah bentuk komunikasi untuk menyampaikan gagasan penulis kepada khalayak pembaca yang dibatasi oleh jarak tempat dan waktu. Menulis yaitu suatu bentuk komunikasi yang berupa penyampaian gagasan penulis kepada pembaca dalam bentuk komunikasi yang berbeda dengan berbicara yang dibatasi oleh jarak, tempat, dan waktu. Menulis juga merupakan ragam komunikasi yang perlu dilengkapi dengan alat-alat penjelas serta ejaan dan tanda baca.
Beberapa manfaat menulis puisi secara umum yaitu: (1) dapat meningkatkan kreativitas siswa, (2) dapat dijadikan sebagai sarana
ekspresi siswa, (3) dapat melatih keberanian siswa dalam mengungkapkan ide- idenya, (4) sebagai alat pengungkapan diri, (5) sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran diri terhadap lingkungan, (6) sebagai alat untuk melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan bersastra, dan (7) sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan menggunakan bahasa sebagai media komunikasi. Menulis puisi memiliki manfaat yang sangat banyak seperti. Secara umum manfaat menulis puisi yaitu dapat meningkatkan kreativitas dan mengembangkan kemampuan serta keterampilan menggunakan bahasa sebagai media komunikasi.
c. Tahapan Menulis Puisi
Sayuti (2000: 5) memaparkan beberapa tahapan dalam menulis puisi. Tahapan tahapan yaitu tahap pertama yang disebut tahap preparasi atau persiapan, tahap ini adalah tahap pengumpulan informasi dan data yang dibutuhkan. Pada tahapan ini guru memberikan penjelasan tentang teknik teratai.Tahap kedua disebut tahap inkubasi atau pengendapan. Setelah memperoleh informasi dan pengalaman yang dibutuhkan serta berupaya dengan pelibatan diri sepenuhnya untuk membangun gagasan sebanyak-banyaknya. Pada tahap ini seluruh “bahan mentah” itu diolah dan diperkaya melalui akumulasi pengetahuan serta pengalaman yang relevan.
Tahap ketiga disebut tahap iluminasi. Jika tahap pertama dan kedua upaya yang dilakukan masih bersifat dan bertaraf mencari-cari
serta mengendapkan, tahap ini iluminasi semuanya menjadi jelas (“terang”), tujuan tercapainya penulisan (penciptaan) karya dapat diselesaikan. Tahap ini siswa diminta untuk menyelesaikan karya yang telah dikembangkan pada tahap sebelumnya.Tahap keempat disebut tahap verifikasi atau tinjauan secara kritis. Pada tahap ini siswa diminta untuk menyunting puisi yang dibuat agar lebih indah, baik dari segi diksi, majas, tipografi dan unsur pembangun puisi lainnya.
4. Model Pembelajaran Kontekstual
Menurut Suprijono (2010: 46), model pembelajaran merupakan pola dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial. Menurut Ifrends (dalam Suprijono, 2010: 46), teknik pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas. Model pembelajaran dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Diharapkan Melalui model pembelajaran guru dapat membantu siswa mendapatkan informasi, ide, keterangan, cara berpikir dan mengekspresikan ide. Dimana model pembelajaran berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guru dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar (Suprijono, 2010: 46). Terdapat berbagai macam model pembelajaran diantaranya model pembelajaran
langsung, pembelajaran induktif, pembelajaran sinektif, pembelajaran berbasis alam, pembelajaran dengan teknik teratai, dan lain-lain. Kata kontekstual berasal dari kata context yang berarti “hubungan, konteks,suasana dan keadaan konteks”. Dengan demikian Contextual Teaching andLearning (CTL) dapat diartikan sebagai suatu pembelajaran yang berhubungan dengan suasana tertentu. Secara umum contextual mengandung arti yakni yang berkenenan, relevan atau ada hubungan atau kaitan langsung, mengikuti konteks, yang membawa maksud, makna dan kepentingan. Contextual Teaching and Learning (CTL) yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata yang mereka lihat secara langsung. Hal ini tentu akan mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dan mengaplikasikanya dalam kehidupan mereka.
Jhonson, Elaine (2009:14) mengemukakan bahwa Contextual Teaching & Learning dapat dirumskan sebagai berikut::
“Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis yang mereka terima, dan mereka menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah jika mereka bisa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya.”
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan di mata pelajaran dan kurikulum manapun dan dapat digunakan pada kelas apapun. Dari berbagai karakteristik yang ada di dalam pembelajaran berbasis kontekstual, peneliti disini menggunakan teknik teratai yaitu teknik mengajar yang bersumber pada beberapa karakteristik pembelajaran kontekstual. Teknik Teratai adalah teknik mengajar yang bersumber pada metode kontekstual dimana siswa akan diminta untuk menulis pusi sehingga dapat mengekspresikan perasaanya dengan mudah dan juga dapat menjernihkan pikiran, karena pembelajaran berlangsung dialam atau sekitar sekolah atau sesuai dengan tempat yang langsung siswa amati. Teknik teratai ini menggunakan beberapa poin, diantaranya menggunakan berbagai sumber dan siswa aktif belajar untuk pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Sungguminasa.
1. Teratai
Teratai adalah teknik mengajar yang bersumber pada metode kontekstual, Karena dengan menggunakan metode Kontekstual konsep belajar tentu akan mendorong guru untuk dapat menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata sehingga dapat
mendorong siswa untuk bisa ikut terlibat secara penuh, sehingga siswa dapat menghubungkan antara pengetahuan yang yang dimiliikinya dan penerapanya dalam kehidupan mereka masing- masing.
( Sugiyanto, 2009:14 ) mengemukakan bahwa teknik teratai memiliki tiga kegiatan dasar, yaitu sesuai dengan nama teknik tersebut. Ter: terjun, at: amati, ai: rangkai.
a. Terjun
Terjun disini dapat diartikan yaitu melakukan pembelajaran dengan memanfaatkan alam lingkungan. Alam lingkungan seperti,; tumbuhan, hewan, bunga, langit, matahari, sungai laut dan lain-lain; yang memungkinkan siswa dapat mengambil pelajaran darinya. Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) adalah konsep belajar yang sangat membantu guru untuk mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan kondisi situasi dunia nyata, sehingga siswa terdorong untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat ( Nurhadi: 2002 ), dari teori ini dapat dilihat keterkaitan teknik teratai dengan model pembelajaran kontekstual sangat erat karena pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang berorientasi pada penciptaan semirip mungkin dengan situasi “ dunia nyata”. Diharapkan melalui pembelajaran kontekstual dapat membantu guru mengaitkan dengan situasi dunia nyata sehingga siswa terdorong untuk
dapat menghubungkan antara pengetahuan dan dapat menerapkanya pada kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.
Menurut Ahmadi ( 1990: 60 ) mengutarakan bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan informasi dari keadaan lingkungan sekeliling kita. Manusia dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitar kita secara konstan dan dapat menyadari sumber-sumber informasi yang terpercaya. Manusia merupakan sebagian dari hukum kausal dan manusia adalah faktor dalam ekuasi dunia, dan karena itu lingkungan terdekat kita selalu memberikan wawasan yang berguna sebagai sumber informasi yang tidak habis-habisnya. Tujuan siswa terjun ke alam adalah agar siswa dapat menemukan suatu pengalaman setelah mengatu suatu objek dari alam, sehingga siswa dapat merangkai pusi dengan bertemakan alam.
Dalam langkah terjun ini, siswa diharakan untuk turjun langsung ke lapangan atau alam, yaitu dengan melihat-lihat alam atau lingkungan sekola mereka, kemudian mencari inspirasi untuk menulis puisi secara langsung dari alam atau langsung mengamati konteks yang akan dijadikann objek dalam membuat puisi. Ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan siswa sebelum terjun ke alam terbuka. Pertama, guru terlebih dahulu harus menyampaikan tujuan mereka terjun langsung ke alam terbuka. Tujuan siswa terjun kealam terbuka yaitu untuk menemukan suatu pengalaman, baik pengalaman batin setelah mengamati suatu objek. Misalnya, siswa ingin membuat puisi dengan tema keindahan alam.
Sebelumnya ia harus menentukan terlebih dahulu apa-apa saja yang akan dia amati untuk mendukung penciptaan puisinya nanti.
Dengan demikian apa yang telah diamati siswa akan berkaitan dengan tema yang sudah dari awal telah ditentukan di.Kedua,guru menyampaikan beberapa materi tentang puisi. Dalam kegiatan awal materi guru hendaknya jangan terlalu memberi materi yang berlebihan, tetapi jelaskan materi secukupnya saja karena akan membingungkan siswa. Guru cukup menjelaskan dan memberikan contoh puisi tentang alam dan macam-macam pengimajian dan sarana retorika agar mereka memiliki bayangan seperti apa pengimajian yang nantinya akan mereka buat.
Dengan mengetahui macam dan jenis pengimajian, diharapkan siswa dapat mengamati dengan daya khayal tentang suatu objek, misalnya aku melihat taman yang berwarna warni, jalanan yang panas dll. Dari sinilah mulai terbentuk bangunan sebuah puisi, tentunya puisi siswa yang menarik dengan beragam keunikannya. Selanjutnya siswa mulai menggabungkannya dengan beberapa sarana retorika, misalkan metafora.
b. Amati
Amati di sini mengandung pengertian, yaitu siswa akan melakukan pengamatan secara langsung terhadap berbagai objek di alam sekitar. Seperti disebutkan di atas, objek itu dapat berupa benda hidup maupun benda mati. Benda hidup contohnya, pohon, bunga, ikan,
manusia, dan lain-lain. Sedangkan benda mati dapat berupa rumah, bangunan, jalan, air dan lain-lain. Dalam melakukan pengamatan tentunya siswa terlebih dahulu menentukan tema yang ingin diangkat menjadi bangunan sebuah puisi.
Peran guru sangat penting disini, karena guru harus memberikan penjelasan secara detail tentang materi puisi, namun perlu diingat pemberian materi itu jangan terlalu berlebih tapi juga jangan terlalu sedikit, secukupnya saja. Yang dituntut dalam pembelajaran dengan menggunakan model kontekstual yaitu proses bukan melulu hasil. Jadi dalam membelajarkan materi guru harus jeli dan seleksi. Semisal, sebelum siswa terjun ke pembelajaran di alam terbuka, siswa terlebih dahulu diberikan contoh puisi yang di dalamnya mengandung pengimajian atau sarana retrorika. Hal itu dilakukan agar nantinya setelah siswa terjun ke pembelajaran alam siswa tidak akan mengalami kesulitan, maksudnya siswa tidak mengalami kesulitan yang akan mengganggu konsentrasinya. c. Rangkai
Setelah siswa selesai mengamati secara langsung dan menentukan apa-apa saja yang nanti akan dijadikannya topik sebagai bahan penciptaan puisi, selanjutnya siswa mulai menyusun dan merangkainya menjadi sebuah bangunan puisi. Bangunan puisi yang dicipta oleh siswa bukan berarti harus lengkap sesuai dengan unsur-unsur dalam puisi, tapi beberapa saja. Bila siswa sudah paham dengan penjelasan guru mengenai pengimajian seperti majam metafora
contohnya yaknni citra perabaan, penglihatan dsb, maka penciptaan puisi hanya sebatas itu dulu saja. Baru setelah siswa menguasainya dan mengalaminya dalam kegiatan penciptaan puisi maka tahap selanjutnya meningkat ke materi yang lebih jauh lagi.
2. ModelTeratai dalam Pembelajaran Menulis Puisi Siswa Kelas VII a. Tujuan
Teknik teratai bertujuan untuk menghilangkan rasa jenuh siswa dengan pembelajaran biasa didalam kelas, selain itu juga mempermudah siswa untuk belajar terutama untuk menulis puisi. Teknik teratai menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajaridan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
b. Strategi
Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Dari karakteristik yang ada di dalam pembelajaran berbasis kontekstual, peneliti menggunakan teknik teratai yang merupakan teknik mengajar yang bersumber pada beberapa karakteristik pembelajaran kontekstual. Teknik teratai ini menggunakan beberapa poin, yaitu menggunakan berbagai sumber dan siswa aktif belajar untuk pembelajaran menulis puisi. Teknik teratai memiliki tiga langkah dasar yaitu terjun, amati, dan rangkai.
c. Media
Media yang digunakan dalam pembelajaran menulis puisi dengan teknik teratai ini adalah alam sekitar atau lingkungan sekitar. Lingkungan sebagai media pengajaran pada dasarnya memvisualkan fakta gagasan, kejadian, peristiwa dalam bentuk tiruan dari keadaan sebenarnya untuk dibahas di kelas dalam membantu proses belajar mengajar.
Di lain pihak, guru dan siswa dapat mempelajari keadaan sebenarnya di luar kelas dengan menghadapkan para siswa kepada lingkungan yang aktual untuk dipelajari, diamati dalam hubungannya dengan proses belajar mengajar. Cara ini lebih bermakna disebabkan siswa dihadapkan pada peristiwa dan keadaan yang sebenarnya secara alami lebih nyata, lebih aktual, dan dapat dipertanggungjawabkan.
3. Langkah-Langkah
Langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan teknik teratai yaitu bersumber dari metode kontekstual sesuai dengan pendapat Sanjaya (2006:270) yaitu:
a. Pendahuluan
1) Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pembelajaran yang akan dipelajari yaitu pembelajaran menulis puisi.
3) Peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah peserta didik
4) Tiap kelompok ditugaskan melakukan observasi.
5) Melalui observasi peserta didik ditugaskan untuk mencatat berbagai hal yang diamati di sekitar lingkungan sekolah
6) Guru melakukan Tanya jawab tentang tugas yang harus dikerjakan oleh setiap peserta didik.
b. Inti
1) Lapangan
a) Peserta didik melakukan observasi ke lingkungan sekitar sekolah sesuai dengan pembagian tugas kelompok.
b) Peserta didik mencatat hal-hal yang mereka amati di sekitar lingkungan sekitar sekolah.
2) Didalam Kelas
a) Peserta didik mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing
b) Peserta didik melaporkan hasil diskusi. 3) Penutup
a) Guru membimbing peserta didik menyimpulkan hasil observasi
keadaan lingkungan sekitar sekolah dengan indikator hasil belajar yang harus dicapai yaitu menulis puisi.
b) Guru menugaskan peserta didik untuk membuat puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima.
B. Kerangka Pikir
Puisi merupakan ragam sastra yang terikat oleh unsur-unsurnya, seperti irama, mantra, rima, baris, dan bait. Puisi juga dapat dikatakan sebagai ungkapan emosi, imajinasi, ide, pemikiran, irama, nada, susunan kata, kata-kata kiasan, kesan pancaindra, dan perasaan. Puisi adalah ungkapan yang memperhitungkan aspek-aspek bunyi di dalamnya, serta berupa pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair dari kehidupan individu dan sosialnya. Puisi diungkapkan dengan teknik tertentu sehingga dapat membangkitkan pengalaman tertentu dalam diri pembaca atau pendengarnya.
Pembelajaran puisi juga merupakan serangkaian kegiatan memang dirancang untuk mendukung siswa dalam belajar agar kegiatan belajar mengajar khususnya puisi dapat dilakukan dengan baik, Pembelajaran menulis puisi dimaksudkan untuk melatih siswa mengembangkan kemampuan menulis kreatif sebuah puisi. Dalam pembelajaran menulis puisi, faktor guru dan teknik/ strategi pembelajaran sangat menentukan keberhasilan pembelajaran. Kemampuan guru juga menjadi faktor utama dalam menjalankan pembelajaran dan mengelola kelas dapat mendorong siswa untuk lebih termotivasi dalam kegiatan belajar. Selain itu seorang guru juga harus pintar dalam memilih model pembelajaran serta memilih media apa yang akan digunakan agar siswa
merasa senang dan tidak bosan dengan pembelajaran yang disampaikan .Dalam menulis sastra, dibutuhkan latihan dan pengarahan yang intensif. Namun, pembelajaran menulis sastra seperti menulis puisi, cerpen, dongeng, fabel dan sebagainya di sekolah kenyataannya mendapat porsi yang sangat sedikit.
Terdapat berbagai hambatan yang dirasakan guru ketika mengajar tentang puisi salah satunya keterbatasan waktu, kurangya kosakata yang dimiliki siswa dan lemahnya kemampuan menulis siswa. Pembelajaran menulis puisi di SMP Negeri 3 Sungguminasa masih sangat minim pemahaman mengenai pembelajaran menulis puisi karenai teknik dan media yang digunakan guru masih dalam taraf berlatih.Penggunaan teknik Teratai merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran menulis puisi kelas VII SMP Negeri 3 Sungguminasa.
Peneliti memilih menggunakan teknik teratai karena teknik teratai merupakan teknik yang dapat merangsang kreativitas dan ide- ide siswa karena teknik teratai dapat mengambil inspirasi dari alam sehingga siswa dapat menuangkanya ke dalam bentuk puisi. Dibandingkan dengan pembelajaran di dalam kelas yang monoton dan membosankan, pembelajaran diluar kelas dapat lebih merangsang kretaivitas dan ide-ide untuk menulis puisi.Dengan adanya teknik teratai ini dapat tercipta salah satu jalan keluar yang dapat digunakan untuk mengatasi kesulitan dalam menulis puisi. Penggunaan teknik dan media pembelajaran tersebut
diharapkan dapat menumbuhkan minat siswa dalam pembelajaran menulis puisi dan memudahkan guru dalam menyampaikan materi.
Gambar 1 :Bagan Pikir
Menyimak Tidak Menggunakan Teknik Teratai Pembelajaran Bahasa Menulis Membaca Berbicara Menulis Puisi Pre-Test Mengggunakan Teknik Teratai Post-Test Analisis
Kelas Kontrol Kelas Eksperimen
A. Hipotesis Penelitian
0= Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan teknik teratai dan pembelajaran menulis puisi tanpa penggunaan teknik teratai
1= terdapat pembeda yang signifikan antara pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan teknik teratai dan pembelajaran menulis puisi tanpa penggunaan teknik teratai
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitan kuantitatif adalah suatu proses menemukan data berupa angka sebagai alat menganalisis keterangan menenai apa yang ingin diketahui.
2. Desain Penelitian
Desain penelitian adalah suatu strategi untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan dan berperan sebagai pedoman atau penuntun peneliti pada seluruh proses penelitian (Nursalam, 2003 : 81).Penelitian yang dilakukan peneliti ini adalah jenis penelitian kuantitatif.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan alasan semua gejala yang diamati dapat diukur dan diubah dalam bentuk angka serta dapat dianalisis dengan analisis statistik.
C. Variabel Penelitian
Variabel Penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh seorang peneliti dengan tujuan untuk dipelajari
sehingga didapatkan informasi mengenai hal tersebut dan ditariklah sebuah kesimpulan. Variabel adalah hal yang sangat penting dalam sebuah penelitian, karena sangat tidak memungkinkan bagi seorang peneliti melakukan penelitian tanpa variabel. Dalam penelitan ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penggunaan teknik teratai dalam menulis puisi, sedangkan variabel terikat dari penelitian ini yaitu kemampuan menulis puisi siswa SMP Negeri 3 Sungguminasa
Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 3 Sungguminasa.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu: 1) uji coba instrumen di luar sampel, 2) tahap pengukuran awal (pre-test) menulis puisi kedua kelompok, 3) tahap perlakuan kelompok eksperimen dan pembelajaran kelompok kontrol,dan 4) tahap pelaksanaan tes akhir (post-test) menulis puisi.
B. Populasi dan Sampel 1 Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri Sungguminasa yang terdiri dari 2 kelas, yaitu VIIA, VIIB, dan dengan jumlah siswa sebanyak 36 siswa. Dasar dipilihnya kelas VII adalah: (1) menurut guru mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, kelas VII belum pernah dilakukan penelitian yang berhubungan dengan pembelajaran menulis puisi, (2) kelas VII yaitu kelas alternatif yang belum memiliki tanggungan berat untuk UKK dan UN, (3) siswa kelas VII yaitu kelas yang mendapatkan materi penulisan puisi pada semester genap tahun ajaran 2019/2020. Jumlah keseluruhan siswa (populasi) disajikan pada tabel berikut.
Tabel 2 : Populasi Penelitian Siswa Kelas VII SMP Negeri 3Sungguminasa
NO KELAS JUMLAH SISWA
1 VIIA 17
2 VIIB 19
TOTAL 36
2. Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2010:174). Dalam penelitian, pemakaian sampel seringkali tak
terhindarkan terutama bila ukuran populasi sangat besar atau jumlah anggota populasi yang diteliti tidak terhingga.
Berdasarkan populasi siswa kelas VII SMP Negeri 3 Sungguminasa yang terbagi dalam dua kelas VII A –VII B diadakan penyampelan dengan teknik cluster random sampling atau pengambilan sampel dengan cara acak sederhana untuk menentukan kelas yang diberi perlakuan dan kelas yang tidak diberi perlakuan.Pengambilan sampel acak ini yaitu mula-mula dua kelas yang akan dijadikan sampel dengan cara pengundian, kemudian dari dua kelas tersebut diundi lagiuntuk menetapkan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dari hasil pengundian siswa kelas VIIA 17 orang sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas VIIB 19 orang sebagai kelas kontrol. Pembelajaran menulis puisi pada kelompok eksperimen dilakukan dengan menggunakan teknik teratai, sedangkan pada kelas kontrol pembelajaran menulis puisi dilakukan tanpa menggunakan teknik teratai.
C. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah teknik tes yaitu pre-test dan post-test. Tes merupakan serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Pre-test yang digunakan untuk mengukur kemampuan awal siswa
dalam menulis puisi tanpa diberikan perlakuan terlebih dahulu, sedangkan post-test digunakan untuk mengukur kemampuan akhir siswa dalam menulis puisi setelah diberi perlakuan berupa penggunaan teknik teratai. Pre-test dan post-test ini dilakukan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.Teknik tes yang digunakan untuk mendapatkan data-data siswa baik yang diperoleh dari tes awal sebelum tindakan (pre-test) maupun setelah diberi tindakan (post-test) yaitu berupa keterampilan siswa dalam menulis puisi.
D. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan alat- alat yang diperlukan atau dipergunakan untuk mengumpulkan data. Ini berarti, dengan menggunakan alat-alat tersebut data dikumpulkan. Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah soal tes yang berupa soal esai dalam menulis puisi. Tes menulis puisi ini berisi penugasan terhadap siswa untuk membuat sebuah puisi. Skor didapat dari hasil pekerjaan siswa yang diukur menggunakan instrumen yang telah dibuat. Kriteria penilaian menulis puisi terdiri dari unsur pembangun puisi yang meliputi diksi, gaya bahasa, makna, rima,imaji, dan amanat. Adapun skor dan kriteria penilaiannya adalah sebagai berikut:
Tabel 3 : Kriteria Penilaian Penulisan Puisi 1. Penghayatan dan Penjiwaan
Peserta harus bisa memberikan penghayatan dan penjiwaan lebih saat membacakan puisi di hadapan juri. Hal ini bertujuan agar pesan dari puisi bisa turut dirasakan para juri melalui sebuah penghayatan dan penjiwaan yang baik dan mendalam.
2. Ekspresi
Sementara yang dimaksud ekspresi di sini adalah ketika peserta membaca bait kemarahan, maka peserta harus mengeksresikan kemarahan tersebut, begitu juga ketika membacakan bait tentang kesedihan ataupun kerinduan.Bisa dibilang ekspresi ini sangat berkaitan dengan mimik wajah ketika membaca puisi. Jadi ekspresi peserta harus bisa professional dan tepat, namun jangan terlalu berlebihan juga dalam berekspresi.
3. Gesture
Membaca puisi tidak harus selalu diam di tempat dan hanya memainkan ekspresi wajah, tapi alangkah lebih baik jika peserta juga
menggunakan gesture tubuh yang pas untuk menunjang penyampaian puisi tersebut.
Misalnya seperti semangat perjuangan, maka ada baiknya melakukan gesture posisi tegap sembari mengepalkan tangan ke atas sebagai tanda semangat perjuangan.
4. Artikulasi (Pelafalan)
Untuk artikulasi peserta dalam membacakan puisi ini yang dinilai tentu seputar jelas tidaknya pelafalan seperti pengucapan huruf vokal A, I, U, E, O.
5. Intonasi (Penekanan)
Yang menjadi nyawa dalam pembacaan puisi adalah intonasi. Jadi intonasi ini yang akan menentukan penekanan-penekanan kata maupun tinggi rendahnya suara dalam membaca puisi. Karena ketika membacakan baik kesedihan dan kemarahan tentu intonasi yang disampaikan harus berbeda, jangan sampai semua bait puisi dibacakan dengan intonasi yang sama, karena akan terkesan sangat monoton.
Sebelum instrumen tersebut digunakan telebih dahulu dilakukan uji coba instrumen untuk mengetahui validitas dan realibilitas instrumen tersebut.
1. Uji Validitas Instrumen
Validitas merupakan suatu ukuran yang dapat menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang validitas (Arikunto, 2010: 211).
Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi (contentvalidity). Validitas isi merupakan validitas yang dapat mempertanyakan bagaimana kesesuaian antara instrumen dengan tujuan dan deskripsi bahan yang diajarkan atau deskripsi masalah yang akan diteliti (Nurgiyantoro, 2009: 339). Materi soal esai tentang menulis puisi tersebut sesuai dengan materi yang ada dalam kurikulum yang dipakai di SMP Negeri 3 Sungguminasa.
2. Uji Reliabilitas Instrumen
Reliabilitas merupakan sesuatu yang dapat menunjuk pada satu pengertian bahwa suatu instrumen dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik (Arikunto, 2010: 221). Reliabilitas sendiri berarti dapat dipercaya atau
diandalkan. Instrumen dikatakan reliabel jika menunjukkan hasil yang tetap walaupun diujikan kapan saja dan di mana saja. Dengan kata lain,instrumen tes ini dikatakan reliabel apabila suatu tes dapat mengukur secara konsisten sesuatu yang akan diukur dari waktu ke waktu.
Rumus yang digunakan adalah rumus Alpha Cronbach yang dapat digunakan baik untuk instrumen yang jawabannya berskala maupun jika dikehendaki yang bersifat dikhotomis. Oleh karena itu, rumus Alpha Cronbach ini bisa digunakan untuk menguji reliabilitas soal-soal esai.
Selain itu pertanyaan esai juga dapat memberikan skor secara berskala karena pada prinsipnya semua jawaban yang telah diberikan oleh subjek penelitian mempunyai nilai atau selayaknya diberi skor (Nurgiyantoro, 2009: 351).
Menurut Nurgiyantoro (2009: 354), indeks reliabilitas untuk jenis reliabilitas Alpha Cronbach dinyatakan reliabel apabila harga r yang diperoleh paling tidak mencapai 0,60 dan untuk instrumen yang berupa alat tes dan atau angket yang dibuat oleh guru untuk keperluan pengajaran. Selain itu, untuk tes-tes standar atau yang distandarkan, harga indeks reliabilitas itu paling tidak harus mencapai 0,86 atau bahkan 0,89.
E. Prosedur Penelitian
Penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 3 Sungguminasa ini dilaksanakan dalam tiga tahap, yakni pra eksperimen, eksperimen, dan pascaeksperimen. Tahap-tahap tersebut akan dijelaskan sebagai berikut. 1. Tahap Praekspemen
Pada tahap ini guru akan melakukan pengukuran (tahap awal) kemampuan menulis puisi siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen atau disebut pre-test. Pengukuran yang dilakukan sebelum siswa kelas eksperimen mendapatkan perlakuan dengan teknik teratai. Pre-test dilakukan guru dengan memberikan tes kemampuan menulis puisi,cara ini diambil agar guru dapat mengetahui kemampuan awal yang dimiliki kedua kelompok siswa tersebut yang sejak semula mendapat perlakuan sama dari guru mata pelajaran bahasa Indonesia.
Setelah dilakukan pre-test, hasil dari tes kedua kelompok tersebut dianalisis menggunakan rumus Uji-t untuk mengetahui bawa kedua kelompok tersebut memiliki kemampuan menulis puisi yang sama sebelum lakukan perlakuan atau treatment dengan rencana yang telah ditentukan.
2. Tahap Eksperimen
Pada tahap eksperimen peneliti akan melakukan perlakuan atau treatment terhadap kelas eksperimen dengan menggunakan strategi teknik teratai, sedangkan pada kelompok kontrol peneliti tidak memberi
perlakuan dengan menggunakan teknik teratai. Langkah-langkah skenario pembelajaran menulis puisi tersebut akan dilakukan sebagai berikut. a. Kelompok Kontrol
Pada kelompok kontrol setelah mendapatkan kegiatan pre-test, kelompok kontrol mendapatkan pembelajaran menulis puisi tanpa menggunakan teknik teratai, tetapi menggunakan apa yang biasanya digunakan oleh guru seperti metode ceramah yang bersifat monoton. Dalam pembelajaran ini, guru lebih banyak memberikan materi yang berhubungan dengan puisi, kemudian siswa diberikan tugas menulis puisi sesua dengan kreativitas dan ide mereka.
b. Kelompok Eksperimen
Pada kelompok setelah mendapatkan kegiatan pre-test, kelompok eksperimen kemudian mendapatkan perlakuan yaitu dengan cara menggunakan teknik teratai. Proses perlakuan untuk kelas eksperimen teknik teratai melalui langkah-langkah sebagai berikut.
1) Siswa akan diberi contoh puisi dengan tema keindahan tentang alam 2) Kemudian siswa diarahkan untuk keluar kelas untuk mencari objek
atau bahan untuk puisi.
3) Lalu ,Siswa dimiinta untuk mengamati lingkungan alam sekitar sekolah mereka untuk memudahkan menentukan tema puisi;
4) Siswa kemudian diarahkan untuk menentukan tema puisi yang akan ditulisnya sesuai dengan topik yang telah ditentukan.
5) Kemudian, siswa diminta untuk membuat larik-larik puisi tentang alam sesuai dengan tema yang telah dipilih;
6) Siswa lalu diminta untuk merangkai larik-larik puisi yang telah ditulis menjadi sebuah puisi sesuai dengan kemampuan mereka dan dengan pilihan kata dan rima yang tepat;
7) Siswa kemudian melakukan penyuntingan antar teman terhadap puisi yang mereka tulis lalu memperbaikinya sesuai saran teman.
3. Tahap Pasca eksperimen
Tahap ini adalah tahap pengukuran terhadap perlakuan yang diberikan. Pada tahap ini, siswa kelas kontrol maupun siswa kelas eksperimen diberikan tes akhir (post-test) dengan materi yang sama pada saat tes awal (pretest).
Pemberian tes ini bertujuan agar guru dapat melihat perbedaan kemampuan siswa dalam menulis puisi setelah diberi perlakuan dengan menggunakan teknik teratai dan yang tidak diberi perlakuan dengan menggunakan teknik teratai. Hasil uji dari pre-test dan post-test akan dibandingkan untuk mengukur apakah skornya mengalami peningkatan, sama, atau bahkan mengalami penurunan.
F. Teknik Analisis Data 1. Penerapan Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis data berupa teknik uji-t atau t-tes. Penggunaan teknik analisis uji-t dimaksudkan untuk menguji
perbedaan antara kelas eksperimen yang telah mendapatkan perlakuan dengan menggunakan teknik teratai dan kelas kontrol yang diajar tanpa menggunakan teknik teratai dalam pembelajaran menulis puisi.
Teknik analisis uji-t yang digunakan peneliti untuk menguji apakah kedua skor rerata dari kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki perbedaan. Apabila t hitung lebih kecil dari tabel pada taraf signifikansi 5%, maka ada perbedaan yang signifikan antara skor rerata post-test kelas eksperimen dan kelas kontrol. Adanya peningkatan skor antara kedua kelompok tersebut dapat dilihat dari perbedaan skor rerata pre-test dan post-test antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Sugiono (2011:197) menjelaskan bahwa untuk membandingkan kelas kontrol dan kelas eksperimen, digunakan t-test sampel relatet yang dirumuskan sebagai berikut :
=
√ √
Keterangan : t = Nilai hitung
X1= Nilai rata-rata kelas kontrol X2= Nilai rata-rata kelas eksperimen S1= simpangan baku kelas kontrol S2= simpangan baku kelas eksperimen S12 = Varians kelas kontrol
S12= Varians kelas eksperimen N1 =Jumlah sampel kelas kontrol
N2 =Jumlah sampel kelas eksperimen R = Kolerasi antara dua sampel
2. Uji Analisis Data a. Uji Normalitas
Uji normalitas yang digunakan peneliti ini betujuan agar dapat membuktikan kenormalan data yaitu mengetahui apakah data-data yang diteliti memiliki distribusi normal atau tidak. Pada penelitian ini, uji normalitas sebaran dilakukan terhadap skor pre-test dan post-test baik pada kelas eksperimen maupun pada kelas kontrol. Pengujian normalitas sebaran data ini menggunakan teknik uji normalitas Kolmogorov-Smirnov. Kriteria penilaiannya yaitu apabila t< signifikansi 5% (α=0,05) menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal, tetapi apabila t> signifikansi 5% (α=0,05) menunjukkan bahwa data tersebut berdistribusi normal.
b. Uji Homogen
Uji homogen yang dilakukan penelitian yaitu menggunakan varians yang dimaksudkan untuk mengetahui apakah sampel yang diambil dari populasi memiliki varians yang sama dan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan satu sama lain. Jika pembanding yang digunakan lebih besar dari 5% (α=0,05) berarti skor hasil tes tersebut tidak memiliki perbedaan varian atau homogen, tetapi jika pebanding yang digunakan kurang dari 5% (α=0,05) berarti kedua varian tidak homogen.
3. Uji Hipotesis
Uji hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus Uji-t. Rumus Uji- t yang digunakan untuk dapat menguji nilai rata-rata dari kedua kelompok tersebut memiliki perbedaan atau tidak.
Jika nilai siginifikan t < 0,05 maka 0ditolak Jika nilai signifikan t > 0,05 maka 1diterima