• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1438 H/ 2017 M

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1438 H/ 2017 M"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam (S.Pd.I) pada Prodi Pendidikan Agama Islam

Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar

OLEH:

RAMADIYAH

NIM: 10519186013

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

1438 H/ 2017 M

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

vi

H. Mawardi Pewangi dan Abd. Rahman Bahtiar.

Kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan tingkat satuan pendidikan, yang harus bertanggung jawab terhadap maju mundurnya sekolah yang dipimpinnya, baik dari segi kinerja guru, peningkatan kualitas dan kuantitas peserta didik, hingga sosialisasi dengan masyarakat dan lingkungan sekitar. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana peran kepala sekolah SMP Muhammadiyah 14 Makassar sejak tahun ajaran 2010/2011 hingga saat ini? 2)Bagaimana gambaran peningkatan jumlah peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Makassar sejak tahun ajaran 2010/2011 hingga saat ini? 3)Apa saja upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam usaha peningkatan jumlah peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Makassar sejak tahun ajaran 2010/2011 hingga saat ini?.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode pengumpulan data wawancara dan studi dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan.

Adapun hasil penelitiannya adalah 1)Kepala SMP Muhammadiyah 14 Makassar dalam menjalankan kepemimpinannya telah melaksanakan perannya sebagai edukator, manajer, administrator, dan supervisor dengan baik sebagaimana peran yang seharusnya. 2) Jumlah peserta didik di SMP Muhammadiyah 14 Makassar terus meningkat pada tiap tahunnya. Terjadinya penigkatan tersebut dikarenakan kemahiran kepala sekolah dalam mengelola sekolah tersebut, mulai dari guru, pembelajaran, fasilitas, hingga pelayanan terhadap peserta didik maupun orang tua peserta didik. 3)Terdapat banyak upaya yang dilakukan oleh kepala SMP Muhammadiyah 14 Makassar dalam meningkatkan jumlah peserta didik seperti mengembangkan potensi peserta didik pada kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler, pembinaan protokol dan kultum, hafalan surah-surah hingga dalam proses sosialisasi di masyarakat dengan menyebarkan brosur dan spanduk serta menampilkan bakat peserta didik pada saat kegiatan penamatan kelas IX.

Kata Kunci: Peran Kepala Sekolah, Meningkatkan Jumlah Peserta Didik, SMP Muhammadiyah 14 Makassar

(7)

vii

dalam setiap hela nafas atas kehadirat dan junjungan Allah SWT. Bingkisan salam dan shalawat tercurah kepada kekasih Allah, Nabiyullah Muhammad SAW, para sahabat dan keluarganya serta ummat yang senantiasa istiqamah di jalan-Nya.

Tiada jalan tanpa rintangan, tiada puncak tanpa tanjakan, tiada kesuksesan tanpa perjuangan. Dengan kesungguhan dan keyakinan untuk terus melangkah, akhirnya sampai di titik akhir penyelesaian skripsi. Namun, semua tak lepas dari uluran tangan berbagai pihak lewat dukungan, arahan, bimbingan, serta bantuan moril dan materil.

Penghargaan dan ucapan terima kasir terkhusus kupersembahkan kepada yang tercinta yang dengan penuh kasih sayang dan tetesan air mata serta doa kalian yang tulus nan suci ananda harapkan dapat terus menyongsong masa depan dalam menghadapi tantangan hidup, rasa terima kasih tidak dapat ananda ucapkan walaupun dengan kata-kata yang paling manis sekalipun.

Ucapan terima kasih yang tak terhingga peneliti haturkan kepada: 1. Ayahanda Alm. Patilah dan ibunda Alm. Tjihah.

2. Dr. H. Abd. Rahman Rahim SE., MM selaku rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Drs. H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I selaku Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Amirah Mawardi, S.Ag., M.Si selaku Ketua Prodi Pendidikan Agama Islam dan sekretaris prodi, serta para dosen prodi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.

5. Drs. H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I dan Abd. Rahman Bahtiar, S.Ag., MA selaku pembimbing penulis yang senantiasa meluangkan waktunya serta meberikan ide serta sarannya dalam penulisan skripsi ini.

6. Teman dan sahabat penulis yang selalu memberikan dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Terakhir ucapan terima kasih juga disampaikan kepada keluarga penulis yang tidak henti-hentinya mendoakan,

(8)

viii

pihak yang sifatnya membangun karena penulis yakin bahwa suatu persoalan tidak akan berarti sama sekali tanpa adanya kritikan. Mudah-mudahan skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca, terutama bagi diri pribadi penulis. Amin.

Makassar,

(9)

ix

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii - viii DAFTAR TABEL ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1- 12 A. Latar belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 9

C. Fokus Penelitian ... 9

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 10

E. Tinjauan Pustaka ... 11

BAB II KAJIAN TEORI ... 13-27 A. Pengertian Peran Kepala Sekolah ... 13

B. Peran Kepala Sekolah ... 15

C. Meningkatkan Jumlah Peserta Didik ... 21

D. Kerangka Konseptual ... 27

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 28-33 A. Jenis Penelitian ... 28

B. Pendekatan Penelitian ... 28

C. Sumber Data ... 29

D. Instrumen Penelitian ... 29

E. Metode Pengumpulan Data ... 30

F. Teknik Pengholahan dan Analisis Data ... 31

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 34-54 A. Sejarah Berdirinya SMP Muhammadiyah 14 Makassar ... 34

(10)

x

Muhammadiyah 14 Makassar Sejak Tahun Ajaran 2010/2011 Hingga Saat Ini ... 48 D. Upaya Yang Dilakukan Kepala Sekolah Dalam Usaha

Peningkatan Jumlah Peserta Didik SMP Muhammadiyah 14 Makassar Sejak Tahun Ajaran 2010/2011 Hingga Saat Ini. 51 BAB V PENUTUP ... 55-56

A. Kesimpulan ... 55 B. Saran ... 56 DAFTAR PUSTAKA ... 57

(11)

xi

Makassar ... 35

Tabel. 2 Daftar Guru SMP Muhammadiyah 14 Makassar ... 39

Tabel. 3 Keadaan Peserta Didik ... 40

Tabel. 4 Keadaan Sarana dan Prasarana ... 40

(12)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan di Indonesia kini terus dikembangkan, terutama sejak reformasi bergulir pada tahun 1998. Hal ini ditandai dengan lahirnya Undang-Undang (UU) No. 22 Tahun 1999 yang belakangan direvisi oleh UU No. 23 Tahun 2014 yaitu tentang pemerintah daerah. Salah satu agenda reformasinya adalah pendelegasian kewenanagan pengelolaan pendidikan pada pemerintah daerah. Hanya saja kewenangan pemerintah daerah terbatas pada aspek pembiayaan, sumber daya manusia, dan sarana pra sarana. Sementara untuk aspek- aspek menyangkut kurikulum, pembelajaran, evaluasi dan pengukuran sarana dana alat pembelajaran, metode dan waktu belajar, buku teks serta alokasi belanja dan penggunaan anggaran, semuanya menjadi kewenangan sekolah. Dalam hal ini maka kepala sekolah dan para guru dituntut bertanggung jawab terhadap kualitas proses dan hasil belajar guna meningkatkan mutu pendidikan secara nasional.1

Inilah era reformasi pendidikan yang sangat monumental dalam sejarah pendidikan di Indonesia, dimana otoritas yang sangat besar diberikan langsung diberikan kepada kepala sekolah.

Sekolah dapat mengembangkan inovasinya masing-masing dalam mengembangkan perlakuan terhadap peserta didik dalam belajar, bahkan

1

Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis, Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam

(13)

sekolah diberi kewenangan untuk menetapkan apakah akan full day school atau part day school dalam pengunaan waktu belajar. Dalam hal ini merupakan yang terpenting sekaligus menjadi titik tekannya adalah pada end-productnya berupa alumni yang berprestasi, siap diuji sesuai dengan standar kompetensi yang ditetapkan oleh pemerintah atas usulan masyarakat. Oleh karena itu, jika prestasi peserta didik menurun maka masyarakat tidak bisa menyalahkan kantor dinas pendidikan kabupaten/kota. Sebaliknya, masyarakat akan bertanya langsung pada kepala sekolah yang bersangkutan.

Berkaca pada agenda reformasi tersebut, maka kepala sekolah mendapat tuntutan peran yang sangat besar yakni menjadi pemimpin yang kuat dan memiliki strong leadership untuk mendorong seluruh gurunya bekerja total dalam mendidik para peserta didiknya, memiliki visi untuk kemajuan sekolah, konsisten dengan visinya. Namun tetap demokratis dan menghargai pandangan para koleganya.

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi setiap orang terkait dalam memanusiakan manusia, oleh karena itu penyelenggaraan pendidikan juga menjadi suatu yang penting dalam menunjang proses pendidikan. Dalam suatu lembaga pendidikan terdapat berbagai komponen yang senantiasa bekerja sama dalam memajukan pendidikan di bawah kepemimpinan kepala sekolah.

Kepala sekolah harus memiliki ekspektasi yang baik terhadap peserta didik, memberikan penguatan basic skill sehingga bisa berkembang dengan baik dalam profesi apapun, dan ammpu menciptakan

(14)

suasana yang kondusif untuk para guru dan staf bekerja. Selanjutnya kepala seklah juga harus dedikatif untuk sekolahnya dan bekerja total bagi kemajuan sekolahnya.

Untuk mengembangkan suatu sekolah, salah satu faktor yang mempengaruhi pengembangan lembaga pendidikan adalah faktor kepemimpinan. Kepemimpinan dan pemimpin dibutuhkan untuk mengefisienkan setiap langkah atau kegiatan yang berarti dan hanya pemimpin yang bersedia mengakui bakat-bakat, kapasitas, inisiatif, dan kemauan baik dari para bawahannya untuk berinisiatif dan bekerjasama secara koperatif.

Berkenaan dengan kepemimpinan ini dapat dilihat berdasarkan firman Allah dalam al-Quran Surah al-Baqarah (2) 30:

ۡذِإَو

مِعبَج يِوِإ ِةَكِئَٰٓهَمۡهِن َلُبَّر َلبَق

ٞ

يِف

ِضۡرَأۡنٱ

ةَفيِهَخ

ٞ

بَهيِف ُمَعۡجَتَأ ْآىُنبَق ۖ

ُلِفۡسَيَو بَهيِف ُدِسۡفُي هَم

َءٓبَمِدنٱ

ُمَهۡعَأ ٓيِوِإ َلبَق َۖلَن ُسِدَقُوَو َكِدۡمَحِبّ ُحِبَّسُو ُهۡحَوَو

َنىُمَهۡعَت بَن بَم

٠٣

Terjemahnya:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.".2

2

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (CV. Darus Sunnah: Jakarta, 2002), h. 7.

(15)

Berdasarkan ayat terdahulu, dapat dipahami bahwa kehadiran seorang pemimpin mampu memperbaiki kualitas terhadap suatu yang dipimpinnya dan harus ada kerjasama terhadap semua bawahannya.

Menjadi seorang pemimpin pendidikan, tidak saja dituntut untuk menguasai teori kepemimpinan, tetapi ia juga harus terampil dalam menerapkan situasi praktis di lapangan kerja dan etos kerja yang tinggi untuk membawa untuk membawa lembaga pendidikan yang dipimpinnya.

Seiring dengan tuntutan masyarakat mengenai pentingnya pendidikan yang bermutu, akhir-akhir ini berkembang konsep sekolah modern misalnya sekolah favorit, sekolah unggulan, sekolah model dan seterusnya. Konsep-konsep sekolah modern tersebut merupakan gambaran betapa kebutuhan pendidikan merupakan salah satu kebutuhan utama. Sekolah merupakan institusi yang spesifik dari perangkat fungsi-fungsi yang mendasar dalam melayani masyarakat. Keberhasilan dalam membangun sekolah yang bermutu akan memberikan kontribusi terhadap keberhasilan pendidikan yang selanjutnya akan meningkatkan profil sumber daya manusia yang akan menjadi modal utama untuk berdayasaing di era globalisasi.3 Maka disinilah peran kepala sekolah dalam menanggapi persoalan-persoalan era saat ini.

Kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan tingkat satuan pendidikan, yang harus bertanggung jawab terhadap maju mundurnya sekolah yang dipimpinnya, baik dari segi kinerja guru, peningkatan

3

EuisKarwatidanDonniJunniPriansa, KinerjadanProfesionalismeKepalaSekolah (Bandung: Alfabeta, 2013) h. 46.

(16)

kualitas dan kuantitas peserta didik, hingga sosialisasi dengan masyarakat dan lingkungan sekitar.

Tidak jarang kepala sekolah menerima ancaman jika tidak dapat memajukan sekolah yang dipimpinnya maka akan dimutasikan dari jabatannya. Oleh karena itu, kepala sekolah dituntut untuk memiliki berbagai kemampuan, baik berkaitan dengan masalah manajemen maupun kepemimpinan, agar dapat mengembangkan dan memajukan sekolahnya secara efektif, efisien, mandiri, dan produktif.

Dewasa ini terjadi perubahan dalam sistem pengelolaan sekolah sejak diberlakukannya otonomi daerah yaitu adanya pelimpahan sebagian kewenangan pemerintah pusat ke daerah, termasuk kewenangan dalam pengelolaan pendidikan. Salah satupendekatanpengelolaanpendidikan yang diterapkan adalah pendekatan pengelolaan pendidikan berdasarkan sekolah atau dikenal dengan istilah manajemen berbasis sekolah.4

Manajemen berbasis sekolah berarti segala tanggung jawab berkaitan dengan sekolah dikelola oleh komponen sekolah dan tentunya di bawah kepemimpinan kepala sekolah.

Sukses tidaknya pendidikan dan pembelajaran di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan kepala sekolah dalam mengelola setiap komponen sekolah. Kemampuan kepala sekolah tersebut terutama berkaitan dengan pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap manajemen dan kepemimpinan, serta tugas yang dibebankan kepadanya, karena tidak jarang kegagalan pendidikan dan pembelajaran di sekolah

4

E. Mulyasa, Manajemendan Kepemimpinan Kepala Sekolah (Jakarta: Remaja Rosdakarya, 2015), h. 122.

(17)

disebabkan oleh kurangnya pemahaman kepala sekolah terhadap tugas-tugas yang harus dilaksanakannya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa berhasil tidaknya suatu sekolah dalam mencapai tujuan serta mewujudkan visi dan misinya terletak pada bagaimana manajemen dan kepemimpinan kepala sekolah, khususnya dalam menggerakkan dan memberdayakan berbagai komponen sekolah.

Kepala sekolah memegang suatu peranan penting dalam memengaruhi dan mengarahkan seluruh komponen sekolah agar dapat bekerja sama dala usaha pencapaian tujuan organisasi sekolah. Tidak kalah pentingnya adalah produktivitas organisasi sekolah sebagaimana yang tampak dalam bentuk efektivitas dan efisiensi pengelolaannya serta kualitas dan kuantitas dari lulusannya.

Suatu sekolah akan dikatakan berhasil ketika terdapat peningkatan pada tiap periodenya, baik peningkatan dari segi mutu, kinerja guru, hingga kualitas dan kuantitas peserta didik. Apabila terjadi peningkatan pada tiap periodenya hal itu tak terlepas dari peran kepala sekolah itu sendiri dalam menggerakkan seluruh komponen sekolah.

Kepala sekolah adalah seorang guru yang diangkat untuk menduduki jabatan struktural di sekolah. Ia ditugaskan untuk mengelola sekolah. Kepala sekolah yang berhasil adalah apabila ia memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks. Studi keberhasilan kepala sekolah menunjukkan bahwa kepala sekolah adalah

(18)

seseorang yang menentukan titik pusat dan irama suatu sekolah. Keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah.5

Peranan kepala sekolah sebagai pemimpin mencerminkan tanggung jawab kepala sekolah untuk menggerakkan seluruh sumber daya yang ada di sekolah, sehingga lahir etos kerja dan produktivitas yang tinggi dalam mencapai tujuan. Fungsi kepemimpinan ini amat penting sebab di samping sebagai penggerak juga berperan untuk melakukan kontrol segala aktifitas guru, staf, siswa dan sekaligus untuk meneliti persoalan-persoalan yang timbul di lingkungan sekolah.

Kepala sekolah harus memiliki visi dan misi, serta strategi manajemen pendidikan secara utuh dan berorientasi kepada mutu. Strategi ini dikena dengan Manajemen Mutu Terpadu (MMT) yang telah populer dalam dunia bisnis dan industri. Strategi ini merupakan usaha sistematis dan terkoordinasi untuk secara terus menerus memperbaiki kualitas layanan sehingga fokusnya diarahkan ke pelanggan dalam hal ini peserta didik, orang tua peserta didik, pemakai lulusan, guru, karyawan, pemerintah dan masyarakat.6

Sedikitnya terdapat lima sifat layanan yang harus diwujudkan oleh kepala sekolah agar pelanggan puas: yakni layanan yang sesuai dengan yang dijanjikan (reability), mampu menjamin kualitas pembelajaran (assurance), iklim sekolah yang kondusif (tangible), memberikan perhatian

5

Wahyosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan

Permasalahannya (Bandung: Raja Grafindo Persada, 2003), h. 82.

6

E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional dalam Konteks Menyukseskan MBS dan KBK (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), h. 26.

(19)

penuh kepada peserta didik (emphaty), cepat tanggap terhadap kebutuhan peserta didik (responsivness).7

Lancar atau tidaknya suatu sekolah dan tinggi rendahnya mutu sekolah tidak hanya ditentukan oleh jumlah guru dan kompetensinya, tetapi lebih banyak ditentukan oleh cara kepala sekolah melaksanakan kepemimpinan di sekolahnya.8

Salah satu upaya yang harus dilakukan kepala sekolah dalam mengembangkan sekolah yang dipimpinnya adalah bagaimana ia dapat meningkatkan jumlah peserta didik tiap periode tahun ajaran. Dalam usaha peningkatan kualitas peserta didik ini maka kepala sekolah harus memiliki visi, misi, serta manajemen sekolah yang bagus, terlebih lagi dalam bersosialisasi dengan masyarakat dan lingkungan sekitar sehingga dapat menarik perhatian masyarakat untuk menyekolahkan keluarganya di sekolah tersebut.

Salah satu sekolah di Kota Makassar yang tiap tahun ajaran terjadi peningkatanjumlah peserta didiknya adalah SMP Muhammadiyah 14 Makassar sejak tahun ajaran 2010/2011 hingga saat ini terus terjadi peningkatan dari segi jumlah peserta didik. Sekolah ini terbilang sebagai sekolah kecil yang berletak di tengah-tengah pemukiman penduduk, namun tiap periode tahun ajaran sekolah ini terus menunjukkan kualitas dan terjadi peningkatan jumlah peserta didik.

7

E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional dalam Konteks Menyukseskan MBS dan KBK, h. 26.

8

Ahmad Rohani, dkk, Pedoman Penyelenggaraan Administrasi Di Sekolah (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h.75.

(20)

Hal ini disebabkan meningkatnya kepercayaan masyarakat. Dapat dilihat ketika PSB (Penerimaan Siswa Baru) di SMP Muhammadiyah 14 Makassar belum dibuka sudah ada saja wali murid yang mendaftarkan anaknya. Bagaimana cara kepala sekolah mengelola pendidikan di SMP Muhammadiyah 14 Makassar menjadi sekolah yang diminati masyarakat? Berdasarkan hal ini penulis merasa tertarik untuk melakukan sebuah penelitian terkait dengan peran kepala sekolah dalam meningkatkan jumlah peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Makassar periode 2010-sekarang. Karena keberhasilan suatu sekolah sedikit banyak merupakan hasil dari kinerja kepala sekolah dalam memimpin dan mengelola sekolahnya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana peran kepala sekolah SMP Muhammadiyah 14 Makassar sejak tahun ajaran 2010/2011 hingga saat ini?

2. Bagaimana gambaran peningkatan jumlah peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Makassar sejak tahun ajaran 2010/2011 hingga saat ini?

3. Apa saja upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam usaha peningkatan jumlah peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Makassar sejak tahun ajaran 2010/2011 hingga saat ini?

(21)

C. Fokus Penelitian

Dalam penelitian ini, focus penelitian berbicara pada persoalan peran kepala sekolah dalam meningkatkan jumlah peserta didik yang dapat dilihat dari beberapa perspektif meliputi:

1. Peran kepala sekolah SMP Muhammadiyah 14 Makassar yang menekankan pada tugas dan fungsi kepala sekolah SMP Muhammadiyah 14 Makassar.

2. Gambaran peningkatan jumlah peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Makassar mengenai peningkatannya sejak tahun ajaran 2010/2011.

3. Upaya kepala sekolah dalam meningkatkan jumlah peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Makassar menekankan pada perencanaan, manajemen, serta usaha-usaha yang dilakukan kepala sekolah.

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukan dalam penelitian ini, maka tujuan penelitian untuk:

a. Mendeskripsikan peran kepala sekolah SMP Muhammadiyah 14 Makassar.

b. Menyajikan data-data konkret terkait peningkatan jumlah peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Makassar pada tiap tahun ajaran.

(22)

c. Mendeskripsikan upaya-upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan jumlah peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Makassar.

2. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat member manfaat yang secara umum dapat diklasifikasikan dalam dua manfaat berikut:

a. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam pengembangan teori tentang peran kepala sekolah dalam memimpin dan mengelola sekolah terutama dalam upaya peningkatan jumlah peserta didik.

b. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang peningkatan jumlah peserta didik tiap tahun ajaran juga dapat dijadikan sebagai acuan sekolah dalam meningkatkan animo masyarakat untuk tetap memberikan kepercayaan pada sekolah tersebut dalam mendidik anak-anak mereka.

E. Tinjauan Pustaka

Menelusuri hasil riset maupun literature kepustakaan yang pernah dilakukan sebelumnya, penulis tidak menemukan pembahasan yang memiliki objek kajian persis serupa dengan penelitian ini.Oleh karena itu agar tidak terjadi plagiasi penulis penting untuk memaparkan beberapa penelitian yang membahas tentang peran kepala sekolah sebagai berikut:

(23)

1. Abdul Mu’min dalam penelitiannya memaparkan bahwa kepala sekolah memiliki peran penting dalam meningkatkan profesionalisme kinerja guru. Ia mengungkapkan bahwa antara kepala sekolah dan guru harus bersinergi sehingga dapat meningkatkan profesionalisme guru.9 Penelitian ini dan penelitian penulis sama-sama membahas tentang peran kepala sekolah, namun letak perbedaannya adalah penelitian penulis lebih fokus kepada peran kepala sekolah dalam meningkatkan jumlah peserta didik. Sedangkan penelitian tersebut peran kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme kinerja guru.

2. Ari Khozin Effendi dalam penelitiannya mengemukakan bahwa kepala sekolah memegang kendali penuh dalam usaha peningkatan mutu pendidikan.10 Penelitian tersebut membahas tuntas tentang peran kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan yakni mencakup seluruh aspek kependidikan di sekolah tersebut, mulai dari kinerja guru, pelayanan, hubungan dengan masyarakat, proses pembelajaran, serta permasalahan peserta didik. Walaupun penelitian tersebut dengan penelitian penulis sama-sama membahas tentang peran kepala sekolah, namun berbeda dengan penelitian penulis. Penelitian penulis hanya berfokus pada permasalahan peran kepala sekolah dalam proses peningkatan jumlah peserta didik.

3. Mohamad Nasroh dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa selain guru yang terjun langsung dalam proses pembelajaran, kepala sekolah juga memiliki peran yang cukup penting dalam meningkatkan keberhasilan kegiatan pembelajaran.11 Penelitian ini berbeda dengan penelitian penulis. Penelitian ini membahas tentang kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan keberhasilan proses pembelajaran, sedangkan penelitian penulis tidak menyentuh pada ranah keberhasilan proses pembelajaran melainkan peran kepala sekolah, upaya-upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam usaha peningkatan jumlah peserta didik. Penelitian penulis tidak begitu membahasa tuntas pada masalah kepemimpinan kepala sekolah, namun hanya diungkapkan beberapa peran yaitu fungsi dan tugasnya sebagai kepala sekolah dalam usaha peningkatan jumlah peserta didik.

9Abdul Mu’min, Peranan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Profesionalisme

Guru Di SDI Al-Ihsan Bambu Apus Pamulang (Skripsi: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,

2011), h. iv.

10

Ari Khozin Effendi, Peran Kepala Sekolah dalam Peningkatan Mutu

Pendidikan Sekolah Dasar Studi pada SD Muhammadiyah Al-Mujahidin Wonosari Gunung Kidul Periode Tahun 2007-2014 (Skripsi: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2015),

h. x.

11

Mohamad Nasroh, Peran Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam

Meningkatkan Keberhasilan Kegiatan Pembelajaran Di MTs Roudlothul Furqon Desa Kebumen Kec. Banyu Biru Kab. Semarang Tahun 2014 (Skripsi: Sekolah Tinggi Agama

(24)
(25)

13

BAB II KAJIAN TEORI

A. Pengertian Peran Kepala Sekolah

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “…. Peran berarti perangkat tingkah laku yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat”.1

Selanjutnya Veithzal Rivai dan Sylviana Murni menjelaskan “…. Peran adalah perilaku yang diatur dan diharapkan dari seseorang dalam posisi tertentu”.2

Sedangkan kepala sekolah adalah seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat dimana kejadian interaksi antara guru yang member pelajaran dan murid yang menerima pelajaran.3

Berdasarkan definisi di atas penulis menarik kesimpulan peran adalah perangkat tingkah laku yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat atau suatu lembaga. Dalam hal ini kepala sekolah perlu menjalankan perannya sesuai dengan hak dan kewajibannya.

Kepala sekolah merupakan seorang guru yang mempunyai kemampuan untuk memimpin segala sumber daya yang ada di sekolah,

1

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan danKebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 854.

2

Veithzal Rivai dan Sylviana Murni, Education Management; Analisis Teori dan

Praktik (Jakarta: PT Raja GRafindo, 2009), h. 745.

3

Wahyosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan

(26)

sehingga dapat didayagunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan bersama.

Ketika istilah peran digunakan dalam lingkungan sekolah, maka seseorang yang diberi suatu posisi diharapkan menjalankan perannya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pekerjaan tersebut. Oleh karena itu diperlukan sikap tanggung jawabdan professional dari pemegang peran tersebut.

Kepemimpinan kepala sekolah sangat penting dalam manajemen sekolah. Kepemimpinan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam manajemen sekolah. Kepemimpinan berkaitan dengan masalah kepala sekolah dalam meningkatkan kesempatan untuk mengadakan pertemuan secara efektif dengan para guru dalam situasi yang cukup kondusif. Terutama dalam mendiskusikan perihal peserta didik.

Kinerja kepemimpinan kepala sekolah dalam kaitannya dengan manajemen sekolah adalah segala upaya yang dilakukan dan hasil yang dapat dicapai oleh kepala sekolah dalam mengimplementasikan manajemen di sekolahnya untuk mewujudkan tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.4

Kepemimpinan kepala sekolah sangat luas sekali bagi satu individu. Sebuah solusi dapat diberikan dengan keterlibatan dan bantuan orang lain untuk memenuhi tugas dan tuntutan tak terbatas, sumber daya yang dikumpulkan kepala sekolah adalah suatu alternatif praktis. Suatu

4

E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, dan

(27)

pendekatan bersama atau tim dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas pemimpin. Kepemimpinan kepala sekolah berarti suatu bentuk komitmen para guru, peserta didik, dan seluruh warga sekolah untuk meningkatkan dan mengembangkan kompetensinya dan bertujuan agar kualitas profesional untuk menjalankan dan memimpin sumber daya sekolah untuk mau bekerja sama dalam mencapai tujuan sekolah.

B. Peran Kepala Sekolah

Kepala sekolah merupakan orang terpenting di suatu sekolah dan merupakan kunci bagi pengembangan serta peningkatan suatu sekolah. Indikator dari keberhasilan sekolah adalah kalau sekolah tersebut berfungsi dengan baik, terutama kalau prestasi belajar peserta didik dapat mencapai maksimal. Untuk mewujudkannya diperlukan seorang kepala sekolah yang profesional, berpengalaman dan faham tentang kepemimpinan.

Selain itu juga perlu adanya dukungan dari pihak-pihak terkait seperti guru, orang tua peserta didik dan masyarakat di tunjang juga dengan fasilitas yang memadai..

Kepala sekolah harus memiliki kemampuan atau kompetensi dalam menjalankan tugas-tugasnya. Menurut Mintzberg yang dikutip oleh Danim, yaitu :

a. Impersonal, yaitu kepala sekolah menjalankan fungsi sebagai figur, pemimpin, dan juru runding.

b. Informational, yaitu kepala sekolah menjalankan fungsi sebagai pemantau, penyebar dan perantara.

(28)

c. Decisional, yaitu kepala sekolah menjalankan fungsi sebagai wiraswastawan, disturbance-handler, pengalokasi sumber-sumber, dan negosiator.5

Dalam menjalankan tugas-tugasnya, kepala sekolah harus memiliki kemampuan melakukan hubungan dengan guru, karyawan serta dengan masyarakat secara baik. Sehingga tercipta suasana keharmonisan, sebab dengan adanya hubungan yang harmonis dalam sekolah akan mewujudkan rasa tanggung jawab yang tinggi untuk bersama-sama dalam memajukan atau meningkatkan keberhasilan tujuan pendidikan sekolah.

Ketika kepala sekolah ingin berhasil menggerakan para guru, staf dan peserta didik berperilaku dalam mencapai tujuan sekolah, maka kepala sekolah harus:

1. Menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras terhadap para guru, staf dan peserta didik.

2. Kepala sekolah harus mampu melakukan perbuatan yang melahirkan kemampuan untuk bekerja dengan penuh semangat dan percaya diri terhadap para guru, staf dan peserta didik dengan cara meyakinkan (persuade); berusaha agar para guru, staf dan peserta didik percaya bahwa apa yang dilakukan adalah benar; membujuk (induce) berusaha

5

Sudarwan Danim, Inovasi Pendidikan dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Pendidikan (Bandung: Pustaka Setia, 2002), h. 137.

(29)

meyakinkan para guru, staf dan peserta didik apa yang dikerjakan adalah benar.6

Sedikitnya terdapat lima sifat layanan yang harus diwujudkan agar pelanggan puas meliputi:

1. Reliability/ kepercayaan. 2. Assurance/ keterjaminan. 3. Tangible/ penampilan. 4. Empathy/ perhatian.

5. Responsiveness/ ketanggapan.7

Berdasarkan beberapa item di atas, dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah harus kreatif, dinamis, disiplin, dapat menghargai orang lain, dan bisa menjadi teladan bagi bawahannya. Selain itu, kepala sekolah harus melakukan berbagai pendekatan terhadap bawahannya seperti pendekatan pengaruh kewibawaan, sifat, perilaku, dan situasional.

Kepala sekolah berperan sebagai kekuatan sentral yang menjadi kekuatan penggerak kehidupan sekolah. Kepala sekolah harus memahami tugas dan fungisnya demi keberhasilan sekolah serta memiliki kepedulian kepada guru, staf dan peserta didik.

Adapun tugas dan tanggung jawab kepala sekolah adalah sebagai berikut:

6

Wahyosumidjo, Kepemimpinan dan Motivasi (Ghalia Indonesia, 2002), h. 105-106.

7

E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), h. 216.

(30)

Dalam meningkatkan jumlah peserta didik, tentunya kepala sekolah harus bisa membangun hubungan baik dengan masyarakat dan lingkungan sekitar. Tujuan pokok pengembangan hubungan efektif dengan masyarakat setempat, adalah untuk memungkinkan orang tua dan masyarakat setempat berpartisipasi aktif dalam kegiatan pendidikan sekolah. Tujuan lainnya adalah agar dapat menarik perhatian mereka untuk tetap percaya dengan sekolah tersebut sebagai tempat anak-anaknya menuntut ilmu.

Dunia pendidikan dalam merespon berbagai keadaan yang seringkali berubah, kepala sekolah dituntut untuk mendayagunakan sumber daya yanga ada untuk mencapai visi dan misi sekolah. Kepala sekolah bertanggung jawab atas jalannya kegiatan sekolah. Kepala sekolah harus berada digarda terdepan dan dapat diukur keberhasilannya. Keberhasilan kepala sekolah dalam menjalankan tugasnya dapat diukur dengan kemampuannya dalam menciptakan iklim.belajar mengajar secara baik. Kepala sekolah harus dapat mempengaruhi, mengajak, dan mendorong guru, karyawan atau pegawai, dan peserta didik untuk menjalankan tugasnya dengan sebaik-sebaiknya. Terciptanya iklim belajar mengajar secara tertib, lancar, dan efektif ini tidak terlepas dari tugas dan tanggung jawab kepala sekolah.

Sebagaimana yang disarankan bahwasanya tugas dan tanggung jawab yang harus diemban kepala sekolah itu ada tujuh, yaitu:

a. Merencanakan b. Mengorganisasikan

(31)

c. Mengadakan staf

d. Mengarahkan/ orientasi sasaran e. Mengoordinasi

f. Memantau g. Menilai/evaluasi8

Dalam kegiatan perencanaan ini kepala sekolah untuk menetapkan tujuan-tujuan sekolah yang ingin dicapai, baik jangka pendek, menengah, ataupun jangka panjang. Dari perencanaan di atas dapat diklasifikasikan seperti merencanakan strategi, kebijakan, program, anggaran dan standar yang dibutuhkan sekolah.

Kepala sekolah mempunyai tugas dan tanggung jawab terhadap atasan, terhadap sesama rekan kepala sekolah atau lingkungan terkait, dan kepada bahawan.

Kepala sekolah sebagai komponen pendidikan harus mengetahui tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Tugas-tugas kepala sekolah terdiri dari:

1. Kepala sekolah bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan atas segala tindakan yang dilakukan oleh bawahan. Perbuatan yang dilakukan oleh para guru, peserta didik, staf, dan orang tua peserta didik tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab kepala sekolah.

8

Rohiat, Kecerdasan Kepemimpinan Kepala Sekolah (Bandung: PT Refika Aditama, 2008), h. 146.

(32)

2. Dengan waktu dan sumber yang terbatas seorang kepala sekolah harus mampu menghadapi berbagai persoalan. Dengan segala keterbatasan seorang kepala sekolah harus dapat mengatur pemberian tugas secara cepat serta dapat memprioritaskan bila terjadi konflik antara kepentingan bawahan dengan kepentingan sekolah.

3. Kepala sekolah harus berfikir secara analitik dan konsepsional, kepala sekolah harus dapat memecahkan persoalan melalui satu analisis, kemudian menyelesaikan persoalan dengan satu solusi yang fleksibel, serta harus dapat melihat setiap tugas sebagai satu keseluruhan yang saling berkaitan.

4. Kepala sekolah adalah seorang mediator atau juru penengah dalam lingkungan sekolah sebagai suatu organisasi di dalamnya terdiri dari manusia yang mempunyai latar belakang berbeda-beda dan bisa menimbulkan konflik, untuk itu kepala sekolah harus jadi penengah dalam konflik tersebut.

5. Kepala sekolah adalah seorang politisi, kepala sekolah harus dapat membangun hubungan kerjasama melalui pendekatan persuasi dan kesepakatan. Peran politis kepala sekolah dapat berkembang secara efektif, apabila:

a. Dapat dikembangkan prinsip jaringan saling pengertian terhadap kewajiban masing-masing.

b. Terbentuknya aliasi atau koalisi, seperti organisasi profesi, OSIS, BP3 dan sebagainya.

(33)

c. Terciptanya kerjasama dengan berbagai pihak, sehingga aneka macam aktivitas dapat dilaksanakan.

6. Kepala sekolah adalah seorang diplomat, dalam berbagai macam pertemuan kepala sekolah adalah wakil resmi sekolah yang dipimpinnya.

7. Kepala sekolah mengambil keputusan-keputusan sulit, tidak ada satu organisasi pun yang berjalan mulus tanpa problem.9 Demikian pula sekolah sebagai suatu organisasi tidak luput dari persoalan dan kesulitan-kesulitan. Dan apabila terjadi kesulitan-kesulitan kepala sekolah diharapkan berperan sebagai orang yang dapat menyelesaikan persoalan yang sulit tersebut. Dalam menjalankan kepemimpinannya kepala sekolah harus memahami akan peran dan fungsinya sebagai pemimpin.

Dalam perkembangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman, kepala sekolah juga harus mampu berperan sebagai leader, inovator, motivator, dan eterpreneur sekolahnya. Dengan demikian dalam paradigma baru manajemen pendidikan, kepala sekolah sedikitnya harus mampu berfungsi sebagai edukator, manajer, administrator, juga supervisor.

C. Meningkatkan Jumlah Peserta Didik

Peserta didik adalah komponen penting dalam proses pendidikan dan sekaligus menjadi sasaran utama terkait penyelenggaraan

9 Wahyosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan

(34)

pendidikan. Eksistensi peserta didik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kegiatan pembelajaran di setiap jenjang pendidikan mulai dari tingkat dasar, tingkat menengah sampai tingkat perguruan tinggi. Keberhasilan sebuah institusi pendidikan hanya dapat dilihat dari output peserta didik yang memiliki kualitas secara akademik serta mampu memberikan kontribusi dalam kehidupan masyarakat.

Suatu sekolah yang dalam proses peningkatan jumlah peserta didik mesti juga memperhatikan kualitas dan kuatitas mutu pendidikan dalam sekolah tersebut.

Secara umum mutu diartikan sebagai gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang dan jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang ditentukan atau tersirat.10 Dengan demikian mutu dalam pendidikan dapat diartikan sebagai gambaran dana karakteristik menyeluruh dari output pendidikan yang dihasilkan oleh suatu jenjang, jenis, atau lembaga pendidikan dalam upayanya memenuhi harapan dan keinginan masyarakat.

Indikator mutu adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekolah yang dapat memberikan petunjuk tentang pendidikan bermutu baik dan dapat digunakan untuk mengevaluasi mutu, serta dapat dikuantifikasikan dan dirangkum untuk tujuan membuat perbandingan. Indikator-indikator tersebut dapat menunjukkan sejauh mana suatu sistem pendidikan bisa mencapai sasaran utama pendidikan.

10

Departemen Pendidikan Nasional, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis

(35)

Terdapat dua faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan yaitu faktor internal dan ekternal. Adapun faktor internal berupa kurikulum, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, pembiayaan pendidikan, manajemen sekolah, dan kepemimpinan. Sedangkan faktor eksternal meliputi partisipasi politik yang rendah, ekonomi yang tidak berpihak pada pendidikan, sosial budaya, serta rendahnya pemanfaatan sains dan teknologi.11

Faktor yang tak kalah urgen dalam pengembangan mutu sekolah adalah persoalan peserta didik yang merupakan fokus utama dalam segala aktivitas sekolah. Artinya semua input dan proses yang dikerahkan di sekolah tujuan utamanya untuk meningkatkan mutu dan kepuasan peserta didik. Konsekuensi logis ini adalah penyiapan input dan output pendidikan harus benar-benar mewujudkan sosok utuh dan mutu yang ditargetkan.

Sekolah memiliki input yang memadai untuk menjalankan roda sekolah. Kepala sekolah dalam mengatur dan mengurus sekolahnya menggunakan sejumlah input manajemen. Kelengkapan dan kejelasan input manajemen akan membantu kepala sekolah dalam mengelola sekolah secara efektif.12

Ketika suatu sekolah memiliki visi untuk meningkatkan jumlah peserta didik, tidak serta merta sekolah tersebut harus menerima seluruh

11

Syafarudin, Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan (Jakarta: Grasindo, 2002), h. 14.

12

Departemen Pendidikan Nasional, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis

(36)

calon peserta didik yang mendaftarkan dirinya. Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam proses penerimaan peserta didik baru.

Dalam proses penerimaan peserta didik baru dibutuhkan manajemen kesiswaan. Manajemen kesiswaan adalah penataan dan pengaturan terhadap kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik, mulai masuk sampai dengan keluarnya peserta didik tersebut dari suatu sekolah. Manajemen kesiswaan bukan hanya berbentuk pencatatan data peserta didik, melainkan meliputi aspek yang lebih luas yang secara operasional dapat membantu upaya perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah.

Manajemen kesiswaan bertujuan untuk mengatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran di sekolah dapat berjalan lancar, tertib, dan teratur, serta mencapai tujuan pendidikan sekolah. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, bidang manajemen kesiswaan memiliki tiga tugas utama yang harus diperhatikan, yaitu penerimaan peserta didik baru, kegiatan kemajuan belajar, serta bimbingan dan pembinaan disiplin.13

Penerimaan peserta didik baru perlu dikelola sedemikian rupa mulai dari perencanaan penentuan daya tampung sekolah atau jumlah peserta didik baru yang akan diterima, yaitu dengan mengurangi daya tampung dengan jumlah peserta didikyang tinggal kelas atau mengulang.

Kegiatan penerimaan peserta didik baru biasanya dikelola oleh panitia penerimaan siswa baru (PSB). Dalam kegiatan ini kepala sekolah

13

E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, dan

(37)

membentuk panitia atau menunjuk beberapa orang guru untuk bertanggung jawab dalam tugas tersebut.14

Ketika kepala sekolah memiliki keinginan yang kuat dalam meningkatkan jumlah peserta didik, ia harus mempunyai berbagai keterampilan dan strategi tertentu. Ada enam strategi yang harus diterapkan oleh kepala sekolah, yaitu:

1. Konsep diri; strategi menekankan bahwa konsep-konsep diri setiap individu merupakan faktor penting dari setiap perilaku. Untuk menumbuhkan konsep diri, pemimpin disarankan bersikap empatik, menerima, hangat, dan terbuka sehingga para pegawai dapat mengeksplorasikan pikiran dan perasaannya dalam memecahkan masalah.

2. Keterampilan berkomunikasi; pemimpin harus menerima semua perasaan pegawai dengan teknik komunikasi yang dapat menimbulkan kepatuhan diri dalam dirinya.

3. Konsekuensi-konsekuensi logis dan alami; perilaku-perilaku yang salah terjadi karena pegawai telah mengembangkan kepercayaan yang salah terhadap dirinya. Hal ini mendorong munculnya perilaku-perilaku salah yang disebut misbehavior. Untuk itu pemimpin disarankan a) menunjukkan secara tepat tujuan perilaku yang salah sehingga membantu pegawai dalam

14

E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, dan

(38)

mengatasi perilakunya serta b) memanfaatkan akibat-akibat logis dan alami dari perilaku yang salah.

4. Klarisfikasi nilai; strategi ini dilakukan untuk membantu pegawai dalam menjawab pertanyaannya sendiri tentang nilai-nilai dan membentuk sistem nilai-nilai sendiri.

5. Latihan keefektifan pemimpin; metode ini bertujuan untuk menghilangkan metode represif dan kekuasaan, misalnya hukuman dan ancaman melalui model komunikasi tertentu. 6. Terapi relitas; pemimpin perlu bersikap positif dan bertanggung

jawab.15

Strategi-strategi tersebut juga memerlukan berbagi pertimbangan situasi dan kondisi, serta perlu memahami faktor-faktor yang mempengaruhinya. Sehingga kepala sekolah diharapkan menjadi pemimpin yang dapat meningkatkan mutu pendidikan terlebih dalam meningkatkan jumlah peserta didik.

15 E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional (Bandung: PT Remaja

(39)

D. Kerangka Konseptual

Gambar 1.1

Bagan Kerangka Konseptual Penelitian

KEPALA SEKOLAH FUNGSI TUGAS UPAYA-UPAYA YANG DILAKUKAN PENINGKATAN JUMLAH PESERTA DIDIK

(40)

28

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan suatu bentuk penelitian yang berfokus pada makna sosiologis melalui observasi lapangan tertutup dari fenomena sosiokultural yang dapat diidentifikasi melalui wawancara dari berbagai informan-informan tentang fenomena yang sedang diteliti.1 B. Pendekatan Penelitian

Pendekatan merupakan salah satu aspek yang digunakan untuk melihat dan mengamati segala persoalan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari seperti persoalan teologi, pendidikan, maupun social kemasyarakatan.

Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan fenomenologik. Pendekatan ini dapat diartikan sebagai pendekatan yang berusaha untuk memahami suatu fakta, gejala-gejala, maupun peristiwa yang bentuk keadaannya dapat diamati dan dinilai lewat kacamata ilmiah.2 Kaitannya dengan penelitian ini, pendekatan fenomenologik digunakan untuk mengungkapkan fakta-fakta secara objektif yang berkaitan dengan peran kepala sekolah dalam meningkatkan jumlah peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Makassar.

1

Emzir, Metodelogi Penelitian Pendidikan: Kuantitatif dan Kualitatif (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2012), h. 143.

2

(41)

C. Sumber Data

Sumber data merupakan hal yang paling penting dalam proses penelitian, disebabkan sumber data adalah suatu komponen utama yang dijadikan sebagai sumber informasi sehingga dapat menggambarkan hasil dari suatu penelitian.

Dalam penelitian ini sumber data diklasifikasikan menjadi dua bagian yang terdiri dari sumber data primer dan sumber data sekunder. Yang dijadikan sebagai sumber data primer dalam penelitian ini adalah Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 14 Makassar. Sedangkan sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah catatan dokumentasi jumlah peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Makassar.

D. Instrumen Penelitian

Suharsimi Arikunto mengemukakan bahwa instrument penelitian merupakan alat oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian dengan menggunakan suatu metode guna memperoleh hasil pengamatan dan data yang diinginkan.3 Dalam penelitian ini peneliti memilih menggunakan pedoman wawancara dan studi dokumen.

a. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara adalah daftar pertanyaan yang digunakan sebagai acuan untuk menggali informasi dengan melakukan wawancara terkait pokok persoalan yang diteliti pada objek penelitian, dan dapat memberikan hasil yang diharapkan peneliti dalam proses penelitian. Pedoman wawancara berisi item-item

3

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian atau Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), h. 126.

(42)

pertanyaan wawancara kepada kepala sekolah untuk mengetahui lebih dalam perannya dalam mengolah SMP Muhammadiyah 14 Makassar.

b. Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi digunakan sebagai acuan pengumpulan dokumen-dokumen terkait dengan data jumlah siswa SMP Muhammadiyah 14 Makassar.

E. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Wawancara

Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui Tanya jawab, sehingga data dikonstruksikan makna dalam satu topic tertentu. Wawancara ini digunakan sebagai metode pengumpulan data untuk menemukan permasalahan yang diteliti, dan untuk mengetahui hal-hal yang lebih mendalam dari narasumber/informan.4

Penggunaan metode wawancara ini akan memudahkan peneliti untuk menggali informasi terkait peran kepala sekolah dalam memimpin dan mengolah sekolah yang dipimpinnya sehingga dapat meningkatkan jumlah peserta didik tiap tahun ajarannya.

b. Dokumentasi

4

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan; Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,

(43)

Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumentasi ditunjukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian seperti buku-buku, peraturan-peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, maupun data lain yang relevan dengan penelitian.5

Studi dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara, bahkan penggunaan dokumentasi dalam suatu penelitian dapat menguatkan hasil observasi dan wawancara sehingga lebih kredibel/dapat dipercaya.6

Penggunaan dokumentasi dalam penelitian ini diarahkan oleh peneliti untuk melihat dokumentasi keadaan jumlah peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Makassar pada tiap tahun ajarannya, sehingga akan terlihat jelas terjadinya peningkatan jumlah peserta didik di sekolah tersebut.

F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan dan analisis data secara konseptual merupakan proses yang terpisah dalam hal meorganisasikan data penelitian. Kaitannya dengan penelitian ini, teknik pengolahan dan analisis data yang digunakan oleh penelitian adalah model analisis Miles dan Huberman dengan langkah-langkah sebagai berikut:

5

Riduwan, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru, Karyawan dan Peneliti Pemula (Bandung: Alfabeta, 2012), h. 77.

6

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan; Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,

(44)

a. Reduksi data (Data Reduction) yaitu data yang diperoleh dari lapangan yang banyak dan kompleks maka perlu dilakukan analisis data melalui reduksi data. Mereduksi data dengan cara merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan hal-hal yang penting dan membuang hal yang dianggap kurang penting.7 b. Penyajian data (Data Display) yaitu data yang sudah direduksi

disajikan dalam bentuk uraian singkat berupa teks yang bersifat naratif. Melalui penyajian data tersebut, maka data akan mudah dipahami sehingga memudahkan rencana kerja selanjutnya.8

c. Penarikan kesimpulan (Konklusif) yaitu data yang sudah disajikan dianalisis secara kritis berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh di lapangan. Penarikan kesimpulan dikemukakan dalam bentuk naratif sebagai jawaban dari rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal.9

Pengunaan teknik pengolahan dan analisis data bertujuan memberikan penjelasan secara deskriptif agar membantu pembaca mengetahui apa yang terjadi di lingkungan pengamatan, seperti apa pandangan pasrtisipan yang berada di latar penelitian.10

7

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan; Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,

dan R&D, h. 338.

8

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan; Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,

dan R&D, h. 341.

9

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan; Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,

dan R&D, h. 345.

10

(45)

Deskripsi yang cukup dan pernyataan langsung dimaksudkan untuk membantu pembaca memahami secara penuh daripemikiran orang yang terwakil isecara naratif terkait peran kepala sekolah dalam meningkatkan jumlah peserta didik.

(46)

34

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Sejarah Berdirinya SMP Muhammadiyah 14 Makassar

Sekolah adalah salah satu lembaga pendidikan yang menyelenggarakan proses pembelajaran untuk membimbing, membina, dan mengembangkan potensi peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Sekolah bukan hanya mengembangkan potensi peserta didik yang bersifat keilmuan melainkan juga membimbing peserta didik agar mempunyai perilaku dan kepribadian yang sesuai dengan tuntunan nilai-nilai ajaran agama.

Tugas sekolah dalam membina perilaku dengan tuntunan nilai-nilai ajaran agama. Tugas sekolah dalam membina perilaku dan kepribadian bukanlah tugas mudah, karena memerlukan waktu yang lama dan tidak mudah untuk menilai keberhasilannya. Kalau bangsa Indonesia ingin tetap eksis sebagai bangsa yang berdaulat dan bermartabat serta mempunyai daya saing maka tidak ada jalan lain kecuali memperbaiki kualitas pendidikannya. Hal inilah yang menjadi indikator alasan sebuah sekolah didirikan, termasuk SMP Muhammadiyah 14 Makassar.

SMP Muhammadiyah 14 Makassar adalah Sekolah Menengah Pertama Swasta yang didirikan pada tanggal 07 Januari 1987 berdiri di atas tanah seluas 897 m2, berlokasi di Jl. Daeng Siraju No. 58 Kelurahan Bara-Baraya Utara Kecamatan Makassar Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan tepatnya dengan SK Pendirian Sekolah 068/KEP/106/H/94.17/03/19.

(47)

SMP Muhammadiyah 14 Makassar merupakan sekolah yang dibentuk oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah yakni Drs. KH. Jalaluddin Sanusi yang kemudian dibentuklah kepanitiaan untuk mengelola sekolah tersebut.

SMP Muhammadiyah 14 Makassar bekerja sama dengan MIM 11 Makassar sebagai pemilik gedung sekolah yang sah. Pada awalnya jumlah peserta didik sebanyak 37 orang.

Sekolah ini merupakan salah satu Sekolah Menengah Pertama yang diminati oleh banyak orang terutama masyarakat yang tinggal di sekitar lingkungan sekolah tersebut.

Sampai saat ini SMP Muhammadiyah 14 Makassar telah mengalami 7 kali pergantian Kepala Sekolah, yaitu:

Tabel 1

Daftar Nama Kepala SMP Muhammadiyah 14 Makassar

No Nama Periode

1 Drs. Mandeha Laongi 1987-1990

2 H. Mochtar Jalante B, BA 1990-1994

3 Prof. Dr. Jamaluddin Patta 1994-1997

4 Drs. Nasir Sarri 1997-2002

5 Drs. Surya Darma 2002-2006

6 Lukman Jufri, S.Pd. 2006-2010

7 Lisna, S,Ag., S.Pd.I 2010-sekarang

(48)

1. Visi dan Misi

Visi

“Terciptanya sistem pendidikan yang kondusif dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang beriman dan bertaqwa”

Misi

a. Menerapkan manajemen yang transparansi , akuntabilitas, dan objektif.

b. Menerapkan pembelajaran secara aktif, kreatif, dan menyenangkan serta melaksanakan berbagai inovasi pembelajaran.

c. Melaksanakan pembinaan proesionalisme guru secara kontinyu. d. Meningkatkan kualitas dalam pelaksanaan ibadah.

2. Komponen Sekolah a. Pemimpin dan Wakil

Secara administrasi SMP Muhammadiyah 14 Makassar sekarang dipimpin oleh seorang Kepala Sekolah dan dibantu oleh beberapa staf dengan struktur sebagai berikut:

1) Kepala Sekolah : Lisna, S.Ag., S.Pd.I 2) Wakasek Kurikulum : Nuraeni, S.Ag. 3) Wakasek Kesiswaan : Hertati Duma, SS b. Pegawai Administrasi

Adapun jumlah pegawai administrasi di SMP Muhammadiyah 14 Makassar sebanyak 6 yang terdiri atas:

(49)

2) Pustakawan : 1 orang 3) Laboran : 1 orang 4) Operator Sekolah : 1 orang 5) Bujang : 1 orang 6) Satpam : 1 orang 3. Profil Sekolah

1. Nama sekolah : SMP Muhammadiyah 14

Makassar

2. Nomor Induk Sekolah : 40311914 3. Nomor Statistik : 202196008003

4. Provinsi : Sulawesi Selatan

5. Kota : Makassar

6. Kecamatan : Makassar

7. Desa/Kelurahan : Bara-Baraya Utara

8. Alamat : Jl. Dg. Siraju No. 58

9. Kode Pos : 90143

10. Telepon : 0411-4664690

11. Status Sekolah : Swasta

12. Akreditasi : C

13. Tahun Berdiri : 1987

14. Tahun Perubahan : - 15. Kegiatan Pembelajaran : Pagi

16. Bangunan Sekolah : Milik Sendiri 17. Organisasi Penyelenggaraan : Lembaga Swasta

(50)

4. Keadaan Guru

Guru merupakan orang yang berwenang dalam proses pembelajaran pada lembaga pendidikan formal. Dalam suatu proses pembelajaran terhadap peserta didik, peran guru sangatlah penting karena mereka sebagai pemegang kendali. Guru sebagai pendidik, pembimbing, dan motivator dalam proses pembelajaran. Keberhasilan yang diperoleh seorang peserta didik sangat ditentukan sejauh mana kemampuan guru dalam melaksanakan tugasnya.

Guru di SMP Muhammadiyah 14 Makassar dengan berbagai disiplin ilmu yang dimilikinya telah berusaha menjalankan tugas dan tanggung jawab dalam mendidik peserta didik dengan sebaik-baiknya. Namun demikian, guru perlu membekali diri dengan berbagai keterampilan dan informasi penting tentang pendidikan sehingga dapat memenuhi kebutuhan peserta didik dalam memperoleh ilmu pengetahuan serta memberi contoh tauladan yang baik bagi peserta didiknya karena salah satu pembentukan kepribadian seorang peserta didik ditentukan oleh lingkungan sekolah dimana mereka menimba ilmu.

Namun itu semua juga tidak bisa berjalan dengan lancar tanpa adanya peran kepala sekolah itu sendiri. Hubungan kepala sekolah dengan guru serta staf, bahkan dengan peserta didik sangatlah penting dalam mencapai tujuan sekolah yang ideal.

Untuk mengetahui keadaan guru di SMP Muhammadiyah 14 Makassar dapat dilihat pada tabel berikut:

(51)

Tabel 2

Daftar Guru SMP Muhammadiyah 14 Makassar

No Nama Guru Jabatan Mata Pelajaran

1 Lisna, S.Ag., S.Pd.I Kepala Sekolah PAI 2 Nuraeni M, S.Ag Wakasek

Kurikulum PAI

3 Hertati Duma, SS Wakasek

Kesiswaan Bahasa Inggris

4 Hj. Ramadiyah Ka TU BTQ

5 Nurhasnah, S.Pd. Bendahara IPA

6 Sri Iriani, S.Pd.I Guru BK/BP Bahasa Daerah

7 Muh. Ikbal, S.Pd Operator TIK

8 Rahmawati Guntur Laboran Kemuhammadiyahan

9 Drs. Muh. Anas Guru PKn

10 Kamariah, S.Pd Guru Bahasa Indonesia

11 Sutrisnawulan, SE Guru IPS

12 Idris, S.Pd Guru Matematika

13 Ardiana, S.Hi., S.Pd Guru PKn

14 Iin Anggraini, S.Pd.I Guru Bahasa Arab

15 Ade Roslina, S.Pd Guru Bahasa Indonesia

16 Fitrimayasari, S.Pd Guru Matematika 17 Moh. Lutfi Tirdin, S.Pd Guru Penjaskes

18 Munir, S.Pd Guru Seni Budaya

19 Hartarita Guru Seni Budaya

Sumber data: Tata Usaha SMP Muhammadiyah 14 Makassar 5. Keadaan Peserta Didik

Berikut ini adalah keadaan peserta didik sejak kepemimpinan Lisna, S.Ag., S.Pd.I yakni mulai tahun ajaran 2009/2010 hingga saat ini: keadaan peserta didik ini dipaparkan sebagai acuan dalam melihat

(52)

peningkatan jumlah peserta didik dari tahun ke tahun di SMP Muhammadiyah 14 Makassar.

Tabel 3

Keadaan Peserta Didik

No Tahun Ajaran Kelas Jumlah VII VIII IX 1 2010/2011 44 37 36 117 2 2011/2012 50 48 40 138 3 2012/2013 50 50 48 148 4 2013/2014 55 50 50 155 5 2014/2015 59 54 50 163 6 2015/2016 60 72 59 191 7 2016/2017 93 58 67 218

Sumber data: Tata usaha SMP Muhammadiyah 14 Makassar 6. Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana adalah seluruh fasilitas yang terdapat di SMP Muhammadiyah 14 Makassar guna dalam menunjang kegiatan dan administrasi sekolah dan mencapai tujuan proses pembelajaran di sekolah. Selain itu, tersedianya kegiatan ekstrakurikuler juga dapat memberi manfaat terhadap peserta didik di sekolah tersebut.

Tabel 5

Keadaan Sarana dan Prasarana

No Sarana dan Prasarana Keterangan Jumlah Baik Rusak

1 Ruang Kepala Sekolah √ - 1

(53)

3 Ruang Guru √ - 1 4 Ruang BK √ - 1 5 Ruang Kelas √ - 3 6 Ruang Perpustakaan √ - 1 7 Kantin √ - 1 8 Toilet √ - 1

Sumber data: Tata usaha SMP Muhammadiyah 14 Makassar

Sarana dan prasarana yang dimiliki oleh SMP Muhammadiyah 14 Makassar sebagaimana yang terdapat pada daftar tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa sarana tersebut dapat menunjang berlangsungnya proses pembelajaran.

B. Peran Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 14 Makassar Sejak Tahun Ajaran 2010/2011 Hingga Saat Ini

Kualitas suatu sekolah sangat bergantung pada leadership seorang kepala sekolah, karena ia merupakan pengambil keputusan dalam segala hal seperti guru yang direkrut, penugasan guru, bahkan promosi kepangkatan guru. Semakin guru itu bekerja dengan antusias, bermotibasi baik, dinamis mengikuti kemajuan baik berupa teori, instrumen, teknologi, maupun kebijakan pemerintah, maka akan semakin tinggi produktifitas sekolah, dan akan semakin besar kontribusinya terhadap pemajuan bangsa ke depan. Demikian pula dengan sarana serta prasarana pendidikan.

Kepala sekolah juga memiliki kewenangan untuk mengatur waktu belajar peserta didik, antara full day school atau part day school karena ia yang bisa berkomunikasi secara eksternal pada pemerintah, tokoh

(54)

masyarakat, atau pada apapun yang bisa berpartisipasi dalam pengembangan sekolah.

Terkait dengan tugas dan posisinya yang sangat strategis, maka kepala sekolah dituntut memiliki kreatifitas yakni kemampuan untuk mentransformasikan ide dan imajinasi serta keinginan-keinginan besar menjadi kenyataan. Untuk menjadi orang kreatif, seorang kepala sekolah harus memiliki imajinasi, memiliki kekuatan ide melahirkan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Kemudian untuk menjadi orang kreatif , dia juga harus berusaha mencari cara bagaimana ide-ide tersebut diturunkan menjadi sebuah kenyataan.

Jika dilihat berdasarkan aspek pendidikan, pengalaman kerja, pengalaman organisasi, pengalaman jabatan dan penilaian kinerja kepala sekolah menunjukkan kemampuan saling mendukung dalam menjalankan tugasnya sebagai kepala sekolah. Pendidikan formal tertinggi kepala SMP Muhammadiyah 14 Makassar adalah sarjana pendidikan dan sekarang sedang menempuh pendidikan S2. Secara akademis sudah sesuai dengan bidang pendidikan dan dapat menunjang kemmapuannya dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin di sekolah.

Kepala SMP Muhammadiyah 14 Makassar dalam melaksanakan kepemimpinannya selalu mempertimbangkan beberapa alternatif agar tidak terjadi hal-hal yang negatif. Oleh karena itu kepala SMP Muhammadiyah 14 Makassar telah memenuhi lima aspek kompetensii yaitu kepribadian, sosial, manajerial, supervisi, dan kewirausahaan. Kompetensi tersebut merupakan kekuatan kepala sekolah untuk

(55)

mengelola sekolah dengan baik. Sekolah sebagai suatu komunitas pendidikan membutuhkan seorang figur pemimpin yang dapat mendayagunakan semua potensi yang ada dalam sekolah untuk suatu visi dan misi sekolah. Pada level ini kepala sekolah sering dianggap satu atau identik, bahkan dikatakan sebagai wajah sekolah. Disini tampak bahwa peran kepala sekolah bukan hanya sebagai seorang akumulator yang mengumpulkan aneka ragam potensi penata usaha, guru, dan peserta didik, melainkan konseptor manajerial yang bertanggung jawab pada kontribusi masing-masing demi efektivitas dan efisiensi kelangsungan pendidikan. Pada akhirnya kepala sekolah berperan sebagai manajer untuk mengelola sekolah.

Kepala sekolah dalam melaksanakan kepemimpinannya dapat dilaksanakan dengan baik. Hal tersebut berdasarkan keterangan-keterangan hasil wawancara denga kepala SMP Muhammadiyah yang telah peneliti olah dan disimpulkan sebagai beriut:

1. Kepala sekolah sebagai edukator

Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan dan guru merupakan pelaksana dan pengemban utama tugas ini. Kepala SMP Muhammadiyah 14 Makassar yang menunjukkan komitmen tinggi dan fokus terhadap pengembangan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolahnya akan sangat memperhatikan tingkat kompetensi yang dimiliki gurunya. Sekaligus berusaha memfasilitasi dan mendorong agar para guru dapat secara terus menerus meningkatkan

(56)

kompetensinya, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan efektif san efisien.

Berdasarkan hasil temuan di lapangan menunjukkan bahwa kepala SMP Muhammadiyah 14 Makassar senantiasa memberi teladan dalam pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan. Berkaitan dengan hal tersebut, kepala sekolah harus dapat menciptakan suasana pembelajaran yang inovatif dan kreatif sehingga mendorong seuruh guru untuk menerapkan model-model pembelajaran yang menarik. Dalam hal ini kepala SMP Muhammadiyah 14 Makassar juga melaksanakan fungsinya sebagai guru serta melaksanakan tugas pokok guru lainnya seperti membuat perangkat pembelajaran hingga evaluasi. Sebagamana hasil wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah urusan Kurikulum mengatakan bahwa “Kepala sekolah mengemban jam mengajar sebanyak 6 jam pelajaran dlaam bidang studi PAI sesuai latar belakang pendidikan beliau”.1

Sedangkan salah satu guru SMP Muhammadiyah 14 Makassar mengatakan bahwa “Ya, kepala sekolah memiliki jam mengajar. Beliau melaksanakan tugas mengajar sesuai jadwal pelajaran yang telah ditetapkan. Beliau juga melaksanakan tugas pokok guru seperti penyiapan perangkat pembelajaran hingga evaluasi dan pengayaan”.2

Dalam melaksanakan fungsinya sebagai edukator, kepala sekolah senantiasa memberikan dorongan kepada gurunya untuk melaksanakan model pembelajaran yang variatif dan inovatif sepert model pembelajaran

1

Wawancara dengan Nuraeni M, WAKASEK Kurikulum SMP Muhammadiyah 14 Makassar.

2

Wawancara dengan Nur Hasnah, Bendahara dan juga Guru IPA di SMP Muhammadiyah 14 Makassar.

(57)

contekstual teaching learning (CTL), The Role Playing Model (model bermain peran), juga student teams achievment divisions (STAD). Selain itu kepala sekolah juga mengadakan bimbingan terhadap guru dalam hal pembelajaran sebagaimana hasil temuan peneliti bahwa “Kepala sekolah mengkoordinasi pelaksanaan program pembelajaran seperti penyiapan perangkat pembelajaran, memantau pelaksanaan, dan mengevaluasi hasil pelaksanaan program tersebut”.3

Tugas-tugas tersebut dilakukan oleh kepala SMP Muhammadiyah 14 Makassar karena ingin meningkatkan mutu pendidikan sekolah tersebut dan pada akhirnya mencetak output yang berkualitas sehingga menarik minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut.

2. Kepala sekolah sebagai manajer

Salah satu tugas kepala sekolah dalam mengelola tenaga kependidikan adalah melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan pengembangan profesi para guru. Kepala SMP Muhammadiyah 14 Makassar memfasilitasi dna memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada para gurunya untuk dapat melaksanakan kegiatan pengembangan profesi melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, baik yang dilaksanakan di sekolah atau melalui kegiatan di luar sekolah.

Berdasarkan hasil temuan peneliti di lapangan bahwa kepala SMP Muhammadiyah 14 Makassar memiliki strategi dalam membuat rencana progam baik program jangka panjang maupun program jangka pendek

3

Wawancara dengan Nuraeni M, WAKASEK Kurikulum SMP Muhammadiyah 14 Makassar.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan informasi dari responden, dapat disimpulkan bahwa tantangan peningkatan kinerja guru Pendidikan Agama Islam di SD se- Kecamatan Bontonompo antara lain

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa Analisis Daya Serap Siswa Terhadap Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas X Di SMA YAPIP MAKASSAR Sungguminasa Gowa di

Dalam pelaksanaan proses kegiatan pembelajaran Alquran di TPA Masjid Haqqul Yaqin Parang Tambung Makassar yang menggunakan metode Iqra’ ternyata efektif, namun alangkah

Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pengaruh ketiga dengan adanya penggunaan metode pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran Pendidikan Agama

Strategi pembinaan dan penanaman nilai- nilai keagamaan yang di terapkan guru terhadap siswa adalah membentuk sikap dan perilaku keberagaman peserta didik memahami dan

dalam Pengajaran Bidang Studi Al quran Hadist di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar...43 Tabel 8: Pendapat responden tentang efektifitas Media

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Metode pemberian hukuman oleh guru kurang berpengaruh dalam pencapaian keberhasilan siswa dalam belajar menurut Pendidikan Agama Islam di

Dari hasi wawancara dari Pengurus himpunan mahasiswa jurusan pendidikan agama islam maka ditarik kesimpulan bahwa faktor pendukung dalam pembinaan akhlak yang dilaksanakan