BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Novel yang dipilih untuk didekonstruksi adalah novel Ronggeng Dukuh Paruk karya
Ahmad Tohari. Alasan memilih novel ini karena isi dari cerita novel tersebut telah memenuhi
syarat dengan perlawanan pada tokoh cerita untuk didekonstruksi.
Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari mengisahkan tentang seorang gadis
bernama Srintil yang berusia sebelas tahun yang tinggal bersama kakek dan neneknya karena
kedua orang tuanya telah meninggal karena keracunan semenjak Srintil masih kecil. Kemudian
kakeknya menjadikan Srintil seorang ronggeng kemudian diasuh oleh dukun ronggeng yaitu
Kartareja dan istrinya.
4.1.1 Penokohan tokoh utama
Tokoh utama dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk ini adalah Srintil. Setiap bagian dalam
novel ini menceritakan konflik-konflik yang dialami oleh tokoh Srintil yang paling banyak
mendapat waktu penceritaan dan berhubungan dengan tokoh lain. Karena tokoh utama juga
merupakan tokoh sentral yang perannya sangat berpengaruh terhadap tokoh lainnya, namun
secara tidak langsung mendapat pengaruh yang sama terhadap penggambaran karakter dari peran
tambahan.
4.1.1.1 Penokohan Tokoh Srintil
Srintil gadis berusia sebelas tahun yang pintar dalam hal menari. Di bawah pohon nangka
ketiga anak laki-laki yaitu, Rasus warta dan Darsun melihat Srintil sedang asyik bermain seorang
▸ Baca selengkapnya: alur yang digunakan dalam novel ronggeng dukuh paruk adalah
(2)diri. Perawan kecil itu sedang merangkai daun nangka dengan sebatang lidi untuk dijadikan
sebuah mahkota. (Tohari, 2007:11)
Hal ini digambarkan pula melalui kutipan berikut:
Duduk bersimpuh di tanah sambil meneruskan pekerjaannya, Srintil berdendang. Siapapun di Dukuh Paruk, hanya mengenal dua irama. Orang-orang tua bertembang kidung, dan anak-anak menyanyikan lassgu-lagu ronggeng. Dengan suara kekanak-kanakannya, Srintil mendendangkan lagu kebanggaan para ronggeng: Senggot timbane rante, tiwas ngegot ning ora suwe. (Tohari, 2007:11)
Lagu erotik. Perawan yang baru sebelas tahun, menyanyikannya dengan sungguh-sungguh. Boleh jadi Srintil belum paham benar makna lirik lagu itu. Namun sama saja. Dukuh Paruk tidak akan bersusah hati bila ada anak kecil menyanyikan lagu yang paling cabul sekalipun .
Betapa asyik Srintil dengan dendangnya, terbukti dia tidak menyadari ada tiga anak laki-laki berdiri dibelakangnya. Srintil baru sadar ketika sedang mencoba memasang mahkota daun nangka ke atas kepalanya. (Tohari, 2007:12)
Siapa yang akan percaya, tak seorang pun pernah mengajari Srintil menari dan bertendang. Siapa yang akan percaya, belum sekali pun Srintil pernah melihat pentas ronggeng. Ronggeng terakhir di Dukuh Paruk mati ketika Srintil masih bayi. Tetapi di depan Rasus, Warta, dan Darsun, Srintil menari dengan baiknya.
Mimik penagi berahi yang selalu ditampilkan oleh seorang ronggeng yang sebenarnya, juga diperbuat oleh Srintil saat itu. Lenggok lehernya, lirik matanya, bahkan cara Srintil menggoyangkan pundak akan memukau laki-laki dewasa mana pun yang melihatnya. Seorang gadis kencur seperti Srintil telah mampu menirukan dengan baiknya gaya seorang ronggeng. Dan orang Dukuh Paruk tidak akan heran. (Tohari, 2007:13)
Dari gambaran kutipan dialog di atas jelas terlihat Srintil memang baik dalam hal menari
dan senang dengan menari. Dia bahkan meminta kepada ketiga anak lelaki itu untuk mengiringi
tariannya karena Srintil masih ingin menari lebih lama. Agar ketiga anak lelaki itu masih mau
mengiringi Srintil menari maka Srintil menawarkan upah apa yang akan mereka minta agar bisa
mengiringi Srintil menari. Hal tersebut dapat dilihat pada cuplikan berikut:
“Kalian minta upah apa?” ulang Srintil. Berkata demikian Srintil melangkah kea rah Rasus. Dekat sekali. Tanpa bisa mengelak Rasus menerima cium di pipi. Warta dan Darsun masing-masing mendapat giliran kemudian. Sebelum ketiga anak laki-laki itu sempat berbuat sesuatu, Srintil menagih janji.
“Nah. Kalian telah menerima upah. Sekarang aku menari kalian harus mengiringi lagi.” (Tohari, 2007:14)
Setelah kakek Srintil menyerahkan Srintil kepada dukun ronggeng yang akan mengasuh
Srintil, maka pentas pun diadakan dan itulah pertama kali Srintil naik pentas dan menari di atas
panggung. Hal tersebut dapat dilihat pada cuplikan berikut:
▸ Baca selengkapnya: tokoh protagonis dalam novel ronggeng dukuh paruk
(3)Selama menari wajah Srintil dingin. Pesonanya mencekam setiap penonton. Banyak orang terharu dan kagum melihat bagaimana Srintil melempar sampur. Bahkan Srintil mampu melentikkan jari-jari tangan, sebuah gerakkan yang paling sulit dilakukan oleh seorang ronggeng. Penampilan Srintil masih dibumbui dengan ulah Sakum lestari kocak dan cabul. Suara “cesss” tak pernah luput pada saat Srintil menggoyang pinggul. (Tohari, 2007:20)
Selama menari wajah Srintil dingin. Pesonanya mencekam setiap penonton. Banyak orang terharu dan kagum melihat bagaimana Srintil melempar sampur. Bahkan Srintil mampu melentikkan jari-jari tangan, sebuah gerakkan yang paling sulit dilakukan oleh seorang ronggeng. Penampilan Srintil masih dibumbui dengan ulah Sakum lestari kocak dan cabul. Suara “cesss” tak pernah luput pada saat Srintil menggoyang pinggul. (Tohari, 2007:20)
Dari gambaran kutipan novel di atas, terlihat jelas bahwa Srintil mau menjadi seorang
ronggeng, dan buktinya dia juga mau menjalankan aktifitasnya sebagai ronggeng.
Sampai-sampai dia mau menjalankan malam bukak-klambu atau malam dimana Srintil harus
menyerahkan keperawanannya kepada seorang lelaki manapun, baik yang masih muda maupun
yang sudah tua asalkan bisa memenuhi syarat yang diminta. Hal seperti ini bukanlah sesuatu
yang pantas untuk dicontohi. Itu menunjukkan bahwa Srintil ini adalah sosok wanita yang tidak
baik dan orang luar Dukuh Paruk akan menganggap sebagai wanita jalang, karena lelaki mana
saja bisa tidur bersama Srintil
Tetapi sudah ada di benak Srintil agar keperawanannya lebih baik ia berikan pada
temannya yang bernama Rasus dari pada laki-laki lain yang tidak tau diri. Hal tersebut bisa
dilihat pada cuplikan berikut:
“Rasus, kau tak mau?” tanya Srintil dengan suara hampir tak kudengar. “Takkan ada orang melihat kita di sini.”
“ Srin, ini tanah pekuburan. Dekat dengan makam Ki Secamenggala pula. Kita bisa kualat nanti,” jawabku. Dalih yang sangat gemilang mendadak muncul di otakku.
Kulihat Srintil termangu. Napasnya masih memburu. Rona wajahnya berubah. Terkesan rasa kecewa. Ronggeng Dukuh Paruk itu tetap berdiri seperti batu-batu nisan di belakangnya. Tanpa gerak.
“Kita tak bisa berbuat sembrono di tempat ini,” kataku sambil membenahi pakaian Srintil. “Ya, tetapi kau sungguh bangsat.”
“Maafkan aku, Srin. Sungguh! Aku minta engkau jangan marah kepadaku,” kataku menirukan cara seorang kacung yang minta belas kasihan kepada majikannya.
Dengan sabar kutunggu sampai Srintil tenang kembali. Mukanya yang tegang perlahan-lahan kembali seperti biasa.
“Ya, rasus. Aku tidak marah.”
“Begitulah seharusnya. Apalagi bila kita mengingat cerita itu.”
“Kau benar. Untung kau memperingatkan aku. Kalau tidak entah apalah jadinya.” (Tohari, 2007:67)
Cuplikan lainnya:
“ Srintil?” tegurku dengan suara berbisik. “ Jangan terkejut. Aku Rasus.”
“Oh!” Seru Srintil tertahan. Dia cepat bangkit, merangkulku sekuat tenaga. “ Rasus. Dengar, mereka bertengkar di luar. Aku takut, sangat takut. Aku ingin kencing!”
“Sudah kencing?”
“Sudah. Tetapi aku takut. Rasus, kau sungguh baik. Kau ada di sini ketika aku sedang diperjual-belikan.”
“Ya.”
Masih merangkulku kuat-kuat, Srintil mengisak. Kubiarkan dia karena akupun tak tahu apa yang harus kuperbuat. Kurasakan tubuh Srintil hangat dan gemetar.
“Aku benci, benci. lebih baik kuberikan padamu. Rasus, sekarang kau tak boleh menolak seperti kau lakukan tadi siang. Di sini bukan pekuburan. Kita takkan kena kutuk. Kau mau, bukan?”(Tohari,2007:76)
Dari gambaran kutipan novel di atas tergambar bahwa Srintil rela menyerahkan
keperawanannya kepada seorang lelaki yang hanya menjadi teman bermainnya itu diusianya
yang masih sangat muda, setelah Srintil merelakan keperawanannya kepada Rasus, di hari-hari
berikutnya dia tetap akan melayani lelaki manapun yang akan membayarnya dengan upah yang
besar.
Profesi seorang ronggeng yang dijalani oleh Srintil begitu luar biasa, dengan hasil
meronggeng bahkan menjual diri kepada lelaki manapun telah membuahkan hasil yang
memuaskan bagi Srintil. Segala sesuatu yang tak pernah dibayangkan akan dimiliki Srintil
karena kehidupannya yang miskin dan melarat kini bisa dia dapatkan karena uang, emas, dan
harta-harta lainnya kini telah ia dapatkan dari para lelaki yang membayar Srintil untuk tidur
bersama mereka dan melakukan hal-hal yang hanya bisa dilakukan suami istri. Srintil kini telah
mempunyai segalanya. Hal tersebut dapat dilihat pada cuplikan berikut:
“Itu dia, ronggeng Dukuh Paruk. Srintil memang cantik.”
“He! Betulkah di Dukuh Paruk ada gadis dengan kulit bersih, betis montok tanpa kurap?” “Srintil itulah buktinya. Wah, alangkah cepat besar dia.”
“Ah, jangan bodoh. Bau keringat laki-laki membuat setiap anak perempuan menjadi cepat dewasa.”
“Lihat. Baru beberapa bulan menjadi ronggeng sudah ada gelang emas di tangan Srintil. Bandul kalungnya sebuah ringgit emas pula,” kata seorang perempuan penjual sirih.
“Kau sudah tahu dari mana ronggeng itu memperoleh bandul kalung seberat dua puluh lima gram. Tetapi kau pasti belum tahu siapa yang memberi Srintil sebuah kalung,” ujar perempuan lainnya.
“Dari Lurah Pecikalan yang menggendaknya?”
“Salah. Lurah Pecikalan telah mengganti atap ilalang rumah Sakarya dengan seng. Dia tidak memberikan kalung kepada ronggeng itu.”
“Jadi siapa?”
“Le Hian! Itu, Cina yang mempunyai kilang ciu tersembunyi di tengah kebun pisang. Lihatlah, sebentar lagi Srintil akan memakai subang berlian. Atau akan memakai gelang rangkap.” (Tohari, 2007:81)
Cuplikan Lainnya:
“Ah, tanpa pekasih pun orang akan senang tidur bersama Srintil. Maka aku bisa memahami bila Sulam rela kehilangan sebuah ringgit emas untuk memperoleh keperawanan ronggeng itu,” kata seorang laki-laki penjual tikar dari tempatnya. (Tohari, 2007:82)
Gamabaran kutipan di atas jelas terlihat bahwa orang-orang sedang membicarakan
Srintil. Dengan semua yang dimiliki Srintil telah menjadi bahan pembicaraan. Yang dulunya
Srintil bukan siapa-siapa dan miskin telah berubah semenjak ia menjalankan profesinya sebagai
seorang ronggeng.
Rasus kini muncul kembali di Dukuh Paruk setelah beberapa waktu lalu ia menghilang
dari Dukuh Paruk. Srintil tidak lupa dengan apa yang telah mereka berdua lakukan sebelum
acara malam bukak-klambu Srintil tiba. Ia juga kaget ketika Rasus menanyakan mengeni apa
yang telah mereka berdua lakukan sebelum Srintil diwisuada oleh para lelaki lain. Srintil tidak
perduli dengan usianya yang tergolong masih sangat muda, tetapi ia sudah mengerti dengan
hal-hal yang hanya dimengerti oleh orang-orang dewasa dan buktinya dia akan menjalankan malam
bukak klambu tetapi dia hanya berniat untuk memberikan keperawanannya kepada Rasus tanpa
dipungut biaya apapun. Dan setelah kejadian yang dilakukan Srintil dan Rasus, Rasus tiba-tiba
menghilang dan kini muncul lagi. Hal tersebut dapat dilihat pada cuplikan berikut:
“Kau tidak lipa padaku, Srin?”
“Heh! Tentu kau masih bernama Rasus.”
“Kau juga tidak lupa kejadian pada suatu malam di belakang rumah Kartareja?”
“Jangkrik! Jangan keras-keras. Ya, aku tak melupakan ulahmu yang tolol dan konyol itu.” “He-he. Tetapi aku ingin mengulanginya.”
“Kampret, jangan keras-keras. Atau kalau kau ingin membual banyak-banyak, mari kita beli cendol. Di warung itu kelihatan sepi.”
“Nah, ayolah. Bersama seorang ronggeng, perut akan terjamin, bukan?” “Sudahlah. Kau jangan nyinyir seperti Nyai Kartareja.” (Tohari, 2007:88)
Cuplika lainnya:
“ Rasus, kau menghilang dari Dukuh Paruk sejak kejadian malam hari di belakang rumah Kartareja. Jangkrik ! Aku sungguh tak mengerti mengapa kau bertindak demikian.”
“Karena engkau telah sah menjadi ronggeng. Selamanya aku tak ingin bertemu lagi denganmu kecuali aku mempunyai uang.”
“Jadi begitu rupanya, Rasus?” “Ya, mengapa?”
“ Apa waktu itu aku juga minta uang kepadamu?” (Tohari, 2007:89)
Srintil kini telah meminta Rasus agar menikahinya dan ia ingin berhenti meronggeng atau
melepaskan profesinya sebagai seorang ronggeng. Entah apa yang dipikirkan oleh Srintil
sampai-sampai ia berniat untuk tidak meronggeng lagi jika Rasus mau menikahinya. Srintil
melakukannya ketika Rasus hendak pergi lagi dan tak tahu kapan kembalinya. Hal tersebut dapat
dilihat pada cuplikan berikut:
“Bila kau ingin bertani, aku mampu membeli satu hektar sawah buat kau kerjakan. Bila kau ingin berdagang, akan kusediakan uang secukupnya,” pinta Srintil di malam yang amat sepi.
“Srin, aku belum berpikir sedemikian jauh. Atau aku takkan pernah memikirkan hal semacam itu. Lagi pula aku masih teringat betul kata-katamu dulu bahwa kau senang menjadi ronggeng.”
“Eh, Rasus. Mengapa kau menyebut hal-hal yang sudah lalu? Aku mengajukan permintaanku itu sekarang. Dengar, Rasus, aku akan berhenti menjadi ronggeng karena aku ingin menjadi istri seorang tentara; engkaulah orangnya.” (Tohari, 2007:105)
Srintil mulai malas untuk menjalankan profesinya sebagai seorang ronggeng, sudah 2 kali
ia menolak tawaran untuk meronggeng, hal itu membuat Kartareja dukun ronggeng itu dan
istrinya merasa khawatir jika Srintil tidak lagi mau untuk meronggeng. Tetapi srintil malah asyik
bermain dengan anak-anak pedukuhan itu. Srintil terlihat begitu bahagia saat bermain dengan
anak. Ia merasa senang karena tidk ada beban pikiran, dia bercanda tawa dengan para
anak-anak pedukuhan itu. Hal tersebut dapat dilihat pada cuplikan berikut:
“Dulu aku juga seperti kalian, senang bermain-main di tegalan sambil menggembala kambing,” kata Srintil. Tangannya sibuk mebuat mainan baling-baling dari daun kelapa.
“Kakak juga pintar menangkap capung dengan getah nagka?” tanya seorang anak.
“Ah, itu gampang. Kalau mau dengan getah nagka malah bisa nangkap burung kedasih,” jawab Srintil dengan gaya seorang ibu yang bijak.
“Pernah seperti itu?” kata seorang anak lainnya yang membawa tahi sapi kering yang membara sebagian. Di atas bara itu seekor jangkrik sedang di bakar. Srintil tersenyum.
“Oh, tentu saja. Aduh, gurih nian jangkrik bakar itu, bukan?” “Kakak mau? Silahkan ambil.”
“Boleh?” “Ambillah.”
Anak-anak memperhatikan dengan minat yang penuh ketika Srintil mengunyah jangkrik yang di bakar dalam bara tahi sapi kering itu. Semacam lambing keakraba, dan anak-anak gembala itu bersorak
sorai. Seorang yang paling besar diantara mereka maju mendekati Srintil. Di tangannya ada bamboo seruas.
“Benar juga, Kakak rupanya dulu suka bermain-main seperti kami. Tetapi apakah kakak bisa menebak isi tabung ini?”
“Gangsir,” jawab Srintil setelah mencoba berpikir. “Bukan.”
“Buah salam.” ‘bukan.” “Kepik hijau.” “bukan.”
“Nah, aku menyerah.” “Betul?”
“Ya.”
Anak gembala itu membalikkan tabung hingga isinya jatuh ke tanah. Srintil menjerit dan melompat, tepat seperti gadis kecil yang ketakutan. Seekor ular rangon merayap bebas sekian lama terkurung dalam tabung bambu. Sekali lagi terdengar sorak-sorai anak-anak gembala. Srintil mengejar si nakal, mencubit pahanya. Anak itu menangis, namun kelihatannya dia tidak menyesal bila Srintil terus mencubitnya. (Tohari, 2007:117)
Hari demi hari telah dilalui oleh Srintil yang masih berprofesi sebagai seorang ronggeng.
Para lelaki masih dan masih terus datang mencari Srintil untuk diajak menari, bertayub dan
melayani layaknya suami istri. Tetapi untuk kali ini Srintil menolak untuk tidur bersama seorang
laki-laki dan dia hanya ingin melakukan peronggengan, hanya ingin menari dan bertayub saja.
Hal tersebut terdapat pada cuplikan berikut:
“ Kalung itu akan kuterima bila dia sampean maksudkan sebagai upahku menari. Nah, sampean
tinggal mengatakan kapan dan dimana pentas hendak diadakan. Di sana sampean boleh mengajakku bertayub sepuas hati.”“ Memang hanya tak ingin. Kalau sekadar menari atau bertayub, nah, ayolah. Aku memang seorang ronggeng.
“ Tidak sepenuhnhya demikian, Pak. Kalau sampean ingin sekadar bertayub denganku, maka selenggarakan pentas. Terserah, kapan dan dimana.”
Hari demi hari hari terus berjalan dan Srintil terus menjalankan profesinya sebagai
seorang ronggeng. Hal tersebut bisa dilihat dalam kutipan di atas.
“Namaku Sentika dari Alaswakal. Betulkah di sini rumah ronggeng Srintil ?”
“Ya, benar. Sampean tidak keliru,” jawab Sakarya.“Lha iya. Dari jauh aku datang kemari karena aku mempunyai kepentingan.” “tentulah soal menanggap Ronggeng, bukan?”
“Lha iya. apa lagi kalau bukan itu. tetapi masih ada lainnya…” “Nanti dulu.”
Sakarya menyuruh istrinya pergi memanggil kartareja. Setelah itui Srintil muncul dengan mebopong Goder. Mata Santika menatapnya lama. Bibir Santika bergerak-gerak tanpa mengeluarkan kata. Matanya terus menatap hingga Srintil tertunduk malu. Kalau benar ini Srintil, oh, benar kata orang. cantik. Tetapi mengapa ada bayi di tangannya?
“ Nah, inilah cucuku Srintil. Dan bayi itu tentu saja bukan anaknya. Anak tetangga.” “ Ah memang tidak salah.”
“Tidak salah?”
“Lha iya. Aku tidak salah datang kemari.”
“Ya, ya. Kapan sampean punya kepentingan? Nah, ini Kartareja, kamitua ronggeng di sini,” Kata Sakarya sambil mengenalkan rekannya.
“ Aku menyediakan dua pilihan. Kalau tidak kamis manis, pilihlah Ahad pon mendatang.” “Kebetulan dua-duanya kosong,” kata Kartareja sambil menarik kursi.
“Tetapi jangan Ahad pon. Jangan. Pakailah hari kamis manis.” “Lha iya. Itu terserah sampean berdua.”
“ berapa malam?” Sentika terdiam.
“Eh, Srintil, buatkan minuman. Bapak ini datang dari jauh.”
“Berapa malam?” Ulang Sakarya. Tetapi Sentika tidak segera member jawaban. Malah laki-laki dari Alaswakal itu mengeluarkan rokok sirihnya.
“ Sebenarnya begini,” kata Sentika akhirnya. “Aku memerlukan Srintil bukan hanya untuk meronggeng.”
diam.
“Lalu?” Tanya Sakarya dan Kartareja hampir bersamaan. “Baiklah. Tetapi aku akan mulai dengan sebuah cerita.” “Lho, silahkan.”
“Anakku berjumlah empat belas orang, tetapi hanya dua yang laki-laki. Itu pun seorang di antaranya meninggal masih kecil. Jadi tinggal si Waras seorang, anak laki-lakiku. Semata wayang. Si Waras kini sudah tujuh belas tahun.”
“Ya, ya.’
“ Aku terlanjur mengucapkan kaul: bila si waras memang waras sampai dewasa, aku akan mementaskan ronggeng terbaik baginya.”
“Oh, ya, ya.”
“Dan aku akan mengundang baginya seorang gowok yang cantik.”(Tohari:2007:200)
Cuplikan di atas adalah tawaran seorang yang bernama Sentika untuk meminta Srintil
yang telah memiliki profesi sebagai seorang ronggeng untuk menjadi gowok bagi anaknya
Waras. Dan kertika Srintil mendengar pembicaraan tersebut, Srintil mau tetapi hanya
meronggeng saja, Dia tidak ingin langsung menerima tawaran untuk menjadi gowok. Hal
tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Aku akan datang ke Alaswakal pada hari Kemis Pahing untuk meronggeng. Lihat saja nanti apa aku juga bersedia menjadi gowok bagi anak bapak. Hanya itu kesanggupanku.”
Selesai berkata demikian Srintil, dengan wajah beku, bangkit hendak meninggalkan ruangan. Goder yang merengek dalam embanan diciuminya puas-puas. (Tohari,2007:2003)
Dari kutipan dialog di atas Srintil begitu menikmati pekerjaannya menjadi ronggeng
karena dia masih terus menerus menerima tawaran meronggeng dimana-mana. Meronggeng
bukanlah suatu hal yang baik untuk dikerjakan, melainkan sesuatu yang buruk. Bertahun-tahun
Srintil rela menjadikan dirinya seorang ronggeng yang harus menari, bertayub, dan melayani
setiap lelaki yang datang dengan membawa upah yang besar. Hal tersebut jelas terlihat bahwa
Srintil memiliki kepribadian yang tidak baik.
Tiba waktunya Srintil harus meronggeng di rumahnya Sentika yang terletak di
Alaswakal, tiba-tiba Srintil mau menjadi gowok bagi anak Sentika yang bernama Waras. Hal
tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut:
Srintil terus tertawa sambil membenamkan wajahnya ke pangkuan Nyai Kartareja. Istri dukun ronggeng ini terpaksa menekan kepala Srintil agar suara tawanya tidak menerobos ke luar jendela. Akhirnya Srintil bangkit. Sambil mengusap matanya dia berkata lirih,
“ Nyai, sekarang ajari aku bagaimana menjadi gowok. Ajari aku!”
“Eh, Janganten sudah mau menjadi gowok? Tetapi aku tak bisa mengajari sampean. Aku sendiri tak pernah menjadi gowok.”
“Kira-kira saja.”
“Nanti dulu, Janganten. Mengapa baru sekarang sampean menyatakan kesediaan menjadi gowok?”
Sekarang bukan hanya Srintil yang tertawa, melainkan juga Nyai Kartareja. Mata mereka basah karena tawa yang berlebihan. Entah mengapa mereka lupa sedang berada di rumah orang. Nyai Kartareja masih berusaha memperpanjang suasana itu dengan berkata, “ Dulu ketika sampean menjalani malam bukak-klambu, sampean terkena rudapaksa. Kini tiba saat bagi sampean membuat perhitungan terhadap kaum lelaki!” (Tohari, 2007:2011)
Katika Srintil menerima tawaran Sentika untuk menjadi gowok bagi anaknya Waras,
Srintil harus tinggal beberapa hari bersama Waras di rumahnya. Saat menjadi gowok Srintil akan
menjadi ibu rumah tangga bagi Waras dan memasakkan makanan untuk Waras yang untuk
sementara waktu sementara menjadi suami Srintil, dan Srintil pun harus menjalanka tugasnya
sebagai seorang istri yaitu, dengan memasak untuk makan suami, membersihkan rumah, dan
melakukan pekerjaan ibu rumah tangga lainnya. Kemudian, Waras yang katanya sebagai seorang
suami harus bekerja untuk istrinya denagn cara Waras membelahkan kayu untuk Srintil
memasak. Bukan hanya itu saja yang harus dilakukan oleh Srintil ketika menjadi Gowok, Srintil
juga harus tidur bersama Waras dan Waras harus melepaskan perjakanya kepada Srintil agar
Srintil benar-benar berhasil saat menjadi gowok untuk Waras. Hal tersebut dapat dilihat dalam
kutipan berikut:
“Tentu saja, kang,” jawab Srintil mendahului Nyai Sentika. “Nanti kita bermain-main sepuias hati. Tapi sekarang aku mau mandi dulu. Kakang menunggu di sini.”
“Jangan lama-lama.” “Ya.”
“Nanti kamu berdandan seperti tadi malam.” “Ya.”
Tetapi Waras tidak mau menunggu. Dia mengikuti srintil ke sumur dengan langkah-langkah gembira. Sumur itu berada di lembah di belakang rumah Sentika. Waras sendiri yang menimba dan mengisi jolang. Bak mandi yang terbuat dari kayu itu segera luber.
“Nah, mandilah. Aku di sini.” “Kakang di situ?”
“Ya.”
“Jangan. Kakang pergi dulu.”
“Tidak. Soalnya aku juga selalu di sini bila emak mandi.” “Begitu?”
“Ya, He! Tadi malam aku menaruh uang di dadamu. Coba Lihat, masih ada?” “Sudah kusimpan, Kang. Sekarang tidak lagi di sini.”
“Betul? Nah, tapi aku ingin lihat.” “Jangan, Kang, jangan.”
“Kamu sudah berkata, kita berteman. Kamu mau menipui, ya?” “Tentu saja tidak, Kang.”
“Lalu kenapa aku tak boleh melihat dadamu?”
Srintil hampir gagal menahan tawanya. Sambil menjongkok menghadap Waras dibukalah pinjungnya. Dadanya terbuka penuh.
“Nah, tak ada uang bukan/”
“Ya. Aku percaya sekarang. Tetapi tetek emakku gepeng, mengapa punyamu tidak ?” (Tohari,2007:2019)
Cuplikan di atas jelas terlihat Srintil telah merelakan dirinya untuk menjadi gowok. Tak
ada rasa malu bagi Srintil karena dia juga sudah terbiasa dengan perlakuannya kepada kaum
lelaki. Tidak asing bagi dirinya untuk memperlihatkan tubuhnya di depan Waras karena
sebelumnya sudah banyak lelaki yang tidur dan melakukan layaknya suami istri. Cuplikan di
bawah ini perlakuan Srintil kepada Waras ketika Srintil menjadi gowoknya.
“Dalam dongeng, Kakang adalah suamiku. Aku istrimu,” Kata Srintil.
“Nah, Karena aku sudah menjadi istrimu, maka aku minta uang untuk berbelanja.”
Dan seterusnya. Kali lain Srintil meminta Waras membelah kayu bakar buat memasak. Waras bekerja di samping rumah dengan semangat yang tidak bisa dikatakan main-main. Keringatnya membasahi badan. Telapak tangannya lecet oleh gagang kapak. Tetapi hasilnya hanya berupa serpihan-serpihan kayu dalam jumlah yang memalukan. Sementara itu Srintil keluar ke belakang rumah membawa bakul kecil. Dipetiknya pucuk singkong dan daun kecipir. Siapa mengira perempuan yang kelihatan tahu betul tentang urasan dapur itu adalah seorang ronggeng. Semua orang dusun tahu seni memetik sayur-mayur dan seni membawa bakul. Srintil melakukan kedua-duanya dengan jitu, kewes, dan pantes. Keluwesan seorang istri sejati yang hanya mungkin tampil karena Srintil menghayati sepenuh-penuhnya peran sebagai gowok. (Tohari,2007:220)
Kenyataannya tidak seperti tuan Sentika dan istrinya harapkan. Srintil gagal menjadi
gowok untuk Waras, karena Waras tidak sama dengan laki-laki lain yang ketika dihadapkan
dengan wanita cantik langsung merayu-rayu, menggombal dan lain-lain. Waras termasuk lelaki
yang tidak normal, Srintil sudah bersusah payah agar Waras mau menyerahkan perjakanya tetapi
hal itu tidak muncul dari diri Waras. Selama tinggal bersama Srintil, Waras hanya berpikiran
bahwa dia sedang bermain-main saja dengan Srintil. Hal tersebut dilihat dalam cuplikan berikut:
“Habis penganten-penganten lalu masak-masakan. Nanti apa lagi?” Tanya Waras. Mulutnya penuh nasi. Srintil berpikir sejenak. Suara anak burung podang mencecet di kurungan.
“ Nanti tinggal bermain tidur-tiduran. Kakang lelah karena habis bekerja membelah kayu. Akupun lelah karena bekerja di dapur. Jadi kita tinggal tidur. Senang ya, Kang?”
“Ya. Tetapi nanti dulu. Aku harus mencari belalang buat burungku.”
“Jangan, Kang. Kakang jangan kemana-mana. Aku sudah ingin tidur. Aku ingin tidur bersamamu.”
Waras hanya sejenak mengangkat wajah. Kemudian kembali menyuap nasi. “Jadi kamu suka bermain tidur-tiduran? Itu kesukaanmu, ya?”
Srintil menjawab dengan tarikan ujung bibir yang dipadu dengan pandangan mata redup. Suatu pancaran sugesti yang terarah langsung kepada sisi paling primitif pada diri seorang lelaki. Pancaran yang selayaknya bisa menggetarkan saraf, mengusik jantung agar berdenyut lebih kuat dan lebih cepat. Apalagi yang mengirimkan rangsangan itu adalah srinti: duta dunia perempuan yang secara naluriah sadar betul akan fungsi keberadaannya. (Tohari,2007:221)
Srintil sudah bersusah payah melakukan gowoknya dengan sebaik mungkin, tetapi Waras
hanya menganggap semua itu hanya permainan saja. Maka dari itu, Srintil telah gagal menjadi
gowoknya. Srintilpun merasa sangat kecewa. Kekecewaan Srintil bisa dilihat dalam cuplikan
berikut:
Pada hari keempat semuanya selesai. Pagi-pagi sekali Srintil minta diri kepada suami-istri Sentika. Waras tidak tahu karena dia belum bangun. Terjadilah perpisahan yang penuh emosi. Nyai Sentika, bahkan juga anak-anaknya yang perempuan, menangis. Srintil ikut menangis. Nyai Sentika memeluk dan mengelus Srintil dengan rasa sayang melebihi rasa terhadap anak kandungnya.
Bersama kabut tipis yang mulai lenyap oleh cahaya matahari Srintil berjalan menuruni bukit, meninggalkan Alaswakal. Di belakangnya berjalan Martanakim yang disuruh majikannya mengawal Srintil sampai ke Dukuh Paruk. Sebuah sapu tangan dalam genggaman Srintil penuh uang. Tetapi hanya Srintil pribadi yang tahu bahwa uang yang banyak itu tidak bisa mengusir rasa perih dalam hatinya, perih karena sesungguhnya Srintil pulang membawa kegagalan yang tidak kepalang. Waras tidak mungkin dilupakannya sepanjang masa; simpati bagi seorang manusia dalam kemalangan abadi. Atau, haruskah Srintil tahu bahwa Waras menangis sejadi-jadinya, melolong, dan berguling-guling ketika dia tahu bahwa Srintil telah meninggalkannya dan kembali ke dunia yang kecil terpencil; Dukuh Paruk? (Tohari:2007:224)
Apa yang dilakukan Srintil yang terdapat pada cuplikan di atas adalah sesuatu yang tidak
benar untuk dilakukan sebagai seorang wanita. Hal seperti itu bukanlah hal yang baik dan wajar
untuk dilakukan, tetati hal tersebut merupakan sesuatu perlakuan yang buruk.
Dukuh Paruk memang desa kecil dan terpencil. Semua orang Dukuh Paruk tidak tahu
membaca bahkan ada rapat-rapat, pidato dan pawai-pawai tidak dimengerti oleh mereka.
Termasuk Srintil, Dia tidak mengerti apa-apa yang telah terjadi di luar Dukuh Paruk. Yang ia
tahu hanya melakukan aktifitas meronggeng saja. Hal tersebut dapat dilihat pada cuplikan
berikut:
Adalah Srintil yang tidak tahu apakah dalam hidup ini diperlukan rapat-rapat, pidato, dan pawai-pawai. Atau segala kegiatan hura-hura itu. Dan Srintil yang tidak mengerti tujuan rapat-rapat yang belakangan yang selalu diikutinya dan dia mengisi acara kesenian. Srintil yang menjadi unsur paling penting bagi Dukuh Paruk adalah anak kandung keluguan alam dan kehidupan. Dia yang hidup atas dasar kepercayaan menjalani alur cetak biru seorang ronggeng.
Alur ini sudah ditempuhnya dengan kerelaan sempurna. Menjadi ronggeng, yang diterimanya sebagai tugas hidup, ialah menjadi pemangku naluri primitif; naluri berahi yang membebaskan diri dari norma dan etika yang menyusul kemudian. Itulah dunianya, kesadarannya. Dalam kesadaran itu Srintil merasa pasti ada sesuatu yang hilang ketika dia berpentas pada rapat-rapat propaganda itu. Srintil takkan pernah mampu berkata demikian. Namun nalurinya secara pasti merasakan adanya pendangkalan makna keberadaannya. Ronggeng adalah keperempuanan yang menari, menyanyi, serta kerelaan melayani kelelakian. Dia pastilah bersifat mandiri dan mendasar. Tetapi selama mengikuti Bakar, Untuk apa dan siapa dia meronggeng, sunguh menjadi pertanyaan yang sulit dijawabnya. (Tohari, 2007:231)
Cuplikan lainnya:
Meski dalam wawasan yang sederhana, Srintil merasa pentas ronggeng, dalam rapat-rapat itu sekedar pelengkap. Memang meriah, tetapi lain. Gempita tetapi keri ng makna. Apalagi dengan lirik tembang yang sudah banyak diubah. Penonton selalu dalam keberingasan yang tidak bisa dimengerti dan karenanya Srintil kadang Srintil merasa ngeri. Bahkan Sakum yang buta dua belah mata ikut mewarnai perubahan yang dirasakan Srintil. Penabuh calung itu kehilangan cirinya: kekocakan spontan yang selalu tepat ketika ronggeng menggoyang pinggulnya. Sakum, dengan kepekaan dan kehalusan perasaannya, mampu menangkap keringnya pentas ronggeng yang digelar bersama rapat-rapat propaganda itu. (Tohari, 2007:232)
Cuplikan di atas, tampak keraguan yang dihadapi oleh oleh Srintil ketika sedang
naik pentas. Dia merasakan keanehan karena tidak biasanya dia meronggeng dengan
penuh pemikiran yang seperti itu. Kali ini Srintil meronggeng dengan mengikuti
rapat-rapat propaganda yang dilaksanakan oleh pak Bakar. Pak Bakar itu awalnya orang yang
baik dan banyak membantu Dukuh Paruk. Telah banyak bantuan-bantuan yang telah
Bakar berikan untuk itu ketika Bakar meminta untuk pentas ronggeng selalu diadakan
pada setiap rapat-rapat propaganda, maka Srintil dan kawan-kawan yang menyediakan
untuk pentas ronggeng pun mengikuti apa yang disuruh Pak Bakar, sebab mereka hanya
ingin membalas budi kebaikan Pak Bakar. Ternyata sesuatu terjadi atas ulah Pak bakar.
Kerusuhan di Dukuh Paruk terjadi, selesai rapat Srintil mengisi acara kesenian dengan
meronggeng, ratusan penonton mabuk, ada yang kesurupan kemudian beramai-ramai
merusak padi, mereka membabat dan menggunting padi di sawah-sawah entah milik
siapa. Kegaduhan pertama disusul oleh yang kedua, sebulan kemudian, dan yang ketiga
pada bulan berikutnya lagi. Dalam kerusuhan yang trakhir keadaan yang demikian
genting karena terjadi siang hari dan melibatkan ratusan orang dari pihak projeng dan
para pemilik sawah. Perang pacul dan sabit hanya gagal karena polisi datang tepat pada
waktunya. Kengerian yang terjadi membuat Srintil mengambil kata putus dan kakeknya
pun mendukungnya. Sakarya dan cucunya Srintil mendatangi rumah Bakar di Dawuan
dengan keluhan yang telah meningkat menjadi tuntutan. Hal tersebut dapat dilihat pada
cuplikan berikut:
“Pak Bakar,” kata Sakarya penuh kekesalan, “kami, orang-orang Dukuh Paruk, tidak ingin dilibatkan dengan kerusuhan-kerusuhan itu. Bila demikian terus keadaannya, samalah artinya sampean menjerumuskan kami. Orang Dukuh Paruk tidak menyukai kekerasan. Pak Bakar, buat selanjutnya kami tak mau ikut rapat-rapat itu.”
“Ya, Pak,” sela Srintil. “Akhirnya orang pasti menghubungkan kami dengan kerusuhan di sawah-sawah itu.”
“Ah, kalian orang-orang Dukuh Paruk,” kata Bakar masih dengan sikap kebapakannya. “Kalian tak perlu terpengaruh oleh perasaan cengeng semacam itu. Yang sedang terjadi adalah sebuah aksi masa, sebuah gerakan kaum miskin yang sekian lama mengalami ketidakadilan. Mereka berkeringat mengerjakan sawah para pemilik tanah. Tetapi mereka tak pernah ikut memetik hasilnya kecuali sekadar untuk hidup, bahkan kurang dari itu. Kini saatnya menuntut hak.”
“Dengan cara kekerasan semacam itu?” “Dengan cara apapun.”
“Jadi sampean menyetujui gerakan para projeng itu?”
“Aku tak bisa mencegah sebuah aksi masa yang sedang berjuang menuntut hak.”
“Maka jadilah! Cukup sekian. Kami takkan mencampuri urusan sampean. Tetapi jangan sekali-kali sampean urusi bagian kami, orang-orang Dukuh Paruk. Kami tidak ingin terlibat dalam kerusuhan apa pun.”
“Nanti dulu, Kang saakarya,” ujar Bakar sambil tersenyum. “Aku yakin betul, apa yang terjadi di sawah-sawah itu seharusnya tidak asing bagi semua orang Dukuh Paruk. Nah, apa kalian tidak mengira siapa dan bagaimana kelakuan nenek moyang kalian?” (Tohari, 2007:233)
Cuplikan lainnya:
“Jadi sejak saat ini ronggeng Dukuh Paruk kularang mengikuti rapat-rapat.” “Ya, Pak. Aku tak mau lagi menari bila sesudah itu terjadi keributan,” ujar Srintil. Bakar termenung sejenak. Mengangguk-angguk, kemudian wajahnya kembali tenang.
“Baiklah. Kukira kalian memang perlu istirahat.” (Tohari, 2007:234)
Ternyata setelah kerusuhan dan kekacauan yang terjadi kakek Srintil dan Srintil pergi ke
kantor polosi untuk melapor eh, ternyata nama Srintil tercantum dalam pencarian orang yang
akan di masukkan ke penjara. Apa boleh buat polisi tidak lagi sibuk-sibuk pergi mencari dan
menangkap Srintil karena Srintil telah datang ke kantor polosi dengan sendirinya tanpa disadari
Srintil kalau dia akan ditahan. Srintil pun kini masuk penjara dan sudah lama tidak muncul di
Dukuh Paruk.
Rasus teman bermain Srintil waktu kecil kini telah muncul lagi ke Dukuh Paruk, Rasus
disuruh untuk menjenguk Srintil di penjara. setibanya Rasus di penjara, cukup sulit juga untuk
bertemu dengan Srintil tetapi dia bisa bertemu Srintil walaupun hanya memiliki waktu yang
singkat sekali. Hal tersebut dapat dilihat pada cuplikan berikut:
“Kamu ingin melihat siapa?” tanya kapten Mortir akhirnya. “Srintil, Kep.”
“Siapa?”
“Srintil. Dia berasal dari Dukuh Paruk.” “Kamu saudaranya?”
“Ya, Kep. Saudara jauh. Dan saya juga berasal dari Dukuh Paruk.” “Oh, ya. Srintil yang ronggeng itu, kan?”
“Benar, Kep.”
Kapten Mortir diam. Kadang terlihat senyumnya samar, amat samar. Dan Rasus sungguh tak bisa meraba makna senyum samar itu.
“Baik,” kata Kapten Mortir dan jantung Rasus terpacu. “tetapi kamu lebih dulu harus mencuci mobilku. Lapor bila sudah selesai!”
“Siap!”(Tohari, 2007:268)
Setelah melakukan apa yang diperintahkan Kapten Mortir Rasus masih digodok oleh
Kapten tersebut, setelah digodok kapten itu memberikan izin kepada Rasus untuk bertemu Srintil
dengan waktu yang singkat sekali, dan apa yang dibicaraka Rasus dan Srintil, Kapten itu
menyuruh untuk menulis apa yang mereka perbincangkan. Kemudian Rasus telah diizinkan
untuk bertemu Srintil. Dipertemuan itu Srintil dan rasus Cuma saling diam. hal tersebut dapat
dilihat pada kutipan berikut:
Ada bahul yang tiba-tiba melonggar setelah berbulan-bulan membelenggu renjana dalam hati Srintil. Sejak kali pertama dia menyadari dirinya seorang tahanan politik Srintil mempunyai keyakinan penuh bahwa Rasus mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya. Rasus sama-sama berdarah Duku Paruk, Rasus dikenal sejak kanak-kanak dan selalu bersedia berbuat baik kepadanya. Rasus seorang tentara dan yang terpenting Rasus percaya bahwa Srintil bukan orang komunis. Srintil tidak mengerti komunis. Semua itu bila ditambah dengan kemauan Rasus, maka kebebasan Srintil akan menjadi perkara yang mudah. Itu wawasan pikiran Srintil. (Tohari, 2007:271)
Kutipan lainnya:
Dalam krisis rasa percaya diri seperti itu Srintil tidak yakin masihkah ada orang yang merasa perlu memperhatikan nasibnya, meski orang itu bersama Rasus dari Dukuh Paruk? Bahkan ketika sosok Rasus sudah ada di depannya Srintil tetap tidak percaya kedatangan anak Dukuh paruk itu demi sesuatu yang bersangkutan dengan dirinya. Dan menutup muka dengan kedua tangannya sambil menangis ketika Rasus makin dekat.
Rasus tertahan dalam gerakannya. Hati yang limbung tak memungkinkannya berbuat sesuatu yang punya makna kecuali kelimbungan itu sendiri. Dia ingin menuntun, mengajak Srintil duduk, namun gerakannya gamang. Mulutnya terkunci karena tidak tahu pasti apa yang harus diucapkannya. Akhirnya Rasus duduk kembali dengan niat menunggu hingga hati Srintil menjadi lebih tenang. Tetapi rasus kemudian terkejut ketika seorang prajurit masuk daan member tahu bahwa waktu pertemuan sudah habis. (Tohari, 2007:272)
Gambaran kutipan novel di atas memperlihatkan bahwa pertemuan mereka berdua tidak
berarti sama sekali karena tidak ada pembicaraan yang mereka lakukan. Pertemuan mereka
hanya diawali dan diakhiri dengan berdiam dan tutup mulut serta dengan hati yang tak tahu apa
rasanya.
Setelah Srintil keluar dari penjara, Srintil langsung menuju desa kecinya itu, Dukuh
Paruk. Pertama kali dia sampai di Dukuh Paruk ia melihat tampi dan anaknya Goder yang dulu
dianggap anak oleh Srintil. Srintil mencoba untuk mengambil Goder dan memeluknya tetapi
Goder tidak mau karena Goder tidak kenal lagi dengan Srintil, sebab dua tahun Srintil di penjara
membuat Goder lupa akan sosok Srintil yang pernah mengasuhnya sewaktu Goder masih kecil.
Srintil tidak putus asa, Srintil mencoba membujuk dan merayu Goder kembali sampai akhirnya
Goder mau dipeluk Srintil. Hal tersebut dapat dilihat pada cuplikan berikut:
“Mak, kenapa dia menangis, Mak?” kata Goder tiba-tiba.
“Karena kamu nakal. Kamu tak mau dibopongnya,” jawab Tampi. “Siapa dia, Mak?”
“Oalah, anakku! Dia juga emakmu. Emakmu ada dua, aku dan dia.”
Mata Goder membulat. Bening dan tanpa berkedip ditatapnya Srintil yang masih menangis. “Betul dia emakku juga?”
“Mengapa tidak pernah datang kemari?” “Dia baru pulang dari bepergian.” “Jauh?”
“Jauh sekali.”
“Sekarang dia membawah oleh-oleh?”
“Oh, aku lupa, Nak,” ujar Srintil. Suaranya parau. “Tetapi aku punya uang. Engkau ingin apa, Nak?” (Tohari, 2007:279)
Srintil tampak was-was dengan keberadaan Nyai Kartareja, entah apa yang membuat
hatinya seperti itu. Srintil sperti tidak mau berbicara dengan Nyai Kartareja. Hal tersebut dapat
dilihat pada cuplikan berikut:
“E, lha. Ada apa, Janganten? Kok terkejut?”
“Ah, anu. Tidak ada apa-apa, Nyai. Aku mau menyusul Goder.”
“Dia sedang asyik bermain baling-baling. Biarlah dia. Aku ingin bicara. Penting.”
Srintil menatap Nyai Kartareja dengan mata membulat. Rasa was-was tergambar jelas di wajahnya.
“Penting?”
“Ya, penting.” (Tohari, 2007:286)
Nyai Kartareja member kesempatan kepada Srintil menata kembali napasnya yang terengah-engah. Perempuan tua itu cukup bersabar menanti sampai darah yang mendadak lenyap kembali mengisi kulit wajah Srintil. Dan rasa trenyuh tidak terhindarkan karena Nyai Kartareja menyadari betapa ringkih keadaan jiwa Srintil; dia menjadi demikian gugup hanya karena akan disampaikan kepadanya sesuatu yang penting.
“Anu, Janganten. Wong aku mau bercerita tentang nasib sendiri. Sejak dulu aku memang sengasara. Tetapi tidak seperti sekarang ini. Dulu, terus terang, aku bisa nunut sampean. Sekarang Janganten, bagiku soal makan saja adalah perkara yang tidak pasti. Maka aku mempunyai usul, bagaimana bila sampean member kesempatan numpang penghidupan.” (Tohari, 2007:287)
Srintil hendak ingin tidur bersama neneknya Nyai Sakarya. Ia menuju rumah neneknya
itu dan bercakap-cakap dengan neneknya. Hal tersebut dapat dilihat pada cuplikan berikut:
“Nek,” ujar Srintil lirih sekali. Entah mengapa hatinya diamuk nelangsa. Air matanya meleleh. “Nek.”
“Oh, eh, siapa? Srintil, kenapa engkau, cucuku wong ayu?” “Nek.”
“Ya, cucuku. Eh, engkau menangis?” “Nek, aku mau tidur di sini bersama nenek.”
“oalah. Mari, cucuku, mari. Oalah eman, eman, cucuku. Ada apa rupanya?”
Srintil tidak menjawab tetapi langsung merebahkan diri, melipat tubuh sekecil mungkin dalam pelukan Nyai Sakarya yang ringkih dan apek. Ada setitik kesejukan. Srintil surut dua puluih tahun ke belakang kala dia selalu mencari perlindungan pada haribaan Nyai Sakarya bila hati sedang sedih dan nelangsa. Sesungguhnya Srinti sadar neneknya tidak mampu memberikan sesuatu untuk menyelesaikan kebimbangannya, namun belaian tangan perempuan tua itu bisa meredam kegelisahan. Nyai Sakarya sendiri tidak mendesak Srintil mengutarakan perasaannya karena pertanyaan yang hanya berulang-ulang dijawab dengan sedu sedan. Seorang perempuan yang sudah tujuh puluh tahun menjadi warga kehidupan; Nyai Sakarya mengerti ada keruwetan dalam hati cucunya. Dan pastilah keruwetan itu terjadi pada pusat wilayah pribadi Srintil sehingga Nyai Sakarya merasa tidak mampu berbuat sesuatui kecuali membelai rambut cucunya. Lama-lama Srintil berhenti mengisak. Beberapa kali terdengar desah panjang sebelum napas Srintil berubah lembut dan teratur. Seperti orang yang lama berjalan di bawah terik matahari lalu mencapai kerindangan sebuah pohon besar. Sejuk dan teduh nyaman. Sejenak Srintil lepas dari
kebimbangan. Berangkat tidur diantar oleh belaian nenek adalah tidur seorang cucu yang dimanjakan. Buat sementara Srintil terbebas dari kungkungan keberadaannya. (Tohari, 2007:334)
Dari gambaran beberapa kutipan atau penggalan novel di atas, Srintil terlihat memiliki
yang tidak baik karena menjalankan profesinya sebagai seorang ronggeng. Menjadi seorang
ronggeng bukanlah hal yang baik untuk dilakukan karena perbuatan seorang ronggeng tidak
benar. Menari, menyanyi, bertayub bahkan melayani para lelaki itu bukanlah sesuatu yang patut
untuk dicontohi bagi kita umat manusia yang beragama. Menyanyi dan menari bisa saja baik
untuk dilakukan karena itu juga bagian dari seni, tetapi bertayub dan melayani para lelaki itu
sudah tidak baik untuk wanita.
4.1.1.2 Dekonstruksi Penokohan Tokoh Utama
Ronggeng Dukuh Paruk yang menggambarkan karakter Srintil sebagai tokoh utama dan
seperti apa yang telah dicantumkan pada beberapa penggalan cuplikan di atas bahwa Srintil
berprofesi sebagai seorang ronggeng, itu dapat kita lihat bahwa semua yang dilakukan Srintil
bukanlah hal yang baik untuk dilakukan dan orang yang membaca novel ini pasti akan
beranggapan bahwa Srintil memang bukan orang yang baik. Namun, kenyataan tersebut
bukanlah kebenaran yang mutlak. Banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam penilaian
karakter dari diri Srintil. Hampir seluruh cerita mengungkapkan karakter yang tidak baik atau
buruk bagi Srintil. Namun, ada alasan khusus yang kuat yang harus diperjelas mengenai karakter
Srintil.
Meronggeng adalah profesi yang dipilih Srintil untuk menjalankan hidupnya. Memang
meronggeng bukanlah sesuatu yang patut untuk kita contohi dan tidak pantas bagi kita untuk
melakukannya. Akan tetapi ketika didekonstruksi Srintil adalah sosok wanita yang hebat dan
bertanggung jawab. Srintil melakukan itu semua, mulai dari menari, bertayub, melayani para
lelaki bejat manapun, bahkan sampai mejadi seorang gowok itu semua Srintil lakukan demi
Dukuh Paruk dan keluarganya bahkan demi orang lain. Dukuh Paruk adalah desa yang sangat
terpencil dan dikenal dengan kemelaratannya. Srintil menerima tawaran kakeknya untuk menjadi
seorang ronggeng karena selain hobinya yang suka menari, dia juga ingin bertanggung jawab
demi Dukuh Paruk dan keluarganya. Sebab, di Dukuh Paruk meronggeng adalah tradisi atau adat
istiadat yang memang harus ada di desa itu, dan itu sudah terjadi sejak dahulu. Dukuh Paruk
tanpa seorang ronggeng adalah Dukuh Paruk yang hampa dan dianggap tidak hidup lagi.
Perbuatan tersebut tidak dianggap dosa bagi warga mereka karena mereka sendiri tidak pernah
mengenal dosa. Selain tanggung jawab Srintil pada desanya tersebut, dia melakukan itu demi
kelangsungan hidup kakek neneknya yang begitu melarat dan miskin. Srintil-lah yang
membiayai kehidupan sehari-hari kakek neneknya, bahkan kehidupan Kartareja dan istrinya
selaku dukun ronggeng di Dukuh Paruk atau orang yang telah mengasuh Srintil selama ia
menjadi ronggeng. Bukan hanya mereka yang dibantu Srintil, Sakum dan keluarganya juga ikut
dibantu Srintil. Sakum adalah lelaki yang memainkan calung ketika Srintil menari di panggung.
Maka dari itu, ketika tidak ada seorang ronggeng Sakum tidak lagi memainkan calung dan tidak
mendapatkan uang yang berkecukupan. Srintil memang benar-benar orang yang bertanggung
jawab dan mau membantu keluarga bahkan orang lain.
Ketika Srintil tidak ingin lagi menjalankan profesinya sebagai seorang ronggeng maka
Nyai Kartareja sangat khawatir karena dari seorang ronggeng-lah keluarga dukun ronggeng itu
bisa menghidupi kehidupan yang dijalani. Jelas bahwa ketika Srintil masih menyandang profesi
sebagai seorang ronggeng semua kebutuhan dukun ronggeng tersebut didapatkan dari Srintil
sebagai seorang ronggeng. Hal itu bisa dilihat pada kutipan berikut.
“Anu, Janganten. Wong aku meu bercerita tentang nasib sendiri. Sejak dulu aku memang sengsara. Tetapi tidak seperti sekarang ini. Dulu, terus terang, aku bisa nunut sampean. Sekarang,
Janganten, bagiku soal makan saja adalah perkara yang tidak pasti. Maka aku mempunyai usul, bagaimana sampean member kesempatan kembali kepadaku, kesempatan numpang penghidupan.”
“Num…pang?” kata Srintil telah menatap Nyai Kartareja lama dan dalam. “Numpang penghidupan? Bagaimana mungkin jika aku sendiri tidak mempunyai penghasilan apapun?”
“Ah, Janganten, bagaimana juga sampean tidak sama dengan aku. Sampean masih muda. Dan siapa bilang sampean tidak cantik? Di mana saja, pada zaman apa saja, perempuan cantik tidak sama dengan perempuan yang buruk, bukan?”
“Nanti dulu, Nyai. Sampean mau berkata apa sebenarnya?”
“Begini, Janganten. Tadi sampean berkata bahwa sampean tidak mempunyai penghasilan apapun. Maka bagaimana bila sampean berbuat sesuatu agar sampean kembali mempunyai penghasilan seperti dulu. Persoalannya mudah bagi sampean, tinggal mau atau tidak.”
“Nyai, katakana dengan jelas.”
“Baiklah. Kemarin aku bertemu seseorang yang sangat berharap bisa sekadar melepaskan kepusingan hidup bersama sampean. Marsusi, Janganten. Sampean masih ingat Marsusi, bukan?” (Tohari, 2007:287)
Cuplikan lainnya:
“Eh, sabar dulu, Janganten. Dengar dulu kata-kataku! Siapa bilang ada orang yang tidak mengerti keadaan sampean. Tetapi apakah sampean hanya mau mementingkan diri sendiri dan tidak mau mengerti urusan perut orang Dukuh Paruk yang hanya bisa nunut sampean?”
“Aku memang tidak mau tahu. Orang Dukuh Paruk bisa hidup tanpa bergantung kepadaku. Orang Dukuh Paruk biasa makan iles-iles, bahkan bonggol pisang. Lakukan itu dan jangan meminta aku kembali berbuat kesalahan. (Tohari, 2007:288)
Memang terlihat Srintil adalah sosok gadis yang tidak baik ketika menyandang profesi
sebagai seorang ronggeng. Tetapi profesi tersebut tidak dilakukan untuk selamanya. Ada juga
saat dia mulai bosan dengan meronggeng, Srintil juga ingin menikah mempunyai suami, anak,
dan menyandang status sebagai ibu rumah tangga lainnya. Hal itu telah dicobanya dengan
melepaskan profesinya sebagai seorang ronggeng, kemudian dia mengambil Goder anak tampi
yang masih kecil itu untuk dirawat layaknya anak sendiri. Srintil juga ingin mendapatkan
laki-laki yang baik yang bisa menerima apa adanya pada dirinya karena dia adalah mantan seorang
ronggeng. Jadi, Srintil bukanlah sosok wanita yang jahat, tidak baik, atau apalah yang
buruk-buruk, tetapi malahan Srintil adalah anak yang baik dan bertanggung jawab atas Dukuh Paruk.
Srintil tidak lagi menerima tawaran lelaki mana pun yang datang menemuinya untuk
melayani para kaum lelaki. Hal tersebut dia lakukan karena dia sudah tidak ingin lagi
meronggeng dan melayani tidur dengan laki-laki. Hal tersebut dapat dilihat pada cuplikan
berikut:
“Jadi….jadi Adik berdua ingin bertemu saya. Nah, Sekarang sudah terlaksana, bukan?” ujar Srintil tiba-tiba. Kemandekan serta-merta cair. Tamir tersenyum lebar. Diding mengangkat muka sekilas. Dan Tamir mendapat kesulitan baru ketika hendak menyambut kata-kata Srintil. Dia telah didahului disebut Adik. Mau membalasnya dengan Mbak yu atau Kakak? Ini sebuah rintangan psikologis, bila dihubungkan dengan maksud kedatangan Tamir ke Dukuh Paruk. Atau inilah kemenangan kecil pertama yang dilakukan oleh Srintil atas kelelakiannya yang kini kembali mengadang.
“Ya…ya,” Jawab Tamir patah.
“Tetapi maafkan bila saya tidak bisa menjamu Adik. Yah, beginilah keadaan saya, Adik melihat sendiri, sama sekali beda dengan keadaan kota, kan?”
“Ya…ya. Oh, tak mengapa. Anu, kami mendengar sampean seorang ronggeng. Masih suka meronggeng?”
Pertanyaan Tamir yang tak menduga membuat jantung Srintil terpukul dan membuat dadanya menyesak.
“Anu, Dik. Itu dulu. Sekarang saya tidak lagi meronggeng. Dulu pun saya cuma ronggeng bobor ronggeng yang jarang naik pentas.”
“Jadi sampean sekarang tidak meronggeng lagi?” “Tidak.”
“Ah, kenapa?” “Tidak . Tidak.” “Ya, tetapi mengapa?”
“Pokoknya tidak.” (Tohari, 2007:317)
Srintil tidak lagi melakukan hal-hal yang buruk seperti yang dia lakukan sebelumnya. Hal
itu dia lakukan karena dia sudah tidak ingin berprofesi sebagai seorang ronggeng lagi dan tidak
ingin melayani lelaki manapun. Dikerenakan Srintil kini hanya ingin menjadi wanita biasa
seperti wanita-wanita yang lain dan ingin menikah, menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.
Ternyata Srintil yang awalnya kita anggap wanita yang tidak baik kini ketika didekonstruksi
Srintil adalah wanita yang baik dan bertanggung jawab. Pekerjaannya yang dulu sebagai seorang
ronggeng ia lakukan bukan demi kepentingannya sendiri. Memang meronggeng bukanlah hal
yang baik untuk dilakukan tetapi Srintil rela menerima menjadikan profesinya seorang ronggeng.
Tidak semua wanita bisa menjadi ronggeng, karena memang tidak mudah untuk seseorang
menjadi ronggeng. Kini Srintil hanya memikirkan agar dia bisa menjadi ibu rumah tangga yang
baik dan menjadi ibu yang baik bagi Goder yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Hal
tersebut dapat dilihat pada cuplikan berikut:
“Mak!” seru Goder sambil menubruk pangkuan Srintil. “E….ya?” Apa, Nak?” jawab Srintil gagap.
“Bikin ayunan, Mak. Aku ingin punya ayunan.” “Ah, kau masih kecil, Nak. Nanti jatuh.” “Mak, bikin ayunan!” Goder mulai menuntut.”
“Aku tidak bisa membuat ayunan bambu, Nak. Tetapi kalau ayunan kain, Emak bisa.” “Buaian, Mak? Ya, aku mau berayun-ayun di buaian. Aku mau, Mak.”
“Baik, Nak. Mari pulang, kita bikin buaian di rumah.” (Tohari, 2007:322)
Cuplikan lainnya:
“Masih menjual jangkrik di pasar Dawuan, Kang?” tanya Srintil kepada Sakum yang sedang menata ruas-ruas bamboo berisi dagangan, jangkrik.
“Lha iya. Mau apa lagi, Janganten. Untung ada jangkrik!”
“Ya. Aku mau minta tolong, Kang. Belikan gula dan bubuk kopi yang bagus. Juga papaya dan jeruk. Mau, Kang?”
Sakum diam sejenak. Kedua matanya yang keropos bergerak-gerak. Sakum yang memiliki kepekaan luar biasa menangkap kelainan suasana. Memang bukan sekali-dua Srintil minta tolong dibelikan sesuatu, tetapi biasanya kelepon atau ondol-ondol buat Goder. Kadang juga ketupat. Kali ini adalah gula, kopi, dan buah-buahan. Lebih dari itu Sakum merasa suara Srintil keluar dari jiwa yang dalam.
“Mau, Kang? Ini uangnya.”
“Tentu saja mau, Janganten,” jawab Sakum yang cengar cengir. “Ada tamu ya? Siapa? “Kok kamu tahu, Kang?”
“Ya! Sampean sudah kenal sejak bocah siapa Kang Sakum.” “Benar, Kang. Ada orang mau bertemu ke rumahku.” “He….he. Marsusi, ya?”
“Salah. Orang Jakarta, Kang.”
“Orang Jakarta? Ah, ya di pasar Dawuan orang berkata sekarang ini banyak priyai Jakarta berdatangan. Nah, Janganten, andaikan sampean masih meronggeng. Bukan main!”
“Aku tidak akan meronggeng lagi, Kang. Aku sudah tua.”
“Iya! Si Sakum tahu sampean bukan lagi seorang ronggeng. Bukan karena sudah tua. Sampean masih muda. Tetapi si Sakum setiap hari mendengar suara sampean, bukan lagi suara ronggeng. Tidak bisa tidak sekarang Dukuh Paruk tanpa ronggeng.”
Ada tekanan yang khas dan pasti pada kata-kta Sakum. Sekarang Dukuh Paruk tanpa ronggeng. Mula-mula Srintil agak terkejut mendengarnya. Matanya membulat dan kedua alisnya naik, pertanda Srintil telah berusaha keras memahami kata-kata si mata keropos. Memahami apa yang terucap dan apa yang tersembunyi di baliknya. Lalu Srintil maju selangkah dan berbisik di dekat telinga Sakum.
“Betulkah aku bukan lagi seorang ronggeng, kang?”
“Betul! Andaikan dipaksa meronggeng pun sampean bakal tidak laku. Burung indang telah terbang dari kurungan. Indang ronggeng kini tidak ada pada tubuh sampean.” (Tohari, 2007:335)
Dari kutipan novel di atas, Srintil terlihat senang ketika dirinya tidak lagi disebut-sebut
sebagai seorang ronggeng, memang dulu profesinya seorang ronggeng dan itu memang tidak
baik untuk dilakukan bagi seorang wanita, tetapi karena dia ingin bertanggung jawab demi
Dukuh Paruk dan keluarganya ia rela menerima untuk menjadikan dirinya seorang ronggeng.
Kini Srintil ingin merubah pola hidupnya dengan menjadikan dirinya wanita yang baik-baik.
Srintil tidak ingin lagi disebut-sebut sebagai seorang ronggeng karena ia telah melepaskan
profesinya sebagai seorang ronggeng. Betapa inginnya dia untuk menjadi ibu rumah tangga
seperti yang dijalani ibu-ibu rumah tangga lainnya. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan
berikut.
“Bila kau ingin bertani, aku mampu membeli satu hektar sawah buat kau kerjakan. Bila kau ingin berdagang, akan kusediakan uang secukupnya,” pinta Srintil di tengah malam yang amat sepi.
“Srin, aku belum berpikir sedemikian jauh. Atau aku takkan pernah memikirkan hal semacam itu. Lagi pula aku masih teringat betul kata-katamu dulu bahwa kau senang menjadi ronggeng,” jawabku.
“Eh, Rasus. Mengapa kau menyebut hal-hal yang sudah lalu? Aku mengajukan permintaanku sekarang. Dengar, Rasus, aku akan berhenti menjadi ronggeng karena aku ingin menjadi istri seorang tentara; engkaulah orangnya.” (Tohari, 2007:105)
4.1.2 Penokohan Tokoh Tambahan
Tokoh tambahan dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari merupakan
tokoh yang sepenuhnya mendukung tokoh utama. Tokoh tambahan dalam novel Ronggeng
Dukuh Paruk ini terdiri atas empat orang, antara lain Sakarya, Kartareja, Nyai Kartareja, dan
Bajus.
4.1.2.1 Penokohan Tokoh Sakarya
Tokoh Sakarya dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk merupakan tokoh tambahan yang
hadir sebagai kakek Srintil. Sakarya telah berniat untuk menjadikan Srintil cucunya sendiri
sebagai seorang ronggeng dikarenakan dia telah melihat cucunya pintar dalam hal menari. Hal
tersebut dapat dilihat pada cuplikan berikut:
Menjelang tengah malam barangkali hanya Sakarya yang masih termangu di bawah lampu minyak yang bersinar redup. Sakarya kamitua di pedukuhan terpencil itu, masih merenungi ulah cucunya sore tadi. Dengan diam-diam Sakarya mengikuti gerak-gerik Srintil ketika cucunya itu menari di bawah pohon nangka. Sedikitpun Sakarya tidak ragu, Srintil telah kerasukan indang ronggeng.
Sakarya tersenyum. Sudah lama pemangku keturunan Ki Secamenggala itu merasakan hambarnya Dukuh paruk karena tidak terlahirnya seorang ronggeng di sana. “Dukuh Paruk tanpa ronggeng bukanla Dukuh Paruk. Srintil cucuku sendiri, akan mengembalikan citra sebenarnya pedukuhan ini,” kata Sakarya kepada dirinya sendiri. Sakarya percaya, arwah Ki Secamenggala akan terbahak di kuburnya bila kelak tahu ada ronggeng di Dukuh Paruk.
Tak seorangpun menyalahkan pikiran Sakarya. Dukuh Paruk hanya lengkap bila di sana ada keramat Ki Secamenggala, ada seloroh cabul, ada sumpah serapah, dan ada ronggeng bersama perangkat calungnya. Gambaran tentang Dukuh Paruk dilengkapi oleh ucapan orang luar yang senang berkata misalnya,” jangan mengabadikan kemelaratan seperti orang Dukuh Paruk.” Atau,” Hai, anak-anak, pergilah mandi. Kalau tidak nanti kupingmu mengalir nanah, kakimu kena kudis, seperti anak-anak Dukuh Paruk. (Tohari, 2007:15)
Keesokan harinya Sakarya menemui Kartareja. Laki-laki yang hampir sebaya ini secara turun temurun menjadi dukun ronggeng Dukuh Paruk. Pagi itu Kartareja mendapat kabar gembira. Diapun sudah bertahun-tahun menunggu kedatangan seorang calon ronggeng untuk diasuhnya. Belasan tahun sudah perangkat calungnya tersimpan di para-para di atas dapur. Dengan adanya laporan Sakarya tentang Srintil, dukun ronggeng itu berharap bunyi calung akan kembali terdengar semarak di Dukuh Paruk. (Tohari, 2007: 16)
Sakarya telah menjadikan cucunya Srintil itu seorang ronggeng yang merupakan sesuatu
yang buruk untuk dilakukan gadis yang baru berusia sebelas tahun itu. Hal tersebut ia lakukan
ketika Sakarya sering melihat Srintil menari di bawah pohon nangka dan langsung kepikiran di
benak Sakarya untuk menyerahkan Srintil kepada dukun ronggeng atau yang mengasuh seorang
ronggeng untuk menjadikan Srintil seorang ronggeng. Hal yang tidak baik ini seharusnya tidak
dilakukan seorang kakek kepada cucunya. Akan tetapi Sakarya malah senang ketika melihat
kemampuan Srintil menari dan langsung dijadikannya seorang ronggeng. Hal tersebut dapat
dilihat pada cuplikan berikut:
Dari cuplikan di atas perlakuan kakek Srintil tersebut memang benar-benar sudah
kelewatan, akan tetapi itulah kenyataan yang akan dihadapi dan yang akan terjadi.
Ketika Srintil sudah menjadi seorang ronggeng di Dukuh Paruk tersebut dan ketika Srintil
sedang naik pentas atau menari di atas panggung seorang dukun ronggeng telah melakukan
hal-hal yang senonoh terhadap Srintil sampai-sampai Srintil terlihat begitu siksa dan sakit. Hal
tersebut malah kakek Srintil senang melihatnya karena Dia percaya bahwa arwah Ki
Secamenggala telah memasuki tubuh dukun ronggeng itu dan sedang bertayub dengan Srintil. Ki
Secamenggala adalah Bromocoro yang dipercaya oleh warga Dukuh Paruk. Hal itu dapat dilihat
pada cuplikan tersebut:
Hanya Sakarya yang cepat tanggap. kakek Srintil itu percaya penuh roh Ki Secamenggala telah memasuki tubuh Kartareja dan ingin bertayub. maka Sakarya cepat berseru.
“Pukul kembali gendang dan calung. Ki Secamenggala ingin bertayub. Srintil, ayo menari lagi. Layani Ki Secamenggala.”
Irama calung kembali menggema. Tetapi suasana jadi mencekam. Semua orang percaya akan kata Sakarya bahwa Kartareja sedang dirasuki arwah leluhur. Maka mereka mundur dalam suasana tegang.
Calung ditabuh dalam irama tayub. Kesyahduan upacara sacral itu hilang. Lagu-lagu pemancing berahi disuarakan. Sakum tidak pernah lupa akan tugasnya. Memoncongkan mulut lalu mengembuskan seruan cabul pada saat Srintil menggoyang pinggul. Cessss….cessssss. (Tohari, 2007:47)
Itulah pentas pertama yang dilakukan Srintil sebagai seorang ronggeng yang baru.
Perlakuan dukun ronggeng terhadap Srintil dipercaya telah diterima oleh arwah moyang mereka
yaitu, Ki Secamenggala. Hal tersebut dapat dilihat pada cuplikan berikut:
“ Benar, kang. Rohnya memasuki tubuh sampean dan tentu saja sampean tidak sadar. Hal itu berarti persembahan kita pagi ini diterima olehnya. Srintil direstui menjadi ronggeng.” (Tohari, 2007:49)
1.1.2.2 Dekonstruksi Penokohan Tokoh Sakarya
Kakek Srintil berperan sebagai seorang yang sudah tua dibandingkan beberapa orang
yang berperan di dalam novel. Ia dikatakan tidak baik karena rela menjadikan cucunya seorang
ronggeng yang usianya baru sebelas tahun yang bisa dibilang masih sangat dini. Tidak ada rasa
belas kasihan ketika melihat cucunya diperlakukan senonoh oleh para lelaki. Itu semua Sakarya
lakukan bukan untuk kepentingannya sendiri agar Srintil bisa membiayai kehidupannya yang
miskin dan melarat itu.
Ketika didekonstruksi semua itu Sakarya lakukan semata ingin bertanggung jawab atas
Dukuh Paruk yang sudah sejak lama tidak mempunyai seorang ronggeng. Sakarya percaya
bahwa arwah moyang mererka Ki Secamenggala akan senang bila Dukuh Paruk kini telah hadir
lagi seorang ronggeng. Dengan kelincahan Srintil menari, Sakarya langsung bertekad untuk
menjadikan Srintil seorang ronggeng walaupun usianya masih sangat muda. Bagi mereka
meronggeng bukanlah suatu hal yang buruk dan dosa karena Dukuh Paruk tidak mengenal yang
namanya dosa.
Dengan rasa tanggung jawabnya itu, Sakarya rela menjadikan cucunya sebagai seorang
ronggeng yang sudah menjadi tradisi maupun adat istiadat warga Dukuh Paruk. Betapa hebatnya
Sakarya dengan adanya Srintil cucunya ia bisa menghadirkan kembali seorang ronggeng di
Dukuh Paruk. Jika tidak ada ada sosok Sakarya, maka sosok Srintil pun tidak ada. Sebab, di
Dukuh Paruk hanya Srintil lah yang pintar dalam hal menari. Selain pintar menari, Srintil juga
cantik. Sebab, syarat utama menjadi seorang ronggeng yaitu harus pintar menari. Untuk itu,
bersyukurlah warga Dukuh Paruk dengan adanya Sakarya. Walau pun Srintil pandai menari
kalau tidak mengizinkan cucunya itu menjadi seorang ronggeng maka apa dayanya Dukuh
Paruk. Dengan rasa tanggung jawab yang dimiliki Sakarya maka Dukuh Paruk menjadi lebih
hidup dan Sakarya percaya bahwa Ki Secamenggala akan senang dengan hal tersebut.
1.1.2.3 Penokohan Tokoh Kartareja
Tokoh Kartareja dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk merupakan tokoh tambahan yang
hadir sebagai Dukun ronggeng yang akan mengasuh seorang ronggeng. Dia juga salah satu tetua
yang ada di Dukuh Paruk tersebut. Kartareja hampir sama dengan Sakarya kakek Srintil itu,
ketika Kartareja mendengar Sakarya akan menjadikan cucunya seorang ronggeng, Kartareja
sangat senang karna akhirnya Dukuh Paruk bisa mengadakan seorang ronggeng dan bunyi
calung akan terdengar lagi. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut:
Keesokan harinya Sakarya menemui Kartareja. Laki-laki yang hampir sebaya ini secara turun temurun menjadi dukun ronggeng di Dukuh Paruk. Pagi itu Kartareja mendapat kabar gembira. Dia pun sudah bertahun-tahun menunggu kedatangan seorang calon ronggeng untuk diasuhnya. Belasan tahun sudah perangkat calungnya tersimpan di para-para di atas dapur. Dengan adanya laporan Sakarya tentang Srintil, dukun ronggeng itu berharap bunyi calung akan kembali terdengar semarak di Dukuh Paruk.
“Kalau benar tuturmu, Kang, kita akan tetap betah tinggal di pedukuhan ini,” Kata Kartareja menanggapi laporan Sakarya.”
“Eh, Sampean lihat sendiri nanti,”jawab Sakarya. “Srintil akan langsung menari dengan kenesnya bila mendengar suara calungmu.”
Kartareja mengangguk-angguk. Bibirnya yang merah kehitaman oleh kapur sirih bergoyang ke kiri-kanan. Lalu disemprotkannya sisa tembakau yang tinggal dimulutnya.
“Ah, Kang Sakarya. Aku tak lagi diperlukan kalau begitu. Bukankah Srintil sudah menjadi ronggeng sejak lahir?” Kata Kartareja tawar. Dia sedikit tersinggung. Keahliannya mengasuh ronggeng merasa disepelekan.
“Eh, sampean salah tangkap. Maksudku, Srintil benar-benar telah mendapat indang. Masakan sampean tidak menangkap maksudku ini.”
“Oh, begitu.”
“Ya. Dan tentu sampean perlu memperhalus tarian Srintil. Cucuku tampaknya belum pintar melempar sampur. Nah, ada lagi yang penting; masalah “rangkap” tentu saja. Itu urusanmu, bukan?”