ARTIKEL PERANAN KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM PENYELESAIAN SENGKETA TANAH HARTA PUSAKO TINGGI DI NAGARI PIANGGU

Teks penuh

(1)

ARTIKEL

PERANAN KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM PENYELESAIAN SENGKETA TANAH HARTA PUSAKO TINGGI DI NAGARI PIANGGU

KECAMATAN IX KOTO SUNGAI LASI KABUPATEN SOLOK

Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Persyaratan Untuk Mencapai Gelar Sarjana Hukum

Oleh :

MURDA YOSI ADHA NPM: 1310012111180

Bagian Hukum Perdata

F A K U L T A S H U K U M

U N I V E R S I T A S B U N G H A T T A P A D A N G

(2)
(3)

PERANAN KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM PENYELESAIAN SENGKETA TANAH HARTA PUSAKO TINGGI DI

NAGARI PIANGGU KECAMATAN IX KOTO SUNGAI LASI KABUPATEN SOLOK

Murda YosiAdha1, Syafril1, Adri1

Ilmu Hukum Studies Program, Faculty of Law, University of Bung Hatta E-mail:

Yosiadha@gmail.com

ABSTRACT

Minangkabau region recognize high pusako treasure is treasure obtained from tembilang iron, gold and pusako tembilang accepted down temurun.Harta high pusako it can be land, land under customary law Minangkabau society is a treasure that has always maintained, spacious land owned by a people or by someone would greatly affect the authority of the person or people in public life. The problems presented are 1) how the role of NAC in the inheritance dispute resolution is high, 2) how the land dispute resolution processes in the village Pianggu katinggi momentum. The method used is the juridical sociology. From the results of the study authors to conclude that 1) The density of Adat Nagari (KAN) has a role in dispute settlement inheritance high, the role of NAC is contained in a search for property ownership pusako especially land located on indigenous Minangkabau, KAN able to take decisions objectively in accordance with the problems that occur and become a peacemaker both sides. 2) Settlement of land disputes in the density of the treasure pusako tingggi Adat Nagari (KAN) Nagari Pianggu equal to the settlement of disputes in the District Court.

Keywords: Role KAN, Settlement Dispute

PENDAHULUAN

Diskusi tentang tanah pusako merupakan hal yang selalu menarik bagi kalangan praktisi maupun akademisi, karena keberadaannya yang terkait dengan banyak kepentingan. Tanah pusako merupakan tanah yang dimiliki

secara bersama-sama oleh masyarakat hukum adat, maka di Minangkabau tidak dikenal sistem jual beli untuk harta pusaka (pusako). Harta seperti sawah, ladang, atau rumah merupakan milik bersama yang menurut hukum adat:

(4)

Dijua tak dimakan bali (dijual tidak dimakan beli), Digadai tak dimakan sando (digadai tidak dimakan sando)”

artinya meskipun tanah bisa dibeli tetapi tidak bisa dimiliki, apalagi digadaikan untuk jaminan. Sando (sandera) adalah sebagai jaminan pinjaman, yaitu menerima pinjaman dengan jalan menyerahkan jaminan sebagai sando, bila pinjaman dikembalikan jaminanpun dipulangkan kepada pemiliknya.

Dalam tataran hidup bernagari, segala permasalahan yang ada disuatu nagari harus diselesaikan secara bajanjang naiak dan batanggo turun”(berjenjang naik dan bertangga turun), artinya semua permasalahan harus diselesaikan mulai dari bawah yaitu mulai dari mamak terus kepada kepala kaum. Jika tidak selesai di kepala kaum di teruskan kepada penghulu suku. Apabila tidak selesai juga baru sampai kepada Kerapatan Adat Nagari (KAN).

Dari uraian masalah diatas, penulis akan membahas masalah tentang:

1. Bagaimana Peranan Kerapatan Adat Nagari (KAN) dalam penyelesaian sengketa tanah pusako tinggi di kenagarian Pianggu?

2. Bagaimana proses penyelesaian sengketa tanah pusako tinggi di nagari Pianggu?

Dari rumusan masalah diatas, maka dalam penulisan ini penulis mempunyai tujuan yaitu:

1. Untuk mengetahui Peranan

Kerapatan Adat Nagari (KAN) dalam penyelesaian sengketa tanah pusako tinggi di kenagarian Pianggu

2. untuk mengetahui proses penyelesaian sengketa tanah pusako tinggi di Nagari Pianggu

Metedologi

Untuk menjawab permasalahan diatas diperlukan suatu metode penelitian.

1. Jenis Pendekatan

Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan pendekatan

(5)

masalah secara yuridis sosiologis (sosio legal research), yaitu pendekatan masalah melalui penelitian hukum dengan melihat norma hukum yang berlaku dan menghubungkan dengan fakta yang ada dalam masyarakat sehubungan dengan permasalahan yang ditemui dalam penelitian.

2. Sumber data

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder.

Data primer merupakan data yang diperoleh di lapangan, dengan melakukan wawancara. Wawancara dilakukan dengan anggota KAN di Nagari Pianggu yaitu Bapak Hafsirwan Dt Pgl Dirajo dan Bapak Damiris Dt Pdk Kayo sebagai informan.

Data sekunder adalah data yang dikumpulkan oleh orang lain, bukan penelitian itu sendiri, data ini biasanya berasal dari penelitian yang dilakukan oleh lembaga-lembaga atau organisasi. data diperoleh melalui penelitian kepustakaan (library research) yang terdiri dari :

a. Bahan hukum primer

Bahan hukum primer yaitu bahan hukum perundang-undangan,dalam hal ini adalah peraturan yang mengatur tentang tanah pusako tinggi dan Kerapatan Adat Nagari (KAN) yaitu:

1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 2) Undang-Undang No 5 tahun

1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria

3) Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat No. 2 Tahun 2007 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Nagari

4) Peraturan Daerah Kabupaten Solok No. 4 Tahun 2001 tentang Pemerintahan Nagari.

b. Bahan hukum sekunder

Bahan hukum sekunder yaitu karya ilmiah yang memberikan penjelasan tentang bahan hukum primer seperti buku, dokumen atau kasus yang dikumpulkan oleh lembaga atau badan yang terkait serta bahan bahan yang diperoleh dari tulisan-tulisan yang erat kaitannya dengan masalah yang

(6)

diteliti seperti jurnal, koran, majalah dan internet.

3. Teknik pengumpulan data

Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara Wawancara. Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab antara pengumpul data maupun peneliti terhadap informan. Wawancara dilakukan dengan anggota KAN Nagari Pianggu yaitu Bapak Hafsirwan Dt Pgl Dirajo dan Bapak Damiris Dt Pdk Kayo sebagai informan.

4. Analisis data

Dalam penelitian ini metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis kualitatif.

Analisis data merupakan penilaian terhadap data yang telah didapat untuk memperoleh suatu kesimpulan dalam hal ini digunakan analisis kualitatif, artinya analisis yang tidak menggunakan angka-angka merupakan uraian kalimat yang sesuai dengan rumusan masalah

yang akhirnya menjadi suatu kesimpulan.

Hasil Dan Pembahasan

Berdasarkan hasil wawancara di Kerapatan Adat Nagari Pianggu, Peranan Kerapatan Adat Nagari (KAN) dalam Penyelesaian Sengketa Harta Pusako Tinggi di Kenagarian Pianggu

Dalam penyelesian sengketa tanah pusako tingggi di nagari Pianggu, Kerapatan Adat Nagari mempunyai peranan, penan KAN ini terdapat pada penelusuran terhadap kepemilikan harta pusako khususnya tanah yang terdapat pada adat minangkabau. KAN mampu mengambil keputusan dengan objektif sesuai dengan permasalahan yang terjadi, dengan demikian penerapannya adalah masyarakat minangkabau memiliki kepercayaan terhadap Kerapatan Adat nagari dalam menyelesaikan sengketa khususnya sengketa tanah harta pusako tinggi yang terjadi.secara garis besar peran KAN dalam penyelesaian sengketa tanah pusako

(7)

tinggi adalah untuk mendamaikan kedua belah pihak, dan jika penggugat tidak merasa puas dengan keputusan sidang KAN penggugat boleh meneruskan perkara tersebut ke pengadilan yang lebih tinggi.

Menurut keterangan Bapak Hafsirwan Pangulu Dirajo prosedur penyelesaian sengketa tanah pusako tinggi oleh Kerapan Adat Nagari (KAN) Pianggu tidak jauh berbeda dengan penyelesaian sengketa di pengadilan. Prosedur penyelesaian sengketa tanah pusako tinggi di Kerapan Adat Nagari (KAN) adalah:

1. Apabila terjadi perkara atau perselisihan diantara anak kemenakan atau sesama anggota suku, maka penyelesaian dilakukan dengan tata cara sebagai berikut, :

a. Perkara tanah pusako tinggi tersebut diselesaikan terlebih dahulu oleh ninik mamak yang bersangkutan kedua belah pihak, apabila tidak

terdapat penyelesaian maka baru

diteruskan

b. Dibawa kepada dunsanak sabarek

c. Apabila belum bisa terselesaikan juga , maka dibawa kepada dunsanak bandua badiguih atok bagisia, d. Jika masih belum dapat juga penyelesaian, maka dibawa ke Kerapatan Adat Nagari (KAN) untuk menyelesaikan lebih lanjut yang disidangkan di Kerapatan Adat Nagari (KAN) dengan syarat sebagai berikut :

1) Mendaftarkan perkara dengan surat permohonan yang ditandatangani oleh ninik mamak yang bersangkutan 2) pemohon atau yang

bersangkutan membuat surat permohonan yang diketahui oleh mamak kaum tersebut, yang memuat hal-hal:

a) Identitas pemohon (Nama pemohon dan termohon, tempat dan tanggal lahir pemohon, tempat tinggal pemohon, umur dan pekerjaan)

b) objek perkara

c) Ranji penggugat, Ranji adalah silsilah keturunan. Di minangkabau terutama nagari

(8)

Pianggu ranji merupakan hal sangat penting, salah satu dalam pemberian sako (gelar). Begitu juga halnya apabila terjadi persengketaan tanah pusako tinggi, KAN akan menanyakan ranji kelurga tersebut terlebih dahulu, karena dari ranji itu akan dapat dilihat status seseorang

3) Membawa hasil mufakat akhir yang tertulis dan ditandatangani

4) Membayar uang pendaftaran perkara

2. Keputusan Kerapatan Adat Nagari (KAN) ditetapkan dalam sidang khusus berdasarkan pada bahan pertimbangan

3. Setelah terdaftar di Kerapatan Adat Nagari (KAN), selanjutnya KAN akan memanggil mamak dari kedua belah pihak untuk mendapatkan keterangan tentang perkara sengketa tersebut secara bergantian

4. Kerapatan Adat NAgari (KAN) memanggil pihak permohon (pengggugat) untuk dimintai

keterangan tentang sengketa tanah pusako tersebut

5. Kerapatan Adat Nagari memanggil pihak termohon (tergugat) dan dimintai keterangan juga

6. setelah itu pihak KAN memanggil saksi-saksi yang diajukan oleh pihak penggugat dan tergugat 7. Setelah pemanggilan itu

dirundingkan oleh ninik mamak pengadilan adat

8. Masing-masing mamak kepala waris ditanya dalam sidang oleh anggota sidang untuk diketahui asal usul obyek sengketa, permasalahannya, dan keinginan yang diharapkan pihak penggugat. 9. Bukti-bukti diseleksi dan dikaji

oleh KAN

Kemudian penggugat dan tergugat di panggil kembali oleh KAN,setelah jelas dan nyata persoalan,

Kemudian Kerapatan Adat Nagari (KAN) memanggil kedua belah pihak pada hari yang sama, tetapi pada jam yang berbeda untuk mencegah keributan yang terjadi

(9)

apabila kedua belah pihak bertatap muka.

Diakhir pertemuannya Kerapatan Adat Nagari (KAN) memberi kebijakan tentang sengketa tanah pusako tersebut.

Penutup A. Simpulan

Dari hasil pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Peranan Kerapatan Adat Nagari (KAN) dalam Penyelesaian Sengketa Harta Pusako Tinggi di Kenagarian Pianggu

Dalam penyelesian sengketa tanah pusako tingggi di nagari Pianggu, Kerapatan Adat Nagari mempunyai peranan, penan KAN ini terdapat pada penelusuran terhadap kepemilikan harta pusako khususnya tanah yang terdapat pada adat minangkabau.KAN mampu mengambil keputusan dengan objektif sesuai dengan permasalahan yang terjadi, dengan demikian penerapannya adalah masyarakat minangkabau memiliki kepercayaan

terhadap Kerapatan Adat nagari dalam menyelesaikan sengketa khususnya sengketa tanah harta pusako tinggi yang terjadi.secara garis besar peran KAN dalam penyelesaian sengketa tanah pusako tinggi adalah untuk mendamaikan kedua belah pihak, dan jika penggugat tidak merasa puas dengan keputusan sidang KAN penggugat boleh meneruskan perkara tersebut ke pengadilan yang lebih tinggi. 2. Proses Penyelesaian Sengketa

Tanah Pusako (pusaka) Tinggi di Kanagarian Pianggu adalah: a. Mendaftarkan perkara dengan

surat permohonan yang ditandatangani oleh ninik mamak yang bersangkutan b. Setelah terdaftar di Kerapatan

Adat Nagari (KAN), selanjutnya KAN akan memanggil mamak dari kedua belah pihak untuk mendapatkan keterangan tentang perkara sengketa tersebut secara bergantian c. Kerapatan Adat NAgari

(10)

permohon (pengggugat) dan termohon (tergugat) untuk dimintai keterangan tentang sengketa tanah pusako tersebut d. setelah itu pihak KAN memanggil saksi-saksi yang diajukan oleh pihak penggugat, setelah itu melakukan perundingan

e. Setelah pemanggilan itu dirundingkan oleh ninik mamak pengadilan adat

f. Masing-masing mamak kepala waris ditanya dalam sidang oleh anggota sidang untuk diketahui asal usul obyek sengketa, permasalahannya, dan keinginan yang diharapkan pihak penggugat.

g. Kemudian penggugat dan tergugat di panggil kembali oleh KAN,setelah jelas dan nyata persoalan, Kemudian Kerapatan Adat Nagari (KAN) memanggil kedua belah pihak pada hari yang sama, tetapi pada jam yang berbeda untuk mencegah keributan yang

terjadi apabila kedua belah pihak bertatap muka.

h. Diakhir pertemuannya Kerapatan Adat Nagari (KAN) memberi kebijakan tentang sengketa tanah pusako tersebut.

B. Saran

Berdasarkan apa yang telah penulis teliti, penulis ingin memberikan saran dan masukan sebgai berikut:

1. Agar niniak mamak, dan pangulu dan mamak kepala waris dapat memberi tahu tentang batas-batas tanah milik kaumnya agar tidak terjadi persengketaan tanah pusako tinggi di kemudian harinya

2. Agar Lembaga Kerapatan Adat Nagari Pianggu dapat menyelesaikan perkara tanah pusako (pusaka) tinggi sesuai dengan perannya hingga tidak perlu sampai ke tingkat yang lebih tinggi atau tingkat pengadilan negeri.

DAFTAR PUSTAKA

(11)

Agus Santoso, 2014, Hukum, Moral, dan Keadilan , Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Amir, M.S. 2003.Adat Minangkabau :Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang.

Jakarta: PT. Mutiara Sumber Widya

Amir Syarifudin. 1984. Pelaksanaan

Hukum Kewarisan islam Dalam

Lingkungan adat Minangkabau. Jakarta:

Gunung Agung

Chaidir Anwar. 1997. Hukum Adat Indonesia :Meninjau Hukum Adat

Minangkabau. Jakarta: Rineka Cipta

Datoek Toeah. 1989. Tambo Adat

Minangkabau. Bukittinggi: Pustaka

Indonesia

Firdaus oemar Dt Marajo. 2004. Manajemen suku. Solok: LKAAM kabupaten Solok

H. Suarmandkk. 2000. Adat Minangkabau Nan Salingka Nagari, Jakarta, Duta Utama cv

Hakimi, D. Dt. Penghulu Pedoman Ninik Mamak Pemangku Adat. Penerbit Biro

Idrus Hakimi. 1978. Pegangan

Penghulu, Bundo Kandung dan Pidato

Dua Pasambahan Adat di

Minangkabau. Bandung: Remaja Karya

M. Nasroen. 1971. Dasar Falsafah Adat Minangkabau, bulan Bintang, Jakarta

Muchtar Naim (ed). 1968. Menggali Hukum Tanah dan Hukum Waris Minangkabau. Padang. Padang : Center For Minangkabau Studies, Padang

Narullah dt. Parpatiah Nan Tuo. 2000. Status Tanah Ulayat Di Minangkabau, LKAAM

Nasrun Dt. Marajo sungut dkk. 2010. Tambo Minangkabau :Budaya dan Hukum Adat di Minangkabau, Bukittinggi: Alam Minangkabau

Sudi Prayitno. 2002. kembali ke Nagari : Batuka Baruak Jo Cigak?. Jakarta: Siangrafika

B. peraturanUndang-undang

Undang-UndangDasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.

Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat No. 2 Tahun 2007 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Nagari

(12)

C. Sumber Lain

Defto Yuzastra, 2010, Tesis, Peranan Kerapatan Adat Nagari (Kan) Dalam Proses Penyelesaian Senngketa Tanah Ulayat Di Kecamatan Kuranji Kota Padang, Semarang: Universitas Diponegoro

Elva Susanti, 2014, Skripsi, Peranan Kerapatan Adat Nagari (KAN) Dalam Penyelesaian Sengketa Tanah Harta Pusako Tinggi di Kenagarian Talang Maur Payakumbuh. Padang: Universitas Taman Siswa

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...