• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEKERJAAN SOSIAL KLINIKAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEKERJAAN SOSIAL KLINIKAL"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PEKERJAAN SOSIAL KLINIKAL

(CLINICAL SOCIAL WORK) ADI FAHRUDIN, PhD TIU/TIK:

 Mahasiswa memiliki pemahaman mengenai konsep-konsep dasar dalam pekerjaan sosial klinis

 Mahasiswa memahami prasyarat sebagai pekerja sosial klinis yang memberi corak terhadap efektifitas intervensi yang dilakukan.

 Mahasiswa memahami keterampilan-keterampilan dasar dalam pekerjaan sosial klinis

 Mahasiswa memahami pendekatan-pendekatan teoritis yang memberi pengaruh terhadap model intervensi pekerjaan sosial klinis.

 Mahasiswa mampu mempraktekkan keterampilan-keterampilan dasar pekerjaan sosial klinis.

DEFINISI

Tiada definisi yang absolut mengenai pekerjaan sosial klinis. Hal ini karena pekerjaan sosial klinis pada dasarnya tidak dapat lepas dari praktek pekerjaan sosial secara umum. Bagaimanapun, pekerjaan sosial klinis sering didefinisikan sebagai praktek pekerjaan sosial dengan individu, keluarga dan kelompok kecil yang mempunyai masalah psikologis, masalah patologis dan masalah yang berasal dari dalam diri klien menggunakan pendekatan psikososial untuk mencapai keberfungsian sosial klien (Corwin, 2002; Strean, 1978).

(2)

Dengan tegas lagi, Maguire (2002) mengatakan Clinical social work practice is a system-based approach that integrates advanced systems methods with empirically validated techniques and an eclectic framework. Berdasarkan definisi ini maka dapat disimpulkan bahwa praktek pekerjaan sosial klinis dewasa ini:

1. Advanced 2. System based 3. Integrative 4. Empirical 5. Eclective

Berdasarkan definisi di atas terdapat beberapa unsur dasar pekerjaan sosial klinis yaitu:

1. Objek/Sasaran : Individu, keluarga dan kelompok kecil 2. Masalah : (a) Masalah sosial yang bersifat patologis

(b) Masalah sosial yang menyangkut psikososial yang menyimpang dari nilai dan norma (c) Masalah yang berasal dari dalam diri klien

3. Proses asesmen dengan orientasi psikososial difokuskan kepada disfungsi internal dan eksternal

4. Intervensi pekerjaan sosial klinis yaitu:

a. Menitik beratkan pada individu (direct intervention) b. Menciptakan kondisi yang positif/mendukung c. Proses pemecahan masalah/aspek-aspek psikososial d. Bantuan yang bersifat nyata

5. Pendekatan teori yang mendasari pemahaman faktor internal dan eksternal pada diri individu antara lain yaitu:

a. Psikoanalisa b. Ego psychology

(3)

c. Role therapy d. Brief treament e. Social system theory f. Organization theory g. Communication theory h. Learning theory

Praktek pekerjaan sosial klinis biasanya dilakukan oleh para pekerja sosial yang mempunyai pendidikan lanjutan khususnya peringkat master yang memiliki pengkhususan dalam pekerjaan sosial klinis.

KECENDERUNGAN PEKERJAAN SOSIAL KLINIS

Dewasa ini terdapat beberapa isu sentral dan kecenderungan yang dihadapi pekerja sosial klinis yaitu:

1. Pendekatan berbasis sistem-sistem (systems-based approaches) termasuk pendekatan generalis dan ekologis yang banyak digunakan, dengan menambahkan managemen kasus dan sistem dukungan informal seperti keluarga dan kelompok.

2. Teknik praktek terkini (advance-practice technique). Pekerja sosial dituntut menjadi praktisi yang memiliki keterampilan tinggi yang mengintegrasikan pengetahuan mengenai metode dan teknik secara eklektif untuk melengkapi praktek generalis yang mereka lakukan.

3. Penelitian (research) digunakan secara intensif dalam praktek. Isu penelitian lain melibatkan pertanyaan apakah pekerjaan sosial harus memasukan daftar problem statement atau definisi kategori diagnostik dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition, text revision (American Psychiatric Association, 2000) atau menggunakan metode pengkategorian pekerjaan sosial seperti model Person in Environment (PIE) model (Karls & Wandrei, 1994).

(4)

4. Brevity dalam intervensi adalah penting, dan konsen berkaitan dengan legitimasi kebutuhan untuk menghemat biaya namun tetap memberikan pelayanan yang berkualitas. Namun lebih setengah abad penelitian menegaskan bahwa pendekatan long-term tidak hanya kurang efisien tetapi juga kurang efektif daripada metode short-term (Bergin & Garfield, 1994).

5. Diversity termasuk sensitifitas terhadap perbedaan budaya, etnis, ras, seksual dan gender di antara klien merupakan konsen yang utama. Pekerja sosial klinis harus mempunyai pengetahuan dan sensitive terhadap pentingnya perbedaan dalam tingkah laku, sikap dan emosi kelompok klien yang berbeda. Pekerja sosial klinikal harus berpandangan jauh stereotaip dan pemahaman yang tepat mengenai keunikan klien untuk mencapai keberhasilan yang maksimal.

6. Ethics and values adalah faktor esensial dalam praktek pekerjaan sosial klinis, terutama dalam hubungannya dengan isu-isu keadilan sosial dan ekonomi bagi populasi pada kelompok beresiko. Pemahaman yang jelas mengenai kejelasan standar profesional dan norma etika amat diperlukan jika pekerja sosial berhadapan dengan situasi yang sulit.

7. Empowerment and the strengths perspective merupakan komponen utama

dari semua metode pertolongan. Pekerja sosial klinis mengakui bahwa keberhasilan mencapai tujuan hanya dapat dicapai jika klien menggunakan kapasitas diri dan melakukan perubahan untuk diri mereka sendiri.

8. Managed care telah memberi mandate cara baru dan berbeda dari sebuah

tindakan. Biaya, keuntungan, dan pelayanan diartikan sebagai segala aspek metode dan pelayanan praktek. Pekerja sosial klinis perlu bekerja dalam sebuah sistem.

(5)

PRAKTEK PEKERJAAN SOSIAL KLINIS

Dewasa ini orientasi praktek generalis dalam pekerjaan sosial klinis telah memberikan kerangka pemecahan masalah. Praktek pekerjaan sosial klinis berlandaskan biopsychosocial yang mengakui semua masalah yang perlu intervensi pekerjaan sosial disebabkan beberapa kombinasi faktor biological, psikologikal, sosial sebagai tingkah laku belajar.

Maguire (2002) menyatakan terdapat beberapa perspektif praktek pekerjaan sosial klinis yaitu:

1. System theory

2. Psychoanalytic and developmental 3. Learning theory

4. Cognitive theory 5. Biological theory Table 1

ADVANCED SOCIAL WORK PRACTICE PERSPECTIVES

Theory Applied Treatment Orientations Systems Theory Advanced generalist

Ecological

Case management Family interventions Group interventions

Psychoanalytic/Developmental Psychodynamic and psychosocial Learning Theory Behavioral interventions

(6)

Pada level praktek klinis, pekerja sosial memutuskan bagaimana mengatasi klien mereka, menerapkan pendekatan yang mereka yakini dapat lebih efektif. Terdapat beberapa pertimbangan dalam pemilihan perspektif intervensi yaitu:

1. Kesepadanan Klien dan Pekerja Sosial 2. Faktor yang mempengaruhi pemilihan 3. Panduan pemilihan intervensi

Kesepadanan Klien dan Pekerja Sosial a. Usia

b. Gender

c. Etnisitas dan ras d. Status sosio-ekonomi e. Personality

f. Sikap dan nilai

g. Relationship attitudes h. Social influence

i. Therapist expectation

Faktor yang mempengaruhi pemilihan intervensi 1. Pendidikan dan pelatihan

2. Nilai dan etika 3. Pengalaman

Panduan pemilihan intervensi

1. Pemilihan intervensi harus didukung penelitian empirical yang kuat 2. Efisiensi dari segi waktu, biaya dan usaha

3. Pemilihan intervensi dan teknik harus didasari teori yang jelas 4. Pemilihan intervensi harus berbasis etika

(7)

5. Pemilihan intervensi hanya oleh pekerja yang mempunyai latihan dan keterampilan

MULTIMODAL THERAPY

Yaitu sistem intervensi berdasarkan eklektif yang menggunakan beberapa modality pada klien yang sama tapi dapat dilakukan secara logic, konsisten (Lazarus, 1981).

Multimodal therapy mengakui pelbagai penyebab masalah kesehatan mental dan utamanya keperluan untuk memahami penyebab masalah yang berasal dari banyak faktor dan untuk digunakan dalam penanganan masalah. Multimodal therapy merujuk kepada 7 modaliti dan disingkat BASIC ID. Kepribadian kita merupakan fungsi dari behaviors, affective processes, sensations, images, cognitions, interpersonal relationships, dan drug/biological functions.

Tabel 2

MULTIMODAL THERAPY

Modality Problems Proposed Techniques

Behavior Compulsive checking

(stove, doors, etc)

Self-monitoring; response prevention

Affect Bottles up, blows up;

anxiety attacks

Assertiveness training, calming self-statements; slow abdominal breathing

Sensation Tension; premature

ejaculation (seldom exceeded two minutes of coital stimulation)

Relaxing training; threshold training

Imagery Pictures of ridicule as a

child and as an adolescent

(8)

Cognition Shoulds, internal self-demands, self-downing, perfectionism

Cognitive restructuring

Interpersonal Competetive most of the time; too involved with power and control

Friendship training; relationship building

Drugs Vallium---5 mg daily;

Darvon for headaches; Lomotil for colitis

Teach relaxation skills; attempt phasing out of medication

KETERAMPILAN DASAR DALAM PEKERJAAN SOSIAL KLINIS

Seorang pekerja sosial klinis memerlukan keterampilan klinis dasar yaitu: 1. Keterampilan interview

2. Keterampilan Assessment Psikososial 3. Keterampilan Membuat Rencana Intervensi

4. Keterampilan mengimplementasikan rencana intervensi 5. Keterampilan pengakhiran treatmen

INTERVIEW PERTOLONGAN

Interview adalah percakapan bertujuan, melibatkan komunikasi verbal dan non-verbal antara individu disertai pertukaran idea dan perasaan (Strean, 1978). Menurut Kadushin (1972) yang dipetik Strean (1978) dalam interview terjadi saling mempengaruhi satu sama lain. Dalam pekerjaan sosial klinis, pekerja sosial merupakan pengarah dari proses interview.

Interview pertolongan dalam pekerjaan sosial dirancang untuk melayani kepentingan/kebutuhan klien atau sistem klien. Banyak faktor yang menentukan apakah apakah interview pekerjaan sosial jelas dan bagaimanakah keberhasilan interview tersebut diantaranya sumber rujukan klien, masalah yang

(9)

dibawah klien ke dalam badan sosial, setting badan sosial, perasaan klien mengenai pertolongan yang diterimanya, latar belakang cultural klien, kemampuan verbal dan banyak variable lain lagi.

Dalam pada tahap awal interview perlu diperhatikan beberapa hal yaitu: 1. Ekspektasi peranan klien dan pekerja sosial

2. Posisi---dimana bermulanya klien

3. Permintaan yang berbeda sesuai kebutuhan 4. Seni mendengarkan

Pada fase kedua, perlu diperhatikan: 1. Kontrak

2. Fokus interview

3. Kebiasaan melambat-lambatkan 4. Berdiam diri (silence)

5. Klien menginterview pekerja sosial 6. Biaya----professional fee

7. Pencatatan dan pembuatan catatan ASSESSMENT PSIKOSOSIAL

Apakah yang dimaksud dengan assessment diagnostic ? Seorang pekerja sosial untuk membantu klien, maka dia harus memahami apakah masalah klien dan apakah yang menyumbang kepada masalahnya?

Asesment yang dilakukan pekerja sosial klinis dinamakan asesmen psikososial sebab pekerja sosial mengakui bahwa orang dan situasi mereka adalah hasil interaksi dinamik dan kedua-duanya menyumbang penyesuaian dan kegagalan penyesuaian.

(10)

Banyak penulis merujuk asesmen pekerja sosial sebagai SOCIAL STUDY.

Sipron (1975) misalnya melihat studi sosial sebagai identifikasi, pengujian, dan individualisasi pemahaman mengenai masalah psikososial klien atau “target human unit”. Pada sisi lain, Hamilton (1951), Hollis (1972) dan Pincus dan Minahan (1973) melihat studi sosial sebagai PRELIMINARY PROCESS, yang tidak lain maksudnya adalah melakukan asesmen.

Dalam asesmen psikososial, pekerja sosial melakukan beberapa kegiatan: 1. Pendefinisian masalah

2. Kepribadian klien---ego function, perception, coping, impulse control, etc

3. Situasi klien ---interaksi dengan keluarga, teman, rekan kerja, tetangga dan masyarakat merupakan aspek fundamental keberfungsian seseroang dan sebab itu maka perlu dilakukan asesmen.

Dalam pekerjaan sosial, situasi klien merujuk hubungan klien dengan “significant others”. Situasi klien diartikan peranan, status, identitas, dan tanggungjawab klien dalam konteks sosial.

PERENCANAAN INTERVENSI PEKERJAAN SOSIAL KLINIS

Perencanaan intervensi adalah suatu proses rasional yang melibatkan design untuk melakukan tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik di masa yang akan datang (Hamilton, 1951; Perlman & Gurin, 1972). Perencanaan intervensi merupakan perubahan dari pendefinisian masalah kepada solusi masalah, apa yang akan dilakukan, bagaimana, oleh siapa dan dalam sequence apa? Rencana intervensi biasanya mempunyai tujuan perubahan segera, menengah, dan jangka panjang. Rencana intervensi selalunya berdasarkan hasil asesment dan sifatnya sangat individualized.

(11)

Berdasarkan hal tersebut maka pekerja sosial dapat menetapkan rencana intervensi menggunakan satu modality atau multimodality antara lain:

1. Family therapy

2. Work with small groups

3. Crisis intervention and short-term treatment IMPLEMENTASI RENCANA INTERVENSI

Mary Richmond (1922) telah mendiskusikan 4 prosedur yang digunakan oleh pekerja sosial untuk membantu klien mengatasi masalah internal dan eksternal yaitu:

1. Memberikan klien dengan „insight into his individual personal characteristics’ 2. Memberikan klien dengan „insight into the resources, changes, and influences

of the social environment’

3. Direct action of mind upon mind ---to ‘influence and reorganized the client thinking

4. Indirect action—enlisting the client significant others to help him in his social functioning.

Sementara itu, Austin membuat tipologi implementasi rencana intervensi yaitu social treatment, ego-supportive therapy, experiential therapy, dan insight therapy.

PENGAKHIRAN PRAKTEK PEKERJAAN SOSIAL KLINIS

Pengakhiran (termination) dapat menyebabkan dua situasi yang berbeda baik pada klien maupun pekerja sosial. Dua situasi tersebut antara lain; kegembiraan atau ketidaknyaman. Terdapat beberapa alasan terminasi dilakukan yaitu:

1. Lamanya pelayanan – jika masa yang ditetapkan telah berakhir 2. Pencapaian tujuan klien

3. Pengakhiran dini---atas sebab-sebab tertentu maka pengakhiran dilakuan secara dini

(12)

Garland, Jones, dan Kolodny (1965) telah mencatat reaksi dari proses terminasi yaitu: 1. Denial 2. Regression 3. Expression of need 4. Flight

Dalam rangka pengakhiran, kegiatan evaluasi amat penting untuk dilakukan untuk menilai sejauhmana tujuan telah dicapai, selain sejauhmana pekerja sosial telah melaksanakan keseluruhan proses pelayanan yang dilakukan. Evaluasi perlu dilakukan sebagai bahan masukan untuk peningkatan kualitas pelayanan dan praktek pekerjaan sosial klinis secara keseluruhan.

(13)

BAHAN EVALUASI/ESSAY TEST

1. Jelaskan perbedaan antara praktek pekerjaan sosial secara generalis dengan pekerjaan sosial klinis ?

2. Jelaskan sasaran target praktek pekerjaan sosial klinis ?

3. Jelaskan masalah apakah yang menjadi fokus perhatian pekerjaan sosial klinis?

4. Jelaskan keterampilan dasar dalam pekerjaan sosial klinis? 5. Jelaskan mengapa interview klinis sangat penting ?

6. Jelaskan mengapa asesmen psikososial penting dalam menyusun rencana intervensi?

7. Jelaskan perubahan orientasi dalam asesmen psikososial? 8. Jelaskan apa yang dimaksud dengan rencana intervensi?

9. Jelaskan modality atau multimodality yang biasa digunakan dalam intervensi pekerjaan sosial klinis?

10.Jelaskan mengapa terminasi dapat menyebabkan dua situasi yang berbeda antara klien dan pekerja sosial

(14)

DAFTAR BACAAN

Brock, G. W., & Barnard, C. P. (1999). Procedures in marriage and family therapy (3rd ed.). Boston: Allyn and Bacon.

Corwin, M. D. (2002). Brief treatment in clinical social work practice. United States: Brooks, Thomson Learning.

Lowenberg, F. M. (1977). Fundamentals of social intervention: Core concepts and skills for social work practice. New York: Columbia University Press.

Maguire, L. (2002). Clinical social work: Beyond generalist practice with individuals, groups and families. United States: Brooks, Thomson Learning

Strean, H. S. (1978). Clinical social work: Theory and practice. New York: The Free Press.

Referensi

Dokumen terkait

Saat ini kebutuhan tenaga profesional di bidang Pekerjaan Sosial masih sangat besar mengingat estimasi jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) tahun 2013

Praktikum I adalah Praktik Pekerjaan Sosial Mikro dan Makro dengan fokus Pengenalan Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan Potensi Kesejahteraan Sosial (PSKS) serta

Untuk merespon masalah sosial, kebutuhan terkait pentingnya profesi pekerjaan sosial, dan tantangan bagi perkembangan pekerja sosial di Indonesia maka hal yang

misalnya belajar memahami masalah keluarga, masalah penyelesaian konflik antar etnis atau antar kelompok, dan.. masalah-masalah lain yang

sosial dapat dirujukkan kepada usaha-usaha dari individu-individu, kelompok-kelompok, keluarga, warga satu desa, swasta dan institusi- institusi pemerintahan untuk mengatasi berbagai

Makalah ini mendiskusikan beberapa karakteristik utama teori feminis liberal, radikal, dan sosialis; serta implikasinya terhadap enam bidang praktek pekerjaan sosial: terapi

Tidak hanya tentang contoh dua pekerja sosial di atas ketika mendefinisikan kebutuhan 'dari individu tertentu, keluarga atau masyarakat dengan cara yang berbeda, tetapi

Siswa sering menghadapi masalah interaksi sosial, yang melibatkan hubungan timbal balik antara individu atau