4.1.1 Deskripsi Kondisi Awal
Pada pembelajaran pra siklus di kelas 3 SD N Bandung 02, guru memulai pembelajaran dengan berdoa, absensi. Hal yang dilakukan oleh guru selanjutnya adalah melakukan apersepsi. Guru memberi pertanyaan kepada siswa tentang materi yang lalu.
Pada kegiatan inti, guru memulai aktivitas dengan pemaparan materi. Dalam menyampaikan materi, guru melaksanakannya secara konvensional. Dalam hal ini guru hanya berceramah dan siswa mendengarkan penjelasan guru, kemudian mencatat.
Pembelajaran pra siklus ini diakhiri dengan penarikan kesimpulan dan evaluasi. Dalam evaluasi siswa diberi lembar tugas dan mengerjakannya secara individu.
Dari hasil observasi, ditemukan beberapa kekurangan. Kekurangan pada pembelajaran ini dapat dilihat pada kurangnya interaksi antara guru dan siswa karena pembelajaran didominasi oleh guru. Disamping itu juga kurangnya guru dalam memanfaatkan alat peraga. Dengan pembelajaran yang kurang menarik bagi siswa, maka saat mengadakan evaluasi hasil yang diperolehpun tidak maksimal.
Berdasarkan observasi yang dilakukan pada pembelajaran prasiklus ini, hasil belajar yang diperoleh siswa kelas 3 SD N Bandung 02 adalah 5 anak yang tuntas (28% )dan 13 ( 72% ) anak tidak tuntas. Adapun rata – rata yang diperoleh adalah 59,44. Hasil evaluasi tersebut dapat dijelaskan pada tabel berikut ini :
Tabel 5
Distribusi Skor Tes Berdasarkan Ketuntasan pada Kondisi Pra Siklus Nilai Frekuensi Persentase (%) Jumlah (N*F) Ketuntasan
50 7 39 350 Tidak Tuntas 60 6 33 360 Tidak Tuntas 70 4 22 280 Tuntas 8 1 6 80 Tuntas 90 Jumlah 18 100 1070 Rata – rata 59,44
Dari tabel di atas dapat terlihat bahwa penyebaran nilai yang terjadi kurang proporsional. Hal itu disebabkan karena masih banyaknya siswa yang mendapat nilai di bawah KKM. Jumlah siswa yang mendapat nilai 50 ada 7 anak atau sekitar 39 %, nilai 60 ada 3 anak atau sekitar 33 %, siswa yang mendapat nilai 70 ada 4 anak atau sekitar 22 %. Adapun nilai tertinggi, yaitu 80 hanya 1 anak atau sekitar 6 %. Dari data di atas dapat dibuat diagram sebagai berikut :
Gambar 3 Diagram Nilai Prasiklus
Dari data di atas dapat diketahui bahwa siswa yang tuntas sebanyak 5 anak sebesar 28 %. Sedangkan siswa yang tidak tuntas sebanyak 74 % atau 13 anak. Uraian di
0 1 2 3 4 5 6 7 8 50 60 70 80
atas dapat dibuat tabel distribusi ketuntasan hasil belajar siswa pada tahap pra siklus sebagai berikut :
Tabel 6
Distribusi Persentase Ketuntasan Belajar pada Kondisi Pra Siklus
No Kategori Jumlah Siswa Persentase (%)
1 Tuntas dengan nilai > 65 5 28
2 Tidak Tuntas dengan nilai < 65 13 72
Dari tabel distribusi di atas menunjukkan masih banyaknya siswa yang belum dapat mencapai KKM. Hal ini menunjukkan adanya kegagalan dalam pelaksanaan pembelajaran. Untuk lebih jelasnya tabel distribusi di atas dapat dibuat diagram sebagai berikut :
Gambar 4 Perbandingan Ketuntasan Belajar IPA pada kondisi Pra Siklus
Proses pembelajaran yang terjadi pada kondisi pra siklus dianggap gagal, maka dari itulah diadakan penelitian tindakan kelas untuk mengatasi masalah tersebut. Adapun penelitian ini dilakukan dengan menggunakan model Examples non Examples dalam melakukan pembelajarannya. Dimana dalam pembelajaran model ini, siswa diberi beberapa contoh dan bukan contoh yang diambil dari gambar – gambar yang sesuai dengan materi atau kompetensi dasar.
28%
72%
Diagram Perbandingan Ketuntasan Belajar IPA
pada Kondisi Pra siklus
4.1.2 Pelaksanaan Siklus I
Pelaksanaan tindakan pada siklus 1 terdiri dari tiga tahap yaitu : perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan pengamatan serta refleksi. Pada pelaksanaan pembelajaran siklus 1 dirancang menjadi 3 pertemuan, dimana 2 pertemuan untuk pembahasan materi, sedangkan pertemuan ketiga untuk evaluasi.
a. Perencanaan Tindakan
Dalam perencanaan tindakan peneliti mempersiapkan beberapa hal yang akan digunakan unuk proses pembelajaran. Adapun yang dipersiapkan meliputi : RPP untuk 3 kali pertemuan, lembar kerja siswa, instrumen tes, lembar observasi guru, lembar observasi aktivitas siswa,serta alat peraga yang berupa gambar-gambar yang mendukung pembelajaran dengan model examples non examples.
Adapun langkah – langkah yang dilakukan oleh peneliti pada siklus 1 adalah penyusunan RPP dengan menentukan standar kompetensi, kompetensi dasar serta tujuan pembelajaran. Setelah itu peneliti mulai merancang skenario pembelajaran, mempersiapkan alat peraga, lembar kerja siswa,serta soal evaluasi. Disamping itu peneliti juga menyiapkan lembar observasi baik bagi guru maupun siswa.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan kegiatan pembelajaran untuk siklus 1 dilakukan pada tanggal 19 Agustus 2013 di SD N Bandung 02 Pecalungan pada siswa kelas 3 dengan jumlah siswa 18 anak. Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai guru, sedangkan observernya adalah Amrina Rosyada selaku wali kelas I.
Proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah disiapkan. Pelaksanaan observasi bersamaan dengan saat proses pembelajaran berlangsung. Pembelajaran siklus 1 berlangsung untuk 3 kali pertemuan, 2 kali untuk penyampaian materi dan pertemuan ketiga untuk evaluasi.
Pada pertemuan pertama kegiatan pendahuluan guru mengawalinya dengan menata tempat duduk siswa, mengabsen, memberi apersepsi dan motivasi, menyampaikan tujuan, membagi kelompok serta mengulang pelajaran yang lalu.
Kegiatan inti yang dilakukan oleh guru pada pertemuan pertama adalah guru mempersiapkan gambar-gambar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Karena pada pembelajaran kali ini akan membahas tentang penggolongan hewan, maka gambar yang
disiapkan adalah gambar-gambar hewan. Gambar-gambar tersebut, kemudian ditempelkan di papan. Selanjutnya guru memberikan petunjuk terlebih dahulu sebelum siswa menganalisanya. Dalam menganalisis gambar siswa mengerjakannya secara berkelompok dan mencatat hasilnya di kertas. Setelah semua kelompok menyelesaikan menganalisis gambar, barulah guru memberi kesempatan kepada perwakilan kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Guru baru menyampaikan materi setelah semua kelompok membacakan hasil diskusinya.
Pada pertemuan pertama, kegiatan penutup yang dilakukan adalah guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan materi, guru melakukan refleksi dan memberikan tugas PR.
Pada pertemuan kedua, langkah-langkah yang dilakukan pada kegiatan awal sama seperti yang dilakukan pada pertemuan pertama. Adapun kegiatan inti yang dilakukan pada pertemuan ini adalah guru membagikan gambar kepada tiap kelompok, guru memberi petunjuk, siswa mengamati gambar, guru memberikan lembar kerja. Siswa mengerjakan tugas dari guru dengan berdiskusi, setelah selesai, guru memberi kesempatan kepada tiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Setelah presentasi, guru baru memberikan materi.
Adapun kegiatan penutupnya juga tidak berbeda dengan kegiatan penutup saat pertemuan pertama. Kegiatan penutup yang dilakukan adalah guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan materi, guru melakukan refleksi dan memberikan tugas PR.
Sedangkan pada pertemuan ketiga langkah-langkah kegiatan awalnya sama dengan pertemuan pertama dan kedua. Adapun kegiatan inti yang dilakukan adalah mengulas kembali materi tentang penggolongan hewan, untuk mempersiapkan siswa dalam mengerjakan evaluasi. Sedangkan pada pertemuan ketiga kegiatan penutup diisi dengan evaluasi.
c. Hasil Observasi
Penilaian dilakukan oleh observer pada proses pembelajaran berlangsung dengan cara melakukan pengamatan menggunakan lembar observasi kinerja guru dalam menerapkan pembelajaran model examples non examples memperoleh penilaian tampak pada tabel berikut ini :
Tabel 7
Hasil Penelitian Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Model Examples Non Examples
Pertemuan Pertama
No Kegiata Guru Kemunculan Skor
1 Pendahuluan Ada Tidak Ada
a. Menyiapkan kondisi kelas dan alat
pembelajaran 2
b. Melaksanakan Absensi 3
c. Memberikan Apersepsi dan motivasi 2 d. Menginformasikan tujuan pembelajaran 3 e. Mengarahkan perhatian siswa pada
pelajaran 2
2 Kegiatan Belajar Mengajar
a. Membagi kelompok 3
b. Menempelkan gambar dan memberi
petunjuk 2
c. Mengamati siswa saat berdiskusi 2 d. Menanggapi presentasi kelompok 3
e. Memberi bimbingan 2
f. Memberi kesimpulan 2
g. Memberi kesempatan siswa untuk
bertanya 2
h. Memberi kesempatan untuk mencatat 3 3 Evaluasi
a. Membagi soal tes formatif 3
b. Menilai 3
c. Menganalisis 2
d. Melakukan tindak lanjut 2
e. Memberi PR 3
Jumlah 44
Persentase Nilai 61
Kategori Baik
Pada pertemuan kedua siklus 1 kinerja guru sudah meningkat bila dibandingkan dengan pertemuan pertama. Hal ini bisa dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 8
Hasil Penelitian Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Model Examples Non Examples
Pertemuan Kedua
No Kegiata Guru Kemunculan Skor
1 Pendahuluan Ada Tidak Ada
a. Menyiapkan kondisi kelas dan alat
pembelajaran 3
b. Melaksanakan Absensi 3
c. Memberikan Apersepsi dan motivasi 3 d. Menginformasikan tujuan pembelajaran 3 e. Mengarahkan perhatian siswa pada
pelajaran 2
2 Kegiatan Belajar Mengajar
a. Membagi kelompok 3
b. Menempelkan gambar dan memberi
petunjuk 2
c. Mengamati siswa saat berdiskusi 3 d. Menanggapi presentasi kelompok 3
e. Memberi bimbingan 2
f. Memberi kesimpulan 3
g. Memberi kesempatan siswa untuk
bertanya 2
h. Memberi kesempatan untuk mencatat 3 3 Evaluasi
a. Membagi soal tes formatif 3
b. Menilai 3
c. Menganalisis 2
d. Melakukan tindak lanjut 2
e. Memberi PR 3
Jumlah 48
Persentase Nilai 67
Kategori Baik
Tabel 9 Lembar Observasi
Kegiatan Belajar Siswa dalam Model Pembelajaran Examples Non Examples Pertemuan Pertama
No Aktivitas siswa Ada Kemunculan Tidak ada Skor
1 Menyiapkan alat tulis 4
2 Antusias mengikuti pelajaran 2
3 Perhatian pada penjelasan guru 2
4 Aktivitas dalam mencatat 2
5 Keberanian bertanya 2
6 Keberanian menjawab 2
7 Respon pada tugas 3
8 Keaktifan dalam diskusi 2
9 Kerjasama dalam diskusi 2
10 Perhatian siswa ketika kelompok lain menyampaikan hasil didkusi
2
11 Perhatia siswa saat kelompok lain mengemukakan pendapat
2
12 Aktivitas mengerjakan soal 3
Jumlah 28
Persentase 58
Tabel 10 Lembar Penilaian
Kegiatan Belajar Siswa Dalam Model Pembelajaran Examples Non Examples Pertemuan Kedua
No Aktivitas siswa Ada Kemunculan Tidak ada Skor
1 Menyiapkan alat tulis 4
2 Antusias mengikuti pelajaran 3
3 Perhatian pada penjelasan guru 2
4 Aktivitas dalam mencatat 3
5 Keberanian bertanya 2
6 Keberanian menjawab 2
7 Respon pada tugas 3
8 Keaktifan dalam diskusi 2
9 Kerjasama dalam diskusi 2
10 Perhatian siswa ketika kelompok
lain menyampaikan hasil didkusi 3
11 Perhatia siswa saat kelompok lain
mengemukakan pendapat 2
12 Aktivitas mengerjakan soal 3
Jumlah 31
Persentase 65
Kategori Baik
d. Hasil Refleksi
Pada tahap ini akan mengkaji proses pembelajaran yang dilakukan pada siklus 1. Tahap ini melibatkan bantuan dari teman sejawat dengan tujuan agar mendapatkan kritik dan saran dari mereka. Menurut hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer, langkah – langkah yang dilakukan guru pada proses pembelajaran siklus 1 sudah sesuai dengan urutan sintaks model pembelajaran examples non examples. Pada pertemuan pertama siklus 1 kinerja guru mendapat nilai dengan persentase 61 % dan 67 % pada pertemuan kedua. Begitu pula dengan aktivitas semula. Dari 58 % menjadi 65 %. Memang sudah mengalami peningkatan, tetapi belum maksimal karena masih ditemukan beberapa hambatan, seperti masih adanya murid yang berbicara sendiri saat guru menerangkan, contoh gambar kurang banyak, masih ada anak yang malu dalam mempresentasikan hasil diskusinya, guru belum maksimal dalam membimbing siswa saat diskusi. Saran dari
observer agar guru lebih meningkatkan kinerjanya dan perbaikan itu akan dilakukan pada siklus 2.
4.1.3 Pelaksanaan Siklus 2 a. Perencanaan Tindakan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan beberapa hal seperti pada siklus 1. Dan yang lebih utama adalah yang digunakan untuk mengatasi kekurangan pada pelaksanaan siklus 1. Rencana pelaksanaan pembelajaran pada siklus 2 dibuat berdasarkan hasil refleksi pada siklus 1. Hal itu dilakukan dengan tujuan agar pelaksanaan pembelajaran lebih maksimal dan hasil belajarpun menjadi meningkat.
Guru juga mempersiapkan gambar-gambar contoh yang lebih banyak dan jelas. Selain itu peneliti juga menyiapkan lembar observasi guru dan siswa serta soal evaluasi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Disamping menyiapkan beberapa hal seperti di atas, yang tak kalah pentingnya adalah meningkatkan kinerja dan ketrampilan guru untuk menarik siswa agar mau mengikuti pembelajaran dengan tertib. Dalam hal ini adalah upaya pencegahan agar siswa tidak bercerita sendiri. Guru juga harus lebih maksimal dalam membimbing siswa saat berdiskusi. Motivasi guru juga diperlukan agar siswa berani dalam berpendapat saat berdiskusi.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan kegiatan pembelajaran siklus 2 dilaksanakan pada tanggal 26 Agustus 2013. Proses pembelajaran mengacu pada rencana pembelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus 1. Hal itu dilakukan agar kesalahan pada siklus 1 tidak terulang pada siklus 2. Observasi dilakukan bersamaan dengan proses pembelajaran.
Pada pertemuan pertama, guru memulai dengan menyiapkan kondisi siswa dan alat pembelajaran, kemudian guru memberi motivasi dan apersepsi. Langkah selanjutnya adalah guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
Kegiatan inti yang dilakukan guru pada pertemuan pertama adalah guru membagikan gambar beberapa jenis tanaman kepada siswa, guru memberi petunjuk, siswa mengamati gambar,siswa maju untuk mengidentifikasi gambar. Kemudian guru memberikan lembar kerja dan siswa mengerjakan secara berkelompok dengan berdiskusi. Setelah itu, siswa
mempresentasikan hasil diskusinya. Setelah mendengarkan hasil presentasi guru baru menjelaskan materi.
Kegiatan penutup pada pertemuan pertama diawali dengan penarikan kesimpulan kemudian siswa diberi pekerjaan rumah oleh guru.
Adapun pertemuan kedua, kegiatan awal yang dilakukan sama seperti pada pertemuan pertama. Adapun kegiatan inti pada pertemuan kedua ini adalah guru membagikan gambar kepada siswa, guru memberi petunjuk, siswa mengamati gambar tersebut. Guru menunjuk siswa secara berpasangan untuk mengelompokkan gambar tersebut berdasarkan penggolongannya. Langkah berikutnya adalah guru memberikan lembar kerja siswa dan siswa diminta untuk mengerjakan dengan berdiskusi bersama kelompoknya. Setelah selesai, tiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Barulah guru memberikan materi. Pertemuan kedua juga diakhiri dengan penarikan kesimpulan dan pemberian tugas PR.
Pertemuan ketiga pada siklus 2 kegiatan awal yang dilakukan sama dengan kegiatan awal pada pertemuan pertama dan kedua. Pengulangan materi yang lalu dilakukan dengan cara tanya jawab antara guru dan siswa. Hal ini dilakukan saat kegiatan inti. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menyiapkan siswa dalam menghadapi evaluasi siklus 2. Kegiatan penutup pada pertemuan ketiga siklus 2 ini adalah evaluasi.
c. Hasil Observasi
Penilaian dilakukan oleh observer pada proses pembelajaran berlangsung dengan cara melakukan pengamatan menggunakan lembar observasi kinerja guru dalam menerapkan pembelajaran model examples non examples memperoleh penilaian tampak pada tabel di bawah ini:
Tabel 11
Hasil Penelitian Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Model Examples Non Examples
Pertemuan Pertama
No Kegiata Guru Kemunculan Skor
1 Pendahuluan Ada Tidak Ada
a. Menyiapkan kondisi kelas dan alat
pembelajaran 4
b. Melaksanakan Absensi 4
c. Memberikan Apersepsi dan motivasi 3 d. Menginformasikan tujuan pembelajaran 4 e. Mengarahkan perhatian siswa pada
pelajaran 3
2 Kegiatan Belajar Mengajar
a. Membagi kelompok 4
b. Menempelkan gambar dan memberi
petunjuk 4
c. Mengamati siswa saat berdiskusi 3 d. Menanggapi presentasi kelompok 3
e. Memberi bimbingan 3
f. Memberi kesimpulan 3
g. Memberi kesempatan siswa untuk
bertanya 3
h. Memberi kesempatan untuk mencatat 3 3 Evaluasi
a. Membagi soal tes formatif 4
b. Menilai 3
c. Menganalisis 3
d. Melakukan tindak lanjut 3
e. Memberi PR 3
Jumlah 60
Persentase Nilai 83
Kategori Sangat Baik
Pada pertemuan kedua siklus 2 kinerja guru sudah meningkat bila dibandingkan dengan pertemuan pertama. Hal ini bisa dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 12
Hasil Penelitian Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Model Examples Non Examples
Pertemuan Kedua
No Kegiata Guru Kemunculan Skor
1 Pendahuluan Ada Tidak Ada
a. Menyiapkan kondisi kelas dan alat pembelajaran
4
b. Melaksanakan Absensi 4
c. Memberikan Apersepsi dan motivasi 4 d. Menginformasikan tujuan pembelajaran 4 e. Mengarahkan perhatian siswa pada
pelajaran 4
2 Kegiatan Belajar Mengajar
a. Membagi kelompok 4
b. Menempelkan gambar dan memberi
petunjuk 4
c. Mengamati siswa saat berdiskusi 4 d. Menanggapi presentasi kelompok 4
e. Memberi bimbingan 3
f. Memberi kesimpulan 3
g. Memberi kesempatan siswa untuk
bertanya 4
h. Memberi kesempatan untuk mencatat 4 3 Evaluasi
a. Membagi soal tes formatif 4
b. Menilai 4
c. Menganalisis 3
d. Melakukan tindak lanjut 3
e. Memberi PR 4
Jumlah 71
Persentase Nilai 94
Kategori Sangat Baik
Adapun hasil observasi yang berkaitan dengan aktivitas siswa, dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 13 Lembar Penilaian
Kegiatan Belajar Siswa Dalam Model Pembelajaran Examples Non Examples Pertemuan Pertama
No Aktivitas siswa Ada Kemunculan Tidak ada Skor
1 Menyiapkan alat tulis 4
2 Antusias mengikuti pelajaran 3
3 Perhatian pada penjelasan guru 3
4 Aktivitas dalam mencatat 3
5 Keberanian bertanya 4
6 Keberanian menjawab 3
7 Respon pada tugas 3
8 Keaktifan dalam diskusi 3
9 Kerjasama dalam diskusi 3
10 Perhatian siswa ketika kelompok
lain menyampaikan hasil didkusi 3
11 Perhatia siswa saat kelompok lain
mengemukakan pendapat 3
12 Aktivitas mengerjakan soal 3
Jumlah 38
Persentase 79
Tabel 14 Lembar Penilaian
Kegiatan Belajar Siswa Dalam Model Pembelajaran Examples Non Examples Pertemuan Kedua
No Aktivitas siswa Ada Kemunculan Tidak ada Skor
1 Menyiapkan alat tulis 4
2 Antusias mengikuti pelajaran 4
3 Perhatian pada penjelasan guru 4
4 Aktivitas dalam mencatat 4
5 Keberanian bertanya 4
6 Keberanian menjawab 3
7 Respon pada tugas 4
8 Keaktifan dalam diskusi 3
9 Kerjasama dalam diskusi 4
10 Perhatian siswa ketika kelompok
lain menyampaikan hasil didkusi 4
11 Perhatia siswa saat kelompok lain
mengemukakan pendapat 3
12 Aktivitas mengerjakan soal 3
Jumlah 44
Persentase 92
Kategori Sangat Baik
d. Hasil Refleksi
Pada tahap ini akan mengkaji proses pembelajaran yang dilakukan pada siklus 2. Tahap ini melibatkan bantuan dari teman sejawat dengan tujuan agar mendapatkan kritik dan saran dari mereka. Menurut hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer, langkah – langkah yang dilakukan guru pada proses pembelajaran siklus 2 sudah sesuai dengan urutan sintaks model pembelajaran examples non examples. Pada pertemuan pertama siklus 2 kinerja guru mendapat nilai dengan persentase 83 % dan 94 % pada pertemuan kedua. Selain itu, keaktifan siswa juga meningkat, dari 79 % menjadi 92 %. Kekurangan pada siklus 1 sudah mengalami perbaikan dan hasil belajar pada siklus 2 juga mengalami ketuntasan.
4.2. Hasil Penelitian
4.2.1 Deskripsi Hasil Penelitian
Pengamatan yang dilakukan oleh observer pada pembelajaran dengan model
Examples Non Examples di SD N Bandung 02 Pecalungan menghasilkan beberapa data. Data tersebut berupa nilai IPA siswa kelas pada siklus 1 dan 2. Adapun data tersebut yaitu :
a. Hasil Belajar IPA siswa Kelas 3 SD N Bandung 02 Pecalungan pada Siklus 1 Tabel 15
Distribusi Skor Tes Berdasarkan Ketuntasan pada Kondisi Siklus 1 Nilai Frekuensi Persentase (%) Jumlah (N*F) Ketuntasan
50 2 11 100 Tidak Tuntas 60 3 17 180 Tidak Tuntas 70 11 61 770 Tuntas 80 2 11 160 Tuntas 90 Jumlah 18 100 1210 Rata – rata 67,22
Dari tabel di atas dapat terlihat bahwa ada peningkatan rata-rata skor yang semula rata-rata 59,44 meningkat menjadi 67,22. Jumlah siswa yang tuntas mencapai 13 dengan rincian 11 anak mendapat nilai 70 dan 2 anak nilainya 80. Sedangkan persentase siswa yang tidak tuntas mengalami penurunan yang semula 13 anak atau sekitar 74 % kini menjadi 5 anak dengan persentase 28 %. Dari kategori anak yang tidak tuntas 2 anak mendapat nilai 50 dan 3 anak nilainya 60. Untuk lebih jelasnya perolehan nilai pada tabel di atas dapat dilihat pada diagram berikut ini :
Gambar 5 Perolehan Nilai Siswa pada Siklus 1
Dari data di atas dapat diketahui bahwa siswa yang tuntas mengalami peningkatan. Pada pembelajaran pra siklus siswa yang tuntas sebanyak 5 anak sebesar 28 %, kini menjadi 13 anak atau sekitar 72 %. Dari uraian di atas dapat dibuat tabel distribusi ketuntasan hasil belajar siswa pada tahap pra siklus sebagai berikut :
Tabel 16
Distribusi Persentase Ketuntasan Belajar pada Kondisi Siklus 1
No Kategori Jumlah Siswa Persentase (%)
1 Tuntas dengan nilai > 65 13 72
2 Tidak Tuntas dengan nilai < 65 5 28 Dari tabel distribusi di atas dapat dibuat diagram sebagai berikut :
Gambar 6 Perbandingan Ketuntasan Belajar IPA pasa Siklus 1 0 2 4 6 8 10 12 50 60 70 80 90
Perolehan Nilai Siswa pada Siklus 1
72% 28%
Perbandingan Persentase Ketuntasan Belajar
IPA pada Kondisi Siklus 1
b. Hasil Belajar Siswa kelas 3 SD N Bandung 02 pada Siklus 2
Berdasarkan hasil tes evaluasi yang telah dilaksanakan oleh guru pada akhir pembelajaran di siklus 2 nampak terjadi peningkatan persentase ketuntasan siswa. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel distribusi di bawah ini :
Tabel 17
Distribusi Skor Tes Berdasarkan Ketuntasan pada Kondisi Siklus 2
Nilai Frekuensi Persentase (%) Jumlah (N*F) Ketuntasan
70 11 61 770 Tuntas
80 5 28 400 Tuntas
90 2 11 180
Jumlah 18 100 1350
Rata – rata 75,00
Dari tabel di atas dapat terlihat bahwa ada peningkatan rata-rata skor yang semula rata-rata 67,22 meningkat menjadi 75,00. Jumlah siswa yang tuntas mencapai 18 dengan rincian 11 anak mendapat nilai 70, 5 anak nilainya 80 dan 2 anak mendapat nilai 90. Pada siklus ini ketuntasan siswa mencapai 100 %.Untuk lebih jelasnya perolehan nilai pada tabel di atas dapat dilihat pada diagram berikut ini :
Gambar 7 Perolehan Nilai Siswa pada Siklus 2 0
5 10 15
70 80 90
Perolehan Nilai Siswa pada
siklus 2
Dari data di atas dapat diketahui bahwa siswa yang tuntas mengalami peningkatan. Pada pembelajaran siklus 1 siswa yang tuntas sebanyak 13 anak sebesar 72 %, kini menjadi 18 anak atau sekitar 100 %. Dari uraian di atas dapat dibuat tabel distribusi ketuntasan hasil belajar siswa pada tahap siklus 2 sebagai berikut :
Tabel 18
Distribusi Persentase Ketuntasan Belajar pada Kondisi Siklus 2
No Kategori Jumlah Siswa Persentase (%)
1 Tuntas dengan nilai > 65 18 100
2 Tidak Tuntas dengan nilai < 65 0 0 Dari tabel distribusi di atas dapat dibuat diagram sebagai berikut :
Gambar 8 Perbandingan Ketuntasan Belajar IPA pasa Siklus 2 100%
0%
Perbandingan Ketuntasan Belajar IPA
pada Siklus 2
4.2.2 Analisis Data a. Analisis Ketuntasan
Tabel 19
Ketuntasan Hasil Belajar dan Nilai Rata-rata Siswa Kelas 3 SD N Bandung 02 pada Siklus 1 dan 2
No Ketuntasan Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2
f % F % F % 1 Tuntas 5 28 13 72 18 100 2 Tidak Tuntas 13 72 5 28 0 0 Jumlah 18 100 18 100 18 100 Nilai terendah 50 50 70 Nilai Tertinggi 80 80 90 Rata-rata 59,44 67,22 75,00 b. Analisis Komparatif
1) Perbandingan Ketuntasan dan Rata – rata Nilai Siswa SD N Bandung 02
Gambar 9 Perbandingan Ketuntasan Belajar Siswa Kelas 3 5 13 13 5 18 0
Tuntas Tidak Tuntas
Perbandingan Ketuntasan Belajar
Siswa Kelas 3
Gambar 10 Perbandingan Nilai Rata-rata siswa Kelas 3
Dari gambar di atas tertera kenaikan dari pra siklus sampai siklus 2. Pada pra siklus yang tuntas hanya 5 dengan rata-rata 59,44, sedangkan pada siklus 1 yang tuntas mencapai 13 anak dengan perolehan rata-rata 67,22. Adapun pada siklus 2 memperoleh rata-rata 75,00 dengan jumlah siswa yang tuntas mencapai 18 anak. Pada indicator dikatakan bahwa dikatakan berhasil jika angka ketuntasan 75 %. Pada penelitian kali ini ketuntasan mencapai 100 %, dan berarti bahwa penelitian ini berhasil.
2) Perbandingan Kinerja Guru dengan Menerapkan Pembelajaran Model Examples Non Examples
Tabel 20 Hasil penilaian guru Aktivitas mengajar Perolehan
Skor Skor Maksimum Nilai Persentase Kriteria
Siklus 1 Pertemuan 1 44 72 61 Baik
Siklus 1 Pertemuan 2 48 72 67 Baik
Siklus 2 Pertemuan 1 60 72 83 Sangat Baik
Siklus 2 Pertemuan 2 71 72 94 Sangat Baik
59 67
75
Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2
Perbandingan Nilai Rata-rata Siswa
Kelas 3
Berdasarkan pada tabel diatas, aktivitas guru mengalami peningkatan dari tiap pertemuan. Dengan hal itu dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model examples non examples berhasil diterapkan di kelas 3 SD N bandung 02 Pecalungan dalam pembelajaran IPA. Adapun peningkatan tersebut dapat dilihat pada diagram di bawah ini :
Gambar 11 Perbandingan Kinerja Guru Siklus 1 dan Siklus 2 3) Perbandingan Aktivitas Siswa kelas 3 SD N Bandung 02
Tabel 21 Hasil penilaian siswa Aktivitas Siswa Perolehan
Skor Skor Maksimum Nilai Persentase Kriteria
Siklus 1 Pertemuan 1 28 48 58 Cukup
Siklus 1 Pertemuan 2 31 48 65 Baik
Siklus 2 Pertemuan 1 38 48 79 Baik
Siklus 2 Pertemuan 2 44 48 92 Sangat Baik
Berdasarkan pada tabel diatas, aktivitas siswa mengalami peningkatan dari tiap pertemuan. Dengan hal itu dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model examples non examples berhasil diterapkan di kelas 3 SD N bandung 02 Pecalungan dalam pembelajaran IPA. Adapun peningkatan tersebut dapat dilihat pada diagram di bawah ini : Siklus 1 Pertemuan 1 Siklus 1 Pertemuan 2 Siklus 2 Pertemuan 1 Siklus 2 Pertemuan 2 61 67 83 94
Gambar 11 Perbandingan Aktivitas Siswa kelas 3 4.3 Pembahasan
Penelitian yang dilakukan peneliti untuk meningkatkan hasil belajar IPA kelas 3 SD N Bandung 02 memiliki dampak positif. Hal itu dibuktikan dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA. Kenaikan tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 22
Hasil Belajar IPA Siswa SD N Bandung 02
Kategori Pra Siklus 1 Siklus 2
Tuntas 5 13 18
Tidak Tuntas 13 5 0
Jumlah 18 18 18
Penelitian dengan menggunakan model pembelajaran Examples Non Examples
terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa, karena model ini mempunyai beberapa keunggulan. Dalam melakukan pembelajaran yang menggunakan model examples non examples, guru melakukan pembelajaran dengan menggunakan gambar-gambar untuk menunjukkan contoh-contoh yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran, dalam hal ini adalah tentang penggolongan hewan dan tumbuhan. Model ini digunakan karena dengan
Siklus 1 Pertemuan 1 Siklus 1 Pertemuan 2 Siklus 2 Pertemuan 2 Siklus 2 Pertemuan 2 58 65 79 92 Perbandingan Aktivitas Siswa Kelas 3
menggunakan model ini siswa diajarkan untuk lebih kritis dalam menganalisa gambar, mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar dan melatih siswa untuk mengemukakan pendapatnya.
Dengan menggunakan contoh-contoh gambar, siswa lebih mudah memahami konsep-konsep. Hal itu berdampak pada mudahnya siswa dalam menerima dan mengingat materi yang diberikan oleh guru. Karena hal itulah siswa mengalami kenaikan hasil belajar dari siklus ke siklus.
Model pembelajaran examples non examples terbukti mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Hal itu terbukti dengan penelitian yang telah dilakukan oleh abdul Akbar Kurniawan dengan judul penelitian Penerapan Metode Pembelajaran Examples Non Examples dapat Meningkatkan Motivasi Belajar dan Hasil Belajar Siswa Kelas VI mata Pelajaran IPA Semester II di SD Negeri Purana UPPK Bantarbolang Kabupaten Pemalang. Penelitian dari Meirina Dwita Setyowati yang berjudul Pembelajaran Kooperatif Model Examples Non Examples dalam Numbered Heads Together untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VII B SMP Negeri 2 Sukorejo juga terbukti telah meningkatkan motivasi belajar dan taraf keberhasilan tindakan.