• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kinerja Reksa Dana Saham dengan (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Kinerja Reksa Dana Saham dengan (1)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Kinerja Reksa Dana Saham dengan Metode

Sharpe Ratio, Treynor Ratio, dan Jensen Alpha pada

Perusahaan Sekuritas

Nita Indra Saphira Universitas Trilogi

1. Latar belakang masalah

Manusia pada dasarnya hanya mempunyai 3 kebutuhan primer untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yaitu, sandang (pakaian), pangan (makanan), dan papan (rumah). Untuk memperolehnya dibutuhkan alat tukar pembayaran. Setelah kebutuhkan primer terpenuhi, maka akan ada hasrat seseorang untuk menabung atau menghimpun simpanan uangnya.

Tujuan keuangan manusia yang sering ditemui adalah kebutuhan akan dana pendidikan anak, kepemilikan rumah dan kendaraan, biaya pernikahan, berlibur, maupun adanya kebutuhan di masa pensiun. Dewasa ini, banyak sekali cara untuk memenuhi tujuan keuangan seseorang. Contohnya, berinvestasi melalui aset riil. Seseorang dapat melakukan pembelian aset riil (rumah, tanah, dan logam mulia), menyewakannya, dan kembali menjualnya. Walaupun harga aset riil fluktuatif, namun di jangka panjang nilainya cenderung meningkat. Selain itu, seseorang dapat memenuhi tujuan keuangannya melalui pasar modal maupun pasar uang seperti, menabung di bank.

Bank mempunyai beberapa produk di antaranya adalah berupa tabungan dan deposito. Untuk masyarakat, bank memberikan kemudahan berupa likuiditas yang tinggi karena dapat diambil setiap waktu melalui counter bank dan Automated Teller Machine (ATM), serta kemudahan bertransaksi: pengiriman uang, pembayaran telepon, kartu kredit, listrik, dan lain-lain. Namun, menyisihkan dana hanya dengan cara menyimpannya di bank tidak akan menghasilkan hasil yang maksimal, karena bunga yang diberikan oleh tabungan dan deposito sangat kecil, lebih rendah daripada tingkat inflasi. Semakin lama jangka waktu menabung, maka akan semakin berkurang nilai daya belinya. Karena dengan naiknya tingkat inflasi, harga barang saat ini akan bertambah di masa yang akan datang.

(2)

jangka panjang uang yang diinvestasikan akan menghasilkan nilai yang lebih tinggi daripada tingkat inflasi. Salah satu instrumen investasi yang menarik untuk dibahas adalah reksa dana.

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rendahnya tingkat literasi atau pemahaman terkait pasar modal di Indonesia, membuat masih banyak masyarakat yang enggan berinvestasi di sektor saham. Dari data OJK dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 7 Juni 2017, dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta orang hanya sekitar 523 ribu investor reksa dana di Indonesia, atau sekitar 0,2 persen dari total penduduk Indonesia yang menjadi investor di pasar saham.

Saat ini, ekonomi Indonesia berada pada posisi ke-16 sehingga bisa memasuki forum G20 yaitu, forum yang di dalamnya terdapat 20 negara dengan ekonomi terbesar di Indonesia. Pricewaterhouse Coopers (PwC) seperti dikutip The Independent UK, menyebut negara-negara berkembang akan mendominasi peringkat pertumbuhan ekonomi teratas dunia pada 2030 mendatang. Bahkan, Indonesia masuk dalam lima besar daftar negara dengan perekonomian terkuat di dunia. Badan akuntan profesional ICAS melansir, Asia masih akan tetap menjadi kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, terutama Indonesia.

PwC memperkirakan, paritas daya beli (purchasing power parity) Indonesia akan meningkat di tahun 2030 nanti. Dalam rincian PDB berikut ini, dapat dilihat 21 negara dengan pertumbuhan ekonomi yang diramalkan pesat:

1. China US$ 38.008 triliun

2. Amerika Serikat US$ 23.475 triliun 3. India US$ 19.511 triliun

4. Jepang US$ 5.606 triliun 5. Indonesia US$ 5.424 triliun 6. Rusia US$ 4.736 triliun 7. Jerman US$ 4.707 triliun 8. Brasil US$ 4.439 triliun 9. Meksiko US$ 3.661 triliun 10. Inggris US$ 3.638 triliun 11. Prancis US$ 3.377 triliun 12. Turki US$ 2.996 triliu. 13. Arab Saudi US$ 2.755 triliun 14. Korea Selatan US$ 2.651 triliun 15. Italia US$ 2.541 triliun

16. Iran US$ 2.354 triliun 17. Spanyol US$ 2.159 triliun 18. Kanada US$ 2.141 triliun 19. Mesir US$ 2.049 triliun 20. Pakistan US$ 1.868 triliun 21. Nigeria US$ 1.794 triliun

(3)

dinilai masih sangat besar. Di lain sisi, penulis melihat penetrasi pasar masih rendah, sementara jumlah penduduk kelas menengah meningkat pesat, dan kesadaran masyarakat untuk berinvestasi di dalam reksa dana masih kurang dari satu persen, maka penulis bermaksud untuk melakukan penelitan dengan judul Analisis Kinerja Reksa Dana Saham dengan Metode

Sharpe Ratio, Treynor Ratio, dan Jensen Alpha pada Perusahaan Sekuritas.

2. Rumusan masalah

Adapun rumusan masalah di dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana pengaruh besarnya Nilai Aktiva Bersih (NAB) terhadap

kinerja reksa dana saham?

2. Bagaimana pengaruh tingkat keuntungan (Rr) terhadap kinerja reksa

dana saham?

3. Bagaimana pengaruh tingkat pengembalian pasar (Rp1) terhadap

kinerja reksa dana saham?

4. Bagaimana pengaruh rata-rata investasi bebas risiko (RFR) terhadap kinerja reksa dana saham?

5. Bagaimana pengaruh tingkat pengembalian reksa dana saham terhadap tingkat pengembalian pasar?

3. Tujuan Penelitian

1. Ingin mengetahui kinerja reksa dana saham berdasarkan besarnya Nilai Aktiva Bersih (NAB).

2. Ingin mengetahui tingkat keuntungan (Rr) dari reksa dana saham.

3. Ingin mengetahui tingkat pengembalian pasar (Rp1) dari reksa dana

saham.

4. Ingin mengetahui rata-rata investasi bebas risiko (RFR) reksa dana saham.

5. Ingin mengetahui besar tingkat pengembalian reksa dana saham bila dibandingkan dengan tingkat pasar.

4. Hipotesa Penelitian

1. Ho : Ada pengaruh besarnya NAB terhadap kinerja reksa dana saham. 2. Ho : Ada pengaruh tingkat keuntungan (Rr) terhadap kinerja reksa dana

saham.

3. Ho : Ada pengaruh tingkat pengembalian pasar (Rp1) terhadap kinerja

reksa dana saham.

4. Ho : Ada pengaruh rata-rata investasi bebas risiko (RFR) terhadap kinerja reksa dana saham,

(4)

5. Landasan Teori

5.1Kerangka Penelitian

5.2 Reksa Dana

Reksa dana merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. Reksa Dana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal, mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas. Selain itu Reksa Dana juga diharapkan dapat meningkatkan peran pemodal lokal untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.

Mengacu kepada Undang-Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995, pasal 1 ayat (27) didefinisikan bahwa Reksa Dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi.

Ada tiga hal yang terkait dari definisi tersebut yaitu, Pertama, adanya dana dari masyarakat pemodal. Kedua, dana tersebut diinvestasikan dalam portofolio efek. Ketiga, dana tersebut dikelola oleh manajer investasi. Dengan demikian, dana yang ada dalam Reksa Dana merupakan dana bersama para pemodal, sedangkan manajer investasi adalah pihak yang dipercaya untuk mengelola dana tersebut.

5.3Reksa Dana Saham

Reksa Dana Saham adalah jenis reksa dana berisiko tinggi dengan hasil pengembalian melalui investasi dengan komposisi saham ≥ 80% dari total portofolio. Reksa dana ini bertujuan untuk

Perusahaan Sekuritas

Reksa Dana Saham

Sharpe Ratio

Treynor Ratio Jensen

Alpha

Manfaat dan Resiko

Perusahaan Sekuritas:

Trimegah Securities

SAMUEL Sekuritas Indonesia

(5)

memberikan pertumbuhan modal jangka panjang bagi pemegang unitnya.

Manfaat yang diperoleh pemodal jika melakukan investasi dalam Reksa Dana, antara lain:

1. Pemodal walaupun tidak memiliki dana yang cukup besar dapat melakukan diversifikasi investasi dalam Efek, sehingga dapat memperkecil risiko. Sebagai contoh, seorang pemodal dengan dana terbatas dapat memiliki portfolio obligasi, yang tidak mungkin dilakukan jika tidak tidak memiliki dana besar. Dengan Reksa Dana, maka akan terkumpul dana dalam jumlah yang besar sehingga akan memudahkan diversifikasi baik untuk instrumen di pasar modal maupun pasar uang, artinya investasi dilakukan pada berbagai jenis instrumen seperti deposito, saham, obligasi. 2. Reksa Dana mempermudah pemodal untuk melakukan

investasi di pasar modal. Menentukan saham-saham yang baik untuk dibeli bukanlah pekerjaan yang mudah, namun memerlukan pengetahuan dan keahlian tersendiri, dimana tidak semua pemodal memiliki pengetahuan tersebut. 3. Efisiensi waktu. Dengan melakukan investasi pada Reksa

Dana dimana dana tersebut dikelola oleh manajer investasi profesional, maka pemodal tidak perlu repot-repot untuk memantau kinerja investasinya karena hal tersebut telah dialihkan kepada manajer investasi tersebut.

Selain itu, Reksa Dana pun mengandung berbagai peluang risiko, antara lain:

1. Risiko Berkurangnya Nilai Unit Penyertaan.

Risiko ini dipengaruhi oleh turunnya harga dari Efek (saham, obligasi, dan surat berharga lainnya) yang masuk dalam portfolio Reksa Dana tersebut.

2. Risiko Likuiditas.

Risiko ini menyangkut kesulitan yang dihadapi oleh Manajer Investasi jika sebagian besar pemegang unit melakukan penjualan kembali (redemption) atas unit-unit yang dipegangnya. Manajer Investasi kesulitan dalam menyediakan uang tunai atas redemption tersebut.

3. Risiko Wanprestasi.

(6)

menyebabkan penurunan NAB (Nilai Aktiva Bersih) Reksa Dana.

5.4Penelitian Terdahulu

Tabel 5.1 Penelitian Terdahulu

No. Pengarang Judul Metode Hasil

1 Arisondha, Edhy (2013)

Jurnal Dinamika Manajemen Volume 1, No. 4: Analisis Perbandingan Kinerja Portfolio Saham dengan Metode Sharpe, Treynor, dan Jensen

Metode kuantitatif, purposive sampling

Rata-rata return indeks saham yaitu dengan kisaran minimal -0,013 hingga kisaran maksimal sebesar 0,184.

Rata-rata return indeks market yaitu dengan kisaran minimal -0,057 hingga kisaran maksimal sebesar 0,058. Return terendah sebesar -0,057 terjadi pada Tahun 2008, sementara return tertinggi sebesar 0,058 terjadi pada Tahun 2009. Produk Reksadana dengan Menggunakan Metode Perhitungan Jensen Alpha, Sharpe Ratio, Treynor Ratio,

Kinerja baik karena terdapat produk-produk reksadana yang memiliki nilai returndi atas pasar, yaitu ISP, Dana Siaga, Dana Tetap Likuid, Dana Handal, Dana Tetap II, Dana Tetap Likuid, dan FlexiGrowth.

Produk reksadana yang dapat dinyatakan paling baik kinerjanya menurut lima metode yang digunakan adalah reksadana Indeks Saham Progresif (ISP).

3 Wahdah, Rafiqah (2012)

Analisis Pengukuran Kinerja Reksa Dana Saham di Indonesia, Volume 13 Nomor 1

Metode Dana Saham memperoleh hasil positif yang menandakan berinvestasi di reksa dana saham dapat memberikan keuntungan, terkecuali untuk Reksadana Mega Dana Saham. 4 Masruroh,

Aini (2012)

Konsep Dasar Investasi Reksadana

Metode kualitatif

(7)

selain properti, rumah, tanah, maupun saham.

5 Sofyan, Ahmad (2009)

Analisis Perbandingan Produk Reksa Dana sebagai Dasar Pertimbangan Berinvestasi dengan Menggunakan Tolok Ukur Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Nilai Sertifikat Bank Indonesia (SBI). ( Studi Kasus : Pt. Bank pengembalian, akan tetapi juga mengakibatkan risiko atau penyimpangan dalam

6.2Populasi dan Sampel

1. Populasi yang digunakan di dalam penelitian ini adalah 2 perusahaan yang terdaftar pada BEI yaitu, Trimegah Securities dan SAMUEL Sekuritas Indonesia; dan 1 perusahaan yang tidak terdaftar pada BEI yaitu, Asanusa Asset Management. 2. Sampel yang digunakan di dalam penelitian ini adalah produk

reksa dana saham dari perusahaan Trimegah Securities, SAMUEL Sekuritas Indonesia, dan Asanusa Asset Management yang aktif beroperasi di periode 2012 hingga 2017, yaitu:

No Nama Perusahaan Produk Reksa Dana Saham 1 Trimegah Securities TRIM Kapital

TRIM Kapital Plus TRIM Consumption Plus TRIM Infrastructure Plus TRIM Syariah Saham 2 SAMUEL Sekuritas Indonesia SAM Dana Berkembang

SAM Syariah Berimbang SAM Sukuk Syariah Sejahtera SAM Indonesian Equity Fund SAM Sharia Equity Fund SAM Beta Plus Equity Fund 3 Asanusa Asset Management AAA Enhanced Strategy Fund

Asanusa Blue Chip Value Fund 2

6.3Jenis dan Sumber Data

(8)

yang dikumpulkan meliputi data kuantitatif yang diperoleh dari Bursa Efek Indonesia dan Pusat Data Kontan, meliputi: Nilai Aktiva Bersih (NAB), Dividen, dan Return.

6.4Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode purposive sampling yaitu pengambilan sampel yang menyesuaikan dengan kriteria tertentu. Penulis mengambil sampel yang memenuhi kriteria, yaitu: a. Sampel yang diambil adalah reksa dana saham yang ditawarkan

pada periode 2012 sampai 2017 dan masih aktif hingga saat ini, b. Sampel yang diambil adalah reksa dana saham yang ditawarkan

pada periode 2012 sampai 2017 dan masih aktif hingga saat ini, berdasarkan data total NAB dan jumlah unit penyertaan, untuk selanjutnya diperhitungkan nilai aktiva bersih per unit penyertaan, c. Data NAB reksa dana saham yang akan diambil sebagai sampel

adalah rata-rata besarnya NAB pertahun yang diambil dari nilai NAB perbulan untuk tahun bersangkutan,

d. Besarnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Indeks LQ-45, dan tingkat Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

6.5Alat Analisis

Dalam menganalisis data, penulis menggunakan beberapa rumus di mana data yang dihasilkan digunakan dalam perhitungan selanjutnya. 1. Return Reksa Dana Saham

Nilai ini diperoleh dari NAB perunit penyertaan untuk masing-masing reksa dana saham. Rumus yang digunakan adalah:

�= �− �− �−

Dimana:

Rr = Keuntungan dari reksa dana

Pt = NAB pada periode pengukuran

P(t-1) = NAB pada periode sebelum pengukuran

2. Tingkat Pengembalian Pasar

Sebagai variabel pembanding (bench mark) menggunakan Indeks Harga Saham Gabungan dan Indeks LQ-45, dengan perhitungan sebagai berikut:

� = �− �−

�−

(9)

Rp1 = Keuntungan pasar

IHSGt = IHSG pada periode pengukuran

IHSG(t-1) = IHSG pada periode sebelum pengukuran

� =� �− � �− �−

Dimana:

Rp2 = Keuntungan pasar

LQt = Indeks LQ-45 pada periode pengukuran

LQ(t-1) = Indeks LQ-45 pada periode sebelum pengukuran

3. Rata-rata Investasi Bebas Risiko

Diperoleh dari rata tingkat keuntungan bebas risiko yaitu, rata-rata tingkat suku bunga sertifikat Bank Indonesia dalam period tertentu, dengan perhitungan sebagai berikut:

=∑ �

Dimana:

RFR = Risk Free Return

∑SBI = Jumlah SBI pada periode tertentu n = Jumlah periode perhitungan

4. Standar Deviasi

Menunjukkan penyimpangan yang terjadi dari rata-rata kinerja reksa dana saham yang dihasilkan, di mana perhitungannya sebagai berikut:

� = √∑ � − �� − 1

Dimana:

σ = Standar Deviasi

X = Nilai data yang berada dalam sampel n = Jumlah data

µ = Rata-rata hitung

5. Beta

(10)

portfolio sebagai variabel dependen dan premi keuntungan pasar sebagai variabel independen. Beta dapat dirumuskan sebagai berikut:

Y = a + bx  RD– RF = (Rr– RF)

Dimana:

RD = Rata-rata keuntungan reksa dana

RF = Rata-rata keuntungan investasi bebas risiko

Rr = Keuntungan pasar (IHSQ dan LQ-45)

6. Perhitungan kinerja berdasarkan metode Sharpe, Treynor, Jensen

a. Metode Sharpe

Untuk mengetahui seberapa besar penambahan hasil investasi yang didapat untuk setiap unit risiko yang diambil.

Pengukuran kinerja didasarkan atas risk premium yaitu, selisih antara rata kinerja yang dihasilkan reksa dana dengan rata-rata kinerja investasi bebas risiko.

�� = � −

Dimana:

σ = Standar Deviasi SRD = Nilai sharpe rasio

RD = Rata-rata keuntungan reksa dana

RF = Rata-rata keuntungan investasi bebas risiko

b. Metode Treynor

Metode ini melihat fluktuasi pasar. Dalam penghitungannya digunakan pembagi Beta (β) yang merupakan risiko fluktuasi terhadap risiko pasar.

��= [ � − �]

Dimana:

β = Slope persamaan garis hasil regresi linier TRD = Nilai treynor rasio

RD = Rata-rata keuntungan reksa dana

RF = Rata-rata keuntungan investasi bebas risiko

c. Metode Jensen

(11)

= �− � − �− � Dimana:

α = Nilai perpotongan Jensen

Rr = Nilai keuntungan pasar (IHSQ dan LQ-45)

RD = Rata-rata keuntungan reksa dana

RF = Rata-rata keuntungan investasi bebas risiko

7. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dari penelitian dianalisa secara deskriptif kuantitatif. Data yang dikumpulkan diolah dengan rumus-rumus sesuai dengan definisi operasional variabel yang relevan.

Langkah-langkah yang dilakukan adalah:

 Melakukan pengumpulan data yang berhubungan dengan Reksa Dana Saham, besarnya IHSG, dan LQ-45 untuk return pasar, dan rata-rata suku bunga SBI untuk risk free rate  Mencari nilai rata-rata masing-masing NAB Reksa Dana

Saham pertahun, berdasarkan nilai NAB perbulan

 Mencari return masing-masing Reksa Dana Saham

 Mencari return pasar (IHSG dan LQ-45)

 Mencari rata-rata investasi bebas risiko

 Menguji masing-masing kinerja Reksa Dana Saham dengan metode Sharpe, Treynor, dan Jensen.

7. Sistematika Penulisan 1. Latar Belakang Masalah 2. Rumusan Masalah 3. Tujuan Penelitian 4. Hipotesa Penelitian 5. Landasan Teori:

5.1 Kerangka Penelitian 5.2Reksa Dana

5.3Reksa Dana Saham 5.4Penelitian Terdahulu 6. Metode Penelitian

6.1Variabel Penelitian 6.2Populasi dan Sampel 6.3Jenis dan Sumber Data 6.4Metode Pengumpulan Data 6.5Alat Analisis

(12)

8. Daftar Pustaka

Kisman, Z. Model For Overcoming Decline in Credit Growth (Case Study of Indonesia with Time Series Data 2012M1-2016M12). Journal of Internet Banking and Commerce.Vol.22, No. 3,2017.

Kisman, Z., & Shintabelle Restiyanita, M. The Validity of Capital Asset Pricing Model (CAPM) and Arbitrage Pricing Theory (APT) in Predicting the Return of Stocks in Indonesia Stock Exchange. American Journal of Economics, Finance and Management Vol. 1, No. 3, 2015, pp. 184-189

Kisman, Z.Disappearing Dividend Phenomenon: A Review of Theories and Evidence.Transylvanian Review.Vol XXIV, No. 08,2016.

Arisondha, Edhy. Analisis Perbandingan Kinerja Portfolio Saham dengan Metode Sharpe, Treynor, dan Jensen. Vol I, No. 4, 2012.

Santosa, Magdalena. Penilaian Kinerja Produk Reksadana dengan Menggunakan Metode Perhitungan Jensen Alpha, Sharpe Ratio, Treynor Ratio, dan Information Ratio. Vol XII, No. 1, 2012.

Wahdah, Rafiqah. Analisis Pengukuran Kinerja Reksa Dana Saham di Indonesia. Vol XIII, No. 1, 2012.

Masuroh, Aini. Konsep Dasar Investasi Reksadana. 2012

Sofyan, Ahmad. Analisis Perbandingan Produk Reksa Dana sebagai Dasar Pertimbangan Berinvestasi dengan Menggunakan Tolok Ukur Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Nilai Sertifikat Bank Indonesia (SBI). ( Studi Kasus : Pt. Bank Ocbc Nisp Tbk,.). 2009

https://www.merdeka.com/uang/ojk-dari-250-juta-penduduk-cuma-500000-jadi-investor-saham.html diakses pada 08 April 2018 pukul 15.00 WIB

http://menara62.com/2017/07/28/investor-reksadana-di-indonesia-hanya-02-persen/ diakses pada 08 April 2018 pukul 15.00 WIB

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180223110749-532-278275/ri-jadi-negara-dengan-ekonomi-terkuat-ke-5-dunia-di-2030 diakses pada 08 April 2018 pukul 15.00 WIB

Gambar

Tabel 5.1 Penelitian Terdahulu Judul Jurnal Dinamika Manajemen

Referensi

Dokumen terkait

Penellitian ini bermaksud membandingkan data dari dua populasi yaitu reksa dana syariah dan reksa dana konvensional maka dari itu pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan

Average Return reksa dana saham sektoral pada tahun 2012 mengalami kinerja yang lebih baik dibanding kinerja pasar yaitu pada sektor infrastruktur, sedangkan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) reksa dana campuran di Indonesia mencatatkan kinerja yang fluktuatif di tahun 2011 hingga tahun 2013 berdasarkan nilai

Hasil dari uji t menyatakan bahwa pemilihan sekuritas, tingkat risiko, umur reksa dana dan ukuran reksa dana memiliki pengaruh terhadap kinerja reksa dana campuran sedangkan

memiliki risiko yang relatif lebih besar dari reksa dana pasar

Kinerja Reksa Dana saham terbaik pada tahun 2016 berdasarkan metode Jensen diraih oleh Reksa Dana Saham Mandiri Saham Prima dari Manajer Investasi PT Mandiri Manajemen Investasi

Oleh karena itu, penelitian bertujuan menganalisis perbandingan kinerja reksa dana saham dan reksa dana campuran dengan tolak ukur kinerja pasar yang dicerminkan

Dari kelima reksa dana tersebut hanya empat reksa dana yang dimasukkan dalam penyusunan portofolio optimal, yaitu dengan mengalokasikan dana pada Panin Dana Maksima sebesar