LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI DAN KESEHATAN TANAH
Di susun oleh:
ISRAN H YUSUF
613413110
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah hama dan penyakit pasca panen tentang hama kedelai.
Adapun makalah ilmiah hama dan penyakit pasca panen tentang hama kedelai ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan bayak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadar sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat memperbaiki makalah ilmiah hama dan penyakit pasca panen ini.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari laporan praktikum tentang penelitian mikrobiologi ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inspirasi terhadap pembaca.
Daftar isi
KATA PENGANTAR...1
BAB I... 3
PENDAHULUAN...3
Latar Belakang...3
Tujuan... 3
BAB II... 4
TINJAUAN PUSTAKA...4
Medium Potato Dextrose Agar (PDA)...4
Medium dan Larutan Pengencer...4
Medium Nutrient Agar (NA)...5
Sterilisasi... 5
Sterilisasi Basah...6
Sterilisasi Kering...6
Pengenceran...7
Metode Hitungan Cawan...7
BAB III... 8
METODOLOGI PRAKTIKUM...8
BAB IV... 11
HASIL DAN PEMBAHASAN...11
BAB V... 12
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Mikroorganisme/mikroba merupakan organisme hidup yang berukuran kecil yang hanya dapat dilihat secara mikroskopis. Mikroorganisme yang ada di alam terdiri dari berbagai macam jenis dan jumlahnya tidak terbatas. Mikroorganisme dapat tumbuh dan berkembang biak dimana saja dengan syarat cukup nutrien dan berkembang pada médium yang tepat. Medium dapat berupa medium cair, medium padat dan medium setengah padat. Mikroorganisme baik yang membentuk koloni atau tidak, saat berkembang pada suatu medium dapat diketahui jumlahnya dengan beberapa metode salah satunya adalah metode hitungan cawan. Jumlah mikrobia pada suatu bahan dapat ditentukan dengan bermacam-macam cara, tergantung pada bahan dan jenis mikrobia yang ditentukan. Jenis populasi mikroba dalam tanah, air, bahan makanan dan lain-lainnya berbeda-beda tergantung pada susunan bahan tersebut. Mikroorganisme yang kita isolasi harus kita ketahui jenis medium yang disukai sehingga dapat tumbuh dengan baik pada media. Dalam hal ini medium ini akan digunakan oleh mikroorganisme sebagai sumber energi untuk melakukan pertumbuhan dan perkembangbiakan maka hendaknya harus sesuai dengan komposisi bahan medium.
Berdasarkan hal tersebut di atas maka dilakukanlah praktikum ini untuk mempelajari macam- macam medium, cara- cara pembuatan dari beberapa medium dan sekaligus mengetahui bahan- bahan yang digunakan serta komposisi juga fungsi dari masing- masing bahan tersebut dalam membantu pertumbuhan mikroorganisme tersebut. Sehingga nantinya diharapkan dapat menumbuhkan, mengisolasi dan menguji sifat fisiologi atau perhitungan mikroorganisme tertentu.
Tujuan
Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah utuk mengetahui cara pembuatan media PDA, sterilisasi dan cara menghitung koloni bakteri.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Medium Potato Dextrose Agar (PDA)
Medium PDA adalah salah satu dari medium untuk proses menumbuhkan mikrobia. PDA merupakan medium yang berkomposisi kentang, dextrose, dan asam tartarat. PDA tidak bersifat umum seperti NA karena tidak semua mikrobia dapat tumbuh pada medium ini. Medium PDA termasuk ke dalam medium yang padat sehingga dapat membentuk koloni mikroba yang dapat dilihat dan dihitung, jika diinokulasikan di dalam medium PDA, bakteri anaerob akan tumbuh mengelompok pada dasar medium, bakteri yang anaerob fakultatif akan tumbuh tersebar di seluruh medium, bakteri mikroaerofil akan tumbuh mengelompok sedikit di bawah permukaan medium, sedangkan bakteri aerob akan tumbuh pada permukaan medium (Dwidjoseputro, 1994). Medium ini digunakan untuk isolasi bakteri, hasilnya dinyatakan dalam jumlah koloni yang didapatkan nantinya. Medium ini sangat diperlukan untuk mempelajari ciri-ciri koloni, sifat-sifat biokimia, morfologi, reaksi pengecatan, reaksi imunologi dan ketentraman bakteri terhadap zat antibakteri. Pembuatan medium PDA dapat dilakukan dengan serangkaian cara mulai dari pembuatan PDA hingga pencampurannya dengan asam tartarat (Irianto, 2010).
Medium dan Larutan Pengencer
Medium adalah bahan yang mengandung campuran nutrisi yang bermanfaat untuk menumbuhkan mikroba. Medium ada yang alami dan ada yang merupakan buatan manusia, contoh medium buatan manusia adalah medium cair, medium kental (padat) dan medium setengah padat. Medium cair digunakan untuk menumbuhkan bakteri dan juga fermentasi. Medium padat digunakan untuk menumbuhkan mikrobia pada permukaan. (Dwidjoseputro, 1994). Larutan pengencer merupakan larutan yang digunakan untuk mengencerkan larutan dengan perbandingan pengenceran tertentu. Caranya adalah dengan menempatkan pada tabung reaksi kemudian menentukan berapa perbandingan yang digunakan karena tiap perbandingan memiliki ketentuan sendiri-sendiiri. Pengenceran dengan larutan pengencer diperlukan agar nantinya diperoleh pertumbuhan bakteri yang tidak konfluen hingga koloninya mudah untuk dihitung (Sandjaja, 1992).
Medium Nutrient Agar (NA) masuk kedalam medium khusus karena dibuat sebagai tempat menumbuhkan mikroba yang sudah diketahui komposisi pembuatannya. NA di buat dengan komposisi agar – agar yang sudah dipadatkan sehingga NA juga bisa disebut dengan nutrient padat yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri. Fungsi agar – agar hanya sebagai pengental namun bukan zat makanan pada bakteri, agar dapat mudah menjadi padat pada suhu tertentu. Medium Nutrient Agar adalah salah satu medium padat yang memiliki komposisi yaitu agar – agar yang telah di panaskan dan mencair dengan suhu 950C (Dwidjoseputro, 1994). Agar–agar adalah zat pengental dan bukan sebagai sumber makanan bagi bakteri. Agar–agar digunakan untuk membuat medium padat, agar larut dan menjadi padat pada suhu 450C. NA lebih bersifat umum sehingga mikroba banyak tumbuh pada media ini (Amelia et al, 2005).
Sterilisasi
Sterilisasi adalah proses yang menghancurkan semua bentuk kehidupan. Suatu benda yang steril, dipandang dari sudut mikrobiologi, artinya bebas dari mikroorganisme hidup. Suatu benda atau substansi hanya dapat steril atau tidak sreril tidak akan mungkin setengah steril atau hamper steril (Pelozar, 1988). Sterilisasi yaitu suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada, sehingga jika ditumbuhkan didalam suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang biak. Sterilisasi secara umum dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu sterilisasi secara fisik yang meliputi pemanasan sinar ultraviolet, sinar X dan sebagainya. Sterilisasi dengan pemanasan terdapat empat cara yaitu dengan cara pemijaran, sterilisasi dengan udara panas, sterilisasi dengan menggunakan uap air panas, sterilisasi dengan menggunakan uap panas yang bertekanan. Sterilisasi yang selanjutnya adalah sterilisasi secara kimia. Sterilisasi ini menggunakan disinfektan, larutan alkohol, larutan formalin (Fardiaz, 1992).
Sterilisasi Basah
dilakukan dengan cara memanaskan medium atau larutan menggunakan uap selama satu jam tiap hari utuk tiga hari berturut-turut. Waktu inkubasi diantara dua proses pemanasan sengaja diadakan supaya spora dapat bergerminasi menjadi sel vegetatif sehingga mudah dibunuh pada pemansan berikutnya. Pasteurisasi biasanya diakukan pada terhadap susu. Proses ini dapat mencegah penyakit yang disebabkan oleh streptokoki grup A. Pasteurisasi dilakukan pada suhu 650C selama 30 menit atau 720C selama 15 detik. Setelah pasteurisasi, produk harus didinginkan untuk mencegah pertumbuhan bakteri yang masih hidup (Fardiaz, 1992). Uap mengalir bebas diguakan dalam tempat yang tidak tertutup rapat yang dapat menahan uap itu tanpa tertekan. Air mendidih dan uap bebas tidak perbnah mencapai suhu lebih dari 1000C (2120F). Uap bebas ini digunakan untuk mensterilisasi dengan menggunakan uap pada suhu 1000C yang dialirkan pada benda yang disterilkan untuk beberapa menit berkali-kali (tiga sampai empat kali) dengan selang waktu 24 jam (Irianto, 2010).
Sterilisasi Kering
Sterilisasi kering digunakan dalam sterilisasi alat-alat gelas dilaboratorium, dimana digunakan oven dengan suhu 160-1800C selama 1,5-2 jam dengan sistem udara statis. Praktik menggunakan oven yang dilengkapi dengan sirkulsai udara panas, diperlukan waktu setengahnya karena aliran udara panas kealat-alat gelas akan lebih efisien (Fardiaz, 1992). Sterilisaisi kering dapat dilakukan dengan cara pemijaran, jilatan api, dan tanur uap panas. Pemijaran diterapkan pada ose ujung-ujung pinset dan sudip logam. Jilatan apai diterapkan terhadap skalpel, jarum, mulut tabung biakan, kaca objek, dan kaca penutup. Tanur uap panas digunakan dengan suhu 160-1650C selama satu jam. Tanur uap panas diterapkan terhadap alat-alat kering tebuat dari kaca seperti tabung reaksi, punggan petri, labu, pipet, pinset, skalpel, gunting kapas hapus tenggorok, alat suntik dari kaca, juga diterapkan pada bahan-bahan kering dalam tempat-tempat tertutup, bahan serbuk, lemak dan minyak (Irianto, 2010).
Pengenceran
1:100, 1:10000, 1:1000000 dan seterusnya. Larutan yang digunakan untuk pengencernaan dapat berupa larutan bufer fosfat, 0,85% NaCI, atau larutan Ringer (Sandjaja, 1992).
Metode Hitungan Cawan
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1 Waktu Dan Tempat
Praktikum ini dilakukan pada hari rabu, tanggal 24 Desember 2014, pukul 13.00 WITA di Laboratorium Balai Perlindungan Tanaman Panagan dan Hortikultura (BPTPH).
3.2 Alat Dan Bahan
4) tanah kacng hijau, aquades 9 ml, 5) Glukosa,
6) Kapas
7) Aluminium foil 3.3 Prosedur Kerja
a. Pembuatan medium PDA (Potato Dextrose Agar)
1) Timbang Bacto Agar sebanyak 17 gr dan glukosa sebanyak 120 gr pada timbangan analitik.
2) Kupas dan potong kentang dengan ukuran kecil, setelah itu timbang kentang sebanyak 200 gr.
3) rebus kentang dalam 1 liter air hingga lembek. 4) Saring air rebusan kentang (air berkurang)
5) Campurkan Bakto Agar, glukosa, dan air rebusan kentang, tambahkan air putih hingga 1 liter ke dalam gelas beker.
6) Rebus campuran tersebut sambil diaduk sampai mendidih dengan suhu 100oc. b. Sterilisasi basah
2) Setelah di rebus, salin campuran Bakto Agar, glukosa, dan air rebusan kentang ke dalam erlenmeyer tutup menggunakan aluminium foil, masukan ke dalam autoclave
3) Tutup autoclave denga cara mempertemukan tanda panah petunjuk dan tabung pengeluaran gas dimasukkan pada saluran pengarah pada dinding bagian dalam aluminium.
4) Pasang baut penahan, bukalah pengatur klap pengaman, dengan posisi lurus ke atas, kemudian pasang sumber panas.
5) Bila uap air mulai berdesis, tutup klap pengaman dengan posisinya mendatar. 6) Bila alat pengukur tekanan sudah menunjukkan 121o c, pertahankan tekanan atau
suhu selama 15 menit.
7) Setelah itu matikan pemanas dan tunggulah sampai tekanan kembali ke nol, dan suhu <100o c baru membuka klep pengaman untuk mengeluarkan sisa uap yang tersisa di dalam kenduran mur, lepaskan baut, putar tutupnya dan angkat, tunggu sampai uap telah keluar sebelum mengeluarkan barang-barang yang ada di dalamnya.
8) Setelah selesai digunakan, buang air yang tersisa dan keringkan smua bagian dengan baik.
c. Menanam mikroba pada PDA
1) Siapkan alat dan bahan yang di perlukan 2) Timbang tanah di sekitar kacang hijau 10 g
3) Masukkan tanah tersebut ke dalam erlemnyer 90 ml, yang berisi aquades kemudian tutup menggunakan aluminium foil
4) Larutkan tanah tersebut selama 20 menit dengan cara di kocok sampai tercampur rata.
5) Kemudian ambil 1 ml dari dalam erlemnyer menggunakan pipet mikro, kemudian masukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi aquades 2 ml
6) Ulangi cara ke 5 dari tabung reaksi yang berisi aquades 10-2 sampai pada tabung reaksi yang berisi aquades 10-10
7) Setelah itu ambil tiap media 0,5 ml, kemudian masukkan pada cawan petri, dalam setiap cawan petri terdapat 10 ml PDA yang sudah di panaskan/dalam bentuk cair 8) Setelah selesai, bungkus cawan petri dengan menggunakan kertas,dan di beri tanda
BAB IV
Pada pengenceran 10-7 pada ulangan I dengan jumlah koloni 33 agak lebih banyak dibandingkan dengan ulangan II yang jumlahnya 27. Pada pengenceran 10-8 di dapatkan bahwa jumlah koloni pada ulangan I yaitu 26 dan pada ulangan berjumlah 20. Pada
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa Medium adalah bahan yang mengandung campuran nutrisi yang bermanfaat untuk menumbuhkan mikroba. Ada dua jenis media untuk meumbuhkan mikroorganisme yaitu NA dn PDA. media PDA tidak bersifat umum seperti NA, karena tidak semua mikrobia dapat tumbuh pada medium ini.
5.2 Saran