• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Tingkat Depresi pada Pasien HIV AIDS di Pusat Pelayanan Khusus RSUP Haji Adam Malik Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Gambaran Tingkat Depresi pada Pasien HIV AIDS di Pusat Pelayanan Khusus RSUP Haji Adam Malik Medan"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Depresi

2.1.1 Definisi

Depresi merupakan gangguan mental yang serius yang ditandai dengan perasaan

sedih dan cemas. Gangguan ini biasanya akan menghilang dalam beberapa hari tetapi

dapat juga berkelanjutan yang dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari (National

Institute of Mental Health, 2010).

Depresi adalah gangguan mental yang umum , ditandai dengan kesedihan ,

kehilangan minat atau kesenangan , perasaan bersalah atau rendah diri , tidur

terganggu atau nafsu makan, perasaan kelelahan , dan kurang konsentrasi (World

Health Organization, 2010). 2.1.2 Etiologi

1. Faktor Biologis

Banyak penelitian melaporkan abnormalitas metabolit amin biogenic- seperti asam

5-hidroksiindolasetat (5-HIAA), asam homovanilat (HVA) dan 3

metoksi-4-hdroksifenilglikol (MHPG)- di dalam darah, urine dan cairan serebrospinalis pasien

dengan gangguan mood. Laporan data ini paling konsisten dengan hipotesisi bahwa

gangguan mood disebabkan oleh disregulasi heterogen amin biogenic. ( Siahaan,

(2)

2. Faktor Neurokimia

Neurotransmitter asam amino dan peptide neuro aktif telah dilibatkan dalam

patofiologi gangguan mood. Sejumlah peneliti telah mengajukan bahwa system

messengers kedua- seperti regulasi kalsium, adenilat siklase, dan fosfatidilinositol

dapat menjadi penyebab. Asam amino glutamate dan glisin tampaknya menjadi

neurotransmitter eksitasi utama pada system saraf pusat. Glutamat dan glisin

berikatan dengan reseptor N-Metil-D-Aspartat (NMDA), jika berlebihan dapat

memiliki efek neurotoksik. Hipokampus memiliki konsentrasi reseptor NMDA yang

tinggi sehingga mungkin jika glutamate bersama dengan hiperkortisolemia

memerantarai efek neurokognitif pada stress kronis. ( Siahaan, 2014).

3. Faktor Genetik

Faktor genetik yang signifikan terlibat dalam timbulnya gangguan mood tetapi pola

pewarisan genetik terjadi melalui mekanisme yang kompleks. Tidak hanya

menyingkirkan pengaruh psikososial tetapi faktor nongenetik mungkin memiliki

peranan kausatif didalam timbulnya gangguan mood pada beberapa orang.

Komponen genetik memiliki peranan yang bermakna didalam gangguan bipolar I

daripada gangguan depresi berat. ( Siahaan, 2014)

4. Faktor Psikososial

Peristiwa hidup dan penuh tekanan lebih sering timbul mendahului episode gangguan

mood yang megikuti. Stress yang menyertai episode pertama mengakibatkan

perubahan yang bertahan lama didalam biologi otak. perubahan yang bertahan lama

ini dapat menghasilkan perubahan keadaan fungsional berbagai neurotransmitter dan

system pemberian sinyal interaneuron, perubahan yang bahkan mencakup hilangnya

neuron dan berkurangnya kontak sinaps yang berlebihan. Akibatnya seseorang

(3)

stressor eksternal. Klinis lain menunjukkan bahwa peristiwa hidup hanya memegang

peranan terbatas dalam awitan dan waktu depresi. ( Siahaan, 2014 )

5. Faktor Kepribadian

Tidak ada satupun ciri bawaan atau jenis kepribadian yang secara khas merupakan

predisposisi seseorang mengalami depresi dibawah situasi yang sesuai. Orang dengan

gangguan kepribadian tertentu- objektif kompulsif, histrionic dan borderline-

mungkin memiliki resiko yang lebih besar untuk mengalami depresi daripada orang

dengan gangguan kepribadian antisocial atau paranoid. Gangguan kepribadian

paranoid dapat menggunakan mekanisme defense proyeksi dan mekanisme

eksternalisasi lainnya untuk melindungi diri mereka dari kemarahan didalam dirinya.

Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa gangguan kepribadian tertentu terkait

dengan timbulnya gangguan bipolar I dikemudian hari meskipun demikian, orang

dengan gangguan distemik dan siklotimik memiliki resiko gagguan depresi berat atau

gangguan bipolar I kemudian hari. ( Siahaan, 2014)

2.1.3 Gejala dan tingkat depresi

PPDGJ-III (Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa III) yang

merujuk pada ICD- 10 ( International Classification Diagnostic 10) menyebutkan

gejala depresi menjadi gejala utama dan gejala lainnya seperti yang terurai di bawah

ini :

Gejala utama meliputi :

1. Perasaan depresif atau perasaan tertekan.

2. Kehilangan minat dan semangat.

(4)

Gejala lain meliputi :

1. Konsentrasi dan perhatian berkurang.

2. Perasaan bersalah dan tidak berguna.

3. Tidur terganggu.

4. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang.

5. Perbuatan yang membahayakan diri atau bunuh diri.

6. Pesimistik.

7. Nafsu makan berkurang.

Berpedoman pada PPDGJ III yang rujuk pada ICD- 10 ( International

Classification Diagnostic 10), tingkat depresi dibedakan dalam depresi berat , sedang dan ringan sesuai dengan banyak & beratnya gejala serta dampaknya terhadap fungsi

kehidupan seseorang ( Maslim, 2001). Gejala yang dimaksudkan terdiri atas gejala

utama & gejala lainnya yaitu :

1. Ringan, sekurang-kurangnya harus ada dua dari tiga gejala depresi ditambah

dua dari gejala di atas ditambah dua dari gejala lainnya namun tidak boleh ada

gejala berat diantaranya. Lama periode depresi sekurang- kurangnya selama

dua minggu. Hanya sedikit kesulitan kegiatan sosial yang umum dilakukan.

2. Sedang, sekurang-kurangnya harus ada dua dari tiga gejala utama depresi

seperti pada episode depresi ringan ditambah tiga atau empat dari gejala

lainnya. Lama episode depresi minimum dua minggu serta menghadaapi

kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial.

3. Berat, tanpa gejala psikotik yaitu semua tiga gejala utama harus ada ditambah

kurangnya empat dari gejala lainnya. Lama episode

sekurang-kurangnya dua minggu akan tetapi apabila gejala sangat berat dan onset

sangat cepat maka dibenarkan untuk menegakkan diagnosa dalam kurun

waktu dalam dua minggu. Orang sangat tidak mungkin akan mampu

meneruska kegiatan sosial, perkerjaan, urusan rumah tangga kecuali pada taraf

(5)

2.1.4 Klasifikasi

1. Gangguan depresi mayor

Gejala-gejala dari gangguan depresi mayor berupa perubahan dari nafsu

makan dan berat badan, perubahan pola tidur dan aktivitas, kekurangan energi,

perasaan bersalah, dan pikiran untuk bunuh diri yang berlangsung setidaknya ±

2 minggu.

2. Gangguan dysthmic

Dysthmia bersifat ringan tetapi kronis (berlangsung lama). Gejala-gejala

dysthmia berlangsung lama dari gangguan depresi mayor yaitu selama 2 tahun

atau lebih. Dysthmia bersifat lebih berat dibandingkan dengan gangguan

depresi mayor, tetapi individu dengan gangguan ini masi dapat berinteraksi

dengan aktivitas sehari-harinya.

3. Gangguan depresi minor

Gejala-gejala dari depresi minor mirip dengan gangguan depresi mayor dan

dysthmia, tetapi gangguan ini bersifat lebih ringan dan atau berlangsung lebih

singkat.

Tipe-tipe lain dari gangguan depresi adalah:

4. Gangguan depresi psikotik

Gangguan depresi berat yang ditandai dengan gejala-gejala, seperti: halusinasi

dan delusi.

5. Gangguan depresi musiman.

Gangguan depresi yang muncul pada saat musim dingin dan menghilang pada

(6)

2.1.5 Faktor Resiko

Faktor resiko yang dapat menyebabkan terjadinya depresi adalah sebagai

berikut :

1. Kehilangan / meninggal orang (objek) yang dicintai.

2. Sikap pesimistik

3. Kecenderungan berasumsi negative terhadap suatu pengalaman yang

mengecewakan.

4. Kehilangan integritas pribadi

5. Berpenyakit degenerative kronik, tanpa dukungan sosial yang adekuat.

( Tamher, 2009 )

2.1.6 Diagnosis

Beck Depression Inventory dibuat oleh dr.Aaron T. Beck, BDI merupakan

salah satu instrumen yang paling sering digunakan untuk mengukur derajat keparahan

depresi. Para responden akan mengisi 21 pertanyaan, setiap pertanyaan memiliki skor

1 s/d 3, setelah responden menjawab semua pertanyaan kita dapat menjumlahkan skor

tersebut, Skor tertinggi adalah 63 jika responden mengisi 3 poin keseluruhan

pertanyaan. Skor terendah adalah 0 jika responden mengisi poin 0 pada keseluruhan

pertanyaan. Total dari keseluruhan akan menjelaskan derajat keparahan yang akan

(7)

2.2 HIV/AIDS

2.2.1 Definisi

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang

menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4

sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Gejala-gejala timbul

tergantung dari infeksi oportunistik yang menyertainya. Infeksi oportunistik terjadi

oleh karena menurunnya daya tahan tubuh (kekebalan) yang disebabkan rusaknya

sistem imun tubuh akibat infeksi HIV tersebut. ( Depkes RI , 2003 dalam Ginting ,

2014 )

AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang

merupakan dampak atau efek dari perkembang biakan virus HIV dalam tubuh

makhluk hidup. Sindrom AIDS timbul akibat melemah atau menghilangnya sistem

kekebalan tubuh karena sel CD4 pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh Virus

HIV. ( Depkes RI , 2003 dalam Ginting , 2014 )

2.2.2 Epidemiologi

Di Indonesia , HIV/AIDS pertama kali ditemukan di provinsi Bali pada tahun

1987. Hingga saat ini HIV/AIDS sudah menyebar di 386 kabupaten/kota di seluruh

provinsi di Indonesia. Berbagai upaya penanggulangan sudah dilakukan oleh

pemerintah berkerasama dengan berbagai lembaga di dalam negeri dan luar negeri.

Berikut ini ditampilkan situasi HIV/AIDS yang bersumber dari Ditjen PP-PL melalui

(8)

Gambar 2.1. Jumlah kasus HIV dan AIDS yang dilaporkan

pada tahun 1987 hingga September 2014.

(9)

Gambar 2.2. Jumlah infeksi HIV yang dilaporkan menurut

kelompok umur pada tahun 2010 hingga September 2014.

( Sumber : Ditjen PP & PL Kemenkes RI , 2014)

Gambar 2.3. Jumlah infeksi HIV yang dilaporkan menurut

jenis kelamin pada tahun 2008 hingga September 2014.

(10)

Gambar 2.4. Jumlah kasus HIV yang dilaporkan per

Provinsi dari tahun 1987 hingga September 2014.

( Sumber : Ditjen PP & PL Kemenkes RI , 2014)

Gambar 2.5. Persentase kumulatif AIDS yang dilaporkan menurut

kelompok umur dari tahun 1987 hingga September 2014.

(11)

Gambar 2.6. Persentase kumulatif AIDS menurut jenis

kelamin dari tahun 1987 hingga September 2014.

( Sumber : Ditjen PP & PL Kemenkes RI , 2014)

Gambar 2.7. Sepuluh provinsi yang melaporkan jumlah kumulatif AIDS

(12)

( Sumber : Ditjen PP & PL Kemenkes RI , 2014)

Gambar 2.8. Case fatality Rate AIDS yang dilaporkan

dari tahun 2000 sampai September 2014.

( Sumber : Ditjen PP & PL Kemenkes RI , 2014)

2.2.3 Patofisiologi

1. Proses Replikasi HIV

(a) Struktur dan Materi Genetik HIV

Secara structural morfologinya, bentuk HIV terdiri atas sebuah silinder yang

dikelilingi pembungkus lemak yang melingkar – melebar. Pada pusat

lingkaran terdapat untaian RNA. HIV mempunyai 3 gen yang merupakan

kompeonen fungsional dan structural. Tiga gen tersebut yaitu gag , pol, dan

env. Gag berarti grup antigen, pol mewakili polymerase dan env adalah kepanjangan dari envelope. Gen gag mengode protein inti. Gen pol mengode

enzim reverse transcriptase, protase dan integracse. Gen env mengode

komponen structural HIV yang dikenal dengan glikoprotein. Gen lain yang ada

dan juga penting dalam replikasi virus, yaitu : rev, nef, vif, vpu, dan vpr. (

(13)

Gambar 2.9. Struktur Hiv

(b) Siklus Hidup HIV

Sel pejamu yang terifeksi oleh HIV memiliki waktu hidup sangat pendek ; hal

ini berarti HIV secara terus-menerus menggunakan sel pejamu baru untuk

mereplikasi diri. Sebanyak 10 milyar virus dihasilkan setiap harinya. Serangan

pertama HIV akan tertangkap oleh sel dendrit pada membrane mukosa dan kulit pada

24 jam pertama setelah paparan. Sel yang terinfeksi akan membuat alur ke nodus

limfa dan kadang-kadang ke pembuluh darah perifer selama 5 hari setelah paparan,

dimana replikasi virus menjadi capat. Siklus hidup HIV dibagi menjadi 5 fase, yaitu :

1. Masuk dan mengikat

2. Reverse transcriptase

3. Replikasi

4. Budding

(14)

(c) Proses Replikasi HIV

Sel CD4 berperan sebagai coordinator system imun, menjadi sasaran uatama

HIV. HIV merusak sel-sel CD4 sehingga system kekebalan tubuh menjadi porak –

poranda. Berbeda dengan bakteri, misalnya : Mycobacterium tuberculosis yang

berkembang – biak dengan membelah diri, maka HIV sebagai retrovirus butuh sel

hidup untuk memperbanyak dirinya. Sel yang adi sasaran adalah sel – sel CD4. HIV

akan menempel di sel CD4, memasuki dan menggunakannya sebagai mesin fotokopi

untuk memperbanyak diri. Replikasinya begitu cepat, bisa mencapai jutaan setiap

harinya, sekaligus merusakkan sel CD4 yang digunakan sebagai host atau inang.

Replikasi HIV di dalam sel CD4 terjadi melalui 7 tahap, yaitu :

1) HIV menempelkan diri (fusi) ke sel inang yang dalam hal ini adalah sel CD4.

2) Setelah berfusi, selanjutnya RNA HIV, enzim reverse transcriptase dan

integrase serta protein-protein virus lainnya memasuki sel inang ( CD4).

3) DNA Virus bergerak ke nucleus sel CD4 dan dengan bantuan enzim integrase

berintegrasi dengan DNA sel inang (CD4).

4) Virus RNA baru digunakan sebagai geom (genetic informasi) RNA untuk

membuat protein virus.

5) Virus RNA baru dan protein bergerak ke permukaan sel dan terbentuklah

virus muda yang baru.

6) Virus HIV baru dimatangkan oleh enzim protease yang dilepas dari protein

HIV, dan siap memasuki sel CD4 lainnya.

(15)

2.2.4 Stadium HIV/AIDS

Pembagian stadium :

a. Stadium pertama : HIV

Infeksi dimulai dengan masuknya HIV dan diikuti terjadinya perubahan

serologis ketika antibody terhadap virus tersebut berubah dari negative

menadi positif. Rentang waktu seak HIV masuk ke dalam tubuh sampai tes

antibody terhadap HIV menjadi positif disebut window period. Lama window

period antara satu sampai tiga bulan, bahkan ada yang dapat berlangung sampai enam bulan.

b. Stadium kedua : Asimptomatik ( tanpa gejala )

Asimptomatik berarti bahwa di dalam organ tubuh terdapat HIV tetapi tubuh

tidak menunjukkan gejala-gejala. Keadaan ini dapat berlangsung sekitar 5-10

tahun. Cairan tubuh pasien HIV/AIDS tang tampak sehat ini sudah dapat

menularkan HIV kepada orang lain.

c. Stadium ketiga : pembesaran kelenar limfe secara menetap dan merata

(Persistent Generalized Lymphadenopathy), tidak hanya muncul pada satu

tempat saja dan berlangsung lebih dari satu bulan.

d. Stadium keempat : AIDS

Keadaan ini disertai adanya bermacam-macam penyakit, antara lain penyaki

konstitusional, penyakit syaraf dan penyakit infeksi sekunder.

(16)

2.2.5 Penularan HIV/AIDS

HIV dapat ditularkan dari orang yang terinfeksi ke orang lain melalui:

1. Darah (termasuk darah haid)

2. Air mani

3. Cairan vagina

4. ASI

Darah mengandung konsentrasi virus tertinggi, diikuti oleh air mani, cairan vagina,

diikuti oleh ASI. ( World Health Organization , 2014 )

Kegiatan yang dapat menyebabkan Penularan HIV adalah :

1. Kontak seksual tanpa pelindung :

Kontak darah langsung, termasuk jarum narkoba, suntikan, transfusi darah,

kecelakaan di layanan kesehatan atau produk darah tertentu. ( World Health

Organization, 2014 ) 2. Ibu ke bayi :

Sebelum atau selama kelahiran, atau melalui ASI

3. Hubungan seksual (vaginal dan anal):

Dalam alat kelamin dan dubur, HIV dapat menginfeksi selaput lendir secara

langsung atau masuk melalui luka yang disebabkan saat berhubungan. (

(17)

Mulut adalah sebuah lingkungan yang tidak ramah bagi HIV (dalam air mani,

cairan vagina atau darah), yang berarti risiko penularan HIV melalui

tenggorokan, gusi, dan mulut lebih rendah daripada melalui vagina atau

membran anal. Namun ada, kasus

yang didokumentasikan di mana HIV ditularkan secara lisan, jadi kita tidak

bisa mengatakan bahwa mendapatkan air mani yang terinfeksi HIV, cairan

vagina atau darah di mulut tanpa risiko. ( World Health Organization, 2014 )

5. Berbagi jarum suntik: Sebuah jarum suntik bisa lewat darah langsung dari

aliran darah satu orang ke orang lain. Ini adalah cara yang sangat efisien untuk

mengirimkan virus melalui darah. Berbagi jarum dianggap sebagai berisiko

tinggi. ( World Health Organization, 2014 )

2.2.6 Gejala Klinis

Tanda dan gejala klinis yang ditemukan pada penderita AIDS umumnya sulit

dibedakan karena bermula dari gejala klinis umum yang didapati pada penderita

penyakit lainnya. Secara umum dapat dikemukakan sebagai berikut:

a. Rasa lelah dan lesu

b. Berat badan menurun secara drastis

c. Demam yang sering dan berkeringat waktu malam

d. Mencret dan kurang nafsu makan

e. Bercak-bercak putih di lidah dan di dalam mulut

f. Pembengkakan leher dan lipatan paha

g. Radang paru

(18)

2.2.7 Diagnosis dan Klasifikasi

Diagnosis infeksi HIV & AIDS dapat ditegakkan berdasarkan klasifikasi klinis

WHO atau CDC. Di Indonesia diagnosis AIDS untuk keperluan surveilans

epidemiologi dibuat apabila menunjukkan tes HIV positif dan sekurang-kurangnya

didapatkan dua gejala mayor dan satu gejala minor.

Tabel 2.1. Gejala mayor dan gejala minor infeksi HIV/AIDS.

1. Berat badan menurun >10% dalam 1 bulan

2. Diare kronik berlangsung >1 bulan

(19)

Stadium Gejala Klinis

I 1.Tidak ada penurunan berat badan

2. Tanpa gejala/ hanya Limfadenopati

II 1. Penurunan berat badan < 10%

2. ISPA berulang : sinusitis, otitis

media, tonsillitis dan faringitis

3. Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir

4. Luka di sekitar bibir

5. Ulkus mulut berulang

III 1. Penurunan berat badan >10%

2. Diare, demam yang tidak

diketahui penyebabnya >1 bulan

3. Kandidiasis oral atau Oral Hairy

Leukoplakia

4.TB Paru dalam 1 tahun terakhir

5. Limfadenitis TB

6. Infeksi bakterial yang berat:

(20)

IV 1. Sindroma Wasting (HIV)

2. Pneumoni Pneumocystis

3. Pneumonia Bakterial yang berat

berulang dalam 6 bulan

4. Kandidiasis esofagus

5. Herpes Simpleks Ulseratif >1

bulan

6. Limfoma

7. Sarkoma Kaposi

8. Kanker Serviks yang invasive

9. Retinitis CMV

10. TB Ekstra paru

11. Toksoplasmosis

(21)

2.2.8 Terapi HIV

Saat ini telah diketemukan obat untuk menghambat penggandaan virus yang

bekerja dengan berbagai cara sebagai berikut:

a. Obat anti HIV yang pertama adalah: Reverse Transcriptase Inhibitor

(RTI)

fungsinya menghalang penciptaan DNA virus dari RNA dengan

membuat sel tiruan yang mengganggu proses ini. Contoh obatnya:

Zidovudine, Didanosine,Zalcitabine, Stavudine, dan sebagainya.

b. Obat anti HIV yang juga mengganggu proses penciptaan DNA virus dari

RNA, Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (analog nonnukleosida/NNRTI), obat ini mengikat enzim reverse transciptase

dan menghalang kegiatannya. Contoh obatnya: Saquinavir,

Indinavir,Nelfinavir.

c. Protease inhibitor : Menghalang kegiatan protease, sebuah enzim yang memotong rantai protein HIV menjadi protein tertentu yang diperlu untuk

merakit tiruan virus yang baru.

d. Attachment dan Fusion Inhibitor: Mencegah pengikatan HIV pada sel.

e. Obat Antisense:

Obat yang mengikat pada virus untuk mencegah fungsinya.

(22)

2.3.1 Hubungan depresi dengan HIV/AIDS

Gangguan mood, terutama depresi , adalah komplikasi kejiwaan paling umum

yang terkait dengan penyakit HIV/AIDS. Studi menemukan orang dengan HIV/AIDS

memiliki dua kali risiko depresi dibandingkan mereka yang berisiko HIV tetapi tidak

sebenarnya terinfeksi.Depresi juga bisa menjadi konsekuensi dari cedera otak HIV

atau obat antiretroviral . Satu studi menemukan bahwa jumlah kumulatif prevelensi

depresi pada pasien HIV/AIDS adalah lebih dari 22%. (American Psychiatric

Association, 2012)

Banyak profesional perawatan kesehatan percaya bahwa diagnosis HIV/AIDS

akan menghasilkan depresi. Meskipun diagnosis pasti akan memicu kecemasan dan

kesusahan-kadang begitu parah itu merusak fungsi dan bahkan dapat menyebabkan

bunuh diri-ini jenis respons emosional-situasi tertentu adalah tidak sama dengan

depresi. Seseorang tertekan oleh diagnosis HIV/ AIDS mungkin memang

memerlukan pengobatan, yang paling mungkin untuk reaksi penyesuaian, tapi

tekanan akan menanggapi mendukung dan lain jenis psikoterapi daripada

obat-obatan. (American Psychiatric Association, 2012)

Sejumlah obat HIV juga dapat memiliki efek samping yang dapat menyebabkan

(23)

Tabel 2.3. Jenis obat HIV dan efek sampingnya

Obat HIV & Efek samping

Interleukin

- Depresi , disorientasi ,kebingungan dan koma

Steroid

- Mania atau depresi

Efavirenz (sustiva)

- Konsentrasi menurun,depresi , kegelisahan , mimpi buruk

Vinblastine

- Depresi , gangguan kognitif

AZT ( Retrovir , AZT )

- Mania , depresi

Interferon

- Neurasthenia sindrom kelelahan,depresi

Zalcitabine ( Hivid )

- Depresi , gangguan kognitif

Gambar

Gambar 2.1. Jumlah kasus HIV dan AIDS yang dilaporkan
Gambar 2.2.  Jumlah infeksi HIV yang dilaporkan menurut
Gambar 2.4.  Jumlah kasus HIV yang dilaporkan per
Gambar 2.6.  Persentase kumulatif AIDS menurut jenis
+4

Referensi

Dokumen terkait

Depresi merupakan suatu gangguan mental umum yang ditandai dengan mood tertekan, kehilangan kesenangan atau minat, perasaan bersalah atau harga diri rendah,

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tingkat depresi terbanyak pada penderita HIV/AIDS di RSUP Haji Adam Malik, Medan pada tahun 2013 adalah depresi sedang dan

Berdasarkan penelitian Tirto jiwo depresi merupakan suatu gangguan alam perasaan (suasana hati atau mood) yang ditandai dengan perasaan sedih yang berlebihan, murung,

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tingkat depresi terbanyak pada penderita HIV/AIDS di RSUP Haji Adam Malik, Medan pada tahun 2013 adalah depresi sedang dan

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tingkat depresi terbanyak pada penderita HIV/AIDS di RSUP Haji Adam Malik, Medan pada tahun 2013 adalah depresi sedang dan

campuran; gejala-gejala suasana perasaan bukan karena skizofrenia atau menjadi gejala yang menutupi gangguan lain seprti skizofrenia; gejala-gejalanya tidak disebabkan oleh

Depresi merupakan suatu gangguan mental umum yang ditandai dengan mood tertekan, kehilangan kesenangan atau minat, perasaan bersalah atau harga diri rendah,

Depresi merupakan suatu gangguan alam perasaan (suasana hati atau mood) yang ditandai dengan perasaan sedih yang berlebihan, (suasana hati atau mood) yang ditandai