LAMPIRAN 1
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : DayanaSalamaGulbintiHussainGul
Tempat /TanggalLahir: Sabah / 08 September 1992
Agama : Islam
Alamat : Asrama Sri Kandi, JalanSei Padang
RiwayatPendidikan : SRK Convent St Francis (1999-2004)
SMK Convent St. Francis (2005) SijilPelajaran Malaysia
President College Kuala Lumpur (2010)
RiwayatOrganisasi:Ahli Persatuan Kebangsaan Pelajar-Pelajar Malaysia di Medan.
LAMPIRAN 2
LEMBAR PENJELASAN
Dengan hormat,
Saya yang bernama Dayana Salama Gul / NIM 100100272 adalah mahasiswi yang sedang menjalani pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Saat ini, saya sedang mengadakan penelitian dengan judul ῾Tingkat Keparahan Depresi Pada Penderita HIV/AIDS᾽.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat parahnya depresi oleh penderita HIV/AIDS di RSUP Haji Adam Malik Medan. Adapun manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat membantu menurunkan depresi pada penderita HIV/AIDS. Untuk keperluan tersebut, saya memohon kesediaan Saudari untuk mengisi kuesionar dengan jujur dan apa adanya. Jika Saudari bersedia, silalah menandatangani persetujuan ini sebangai bukti kesukarelaan anda.
Identitas pribadi saudari sebagai partisipan akan dirahasiakan dan semua informasi yang diberikan hanya akan digunakan untuk penelitian ini. Bila terdapat hal yang kurang dimengerti, Saudari dapat bertanya langsung kepada peneliti.
LAMPIRAN 3
LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP) ( INFORM CONSENT )
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama :
Umur :
Alamat :
Telp/Hp :
Setelah mendapat penjelasan dari peneliti tentang ‟Tingkat Keparahan Depresi Pada Penderita HIV/AIDS di RSUP Haji Adam Malik, Medan” , maka dengan ini saya secara sukarela dan tanpa paksaan menyatakan bersedia ikut serta dalam penelitian tersebut.
LAMPIRAN 4
Isikan data peribadi anda di bawah.
Data peribadi
NAMA: __________________________________________________
UMUR:___________________________________________________
STATUS PERKAHWINAN: ________________________________
PEKERJAAN: _____________________________________________
AGAMA: _________________________________________________
PENDIDIKAN: ____________________________________________
LAMPIRAN 5 KUESIONER
1. Kedaan perasaan depresi ( sedih , putus asa , tak berdaya , tidak berguna) 0. Tidak ada
1. Perasaan ini dinyatakan hanya bila ditanya 2. Perasaan ini dinyatakan secara vertikal spontan
3. Perasaan yang nyata tanpa komunikasi verbal misalnya ekspresi mukanya , bentuk suara , dan kecenderungan menangis
4. Pasien menyatakan perasaan yang sesungguhnya ini dalam komunikasi baik verbal maupun non- verbal secara spontan.
2. Perasaan bersalah 0. Tidak ada
1. Menyalahkan diri sendiri , merasa sebagai penyebab penderita orang lain
2. Ide-ide bersalah atau renungan tentang kesalahan-kesalahan pada masa lalu
3. Sakit ini adalah sebagai hukumannya , delusi bersalah.
4. Suara-suara kejaran atau tuduhan-tuduhan dengan/dari halusinasi penglihatan tentang hal-hal yang mengancam.
3. Bunuh diri 0. Tidak ada
1. Merasa hidup tidak ada gunanya
2. Mengharapkan kematian atau pikiran-pikiran lain kearah itu. 3. Ide-ide bunuh diri dan langkah-langkah kearah itu.
4. Percobaan bunuh diri.
4 . insomnia (initial)
1. Keluhan kadang-kadangsukar masuk tidur misalnya lebih dari setengah jam baru dapat masuk tidur
2. Keluhan tiap malam sukar masuk tidur
5 . Insomnia (middle)
0. Tidak ada kesukaran mempertahankan tidur
1. Pasien mengeluh gelisah dan terganggu sepanjang malam
2. Terjaga sepanjang malam ( bangun dari tempat tidur , kecuali buang air kecil)
6 . Insomnia (late)
0. Tidak ada kesukaran atau keluhan bangun terlalu pagi 1. Bangun diwaktu fajar , tetapi tidur lagi
2. Bangun diwaktu fajar , tetapi tidak dapat tidur lagi.
7 . Kerja dan kegiatan-kegiatannya 0. Tidak ada kesukaran
1. Pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan ketidakmampuan keletihan atau kelemahan yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan kerja atau hobby.
2. Kehilangan minat atau kegiatan-kegiatan , hobby atau pekerjaan , baik secara langsung maupun tidak , pasien menyatakan kelesuan , keragu-raguan dan rasa bimbang (merasa bahwa ia harus memaksakan diri untuk bekerja atau dalam kegiatan lainnya)
3. Berkurangnya waktu untuk aktifitas sehari-hari atau kurangnya produktivitas. Bila pasien tidak sanggup beraktifitas sekurang-kurangnya tiga jam sehari dalam kegiatan sehari-hari kecuali tugas bangsal
8. Kelambatan (lambat dalam berfikir dan berbicara , gagal berkomunikasi, nnn
4. Meremas-remas tangan, menggigit-gigit kuku dan bibir,menarik-narik rambut
10. Ansietas (psikis) 0. Tidak ada
1. Ketegangan subjektif dan mudah tersinggung 2. Mengkhawatirkan hal-hal kecil
3. Sikap kekhawatirkan yang tercermin di wajah atau pembicaraan 4. ketakutan yang diutarakan tanpa ditanya.
11. Ansietas (somatik)
Ansietas berhubungan fisiologi seperti : gastrointestinal (mulut kering, diare) ...kardiovaskuler (palpitasi , sakit kepala) pernafasan
12. Gejala somatik gastrointestinal 0. Tidak ada
1. Nafsu makan berkurang tapi dapat makan tanpa dorongan teman, merasa ... ...perutnya penuh
2. Sukar makan tanpa dorongan teman, membutuhkan pencahar untuk buang ...air besar atau obat-obatan untuk saluran pencernaan.
13. Gejala somatik umum 0. Tidak ada
1. Anggota geraknya, punggung atau kepala terasa berat
2. Sakit punggung, kepala dan otot-otot, hilangnya kekuatan dan kemampuan ...(yang jelas)
14. Genital (gejala pada genital dan libido, misalnya hilangnya libido dan gangguan ...menstruasi)
0. Tidak ada 1. Ringan 2. Berat
15. Hipokondriasis 0. Tidak ada 1. Dihayati
2. Preokupasi mengenai kesehatan diri sendiri
3. Sering mengeluh, membutuhkan pertolongan dan lain-lain
16. Kehilangan berat badan ( A atau B ) A. Bila hanya diri riwayatnya
0. Tidak ada kehilangan berat badan
1. Kemungkinan berat badan kurang berhubungan dengan sakit sekarang 2. Jelas berkurang berat badannya
B. Dibawah pengawasan dokter bangsal secara mingguan bila jelas berat badan ...berkurang menurut ukuran
0. Kurang dari 0,5 kg seminggu 1. Lebih dari 0,5 kg seminggu 2. Lebih dari 1 kg seminggu
3. Tidak dinyatakan lagi kehilangan berat badan
17. Insight (pemahaman diri mengetahui sedang depresi dan sakit) 0. Mengetahui sedang depresi dan sakit
1..Mengetahui sakit tetapi berhubungan dengan penyebab-penyebab iklim ...makanan , bekerja berlebih-lebihan , virus , perlu istirahat dan lain-lain
18. Variasi harian
A. Catat mana yang lebih berat, waktu pagi atau malam hari, kalau tidak ada ...gangguan beri tanda nol
0. Tidak ada perubahan 1. Lebih buruk waktu malam 2. Lebih buruk waktu pagi
B. Kalau ada perubahan-perubahan , ditandai derajat perubahan tersebut. ...Ditandai nol jika tidak ada perubahan.
0. Tidak ada 1. Ringan 2. Berat
19. Depersonalisasi dan derealisasi 0. Tidak ada
1. Ringan 2. Sedang 3. Berat
20. Gejala-gejala paranoid 0. Tidak ada
1. Kecurigaan
2. Pikiran dirinya menjadi pusat perhatian atau peristiwa / kejadian diluar, ...tertuju pada dirinya
3. Delusi kejaran
21. Gejala-gejala obsesi dan kompulsi 0. Tidak ada
1. Ringan 2. Berat
No. Nama JK Usia P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 P11 P12 P13 P14 P15 P16A P16B P17 P18A P18B P19 P20 P21 Totalskor kategori
1 A 1 29 3 1 0 1 1 2 3 1 0 0 2 1 1 0 1 2 2 0 1 1 0 0 0 23 3
2 B 1 26 3 2 0 1 0 1 2 0 1 3 1 1 1 0 1 2 2 0 1 1 0 0 0 23 3
3 C 1 31 3 1 0 1 0 2 2 1 0 2 1 0 1 0 1 1 0 0 2 1 0 1 0 20 3
4 D 2 28 1 0 0 1 0 0 1 0 0 2 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 0 0 13 2
5 E 2 32 3 1 1 2 1 1 3 1 1 3 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 26 4
6 F 1 25 3 1 1 1 0 2 3 0 0 3 1 1 1 0 2 1 1 0 1 1 1 0 0 24 3
7 G 2 38 3 0 1 1 0 2 3 0 1 3 2 1 1 0 1 2 1 0 1 1 1 1 0 27 4
8 H 1 42 3 2 1 1 0 2 2 1 0 3 1 1 1 0 2 1 1 0 1 1 1 1 0 26 4
9 I 1 38 3 3 2 2 1 1 4 3 2 3 2 2 1 0 1 2 1 0 1 1 2 1 1 39 4
10 J 2 30 4 2 1 2 2 2 3 3 2 3 3 2 2 0 3 3 3 0 2 1 2 1 1 47 4
11 K 1 33 2 1 1 2 0 1 2 1 0 3 0 0 0 0 2 2 1 0 2 1 1 1 0 23 3
12 L 1 32 1 0 1 2 1 2 2 1 1 0 1 0 0 0 2 1 1 0 0 1 1 0 0 18 3
13 M 2 32 2 0 1 0 0 0 0 1 2 2 3 2 0 0 0 2 1 0 0 1 1 2 1 21 3
14 N 1 30 1 1 1 1 1 2 0 1 2 3 4 1 1 0 2 2 2 0 2 1 1 1 1 31 4
15 O 1 25 3 1 2 0 0 0 3 0 0 0 3 1 0 1 2 2 1 0 0 0 1 1 0 21 3
16 P 1 36 1 0 0 0 0 2 4 4 0 0 2 1 1 0 2 1 1 0 0 0 1 0 0 20 3
17 Q 1 30 3 1 0 1 0 1 2 1 1 3 1 1 1 0 2 2 2 0 0 0 1 0 0 23 3
18 R 1 28 1 1 0 0 0 2 2 1 0 2 2 1 2 0 0 2 2 0 2 1 1 1 1 24 3
19 S 1 33 2 2 0 2 1 2 4 1 2 3 2 1 1 0 1 2 1 0 0 0 1 1 0 29 4
20 T 2 34 3 2 1 2 1 2 1 1 2 3 0 1 1 0 1 2 2 0 1 1 1 1 1 30 4
21 U 2 29 2 3 1 2 0 1 4 0 0 2 0 0 0 0 0 2 1 0 0 0 1 1 2 21 3
22 V 2 34 3 1 0 1 0 2 2 1 0 3 2 1 1 0 2 2 1 0 2 1 1 1 0 27 4
23 W 1 27 1 2 0 1 0 1 2 0 0 2 1 1 1 0 1 2 1 0 2 1 0 1 0 21 3
26 Z 2 35 2 0 1 2 0 1 1 0 1 1 2 1 1 0 2 3 2 0 1 1 0 2 1 25 4
27 AA 2 27 3 0 0 1 0 0 3 1 0 2 2 0 1 0 2 2 1 0 2 1 0 1 0 22 3
28 BB 1 31 1 1 0 2 0 0 2 1 1 3 2 1 1 0 1 2 1 0 1 1 0 1 0 22 3
Jenis Kelamin : 1- laki-laki 2- perempuan
JENIS KELAMIN
Statistics
jeniskelamin
N Valid 28
Missing 0
jeniskelamin
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid laki-laki 17 60.7 60.7 60.7
perempuan 11 39.3 39.3 100.0
USIA
Frequency Percent Valid Percent
kelumur
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 25-29 10 35.7 35.7 35.7
30-34 12 42.9 42.9 78.6
35-39 5 17.9 17.9 96.4
> 40 1 3.6 3.6 100.0
KATEGORI DEPRESI
Statistics
kategori
N Valid 28
Missing 0
kategori
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid depresiringan 1 3.6 3.6 3.6
depresisedang 16 57.1 57.1 60.7
depresiberat 11 39.3 39.3 100.0
CROSS TABULATION
TINGKAT DEPRESI BERDASARKAN JENIS KELAMIN
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
jeniskelamin * kategori 28 100.0% 0 .0% 28 100.0%
jeniskelamin * kategoriCrosstabulation
kategori
Total depresiringan depresisedang depresiberat
jeniskelamin laki-laki Count 0 12 5 17
% within jeniskelamin .0% 70.6% 29.4% 100.0%
% of Total .0% 42.9% 17.9% 60.7%
perempuan Count 1 4 6 11
% within jeniskelamin 9.1% 36.4% 54.5% 100.0%
% of Total 3.6% 14.3% 21.4% 39.3%
Total Count 1 16 11 28
% within jeniskelamin 3.6% 57.1% 39.3% 100.0%
TINGKAT KEPARAHAN DEPRESI BERDASARKAN KELOMPOK UMUR
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
kelumur * kategoridepresi 28 100.0% 0 .0% 28 100.0%
kelumur * kategoridepresiCrosstabulation
kategoridepresi
Total depresiringan depresisedang depresiberat
kelumur 25-29 Count 1 9 0 10
% within kelumur 10.0% 90.0% .0% 100.0%
% of Total 3.6% 32.1% .0% 35.7%
30-34 Count 0 6 6 12
% within kelumur .0% 50.0% 50.0% 100.0%
% of Total .0% 21.4% 21.4% 42.9%
35-39 Count 0 1 4 5
% within kelumur .0% 20.0% 80.0% 100.0%
% of Total .0% 3.6% 14.3% 17.9%
> 40 Count 0 0 1 1
% within kelumur .0% .0% 100.0% 100.0%
% of Total .0% .0% 3.6% 3.6%
% within kelumur 3.6% 57.1% 39.3% 100.0%
% of Total 3.6% 57.1% 39.3% 100.0%
P1
Statistics
P1
N Valid 28
Missing 0
P2 P1
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 1 7 25.0 25.0 25.0
2 6 21.4 21.4 46.4
3 14 50.0 50.0 96.4
4 1 3.6 3.6 100.0
Total 28 100.0 100.0
Statistics
P2
N Valid 28
P3
P4 P2
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0 7 25.0 25.0 25.0
1 12 42.9 42.9 67.9
2 7 25.0 25.0 92.9
3 2 7.1 7.1 100.0
Total 28 100.0 100.0
Statistics
P3
N Valid 28
Missing 0
P3
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0 13 46.4 46.4 46.4
1 13 46.4 46.4 92.9
2 2 7.1 7.1 100.0
Total 28 100.0 100.0
Statistics
P4
N Valid 28
P5
P6 P4
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0 4 14.3 14.3 14.3
1 14 50.0 50.0 64.3
2 10 35.7 35.7 100.0
Total 28 100.0 100.0
Statistics
P5
N Valid 28
Missing 0
P5
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0 19 67.9 67.9 67.9
1 8 28.6 28.6 96.4
2 1 3.6 3.6 100.0
Total 28 100.0 100.0
P7
P7
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0 2 7.1 7.1 7.1
1 3 10.7 10.7 17.9
P6
N Valid 28
Missing 0
P6
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0 5 17.9 17.9 17.9
1 9 32.1 32.1 50.0
2 14 50.0 50.0 100.0
Total 28 100.0 100.0
Statistics
P7
N Valid 28
2 11 39.3 39.3 57.1
3 8 28.6 28.6 85.7
4 4 14.3 14.3 100.0
Total 28 100.0 100.0
P8
Statistics
P8
N Valid 28
Missing 0
P9 P8
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0 9 32.1 32.1 32.1
1 16 57.1 57.1 89.3
3 2 7.1 7.1 96.4
4 1 3.6 3.6 100.0
Total 28 100.0 100.0
Statistics
P9
N Valid 28
Missing 0
P10
P11
Statistics
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0 14 50.0 50.0 50.0
1 8 28.6 28.6 78.6
2 6 21.4 21.4 100.0
Total 28 100.0 100.0
Statistics
P10
N Valid 28
Missing 0
P10
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0 5 17.9 17.9 17.9
1 1 3.6 3.6 21.4
2 7 25.0 25.0 46.4
3 15 53.6 53.6 100.0
P11
N Valid 28
Missing 0
P11
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0 3 10.7 10.7 10.7
1 9 32.1 32.1 42.9
2 12 42.9 42.9 85.7
3 3 10.7 10.7 96.4
4 1 3.6 3.6 100.0
Total 28 100.0 100.0
P12
Statistics
P12
N Valid 28
Missing 0
P12
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0 5 17.9 17.9 17.9
1 20 71.4 71.4 89.3
2 3 10.7 10.7 100.0
P13
Statistics
P13
N Valid 28
Missing 0
P14
P14
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0 27 96.4 96.4 96.4
1 1 3.6 3.6 100.0
Total 28 100.0 100.0
P13
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0 5 17.9 17.9 17.9
1 21 75.0 75.0 92.9
2 2 7.1 7.1 100.0
Total 28 100.0 100.0
Statistics
P14
N Valid 28
P15
P16A Statistics
P15
N Valid 28
Missing 0
P15
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0 4 14.3 14.3 14.3
1 11 39.3 39.3 53.6
2 12 42.9 42.9 96.4
3 1 3.6 3.6 100.0
Total 28 100.0 100.0
Statistics
P16A
N Valid 28
Missing 0
P16A
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 1 7 25.0 25.0 25.0
2 19 67.9 67.9 92.9
3 2 7.1 7.1 100.0
P16B
P17 Statistics
P16B
N Valid 28
Missing 0
P16B
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0 1 3.6 3.6 3.6
1 19 67.9 67.9 71.4
2 7 25.0 25.0 96.4
3 1 3.6 3.6 100.0
Total 28 100.0 100.0
Statistics
P17
N Valid 28
Missing 0
P17
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
P18A
P18B Statistics
P18A
N Valid 28
Missing 0
P18A
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0 7 25.0 25.0 25.0
1 12 42.9 42.9 67.9
2 9 32.1 32.1 100.0
Total 28 100.0 100.0
Statistics
P18B
N Valid 28
Missing 0
P18B
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0 5 17.9 17.9 17.9
1 23 82.1 82.1 100.0
P19
P19
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0 10 35.7 35.7 35.7
1 16 57.1 57.1 92.9
2 2 7.1 7.1 100.0
Total 28 100.0 100.0
P20
Statistics
P20
N Valid 28
Missing 0
Statistics
P19
N Valid 28
Missing 0
P20
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0 8 28.6 28.6 28.6
P21
TOTAL SKOR
Statistics
Totalskor
N Valid 28
Missing 0
Totalskor
2 2 7.1 7.1 100.0
Total 28 100.0 100.0
Statistics
P21
N Valid 28
Missing 0
P21
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0 20 71.4 71.4 71.4
1 7 25.0 25.0 96.4
2 1 3.6 3.6 100.0
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 13 1 3.6 3.6 3.6
18 1 3.6 3.6 7.1
20 2 7.1 7.1 14.3
21 4 14.3 14.3 28.6
22 2 7.1 7.1 35.7
23 5 17.9 17.9 53.6
24 2 7.1 7.1 60.7
25 1 3.6 3.6 64.3
26 3 10.7 10.7 75.0
27 2 7.1 7.1 82.1
29 1 3.6 3.6 85.7
30 1 3.6 3.6 89.3
31 1 3.6 3.6 92.9
39 1 3.6 3.6 96.4
47 1 3.6 3.6 100.0
Chandra PS, Desai G, Ranjan S. (2005 ). HIV & Psychiatric Disorders.india:
Indian J Med ; 121 : 451-467
Daftar Pustaka
Coffin, J., Haase, A., Levy, J. A., Montagnier, L., Oroszlan, S., Teich, N., …..Temin, H., Toyoshima, K., Varmus, H., and Weiss, R. A. (1986).What to
……call the AIDS virus?
Creed F. (1997). Assessing Depression In The Context of Physical Illness in.
New York: Robertson MM, Katona CL, eds. Depression And Physical illness. John Willey & Sons Ltd. 3-17
Cruess DG, Douglas SD, et al. (2005). Association of Resolution of Major Depression With Increased Natural Killer Cell Activity Among HIV-Seropositive
Women. AM J Psychiatry. 162: 2125-2130.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2008) . Diakses pada 20 April
…..2013 dari
Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2007). Diakses pada 20 April
…..2013 dari
Ditijen PP & PL kemenkes RI, 2011. Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia.
…..Diakses pada 08 April 2013 dari:
Djoerban Z, Djauzi S (2006). HIV/AIDS di Indonesia. Dalam: Sudoyo AW,
Setiyohadi.B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid.III. Edisi 4. Jakarta: Balai penerbit FK-UI ; 2006. Hlm 1825-1829
Fauci AS, Lane HC (2001). Human Immunodeficiency Virus (HIV) Disease : AIDS and related disorders in: Braunwald E, Fauci AS. Harrison’s Principles of
Internal Medicine. Vol.II. 15th ed. New York : McGraw-Hill . 1825-1911.
Jawetz Ernest, George F. Brooks, Janet S. Butel, Stephen A. Morse
(2001). Jawetz , Melnick & Adelberg’s Medical Microbiology : Appelton & Lange.
Kaplan & saddock (2005 ). Kaplan & Sadock’s Comprehensive textbook of pshychiatry. Vol I.. 8th ed. Philadelphia: Lippincot Williams &Wilkins .426-449.
Kaplan&Sadock (2010), Buku Ajar Psikiatri Klinis Edisi 2, Jakarta:EGC
Lumongga, L. N. (2009). Depresi tinjauan psikologis.Jakarta : Kencana Prenada
…..Media Grup
Laserman J, Jackson ED (1999). Progeression to AIDS : The Effects of Stress, Depressive Symptoms and Social Support. Psychosomatic Medicine.397-406.
Maslim R, (2002). Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ III.Jakarta
Pohan HT. (2006). Oppurtunistic Infection of HIV Infected/AIDS Patients in Indonesia : Problem and Challenge. indonesia: The Indonesian Journal of Internal
Medicine . 169-173
Popovic, M., Sarngadhran, M. G., Read, E. (1984). Detection, Isolation, and
…..continuous production of cytopathic retroviruses (HTLV-III) from patients
…..with AIDS and pre-AIDS. Hlm: 497-500
Penzak SR, Reddy YS, Grimsley SR. (2000). Depression in Patients With HIV
…..Infection. American Journal of Health-System Pharmacy ; 57 : 376-386
Rabkin J. (2006). HIV and Mood Disorders. ACRIA Update ; 15 : 1-5
UNAIDS. (2012). Global Report. Diakses pada 20 April 2013 dari:
Vaidya SA, Klotman M, Simon V (2008). HIV/AIDS at 25 :History, Epidemiology, Clinical Manisfestations, and Treatment.In : Cohen MA, Gorran
Vardhana S, Laxminarayana B. (2007). Depression in Patients with HIV/AIDS.
Kuwait Medical Journal ; 39 : 227-230
WHO.(2012). Health Statistics. Diakses pada 20 April 2013 dari
:
WHO.(2008). Staduim Klinik HIV. Diaskses pada 20 April 2013 dari
:
BAB 3
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1. Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah rangkaian variabel-variabel yang tersusun dalam suatu bagian yang menjelaskan hubungan masing-masing sesuai dengan tujuan penelitian. Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah:
Penderita HIV/AIDS
- Umur
- Jenis Kelamin
Gambar 3.1 Kerangka konsep penelitian
3.2. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah rumusan pengertian variabel yang akan dipakai sebagai pegangan dalam pengumpulan data. definisi operasional dalam penelitian ini antara lain:
3.2.1. Penderita HIV/AIDS:
Penderita yang telah didiagnosa oleh dokter menderita HIV/AIDS yang memenuhi kriteria diagnostik.
3.2.2. Sindrom Depresif :
Suatu sindroma klinis yang terdiri dari sifat mood yang menurun (perasaan sedih yang menyakitkan), kesulitan dalam berpikir dan retardasi psikomotor yang diiukur dengan menggunakan kuesioner.
Cara ukur:
Pengukuran yang akan digunakan adalah metode wawancara..
Alat ukur:
Kuesioner Hamilton Depression Rating Scale (HDRS). Kuesioner ini mengandung 21 pertanyaan. Jumlah skor jawaban pasien dari 21 pertanyaan adalah nilai 0 dan nilai maksimal adalah 65.
SKOR INTEPRETASI
0-6 Tidak Ada Depresi
7-17 Depresi Ringan
18-24 Depresi Sedang
>25 Depresi Berat
Ini juga mengukur karakteristik demografik mengikut umur dan jenis kelamin.
Umur :
Umur adalah lama waktu hidup seseorang yang dapat diketahui pada tanggal, bulan, tahun kelahirannya.
Jenis kelamin:
Perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
Skala pengukuran:
BAB 4
METODE PENELITIAN 4.1Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan dilakukan merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Disebut studi deskriptif kerana ingin menganalisa tingkat keparahan sindroma depresi pada penderita HIV/AIDS di RSUP Haji Adam Malik Medan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan cross sectional dimana pengambilan data dilakukan hanya sekali bagi tiap subyek pada saat wawancara.
4.2. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Departement Ilmu Penyakit Dalam, RSUP Haji Adam Malik, Medan. Waktu pengambilan data direncanakan pada bulan September hingga Oktober 2013. Penelitian ini akan dilaksanakan setelah mendapatkan persetujuan komisi etik tentang pelaksanaan penelitian bidang kesehatan FK USU.
4.3Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua penderita HIV/AIDS yang dirawat inap di RSUP Haji Adam Malik, Medan dari 18 september- 10 oktober 2013
4.3.2 Sampel
Yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah penderita HIV/AIDS yang dirawat inap di Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSUP Haji Adam Malik, Medan dari 18 September- 10 Oktober 2013. Pemilahan sampel dengan menggunakan total sampling dimana saya telah mengambil seluruh populasi sebagai sampel.
4.4. Teknik Pengumpulan Data
Kuesioner kedua adalah untuk mengetahui tingkat keparahan depresi pada penderita HIV/AIDS.
Pada penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data primer. Data primer yaitu dengan metode pemberian kuesioner HDRS pada penderita HIV/AIDS yang telah memenuhi kriteria inklusi.
Sebelum mengisi kuesisoner, responden diberi penjelasan tentang tujuan, manfaat penelitian ini dan kesediaan calon responden untuk menjadi responden. Seluruh responden dalam penelitian ini telah menyatakan kesediaannya menjadi responden yang ditunjukkan dengan menandatangani surat persetujuan menjadi responden.
Setelah responden menyatakan setuju, yang ditunjukkan dengan pengisian
informed concent, kemudian responden diberi pengarahan tentang cara pengisian
kuesioner. Responden diminta untuk mengisi kuesioner sendiri tanpa diwakilkan atau meminta pendapat orang lain. Setelah responden mengisi kuesioner, peneliti mengumpulkan dan memeriksa kelengkapannya. Kuesioner yang akan digunakan adalah Hamilton Depression Rating Scale (HRDS) .
4.5Pengolahan dan Analisa Data
Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner Hamilton Depression Rating
Scale (HDRS) yang berisi pertanyaan tentang tingkat keparahan depresi yang
dialami oleh penderita HIV/AIDS. Kuesioner ini terdiri dari 2 bagian yaitu bagian A tentang data demografi meliputi nama, usia, jenis kelamin, status perkahwinan, tingkat pendidikan, dan pekerjaan. Bagian B berisi pertanyaan tentang tingkat parahnya depresi yang dialami oleh penderita HIV/AIDS.
1) Editing
Meneliti kembali kelengkapan isi lembar kuesioner. Biasanya dilakukan pada tempat pengambilan data, sehingga mempermudah dalam melengkapi data bila terjadi kekurangan.
2) Coding
Dilakukan dengan memberi tanda pada masing-masing jawaban dengan kode berupa angka, selanjutnya dimasukkan ke dalam lembar tabel kerja untuk mempermudah pengolahan.
3) Tabulating
Berupa bentuk tabel yang terdiri dari beberapa baris dan beberapa kolom, yang digunakan untuk memaparkan sekaligus beberapa variabel hasil observasi, survei atau penelitian sehingga mudah dibaca dan mengerti.
4) Skoring
Melakukan pemberian skor pada item
5) Analisa data
BAB 5
HASIL PENELITIAN 5.1 Hasil Penelitian
Proses pengambilan data untuk penelitian ini telah dilakukan pada tanggal 18 September sampai 10 Oktober 2013 di RSUP Haji Adam Malik Medan dengan total responden sebanyak 28 orang. Berdasarkan hasil kuesioner dan wawancara terpimpin yang telah dikumpulkan dan dianalisa, maka dapat disimpulkan hasil penelitian dalam paparan di bawah ini.
5.1.1 Deskripsi lokasi penelitian
Penelitian dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan di kecamatan Medan Sunggal. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit kelas A sesuai SK Menkes No. 335/Menkes /SK/VII/1990 dan juga sebagai Rumah Sakit Pendidikan sesuai SK Menkes No. 502/Menkes /SK/IX/1991 yang memiliki visi sebagai pusat unggulan pelayanan kesehatan dan pendidikan juga merupakan pusat rujukan kesehatan untuk wilayah pembangunan A yang meliputi Provinsi Sumatera Utara, D.I Aceh, Sumatera Barat dan Riau.
5.1.2 Karakteristik Responden
Tabel 6. Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin di RSUP Haji Adam Malik, Medan
Tabel 6 menunjukkan bahwa distribusi responden menurut jenis kelamin yang terbanyak adalah laki-laki yaitu, sebanyak 17 orang ( 60.7% ).
Tabel 7. Distribusi Responden Menurut Kelompok Umur
Table 7 menunjukkan bahwa responden penelitian berumur antara 25 sampai 42 tahun dengan distribusi responden yang terbanyak berada pada kelompok 30-34 tahun sebanyak 12 orang (42.9%).
5.1.3 Tingkat Keparahan Depresi pada Penderita HIV/AIDS di RSUP Haji Adam Malik
Berdasarkan hasil wawancara terpimpin dengan kuesioner Hamilton Depression
Rating Scale (HDRS), tingkat depresi pada penderita HIV/AIDS di RSUP Haji
Adam Malik sebagai berikut :
Jenis Kelamin Jumlah Orang Persentase (%)
Laki-laki 17 60.7
Perempuan 11 39.3
Total 28 100
Kelompok Umur (tahun)
Jumlah Orang Persentase (%)
25-29 10 35.7
30-34 12 42.9
35-39 5 17.9
>40 1 3.6
Tabel 8 Distribusi Tingkat Keparahan Depresi pada Penderita HIV/AIDS di RSUP Haji Adam Malik
Tabel 8 menunjukkan bahwa dari jumlah 28 responden, responden yang rata-rata mengalami depresi sedang sebanyak 16 orang (57.1%) , manakala responden yang rata-rata mengalami depresi berat sebanyak 11 orang (39.3%). Kemudian, responden yang rata-rata mengalami depresi ringan pula sebanyak 1 orang (3.6%).
Tingkat Depresi Jumlah (orang) Persentase (%)
Depresi Ringan 1 3.6
Depresi Sedang 16 57.1
Depresi Berat 11 39.3
Tabel 9. Distribusi Tingkat Keparahan Depresi berdasarkan Jenis Kelamin
Skor 0 1 2 3 4
Pertanyaan n % n% n % n % n %
P1 0 .0 7 25.0 6 21.4 14 50 1 3.6 P2 7 25.0 12 42.9 7 25.0 2 7.1 0 .0 P3 13 46.4 13 46.4 2 7.1 0 .0 0 .0 P4 4 14.3 14 50.0 10 35.7 0 .0 0 .0 P5 19 67.9 8 28.6 1 3.6 0 .0 0 .0 P6 5 17.9 9 32.1 14 50.0 0 .0 0 .0 P7 2 7.1 3 10.7 11 39.3 8 28.6 4 14.3 P8 9 32.1 16 57.1 0 .0 27.1 1 3.6 P9 14 50.0 8 28.6 6 21.4 0 .0 0 .0 P10 5 17.9 1 3.6 7 25.0 15 53.6 0 .0 P11 3 10.7 9 32.1 12 42.9 3 10.7 1 3.6 P12 5 17.9 20 71.4 3 10.7 0 .0 0 .0 P13 5 17.9 21 75.0 2 7.1 0 .0 0 .0 P14 27 96.4 1 3.6 0 .0 0 .0 0 .0 P15 4 14.3 11 39.3 12 42.9 1 3.6 0 .0 P16A 0 .0 7 25.0 19 67.9 2 7.1 0 .0 P16B 1 3.6 19 67.9 7 25.0 1 3.6 0 .0 P17 28 100.0 0 .0 0 .0 0 .0 0 .0 P18A 7 25.0 12 42.9 9 32.1 0 .0 0 .0 P18B 5 17.9 23 82.1 0 .0 0 .0 0 .0 P19 10 35.7 16 57.1 2 7.1 0 .0 0 .0 P20 8 28.6 18 64.3 2 7.1 0 .0 0 .0 P21 20 71.4 7 25.0 1 3.6 0 .0 0 .0
5.1.4. Tingkat Keparahan Depresi pada Penderita HIV/AIDS berdasarkan Jenis Kelamin
Pada penelitian ini, tingkat keparahan depresi responden berdasarkan jenis kelamin dapat digambarkan seperti table dibawah:
Jenis kelamin Depresi
Berdasarkan jenis kelamin,mayoritas responden yang mengalami depresi sedang dan depresi berat adalah laki-laki sebanyak 17 orang (60.7%), yaitu masing-masing sebanyak 12 orang (42.9%) dan 5 orang (17.9%).
5.1.5 Tingkat Keparahan Depresi pada Penderita HIV/AIDS Berdasarkan Umur
Tabel 5.5 Distribusi Tingkat Keparahan Depresi Berdasarkan Kelompok
Berdasarkan kelompok umur yang dapat dilihat pada table atas, mayoritas responden yang mengalami depresi sedang dan depresi berat berada pada kelompok umur 30-34 tahun adalah sebanyak 12 orang ( 42.9%), masing-masing sebanyak 6 orang (21.4%) dan 6 orang (21.4%).
5.2 Pembahasan
Depresi merupakan salah satu gangguan psikiatri yang banyak terjadi pada penderita HIV/AIDS (Penzak SR, 2000). Dalam penelitian ini dilakukan wawancara yang terpimpin berdasarkan Hamilton Depression Rating
Scale(HDRS) untuk mengetahui tingkat keparahan depresi yang dialami oleh
penderita HIV/AIDS sesuai dengan jumlah skor tiap responden yang didapat dari wawancara.
5.2.1 Tingkat Keparahan Depresi pada Penderita HIV/AIDS di RSUP Haji Adam Malik
Acuff et al menemukan diantara pasien-pasien HIV yang diarahkan untuk evaluaisi psikiatrik, rata-rata mengalami depresi berat berkisar dari 8%-67%, sedangkan pada penelitian ini, angka depresi berat 39.3% hal ini tidak berbeda jauh. (Vardhana S, Laxminarayana B. 2007).
Dari penelitian ini, depresi yang ada pada penderita HIV/AIDS menurut literatur dikatakan bahwa hubungan antara depresi dengan HIV/AIDS merupakan hubungan yang sangat kompleks, di satu sisi depresi dapat timbul kerana penyakit HIV/AIDS itu sendiri, di sisi lain depresi yang timbul akan memperberatkan perjalanan penyakit HIV/AIDS itu sendiri ( Penzak SR, 2000).
5.2.2 Tingkat Keparahan Depresi pada Penderita HIV/AIDS berdasarkan Jenis ...Kelamin
Dari tabel 5.4 diatas dapat dilihat bahwa sindrom depresif yang paling banyak adalah sindroma depresi sedang dengan jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 12 orang (42.9%) , sedangkan wanita depresi sedang sebanyak 5 orang ( 17.9%). Namun untuk depresi berat jenis kelamin perempuan melebihi jenis kelamin lelaki dengan masing-masing hasil 6 orang (21.4%) dan 5 orang (17.9%) namun tidak terdapat perbedaan bermakna. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Lipsitz et. Al didapatkan angka kejadian depresi pada laki-laki dengan HIV positif lebih tinggi dibandingkan pada wanita yaitu masing-masing sebesar 33% dan 26% ( Maj M , 1997).
Dew et al mengikuti penelitian selama 1 tahun dari 113 kelompok pria dengan
5.2.3 Tingkat Keparahan Depresi pada Penderita HIV/AIDS Berdasarkan Kelompok Umur
Seperti yang dapat dilihat pada tabel 5.5, sindroma depresi yang paling banyak adalah sindrom depresi sedang dan depresi berat dengan kelompok umur 30-34 tahun yaitu sebanyak 12 orang (42.9%) yaitu masing-masing 6 orang (21.4%) pada kedua kelompok.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang tingkat keparahan depresi pada penderita HIV/AIDS di RSUP Haji Adam Malik, Medan dapat dibuat kesimpulan seperti berikut :
1. Secara keseluruhan didapati bahwa semua penderita HIV/AIDS di RSUP Haji Adam Malik, Medan menderita depresi.
2. Tingkat keparahan depresi yang tertinggi adalah depresi sedang, yaitu sebanyak 16 orang (57.1%).
6.2. Saran
Dari seluruh proses penelitian yang sudah dijalani oleh penulis dalam menyelesaikan penelitian ini, maka dapat diungkapkan beberapa saran yang mungkin dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berperan dalam penelitian ini. Adapun saran tersebut, yaitu :
1. Diharapkan kepada RSUP Haji Adam Malik Medan, khususnya bagian Penyakit Dalam untuk memberikan penanganan pada penderita HIV/AIDS secara menyeluruh dengan memperhatikan aspek psikologis agar dapat mencegah timbulnya sindroma depresi. Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan deteksi gejala-gejala depresi pada penderita HIV/AIDS secara berkala.
2. Diharapkan agar penderita HIV/AIDS mendapatkan perawatan yang lebih adekuat tidak hanya untuk HIV/AIDSnya sahaja, tapi juga untuk sindrom depresifnya. Baik dari pihak dokter dan rumah sakit, maupun keluarga pasien sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.HIV/AIDS 2.1.1 Definisi
HIV adalah virus yang menyebabkan AIDS. AIDS merupakan suatu keadaan yang serius, dan penyakit yang mengancam hidup. AIDS adalah sekumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh menerunnya kekebalan tubuh akibat terinfeksi oleh virus HIV yang termasuk famili retroviridae. (Djoerban Z, 2006). Walaupun sudah ada penanganan untuk HIV dan AIDS, penyakit ini belum bisa disembuhkan.
AIDS atau Acquired Immunodeficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala atau infeksi yang terjadi karena rusaknya system kekebalan tubuh manusia sebagai akibat terserang infeksi virus HIV. Kasus AIDS mencerminkan infeksi HIV yang sudah berlangsung lama. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) didefinisikan sebagai suatu kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus. (Kaplan & saddock , 2005).
HIV dahulu disebut sebagai HTLV-III (Human T cell Lymphotropic Virus III) atau Lymphadenophaty Associated Virus (LAV). Virus ini di temukan oleh Montagnier, seorang ilmuwan Perancis (Institute Pestteur, Paris 1983), yang mengisolasi virus dari seorang penderita dengan gejala limfadenopati, sehingga pada waktu itu di namakan Lymphadenophaty Associated Virus (LAV). Kelompok virus ini adalah dikenal dengan latensi, viremia, persisten, menginfeksi sistem saraf dan melemahkan respons imun. HIV merupakan virus single -
stranded ribonucliec acid (RNA) yang secara selektif menginfeksi sel-sel imun,
terutama limfosit T dan makrofag.
2.1.2 klasifikasi
Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan kelompok virus RNA : Famili : Retroviridae
Genus : Lentivirus
Spesies : Human Immunodeficiency Virus 1 (HIV-1) Human Immunodeficiency Virus 2 (HIV-2)
HIV menunjukkan banyak gambaran khas fisikokimia dari familinya. Terdapat dua tipe yang berbeda dari virus AIDS manusia, yaitu HIV-1 dan HIV-2. Kedua tipe dibedakan berdasarkan susunan genom dan hubungan filogenetik (evolusioner) dengan lentivirus primata lainnya. Berdasarkan pada deretan gen env, HIV-1 meliputi tiga kelompok virus yang berbeda yaitu M (main), N (New atau non-M, non-O) dan O (Outlier). Kelompok M yang dominan terdiri dari 11 subtipe atau clades (K). Telah teridentifikasi 6 subtipe HIV-2 yaitu sub tipe A-F. Kebanyakan kasus HIV di seluruh dunia, adalah disebabkan oleh HIV-1. (Jawetz, 2001).
2.1.3 Patogenesis
secara langsung dan tidak langsung akan merusak sel T-CD4, padahal sel ini dibutuhkan agar sistem kekebalan tunuh berfungsi secara baik. Jika virus HIV membunuh sel T-CD4 sampai kurang dari 200 sel T-CD4 per mikroliter darah, maka kekebalan seluler akan hilang.
Pasien akan menderita gejala-gejala konstitusional dan gejala klinis yang nyata, seperti infeksi oportunistik atau neoplasma. Infeksi oportunistik adalah infeksi yang timbul akibat penurunan kekebalan tubuh. Infeksi ini timbul kerana mikroba (bakteri, jamur, virus) yang berasal dari luar tubuh, maupun yang sudah ada dalam tubuh manusia dalam keadaan normal terkendali oleh kekebalan tubuh. Tahap virus yang lebih tinggi dapat terdeteksi dalam plasma selama tahap infeksi yang lebih lanjut. HIV yang ditemukan pada pasien dengan penyakit tahap lanjut, biasanya jauh lebih virulen dan sitopatik dari pada strain virus yang ditemukan pada awal infeksi (Jawetz, 2001).
2.1.4 Stadium
CD4
Table 2. Klasifikasi CD4 penderita HIV berdasarkan kategori Centers for Disease Control and Prevention (CDC)
Dikutip dari: Fauci AS, et al, eds. Harrison’s Principles of Internal Medicine. Vol.II. 15th ed. New York : McGraw-Hill ; 2001. P. 1852
2.1.5. HIV dan Penularannya.
HIV ditemukan didalam darah, semen, sekresi serviks dan vagina, dan dalam jumlah yang lebih kecil, didalam saliva, air mata, air susu ibu dan cairan serebrospinalis dari orang yang terinfeksi. HIV dapat ditularkan dalam 3 cara, yaitu: melalui hubungan seksual (baik homoseksual atau heteroseksual) ; melalui darah ; dari ibu ke anaknya (selama kelahiran, atau melalui air susu ibu) (Maj M, 1997).
Transfusi darah atau produk darah yang terinfeksi merupakan cara penularan yang paling efektif. Pengguna obat-obat terlarang dengan seringkali terinfeksi melalui pemakaian jarum suntik yang terkontaminasi, dimana insidensi yang tinggi terinfeksi HIV pada pengguna obat-obat (drug users) Paramedis dapat terinfeksi HIV oleh goresan jarum yang terkontaminasi darah, tetapi jumlah infeksi relatif lebih sedikit. (Jawetz, 2001). Prevelensi HIV pada intravenous drug users (IDU) rata-rata nasional adalah 41.6% dan bagi pemakaian needle sticks (0.3%). ( Depkes RI. 2008).
Anak-anak dapat terinfeksi in utero atau melalui air susu ibu jika ibunya terinfeksi HIV. Angka penularan ibu ke anaknya bervariasi dari 13 % sampai 48% pada wanita yang tidak diobati. Tanpa penularan melalui ASI, sekitar 30% dari infeksi terjadi di dalam rahim dan 70% saat kelahiran. Data menunjukkan bahwa sepertiga sampai separuh infeksi HIV perinatal di Afrika disebabkan oleh ASI. Penularan selama menyusui biasanya terjadi pada 6 bulan pertama setelah kelahiran.
Tidak ditemukan bukti-bukti bahwa HIV dapat tertular melalui kontak biasa, seperti tinggal bersama-sama dirumah atau kelas dengan orang yang terinfeksi HIV, walaupun kontak langsung maupun tidak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi, seperti darah dan semen, harus dihindari. (Jawetz, 2001).
2.1.6. Gejala Klinis
Infeksi HIV tidak akan langsung memperlihatkan tanda atau gejala tertentu. Hingga 70% pasien dengan terinfeksi HIV primer berkembang menjadi acute
mononucleosis-like syndrome setelah infek si awal. Dikenal juga sebagai acute
retroviral syndrome (ARS), tanda dan gejala ini terjadi sebagai hasil dari infeksi
influenza atau kondisi-kondisi respiratori viral lainnya. Lamanya keadaan ini adalah biasanya kurang dari 14 hari tetapi dapat menjadi lebih lama, dalam beberapa minggu bahkan bulan.
Setelah infeksi akut, dimulailah infeksi HIV asimptomatik (tanpa gejala). Masa tanpa gejala umumnya berlangsung selama 8-10 tahun. Tetapi ada sekelompok kecil orang yang perjalanan penyakitnya amat cepat, dapat hanya 2 tahun. Setelah masa tanpa gejala, akan diikuti infeksi oportunistik dan selanjutnya memasuki stadium AIDS. ( Djoerban Z, 2006).
Sistem tahapan WHO untuk infeksi dan penyakit HIV
Pada tahun 1990, World Health Organization (WHO) mengelompokkan berbagai infeksi dan kondisi AIDS dengan memperkenalkan sistem tahapan untuk pasien yang terinfeksi dengan virus HIV-1. Sistem ini kemudian telah diperbaharui pada tahun 2008 seperti yang diperlihatkan pada table 3.
Stadium 1 Asimtomatik
Tidak ada penurunan berat badan
Tidak ada gejala atau hanya Limfadenopati Generalisata Persisten
Stadium 2 Sakit ringan
Penurunan berat badan 5-10%
ISPA berulang, misalnya sinusitis atau otitis Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir
Luka disekitar bibir (keilitis angularis) Ulkus mulut berulang
Ruam kulit yang gatal (seboroik atau prurigo-PPE (Pruritic papular eruption))
Dermatitis seboroik Infeksi jamur kuku
Penurunan berat badan > 10%
Diare, demam yang tidak diketahui penyebabnya, lebih dari 1 bulan Kandidosis oral atau vaginal
Oral hairy leukoplakia
TB Paru dalam 1 tahun terakhir
Infeksi bakterial yang berat (pneumoni, piomiositis, dll) TB limfadenopati
Gingivitis/ Periodontitis ulseratif nekrotikan akut
Anemia (HB < 8 g%), netropenia (< 5000/ml), trombositopeni kronis (<50.000/ml)
Stadium 4 Sakit berat (AIDS)
Sindroma wasting HIV
Pneumonia pnemosistis, pnemoni bacterial yang berat berulang Herpes simpleks ulseratif lebih dari satu bulan
Kandidosis esophageal
Infeksi mikobakteria non-TB meluas
Lekoensefalopati multifocal progresif (PML)
Peniciliosis, kriptosporidosis kronis, isosporiasis kronis, mikosis meluas, histoplasmosis ekstra paru, cocidiodomikosis)
Limfoma serebral atau B-cell, non-Hodgkin (gangguan fungsi neurologis dan tidak sebab lain seringkali membaik dengan terapi ARV)
Kanker serviks invasive Leismaniasis atipik meluas
Gejala neuropati atau kardiomiopati terkait HIV
Tabel 3. Stadium klinik HIV
2.1.7. Diagnosis
Diagnosis ditujukan pada kedua hal, yaitu terinfeksi HIV dan AIDS. Diagnosis pada infeksi HIV dilakukan dengan dua metode yaitu metode pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis dini ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium dengan petunjuk dari gejala-gejala klinis atau dari adanya perilaku resiko tinggi individu tertentu.
a). Diagnosis klinik
Sejak tahun 1980 WHO telah berhasil mendefinisikan kasus klinik dan sistem stadium klinik untuk infeksi HIV. WHO telah mengeluarkan batasan kasus infeksi HIV untuk tujuan pengawasan dan merubah klasifikasi stadium klinik yang berhubungan dengan infeksi HIV pada dewasa dan anak. Pedoman ini meliputi kriteria diagnosa klinik yang patut diduga pada penyakit berat HIV untuk mempertimbangkan memulai terapi antiretroviral lebih cepat.
Keadaan Umum
Kehilangan berat badan > 10% dari berat badan dasar
Demam (terus menerus atau intermiten, temperatur oral > 37,5ºC) lebih dari satu bulan
Diare (terus menerus atau intermiten) yang lebih dari satu bulan Limfadenofati meluas
Kulit
PPE* dan kulit kering yang luas merupakan dugaan kuat infeksi HIV. Beberapa kelainan seperti kutil genital (genital warts), folikulitis dan psoriasis sering terjadi pada ODHA tapi tidak selalu terkait dengan HIV.
Infeksi
Infeksi jamur Kandidosis oral* Dermatitis seboroik
Kandidosis vagina kambuhan
Infeksi viral Herpes zoster (berulang/melibatkan lebih dari satu dermatom)*
Herpes genital (kambuhan) Moluskum kontagiosum Kondiloma
pernafasan Sesak nafas
Nyeri kepala yang semakin parah (terus menerus dan tidak jelas
penyebabnya) Kejang demam
Menurunnya fungsi kognitif
* Keadaan tersebut merupakan dugaan kuat terhadap infeksi HIV
Tabel 4. Gejala dan tanda klinis yang patut diduga infeksi HIV
[Sumber : Depkes, 2007]
Diagnosis laboratorium dapat dilakukan dengan 2 metode :
1. Langsung: isolasi virus dari sampel, umumnya dengan pemeriksaan mikroskop electron atau deteksi antigen virus, misalnya dengan Polymerase
Chain Reaction (PCR)
2. Tidak langsung : dengan melihat respons zat anti spesifik, misalnya dengan
Enzym Linked Immuno Sorbent Assay (ELISA), Westerm Blot, Immunofluorescent Assay (IFA) atau Radio Immuno Precipitation Assay
(RIPA).
Untuk diagnosis HIV yang lazim digunakan pertama-tama adalah pemeriksaan ELISA kerana memiliki sensitivitas yang tinggi (98-100%). Akan tetapi, spesifisitas kurang sehingga hasil tes ELISA yang positif harus dikonfirmasi dengan Wesrerm Blot yang spesifisitasnya tinggi (99,6-100%). Sedangkan pemeriksaan PCR biasanya dilakukan pada bayi yang masih memiliki zat anti maternal sehingga menghambat pemeriksaan secara serologis dan pada kelompok risiko tinggi sebelum terjadi serokonversi.
1). Uji Imunologi
Uji imunologi untuk menemukan respon antibody terhadap HIV-1 dan digunakan sebagai test skrining, meliputi enzyme immunoassays atau enzyme –linked immunosorbent assay (ELISAs) sebaik tes serologi cepat (rapid test). Uji Western blot atau indirect immunofluorescence assay (IFA) digunakan untuk memperkuat hasil reaktif dari test skrining.
Uji yang menentukan perkiraan abnormalitas sistem imun meliputi jumlah dan persentase CD4+ dan CD8+ T-limfosit absolute. Uji ini sekarang tidak digunakan untuk diagnose HIV tetapi digunakan untuk evaluasi.
Deteksi antibodi HIV
Rapid test
Merupakan tes serologik yang cepat untuk mendeteksi IgG antibodi terhadap HIV-1.Prinsip pengujian berdasarkan aglutinasi partikel, imunodot (dipstik), imunofiltrasi atau imunokromatografi.ELISA tidak dapat digunakan untuk mengkonfirmasi hasil rapid tes dan semua hasil rapid tes reaktif harus dikonfirmasi dengan Western blot atau IFA.
Western blot
Digunakan untuk konfirmasi hasil reaktif ELISA atau hasil serologi rapid tes sebagai hasil yang benar-benar positif. Uji Western blot menemukan keberadaan antibodi yang melawan protein HIV-1 spesifik (struktural dan enzimatik). Western blot dilakukan hanya sebagai konfirmasi pada hasil skrining berulang (ELISA atau rapid tes).Hasil negative Western blot menunjukkan bahwa hasil positif ELISA atau rapid tes dinyatakan sebagai hasil positif palsu dan pasien tidak mempunyai antibodi HIV-1. Hasil Western blot positif menunjukkan keberadaan antibodi HIV-1 pada individu dengan usia lebih dari 18 bulan.
Indirect Immunofluorescence Assays (IFA)
Uji ini sederhana untuk dilakukan dan waktu yang dibutuhkan lebih sedikit dan sedikit lebih mahal dari uji Western blot. Antibodi Ig dilabel dengan penambahan fluorokrom dan akan berikatan pada antibodi HIV jika berada pada sampel. Jika slide menunjukkan fluoresen sitoplasma dianggap hasil positif (reaktif), yang menunjukkan keberadaan antibodi HIV-1.
2). Uji Virologi
Kultur HIV
HIV dapat dibiakkan dari limfosit darah tepi, titer virus lebih tinggi dalam plasma dan sel darah tepi penderita AIDS. Pertumbuhan virus terdeteksi dengan menguji cairan supernatan biakan setelah 7-14 hari untuk aktivitas reverse transcriptase virus atau untuk antigen spesifik virus.
NAAT HIV-1 (Nucleic Acid Amplification Test)
Menemukan RNA virus atau DNA proviral yang banyak dilakukan untuk diagnosis pada anak usia kurang dari 18 bulan. Karena asam nuklet virus mungkin berada dalam jumlah yang sangat banyak dalam sampel.Pengujian RNA dan DNA virus dengan amplifikasi PCR, menggunakan metode enzimatik untuk mengamplifikasi RNA HIV-1. Level RNA HIV merupakan petanda prediktif penting dari progresi penyakit dan menjadi alat bantu yang bernilai untuk memantau efektivitas terapi antivirus.
Uji antigen p24
Protein virus p24 berada dalam bentuk terikat dengan antibodi p24 atau dalam keadaan bebas dalam aliran darah indivudu yang terinfeksi HIV-1.Pada umumnya uji antigen p24 jarang digunakan dibanding teknik amplifikasi RNA atau DNA HIV karena kurang sensitif.Sensitivitas pengujian meningkat dengan peningkatan teknik yang digunakan untuk memisahkan antigen p24 dari antibodi anti-p24.
2.1.8. Pencegahan
yang cukup aman dan efektif untuk melawan infeksi HIV. (Fauci AS, Lane HC, 2001).
2.1.9. Penatalaksanaan
Secara umum, penatalaksanaan penderita dengan HIV/AIDS terdiri atas beberapa jenis yaitu, yang pertama adalah pengobatan untuk menekan replikasi virus HIV dengan obat antiretroviral (ARV).Antiretroviral (ARV) adalah obat yang menghambat replikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).(DepKes, 2007). Pengobatan infeksi HIV dengan antiretroviral digunakan untuk memelihara fungsi kekebalan tubuh mendekati keadaan normal, mencegah perkembangan penyakit, memperpanjang harapan hidup dan memelihara kualitas hidup dengan cara menghambat replikasi virus HIV. Karena replikasi aktif HIV menyebabkan kerusakan progresif sistem imun, menyebabkan berkembangnya infeksi oportunistik, keganasan (malignasi), penyakit neurologi, penurunan berat badan yang akhirnya mendorong ke arah kematian.obat anti retroviral terdiri dari
Kolom A Kolom B
Lamivudin + zidovudin Evafirenz*
Lamivudin + didadosin Lamivudin + stavudin
Lamivudin + zidovudin Nevirapin
Lamivudin + stavudin Lamivudin + didadosin
Lamivudin + zidovudin Nelvinafir
Lamivudin + stavudin Lamivudin + didadosin
*Tidak dianjurkan pada wanita hamil trimester pertama atau wanita yang berpotensi tinggi untuk hamil
Table 5. Kombinasi ART untuk Terapi inisial (Djoerban dan Djauzi, 2007)
Pengobatan yang kedua adalah pengobatan untuk mengatasi berbagai penyakit dan infeksi dan kanker yang menyertai infeksi HIV/AIDS. Dan pengobatan yang ketiga adalah pengobatan suportif yaitu makanan yang mempunyai nilai gizi yang baik dan pengobatan pendukung lain seperti dukungan psikososial dan dukungan agama, pola tidur yang baik dan menjaga kebersihan dengan baik. Dengan pengobatan yang teratur dan lengkap, angka kematian dapat diturunkan dan harapan hidup menjadi lebih baik dan angka kejadian infeksi oportunistik akan berkurang (Djoreban Z, 2006).
2.2. Depresi 2.2.1 Definisi
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta bunuh diri.(Kaplan, 2010).
Maslim berpendapat bahwa depresi adalah suatu kondisi yang dapat disebabkan oleh defisiensi relatif salah satu atau beberapa aminergik neurotransmiter (noradrenalin, serotonin, dopamin) pada sinaps neuron di SSP (terutama pada sistem limbik).(Maslim, 2002).
Menurut Kaplan, depresi merupakan salah satu gangguan mood yang ditandai oleh hilangnya perasaan kendali dan pengalaman subjektif adanya penderitaan berat. Mood adalah keadaan emosional internal yang meresapdari seseorang, dan bukan afek, yaitu ekspresi dari isi emosional saat itu .(Kaplan, 2010).
Depresi terjadi pada berbagai umur. Studi yang disponsori NIMH memperkirakan bahawa di Amerika Serikat 6% berumur 9-17 tahun dan hampir 10% warga Amerika dewasa diusia 18 tahun atau lebih, mengalami depresi setiap tahun. (Vaidya SA, 2008). Umur onset untuk gangguan depresi berat sekitar 40 tahun, dengan 50% dari seluruh penderita memiliki onset antara usia 20-50 tahun. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa di Indonesia menjumpai bahawa 94% penduduk Indonesia menghidap depresi mulai dari tingkat berat hingga ringan. (Depkes RI. 2007).
Gangguan depresi dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disoder IV (DSM) tergolong dalam gangguan suasana perasaan (mood) atau
sedangkan mania dikarakterisikkan sebagai perasaan bergairah (euphoria) yang mendalam dan tidak realistik.
2.2.2 Etiologi
Kaplan menyatakan bahwa faktor penyebab depresi dapat secara buatan dibagi menjadi faktor biologi, faktor genetik, dan faktor psikososial.(Kaplan, 2010).
a. Faktor biologi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat kelainan pada amin biogenik, seperti: 5 HIAA (5-Hidroksi indol asetic acid), HVA (Homovanilic acid), MPGH (5 methoxy-0-hydroksi phenil glikol), di dalam darah, urin dan cairan serebrospinal pada pasien gangguan mood. Neurotransmiter yang terkait dengan patologi depresi adalah serotonin dan epinefrin.Penurunan serotonin dapat mencetuskan depresi, dan pada pasien bunuh diri, beberapa pasien memiliki serotonin yang rendah.Pada terapi despiran mendukung teori bahwa norepineprin berperan dalam patofisiologi depresi (Kaplan, 2010).
Disregulasi neuroendokrin. Hipotalamus merupakan pusat pengaturan aksis neuroendokrin, menerima input neuron yang mengandung neurotransmiter amin biogenic. Pada pasien depresi ditemukan adanya disregulasi neuroendokrin yang terjadi akibat kelainan fungsi neuron yang mengandung amin biogenic.Hipersekresi CRH merupakan gangguan aksis
Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) yang sangat fundamental pada pasien depresi.Hipersekresi yang
b. Faktor Genetik
Penelitian genetik dan keluarga menunjukkan bahwa angka resiko di antara anggota keluarga tingkat pertama dari individu yang menderita depresi berat (unipolar) diperkirakan 2 sampai 3 kali dibandingkan dengan populasi umum.Angka keselarasan sekitar 11% pada kembar dizigot dan 40% pada kembar monozigot.
Pengaruh genetik terhadap depresi tidak disebutkan secara khusus, hanya disebutkan bahwa terdapat penurunan dalam ketahanan dan kemampuan dalam menanggapi stres. Proses menua bersifat individual, sehingga dipikirkan kepekaan seseorang terhadap penyakit adalah genetik.
c. Faktor Psikososial
Menurut Freud dalam teori psikodinamikanya, penyebab depresi adalah kehilangan objek yang dicintai.Sedangkan menurut Kane, faktor psikososial meliputi penurunan percaya diri, kemampuan untuk mengadakan hubungan intim, penurunan jaringan sosial, kesepian, perpisahan, kemiskinan dan penyakit fisik. Faktor psikososial yang mempengaruhi depresi meliputi: peristiwa kehidupan dan stressor lingkungan, kepribadian, psikodinamika, kegagalan yang berulang, teori kognitif dan dukungan sosial (Kaplan, 2010).
Peristiwa kehidupan yang menyebabkan stres, lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood dari episode selanjutnya. Para klinisi mempercayai bahwa peristiwa kehidupan memegang peranan utama dalam depresi, klinisi lain menyatakan bahwa peristiwa kehidupan hanya memiliki peranan terbatas dalam onset depresi. Stressor lingkungan yang paling berhubungan dengan onset suatu episode depresi adalah kehilangan pasangan.Stressor psikososial yang bersifat akut, seperti kehilangan orang yang dicintai, atau stressor kronis misalnya kekurangan finansial yang berlangsung lama, kesulitan hubungan interpersonal, ancaman keamanan dapat menimbulkan depresi.
Berdasarkan teori psikodinamika Freud, dinyatakan bahwa kehilangan objek yang dicintai dapat menimbulkan depresi. Dalam upaya untuk mengerti depresi, Sigmud Freud mendalilkan suatu hubungan antara kehilangan objek dan melankolia Freud percaya bahwa introjeksi mungkin merupakan cara satu-satunya bagi ego untuk melepaskan suatu objek, ia membedakan melankolia atau depresi dari duka cita atas dasar bahwa pasien terdepresi merasakan penurunan harga diri yang melanda dalam hubungan dengan perasaan bersalah dan mencela diri sendiri, sedangkan orang yang berkabung tidak demikian.
Faktor kognitif.Adanya interpretasi yang keliru terhadap sesuatu, menyebabkan distorsi pikiran menjadi negatif tentang pengalaman hidup, penilaian diri yang negatif, pesimisme dan keputusasaan.Pandangan yang negatif tersebut menyebabkan perasaan depresi (Kaplan, 2010).
Terdapat consensus bahwa faktor etiologinya adalah multiple dan mungkin saling berinteraksi dengan cara yang kompleks dan pemahaman terbaru mengenai gangguan ini menghendaki adanya pemahaman yang pintar terhadap hubungan factor-faktor ini.(Fauci AS, Lane HC, 2001). Seperti penyakit-penyakit serius lainnya seperti kanker, penyakit jantung ataupun stroke, depresi juga sering menyertai HIV/AIDS.
2.2.3 Klasifikasi
Menurut DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders fourth
edition) Gangguan depresi terbagi dalam 3 kategori, yaitu:
1. Gangguan depresi berat (Mayor depressive disorder).
berharga atau perasaan bersalah yang eksesif, kemampuan berpikir atau konsentrasi yang menurun, pikiran-pikiran mengenai mati, bunuh diri, atau usaha bunuh diri yang muncul berulang kali, distres dan hendaya yang signifikan secara klinis, tidak berhubugan dengan belasungkawa karena kehilangan seseorang.
2. Gangguan distimik (Dysthymic disorder)
adalah suatu bentuk depresi yang lebih kronis tanpa ada bukti suatu episode depresi berat (dahulu disebut depresi neurosis). Kriteria DSM-IV untuk gangguan distimik: perasaan depresi selama beberapa hari, paling sedikit selama 2 tahun (atau 1 tahun pada anak-anak dan remaja); selama depresi, paling tidak ada dua hal berikut yang hadir: tidak nafsu makan atau makan berlebihan, insomnia atau hipersomnia, lemah atau keletihan, self esteem rendah, daya konsentrasi rendah, atau sulit membuat keputusan, perasaan putus asa; selama 2 tahun atau lebih mengalami gangguan, orang itu tanpa gejala-gejala selama 2 bulan; tidak ada episode manik yang terjadi dan kriteria gangguan siklotimia tidak ditemukan; gejala-gejala ini tidak disebabkan oleh efek psikologis langsung darib kondisi obat atau medis; signifikansi klinis distress (hendaya) atau ketidaksempurnaan dalam fungsi.
3.Gangguan afektif bipolar atau siklotimik (Bipolar affective illness or
cyclothymic disorder). Kriteria: kemunculan (atau memiliki riwayat pernah
mengalami) sebuah sebuah episode depresi berat atau lebih; kemunculan (atau memiliki riwayat pernah mengalami) paling tidak satu episode hipomania; tidak ada riwayat episode manik penuh atau episode campuran; gejala-gejala suasana perasaan bukan karena skizofrenia atau menjadi gejala yang menutupi gangguan lain seprti skizofrenia; gejala-gejalanya tidak disebabkan oleh efek-efek fisiologis dari substansi tertentu atau kondisi medis secara umum; distres atau hendaya dalam fungsi yang signifikan secara klinis.
gangguan depresi yang sekunder biasanya lebih kacau, lebih agresif, mempunyai lebih banyak kelehan sometik, dan lebih sering terlihat mudah tersinggung, putus asa, mempunyai ide bunuh diri, problem tidur, penurunan prestasi sekolah, harga diri yang rendah , dan tidak patuh. Gangguan afektif bipolar atau siklotimik (Bipolar affective illness or cyclothymic disorder). Kriteria: kemunculan (atau memiliki riwayat pernah mengalami) sebuah sebuah episode depresi berat atau lebih; kemunculan (atau memiliki riwayat pernah mengalami) paling tidak satu episode hipomania; tidak ada riwayat episode manik penuh atau episode campuran; gejala-gejala suasana perasaan bukan karena skizofrenia atau menjadi gejala yang menutupi gangguan lain seprti skizofrenia; gejala-gejalanya tidak disebabkan oleh efek-efek fisiologis dari substansi tertentu atau kondisi medis secara umum; distres atau hendaya dalam fungsi yang signifikan secara klinis. Sedangkan menurut Carlson, seperti yang dikutip oleh shafii, membagi depresi pada remaja menjadi tipe primer dan sekunder. Tipe primer: bila tidak ada gangguan psikiatrik sebelumnya, dan tipe sekunder : bila gangguan yang sekarang mempunyai hubungan dengan gangguan psikiatrik sebelumnya. Pada gangguan depresi yang sekunder biasanya lebih kacau, lebih agresif, mempunyai lebih banyak kelehan sometik, dan lebih sering terlihat mudah tersinggung, putus asa, mempunyai ide bunuh diri, problem tidur, penurunan prestasi sekolah, harga diri yang rendah , dan tidak patuh.
2.2.4 Gambaran Klinis
a) Gejala fisik
Menurut beberapa ahli, gejala depresi yang kelihatan ini mempunyai rentangan dan variasi yang luas sesuai dengan berat ringannya depresi yang dialami. Namun secara garis besar ada beberapa gejala fisik umum yang relative mudah dideteksi (Lumongga, 2009) Gejalanya adalah :
1. Gangguan pola tidur. Misalnya sulit tidur, terlalu banyak atau terlalu sikit tidur.
3. Menurunnya efisiensi kerja. Penyebab jelas, orang yang mengalami depresi akan sulit memfokuskan perhatian atau pikiran pada suatu pekerjaan.
4. Menurunnya produktivitas kerja. Orang dengan depresi akan kehilangan sebahagian atau seluruh motivasi kerjanya. Sebabnya ia tidak lagi bisa menikmati dan merasakan kepuasan atas apa yang dilakukannya.
5. Mudah merasa letih dan sakit jelas saja, depresi merupakan perasaan negative. Jika seseorang menyimpan perasaan negative, maka jelas akan membuat letih kerana membebani fikiran dan perasaanya.
b) Gejala Psikis
1. Kehilangan rasa percaya diri. Penyebabnya, orang dengan depresi cenderung memandang segala sesuatu dari sisi negatif, termasuk menilai diri sendiri. 2. Sensitif. Orang dengan depresi suka mengaitkan sesuatu dengan sirinya.
Perasaanya sensitif sekali sehingga sering peristiwa yang terjadi dipandang berbeda oleh mereka dan bahkan salah diartikan. Akibatnya mudah tersinggung, mudah marah, curiga akan maksud orang lain, mudah sedih, murung dan lebih suka menyendiri.
3. Merasa diri tidak berguna. Perasaan tidak berguna muncul kerana mereka merasa menjadi orang yang gagal terutama di bidang atau lingkungan yang seharusnya mereka kuasai
4. Perasaan bersalah. Perasaan bersalah terkadang timbul dalam permikiran orang dengan depresi. Mereka memandang suatu kejadian yang menimpa dirinya sebagai suatu hukuman atau akibat dari kegagalan mereka menjalankan tanggungjawab yang dilaksanakan.
5. Perasaan terbebani. Banyak orang yang menyalahkan orang lain atas kesusahan yang dialaminya. Mereka merasa terbeban kerana merasa terlalu dibebani tanggungjawab yang berat.
c) Gejala Sosial