PROPORSI BAYI YANG TERINFEKSI DAN TIDAK TERINFEKSI HIV PADA IBU PENDERITA HIV YANG MELAHIRKAN DI RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN
TAHUN 2014-2017
SKRIPSI
Oleh:
Khairunnisa 150100067
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
PROPORSI BAYI YANG TERINFEKSI DAN TIDAK TERINFEKSI HIV PADA IBU PENDERITA HIV YANG MELAHIRKAN DI RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN
TAHUN 2014-2017
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran
Oleh:
Khairunnisa 150100067
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya yang begitu besar sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya. Skripsi ini berjudul “ Proporsi Bayi yang Terinfeksi dan Tidak Terinfeksi HIV pada Ibu Penderita HIV yang Melahirkan di RSUP Haji Adam Malik Medan Tahun 2014 – 2017 “ yang merupakan salah satu tugas akhir dalam menyelesaikan pendidikan di program studi Sarjana Kedokteran, Pendidikan Dokter, Fakultas Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyusunan dan penyelesaian skripsi ini, penulis mendapat banyak dukungan dan bantuan baik secara moril maupun materil dari berbagai pihak.
Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih sebesar – besarnya kepada:
1. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp. S (K), selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
2. Dosen Pembimbing, dr. Letta Sari Lintang, M. Ked (OG ), Sp. OG, yang banyak memberikan arahan, nasihat, masukan, dan motivasi kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan sedemikian rupa.
3. Ketua Penguji, dr. Flora Marlita Lubis, Sp. KK dan Anggota penguji, dr.
Noni Novisari Soeroso, M. Ked (Paru), Sp. P (K), untuk setiap kritik dan saran yang membangun selama proses pembuatan skripsi ini.
4. Dosen Pembimbing Akademik, dr. Refli Hasan, Sp. PD, Sp. JP (K), yang senantiasa membimbing dan memberikan motivasi selama perkuliahan 7 semester ini.
5. Seluruh staf pengajar dan civitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara atas bimbingan dan ilmu yang diberikan dari mulai awal perkuliahan hingga penulis menyelesaikan skripsi ini.
6. Seluruh pihak RSUP Haji Adam Malik Medan yang banyak membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini.
7. Kedua orangtua tersayang dari penulis, H. Safriadi, SH dan Hj. Habibatussania, SH, abang penulis (bg Dayat), kakak penulis
(Kak Rina),adik penulis (Rizqi) yang memberikan kasih sayang,dukungan, doa, motivasi, dan material kepada penulis. Beserta seluruh keluarga besar yang membesarkan penulis dengan kasih sayang dan terus menumpahkan semangat yang tidak pernah berhenti dari awal kuliah sampai sekarang.
8. Sahabat penulis sedari kecil,Liana Deandra Azirul dan Shabrina Hoesna,
yang selalu memberikan kasih sayang, dukungan, doa, masukan dan
arahan dalam penyelesaian skripsi ini.
9. Sahabat – Sahabat penulis, Widya Rizkina Choir, Riza Chairany Tambak, M. Qori An Nabil, Syafnia Juwita , Isna Gita Amalia, Dinta Nisainda, Triska Putri Rahmayani, Fadilah Oliv Khairina, dan sahabat terbaik lainnya yang tidak bisa disebut satu per satu yang selalu memberikan kasih sayang, dukungan, motivasi dari awal perkuliahan sampai selesainya skripsi ini.
10. PB (Eza, Zhafirah, Salsa, Farhan, Tio, Hannan, Suci, Bila) dan Asemewew (Temi, Ririn, Reza, Silka, Mira, Ola, Adel) yang selalu memberikan kasih sayang, dukungan, doa, dan selalu menghibur penulis di kala susah maupun senang.
11. Keluarga besar TBM FK USU, yang sudah memberikan ilmu, pengalaman, kenangan, keluarga dan juga teman, yang namanya tidak bisa disebut satu per satu.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi materi maupun tata cara penulisannya. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran agar penulis dapat menyempurnakan skripsi ini menjadi lebih baik lagi.
Akhir kata penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat dan mampu memberikan sumbangsih bagi bangsa dan negara, terutama dalam bidang pendidikan khususnya ilmu kedokteran.
Medan, 14 Desember 2018 Penulis
Khairunnisa
NIM : 150100067
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Pengesahan ... i
Kata Pengantar ... ... ii
Daftar Isi... ... iv
Daftar Gambar ... ... vi
Daftar Tabel ... ... vii
Daftar Singkatan... ... viii
Abstrak ... ... ix
Abstract ... ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1.3.1 Tujuan Umum ... 4
1.3.2 Tujuan Khusus... 4
1.4. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA... ... 6
2.1 Definisi HIV... 6
2.2 Etiologi HIV... 6
2.3 Patofisiologi HIV ... 6
2.4 Cara Penularan HIV ... 8
2.5 Faktor Risiko Penularan HIV dari Ibu ke Anak... 9
2.6 Gejala dan Tanda Klinis HIV ... 11
2.7 Klasifikasi Klinis HIV pada Bayi dan Anak ... 13
2.8 Diagnosis HIV pada Bayi ... 15
2.8.1 Diagnosis Presumtif HIV pada anak < 18 bulan ... 16
2.9 Terapi Antiretroviral ... 16
2.9.1 Persalinan Aman ... 19
2.9.2 Tatalaksana pemberian makanan bagi bayi/anak ... 19
2.10 Bayi positif terinfeksi HIV... 20
2.11 Kerangka Teori ... 22
2.12 Kerangka Konsep ... 23
BAB III METODE PENELITIAN ... 24
3.1 Rancangan Penelitian ... 24
3.2 Lokasi Penelitian ... 24
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 24
3.3.1 Populasi Penelitian ... 24
3.3.2 Sampel Penelitian ... 25
3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi ... 25
3.4.1 Kriteria Inklusi ... 25
3.4.2 Kriteria Eksklusi ... 25
3.5 Metode Pengumpulan Data ... 25
3.6 Definisi Operasional ... 26
3.7 Metode Analisis Data ... 30
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... ... 31
4.1 Deskripsi Karakteristik Responden ... 31
4.2 Distribusi Frekuensi Ibu Penderita HIV Berdasarkan Jumlah Pertahun ... 32
4.3 Distribusi Frekuensi Ibu Penderita HIV Berdasarkan Data Demografik ... 32
4.4 Distribusi Frekuensi Usia Kehamilan Ibu Penderita HIV Saat Mendapat Profilaksis ARV ... 34
4.5 Distribusi Frekuensi Bayi yang Lahir dari Ibu Penderita HIV Berdasarkan Jumlah Pertahun ... 35
4.6 Distribusi Frekuensi Bayi yang Lahir dari Ibu Penderita HIV Berdasarkan Data Demografik ... 35
4.7 Distribusi Frekuensi Bayi yang Lahir dari Ibu Penderita HIV Berdasarkan Status Pemberian ARV ... 36
4.8 Distribusi Frekuensi Bayi yang Lahir dari Ibu Penderita HIV Berdasarkan Diagnosis ... 36
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... ... 37
5.1 Kesimpulan ... 37
5.2 Saran ... 38
DAFTAR PUSTAKA ... 39
LAMPIRAN ... 41
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1 Mekanisme penularan dari ibu ke bayinya merupakan proses yang
Komplek antara virulensi virus, faktor ibu dan faktor janin ... 9
2.2 Alur diagnosis presumtif HIV ... 16
2.3 Kerangka Teori ... 22
2.4 Kerangka Konsep... 23
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1 Faktor yang berperan dalam penularan HIV dari ibu ke bayi ... 11
2.2 Gejala dan Tanda Klinis menurut WHO ... 11
2.3 Klasifikasi menurut WHO mengenai penyakit yang berhubungan dengan HIV ... 13
2.4 Alur diagnosis HIV ... 15
2.5 Rekomendasi ART pada ibu hamil dengan HIV ... 18
2.6 Profilaksis ARV pada bayi... 19
2.7 Perbandingan risiko perubahan HIV dari ibu ke anak pada pemberian ASI eksklusif, susu formula, dan mixed feeding ... 20
4.1 Distribusi frekuensi ibu penderita HIV berdasarkan jumlah pertahun... . 32
4.2 Distribusi frekuensi ibu penderita HIV berdasarkan data demografik ... 32
4.3 Distribusi frekuensi usia kehamilan ibu penderita HIV saat mendapat profilaksis ARV... 34
4.4 Distribusi frekuensi bayi yang lahir dari ibu penderita HIV berdasarkan jumlah pertahun ... 35
4.5 Distribusi frekuensi bayi yang lahir dari ibu penderita HIV berdasarkan data demografik... 35
4.6 Distribusi frekuensi bayi yang lahir dari ibu penderita HIV berdasarkan status pemberian ARV ... 36
4.7 Distribusi frekuensi bayi yang lahir dari ibu penderita HIV
berdasarkan diagnosis ... 36
DAFTAR SINGKATAN
AS : Amerika Serikat
AIDS : Acquired Immunodeficiency Syndrome ARV/ART : Antiretroviral
ASI : Air Susu Ibu
CD4, T-CD4 : Cluster of differentiation 4. CD4+ T lymphocyte CMV : Cytomegalovirus
DNA : Deoxyribonucleic acid
HIV : Human Immunodeficiency Virus IDAI : Ikatan Dokter Anak Indonesia
Kemenkes RI : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia LAV : Lymphadenopathy Associated Virus MTCT : Mother to Child HIV Transmission ODHA : Orang dengan HIV/AIDS
PCR : Polymerase Chain Reaction PCP : Pneumocystis carinii pneumonia Penasun : Pengguna narkoba suntik
PMTCT : Prevention of mother to child transmission PPIA : Pencegahan Penularan Ibu ke Anak
RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah RSUP : Rumah Sakit Umum Pusat RNA : Ribonucleic acid
SNNPR : Southern Nations, Nationality and Peoples Region UNAIDS : United Nations Programme on HIV / AIDS
VCT : Voluntary Conseling and Testing
WHO : World Health Organization
ABSTRAK
Latar Belakang. Infeksi HIV merupakan salah satu masalah kesehatan utama di dunia dan salah satu penyakit menular yang dapat mempengaruhi kematian ibu dan anak. Di banyak negara berkembang HIV merupakan penyebab utama kematian perempuan pada usia reproduksi. Virus HIV dapat ditularkan dari ibu HIV kepada anaknya selama kehamilan, pada saat persalinan atau pada saat menyusui. Virus HIV yang dimiliki oleh Bayi dan anak tersebut kemungkinan akan berkembang menjadi Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). Indonesia merupakan salah satu negara dengan penambahan kasus HIV / AIDS tercepat di Asia Tenggara, dengan estimasi peningkatan angka kejadian infeksi HIV lebih dari 36%. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi bayi yang terinfeksi dan tidak terinfeksi HIV pada ibu penderita HIV yang melahirkan di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2014-2017. Metode. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif, dengan desain penelitian retrospektif yang mengamati data sekunder berupa rekam medis bayi yang lahir dengan riwayat orangtua terinfeksi HIV dan ibu penderita HIV di RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2014-2017. Hasil. Dari hasil penelitian didapatkan 26 bayi yang lahir dari ibu penderita HIV (16 laki-laki dan 10 perempuan), 1 bayi (3,8%) lahir secara spontan dan 25 bayi (96,2%) lahir secara seksiosesarea. Rata-rata 26 bayi (100%) lahir pada usia kehamilan aterm, dengan berat badan lahir 6 bayi (23,1%) <2500gr dan 20 bayi (76,9%) lahir dengan berat badan >2500gr. 26 bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV (100%) mendapatkan pemberian ARV sejak lahir. Bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV ditemukan sebanyak 26 bayi (100%) tidak terinfeksi HIV. Kesimpulan. Dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ditemukan bayi yang terinfeksi HIV pada ibu penderita HIV yang melahirkan.
Kata kunci: HIV/AIDS, ibu hamil terinfeksi HIV, HIV di neonatus, antiretrovirus
ABSTRACT
Background. HIV infection is one of the main health issues on earth and one of the infectious diseases which may affect the death of mother and child. In many developing countries, HIV is one of the main causes to the death of women of reproductive age. HIV virus can be transmitted from a mother with HIV to her child during the pregnancy period, labor, or breastfeeding. The HIV virus possessed by the child in question has the possibility to evolve into Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). Indonesia is one of the countries with the fastest increase in HIV / AIDS cases throughout Southeast Asia, with the estimation number of increasing HIV infection cases more than 36%. Objective. This research has the aim to understand the proportion of HIV infected and non-infected babies towards HIV infected mothers which gave birth at RSUP Haji Adam Malik Medan year 2014-2017. Method. This research is using the descriptive research method, with a retrospective research design which will analyze secondary data in the form of medical records of the babies which are born with a parent history of HIV infection and HIV infected mother at RSUP Haji Adam Malik Medan year 2014-2017. Result. Form the resultsof the study, there were 26 babies born from HIV infected mothers (16 boy and 10 girl), 1 baby (3,8%) born spontaneously and 25 babies (96,2%) born in a cesareansection. An average of 26 babies (100%) were born at term gestational age, with a birth weight of 6 infants (23,1%) <2500gr and 20 infants (76,9%) born with a weight >2500gr. 26 babies born from HIV infected mothers (100%) received antiretroviral drugs from birth. Babies born from HIV infected mothers found 26 babies (100%) not infected with HIV. Conclusion. This study shows that HIV infected infants are not found in HIV infected mothers who give birth.
Key words: HIV/AIDS, HIV infected pregnancy, HIV in neonatus, antiretrovirus.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sejak ditemukan kasus AIDS pertama di Amerika Serikat (AS) pada tahun 1981 hingga saat ini, penyakit ini selalu menarik perhatian dunia kedokteran maupun masyarakat luas. Hal ini karena angka kematiannya yang tinggi dan jumlah penderita yang meningkat dalam waktu singkat. Sejak itu pula penelitian dan pengetahuan mengenai AIDS dan virus HIV berkembang dengan sangat pesat. (Djuanda et al., 2016)
Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) adalah sindroma dengan gejala penyakit infeksi opurtunistik atau kanker tertentu akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). HIV awalnya dikenal dengan nama Lymphadenopathy Associated Virus (LAV) merupakan golongan retrovirus dengan materi genetik ribonucleic acid (RNA) yang dapat diubah menjadi deoxyribonucleic acid (DNA) untuk diintegrasikan ke dalam sel pejamu dan diprogram membentuk gen virus. (Saifuddin et al., 2010) Pada saat awal epidemik infeksi HIV/AIDS, ditemukan pada kelompok masyarakat tertentu, yaitu kelompok homoseksual. Namun, saat ini infeksi HIV/AIDS ditemukan pada semua kelompok masyarakat seperti pengguna narkoba suntik (penasun), pekerja seks komersil, dan heteroseksual, bahkan pada ibu rumah tangga. (Djuanda et al., 2016)
Menurut hasil penelitian Yusri et al., (2012) yang dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan jenis infeksi oportunistik terbanyak adalah oral candidiasis (35,3%), diikuti tuberculosis paru (33%), diare kronis (12,7%), Pneumocystis carinii pneumonia (11,4%), toxoplasmic encephalitis (3,8%), sarkoma kaposi (2,9%), Herpes zoster (0,6%), dan cryptosporodiasis (0,3%).
Infeksi HIV merupakan salah satu masalah kesehatan utama dan salah satu
penyakit menular yang dapat mempengaruhi kematian ibu dan anak. Di banyak
negara berkembang, HIV merupakan penyebab utama kematian perempuan usia
reproduksi. Virus HIV dapat ditularkan dari ibu HIV kepada anaknya selama masa kehamilan, pada saat persalinan atau pada saat menyusui. (WHO, 2013) Ibu hamil merupakan kelompok berisiko tertular HIV. Jumlah ibu hamil yang terinfeksi HIV dari tahun ke tahun semakin meningkat, seiring dengan meningkatnya jumlah laki-laki yang melakukan hubungan seksual tidak aman, yang selanjutnya akan menularkan pada pasangan seksualnya. Yang akan berdampak pada bayi yang dikandung ibu hamil sebab penularan HIV dari ibu ke bayi merupakan akhir dari rantai penularan HIV. HIV yang ditularkan dari ibu kepada anaknya disebut “Mother to Child HIV Transmission (MTCT)“. Penularan HIV dari ibu ke bayi mencapai hingga 90% kasus. (WHO, 2011)
Menurut hasil penelitian Kassa (2018), prevalensi gabungan MTCT HIV (Mother to Child HIV Transmission) di negara Ethiopia, Afrika adalah 9,93%.
Analisis subkelompok menunjukkan prevalensi MTCT HIV yang lebih tinggi terdapat di kota Dire Dawa (15,7%) dan terendah di Southern Nations, Nationality and Peoples Region (SNNPR) sebesar (4,16%).
Menurut hasil penelitian Zahro et al., (2017) penderita HIV yang tercatat di klinik VCT RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda adalah 526 orang.
Penderita AIDS berjumlah 756 orang serta jumlah kasus transmisi perinatal adalah 81 kasus dan jumlah ibu penderita HIV yang sedang hamil adalah 44 orang.
Menurut hasil penelitian Evalina (2012), yang dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan terdapat 53 anak dengan diagnosis terinfeksi HIV. Terdiri dari 35 anak laki-laki (66%) dan 18 anak perempuan (34%). Berdasarkan riwayat orangtua, 45 anak (84,9%) memiliki kedua orangtua dengan positif terinfeksi HIV, 6 anak (11,3%) ibu yang positif terinfeksi HIV, dan 2 anak (3,8%) kedua orangtua yang tidak terinfeksi HIV (satu anak adalah anak adopsi dan satu anak memiliki riwayat transfusi darah 5 tahun yang lalu).
Indonesia merupakan salah satu negara dengan penambahan kasus HIV/AIDS
tercepat di Asia Tenggara, dengan estimasi peningkatan angka kejadian infeksi
HIV lebih dari 36%. Epidemi HIV/AIDS di Indonesia bertumbuh paling cepat di
antara negara-negara di Asia. (UNAIDS, 2018)
Jumlah kasus baru HIV positif yang dilaporkan dari tahun ke tahun cenderung meningkat dan pada tahun 2016 dilaporkan sebanyak 41.250 kasus. Persentase HIV positif menurut kelompok umur ≥50 tahun (6,5%), 25-49 tahun (69,3%), 20- 24 tahun (17,3%), 15-19 tahun (3,7%), 5-14 tahun (1,0%), ≤ 4 tahun (2,2%).
(Kemenkes RI, 2017)
Proses transmisi dapat terjadi pada saat kehamilan (5-10%), proses persalinan (10-20%), dan sesudah kelahiran melalui ASI (5-20%). Angka transmisi ini akan menurun sampai kurang dari 2% bila pasangan ibu dan anak menjalani program pencegahan/ Prevention of mother to child transmission (PMTCT) sejak saat kehamilan dengan penggunaan obat antiretroviral untuk ibu sampai dengan penanganan setelah kelahiran. Faktor risiko terjadinya transmisi adalah jumlah virus, kadar CD4, adanya infeksi lain (hepatitis, sitomegalovirus), ketuban pecah dini, kelahiran spontan/melalui vagina, prematuritas, dan pemberian ASI atau mixed feeding (pemberian ASI dan susu formula bersama-sama). (IDAI, 2009)
1.2 RUMUSAN MASALAH
Indonesia merupakan salah satu negara dengan penambahan kasus HIV/AIDS tercepat di Asia Tenggara, dengan estimasi peningkatan angka kejadian infeksi HIV lebih dari 36%. Epidemi HIV/AIDS di Indonesia bertumbuh paling cepat di antara negara-negara di Asia. (UNAIDS, 2018)
Jumlah kasus baru HIV positif yang dilaporkan dari tahun ke tahun cenderung meningkat dan pada tahun 2016 dilaporkan sebanyak 41.250 kasus. Persentase HIV positif menurut kelompok umur ≥50 tahun (6,5%), 25 – 49 tahun (69,3%), 20-24 tahun (17,3%), 15-19 tahun (3,7%), 5-14 tahun (1,0%), ≤ 4 tahun (2,2%).
(Kemenkes RI, 2017)
Berdasarkan uraian masalah di atas memberi dasar bagi peneliti untuk merumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
“Berapakah proporsi bayi yang terinfeksi dan tidak terinfeksi HIV pada ibu
penderita HIV yang melahirkan di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2014-
2017?”.
1.3 TUJUAN PENELITIAN 1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui jumlah proporsi bayi yang terinfeksi dan tidak terinfeksi HIV pada ibu penderita HIV yang melahirkan di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2014-2017
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui jumlah bayi yang lahir dari ibu penderita HIV di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2014-2017.
2. Mengetahui data demografi bayi yang lahir dari ibu penderita HIV di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2014-2017 berdasarkan jenis kelamin, riwayat kelahiran, proses kelahiran, dan berat badan lahir bayi.
3. Mengetahui status pemberian ARV pada bayi yang lahir dari ibu penderita HIV di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2014-2017.
4. Mengetahui diagnosis bayi yang lahir dari ibu penderita HIV di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2014-2017, terinfeksi atau tidak terinfeksi HIV.
5. Mengetahui jumlah ibu penderita HIV yang melahirkan di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2014-2017.
6. Mengetahui data demografi ibu penderita HIV yang melahirkan di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2014-2017 berdasarkan umur, pendidikan terakhir, pekerjaan, riwayat pernikahan, riwayat kehamilan dan persalinan, dan cara persalinan.
7. Mengetahui usia kehamilan ibu penderita HIV saat mendapat profilaksis
ARV di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2014-2017.
1.4 MANFAAT PENELITIAN 1. Bagi penulis
Sebagai pengalaman untuk meningkatkan pengetahuan dan memperluas wawasan penulis dalam melakukan penelitian tentang bayi yang terinfeksi dan tidak terinfeksi HIV pada ibu penderita HIV yang melahirkan.
2. Bagi tenaga kesehatan maupun dinas kesehatan
Sebagai bahan informasi dalam meningkatkan pelayanan pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (PPIA).
3. Bagi pemerintah
Sebagai masukan dalam memperhatikan penderita HIV/AIDS dengan membuat suatu kebijakan baru dalam hal pengobatan serta penanggulangan penderita HIV/AIDS terutama pada ibu muda ataupun ibu hamil untuk meminimalkan angka bayi terinfeksi HIV/AIDS setiap tahunnya.
4. Bidang penelitian dan pendidikan
Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk menambah referensi atau kepustakaan dalam penelitian khususnya tentang proporsi bayi yang terinfeksi dan tidak terinfeksi HIV pada ibu penderita HIV yang melahirkan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi HIV
Infeksi HIV adalah penyakit yang diakibatkan oleh infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). AIDS adalah penyakit yang menunjukkan adanya sindrom defisiensi imun selular sebagai akibat infeksi HIV. (IDAI, 2010)
2.2 Etiologi HIV
HIV ialah retrovirus yang disebut Lymphadenopathy Associated Virus (LAV) atau Human T-Cell Leukimia Virus (HTL-III yang juga disebut Human T-Cell lymphotropic Virus (retrovirus). HIV terdiri atas HIV-1 dan HIV-2, kasus terbanyak ditemukan karena HIV-1. Partikel HIV terdiri atas dua untaian RNA dalam inti protein yang dilindungi envelop lipid asal sel hospes. (Djuanda et al., 2016)
2.3 Patofisiologi HIV
Untuk dapat terinfeksi HIV diperlukan reseptor spesifik pada sel pejamu yaitu molekul CD4. Molekul CD4 ini mempunyai afinitas yang sangat besar terhdap HIV, terutama terhadap molekul glikoprotein (gp120) dari selubung virus. Di antara sel tubuh yang memiliki molekul CD4, sel limfosit-T memiliki molekul CD4 paling banyak. Oleh karena itu, infeksi HIV dimulai dengan penempelan virus pada limfosit-T. Setelah penempelan, terjadi diskontinuitas dari membran sel limfosit-T sehingga seluruh komponen virus harus masuk ke dalam sitoplasma sel limfosit-T, kecuali selubungnya. Selanjutnya, RNA dari virus mengalami transkripsi menjadi seuntai DNA dengan bantuan enzim reverse transcriptase.
Akibat aktivitas enzim RNA-ase H, RNA yang asli dihancurkan sedang seuntai
DNA yang terbentuk mengalami polimerisasi menjadi dua untai DNA dengan
bantuan enzim polimerase. DNA yang terbentuk ini kemudian pindah dari
sitoplasma ke dalam inti sel limfosit-T dan menyisip ke dalam DNA sel pejamu
dengan bantuan enzim integrase, disebut sebagai provirus. Provirus yang terbentuk ini tinggal dalam keadaan laten atau dalam keadaan replikasi yang sangat lambat, tergantung pada aktivitas dan deferensiasi sel pejamu (T-CD 4) yang diinfeksinya, sampai kelak terjadi suatu stimulasi yang dapat memicu dan memacu terjadinya replikasi dengan kecepatan tinggi. (IDAI, 2008)
Stimulasi yang dapat memicu dan memacu terjadinya replikasi yang cepat ini masih belum jelas, walaupun umumnya diduga dapat terjadi oleh karena bahan mitogen atau antigen yang mungkin bekerja melalui sitokin, baik yang terdapat sebelum maupun sesudah terjadinya infeksi HIV. Tidak semua sitokin dapat memacu replikasi virus. Sitokin yang dapat memacu adalah sitokin yang umumnya ikut serta mengatur respons imun, seperti misalnya interlekuin (IL) 1, 3, 6 tumor necrosis factor α dan β, interferon gamma, granulocyte-macrophage colony-stimulating factor dan macrophage colony-stimulating factor. Yang bersifat menghambat adalah interleukin-4, transforming growth factor β, interferon α dan β. (IDAI, 2008)
Setelah HIV masuk ke dalam tubuh baik melalui sirkulasi atau melalui mukosa, HIV pertama-tama dibawa ke dalam kelenjar limfe regional. Di sini terjadi replikasi virus yang kemudian menimbulkan viremia dan infeksi jaringan limfoid yang lain (multipel) yang dapat menimbulkan limfadenopati subklinis.
(IDAI, 2008)
Sementara itu, sel limfosit-B yang terdapat di dalam sentrum germinativum jaringan limfoid juga memberikan respon imun yang spesifik terhadap HIV. Hal ini yang mengakibatkan limfadenopati yang nyata akibat hiperplasia atau proliferasi folikular yang ditandai oleh meningkatnya sel dendrit folikular di dalam sentrum germinativum dan sel limfosit T-CD4. Akumulasi sel limfosit T- CD4 yang meningkat di dalam jaringan limfoid ini selain akibat proliferasi in situ tersebut, juga berasal dari migrasi limfosit dari luar. Migrasi sel T-CD4 dari luar inilah yang mengakibatkan penurunan sel T-CD4 di dalam sirkulasi secara tiba–
tiba yang merupakan gejala yang khas dari sindrom infeksi HIV akut. Di samping
itu, sel limfosit-B menghasilkan berbagai sitokin yang dapat mengaktifkan dan
sekaligus memudahkan infeksi sel T-CD4. (IDAI, 2008)
Pada fase awal dan tengah penyakit, ikatan partikel HIV, antibodi dan komplemen terkumpul di dalam jaring-jaring sel dendritik folikular. Seperti telah dikemukakan, HIV di dalam sel T-CD4 dapat tinggal laten untuk waktu yang panjang sebelum kemudian mengalami replikasi kembali akibat berbagai stimulasi. Pada fase yang lebih lanjut, dengan demikian, tidak lagi ditemukan partikel HIV yang bebas oleh karena semuanya terdapat di dalam sel. Hal lain yang dapat diamati adalah dengan progresivitas penyakit terjadilah degenerasi sel dendrite folikular sehingga hilanglah kemampuan organ limfoid untuk menjerat partikel HIV yang berakibat meningkatnya HIV di dalam sirkulasi. Hal ini sudah tentu meningkatkan penyebaran HIV ke dalam berbagai organ tubuh. (IDAI, 2008)
2.4 Cara Penularan HIV
Cara penularan HIV terbagi 2, yaitu:
1. Penularan HIV secara horizontal adalah melalui hubungan seksual (vagina, anal, atau orogenital), kontak kulit (dari jarum yang terkontaminasi atau benda tajam lainnya), atau pajanan selaput lendir dengan darah atau cairan tubuh yang terkontaminasi. Penularan melalui darah dan produk darah yang terkontaminasi telah dieliminasi di negara maju, tetapi masih terjadi di negara berkembang.
2. Penularan HIV secara vertikal, dari ibu ke bayi dapat terjadi transplasenta di dalam rahim, saat persalinan, atau menyusui. Faktor risiko untuk penularan perinatal meliputi prematuritas, ketuban pecah lebih dari 4 jam, dan tingginya konsentrasi HIV yang bersirkulasi saat ibu melahirkan. Transmisi perinatal dapat menurun dari sekitar 25% menjadi kurang dari 8% dengan pengobatan antiretroviral pada ibu sebelum dan selama persalinan dan pengobatan pasca-lahir pada bayi. Menyusui oleh ibu yang terinfeksi HIV meningkatkan risiko penularan sebesar 30%
sampai 50%. Pada bayi yang tidak diobati, masa inkubasi rata-rata dihitung dari transmisi vertikal sampai berkembangnya menjadi AIDS adalah 5 bulan (kisaran 1 sampai 24 bulan) dibanding dengan periode inkubasi setelah transmisi horizontal yang umumnya 7 sampai 10 tahun.
(Marcdante et al., 2014)
Gambar 2.1 Mekanisme penularan dari ibu ke bayinya merupakan proses yang komplek antara virulensi virus, faktor ibu dan faktor janin. (Green WC, 2009)
2.5 Faktor Risiko Penularan HIV dari Ibu ke Anak
Ada tiga faktor utama yang berpengaruh pada penularan HIV dari ibu ke anak, yaitu faktor ibu, bayi/anak, dan tindakan obstetrik:
1. Faktor Ibu
Jumlah virus (viral load)
Jumlah virus HIV dalam darah ibu saat menjelang atau saat persalinan dan jumlah virus dalam air susu ibu ketika ibu menyusui bayinya sangat mempengaruhi penularan HIV dari ibu ke anak.
Risiko penularan HIV menjadi sangat kecil jika kadar HIV rendah (kurang dari 1.000 kopi/ml) dan sebaliknya jika kadar HIV di atas 100.000 kopi/ml.
Jumlah sel CD4
Ibu dengan jumlah sel CD4 rendah lebih berisiko menularkan HIV ke bayinya. Semakin rendah jumlah sel CD4 risiko penularan HIV semakin besar.
Status gizi selama hamil
Berat badan rendah serta kekurangan vitamin dan mineral selama
hamil meningkatkan risiko ibu untuk menderita penyakit infeksi
yang dapat meningkatkan jumlah virus dan risiko penularan HIV ke bayi.
Penyakit infeksi selama hamil
Penyakit infeksi seperti sifilis, infeksi menular seksual, infeksi saluran reproduksi lainnya, malaria, dan tuberkulosis, berisiko meningkatkan jumlah virus dan risiko penularan HIV ke bayi.
Gangguan pada payudara
Gangguan pada payudara ibu dan penyakit lain, seperti mastitis, abses, dan luka di puting payudara dapat meningkatkan risiko penularan HIV melalui ASI.
2. Faktor Bayi
Usia kehamilan dan berat badan bayi saat lahir
Bayi lahir prematur dengan berat badan lahir rendah (BBLR) lebih rentan tertular HIV karena sistem organ dan sistem kekebalan tubuhnya belum berkembang dengan baik.
Periode pemberian ASI
Semakin lama ibu menyusui, risiko penularan HIV ke bayi akan semakin besar.
Adanya luka di mulut bayi
Bayi dengan luka di mulutnya lebih berisiko tertular HIV ketika diberikan ASI.
3. Faktor obstetrik
Pada saat persalinan, bayi terpapar darah dan lendir ibu di jalan lahir.
Faktor obstetrik yang dapat meningkatkan risiko penularan HIV dari ibu ke anak selama persalinan adalah:
Jenis persalinan
Risiko penularan persalinan per vaginam lebih besar daripada persalinan melalui bedah sesar (seksiosesaria).
Lama persalinan
Semakin lama proses persalinan berlangsung, risiko penularan HIV dari ibu ke anak semakin tinggi, karena semakin lama terjadinya kontak antara bayi dengan darah dan lendir ibu.
Ketuban pecah lebih dari 4 jam sebelum persalinan meningkatkan
risiko penularan hingga dua kali lipat dibandingkan jika ketuban pecah kurang dari 4 jam.
Tindakan episiotomi, ekstraksi vakum dan forseps meningkatkan
risiko penularan HIV karena berpotensi melukai ibu atau bayi.
(Kemenkes, 2012)
Tabel 2.1 Faktor yang berperan dalam penularan HIV dari ibu ke bayi (Kemenkes, 2012)
FAKTOR IBU FAKTOR BAYI FAKTOR OBSTETRIK
Kadar HIV (viral load)
Kadar CD4
Status gizi saat hamil
Penyakit infeksi saat hamil
Masalah di payudara (jika menyusui)
Prematuritas dan berat bayi saat lahir
Lama menyusui
Luka di mulut bayi (jika bayi menyusu)
Jenis persalinan
Lama persalinan
Adanya ketuban pecah dini
Tindakan episiotomi, ekstraksi vakum dan forseps
2.6 Gejala dan Tanda Klinis HIV
Tabel 2.2 Gejala dan Tanda Klinis menurut WHO (Kemenkes, 2011)
Keadaan Umum
Kehilangan berat badan > 10% dari berat badan dasar
Demam (terus menerus atau intermiten, temperatur oral > 37,5°C) yang lebih dari satu bulan
Diare (terus menerus atau intermiten) yang lebih dari satu bulan
Limfadenopati meluas Kulit
PPE* dan kulit kering yang luas* merupakan dugaan kuat infeksi HIV. Beberapa kelainan seperti kulit genital (genital warts), folikulitis dan psoriasis sering terjadi pada ODHA tapi tidak selalu terkait dengan HIV
Infeksi
Infeksi jamur Kandidiasis oral*
Dermatitis seboroik*
Kandidiasis vagina berulang
Infeksi viral Herpes zoster (berulang atau
melibatkan lebih dari satu dermatom)*
Herpes genital (berulang)
Moluskum kontagiosum
kondiloma
Gangguan Pernafasan Batuk lebih dari satu bulan
Sesak nafas
Tuberkulosis
Pneumonia berulang
Sinusitis kronis atau berulang Gangguan neurologis Nyeri kepala yang semakin parah
(terus menerus dan tidak jelas penyebabnya)
Kejang demam
Menurunnya fungsi kognitif
*keadaan tersebut merupakan dugaan kuat terhadap infeksi HIV
2.7 Klasifikasi Klinis HIV pada Bayi dan Anak
Tabel 2.3 Klasifikasi menurut WHO mengenai penyakit yang berhubungan dengan HIV (IDAI, 2010)
Klasifikasi Stadium klinis WHO
Asimtomatik
Ringan
Sedang
Berat
1
2
3
4
Stadium klinis WHO untuk Bayi dan Anak yang terinfeksi HIV 1. Stadium klinis 1
Asimtomatik
Limfadenopati generalisata persisten 2. Stadium klinis 2
Hepatosplenomegali persisten yang tidak dapat dijelaskan
Erupsi pruritik papular
Infeksi virus wart luas
Angular cheilitis
Moluskum kontagiosum luas
Ulserasi oral berulang
Pembesaran kelenjar parotis persisten yang tidak dapat dijelaskan
Eritema ginggival lineal
Herpes zoster
Infeksi saluran napas atas kronik atau berulang (otitis media, otorrhoea, sinusitis, tonsillitis)
Infeksi kuku oleh fungus 3. Stadium klinis 3
Malnutrisi sedang yang tidak dapat dijelaskan, tidak berespons secara adekuat terhadap terapi standar
Diare persisten yang tidak dapat dijelaskan (14 hari atau lebih)
Demam persisten yang tidak dapat dijelaskan (lebih dari 37,5°C intermiten atau konstan, >1 bulan)
Kandidiasis oral persisten (di luar saat 6-8 minggu pertama kehidupan)
Oral hairy leukoplakia
Periodontitis/ginggivitis ulseratif nekrotikans akut
TB kelenjar
TB Paru
Pneumonia bakterial yang berat dan berulang
Pneumonistis interstitial limfoid simtomatik
Penyakit paru-berhubungan dengan HIV yang kronik termasuk bronkiektasis
Anemia yang tidak dapat dijelaskan (< 8 g/dl), neutropenia (<
500/mm³), atau trombositopenia (< 500.000/mm³) 4. Stadium klinis 4
Malnutrisi, wasting dan stunting berat yang tidak dapat dijelaskan dan tidak berespons terhadap terapi standar
Pneumonia pneumosistis
Infeksi bakterial berat yang berulang (misalnya empiema, piomiositis, infeksi tulang dan sendi, meningitis, kecuali pneumonia)
Infeksi herpes simplex kronik (orolabial atau kontaneus >1 bulan atau viseralis di lokasi manapun)
TB ekstrapulmonar
Sarkoma kaposi
Kandidiasis esofagus (atau trakea, bronkus, atau paru)
Toksoplasmosis susunan saraf pusat (di luar masa neonatus)
Ensefalopati HIV
Infeksi sitomegalovirus (CMV), retinitis atau infeksi CMV pada organ lain, dengan onset umur > 1 bulan
Kriptokokosis ekstrapulmonar termasuk meningitis
Mikosis endemik diseminata (histoplasmosis, coccidiomycosis)
Kriptosporidiosis kronik (dengan diarea)
Isosporiasis kronik
Infeksi mikobakteria non-tuberkulosis diseminata
Kardiomiopati atau nefropati yang dihubungkan dengan HIV yang simtomatik
Limfoma sel B non-Hodgkin atau limfoma serebral
Progressive multifocal leukoencephalopathy
Catatan:
a. Tidak dapat dijelaskan berarti kondisi tersebut tidak dapat dibuktikan oleh sebab yang lain
b. Beberapa kondisi khas regional seperti Penisiliosis dapat disertakan pada kategori ini (IDAI, 2010)
2.8 Diagnosis HIV pada bayi
Tabel 2.4 Alur diagnosis HIV (Kemenkes, 2014)
Kategori Tes yang
diperlukan
Tujuan Aksi
Bayi sehat, ibu terinfeksi HIV
Uji Virologi umur 6 minggu
Mendiagnosis HIV
Mulai ARV bila terinfeksi HIV Bayi-pajanan HIV
tidak diketahui
Serologi ibu atau bayi
Untuk identifikasi atau memastikan
pajanan HIV
Memerlukan tes virologi bila terpajan HIV Bayi sehat
terpajan HIV, umur 9 bulan
Serologi pada imunisasi 9 bulan
Untuk mengidentifikasi
bayi yang masih memiliki antibodi
ibu atau seroreversi
Hasil positif harus diikuti dengan uji virologi dan pemantauan lanjut. Hasil negatif, harus dianggap tidak terinfeksi, ulangi
test bila masih mendapat ASI Bayi atau anak
dengan gejala dan tanda sugestif
infeksi HIV
Serologi Memastikan infeksi
Lakukan uji virologi bila umur
< 18 bulan Bayi umur
> 9 - < 18 bulan dengan uji serologi positif
Uji virologi Mendiagnosis HIV
Bila positif terinfeksi segera
masuk ke tatalaksana HIV dan terapi ARV Bayi yang sudah
berhenti ASI
Ulangi uji (serologi atau virologi) setelah berhenti minum
ASI 6 minggu
Untuk mengeksklusi
infeksi HIV setelah pajanan
dihentikan
Anak < 5tahun terinfeksi HIV harus segera
mendapat tatalaksana HIV
termasuk ARV
2.8.1 Diagnosis Presumtif HIV pada anak < 18 bulan
Bila ada anak berumur < 18 bulan dan diperkirakan terinfeksi HIV, tetapi perangkat laboratorium untuk PCR HIV tidak tersedia, tenaga kesehatan diharapkan mampu menegakkan diagnosis dengan cara Diagnosis Presumtif.
Atau
Gambar 2.2 Alur diagnosis presumtif HIV (Kemenkes, 2014)
2.9 Terapi Antiretroviral
Sampai sekarang belum ada obat yang dapat menyembuhkan HIV/AIDS, namun dengan terapi antiretroviral, jumlah virus di dalam tubuh dapat ditekan sangat rendah, sehingga ODHA dapat tetap hidup layaknya orang sehat.
Terapi ARV bertujuan untuk:
Mengurangi laju penularan HIV di masyarakat
Menurunkan angka kesakitan dan kematian yang berhubungan dengan
HIV
Memperbaiki kualitas hidup ODHA
Memulihkan dan memelihara fungsi kekebalan tubuh
Menekan replikasi virus secara maksimal
Pemberian ARV untuk ibu hamil dengan HIV mengikuti Pedoman Tatalaksana Klinis dan Terapi Antiretroviral pada Orang Dewasa.
Bila ada 1 kriteria berikut:
PCP, meningitis kriptokokus, kandidiasis esophagus
Toksoplasmosis
Malnutrisi berat yang tidak membaik dengan pengobatan standar
Minimal ada 2 gejala berikut:
Oral thrush
Pneumonia berat
Sepsis berat
Kematian ibu yang berkaitan dengan HIV atau penyakit HIV yang lanjut pada ibu
CD4 + < 20%
Pemberian ARV disesuaikan dengan kondisi klinis ibu (lihat tabel 2.5) dan mengikuti ketentuan sebagai berikut :
Ibu hamil merupakan indikasi pemberian ARV
Untuk perempuan yang status HIV-nya diketahui sebelum hamil, dan
pasien sudah mendapatkan ART, maka saat hamil ART tetap diteruskan dengan regimen yang sama seperti saaat sebelum hamil.
Untuk ibu hamil yang status HIV-nya diketahui sebelum umur
kehamilannya 14 minggu, jika ada indikasi dapat diberikan ART. Namun jika tidak ada indikasi, pemberian ART ditunggu hingga umur kehamilannya 14 minggu. Regimen ART yang diberikan sesuai dengan kondisi klinis ibu.
Untuk ibu hamil yang status HIV-nya diketahui pada umur kehamilan
>14 minggu, segera diberikan ART berapapun nilai CD4 dan stadium klinisnya. Regimen ART yang diberikan sesuai dengan kondisi klinis ibu.
Untuk ibu hamil yang status HIV-nya diketahui sesaat menjelang
persalinan, segera diberikan ART sesuai kondisi klinis ibu. Pilihan kombinasi regimen ART sama dengan ibu hamil yang lain.
Tabel 2.5 Rekomendasi ART pada ibu hamil dengan HIV (Kemenkes, 2012)
No. Situasi klinis Rekomendasi pengobatan (paduan untuk ibu) 1 ODHA sedang terapi ARV,
kemudian hamil
Lanjutkan paduan (ganti dengan NVP atau golongan PI jika sedang menggunakan EFV pada trimester 1)
Lanjutkan dengan paduan ARV yang sama selama dan sesudah persalinan
2 ODHA hamil dengan jumlah dalam stadium klinis 1 atau jumlah CD4>350/mm³ dan belum terapi ARV
Mulai ARV pada minggu ke-14 kehamilan
Paduan sebagai berikut:
a) AZT+3TC+NVP* atau b) TDF+3TC (atau FTC) +NVP*
c) AZT+3TC+EEV**atau d) TDF+3TC (atauFTC)+EFV
3 ODHA hamil dengan jumlah CD4<350/mm³ atau stadium klinis 2,3,4
Segera mulai terapi ARV dengan paduan seperti pada butir 2
4 ODHA hamil dengan tuberkulosis aktif
OAT tetap diberikan
Paduan untuk ibu, bila pengobatan mulai trimester II dan III: AZT (TDF)+3TC+EFV 5 Ibu hamil dalam masa
persalinan dan status HIV tidak diketahui
Tawarkan tes HIV dalam masa persalinan; atau tes setelah persalinan
Jika hasil tes reaktif, dapat diberikan paduan pada butir 2
6 ODHA datang pada masa persalinan dan belum mendapat terapi ARV
Paduan butir 2
Keterangan :
*Penggunaan Nevirapin (NVP) pada perempuan dengan CD4>250 sel/mm³ atau yang tidak diketahui jumlah CD-4nya dapat menimbulkan reaksi hipersensitif
**Efavirens tidak boleh diberikan pada ODHA hamil trimester 1 karena teratogenik
Tabel 2.6 Profilaksis ARV pada bayi (IDAI, 2009)
Profilaksis ARV untuk Bayi
Obat Dosis
Zidovudin
Bayi dengan usia gestasi > 35 minggu 2 mg/kg BB/kali, setiap 6 jam, diberikan setelah lahir (6-12 jam setelah kelahiran) Bayi dengan usia gestasi 30-35 minggu 2 mg/kg BB/kali, setiap 12 jam (2 minggu
pertama), kemudian setiap 8 jam (setelah usia 2 minggu)
Bayi dengan usia gestasi < 30 minggu 2 mg/kg BB/kali, setiap 12 jam (4 minggu pertama), kemudian setiap 8 jam (setelah usia 4 minggu)
Nevirapin 2 mg/kg BB, diberikan dosis tunggal, dalam 72 jam pertama setelah kelahiran
2.9.1 Persalinan Aman
Pemilihan persalinan yang aman diputuskan oleh ibu setelah mendapatkan konseling lengkap tentang pilihan persalinan, risiko penularan, dan berdasarkan penilaian dari tenaga kesehatan. Pilihan persalinan meliputi persalinan pervaginam dan per abdominam (bedah sesar atau seksiosesarea). Beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa bedah sesar akan mengurangi risiko penularan HIV dari ibu ke bayi hingga sebesar 2%-4%, namun perlu dipertimbangkan faktor keamanan ibu pasca bedah sesar. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa komplikasi minor dari operasi bedah sesar seperti endometritis, infeksi luka dan infeksi saluran kemih lebih bayak terjadi pada ODHA dibandingkan non-ODHA.
(Kemenkes, 2012)
2.9.2 Tatalaksana pemberian makanan bagi bayi/anak
Pemilihan makanan bayi harus didahului dengan konseling tentang risiko penularan HIV melalui ASI. Konseling diberikan sejak perawatan antenatal atau sebelum persalinan. Pengambilan keputusan oleh ibu dilakukan setelah mendapat informasi secara lengkap. Pilihan apapun yang diambil oleh ibu harus didukung.
(Kemenkes, 2012)
Ibu dengan HIV yang sudah dalam terapi ARV memiliki kadar HIV sangat
rendah, sehingga aman untuk menyusui bayinya. Dalam Pedoman HIV dan Infant
Feeding (2010), World Health Organization (WHO) merekomendasikan
pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan untuk bayi lahir dari ibu yang HIV dan
sudah dalam terapi ARV untuk kelangsungan hidup anak (HIV-free and child
survival). Eksklusif artinya hanya diberikan ASI saja, tidak boleh dicampur
dengan susu lain (mixed feeding). Setelah bayi berusia 6 bulan pemberian ASI
dapat diteruskan hingga bayi berusia 12 bulan disertai dengan pemberian makanan
padat. (Kemenkes, 2012)
Tabel 2.7 Perbandingan risiko penularan HIV dari ibu ke anak pada pemberian ASI eksklusif, susu formula, dan mixed feeding (Kemenkes, 2012)
ASI eksklusif Susu formula
Mixed feeding5-15% 0% 24,1%
Beberapa studi menunjukkan pemberian susu formula memiliki risiko minimal untuk penularan HIV dari ibu ke bayi, sehingga susu formula diyakini sebagai cara pemberian makanan yang aman. Tetapi, adanya keterbatasan kemampuan keluarga Indonesia dan norma sosial tertentu yang mengharuskan ibu menyusui bayinya. Sangat tidak dianjurkan untuk mixed feeding karena memiliki risiko penularan HIV terbesar. (Kemenkes, 2012)
2.10 Bayi positif terinfeksi HIV
Bayi yang positif HIV segera diberikan ARV (antiretroviral). Prinsip dasar dalam pemberian ARV adalah bahwa ARV sampai saat ini bukan untuk menyembuhkan, bila digunakan dengan benar berhubungan dengan perbaikan kualitas hidup penderita. Tujuan pengobatan yang ingin dicapai adalah:
1. Memperpanjang usia hidup anak yang terinfeksi HIV 2. Mencapai tumbuh dan kembang yang optimal
3. Menjaga, menguatkan dan memperbaiki sistem imun dan mengurangi infeksi oportunistik
4. Menekan replikasi virus HIV dan mencegah progresifitas penyakit 5. Mengurangi morbiditas anak-anak dan meningkatkan kualitas hidupnya Tatalaksana pada penderita HIV atau yang terpapar HIV harus lengkap, meliputi pemantauan tumbuh kembang, nutrisi, imunisasi, tatalaksana medikamentosa, tatalaksana psikologis dan penanganan sisi sosial yang akan berperan dalam kepatuhan program pemantauan dan terapi. Pemberian imunisasi harus mempertimbangkan situasi klinis, status imunologis serta panduan yang berlaku. Panduan imunisasi WHO berkenaan dengan anak pengidap HIV adalah selama asimtomatik, semua jenis vaksin dapat diberikan, termasuk vaksin hidup.
Tetapi bila simtomatik, maka pemberian vaksin polio oral dan BCG sebaiknya
dihindari. (IDAI, 2010)
2.11 Kerangka Teori
Gambar 2.3 Kerangka teori HIV
adalah penyakit yang diakibatkan oleh infeksi virus
Human Immunodeficiency
Virus.
Faktor risiko penularan:
Faktor ibu
Faktor bayi
Faktor obstetrik Diagnosis HIV pada bayi dengan test uji Serologi /
uji Virologi sesuai alur diagnosis HIV atau dengan alur diagnosis presumtif HIV Etiologi HIV
HIV ialah retrovirus yang
disebut Lymphadenopathy
Associated Virus (LAV). Terdiri atas
HIV-1 dan HIV-2
Tatalaksana profilaksis ARV pada bayi setelah
kelahiran Patofisiologi HIV Terkena paparan virus HIV yang masuk kedalam tubuh dan menyerang limfosit.
Limfosit T mati, terjadi penurunan CD4. Menyebabkan
penurunan sistem imun, sehingga pertahanan terhadap
mikroorganisme pathogen menjadi lemah. Dan meningkatkan risiko terjadinya
AIDS.
Bayi lahir Terinfeksi dan Tidak terinfeksi
HIV Tatalaksana profilaksis ARV
pada ibu sesuai situasi klinis Cara penularan HIV
terhadap ibu secara horizontal. Dan menularkan ke bayi
secara vertikal.
Ibu penderita HIV melahirkan.
Persalinan secara Normal / Bedah
sesar
2.12 Kerangka Konsep
Gambar 2.4 Kerangka konsep
- Normal
- Bersalin bedah sesar - Bayi terinfeksi
- Bayi tidak terinfeksi HIV Ibu HIV + ARV
Ibu HIV - ARV
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif, dengan desain penelitian retrospektif yang mengamati data sekunder berupa rekam medis. Penelitian ini untuk mengetahui proporsi bayi yang terinfeksi dan tidak terinfeksi HIV dari ibu penderita HIV yang melahirkan di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2014–
2017.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan, yang berlokasi di Jalan Bunga Lau No.17, Kelurahan Kemenangan Tani, Kecamatan Medan Tuntungan, Kotamadya Medan, Provinsi Sumatera Utara. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit pemerintah yang masuk dalam kategori rumah sakit kelas A.
Berdasarkan SK MenKes RI No. HK.02.02/MENKES/390/2014 tanggal 17 Oktober 2014 tentang Pedoman Penetapan Rumah Sakit Rujukan Nasional, RSUP Haji Adam Malik Medan merupakan salah satu rumah sakit di bagian Regional Barat yang merupakan Rumah Sakit Rujukan Nasional.
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian 3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien ibu penderita HIV yang
melahirkan dan bayi yang lahir dari ibu penderita HIV di RSUP Haji Adam Malik
Medan tahun 2014-2017. Jumlah populasi tersebut didapat berdasarkan rekam
medis.
3.3.2 Sampel
Teknik dalam pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Consecutive sampling, dimana semua pasien ibu penderita HIV yang melahirkan dan bayi yang lahir dari ibu penderita HIV di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2014-2017 keseluruhan populasinya adalah sampel.
3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi 3.4.1 Kriteria Inklusi
Bayi yang lahir dari ibu penderita HIV di RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2014-2017.
Memiliki data lengkap: tahun lahir, jenis kelamin, lahir aterm/ prematur, proses kelahiran, bbl bayi, status pemberian ARV, diagnosis bayi terinfeksi dan tidak terinfeksi HIV.
Ibu penderita HIV yang melahirkan di RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2014-2017.
Memiliki data lengkap: tahun melahirkan, umur, pendidikan terakhir, pekerjaan, riwayat pernikahan, riwayat kehamilan dan persalinan, cara persalinan, penggunaan ARV selama kehamilan.
3.4.2 Kriteria Eksklusi
Data rekam medis yang tidak lengkap
3.5 Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dengan
melihat semua catatan kartu status (rekam medis) di RSUP Haji Adam Malik
Medan tahun 2014-2017.
3.6 Definisi Operasional
Pada penelitian ini digunakan definisi operasional sebagai berikut:
1. Jumlah bayi lahir tahun 2014-2017
Definisi : Tahun lahir bayi yang lahir dari ibu penderita HIV Cara ukur : Observasi
Alat ukur : Rekam Medis Hasil ukur : a. 2014
b. 2015 c. 2016 d. 2017 Skala ukur : Nominal 2. Jenis kelamin bayi
Definisi : Jenis kelamin bayi yang lahir dari ibu penderita HIV Cara ukur : Observasi
Alat ukur : Rekam Medis Hasil ukur : a. Laki-laki
b. Perempuan
Skala ukur : Nominal 3. Usia lahir bayi
Definisi : Bayi yang lahir usia ≥37 minggu disebut aterm dan yang lahir usia ≤37 minggu disebut prematur
Cara ukur : Observasi Alat ukur : Rekam Medis Hasil ukur : a. ≥ 37 minggu
b. ≤ 37 minggu
Skala ukur : Nominal 4. Proses kelahiran pada bayi
Definisi : Proses kelahiran pada bayi yang lahir dari ibu penderita HIV
Cara ukur : Observasi
Alat ukur : Rekam Medis
Hasil ukur : a. Spontan b. Seksiosesarea Skala ukur : Nominal
5. Berat badan lahir
Definisi : Berat badan lahir bayi yang lahir dari ibu penderita HIV Cara ukur : Observasi
Alat ukur : Rekam Medis Hasil ukur : a. < 2500 gr b. > 2500gr Skala ukur : Ordinal
6. Status pemberian ARV pada bayi
Definisi : Status pemberian ARV pada bayi yang lahir dari ibu penderita HIV
Cara ukur : Observasi Alat ukur : Rekam Medis Hasil ukur : a. Positif
b. Negatif
Skala ukur : Nominal
7. Diagnosis bayi yang lahir terinfeksi atau tidak terinfeksi HIV
Definisi : Diagnosis bayi yang lahir dari ibu penderita HIV, terinfeksi atau tidak terinfeksi HIV
Cara ukur : Observasi Alat ukur : Rekam Medis Hasil ukur : a. Terinfeksi (+)
b. Tidak terinfeksi (-) Skala ukur : Nominal
8. Jumlah ibu penderita HIV melahirkan tahun 2014-2017 Definisi : ibu penderita HIV melahirkan pada tahun Cara ukur : Observasi
Alat ukur : Rekam Medis
Hasil ukur : a. 2014
b. 2015 c. 2016 d. 2017 Skala ukur : Nominal 9. Umur
Definisi : Ibu penderita HIV melahirkan pada umur Cara ukur : Observasi
Alat ukur : Rekam Medis Hasil ukur : a. < 20 tahun
b. 21 – 30 tahun c. 31 – 40 tahun d. > 40 tahun Skala ukur : Ordinal 10. Pendidikan terakhir
Definisi : Pendidikan terakhir ibu penderita HIV Cara ukur : Observasi
Alat ukur : Rekam Medis Hasil ukur : a. SD
b. SMP c. SMA d. D3/S1 Skala ukur : Nominal 11. Pekerjaan
Definisi : Pekerjaan ibu penderita HIV Cara ukur : Observasi
Alat ukur : Rekam Medis Hasil ukur : a. Ibu rumah tangga
b. Pegawai swasta
c. Wiraswasta
d. Pegawai negeri
Skala ukur : Nominal
12. Riwayat pernikahan
Definisi : Pernikahan keberapa dari ibu penderita HIV Cara ukur : Observasi
Alat ukur : Rekam Medis Hasil ukur : a. Pertama
b. Kedua
c. Ketiga atau lebih Skala ukur : Nominal
13. Riwayat kehamilan dan persalinan
Definisi : Kehamilan dan persalinan anak keberapa dari ibu penderita HIV
Cara ukur : Observasi Alat ukur : Rekam Medis Hasil ukur : a. Pertama
b. Kedua c. Ketiga
d. Keempat atau lebih Skala ukur : Nominal
14. Cara persalinan
Definisi : Cara persalinan ibu penderita HIV Cara ukur : Observasi
Alat ukur : Rekam Medis Hasil ukur : a. Spontan
b. Seksiosesarea Skala ukur : Nominal
15. Status mendapat profilaksis ARV
Definisi : Ibu penderita HIV yang mendapatkan profilaksis ARV berdasarkan usia kehamilan
Cara ukur : Observasi
Alat ukur : Rekam Medis
Hasil ukur : a. Trimester 1
b. Trimester 2 c. Trimester 3
d. tidak mendapat profilaksis ARV Skala ukur : Ordinal
3.7 Metode Analisis Data
Data yang dikumpulkan dari rekam medis RSUP Haji Adam Malik Medan
akan dimasukkan dan diolah secara manual dengan komputer dan disajikan dalam
bentuk tabel distribusi frekuensi.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Karakteristik Responden
Karakteristik individu yang dipilih untuk menjadi sampel adalah bayi yang lahir dari ibu penderita HIV dan ibu penderita HIV yang melahirkan di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2014-2017. Dari tahun 2014-2017 jumlah ibu penderita HIV yang melahirkan di RSUP Haji Adam Malik Medan sebanyak 104 orang ibu.
Dari 104 orang ibu penderita HIV yang melahirkan, data yang didapat dari rekam medis dan pusyansus yang sesuai dengan kriteria inklusi hanya ada 50 orang ibu saja dan data yang tidak didapat sebanyak 54 orang ibu.
Dengan rincian data yang didapat, pada tahun 2014 jumlah ibu penderita HIV yang melahirkan sesuai kriteria inklusi sebanyak 18 orang ibu. Pada tahun 2015 tidak adanya data ibu penderita HIV yang melahirkan sesuai kriteria inklusi, seharusnya ada 24 orang ibu penderita HIV yang melahirkan. Pada tahun 2016 data jumlah ibu penderita HIV yang melahirkan sesuai kriteria inklusi sebanyak 22 orang ibu, dari 34 orang ibu penderita HIV yang melahirkan pada tahun 2016.
Dan pada tahun 2017 data jumlah ibu penderita HIV yang melahirkan sesuai kriteria inklusi sebanyak 10 orang ibu, dari 28 orang ibu penderita HIV yang melahirkan pada tahun 2017.
Dari data 50 orang ibu penderita HIV yang melahirkan, hanya didapat data 26
orang bayi yang lahir dari ibu penderita HIV yang sesuai kriteria inklusi. Pada
tahun 2014, sebanyak 2 orang bayi yang lahir dari ibu penderita HIV. Pada tahun
2015, sebanyak 5 orang bayi yang lahir dari ibu penderita HIV. Pada tahun 2016,
sebanyak 8 orang bayi yang lahir dari ibu penderita HIV. Pada tahun 2017,
sebanyak 11 orang bayi yang lahir dari ibu penderita HIV.
4.2 Distribusi Frekuensi Ibu Penderita HIV Berdasarkan Jumlah Pertahun
Tabel 4.1 Distribusi frekuensi ibu penderita HIV berdasarkan jumlah pertahun
Frekuensi (n) Persentase (%) Tahun melahirkan
2014 18 36
2016 22 44
2017 10 20
Jumlah 50 100
Dari tabel 4.1 dapat dilihat bahwa kelompok sampel terbanyak adalah pada tahun 2016 sebanyak 22 orang ibu (44%). Diikuti kelompok sampel tahun 2014 sebanyak 18 orang ibu (36%) dan kelompok terendah pada tahun 2017 sebanyak 10 orang ibu(20%). Pada tahun 2015 tidak didapatinya data sesuai kriteria inklusi, data yang didapat hanya berisikan nama, umur, dan tanggal melahirkan. Menurut Kemenkes RI (2017) dari tahun 2008-2017 peningkatan penularan HIV paling tinggi terjadi pada tahun 2016. Dengan jumlah 15.151 kasus penularan HIV pada perempuan di Indonesia.
4.3 Distribusi Frekuensi Ibu Penderita HIV Berdasarkan Data Demografik
Tabel 4.2 Distribusi frekuensi ibu penderita HIV berdasarkan data demografik
Frekuensi (n=50) Persentase (%) Umur
21-30 tahun 27 54
31-40 tahun 22 44
>40 tahun 1 2
Pendidikan terakhir
SD 3 6
SMP 10 20
SMA 29 58
D3/S1 8 16
Pekerjaan
Ibu rumah tangga 25 50
Pegawai swasta 2 4
Wiraswasta 16 32
Pegawai negeri 7 14
Riwayat pernikahan Pertama 42 84
Kedua 8 16
Riwayat kehamilan dan persalinan
Pertama 18 36
Kedua 15 30
Ketiga 10 20
Keempat atau lebih 7 14
Cara persalinan Spontan 1 2
Seksiosesarea 49 98
Dari tabel 4.2 diatas dapat dilihat bahwa ibu penderita HIV yang melahirkan di RSUP Haji Adam Malik Medan berdasarkan data demografik. Untuk kelompok umur ibu penderita HIV yang melahirkan terbanyak adalah pada kelompok umur 21-30 tahun sebanyak 27 orang ibu (54%), untuk kelompok umur 31-40 tahun sebanyak 22 orang ibu (44%) dan terendah adalah pada umur >40 tahun sebanyak 1 orang ibu (2%). Menurut Asmauryanah (2017) responden ibu penderita HIV yang melahirkan terbanyak adalah pada kelompok umur 20-35 tahun.
Untuk kelompok pendidikan terakhir terbanyak adalah pada SMA sebanyak 29 orang ibu (58%), untuk kelompok pendidikan terakhir SMP sebanyak 10 orang ibu (20%), untuk kelompok pendidikan terakhir D3/S1 sebanyak 8 orang ibu (16%),dan terendah adalah pada SD sebanyak 3 orang ibu (6%). Menurut Purba dan Pangastuti (2013) pendidikan terakhir penderita HIV terbanyak adalah pada SMA.
Untuk kelompok pekerjaan terbanyak adalah pada Ibu rumah tangga sebanyak 25 orang ibu (50%), untuk kelompok pekerjaan Wiraswasta sebanyak 16 orang ibu (32%), untuk kelompok Pegawai negeri sebanyak 7 orang ibu (14%), dan terendah adalah pada pegawai swasta sebanyak 2 orang ibu (4%). Menurut Zahro et al., (2017) kelompok pekerjaan ibu penderita HIV terbanyak adalah Ibu rumah tangga.
Untuk kelompok riwayat pernikahan terbanyak adalah pertama sebanyak 42 orang ibu (84%) dan terendah adalah kedua sebanyak 8 orang ibu (16%). Untuk kelompok riwayat kehamilan dan persalinan terbanyak adalah pada pertama sebanyak 18 orang ibu (36%), untuk kelompok riwayat kehamilan kedua 15 orang ibu (30%), untuk kelompok riwayat kehamilan ketiga 10 orang ibu (20%), dan terendah pada keempat atau lebih sebanyak 7 orang ibu (14%). Menurut Muhaimin (2011) reponden ibu penderita HIV yang melahirkan terbanyak terjadi pada keluarga muda yang baru memiliki anak pertama.
Untuk kelompok cara persalinan terbanyak adalah pada seksiosesarea
sebanyak 49 orang ibu (98%) dan terendah pada persalinan spontan sebanyak 1
orang ibu (2%). Menurut Ziruma dan Gidiri (2014), persalinan melalui bedah
sesar pada ibu hamil positif HIV juga menjadi hal kompleks yang harus
diperhatikan perkembangannya, sehingga yang paling penting dalam persalinan ini adalah bagaimana ibu bisa mengontrol kondisi kesehatannya, yang terlihat dari viral load dan CD4 sebagai hasil dari keteraturan pelaksanaan terapi ARV. Hal ini menyumbang peranan yang paling tinggi mengurangi penularan virus dibanding hanya mempermasalahkan metode persalinan.
4.4 Distribusi Frekuensi Usia Kehamilan Ibu Penderita HIV Saat Mendapat Profilaksis ARV
Tabel 4.3 Distribusi frekuensi usia kehamilan ibu penderita HIV saat mendapat profilaksis ARV