• Tidak ada hasil yang ditemukan

Balanced Scorecard Alternatif Pengukuran. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Balanced Scorecard Alternatif Pengukuran. pdf"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

16

BALANCED SCORECARD

: ALTERNATIF PENGUKURAN KINERJA

ORGANISASI SEKTOR PUBLIK

Dewi Fitriyani1)

1) Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

[email protected]

Abstrak: Organisasi sektor publik memiliki karakteristik yang berbeda dengan organisasi sektor swasta.

Terdapat beberapa pendekatan dalam mengukur kinerja organisasi sektor publik yang lebih menekankan pada ukuran keuangan. Pengukuran kinerja yang hanya berdasarkan segi keuangan tidak begitu cocok diterapkan pada organisasi sektor publik. Balanced scorecard mengukur kinerja secara komprehensif dan berimbang dari segi keuangan dan nonkeuangan yang dapat digunakan sebagai metode dalam pengukuran kinerja organisasi sektor publik. Balanced scorecard mengukur kinerja berdasarkan empat perspektif yaitu perspektif finansial, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal, dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan. Tujuan organisasi sektor swasta yang lebih berorientasi laba berbeda dengan tujuan organisasi sektor publik yang melayani kebutuhan produk dan jasa publik, sehingga penerapan balanced scorecard pada organisasi sektor publik memerlukan penyesuaian kembali.

Kata Kunci: balanced scorecard, pengukuran kinerja, organisasi sektor publik.

Kinerja merupakan suatu gambaran

keberhasilan pengelolaan dari suatu organisasi.

Dalam kinerja tercermin pencapaian yang

telah diperoleh oleh suatu organsasi. Setiap

organisasi termasuk organisasi sektor publik

perlu mengetahui kinerjanya untuk mengetahui

hasil pencapaiannya. Organisasi sektor publik

merupakan organisasi yang menggunakan

dana publik untuk menyediakan kebutuhan

barang dan jasa publik. Sebagai organisasi

yang menggunakan dana publik maka publik

perlu mengetahui bagaimana pengelolaan

dananya. Pencapaian pengelolaan dana publik

dapat diketahui dari kinerja organisasi tersebut

sehingga diperlukan adanya penilaian kinerja

pada organisasi sektor publik. Penilaian

ki-nerja dilakukan dengan mengukur kesuksesan

atau tidaknya suatu kegiatan dalam organisasi.

Pada dasarnya organisasi sektor publik

amat berbeda dengan organisasi swasta

(Cahyono, 2000). Organisasi sektor publik

memiliki karakteristik yang berbeda dengan

organisasi sektor swasta. Hal tersebut

menyebabkan pengukuran kinerja organisasi

sektor publik pun harus menyesuaikan. Tujuan

utama organisasi swasta adalah untuk

memperoleh keuntungan yang maksimal untuk

kepentingan pemiliknya. Sedangkan pada

organisasi sektor publik keuntungan atau laba

bukan menjadi prioritas utama melainkan

memberikan pelayanan yang optimal bagi

kepentingan publik.

Sistem pengukuran dan manajemen yang

komprehensif seharusnya menjelaskan

keterkaitan antara peningkatan operasi,

layanan pelanggan, serta pengembangan

produk dan jasa baru dengan peningkatan

kinerja finansial melalui penjualan yang lebih

tinggi, marjin operasi yang lebih besar, tingkat

perputaran aktiva yang lebih cepat, dan biaya

operasi yang menurun (Kaplan dan Norton,

(2)

pengukuran kinerja yang dapat memberikan

informasi yang komprehensif mengenai

kinerja suatu organisasi. Informasi yang

diberikan tidak hanya dari satu sisi saja namun

juga mencakup unsur pembentuk kinerja yang

lain. Pengukuran kinerja yang hanya

berdasarkan segi keuangan seperti jumlah laba

yang diperoleh tidaklah begitu cocok

diterapkan pada organisasi sektor publik.

Kinerja pada organisasi sektor publik juga

menjadi gambaran akuntabilitas atau

pertanggungjawaban seorang manajer publik.

Oleh karena itu untuk mengukur kinerja suatu

organisasi sektor publik diperlukan pendekatan

selain pendekatan keuangan yaitu pendekatan

nonkeuangan seperti balanced scorecard

sebagai ukuran kinerja.

Balanced scorecard diperkenalkan oleh

Robert S. Kaplan dan David P. Norton melalui

artikelnya yang dimuat dalam Harvard

Business Review tahun 1992. Pada mulanya

balanced scorecard lebih ditujukan untuk

mengukur kinerja pada organisasi bisnis.

Namun dalam perkembangannya balanced

scorecard juga dianggap cocok untuk

digunakan sebagai teknik pengukuran kinerja

organisasi sektor publik.

Balanced scorecard melengkapi ukuran

keuangan kinerja masa lalu dengan ukuran

pendorong (drivers) kinerja masa depan

(Kaplan dan Norton, 2000). Balanced

scorecard mengukur kinerja tidak hanya dari

segi keuangan saja namun juga nonkeuangan.

Rudianto (2006) mengemukakan bahwa

penilaian kinerja yang efektif menggunakan

alat ukur baik ukuran kinerja keuangan

maupun non keuangan. Lebih lanjut Rudianto

menjelaskan bahwa ukuran kinerja keuangan

maupun nonkeuangan dilakukan untuk

menekan perilaku yang tidak semestinya serta

untuk merangsang dan menegakkan perilaku

yang semestinya diinginkan melalui umpan

balik hasil kinerja dan waktu serta

penghargaan baik yang bersifat fisik maupun

non-fisik. Oleh karena itu artikel ini

membahas karakteristik organisasi sektor

publik, pengukuran kinerja pada organisasi

sektor publik, dan balanced scorecard sebagai

pengukuran kinerja organisasi sektor publik.

PEMBAHASAN

Organisasi Sektor Publik

Sektor publik seringkali dipahami

sebagai segala sesuatu yang berhubungan

dengan kepentingan umum dan penyediaan

barang atau jasa kepada publik yang dibayar

melalui pajak atau pendapatan negara lain

yang diatur dengan hukum (Mahsun, 2009).

Organisasi sektor publik terkait dengan

strategi dan kebijakan yang diambil untuk

pemenuhan kebutuhan publik. Berbagai

organisasi yang tercakup dalam sektor publik

diantarnya adalah pemerintah pusat maupun

daerah dan perusahaan yang dimiliki oleh

pemerintah (BUMN dan BUMD). Bastian

(2010) mengemukakan beberapa jenis

organisasi sektor publik di Indonesia, yaitu

organisasi pemerintah pusat, organisasi

pemerintah daerah, organisasi partai politik,

organisasi LSM, organisasi yayasan,

organisasi pendidikan seperti sekolah,

organisasi kesehatan seperti puskemas dan

rumah sakit, dan organisasi tempat peribatan

(3)

Selanjutnya Bastian (2010) mengungkapkan karakteristik organisasi sektor publik sebagai

berikut:

Tabel 1 Karakteristik Organisasi Sektor Publik

Tujuan Untuk mensejahterakan masyarakat secara bertahap, baik dalam kebutuhan

dasar, dan kebutuhan lainnya baik jasmani maupun rohani

Aktivitas Pelayanan publik (public services) seperti dalam bidang pendidikan,

kesehatan, keamanan, penegakan hukum, transportasi publik, dan penyediaan pangan

Sumber Pembiayaan Berasal dari dana masyarakat yang berwujud pajak dan retribusi, laba perusahan negara, pinjaman pemerintah, serta pendapatan lain-lain yang sah dan tidak bertentangan dengan perundangan yang berlaku

Pola Pertanggungjawaban Bertanggungjawab kepada masyarakat melalui lembaga perwakilan masyarakat, seperti dalam organisasi pemerintahan yang meliputi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) seta dalam yayasan dan LSM seperti dewan pengampu

Kultur Organisasi Bersifat birokratis, formal dan berjenjang

Penyusunan Anggaran Dilakukan bersama masyarakat dalam perencanaan program. Penurunan anggaran program publik dipublikasikan untuk dikritisi dan didiskusikan oleh masyarakat. Dan, akhirnya, disahkan oleh wakil masyarakat di DPR, DPD, DPRD, majelis syuro partai, dewan pengurus LSM, atau dewan pengurus yayasan

Stakeholders Dapat dirinci sebagai masyarakat Indonesia, para pegawai organisasi, para kreditor, para investor, lembaga-lembaga internasional termasuk lembaga donor internasional seperti Bank Dunia (World Bank), International Monetary Fund (IMF), Asian Development Bank (ADB), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), United Nation Development Program (UNDP), USAID, dan pemerintah luar negeri.

Sumber: Bastian (2010)

Menurut Mahsun (2009) berdasarkan

karakteristiknya organisasi publik dapat

dibedakan menjadi dua, yaitu pure nonprofit

organizations dan quasi nonprofit

organizations. Mahsun (2009) menjelaskan

bahwa pure nonprofit organizations adalah

organisasi adalah organisasi publik yang

menyediakan atau menjual barang dan/atau

jasa dengan maksud untuk melayani dan

meningkatkan kesejahteraan masyarakat,

sedangkan quasi nonprofit organizations

merupakan organisasi publik yang

menyediakan atau menjual barang dan/atau

jasa dengan maksud untuk melayani

masyarakat dan memperoleh keuntungan

(surplus). Organisasi sektor publik yang

merupakan pure nonprofit organizations

seperti LSM, rumah sakit, puskesmas,

sekolah, partai politik dan rumah peribadatan.

Instansi pemerintah dan badan usaha milik

negara/daerah merupakan contoh dari quasi

nonprofit organizations.

Organisasi sektor publik sebagai suatu

aktivitas yang memberikan pelayanan baik

berupa produk atau jasa kepada publik

(masyarakat) memiliki tujuan yang berbeda

dengan organisasi sektor swasta (bisnis).

Aktivitas organisasi sektor publik bergerak

dalam pelayanan publik seperti pendidikan,

kesehatan, keamanan, dan transportasi. Bastian

(2010) menyatakan bahwa organisasi sektor

publik bertujuan memenuhi kesejahteraan

masyarakat, sedangkan tujuan organisasi

(4)

Lebih lanjut Bastian mengemukakan karena

kepemilikan dan motif labanya berbeda,

budaya atau kultur di organisasi sektor publik

berbeda dengan kultur organisasi bisnis

(swasta). Dalam organisasi publik, manajemen

dan anggota organisasi bekerja untuk

mencapai satu tujuan yakni pemenuhan

pelayanan publik. Dalam organisasi swasta

(bisnis), segala aktivitas dan sumber daya

manusianya terfokus pada keuntungan dari

persaingan antarorganisasi dan produk yang

dihasilkan.

Organisasi sektor publik memiliki

cakupan wilayah kerja yang luas, dari kota

besar hingga ke sudut desa terkecil. Luasnya

cakupan membuktikan besarnya peran dan

pengaruh organisasi sektor publik pada

masyarakat. Organisasi sektor publik yang

memiliki kinerja yang baik akan dapat

memperbaiki kehidupan masyarakat. Untuk itu

perlu adanya perhatian yang lebih terhadap

peningkatan kinerja organisasi sektor publik.

Penilaian organisasi sektor publik

tidak hanya dapat diukur dalam nilai ekonomis

saja, namun juga dari pelayanan kepada

masyarakat. Pengukuran kinerja pada

organisasi sektor publik harus bersifat

komprehensif dan menggambarkan pencapaian

hasil dari banyak unsur. Pengukuran kinerja

yang baik tidak hanya mengukur unsur

keuangan saja namun juga unsur non

keuangan. Pengukuran kinerja dari unsur

keuangan terkadang dicapai dengan

mengorbankan kepentingan jangka panjang.

Hsu (2005) mengemukakan bahwa

ukuran-ukuran keuangan seperti laba, return on

investment, atau return on asset yaitu pertama,

ukuran-ukuran keuangan hanya menekankan

pada hasil, bukan proses operasional yang

menfasilitasi pengendalian kualitas dan

kebijakan penurunan kos. Kedua, metode

penilaian kinerja tradisional mempunyai

keterbatasan dalam memprediksi kondisi

organisasi di masa mendatang. Ketiga,

meskipun penilaian kinerja tradisional metode

ini sangat efektif biaya, bisa jadi sangat

berbahaya dalam jangka panjang perusahaan

manfaat yang bersangkutan. Menurut

Horngren (2004) dalam Kristanti (2006)

terdapat dua alasan adanya perhatian pada

ukuran-ukuran non keuangan, yaitu: a).

Mendukung keputusan. Ukuran-ukuran

keuangan berfokus pada hasil dari keputusan

yang dibuat dalam kondisi yang berisiko atau

ketidakpastian; b). Perhatian pada

ukuran-ukuran kinerja non-keuangan dapat

menurunkan tekanan yang berlebihan oleh

manajer pada jangka pendek. Menurut

Indriantoro (2000) dalam Cahyono (2000)

dalam organisasi nirlaba ukuran kinerja dalam

perspektif finansial menjadi kendala,

keberhasilan organisasi nirlaba harus diukur

dengan seberapa efektif dan efisien mereka

memenuhi kebutuhan konstituentinya, tujuan

tangible (berwujud harus didefinisikan untuk

pelanggan dan konstituenti.

Ukuran kinerja yang baik tidak hanya

mampu meningkatkan kinerja organisasi

namun juga membawa perubahan positif

dalam memenuhi harapan publik atas

pelayanan yang diberikan. Lynch dan Cross

(1992) dalam Kristanti (2006) mengemukakan

bahwa ukuran kinerja yang baik dapat: a)

(5)

harapan pelanggan, mendekatkan perusahaan

kepada pelanggan dan membuat setiap orang

dalam perusahaan mempertimbangkan

kepuasan pelanggan, b) melayani pelanggan

internal dan pemasok sebagai cross-functional

teams yang bekerja pada tujuan yang sama, c)

mengidentifikasi pemborosan oleh

keterlambatan, kerusakan, kesalahan, dan

mengarah untuk menurunkan pemborosan, d)

membuat tujuan strategik yang kabur menjadi

konkrit, sehingga mempercepat tingkat belajar

organisasi, e) membangun konsensus untuk

berubah melalui penghargaan pada perilaku

yang benar.

Pengukuran Kinerja Organisasi Sektor Publik

Setiap aktivitas atau kegiatan dalam

organisasi dilakukan untuk mendukung

program atau tujuan yang telah direncanakan

sebelumnya. Tercapainya program atau tujuan

tercermin dalam kinerja organisasi. Kinerja

dipengaruhi oleh banyak faktor. Kinerja dapat

dipengaruhi tidak hanya orang namun juga

kegiatan yang dilakukan sehingga pengukuran

kinerja harus dapat mencakup banya faktor

tersebut secara komprehensif.

Kinerja

organisasi publik diidentifikasi dengan

keberhasilan organisasi tersebut dalam

memenuhi kebutuhan masyarakat.

Pengukuran kinerja merupakan suatu

instrumen yang digunakan untuk menilai

luaran dari suatu kegiatan terhadap target dan

tujuan yang telah ditetapkan. Pengukuran

kinerja menjelaskan secara kuantitatif maupun

kualitatif berdasarkan luaran yang dicapai.

Pengukuran kinerja pada organisasi sektor

publik menurut Mardiasmo (2009)

dimaksudkan untuk: 1). Pengukuran kinerja

sektor publik dimaksudkan untuk membantu

memperbaiki kinerja pemerintah, 2). Ukuran

kinerja sektor publik digunakan untuk

pengalokasian sumber daya dan pembuatan

keputusan, dan 3). Ukuran kinerja sektor

publik dimaksudkan untuk mewujudkan

pertanggungjawaban publik dan memperbaiki

komunikasi kelembagaan.

Pengukuran kinerja dalam organisasi

sektor publik memiliki beberapa manfaat.

BPKP (2000) dalam Mahsun (2009)

menjelaskan manfaat pengukuran kinerja baik

untuk internal maupun eksternal organisasi,

antara lain:

1. Memastikan pemahaman para pelaksana

akan ukuran yang digunakan untuk

pencapaian kinerja.

2. Memastikan tercapainya rencana kinerja

yang telah disepakati

3. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan

kinerja dan membandingkannya dengan

rencana kerja serta melakukan tindakan

untuk memperbaiki kinerja

4. Memberikan penghargaan dan hukuman

yang obyektif atas prestasi pelaksana yang

telah diukur sesuai dengan sistem

pengukuran kinerja yang telah disepakati

5. Menjadi alat komunikasi antar bawahan

dan pimpinan dalam upaya memperbaiki

kinerja organisasi

6. Mengidentifikasi apakah kepuasan

pelanggan sudah terpenuhi

7. Membantu memahami proses kegiatan

(6)

8. Memastikan bahwa pengambilan keputusan

dilakukan secara obyektif

9. Menunjukkan peningkatan yang perlu

dilakukan

10.Mengungkapkan permasalahan yang

terjadi.

Pengukuran kinerja pada organisasi sektor

publik harus dapat menjelaskan kinerja

organisasi baik secara kuantitatif maupun

kualitatif. Organisasi sektor publik memiliki

karakteristik yang berbeda dengan organisasi

sektor swasta (bisnis) yang lebih berorientasi

pada pencapaian laba. Untuk itu pengukuran

kinerja yang hanya mengandalkan pendekatan

keuangan, tidak begitu tepat digunakan pada

organisasi sektor publik. Dalam organisasi

sektor publik, pengukuran kinerja juga

menjelaskan efektivitas dan efisiensi kebijakan

yang diambil oleh manajer publik. Pengukuran

kinerja organisasi sektor publik juga

mencerminkan akuntabilitas

pertang-gungjawaban atas tindakan atau kebijakan

manajer publik sebagai pengelola organisasi

sektor publik. Mardiasmo (2009) menjelaskan

bahwa sistem pengukuran kinerja adalah suatu

sistem yang bertujuan untuk membantu

manajer publik menilai pencapaian suatu

strategi melalui alat ukur sektor publik

financial dan non-financial.

Terdapat beberapa metode yang sering

digunakan dalam pengukuran kinerja

organisasi sektor publik. Mahsun (2009)

mengemukakan beberapa pendekatan

pengukuran kinerja organisasi sektor publik

seperti analisis anggaran, analisis rasio laporan

keuangan, performance audit (value for

money) dan balanced scorecard. Namun

artikel ini hanya fokus membahas balanced

scorecard dibandingkan ketiga pendekatan

pengukuran kinerja yang lain. Berikut uraian

mengenai beberapa pengukuran kinerja pada

organisasi sektor publik.

Analisis Anggaran

Anggaran dalam organisasi sektor publik

merupakan suatu hal yang penting karena

menggambarkan perencanaan kegiatan suatu

oganisasi untuk mencapai tujuan yang telah

ditetapkan. Anggaran dianalisis dengan

membandingkan antara anggaran yang

ditetapkan dengan realisasinya. Tolok ukur

kinerja dalam analisis anggaran adalah

keberhasilan organisasi dalam mencapai setiap

program yang telah direncanakan dalam

anggaran.

Analisis anggaran lebih ditujukan untuk

mengetahui kinerja pengelolaan keuangan

dana publik baik oleh pemerintah maupun

organisasi sektor publik lainnya. Sebagai alat

ukur kinerja, dalam melakukan analisis

anggaran perlu memperhatikan mulai dari

perencanaan, pelaksanaan/realisasi serta

pengawasan yang dilakukan.

Analisis Rasio Laporan Keuangan

Organisasi sektor publik menyusun laporan

keuangan untuk memberikan informasi

keuangan kepada pihak-pihak yang

berkepentingan untuk pengambilan keputusan.

Pada sektor publik, pengambilan keputusan

tidak hanya di bidang ekonomi saja, namun

juga di bidang sosial, politik, dan keamanan.

Tidak semua pemangku kepentingan

memahami akuntansi yang merupakan alat

(7)

sehingga menurut Mahmudi (2007) perlu

dibantu analisis laporan keuangan.

Tujuan analisis laporan keuangan

bervariasi tergantung pada perspektif pemakai

laporan keuangan dan keinginan apa yang

diharapkan oleh analisis data laporan

keuangan (Fraser dan Ormiston, 2008).

Analisis laporan keuangan dilakukan dengan

membandingkan hubungan antar item dalam

laporan keuangan. Teknik analisis laporan

keuangan yang paling sering digunakan adalah

analisis rasio keuangan. Pengukuran kinerja

yang didasarkan atas penghitungan rasio-rasio

keuangan, misalnya rasio likuiditas, rasio

aktivitas, rasio solvabilitas dan rasio pasar

(Mahsun, 2009).

Performance Audit (Value for Money)

Value for money merupakan pendekatan

pengukuran kinerja yang mengutamakan nilai

dari uang. Nilai uang pada organisasi sektor

publik mengacu pada nilai produk atau

layanan jasa yang diberikan kepada

masyarakat. Value for money mengukur

kinerja berdasarkan unsur efisiensi, efektivitas

dan ekonomi dalam pengelolaan organisasi

sektor publik. Efisiensi diukur dari hasil

perbandingan output terhadap input. Suatu

organisasi dianggap efisien apabila rasio

efisiensi cenderung di atas satu (Bastian,

2010). Efektivitas adalah tingkat pencapaian

hasil outcome terhadap output.. Ekonomi

adalah perbandingan harga yang dikeluarkan

terhadap perolehan input. Ekonomi juga

mengandung arti menghilangkan atau

mengurangi aktivitas atau biaya tidak

diperlukan.

Balanced Scorecard

Balanced scorecard dikembangkan oleh

Kaplan dan Norton. Meskipun pada awalnya

ditujukan untuk pengukuran kinerja pada

organisasi sektor swasta bisnis, namun

balanced scorecard dapat digunakan sebagai

alat ukur kinerja pada organisasi sektor

publik. Penerapan balanced scorecard pada

pengukuran kinerja organisasi publik

bertujuan untuk menyatakan adanya

keseimbangan antara berbagai ukuran internal

dan eksternal (Sari, 2013). Oskar (2007)

dalam Sari (2013) menjelaskan bahwa tujuan

penerapan balanced scorecard pada

organisasi sektor publik adalah untuk

pemberdayaan institusi, penganggaran yang

lebih rasional, peningkatan kinerja,

meningkatkan komunikasi kepada

stakeholders, dan penyediaan data untuk

acuan. Melalui balanced scorecard, kinerja

organisasi sektor publik diukur dari beberapa

aspek secara menyeluruh, yang terdiri dari

empat perspektif, yaitu perspektif

finansial,

perspektif pelanggan, perspektif proses

bisnis

internal,

dan

perspektif

pembelajaran dan pertumbuhan.

Balanced scorecard sebagai suatu sistem

manajemen, pengukuran dan pengendalian

yang secara komprehensif yang digunakan

organisasi dalam berkomunikasi untuk

mencapai tujuan jangka pendek maupun

jangka panjang. Balanced scorecard

membantu organisasi menerjemahkan dan

mengkomunikasikan visi dan strategi kepada

pihak manajemen dan anggota organisasi

(8)

scorecard memberi saran kepada pihak

manajemen sebuah kerangka kerja yang

komprehensif untuk menerjemahkan visi dan

strategi ke dalam seperangkat ukuran kinerja

yang terpadu dan berimbang. Keseimbangan

sasaran strategik yang ditetapkan dalam

perencanaan strategik digambarkan berikut

ini.

.

Gambar 1 Keseimbangan Sasaran Strategik yang Ditetapkan dalam Perencanaan Strategik Sumber : Mulyadi, 2007

Konsep Balanced Scorecard

Balanced scorecard merupakan alat

manajemen kontemporer yang didesain untuk

meningkatkan kemampuan perusahaan dalam

melipatgandakan kinerja keuangan luar biasa

secara berkesibambungan (sustainable

outstanding financial performance) (Mulyadi,

2007). Kinerja keuangan yang

berkesinambungan dicapai dengan

meningkatkan perhatian pada pelanggan,

meningkatkan produktivitas, proses yang

efisien dan efektif, serta meningkatkan

kemampuan dan komitmen sumberdaya

manusia.

Balanced scorecard didasarkan pada

serangkaian hubungan sebab akibat yang

timbul dari strategi, yang meliputi antara lain

estimasi waktu tanggap dan besarnya

keterkaitan di antara berbagai ukuran

scorecard (Kaplan dan Norton, 2000). Dalam

balanced scorecard diperlukan komitmen

organisasi dan anggota organisasi dalam

pencapaian visi dan strategi yang telah

ditetapkan sebelumnya. Secara komprehensif

dan berimbang, balanced scorecard

mengukur kinerja organisasi dalam

pencapaian visi, misi dan strategi tersebut.

Balanced scorecard menerjemahkan misi dan

strategi ke dalam berbagai tujuan dan ukuran

yang tersusun ke dalam empat perspektif:

finansial, pelanggan, proses bisnis internal,

serta pembelajaran dan pertumbuhan (Kaplan

dan Norton, 2000). Balanced scorecard

menekankan semua ukuran keuangan dan

nonkeuangan dalam pencapaian visi dan

strategi menjadi bagian informasi yang

penting pada setiap tingkatan organisasi.

Balanced scorecard memiliki empat

perspektif yang digunakan dalam pengukuran

kinerja suatu organisasi dari segi keuangan dan

Process-Centric

Perspektif Proses Perspektif Keuangan

Internal Focus External Focus

Perspektif Pembelajaran Perspektif Customer dan Pertumbuhan

People-Centric

Productive and Cost Effective

Processes

Long-term Shareholder Value

Human Capital, Information Capital,

Organization Capital

(9)

non keuangan. Empat perspektif diukur secara

komprehensif dan seimbang (balanced).

Empat perspektif balanced scorecard terdiri

dari perspektif finansial/keuangan, perspektif

pelanggan, perspektif proses bisnis internal

dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan.

Perspektif Finansial

Perspektif finansial berkaitan dengan

kinerja keuangan yang dicapai organisasi.

Pada organisasi yang berorientasi keuntungan,

balanced scorecard mendorong organisasi

untuk mengaitkan tujuan keuangan dengan

strategi. Pihak manajemen harus menentukan

ukuran keuangan yang sesuai untuk strategi.

Tujuan dan ukuran finansial berperan ganda

yaitu menentukan kinerja keuangan yang

diharapkan dari strategi, dan menjadi sasaran

akhir tujuan dan ukuran perspektif scorecard

lainnya (Kaplan dan Norton, 2000). Kinerja

keuangan yang dihasilkan dalam pemuasan

kebutuhan pelanggan, kinerja peningkatan

proses bisnis internal dan kinerja SDM yang

produktif dan memiliki komitmen (Rangkuti,

2013).

Ukuran keuangan menunjukkan

pencapaian strategi perusahaan untuk

meningkatkan laba. Ukuran kinerja keuangan

memberikan petunjuk apakah strategi,

implementasi dan pelaksanaannya

memberikan kontribusi atau tidak kepada

peningkatan laba perusahaan (Kaplan dan

Norton, 2000). Terdapat tiga aspek strategi

yang perlu diperhatikan dalam aspek finansial

seperti pertumbuhan pendapatan atau laba,

penurunan dan peningkatan produktivitas dan

penggunaan aset secara optimal.

Peningkatan kinerja keuangan dapat

diukur dengan pertumbuhan pendapatan,

peningkatan laba operasi, return on

asset/equity (ROA/ROE), return on capital

employed (ROCE) atau economic value added

(EVA), efektivitas penggunaan aset, dan

efisiensi biaya. Pada organisasi sektor publik

kinerja keuangan berorientasi pada

peningkatan pendapatan yang dapat diukur

dengan rasio keuangan, perbandingan

anggaran dengan realisasi, peningkatan

pendapatan asli daerah pada pemerintah

daerah, perolehan realisasi pajak, efisiensi

produksi dan peningkatan laba pada BUMN/D.

Perspektif Pelanggan

Perspektif pelanggan mengukur kinerja

organisasi dalam melayani kebutuhan

pelanggan. Pelanggan terutama pelanggan

yang loyal merupakan sumber pendapatan bagi

perusahaan. Kepuasan pelanggan atas produk

atau layanan jasa yang diberikan menjadi

potensi pendapatan perusahaan. Pelanggan

yang puas akan kembali menggunakan produk

atau jasa perusahaan. Pelanggan yang puas

juga dapat menjadi sarana promosi yang

efektif karena pelanggan tersebut biasanya

akan merekomendasikan produk atau jasa

yang digunakannya. Pada akhirnya,

pendapatan yang diperoleh dari pelanggan

harus dikelola dengan baik agar dapat

menghasilkan kinerja keuangan yang optimal.

Pada organisasi sektor publik,

publik/masyarakat merupakan pelanggan.

Memuaskan kebutuhan masyarakat berarti

memberi kepuasan kepada pelanggan. Untuk

mencapai kepuasan masyarakat diperlukan

(10)

pelayanan kebutuhan masyarakat. Oleh karena

itu, bagi organisasi sektor publik perspektif

pelanggan merupakan hal yang penting selain

perspektif finansial.

Perspektif pelanggan dapat diukur dari

pangsa pasar, retensi pelanggan, akuisisi

pelanggan, kepuasan pelanggan dan

profitabilitas pelanggan (Kaplan dan Norton,

2000). Pangsa pasar menggambarkan proporsi

bisnis yang dijual oleh sebuah unit bisnis di

pasar tertentu (dalam bentuk jumlah

pelanggan, uang yang dibelanjakan, atau

volume satuan yang terjual. Retensi pelanggan

adalah mempertahankan dan meningkatkan

pelanggan. Akuisisi pelanggan mengukur

dalam bentuk relatif atau absolut, keberhasilan

unit bisnis menarik atau memenangkan

pelanggan atau bisnis baru. Kepuasan

pelanggan menilai tingkat kepuasan atas

kriteria kinerja tertentu di dalam proposisi

nilai. Profitabilitas pelanggan mengukur

keuntungan bersih yang diperoleh pelanggan

atau segmen tertenu setelah dihitung berbagai

pengeluaran yang digunakan untuk memenuhi

kebutuhan pelanggan tersebut.

Perspektif Proses Bisnis Internal

Perspektif proses bisnis internal

menekankan pada proses internal yang akan

memiliki pengaruh besar terhadap kepuasan

pelanggan dan pencapaian tujuan finansial.

Dalam perspektif ini para manajer publik perlu

mengidentifikasi berbagai proses internal yang

perlu direncanakan dan dilakukan untuk

memenuhi kebutuhan publik/masyarakat dan

memuaskan publik, baik berupa produk

kebijakan ataupun layanan jasa.

Proses bisnis internal bertujuan untuk

menerjemahkan strategi yang berkaitan dengan

proses di dalam organisasi baik berupa

inovasi, proses pelaksanaan hingga respon atas

umpan balik dari publik. Terdapat tiga proses

bisnis utama dalam perspektif proses bisnis

internal yaitu inovasi, operasi dan layanan

purna jual. Inovasi dapat mengandung arti

pengembangan atau penciptaan produk atau

jasa yang baru dalam memenuhi kebutuhan

masyarakat yang selama ini belum diperoleh.

Proses operasi menunjukkan tempat dan cara

produk atau jasa dihasilkan dan disampaikan

kepada pelanggan. Menurut Kaplan dan

Norton (2000), layanan purna jual mencakup

garansi dan berbagai aktivitas perbaikan,

penggantian produk yang rusak dan yang

dikembalikan, serta proses pembayaran,

seperti administrasi kartu kredit.

Pada organisasi sektor publik, perspektif

proses bisnis internal dapat diukur melalui

pengembangan dan kebermanfaatan sistem

terpadu yang digunakan untumempermudah

dan memperluas akses pelayanan terhadap

masyarakat, proses administrasi yang andal

dan tepat waktu, jumlah keluhan yang masuk,

ketepatan dan kecepatan mengatasi keluhan.

Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan

Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan

mengembangkan konstruksi infrastruktur

untuk mencapai ketiga perspektif sebelumnya.

Perspektif ini berfokus pada pertumbuhan atau

kinerja jangka panjang dan menekankan pada

tiga aspek yaitu sumberdaya manusia,

sumberdaya informasi, dan sumberdaya

organisasi. Sumberdaya organisasi dapat

(11)

kebijakan yang ditetapkan organisasi.

Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan

meningkatkan kinerja organisasi melalui

peningkatan kapabilitas pekerja, sistem

informasi, motivasi, pemberdayaan dan

keselarasan.

Perspektif pembelajaran memandang

penting sumberdaya manusia. Sumberdaya

manusia merupakan pekerja atau karyawan

dalam suatu organisasi. Sumberdaya manusia

mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.

Dalam mencapai tujuan organisasi diperlukan

karyawan yang memiliki kapabilitas dan

kompeten. Peningkatan kualitas karyawan

akan juga membantu meningkatkan kinerja

organisasi. Oleh karena itu organisasi perlu

merencanakan program atau kegiatan yang

dapat meningkatkan kompetensi sumberdaya

manusia baik berupa pendidikan, pelatihan,

magang, atau kursus.

Peningkatan kualitas sumberdaya manusia

akan berdampak terhadap produk yang

dihasilkan dan kualitas layanan terhadap

pelanggan dan memberi citra yang baik bagi

organisasi di mata pelanggan. Peningkatan

kualitas sumberdaya manusia juga mampu

mengembangkan perspektif proses bisnis

internal sehingga mampu menghasilkan

produk yang berkualitas dan layanan jasa yang

prima.

Dalam perspektif pembelajaran dan

pertumbuhan terdapat tiga pengukuran utama

seperti kepuasan pekerja, retensi pekerja, dan

produktivitas pekerja. Dalam kelompok

pengukuran ini, tujuan kepuasan pekerja

umumnya dipandang sebagai pendorong kedua

pengukuran lainnya (Kaplan dan Norton,

2000).

Kepuasan pekerja dapat diketahui melalui

angket yang disebar kepada pekerja sedangkan

retensi pekerja berkaitan dengan kemampuan

organisasi mempertahan karyawannya dalam

jangka waktu yang lama. Produktivitas pekerja

merupakan hasil dari komitmen pekerja,

efektivitas pekerja dan kepuasan pekerja yang

dapat diketahui dari perbandingan jumlah

pendapatan yang diperoleh dengan jumlah

pekerja dan jumlah pendapatan per pekerja.

Balanced Scorecard sebagai Pengukuran Kinerja Organisasi Sektor Publik

Kaplan dan Norton memperkenalkan

pertama kali balanced scorecard untuk

organisasi sektor swasta (bisnis) yang

memiliki perbedaan karakteristik dan tujuan

dengan organisasi sektor publik. Organisasi

sektor publik bertujuan untuk menyediakan

produk dan jasa kepada publik dengan dana

publik yang dikelolanya sehingga perspektif

pelanggan (dalam hal ini publik) menjadi

prioritas utama sehingga penerapan balanced

scorecard sebagai pengukuran kinerja pada

organisasi sektor publik perlu penyesuaian

kembali. Tujuan utama organisasi sektor

swasta yang bermotif meningkatkan laba

sehingga menempatkan pencapaian perpektif

keuangan sebagai puncak dari perspektif

lainnya. Ilustrasi penerapan balanced

scorecard pada organisasi sektor swasta

(bisnis) yang lebih mengutamakan

peningkatan laba (ukuran finansial) berikut

(12)

Perspektif Finansial

Perspektif Pelanggan

Perspektif Proses Bisnis Internal

Proses Pembelajaran dan Pertumbuhan

Gambar 2 Penerapan Balanced Scorecard pada Organisasi Sektor Swasta (Bisnis) Sumber: Kaplan dan Norton, 2000

Walaupun fokus dan aplikasi awal

balanced scorecard adalah sektor swasta

(perusahaan pencari laba), peluang scorecard

untuk dipakai dalam memperbaiki manajemen

perusahaan pemerintah dan perusahaan

nirlaba mungkin bahkan menjadi lebih besar

(Kaplan dan Norton, 2000). Lebih lanjut

Kaplan dan Norton (2000) menyatakan bahwa

sukses bagi perusahaan pemerintah dan

perusahaan nirlaba seharusnya diukur dengan

seberapa efektif dan efisien perusahaan

memenuhi berbagai aturan pokok. Dalam

artian ini perspektif finansial dapat menjadi

pendorong namun jarang menjadi tujuan

utama sehingga perlu ada modifikasi untuk

menyesuaikan penerapan balanced scorecard

pada organisasi sektor publik.

Baharuddin (2006) dalam Sari (2013)

mengungkapkan bahwa ada empat aspek

organisasi publik yang sangat relevan apabila

dihubungkan dengan balanced scorecard dan

memungkinkan untuk diadakan pengukuran,

antara lain:

1. Aspek pelayanan, yaitu sejauhmana

kepuasan masyarakat terhadap pelayanan

yang diberikan pemerintah. Kepuasan

tersebut dapat diukur dengan jumlah

keluhan dan komplain masyarakat

terhadap pelayanan publik yang diberikan

oleh pemerintah melalui aspirasi yang

disampaikan di DPR/DPRD, di media

massa, media elektronik, dll.

2. Aspek bisnis internal dikaitkan dengan

proses internal pada organisasi publik, ROCE

Loyalitas Pelanggan

Penyerahan Tepat Waktu

Proses Waktu Siklus Proses Mutu

(13)

yakni kinerja pegawai, sejauhmana

organisasi publik mengadakan inovasi,

maksimalisasi produk kebijakan dalam

pelayanan internal serta interaksi

masyarakat terhadap pelayanan yang

diberikan.

3. Aspek pembelajaran dan pertumbuhan di

dalam organisasi publik mencakup

tentang pemberdayaan sumber daya

sebagai perangkat dari organisasi publik.

Pendidikan dan pembelajaran perlu

diberikan kepada karyawan agar

termotivasi memiliki keahlian dan

keterampilan kerja memperbaiki pola

kerja, sistem kerja, sikap dan perilaku di

dalam bekerja.

4. Aspek keuangan/finansial merupakan

hasil dari suatu proses yang berlanjut

karena adanya peningkatan sumber daya

yang dimiliki. Dengan adanya

pelaksanaan kegiatan atau produk layanan

yang baik selanjutnya akan memperoleh

hasil respon positif dari masyarakat dalam

bentuk pembayaran pajak dari retribusi

daerah atau sumber lainnya.

Implementasi balanced scorecard sebagai

alat pengukuran kinerja tetap harus

berpedoman pada tujuan organisasi (Mahsun,

2009). Pada organisasi sektor publik yang

bertujuan pada kepuasan pelanggan dan

peningkatan laba (quasi nonprofit

organizations), balanced scorecard

menempatkan perspektif finansial dan

perspektif pelanggan sejajar di puncak diikuti

oleh perspektif proses bisnis internal dan

selanjutnya perspektif pembelajaran dan

pertumbuhan.

Gambar 3. Model Balanced Scorecard untuk Quasi Nonprofit Organizations

Sumber: Mahsun, 2009

Organisasi sektor publik (pure nonprofit

organizations) mempunyai tujuan utama

memberikan pelayanan publik. Balanced

scorecard pada pure nonprofit organizations

menempatkan perspektif pelanggan dipuncak

perspektif lainnya seperti yang digambarkan

berikut.

Perspektif Finansial Perspektif Pelanggan

Perspektif Proses Bisnis Internal

(14)

Gambar 4. Model Balanced Scorecard untuk Pure Nonprofit Organizations

Sumber: Mahsun, 2009

Kaplan dan Norton (2000) menunjukkan

penerapan balanced scorecard pada organisasi

sektor publik di Amerika Serikat tahun 1993,

yaitu Performance Measurement Action Team

(PMAT), sebuah gugus tugas antar instansi

yang dibentuk di bawah perlindungan

Procurement Executive Association (PEA)

Federal untuk mengevaluasi kelayakan sistem

procurement diberbagai instansi. Kaplan dan

Norton menjelaskan bahwa scorecard ini tetap

mempertahankan keempat perspektif

tradisional balanced scorecard, dengan

menekankan peran penting yang harus

dijalankan para pekerja federal di dalam

pendekatan baru instansi pemerintah yang

lebih berfokus pada pelanggan. Berikut ini

adalah ilustrasi penerapan balanced scorecard

bagi sistem procurement federal.

Gambar 5 Ilustrasi Penerapan Balanced Scorecard bagi Sistem Procurement Federal

Sumber: Kaplan dan Norton, 2000.

Perspektif Pemberdayaan

Pekerja

Perspektif Finansial

Perspektif Bisnis Internal

Perspektif Pembelajaran

dan Pertumbuhan Perspektif Pelanggan

Perspektif Pelanggan

Perspektif Finansial

Perspektif Proses BisnisInternal

(15)

Rincian penerapan balanced scorecard pada sistem procurement federal (Mulyadi, 2000):

Tabel 2 Perspektif Finansial pada Sistem Procurement Federal

Tabel 3 Perspektif Pelanggan pada Sistem Procurement Federal

Tabel 4 Perspektif Perspektif Proses Bisnis Internal pada Sistem Procurement Federal

Tabel 5 Perspektif Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan pada Sistem Procurement Federal

Tabel 6 Perspektif Pemberdayaan Pekerja pada Sistem Procurement Federal

Berdasarkan penerapan balanced scorecard

pada Sistem Procurement Federal di Amerika

Serikat membuktikan bahwa balanced

scorecard dapat diterapkan pada organisasi

sektor publik, tidak hanya di organisasi sektor

swasta (bisnis) saja. Balanced scorecard dapat Perspektif Finansial

Tujuan Ukuran

Memaksimalkan nilai pada harga terendah

Rasio cost-spend

Memaksimalkan penghematan biaya

Penghematan yang terkait dengan pembelian

Pembayaran tepat waktu Sanksi tunggakan pembayaran Memaksimalkan produktivitas Rasio

Perspektif Pelanggan

Tujuan Ukuran

Ketepatan waktu Mengirimkan tepat waktu

sesuai permintaan pelanggan

Mutu Mutu produk jasa sesuai

permintaan pelanggan

Pelayanan/Kemitraan Daya tanggap sesuai

permintaan pelanggan

Perspektif Proses Bisnis Internal

Tujuan Ukuran

Akuisisi yang handal Pengkajian sistem mutu

internal

Pengumpulan data yang

akurat, tepat waktu dan efektif

Pengkajian sistem informasi manajemen

Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan

Tujuan Ukuran

Memenuhi tujuan misi saat ini Penilaian diri untuk perbaikan yang berkesinambungan

Memenuhi tujuan misi depan Penilaian diri bagi

perencanaan strategis/taktis

Perspektif Pemberdayaan Pekerja

Tujuan Ukuran

Tenaga kerja bermutu Penilaian diri

Lingkungan kerja bermutu Mutu lingkungan pekerjaan sesuai yang ditentukan pekerja

Kepemimpinan eksekutif Mutu dan integritas

kepemimpinan sesuai

(16)

dimodifikasi menyesuaikan dengan visi dan

strategi yang dikembangkan organisasi untuk

mencapai tujuannya.

SIMPULAN

Organisasi sektor publik memiliki

karakteristik

yang

berbeda

dengan

organisasi sektor swasta. Hal tersebut

menyebabkan pengukuran kinerja pun

harus

menyesuaikan.

Untuk

dapat

diterapkan pada organisasi sektor publik.

Balanced scorecard

merupakan salah

satu alternatif dalam pengukuran kinerja

organisasi sektor publik. Pengukuran

kinerja organisasi sektor publik umumnya

lebih menekankan pada ukuran kinerja

keuangan.

Kinerja pada organisasi sektor

publik juga menjadi gambaran akuntabilitas

atau pertanggungjawaban seorang manajer

publik. Untuk mengukur kinerja suatu

organisasi sektor publik diperlukan pendekatan

selain pendekatan keuangan yaitu pendekatan

nonkeuangan seperti balanced scorecard

sebagai ukuran kinerja.

Balanced scorecard mengukur kinerja

melalui empat perspektif yang komprehensif

dan berimbang, terdiri dari perspektif

finansial, perspektif pelanggan, perspektif

proses bisnis internal dan perspektif

pembelajaran dan pertumbuhan.

Penerapan

balanced scorecard

dapat dimodifikasi

beradaptasi dengan jenis organisasi, visi

dan strategi yang ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Bastian, Indra. 2010. Akuntansi Sektor Publik: Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga.

Cahyono, Dwi. 2000. Pengukuran Kinerja Balanced Scorecard untuk Organisasi Sektor Publik.

Jurnal Bisnis dan Akuntansi, Vol. 2 No.3 Edisi Desember.

Fraser, Lyn M., dan Aileen Ormiston. 2008. Memahami Laporan Keuangan. Jakarta: Indeks.

Handoko, Jesica. 2006. Pengaruh Emosi Negatif dalam Pemilihan Alternatif Investasi Modal: Perbandingan Keputusan Individu dan Kelompok. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol. 10, No.3:303-320.Hsu, K. 2005. Using Balanced Scorecard and Fuzzy Data Envelopment Analysis for Multinational R&D Project Performance Assessment. The Journal of American Academy of Business. Vol. 7(1): 189-196.

Hsu, K. 2005. Using Balanced Scorecard and Fuzzy Data Envelopment Analysis for Multinational R&D Project Performance Assessment. The Journal of American Academy of Business. Vol. 7(1): 189-196

Kaplan, Robert S., dan David P. Norton. 2000. Menerapkan Strategi menjadi Aksi Balanced Scorecard. Jakarta: Erlangga.

Kristanti, Putriana. 2006. Pengukuran Kinerja dan Perannya dalam Meningkatkan Kinerja Perusahaan, Kajian Bisnis, Vol. 14 No. 2, Edisi Mei – Agustus.

Mardiasmo. 2009. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi.

Mahsun, Mohamad. 2009. Pengukuran Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta: BPFE.

Mulyadi. 2007. Sistem Terpadu Pengelolaan Kinerja Personel Berbasis Balanced Scorecard. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.

Rangkuti, Freddy. 2013. SWOT Balanced Scorecard. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Rudianto. 2006. Akuntansi Manajemen: Informasi untuk Pengambilan Keputusan Manajemen. Jakarta: Grasindo.

Gambar

Tabel 1 Karakteristik Organisasi Sektor Publik
Gambar 1 Keseimbangan Sasaran Strategik yang Ditetapkan dalam Perencanaan Strategik   Sumber : Mulyadi, 2007
Gambar 2 Penerapan Balanced Scorecard   Sumber: Kaplan dan Norton, 2000 pada Organisasi Sektor Swasta (Bisnis)
Gambar 3. Model Balanced Scorecard untuk Quasi Nonprofit Organizations
+3

Referensi

Dokumen terkait

Dengan menggunakan Balanced Scorecard, perusahaan Life.Industries dapat melakukan analisis kinerja yang lebih komprehensif mencakup semua aspek, baik dari aspek keuangan,

Abdul Chalik: Penerapan balanced scorecard sebagai metode pengukuran kinerja..., 2004... Abdul Chalik: Penerapan balanced scorecard sebagai metode pengukuran

Balanced Scorecard, metode penelitian pengukuran kinerja dengan menggunakan pendekatan empat perspektif yaitu perspektif keuangan, perspektif konsumen, perspektif

Balanced scorecard merupakan suatu metode penilaian kinerja perusahaan dengan.. mempertimbangkan empat perspektif untuk mengukur kinerja

Pengukuran kinerja dengan Balanced Scorecard merupakan alternatif pengukuran kinerja yang didasarkan pada empat hal utama, yaitu keuangan, pelanggan, proses bisnis

Dari hasil 4 perspektif balanced scorecard dapat dinilai bahwa Pengukuran kinerja Koperasi Wanita “AR ROHMA” secara keseluruhan adalah cukup.. Kata kunci : Balanced

Perusahaan dalam menerapkan balanced scorecard untuk mengukur kinerja belum memenuhi kriteria pengukuran, seharusnya perusahaan mengukur semua perspektif namun

Balanced Scorecard dapat digunakan sebagai alternatif pengukuran kinerja perusahaan yang lebih komprehensif dan tidak hanya bertumpu pada pengukuran atas dasar perspektif