BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Lapisan Superfisial Kulit
Kulit sebagai organ terluas tubuh manusia secara mikroskopis terbagi atas dua regio berbeda, yaitu epidermis (superfisial) dan dermis (profunda). Epidermis merupakan regio non-vaskular yang dibatasi oleh epitelium skuamous berlapis yang memiliki keratin, sedangkan dermis yang terletak di bawah epidermis merupakan regio vaskular yang terdiri atas jaringan ikat padat ireguler. Di bawah dermis terdapat hipodermis yang terdiri atas lapisan subkutan jaringan ikat dan jaringan adiposa yang membentuk fasia superfisial. (Eroschenko, 2008)
Seluruh regio tersebut saling berhubungan secara anatomi dan berinteraksi satu sama lain, sehingga tidak mudah untuk mempelajari fungsi salah satu regio dengan menyampingkan regio lain. Hanya beberapa proses patofisiologi yang hanya melibatkan satu regio tanpa keterlibatan regio lain, misalnya dermatofitosis. Secara patofisiologi, kulit terdiri atas tiga unit reaktif yang saling tumpang tindih dan terbagi atas beberapa subunit yang berbeda. Unit-unit tersebut adalah Superficial Reactive Unit (SRU), Dermal Reactive Unit (DRU), dan Subcutaneus Reactive Unit (S) yang
semuanya memberikan respon pada rangkaian stimulus patologis berdasarkan kemampuan reaksi inheren pada pola yang terkoordinasi (Gambar 2.1.).
2.1.1. Histologi Lapisan Superfisial Kulit
Kulit dikategorikan atas tebal dan tipis berdasarkan ketebalan lapisan epidermis (<1 mm hingga >5 mm) dan lokasinya pada permukaan tubuh. Kulit dengan lapisan epidermis yang tebal (telapak tangan & kaki) merupakan komponen kulit tebal yang tidak memiliki rambut. Sementara itu, bagian kulit lain merupakan komponen kulit tipis yang memiliki folikel rambut yang berbeda pada setiap regio. Perbedaan ketebalan tersebut didasarkan atas pajanan terhadap abrasi dan penggunaannya yang bermanifestasi terhadap tingkat produktivitas sel. Selain itu, kulit tebal memiliki banyak kelenjar keringat tanpa folikel rambut, kelenjar minyak, ataupun serabut otot polos. (Eroschenko, 2008).
Lapisan epidermis terdiri atas epitelium skuamous keratin bertingkat yang terbagi atas lima tingkat, yaitu: stratum basal/ germinativum, stratum spinosum, stratum granulosum, stratum lusidium, dan stratum korneum. Selain itu, beberapa kelompok sel seperti keratinosit, melanosit, sel
Keterangan:
SRU : Superficial Reactive Unit
E : Epidermis
J : Junction Zone
PB : Papillary Body
SVP : Superficial Microvascular Plexus
DRU : Dermal Reactive Unit
RD : Reticular Dermis
DVP : Dermal Microvascular Plexus
S : Subcutaneous Reactive Unit
Sep : Septae
L : Lobule
A : Hair & Sebaceous Gland
HF : Hair Follicle
Gambar 2.1. Struktur Lapisan Kulit
Sumber:
Langerhans, dan sel Merkel tersebar dengan komposisi yang berbeda pada setiap tingkat lapisan epidermis (Gambar 2.2).
2.1.2. Struktur dan Perkembangan Lapisan Superfisial Kulit
Epidermis merupakan epitelium skuamous yang secara berkelanjutan diperbaharui dan berperan sebagai cikal-bakal pembentukan adneksa kulit seperti unit pilosebaseous (PSU), kuku, dan kelenjar keringat. Epidermis memiliki ketebalan sekitar 0,4 hingga 1,5 mm yang mayoritasnya terdiri atas sel-sel keratin yang terbagi atas 5 lapisan/ stratum. Sel yang matang akan berpindah ke permukaan kulit dari lapisan basal ke stratum korneum untuk membentuk sel-sel keratin. Selain itu, terdapat beberapa kelompok sel yang merupakan sel imigran. Sel Langerhans dan melanosit bermigrasi ke dalam epidermis pada masa embriologi, sedangkan sel Merkel berdiferensiasi secara in-situ pada epidermis. Sel-sel lain seperti limfosit merupakan inhabitan
transien pada epidermis dan jarang ditemukan pada kulit yang normal. Epidermis berlekatan dengan basal lamina yang memisahkan epidermis dengan dermis. (Sadler, 2011)
2.1.2.1. Sel Keratin
Sel keratin merupakan sel yang berkembang dari lapisan ektoderm yang menyusun setidaknya 80 persen sel-sel epidermis.
Gambar 2.2. Struktur Histologi Lapisan Epidermis Kulit
Semua keratinosit mengandung filamen intermediat keratin di dalam sitoplasma dan membentuk desmosom dan modifikasinya dengan sel lain. Filamen keratin merupakan bagian yang penting pada sel keratin dan sel epitel lainnya oleh karena perannya sebagai sitoskeleton pada sel tersebut. (Ross et al., 2003)
Ada sekitar 30 keratin berbeda yang telah ditemukan, yang terdiri atas 20 keratin epitel dan 10 keratin rambut, yang semuanya memiliki massa molekul berkisar antara 40-70 kDa. Keratin-keratin ini tersusun satu sama lain membentuk filamen yang ditemukan di dalam sel dan dapat ditemukan pada rekonstruksi in-vitro sebagai ‘heteropolimer obligat’ yang didasarkan pada tipe sel, tipe jaringan, stadium perkembangan, stadium diferensiasi, dan kondisi penyakit. Sehingga, pengetahuan bagaimana keratin terbentuk sangat penting untuk menngetahui bagaimana proses diferensiasi lapisan epidermis. (Chu et al., 2003)
2.1.2.2. Lapisan-lapisan Epidermis
Setiap tahap diferensiasi menjadikan sel berfungsi dan memiliki struktur yang lebih spesifik. Akhir dari keratinisasi adalah sel keratin mati yang berdiferensiasi (korneosit) yang mengandung filamen keratin, protein matriks, dan membran plasma yang permukaannya memiliki lipid. Diferensiasi merupakan rangkaian peristiwa terkontrol yang diregulasi baik dari faktor ekstrinsik (lingkungan) dan faktor intrinsik (sistemik dan genetik), sehingga rentan terhadap perubahan-perubahan pada setiap level proses keratinisasi.
Berikut ini adalah lapisan-lapisan epidermis kulit: • Stratum germinativum
Stratum germinativum atau basalis mengandung sel keratin kolumnar yang aktif bermitosis, yang melekat pada membran basal dan menghasilkan sel yang akan kemudian berpindah ke permukaan kulit. Sel basal mengandung nukleus besar dengan nukleolus prominen dan heterokromatin yang berkumpul di periper sel. (Ross et al., 2003)
• Stratum spinosum
Bentuk, struktur, dan propertis subselular sel-sel spinosum berhubungan dengan posisinya yang terlatak di tengah epidermis. Sel spinosum suprabasal berbentuk polihedral dan memiliki nukleus yang bulat. Sel yang terletak lebih atas lebih besar, lebih pipih, dan mengandung organel yang dinamakan sebagai granul lamelar. Sel-sel pada stratum spinosum memiliki filamen karatin yang besar dan jelas yang disebut sebagai tonofilamen. (Eroschenko, 2008)
• Stratum granulosum
bersifat basofilik dan keratohialin. Granul keratohialin utamanya terdiri atas protein padat elektron, profilaggrin, dan filamen intermediat keratin. (Eroschenko, 2008)
• Stratum lusidium
Sel granul tidak hanya mensintesis, modifikasi, dan menghubungkan secara crosslinking protein-protein yang dibutuhkan dalam proses keratinisasi, tetapi juga memiliki peranan dalam penghancuran yang terpogram. Hal ini terjadi pada lapisan transisi dari lapisan granular menjadi sel cornified yang terdiferensiasi dan lapisan tersebut dinamakan sebagai stratum lusidium. Perubahan ini melibatkan hilangnya nukleus semua konten sitoplasma kecuali filamen keratin dan matriks filaggrin. DNAase, RNAase, asam hidrolase, esterase, fosfatase, protease, dan plasminogen aktivator telah diidentifikasi pada lapisan ini dan diimplikasikan mengalami degradasi. Stadium morfologi pada penghancuran nukleus telah dideskripsikan sebagai gambaran aktivitas mitosis. (Chu et al., 2003) • Stratum korneum
2.1.2.3. Regulasi Proliferasi dan Diferensiasi Epidermis
Oleh karena sifatnya yang secara terus-menerus memperbaharui jaringan, struktur dan fungsi epidermis tergantung pada beberapa proses yang awalnya dimulai sejak perkembangan hingga sepanjang hidup. Proses ini mencakup pembentukan dan pertahanan jumlah sel; interaksi antara keratinosit dan sel imigran; dan adhesi antara sesama keratinosit, keratinosit dengan basal lamina, dan basal lamina dengan dermis. (Sadler, 2011)
Lapisan dermis telah lama dikenal memiliki peranan dalam regulasi pembentukan sel pada lapisan epidermis. Hal ini terlihat pada penelitian yang menggunakan rekombinan jaringan yang disiapkan dengan cara annealing epidermis dari karakteristik sumber yang spesifik (misal: umur, spesies, dan regio) dengan dermis dari sumber yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan ketebalan, arsitektur, pola diferensiasi epidermis, dan pola adneksa kulit yang berasal dari epidermis bergantung pada bagian dari dermis yang telah disatukan terhadapnya. (Chu et al., 2003)
2.1.2.4. Sel Non-keratin pada Epidermis • Melanosit
Melanosit merupakan sel dendritik penghasil pigmen yang berasal dari neural crest yang tersebar utamanya pada bagian basal epidermis. Pada kulit bayi yang baru lahir, badan sel melanosit biasanya mengarah ke dermis di bawah level sel basal, tetapi selalu superior terhadap lamina densa. Pada pemeriksaan mikroskopis, sitoplasma terlihat pucat dengan nukleus ovoid dan terdapat melanosom yang mengandung pigmen. (Sadler, 2011)
• Sel Merkel
tubuh. Sel Merkel menerima stimulus, mengubah bentuk keratinosit untuk memberikan respon berupa sekresi transmiter kimia. Sel ini dapat ditemukan pada kulit yang berambut dan kulit pada jari, bibir, area kavitas mulut, dan sarung akar luar folikel rambut. Seperti melanosit, sitoplasma sel Merkel memiliki penampilan yang pucat dengan nukleus yang berlobul dan memiliki batas sel yang mengarah ke keratinosit membentuk spina. (Chu et al., 2003)
• Sel Langerhans
Sel Langerhans berasal dari sumsum tulang dan bertugas sebagai sel yang yang memproses dan memperkenalkan antigen yang terlibat dalam proses respons sel T. Sel ini tidak hanya ditemukan di epidermis, tetapi dapat juga ditemukan pada epitelium skuamous, termasuk kavitas mulut, esophagus, dan vagina, pada organ limfoid seperti limpa, timus, dan nodus limfatikus, dan pada dermis dalam keadaan normal. Sitoplasma sel ini seperti terlihat di bawah mikroskop menunjukkan filamen intermediat vimentin dan struktur sel yang berbentuk oval ataupun batang pendek. (Chu et al., 2003)
2.1.3. Reaksi Patologis Lapisan Superfisial Kulit • Gangguan kinetik sel epidermis
stratum korneum terjadi oleh karena peningkatan produksi sel ataupun penurunan deskuamasi korneosit. Pada kasus ortohiperkeratosis, stratum korneum mungkin terlihat seperti sel normal, akan tetapi memiliki sel keratin yang kohesi dan penyusunan yang berbeda.
• Gangguan diferensiasi sel epidermis
Parakeratosis merupakan salah satu gangguan diferensiasi sel epidermis di mana kesalahan dan proses kornifikasi yang dipercepat menyebabkan retensi nukleus piknotik sel epidermis.
• Gangguan koherensi epidermis
Keseimbangan dinamis pada pembentukan dan pemutusan kontak interselular berdampak terhadap koherensi sel-sel epidermis. Desmosom dan substansi interselular berperan penting dalam pembentukan kohesi antar-sel. Desmosom akan memutuskan dan membentuk kembali hubungan antar-sel ketika sel tersebut bermigrasi ke lapisan epidermis. Masalah yang paling sering timbul pada gangguan koherensi epidermis adalah pembentukan vesikula intraepidermal. Selain itu, akantolisis dapat terjadi sebagai gangguan pada kohesi antar-sel, yang dikarkteristikkan dengan pemisahan regio interdesmosom membran sel keratinosit, diikuti dengan pemecahan dan kehilangan epidermis.
• Gangguan kohesi epidermis-dermis
Kerusakan pada hubungan kohesis epidermis-dermis pada umumnya akan menyebabkan pembentukan blíster. Blíster ini muncul pada bagian subepidermal pada pemeriksaan mikroskop yang berasal dari proses patogenisitas yang heterogen. (Chu et al., 2003)
2.2. Dermatofitosis
2.2.1. Etiologi Dermatofitosis
Dermatofitosis (dikenal juga sebagai ringworm, athlete’s foot, atau jock itch) adalah suatu infeksi superfisial yang disebabkan oleh dermatofita.
Dermatofita merupakan sekumpulan jamur yang saling berhubungan dalam taksonomi, yakni spesies dari genera Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton. Kelompok jamur ini memiliki kemampuan untuk
melakukan perlekatan molekular dengan keratin dan menggunakannya sebagai sumber nutrisi, memungkinkan jamur-jamur tersebut untuk berkolonisasi.
Secara umum, ada dua bentuk pertumbuhan jamur pada tubuh, yaitu mould dan yeast. Pada infeksi dermatofita, bentuk yang tumbuh adalah mould
yang menghasilkan hifa seperti benang yang terdiri atas untaian sel. Bentuk ini akan tumbuh menginvasi keratin pada kulit, rambut, dan kuku, sehingga dapat dilihat langsung dilihat pada pemeriksaan mikroskop. Spora vegetatif (konidia) akan tumbuh pada kultur, dan bentuknya yang khas akan mempermudah identifikasi dari kelompok jamur lain (Hay RJ, 2004).
2.2.2. Mikologi Jamur Penyebab Dermatofitosis
Dermatofita (harfiah: tanaman kulit) merupakan jamur yang diklasifikasikan sebagai deuteromycetes (fungi imperfekta). Tiga genera yang penting secara medis adalah Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton, yang terpisah berdasarkan morfologi makrokonidia dan
2.2.3. Epidemiologi dan Faktor Resiko Dermatofitosis
Perbedaan ekologi dan geografi mempengaruhi tingkat kejadian dermatofitosis dan jenis jamur penyebabnya yang dapat beradaptasi pada kulit manusia, hewan, ataupun lingkungan. Walaupun demikian, keseluruhan jamur ini dapat berperan sebagai sumber terjadinya infeksi pada manusia. Banyak hewan liar dan ternak, termasuk anjing dan kucing, terinfeksi oleh spesies jamur tertentu dan berperan besar sebagai reservoar yang potensial dalam menyebabkan infeksi terhadap manusia. Antara iklim lembab dan
Gambar 2.4. Hifa Jamur pada Pemeriksaan PAS dari biopsi Kulit
Sumber: Roxburgh’s Common Skin Diseases, 17th Edition, 2013
Gambar 2.3. Gambaran Dermatofita pada Pemeriksaan Mikroskop (A) Penampang Hasil Kerokan Lesi Kulit Kepala dengan KOH yang Menunjukkan Hifa, (B) Hasil Kultur yang
Memperlihatkan Hifa, Makrokonidia, dan Mikrokonidia
Sumber: Sherris Medical Microbiology, 4th Edition, 2004
tropis, terdapat perbedaan yang signifikan terhadap frekuensi kasus dan isolasi spesies jamur yang sumbernya bukanlah manusia. Banyak perbedaan tersebut berubah berdasarkan perubahan populasi.
Transmisi manusia ke manusia biasanya membutuhkan kontak yang dekat dengan subjek yang terinfeksi dikarenakan virulensi dan infektivitas dermatofita yang rendah. Biasanya transmisi ini terjadi di dalam lingkungan keluarga ataupun pada situasi yang memungkinkan kontak langsung dengan kulit ataupun rambut yang terinfeksi.
Anak-anak di bawah usia pubertas rentan terhadap terjadinya ringworm pada kulit kepala. Infeksi jamur zoofilik, terutama ternak, anjing,
dan kucing (cattle ringworm) dapat menyebabkan respon inflamasi berupa lesi pustular yang disebut sebagai kerion. Pada usia dewasa, infeksi pada bagian selangkangan merupakan infeksi yang paling sering terjadi (tinea cruris). (Hay RJ, 2004)
2.2.4. Imunitas dan Patogenesis Dermatofitosis
Biasanya, infeksi oleh dermatofita ini dapat berlangsung secara kronis dan menyebar, di mana progresivitas ini dikaitkan dengan faktor hospes dan organisme penyebab. Hampir setengah dari pasien memiliki penyakit penyebab yang mempengaruhi respon imun tubuh mereka ataupun mengkonsumsi pengobatan yang dapat menurunkan fungsi limfosit T. Infeksi kronis ini dikaitkan dengan Trichophyton rubrum, yang baik pada pasien normal ataupun immunocompromised memperlihatkan respon yang rendah. Walaupun beberapa mekanisme patogenitas telah dijelaskan perihal bagaimana cara organisme ini tumbuh tanpa menstimulasi proses inflamasi yang berarti belum dapat dijelaskan. (Ryan et al., 2004)
Dermatofitosis mulai terjadi ketika lesi kulit yang mengalami trauma kontak langsung dengan hifa dermatofita yang berasal dari infeksi lain. Kerentanan dapat ditimbulkan oleh faktor-faktor lokal seperti komposisi asam lemak permukaan kulit misalnya. Ketika stratum korneum terpenetrasi, jamur akan berproliferasi pada lapisan keratin kulit yang diperantarai oleh beberapa jenis proteinase. Onset infeksi tergantung pada lokasi anatomi, kelembaban, dinamika pertumbuhan dan deskuamasi kulit, kecepatan dan penyebaran respon inflamasi, dan spesies penginfeksi. Misalnya, jika organisme tumbuh sangat lambat pada stratum korneum dan proses deskuamasi kulit tidak terganggu, maka infeksi akan berlangsung singkat dan menimbulkan tanda dan gejala yang ringan. Proses inflamasi akan meningkatkan kecepatan pertumbuhan & deskuamasi kulit dan membantu membatasi perkembangan infeksi, sedangkan agen imunosupresan seperti steroid akan menurunkan pengelupasan lapisan kulit sehingga memperpanjang masa infeksi.
Infeksi dapat menyebar dari kulit ke struktur lain yang mengandung keratin, seperti rambut dan kuku, atau juga terinvasi secara langsung. Batang rambut akan dipenetrasi oleh hifa, baik dalam bentuk ectothrix (artrokonidia yang membentuk sarung di sekitar batang rambut) maupun endothrix (artrokonidia yang membentuk sarung di dalam batang rambut). Hal ini akan berdampak terhadap kerusakan struktur batang rambut yang pada akhirnya berujung pada rambut patah. Kehilangan rambut pada akar dan penarikan folikel rambut yang disebabkan oleh elemen jamur dapat terjadi. Invasi bantalan kuku akan menyebabkan reaksi hiperkeratosis yang akan merubah bentuk kuku tersebut. (Weller et al., 2008)
2.2.5. Manifestasi Klinis Dermatofitosis
Manifestasi infeksi dermatofita mulai dari kolonisasi yang tidak terlihat secara jelas hingga dapat menyebabkan erupsi kronis progresif yang dapat berlangsung bulan hingga bertahun lamanya. Hal ini akan berdampak terhadap ketidaknyamanan pasien. Dokter kulit pada umumnya menamakan dermatofitosis ini berdasarkan lokasi terjadinya, yakni: tinea capitis (kulit kepala), tinea pedis (kaki), tinea manuum (tangan), tinea cruris (selangkangan), tinea barbae (janggut), dan tinea unguium (bantalan kuku). Infeksi pada tempat lain dalam struktur anatomi kulit digolongkan ke dalam tinea corporis. Ada perbedaan klinis umum, etiologi, dan epidemiologi di
antara gejala masing-masing dermatofitosis, namun terkadang dapat ditemui keadaan yang tumpang tindih. Perbedaan utama etiologi adalah perbedaan lokasi infeksi. (Ryan et al., 2004)
konstitusioal. Kebanyakan kasus jarang menyebabkan gejala yang lebih dari perasaan gatal pada kulit kepala. (Chu et al., 2003)
Lesi pada kulit sendiri dimulai pada pola yang sama dan membesar membentuk batas eritema yang tajam dengan penampakan kulit di tengah lesi hampir seperti keadaan normal. Lesi multipel dapat menyatu membentuk pola geometrik yang tidak biasa pada kulit. Lesi dapat timbul pada berbagai lokasi, tapi pada umumnya pada lipatan kulit yang lembab dan berkeringat. Obesitas dan penggunaan pakaian yang ketat dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi pada bagian selangkangan dan di bawah payudara. Bentuk lain infeksi yang melibatkan scaling dan pengelupasan kulit pada ibu jari kaki dinamakan sebagai kaki atlet (athlete’s foot). Kelembapan dan perlecetan kulit dapat menjadi sumber infeksi jamur.
Infeksi pada bantalan kuku pada awalnya menyebabkan diskolorasi jaringan subungual, kemudian hiperkeratosis dan penampakan diskolorasi pada penampang kuku (nail plate) oleh jamur penyebab infeksi terjadi. Infeksi secara lamgsung pada penampang kuku jarang terjadi. Progresivitas
Gambar 2.5. Manifestasi Klinis Lesi Dermatofitosis (A)Tinea Pedis, (B) Chronic Tinea Unguium, (C) Kerion, (D) Tinea Capitis
Sumber: Clinical Dermatology, 4th Edition, 2008
(A) ( B)
hiperkeratosis dan inflamasi yang terkait dapat menyebabkan perubahan bentuk kuku dengan beberapa gejala sampai penampang kuku lepas dari tempatnya sehingga menekan jaringan ikat sekitar. (Hay RJ, 2004)
2.2.6. Diagnosa Dermatofitosis
Tujuan prosedur diagnostik adalah untuk membedakan dermatofitosis dari penyebab-penyebab inflamasi lain. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri, jamur lain, dan penyakit non-infeksi (psoriasis, dermatitis kontak) mungkin menunjukkan gambaran yang sama. Oleh sebab itu, langkah yang penting untuk dilakukan adalah pemeriksaan mikroskopis dari material yang diambil dari spesimen lesi untuk mendeteksi kehadiran jamur. Pemeriksaan potassium (KOH) dan calcifluor white dari hasil pengerokan batas pinggir lesi dermatofita akan menunjukkan hifa septa. Pemeriksaan rambut yang terinfeksi menunjukkan hifa dan arthroconidia mempenetrasi batang rambut. Rambut yang rapuh dan rusak akan menunjukkan hasil pemeriksaan yang terbaik. Beberapa spesies dermatofita akan menfluorosensi, dan pemilihan rambut yang akan diperiksa dapat dibantu dengan penggunaan lampu yang memancarkan sinar ultraviolet, yakni Wood’s lamp. (Weller et al., 2008)
Material yang digunakan pada pemeriksaan langsung dapat digunakan untuk kultur sebagai isolasi dermatofita yang menunjukkan aktivitas yang progresif. Infeksi ringan dengan penemuan klinis yang umum dan pemeriksaan KOH positif tidak sering dilakukan oleh karena manajemen klinis tidak dipengaruhi secara signifikan oleh pengidentifikasian spesies etiologi. Infeksi dengan klinis yang tipikal yang menunjukkan pemeriksaan KOH negatif membutuhkan kultur. Akan tetapi, alasan utama atas hasil KOH yang false negatif berasal dari kegagalan dalam pengumpulan spesimen kulit dan rambut yang dilakukan tidak sesuai dengan semestinya.
• Pemeriksaan mikroskopis o Kulit dan kuku
harus mengikutkan potongan kulit yang mengalamai distrofi secara keseluruhan. Pada preparasi KOH, hifa jamur akan tampak dengan gambaran septa dan struktur yang bercabang. Akan tetapi, prosedur kutur sangat bermanfaat untuk pengidentifikasian spesies jamur.
o Rambut
Pemeriksaan lesi yang melibatkan kulit kepala dengan menggunakan lampu Wood akan menunjukkan pteridine fluoresensi dari patogen tertentu. Rambut harus dicabut, tidak dipotong, untuk pemeriksaan dengan mikroskop yang menghasilkan gambaran infeksi ectothrix, endothrix, atau favic (hifa yang tersusun paralel di dalam atau di sekitar batang rambut).
• Prosedur kultur
Spesiasi jamur superfisial didasarkan atas karakteristik makroskopis, mikroskopis, dan metabolik organisme tersebut. Sabouraud’s Dextrose Agar (SDA) [Dextrose 40 g; agar 20 g; peptone 10 g; air
distilasi (pH 5,5) 1000 mL] merupakan medium isolasi yang paling sering digunakan dan memberikan deskripsi morfologi yang baik. Akan tetapi, kontaminan saproba tumbuh sangat cepat pada medium ini sehingga mengaburkan penampakan jamur. Saproba ini dapat dihambat dengan menambahkan cycloheximide (0,5 g/L) dan Chloramphenicol (0,05 g/L). Produk-produk komersial agar ini adalah
Mycosel dan Mycobiotic. Medium Tes Dermatofita (DTM)
2.2.7. Pengobatan Dermatofitosis
Beberapa infeksi kulit lokal akan sembuh dengan sendirinya dan beberapa yang tidak, dapat diobati dengan tolnaftate, allylamine, atau azole topikal. Infeksi yang lebih luas, misal: mengenai bantalan kuku membutuhkan terapi sistemik seperti griseofulvin atau itraconazole dan terbinafine, yang semuanya sering dikombinasi dengan terapi topikal. Terapi ini harus dilanjutkan beberapa minggu hingga bulanan dan kekambuhan mungkin terjadi. Agen keratolitik mungkin bermanfaat untuk mengurangi ukuran lesi hiperkeratosis. (Weller et al., 2008)
Pada pengobatan tinea capitis, rekomendasi terbaru pada negara-negara maju menganjurkan penggunaan pengobatan secara oral yaitu berupa griseofulvin (10-25 mg/kg selama 4-8 minggu) atau dapat juga menggunakan
terbinafine ataupun itraconazole. (World Health Organization, 2005)
i
2.3. Gambaran Dermatofitosis
Prevalensi kejadian dermatofitosis cukuplah signifikan sebagai kasus infeksi pada kulit, yakni yang melibatkan lapisan superfisial kulit beserta adneksanya (Hay RJ, 2004). Seperti penelitian mengenai infeksi jaur superfisial yang dilakukan di daerah rural Bangladesh, dikatakan bahwa prevalensi dan karakteristik sangat bervariasi dan tergantung dari umur, jenis kelamin, kondisi iklim, gaya hidup, dan pola migrasi populasi (Rahman et al., 2011).
Sementara itu, penelitian ANOVA yang dilakukan di Nigeria melaporkan bahwa 31,6% sampel yang diteliti merupakan pasien yang mengalami dermatofitosis. 24,3% penyebabnya merupakan Microsporum audounii; 18,9% M. canis; 13,5% M. Gypseum; 9,5% Trichophyton soudanense; 6,8% T. Mentagrophytes; 4,1% T.
rubrum; dan 22,7% T. tansurans. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa
Microsporum spp. mendominasi infeksi (56,7%) daripada Trichophyton spp. (43,3%)
dependen terhadap umur dan jenis kelamin (Dike-Ndudim et al., 2013).
klinik rawat jalan departemen dermatologi RS S. Matteo Italia. Sebanyak 26 kasus (26,8%) mengalami tinea corporis, 25 kasus (25,8%) mengalami tinea pedis, 14 kasus (14,4%) mengalami tinea capitis, 10 kasus (10,3%) mengalami tinea cruris, dan 22 kasus (22, 6%) yang mengalami tinea unguium. Dari penelitian ini, didapat juga persentasi kejadian yang terjadi berdasarkan golongan usia, yaitu 74 kasus (76,3%) terjadi pada golongan usia dewasa dan 23 kasus (23,7%) terjadi pada golongan usia anak-anak. Penelitian ini juga menunjukkan prevalensi kejadian yang sedikit lebih tinggi pada pria yaitu sebanyak 52 kasus (53,6%) dibandingkan pada wanita yaitu sebesar 45 kasus (46,4%).
Dari 110 kasus dermatofitosis di Jaipur yang didiagnosa dan memiliki hasil tes KOH dan kutur yang positif, sebanyak 78 pasien (71%) merupakan pria dan 32 pasien (29%) merupakan wanita. Prevalensi kejadian dari yang tertinggi ke yang terendah adalah tinea corporis (54,6%), tinea cruris (32,67%), tinea capitis (15,33%), dan tinea unguium (9,33%). Pada penelitian ini didapatkan prevalensi tinggi yang cukup berarti sebesar 46,67% kasus terjadi pada pasien dengan rentang usia 16-30 tahun yang disusul sebesar 20% kasus pada rentang usia 0-15 tahun, 15% pada rentang usia 31-45 tahun, dan sisanya pada usia 46 tahun ke atas. (Sarika et al., 2014)