• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUKURAN PERFORMANSI SUPPLY CHAIN OPERATION REFERENCE (SCOR) DI PT. SURABAYA PERDANA ROTOPACK- SIDOARJO.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGUKURAN PERFORMANSI SUPPLY CHAIN OPERATION REFERENCE (SCOR) DI PT. SURABAYA PERDANA ROTOPACK- SIDOARJO."

Copied!
126
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ PENGUKURAN PERFORMANSI SUPPLY CHAIN OPERATION REFERENCE

(SCOR) DI PT. SURABAYA PERDANA ROTOPACK- SIDOARJ O “ . Tak ada

kata yang pantas untuk diucapkan selain rasa syukur atas nikmat yang diberikan olehNya.

Maksud penyusunan skripsi ini adalah untuk memenuhi persyaratan dalam memperoleh gelar sarjana Teknik Industri pada Fakultas Teknologi Industri Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

Dalam kesempatan ini pula dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyelesaian skripsi ini baik secara langsung maupun tidak langsung kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Sudarto, MP. Selaku Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

2. Bapak Ir. Sutiyono, MT. Selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

3. Bapak Dr. Ir. Minto Waluyo, MM. Selaku ketua jurusan Teknik Industri Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

4. Bapak Ir. Rusindiyanto, MT. Selaku Dosen Pembimbing 1 5. Bapak Drs. Pailan, M.Pd. Selaku Dosen Pembimbing II

(2)

7. Ibu Ir. Yustina Ngatilah, MT dan bapak Dr. Ir. Hari Purwoadi, MM selaku penguji seminar II

8. Seluruh bapak dan Ibu Dosen jurusan Teknik Industri UPN “Veteran” Jawa Timur 9. Bapak Nanang Prasetyo, ST selaku pembimbing lapangan di PT. Surabaya Perdana

Rotopack- Sidoarjo dan seluruh karyawan PT Surabaya Perdana Rotopack.

10. Ibu ku yang tercinta, Alm. Ayahanda dan seluruh keluarga besar yang selalu menjadi tempat keluh kesah dan pemberi semangat

11. Teman-Teman TI semua angkatan terutama (Rido Hakiky, Riduwan Arif, Teddy Gunarso, Ririn, Geraldy, dan semua anak paralel B) Ass.Lab Ergonomi yang sudah memberikan semangat dan dorongan buatku, dan teman main dotaku Arief Eko Yulianto.

12. Terima kasih banyak kepada Pakpo Zen yang sudah mengkuliahkanku sampai saat ini dan hanya dengan skripsi ini aku hanya bisa membalas kebaikan beliau.

13. Semua pihak yang telah mendukung dan membantuku yang tidak dapat disebutkan satu per satu sehingga terwujudlah laporan ini

Tentunya dalam penyusunan tugas akhir ini masih jauh dari kesempurnaan, baik isi maupun penyajian. Untuk itu sebagai penulis, saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan tugas akhir ini.

Akhir kata semoga Tugas Akhir ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak dan semoga Allah SWT memberikan balasan kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan kepada penulis, Amin.

Surabaya, Juni 2012

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………. DAFTAR ISI ……….. DAFTAR TABEL ……… DAFTAR GAMBAR……….. DAFTAR LAMPIRAN... ABSTRAKSI………

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang……….……….. 1.2.Perumusan Masalah………...………… 1.3.Batasan Masalah………...………....….…..…... 1.4.Asumsi ……….………...…... 1.5.Tujuan Penelitian ……….………... 1.6.Manfaat Penelitian………. 1.7.Sistematika Penulisan ……… BAB II TINJ AUAN PUSTAKA

2.1. Pengukuran Kinerja Perusahaan ……….…...………... 2.2. Supply Chain Management…..………..……….…... 2.3. Prinsip Pengukuran Performansi Supply Chain………...

2.4. Perancangan Hierarki Awal Sistem Pengukuran Performansi

Supply Chain...

2.5. Pengujian Data………... 1 2 2 3 3 3 4

6 8 10

(4)

2.5.1 Uji Validitas……….………...

2.5.2 Uji Reabilitas……….

2.6. Supply Chain Operation Reference (SCOR) Model……….

2.7. Analythical Hierarchy Process (AHP)……….

2.8. Penelitian Terdahulu………. BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian………..…. 3.2 Identifikasi dan Definisi Operasional Variabel………..…..

3.2.1 Identifikasi Variabel ………..….….. 3.2.2 Definisi Operasional Variabel ……….….. 3.3 Sampling dan Teknik Pengambilan Sampling……….……… 3.4 Metode Pengumpulan Data………..…… 3.5 Metode Pengolahan Data……….…… 3.6 Langkah- Langkah dan Pemecahan Masalah…….……….…..….. BAB IV PELAKSANAAN DAN ANALISIS HASIL

4.1 Perancangan Hierarki Awal Pengukuran Kinerja Supply

Chain………...………..

4.2 Proses Mapping Supply Chain Operation di PT. Surabaya Perdana Rotopack……….. 4.3 Identifikasi Indikator Kinerja ……….. 4.4 Pembuatan Kuisioner………... 4.5 Penentuan Sampel Kuisioner ……….. 4.6 Penyebaran Kuisioner ……….

4.7 Pengumpulan Data ……….

(5)

4.8 Pengujian Data ……… 4.8.1 Uji Validitas……… ………..……… 4.8.2 Uji Reliabilitas ……….. 4.9 Perhitungan Nilai Absolut/ Aktual ………..

4.9.1 Plan………...………..

4.9.2 Source………...………..

4.9.3 Make………...………

4.9.4 Deliver ………...

4.9.5 Return ………...

4.10 Perhitungan Dengan Menggunakan AHP (Analytic Hierarchy Process ……….. 4.10.1 Membuat Kuisioner AHP………...……. 4.10.2 Pembobotan KPI dengan AHP ………... 4.10.2.1 Pembobotan Level Satu……… 4.10.2.2 Pembobotan Level Dua……… 4.10.2.3 Pembobotan Level Tiga ………. 4.11 Penyamaan Skala dengan Proses Normalisasi ………

4.11.1 Plan………..……….

4.11.2 Source………..……….

4.11.3 Make……….

4.11.4 Deliver ……….

4.11.5 Return ………..

4.12 Perhitungan Nilai Akhir Performansi Supply

(6)

4.12.1 Plan………..………... 4.12.2 Source………..………...

4.12.3 Make………..……….

4.12.4 Deliver ………... 4.12.5 Return………... 4.13 Implementasi Sistem Pengukuran Kinerja Supply Chain Sesuai

Kondisi Perusahaan………...……… 4.14 Analisa dan Pembahasan ………

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan………...………..

5.2 Saran………...

DAFTAR PUSTAKA………

105 105 106 106 107

109 110

(7)

DAFTAR LAMPIRAN

(8)

ABSTRACT

PT. Surabaya Perdana Rotopack is a company that produces a variety of

variants of products such as plastic packaging and paper packaging for meat and

cheese products, frozen food, coffee, snacks and candy, dried beans, soap, detergent,

instant noodles, and others.

Problems that occur in the PT. Surabaya Perdana Rotopack is instability in

the supply chain activities are activities ranging from purchase of material goods

from the supplier until the goods are shipped to the customer at the company. It can

be detected in the products that do not correspond to the initial plan of production.

Of instability that we need to hold firm supply chain performance measurement and

indicators of what caused the instability of performance.

With the problem, then in this study developed a framework for measuring

supply chain performance by using indicators of supply chain performance

measurement is more appropriate to the condition of the company.

From the results of data processing has been done, then the value obtained

from the Supply Chain performance PT. Surabaya Perdana Rotopack in October

2011 amounted to 58.62. In the month of November 2011 amounted to 57.10. In

December 2011 amounted to 60.50. In January 2012 amounted to 57.73. In February

amounted to 59.11. In March amounted to 61.23. This value indicates the

performance of supply chain can be said to be in average condition (medium).

Factors that affect the performance so that the performance did not reach the

maximum value because there are indicators that have less value. Among others, the

adjusted percentage of quantity production in November of 39, percentage of trouble

printing machine in January of 49, percentage of trouble lamination machine in

October 2011 and January 2011 by 43 and 37.

(9)

ABSTRAK

PT. Surabaya Perdana Rotopack merupakan suatu perusahaan yang

menghasilkan berbagai variant produk kemasan plastik dan kertas seperti kemasan

untuk produk daging dan keju, makan beku, kopi, snack dan permen, kacang kering,

sabun, deterjen, mie instan, dan lain-lain.

Masalah yang terjadi di PT. Surabaya Perdana Rotopack ini adalah ketidak

stabilan dalam kegiatan supply chain yaitu kegiatan barang mulai dari pembelian

material dari supplier sampai barang dikirim ke customer pada perusahaan. Hal

tersebut dapat diketahui pada hasil produksi yang tidak sesuai dengan rencana awal

produksi. Dari ketidak stabilan itu maka perlu diadakan pengukuran kinerja supply

chain perusahaan dan indikator apa yang menjadi penyebab ketidak stabilan kinerja.

Dengan masalah tersebut, maka dipenelitian ini dikembangkan suatu kerangka

kerja pengukuran kinerja supply chain dengan menggunakan indikator pengukuran

kinerja supply chain yang lebih sesuai dengan kondisi perusahaan.

Dari hasil pengolahan data yang telah dilakukan, maka didapatkan nilai kinerja

dari Supply Chain PT. Surabaya Perdana Rotopack pada bulan Oktober 2011 adalah

sebesar 58,62. Pada bulan November 2011 adalah sebesar 57,10. Pada bulan

Desember 2011 adalah sebesar 60,50. Pada bulan Januari 2012 adalah sebesar 57,73.

Pada bulan Februari adalah sebesar 59,11. Pada bulan Maret adalah sebesar 61,23.

Nilai ini menunjukkan kinerja supply chain dapat dikatakan dalam kondisi average

(sedang).

Faktor- faktor yang mempengaruhi nilai performansi sehingga nilai

performansi tidak mencapai nilai maksimal karena ada indikator yang mempunyai

nilai kurang. Antara lain percentage of adjusted production quantity pada bulan

November sebesar 39, percentage of trouble machine printing bulan Januari sebesar

49, percentage of trouble machine lamination pada bulan Oktober 2011 dan Januari

2011 sebesar 43 dan 37.

Kata Kunci: Supply Chain, Nilai Performansi, Supply Chain Operation Reference

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belaka ng

Pada era sekarang ini untuk dapat bersaing, hal yang perlu diperhatikan oleh perusahaan tidak hanya pada pencapaian profit yang sebesar-besarnya. Namun, kepuasan yang tinggi pada kepuasan customer berdasarkan kualitas suatu produk dan ketepatan dalam pengiriman produk. Pada era globalisasi saat ini persaingan antar perusahaan begitu ketat terutana untuk memenuhi permintaan.

PT. Surabaya Perdana Rotopack merupakan suatu perusahaan yang menghasilkan berbagai variant produk kemasan plastik dan kertas seperti kemasan untuk produk daging dan keju, makan beku, kopi, snack dan permen, kacang kering, sabun, deterjen, mie instan, dan lain-lain.

Masalah yang terjadi di PT. Surabaya Perdana Rotopack ini adalah ketidak stabilan dalam kegiatan supply chain yaitu kegiatan barang mulai dari pembelian material dari supplier sampai barang dikirim ke customer pada perusahaan. Hal tersebut dapat diketahui pada hasil produksi yang tidak sesuai dengan rencana awal produksi. Dari ketidak stabilan itu maka perlu diadakan pengukuran kinerja

supply chain perusahaan dan indikator apa yang menjadi penyebab ketidak

stabilan kinerja.

(11)

melalui pendekatan Supply Chain Operations Reference (SCOR). Supply Chain

Operations Reference (SCOR) merupakan konsep untuk mendapatkan suatu

kerangka (framework) pengukuran yang terintegrasi dan untuk mendeskripsikan aktivitas bisnis yang diasosiasikan dengan fase yang terlibat untuk memenuhi permintaan customer dengan menggunakan indikator pengukuran kinerja Supply

Chain yang lebih sesuai dengan kondisi perusahaan. Indikator-indikator tersebut

antara lain Plan, Source, Make, Delivery dan Return.

Dengan metode ini dapat secara langsung menunjuk pada pengukuran seimbang Supply chain Management. Sehingga dari pengukuran tersebut diperoleh hasil performansi Supply Chain yang akan memberikan keuntungan, baik itu untuk perusahaan itu sendiri, supplier maupun konsumen.

1.2. Per umusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang masalah diatas maka permasalahan yang akan dibahas dalam Penelitian ini adalah:

”Berapa nilai performansi Supply Chain di PT. Surabaya Perdana

Rotopack dengan Supply Chain Operation Reference (SCOR)?”

1.3 Batasan Masalah

Batasan masalah yang digunakan dalam penulisan ini adalah :

1. Pengambilan data dilakukan di PT Surabaya Perdana Rotopack, pada bulan April 2012 sampai dengan selesai.

(12)

1.4. Asumsi

Berdasarkan pada batasan masalah, maka asumsi–asumsi yang digunakan antara lain :

1. Data sekunder yang didapat dari perusahaan dianggap benar.

2. Kebijakan perusahaan selama penelitian ini tidak mengalami perubahan secara signifikan.

3. Perusahaan yang diteliti dianggap berjalan dalam keadaan normal/baik.

4. Indikator-indikator kinerja Supply Chain yang disusun dapat mewakili kinerja

Supply Chain yang ada di perusahaan.

5. Responden mengerti betul kondisi real perusahaan.

1.5. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :

1. Mengetahui nilai performansi Supply Chain di PT. Surabaya Perdana Rotopack.

2. Mengetahui prioritas perbaikan dan memberikan usulan perbaikan dari indikator kinerja Supply Chain Perusahaan.

1.6. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah : 1. Bagi Perusahaan :

a. Perusahaan dapat melakukan pengawasan dan pengendalian kinerja Supply

Chain dimana pada saat ini belum dilakukan oleh perusahaan.

(13)

c. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan masukan bagi perusahaan dalam mengembangkan suatu kerangka pengukuran kinerja Supply Chain yang sesuai dengan kondisi dan tujuan strategis perusahaan.

2. Bagi perpustakaan UPN “Veteran” Jawa Timur :

a. Untuk menambah perbendaharaan perpustakaan yang berguna dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan sebagai perbandingan bagi mahasiswa di masa yang akan datang khususnya yang berhubungan dengan pengukuran kinerja Supply Chain khususnya SCOR.

3. Bagi Mahasiswa :

a. Menambah wawasan, kemampuan dan memperoleh pengalaman praktis dalam mempraktekkan teori-teori yang pernah didapat, baik dalam perkuliahan maupun dalam literatur-literatur yang telah ada mengenai

Supply Chain pada perusahaan.

1.7. Sistematika Penulisan

Sistematika dalam penulisan Penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

BAB I. PENDAHULUAN

Bagian ini berisi tentang latar belakang, perumusan masalah, batasan masalah, asumsi yang digunakan dalam penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian serta sistematika penulisan Penelitian.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

(14)

landasan/kerangka konsep berpikir yang kuat dan relevan dalam penelitian ini yaitu mengenai konsep model–model pendekatan pengukuran dan pengendalian kinerja Supply Chain dan hasil penelitian sebelumnya yang dijadikan acuan dan landasan penelitian ini.

BAB III. METODE PENELITIAN

Bab ini menjelaskan langkah–langkah penelitian secara keseluruhan sampai perancangan mekanisme kontrol kinerja Supply Chain yang diusulkan.

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini dijelaskan indikator kinerja Supply Chain yang dijadikan mekanisme kontrolnya berikut pula definisi, ukuran kinerja Supply

Chain dan periodisasi pengukuran masing–masing indikator kinerja

Supply Chain dan pada akhirnya dilakukan perancangan pengukuran

kinerja Supply Chain untuk masing-masing indikator. BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini berisikan kesimpulan dari penulisan ini dan saran sesuai dengan penelitian yang dilakukan.

(15)

BAB II

TINJ AUAN PUSTAKA

2.1. Pengukur an Kiner ja Per usahaan

Pengukuran kinerja merupakan hal yang sangat penting bagi perusahaan. Dengan pengukuran kinerja suatu perusahaan dapat memanfaatkan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengelolaan operasional, sebagai dasar pendistribusian penghargaan, membantu dalam upaya pertimbangan dan pengambilan keputusan serta mengidentifikasikan berbagai kebutuhan pelatihan dan pengembangan sumber daya personel. Hal ini berguna bagi perusahaan untuk memenangkan persaingan domestik dan global yang semakin kompetitif, sehingga pengukuran kinerja berperan sebagai alat komunikasi dan alat manajemen untuk memperbaiki kinerja organisasi.

Pengukuran kinerja (performasi) merupakan salah satu proses dalam manajemen dengan membandingkan dan mengevaluasi antara rencana yang dibuat dan hasil yang dicapai, menganalisa penyimpangan yang terjadi dan melakukan perbaikan. (Patrick L. Romano, 1989).

Penentuan secara periodik efektivitas operasional dan suatu organisasi sebagai bagian organisasi dan karyawannya, berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah diharapkan sebelumnya. (Mulyadi, 1993).

Suatu ukuran seberapa efisien dan efektif individu atau organisasi dalam tujuan yang memadai. (Stoner et. Al, 1996).

(16)

yang ada dalam perusahaan. Hasil pengukuran tersebut kemudian digunakan sebagai umpan balik yang akan memberikan informasi tentang prestasi pelaksanaan suatu rencana dan titik dimana perusahaan memerlukan penyesuaian-penyesuaian atas aktifitas perencanaan dan pengendalian.

Menurut Mulyadi (1993) tujuan pengukuran kinerja adalah :

1. Untuk menentukan kontribusi suatu bagian dalam perusahaan terhadap organisasi secara keseluruhan.

2. Untuk memberikan dasar bagi penilaian suatu prestasi dalam berorganisasi. 3. Untuk memberikan motivasi bagi manajer bagian dalam (internal) menjalankan

bagiannya seirama dengan tujuan pokok perusahaan secara keseluruhan. Menurut Lynch dan Cross (1993), manfaat dari sistem pengukuran kinerja yang baik adalah :

a. Menelusuri manfaat kinerja terhadap harapan pelanggan sehingga akan membawa perusahaan menjadi lebih dekat pada pelanggannya dan membuat seluruh orang dalam organisasi terlibat dalam upaya memberi kepuasan kepada pelanggan.

b. Memotivasi pegawai untuk melakukan pelayanan kepada pelanggan sebagai bahan dari mata rantai pelanggan dan pemasok internal.

c. Mengidentifikasi berbagai pemborosan sekaligus mendorong upaya-upaya pengurangan terhadap pemborosan tersebut (reduction of waste)

(17)

e. Membangun konsensus untuk melakukan suatu perubahan dengan memberi “reward” atau perilaku yang diharapkan tersebut.

(supply-chain-management)

2.2. Supply Chain Management

Konsep Supply Chain merupakan konsep baru dalam melihat persoalan logistik. Konsep lama melihat logistik lebih sebagai persoalan intern masing-masing perusahaan, dan pemecahannya dititikberatkan pada pemecahan secara intern di perusahaan masing-masing. Dalam konsep baru ini, masalah logistik dilihat sebagai masalah yang lebih luas yang terbentang sangat panjang sejak bahan dasar sampai barang jadi yang dipakai konsumen akhir, yang merupakan mata rantai persediaan. (Indrajit dan Djokopranoto, 2002)

Supply Chain Management melibatkan banyak pihak didalamnya, baik

secara langsung maupun tidak langsung dalam usaha untuk memenuhi permintaan konsumen. Di sini supply Chain tidak hanya melibatkan manufaktur dan supplier, tetapi juga melibatkan banyak hal antara lain transportasi, gudang dan juga konsumen itu sendiri. (Chopra, 2001)

Pengertian Supply Chain Management menurut Martin (1998) adalah jaringan organisasi yang melibatkan hubungan upstream dan downstream dalam proses dan aktivitas yang berbeda yang memberi nilai dalam bentuk produk dan jasa pada pelanggan. (www.tips-indonesia.com/supply-chain-management).

Supply Chain Management terdiri atas 3 elemen yang saling berhubungan

(18)

1. Struktur jaringan Supply Chain

Jaringan kerja anggota dan hubungan dengan anggota Supply Chain lainnya. 2. Proses bisnis Supply Chain

Aktivitas-aktivitas yang menghasilkan nilai keluaran tertentu bagi pelanggan. 3. Komponen manajemen Supply Chain

Variabel-variabel manajerial dimana proses bisnis disatukan dan disusun sepanjang Supply Chain.

(Miranda dan Amin Widjaja Tunggal, 2001)

Adapun tujuan dari ataupun proses Supply Chain ini adalah :

1. Mengembangkan team yang berfokus pada pelanggan sehingga dapat memberikan persetujuan produk dan jasa menguntungkan kedua belah pihak pada pelanggan secara strategik.

2. Membuat kontak hubungan yang secara efisien menangani pertanyaan-pertanyaan dari semua pelanggan.

3. Secara terus-menerus mengumpulkan, menyusun dan meng-update permintaan pelanggan untuk menyesuaikan demand dengan supply.

4. Mengembangkan sistem produksi fleksibel yang tanggap secara cepat pada perubahan kondisi pasar.

5. Mengatur hubungan supplier sehingga quick response dan perbaikan berkesinambungan dapat berjalan lancar.

6. Pengiriman pesanan tepat waktu dan benar 100%.

(19)

2.3. Pr insip Pengukur an Per for mansi Supply Chain

Secara historis, pengukuran performansi berkembang di perusahaan seringkali bersifat fungsional – based yaitu pengukuran dilakukan untuk menampilkan performansi dari masing-masing departemen. Pengukuran tersebut dirasakan kurang efektif karena adanya kecenderungan bahwa masing-masing departemen hanya berusaha untuk meningkatkan performansinya sendiri- sendiri dan bukan performansi perusahaan secara keseluruhan, akibatnya akan menimbulkan peluang terjadinya konflik kepentingan diantara masing-masing departemen.

Pengukuran performansi adalah suatu proses untuk mengukur efektivitas dan efisiensi dari suatu aktivitas. Dalam sistem manajemen bisnis modern, pengukuran performansi bukan hanya sekedar sistem pengukuran dan perhitungan saja, melainkan juga dapat memberikan kontribusi pada peningkatan performansi.

Ide pengukuran performansi ini pertama kali diawali dari pengukuran operasi manufaktur yang dilakukan oleh F.W. Taylor (father of scientific methods) pada awal abad ke-20. Beliau melakukan penelitian mengenai studi gerak dan waktu. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data-data yang ada dianalisa untuk membuat standar kerja dari pekerja yang ada serta membuat kriteria yang obyektif untuk mengukur dan menetapkan performansi dan efisiensi pekerja tersebut.

(20)

performansi bisnis perusahaan dan perilakunya. Pengukuran dalam Supply Chain sangatlah penting karena berdampak pada bagaimana suatu perusahaan dapat menilai apakah rantai persediaannya telah meningkat atau bahkan mengalami penurunan. Ataupun juga dapat menentukan jalan atau cara ke arah pemeliharaan menuju keberhasilan sasaran hasil peningkatan rantai persediaannya.

Dalam pengukurannya, ada beberapa pertimbangan yang harus dilihat antara lain :

1. Ukuran tidak diorientasikan dan dipusatkan atas menyediakan suatu perspektif memandang ke depan.

2. Ukuran tidak selalu dihubungkan dengan pentingnya masalah keuangan, namun seperti pelayanan pelanggan/loyalty dan mutu produk.

3. Ukuran tidak secara langsung ada keterkaitan dengan efisiensi dan efektivitas operasional.

(Lapide, 2000)

Pengukuran performansi terhadap Supply Chain harus mengandung indikator-indikator. Indikator-indikator tersebut sebaiknya harus berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti berikut :

1. Aspek-aspek apa saja yang harus diukur ? 2. Bagaimana mengukur aspek-aspek tersebut ?

3. Bagaimana menggunakan hasil pengukuran itu untuk menganalisa, memperbaiki dan mengontrol kualitas rantai produktivitas ?

(21)

Ada beberapa sifat yang harus dipenuhi oleh indikator, yaitu : 1. Universality (bersifat umum dan mudah diukur).

2. Measurability (menjamin bahwa data-data yang diperlukan memang dapat diukur).

3. Consistency (menjamin kekonsistenan pengukuran). (Lapide, 2000)

Sejalan dengan filosofi Supply Chain Management yang mendorong terjadinya integrasi antar fungsi, pendekatan berdasarkan proses (procees based approach banyak digunakan untuk merancang system pengukuran kinerja Supply Chain. Chan & Qi (2003) mengusulkan apa yang mereka namakan performance of activity (POA). Pada prinsipnya, POA adalah model yang digunakan untuk mengukur kinerja aktivitas yang menjadi bagian dari proses dalam Supply Chain. Kinerja aktivitas diukur dalam bebrbagai dimensi yaitu:

1. Ongkos yang terlibat dalam eksekusi suatu aktivitas. Ongkos muncul karena dalam pelaksaan suatu aktivitas ada sumber daya yang digunakan. Ongkos ini bisa berasosiasi dengan tenaga kerja, material, peralatan, dan sebagainya.

2. Waktu diperlukan untuk mengerjakan suatu aktivitas. Ukuran ini tentu saja sangat penting dalam konteks Supply Chain Management terutama untuk Supply Chain yang berkompetisi atas dasar kecepatan respon. 3. Kapasitas. Kapasitas adalah ukuran seberapa banyak volume pekerjaan

(22)

4. Kapabilitas. Kapabilitas mengacu pada kemampuan agregat suatu Supply

Chain untuk melakukan suatu aktivitas. Ada beberapa subdimensi yang

membentuk kapabilitas Supply Chain. Beberapa subdimensi kapabilitas yang sering digunakan dalam mengukur kinerja Supply Chain adalah:

Reliabilitas (kehandalan) mengukur kemampuan Supply Chain untuk secara konsisten memenuhi janji. Sebagai contoh, pengiriman dari supplier dikatakan handal apabila deviasi waktu pengiriman relatif kecil relatif terhadap waktu yang dijanjikan atau diharapkan.

Keter sediaan mengukur kesiapan, yakni kemampuan Supply

Chain untuk menyediakan produk atau jasa pada waktu yang

diperlukan

Fleksibilitas adalah kemampuan Supply Chain untuk cepat berubah sesuai dengan kebutuhan output atau pekerjaan yang harus dilakukan. Tingkat fleksibilitas yang dibutuhkan setiap Supply

Chain tentu berbeda dan sangat bergantung dari strategi mereka

bersaing dipasar.

5. Pr oduktivitas yang mengukur sejauh mana sumber daya pada Supply

Chain digunakan secara efektif dalam mengubah input menjadi output.

Secara mekanis produktivitas merupakan rasio antara keluaran yang efektif dalam mengubah input menjadi output.

(23)

7. Outcome yang merupakan hasil dari suatu proses atau aktivitas. Pada proses produksi outcome bisa berupa nilai tambah yang diberikan pada produk- produk yang dihasilkan.

SCOR adalah suatu model acuan dari operasi Supply Chain yang dasarnya juga merupakan suatu model yang berdasarkan proses. Alasan untuk memilih SCOR karena pada model ini mengintegrasikan tiga elemen utama dalam manajemen yaitu business process reengineerin, benchmarking, dan process measurement kedalam kerangka lintas fungsi Supply Chain. ketiga elemen tersebut memiliki fungsi sebagai berikut:

Business Process Reengineering pada hakekatnya menangkap proses

kompleks yang terjadi saat ini (as is) dan mendefinisikan proses yang diinginkan (to be).

Benchmarking adalah kegiatan untuk mendapatkan data target internal

kemudian ditentukan berdasarkan kinerja best in class yang diperoleh.

Process Measurement berfungsi untuk mengukur, mengendalikan, dan

memperbaiki proses- proses Supply Chain.

SCOR membagi proses- proses Supply Chain menjadi 5 proses inti yaitu plan,

source, make, deliver, return.

2.4 Per ancangan Hierar khi Awal Sistem Pengukur an Per for mansi Supply

Chain.

(24)

tujuan utama yaitu memperoleh nilai performansi dimana semakin levelnya ke bawah maka semakin detail yang diamati.

Dalam penulisan skripsi ini akan dikembangkan suatu hierarkhi awal pengukuran performansi supply chain yang menfokuskan pada pengembangan indikator performansi didasarkan atas 5 ruang lingkup proses utama supply chain yang ada pada model Supply Chain Operation Reference (SCOR), yaitu Plan,

Source, Make, Deliver, dan Return. Proses-proses tersebut merupakan proses yang

terintegrasi dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Masing-masing proses utama juga akan memiliki tiga aspek, antara lain : kehandalan (reliability), kecepatan merespon (responsiveness) dan fleksibilitas (flexibility). Dari perspektif

Plan, Source, Make, Deliver, dan Return akan dikembangkan indikator-indikator

(25)

Performansi Supply Chain

Make Deliver Return

Source Plan

Reliability Responsiveness Flexibility

Indikator-indikator Performansi Supply Chain

Cost Assets

Gambar 2.1 Rancangan hierarkhi awal Supply Chain

2.5. Pengujian data 2.5.1. Uji Validitas

(26)

Untuk menghitung validitas, maka harus menghitung korelasi antara masing-masing pernyataan dengan skor total dengan menggunakan rumus korelasi

product moment sebagai berikut :

r =

(

)

(

)

[

2 2

]

[

(

2

)

( )

2

]

) )( ( ) )( (

∑ ∑

Y Y N X X N Y X Y X N ……..…………..(2.1) dimana :

r = Koefisien korelasi yang dicari N = Jumlah responden

X = Skor tiap-tiap variabel Y = Skor total tiap responden

Secara statistik, angka korelasi yang diperoleh harus dibandingkan dengan angka kritik tabel korelasi nilai r. (Sudjana, 1992)

2.5.2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas merupakan terjemahan dari kata reliability yang mempunyai asal kata rely dan ability. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang reliabel. Walaupun reliabilitas mempunyai berbagai nama lain seperti kepercayaan, keandalan, keajegan, konsistensi dan sebagainya. Namun ide pokok yang terkandung dalam konsep reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya.

(27)

Salah satu cara untuk menghitung reliabilitas adalah dengan rumus Alpha. Rumus Alpha digunakan untuk mencari reliabilitas instrument yang skornya bukan 1 dan 0, misalnya kuesioner atau soal bentuk uraian.

Rumus Alpha :

r11 =

        −      

2

1 2 1 ) 1 ( σ σb k k ……..…………..(2.2) dimana :

r11 = Reliabilitas instrumen

k = Banyaknya butir pertanyaan atau banyak soal Σσb2 = Jumlah varians butir

σ12 = Varians total

Program komputer SPSS 17.0 (Statistical Package for The Social Science) dapat melakukan perhitungan koefisien alpha dengan mudah. (Sudjana, 1992).

2.6. Supply Chain Operations Reference (SCOR) Model

Ada metode pengukuran performansi Supply Chain yang lain, yaitu salah satunya adalah model Supply Chain Operations Reference (SCOR) dikembangkan oleh suatu lembaga professional, yaitu Supply Chain Council (SCC). Supply

Chain Council diorganisasikan tahun 1996 oleh Pittiglio Rabin Todd & McGrath

(PRTM) dan AMR Research. Process Reference Model merupakan konsep untuk mendapatkan suatu kerangka (framework) pengukuran yang terintegrasi dan untuk mendeskripsikan aktivitas bisnis yang diasosiasikan dengan fase yang terlibat untuk memenuhi permintaan customer.

(28)

1. Balanced Scorecard dipusatkan dengan pengukuran level atas eksekutif,

sedangkan SCOR Model secara langsung menunjuk pada pengukuran seimbang Supply chain Management .

2. The Logistic Scoreboard ini hanya terbatas atau difokuskan pada aktivitas

pengadaan dan produksi dalam Supply Chain.

3. Activity Based Costing, lebih mendekatkan pada tenaga kerja, material, dan

pemakaian peralatan.

4. Economic Value-Added, pengukurannya berdasarkan atas pengoperasian laba

dari modal usaha sampai dengan modal dari penjualan saham dan hutang. (Supply Chain Council, 2004)

Adapun bentuk dari Supply Chain yang digambarkan oleh SCOR model adalah :

Gambar 2.2 Supply Chain Model (http://www.supply-chain, org) Ada 5 ruang lingkup dari proses SCOR, yaitu :

1. Plan, yaitu proses-proses yang berkaitan dengan keseimbangan antara

(29)

mengembangkan tindakan yang memenuhi penggunaan source, produksi dan pengiriman terbaik.

2. Source, yaitu proses-proses yang berkaitan dengan pembelian material / bahan

baku untuk memenuhi permintaan yang ada dan hubungan perusahaan dengan

supplier.

3. Make, yaitu proses-proses yang berkaitan dengan proses transformasi bahan

baku menjadi produk setengah jadi maupun produk jadi untuk memenuhi permintaan yang ada.

4. Deliver, yaitu proses-proses yang berkaitan dengan persediaan barang jadi,

termasuk di dalamnya mengenai manajemen transportasi, warehouse, yang semuanya itu untuk memenuhi permintaan konsumen.

5. Return, yaitu proses-proses yang berkaitan dengan proses pengembalian

produk karena alasan tertentu, misalnya karena produk tidak sesuai dengan permintaan konsumen dan lain sebagainya.

(I Nyoman Pujawan, 2002)

Tabel 2.1. Metrik Model SCOR

Performance Attribute Reliability Responsiveness Flexibility Cost Assets Delivery performance

Fill rate

Perfect order fulfillment

Order fulfillment leadtime

Supply-chain response time

Production flexibility

Supply-chain management cost

Cost of goods sold

Value-added productivity

Warranty cost or returns

processing cost

Cash-to-cash cycle time

Inventory days of supply

Assets turns

(30)

Tabel 2.2. Beberapa Penjelasan Metrik Model SCOR.

Metr ik Penjelasan

Delivery Performance Presentase order terkirim sesuai jadwal.

Fill Rate by Line Item Presentase jumlah permintaan dipenuhi tanpa menunggu, diukur tiap

jenis produk (line item).

Perfect Order Fulfillment Presentase order yang terkirim komplit dan tepat waktu.

Order Fulfillment Lead

Time

Waktu antara pelanggan memesan sampai pesanan tersebut mereka

diterima.

Supply Chain Response

Time

Waktu yang diperlukan untuk mengerjakan suatu aktivitas maupun

proses dalam system Supply Chain.

Production Flexibility Kemampuan produksi untuk cepat berubah sesuai dengan kebutuhan

output atau pekerjaan yang harus dilakukan.

Supply Chain

Management Cost

Biaya/ ongkos yang muncul karena dalam pelaksanaan suatu aktivitas

ada sumber daya yang digunakan.

Cost of Goods Sold Biaya/ Ongkos barang yang diukur dalam satuan nilai rupiah pertahun

atau diukur relative terhadap nilai penjualan dalam setahun.

Value added Productivity Hasil dari suatu proses atau aktivitas pada proses produksi yang berupa

nilai tambah yang diberikan pada produk- produk yang dihasilkan.

Waranty Cost as % of

Revenue

Presentase pengeluaran untuk warranty terhadap nilai penjualan.

Inventory Days of

Supply

Lamanya persediaan cukup untuk memenuhi kebutuhan kalau tidak ada

pasokan lebih lanjut.

Cash to Cash Cycle Time Waktu qantara perusahaan membayar material ke supplier dan menerima

pembayaran dari pelanggan untuk produk yang dibuat dari material

tersebut.

Asset Turn Berapa kali suatu asset bisa digunakan untuk memperoleh revenue dan

profit.

(31)

Model SCOR (Supply Chain Operations Reference) diorganisasikan dalam 5 (lima) proses Supply Chain utama yaitu : Plan, Source, Make, Deliver, dan

Return dimana ini pada level pertama. Kemudian SCOR dibagi lagi menjadi

level-level untuk pengukuran performansinya. Didalam level-level 2 SCOR, dimunculkan setiap aspek yang akan diukur. Misalnya saja mengenai reliability,

responsiveness, flexibility, costs, dan assets. Dari masing-masing aspek itu, di

dalamnya terdapat metriks-metriks pengukuran yang akan diukur sehingga dapat dilakukan penilaian. Level dua dari SCOR, digambarkan mengenai mapping

supply chain perusahaan yang akan diukur performansinya. Sedangkan untuk

level tiganya, setiap komponen yang ada di mapping level dua, di breakdown sehingga mendapatkan sesuatu yang detail dari komponen-komponen tersebut. Pada level tiga juga sudah mulai dilakukan penentuan parameter dari setiap metriks dan komponen yang akan diukur. Adapun contoh-contoh metriks yang ada di dalam metode SCOR, adalah sebagai berikut :

A. Aspek reliability

1. Inventory inaccuracy, yaitu besarnya penyimpangan antara jumlah fisik

persediaan yang ada di gudang dengan catatan / dokumentasi yag ada.

2. Defect rate, yaitu tingkat pegembalian material cacat yang dikembalikan ke

supplier.

3. Stockout Probability, probabilitas atau kemungkinan terjadinya kehabisan

persediaan.

B. Aspek Responsiveness

1. Planning cycle time, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk menyusun jadwal

(32)

2. Source item responsiveness, yaitu waktu yang dibutuhkan supplier untuk

memenuhi kebutuhan perusahaan apabila terjadi peningkatan jumlah jenis material tertentu dari permintaan awal suatu order.

C. Aspek Flexibility

1. Minimum order quantity, yaitu jumlah unit minimum yang bisa dipenuhi supplier dalam setiap kali order.

2. Make volume flexibility, yaitu prosentase penongkatan yang dapat dipenuhi

oleh produksi dalam kurun waktu tertentu. D. Aspek Cost

1. Defect cost, yaitu biaya-biaya yang digunakan untuk penggantian produk

cacat.

2. Machine maintenance, yaitu biaya-biaya yang digunakan untuk perawatan

mesin produksi. E. Aspek Assets

1. Payment term, yaitu rata-rata selisih waktu antara permintaan material

dengan waktu pembayaran ke supplier.

2. Cash to cash cycle time, yaitu waktu dari perusahaan mengeluarkan uang

untuk pembelian material sampai dengan perusahaan menerima uang pembayaran dari konsumen.

(Supply Chain Council,2004).

(33)

flexibility, dan sebagainya. Obyektif tersebut diberi skor dan bobot. Tingkat

pemenuhan performansi didefinisikan oleh normalisasi dari indikator performansi tersebut. Untuk strategi Supply Chain yang pasti, berlaku hubungan sebagai berikut :

Pi =

=

n

i j

j

ijW

S ………(2.8)

Dimana :

Pi = Total performansi supply chain varian i

n = Jumlah obyektif performansi

Sij = Skor supply chain ke i didalam obyektif performansi ke j

Wj = Bobot dari obyektif performansi

Di dalam pengukuran ini, langkah pertama adalah melakukan pembobotan. Pembobotan dilakukan dengan cara Analytic Hierarchy Process (AHP), dimana setiap obyektif performansi dipasangkan dan dilakukan perbandingan tingkat kepentingannya. Langkah kedua adalah pendefinisian dari indikator performansi dan melakukan pengukuran. Skor di dalam obyektif pengukuran yang berbeda-beda didefinisikan dengan bantuan 6 langkah, yaitu :

1. Pendefinisian setiap indikator 2. Pendefinisian normalisasi

3. Pendefinisian interval skor untuk setiap indikator 4. Pendefinisian skor dari indikator

(34)

Setiap indikator memiliki bobot yang berbeda-beda dengan skala ukuran yang berbeda-beda pula. Oleh karena itu, diperlukan proses penyamaan parameter, yaitu dengan cara normalisasi tersebut. Di sini normalisasi memegang peranan cukup penting demi tercapainya nilai akhir dari pengukuran performansi.

Proses normalisasi dilakukan dengan rumus normalisasi Snorm dr De boer, yaitu :

(

max min

)

100

min

x S S

S Si Snorm

− −

= ……..…………..(2.9)

Keterangan :

Si = Nilai indikator aktual yang berhasil dicapai

Smin = Nilai pencapaian performansi terburuk dari indikator performansi Smax = Nilai pencapaian performansi terbaik dari indikator performansi

Pada pengukuran ini, setiap bobot indikator dikonversikan ke dalam interval nilai tertentu yaitu 0 sampai 100. Nol (0) diartikan paling jelek dan seratus (100) diartikan paling baik. Dengan demikian parameter dari setiap indikator adalah sama, setelah itu didapatkan suatu hasil yang dapat dianalisa.

(35)

Tabel 2.3. Sistem Monitoring Indikator Performansi Sistem Monitoring Indikator Performansi

< 40 Poor

40 – 50 Marginal

50 – 70 Average

70 – 90 Good

> 90 Exellent

Sumber : Trienekens dan Hvolby, 2000)

2.7. Analythical Hierarchy Process (AHP)

Analytic Hierarchy Process atau yang dikenal sebagai metode AHP adalah

teknik pengambilan keputusan dan menyelesaikan permasalahan yang kompleks atau tidak terstruktur yang memasukkan kriteria ganda, baik yang bersifat nyata (tangible), tidak nyata (intangible), kuantitatif maupun kualitatif, serta memperhitungkan adanya konflik maupun perbedaan. (Thomas L. Saaty, 1993).

Salah satu keuntungan utama Analytic Hierarchy Process (AHP) yang mana membedakan dengan model pengambilan keputusan lainnya ialah tidak ada syarat konsistensi mutlak. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa keputusan manusia sebagian didasari logika dan sebagian lagi didasarkan pada unsur bukan logika seperti perasaan, pengalaman dan intuisi.

Di dalam AHP, terdapat hierarki yang terbagi atas level-level. Hierarki adalah suatu ringkasan dari struktur suatu sistem untuk mempelajari interaksi-interaksi fungsional dari komponen-komponen yang ada dan pengaruhnya pada seluruh sistem. Ada dua macam hierarki, antara lain :

(36)

yaitu dengan memecah-mecah obyek yang ditangkap oleh indera menjadi gugusan yang semakin kecil.

Misalnya ukuran, bangunan, warna atau umur.

2. Hierarki fungsional, sistem yang kompleks disusun ke dalam komponen-komponen pokoknya dalam urutan menurun menurut hubungan esensial. Hierarki ini sangat membantu untuk membawa sistem ke arah tujuan yang diinginkan. Misalnya pemecahan konflik, prestasi yang efisien atau kebahagiaan yang perlu dipertimbangkan.

Dalam menyusun suatu hierarki tidak ada prosedur tetap untuk membuat tujuan, kriteria, dan kegiatan yang harus dimasukkan ke dalam tersebut. Gagasan penyusunan mendaftar semua konsep yang relevan terhadap masalah tanpa memperhatikan hubungan atau urutan, dapat diperoleh melalui studi literatur untuk memperkaya ide, atau seringkali dilakukan dengan bekerja sama dengan orang lain.

(37)

dan juga matriks perbandingan berpasangan yang berhubungan dengan keefektifan dan kesuksesan.

Akhirnya, pada level terbawah pilihan-pilihan tersebut dapat dibandingkan terhadap tiap kriteria, membuat bobot secara hierarki, dan memilih prioritas tertinggi. Dengan demikian, keputusan diambil berdasarkan pilihan yang memiliki

weight overall tertinggi. Dengan menggunakan sistem hierarki beberapa

keuntungan yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut :

1. Dapat digunakan untuk menerangkan bagaimana perubahan bobot prioritas pada level atas akan mempengaruhi elemen-elemen pada level dibawahnya. 2. Dengan membuat level-level, maka si pengambil keputusan dapat

memfokuskan perhatiannya hanya pada sekelompok kecil kriteria, sehingga keputusan akan lebih realistis terutama untuk sistem yang kompleks.

Dengan demikian dapat disimpulkan kegunaan hierarki adalah sebagai berikut :

1. Hierarki menggambarkan suatu sistem yang dapat digunakan untuk menjelaskan bagaimana perubahan pada prioritas pada level atas dapat mempengaruhi prioritas elemen-elemen di level bawahnya.

2. Memberikan informasi yang mendetail mengenai struktur dan fungsi dari suatu sistem pada level bawahnya dan memberikan overview dari pelaku-pelaku dan tujuannya pada tingkatan yang lebih tingi. Kendala dari elemen-elemen pada suatu level dapat digambarkan dengan baik pada level berikutnya untuk meyakinkan kepuasan.

(38)

4. Bersifat stabil dan fleksibel. Stabil berarti bahwa perubahan kecil membawa pengaruh kecil dan fleksibel berarti bahwa tambahan pada hierarki dengan susunan yang baik tidak akan mengacaukan nilai performance.

Adapun tujuan dari AHP (Analytic Hierarchy Process) itu sendiri antara lain yaitu :

1. Untuk menetapkan prioritas berbagai elemen, kita harus membandingkannya dalam pasangan menurut suatu kriteria. Suatu matriks merupakan kerangka yang paling baik untuk pembandingan ini.

2. Untuk memperoleh perangkat prioritas menyeluruh bagi suatu keputusan, kita harus mensintesis hasil- hasil dari pembandingan berpasangan itu. Yaitu, kita harus menggabungkan pertimbangan- pertimbangan kita untuk memperoleh suatu taksiran menyeluruh dari peringkat relative prioritas- prioritas itu.

3. Dalam suatu hierarki, elemen tingkat tertinggi biasanya menpunyai prioritas tertinggi. Ini adalah gugusan- gugusan menimbulkan elemen- elemen yang lebih kecil di tingkat- tingkat lebih rendah. Prioritas mereka dibagi melalui proses pembobotan diantara turunan mereka.

(39)

Semua langkah dasar dari AHP (Analytic Hierarchy Process) dapat diringkas menjadi suatu ikhtisar yang singkat. Dalam arti luas, proses ini stabil, meskipun beberapa langkah tertentu mungkin memperoleh penekanan istimewa dalam berbagai persoalan khusus. Sebagaimana dicatat dibawah ini. Berikut adaah langkah- langkah dasar AHP (Analytic Hierarchy Process):

1. Definisikan persoalan dan rinci pemecahan yang diinginkan.

2. Strukrtur hierarki dari sudut pandang manajerial menyeluruh (dari tingkat- tingkat puncak sampai ke tingkat dimana memungkinkan campur tangan untuk memecahkan persoalan itu).

3. Buatlah sebuah matriks banding berpasangan untuk kontribusi atau pengaruh setiap elemen yang relevan atas setiap kriteria yang berpengaruh yang berada setingkat diatasnya. Dalam matriks ini, pasangan- pasangan elemen dibandingkan berkenaan dengan suatu kriteria di tingkat lebih tinggi. Dalam membandingkan dua elemen, kebanyakan orang lebih suka memberi suatu pertimbangan yang menunjukkan dominasi sebagai suatu bilangan bulat. Matriks ini memiliki satu tempat lain untuk memasukkan nilai resiprokalnya.

Jadi jika satu elemen tak berkontribusi lebih dari elemen lainnya, elemen yang lainnya berkontribusi lebih dari elemen itu dan nilai kebalikannya dalam tempat yang lain itu. Menurut perjanjian, suatu elemen yang disebelah kiri diperiksa perihal dominasinya atas dasar suatu elemen dari puncak matriks.

(40)

setiap orang dapat dibuat sederhana dengan mengalokasikan upaya secara tepat.

5. Setelah mengumpulkan semua data banding berpasangan itu dan memasukkan nilai- nilai kebalikannya beserta entri bilangan 1 sepanjang diagonal utama, prioritas dicari dan konsistensi diuji.

6. Laksanakan langkah 3, 4 dan 5 untuk semua tingkat dan gugusan dalam hierarki itu.

7. Gunakan komposisi secara hierarkis (sintesis) untuk membobotkan vektor- vektor prioritas itu dengan bobot kriteria- kriteria, dan jumlahkan semua entri prioritas terbobot yang bersangkutan dengan entri prioritas dari tingkat bawah berikutnya, dan seterusnya. Hasil adalah vektor prioritas menyeluruh untuk tingkat hierarki paling bawah. Jika hasilnya ada beberapa buah, boleh diambil nilai rata- rata aritmetiknya.

(41)

(Thomas L. Saaty, 1993).

Dalam metode AHP menggunakan skala 1 – 9 untuk perbandingan berpasangan, yaitu :

Tabel 2.4. Skala Banding Secara Berpasangan Tingkat

Kepentingan

Definisi Keterangan

1 Equal importance (kedua elemen sama pentingnya)

Dua elemen menyumbangnya sama besar pada sifat itu

3 Moderate importance (elemen yang satu sedikit lebih diunggulkan daripada yang lain)

Pengalaman dan pertimbangan sedikit menyokong satu elemen atas yang lainnya

5 Strong importance (elemen yang satu sangat kuat diunggulkan daripada yang lain)

Pengalaman dan pertimbangan dengan kuat menyokong satu elemen atas yang lainnya

7 Demonstrated importance (satu elemen jelas lebih penting dari elemen yang lainnya)

Satu elemen dengan kuat disokong , dan dominannya telah terlihat dalam praktik

9 Extreme importance (satu elemen mutlak lebih penting ketimbang elemen yang lainnya)

Bukti yang menyokong elemen yang satu atas yang lain memiliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan

2, 4, 6, 8 Grey area (nilai-nilai antara diantara dua pertimbangan yang berdekatan)

Kompromi diperlukan antara dua perimbangan

Kebalikan Jika aktivitas untuk i mendapat satu angka bila dibandingkan dengan aktivitas j, maka j mempunyai nilai kebalikannya bila dibandingkan dengan i

Sumber : Thomas L Saaty, Pengambilan Keputusan : Bagi Par a Pemimpin, 1993)

Jika terdapat sejumlah n kriteria, maka akan terdapat sejumlah

(

)

2

1 −

n n

pairwise comparison. Jika {c1, c2,…..cn} merupakan himpunan kriteria-kriteria

dan nilai perbandingan diberikan dalam matriks A, yang disajikan sebagai berikut:

c1 c2 cn

c1 a11 a12 a1n

c2 a21 a22 a2n

(42)

Dimana : aii = 1, V1

Jika aij = α, maka aji = α

1

, dimana α ≠ 0

Jika ci dinyatakan equally importance terhadap cj, maka aij = aji = 1.

Dengan demikian matriks A sebagai matriks Reciprocal, dapat dituliskan sebagai berikut :

c1 c2 cn

c1 1 a12 a1n

A = c2 1 / a21 1 a2n

cn 1 / a1n 1 / a2n 1

Dari matriks perbandingan berpasangan tersebut dapat dicari bobot dari setiap kriteria (wi). Jika wi merupakan bobot dari kriteria ci dan wj merupakan

bobot dari kriteria cj, maka aij =

j i

w w

, dimana i, j = 1, 2,……, n

Dengan demikian matriks A dapat dituliskan sebagai berikut :

c1 c2 cn

c1 w1/w1 w1/w2 w1/wn

A = c2 w2/w1 w2/w2 w2/wn

cn wn/w1 wn/w2 wn/wn

Nilai wi dapat diperoleh dengan beberapa cara, yaitu :

1. Menormalkan setiap kolom j dari A, yaitu :

wi =

=n k

kj ij

a a

1

(43)

2. Menormalkan rata-rata geometric dari setiap baris, dimana nilai geometric

Mean = n n

i i x

=1

………..(2.4)

3. Melakukan normalisasi dari jumlahan elemen-elemen baris.

4. Menghitung nilai w sebagai “principal righat eigen vector” dari matriks A, yaitu Aw = λmax . w, dimana λmax merupakan eigen value terbesar dari A. Dapat

juga dituliskan sebagai berikut :

wi =

max λ

n= i j

j ijw a

, dimana i = 1, 2,……,n ………..(2.5)

Di dalam metode AHP, hal terpenting yang harus diperhatikan adalah masalah inconsistency. Keputusan perbandingan yang diambil dikatakan “perfectly consistent” jika dan hanya jika aik . akj = aij, dimana i, j, k = 1, 2, ….., n.

Tetapi konsistensi ini tidak boleh dipaksakan. Namun tingginya inkosistensi memang sangat tidak diinginkan jika matriks reciprocal kosisten maka λmax = n.

Prof. Saaty mendefinisikan ukuran konsistensi sebagai Consistency Index, yaitu :

CI = 1 max

− −

n n

λ

………..(2.6)

(44)

Tabel 2.5. Nilai dari Random Index

Ordo matriks (n) RI

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 0.00 0.00 0.58 0.90 1.12 1.24 1.32 1.41 1.45 1.49 1.51 1.48 1.56 1.57 1.59

Sumber : Thomas L Saaty, Pengambilan Keputusan : Bagi Par a Pemimpin, 1993)

Consistency Ratio (CR), yang menyatakan seberapa besar derajat

inconsistency dari penetapan nilai perbandingan antar kriteria yang telah dibuat,

dimana :

CR = RI CI

………..(2.7)

Apabila nilai CR ≤ 0.1, maka masih dapat ditoleransi tetapi bila CR > 0.1 maka perlu dilakukan revisi. Nilai CR = 0 maka dapat dikatakan “perfectly

(45)

2.8 Peneliti Terdahulu

Berikut akan dijelaskan secara singkat hasil peneliti terdahulu yang berhubungan dengan penerapan metode Supply Chain Operations Reference untuk pengukuran kinerja perusahaan.

1. Tri Hardianita, Reksi. Analisa Performansi Supply Chain Operation Reference (SCOR) di PT. Alumindo LMI, tbk-Gedangan, Skripsi Teknik Industri UPN “Veteran” Surabaya, 2010.

a. Permasalahan : Berapa nilai performansi perusahaan dengan menggunakan Supply Chain Operation Reference (SCOR) di PT. Alumindo LMI, tbk-Gedangan.

b. Hasil penelitian :

1. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di PT Alumindo LMI, Tbk. Gedangan menggunakan Supply Chain Operation Reference (SCOR) model, diketahui nilai performansi perusahaan sebesar 674,61.

2. Prioritas Indikator-indikator yang memerlukan perbaikan adalah

Breakdown Time Percentage (BTP) sebesar 31,56; Procentages

Production Unit to Production Planning (PPUPP) sebesar 46,1 dan

Material order cost (MOC) sebesar 50,4.

(46)

produksi pada bulan–bulan lalu. Pada indikator Material order cost (MOC) perbaikan dilakukan dengan meminimasi biaya pemesanan bahan baku Al-foil.

2. Mulyana Syahrial, Andreas. Analisa Performansi kinerja menggunakan metode Supply Chain Operation Reference (SCOR) di PT. Suryasukses Mekar Makmur, Skripsi Teknik Industri UPN “Veteran” Surabaya, 2011.

a. Permasalahan : Berapa nilai performansi kinerja Supply Chain di PT. Suryasukses Mekar Makmur.

b. Hasil penelitian :

1. Dari 12 indikator- indikator yang mempunyai niali sebagai berikut: • Plan : Percentage Adjusted Production Quantity, Planning

Employee, Reability, Internal Relationship.

• Source : Source Employee Reability, Supplier Delivery Lead Time, Material Order Cost, Payment Term.

• Make : Breakdown Time Percentage, Manufacturing Employee Reability

• Delivery : Delivery Lead Time, Minimum Delivery Quantity. • Return : Number of Customer Complain.

(47)

Pendapat Peneliti:

Dari penelitian terdahulu terdapat perbedaan pada penelitian yang akan saya lakukan baik dalam hal judul, tempat, waktu, data, dan hasil daripada pengukuran tersebut.

Tempat mengadakan penelitian yaitu pada PT. Surabaya Perdana Rotopack, dengan metode yang sama yaitu dengan menggunakan metode Supply

Chain Operation Reference (SCOR). Penelitian saya lakukan pada bulan April

(48)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah diperoleh dari perusahaan pada PT. Surabaya Perdana Rotopack yang berlokasi di Jl. Tambak Sawah no. 19 Waru- Sidoarjo (Jawa Timur). Pengambilan data dimulai pada bulan April 2012 hingga penelitian ini selesai.

3.2. Identifikasi dan Definisi Operasional Var iabel

Variabel adalah segala sesuatu yang mempunyai variasi nilai yang terukur. Maka untuk lebih jelasnya di bawah ini akan diuraikan variabel-variabel yang terkait dalam pembahasan masalah SCOR.

3.2.1 Identifikasi Var iabel

Variabel terikat dalam peneliti adalah performansi Supply Chain. Sedangkan untuk Variabel bebas dalam peneliti ini, antara lain :

1. Plan 2. Source

3. Make

4. Delivery

5. Return.

3.2.2 Definisi Oper asional Var iabel

(49)

supplier sampai barang jadi produk kemasan diterima oleh konsumen pada periode tertentu dengan mengacu pada standar yang ditetapkan. Kinerja Supply

Chain hendaknya merupakan hasil yang dapat diukur dan menggambarkan

kondisi empirik suatu perusahaan dari berbagai ukuran yang disepakati. Untuk mengetahui kinerja Supply Chain yang dicapai maka dilakukan penilaian kinerja

Supply Chain.

Variabel bebas dalam peneliti ini, antara lain :

a. Plan

Terfokus pada kemampuan perusahaan dalam melakukan perencanaan sehingga tujuan strategis perusahaan bisa tercapai.

b. Sources

Terfokus pada kemampuan perusahaan dalam memperoleh material dan menjalin hubungan dengan supplier.

c. Make

Terfokus pada kemampuan perusahaan mentransformasikan bahan baku menjadi produk setengah jadi maupun produk jadi untuk memenuhi permintaan yang ada.

d. Deliver

Terfokus pada kemampuan perusahaan dalam melakukan pengiriman order untuk memenuhi permintaan konsumen.

e. Return

(50)

3.3 Sampling dan Teknik Pengambilan Sampling

Dalam penelitian ini data primer didapat melalui wawancara dan penyebaran kuesioner. Untuk penyebaran kuesioner dilakukan pada sampel di PT. Surabaya Perdana Rotopack yang berhubungan dengan masalah Supply Chain.

Teknik Sampling yang dipilih yaitu sampling purposif, dimana sampling purposif dikenal juga sebagai sampling pertimbangan, terjadi apabila sampel dilakukan atas pertimbangan perorangan atau pertimbangan peneliti. Jumlah kuisioner awal adalah sejumlah 70 kuisioner. Jika peneliti mengambil n=30, data tersebut dianggap cukup dan jumlah sampel tersebut didasarkan atas pendapat yang menyatakan bahwa sampe berukuran n ≥ 30 terlepas dari banyak populasi, teori tentang sampel menjamin hasil baik. (Walpole dan Myer, 1995: 395)

3.4. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini ada 2 macam, yaitu pengumpulan data primer dan pengumpulan data sekunder. Data primer ialah data yang langsung dikumpulkan atau diperoleh dari sumber pertama. Dengan dilakukan pengamatan dan wawancara dengan bantuan kuesioner. Data-data yang dibutuhkan yaitu, Data-data indikator performansi dan Data-data kuesioner Key

(51)

3.5. Metode Pengolahan Data

Pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode SCOR, dimana langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :

1. Uji Validitas

Untuk menghitung validitas, maka harus menghitung korelasi antara masing-masing pernyataan dengan skor total dengan menggunakan rumus korelasi

product moment sebagai berikut :

r =

(

)

(

)

[

2 2

]

[

(

2

)

( )

2

]

) )( ( ) )( (

∑ ∑

Y Y N X X N Y X Y X N dimana :

r = Koefisien korelasi yang dicari N = Jumlah responden

X = Skor tiap-tiap variabel Y = Skor total tiap responden

Secara statistik, angka korelasi yang diperoleh harus dibandingkan dengan angka kritik tabel korelasi nilai r.

2. Uji Reliabilitas

Salah satu cara untuk menghitung reliabilitas adalah dengan rumus Alpha. Rumus Alpha digunakan untuk mencari reliabilitas instrument yang skornya bukan 1 dan 0, misalnya kuesioner atau soal bentuk uraian. Rumus Alpha :

r11 =

        −      

2

1 2 1 ) 1 ( σ σb k k dimana :

(52)

Σσb2 = Jumlah varians butir

σ12 = Varians total

Program komputer SPSS 17.0 (Statistical Package for The Social Science) dapat melakukan perhitungan koefisien alpha dengan mudah.

3. Uji Konsistensi

Dalam uji konsistensi ini, dilakukan perhitungan antara lain : a. Consistency Index (CI)

CI =

1 max − − n n

λ

b. Consistency Ratio (CR)

CR =

RI CI

Matriks konsistensi jika CR ≤ 0,1 4. Standarisasi SCOR

Proses normalisasi dilakukan agar masing-masing indikator kinerja memiliki skala ukuran yang sama,sebab jika indikator kinerja memiliki skala ukuran yang berbeda maka nilai kinerja tidak mencerminkan kinerja perusahaan yang

sebenarnya.Proses normalisasi dilakukan dengan rumus normalisasi Snorm dr De boer,yaitu:

(

)

100

min max min x S S S Si Snorm − − = Keterangan :

- Si =Nilai indikator aktual yang berhasil di capai

(53)

5. Perhitungan nilai akhir performansi (kinerja)

Untuk menghitung nilai akhir performansi Supply Chain diberlakukan rumus :

Pi =

=

n

j j ijW

S

1

Dimana :

Pi = Total performansi supply chain varian i

n = Jumlah obyektif performansi

Sij = Skor supply chain ke i didalam obyektif performansi ke j

Wj = Bobot dari obyektif performansi

Dari situlah diketahui nilai performansi Supply Chain, maka performansi perusahan dapat dikategorikan seperti dalam tabel berikut.

Tabel 3.1. Sistem Monitoring Indikator Performansi Sistem Monitoring Indikator Performansi

< 40 Poor

40 – 50 Marginal

50 – 70 Average

70 – 90 Good

> 90 Exellent

(54)

3.6. Langka h-langkah Pemecahan Masalah

Adapun flowchart langkah-langkah pemecahan masalah dapat dilihat pada gambar 3.1

Perancangan Hierarki Awal Pengukuran Performansi Supply Chain Tujuan Penelitian

Identifikasi Variabel : Menentukan Key Performance Indikator

Perumusan Masalah

Studi Literatur Studi Lapangan

Pengumpulan Data: Data kuantitatif :

• Plan

• Source

• Make

• Deliver

• Return

Penentuan Sampel Kuisioner Membuat Kuesioner Awal

B Mulai

Penyebaran Kuisioner

(55)

Gambar 3.1 : Langkah-langkah Pemecahan Masalah

Ya

Ya

Tidak Ya

A B

Tidak Uji Validitas

Tidak

Perhitungan nilai aktual Performansi Supply Chain Uji Reliabilitas

Pembobotan KPI dengan AHP Data

tidak valid dibuang

Valid rhasil > rtabel?

Reliable ralpha < rtabel?

Uji Konsistensi

Standarisasi/ Normalisasi SCOR oleh peneliti dengan Snorm

Perhitungan nilai akhir performansi Supply Chain CR ≤ 0,1

Analisa Hasil dan Pembahasan

Kesimpulan dan Saran

Selesai

Implementasi Sistem Pengukuran Kinerja Supply Chain Sesuai Kondisi Perusahaan

(56)

Uraian lengkap terhadap diagram alir diatas mengenai langkah-langkah pemecahan masalah yang dihadapi adalah sebagai berikut :

1. Studi Literatur

Studi pustaka ini merupakan usaha untuk memahami konsep dasar dari teori-teori yang dapat menunjang penelitian ini, yang bisa didapat dari buku teks, browsing, jurnal-jurnal ilmiah, serta penelitian-penelitian terdahulu.

2. Studi Lapangan

Studi ini dilakukan sebagai langkah awal dalam melakukan penelitian, dimana dapat dipelajari kondisi perusahaan secara keseluruhan terutama yang berkaitan dengan permasalahan yang nantinya akan diteliti dan dianalisa. 3. Perumusan Masalah

Perumusan masalah penelitian ini mencari aspek-aspek Supply Chain yang mempengaruhi performansi dan membuat kerangka pengukuran yang tepat untuk Supply Chain agar dapat dianalisa dikarenakan PT. Surabaya Perdana Rotopack menunjukkan bahwa sistem pengukuran Supply Chain masih belum terintegrasi.

4. Penentuan Tujuan Penelitian

Dalam menentukan tujuan dari penelitian ini tentunya akan memberikan arah dalam pelaksanaannya. Adapun tujuannya adalah merancang suatu model pengukuran performansi Supply Chain.

5. Perancangan Hierarki Pengukuran Performansi Supply Chain

Pada tahap ini dilakukan perancangan suatu hierarki berdasarkan prinsip

Supply Chain, disini dikembangkan lima (5) perspektif yang terkait dan lima

(5) proses utama Supply Chain dalam model SCOR (Supply Chain Operation

(57)

tersebut dikembangkan aspek performansi menjadi indikator-indikator Supply

Chain yang lebih spesifik.

6. Proses Mapping Supply Chain di PT. Surabaya Perdana Rotopack

Proses mapping digunakan untuk mengetahui sistem supply chain / alur

supply chain di PT. Surabaya Perdana Rotopack dari pembelian bahan baku

dari supplier sampai pengiriman barang ke konsumen (customer) 7. Identifikasi Variabel

Setelah menentukan tujuan dari penelitian, kemudian ditentukan Key Performance Indikator yang merupakan aspek yang berperan dalam penelitian. 8. Penentuan Sampel Kuesioner

Untuk penyebaran kuesioner dilakukan pada sampel di PT. Surabaya Perdana Rotopack yang berhubungan dengan masalah Supply Chain. Teknik Sampling yang dipilih yaitu sampling purposif, dimana sampling purposif dikenal juga sebagai sampling pertimbangan, terjadi apabila sampel dilakukan atas pertimbangan perorangan atau pertimbangan peneliti.

9. Membuat Kuesioner Awal

Tahap ini adalah tahap pembuatan kuesioner awal indikator performansi

Supply Chain yang ada di PT. Surabaya Perdana Rotopack.

10. Penyebaran kuesioner

Tahap ini adalah tahap penyebaran kuesioner indikator performansi Supply

Chain yang ada di PT. Surabaya Perdana Rotopack

11. Pengumpulan data

(58)

a. Wawancara dan brainstorming dengan pihak-pihak terkait dengan indikator pengukuran performansi Supply Chain.

b. Penyebaran kuisioner untuk penilaian performansi Supply Chain pada indikator yang sifatnya kualitatif.

c. Pengambilan data sekunder (data primer seperti hasil wawancara atau hasil pengisian kuisioner yang telah diolah lebih lanjut) perusahaan untuk penilaian performansi Supply Chain pada indikator yang sifatnya kuantitatif.

12. Uji validitas

Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes instrument pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur, yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. 13. Uji Reliabilitas

(59)

14. Perhitungan Nilai Aktual Pengukuran Performansi Supply Chain

Nilai aktual disini merupakan hasil pengolahan data mentah yang didapatkan dari berbagai sumber di PT. Surabaya Perdana Rotopack.

15. Membuat Kuisioner AHP

Gambar

Tabel 2.3. Sistem Monitoring Indikator Performansi
Tabel 2.4. Skala Banding Secara Berpasangan
Tabel 2.5. Nilai dari Random Index
gambar 3.1
+7

Referensi

Dokumen terkait

Menurut penelitian yang dilakukan pada perusahaan dengan menggunakan metode SCOR, didapatkan nilai pencapaian performansi supply chain perusahaan secara keseluruhan adalah

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) hasil pengukuran performansi supply chain perusahaan dapat diketahui bahwa

Dimana nilai akan dikalikan dengan bobot dari source yang didapat dari pembobotan level satu yaitu sebesar 0,227 untuk mendapatkan nilai performansi. Nilai

Adapun tujuan penelitian ini adalah mengukur performansi Supply Chain perusahaan dengan metode SCOR, menentukan atribut performansi kritis pada Supply Chain perusahaan,

“Pengukuran dan Peningkatan Performansi Supply Chain Dengan Pendekatan Supply Chain Operation Reference (SCOR) Pada PT..

Pada proses perhitungan yang telah dilakukan mengenai performansi setiap atribut yang telah didapatkan, nilai pada setiap atribut akan disajikan pada tabel SCORcard berupa

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) hasil pengukuran performansi supply chain perusahaan dapat diketahui bahwa

Dimana nilai akan dikalikan dengan bobot dari source yang didapat dari pembobotan level satu yaitu sebesar 0,227 untuk mendapatkan nilai performansi. Nilai