• Tidak ada hasil yang ditemukan

"THE CORRELATION BETWEEN MATERNAL AGE AND PARITY ON THE INCIDENCE OF LOW BIRTH WEIGHT INFANTS (LBW) SITI FATIMA HOSPITAL OF MAKASSAR 2013"

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan ""THE CORRELATION BETWEEN MATERNAL AGE AND PARITY ON THE INCIDENCE OF LOW BIRTH WEIGHT INFANTS (LBW) SITI FATIMA HOSPITAL OF MAKASSAR 2013""

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

MEDICAL FACULTY MUHAMMADIYAH UNIVERSITY OF MAKASSAR Undergraduate Thesis, February 2013

VENDY Y.R OHORELLA, MM 10542 0220 10

"THE CORRELATION BETWEEN MATERNAL AGE AND PARITY ON THE INCIDENCE OF LOW BIRTH WEIGHT INFANTS (LBW) SITI FATIMA HOSPITAL OF MAKASSAR 2013"

(xii+50 pages + 5 Tables + Appendices)

ABSTRACT

Background: In the city of Makassar are still a lot of LBW with IUGR due to maternal severe malnutrition, anemia and sexually transmitted disease (STD) before conception or during pregnancy. Based on data on the number of babies born with Low Birth Weight (LBW) were from Division of Community Health, in 2011 the number of LBW babies as much as 186 of 26.129 live-born infants around 0.71%, an increase compared to the year 2010 the number of infants bom LBW 184 of 25.830 the baby was bom alive or about 0.71%.

Purpose: To knowing the correlation between maternal age and parity on the incidence of low birth weight infants (LBW).

Method: This study was conducted in R.S Siti Fatimah, Kota Makassar South Sulawesi in December 2013 This study used a cross-sectional design. Data is take directly (using medical records) Data were analyzed using Chi Square test in SPSS ver 16.

Result: The results showed that the correlation of maternal age on the incidence of low birth weight babies in hospital Siti Fatimah with an p=0.153 parity with p=0.33

Conclution: There are currently no correlation between maternal age and parity on the incidence of low birth weight infants (LBW)

Key words: Age Maternal, Parity and LBW

(2)

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR Skripsi, Februari 2013

Vendy Y.R Ohorella. (10542 0220 10) St. Maisarah

“HUBUNGAN USIA IBU dan PARITAS TERHADAP KEJADIAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) di RUMAH SAKI SITI FATIMAH KOTA MAKASSAR TAHUN 2013"

(xii + 50 halaman + 5 tabel + lampiran) ABSTRAK

LATAR BELAKANG: Di Kota Makassar masih banyak BBLR dengan IUGR karena ibu bcrstatus gizi buruk, anemia dan menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat hamil. Berdasarkan data jumlah bayi lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yang dari Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, tahun 2011 jumlah bayi BBLR sebanyak 186 dari 26.129 bayi lahir hidup sekitar 0,71 %, meningkat dibandingkan zabxm 2010 jumlah bayi BBLR sebanyak 184 dari 25.830 bayi lahir hidup atau sekitar 0,71 %.

TUJUAN: Mengetahui hubungan antara usia ibu dan paritas terhadap kejadian bayi berat tabir rendah (BBLR).

METODE : Penelitian ini dilaksanakan di R.S Siti Fatimah, Kota Makassar Sulawesi Selatan pada bulan Desember 2013. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Data diambil Kcara langsung (menggunakan rekam medik). Data dianalisis dengan menggunakan uji Chi .are pada program SPSS' ver. 16.

HASIL :Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa hubungan usia ibu terhadap kejadian bayi BBLR di R.S Siti Fatimah dengan p=0.153 dan paritas dengan p=0.33

KESIMPULAN: Tidak Terdapat hubungan antara usia ibu dan paritas terhadap kejadian bayi berat badan lahir rendah (BBLR).

KATA KUNCI: Usia Ibu, Paritas dan BBLR

vi

(3)
(4)
(5)

Yang bertanda tangan dibawah ini, saya :

Nama Lengkap : Vendy Y.ROhorella

Tangga Lahir : 08 Maret 1992

Tahun Masuk : 2010

Peminatan : Kedokteran Komunitas

Nama Pembimbing Akademik : dr. A. Tenri Padad

Nama Pembimbing Skripsi : drg. St. Maisarak, MARS

Menyatakan bahwa saya tidak melakukan kegiatan plagiat dalam pcnulisan Skripsi saya yang berjudul:

HUBUNGAN USIA IBU DAN PARITAS TERHADAP KEJADIAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI RUMAH SAKIT SITI

FATIMAH KOTA MAKASSAR TAHUN 2013

Apabila suatu saat nanti terbukti saya melakukan tindakan plagiat, maka saya akan menerima sanksi yang telah ditetapkan.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

(6)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah dengan mengucapkan segala puji syukur kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahnya sehingga penulis akhirnya dapat menyelesaikan penelitian dan menyusun skripsi dengan judul "HUBUNGAN USIA IBU DAN PARITAS TERHADAP KEJADIAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI RUMAH SAKIT SITI FATIMAH KOTA MAKASSAR TAHUN 2013" sebagai salah satu syarat menyelesaikan studi serta memperoleh gelar Sarjana Strata SI di Fakultas Kedokteran Unismuh Makassar. Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari hambatan dan kesulitan, namun atas dorongan, bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, maka perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan kesempatan penulis untuk menyelesaikan studi ini.

2. dr H. Mahmud Ghaznawie, Ph.D, Sp.PA(K) selaku Dekan Program Studi Pendidikan Dokter Unismuh yang telah memberikan petunjuk dan kemudahan sehingga skripsi ini dapat tersusun.

3. drg. St. Maisarah, MARS selaku pembimbing yang banyak memberi masukan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

4. Ibunda Juliani Ibrahim, Ph. D dan dr.A.Tenri Padad yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menjadi penguji sidang ujian skripsi dan atas bimbingan serta masukan demi perbaikan skripsi ini.

5. Seluruh staf dosen dan Bagian Tata Usaha FK Unismuh

6. Teman-teman seperjuangan Kanda Ruslan, StMahdiah Andini dan Asmita Abrar.

iv

(7)

7. Teman-teman seperjuanganku angkatan 2010 (Hypothalamus)

8. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini.

Ucapan terima kasih terkhusus penulis peruntukkan kepada orang tua tercinta Ayahanda dr.Imran Ohorella dan Ibunda Stevany Tengker yang telah memberikan bantuan material, bimbingan, perhatian, cinta, dan kasih sayang yang tidak terbatas serta doa tulus sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari yang diharapkan oleh karena itu dengan kerendahan hati penulis akan senang menerima kritik dan saran demi perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca umumnya dan penulis secara khusus

Makassar, Februari2014

Penulis

v

(8)

HUBUNGAN USIA IBU DAN PARITAS TERHADAP KEJADIAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI RUMAH SAKIT SITI

FATIMAH KOTA MAKASSAR TAHUN 2013

OLEH: VENDY Y.R OHORELLA 10542 0220 10

PEMBIMBING: drg. St. Maisarah, MARS

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2013/2014

(9)

DAFTARISI HALAMAN SAMPUL

LEMBAR PERSETUJUAN... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

ABSRTAK ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan masalah ... 6

C. Tujuan penelitian ... 6

B. Manfaat penilitian ... 7

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Bayi Berat Lahir Rendah ... 8

1. Pengertian BBLR ... 8

2. Pembagian BBLR8 B. Usialbu ... 9

C. Paritas ... 16

D. Faktor - Faktor yang berhubungan dengan BBLR ... 17

E. Karakteristik Klinis ... 19

F. Kerangka Teori... 21

vii

(10)

BAB III. KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep ... 22

B. Definisi Operasional... 22

C. Hipotesis ... 23

BAB IV. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 24

B. Waktu dan Tempat Penelitian ... 24

C. Jenis Variabel ... 24

D. Populasi dan Sampel ... 24

E. Jenis Data ... 26

F. Teknik Pengumpulan Data ... 26

G. Teknik Analisis Data ... 26

H. Etika Penelitian ... 27

BAB V. HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 28

B Analisis Univariat ... 31

C. Analisis Bivariat ... 32

BAB VI. PEMBAHASAN A. Hubungan usia ibu terhadap kejadian BBLR ... 38

B. Hubungan paritas terhadap kejadian BBLR ... 38

C. Keterbatasan Penelitian ... 39

BAB VII. KAJIAN ISLAM A. Embriologi dalam AL-Qur'an ... 41

viii

(11)

B. Awal Penciptaan ... 42 C. Kumpulnya Penciptaan ... 44 BAB VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ... 46 B. Saran ... 46

ix

(12)

DAFTARPUSTAKA... 47 RIWAYATHIDUP ... 50 LAMPIRAN ...

x

(13)

DAFT AR TABEL

Nomor Halaman

1. Tabel 5.1 distribusi frekuensi responden berdasarkan usia ibu...31 2. Tabel 5.2 distribusi frekuensi responden berdasarkan paritas...31 3. Tabel 5.3 distribusi responden berdasarkan hubungan usia ibu dengan kejadian bayi berat badan lahir rendah...32 4. Tabel 5.4 distribusi responden berdasarkan hubungan paritas dengan kejadian bayi berat badan lahir rendah...33 5. Tabel 5.3 distribusi responden berdasarkan hubungan penyakit penyerta dengan kejadian bayi berat badan lahir rendah...33

xi

(14)

DAFTAR GAMBAR Gambar 1 : Kerangka Teori.

Gambar 2 : Kerangka Konsep.

xii

(15)

1 BAB. I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kematian bayi merupakan salah satu pennasalahan yag masih banyak ditemui di indonesia. Salah satu penyebab utama kematian bayi adalah bayi berat lahir rendah (BBLR), hal ini dibuktikan dengan sekitar 57% kematian bayi di Indonesia disebabkan oleh gangguan selama perinatal dan kasus terjadinya BBLR (perl00) sebesar 12,6 merupakan angka yang cukup serius dalam penanganan kasus BBLR.

Untuk itu, pemerintah khususnya Dinas Kesehatan melakukan pendekatan strategis (berupaya mengoptimalkan operasional pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil dan pelayanan kesehatan balita diantaranya pengoptimalan fungsi posyandu) dan pendekatan taktis (antisipasi meningkatkan prevelensi BBLR serta upaya penurunannya melalu berbagai kajian atau penelitian yang berkaitan dengan BBLR). Selain dari melihat faktor kesehatan, juga perlu dilihat kekhasan budaya dari masing-masing provinsi di Indonesia. Dalam dunia statika metode Geographycally Weighted Regression (GWR) mampu memperhitungkan faktor spesial sebagai variable bebas yang dapat mempengaruhi variable respon, sehingga hasil variable signifikan untuk masing-masing provinsi terlihat.1

Hasil Survei Demografi dan Kesehatan 2012 menunjukkan tingkat kematian ibu meningkat tajam dibanding survei yang dilakukan 2007 silam.

Survei menemukan terdapat kematian ibu melahirkan sebanyak 359 per 100 ribu

(16)

2 kelahiran. Padahal, pada survei 2007 angka kematian ibu hanya 228 kematian per 100 ribu kelahiran hidup.2

Berat lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) menimbulkan nsiko kesehatan serius bagi anak-anak. Berat lahir rendah merupakan masalah kesehatan masyarakat di banyak negara , secara global diperkirakan 15 persen kelahiran menghasilkan bayi dengan berat lahir rendah . Bayi yang kurang gizi dalam menghadapi rahim risiko sangat meningkat kematian selama bulan-bulan awal mereka dan tahun . Mereka yang bertahan hidup memiliki gangguan fungsi kekebalan tubuh dan peningkatan risiko penyakit , mereka akan tetap kekurangan gizi, dengan kekuatan otot berkurang, sepanjang hidup mereka, dan menderita insiden yang lebih tinggi diabetes dan penyakit jantung . Anak yang lahir kekurangan berat badan juga cenderung memiliki cacat kognitif dan IQ yang lebih rendah , mempengaruhi kinerja mereka di sekolah dan kesempatan kerja mereka ketika dewasa.

Berat lahir rendah dapat timbul akibat dari bayi yang lahir terlalu cepat ( kurang dari 37 minggu, juga dikenal sebagai kelahiran prematur) dan / atau yang lahir terlalu kecil untuk usia kehamilan ( kecil sebagai akibat dari pembatasan pertumbuhan intrauterin ). Bayi yang lahir prematur dan juga kecil untuk usia kehamilan mereka memiliki prognosis terbumk.3

Berat badan merupakan salah satu indicator kesehatan bayi baru lahir.

Rerata berat bayi normal (usia gestasi 37-41 minggu) adalah 3200 gram (7 lbs).b secara umum, bayi berat lahir rendah dan bayi dengan berat berlebih (> 3800 gram) lebih besar resikonya untuk mengalami masalah.4

(17)

3 Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.500 gram merupakan salah satu faktor utama yang amat berpengaruh terhadap kematian bayi baik kematian perinatal maupun neonatal). BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu : BBLR karena prematur (usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena intrauterine growth retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang.

Di Kota Makassar masih banyak BBLR dengan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk, anemia dan menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat hamil. Berdasarkan data jumlah bayi lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yang dari Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, tahun 2011 jumlah bayi BBLR sebanyak 186 dari 26.129 bayi lahir hidup sekitar 0,71 %, meningkat dibandingkan tahun 2010 jumlah bayi BBLR sebanyak 184 dari 25.830 bayi lahir hidup atau sekitar 0,71 %. Tahun 2009 persentase bayi lahir hidup dengan BBLR di Kota Makassar adalah 0,91 % dimana diperoleh terdapat 255 bayi lahir dengan BBLR dari 27.990 bayi lahir hidup Persentase Bayi BBLR selama tiga tahun terakhir.5

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kasus BBLR adalah presentase balita menurut penolong kelahiran pertama, status pendidikan ibu, jumlah anak yang dilahirkan hidup lebih dari sepuluh, golongan perkapita sebagai faktor ekonomi, periksa kehamilan pada saat usia lebih dari empat bulan, ibu yang tidak minum tablet Fe, ibu yang tidak periksa kehamilan dan ibu yang menggunakan kesehatan.1

(18)

4 Faktor penyebab terjadinya BBLR adalah faktor ibu adalah umur,paritas,dan lain-lain,faktor plasenta seperti penyakit vaskuler,kehamilan kembar atau ganda,serta faktor janinjuga merupakan penyebab terjadinya BBLR.6

Prevalensi bayi berat lahir rendah(BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3%-38% dan lebih sering terjadi di negara berkembang atau sosiao-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90%

kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. BBLR termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas neonatus, bayi dan anak serta meniberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya dimasa depan. Angka kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain, yaitu berkisar antara 9%-30%, hasil studi di 7 daerah multicenter diperoleh angka BBLR dengan rentang 2,1% - 17,2%. Secara nasional berdasarkan analisa lanjut SDKI , angka BBLR sekitar 7,5 %. Angka ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan pada sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia sehat 2010 yakni maksimal 75%.7

Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun dapat menimbulkan pertumbuhan janin kurang baik, persalinan lama dan perdarahan pada saat persalinan karena keadaan rahim belum pulih dengan baik. Ibu yang melahirkan anak dengan jarak dengan sangat berdekatan(dibawah 2 tahun) akan mengalami peningkatan resiko terhadap terjadinya perdarahan pada trimester III.3

BBLR termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan ketidakmampuan neonatus untuk terlibat dalam aktivitas penting karena

(19)

5 keterbatasan fisik/mental, bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupan di masa depan.8

Pelayanan sesuai standar antara lain sesuai dengan standar MTBM, manajemen Asfiksia Bayi Baru Lahir, manajemen,Bayi Berat Lahir Rendah, pedoman pelayanan neonatal essensial di tingkat pelayanan kesehatan dasar, PONED, PONEK atau standar operasional pelayanan lainnya. Pada Gambar berikut ini disajikan gambaran cakupan penanganan neonatal komplikasi tahun 2012 di 33 provinsi di Indonesia.9

(20)

6

5

(21)

7 B. RUMUSANMASALAH

Apakah ada hubungan antara usia ibu dan paritas dengan kejadian bayi berat lahir

rendah (BBLR).

C. TUJUAN PENELITIAN 1. Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara usia ibu dan paritas dengan kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR).

2. Tujuan Khusus

Yang menjadi tujuan khusus penelitian ini adalah:

a. Mengetahui tingkat kejadian BBLR

b. Mengetahui hubungan antara usia ibu dengan kejadian bayi berat badan lahir rendah ( BBLR )

c. Mengetahui factor-faktor terjadinya bayi berat badan lahir rendah (BBLR)

d. Mengetahui hubungan antara paritas dengan kejadian bayi berat badan lahir rendah (BBLR)

e. Mengetahui hubungan usia ibu dan paritas terhadap Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR )

(22)

8 D. MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan yang dapat menambah wawasan khususnya mengenai faktor penyebab kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR).

2. Manfaat praktis

a. Bagi Instansi Kesehatan sebagai bahan evaluasi terhadap angka kejadian bayi berat badan lahir rendah (BBLR) dan pemberian informasi tentang faktor-faktor resiko BBLR pada ibu hamil.

b. Bagi masyatrakat ikut berperan dalam rangka meningkatkan status kesehatan khususnya ibu hamil agar tidak terjadi kelahiran bayi berat badan lahir rendah (BBLR).

c. Bagi ibu hamil diharapkan segera melakukan pemeriksaan secara rutin untuk menghindari terjadinya kejadian bayi berat badan lahir rendah (BBLR).

d. Bagi peneliti diharapkan melakukan penelitian terhadap faktor-faktor lain yang bisa berpengaruh terhadap kejadian bayi berat badan lahir rendah (BBLR).

(23)

9 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. BAYI BERAT LAHIR RENDAH ( BBLR) 1. Pengertian BBLR

Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram. Dahulu bayi baru lahir yang berat badan lahir kurang atau sama dengan 2500 gram disebut premature.

Berdasarkan kongres European Perinatal Medeicine II di London (1970), telah disusun definisi sebagai berikut.

a. Preterm infant (premature) atau bayi kurang bulan : bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu (259) had.

b. Term infant atau bayi cukup bulan: bayi dengan masa kehamilan mulai 37 minggu sampai dengan 42 minggu (259-293).

c. Post term atau bayi lebih bulan : bayi dengan masa kehamilan mulai 42 minggu atau lebih (294 hari atau lebih).7

2. Pembagian BBLR

Ada beberapa cara dalam mengelompokkan bayi BBLR ,yaitu : a. Menurut harapan hidupnya:

1) Bayi berat lahir rendah (BBLR), berat lahir 1500-2500 gram 2) Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR), berat lahir < 1500 gram 3) Bayi berat lahir ekstrem rendah (BBLER), berat lahir < 1000 gram

(24)

10 Bayi berat lahir rendah mungkin prematur (kurang bulan), mungkin juga cukup bulan (dismatur).

b. Menurut masa gestasinya:

1) prematuritas murni : masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badanya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi berat atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan(NKB- SMK)

2) dismaturitas : bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu. Berat bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterine dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya (KMK).10

B. USIA IBU

Usia ibu erat kaitannya dengan berat bayi lahir. Kehamilan dibawah umur 20 tahun merupakan kehamilan berisiko tinggi, 2-4 kali lebih tinggi di bandingkan dengan kehamilan pada wanita yang cukup umur. Pada umur yang masih muda, perkembangan organ-organ reproduksi dan fungsi fisiologisnya belum optimal. Selain itu emosi dan kejiwaannya belum cukup matang, sehingga pada saat kehamilan ibu tersebut belum dapat menanggapi kehamilannya secara sempurna dan sering terjadi komplikasi. Selain itu semakin muda usia ibu hamil, maka anak yang dilahirkan akan semakin ringan. Meski kehamilan dibawah umur sangat berisiko tetapi kehamilan diatas usia 35 tahun juga tidak dianjurkan, sangat berbahaya. Mengingat mulai usia ini sering muncul pada penyakit seperti hipertensi, tumor jinak peranakan,

(25)

11 atau penyakit degenerative pada persendian tulang belakang dan panggul.

Kesulitan lain kehamilan diatas usia 35 tahun ini yakni bila ibu ternyata mengidap penyakit seperti diatas yang ditakutkan bayi lahir dengan membawa kelainan. Dalam proses persalinan sendiri, kehamilan di usia lebih ini akan menghadapi kesulitan akibat lemahnya kontraksi rahim serta sering timbul kelainan pada tulang panggul tengah. Mengingat bahwa faktor umur memegang peranan penting terhadap derajat kesehatan dan kesejahteraan ibu hamil serta bayi, maka sebaiknya merencanakan kehamilan pada usia anttara 20-30 tahun.6

Usia ibu kurang dari 20 tahun mempunyai peluang 1,27 kali untuk melahirkan bayi dengan BBLR dibandingkan dengan usia ibu 20-35 tahun dan usia ibu lebih dari 35 tahun mempunyai peluang 2,10 kali untuk melahirkan bayi dengan BBLR dibandingkan dengan usia 20-35 tahun. Meningkatnya kelahiran bayi pada ibu dengan umur muda atau kurang dari 20 tahun berhubungan dengan tingkat pendidikan yang rendah primipara dan perawatan antenatal sedangkan umur tua berhubungan dengan kurangnya potensial tumbuh janin akibat usia jaringan biologis dan adanya penyakit. Sedangkan menurut penelitian Thaib (1992), diketahui bahwa dari beberapa faktor yang mempengaruhi BBLR meliputi faktor usia ibu, jumlah anak, usia kehamilan, jenis kelamin, dan jarak kehamilan. Namun dari hasil kesimpulan peneliti bahwa faktor usia ibu tidak jelas mempengaruhi berat badan bayi baru lahir.

Berat badan bayi kurang 2500 gram sebagian kecil (3%) pada kelompok usia

(26)

12 kurang dari 20 tahun, dan (8%) pada usia Ibu lebih dari 30 tahun. Tetapi hampir seluruh (89%) pada kelompok ibu dengan usia ideal 20-30 tahun.11

Berat badan lahir rendah juga berkolerasi dengan usia ibu. Persentase tertinggi bayi dengan berat badan lahir rendah terdapat pada kelompok remaja dan wanita berusia lebih dari 40 tahun. Ibu-ibu yang terlalu muda sering kali seecara emosional dan fisik belum matang, selain pendidikan pada umumnya rendah, ibu yang masih muda juga masih tergantung pada orang lain, kelahiran bayi BBLR lebih tinggi pada ibu-ibu muda berusia kurang dari 20 tahun.

Remaja sering kali melahirkan bayi dengan berat lebih rendah. Hal ini terjadi karena mereka belum matur dan memiliki sistem transfer plasenta seefisien wanita dewasa.

Resiko melahirkan bayi prematur lebih tinggi bagi perempuan di usia 13-20 tahun dibandingkan dengan 21-30 tahun dan itu penting untuk mengendalikan jumlah cepat kehamilan remaja / remaja karena risiko tinggi prematur bayi lahir.

Meski wanita dikatakan mulai masuk masa subur dan siap bereproduksi di usia menarche atau haid pertama, pada kenyataannya, organ- organ reproduksinya belum siap benar untuk menyambut kehadiran janin.

Gangguan organ yang dapat terajadi diantaranya:

Dinding rahim atau endometrium belum kuat benar, peluruhan dinding rahim setiap periode menstruasi masih belum sempurna. Ini kurang kondusif bagi proses nidasi atau menempelnya embrio ke dinding rahim. Risiko yang mengintai adalah: janin mudah keguguran,

(27)

13 kemungkinannya 3 kali lebih tinggi dibanding mereka yang hamil di usia usia 25 tahun. Risiko berikutnya adalah pertumbuhan janin yang kurang sehat atau Intrauterine Growth Restriction (IUGR).

Sel telur yang dihasilkan indung telur belum sempurna. Indung telur milik perempuan muda juga masih belajar memproduksi sel telur berkualitas. Apabila sel telur hasil "belajar" itu dibuahi, dan menjadi bakal manusia, tidak ada yang bisa menjamin kualitas embrio yang dihasilkan!

Rahim dan organ panggul belum kuat menampung janin.

Organ reproduksi seperti rahim, mulut rahim dan otot-otot ligamen di panggul, belum matang dan belum kuat, sehingga belum siap untuk berfungsi semestinya dalam menunjang

kehamilan dan persalman. Bahaya yang mengintai adalah:

keguguran, perdarahan, persalinan prematur, prolaps organ panggul, bahkan ruptur atau melorotnya organ panggul.

Bunda muda juga terancam luka serius saat melahirkan, 4 kali lebih tinggi.

Risiko tekanan darah tinggi dan pre eklampsia. Penyebabnya, tubuh ibu muda belum kuat menanggung proses kehamilan sehingga metabolisme tubuh mudah terganggu. Gejala tekanan darah tinggi umumnya belum terdeteksi pada awal kehamilan.

Namun, di tengah masa kehamilan, bisa tiba-tiba mengalami

(28)

14 kejang, perdarahan, bahkan berkembang menjadi eklampsia yang mengancam jiwa ibu dan janin.

Bahaya anemia. Mengintai dan dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin. Penyebabnya adalah metabolisme tubuh ibu yang belum sempurna saat mendapat tambahan volume darah akibat kehamilan, juga akibat pola makan minim zat besi karena wanita muda cenderung sering berdiet. Ini alasan mengapa ibu muda yang hamil wajib menjalani tes darah guna mendeteksi anemia dan thalassemia.

Kehamilan tidak disadari. Pada banyak kasus kehamilan muda, calon * ibu terlambat menyadari kehamilan, lantaran sebelum hamil siklus haidnya memang belum teratur, sehingga diterjemahkan sebagai kondisi biasa. Karena kehamilan tidak disadari, calon ibu muda mungkin saja tetap melakoni gay a hidup kurang sehat seperti: diet ketat, konsumsi alkohol, paparan rokok,yang dapat mengganggu kehamilan dan pertumbuhan janin, sehingga memicu persalinan prematur atau bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR).

Risiko kanker leher rahim dan penyakit kelamin. Wanita yang melakukan hubungan seksual secara aktif pada usia di bawah 20 tahun, memiliki risiko lebih tinggi untuk terjangkit infeksi virus yang pada organ reproduksi, seperti Human Papilloma Virus penyebab kanker leher rahim, juga serangan penyakit kelamin

(29)

15 seksual, di antaranya Chlamydia yang dapat menyebabkan infeksi mata dan pneumonia pada bayi, atau sifilis yang bisa mengakibatkan kebutaan pada bayi, dan kematian ibu serta janin.

Usia kehamilan atau usia gestasi( gestational age ) adalah ukuran lama waktu seorang janin berada dalam rahim. Usia janin dihitung dalam minggu dari hari pertama menstruasi terakhir (HPMT) ibu sampai hari kelahiran. Periode ini 2 minggu lebih lama dari usia pembuahan.14

Penelitian Thaib tahun 1992 yang mengemukakan jarak kehamilan < 2 tahun berpengaruh terhadap berat bayi lahir rendah, karena masa persalinan yang

< 2 tahun mempengaruhi kapasitas tropik uterus yang belum pulih benar.

Kehamilan kedua atau ketiga terlampau dekat jaraknya memiliki resiko bagi ibu dan janin. Bagi ibu sendiri, secara fisik alat-alat reproduksi belum kembali normal sehingga ada kemungkinan pada kehamilan tersebut ibu mengalami gangguan.

Seperti adanya komplikasi diabetes gestasional (gula darah yang muncul saat kehamilan), pre eklamsia (keracunan karena protein yang meningkat), atau anemia.11

Pengukuran usia kehamilan klasik secara klinis adalah menghitung waktu dimulai dari periode menstruasi terakhir. Tanggal perkiraan persalinan dapat di hitung dengan rumus Naegele dengan menambahkan sembilan bulan dan tujuh hari kepada hari pertama menstruasi terakhir. Perhitungan ini menganggap bahwa ovulasi terjadi 14 hari setelah periode menstruasi akhir dan lamanya gestasi normal adalah 266 hari sejak ovulasi dan fertilisasi sampai mencapai aterm. Cara ini akurat hanya pada wanita yang mempunyai siklus menstruasi teratur dengan

(30)

16 interval tiap 28 hari. Tetapi di antara wanita tersebut, perhitungan hanya dapat dipercaya dalam dua minggu.15

Lama kehamilan yaitu 280 hari atau 40 pekan (minggu) atau 10 bulan (lunar months). Kehamilan dibagi atas 3 triwulan (trimester).

- Kehamilan triwulan I antara 0-12 minggu - Kehamilan triwulan II antara 12-28 minggu - Kehamilan triwulan III antara 28 - 40 minggu Tanda dan gejala kehamilan

- Tanda-tanda presumptif:

1) Amenore (tidak dapat haid)

a) Wanita harus mengetahui tanggal hari pertama haid terakhir (HPHT) supaya dapat ditaksir umur kehamilan dan taksiran tanggal persalinan (TTP), yang dihitung dengan menggunakan dari rumus Naegele:

b) TTP = (hari pertama HT + 7) dan (bulan HT + 3) 2) Mual dan muntah (nausea and vomiting)

3) Biasanya terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan hingga akhir triwulan pertama. Karena sering terjadi pada pagi hari, disebut morning sickness (sakit pagi). Bila mual dan muntah terlalu sering disebut Hiperemesis.

4) Mengidam (ingin makanan khusus)

5) Ibu hamil sering meminta makanan atau minuman tertentu terutama pada bulan-bulan triwulan pertama.

6) Tidak tahan suatu bau-bauan 7) Pingsan (pangsan)

(31)

17 8) Bila berada pada tempat-tempat ramai yang sesak dan padat bisa

pingsan.

9) Tidak ada selera makan (anoreksia).

10) Hanya berlangsung pada triwulan pertama kehamialn, kemudian nafsu makan timbul kembali.

11) Lelah (fatigue).

12) Payudara membesar, tegang, dan sedikit nyeri, disebabkan pengaruh estrogen dan pregesteron yang merangsang duktus dan alveoli payudara.

Kelenjar Montgomery terlihat lebih besar.

13) Miksi sering, karena kandung kemih tertekan oleh rahim yang membesar. Gejala ini akan hilang pada triwulan kedua kehamilan. Pada akhir kehamilan, gejala ini kembali, karena kandung kemih ditekan oleh kepala janin.

14) Konstipasi / obstipasi karena tonus otot-otot uterus menurun oleh pengaruh hormon steroid.

15) Pigmentasi kulit oleh pengaruh hormon kortikosteroid plasenta, dijumpai dimuka (chloasma gravidarum), areola payudara, leher, dan dinding-dinding perut (lineanigra = grisea).16

Tanda-tanda kemungkinan hamil:

1) Perut membesar

2) Uterus membesar: terjadi perubahan dalam bentuk, besar, dan konsistensi dari rahim

(32)

18 3) TandaHegar

4) Tanda Chadwick 5) Tanda Piscaseck

6) Kontraksi-kontraksi kecil uterus bila dirangsang = Braxton-Hicks.

7) Teraba Ballotement.

8) Reaksi kehamilan positif Tanda pasti (tanda positif):

1) Gerakan janin yang dapat dilihat atau dirasa atau diraba, juga bagian-bagian janin

2) Denyutjantung janin:

a) Didengar dengan stetoskop-monoral Laennec b) Dicatat dan didengar dengan alat Doppler c) Dicatat dengan feto-elektro kardiogram d) Dilihat pada ultrasonografi

3) Terlihat tulang-tulang janin dalam foto rontgen.

C. PARITAS 1. Paritas

Paritas secara luas mencakup gravida/jumlah kehamilan, paritas/jumlah kelahiran, dan abortus / jumlah keguguran. Sedangkan dalam arti khusus yaitu jumlah atau banyaknya anak yang dilahirkan.

Paritas dikatakan tinggi bila seorang ibu/wanita melahirkan anak keempat atau lebih. Seorang wanita yang sudah mempunyai tiga anak dan terjadi

(33)

19 kehamilan lagi, keadaan kesehatannya akan menurun, sering mengalami anemia, terjadi perdarahan lewat jalan lahir dan letak bayi sungsang.18

Klasifikasi Paritas 1) Primipara

Primipara adalah wanita yang telah melahirkan seorang anak, yang cukup besar untuk hidup di dunia.

2) Multipara

Multipara adalah wanita yang telah melahirkan seorang anak lebih dari satu kali.

3) Multigravida

Multigravida adalah wanita yang sudah hamil, dua kali atau lebih 4) Grandemultipara

Grandemultipara adalah wanita yang telah melahirkan 5 orang anak atau lebih dan biasanya mengalami penyulit dalam kehamilan dan persalinan.

D. FAKTOR- FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN BBLR

Penyebab terjadinya bayi BBLR secara umum bersifat multifaktorial, sehingga kadang mengalami kesulitan untuk melakukan tindakan pencegahan. Namun, penyebab terbanyak terjadinya bayi BBLR secara umum yaitu sebagai berikut.

1. Faktor Ibu : a. Penyakit:

(34)

20 1) Mengalami komplikasi kehamilan, seperti: anemia sel berat, perdarahan ante partum, hipertensi, preeclampsia berat,eklampsia, infeksi selama kehamilan (infeksi kandung kemih dan ginjal).

2) Menderita penyakit seperti malaria, infeksi menular seksual, HIV/

AIDS, malaria.

b. Ibu

1) Angka kejadian prematuritas tertinggi adalah kehamilan pada usia <

20 tahun atau lebih dari 35 tahun 2) Kehamilan ganda

3) Jarak kelahiran yang terlalu dekat atau pendek (kuran dari 1 tahun) 4) Mempunyai riwayat BBLR sebelumnya

c. Paritas

Paritas adalah jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu baik lahir maupun lahir mati.Paritas yang tinggi akan berdampak pada timbulnya berbagai masalah kesahatan baik bagi ibu maupun bayi yang dilahirkan Salah satu dampak kesehatan yang mungkin timbul dari paritas yang tinggi adalah berhubungan dengan kejadian BBLR. Sebagaimana hasil penelitian menunjukan bahwa ibu dengan paritas tinggi secara merata terdistribusi pada kelompok kasus dan control (50%) yang memberi interprestasi bahwa paritas yang tinggi tidak mempengaruhi kesehatan ibu sehingga melahirkan dengan berat lahir yang cenderung normal.19

d. keadaan sosial ekonomi:

1) Kejadian tertinggi terdapat pada golongan sosial ekonomi rendah

(35)

21 2) Mengerjakan aktivitas fisik beberapa jam tanpa istirahat

3) Keadaan gizi yang kurang baik 4) Pengawasan antenatal yang kurang

5) Kejadian prematuritas pada bayi yang lahir dari perkawinan yang tidak sah, yang ternyata lebih tinggi bila dibandingkan dengan bayi yang lahir dari perkawinan yang sah.20

e. sebab lain:

1) Ibuperokok

2) Ibu peminum alkohol 3) Pecandu obat narkotika

4) Penggunaan obat antimetabolik 2. Faktor janin:

a. Kelainan kromosom c. Infeksi janin kronik d. Disautonomia familial e. Radiasi

f. Kehamilan ganda/kembar g. Apalsia pancreas

3. Faktor plasenta:

a. Berat pasenta berkurang atau berongga atau keduanya (hidramnion) b. Luas permukaan berkurang

c. Infark

(36)

22 4. Faktor lingkungan:

a. Bertempat tinggal didataran tinggi b. Terkena radiasi

c. Terpapar zat beracun.

E. KARAKTERISTIK KLINIS a. Prematuritas murni

a) Berat badan kurang dari 2500 gram, PB 45cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm, lingkar dada kurang dari 30 cm.

b) Masa gestasi kurang dari 37 minggu

c) Kulit tipis dan transparan, tampak mengkilat dan licin d) Kepala lebih besar dari badan

e) Lanugo banyak terutama pada dahi, pelipis,telinga dan lengan f) Lemak subkutan berkurang

g) Ubun-ubun dan sutura lebar h) Bayi masih posisi fetal h) Otot masih hipotonik

i) Refleks tonik neck lemah

j) Refleks menghisap dan menelan belum sempuma.21 b. Dismatur

Pre term : sama dengan bayi prematur murni Post term:

a) Kulit pucat / bernod, mekonium kering, keriput tipis b) Vernix caseosa tipis / tidak ada

c) Jaringan lemak dibawah kulit tipis d) Bayi tampak gesit, aktif dan kuat e) Tali pusat berwarna kuning kehijauan.

(37)

23

(38)

24 BAB III

KERANGKA KONSEP PENELIT1AN

A. KERANGKAKONSEP

Variabel Independent variabel Dependent

Gambar 3.1. Kerangka Konsep

B. DEFINISIOPERASIONAL

1. Bayi berat lahir rendah (BBLR) adaiah bayi yang lahir dengan berat badan lahir

< 2500 gram.

2. Usia ibu adalah usia responden sejak dilahirkan hingga saat pengambilan data yang dinyatakan dalam satuan tahun.

 . Beresiko : 20 - 25 Tahun dan 26 - 35 Tahun

 Beresiko Tinggi : 15 -19 dan 36- 40 Tahun

3. Paritas adaiah jumlah kehamilan, prematur / jumlah kelahiran, dan abortus / jumlah keguguran. Sedang dalam arti khusus yaitu jumlah atau

banyaknya anak yang dilahirkan.

 Beresiko : < 3 kali

 Beresiko Tinggi : > 3 kali Usia Ibu

Paritas

Bayi Berat Lahir Rendah(BBLR)

(39)

25 C. HIPOTESIS

1. Hipotesis Nol

 Tidak adanya hubungan usia ibu dengan kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR).

 Tidak adanya hubungan paritas dengan kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR).

2. Hipotesis Alternatif

 Adanya hubungan usia ibu dengan kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR).

 Adanya hubungan paritas dengan kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR).

(40)

26 BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan adalah dengan metode observational analitik dengan menggunakan desain kuantitatif jenis Cross sectional.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan variabel independen dengan variabel dependen dimana pengukurannya dilakukan pada satu saat (serentak).

B. WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN 1. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember Tahun 2013 .

2. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah Kota Makassar.

C. JENIS VARIABEL

1. Variabel Independent: Usia Ibu dan Paritas

2. Variabel Dependent: BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah) D. POPULASI DAN SAMPEL

1. Populasi

Populasi dalam penelitian adalah ibu yang melahirkan di R.S Siti Fatimah Kota Makassar pada bulan November - Desember Tahun 2013

2. Sampel

Sebagai sampel dalam penelitian ini adalah status ibu dan bayi yang memenuhi syarat untuk dijadikan sampel dalam penelitian ini.

(41)

27 Jumlah sampel: sampel yang terpilih adalah status bayi yang memenuhi syarat untuk peneltian. Kriteria yang digunakan adalah:

a) Kriteria inklusi

1) Bayi yang lahir dengan bayi berat lahir rendah (BBLR < 2500).

b) Kriteria eksklusi

1. Berat badan bayi > 2500

2. Status atau register lengkap (usia ibu dan jumlah paritas dalam melahirkan).

3. Besar Sampel

n = Za2 x P x O d2

Za = Kesalahan tipe I sebesar 5% maka Za= 1 ,96

P = Proporsi kejadian BBLR di Kota Makassar sebesar 0,50% = 0,05 Q =1-P= 1-0,05= 0,95

d = presisi 0,05

(42)

28 Dengan memasukkan nilai-nilai diatas, maka diperoleh

n = Za2 x P x Q d2

n = 1.962x 0.05x0,95 0.052

= 38

Jadi besar sampel minimal pada penelitian tersebut adalah 38 orang

E. JENIS DATA

Data yang digunakan berupa data sekunder yang diambil dari data pada Rumah Sakit Siti Fatimah Makassar yang meliputi: usia ibu, paritas, dan berat badan bayi yang diperoleh dari data rekam medik ibu yang melahirkan di Rumah Sakit pada bulan November - Desember Tahun 2013.

F. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Data yang dikumpul dengan melihat kartu status ibu yang melahirkan bayi BBLR atau data rekam medis.

G. TEKNIK ANALISIS DATA

1. Analisis Univariat

Data yang diperoleh melalui peneltian ini akan diolah menggunakan program statistical product and solution (SPSS) 16 dengan melihat data frekuensi masing-masing variabel.

(43)

29 2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variable independent dan variable dependent dengan menggunakan uji statistic chi square. Dasar pengambilan hipotesis penelitian berdasarkan pada tingkat signifikan (nilai p), yaitu : jika nilai p > 0,05 maka hipotesis nol diterima. jika nilai p < 0,05 maka hipotesis alternatif diterima.

H. ETIKA PENELITIAN

1. Menyertakan surat izin meneliti di Rumah Sakit dari Dinas Kesehatan kota Makassar.

2. Meminta dengan baik data rekam medik di Rumah Sakit Bersalin yang bersangkutan.

3. Catatan medik pasien dijaga kerahasiannya dan sudah disetujui sebagai data penelitian yang dilakukan.

(44)

30 BABV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran umum lokasi penelitian

RSIA Siti Fatimah Makassar adalah rumah sakit milik pemerintah yang berada diwilayah provinsi Sulawesi Selatan Makassar, kecamatan Ujung Pandang, kelurahan Lajang Biru, tepatnya di Jalan Gunung Merapi no.75.

RSIA Siti Fatimah terletak diatas tanah seluas 2381 m2 dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

1. Sebelah utara : Jalan Sungai Poso 2. Sebelah timur: Jalan Gunung Lakon 3. Sebelah selatan Jalan Sungai Pareman 4. Sebelah barat: jalan Gunung Merapi

RSIA Siti fatimah merupakan rumah sakit pemerintah yang mempunyai tugas pokok:

1. Melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan,pemulihan yang dilakukan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan.

2. Melaksanakan pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.

(45)

31 3. Melaksanakan pembinaan kepada unit peiayanan dasar sekitamya.

Ketenagakerjaan RSIA Siti fatimah terdiri dari tenaga medis,tenaga perawat,dan tenaga non keperawatan dan tenaga non medis.

Tenaga medis,terdiri dari:

a) Dokter ahli obstetri dan ginekologi b) Dokter ahli anak

c) Dokter umum d) Dokter gigi e) Dokter anastesi Tenaga perawat terdiri dari:

a) Bidan/perawat

b) Akademi keperawatan c) perawat kesehatan d) perawat gigi e) SI keperawatan

f) D3 akademi keperawatan, dan g) Tenaga keperawatan lainnya

Adapun sarana dan prasarana yang digunakan untuk melakukan peiayanan terhadap masyarakat secara maksimal adalah sebagai berikut:

1. Ruang pemeriksaan dan pelayanan a. Pemeriksaan ibu dan anak b. Poliklinik anak

c. Poliklinik gizi

(46)

32 d. Poliklinik penyakit kandungan

e. Poliklinik KB f. Ruang perawatan g. Ruang bayi khusus h. Ruang bersalin fisiologis i. Ruang bersalin patologis j. Ruang pemulihan

k. Neonatal Intensive care unit l. Ruang Keluarga Berencana 2. Ruang pelayanan rawat inap

a. Ruang obstetri dan ginekologi b. Ruang bayi

c. Ruang instalasi : farmasi,laboratorium gizi,sarana pendidikan rumahsakit

d. Ruang Iain-lain : direktur, administasi,pelatihan,pencacatan medis,mushalla, dan perpustakaan

e. Pelayanan kesehatan ibu dan anak

Pada penelitian ini data dikumpulkan dari 60 orang yang menjadi responden. Setelah data terkumpul dilakukan pemeriksaan kelengkapan dan kemudian data diolah, maka penelitian ini akan menyajikan analisis data univariat terhadap setiap variabel dengan menghasilkan distribusi frekuensi dan persentasi serta analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara

(47)

33 variabel independen dengan variabel dependen menggunakan uji statistic Chi Square.

Adapun analisis univariat dan bivariat penelitian ini adalah sebagai berikut:

B. Analisis Univariat 4. Usia Ibu

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Ibu di RS. Siti Fatimah Makassar

Umur Frekuensi Percent (%)

< 20 tahun 9 15

20-35 tahun 40 66,7

 35 tahun 11 18,3

total 60 100

Sumber: data sekunder R.S Siti Fatimah Makassar tahun 2013

Berdasarkan tabel 5.1 menunjukkan bahwa frekuensi kelompok responden adalah usia ibu <20 tahun yaitu sebanyak 9 orang (15%), usia 20-35 tahun

sebanyak 40 orang (66.7%) dan usia >35 tahun sebanyak 11 orang (18,3%).

(48)

34 2. Paritas

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Paritas di RS.Siti Fatimah Makassar

PARITAS Frekuensi = n % Beresiko 49 81.7 Beresiko tinggi 11 18.3 Jumlah 60 100.0

Sumber .data sekunder RS. Siti Fatimah Makassar tahun 2013

Berdasarkan table 5.2 menunjukkan bahwa frekuensi kelompok responden terbanyak adalah paritas dengan beresiko rendah yaitu sebanyak 49 orang (81.7%) sedangkan responden paritas dengan beresiko tinggi sebanyak 11 orang (18.3%).

C. Analisis Bivariat

Analisis bivariat berfungsi untuk melibat hubungan variabel independen terhadap variabel dependen, yaitu dengan menggunakan program computer SPSS (pada penelitian ini menggunakan SPSS versi 16) dimana hubungan antara variabel dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

(49)

35 1. Hubungan Usia Ibu terhadap kejadian BBLR

Tabel 53 Distribusi Responden Berdasarkan Hubungan Usia Ibu dengan Kejadian Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

USIA Kejadian BBLR Total P

IBU BBLR Tidak BBLR Value

n % n % N %

Tidak Beresiko 38/ 63.3 10 16.7 48 80.00. 153 Beresiko 7 11.7 5 8.3 12 20.0

Jumlah 45 75.0 15 25.0 60 100.0

Sumber: Data Sekunder RS.Siti Fatimah Makassar Tahun 2013

Berdasarkan tabel 5.3 ditemukan bahwa frekuensi usia ibu yang beresiko tinggi dengan BBLR sebanyak 7 orang (11.7%) dan yang beresiko tinggi tidak BBLR sebanyak 5 orang (8.3%). Sedangkan frekuensi usia ibu yang beresiko dengan BBLR sebanyak 38 orang (63.3%) dan yang beresiko rendah tidak BBLR sebanyak 10 orang (16.7%)

(50)

36 2. Hubungan Paritas terhadap Kejadian BBLR

Tabel 5.4 Distribusi Responden Berdasarkan Hubungan Paritas dengan Kejadian Bayi Berat Badan Lahir Rendah

(BBLR)

PARITAS Kejadian BBLR Total P

BBLR Tidak BBLR Value n % N % N %

Beresiko rendah 38 63.3 11 18.3 49 81.6 0.33 7 Beresiko tinggi 7 11.7 4 6.7 11 18.4

Jumlah 45 75.0 15 25.0 60 100.0 Sumber : Data Sekunder RS.Siti Fatimah Makassar Tahun 20IS Berdasarkan tabel 5.4 ditemukan bahwa frekuensi paritas yang beresiko tinggi dengan BBLR sebanyak 7 orang (11.7%) dan yang beresiko tinggi tidak BBLR sebanyak 4 orang (6.7%). Sedangkan frekuensi paritas yang beresiko rendah dengan BBLR sebanyak 38 orang (63.3%) dan yang beresiko rendah tidak BBLR sebanyak 11 orang (18.3%).

Pada penelitian ini, peneliti dapat juga melihat hubungan Penyakit Penyerta Terhadap Kejadian BBLR.

(51)

37 Tabel 5.5 Distribusi Responden Berdasarkan Hubungan

Penyakit Penyerta dengan kejadian Bayi Berat Badan Lahir Rendah

Penyakit Kejadian BBLR Total P

Penyerta BBLR Tidak BBLR Value

n % n % N %

Ada 27 45 5 8,3 32 53,3 0.73 Tidak Ada 18 30 10 16,7 28 46,7

Jumlah 45 75 15 25 60 100

Sumber : Data Sekunder R.S Siti Fatimah Makassar Tahun 2013

(52)

38 BAB VI

PEMBAHASAN

Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang dilahirkan dengan berat kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa kehamilan. Peniiaian terhadap BBLR dilakukan dengan cara menimbang bayi pada saat lahir atau 24 jam pertama. Berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya BBLR dibedakan dalam; BBLR, berat lahir 1500-2500 gram, bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR), berat lahir: <1500 gram, dan bayi berat lahir ekstrim rendah (BBLER), berat lahir: <1000 gram.(22)

Setiap tahun di dunia diperkirakan lahir sekitar 20 juta bayi berat lahir rendah (BBLR). Kelahiran BBLR sebagian disebabkan oleh lahir sebelum waktunya (prematur), dan sebagian oleh karena mengalai gangguan pertumbuhan selama masih dalam kandungan PJT (Pertumbuhan Janin Terhambat). Di negara berkembang, BBLR banyak dikaitkan dengan tingkat kemiskinan.(23)(24) BBLR merupakan penyumbang utama angka kematian pada neonatus. Menurut perkiraan World Health Organization (WHO), terdapat 5 juta kematian neonatus setiap tahun dengan mortalitas neonatus (kematian dalam 28 hari pertama kehidupan) adalah 34 per 1000 kelahiran hidup, dan 98% kematian tersebut berasal dari negara berkembang.(25)

Hingga saat ini berat lahir rendah masih menempati peringkat pertama dalam angka kematian bayi di Indonesia, bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu faktor resiko yang mempunyai kontribusi terhadap

(53)

39 kematian bayi khususnya pada masa perinatal, selain itu bayi berat badan lahir rendah dapat mengalami gangguan mental dan fisik pada usia tumbuh kembang selanjutnya sehingga membutuhkan biaya perawatan yang lebih tinggi

Aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-35 tahun, sedangkan yang berisiko untuk kehamilan dan persalinan adalah umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun. Ibu hamil pertama pada umur < 20 tahun, rahim dan panggul ibu seringkali belum tumbuh mencapai ukuran dewasa. Akibatnya diragukan keselamatan dan kesehatan janin dalam kandungan.kemungkinan bahaya yang dapat terjadi(26) yaitu bayi lahir belum cukup bulan dan perdarahan dapat terjadi sebelum/sesudah bayi lahir. Pada ibu hamil berumur 35 tahun atau lebih,

terjadi,terjadi perubahan jaringan alat-alat kandungan dan jalan lahir tidak lentur lagi.

Pengaruh Paritas Terhadap Kejadian BBLR : Ibu dengan paritas 1 dan 4 atau lebih berisiko melahirkan BBLR,pada primipara terkait dengan belum siapnya fungsi organ dalam menjaga kehamilan dan menerima kehadiran janin, keterampilan ibu untuk melaksanakan perawatan diri dan bayinya serta faktor psikologis ibu yang masih belum stabil (Rochyati, 2003), sedangkan ibu yang pernah melahirkan anak empat kali atau lebih karena paritas yang terlalu tinggi akan mengakibatkan terganggunya uterus terutama dalam hal fungsi pembuluh darah. Kehamilan yang berulang-ulang akan menyebabkan kerusakan pada dinding pembuluh darah uterus, hal ini akan mempengaruhi nutrisi ke janin pada kehamilan selanjutnya sehingga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan yang selanjutnya akan melahirkan bayi yang BBLR.(27)

(54)

40 Sesuai dengan judul penelitian yang telah dilakukan, variabel hubungan usia ibu dan paritas terhadap kejadian bayi berat badan lahir rendah ( BBLR ) merupakan variabel utama dalam penelitian ini. Namun variabel lainnya pun diteliti yang masing - masing merupakan komponen yang berpengaruh pada kejadian bayi berat badan lahir rendah.

A. Hubungan Usia Ibu terhadap Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah

Dari hasil penelitian ini didapatkan tidak adanya hubungan antara usia ibu terhadap kejadian bayi berat badan lahir rendah, hal ini terlihat dari hasil uji statistijt dengan menggunakan uji chi-square didapatkan bahwa nilai p > 0,05, maka HO diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna antara usia ibu dengan bayi berat badan lahir rendah di rumah sakit Siti Fatimah Makassar.

Hal ini sesuai dengan (11) diketahm- bahwa dari beberapa faktor yang mempengaruhi BBLR meliputi faktor usia ibu, jumlah anak, usia kehamilan, jenis kelamin, dan jarak kehamilan, Namun dari hasil kesimpulan peneliti bahwa faktor usia ibu tidak jelas mempengaruhi berat badan bayi baru lahir. Berat badan bayi kurang 2500 gram sebagian kecil (3%) pada kelompok usia kurang dari 20 tahun, dan (8%) pada usia Ibu lebih dari 30 tahun. Tetapi hampir seluruh (89%) pada kelompok ibu dengan usia ideal 20-30 tahun.

B. Hubungan Paritas terhadap Kejadian Bayi BBLR

Dari hasil penelitian ini didapatkan tidak adanya hubungan antara paritas terhadap kejadian bayi berat badan lahir rendah, hal ini terlihat dari hasil uji statistic dengan menggunakan uji chi-square didapatkan bahwa nilai p > 0,05,

(55)

41 maka HO diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna antara paritas dengan bayi berat badan lahir rendah di rumah sakit Siti Fatimah Makassar.

Hal ini di karenakan karena paritas bukan merupakan faktor yang signifikan terhadap kejadian bayi berat lahir rendah sebagaimana di jelaskan oleh

(19) Paritas adalah jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu baik lahir maupun lahir mati.Paritas yang tinggi akan berdampak pada timbulnya berbagai masalah kesehatan baik bagi ibu maupun bayi yang dilahirkan Salah satu dampak kesehatan yang mungkin timbul dari paritas yang tinggi adalah berhubungan dengan kejadian BBLR. Sebagaimana hasil penelitian menunjukan bahwa ibu dengan paritas tinggi secara merata terdistribusi pada kelompok kasus dan control (50%) yang memberi interprestasi bahwa paritas yang tinggi tidak mempengaruhi kesehatan ibu sehingga melahirkan dengan berat lahir yang cenderung normal.

C. Kelemahan dan Keterbatasan Penelitian :

a) Terbatasnya waktu penelitian sehingga mempengaruhi hasil b) Variabel penelitian yang terlalu sedikit

(56)

42 BAB VII

KAJIAN ISLAM

Sebagai umat manusia, perjalanan hidup kita tidak pernah terlepas dari ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta, Allah SWT. Mulai dari dlam Rahim ibu, sampai lahir ke dunia, dewasa, tua dan akhimya kembali lagi kepada-Nya. Perjalanan seorang manusia mulai dari rahim ibu sampai akhimya lahir ke bumi, merupakan suatu kejadian yang luar biasa. Ilmu pengetahuan telah banyak merugikan hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana awal mulanya terbentuk janin, dari satu sel yang akhimya menjadi dua sel, empat sel, dan seterusnya membentuk suatu organisme. Namun, bila ditelaah dengan baik, penjelasan mengenai proses penciptaan manusia itu telah disebutkan dalam Al-Quran berabad-abad yang lalu. Oleh karena itu, dalam bab ini, akan dijelaskan mengenai embriologi sampai terbentuk manusia seutuhnya berdasarkan kajian Al- Quran dan hadits.

A. EMBRIOLOGI DALAM AL-QUR'AN

Tujuan mempelajari embriologi dalam kajian islam adalah agar manusia dapat meningkatkan keyakinan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.

Sebagaiman firman-Nya:

"Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya. " (QS. Al-Ankabut [29]:20)

(57)

43 Zat yang berkuasan untuk memulai suatu penciptaan, pasti bisa mengembalikan ciptaan-Nya seperti semula (ketika ciptaan itu rusak atau musnah). Bahkan, mengembalikan itu lebih mudah bagi-Nya. Segala sesuatu adalah mudah bagi Allah SWT. Ini terlihat pada firman Allah SWT, sebagai berikut ini:

"Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. " (QS. Ar-Rum [30]:27)

B. Awal Penciptaan

Pada awal siklus menstruasi seorang wanita, sebagian ovum (sel telur) dalam ovarium mulai tumbuh berkembang. Pertumbuhan ini baru sempurna hanya sekali kira-kira pada hari ke empat belas dari siklus diatas.

Ada tiga prinsip pokok yang dapat disimpulkan dari proses penciptaan manusia, yaitu:

Pertama, pada awal terciptanya makhluk merupakan hasil dari bersatunya dua unsur, yaitu pria dan wanita secara bersamaan. Allah SWT berfirman:

"SesungguhnyaKami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat." (QS. Al-Insan [76]:2).

(58)

44 Kedua, tidak semua sel telur (ovum) atau sprema pria yang keluar menuju Rahim wanita dapat mendorong terjadinya janin. Rasulullah Saw. Bersabda, "Sesuatu yang berasal dari setiap air (sperma) akan menjadi anak." (HR.Muslim)

Ketiga, janin tidak ,ditemukan dalam bentuknya. Kemudian ia membesar tetapi ia tetap diciptakan secara bertahap. Sebagaimana firma Allah SWT sebagai berikut:

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkat kejadian." (QS.Nuh [71]:13-14).

"Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia; rnaka bagaimana kamu dapat dipalingkan? " (QS. Az-Zumar [39]:6).

C. Kumpulnya Penciptaan

Bentuk janin dalam bentuk segumpal daging terjadi pada akhir minggu keenam (40-42 hari). Rasulullah Saw mengungkapkan ciri-ciri janin dalam fase ini dengan kalimat yang ,sempuma. Beliau bersabda, "Sesungguhnya penciptaan salah seorang dikumpulkandi dalam perut ibunya selama 40 hari. Kemudian, ia menjadi segumpal darah, lalu segumpal daging. Kemudian, seorang malaikat diutus untuk meniupkan roh kepadanya dan diperintahkan untuk mencatat empat

(59)

45 ketentuan (yang berkaitan dengannya): rezekinya, ajalnya, amalannya, dan

apakah ia seorang yang celaka atau yang bahagia. "(HR.Muslim).

Didalam Al Qur'an proses kejadian manusia secara biologis dejelaskan secara terperinci melalui firman-Nya (QS. AlMu 'minuun (23) : 12-14).

Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain Maka Maha Sucilah Allah , Pencipta Yang Paling Baik".

(60)

46 BAB VIII

KESIMPUAN DAN SARAN A. KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa;

1. Jidak ada hubungan antarausia ibu dengan kejadian BBLR di RS.Siti Fatimah Makassar (P Value = 0.153)

2. Tidak ada hubungan antara paritas dengan kejadian BBLR di RS.Siti Fatimah Makassar padabulanNovember - Desember (P Value = 0.33) 3. Tidak ada hubungan Usia Ibu dan Paritas terhadap kejadian BBLR B. SARAN

1. Bagi Instansi Kesehatan sebagai bahan evaluasi terhadap angka kejadian bayi berat badan lahir rendah (BBLR) dan pemberian informasi tentang faktor-faktor resiko BBLR pada ibu hamil.

2. Bagi masyatrakat ikut berperan dalam rangka meningkatkan status kesehatan khususnya ibu hamil agar tidak terjadi kelahiran bayi berat badan lahir rendah (BBLR)

3. Bagi ibu hamil diharapkan segera melakukan pemeriksaan secara rutin untuk menghindari terjadinya kejadian bayi berat badan lahir rendah (BBLR).

4. Bagi peneliti di harapkan melakukan penelitian terhadap faktor-faktor lain yang bisa berpengaruh terhadap kejadian bayi berat badan lahir rendah (BBLR).

(61)

47 DAFTAR PUSTAKA

1. Mithasandy Kistimaryani, dkk ( 2012 ), Gegrapihically Weighted Regression Untuk Pemodalan Dan Pemetaan Kejadian BBLR Di Indonesia Dalam Mendukung Pencapaian Target MDGs , http: kesehatan.kompasiana.com, diakses Oktober 2013

2. Guslina Ira, (2013), Angka Kematian Ibu Meningkat Tajam dalam 5 Tahun, httpwww. tempo.coreadnews2013,Diakses Oktober 2013

3. Wahyuni .A, dr (2012), Pengertian dan Faktor Bayi Lahir Mati, http://www, ibudanbalita. net, Diakses Oktober 2013

4. Kosim Sholeh M, dkk (2008), Neonatology Cet.1, Ed. I, Jakarta, IDA

5. Dinkes Kota Makassar (2013). Profit Kesehatan Kota Makassar 2012.

http://dinkes kota makassar.net. Diakses Oktober 2013.

6. Suparyanto, dr ( 2012 ), Berat Bayi lahir Renda, http ://kesehatan-dokter- kebidanan-farmasi.com, Diakses Oktober 2013

7. Pantiawati IKA ( 2010 ), BA YI dengan BBLR, Cet 1, Yogjakarta, Nuha Medica

8. Alin parlin (2011), Hubungan antara Umur Kehamilan dan Paritas dengan Kejadian BBLR, http://www.bascommetro.com, Diakses Oktober 2013 9. Depkes (2013), Profit Kesehatan Indonesia 2012, http://depkes.go.id.

Diakses Oktober 2013.

10. Proverati A, Cahyo I (2010), Berat Badan Lahir Renda, Yogjakarta, Nuha Medika

(62)

48 11. Amd Elvan (2012), Hubungan Usia Ibu dengan Kejadian BBLR,

httpelvanamdkep.com, Diakses Oktober 2013

12. Gunawan A.(2009),Pengaruh Kehamilan dillsia Muda Terhadap Kelahiran Prematur, http://www. rsudrsoetomo. jatimprov. go. id, Diakses Oktober 2013

13. 13.Haslinda (2011), Gangguan Organ Reproduksi diUsia Muda, http://www.

ayahbunda. com, Diakses November 2013

14. Agus S. (2010)JDefinisi Usia Kehamilan,http://www.kamuskesehatan. com, Diakses November 2013

15. Friedman, Acker, sach ( 1998 ), Obstetri, Edisi II, Jakarta Barat, Binarupa Aksara

16. Llewellyn Derek, Jones ( 2002 ), Obstetri Dan Ginekologi, Cet. I, Ed.6, Jakarta,Hipokrates

17. Moctar R ( 1998 ), Sinopsis Obstetri, Cet 1 Edisi II, Jakarta, EGC 18. Anni Fitria ( 2012 ), Status Pelayanan Antenatal dan Kejadian BBLR,

Perpustakaan FK. Unismuh

19. Apriyanti (2009), Hubungan Antara Pendidikan dan Paritas Ibu Bersalin dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR).

20. Justh Rathi ( 2012 ), Epidemiologi Gizi ( BBLR , http://esgezet.com, Diakses Oktober 2013

21. 21.Prawiroharjo S ( 2002 ), Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Cet.3, Ed.l, Jakarta, Bina Pustaka

(63)

49 22. Demang FY. 2012. Hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang BBLR

dan sikap mencegah BBLR di Puskesmas Depok 1 Sleman Jogja [Skripsi].

Jakarta: FKUI;

23. Risyani L 2007. Hubungan karakteristik ibu dengan kejadian BBLR [Skripsi]: cilacap: Akademi Kebidanan Paguwarmas ; Kamus besar bahasa Indonesia . Jakarta : Balai Pustaka; 2007

24. Mulyawan H. 2009. Gambaran kejadian BBLR [SkripsiJ. Jakarta: FKM-UI;

25. Antonius H. 2011. Pudjiadi Dkk. Pedoman pelayanan medis ikatan dokter anak Indonesia edisi II. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia;

26. Stiani DL. 2012. Hubungan umur dan paritas ibu dengan kejadian BBLR di banjar baru. Malang : Universitas Brawijaya;

27. Destiati L dan Prabandari F. 2010. Hubungan antara berat badan bayi baru lahir dan paritas dengan rupture perineum pada persalinan spontan di RSIA bunda arif purwokerto. Purwokerto: Akademi Kebidanan Perwira Husada;

(64)
(65)
(66)
(67)
(68)
(69)
(70)

Gambar

Gambar 2 : Kerangka Konsep.
Gambar 3.1. Kerangka Konsep
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia  Ibu di RS. Siti Fatimah Makassar
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan   Paritas di RS.Siti Fatimah Makassar
+3

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian yang didapat, waktu tunggu pelayanan resep obat berdasarkan jenis resep di Apotek Panacea Kupang yaitu waktu tunggu pelayanan resep obat berdasarkan

 Kawasan rawan abrasi meliputi sepanjang kawasan pesisir kota yang terbentang mulai dari bagian Utara hingga Barat kota sepanjang 35 (tiga puluh lima) kilometer di

sehingga penelitian yang berjudul “Uji Kepekaan Beberapa Sediaan Antiseptik terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus aureus Resisten Metisilin

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengaruh Pembelajaran Matematika

Mengenai kebenaran beliau, Hadrat Masih Mau'ud ‘alaihis salaam menulis: 'Aku melihat bahwa orang yang mau mengikuti alam dan hukum alam telah diberikan kesempatan bagus oleh

P SURABAYA 03-05-1977 III/b DOKTER SPESIALIS JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH RSUD Dr.. DEDI SUSILA, Sp.An.KMN L SURABAYA 20-03-1977 III/b ANESTESIOLOGI DAN

Hasil pengamatan terhadap intensitas penyakit busuk batang yang disebabkan oleh S.rolfsii pada berbagai konsentrasi inokulum dilihat pada Tabel 3... Persentase

Pada menu manager terdapat sub menu grafik yang digunakan untuk melihat grafik antara jumlah tunggakan tiap bulan dengan pendapatan yang dibayarkan oleh pelanggan juga terdapat