• Tidak ada hasil yang ditemukan

SERTIFIKAT. #ffimture#

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SERTIFIKAT. #ffimture#"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Penyelenggara

:

#ffimture# rffiffimffiffimffi

PERHIMPUNAN AHLI TEKNOTOGI PANGAN INDONESIA

i ll'il'it:r i rlrilill,,rtrilr.'i:lli l:l: i,it ii I illt:'r:: L:

Cabang Bandung

Diberikan kepada

:

(Damat, Ir,, WI(P.

Atas partisipasinya sebagai gemaLotnfr.

$emrnar Naslonal PffiPI 2007

Meningkatkan Daya Saing Produk Pangan Lokal Melalui llmu dan

,,,,, Teknologi Untuk Menuniang Ketahanan Pangan Nasional

Prof. Dr. lmas Siti Setiasih, lr., SU

Ketua Pelaksana

(2)
(3)
(4)

Seminar Nasional PATPI, Bandung 17–18 Juli 2007

Meningkatkan Daya Saing Produk Pangan Lokal melalui Ilmu dan Teknologi

untuk Menunjang Ketahanan Pangan Nasional

757

Modifikasi Pati Tapioka dengan Asam Propionat Anhidrida 1)

(Modification Tapioca Starch Using Propionic Anhidrida Acid)

D a m a t

Staf Pengajar Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Muhamamdiyah Malang

e-mail: [email protected]

ABSTRAK

Pati tapioka, sebagaimana jenis pati alami lainnya diketahui memiliki kelemahan sifat fisik dan kimia yang menyebabkan penggunaan pati tapioka pada industri pangan relatif terbatas. Beberapa kelemahan tersebut antara lain;

viskositas dan kemampuan membentuk gel yang tidak seragam, tidak tahan pada pemanasan suhu tinggi, tidak tahan pada kondisi asam, tidak tahan terhadap proses mekanis, dan mudah mengalami sineresis. Untuk itu maka perlu dilakukan perbaikan sifat fisik dan kimianya dengan cara melakukan modifikasi pati tapioka. Modifikasi pati-tapioka dilakukan dengan menggunakan asam propionat anhidrida, dengan maksud agar selain dapat memperbaiki sifat fisik dan kimianya juga dapat memperbaiki sifat fisiologisnya serta dapat meningkatkan kosentrasi asam propionat di dalam kolon. Asam propionat diketahui memiliki kemampuan untuk menghambat sintesis kholesterol di dalam tubuh.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan teknik modifikasi dan karakteristik fisik dan kimia pati propionat dari pati tapioka.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap sederhana dengan faktor kosentrasi asam propionat anhidrida. Hasil penelitian diketahui bahwa terdapat pengaruh sangat nyata antara perlakuan konsentrasi asam propionat terhadap persen gugus propil, derajat subtitusi, daya kembang, dan sineresis pati propionat dari pati tapioka. Persen propil tertinggi terdapat pada perlakuan asam propionat 12%, yaitu sebesar 5,26%. Perlakuan kosentrasi asam propionat sebesar 12 % memberikan nilai tertinggi pada beberapa parameter pengamatan derajat subtitusi, daya mengeembang, dan sineresis.

Hasil analisis dengan menggunakan Fourier transform infrared spectrophotometer (FTIR) diketahui bahwa pada pati propionat terbentuk lembah baru pada panjang gelombang 1740 cm-1 dan berbeda dengan pati alami.

Keyword: pati tapioka, asam propionat anhidrida, derajat substitusi, FTIR

(5)

Seminar Nasional PATPI, Bandung 17–18 Juli 2007

Meningkatkan Daya Saing Produk Pangan Lokal melalui Ilmu dan Teknologi

untuk Menunjang Ketahanan Pangan Nasional

758

ABSTRACT

Tapioca starch, as known other natural starch type, have weakness of characteristic of chemistry and physical causing usage of tapioka starch for food industry limited. Some the weakness for example; ability and viskositas form gel which not uniform, do not hold up at high temperature warm-up, do not hold up at acid condition, do not hold up to mechanical process, and easy experience of sineresis. For that hence require to be conducted by repair of physical and chemistry characteristic by modify tapioka starch. Modify tapioca starch is conducted by using propionic acid anhydride. The purpose of modify to improve physical and chemistry characteristic and also to improve physiological of starch.

This research was conducted to get technique modify and to get physical and chemistry characteristic of propionic tapioka starch. This research was conducted by using randomized complete block design (RCB), by one factor:

concentration of propionic acid anhydride. Result of this research showed that there are significant influence among concentration propionic acid anhydride treatment to persen propil group, degree of subtitusion, swelling power, and tapioka starch retrogradasi. Result of analysis by using Fourier spectrophotometer infrared transform ( FTIR) known that propionat starch have new dale at wavelength 1740 cm-1 and differ from natural starch.

Keyword: tapioca starch, propionic acid anhydride, degree of substitution, FTIR

PENDAHULUAN

Pati alami dari berbagai sumber, termasuk pati tapioka, pada umumnya memiliki sifat-sifat yang kurang menguntungkan, sehingga akan membatasi penggunaannya, antara lain viskositas dan kemampuan membentuk gel yang tidak seragam, tidak tahan pada pemanasan suhu tinggi, tidak tahan pada kondisi asam, tidak tahan terhadap proses mekanis dan mudah mengalami sineresis. Karena itu agar pati dapat diaplikasikan secara luas pada berbagai produk pangan, maka perlu dilakukan perbaikan sifat fisik dan kimianya.

Menurut Wang dan Wang, (2001); dalam Lawal, 2004), perbaikan sifat fisik dan kimia pati dapat dilakukan dengan cara modifikasi pati.

Menurut Cereda et al., (2003), modifikasi pati dapat dilakukan dengan 4 (empat) cara, yaitu (i) modifikasi secara fisik (pregelatinisasi), (ii) modifikasi secara kimiawi (modifikasi asam, oksidasi, eterifikasi, esterifikasi, dan crosslingking, (iii) modifikasi secara enzimatis dan (iv) kombinasi dari cara

(6)

Seminar Nasional PATPI, Bandung 17–18 Juli 2007

Meningkatkan Daya Saing Produk Pangan Lokal melalui Ilmu dan Teknologi

untuk Menunjang Ketahanan Pangan Nasional

759

tersebut di atas. Pati termodifikasi pada umumnya memiliki karakteristik fisik dan kimia yang lebih baik bila dibandingkan dengan pati alami, seperti meningkatkan stabilitas pati terhadap kemungkinan terjadinya sineresis, meningkatkan resistensi pati terhadap proses retrogradasi dan akan memperbaiki kejernihan pasta pati dengan derajat substitusi (DS) yang rendah.

Berbagai cara esterifikasi telah digunakan untuk membuat pati asetat dan pati oktenil suksinat, antara lain tapioka (Segura dan Sira, 2003), beragam pati jagung (Wilkin et al, 2003), pati kentang (Singh, et al., 2004), pati Canavalia ensiformis (Betancur et al, 1997), pati batang kelapa sawit (Ginting et al, 1996), pati sagu (Haryadi dan Kapti Rahayu-Kuswanto, 1997; Said, 2005), pati beras, pati gandum dan pati kentang (Phillips et al, 1999). Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya adalah pada jenis reagen yang digunakan, yaitu asam propionat anhidrida. Penggunaan asam propionat anhidrida ini selain dimaksudkan untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia pati tapioka juga diharapkan agar apabila pati propionat ini dikonsumsi dapat memberikan efek fisiologis yang menguntungkan bagi kesehatan manusia.

Penggunaan pati propionat ini diharapkan dapat meningkatkan kosentrasi asam propionat di dalam kolon. Menurut Cheng and Lai (2000), asam propionate diketahui dapat menghambat sintesis kolesterol di dalam tubuh, sehingga sangat baik bagi mereka yang menderita hiperkolesterolamik.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan (i) untuk mengetahui pengaruh kosentrasi propionat anhidrida terhadap sifat-sifat pati propionat dari pati tapioka, (ii) untuk mengetahui profil FTIR pati propionat dari pati tapioka.

BAHAN DAN METODE

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pati tapioka dan asam propionat anhidrida. Bahan-bahan lainnya yang juga diperlukan antara lain adalah NaOH, HCl, indikator phenolphthalin dan KOH. Sedangkan alat yang diperlukan antara lain water bath, stirring, colorimeter, pH meter portable, oven, sentrifuse, refrigerator, spektrofotometer dan FT-IR spectroscopy.

(7)

Seminar Nasional PATPI, Bandung 17–18 Juli 2007

Meningkatkan Daya Saing Produk Pangan Lokal melalui Ilmu dan Teknologi

untuk Menunjang Ketahanan Pangan Nasional

760

Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap Sederhana dengan perlakuan penambahan asam propionat anhidrida yang terdiri atas 7 level, yaitu: A0 = 0 %, A1 = 2 %, A2 = 4 %, A3 = 6 %, A4 = 8 %, A5 = 10 % dan A6 = 12 %.

1. Isolasi pati tapioka

Pati tapika yang akan digunakan dalam penelitian ini diproduksi sendiri.

Isolasi pati dilakukan dengan menggunakan metode sebagaimana yang telah dikembangkan oleh BPPT, Jakarta.

2. Modifikasi pati tapioka

Modifikasi pati tapioka dengan menggunakan asam propionat anhidrida dilakukan dengan memodifikasi metode yang telah dikembangkan oleh Phillips et al., (1999). Sebanyak 100 gram pati atau hidrolisatnya didispersikan ke dalam 225 ml air suling dan kemudian diaduk (stirrer) selama 60 menit pada suhu 25o C. Selanjutnya suspensi tersebut ditambahkan dengan larutan NaOH 3,0 % sampai pH-nya mencapai 8,0. Asam propionat ditambahkan sesuai dengan perlakuannya, yaitu 0, 2, 4, 6, 8, 10 dan 12 %. Pada saat penambahan asam propionat, pH suspensi diusahakan tetap konstan pada kisaran antara 8,0 – 8,4 dengan cara menambahkan laurtan NaOH 3 %. Setelah penambahan asam propionat berakhir, agar terjadi reaksi sebagaimana yang diharapkan, suspensi tersebut dibiarkan selama 10 menit. Selanjutnya pH suspensi tersebut diturunkan sampai 4,5 dengan menggunakan larutan HCl 0,5 N. Setelah terjadi endapan, dilakukan pencucian untuk membebaskan asam. Pencucian dilakukan sebanyak tiga kali dengan menggunakan air suling. Sedimen yang diperoleh dikeringkan dengan oven pada suhu 40o C. Pati termodifikasi yang diperoleh (%) selanjutnya dihitung dengan menggunakan dry weight basis.

Parameter analisis

Parameter yang diamati dalam penelitian ini antara lain adalah sebagai berikut:

(8)

Seminar Nasional PATPI, Bandung 17–18 Juli 2007

Meningkatkan Daya Saing Produk Pangan Lokal melalui Ilmu dan Teknologi

untuk Menunjang Ketahanan Pangan Nasional

761

1. FTIR spectroscopy (Singh et al., 2004).

Analisis spektra FTIR dilakukan dengan FTIR spektrometer menggunakan KBr. Alat tersebut dioperasikan dengan resolusi 4 cm-1 dan scanning pada rentangan antara 4000 – 370 cm-1.

2. Penentuan % propil dan derajat substitusi (DS) (Singh et al., 2004)

Persen propil ditentukan dengan menggunakan metode titrasi (Wurzburg, 1978 di dalam Singh et al., 2004). Sebanyak 1,0 gram pati butirat dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml dan kemudian ditambah dengan 50 ml etanol 75%.

Suspensi pati dipanaskan pada suhu 50o C di dalam waterbath selama 30 menit dan kemudian didinginkan pada suhu kamar. Setelah dingin ke dalam suspensi pati ditambahkan 40 ml larutan KOH 0,5 dan kemudian digoyang dengan menggunakan shaker selama 30 menit. Setelah dishaker, kelebihan alkali dititrasi dengan menggunakan larutan HCl 0,5 dan dengan menggunakan phenolphthatelin sebagai indikator. % Propil dihitung dengan rumus :

([Blanko – Sampel] x Molaritas HCl x 0,043 x 100)

% Propil = ———————————————————————

Berat sampel (g)

Blanko dan sampel dalam ml HCl yang digunakan untuk titrasi, sampel dalam berat (gram). Untuk menghitung derajat substitusi (DS, degree of substitution) digunakan rumus:

(162 x % Propil) DS = ————————————

(5700 - [56 x % Propil])

3. Analisis sineresis (%) (Zainal et al., 2005)

Untuk analisis sineresis dilakukan dengan menggunakan metode yang dikembangkan oleh Pal et al., (2002) yang telah dimodifikasi. Pati (8% w/v) digelatinisasi pada suhu 85o C selama 15 menit. Pasta pati kemudian didinginkan pada suhu kamar dan kemudian diambil sebanyak 20 gram, dimasukkan ke dalam tabung sentrifuse 50 ml. Selanjutnya semua sampel dibekukan pada suhu -18o C selama 18 jam dan kemudian di-thawing pada suhu kamar selama 6 jam. Suspensi pati kemudian disentrifuse pada 1670 g selama

(9)

Seminar Nasional PATPI, Bandung 17–18 Juli 2007

Meningkatkan Daya Saing Produk Pangan Lokal melalui Ilmu dan Teknologi

untuk Menunjang Ketahanan Pangan Nasional

762

20 menit. Persen air yang dipisahkan setelah satu siklus freeze-thaw diukur dan dinyatakan sebagai % air yang dipisahkan:

4. Kelarutan dan daya mengembang (swelling) pati (Lawal et al., 2004) Sebanyak 1 gram sampel dimasukkan ke dalam tabung test kering dan kemudian ditimbang (W1). Pati tersebut kemudian didispersikan di dalam 50 cm3 air destilat dengan menggunakan blender / vortek. Campuran tersebut kemudian dipanaskan pada suhu 95o C selama 30 menit di dalam water bath. Campuran tersebut selanjutnya didinginkan sampai dengan suhu 30 ± 2o C dan kemudian di sentrifuse pada 500 rpm selama 15 menit.

Sebanyak 5 ml dari supernatan tersebut dimasukkan ke dalam botol timbang yang sudah diketahui beratnya dan kemudian dikeringkan pada suhu 100o C sampai beratnya konstan. Residu yang diperoleh setelah pengeringan supernatan menunjukkan jumlah pati yang larut di dalam air. Kelarutan dihitung sebagai gram per 100 gram pati (dry basis).

Residu yang diperoleh dari hasil sentrufuse dengan air yang tersisa di dalamnya ditimbang dengan cara dipindahkan ke dalam tabung test yang kering yang digunakan diawal analisis dan kemudian ditimbang (W2).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Profil FTIR Pati Propionat

Dari Gambar 1 dan 2 dapat dilihat profil FTIR dari pati tapioka dan pati propionat dari pati tapioka. Profil tersebut menunjukkan pola yang serupa dengan jenis pati alami dan pati asetat dari beberapa jenis pati seperti dari pati jagung, pati kentang dan pati beras. Berdasarkan profil FTIR tersebut pada rentangan

Swelling pati = [(W2

- W

1

) / berat sampel] x 100%

Air yang dipisahkan (g)

Sineresis (%) = —————————— x 100

Total berat sampel (g)

(10)

Seminar Nasional PATPI, Bandung 17–18 Juli 2007

Meningkatkan Daya Saing Produk Pangan Lokal melalui Ilmu dan Teknologi

untuk Menunjang Ketahanan Pangan Nasional

763

panjang gelombang antara 3500- 500 cm-1 diketahui terdapat 7 (tujuh) lembah.

Namun demikian yang membedakan antara profil FTIR pati tapioka dengan pati tapioka propionat adalah terbentuknya lembah baru pada pati propionat, yaitu pada panjang gelombang 1740,64 cm-1 dan hilangnya lembah pada panjang gelombang 1640,29 cm-1. Terbentuknya lembah baru tersebut menunjukkan karakteristik gugus ester propil yang terbentuk pada struktur pati propionat.

Selain itu juga bahwa terbentuknya lembah tersebut terjadi karena adanya vibrasi ikatan C═O dari gugus asetil. Menurut Won et al (1996) dan Aburto et al., (1997) di dalam Xie et al., (2006) gugus ester karbonil juga terjjadi pada pati bromoasetat dan pati oktano asetat.

Gambar 1. Profil FTIR pati tapioka alami

(11)

Seminar Nasional PATPI, Bandung 17–18 Juli 2007

Meningkatkan Daya Saing Produk Pangan Lokal melalui Ilmu dan Teknologi

untuk Menunjang Ketahanan Pangan Nasional

764

Gambar 2. Profil FTIR pati propionat dari pati tapioka

Selain terbentuk lembah baru pada absorbansi 1740,54 cm-1, pada pati propinat juga terbentuk lembah baru pada absorbansi 1026,63 cm-1. Menurut Xi et al., (2006) absorbansi pada panjang gelombang 1022 cm-1 berkaitan erat dengan strukur amorphous di dalam pati, sedangkan absorbansi pada panjang gelombang 1047 cm-1 berkaitan dengan strukur kristalin di dalam pati. Hal ini menujukkan modifikasi pati tapioka dengan menggunakan asam propionat anhidrida dapat meningkatkan bagian amorphous pati tapioka.

3.2. Persen Butil dan Derajat Substitusi

Persen butil dan derajat subtitusi ditentukan dengan cara titrasi menggunakan metode Singh et al., (2004). Hasil analisis ragam diketahui bahwa terdapat pengaruh nyata antara kosentrasi propionat anhidrida terhadap persen propil pati propionat. Berdasarkan uji Duncan’t (α=0,05) diketahui bahwa persen butil pati propionat tertinggi didapat pada kosentrasi propionat 12%, yaitu sebesar 5,260 (Tabel 1), sadangkan persen terendah terjadi pada kontrol (kosentrasi propionat 0%).

Hasil analisis ragam terhadap derajat substitusi (DS) diketahui bahwa terdapat pengaruh nyata antara kosentrasi propionat anhidrida terhadap derajat substitusi pati propionat. Berdasarkan uji Duncan’t (α=0,05) diketahui bahwa

(12)

Seminar Nasional PATPI, Bandung 17–18 Juli 2007

Meningkatkan Daya Saing Produk Pangan Lokal melalui Ilmu dan Teknologi

untuk Menunjang Ketahanan Pangan Nasional

765

derajat substitusi (DS) pati propionat tertinggi didapat pada kosentrasi propionat 12%, yaitu sebesar o,129 (Tabel 1), sadangkan persen terendah terjadi pada kontrol (kosentrasi propionat 0%).

Peningkatan kosentrasi propionat anhidrida sampai dengan 12 % cenderung akan meningkatkan persen propil dan derajat substitusi (Tabel 1). Hal ini terjadi karena dengan peningkatan kosentrasi propionat anhidrida, maka benturan antara reagen (propionat anhidrida) dengan granula pati tapioka akan meningkat, sehingga akan kemungkinan terjadinya reaksi esterifikasi juga akan meningkat. Berdasarkan teori collision, bahwa apabila kosentrasi reaktan meningkat, maka frekuensi terjadinya benturan antara partikel (collision) juga akan meningkat, sehingga akan meningkatkan kecepatan reaksi. Disamping itu juga masih terdapat beberapa faktor lain yang juga berpengaruh terjadap kecepatan reaksi, antara lain adalah ukuran granula pati, jenis pati, suhu, pH suspensi dan lama reaksi.

Tabel 1. Rerata persen propil dan derajat substitusi pati propionate dari pati tapioka.

Konsentrasi Propionat (%) % Propil Derajat Substitusi (DS) P0 (Kosentrasi propionate anhidrida 0

%)

0,000a 0,000a

P1 (Kosentrasi propionate anhidrida 2

%)

2,140b 0,050b

P2 (Kosentrasi propionate anhidrida 4

%)

2,610bc 0,061b

P3 (Kosentrasi propionate anhidrida 6

%)

3,970d 0,094c

P4 (Kosentrasi propionate anhidrida 8

%)

4,260d 0,101cd

P5 (Kosentrasi propionate anhidrida 10

%) 5,000e 0,120d

P6 (Kosentrasi propionate anhidrida 12

%)

5,260f 0,129e

Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata berdasarkan uji Duncan’t (α=0.05)

(13)

Seminar Nasional PATPI, Bandung 17–18 Juli 2007

Meningkatkan Daya Saing Produk Pangan Lokal melalui Ilmu dan Teknologi

untuk Menunjang Ketahanan Pangan Nasional

766

Sineresis

Berdasarkan hasil analisis ragam diketahui bahwa terdapat pengaruh sangat nyata antara perlakuan kosentrasi propionate anhidrida dengan sineresis pati propionate. Sineresis pati propionate cenderung menurun seiring dengan mening-katnya kosentrasi propionate anhidrida (Tabel 2). Berdasarkan uji Duncan’t (α=0,05) diketahui bahwa sineresis pati propionat terendah didapat pada kosentrasi propionat 12%, sadangkan sineresis tertinggi terjadi pada kontrol (kosentrasi propionat 0%).

Sineresis pati propoinat cenderung menurun seiring dengan semakin meningkatnya kosentrasi propionate anhidrida yang ditambahkan. Hal ini menunjukkan bahwa pada umumnya dengan semakin meningkatnya derjata substitusi (DS), maka sineresisnya akan menurun. Nilai sineresis yang rendah dapat digunakan sebagai indicator bahwa pati tersebut relative stabil pada suhu rendah. Menurut Amani et al (2003) bahwa terdapat hubungan antara sifat fisik- kimia pati dengan sifat gugus fungsional pati dan kandungan amilosanya.

Sineresis akan cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya kandungan amilosa sampai dengan 21%. Akan tetapi pada kandungan amilosa lebih dari 21%, sineresisnya cenderung menurun.

Tingginya kandungan amilosa juga terkait dengan fenomena retrogradasi pati. Menurut Jacobson et al. (1997) di dalam Amani et al (2003) bahwa penyimpanan gel pada suhu rendah akan mempercepat retrogradasi amilosa dan mereduksi kejernihan gel.

Daya Mengembang

Berdasarkan hasil analisis ragam, diketahui bahwa terdapat pengaruh sangat nyata antara perlakuan konsentrasi asam propionat terhadap daya kembang pati propionat. Berdasarkan uji Duncan’t (α=0,05) diketahui bahwa daya kembang tertinggi terdapat pada perlakuan 6 (P6) yaitu sebesar 77,17 % sedangkan daya kembang terendah diperoleh pada perlakuan P0 dengan penambahan asam propionat 0% yaitu sebesar 58,04 %.

Daya mengembang pati propionat cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi propionat anhidrida. Perlakuan asetilisasi bisa

(14)

Seminar Nasional PATPI, Bandung 17–18 Juli 2007

Meningkatkan Daya Saing Produk Pangan Lokal melalui Ilmu dan Teknologi

untuk Menunjang Ketahanan Pangan Nasional

767

meningkatkan daya kembang pati, ini disebabkan oleh adanya keberadaan kelompok substitusi hidrophilik yang mempertahankan kadar airnya (Betancur, et al., 1997). Menurut Zaenal et al., (2005), esterifikasi secara nyata meningkatkan swelling power dan kelarutan pati alami, dan secara umum meningkatnya DS juga akan akan meningkatkan nilai tersebut. Introduksi gugus karboksimetil pada struktur granula pati juga akan menyebabkan melemahnya struktur granula pati yang disebabkan gaya tolak menolak diantara gugus yang berdekatan, sehingga akan menghambat interaksi antar rantai.

Sedangkan menurut Cereda (2003), esterifikasi cenderung akan menyebabkan melemahkan gaya asosiasi sebagai akibat tereduksinya radikal gugus hidroksil sehingga akan meningkatka swelling power pati termodifikasi.

Tabel 2. Rerata persen propil dan derajat substitusi pati propionate dari pati tapioka.

Konsentrasi Propionat (%) Sineresis Daya Mengembang (%) P0 (Kosentrasi propionate anhidrida 0 %) 16,13a 58,04a

P1 (Kosentrasi propionate anhidrida 2 %) 14,52b 60,36b P2 (Kosentrasi propionate anhidrida 4 %) 13,30c 61,65c P3 (Kosentrasi propionate anhidrida 6 %) 12,32d 65,45d P4 (Kosentrasi propionate anhidrida 8 %) 11,24e 67,01e P5 (Kosentrasi propionate anhidrida 10 %) 10,35f 70,58f P6 (Kosentrasi propionate anhidrida 12 %) 9,40g 77,18g

Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata berdasarkan uji Duncan’t (α=0.05)

KESIMPULAN

Pati propionate memiliki spectra FTIR yang berbeda dengan pati tapioa alami. Pada pati propionate terbentuk lembah baru, yaitu pada panjang gelombang 1740,64 cm-1 dan hilangnya lembah pada panjang gelombang 1640,29 cm-1. Hasil analisis ragam diketahui bahwa terdapat pengaruh sangat

(15)

Seminar Nasional PATPI, Bandung 17–18 Juli 2007

Meningkatkan Daya Saing Produk Pangan Lokal melalui Ilmu dan Teknologi

untuk Menunjang Ketahanan Pangan Nasional

768

nyata antara perlakuan konsentrasi asam proionat terhadap prosen gugus propil, derajat subtitusi, daya kembang, dan sineresis pati tapioka modifikasi. Persen propil, nilai DS, dan daya mengembang cenderung meningkat seiring dengan semakin meningkatnya kosentrasi propionat anhidrida.

DAFTAR PUSTAKA

Bentancur, A.D., G.L. Chel and H.E. Canixares. 1997. Acetylation and characterization of Canavalia ensiformis starch. J.Agric. Food Chem. 45:

378-382

Cereda, M.P., O. Vilpoux, and I.M. Demiate. 2003. Modifed starch. Di dalam Book 3- Technology, use and potentialities of Latin American starchy tubers.

Cheng, H. and M.H. Lai. 2000. Fermentation of resistant rice starch produces propionate reducing serum and hepatic cholesterol in rats. J. Nutr. 130:

1991–1995.

Haryadi dan Kapti Rahayu Kuswanto. 1997. Some characteristics of oil palm and sago starch acetates. Agritech Vo. 17, No. 2 Tahun 1997 : 11 – 14.

Lawal, O.S. 2004. Composition, physicochemical properties and retrogradation characteristic of native, oxidised, acetylated and acid-thinned new cocoyam (Xanthosoma sagittifolium) starch. Food Chemistry 87: 205- 218.

Phillips, D.L. H. Liu, D. Pan and H. Corke. 1999. General application of raman spectroscopy for the determination of level of acetylation in modified starches. Cereal Chem. 76(3):439-443.

Said, M. 2005. Pembuatan dan karakterisasi pati sagu asetil pada edible film yang dihasilkan. Thesis Magister, Sekolah Pasca Sarjana UGM.

Segura, M.E.M. and E.E.P Sira. 2003. Characteristic of native and modified cassava starches by scanning electron microscopy and X-ray diffraction techniques. Cereal Foods World, Vol. 48(2):78-81.

Singh, N., D. Chawla and J. Singh. 2004. Influence of acetic anhidrida on physicochemical, morphological and thermal properties of corn and potato starch. Food Chemistry 86:601-608.

Wilkins, M.R., P. Wang, L. Xu, Y. Niu, M.E. Tumbleson and K.D. Rausch. 2003.

Variability in starch acetylation efficiensy from commercial waxy corn hybrids. Cereal Chemistry 80(1):68-71.

(16)

Seminar Nasional PATPI, Bandung 17–18 Juli 2007

Meningkatkan Daya Saing Produk Pangan Lokal melalui Ilmu dan Teknologi

untuk Menunjang Ketahanan Pangan Nasional

769

Xu, Y., V. Miladinove and. M.A. Hanna. 2004. Synthesis and characterization of

starch acetates with high substitution. Cereal Chem. 81(6):735-740.

Zainal A., N. Fadzilina, A.A. Karim and T.T. Teng. 2005. Phycochemical properties of carboxymethylated sago (Metroxylo sagu) starch. JFS Vol.

70 (9): C560-C567.

Gambar

Gambar 1.  Profil FTIR pati tapioka alami
Tabel 1.  Rerata persen propil dan derajat substitusi pati propionate dari pati  tapioka
Tabel 2.  Rerata persen propil dan derajat substitusi pati propionate dari pati  tapioka

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Theoretically, technical and fundamental analysis could be used by the investors as the base to make financial decisions in the capital market with regards to

Evaluasi sistem distribusi air minum serta perencanakan pengembangan sistem distribusi air minum Kecamatan Muara Enim ini dilakukan dengan menggunakan program Epanet versi 2.0

[r]

[r]

Penulisan ini akan membahas tentang pembuatan situs Sistem Informasi Geografis Kabupaten Cianjur, khususnya dalam bidang peternakan, dengan menggunakan data-data yang tersedia pada

Pemberdayaan masyarakat adalah Upaya menumbuhkan kapasitas dan kapabilitas masyarakat untuk meningkatkan posisi tawar (bargaining power), sehingga memiliki akses dan

tafsir yang dikeluarkan maka keterangan yang dapat diperoleh dari ‘a bd dalam Surat Adz Dzariyat Ayat 56 karakteristiknya adalah baik jin atau. manusia sebagai ‘abd selalu