• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PELAKSANAAN KERJA MAGANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III PELAKSANAAN KERJA MAGANG"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

5

BAB III

PELAKSANAAN KERJA MAGANG

3.1 Kedudukan dan Koordinasi

Selama melaksanakan kerja magang di studio animasi Viva Fantasia, penulis ditempatkan pada posisi tertentu dengan tugasnya sendiri, dan bekerja mengikuti suatu alur koordinasi.

1. Kedudukan

Penulis berkedudukan sebagai 3D animator selama melaksanakan kerja magang di studio animasi Viva Fantasia. Penulis bertanggung jawab menggerakkan tokoh-tokoh yang terdapat dalam sebuah shot dalam film.

2. Koordinasi

Proses koordinasi yang diikuti oleh penulis selama melaksanakan kerja magang di studio animasi Viva Fantasia sebagai 3D animator adalah sebagai berikut: Supervisi proyek memberikan brief kepada semua anggota tim animator. Hal ini mencakup pembahasan tujuan proyek, jalan cerita proyek, sampai pembagian kerja per shot per animator. Setelah mendapatkan tugas dan asset tokoh untuk film sudah selesai, para animator kemudian langsung mengerjakan bagian masing-masing. Saat proses pengerjaan sudah selesai, animator akan melalui tahap approval melalui lead animator. Saat sudah disetujui, hasil kerja para animator akan masuk ke tahap selanjutnya, yaitu tahap lighting dan render.

Gambar 3.1 Alur Koordinasi (Sumber: Dokumen Pribadi)

(2)

6 3.2 Tugas yang Dilakukan

Berikut adalah tabel uraian tugas yang dikerjakan penulis selama melaksanakan kerja magang sebagai 3D animator di studio animasi Viva Fantasia.

Tabel 3.1 Uraian Tugas yang Dikerjakan Penulis

No. Minggu Proyek Keterangan

1. 1 Action Mice Splining animation: Scene 05 (Shot 06, 07, 08, 17, 18, 20, 21, dan 23).

2. 2 Action Mice

Splining animation: Scene 03 (Shot 04);

Scene 06 (Shot 01, 05, dan 06); serta Scene 07 (Shot 07).

3. 3 Action Mice Splining dan Polishing animation: Scene 07 (Shot 08).

4. 4 Action Mice

Splining dan Polishing animation: Scene 05 (Shot 06, 07, dan 08); serta Scene 07 (Shot 08).

5. 5 Action Mice

Polishing animation: Scene 05 (Shot 19, 20, 21, dan 23); Scene 06 (Shot 01); Scene 07 (Shot 05 dan 07); serta Idle animation Iron Weasel.

6. 6 Action Mice dan Tiger Bayu

Polishing animation Action Mice: Scene 05 (Shot 19, 20, dan 23); Scene 06 (Shot 02); serta Scene 07 (Shot 07).

Test Rig Tiger Bayu: Tokoh Bayu dan Lian.

7. 7 Tiger Bayu Blocking animation: Shot 04.

8. 8 Tiger Bayu Blocking dan Blocking Plus animation:

Shot 04.

9. 9 Tiger Bayu Splining dan Polishing animation: Shot

04.

(3)

7 10. 10 Tiger Bayu dan

Action Mice

Polishing animation: Shot 04.

Revisi animasi: Action Mice.

11. 11 Action Mice Revisi animasi.

3.3 Uraian Pelaksanaan Kerja Magang

Penulis menempati posisi 3D animator selama melaksanakan kerja magang di studio animasi Viva Fantasia. Sebagai seorang 3D animator, penulis bertugas untuk menggerakkan asset tokoh yang sudah dibuat oleh modeler, beserta asset properti yang berinteraksi secara langsung dengan tokoh dalam film. Selain itu, penulis juga bertugas untuk mengatur gerak kamera, mengikuti rancangan shot yang sudah diberikan saat proses briefing. Hal-hal tersebut digerakkan dengan perangkat lunak komputer guna menciptakan kesan hidup bagi tokoh dalam film dan sekitarnya, sekaligus menyampaikan cerita dalam film. Setelah proses animasi selesai, animator akan memberikan hasil kerjanya ke supervisi untuk melalui proses approval, sebelum akhirnya diserahkan ke lighting artist.

3.3.1 Proses Pelaksanaan

Selama melaksanakan kerja magang di studio animasi Viva Fantasia, penulis bekerja sebagai seorang 3D animator dan sudah mengerjakan dua proyek, yaitu Action Mice dan Tiger Bayu. Saat menggerakkan tokoh atau properti dalam film, penulis membagi tahap kerja menjadi empat bagian, yaitu tahap blocking, blocking plus, splining, dan polishing. Blocking adalah tahap penentuan pose utama (key pose) yang paling ekstrim pada suatu rangkaian gerakan tokoh.

Selanjutnya, blocking plus adalah tahap di mana pose antara pose utama satu ke pose utama lainnya (disebut inbetween) ditambahkan. Blocking plus sudah mencakup penerapan prinsip-prinsip animasi, termasuk prinsip follow through dan overlapping action. Berikutnya, splining adalah tahap di mana semua pose yang sudah diciptakan dalam dua tahap sebelumnya, diubah menjadi lebih mulus dengan interpolasi hasil hitungan perangkat lunak secara otomatis. Pada tahap ini, animator memodifikasi grafik gerakan tokoh sesuai dengan keinginan dan tujuan.

Terakhir adalah tahap polishing, di mana animator memperhatikan hal-hal detail,

(4)

8 seperti adanya face/mesh yang tembus, kemudian memperbaikinya untuk hasil yang maksimal.

3.3.1.1 Action Mice

Action Mice adalah proyek kerja sama antara studio animasi Viva Fantasia dengan klien dari Amerika Serikat, yaitu Global Genesis dan Gaelstone.

Hasil akhir dari proyek ini adalah sebuah trailer untuk film seri action dengan judul yang sama, yang sedang dalam tahap pitching. Action Mice bercerita tentang kisah sekelompok tikus humanoid (berwujud dan bergerak seperti manusia), yang terdiri dari Whisker, Chunk, Pika, dan Silhouette, yang sedang dalam misi untuk menyelamatkan satu ekor tikus lainnya, yaitu Quartermaster yang memiliki sebuah robot bernama Supply Chain. Dalam menjalankan misi mereka, keenamnya diadang oleh musuh bernama Iron Weasel.

Gambar 3.2 Enam Tokoh Tikus Humanoid dalam Proyek Action Mice (Viva Fantasia, 2019)

1. Briefing

Action Mice adalah proyek pertama yang diberikan kepada

penulis saat mulai melaksanakan kerja magang di studio animasi

(5)

9 Viva Fantasia. Penulis awalnya diberitahu deskripsi proyek secara singkat, sekaligus diperlihatkan animatic dari proyek ini.

Setelah animatic ditunjukkan, penulis kemudian diberitahu tata cara penyimpanan dan penamaan file dalam folder di komputer.

Pengerjaan animasi di studio animasi Viva Fantasia menggunakan perangkat lunak Autodesk Maya. Saat penulis mulai melaksanakan kerja magang di studio animasi Viva Fantasia, proyek Action Mice sudah tengah dikerjakan. Karena itu, tahap blocking sudah lebih dahulu diselesaikan oleh para animator di studio animasi Viva Fantasia, dan penulis langsung melanjutkan pekerjaan ke tahap splining.

Di antara banyak shot yang penulis kerjakan, salah satu shot yang cukup menarik dan rumit adalah shot 08 dari scene 07.

Pada shot ini, penulis harus menggerakkan keenam tokoh dalam shot kontinu, bersama dengan tiga tokoh Iron Weasel. Shot diawali dengan gerakan Supply Chain, sebuah robot, yang terbang masuk ke dalam frame. Setelah itu, Supply Chain menebas tiga ekor Iron Weasel yang menghalangi jalannya. Shot kemudian diakhiri dengan Supply Chain berjalan mendekat ke arah Whisker, Chunk, Pika, dan Silhouette yang sedang melingkar dan menyaksikan aksi Supply Chain.

2. Splining

Dari animasi blocking yang dikerjakan oleh para animator

sebelum penulis mulai melaksanakan kerja magang, penulis

langsung mengerjakan tahap splining. Di tahap ini, penulis

memodifikasi beberapa hasil kerja animator sebelumnya sesuai

dengan pemahaman penulis untuk menghasilkan animasi yang

lebih maksimal. Hal pertama yang penulis modifikasi adalah

gerak kamera dan penempatan keenam tokoh dalam shot. Karena

(6)

10 shot sangat padat diisi oleh banyak tokoh, maka staging adalah salah satu hal yang krusial dalam shot ini. Penulis menempatkan semua tokoh dalam shot sedemikian rupa, sehingga tidak ada tokoh yang saling menutupi satu sama lain.

Gambar 3.3 Scene 07 Shot 08 dengan Enam Tokoh dalam Satu Frame (Viva Fantasia, 2019)

Selain gerakan kamera dan penempatan tokoh, penulis juga menambahkan beberapa inbetween (pose tambahan) di antara key pose yang sudah dikerjakan animator sebelum penulis.

Penempatan inbetween ini berlaku untuk semua tokoh yang ada dalam shot. Setelah itu, semua gerakan yang sudah diciptakan dalam perangkat lunak diubah menjadi mode spline atau auto tangent (splining). Hal ini menghasilkan gerakan tokoh yang halus mengikuti hasil hitungan komputer. Penulis kemudian memodifikasi beberapa grafik melalui jendela graph editor di perangkat lunak Autodesk Maya, untuk menghasilkan gerakan yang lebih halus.

3. Polishing

Untuk scene 07 shot 08 proyek Action Mice, penulis

menambahkan beberapa hal di tahap polishing. Pertama, penulis

menambahkan gerakan kedipan mata untuk masing-masing tokoh

(7)

11 dalam shot agar tercipta kesan kehidupan. Selain itu, gerakan bernafas (idle) juga penulis tambahkan untuk memperkuat kesan kehidupan pada masing-masing tokoh dalam shot. Terakhir, penulis memperhatikan beberapa faces/mesh yang terlihat tembus setelah tahap splining, seperti telinga tokoh Iron Weasel yang menembus keluar dari topeng yang digunakan.

4. Revisi

Setelah tahap animasi selesai, semua shot yang ada dalam proyek Action Mice ini dikirimkan kembali ke klien untuk kemudian direvisi. Untuk scene 07 shot 08 yang penulis kerjakan, klien mengatakan bahwa gerakan tokoh robot Supply Chain masih terlalu kaku dan terasa sangat ringan. Tokoh Supply Chain seperti tidak memiliki massa karena gerakan yang terlalu cepat.

Selain itu, klien juga meminta agar gerakan Supply Chain saat mendarat dibuat lebih berdampak. Klien ingin agar saat tokoh Supply Chain mendarat, sang tokoh terlihat lebih kuat, sehingga beberapa Iron Weasel di sekitarnya terhempas.

Penulis pun mengerjakan revisi shot ini dengan

menambah efek guncangan pada gerakan kamera saat tokoh

Supply Chain mendarat. Selain itu, timing dan pose Supply Chain

juga penulis ubah agar proses mendarat terasa lebih cepat, kuat,

dan kokoh. Hal berikutnya, penulis juga membuat langkah tokoh

Supply Chain saat berjalan menjadi lebih pelan dengan

punggung, bahu, dan kepala yang sedikit membungkuk ke depan

saat kaki tokoh Supply Chain menyentuh tanah.

(8)

12

Gambar 3.4 Scene 07 Shot 08 Tokoh Supply Chain saat Mendarat

(Viva Fantasia, 2019)

3.3.1.2 Tiger Bayu

Tiger Bayu adalah proyek milik studio animasi Viva Fantasia sendiri.

Hasil akhir dari proyek ini adalah trailer berdurasi sekitar 30 detik yang

memperkenalkan tokoh-tokoh dalam Tiger Bayu, seperti Bayu, Lian,

Yuda, Maya, Deva, Tiger Bayu, dan Komo. Bayu, Lian, Yuda, dan Maya

adalah sekelompok anak yang masing-masing memiliki karakter dan

kekuatan berbeda-beda: Bayu, tipikal protagonis yang optimis, memiliki

kemampuan berubah menjadi seekor harimau (Tiger Bayu); Lian, anak

perempuan yang paling dewasa di antara kelompok tersebut, memiliki

kemampuan untuk mengendalikan elemen petir; Yuda, yang memiliki

karakter cool dan ambisius, memiliki kemampuan dalam hal kognitif dan

mekanik; serta Maya, tokoh yang paling muda dan kekanak-kanakan,

memiliki kemampuan untuk bergerak secara cepat. Keempat tokoh

tersebut dilatih oleh seekor kucing bernama Deva. Terakhir, Komo adalah

tokoh antagonis yang berwujud seekor komodo.

(9)

13

Gambar 3.5 Lima Tokoh Utama Tiger Bayu

(Viva Fantasia, 2019)

1. Briefing

Tiger Bayu adalah proyek kedua yang penulis kerjakan selama melaksanakan kerja magang di studio animasi Viva Fantasia.

Pada tahap briefing, penulis ditunjukkan animatic yang sudah disusun oleh tim konsep. Setelah itu, penulis juga dijelaskan tentang tokoh-tokoh dalam Tiger Bayu beserta karakteristiknya masing-masing. Terakhir, penulis diberi tugas untuk menggerakkan satu shot, yaitu shot 04. Shot ini menunjukkan reaksi empat tokoh utama: Bayu, Lian, Yuda, dan Maya, setelah disuruh belajar oleh Deva, kucing yang melatih mereka.

Bayu bereaksi dengan helaan nafas dan ekspresi bingung. Bayu kesal dan tidak percaya jika ia disuruh belajar.

Lian, di sisi lain, secara terpaksa menerima perintah Deva untuk

belajar. Yuda, berbanding terbalik, justru terlihat bahagia dan

(10)

14 antusias saat disuruh belajar. Terakhir, tokoh Maya bereaksi dengan menangis setelah disuruh belajar.

2. Blocking

Pada tahap blocking, penulis menempatkan kamera dalam scene.

Untuk shot ini, kamera tidak bergerak sama sekali. Selain itu, penulis menciptakan pose utama (key pose) untuk masing-masing tokoh dalam shot. Pose ini mencakup pose antisipasi dan pose ekstrim. Untuk mencapai tujuan shot, penulis membuat video referensi gerakan untuk masing-masing tokoh. Selain itu, penulis juga mencari foto-foto dan video referensi di internet.

Gambar 3.6 Video Referensi Gerakan Tokoh Yuda (Sumber: Dokumen Pribadi)

3. Blocking Plus

Penulis pertama kali belajar tentang tahap blocking plus secara

lebih mendalam saat mengerjakan proyek Tiger Bayu ini.

(11)

15 Awalnya, penulis hanya menambahkan satu atau dua inbetween antara dua key poses dengan tujuan menciptakan arcs. Saat ditugaskan untuk mengerjakan proyek Tiger Bayu, penulis diberitahu bahwa pada tahap blocking plus setidaknya diperlukan dua atau tiga inbetween dengan sudah menerapkan semua prinsip animasi, terutama follow through dan overlapping action. Penulis kemudian mempelajari lebih lanjut tentang tahap blocking plus lewat video tutorial di internet.

Setelah penulis paham tentang tahap blocking plus, penulis memutuskan untuk meletakkan keyframe setiap dua atau tiga frame sebagai inbetween. Inbetween di sini mencakup gerakan bagian tubuh utama: kepala, leher, bahu, lengan, perut, panggul, dan kaki; serta gerakan bagian tubuh tambahan:

ekspresi, rambut, dan aksesoris pakaian. Pada tahap blocking plus, gerakan semua tokoh sudah mencapai 70% dari selesai secara sempurna.

4. Splining

Pada tahap splining, penulis hanya mengubah mode tangents

masing-masing keyframe yang sudah dikerjakan, dari mode

stepped (patah-patah; tidak ada interpolasi hitungan komputer

antar-keyframe) menjadi spline/auto (halus; dengan interpolasi

hitungan komputer antar-keyframe). Setelah itu, penulis juga

menghapus beberapa keyframe yang tidak diperlukan, dan

menambahkan gerakan overshoot (gerakan ekstrim sebelum

akhirnya tokoh berhenti di pose utama). Terakhir, penulis

memodifikasi beberapa grafik gerakan agar gerakan tokoh dalam

shot menjadi lebih halus dari segi arcs. Tahap splining adalah

tahap di mana penulis tidak banyak menghabiskan waktu kerja,

(12)

16 karena gerakan masing-masing tokoh sudah sebagian besar selesai di tahap blocking plus.

5. Polishing

Setelah tahap splining, penulis kemudian masuk ke tahap pengerjaan polishing. Pada tahap ini, penulis memperhatikan bagian-bagian faces/mesh yang terlihat tembus dari perspektif kamera. Beberapa bagian yang terlihat tembus terdapat di bagian wajah tokoh karena masalah rig. Karena terlihat cukup jelas di kamera, penulis memggeser vertex yang terlihat menembus keluar dari wajah untuk menyembunyikan bagian yang tembus tersebut.

Selain itu, penulis juga memperhatikan detail-detail kecil untuk mendukung gerakan tokoh dalam shot. Dalam kasus ini, hal detail yang penulis maksud terdapat di bagian aksesoris pakaian Maya yang menggantung dan rambut tokoh Lian dan Maya yang panjang. Terakhir, penulis juga memperhatikan gerakan kedipan mata tokoh agar tokoh terasa hidup.

Gambar 3.7 Shot 04 Final (Viva Fantasia, 2019)

(13)

17 6. Revisi

Pada proyek Tiger Bayu ini, revisi tidak hanya dilakukan di akhir tahap polishing setelah animasi dianggap selesai secara sempurna. Tahap revisi dilakukan di akhir setiap keempat tahap animasi di atas (dari blocking sampai polishing) agar proses pengerjaan maupun revisi menjadi lebih mudah dan efisien. Di tahap blocking, penulis mengalami beberapa kali proses revisi karena pose utama yang penulis ciptakan masih kurang sesuai dengan tujuan shot dan keinginan supervisi proyek. Meskipun begitu, proses revisi masih tergolong relatif mudah bagi penulis dikarenakan keyframe yang belum banyak jumlahnya di tahap blocking.

Selanjutnya, di tahap blocking plus, penulis mengalami proses revisi sebelum penulis paham tentang tahap blocking plus.

Hal ini dikarenakan inbetween yang dibuat penulis masih sedikit jumlahnya dan belum memperhatikan semua prinsip animasi. Di tahap splining, penulis mengalami proses revisi karena arcs yang masih kurang halus di bagian gerakan tangan Bayu dan Yuda.

Terakhir di tahap polishing, penulis tidak melalui proses revisi lagi.

3.3.2 Kendala yang Ditemukan

Berikut adalah kendala yang ditemukan penulis saat melaksanakan kerja magang di studio animasi Viva Fantasia:

1. Penulis belum paham secara jelas bagaimana pembagian tahapan kerja dalam proses animasi. Batasan antara tahap blocking, splining, dan polishing masih buram bagi penulis. Hal ini menyebabkan penulis kebingungan saat awal mulai mengerjakan tugas pertama di studio animasi Viva Fantasia.

2. Penulis belum paham sistem kerja, tata cara penamaan serta penyimpanan

file untuk proyek-proyek yang dikerjakan di studio animasi Viva Fantasia.

(14)

18 Hal ini menyebabkan penulis menjadi kurang efisien dalam bekerja karena masih memerlukan waktu untuk mengingat dan memperbaiki kesalahan penamaan maupun penyimpanan file.

3. Penulis mengalami kesulitan saat harus pertama kali beradaptasi dengan proyek Action Mice yang sudah setengah berjalan. Penulis tidak tahu pasti tentang maksud animator sebelumnya membuat blocking gerakan tertentu, sehingga penulis menjadi ragu-ragu untuk melanjutkan pekerjaan ke tahap splining.

4. Penulis cukup sulit beradaptasi dengan lingkungan kerja di studio animasi Viva Fantasia di hari awal melaksanakan kerja magang. Hal ini menyebabkan penulis menjadi ragu untuk bertanya tentang berbagai hal kepada rekan animator.

3.3.3 Solusi Atas Kendala yang Ditemukan

Berikut adalah solusi atas kendala yang ditemukan penulis selama melaksanakan kerja magang di studio animasi Viva Fantasia:

1. Penulis bertanya kepada supervisi dan rekan kerja animator tentang pembagian tahapan kerja dalam animasi. Selain itu, penulis juga menonton lebih banyak video penjelasan di internet.

2. Penulis bertanya kepada supervisi proyek dan membiasakan diri untuk mengikuti tata cara penamaan dan penyimpanan file, sehingga hal tersebut dapat diingat penulis seiring berjalannya waktu.

3. Penulis bertanya kepada supervisi proyek dan rekan kerja animator. Selain itu, penulis juga sering menginformasikan keadaan terbaru pekerjaan penulis kepada tim animator agar pipeline kerja menjadi jelas dan tidak berantakan dengan hadirnya penulis. Penulis juga membaca catatan yang dituliskan animator sebelumnya tentang shot yang sudah ia kerjakan.

4. Penulis berusaha membuka diri untuk mengenal rekan kerja animator lebih

baik, sehingga penulis dapat bekerja sama dan berkomunikasi dengan

lebih nyaman.

Gambar

Gambar 3.1 Alur Koordinasi  (Sumber: Dokumen Pribadi)
Tabel 3.1  Uraian Tugas yang Dikerjakan Penulis
Gambar 3.2  Enam Tokoh Tikus Humanoid dalam Proyek Action Mice  (Viva Fantasia, 2019)
Gambar 3.3 Scene 07 Shot 08 dengan Enam Tokoh dalam Satu Frame  (Viva Fantasia, 2019)
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pada hari pertama penulis melaksanakan kerja magang di PT Frisidea Tech Indonesia kerjaan yang diberikan oleh Ibu Lena sebagai pembimbing penulis dalam melaksanakan kerja magang

Selama penulis melaksanakan praktek kerja magang dalam periode waktu 3 bulan, penulis mengerjakan beberapa proyek yang antara lain adalah membuat storyboard video promosi

Untuk tombol forgot password, jika user menekan tombol tersebut, user akan diarahkan ke halaman forgot password yang akan ditunjukkan pada Gambar 3.13... 12

Dalam pelaksanaan praktik kerja magang, intern memiliki kesempatan untuk magang di ranah digital yaitu sebagai E-commerce Intern dengan mengerjakan pekerjaan sebagai

Selama melakukan praktik kerja magang di Kanoo Studio, penulis dipercayakan untuk mengerjakan berbagai tugas, tugas utama yang dilakukan oleh penulis adalah segala tugas

Alasan penulis memilik untuk melakukan kerja magang di Gambir Studio adalah karena studio tersebut bekerja didalam bidang game development dan penulis mengambil kerja

Penulis juga melakukan perubahan lagi seperti menggerakkan kepala kambing yang ada pada logo, serta memberi efek suara ambience peternakan dan suara kambing dengan

Pada company website PT Lippo Malls Indonesia, pengguna yang melakukan kunjungan pada alamat website akan langsung diberikan tampilan utama dari website yang