• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

1.1 Pengertian dan Ruang Lingkup

Petunjuk teknis sistem pencahayaan buatan dimaksudkan untuk digunakan sebagai pegangan bagi para perancang dan pelaksana pembangunan gedung didalam gedung dan dalam mengoperasikan serta memelihara sistem pencahayaan buatan.

Agar diperoleh sistem pencahayaan buatan yang sesuai dengan syarat kesehatan,kenyamanan,keamanan dan memenuhi ketentuan yang berlaku untuk bangunan gedung. Standar ini mencakup persyaratan minimal sistem pencahayaan buatan dalam bangunan gedung.

2.1.1 Acuan.

a). National Electric Code (NEC).

b). Illuminating Engineering Society (IES).

c). International Electrotechnical Commission (IEC).

d). Australian Standard.

(2)

2.1.2 Istilah dan definisi.

a. Armatur

Rumah lampu yang digunakan untuk mengendalikan dan mendistribusikan cahaya yang dipancarkan oleh lampu yang dipasang didalamnya,dilengkapi dengan peralatan untuk melindungi lampu dan peralatan pengendali listrik.

Gambar 2.1 lampu TL dan armature

b. Balast

Alat yang dipasang pada lampu TL dan lampu pelepasan gas untuk membuat arus listrik dalam pengoperasian lampu-lampu tersebut dan biasanya berat tetapi sekarang sudah lebih praktis dan ringan .

(3)

c. Koefisien depresiasi

Perbandingan antara tingkat pencahayaan setelah jangka waktu tertentu dari instalasi pencahayaan digunakan terhadap tingkat pencahayaan pada waktu instalasi baru.

d. Koefisien penggunaan

Perbandingan antara fluks luminus yang sampai di bidang kerja terhadap fluks luminus yang dipancarkan oleh semua lampu.

e. Renderasi warna

Efek psikofisik suatu sumber cahaya atau lampu terhadap warna obyek-obyek yang diterangi,dinyatakan dalam suatu angka indeks yang diperoleh berdasarkan perbandingan dengan efek warna sumber cahaya referensi pada kondisi yang sama.

f. Rentang efikasi

Rentang angka perbandingan antara fluks luminus dengan daya listrik masukan (lumen/watt).

g.Rugi-rugi balast

Rendemen atau kehilangan daya listrik (dalam watt) akibat pemasangan balast.

(4)

2.2. Persyaratan umum pencahayaan

2.2.1. Pencahayaan buatan harus memenuhi:

Tingkat pencahayaan minimal yang direkomendasikan tidak boleh kurang dari tingkat pencahayaan pada tabel 1. Daya listrik maksimum per meter persegi tidak boleh melebihi nilai sebagaimana tercantum pada tabel 2 kecuali : pencahayaan untuk bioskop,siaran TV,presentasi audio visual dan semua fasilitas hiburan yang memerlukan pencahayaan sebagai elemen teknologi utama dalam pelaksaanan fungsinya,pencahayaan khusus untuk bidang kedokteran, fasilitas olahraga dalam ruangan (indoor),pencahayaan yang diperlukan untuk pameran di galeri,museum,dan monumen,pencahayaan luar untuk monumen, pencahayaan khusus untuk penelitian di Laboratorium, pencahayaan darurat, ruangan yang mempunyai tingkat keamanan dengan risiko tinggi yang dinyatakan oleh peraturan atau oleh petugas keamanan dianggap memerlukan pencahayaan tambahan, ruangan kelas dengan rancangan khusus untuk orang yang mempunyai penglihatan yang kurang, atau untuk orang lanjut usia,pencahayaan untuk lampu tanda arah dalam bangunan gedung; jendela peraga pada toko/etalase,kegiatan lain seperti agro industri (rumah kaca), fasilitas pemrosesan dan lain-lain.

Pengunaan energi yang sehemat mungkin dengan mengurangi daya terpasang,melalui pemilihan lampu yang mempunyai efikasi lebih tinggi dan menghindari pemakaian lampu dengan efikasi rendah. Dianjurkan menggunakan lampu fluoresen dan lampu pelepasan gas lainnya,pemilihan

(5)

armatur yang mempunyai karakteristik distribusi pencahayaan sesuai dengan penggunaannya,mempunyai efisiensi yang tinggi dan tidak mengakibatkan silau atau refleksi yang mengganggu, pemanfaatan cahaya alami siang hari.

Tabel 2.1. Tingkat pencahayaan rata-rata,renderansi dan temperatur warna yang direkomendasikan pada Rumah Tinggal.

Tingkat Kelompok

Fungsi ruangan Pencahayaan renderasi Keterangan

(lux) warna

Teras 60 1 atau 2

Ruang tamu 120 ~ 250

Ruang makan 120 ~ 250 1 atau 2

Ruang kerja 120 ~ 250 1

Kamar tidur 120 ~ 250 1 atau 2

Kamar mandi 250 1 atau 2

Dapur 250 1 atau 2

Garasi 60 3 atau 4

(6)

Tabel 2.2. Tingkat pencahayaan rata-rata,renderansi dan temperatur warna yang direkomendasikan pada Perkantoran.

Tingkat Kelompok

Fungsi ruangan Pencahayaan renderasi Keterangan

(lux) warna

Ruang Direktur 350 1 atau 2

Ruang kerja 350 1 atau 2

Ruang komputer 350 1 atau 2 Gunakan armatur berkisi untuk

mencegah silau akibat

pantulan

layar monitor.

Ruang rapat 300 1 atau 2 Gunakan pencahayaan

setempat

Ruang gambar 750 1 atau 2 pada meja gambar.

Gudang arsip 150 3 atau 4

Ruang arsip aktif 300 1 atau 2

(7)

Tabel 2.3. Tingkat pencahayaan rata-rata,renderansi dan temperatur warna yang direkomendasikan pada Hotel dan Restoran.

Tingkat Kelompok

Fungsi ruangan Pencahayaan renderasi Keterangan

(lux) warna

Hotel dan

Restauran

Lobby, koridor 100 1 Pencahayaan pada bidang

vertikal

sangat penting untuk

menciptakan

suasana/kesan ruang yang

baik.

Ballroom/ruang

sidang. 200 1 sistem pengendalian

“switching” dan

“dimming” dapat digunakan

untuk

memperoleh berbagai efek

pencahayaan.

Ruang makan. 250 1

Cafetaria. 250 1

Kamar tidur. 150 1 atau 2 Diperlukan lampu tambahan

pada

bagian kepala tempat tidur

dan cermin

Dapur. 300 1

(8)

Tabel 2.4. Tingkat pencahayaan rata-rata,renderansi dan temperatur warna yang direkomendasikan pada Rumah sakit.

Tingkat Kelompok

Fungsi ruangan Pencahayaan renderasi Keterangan

(lux) warna

Rumah Sakit/Balai

pengobatan

Ruang rawat inap. 250 1 atau 2

Ruang operasi,

ruang bersalin. 300 1

Laboratorium 500 1 atau 2

Ruang rekreasi

dan

rehabilitasi. 250 1

2.3 Pencahayaan alami

Pencahayaan alami siang hari harus memenuhi ketentuan sebagai berikut a) Cahaya alami siang hari harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

b) Dalam pemanfaatan cahaya alami,masuknya radiasi matahari langsung ke dalam bangunan harus dibuat seminimal mungkin.Cahaya langit harus diutamakan dari pada cahaya matahari langsung.

c) Pencahayaan alami siang hari dalam bangunan gedung harus memenuhi ketentuan untuk rumah dan gedung.

(9)

2.4 Prosedur perhitungan dan optimasi pemakaian daya listrik

Prosedur umum perhitungan besamya pemakaian daya listrik untuk sistem pencahayaan buatan dalam rangka penghematan energi sebagai berikut (gbr. 2.1)

a) Tentukan tingkat pencahayaan rata-rata (lux) sesuai dengan fungsi ruangan (tabel 2.1 - 2.4).

b) Tentukan sumber cahaya (jenis lampu) yang paling efisien (efikasi tinggi) sesuai dengan penggunaan termasuk renderasi warnanya.

c) Tentukan armatur yang efisien.

d) Tentukan tata letak armatur dan pemilihan jenis,bahan,dan warna permukaan ruangan (dinding,lantai,langit-langit).

e) Hitung jumlah Fluks luminus (lumen) dan jumlah lampu yang diperlukan.

f) Tentukan jenis pencahayaan, merata atau setempat.

g) Hitung jumlah daya terpasang dan periksa apakah daya terpasang per meter persegi tidak melampaui angka maksimum yang telah ditentukan seperti pada ( tabel 2.1 - 2.4 ).

h) Rancang sistem pengelompokan penyalaan sesuai dengan letak lubang cahaya yang dapat dimasuki cahaya alami siang hari.

i) Rancang sistem, pengendalian penyalaan yang dapat menyesuaikan atau memanfaatkan pencahayaan alami secara maksimal yang masuk ke dalam ruangan.

(10)

2.5. Kualitas warna cahaya

2.5.1 Warna cahaya lampu (Correlated Colour Temperature = CCT).

Warna cahaya lampu tidak merupakan indikasi tentang efeknya terhadap warna obyek,tetapi lebih kepada memberi suasana.Warna cahaya lampu dikelompokkan menjadi :

a) Warna putih kekuning-kuningan (warm-white),kelompok 1 (< 3.300 K);

b) Warna putih netral (cool-white),kelompok 2 ( 3.300 K - 5.300 K),Warna putih (dayligho, kelompok 3 (> 5.300 K).

Pemilihan warna lampu bergantung pada tingkat iluminansi yang diperlukan agar diperoleh pencahayaan yang nyaman. Makin tinggi tingkat iluminansi yang diperlukan, maka warna lampu yang digunakan adalah jenis lampu dengan CCT sekitar > 5.000 K (daylight) sehingga tercipta pencahayaan yang nyaman. Sedangkan untuk kebutuhan tingkat iluminansi yang tidak terlalu tinggi,maka warna lampu yang digunakan <

3.300 K (warm white).

2.5.2. Renderasi warna

Efek suatu lampu kepada warna obyek akan berbeda-beda.

Lampu diklasifikasikan dalam kelompok renderasi warna yang dinyatakan dengan Ra indeks. sebagai berikut:

a) Efek warna kelompok 1: Ra indeks 80 - 100%.

b) Efek warna kelompok 2: Ra indeks 60 80%.

c) Efek warna kelompok 3: Ra indeks 40 - 60%.

(11)

d) Efek warna kelompok 4: Ra indeks < 40%. 5.2.

Perhitungan tingkat pencahayaan alami siang hari Perancangan pencahayaan alami yang hemat energi dilakukan sebagai berikut:

- tentukan faktor pencahayaan siang hari atau faktor langit minimum yang diperlukan pada titik yang dipilih sesuai dengan fungsi ruangan.

-gunakan Cara perhitungan faktor langit dan faktor pencahayaan siang hari sesuai SNI 03-12396-1991 tentang "Tata cara perancangan penerangan alami siang hari untuk rumah dan gedung".

-tentukan lubang cahaya yang dapat di buka sesuai ketentuan ventilasi.

Gambar

Gambar 2.1  lampu  TL dan armature
Tabel  2.1. Tingkat pencahayaan rata-rata,renderansi dan temperatur warna  yang direkomendasikan pada Rumah Tinggal
Tabel  2.2.  Tingkat pencahayaan rata-rata,renderansi dan temperatur warna yang  direkomendasikan pada Perkantoran
Tabel 2.3.  Tingkat pencahayaan rata-rata,renderansi dan temperatur warna yang  direkomendasikan pada Hotel dan Restoran
+2

Referensi

Dokumen terkait

Pembelajaran yang dilakukan kebanyakan hanya berpusat pada guru ( teacher oriented ) yang sering juga dikenal dengan pembelajaran langsung. Dimana cara ini dinilai

Menurut model PRECEDE-PROCEED penilaian kebutuhan mencakup identifikasi masalah kesehatan (Tahap 1 dan Tahap 2), faktor risiko perilaku dan lingkungan (Tahap 3), faktor

Merek, Kualitas Layanan dan Promosi Terhadap Kepuasan Pelanggan Dengan Memperhatikan Strategi Bersaing Sebagai Variabel Intervening Pada Konsumen Pegipegi.com, maka

- * Bagi pelamar posisi Pelaksana Pengamanan Bandara (Avsec) dan Pertolongan Kecelakaan Penerbangan – Pemadam Kebakaran (PKP-PK) dengan lokasi seleksi KCU Bandara Soekarno Hatta

Model Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) merupakan salah satu model yang dapat digunakan pada pendidikan kejuruan atau SMK untuk meningkatkan proses evaluasi

Ketiga, manusia tidak membiarkan dirinya digerakkan oleh nafsu-nafsu, emosi- emosi, perasaan-perasaan, kecondongan- kecondongan, melainkan diatur suatu pedoman (toddo),

Selanjutnya Edney juga menambahkan bahwa diperolehnya kontrol personal merupakan dasar pengembangan identitas personal (Holahan, 1982). Berdasarkan pendapat para ahli tersebut

Dengan menggunakan metode penelusuran diatas didapatkan dua studi dengan uji klinis mengenai pemberian G-CSF pada pasien acute on chronic liver failure dan