• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asuhan Keperawatan Umum Kifosis Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Asuhan Keperawatan Umum Kifosis Indonesia"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Asuhan Keperawatan Umum Kifosis 1. Pengkajian

A. Anamnesa

a) Data demograf

Kifosis kongenital dan Scheuermann biasa ditemukan sejak usia muda karena kelainan telah terjadi sejak dalam kandungan dimana pembentukan tulang belakang tidak sempurna. Kifosis postural terjadi secara sekunder dan biasanya terjadi pada usia remaja dan dewasa.

b) Keluhan utama

Keluhan yang dirasakan biasanya nyeri punggung dan penat. c) Riwayat penyakit sekarang

Nyeri dikaji (PQRST). Sudah berapa lama keluahan dirasakan, progresiftas, dan usaha penanganan yang telah dilakukan. d) Riwayat kesehatan masa lalu.

Pengalaman kecelakaan atau trauma fsik, penyakit yang pernah diderita, seperti osteoporosis, riwayat pembedahan tulang belakang merupakan hal penting yang berhubungan dengan kejadian kifosis.

e) Riwayat penyakit keluarga

Kifosis Scheuerman merupakan penyakit idiopatik dimana penyebab utama belum diketahui secara jelas, namun ada kemungkinan penyakit ini bisa diturunkan.

f) Riwayat perkembangan.

Pada kifosis kongenital kelainan bentuk tubuh mungkin sudah bisa terlihat. Saat kehamilan, pertumbuhan dan perkembangan tuang belakang janin sudah bisa dilihat dengan USG.

g) Riwayat pekerjaan.

Kifosis postural bisa terjadi sebagai komplikasi dari cedera yang mungkin terjadi berhubungan dengan pekerjaan.

h) Kebiasaan yang berhubungan dengan kesehatan

Riwayat sering memikul beban berat dimasa lalu bisa menjadi penyebab kifosis.

i) Riwayat nutrisi.

Pemenuhan kebutuhan nutrisi yang baik, terutama kalsium dan fosfor berperan penting untuk kekuatan tulang dan

keseimbangan tubuh.

j) Riwayat psikososial spiritual.

Kaji respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya, peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam

keluarganya maupun dalam masyarakat.

B. Pemeriksaan fsik

a) Mengkaji skelet tubuh

Adanya deformitas dan kesejajaran. Pertumbuhan tulang yang abnormal akibat tumor tulang. Pemendekan

(2)

panjang atau gerakan pada titik selain sendi biasanya menandakan adanya patah tulang.

b) Mengkaji tulang belakang

Kifosis (deviasi kearah luar kurvatura servikal lumbal melebihi batas fsiologis)

c) Mengkaji sistem persendian

Luas gerakan dievaluasi baik aktif maupun pasif, deformitas, stabilitas, dan adanya benjolan, adanya kekakuan sendi.

d) Mengkaji sistem otot

Kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot dan koordinasi, dan ukuran masing-masing otot. Lingkar ekstremitas untuk memantau adanya edema atau atrof, nyeri otot.

e) Mengkaji cara berjalan

Adanya gerakan yang tidak teratur dianggap tidak normal. Bila salah satu ekstremitas lebih pendek dari yang lain. Berbagai kondisi neurologis yang berhubungan dengan cara berjalan abnormal (misalnya cara berjalan spastic

hemiparesis - stroke, cara berjalan selangkah-selangkah – penyakit lower motor neuron, cara berjalan bergetar – penyakit Parkinson).

f) Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer

Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya suhu yang lebih panas atau lebih dingin dari lainnya dan adanya edema. Sirkulasi perifer dievaluasi dengan mengkaji denyut perifer, warna, suhu dan waktu pengisian kapiler.

2. Pemeriksaan diagnostik

a. Sinar X. Pemeriksaan ini digunakan untuk mengukur dan menilai kebengkokan, serta sudutnya.

b. Magnetic resonance imaging (MRI) c. Computed tomography scan (CT Scan) d. Pemeriksaan darah

3. Diagnosa Keperawatan

a. Ketidakefektifan pola Napas b.d Deformitas tulang b. Nyeri akut b.d. agen cidera fsik (trauma)

c. Hambatan mobilitas fsik b.d gangguan muskuloskeletal

d. Gangguan citra tubuh b.d perubahan fungsi tubuh (karena penyakit) e. Harga diri rendah situasional b.d Gangguan fungsi

4. Intervensi Keperawatan

Diagnosa Keperawatan

NOC NIC

Ketidakefektifan pola Napas b.d Deformitas tulang (00032)

Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam ..x24 jam pola

1. Monitor Pernafasan

(3)

Domain 4. Aktivitas/istirahat Kelas 4. Respons Kardiovaksular/ Pulmonal

nafas klien kembali normal, dengan kriteria hasil :

Frekuensi pernafasan dalam rentang normal

(12-oksigen klien dalam batas normal (>95%) Klien tidak

menggunakan otot bantu nafas saat bernafas

 Catat pergerakan dada, ketidaksimetrisan, penggunaan otot-otot bantu nafas, dan ketidaretraksi pada otot supraclaviculas dan interkosta

 Monitor saturasi oksigen pada pasien yang tersedasi

 Auskultasi suara nafas, catat area dimana terjadi penurunan atau tidak adanya ventilasi dan keberadaan suara nafas tambahan

 Monitor hasil pemeriksaan ventilasi mekanik, catat peningkatan tekanan inspirasi dan penurunan volume tidal

 Monitor keluhan sesak nafas pasien termasuk kegiatan yang meningkatkan atau memperburuk sesak nafas tersebut

 Berikan bantuan terapi nafas jika diperlukan

Nyeri akut b.d. agen cidera fisik (trauma) (00132)

Domain 12. Kenyamanan

Kelas 1. Kenyamanan fisik

Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan ..x24 jam diharapkan nyeri klien berkurang dengan kriteria hasil :

1. Tingkat nyeri (2102)

 Klien tidak mengerang dan menangis  Tidak ada

ekspresi wajah

1. Manajemen Nyeri (1400) :

 Lakukan pengkajian nyeri yang

komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau berat nyeri dan factor pencetus.  Gali bersama pasien faktor-faktor yang

dapat menurunkan atau memperberat nyeri.  Kendalikan faktor lingkungan yang dapat

mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan (misalnya suhu, pencahayaan, dll).

(4)

nyeri

 Klien dapat beristirahat  Frekuensi

nafas normal (20-24x/menit)  Tekanan darah

normal (100-120/ 70-90 mmHg)  Denyut nadi

radial normal (60-90x/menit)

(seperti, relaksasi, akupressur, dll).

 Dukung istirahat/tidur yang adekuat untuk membantu penurunan nyeri.

2. Pemberian analgetik (2210)

 Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas dan keparahan nyeri sebelum mengobati pasien.  Cek perintah pengobatan meliputi obat,

dosis, dan frekuensi obat analgetik yang diresepkan.

 Cek adanya riwayat alergi obat

 Monitor tanda-tanda vital sebelum dan setelah memberikan algetik

Hambatan mobilitas fisik b.d gangguan muskuloskeletal

Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan ..x24 jam diharapkan klien mampu bergerak dan bermobilisasi, dengan kriteria hasil :

1. Pergerakan (0208) :

 Gerakan otot tidak

terganggu  Gerakan sendi

tidak terganggu 2. Ambulasi (0200) :

 Klien dapat menopang berat badan  Berjalan

1. Peningkatan mekanika tubuh (0140)

 Kaji komitmen pasien untuk belajar dan menggunakan postur (tubuh) yang benar.  Kolaborasikan dengan fisioterapis dalam

mengembangkan peningkatan mekanika tubuh sesuai indikasi.

 Informasikan pada pasien tentang struktur dan fungsi tulang belakang serta postur yang optimal untuk bergerak dan menggunakan tubuh.

 Edukasi pasien tentang pentingnya postur (tubuh) yang benar.

 Bantu untuk menghindari duduk dalam posisi yang sama dalam jangka waktu yang lama.

 Monitor perbaikan postur (tubuh)/ mekanika tubuh pasien

2. Terapi latihan : ambulasi (0221)

(5)

dengan pelan kebutuhan.

 Bantu pasien dengan ambulasi awal dan jika dibutuhkan.

 Bantu pasien untuk berdiri dan ambulasi dengan jarak tertentu dan dengan sejumlah staf tertentu.

 Dorong ambulasi independen dalam batas aman.

Gangguan citra tubuh b.d perubahan fungsi tubuh (karena penyakit) (00118) Domain 6. Persepsi Diri

Kelas 3. Citra tubuh

Setelah dilakukan asuhan

keperawatan ..x24 jam diharapkan citra tubuh klien kembali bagus, dengan kriteria hasil : 1. Citra tubuh

(1200) :  Gambaran

internal diri klien positif  Adanya

kepuasan dengan fungsi tubuh

 Adanya sikap positif dalam penggunaan strategi untuk meningkatkan penampilan  Adanya

kepuasan dengan penampilan

1. Peningkatan citra tubuh (5220)

 Tentukan harapan citra diri pasien didasarkan pada tahap perkembangan.  Gunakan bimbingan antisipasif menyiapkan

pasien terkait dengan perubahan-perubahan citra tubuh yang (telah) diprediksi.

 Bantu pasien untuk mendiskusikan perubahan—perubahan (bagian tubuh) disebabkan adanya penyakit atau pembedahan, dengan cara yang tepat.  Bantu pasien mendiskusikan stressor yang

mempengaruhi citra diri terkait dengan kondisi kongenital, cidera, penyakit atau pembedahan.

 Bantu pasien untuk mengidentifikasi bagian tubuhnya yang memiliki persepsi positif terkait dengan tubuhnya.

(6)

tubuh Harga diri rendah

situasional b.d Gangguan fungsi (00120)

Domain 6. Persepsi Diri

Kelas 2. Harga diri

Setelah dilakukan asuhan

keperawatan ..x24 jam diharapkan harga diri klien kembali

meninngkat/percaya diri, dengan kriteria hasil :

1. Harga diri (1205) :  Tingkat

kepercayaan diri meningkat  Mempertahank

an kontak mata  Adanya

verbalisasi penerimaan diri

 Adanya komunikasi terbuka

1. Peningkatan harga diri (5400)

 Monitor pernyataan pasien mengenai harga diri.

 Tentukan kepercayaan diri pasien dalam hal penilaian diri.

 Bantu pasien menemukan penerimaan diri.  Dukung (melakukan) kontak mata pada saat

berkomunikasi dengan orang lain.

 Monitor frekuensi verbalisasi negatif terhadap diri.

2. Peningkatan koping (5230)

 Gunakan pendekatan yang tenang dan memberikan jaminan.

 Berikan suasana penerimaan

 Bantu pasien dalam mengidentifikasi tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang tepat.

5. Evaluasi Keperawatan

a) Klien dapat bernafas dengan normal

b) Klien terbebas dari nyeri / skala nyeri menurun

c) Klien tidak mengalami hambatan dalam mobilitas fisiknya d) Klien tidak mengalami gangguan citra tubuh

Referensi

Dokumen terkait

2) Bantu klien mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan 3) Kaji adanya faktor penyebab kelelahan.. Defisit pengetahuan berhubungan dengan keadaan penyakit keterbatasan

Pada pasien dengan penyakit leprae akan mengalami hambatan mobilitias atau dapat disebabkan karena kondisi luka yang lengket dan leprae akan mengalami hambatan mobilitias atau

• Rubella atau yang lebih dikenal dengan campak jerman adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus rubella.. • Virus biasanya menginfeksi tubuh melalui pernapasan seperti

Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d susah makan Setelah diberikan tindakan perawatan 1x 24 jam pasien tidak mengalami perubahan nutrisi kurang

Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes

Masalah Keperawatan : Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa lambung, perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, mual, muntah, kurang pengetahuan tentang

Menua bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses yang bengangsur-angsur mengakibatkan perubahan yang komulatif, merupakan proses menurunnya daya tahan tubuh

J, 2001, hal : 138 Gastritis penyakit maag adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya asam lambung yang berlebih atau meningkatnya asam lambung sehingga mengakibatkan imflamasi atau