• Tidak ada hasil yang ditemukan

Edit PJ STAR Kata Pengantar dan Daftar I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Edit PJ STAR Kata Pengantar dan Daftar I"

Copied!
126
0
0

Teks penuh

(1)

BERBASIS

 

AKRUAL

 

KONSEP,

 

PEMIKIRAN,

 

DAN

 

IMPLEMENTASI

  

DI

 

INDONESIA

 

 

2013

 

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Sang Khalik atas perkenanNya, modul

Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual: Konsep, Pemikiran dan Implementasi di

Indonesia ini dapat diselesaikan dengan segenap kemampuan yang ada. Modul ini

diharapkan mampu memerkaya wacana tentang konsep dan implementasi Akuntansi

Pemerintahan Berbasis Akrual.

Modul ini merupakan rangkaian tulisan para dosen dari berbagai universitas negeri di

Indonesia sebagai bagian kegiatan dari program State Accountability Revitalitation

(STAR)-ADB Loan Nomor 2929-INA, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)

Indonesia. Modul ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas para peserta khususnya dalam

memahami konsep dan pemikiran akuntansi akrual sektor publik sekaligus sebagai bahan

diseminasi mengenai implementasi akuntansi akrual sektor publik.

Kami berharap, modul ini bermanfaat bagi mahasiswa (khususnya mahasiswa jurusan

akuntansi pemerintah), para praktisi akuntansi pemerintah dalam meningkatkan kualitas

transparansi dan akuntabilitas keuangan publik, serta para pembaca pada

umumnya.Akhirnya, penyusun mengucapkan terimakasih kepada BPKP atas kesempatan

yang diberikan untuk mengikuti kegiatan Customized International Study and

Benchmarking Course on Public Sector Accrual Accounting at Massey University New

Zealand. Mengingat tak ada gading yang tak retak, kami menerima kritik dan saran yang

membangun dari pembaca demi peningkatan kualitas modul.

Desember 2013

Penyusun:

Ardianto Univ. Airlangga

Arief Surya Irawan Univ. GadjahMada

Islahuddin Univ. Syiah Kuala

Muhammad Ichsan Univ. Indonesia Ni Putu Sri HartaMimba Univ. Udayana

(3)
(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

SAMBUTAN PENANGGUNGJAWAB STAR-BPKP... ii

DAFTAR ISI... iii

KONSEP DAN PEMIKIRAN AKUNTANSI PEMERINTAH BERBASIS

AKRUAL (APBA)

Akuntansi Akrual Dan Penerapannya Di Sektor Publik: Sebuah Agenda

Pembaruan: Ratna Ayu Damayanti... 1

Analisis Manfaat Dan Kelemahan: Penggunaan Basis Anggaran Dan

Basis Akuntansi: Ardianto... 18

Transisi Dari Akuntansi Berbasis Akrual Menuju Penganggaran Berbasis

Akrual:Arief Surya Irawan... 24

Manfaat Basis Akrual Akuntansi Pemerintahan: Pondasi Manajemen Biaya

Entitas Pemerintahan: Muhammad Ichsan ... 28

FAKTOR KUNCI SUKSES IMPLEMENTASI APBA

Kajian Variabel-Variabel Kesuksesan Penerapan Basis Akrual Dalam

Sistem Akuntansi Pemerintahan: Muhammad Ichsan ... 44

Penerapan Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual Tinjauan Perspektif

Manajemen Sumber Daya Manusia: Ni Putu Sri Harta Mimba ... 65

Perspektif Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) Dalam Penerapan

Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual: Strategi Pengembangandan

Pelatihan:Arief Surya Irawandan Islahuddin... 73

Analisis Pengaruh Implementasi Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual

(APBA) Atas Entitas Pelaporan Keuangan Pemerintah:

Arief Surya Irawan... 79

ISU-ISU AKUNTANSI KHUSUS DALAM IMPLEMENTASI APBA

Akuntansi Akrual Sektor Publik dan Isu-isu Diseputarnya:

Ratna Ayu Damayanti... 88

Akuntansi Akrual Terkait Aset Tetap (Disesuaikan Untuk Memahami PP 71

(5)

AKUNTANSI AKRUAL DAN PENERAPANNYA

DI SEKTOR PUBLIK: SEBUAH AGENDA PEMBARUAN

Ratna Ayu Damayanti

Universitas Hasanuddin

ABSTRAK

Paper ini bertujuan untuk menjelaskan perkembangan akuntansi akrual dan kesesuaian penerapan akuntansi akrual pada sektor publik. Fenomena adopsi akuntansi akrual oleh sektor publik di seluruh dunia telah terjadi selama 20 tahun terakhir. Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data berupa penelitian kepustakaan. Paper ini menyoroti perkembangan akuntansi akrual, debat argumen pendukung dan penentang akuntansi akrual, serta isu-isu akuntansi akrual. Penelitian ini menunjukkan bahwa akuntansi akrual merupakan konsep yang lebih baik dibandingkan basis kas, akan tetapi akuntansi akrual masih membutuhkan perbaikan mendasar agar sesuai dengan karakteristik sektor publik. Adopsi akuntansi akrual memiliki risiko yang besar sehingga membutuhkan perencanaan yang baik untuk menghindari kegagalan.

Kata Kunci: akuntansi akrual, sektor publik

ABSTRACT

The purpose of this paper is to describe the development of accrual accounting and the suitability of the application of accrual accounting in the public sector. The phenomenon of accrual accounting adoption by the public sector around the world has taken place over the last 20 years. In this study, researcher used data collection techniques such as library research. This paper highlights the development of accruals accounting, debates around supporting and opponents arguments, and issues in accruals accounting. The findings of this paper explained that accrual accounting is a better concept than cash basis, but accrual accounting still requires fundamental improvements to match the characteristics of the public sector. The adoption of accrual accounting has a greater risk that requires good planning to avoid failure.

Keyword: accrual accounting, public sector

PENDAHULUAN

Di kehidupan sehari – hari masyarakat sangat akrab dengan keberadaan organisasi

sektor publik di sekitar lingkungannya. Institusi pemerintah seperti dinas pendidikan,

puskemas, dan universitas merupakan beberapa contoh dari organisasi sektor publik. Dinas,

badan dan institusi tersebut menyediakan barang dan jasa kepada masyarakat semata – mata

untuk kesejahteraan masyarakat dengan prinsip nirlaba bukan seperti sektor swasta yang

memiliki tujuan untuk mendapatkan laba.

Mahmudi (2010:34) mengatakan organisasi sektor publik sering digambarkan tidak

produktif, tidak efisien, selalu rugi, rendah kualitas, kurang inovasi dan kreativitas serta

berbagai kekurangan lainnya. Gambaran ini sesungguhnya sangat merugikan mengingat fakta

(6)

pengelolaan organisasi sektor publik memunculkan kritik keras sehingga mendorong terjadinya

reformasi manajemen sektor publik. Reformasi sektor publik tidak hanya terjadi di negara–

negara maju, tetapi beberapa negara berkembang dan negara tertinggal secara aktif terus

melakukan reformasi lembaga publik. Salah satu gerakan reformasi sektor publik yang paling

popular adalah konsep New Public Management yang disingkat NPM.

Pada sektor swasta, akuntansi memiliki peranan yang sangat penting. Perkembangan

akuntansi di sektor ini sangat pesat dan bergerak dinamis mengikuti perkembangan

perekonomian dibandingkan dengan akuntansi sektor publik. Akuntansi sendiri telah berperan

untuk menghasilkan sumber informasi yang kemudian digunakan untuk proses pengambilan

keputusan ekonomi yang lebih baik. Informasi yang dihasilkan akuntansi menjadi alat untuk

mengukur sejauh mana efisensi dilakukan dan sebagai alat pertanggungjawaban.

Perkembangan akuntansi yang sangat pesat di sektor swasta tidak diikuti sektor publik.

Lahirnya konsep New Public Management menyebabkan reformasi akuntansi di sektor publik.

Dimulailah masa di mana prinsip – prinsip akuntansi yang ada di sektor swasta diadopsi oleh

sektor publik.

Djamhuri dan Mahmudi (2006:318) menarik kesimpulan tentang hubungan

antara konsep New Public Management dengan reformasi akuntansi di organisasi sektor

publik sebagai berikut :

The implication of adopting New Public Management model is the need to conduct a series of reform in public sector, i.e. accounting, budgeting reform, financial management reform, audit reform, as well as institutional reform. The migration to accrual accounting from cameral (cash basis) accounting and single entry is one form of public sector accounting reform.

Sedangkan menurut Bunea dan Cosmina (2008:1) menggambarkan hubungan New

Public Management dengan reformasi akuntansi di sektor publik sebagai berikut:

New Public Management is focused on efficiency, as governments around the world are being asked to do more with less and to be fully accountable to the community for resources entrusted to them. Accounting plays a crucial role in New Public Management developments as the means by which measurements are made, achievements are documented, and negotiations take place. (ditebalkan untuk

penegasan)

McKendrick (2007:2) menjelaskan bahwa akuntansi akrual telah menyebar ke banyak

negara seiring dengan perkembangan New Public Management. Hal ini merupakan bagian dari

(7)

Dari uraian di atas kita dapat melihat bahwa reformasi di bidang akuntansi merupakan

bagian dari konsep New Public Management. Akuntansi pada sektor publik menjadi alat

pengukuran untuk menentukan apakah sektor publik telah mencapai efisiensi. Salah satu

reformasi akuntansi di sektor publik adalah perubahan basis akuntansi. Perubahan basis

akuntansi dari akuntansi kas ke akuntansi akrual merupakan salah satu ciri adopsi konsep

New Public Management oleh sektor publik.

Akuntansi akrual sendiri merupakan konsep yang sangat popular digunakan di sektor

swasta, karena akuntansi akrual dianggap memberikan benefit yang besar kepada

penggunanya. Akuntansi akrual memberikan informasi yang lebih bisa diandalkan karena

mampu memberikan informasi tentang kewajiban dan hak yang akan diterima di masa depan

sehingga keputusan ekonomi dapat diambil lebih baik. Akuntansi akrual telah menjadi

asumsi dasar dalam kerangka konseptual penyusunan laporan keuangan dengan International

Financial Reporting Standards (IFRS). Basis akrual menjelaskan bahwa transaksi yang

mempengaruhi keuangan perusahaan dicatat pada saat terjadi bukan didasarkan pada saat

menerima atau mengeluarkan uang (Kieso et al, 2011:51). Contoh lain adalah Ikatan Akuntan

Indonesia (2009:5) melalui Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.1 (Revisi 2009)

paragraf 21 mewajibkan perusahaan untuk menyusun laporan keuangan atas dasar akrual.

Adanya regulasi ini menjelaskan bagaimana krusialnya konsep akuntansi akrual di sektor

bisnis.

Organisation for Economic Co-operation and Development (2002:2) menjelaskan

bahwa penggunaan basis akuntansi akrual yang menjadi tren di berbagai Negara saat ini tentu

sangat terkait dengan tujuan dan manfaat dari penggunaanya itu sendiri. Penggunaan basis

akrual merupakan salah satu ciri dari praktik manajemen keuangan modern (sektor publik)

yang bertujuan untuk memberikan informasi yang lebih transparan mengenai biaya (cost)

pemerintah dan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan di dalam pemerintah dengan

menggunakan informasi yang diperluas, tidak sekadar memperhatikan kas. Secara umum, basis

akrual telah diterapkan di negara-negara yang lebih dahulu melakukan reformasi manajemen

publik seperti New Zealand yang pertama kali menerapkan laporan keuangan dan anggaran

berbasis akrual di dunia sejak tahun 1990. Tujuan kunci akuntansi akrual adalah untuk

meminta pertanggungjawaban para manajer dari sisi keluaran (output) dan/atau hasil (outcome)

dan pada saat yang sama melonggarkan kontrol atas masukan (input). Dalam konteks ini, para

manajer diminta agar bertanggung jawab untuk seluruh biaya yang berhubungan dengan

(8)

basis akrual yang memungkinkan untuk mengakui semua biaya, dengan demikian

dapat mendukung pengambilan keputusan oleh para manajer organisasi sektor publik secara

efisien dan efektif.

Berbagai dorongan untuk mereformasi akuntansi pada sektor publik juga hadir dari

berbagai lembaga internasional. Dalam Beberapa tahun terakhir sampai sekarang organisasi

global seperti Bank Dunia, International Monetary Fund (IMF) dan International federation of

Accountants (IFAC) aktif mempromosikan adopsi manajemen dan teknik sektor swasta ke

sektor publik (Roob dan Newberry, 2007:743). Dengan banyaknya dukungan dan dorongan

dari lembaga – lembaga penting tidak mengherankan jika akuntansi akrual diadopsi oleh sektor

publik. Setiap negara sekarang berusaha untuk melakukan perubahan sistem akuntansi di sektor

publik, misalnya Indonesia yang secara bertahap merubah sistem basis kas menjadi sistem

akrual mulai tahun 2003 sampai tahun 2014. Meskipun terlihat baik, konsep akuntansi

akrual sendiri masih memiliki banyak perdebatan dari beberapa pihak. Carlin (2005:1)

mengatakan :

Debates about the adoption of accrual accounting and financial reporting techniques by the public sector have been so widespread over the last decade that they may be labelled, without risk of inaccuracy, peripatetic. Questions as to whether accrual based techniques should be adopted by public sector entities are largely passe´ in the antipodes where they have penetrated every layer of the public sector over the past decade.

Konsep akuntansi akrual masih diperdebatkan karena banyak yang berfikir bahwa

sektor publik dan sektor swasta harus memiliki sistem yang berbeda karena memiliki

karakteristik yang berbeda. Beberapa kritik lain mengatakan bahwa akuntansi akrual

merupakan usaha untuk membuat sektor publik menjadi institusi yang neoliberal. Hal ini

diungkapkan oleh Ellwood dan Newberry (2006:1) yang menyimpulkan bahwa “paper suggest

that in both countries, accrual accounting, as developed, also provides a means to reduce

the government’s role to that of procurer of services and enforcer of rules set by others, thus

advancing a controversial privatisation and trade liberalization agenda which is consistent

with neo-liberal principles.”

Selain itu argumen bahwa akuntansi akrual dapat memberikan akuntabilitas yang lebih

baik juga mendapatkan tantangan dari beberapa ahli yang menyatakan bahwa tidak semua

sektor publik cocok dengan akuntansi akrual dan justru akuntansi akrual sendiri yang

mengaburkan informasi akuntabilitas. Beechy (2007:1) memberikan argumen terkait

(9)

that the use of full accrual accounting actually obscures operating accountability and

transparency in some types of organizations.”

Beberapa argumen di atas memberikan keraguan terhadap konsep akuntansi akrual

sendiri. Keraguan ini hadir karena anggapan bahwa ketika sektor publik mengadopsi

teknik-teknik yang ada di sektor swasta maka sektor publik akan berfikir seperti sektor swasta.

Perubahan pola berfikir sektor publik ini sangat ditakuti karena secara prinsip sektor publik

dan swasta tidak sama.

Adopsi teknik – teknik ini secara umum mendorong sektor publik untuk menjadi

efisien. Tuntutan untuk menjadi efisien membuat sektor publik melakukan konsep privatisasi.

Contoh reformasi di sektor publik dapat di lihat dari Negara New Zealand seperti yang

dijelaskan Roob dan Newberry (2007:743) “The creation of State Owned Enterprises occurred

at an early stage (1985–1986) in New Zealand’s public sector reforms. An extensive

programme of privatization followed, against mounting public opposition that culminated in a

changed electoral system.”

Privatisasi ini sejalan dengan ideologi neoliberal yang ingin mengurangi peran

pemerintah dalam proses produksi. Ideologi neoliberal berusaha agar swasta mendominasi

perekonomian. Ini tentu sangat berbahaya mengingat ideologi ini dapat menyebabkan

kerusakan sistem perekonomian. Beberapa Negara berkembang biasanya didorong oleh ahli

dan teknokrat yang didukung oleh IMF untuk melakukan reformasi, teknokrat ini

membuat perbaikan didasarkan dengan proposal yang sesuai dengan ideologi bukan sains

ekonomi (Stiglitz:2003).

Konsep neoliberal ini ternyata juga disebarkan melalui lembaga – lembaga

internasional yang getol untuk mempromosikan konsep akuntansi akrual. Kelsey dalam

Ellwood dan Newberry (2007:1) mengatakan. “The economic policy underlying the

structural adjustment and reform programmes advocated by such key supra-national agencies

as the OECD, the International Monetary Fund (IMF), the World Bank and its allied agencies,

and credit rating agencies is distinctively neo-liberal.”

Melihat uraian di atas terlihat bahwa masih terjadi perdebatan yang cukup rumit

mengenai konsep New Public Management dan turunannya yaitu akuntansi akrual.

Konsep-konsep ini masih diperdebatkan sehingga penulis berusaha untuk mencoba mengurai

perkembangan teori akuntansi akrual dan berusaha melihat bagaimana akuntansi akrual

diterapkan di sektor publik.

(10)

Untuk mengetahui perkembangan akuntansi akrual terkait dengan latar belakang

kemunculan dan proses penerapannya di sektor publik. 2) Untuk mengetahui perdebatan

pendukung dan penentang teori akuntansi akrual 3) Untuk mengetahui isu–isu akuntansi

akrual di sektor publik

Jenis studi ini tergolong dalam studi pustaka atau literatur (Library Research) berupa

pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. kajian pustaka merupakan penampilan

argumentasi penalaran keilmuan yang memaparkan hasil kajian pustaka dan hasil olah pikir

peneliti mengenai suatu masalah/topik kajian. Menurut Sangadji dalam Akbar (2012:54),

“Pengertian penelitian kepustakaan adalah penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan

literatur (kepustakaan), baik berupa buku, catatan, maupun laporan hasil penelitian dari

penelitian terdahulu”.

HUBUNGAN NEW PUBLIC MANAGEMENT DAN PENERAPAN AKUNTANSI

AKRUAL

Seperti yang dibahas sebelumnya bahwa kita dapat menarik benang merah antara New

Public Management dengan akuntansi akrual. New Public Management telah mereformasi

pengelolaan keuangan sektor publik dengan menggunakan pendekatan – pendekatan yang ada

pada sektor swasta dalam rangka mencapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan sektor

publik. Untuk mencapai tujuan ini maka diperlukan sebuah alat pengukuran kinerja dan

pertanggungjawaban.

Akuntansi yang berperan sebagai alat pengukuran kinerja dan pertanggungjawaban juga

mengalami sebuah perubahan. Perubahan yang dimaksud adalah penerapan sistem akrual yang

merupakan adopsi dari sektor swasta menggantikan sistem kas. Upping dan Oliver (2011:1)

menjelaskan sebagai berikut :

New Public Management (NPM) is a management philosophy which focuses on the change in management practices of the public sector towards more private sector practices, with accountability focusing on results rather than processes. NPM introduces a new imperative for efficiency and transparency into all elements of the public sector. One important element of this change can be seen in the accounting practices with a move from cash to accrual accounting, together with the adoption of management accounting techniques to measure and control activities.

Sedangkan Bunea dan Cosmina (2008:1) menjelaskan bahwa konsep New Public

Management yang berfokus pada efisiensi memaksa seluruh pemerintahan yang

(11)

masyarakat mengenai sumber daya yang digunakan, sehingga akuntansi memainkan peranan

penting dalam perkembangan New Public Management berkaitan dengan pengukuran kinerja

penggunaan sumber daya.

Oleh karena itu akuntansi khususnya akuntansi akrual merupakan konsep yang ada

akibat munculnya New Public management hal ini diperkuat oleh Watkins dan Edward (2007:

34) yang menjelaskan bahwa “Accounting is seen within this domain as an integral component

of what is now termed New Public Management”. Lebih lanjut Coonnely and Hyndmen

menjelaskan “The move from cash to accruals accounting by many governments is viewed as

an aspect of an ongoing New Public Management agenda designed to achieve a more business-

like and performance-focused public sector”.

Dari uraian di atas tentu sangat jelas konsep akuntansi akrual adalah sebuah

konsep turunan dari New Public Management karena akuntansi akrual merupakan bentuk

sistem manajemen sektor privat yang diadopsi ke sektor publik sebagai alat pengukuran

kinerja. Bahkan Pentingnya akuntansi akrual terhadap New Public Management

diungkapkan oleh Liekerman (2003:3) yang menjelaskan bahwa pemerintah yang

mengadopsi New Public Management maka dalam bidang akuntansi harus juga menjalankan

akuntansi akrual. Tanpa akuntansi akrual maka adopsi New Public Management akan berjalan

kurang lancar.

PERKEMBANGAN AKUNTANSI AKRUAL DI SEKTOR PUBLIK

Pada tahun 1980-an terjadi fenomena perubahan gaya manajemen di sektor publik

akibat stagnansi ekonomi yang menghantam beberapa negara seperti New Zealand,

Australia dan Inggris. Fenomena perubahan ini popular disebut New Public Management. Apa

yang memotivasi perubahan? Alasan utamanya adalah ketidakpuasan masyarakat terhadap

kinerja Pemerintah yang dianggap tidak efisien dan efektif dalam pengelolaan sumber daya

pada tahun 1970-an dan 1980-an. Ketidakpuasan ini dipicu oleh keadaan utang pemerintah

yang terus meningkat, pajak lebih tinggi, dan turunnya pertumbuhan ekonomi. Dalam banyak

kasus pemerintah diminta untuk mereview perannya dalam kegiatan dan operasi serta

meningkatkan efisiensi dan efektivitas. Pemerintah diinginkan untuk berbuat lebih banyak

dengan diiringi tuntutan agar manajer sektor publik menjadi lebih akuntabel (Buhr, 2010:12).

Konsep New Public Management mulai diterapkan di Inggris pada tahun 1979 di

masa pemerintahan Perdana Menteri Margareth Tacther sebagai bentuk perbaikan dari konsep

(12)

dilakukan Margareth Tacther adalah melakukan pengurangan jumlah kota, mengurangi biaya

dan meningkatkan pelayanan (Gruening, 2001:2). Stagnansi ekonomi yang dihadapi New

Zealand mendorong mereka untuk melakukan inovasi. Inovasi yang dilakukan adalah

menjalankan privatisasi dan desentralisasi di sektor publik. Sedangkan Australia pada tahun

1980-an juga mengalami kesulitan ekonomi yang sangat rumit sehingga pada tahun 1983

Perdana Menteri Australia saat itu Robert Hawke telah mendukung gagasan pengelolaan

berdasarkan hasil (output) dengan memulai reformasi manajemen keuangan di sektor publik

untuk mencapai tujuan ini. Atas dasar ini pula Australia melakukan privatisasi, restrukturisasi

pemerintah dan evaluasi program dilakukan untuk mencapai tujuan ini (Janet dan Robert,

2007:15).

Watkins dan Edward (2007: 34) menjelaskan salah satu konsep yang diturunkan dari

New Public Management adalah adopsi gaya manajemen sektor privat ke sektor publik.

Kebutuhan transparansi, akuntablitas dan penilaian kinerja dalam sistem New Public

Management mendorong penggunaan Akuntansi Akrual. Sektor privat sudah sangat familiar

menggunakan akuntansi akrual, sedangkan sektor publik baru mengenal penggunaan

akuntansi akrual pada tahun 1992 ketika New Zealand menjadi Negara pertama yang

mengadopsi akuntansi akrual sebagai basis pelaporan keuangan. Dalam pemilihan basis

akuntansi, akuntansi kas masih mendominasi di seluruh dunia. Akan tetapi tren yang terjadi

adalah perubahan secara bertahap dari akuntansi kas menuju akuntansi akrual. International

Federation of Accountants (2010:1) merekomendasikan akuntansi akrual akan mendorong

transparansi dan akuntabilitas pada pengelolaan keuangan sektor publik.

Pemerintah memberikan pelayanan publik tanpa memprioritaskan keuntungan. Tujuan

utama dari akuntansi dan penganggaran pemerintah adalah menjelaskan kualitas barang dan

jasa publik yang diberikan kepada warganya. Sebelumnya pemerintah tidak perlu melaporkan

biaya operasi dan penerimaan kepada masyarakat dengan model yang sama sebagaimana sektor

swasta melaporkannya kepada para pemegang saham. Tujuan akuntansi penganggaran

pemerintah lebih sederhana karena hanya berfokus pada pengendalian input. Pengelolaan

keuangan pemerintah menekankan bahwa dana harus digunakan secara ketat sesuai dengan

anggaran yang telah disetujui oleh lembaga legislatif. Penerapan akuntansi berbasis kas pada

akuntansi dan penganggaran pemerintah konsisten dengan kebutuhan manajemen sektor

publik sehingga basis ini banyak diadopsi. Situasi mulai berubah pada 1990-an ketika

munculnya peristiwa yang memicu kekhawatiran dan gencarnya implementasi New Public

(13)

fiskal atau krisis utang, keharusan menjaga kredibilitas dan reputasi sektor publik sebagai

sektor ekonomi yang modern atau canggih, adanya tuntutan perubahan oleh

organisasi-organisasi internasional, tekanan dari otoritas audit nasional, dan tuntutan masyarakat agar

adanya peningkatan akuntabilitas dan kinerja pemerintah dalam rangka mendukung efektifitas

dan efisiensi (Shi, 2005:7).

Lebih lanjut Shi menjelaskan serangkaian reformasi di sektor publik mulai

dilakukan. Salah satu bentuk reformasi adalah reformasi penyediaan barang publik dengan

memungkinkan sektor swasta untuk berpartisipasi. Masuknya sektor swasta meningkatkan

permintaan informasi akuntansi yang lebih transparan dan akurat dari pemerintah, kemudian

hal ini mendorong pemerintah untuk menyajikan informasi yang cukup memudahkan

perhitungan dan perbandingan biaya. Konversi ke basis akrual dalam akuntansi sektor publik

membantu pengukuran biaya yang lebih akurat. Reformasi lain terfokus pada orientasi

anggaran berbasis kinerja, output dan outcome dengan pendekatan manajemen pengeluaran

publik. Akuntansi akrual diyakini menjadi instrumen penting dan bermanfaat untuk

pemeriksaan efisiensi dan efektivitas biaya pemerintahan.

Penggunaan akuntansi akrual merupakan salah satu ciri dari praktik manajemen

keuangan modern (sektor publik) yang bertujuan untuk memberikan informasi yang lebih

transparan mengenai biaya (cost) pemerintah dan meningkatkan kualitas pengambilan

keputusan di dalam pemerintah dengan menggunakan informasi yang diperluas, tidak sekadar

basis kas. Secara umum, akuntansi akrual telah diterapkan di negara-negara yang lebih dahulu

melakukan reformasi manajemen publik. Tujuan kuncinya adalah untuk meminta

pertanggungjawaban para manajer dari sisi keluaran (output), hasil (outcome) dan pada saat

yang sama melonggarkan kontrol atas masukan (input). Para manajer di sektor publik diminta

agar bertanggung jawab untuk seluruh biaya yang berhubungan dengan output/outcome

yang dihasilkannya, tidak sekadar dari sisi pengeluaran kas. Dengan demikian akuntansi

akrual dapat mendukung pengambilan keputusan oleh para manajer secara efisien dan efektif

(Organisation for Economic Co-operation and Development, 2002:11).

Salah satu faktor yang mendorong adopsi akuntansi akrual adalah ketidakpuasan dan

banyaknya kekurangan yang dimiliki oleh basis kas. Meskipun memiliki banyak

keterbatasan, akuntansi berbasis kas memiliki beberapa kelebihan sehingga masih banyak

digunakan oleh sektor publik di beberapa Negara. Kelebihan itu adalah sederhana, lebih

murah dan mudah untuk dipahami oleh non-akuntan (Buhr, 2010:12). Akan tetapi trend dan

(14)

sektor publik. Akuntansi akrual menjadi sangat popular dengan dukungan berbagai organisasi

internasional seperti Bank Dunia, Organization of Economic and Development, International

Monetary Fund dan Lembaga Pemeringkat Kredit (Ellwood, 2007:1).

Negara - negara yang mengadopsi akuntansi akrual membutuhkan waktu yang sangat

lama. Mengapa dibutuhkan waktu begitu lama untuk berubah? Jones dalam Buhr

(2012:12) menjelaskan tentang kurangnya kebutuhan komparatif laporan keuangan antar

sektor publik untuk menilai kinerja. Hal ini dikarenakan masing–masing pemerintah memiliki

kemampuan untuk menetapkan kebijakan keuangan dan akuntansi sesuai keinginannya. Selain

itu, dulu akuntansi pada sektor publik hanya dilihat sebagai alat pertanggungjawaban bukan

sebagai alat pengambilan keputusan sehingga keunggulan akuntansi kas yang sangat sederhana

menyebabkan pemerintah enggan untuk pindah ke akuntansi akrual.

Memperkenalkan akuntansi akrual mendapatkan tantangan dalam proses adopsinya

sehingga membutuhkan pendekatan bertahap (Treasury, 2005:40). Perlu diketahui bahwa tidak

ada perubahan mendadak dari kas ke akrual. Perubahan basis akuntansi dilakukan bertahap

melalui basis kas, basis kas yang dimodifikasi, basis akrual dimodifikasi, dan terakhir basis

akrual. Kas yang dimodifikasi berbeda dari basis kas dalam akhir tahun penyesuaian dilakukan

untuk beberapa non-cash item seperti piutang dan utang. Akrual Modifikasi berbeda dari

akuntansi berbasis akrual dalam aset modal tidak diakui sebagai aset melainkan sebagai

pengeluaran secara penuh dalam periode di mana mereka dibeli.

PERBANDINGAN PENERAPAN AKUNTANSI AKRUAL DI BEBERAPA NEGARA

Pada bagian ini kita akan melihat contoh penerapan akuntansi akrual di sektor publik.

Penulis akan memperlihatkan penerapan akuntansi akrual di New Zealand, Fiji dan Nepal. New

Zealand mewakili kesuksesan penerapan akuntansi akrual sedangkan Fiji dan Nepal

mewakili kegagalan penerapan akuntansi akrual.

New Zealand menjadi negara pertama yang sepenuhnya melaksanakan akuntansi akrual

baik di tingkat nasional dan lembaga. Reformasi akuntansi akrual di New Zealand

merupakan paling komprehensif di antara semua negara. Perubahan adalah bagian dari

gelombang reformasi tahun 1980-an sebagai akibat dari kesulitan fiskal negara. Reformasi ini

bertujuan untuk mencapai efisiensi. Untuk mencapai tujuan ini New Zealand menjalankan tiga

kebijakan yaitu memisahkan fungsi komersial dari operasi pemerintah lainnya, menguatkan

garis pertanggungjawaban menteri dan eksekutif dan merancang anggaran dan sistem

(15)

Tiga kebijakan ini mempengaruhi adopsi akuntansi akrual di New Zealand.

Departemen Keuangan New Zealand sudah mulai mempersiapkan akuntansi akrual pada

tahun 1987. Public Finance Act diundangkan pada tanggal 1 Juli 1989. Undang-undang

tersebut yang menjelaskan penggunakan metode akuntansi akrual untuk penganggaran

dan pelaporan keuangan. Undang-undang juga mendefinisikan atribut dari manajemen

fiskal yang baik, dan memastikan pemerintah memenuhi kriteria tertentu.

Undang-undang ini menciptakan insentif bagi para politisi untuk mengejar kebijakan dalam

kepentingan jangka panjang negara, bukan sesuai kepentingan politis jangka pendek (Ruth R,

1996:5).

Pada tahun 1992 New Zealand berhasil membuat laporan keuangan dengan

akuntansi akrual di seluruh entitas pemerintah. New Zealand butuh tiga tahun untuk

menerapkan akuntansi akrual dan empat tahun untuk menghasilkan laporan keuangan

konsolidasi untuk seluruh pemerintah (Beerson B,2011:17). Secara keseluruhan, reformasi

keuangan di New Zealand menghasilkan perubahan positif yaitu peningkatan akuntabilitas,

kinerja keuangan yang lebih baik, mencapai efisiensi dan pengurangan staf.

Lebih lanjut Beerson menjelaskan bahwa New Zealand adalah pelopor dalam adopsi

akuntansi akrual. Sebagai pelopor tentu New Zealand harus mampu merumuskan konsep

akuntansi akrual ini tanpa berpanduan dari negara – negara lain. Oleh karena itu terdapat

beberapa tantangan yang dialami oleh New Zealand dalam mengadopsi akuntansi akrual yaitu

biaya implementasi yang cukup besar dan kualitas informasi yang belum langsung dirasakan

manfaatnya. Akuntansi akrual memerlukan biaya implementasi yang besar. Perubahan basis

akuntansi memaksa seluruh departemen di New Zealand mengganti sistem informasi keuangan

mereka hanya dalam waktu dua tahun. Selain itu terdapat risiko pengambilan keputusan yang

buruk di awal implementasi. Hal ini diakibatkan pemerintah belum terbiasa menggunakan

informasi akuntansi akrual. Sejak konversi ke akuntansi akrual volume dan kompleksitas

laporan pemerintah kepada parlemen telah meningkat. Kompleksitas laporan keuangan

menyebabkan parlemen membutuhkan saran analitis independen dari para ahli yang tentu akan

memakan waktu dan biaya.

Akuntansi akrual merupakan salah satu bagian dari paket reformasi keuangan New

Zealand yang berperan penting dalam peningkatan akuntabilitas, efisiensi dan kinerja

pemerintah. Tetapi dalam menilai perbaikan ini tidak boleh mengabaikan bentuk reformasi

keuangan lainnya dan mengutamakan akuntansi akrual sebagai faktor tunggal. International

(16)

menikmati manfaat dari penerapan akuntansi akrual, karena telah melakukan pendekatan yang

komprehensif dalam menerapkan strategi pemerintah, meningkatkan kualitas keputusan dan

memungkinkan pengawasan yang efektif oleh parlemen.

Sementara itu Menurut Digitaki dalam Tickell (2010:74) Fiji mencoba mengadopsi

akuntansi akrual pada tahun 1994, Departemen Keuangan menanggapi dengan mencoba untuk

memperkenalkan akuntansi akrual, bersama dengan banyak reformasi sektor publik lainnya.

Sebuah kantor proyek akuntansi akrual didirikan pada tanggal 14 November 1994 setelah

kabinet memberikan persetujuan untuk menerapkan sistem akuntansi akrual. Pengenalan

akuntansi akrual di departemen pemerintah dibutuhkan untuk menyediakan manajemen suatu

sistem informasi manajemen yang lebih efisien dan akurat dibanding sistem keuangan secara

tunai.

Pada tahun 1994 pemerintah Fiji menetapkan proses adposi akuntansi akrual melalui

dua tahap. Tahap pertama akuntansi akrual dilaksanakan oleh tiga Departemen (kehutanan,

kelautan dan keuangan) sebagai pilot project. Tahap kedua adalah implementasi secara penuh

di seluruh departemen. Departemen pilot project menyediakan informasi anggaran akrual

bulan Maret 1995 dan menyelesaikan migrasi tanggal 1 Januari 1996. Departemen yang

tersisa menyediakan informasi anggaran akrual pada Maret 1996 dan menyelesaikan migrasi

tanggal 1 Januari 1997. Akan tetapi rencana ini tidak berjalan dengan mulus karena sampai

tahun 1999 Fiji belum dapat mengadopsi akuntansi akrual. Proyek ini terhenti pada tahun 1999

akibat gejolak politik. Tickell (2010:75) menjelaskan bahwa faktor kegagalan Fiji disebabkan

oleh: 1) penerapan akuntansi akrual yang tergesa–gesa tanpa perencanaan yang baik. 2)

pengembangan sistem informasi akuntansi yang kurang baik. 3) terlalu bersandar dengan

konsultan internasional. 4) kemampuan tenaga akuntansi yang rendah

Setelah mengalami kegagalan pemerintah Fiji melakukan perbaikan sistem

implementasi pada tahun 2004. Pemerintah Fiji berusaha merencanakan kembali model

implementasi yang baik melalui pengembangan komprehensif untuk mengatasi faktor

kegagalan pada percobaan sebelumnya. Fiji memulai proyek adopsi akuntansi meningkatkan

kemampuan akuntan dan membuat pilot project yang lebih kecil. Usaha – usaha ini relatif

membutuhkan waktu yang cukup panjang sehingga adopsi akuntansi akrual berjalan lambat.

Contoh kegagalan penerapan akuntansi akrual dapat dilihat di Nepal. Nepal merupakan

salah satu negara yang kurang mampu secara ekonomi. Keadaan ini menyebabkan Nepal sering

menerima bantuan dana dari lembaga internasional. Lembaga internasional berharap dana ini

(17)

akuntansi akrual. Adhikari P dan Mellemfik F (2011:136) menjelaskan kegagalan

penerapan akuntansi akrual di Nepal diakibatkan oleh ketidakmampuan lembaga

internasional dalam melihat rendahnya kemampuan sumber daya manusia dan kurangnya

motivasi dari pemerintah. Kurangnya motivasi pemerintah karena adopsi akuntansi

akrual bukan berdasarkan keinginan sendiri melainkan pemaksaan dari organisasi

internasional.

KESIMPULAN

Paper ini menyimpulkan bahwa akuntansi akrual merupakan salah satu bagian dari

paket reformasi keuangan negara dan daerah yang berperan penting dalam peningkatan

akuntabilitas, efisiensi dan kinerja pemerintah. Tetapi dalam menilai perbaikan ini kita tidak

boleh mengabaikan bentuk reformasi keuangan lainnya dan hanya mengutamakan akuntansi

akrual sebagai faktor tunggal. Beberapa negara telah menikmati manfaat lebih dari penerapan

akuntansi akrual karena telah melakukan pendekatan yang komprehensif untuk menerapkan

strategi pemerintah, meningkatkan kualitas keputusan dan memungkinkan pengawasan yang

efektif oleh Parlemen.

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, C. 2012. Penerapan Konsep Pajak Pada Zakat (Sebagai Alternatif Pengelolaan Zakat

yang Secara Efektif). Skripsi tidak diterbitkan. Makassar: Program Sarjana Fakultas

Ekonomi Universitas Hasanuddin.

Adhikari, P and Mellamvik, F. 2011. The Rise and Fall of Nepalese Central

Government. Journal of Accounting in Emerging Economies vol 1. 12: 123-143.

Anwar, S. 2007. Budgeting and Budgetary Institutions, Public Sector Governance and

Accountability. Washington: World Bank.

Athukorala, L. 2003. Accrual Budgeting and Accounting in Government and its Relevance for

Development member Countries. Manila: Asian Development Bank.

Barton, D. 2004. How to Profit from Defence: A Study in The Misaplication of Business

Accounting to the Public Sector in Australia. Financial Accountability and Management.

10: 281-304.

Bastian, I. 2009. Akuntansi Sektor Publik di Indonesia. Yogyakarta: BPFE- Yogyakarta.

Beechy, T.H. 2007. Does Accrual Accounting Enhance Accountability. The Inovation

(18)

Blondal, J. 2003. Accrual Accounting and Budgeting: Key Issues and Recent

Developments. OECD Journal on Budgeting,3 : 43-131.

Bovaird, T. Loffer, E.2003. Public Management and Governance. New York: Routledge.

Buhr, N. 2010. From Cash to Accrual and Domestic to International Government Accounting

Standard Setting in Last 30 Years. Makalah Disajikan pada Sixth Accounting History

International Conference, Welington. 19 Agustus.

Carlin, M. T. 2005. Debating the Impact of Accrual Accounting and Reporting in the Public

Sector. Financial Accountability and Management, 3: 309- 336.

Christensen, T et al.2007. Organization Theory and The Public Sector, Instrument,

culture and Myth. New York: Routledge.

Connolly, C. Hyndman, N. 2010. Accrual Accounting in public sector : a road not always

taken. Makalah disajikan pada seminar Institute of Public Administration. IPA. Rome,

28-30 November.

David, P. 4 November 2009. Skandal Manipulasi Laporan Keuangan PT KIMIA FARMA Tbk.

Hal 1.

Djamhuri, A. dan Mahmudi. 2006. New Public Mananagement, accounting reform and

institutional perspective of public sector accounting in indonesia. Jurnal Bisnis dan

Akuntansi,3:301-321.

Drechsler, Wolfgang, 2005, “The Rise and Deinise of the New Public Management”,

post-autistic econoinics review, Issue No. 33, Online

(http://www.paecon.net!PAEReview/issue33/Drechsler33.htm diakses 20 januari 2013).

Economic and Social Council United Nations, 2003, “Revitalizing public administration as a

strategic action for sustainable human development:an overview”, New York :

Economic and Social Council United Nations.

Ellwood, S. Newberry, S. 2006. Public Sector accrual Accounting Institutionalising

Neo-Liberals Principles. Accounting, Auditing, Accountability Journal vol 20, 4: 549-573.

Fadly, M. 2012. Implementasi Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil di Kecamatan Bua

Punrang Kabupaten Luwu. Skripsi tidak diterbitkan. Makassar. Program Sarjana

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin.

Halim, A. dan Syam, M. 2011. Akuntansi Keuangan Daerah.Jakarta: Salemba Empat.

Hari, R. 2008. Implementasi Kebijakan Pemberian Dana Subsidi Public Service Obligation

Pada Kereta Rel Listrik JABOTABEK. Skripsi tidak diterbitkan. Jakarta: Program Sarjana

(19)

HM Treasury. 2005. Delivery the Benefit of Accrual Accounting for Whole Public Sector.

London. HM Treasury.

Hood, C. 1991. A Public Management for All Season. Royal Institute Public

Admnistration Journal Volume 69, 1: 1-19.

Hughes, O. 2003. Public Management and Administration an Introduction (3rd Edition).

New York: Palgrave Macmillan.

Hughes, J. 2009. International Public Sector Accounting Stadards. Dalam F.B.Bogui (ed),

Handbook of Govermental Accounting (hlm.491-519). New York: CRC Press.

Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Standar Akuntansi Keuangan per 1 Juli 2009. Jakarta:

Salemba Empat.

Ismawati.K.2011.Accrual Accounting dalam New Public Management, (online),

http://unsa.ac.id/ejournal/indekx.php/smoothing/article/view/820/246, diakses 11

Desember 2012).

International Public Sector Accounting Board. 2011. International Public Sector Accounting

Standards. London: International Public Sector Accounting Board.

International Organization of Supreme Audit Institution.1995. Accounting Standard

Framework. Vienna: International Organization of Supreme Audit Institution.

Janet, V. dan Robert, B. 2007. The New Public Service. New York: M.E. Sharpe

Kieso, D et al. 2011. Intermediate Accounting IFRS Edition. Danvers: John Wiley & Sons.

Likierman, A., 2003. Planning and controlling UK public expenditure on a resource

basis, Public Money & Management 23, 45-50.

Lynn, L. 2006. Public Management Old and New. New York: Routledge.

Mahmudi. 2010. Manajemen Kinerja sektor Publik (edisi 2). Yogyakarta : Unit Pemerbit

dan Percetakan Sekolah tinggi Ilmu Manajemen YKPN

Mahsun, M et al. 2011. Akuntansi Sektor Publik (edisi 3).Yogyakarta: BPFE –Yogyakarta.

Marti, C. 2006. Accrual Budgeting: Accounting Treatment of Key Public Sector Items and

Implications for Fiscal Policy, 1: 45-65.

Mckendrick, J. 2007. Moderrnization of the Public Sector Accounting System in Central and

Eastern European Countries : The Case of Romania. International Public Management

Review,8 :165-185.

Memorandum Pembahasan Penerapan Basis Akrual dalam Akuntansi Pemerintahan di

(20)

Nawawi, Z. 2010. Perkembangan Ilmu Administrasi Publik dan Isu – isu Kontemporer

Administrasi Negara di Indonesia. Palembang: Program Pasca Sarjana Universitas

Sjakhyakirti.

Nordiawan, D. 2009. Akuntansi Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat

Organisation for economic Co-Operation and Development. 2002. Accrual Accounting and

Budgeting. Makalah disajikan dalam Twenty-third Annual Meeting of OECD Senior

Budget Officials, OECD, Washington DC, 3-4 Juni.

Prayudi. 15 Januari 2007. Kebangkrutan Akuntansi Kapitalis. Hal 1.

Ruth, R. 1996. Opening and Balancing the books: the New Zealand experience. Perspectives

Accrual Accounting. 1: 5-11.

Roob, A. Newberry, S. 2007. Globalization : Govermental Accounting and

International Financial Reporting Standards. Sosio-Economic Review, 5: 725-754.

Shi, Y. 2005. Accrual Reform in Public Sector in China. Stanfoed Center for

International Development. 1: 1-46.

Simanjuntak, B. 2010. Moving Towards Accrual Accounting. Makalah Disajikan pada

Regional Public Sector Conference, Jakarta 8 November.

South Asian Federation of Accountants. 2006. A Study Accrual Based Accoutning

for Goverments and Public Sector Entities in SAARC Countries. New Delhi. SAFA.

Stallebrink, Odd. 2007. An Investigation of Discretionary Accruals and Surplus – Deficit

Management : Evidance from Swedish Municipalities. Financial Accountabiity &

Management. 18: 441-458.

Stallebrink, odd and Sacco, J. An Austria Perspective on Comercial Accounting Practices in

Public Sector: Accounting Forum vol 27. 3: 339-358.

Stiglitz, J. 6 Juli, 2006. Don’t Trust Technocrats. Guardian, hlm 1.

Sunil, J. Kerry, J. New Public Management (NPM), Managerialism, and Value for Money

(VFM) Audit: A Review of Empirical Literature with Special Reference to Australia.

Paper Presented at Accounting Finance Australia And New Zealand conference in,

Sydney Australia 6-8 juli 2008.

Syarifuddin, 2003. Mencari Bentuk Standar Akuntansi Pemerintahan Daerah. Makalah

Disajikan dalam Seminar Nasional Kontroversi Penerapan Akuntansi Pemerintahan

Dalam Mewujudkan Good Governance. Ikatan Akuntan Indonesia Cabang

Sulawesi Selatan. Makassar, 17 Juli.

(21)

International Business & Economic Reseach Journal. 11: 71-78.

Upping, P. Oliver, J. 2011. Accounting Change Model for the Public Sector: Adapting Luder's

Model for Developing Countries. International Review of Business Research Papers

Vol. 7. 1: 364 – 380.

Vinnari, Erja and Nasi, Salmi. 2008. Creative Acounting in the Public Sector.

’Milking’ Water utilities to Balance Municipal Budgets and Accounts. Financial Accoutability

and Management. 5: 97-116.

Watkins, A. Edward, C. 2007. Accounting, New Public Management and American

Politics: Theoretical Insights into the National Performance Review. Critical

Perspectives on Accounting, 18: 33–58.

Wynee, A. 2003. Do Private Sector Financial Statement Provide a Suitable Model for Public

Sector Accounts. Makalah Disajikan pada European Group of Public Administration

annual conference on “Public Law and the Modernising State” in, Oeiras Portugal. 3-6

September 2003.

Wynee, A. 2004. Is The Move to Accrual Based Accounting a Real Priority for Public Sector

Accounting. (online), www2.accglobal.com/doc/publicsector/ps_doc009.pdf, diakses

27 Februari 2013).

Yamamoto, H. 2003. New Public Management Japan Practice. Institute International

(22)

ANALISIS MANFAAT DAN KELEMAHAN:

PENGGUNAAN BASIS ANGGARAN DAN BASIS AKUNTANSI

Ardianto (Universitas Airlangga)

Abstrak

Artikel ini membahas analisis manfaat dan kelemahan dari penggunaan basis pencatatan yang berbeda antara penganggaran dan akuntansi. Kajian analisis ini memberikan gambaran trade off yang terjadi antara manfaat dan kelemahan dalam penggunaan basis yang berbeda-beda tersebut. Sistem penganggaran pada umumnya terpisah dari sistem akuntansi. Domain penganggaran dianggap sebagai bagian dari sistem akuntansi manajemen, sedang akuntansi keuangan memiliki sistem terpisah yakni sistem akuntansi keuangan. Tulisan ini akan memberikan gambaran manfaat dan kelemahan yang terjadi jika kedua kondisi ini dibandingkan, yaitu ketika penganggaran berbasis kas dengan akuntansi berbasis akrual, dan kondisi penganggaran maupun akuntansi keduanya berbasis akrual. Pada akhirnya artikel ini memberikan alternatif solusi yang masih terbuka untuk dikembangkan lebih lanjut, khususnya di dunia akademisi untuk memberikan manfaat di tataran praktis.

Kata kunci: analisis manfaat dan kelemahan, basis anggaran, basis akuntansi

PENDAHULUAN

Dalam PP 71 tahun 2010, dinyatakan bahwa basis untuk akuntansi menggunakan basis

akrual. Penandingan anggaran dengan realisasinya dalam praktik di lapangan masih

diwujudkan dalam bentuk Laporan Realisasi Anggaran (LRA) yang saat ini umumnya masih

menggunakan basis kas. Di lain pihak PP 71 tahun 2010 mensyaratkan untuk menyajikan

Neraca, Laporan Operasional dan Laporan Perubahan Ekuitas dengan basis akrual. PP 71

tahun 2010 dalam kerangka konseptualnya juga telah menyatakan jika suatu saat anggaran

disusun dengan basis akrual, maka Laporan Realisasi Anggaran (LRA) juga harus disusun

dengan basis akrual. (PP 71 tahun 2010 Kerangka Konseptual paragraf 44.)

Basis akrual sektor publik sesungguhnya memiliki tekanan tujuan yang berbeda

dibanding pada sektor swasta. Penekanan di sektor publik lebih diperuntukkan dalam rangka

menghitung biaya layanan atau cost of service yang akan digunakan untuk menilai efisiensi

dan keekonomisan organisasi pemerintahan dalam mencapai tujuan. Pada sektor swasta

tekanannya lebih pada penandingan yang tepat antara pendapatan dengan biaya. Pemahaman

atas perbedaan tujuan penerapan akrual basis ini perlu mendapat perhatian karena dalam

praktik penandingan yang tepat antara pendapatan dengan biaya secara teknis tidak mudah

(23)

Kondisi ini seringkali menghambat kecepatan dalam pengakuan yang pada akhirnya berdampak

pada penandingan antara pendapatan dengan biaya.

Jika dibandingkan dengan praktik di sektor bisnis, sesungguhnya selain perbedaan,

terdapat pula beberapa kesamaan konsep mendasar yang dapat diadopsi jika memang selaras

dengan tujuan pertanggungjawaban keuangan di sektor publik. Hal tersebut antara lain:

1. Format anggaran dan realisasi harus sama sehingga dapat ditentukan varian atau selisih

untuk kepentingan pengendalian.

2. Tujuan penyusunan laporan keuangan adalah untuk pertanggungjawaban keuangan

terhadap stakeholder dan untuk pengambilan keputusan.

3. Keduanya memiliki kerangka dasar akuntansi yang hampir sama.

Saat ini basis yang umum digunakan dalam penganggaran adalah berbasis kas. Laporan

Realisasi Anggaran dengan demikian juga berbasis kas. Hal ini dapat dipahami dengan fakta

bahwa APBD/N juga masih menggunakan basis kas. Dengan berlakunya PP 71 tahun 2010

menyebabkan Laporan Keuangan Pemerintah akan disajikan dalam basis akrual. Pembahasan

selanjutnya dalam artikel ini adalah melihat manfaat dan kelemahan atas kondisi di mana

penganggaran menggunakan basis kas dan akuntansi menggunakan basis akrual. Ditelaah pula

kondisi ketika anggaran berbasis akrual dengan akuntansi juga berbasis akrual.

PERBANDINGAN ANGGARAN BASIS KAS DENGAN ANGGARAN BASIS AKRUAL

Untuk melihat manfaat dan kelemahan penggunaan basis yang berbeda antara anggaran

dan akuntansi, dapat ditabulasikan sebagai berikut:

Anggaran Basis Kas, Akuntansi Basis Akrual Anggaran Basis Akrual, Akuntansi Basis Akrual

Manfaat Kelemahan Manfaat Kelemahan

1. Anggaran berbasis

(24)

Anggaran Basis Kas, Akuntansi Basis Akrual Anggaran Basis Akrual, Akuntansi Basis Akrual

Manfaat Kelemahan Manfaat Kelemahan

dengan realisasinya. terjadi lebih banyak penyajian laporan,

Dalam praktik di sektor bisnis, telah lazim dilakukan penyusunan anggaran kas,

anggaran keuangan (neraca) dan anggaran operasional (laba rugi) yang selanjutnya

ditandingkan dengan realisasi masing-masing. Pada dasarnya anggaran ini tidak semata

dilakukan untuk menjustifikasi adanya pengeluaran kas. Anggaran sesungguhnya adalah alat

untuk perencanaan (planning), pengendalian (controlling) dan koordinasi (coordinating).

Anggaran juga tidak sekadar menambahkan atau mengurangi angka dari tahun sebelumnya

pada saat penyusunannya. Anggaran seharusnya diturunkan dari proses perumusan strategi

menuju perencanaan strategi, selanjutnya menghasilkan sasaran strategis dan program kerja.

Program kerja inilah yang menjadi dasar penyusunan anggaran. Dengan perbedaan tujuan

sektor bisnis dengan sektor pemerintah, maka yang perlu dikaji adalah manakah yang dapat

diadopsi oleh sektor pemerintah dalam konteks penganggarannya dan manakah yang tidak

perlu. Apakah anggaran dalam format pelaporan keuangan juga diperlukan, ataukah cukup

anggaran yang berbasis kas saja. Dengan demikian adalah relevan jika analisis perbedaan

(25)

PERMASALAHAN

Pertanyaan kunci adalah apakah penganggaran di sektor pemerintah cukup dengan

anggaran kas ataukah perlu disusun hingga anggaran operasional dan anggaran finansial

(posisi keuangan) yang berbasis akrual. Beberapa pandangan dapat saja berbeda, namun

perlu diperhatikan tujuan penyusunan laporan keuangan pada entitas pemerintah. Jika

keefektifan, efisiensi dan keekonomian adalah sebuah upaya yang akan dicapai, tentunya dalam

operasi dari sebuah entitas pemerintah juga harus dikendalikan dengan perencanaan yang

mengarah pada pencapaian tujuan organisasi (pemerintah) tersebut. Laporan atas operasi

entitas pemerintah, yang berdasar PP 71 tahun 2010 dikenal dengan istilah Laporan

Operasional, seharusnya juga mendapat porsi penganggaran sebelum pelaksanaan operasinya.

Implikasinya adalah anggaran harus disusun dengan basis yang sama dengan laporan

operasional, yang tidak lain menggunakan basis akrual. Kondisi pengendalian ini dapat dicapai

jika basis yang digunakan dalam penganggaran sama dengan basis akuntansi.

Di sisi lain terdapat kelemahan atau hambatan dalam menyamakan basis anggaran

dengan basis akuntansi, antara lain:

1. Akan bertambah upaya (effort) untuk menyajikan laporan. Hal ini disebabkan

masing-masing laporan akan ditandingkan dengan realisasinya. Setidaknya disamping

menggunakan LRA yang berbasis akrual, tentunya untuk pengambilan keputusan terkait

kas, laporan anggaran kas dan realisasinya (Anggaran Cash Flow) juga masih diperlukan

(sulit untuk dapat ditinggalkan).

2. Kebiasaan dalam membaca anggaran berbasis kas dibanding anggaran berbasis akrual di

sektor pemerintahan menyebabkan kemungkinan salah interpretasi bagi pengguna jika

diubah ke basis akrual. Dengan demikian diperlukan upaya pemahaman bagi para pihak

yang berkepentingan (stakeholder).

3. APBN/APBD masih berbasis kas dan tidak mudah langsung merubah ke basis akrual

4. Software atau sistem terkait penyajian laporan harus disesuaikan untuk menghasilkan

penandingan yang setara antara format anggaran (akrual) dan format laporan keuangan

(akrual). Kondisi ini memerlukan penyamaan kode akun dan sebagainya agar setiap pos

yang dilaporkan telah terdapat dalam pos yang dianggarkan. Jika tidak cermat kondisi ini

(26)

PP 71 tahun 2010, mensyaratkan entitas pelaporan untuk menyajikan setidaknya 7

jenis laporan sebagai berikut:

1. Laporan Realisasi Anggaran (LRA)

2. Laporan perubahan saldo anggaran lebih (SAL)

3. Neraca

4. Laporan Operasional (LO)

5. Laporan Arus Kas (LAK)

6. Laporan Perubahan Ekuitas

7. Catatan atas laporan keuangan (CALK)

Poin 1 dan 2 disebut dengan laporan pelaksanaan anggaran, sedang poin 3 hingga 7 disebut

laporan finansial.

Jika nantinya digunakan anggaran akrual maka implikasi terhadap penandinganya

adalah dengan pelaporan akuntansi akrual pula. Pada saat itu sesungguhnya analog dengan

melaporkan laporan operasional (berbasis akrual) ditandingkan dengan realisasinya yang juga

berbasis akrual sehingga dihasilkan anggaran selisih lebih/kurang dari operasi. Akibatnya

adalah terdapat anggaran posisi keuangan yang juga menampung anggaran selisih lebih/kurang

pada sisi ekuitasnya. Pada dasarnya terdapat tarik menarik antara perlunya menyusun

anggaran yang kompleks namun memberi manfaat yang optimal atau anggaran yang

sederhana namun terbatas dalam memberikan manfaat.

Dalam lampiran PP 71 tahun 2010 ditunjukkan bahwa berdasar UU no 1 tahun 2004 pasal 70

ayat 2 dinyatakan bahwa pengakuan pendapatan dan belanja pada APBN/APBD menggunakan

basis akrual. Faktanya sebagian besar praktik yang berlaku dalam penganggaran dan pelaporan

pelaksanaan anggaran di Indonesia adalah berbasis kas. ( Halim dan Kusufi, 2012). Oleh

karena itu, relevan untuk mengkaji penerapan anggaran yang berbasis akrual untuk

ditandingkan dengan laporan realisasi yang berbasis akrual pula. Selanjutnya peran akademisi

diperlukan untuk memperjelas konsep dan analisis lebih lanjut atas manfaat dan biaya setiap

perubahan yang terjadi.

PENUTUP

Komponen penting dari basis akrual pada sistem akuntansi pemerintah adalah adanya

(27)

dipungkiri bahwa penerapan basis akrual pada pelaporan keuangan sudah pada arah yang

benar. Langkah selanjutnya yang tidak kalah penting adalah telaah lebih mendalam kelemahan

dan kekuatan penggunaan sistem penganggaran yang berbeda basis dengan laporan

akuntansinya. Jika penganggaran akan diubah ke basis akrual, perlu pula dikaji bagaimana

pengendalian atas arus kas serta implikasi yang lain terkait basis yang digunakan dalam

APBN/D. Kajian mendalam atas permasalahan ini penting untuk dilakukan karena perbedaan

konsep yang ideal dengan praktik seringkali timbul karena pengetahuan manusia yang terus

berkembang seiring dengan perjalanan waktu. Perbaikan ke arah yang lebih ideal merupakan

kenyataan yang tidak terhindarkan seiring dengan pemahaman yang meningkat atas suatu

konsep yang ideal.

Di sisi lain aspek biaya dan manfaat juga perlu menjadi pertimbangan. Setiap

perubahan memerlukan biaya, dengan demikian perlu pula ditinjau asas kemanfaatannya.

Apakah perubahan tersebut memberikan manfaat yang lebih besar menjadi fokus kajian pula.

Apapun yang akan digunakan dalam sistem penganggaran seharusnya didukung oleh perangkat

undang-undang/peraturan yang saling mendukung sehingga tidak menimbulkan permasalahan

bagi pengguna peraturan tersebut.

REFERENSI

Iqbal dan Kusufi, dalam Halim dan Kusufi, 2012, Akuntansi Sektor Publik-Akuntansi

Keuangan Daerah, Salemba 4

Kara, E dan Kilic Y. , 2011 Accounting Recording System on Accrual Basis at Local Autorities in Turkey, International Journal of Business and Social Science Vol2 no 15

PP 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan

(28)

TRANSISI DARI AKUNTANSI BERBASIS AKRUAL MENUJU

PENGANGGARAN BERBASIS AKRUAL

Arief Surya Irawan (FEB Universitas Gadjah Mada)

The transition to the accrual basis of accounting may bring certain advantages in the appropriate context. In contrast, the cash basis of accounting has served almost all governments well over at least the last two hundred years

(Andy Wynne, 2004)

PENDAHULUAN

Dalam proses penyusunan anggaran secara garis besar terdapat dua metode yaitu

metode basis kas dan basis akrual. Metode basis kas dan basis akrual adalah dua representasi

akhir dari gambaran kemungkinan penganggaran. Umumnya, negara-negara di dunia banyak

yang menggunakan metode basis kas dalam aktivitas penganggaran sektor publik. Namun

demikian, saat ini kebanyakan lembaga pemerintah bekerja dengan pola hibrida (hybrid), yaitu

sistem kas dengan komitmen yang merupakan pengejawantahan dari basis akrual. Akan tetapi,

tren menunjukkan anggaran publik memberikan informasi mengenai kos dari aktivitas dan

semakin mengarah menjadi basis akrual.

Mengapa sejumlah negara beralih menggunakan akuntansi akrual? Untuk menjawab

pertanyaan ini, beberapa alasan dapat dikemukakan. Pertama, akuntansi akrual menyediakan

informasi untuk menjalankan organisasi dengan cara lebih efektif dan efisien. Kedua, sistem

akuntansi akrual menciptakan kemungkinan untuk memberikan informasi baru yang

merefleksikan realitas ekonomi dari organisasi. Hal ini akan semakin nyata dengan adanya

dukungan dari sistem manajemen akuntansi. Pada keadaan ini, akuntansi basis akrual mungkin

merupakan instrumen penting untuk meningkatkan akuntabilitas. Ketiga, reformasi akuntansi

akrual mungkin juga dilandasi oleh pengalaman terdahulu dengan organisasi lain.

Informasi arus kas masih penting untuk dalam rangka mengontrol kondisi fiskal dan

untuk identifikasi kebutuhan perbendaharaan sebagai bagian dari ekonomi makro (kebijakan

(29)

memperkenalkan penganggaran basis akrual juga menyediakan informasi arus kas agar

memiliki ikhtisar yang lebih lengkap.

EVOLUSI MENUJU AKUNTANSI AKRUAL DAN PENGANGGARAN AKRUAL

Beberapa pakar mengatakan bahwa terdapat evolusi proses penyusunan anggaran dari

basis kas menjadi basis akrual. Tabel di bawah menunjukkan perbandingan luas reformasi

penganggaran dan akuntansi akrual pada 6 negara OECD.

Tabel 1: Akuntansi akrual dan akuntansi pada pemerintahan Pusat/Federal dan Satuan Kerja di enam

negara anggota OECD.

Penganggaran Akrual Akuntansi Akrual

Departemen Satuan Kerja Departemen Satuan Kerja

Australia X X X X

Kanada X X

Belanda X X

Swedia X X

Inggris Raya X X X X

Amerika Serikat X X

Sumber: Sterck, et.al, 2005

Sterck et. Al (2005) dengan berdasarkan hasil studi reformasi penganggaran dan akuntansi

di atas, telah menyusun tiga skenario terkait dengan evolusi ke arah penganggaran akrual:

a. Skenario 1: Penganggaran basis kas dan akuntansi basis kas

Pada skenario ini dapat ditemui negara yang menggunakan penganggaran dan akuntansi

basis kas dan komitmen, contoh Belanda.

b. Skenario 2: Penganggaran basis kas dan akuntansi basis akrual

Pada skenario ini dapat ditemukan negara yang mengadopsi sistem akuntansi berbasis

akrual, namun belum mengganti metode sistem penganggaran dengan tetap berdasar basis

kas, contoh Amerika Serikat, Kanada dan Swedia.

c. Skenario 3: Penganggaran dan Akuntansi Akrual secara penuh

Pada scenario ketiga, sistem akuntansi basis akrual didukung dengan sistem penganggaran

(30)

PERBANDINGAN AKUNTANSI AKRUAL DENGAN PENGANGGARAN AKRUAL

Akuntansi akrual fokus pada pencatatan dan pascapelaporan transaksi. Secara teknis,

sebuah pemerintahan dapat mengimplementasikan akuntansi akrual tanpa harus melakukan

perubahan pada kerangka kerja penganggaran berbasis kas yang berlaku termasuk untuk

kementerian maupun lembaga

Penganggaran akrual, mencakup perencanaan basis akrual. Dalam hal ini penganggaran

akrual menggabungkan penganggaran basis kas dengan transaksi- non-kas termasuk aset,

kewajiban dan ekuitas. Sebagai contoh, anggaran akrual akan mencakup anggaran biaya,

item-item non kas seperti depresiasi dan pengelolaan dana pensiun. Hal ini memungkinkan anggaran

akrual menyediakan infomasi terkait implikasi pemanfaatan sumber daya atas aktivitas

pemerintah yang sudah ditetapkan. Peruntukan anggaran untuk pemerintah/DPR juga dapat

dikalkulasi dengan menggunakan basis akrual untuk membayar kos total (full cost) operasi

pemerintah tidak tergantung pada saat kapan pengeluarannya terjadi. Sebaliknya, hal ini akan

menimbulkan isu kompleksitas akuntansi dan manajemen kas yang harus diselesaikan sebelum

basis akrual diimplementasikan.

PENYELARASAN AKUNTANSI AKRUAL DENGAN PENGANGGARAN AKRUAL

Banyak pendapat yang menyatakan bahwa reformasi akuntansi dan penganggaran

seyogyanya diselaraskan sehingga ada dasar penandingan antara rencana pemerintah dengan

hasil keuangan aktual. Blonde (2004 dalam Halim dan Kusufi, 2012) menyatakan bahwa tanpa

perubahan dalam pengelolaan penganggaran, perubahan ke arah akuntansi berbasis akrual akan

mengalami kegagalan dalam rangka menciptakan perubahan budaya maupun insentif yang pada

akhirnya akan mengurangi kebermanfaatan perubahan tersebut. Pemerintah bisa saja

memutuskan untuk mengadopsi akuntansi berbasis akrual sebagai langkah awal sebelum

mengaplikasikan penganggaran akrual yang cenderung lebih kompleks impelementasinya.

Akumulasi pengalaman implementasi akuntansi akrual dan ketersediaan data historis akan

memberi kontribusi positif pada saat transisi ke penganggaran akrual

TANTANGAN REFORMASI PENGANGGARAN DAN AKUNTANSI BASIS AKRUAL

Penerapan sistem akuntansi dan penganggaran basis akrual memunculkan banyak

(31)

1. Transformasi manajemen berdasarkan kas menjadi berdasar prasyarat akrual

2. Memperoleh perhatian dan meyakinkan anggota parlemen

3. Menghadapi standar persaingan

4. Memutuskan pilihan antara sentralisasi atau desentralisasi sistem software

5. Meningkatkan fungsi finansial

6. Menghadapi tumbuhnya kebutuhan akuntan profesional

7. Mengurangi kompleksitas sistem

PENUTUP

Evolusi menuju akuntansi akrual mengarah kepada implementasi penganggaran akrual

dapat dilakukan dengan 3 skenario yaitu penganggaran kas maupun akuntansi berbasis kas,

penganggaran kas dan akuntansi berbasis akrual atau penganggaran akrual dan akuntansi

berbasis akrual. Apapun metode perubahan yang dipilih tidak mengakibatkan kebutuhan akan

informasi tentang kas menjadi berkurang.

REFERENSI

Ahyaruddin, Muhammad, 2013, Tantangan Penerapan Akuntansi Berbasis Akrual Di

Pemerintahan Indonesia, akhyaruddinmsc.blogspot.com, diakses 20 Januari 2014

Halim, Abdul, dan Syam Kusufi. 2012. Teori, Konsep, dan Aplikasi Akuntansi Sektor Publik,

dari Anggaran Hingga Laporan Keuangan dari Pemerintah Hingga Tempat Ibadah.

Salemba Empat. Jakarta.

Kahn, Abdul & Stephen Mayers, 2009, Transition To Accrual Accounting, Technical Notes

And Manuals, International Monetary Fund.

Sterck, M., Scheers, B., Conings, Veerie & Boukaeert B., 2005, Linking Budgeting and

Accounting Reforms an International Comparison, presented at 10th biennial CIGAR

(32)

MANFAAT BASIS AKRUAL AKUNTANSI PEMERINTAHAN:

PONDASI MANAJEMEN BIAYA ENTITAS PEMERINTAHAN

Muhammad Ichsan

Program Studi Magister Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia

E-mail :[email protected]

ABSTRAK

Tulisan ini bertujuan untuk melihat manfaat penerapan akuntansi berdasarkan hasil penelitian pada entitas pemerintahan yang mempunyai kewajiban dan telah menerapkan akuntansi akrual. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dipahami bahwa akuntansi akrual jika dilaksanakan dengan baik, apalagi jika diintegrasikan dengan penerapan sistem akuntansi biaya akan memberikan manfaat dalam: meningkatkan kualitas penggunaan sumber daya, penguatan akuntabilitas, peningkatan transparansi atas total biaya aktivitas pemerintahan, dan penilaian secara lebih komprehensif atas pengaruh dari aktivitas pemerintahan terhadap perekonomian.

Penerapan akuntansi pemerintahan akrual di Indonesia, sebenarnya telah mulai dilakukan sejak pemerintah memberikan penetapan Badan Layanan Umum/BLU (2005). Walaupun masih terdapat pro dan kontra terhadap penerapan akuntansi pemerintahan akrual, namun dapat dipahami bahwa akuntansi akrual dapat memberikan manfaat dalam pengelolaan biaya suatu entitas sehingga usaha-usaha untuk melakuan efisiensi dapat dilakukan. Dari pembahasan contoh kasus diketahui bahwa penerapan akuntansi akrual di entitas pemerintahan sebaiknya dimulai dari entitas pemerintahan yang mempunyai tugas memberikan atau menyediakan barang / pelayanan langsung kepada masyarakat. Entitas pemerintahan tersebut memerlukan suatu sistem akuntansi yang dapat digunakan untuk menghitung biaya satuan (unit cost). Mengetahui biaya satuan (unit cost) tidak semata-mata ditujukan untuk menetapkan nilai biaya yang harus ditanggung oleh masyarakat, tetapi juga berguna agar entitas tersebut dapat dikelola secara ekonomis, efisien, efektif, serta meningkatkan aspek kualitas tatakelola pemerintahan. Dengan mengetahui biaya satuan layanan juga dapat diketahui berapa proporsi yang harus ditanggung oleh pemerintah melalui APBN.

Kata Kunci : akuntansi akrual, akuntansi biaya, biaya satuan (unit cost), badan layanan umum, manajemen biaya, keadilan antar generasi.

PENDAHULUAN

Gelombang perubahan dunia yang dipacu oleh inisiatif penerapan Manajemen Publik

Baru (MPB) / New Public Management (NPM) telah mendorong banyak negara untuk segera

mengambil langkah perubahan. Ini merupakan pilihan yang paling realistis dan paling logis

karena negara menghadapi semakin menguatnya tuntutan akan akuntabilitas dan transparansi

yang lebih baik dalam pengelolaan sumber daya keuangan, yaitu agar pengelolaannya dapat

dilakukan secara ekonomis, lebih efisien, dan semakin efektif.

Dalam dua dasawarsa terakhir, banyak negara melaksanakan reformasi dalam bidang

pengelolaan keuangan negara yang merupakan bagian penting dari inisiatif Manajemen Publik

Baru (MPB) / New Public Management (NPM). Salah satu reformasi yang dilakukan adalah

mengganti atau merubah sistem akuntansi anggaran negara yang semula menggunakan basis

kas (budgetary cash accounting systems) menjadi sistem anggaran dan akuntansi yang berbasis

Gambar

Tabel 1: Akuntansi akrual dan akuntansi pada pemerintahan Pusat/Federal dan Satuan Kerja di enam
Tabel 1 Taarif Kamarr Rawat Inap Non Psiikiatri (Ummum)
Tabel 3 Perhitungan dan Perbandingan

Referensi

Dokumen terkait

Perbandingan Kenaikan Transaksi dengan Biaya Produksi Setelah Melakukan Pendekatan kepada para Calon Customer Baru .... Contoh Kegiatan Pengiriman Barang Kargo dari Jakarta ke

Pelaksanaan pembelajaran baik sesi sinkron dan asinkron mahasiswa dilakukan secara terjadwal, sehingga seluruh mahasiswa wajib menyesuaikan dengan jadwal yang

Dalam proses perencanaan strategis salah satu langkah yang dilakukan adalah melakukan analisis keterkaitan dengan aturan- aturan dan arahan kebijakan baik dalam Rencana Strategis

Gambar.99 Integrasi Material Alam dengan Lingkungan 117 Gambar.100 Penerapan Pencahayaan Alami pada Borbounni Restaurant 117 Gambar.101 Penerapan Pencahayaan Buatan

a) Perencanaan kebutuhan pegawai sesuai dengan kebutuhan organisasi yang komprehensif. b) Penerapan pengukuran kinerja individu pegawai berbasis sistem merit yang

SPK dalam UU 20 tahun 2014 mencakup seluruh aspek perencanaan, perumusan, penetapan, penerapan, pemberlakuan standar, pengawasan penerapan standar, pengujian,

23 Panel menolak argumentasi Pemerintah Kanada dengan menegaskan bahwa tindakan Pemerintah Kanada mempengaruhi pilihan investor untuk menggunakan produk impor, bahkan jika

Salah satu cara untuk menentukan biaya pencemaran adalah dengan melihat tingkat harga, tetapi bila tidak dapat secara langsung mengetahui harga pasar untuk kerugian karena