BAB III HASIL PENELITIAN PARTISIPASI A. Partisipasi Orang tua Dalam Pendidikan Anak - Peran Kuli Panggul Di Pasar Klewer Surakarta Dalam Pendidikan Formal Anak Tingkat SMA

24 

Teks penuh

(1)

BAB III

HASIL PENELITIAN PARTISIPASI

A. Partisipasi Orang tua Dalam Pendidikan Anak

Keluarga merupakan lembaga pendidikan terkecil, tempat sebuah kehidupan dimulai dan saat pendidikan dimulai. Pendidikan keluarga adalah sebuah proses pemindahan dan pembentukan kehidupan yang ada dalam diri orang tua yaitu ayah dan ibu. Kesatuan pendidikan itu dasarnya adalah hidup bersama, melaksanakan nilai-nilai, dan membimbing perkembangan anak (Pengantar Sosiologi Mikro, 2008:165-166).

Di dalam keadaan yang normal, maka lingkungan pertama yang berhubungan dengan anak adalah orang tuanya, saudara-saudaranya yang lebih tua (kalau ada) serta mungkin kerabat dekatnya yang tinggal serumah. Melalui lingkungan itulah si anak mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan hidup yang berlaku sehari-hari. Melalui lingkungan itulah anak mengalami proses sosialisasi awal (Soerjono Soekanto,1990:443).

(2)

di rumah. Karena tanpa adanya kepedulian/kesadaran dari orang tua itu sendiri maka kemampuan/potensi dari si anak tidak akan berkembang.

Semenjak anak menjadi remaja seumuran anak SMA/sederajat maka pergaulan dan interaksi dengan orang tuanya menjadi berubah. Semakin dewasa seorang anak, maka peran dan partisipasi orang tua akan semakin berkurang, bahkan suatu saat seorang anak dewasa adalah “teman” dari orang tua mereka.

Orang tua tidak segan-segan menanyakan atau meminta pendapat anaknya, sebab orang tua menilai anaknya sudah bisa berpikir dewasa dan mampu untuk menentukan sikap/pilihannya. Seperti halnya dalam pemilihan sekolah atau menentukan pilihannya setelah lulus SMA/sederajat. Dari 10 orang tua yang menjadi informan dalam penelitian ini kesemuanya memilih menyerahkan sepenuhnya keputusan dalam pemilihan sekolah SMA kepada anak-anak mereka. Begitu pun tentang pilihan anak mereka setelah lulus SMA nantinya mau kuliah atau bekerja.

Seperti pernyataan yang disampaikan oleh Bp. Muhammad Rosyid, 62 Tahun. Beliau menyatakan bahwa:

“Saya menyerahkan kepada anak saya mbak dalam pemilihan sekolah waktu masuk SMA. Begitupun setelah anak saya lulus SMA, terserah dia mo bekerja atau kuliah. Kalau saya sih mbak pengennya dia kuliah, tetapi kalau saya tanya dia mesti bilang kalau nanti g mau kuliah pilih bekerja saja. Ya sudah saya ma istri manut saja, toh itu keinginannya sendiri. Apapun pilihan dia, saya mendukung”.

(3)

keuangan atau biaya sekolah nantinya. Dari jawaban informan tidak jarang orang tua yang mengungkapkan bahwa sebenarnya anak ingin kuliah setelah lulus SMA tetapi untuk melanjutkan kuliah dirasa tidak mungkin karena terbentur masalah biaya.

Hal ini dituturkan oleh ibu Sutarmini, 40 Tahun yang mengatakan bahwa:

“Saya tuh pengennya ya anak saya kuliah mbak setelah lulus SMA, tetapi kelihatane tidak mungkin karena tidak ada biaya. Sebenarnya anak saya juga pengen kuliah tetapi melihat orang tuanya tidak punya biaya jadi dia pengen bekerja saja. Mungkin anak saya kasihan ma orang tuane, kan penghasilan saya sama suami juga untuk membiayai adik-adiknya juga yang masih SMP dan SD”.

Hal yang serupa juga di ungkapkan oleh ibu Sri Rejeki, 44 Tahun yang mengakui bahwa:

“Saya tuh pengennya nyekolahin anak sampai tinggi mbak. tapi mau gimana lagi tidak ada biaya. Apalagi penghasilan suami saya tidak tetap, ditambah anak saya tiga-tiganya masih sekolah semua. Untuk membiayai dia sekolah SMA saja sudah lumayan berat apalagi jika nanti kalau sudah lulus mau kuliah”.

(4)

anaknya sampai kuliah, anaknya pun juga ingin tetapi hanya karena tidak memiliki biaya maka keinginan itu sirna.

a) Indikator partisipasi dalam pendidikan

Orang tua selaku “sumber ilmu” bagi anak-anaknya tentunya memberikan terbaik apa yang bisa diberikan. Partisipasi orang tua dalam pendidikan anak memiliki beberapa indikator, diantaranya adalah:

- Definisi partisipasi dalam pendidikan

Kata partisipasi memiliki pengertian yang luas. Oleh sebab itu banyak tokoh yang kemudian memberikan definisi dari partisipasi. Partisipasi lebih sering digunakan dalam bidang politik.

Menurut Suharto dan Iryanto (1989), pengertian partisipasi adalah hal turut berperan serta di suatu Kegiatan, keikutsertaan, peran serta. Dengan demikian dapat dikatakan partisipasi tersebut sama dengan peran serta.

Menurut Soerjono Soekanto (1993:355) menyebutkan bahwa partisipasi merupakan setiap proses identifikasi atau menjadi peserta, suatu proses komunikasi atau kegiatan bersama dalam suatu situasi sosial tertentu (http://lppbi-fiba.blogspot.com).

(5)

Partisipasi dalam pendidikan bisa dikatakan bahwa orang tua ikut serta atau aktif dalam membimbing/memotivasi dan menyertai anak menempuh pendidikan. Membimbing/memotivasi dapat dimulai sejak dini ketika si anak masih kecil. Sehingga ketika sudah besar, orang tua tinggal menyesuaikan perannya menurut usia dan perkembangan si anak.

Yang sering terjadi sekarang ini adalah para orang tua tidak memiliki banyak waktu untuk melaksanakan perannya sebagai pendidik anak di rumah. Hal ini karena hampir sebagian orang tua menghabiskan waktunya sehari-hari untuk bekerja, terkadang para ibu juga bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.

Partisipasi dalam pengembangan pendidikan anak perlu ditumbuhkan dengan adanya kemauan dan kemampuan tidak hanya dari orang tua saja tetapi dari pihak lain juga harus ikut serta seperti dari pihak sekolah maupun pemerintah. Hal itu karena berbagai pihak harus saling bahu-membahu melengkapi untuk meningkatkan mutu pendidikan anak. Jika mutu pendidikan anak meningkat maka penghidupan ke depannya pasti juga akan meningkat.

- Motivasi dari orang tua kepada anak

(6)

mulai memasuki masa remaja. Motivasi orang tua penting dilakukan saat anak masih mengenyam pendidikan baik formal maupun non formal, sebab keluarga adalah motivator yang paling dekat dengan lingkungan si anak.

Kalau pada anak, orang tualah yang harus menanamkan agar si anak berpengetahuan sedangkan pada remaja orang tua harus memberikan pengertian melalui cara-cara yang dewasa. Sebab, remaja lebih banyak memerlukan pengertian daripada sekedar pengetahuan semata, dia harus emngerti mengapa manusia tidak boleh terlalu bebas dan juga tidak boleh terlalu terikat. Oleh sebab itu, antara kebebasan dan disiplin harus serasi/seimbang menurut masing-masing kondisi yang dialami.

Suasana keluarga yang positif bagi motivasi dan keberhasilan studi adalah keadaan yang menyebabkan anak atau remaja merasa dirinya aman atau damai bila berada di tengah keluarga tersebut. Merasa aman atau damai dengan artian bahwa apa yang mereka lakukan mendapat persetujuan dan dukungan keluarga. Dengan begitu anak atau remaja termotivasi dalam hatinya untuk mendapatkan hasil yang baik.

(7)

bahwa anak mereka sudah mulai dewasa dan bisa membagi waktunya, kapan untuk belajar kapan untuk bermain.

Orang tua sendiri juga berpikiran begitu karena disamping anak belajar di rumah anak mereka juga mengikuti les privat, pelajaran ekstrakuliluler atau pelajaran tambahan di sekolahannya. Sebagian besar anak-anak mereka mengikuti pelajaran tambahan di sekolah karena merupakan kebijakan dari masing-masing sekolah. Les privat, pelajaran tambahan, dan ekstrakulikuler merupakan beberapa kegiatan yang dirasa orang tua dapat membantu kelancaran pendidikan yang mereka tempuh.

Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Sugiyarti, 42 tahun yang mengatakan bahwa:

”Anak-anak saya yang sudah bersekolah apalagi yang tingkat SMP dan SMA saya ikutkan les privat di rumah, walaupun di sekolah mereka sudah ada pelajaran tambahan dan ekstrakulikuler. Sebelum saya ikutkan les privat, saya tanya dulu sama anaknya, apakah mau les privat dirumah? Kalau anaknya mau ya saya ikutkan kalau tidak mau ya tidak. Saya tenang kalau anak ikut les privat, karena saya tahu kemampuan mereka jadi dengan ikut les dirasa bisa membantu nilai-nilai terlebih jika sedang UN. Sebenarnya saya menyerahkan kepada anaknya sendiri, kalau orang tua kan hanya bisa mendorong/mendukung keinginannya”.

Seberapapun besar motivasi yang sudah diberikan orang tua kalau dari dalam diri sang anak tidak setuju/merespon baik maka akan percuma juga.

b) Pola asuh orang tua di rumah

(8)

Orang tua memiliki cara tersendiri untuk membentuk dan mengarahkan anak-anaknya ke arah yang lebih baik. Berikut ini ada beberapa “parenting style” yang biasanya diterapkan orang tua kepada anak:

- Authoritarian(otoriter)

- Permissive(serba membolehkan)

- Authotative(berwenang) (Dr, H, Syamsu Yusuf LN, M, Pd. 2001: 51-52)

Dari beberapa “parenting style” yang disebutkan di atas, kemampuan orang tualah yang berperan penting. Orang tua harus mampu mengikuti perkembangan jaman sehingga pola asuh yang diterapkan sesuai dengan apa yang dirasakan oleh anak.

Dari pola asuh yang diterapkan orang tua dari kecil hingga besar sedikit banyak akan berdampak pada kepribadian anak kelak. Pola asuh yang diterapkan untuk mendidik anak yang kecil dengan anak yang menginjak masa remaja juga tentunya sangat berbeda. Orang tua tidak bisa menyamakan pola asuh untuk anak SD dengan anak SMA. Karena kita tahu psikologi anak kecil dengan anak remaja sangat jauh berbeda.

(9)

Hal ini dikarenakan sebagian besar bapak harus bekerja di luar rumah sehingga interaksi antara bapak dan anak menjadi lebih sedikit. Walaupun porsinya lebih sedikit ketimbang ibu, akan tetapi bapak masih tetap mengkontrol perkembangan anak.

Seperti yang diungkapkan oleh Bp. Endro Suwarno Sadino, 51 Tahun yang mengatakan bahwa:

“Walaupun saya bekerja dari pagi sampai sore di pasar, tetapi masalah mengurus anak harus tetap diasuh bersama-sama bapak dan ibu. Tidak mungkin pengasuhan anak diserahkan semua kepada istri, saya juga harus ikut mengurus. Apalagi saya dengan anak-anak itu sangat dekat, jadi jika anak-anak tidak ada di rumah suka kangen. Obatnya ya saya telepon mereka, jadi menurut saya komunikasi antara orang tua dan anak itu sangat pentingtidak boleh putus”.

Dari ungkapan diatas dapat diketahui bahwa pola asuh orang tua itu sangat penting, karena dengan pola interaksi tersebut hubungan antara orang tua dengan anak bisa semakin kuat.

Pikunas (1976:72) mengemukakan pendapat Becker, Deutsch, Kohn, dan Sheldon tentang kaitan antara kelas sosial dengan cara atau teknik orang tua dalam mengatur anak, yaitu:

a) Kelas bawah (Lower Class), cenderung lebih keras dan lebih sering menggunakan hukuman fisik, dibandingkan dengan kelas menengah.

(10)

Mereka mempunyai ambisi untuk meraih status yang lebih tinggi dan menekan anak untuk mengejar statusnya melalui pendidikan atau latihan professional.

c) Kelas Atas (Upper Class), cenderung lebih memanfaatkan waktu luangnya dengan kegiatan-kegiatan tertentu, lebih memiliki latar belakang pendidikan yang reputasinya tinggi, dan biasanya senang mengembangkan apresiasi estetikanya. Anak-anaknya cenderung memiliki rasa percaya diri dan cenderung bersikap memanipulasi aspek realitas. (Dr, H, Syamsu Yusuf LN, M, Pd. 2001: 53).

Adapun pengaruh status ekonomi terhadap kepribadian remaja, adalah orang tua dari status ekonomi rendah cenderung lebih menekankan kepatuhan kepada figure-figur yang mempunyai otoritas, kelas menengah dan atas cenderung menekankan kepada pengembangan inisiatif, keingintahuan, dan kreativitas anak.

c) Partisipasi orang tua di sekolah anak

Dari 10 informan yang terdiri atas ayah dan ibu, mayoritas orang tua yang menghadiri undangan/acara sekolah adalah ibu. Hal ini lumrah karena kebanyakan ayah harus bekerja dari pagi sampai sore, sehingga untuk menghadiri undangan di sekolah anak ayah harus meliburkan diri/telat datang ke pasar.

(11)

“Yang biasanya menghadiri undangan/rapat di sekolah anak adalah ibu. Jujur saja mbak, saya kerja dari pagi sampai sore jadi untuk datang ke sekolah kayaknya tidak bisa. Kalau ibu kan tidak ada pekerjaan cuman dirumah saja, jadi lebih banyak ibu yang datang ke sekolah”.

Berbeda dengan pernyataan Bp. Trisyono, kalau Bp. Purwanto 43 Tahun mengungkapakan bahwa:

“Yang biasa datang kalau ada undangan/acara dari sekolah ya saya mbak. Kalau istri saya tuh repot berjualan makanan di pasar klewer mbak, g bisa libur. Ya jadi saya yang datang ke sekolah walaupun kadang telat bekerja di pasar. Pokoknya saya usahain datang ke sekolah bagaimanapun caranya”.

Dari dua pernyataan di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa orang tua baik ayah atau ibu memiliki partisipasi di sekolah anaknya. Walaupun hanya menghadiri undangan/acara di sekolah setidaknya orang tua mau untuk mengetahui dan melihat apa yang terjadi/perkembangan di sekolah anak mereka. Partisipasi orang tua sekecil apapun di sekolah anak akan sangat membantu perkembangan pendidikan putra-putrinya.

(12)

Sekolah berperan sebagai substitusi keluarga, dan guru substitusi orang tua.

Dari pengertian di atas maka antara orang tua anak- guru harus ada hubungan interaksi yang harmonis. Jadi, tidak hanya antara guru – anak saja, sebab orang tua juga wajib memantau perkembangan anak-anak mereka. Hubungan yang harmonis antara hubungan tigaan ini meiliki keuntungan untuk mengkontrol proses belajar yang terjadi di dalam kegiatan belajar di sekolah yang sedang berlangsung.

B. Prestasi Anak di Sekolah

Prestasi yang di dapat melalui proses belajar baik dalam pendidikan formal maupun non formal. Belajar, menurut anggapan banyak orang adalah suatu proses yang terjadi dalam otak manusia. Secara singkat dan secara umum, belajar dapat diartikan sebagai “perubahan perilaku yang relative tetap sebagai hasil adanya pengalaman” (Drs. Alex Sobur, M.Si, 2003: 217-218).

(13)

Di sekolah orang yang melakukan proses pendidikan adalah guru. Gurulah yang memimpin kegiatan belajar mengajar dengan para siswanya. Konsep pendidikan yang berlangsung di sekolah formal mengakomodasi hubungan searah, yaitu guru sebagai orang dewasa “sumber ilmu” yang nantinya diajarkan kepada para murid-muridnya.

Prestasi anak di sekolah tidak terlepas dari partisipasi orang tua dan tentunya berkat guru yang mengajar di sekolah. Tetapi jangan dilupakan juga sebesar apapun partisipasi orang tua dan guru kalau si anak tidak aktif untuk belajar maka tidak ada gunanya.

Untuk mencapai sebuah prestasi di bidang akademis banyak hal yang musti dilakukan, tidak hanya belajar semata. Akan tetapi niat dari diri si anak untuk mau berkembang, peran dan partisipsi orang tua dan guru juga akan sangat berpengaruh.

Dari 5 keluarga kuli panggul yang menjadi informan dalam penelitian ini, di dapat hasil bahwa anak-anak mereka yang sekolah SMA, prestasinya biasa-biasa saja tidak ada yang menonjol. Akan tetapi untuk kreativitas di luar akademis anak-anak mereka cukup lumayan.

Seperti pernyataan Bp. Endro Suwarno Sadino, 51 Tahun yang menyatakan bahwa:

(14)

Dari ungkapan orang tua di atas memang walaupun anak mereka tidak terlalu menonjol di sekolah (bidang akademis) tetapi untuk bidang lainnya boleh dibilang ada bakat.

a) Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi anak

Prestasi anak di sekolah tentunya tidak di dapatkan dengan mudah dan cepat. Prestasi yang di dapat anak pastinya memerlukan partisipasi dari berbagai pihak seperti orang tua sendiri maupun guru.

Proses dalam belajar merupakan faktor yang paling penting. Soepartinah Pakasi dalam bukunya Anak dan Perkembangannya (1981), menguraikan beberapa sifat proses belajar sebagai berikut: ((Drs. Alex Sobur, M.Si, 2003: 235-237).

1) Belajar merupakan suatu interaksi antara anak dan lingkungan 2) Belajar berarti berbuat

3) Belajar berarti “mengalami”

4) Belajar adalah suatu aktivitas yang bertujuan 5) Belajar memerlukan motivasi

(15)

b) Fasilitas-fasilitas pendukung belajar yang disediakan orang tua Untuk mendukung belajar anak di rumah, orang tua perlu meluangkan waktu, tempat dan fasilitas-fasilitas yang memadai. Hal tersebut untuk menyesuaikan kebutuhan bagi anak untuk belajar yang tidak disediakan oleh sekolah. Fasilitas-fasilitas pendukung belajar anak diantaranya adalah:

1. Buku-buku pendamping selain buku paket yang telah disediakan oleh sekolah

2. Komputer/laptop

3. Tempat dan waktu belajar yang tenang 4. Menghadirkan guru privat di rumah, dll.

Berbagai fasilitas di atas tentunya akan sangat mendukung belajar anak-anak di rumah. Disamping mendapat fasilitas-fasilitas di sekolah tentunya anak-anak mereka juga butuh menggunakan saat di rumah. Sehingga mau tidak mau terkadang orang tua butuh menyesuaikan keadaan yang di butuhkan seorang anak untuk mencapai apa yang diinginkan. Tidak jarang, orang tua rela untuk mati-matian menyediakan fasilitas yang dibutuhkan anak meskipun untuk membelinya butuh uang yang besar karena harganya tidak murah.

(16)

Padahal buku pendamping tidak murah harganya, itupun belum termasuk LKS (Lembar Kerja Siswa) yang biasanya juga di pakai untuk nilai kompetensi.

(17)

BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN

Pada bab ini dijelaskan mengenai kesimpulan-kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian. Penelitian ini di latar belakangi oleh peran kuli panggul di pasar Klewer Surakarta dalam pendidikan formal anak tingkat SMA. Selain itu, penelitian ini berusaha meneliti karakteristik sosial ekonomi keluarga kuli panggul di Pasar Klewer Surakarta, serta ingin mengetahui dan memahami secara mendalam mengenai peran mereka khususnya dalam pendidikan formal anak tingkat SMA. Walaupun hanya berprofesi sebagai kuli panggul di pasar Klewer Surakarta dengan penghasilan yang tidak begitu besar, para orang tua ini akan berusaha semaksimal mungkin agar anak-anak mereka bisa bersekolah setinggi-tingginya dan dapat meraih mimpi atau cita-cita yang diharapkan.

(18)

kepedulian/kesadaran dari orang tua itu sendiri maka kemampuan/potensi dari anak tidak akan berkembang secara maksimal.

Perhatian orang tua terutama dalam hal pendidikan anak sangatlah diperlukan. Terlebih lagi yang harus difokuskan adalah perhatian orang tua terhadap aktivitas belajar yang dilakukan anak sehari-hari dalam kapasitasnya sebagai pelajar dan penuntut ilmu, yang akan diproyeksikan kelak sebagai pemimpin masa depan. Bentuk perhatian orang tua terhadap pendidikan atau belajar anak dapat berupa pemberian bimbingan dan nasihat, pengawasan terhadap belajar anak, pemberian motivasi dan penghargaan serta pemenuhan kebutuhan belajar anak.

Pengawasan orang tua terhadap anaknya biasanya lebih diutamakan dalam masalah belajar. Dengan cara ini orang tua akan mengetahui kesulitan apa yang dialami anak, kemunduran atau kemajuan belajar anak, apa saja yang dibutuhkan anak sehubungan dengan aktifitas belajarnya, dan lain-lain. Dengan demikian orang tua dapat membenahi segala sesuatunya hingga akhirnya anak dapat meraih hasil belajar yang maksimal. Pengawasan atau kontrol yang dilakukan orang tua tidak hanya ketika anak di rumah saja, akan tetapi hendaknya juga terhadap kegiatan anak di sekolah. Pengetahuan orang tua tentang pengalaman anak di sekolah sangat membantu orang tua untuk lebih dapat memotivasi belajar anak dan membantu anak menghadapi masalah-masalah di sekolah serta tugas-tugas sekolah.

(19)

agaknya tidak berlaku bagi sebagian kuli panggul di pasar Klewer Surakarta, sebab para orang tua yang menjadi informan dalam penelitian ini tetap mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang pendidikan tingkat SMA. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sbb:

1. Sebagai kuli panggul di pasar Klewer Surakarta walaupun dengan penghasilan tidak menentu setiap harinya tidak membuat para orang tua ini lantas mengabaikan pendidikan anak-anaknya. Hal ini terlihat dari kegigihan mereka untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan tinggi yaitu tingkat SMA.

2. Peran sebagai pendidik (second teacher), pembimbing (problem solver), membiayai pendidikan, penyedia fasilitas-fasilitas (provider), dan sebagai teladan di rumah merupakan tanggungjawab orang tua. Walaupun dalam pelaksanakannya sering menemui banyak hambatan.

(20)

B. SARAN

Saran yang dapat disampaikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagi orang tua

a) Jangan mudah putus asa dalam berpartisipasi dalam pendidikan anak. Karena pendidikan adalah salah satu jalan untuk mengubah masa depan, dengan ilmu yang didapat di sekolah maka anak akan mampu berkompetisi di dunia kerja.

b) Dengan penghasilan yang pas-pasan, asalkan mampu mengelola keuangan maka akan ada uang yang nantinya digunakan untuk simpanan.

c) Lebih memperbanyak komunikasi dan interaksi dengan anak, dengan begitu orang tua akan tahu apa yang dibutuhkan anak.

2. Bagi anak

a) Tetap giat belajar, agar mampu meraih prestasi di sekolah. Buktikan bahwa anak seorang kuli panggul mampu berkompetisi dengan anak yang lain.

b) Patuhilah apa yang dikatakan orang tua, sebab perkataan mereka untuk kebaikanmu sendiri.

3. Bagi sekolah

(21)

b) Janganlah memberatkan orang tua dalam pembiayaan sekolah seperti diharuskan membeli buku-buku pendamping yang mahal, sebab sudah ada buku paket dan LKS.

4. Bagi pemerintah

(22)

Daftar Pustaka

Amsori. 2008.Pemenuhan Hak Ekosob di Bidang Pendidikan Anonim. 2006. Profil Pendidikan 2006/2007

Anonim. 2008. Surakarta Dalam Angka 2008

Dirdjosisworo, Soejono. 1985.Asas-Asas Sosiologi. Bandung: Armico

K, J, Veeger. 1990. Realitas Sosial Refleksi Filsafat Social Atas Hubungan Individu-Masyarakat dalam Cakrawala Sejarah Sosiologi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Karsidi, Ravik. 2005.Sosiologi Pendidikan. Surakarta: UNS Press

Kartono, Kartini. 1997.Tinjauan Holistik Mengenai Tujuan Pendidikan Nasional. Jakarta: Rajawali rosdakarya

Ritzer, George. 2004.Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Rukmini, Mimin, R Muhammad Mihradi. 2006. Pegangan Ringkas Pemenuhan HAM Pendidikan dan Kesehatan di Daerah. Jakarta: Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO)

Salim, Agus.Pengantar Sosiologi Mikro. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR Slamet, Y. 2006. Metode Penelitian Sosial. Surakarta: UNS Press

Sobur, Alex. 2003.Psikologi Umum dalam Lintasan Sejarah. Bandung: CV PUSTAKA SETIA

(23)

Sutopo, H, B. 2002.Metodologi Penelitian Kualitatif Dasar teori dan terapannya dalam penelitian. Surakarta: Sebelas Maret University Press

Tirtaharja, Umar. 1994. Pengantar Pendidikan. Proyek Pembinaan dan Mutu Pendidikan. Dirjendikti. Depdikbud

Yusuf, Syamsu LN. 2001.Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA

Website:

http://lppbi-fiba.blogspot.com/2009/03/teori-partisipasi-dalam-dinamika-sosial.html.

http://satrioarismunandar.multiply.com/journal/item/13

http://tutorialkuliah.blogspot.com/2009/06/teori-tindakan-dan-teori-sistem-talcott.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi http://id.wikipedia.org/wiki/Birokrasi

http://prabusetiawan.blogspot.com/2009/05/pengertian-anak.html

http://benramt.wordpress.com/ruang-pails/iv-pendidikan-formal-non-formal-dan-informal/

(24)

Skripsi:

Mariana Agustina Dewi. Hubungan Latar Belakang Pendidikan dan Kinerja Orang tua dengan Kesadaran Pendidikan Anak para Pedagang Kaki Lima di

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...