BAB V
ANALISIS RELASI GENDER DALAM KOWAR
Relasi gender dalam KOWAR dianalisis berdasarkan tingkat kesejahteraan gender anggota dalam penempatan posisi antara perempuan dan laki-laki dalam organisasi KOWAR, akses, dan kontrol perempuan dan laki-laki dalam memperoleh sumberdaya (uang, pekerjaan, peralatan, pendidikan/pelatihan) dan manfaat (pendidikan/pelatihan, pendapatan, status, kekuasaan, pengakuan) dalam KOWAR. Analisis partisipasi anggota dalam suatu koperasi, seperti KOWAR, dapat dilihat dari: Partisipasi Kuantitatif (Berapa jumlah perempuan dan laki-laki sebagai anggota, karyawan dan pemimpin?), dan Partisipasi Kualitatif (Peranan perempuan dan laki-laki dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan kebijakan dan aktivitas koperasi). Bab ini akan menjelaskan mengenai hasil dari analisis relasi gender dalam KOWAR tersebut secara kuantitatif dan secara kualitatif.
5.1 Posisi Perempuan dan Laki-laki dalam KOWAR
Penempatan posisi perempuan dan laki-laki dalam KOWAR lebih difokuskan kepada posisi perempuan dan laki-laki dalam kepengurusan KOWAR. Pengurus koperasi baik perempuan maupun laki-laki mempunyai posisi masing-masing dalam KOWAR. Penempatan posisi ini dilihat dari siapa yang membuat struktur organisasi KOWAR, menentukan pembagian kerja masing-masing pengurus, merekrut dan melatih karyawan koperasi, merumuskan setiap kegiatan dalam KOWAR, dan mengembangkan kerjasama dengan pihak lain (koperasi dan organisasi lain) dalam KOWAR.
Tabel 5. Jumlah dan Persentase Posisi Perempuan dan Laki-laki dalam KOWAR, Tahun 2009
Posisi Laki-laki (n) (%) Perempuan (n) (%) Jumlah (n) (%)
Setara 13 (100) 17 (100) 30 (100)
Tidak Setara 0 (0) 0 (0) 0 (0)
Jumlah 13 (100) 17 (100) 30 (100)
Sebanyak 30 orang responden perempuan dan laki-laki (100 persen) menjawab posisi perempuan dan laki-laki adalah setara. Data tersebut
menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara pengurus perempuan dan laki-laki dalam KOWAR. Semua pengurus, baik perempuan dan laki-laki, mempunyai tugas yang sama dalam membuat struktur organisasi KOWAR, menentukan pembagian kerja masing-masing pengurus, merekrut dan melatih karyawan koperasi, merumuskan setiap kegiatan dalam KOWAR, mengembangkan kerjasama dengan pihak lain (koperasi dan organisasi lain) dalam KOWAR.
Berikut penempatan posisi perempuan dan laki-laki dalam KOWAR berdasarkan struktur organisasi:
Tabel 6. Penempatan Posisi Perempuan dan Laki-laki dalam Struktur Organisasi KOWAR, Tahun 2009
No. Posisi Perempuan Laki-laki
1. Pelindung √ 2. Pengawas (BP) √ 3. Pengurus : 1. Ketua √ 2. Wakil ketua √ 3. Sekretaris √ √ 4. Bendahara √
Keterangan: √ ditempati oleh
Secara kuantitatif (banyaknya jumlah posisi yang ditempati) laki-laki lebih mendominasi dibanding perempuan dalam kepengurusan KOWAR. Laki-laki menempati posisi sebagai pelindung, pengawas (BP), ketua, dan sekretaris. Pelindung bertugas dalam memberi saran kepada pengurus dalam mengelola KOWAR. Pengawas bertugas dalam mengawasi keuangan KOWAR dan barang-barang yang dimiliki KOWAR. Ketua bertugas dalam memimpin jalannya seluruh kegiatan KOWAR. Sekretaris bertugas dalam mencatat seluruh kegiatan KOWAR dan juga menyimpan arsip-arsip mengenai KOWAR. Perempuan menempati posisi sebagai wakil ketua, Sekretaris, dan Bendahara. Wakil Ketua bertugas bersama-sama dengan Ketua dalam memimpin KOWAR. Sekretaris bertugas dalam mencatat seluruh kegiatan KOWAR dan juga menyimpan arsip-arsip mengenai KOWAR. Bendahara bertugas dalam mengelola keuangan dan juga mencatat setiap uang yang masuk maupun keluar dari KOWAR.
Posisi yang lebih banyak ditempati oleh laki-laki tersebut tidak menunjukkan peran yang mereka miliki lebih besar dibandingkan peran perempuan. Faktanya, peran yang dilakukan oleh perempuan dalam kepengurusan KOWAR lebih besar dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini terlihat dari pengambilan keputusan dalam Rapat Pengurus. Seperti keterangan dari salah seorang pengurus, yaitu Ibu Ysn, perempuan lebih banyak mengambil keputusan dalam Rapat Pengurus. Beliau mengatakan bahwa ketua lebih banyak menyerahkan hasil keputusan kepada pengurus perempuan, karena pengurus perempuan lebih banyak mengeluarkan pendapat dibandingkan pengurus laki-laki, dan pengurus laki-laki lebih banyak diam dan menyetujui hasil musyawarah. Sehingga, peran perempuan dalam kepengurusan KOWAR lebih besar dibandingkan peran laki-laki.
Meskipun posisi dan peran yang dilakukan oleh perempuan dan laki-laki dalam KOWAR berbeda-beda, masih terdapat pembagian kerja pada kepengurusan koperasi. Pembagian kerja ini dilakukan agar unit usaha yang dimiliki KOWAR berjalan dengan lancar. Ketua koperasi bertanggung jawab atas pengadaan dan penjualan Pakaian Seragam Anak Sekolah (PSAS), Wakil ketua bertanggung jawab atas pengadaan dan penjualan Lembar Kerja Siswa (LKS), Sekretaris I bertanggung jawab atas pengadaan dan penjualan buku paket, Sekretaris II bertanggung jawab atas toko koperasi, dan Bendahara bertanggung jawab atas keuangan koperasi. Anggota koperasi baik laki-laki maupun perempuan tetap merupakan posisi yang paling menentukan lancar tidaknya KOWAR, karena keputusan tertinggi berada di tangan anggota dalam Rapat Anggota maupun Rapat Anggota Tahunan (RAT).
Selain bersama-sama dalam membuat struktur organisasi, pengurus perempuan dan laki-laki dalam KOWAR juga bersama-sama dalam merekrut dan melatih karyawan koperasi. Pengurus perempuan dan laki-laki bersama-sama dalam menentukan apakah seseorang yang mendaftar untuk menjadi karyawan koperasi dapat diterima atau tidak. Pengurus perempuan dan laki-laki juga bersama-sama dalam melatih karyawan koperasi yang telah diterima. Karyawan koperasi diajarkan bagaimana cara menempatkan barang di toko, mencatat penjualan barang koperasi, dan juga membuat pembukuan sederhana mengenai
koperasi. Pengurus perempuan dan laki-laki juga bersama-sama dalam merumuskan setiap kegiatan dalam KOWAR. Kegiatan apa saja yang akan dilakukan dalam KOWAR akan didiskusikan bersama, seperti penentuan pelaksanaan RAT, pembelian barang-barang koperasi, dan lain-lain. Semua kegiatan didiskusikan dalam Rapat Pengurus. Pengurus perempuan dan laki-laki juga bersama-sama dalam mengembangkan kerjasama dengan pihak lain (koperasi dan organisasi lain) dalam KOWAR. Pengurus perempuan dan laki-laki berhak untuk melakukan kerjasama dengan koperasi induk, pusat, gabungan, maupun koperasi lainnya atas persetujuan seluruh anggota koperasi.
Penempatan posisi dalam KOWAR merupakan hasil musyawarah dari seluruh anggota KOWAR dalam Rapat Anggota. Setiap anggota diberi kesempatan sebagai Pengurus, sesuai dengan aturan main dalam AD/ART. Anggota koperasi yang dicalonkan sebagai pengurus oleh anggota lainnya memiliki hak untuk menerima ataupun menolak pencalonan tersebut. Seperti keterangan dari salah seorang pengurus yang berkata:
“…saya mau jadi pengurus atas pertimbangan untuk menimba pengalaman, ingin mengetahui banyak tentang perkoperasian, dan juga jabatan saya naik, yang tadinya sebagai pengawas/Pemeriksa (BP) koperasi sekarang menjadi pengurus…” (Bapak Mhd, 43 tahun)
Proses pemilihan pengurus koperasi adalah dengan menggunakan sistem voting atau suara terbanyak. Calon pengurus yang mendapatkan suara terbanyak akan menempati posisi pengurus, misalnya ketua koperasi. Proses pemilihan posisi ketua koperasi ialah: terdapat tiga orang calon ketua, yang terdiri dari satu orang laki-laki dan dua orang perempuan, setiap anggota koperasi menuliskan pilihannya pada secarik kertas, dan calon ketua yang mendapatkan suara terbanyak akan menduduki posisi ketua koperasi. Pada pemilihan ketua koperasi periode terakhir, suara terbanyak pertama jatuh kepada perempuan dan suara terbanyak kedua jatuh kepada laki-laki, sehingga seharusnya ketua koperasi adalah perempuan dan wakilnya adalah laki-laki. Perempuan yang menjadi calon terpilih itu menolak posisi ketua tersebut. Berikut pengakuannya:
”...saya gak mau ah jadi ketua, saya kan perempuan jadi gak cocok jadi ketua, mendingan laki-laki aja yang jadi ketua, kan kayaknya lebih berwibawa dibanding perempuan...” (Ibu Yn, 45 tahun)
Pengakuan Ibu Yn diatas menunjukkan bahwa masih adanya bias gender dalam KOWAR. Masih adanya bias gender tersebut menunjukkan bahwa organisasi KOWAR belum responsif gender. Hal ini terlihat dari penempatan posisi/karir dalam organisasi tersebut. Perempuan masih ditempatkan pada posisi kedua, seperti menjadi sekretaris ataupun bendahara, sedangkan laki-laki ditempatkan sebagai ketua. Ini merupakan subordinasi atau penomorduaan perempuan yang disebabkan oleh sterotipe yang sudah melekat sejak kecil di setiap individu, bahwa perempuan merupakan makhluk yang lemah, bersifat lemah lembut, tidak mampu menjadi pemimpin, dan hanya berdiam diri dirumah saja.
Penelitian Kanter (1977) dalam Chafetz (1999) mengatakan bahwa ketidaksamarataan yang terstruktur di tempat kerja mengakibatkan pertentangan-pertentangan jenis kelamin. Ketidaksamarataan terstruktur tersebut meliputi jabatan-jabatan yang dipegang oleh perempuan, yang memerlukan pertanggungjawaban, tetapi kurang kekuasaan; penyingkiran perempuan dari jaringan sokongan yang memberikan akses pada kekuasaaan formal dan informal; akses pada pemandangan organisasional, tetapi kebanyakan hanya sebagai tanda belaka; serta penekanan pada persaingan individu untuk sumber-sumber dan kesempatan-kesempatan yang langka.
Tindakan yang spesifik gender biasanya dibutuhkan untuk memperbaiki ketidakseimbangan posisi laki-laki dan perempuan hingga perempuan dapat ‘berpartisipasi dalam’ dan mendapat ‘manfaat dari’ pembangunan dan berpijak pada dasar yang sama dengan laki. Tentu saja, jika anak laki dan laki-laki berada dalam posisi kurang diuntungkan dibandingan dengan anak perempuan dan perempuan dewasa, tindakan yang spesifik gender juga dibutuhkan untuk meningkatkan posisi mereka. Selanjutnya, perlu dicatat bahwa tindakan yang spesifik gender dapat melibatkan kegiatan-kegiatan untuk perempuan, laki-laki atau keduanya. Sebagai contoh: Para pemimpin laki-laki sering membutuhkan peningkatan kesadaran gender agar mereka mempunyai
komitmen pada kemajuan posisi perempuan dan anak perempuan yang tidak beruntung.
5.2 Akses untuk Memperoleh Sumberdaya dan Manfaat dalam KOWAR Akses untuk memperoleh sumberdaya dan manfaat dalam KOWAR merupakan salah satu alat dalam menganalisis relasi gender dalam KOWAR. Sumberdaya yang dimaksud adalah uang, pekerjaan, peralatan, dan pendidikan/pelatihan dalam KOWAR. Sedangkan manfaat adalah pendidikan/pelatihan, SHU, status, dan kekuasaan dalam KOWAR.
Akses perempuan dan laki-laki untuk memperoleh sumberdaya dan manfaat dalam KOWAR dibedakan menjadi tinggi dan rendah. Akses dalam memperoleh sumberdaya dan manfaat dikatakan tinggi apabila perempuan dan laki-laki memiliki peluang dan kemudahan dalam mendapatkan uang, pekerjaan, peralatan, dan pendidikan/pelatihan dalam KOWAR. Sebaliknya, apabila perempuan dan laki-laki memiliki kesulitan dan peluang yang rendah untuk mendapatkan uang, pekerjaan, peralatan, dan pendidikan/pelatihan dalam KOWAR, maka akses perempuan dan laki-laki untuk memperoleh sumberdaya dan manfaat dalam KOWAR dikatakan rendah.
Tabel 7. Jumlah dan Persentase Akses Responden untuk Memperoleh Sumberdaya dan Manfaat dalam KOWAR, Tahun 2009
Akses Laki-laki (n) (%) Perempuan (n) (%) Jumlah (n) (%)
Tinggi 2 (15,38) 5 (29,4) 7 (100)
Rendah 11 (84,62) 12 (70,6) 23 (100)
Jumlah 13 (100) 17 (100) 30 (100)
Sebagian besar responden baik perempuan maupun laki-laki sama-sama memiliki akses yang rendah dalam memperoleh sumberdaya dan manfaat dalam KOWAR. Responden perempuan yang menjawab akses tinggi untuk memperoleh sumberdaya dan manfaat dalam KOWAR lebih banyak dibandingkan dengan responden laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa ada fenomena perempuan relatif memiliki akses yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki untuk memperoleh sumberdaya dan manfaat dalam KOWAR.
Secara keseluruhan, responden perempuan dan laki-laki memberikan nilai yang rendah pada pertanyaan mengenai kemudahan menerima pinjaman uang dari KOWAR, pekerjaan yang dimiliki anggota KOWAR, kesesuaian pekerjaan dengan posisi anggota KOWAR, kemudahan mengikuti pendidikan/pelatihan mengenai koperasi, dan peningkatan kemampuan anggota setelah mengikuti pendidikan/pelatihan mengenai koperasi.
Akses anggota koperasi yang rendah dalam kemudahan menerima pinjaman uang dari KOWAR ini tak lepas dari pengaruh pengurus koperasi. Pengurus koperasi terutama bendahara yang mengatur perputaran uang dalam KOWAR. Pengurus memiliki kontrol yang besar terhadap uang dalam KOWAR. Pengurus yang menentukan apakah anggota koperasi dapat meminjam uang dari KOWAR atau tidak pada saat itu. Hal ini menyebabkan tidak semua anggota koperasi dapat meminjam uang sesuai yang diinginkannya, karena pengurus akan menyesuaikan jumlah pinjaman setiap anggota dengan kondisi keuangan KOWAR pada saat itu. Sesuai dengan keterangan dari salah satu pengurus yang berkata:
“…setiap anggota diberikan informasi mengenai prosedur pinjaman dalam KOWAR, mulai dari syarat meminjam uang, besarnya pinjaman, dan pengembalian pinjaman yang harus disesuaikan dengan kemampuan peminjam, namun, keputusan untuk memberikan pinjaman tetap berada di tangan pengurus, karena pengurus yang memiliki ketentuan berapa besarnya pinjaman dan cicilan pengembalian pinjaman sesuai dengan kemampuan peminjam. Ini dilakukan agar tidak terjadi kemandekan dalam pembayaran hutang anggota yang dapat menyebabkan keuangan koperasi defisit…” (Bapak Mhd, 43 tahun)
Responden pun memberikan nilai yang rendah pada pertanyaan mengenai pekerjaan dalam KOWAR. Anggota koperasi merasa bahwa mereka tidak memiliki pekerjaan dalam KOWAR. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya pembagian kerja dalam keanggotaan koperasi, pembagian kerja hanya ada pada pengurus koperasi yang telah dijelaskan pada subbab sebelumnya. Pertanyaan diberikan kepada seluruh responden yang merupakan anggota koperasi karena peneliti secara acak membagikan kuesioner, dan tidak semua responden adalah anggota koperasi saja, ada juga yang memiliki posisi sebagai pengurus koperasi. Sehingga sebagian besar anggota koperasi memberikan nilai yang rendah pada
pertanyaan ini. Begitu juga dengan pertanyaan mengenai kesesuaian pekerjaan responden dengan posisi dalam KOWAR. Sebagian besar responden merupakan anggota koperasi saja dan tidak memiliki posisi sebagai pengurus koperasi, sehingga nilai yang diberikan responden pada pertanyaan ini rendah.
Responden juga memberikan nilai yang rendah pada pertanyaan mengenai pendidikan/pelatihan mengenai koperasi. Hal ini terjadi karena sebagian besar responden merupakan anggota koperasi saja, tidak termasuk dalam pengurus koperasi, sedangkan yang mengikuti pendidikan/pelatihan mengenai koperasi biasanya adalah pengurus KOWAR. Hal ini sesuai dengan pernyataan salah seorang pengurus KOWAR berikut:
“…biasanya yang dipilih untuk mengikuti pendidikan atau pelatihan koperasi dari PKPRI adalah Pengurus, sesuai dengan edaran dari PKPRI, tetapi dilihat kondisinya, apabila tidak ada Pengurus yang dapat hadir, maka Anggota yang bisa hadir yang akan diutus…” (Bapak Mhd, 43 tahun)
Pernyataan diatas cukup menjelaskan bahwa anggota koperasi memiliki akses yang rendah terhadap pendidikan/pelatihan mengenai koperasi. Pendidikan/pelatihan mengenai koperasi biasanya dibuat oleh PKPRI (Persatuan Koperasi Pegawai Republik Indonesia) Kota Bekasi. Pendidikan/pelatihan mengenai koperasi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pengurus koperasi dalam mengelola koperasinya, sehingga yang biasanya diutus untuk mengikuti pendidikan/pelatihan ini adalah pengurus koperasi. Hal inilah yang menyebabkan sebagian besar responden baik laki-laki maupun perempuan menjawab bahwa akses yang mereka miliki untuk mengikuti pendidikan/pelatihan mengenai koperasi rendah.
Hal ini terkait dengan pertanyaan mengenai peningkatan kemampuan anggota koperasi setelah mengikuti pendidikan/pelatihan mengenai koperasi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sebagian besar responden merupakan anggota koperasi saja, bukan termasuk pengurus koperasi, sehingga akses mereka untuk mengikuti pendidikan/pelatihan koperasi rendah, dan membuat mereka tidak memiliki peningkatan kemampuan setelah mengikuti pendidikan/pelatihan tersebut, namun sebaliknya, responden yang tidak hanya termasuk dalam anggota koperasi tetapi juga sebagai pengurus, memberikan nilai yang tinggi untuk
pertanyaan tentang pendidikan/pelatihan mengenai koperasi ini. Pengurus koperasi merasa mereka memiliki akses yang besar untuk mengikuti pendidikan/pelatihan tersebut, sehingga kemampuan mereka dalam bidang koperasi juga meningkat setelah mengikuti pendidikan/pelatihan tersebut.
Selain menjawab akses yang rendah dalam memperoleh sumberdaya dan manfaat, sebagian kecil responden perempuan dan laki-laki juga menjawab bahwa mereka memiliki akses yang tinggi dalam hal memperoleh uang/pinjaman dari KOWAR, meminjam peralatan dalam KOWAR (misal: komputer), dan mempunyai kesempatan untuk mengikuti pendidikan/pelatihan mengenai koperasi. Responden yang memiliki akses yang tinggi tersebut kebanyakan adalah pengurus koperasi, karena mereka yang biasanya menggunakan peralatan milik KOWAR yaitu komputer, serta berkesempatan dan pernah mengikuti pendidikan/pelatihan mengenai koperasi. Komputer milik KOWAR boleh digunakan oleh semua anggota tak terkecuali, namun biasanya yang lebih banyak menggunakan komputer adalah pengurus dan karyawan koperasi untuk memasukkan data-data tentang koperasi dan pembukuan. Semua anggota koperasi memiliki akses yang tinggi untuk memperoleh uang/pinjaman dari KOWAR, karena setiap anggota koperasi berhak untuk memperoleh pinjaman uang dari KOWAR.
Mengingat koperasi adalah organisasi bisnis yang bertujuan meningkatkan taraf hidup anggota, maka komitmen anggota harus dilihat hanya dari aspek-aspek ekonomi. Keterlibatan anggota terhadap koperasi sangat tergantung dari sejauhmana koperasi dapat menawarkan manfaat-manfaat ekonomi pada anggota. Faktor yang sangat penting sebagai pengikat komitmen anggota adalah manfaat-manfaat pasar koperasi dan biaya transaksi yang rendah mengakibatkan barang koperasi lebih kompetitif.
Koperasi sebagai organisasi ekonomi yang tidak mengkhususkan aktivitasnya untuk memperoleh keuntungan tapi lebih mengutamakan kepentingan dan kesejahteraan anggota, dalam bentuk pelayanan yang memuaskan. Hal ini karena tugas pokok koperasi adalah menunjang kepentingan ekonomi anggotanya. Oleh karena itu, dalam melaksanakan atau menentukan kebijakan usaha harus berdasarkan kepada kepentingan-kepentingan anggota, agar dapat merangsang
dan meningkatkan partisipasi anggota yang efektif. Koperasi sangatlah tergantung pada partisipasi anggota dan partisipasi tersebut akan tumbuh jika sampai sejauhmana manfaat yang akan didapatkan oleh anggota pada usahanya di koperasi. Sebagai suatu sistem sosio-ekonomi, koperasi memiliki ciri-ciri umum menurut Alfred Hanel (1985)12, yaitu:
1. Ikut serta dalam pengambilan keputusan bagi pelaksanaan manajemen koperasi.
2. Memberikan bantuan moril bagi kelancaran pelaksanaan manajemen koperasi. 3. Mengawasi ketatalaksanaan kegiatan koperasi agar tidak menyimpang dari
keputusan-keputusan yang telah diambil secara musyawarah.
KOWAR sebagai organisasi koperasi telah melibatkan partisipasi seluruh anggota untuk menunjang kepentingannya. Kepentingan yang dimaksud adalah kepentingan ekonomi. Akses anggota untuk memperoleh uang/pinjaman dan SHU dari KOWAR adalah tinggi. Semua anggota koperasi berhak untuk memperoleh uang/pinjaman dan SHU dari KOWAR, namun ada fenomena bahwa perempuan memiliki akses yang lebih tinggi dibanding laki-laki.
Peningkatan kesetaraan gender tidak berarti memberi kekuasaan lebih pada perempuan dan mengambil kekuasaan dari laki-laki. Peningkatan kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki berarti pemberdayaan bagi semua. Ia memungkinkan perempuan dan laki-laki untuk mengambil bagian secara penuh dalam kehidupan sosial dan ekonomi serta mengarah pada situasi sama-sama menang (win-win situation) untuk keduanya. ‘Berkuasa-atas’ yang merujuk pada situasi subordinasi di satu pihak dan dominasi di pihak yang lain, adalah tidak adil dan bersifat merusak pembangunan dikarenakan pertukaran tidak setara yang menjadi konsekuensinya.
5.3 Kontrol untuk Memperoleh Sumberdaya dan Manfaat dalam KOWAR
Kontrol untuk memperoleh sumberdaya dan manfaat dalam KOWAR merupakan salah satu alat analisis relasi gender dalam KOWAR. Sumberdaya yang dimaksud adalah uang, pekerjaan, peralatan, dan pendidikan/pelatihan dalam
KOWAR. Sedangkan manfaat yang dimaksud adalah pendidikan/pelatihan, SHU, status, kekuasaan, dan pengakuan dalam KOWAR.
Kontrol perempuan dan laki-laki untuk memperoleh sumberdaya dan manfaat dalam KOWAR dibedakan menjadi tinggi dan rendah. Kontrol dalam memperoleh sumberdaya dan manfaat dikatakan tinggi apabila perempuan dan laki-laki memiliki kekuasaan untuk memutuskan dalam hal mendapatkan uang, pekerjaan, peralatan, dan pendidikan/pelatihan dalam KOWAR. Namun sebaliknya, apabila perempuan dan laki-laki tidak memiliki kekuasaan untuk memutuskan dalam hal mendapatkan uang, pekerjaan, peralatan, dan pendidikan/pelatihan dalam KOWAR, maka kontrol perempuan dan laki-laki untuk memperoleh sumberdaya dan manfaat dalam KOWAR dikatakan rendah. Tabel 8. Jumlah dan Persentase Kontrol Responden terhadap Sumberdaya dan Manfaat dalam KOWAR, Tahun 2009
Kontrol Laki-laki (n) (%) Perempuan (n) (%) Jumlah (n) (%)
Tinggi 9 (69,23) 16 (94,12) 25 (100)
Rendah 4 (30,77) 1 (5,88) 5 (100)
Jumlah 13 (100) 17 (100) 30 (100)
Tabel 8 diatas menunjukkan bahwa sebagian besar responden perempuan dan laki-laki menjawab kontrol mereka tinggi terhadap sumberdaya (uang, pekerjaan, peralatan, pendidikan/pelatihan) dan manfaat (pendidikan/pelatihan, SHU, status, kekuasaan, pengakuan) dalam KOWAR. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar dari anggota KOWAR perempuan dan laki-laki relatif mengatakan kontrol mereka terhadap sumberdaya dan manfaat adalah tinggi. Pertanyaan yang diberikan telah disesuaikan dengan kondisi KOWAR.
Kontrol terhadap uang dalam KOWAR yang dimaksud adalah anggota koperasi perempuan dan laki-laki sama-sama berhak untuk menentukan dan mengambil keputusan mengenai besarnya jumlah simpanan pokok dan wajib anggota; pinjaman dan cicilan pinjaman setiap anggota; Sisa Hasil Usaha setiap anggota; serta uang jasa untuk Pengurus, Pelindung, dan Badan Pemeriksa KOWAR. Anggota KOWAR perempuan dan laki-laki memberikan nilai yang tinggi pada pertanyaan ini. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki kontrol terhadap uang dalam KOWAR.
Kontrol terhadap peralatan dalam KOWAR yang dimaksud adalah anggota koperasi perempuan dan laki-laki sama-sama berhak untuk mengambil keputusan mengenai siapa saja yang berhak menggunakan peralatan dalam KOWAR. Peralatan dalam KOWAR itu sendiri adalah komputer. Komputer milik KOWAR diletakkan di toko, sehingga siapapun anggota koperasi yang membutuhkan komputer dapat menggunakannya dengan leluasa, namun pada kenyataannya, hanya pengurus koperasi saja yang menggunakan komputer tersebut. Responden perempuan dan laki-laki memberikan nilai yang tinggi pada pertanyaan ini. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki kontrol yang tinggi terhadap peralatan dalam KOWAR.
Kontrol terhadap pemeriksaan jalannya KOWAR dilakukan oleh Badan Pemeriksa koperasi (BP) yang telah dipilih. BP KOWAR hanya beranggotakan satu orang saja. Hal ini disetujui oleh seluruh anggota koperasi perempuan dan laki-laki, karena telah sesuai dengan AD/ART dalam KOWAR yang menjelaskan bahwa anggota BP harus berjumlah ganjil. Salah satu pengurus pun mengatakan:
“…Badan Pemeriksa di koperasi kami ini kebetulan memang cuma satu orang Anggota saja, karena memang sesuai dengan AD/ART bahwa jumlah Badan Pemeriksa yang penting ganjil, beliau pun bersedia untuk menjadi BP karena ingin menambah pengetahuan di bidang pengawasan, layak atau tidaknya beliau dalam mengawas bukan hak Pengurus untuk menilai, karena itu adalah hak seluruh Anggota, dan alhamdulillah seluruh Anggota menilai beliau cukup baik…” (Bapak Mdh, 43 tahun)
Kontrol yang dimiliki BP adalah pemeriksaan terhadap keuangan KOWAR, sehingga BP lebih sering berhubungan dengan Bendahara KOWAR dibanding pengurus lainnya. BP memeriksa keluar masuknya uang dalam KOWAR. Selain itu, BP juga bertugas untuk memeriksa barang di toko selama tiga bulan sekali. Pertanyaan mengenai kontrol pengawasan ini mendapatkan nilai yang rendah dari seluruh responden perempuan dan laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kontrol yang rendah terhadap pemeriksaan KOWAR.
Kontrol terhadap pendidikan/pelatihan mengenai koperasi mutlak dimiliki oleh pengurus koperasi. Hal ini terjadi karena lembaga yang mengadakan
pendidikan/pelatihan mengenai koperasi, yaitu PKPRI Kota Bekasi, biasanya mengundang pengurus koperasi untuk mengikuti pendidikan/pelatihan mengenai koperasi. Pendidikan/pelatihan mengenai koperasi ditujukan untuk meningkatkan kapasitas/kemampuan para pengurus koperasi agar dapat mengelola koperasinya dengan baik. Hal ini ditegaskan dalam pernyataan dari staf PKPRI Kota Bekasi berikut:
“…biasanya kami mengadakan pelatihan koperasi buat para Pengurus biar mereka terlatih dalam mengelola koperasi, dan juga biar kemampuan mereka bertambah, undangan juga biasanya ditujukan buat para Pengurus, karena kami biasanya berhubungan dengan Pengurus saja bukan dengan seluruh Anggota koperasi, dan Pengurus itu kan perwakilan dari seluruh Anggota koperasi…” (Bapak Awy, 50 tahun)
Pernyataan Bapak Awy diatas menunjukkan bahwa hanya Pengurus yang mempunyai kesempatan untuk mengikuti pendidikan/pelatihan mengenai koperasi. Pada dasarnya, seluruh anggota koperasi mempunyai kesempatan yang sama untuk mengikuti pendidikan/pelatihan mengenai koperasi, hanya saja harus menunggu giliran untuk menjadi pengurus koperasi agar dapat mengikuti pendidikan/pelatihan mengenai koperasi.
Namun, seluruh anggota koperasi juga berkesempatan mengikuti pendidikan/pelatihan tersebut, karena apabila pengurus koperasi berhalangan hadir, maka setiap anggota koperasi berhak menggantikannya. Hal ini dijelaskan dalam pernyataan salah satu pengurus koperasi:
“…biasanya memang yang undangan dari PKPRI itu hanya untuk perwakilan dari KOWAR, karena yang biasanya undangan itu ditujukan untuk Pengurus, maka yang diutus untuk mengikuti pelatihan itu ya Pengurus, dengan pertimbangan bahwa Pengurus memang perwakilan dari seluru Anggota koperasi, dan Pengurus juga bisa membagikan ilmunya kepada Anggota terutama Pengurus baru pada saat pergantian Pengurus nanti…” (Bapak Mhd, 43 tahun)
Kontrol dalam hal siapa yang memutuskan untuk memberikan uang/pinjaman kepada anggota, membeli peralatan dalam KOWAR, memberi kesempatan kepada anggota untuk menggunakan peralatan dalam KOWAR,
memberikan pelatihan kepada karyawan dan anggota koperasi, menentukan siapa pengurus yang akan mengikuti pendidikan/pelatihan mengenai koperasi ditentukan oleh pengurus perempuan dan laki-laki (bersama-sama), bukan hanya pengurus perempuan atau pengurus laki-laki saja.
Masih banyak terdapat organisasi yang tidak melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan. Laki-laki saja yang dianggap memiliki kekuasaan untuk mengambil keputusan, perempuan lebih banyak diabaikan pendapatnya. Sehingga dalam pelatihan dari suatu organisasi, hanya laki-laki saja yang ditugaskan untuk mengikuti pelatihan tersebut. Banyak pelatihan peningkatan keterampilan untuk pengurus organisasi koperasi yang hanya diikuti oleh laki-laki. Hal ini terjadi karena masih banyak stereotipi dan subordinasi yang melekat pada diri individu dan dari lingkungan organisasi tersebut.
Berbeda dengan organisasi pada umumnya, KOWAR lebih didominasi oleh perempuan. Penyingkiran laki-laki, boleh jadi, benar-benar menyebabkan pembentukan intelektual, politik, dan aktivitas-aktivitas yang secara ekonomis terpisah, yang meningkatkan komunikasi diantara perempuan, serta memudahkan ditinggalkannya struktur dan praktek-praktek yang bersifat androsentris, rasis, birokrasi, terdistorsi.
Penyingkiran terhadap laki-laki dari organisasi-organisasi perempuan, sama-sama merupakan diskriminasi. Perempuan pada organisasi-organisasi tersebut, boleh jadi menginginkan struktur-struktur yang nonhierarkis, proses-proses pembuatan keputusan secara koperatif, atau aktivitas-aktivitas lain yang mungkin ditentang laki-laki. Riset tentang interaksi dan komunikasi pria-perempuan dalam lingkungan-lingkungan yang berorientasi pada tugas, menyiratkan bahwa bila laki-laki tergabung dengan organisasi yang semua anggotanya perempuan kemungkinan akan ditekan (Pearson, 1985 dalam Murniati, 2004).
5.4 Relasi Gender dalam KOWAR
Relasi gender merupakan hubungan antara perempuan dan laki-laki dalam hal posisi, akses, dan kontrol dalam KOWAR. Relasi gender diukur dengan menggunakan tingkat kesetaraan gender. Tingkat kesetaraan gender yang setara
ini merupakan hasil penjumlahan semua nilai responden mengenai posisi, akses, dan kontrol untuk memperoleh sumberdaya dan manfaat dalam KOWAR. Nilai terendah adalah 25 dan nilai tertinggi adalah 58. Nilai median adalah 16,5 sehingga range nilai untuk kategori setara adalah 25-41,5 dan range nilai untuk kategori tidak setara adalah 42,5-58. Berdasarkan jawaban responden perempuan dan laki-laki mengenai tingkat kesetaraan gender tersebut menunjukkan bahwa tingkat kesetaraan gender dalam KOWAR adalah setara.
Tabel 9. Jumlah dan Persentase Jawaban Responden terhadap Tingkat Kesetaraan Gender dalam KOWAR, Tahun 2009
Tingkat Kesetaraan Gender Laki-laki (n) (%) Perempuan (n) (%) Jumlah (n) (%) Setara 7 (53,84) 12 (70,59) 19 (63,33) Tidak Setara 6 (46,15) 5 (29,41) 11 (36,67) Total 13 (100) 17 (100) 30 (100)
Sebagian besar responden perempuan relatif mengatakan bahwa tingkat kesetaraan gender dalam KOWAR setara, namun hanya sebagian responden laki-laki yang relatif mengatakan bahwa tingkat kesetaraan gender dalam KOWAR tidak setara. Perempuan relatif mengatakan bahwa tingkat kesetaraan gender dalam KOWAR lebih setara karena perempuan mempunyai posisi, akses, dan kontrol yang lebih besar dibanding laki-laki. Hal ini terlihat dari lebih banyaknya jumlah anggota perempuan dibanding laki-laki, perempuan yang menempati posisi pengurus lebih banyak dibandingkan laki-laki, pengurus perempuan lebih banyak mengikuti pelatihan/pendidikan mengenai koperasi, sehingga perempuan relatif mengatakan bahwa tingkat kesetaraan gender dalam KOWAR lebih setara dibandingkan laki-laki.
Pada dasarnya, setiap anggota koperasi, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki akses yang sama untuk memperoleh sumberdaya (uang, pekerjaan, peralatan, pendidikan/pelatihan) dan manfaat (pendidikan/pelatihan, SHU, status, kekuasaan, pengakuan) dalam KOWAR. Hal ini tertuang dalam AD/ART KOWAR bahwa setiap anggota koperasi mempunyai hak yang sama untuk: menghadiri, menyatakan pendapat dan memberikan suara di dalam Rapat Anggota; memilih dan dipilih menjadi anggota, pengurus, atau Badan Pemeriksa;
meminta diadakannya Rapat Anggota menurut ketentuan-ketentuan dalam anggaran dasar; mengemukakan pendapat atau saran-saran kepada pengurus diluar rapat baik diminta maupun tidak diminta; mendapat pelayanan yang sama antar sesama anggota; mengetahui pembukuan dan usaha-usaha koperasi. Setiap anggota koperasi memiliki akses yang sama untuk mendapatkan SHU setiap tahunnya. Informasi mengenai jumlah SHU yang akan didapatkan oleh masing-masing anggota diberikan oleh pengurus pada RAT melalui laporan tutup buku tahunan KOWAR.
Meskipun setiap anggota merasa bahwa akses yang dimiliki rendah sesuai dengan hasil penghitungan data, namun pengurus tetap memiliki akses yang lebih tinggi dibandingkan anggota koperasi lainnya. Hal ini disebabkan oleh pengurus lebih banyak memiliki kontrol dalam koperasi, seperti dalam hal mengikuti pelatihan koperasi. Pelatihan/pendidikan mengenai koperasi yang diadakan oleh PKPRI biasanya hanya diperuntukkan bagi pengurus koperasi saja, sesuai dengan edaran yang diterima bahwa PKPRI hanya mengundang satu atau dua orang pengurus dari KOWAR. Apabila semua pengurus berhalangan hadir, maka semua anggota memiliki kesempatan yang sama untuk dapat menghadiri undangan pendidikan/pelatihan tersebut. Sama halnya dengan menggunakan peralatan KOWAR, yaitu komputer. Setiap pengurus lebih sering menggunakan komputer tersebut dibandingkan anggota lainnya, karena pengurus membuat laporan keuangan, undangan, catatan penjualan barang toko, dan hal-hal yang berhubungan dengan KOWAR lainnya menggunakan komputer milik KOWAR. Sedangkan anggota lainnya tidak menggunakan komputer tersebut untuk keperluan koperasi, melainkan digunakan sesekali untuk kebutuhannya sendiri. Pengurus juga mendapat pendapatan yang lebih besar dibanding anggota lainnya, karena selain mendapatkan uang jasa sebesar 60 persen dari SHU dan hasil rugi laba sebagai anggota koperasi, setiap pengurus koperasi diberikan uang jasa sebesar 25 persen. Uang jasa ini diambil dari Sisa Hasil Usaha (SHU) yaitu pendapatan koperasi yang diperoleh dalam waktu satu tahun buku dengan penyusutan nilai barang, serta gaji karyawan dan segala biaya yang dikeluarkan dalam satu tahun buku, dan hasil rugi laba. Sedangkan anggota koperasi hanya mendapatkan uang jasa sebesar 60 persen dari SHU dan hasil rugi laba saja.
Pengurus mempunyai akses yang lebih tinggi dibanding anggota koperasi lainnya karena pengurus mempunyai informasi yang lebih banyak mengenai uang, pekerjaan, peralatan, serta pendidikan/pelatihan mengenai KOWAR. Sedangkan anggota koperasi lainnya kurang memiliki informasi dan kurang berkomunikasi dengan pengurus, karena pengurus lebih sering mengkomunikasikan masalah KOWAR dengan sesama pengurus terlebih dahulu baru dengan seluruh anggota koperasi.
Pengurus perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki kontrol yang lebih besar dibanding anggota koperasi dalam KOWAR. Hal ini dapat terjadi karena pengurus memiliki informasi yang lebih banyak mengenai KOWAR, sehingga pengurus memiliki kontrol yang besar atas uang, peralatan, dan pendidikan/pelatihan mengenai koperasi dalam KOWAR. Seluruh anggota koperasi juga memiliki kontrol yang besar terhadap sumberdaya (uang, pekerjaan, peralatan, pendidikan/pelatihan) dan manfaat (pendidikan/pelatihan, SHU, status, kekuasaan, pengakuan) dalam KOWAR, terutama kontrol terhadap uang. Hal ini dapat dilihat dalam penentuan besarnya jumlah simpanan anggota dan pinjaman anggota, tetapi pengurus yang tetap mengontrol siapa yang berhak untuk meminjam, besarnya pinjaman, dan juga besarnya cicilan tiap anggota koperasi.
Tingkat kesetaraan gender yang setara secara kuantitatif ini menunjukkan bahwa penempatan posisi perempuan dan laki-laki setara, akses perempuan dan laki-laki yang rendah dalam memperoleh sumberdaya dan manfaat, dan kontrol perempuan dan laki-laki yang tinggi dalam memperoleh sumberdaya dan manfaat. Faktanya, penempatan posisi laki-laki relatif lebih tinggi namun perempuan memiliki peran yang lebih besar, akses yang diperoleh perempuan untuk memperoleh sumberdaya relatif lebih tinggi dibandingkan laki-laki, dan kontrol perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki untuk memperoleh sumberdaya dan manfaat.
Secara kuantitatif, perempuan lebih banyak mengatakan tingkat kesetaraan gender relatif setara dibandingkan laki-laki. Namun pada kenyataannya, perempuan lebih banyak berperan dalam mengelola KOWAR, diantaranya pengurus perempuan lebih berperan untuk mengambil keputusan dalam Rapat Pengurus, pengurus perempuan lebih berperan dalam menentukan siapa yang
berhak untuk menerima pinjaman, dan pengurus perempuan lebih sering menggunakan peralatan yang dimiliki KOWAR (komputer).
Bias gender yang terjadi dalam hal penempatan posisi dalam KOWAR menunjukkan bahwa anggota KOWAR masih buta gender. Buta gender adalah kondisi/keadaan seseorang yang tidak memahami tentang pengertian atau konsep gender (ada perbedaan kepentingan laki-laki dan perempuan). Buta gender ini mengakibatkan terjadinya bias gender. Bias gender adalah pandangan dan sikap yang lebih mengutamakan salah satu jenis kelamin daripada jenis kelamin lain sebagai akibat pengaturan kepercayaan budaya yang lebih berpihak kepada laki-laki daripada kepada perempuan dan sebaliknya. Buta gender yang terjadi membuat anggota KOWAR tidak sensitif gender. Sensitif gender adalah kemampuan dan kepekaan seseorang dalam melihat dan menilai hasil pembangunan dan aspek kehidupan lainnya dari perspektif gender (disesuaikan dengan kepentingan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan). Belum sampainya anggota KOWAR pada tahap sensitif gender ini membuat KOWAR belum sampai pada tahap responsif gender.
Apabila anggota KOWAR tidak buta gender, maka mereka akan sadar gender, lalu peka gender, kemudian mawas gender, dan yang terakhir adalah responsif gender. Organisasi koperasi yang responsif gender tidak membedakan pria dan perempuan, pesuruh atau kepala bagian atau direktur. Mereka masing-masing mempunyai hak suara yang sama, yaitu setiap anggota satu suara. Responsif gender adalah perhatian yang konsisten dan sistematis terhadap perbedaan-perbedaan perempuan dan laki-laki dalam masyarakat yang disertai upaya menghapus hambatan-hambatan struktural dalam mencapai kesejahteraan.
Pendirian dan pengembangan koperasi bertujuan untuk melaksanakan kegiatan usaha dalam memenuhi kepentingan ekonomi anggota dan keluarganya serta melaksanakan kegiatan pendidikan terutama pendidikan ekonomi koperasi. Agar dapat memenuhi kepentingan ekonomi anggota tersebut maka koperasi harus dilaksanakan sesuai kaidah ekonomi yang rasional serta dikelola secara tertib dan profesional tidak dapat dilakukan secara sambilan. Dibutuhkan perencanaan yang responsif gender untuk menghindari terjadinya subordinasi dalam organisasi koperasi. Perencanaan yang responsif gender adalah perencanaan yang dilakukan
dengan memasukkan perbedaan-perbedaan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki dalam proses penyusunannya.
Organisasi koperasi yang responsif gender berarti telah mengalami kesetaraan gender. Kesetaraan gender berarti kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (Hankamnas), serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidakadilan struktural, baik terhadap laki-laki maupun perempuan. Keadilan gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-laki. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran, beban ganda, subordinasi, marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki.
Terwujudnya kesetaran dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki, dan dengan demikian mereka memiliki akses, kesempatan berpartisipasi, dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan. Memiliki akses dan partisipasi berarti memiliki peluang atau kesempatan untuk menggunakan sumber daya dan memiliki wewenang untuk mengambil keputusan terhadap cara penggunaan dan hasil sumber daya tersebut. Memiliki kontrol berarti memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan atas penggunaan dan hasil sumber daya, sehingga memperoleh manfaat yang sama dari pembangunan. Keadilan gender dalam organisasi koperasi yang responsif gender haruslah menunjukkan besarnya partisipasi dari perempuan maupun laki-laki dalam mengelola organisasi tersebut. Koperasi memberikan kesempatan bagi perempuan untuk berperan dan menyumbangkan potensi yang dimilikinya bagi kemajuan bersama. Dengan cara berpikir yang terbuka diikuti dengan aspek jati diri koperasi yang demokratis, perempuan akan lebih mampu melaksanakan aktivitas dan kegiatannya.
Dengan analisis gender, yaitu proses menganalisis data dan informasi secara sistematis tentang laki-laki dan perempuan untuk mengidentifikasi diri mengungkapkan kedudukan, fungsi, peran dan tanggung jawab laki-laki dan
perempuan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya (ILO, 2001), maka ketidakadilan gender dapat diuraikan agar struktur dan relasi yang tidak seimbang tersebut dapat diperbaiki, karena analisis gender membantu: menyingkap perbedaan di antara perempuan dan laki-laki, dan perbedaan “identitas” dari kelompok-kelompok gender yang beragam (berkaitan dengan, misalnya, kelas, ras, etnis, usia, kemampuan dan orientasi seksual), melihat masalah tidak dalam isolasi (ruang vakum) tanpa mengaitkannya dengan konteks sejarah, politik, sosial, maupun ekonomi, dan menganalisis bagaimana perbedaan ini telah membawa ketidaksetaraan atau ketidakadilan, terutama bagi perempuan.
Menurut Kanter (1975) dalam Chafetz (1999), dominasi laki-laki dalam organisasi ialah dalam hal manajemen dan pekerja. Dalam tesisnya dituliskan bahwa pengalaman organisasi perempuan dapat dijelaskan dengan baik oleh posisi struktur perempuan, bukan karena kepribadian dan sosialisasi mereka. Laki-laki menduduki kerja tingkat bawah, frustasi, dan teralienasi oleh kurangnya kesempatan. Konteks organisasi penting untuk memahami hubungan gender dan kerja, karena untuk mendapatkan teknologi, skill, dan power di tempat kerja menunjukkan bahwa relasi gender itu ada, dan gender adalah aspek dasar proses sosial dan struktural. Organisasi di konstruksi sosial ‘gender’ dan teori organisasi netral gender adalah ideologinya.
Pola gender dalam organisasi beragam antar sektor, yaitu swasta dan pemerintah. Namun terdapat kemiripan yaitu organisasi kerja terstratifikasi oleh jenis kelamin, baik secara vertikal maupun horizontal. Hal ini dapat dilihat dari: posisi manajerial; jenjang karir; jenis pekerjaan digolongkan Berdasarkan jenis kelamin dan segregasi seks dalam pekerjaan; serta gap upah antar gender. Ini menunjukkan bahwa ada ketidakadilan gender berdasarkan jenis kelamin dan subordinasi perempuan. Oleh karena itu harus ada pertanyaan tentang organisasi, seperti: bagaimana budaya organisasi; power dan kontrol; serta perubahan dalam organisasi yaitu ekonomi dan politik, dan jawaban yang muncul adalah adanya subordinasi perempuan karena gender melekat dalam proses organisasi, ketidaksetaraan, dan reproduksi. Dalam proses organisasi, yaitu promosi, evaluasi diri, alokasi kerja, gaji, proses kerja nyata, aturan jam kerja, perilaku tenaga kerja, cuti, teknologi baru, dan relokasi kerja menunjukkan adanya hierarki gender,
segregasi gender, posisi, gap upah, dan pemisahan tenaga kerja. Bentuk kesadaran dari semua itu adalah percaya bahwa pengetahuan dan keterampilan tertentu ada khusus untuk perempuan, dan juga ideologi netral gender. Netral gender adalah kebijakan/program/kegiatan atau kondisi yang tidak memihak pada salah satu jenis kelamin.
KOWAR sebagai organisasi koperasi masih belum responsif gender. Artinya, masih adanya bias gender dalam penempatan posisi dalam KOWAR, akses, dan kontrol antara perempuan dan laki-laki untuk memperoleh sumberdaya dan manfaat dalam KOWAR, meskipun secara kuantitatif dapat disimpulkan bahwa relasi gender dalam KOWAR adalah setara. Belum responsifnya relasi gender dalam KOWAR ini menunjukkan bahwa kebijakan/program/kegiatan atau kondisi yang dibuat oleh KOWAR belum memperhitungkan kepentingan anggota perempuan dan laki-laki.