POLA ASUH ANAK DITINJAU DARI ASPEK RELASI GENDER MARIA DEWI RAHAYU SKRIPSI

95 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

POLA ASUH ANAK DITINJAU DARI ASPEK RELASI GENDER

KASUS PADA KELUARGA ETNIS MINANG, JAWA DAN BATAK DI KELURAHAN SUKAJADI, KECAMATAN DUMAI TIMUR, KOTA DUMAI,

PROVINSI RIAU

MARIA DEWI RAHAYU

I34050780

SKRIPSI

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOBOR 2009

(2)

RINGKASAN

MARIA DEWI RAHAYU. Pola Asuh Anak Ditinjau dari Aspek Relasi Gender Kasus pada Keluarga Etnis Minang, Jawa dan Batak di Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai, Provinsi Riau, di bawah bimbingan SITI AMANAH

Keluarga merupakan unit kesatuan sosial terkecil yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam membina anggota-anggotanya. Setiap anggota dari suatu keluarga dituntut untuk mampu dan terampil dalam menanamkan peranan sesuai dengan kedudukannya. Proses pengasuhan diterima oleh anak dalam institusi ini. Latar belakang budaya orangtua tentu akan mempengaruhi bentuk pengasuhan yang diberikan kepada anak. Penelitian ini mencoba melihat bagaimana pola asuh anak yang ada dalam keluarga migran khususnya etnis Minang, Jawa dan Batak.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi orangtua terhadap nilai anak pada keluarga etnis Jawa, Minang dan Batak, mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan pola asuh anak dalam keluarga etnis Jawa, Minang dan Batak, serta menganalisis relasi gender dalam keluarga etnis Jawa, Minang dan Batak dan hubungannya dengan pembentukan karakter anak.

Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai, Provinsi Riau. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive). Populasi penelitian adalah seluruh keluarga etnis Minang, Jawa dan Batak yang bertempat tinggal di RT 21, 22 dan 23 Kelurahan Sukajadi. Melalui hasil perhitungan, jumlah keluarga yang menjadi responden dalam penelitian ini berjumlah 100 keluarga, yang terdiri dari 52 keluarga etnis Minang, 14 keluarga etnis Jawa dan 34 keluarga etnis Batak. Pengambilan sampel dilakukan dalam metode stratified random sampling. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai, dengan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data. Pengolahan data dilakukan mulai dari verifikasi kuesioner, selanjutnya dibuat tabulasi silang, kemudian diolah menggunakan statistika deskriptif, distribusi frekuensi dan pengujian hubungan. Analisis hubungan menggunakan pengujian Rank Spearman dan Uji ANOVA.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada persepsi nilai psikologis anak, secara umum tidak terdapat perbedaan rata-rata untuk pernyataan anak dapat memperkuat kasih sayang antara suami dan istri, anak perempuan akan lebih memperhatikan orangtua di masa datang dan anak dapat menimbulkan stres pada orangtua. Pada persepsi nilai sosial anak, secara umum tidak terdapat perbedaan rata-rata untuk pernyataan bahwa anak yang terdidik dengan baik akan menimbulkan penghargaan dari masyarakat, baik anak laki-laki atau perempuan diharapkan dapat meningkatkan status sosial keluarga dan anak laki-laki atau perempuan diharapkan dapat meneruskan nilai-nilai yang dijunjung tinggi di dalam keluarga. Pada persepsi nilai ekonomi anak, secara umum tidak terdapat perbedaan rata-rata untuk pernyataan bahwa anak perempuan tidak berkewajiban memberikan bantuan ekonomi di hari tua, hanya anak laki-laki yang diharapkan membantu menyekolahkan adik-adiknya, anak perempuan diajarkan untuk dapat membantu dalam pekerjaan rumah tangga sejak kecil sedangkan anak laki-laki

(3)

tidak, anak laki-laki tidak perlu turut membantu dalam mengerjakan urusan rumah tangga dan anak laki-laki harus diasuh/diperhatikan lebih baik daripada anak perempuan.

Pada keluarga etnis Minang, faktor peran media massa dan pola komunikasi dalam keluarga paling berhubungan positif dengan pola asuh anak. Pada keluarga etnis Jawa, faktor lingkungan fisik dan peran lembaga keagamaan yang berhubungan positif dengan pola asuh anak. Pada keluarga etnis Batak, lingkungan sosial, media massa dan pola komunikasi dalam keluarga yang berhubungan nyata positif dengan pola asuh anak. Media massa dan pola komunikasi dalam keluarga terlihat memiliki hubungan dengan pola asuh anak. Hal ini disebabkan karena hampir seluruh responden baik dari keluarga etnis Minang, Jawa maupun Batak yang memiliki akses terhadap media massa khususnya televisi yang kemudian mempengaruhi pola komunikasi dalam keluarga khususnya antara orangtua dan anak dalam keluarga.

Pada aspek relasi gender dalam keluarga, terlihat bahwa sektor produktif tidak hanya milik laki-laki saja. Perempuan, dalam hal ini adalah istri juga terlibat dalam sektor produktif baik pada keluarga etnis Minang, Jawa maupun Batak. Anak laki-laki maupun perempuan yang telah dewasa dan belum menikah juga turut membantu memenuhi kebutuhan keluarga dengan bekerja. Jam kerja laki-laki di luar rumah tetap lebih besar daripada jam kerja perempuan. Laki-laki-laki rata-rata menghabiskan 8 jam per hari untuk bekerja di luar rumah, sedangkan perempuan hanya berkisar antara 5-6 jam per hari. Berkaitan dengan sektor reproduktif, perempuan masih tetap memegang peran yang dominan meskipun laki-laki juga turut terlibat dalam beberapa hal. Peran laki-laki dalam sektor reproduktif bukanlah sesuatu hal yang mutlak dan wajib sifatnya. Peran laki-laki dan perempuan dalam aktivitas sosial adalah seimbang. Keduanya memiliki hak yang sama untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya asal tidak melupakan tanggung jawab dalam keluarga. Meskipun demikian, tidak ditemukan adanya organisasi atau perkumpulan bagi laki-laki di lokasi penelitian. Laki-laki biasanya berinteraksi dengan tetangga atau dengan teman sekerjanya. Anak, baik laki-laki maupun perempuan diberi hak untuk berinteraksi dengan teman sebayanya dengan tidak mengabaikan tugas dan kewajiban anak dalam keluarga. Tugas pengasuhan anak masih dominan dilakukan oleh istri. Suami hanya terlibat dalam tugas pengasuhan yang bersifat fisik saja. Secara umum pola asuh anak dalam keluarga etnis Minang, Jawa dan Batak tidak berbeda. Perbedaan terlihat jika dikaitkan dengan nilai anak, dimana dalam keluarga Batak masih cenderung mengganggap anak laki-laki lebih bernilai ekonomi sedangkan keluarga Minang dan Jawa cenderung netral.

(4)

POLA ASUH ANAK DITINJAU DARI ASPEK RELASI GENDER

KASUS PADA KELUARGA ETNIS MINANG, JAWA DAN BATAK DI

KELURAHAN SUKAJADI, KECAMATAN DUMAI TIMUR, KOTA DUMAI, PROVINSI RIAU

MARIA DEWI RAHAYU

I34050780

SKRIPSI

Sebagai Syarat untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

pada

Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOBOR 2009

(5)

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi yang disusun: Nama : Maria Dewi Rahayu

NRP : I34050780

Judul : Pola Asuh Anak Ditinjau dari Aspek Relasi Gender (Kasus pada Keluarga Etnis Minang, Jawa dan Batak di Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai, Provinsi Riau)

Dapat diterima sebagai syarat menerima gelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

Menyetujui, Dosen Pembimbing Dr. Ir Siti Amanah, M.Sc NIP. 19670903 199212 2 001 Mengetahui, Ketua Departemen Dr. Lala M. Kolopaking, MS NIP. 19580827 198303 1 001 Tanggal Pengesahan :

(6)

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL ”POLA ASUH ANAK DITINJAU DARI ASPEK RELASI GENDER KASUS KELUARGA ETNIS MINANG, JAWA, DAN BATAK DI KELURAHAN SUKAJADI, KECAMATAN DUMAI TIMUR, KOTA DUMAI, PROVINSI RIAU” BENAR-BENAR MERUPAKAN HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. DEMIKIANLAH PERNYATAAN INI SAYA BUAT SESUNGGUHNYA DAN SAYA BERSEDIA MEMPERTANGGUNG-JAWABKAN PERNYATAAN INI.

Bogor, Agustus 2009

Maria Dewi Rahayu I34050780

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Muntilan, tanggal 13 Juni 1988 sebagai anak pertama dari dua bersaudara, dari Ayah Yosef Tukan dan Ibu Tatiana Tri Sunarti. Penulis menyelesaikan pendidikan SMU di Sekolah Menengah Umum Katolik Santo Tarcisius dan lulus pada tahun 2005. Pada masa pendidikan di SMU, penulis aktif dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sekaligus pernah menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS pada periode 2002-2003 dan menjabat sebagai Ketua OSIS pada periode 2003-2004. Penulis juga aktif mengikuti kegiatan Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), English Debating Club dan menjabat sebagai anggota divisi Olahraga dan Seni dalam Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Kota Dumai (HIPEMA-KD).

Pada tahun 2005, penulis mendapatkan kesempatan untuk belajar di Institut Pertanian Bogor melalui jalur BUD (Beasiswa Utusan Daerah) dari Pemerintah Daerah Kota Dumai, Provinsi Riau. Penulis kemudian memilih mayor Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat dengan minor Perkembangan Anak dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Selama kuliah, penulis pernah aktif dalam beberapa organisasi. Penulis pernah menjabat sebagai Bendahara Divisi Kerohanian Keluarga Mahasiswa Katolik, Institut Pertanian Bogor periode 2007-2008, Anggota dan Bendahara Koor Mahasiswa Katolik Institut Pertanian Bogor, Bendahara Divisi Kesekretariatan Paduan Suara Mahasiswa Agriaswara, Institut Pertanian Bogor periode 2008-2009, dan aktif sebagai anggota Paduan Suara Mahasiswa Agriaswara IPB. Bersama Agriaswara, penulis pernah meraih prestasi saat mengikuti Festival Paduan Suara Institut Teknologi Bandung (FPS-ITB) ke XXI di Bandung pada tanggal 25-31 Agustus 2008 dan berhasil meraih Gold Medal untuk kategori Female Choir dan Silver Medal untuk kategori Mixed Choir.

(8)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah Bapa yang Maha Mulia untuk segala kasih karunia-Nya sehingga penulisan skripsi ini telah berhasil diselesaikan. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:

1. Dr. Ir. Siti Amanah M.Sc selaku dosen pembimbing yang telah begitu baik dan sabar membimbing mulai dari penyusunan Studi Pustaka, proposal penelitian hingga skripsi ini. Terimakasih untuk segala saran dan masukan yang diberikan.

2. Dr. Ir. Ekawati Sri Wahyuni MS selaku dosen penguji utama dan Ir. Anna Fatchiya, M.Si selaku dosen penguji wakil departemen dalam ujian sidang skripsi. Terimakasih atas saran dan masukan yang diberikan untuk perbaikan skripsi ini.

3. Papa Yosef Tukan, Mama Tatiana, Sinyo Alexander dan semua keluarga besar dimanapun berada yang selalu mendoakan dan senantiasa mendukung baik secara moral maupun materiil dalam proses penyusunan skripsi ini.

4. Pemerintah Daerah Kota Dumai atas kesempatan yang diberikan untuk mengeyam pendidikan di Institut Pertanian Bogor.

5. Bapak Tammy Arthadinata selaku Lurah Sukajadi atas bantuan dan informasi yang banyak membantu dalam penulisan skripsi ini.

6. Ibu Eti, Bapak Kateni dan Bapak Hidir Rambe selaku Ketua RT 21, 22 dan 23 Kelurahan Sukajadi yang banyak membantu selama proses pengumpulan data di lapangan.

7. Tubagus dan Lidia, teman satu bimbingan yang senantiasa menyemangati dan mendukung.

8. Keluarga kedua di Ananda (khususnya Mellisa, Rina, Agnes, Debbie, Kamalita, Devina, Tetty, Eleven, Devi, Hilaria, Pesta, Mei Cing, dan Evi) yang senantiasa memberikan perhatian, keceriaan dan semangat.

9. Teman-teman di Agriaswara, khususnya teman-teman “My Luna” (Gladys, Melvin, Bhaskoro, Nancy, Hafiz, Steffanus, Max) dan

(9)

teman-teman Soprano, Alto, Tenor dan Bass lainnya, yang selalu menyemangati dan memberi dukungan.

10.Teman-teman KPM 42 yang selama ini bersama-sama menjalani kehidupan perkuliahan, khususnya Wagner, Virgin, Anda, Sihol, Mulia, Nando, Sinta, Puty, Metri, Alwin; juga teman-teman KPM 43 dan 44. 11.Seluruh dosen dan staf pengajar di Departemen Sains Komunikasi dan

Pengembangan Masyarakat dan Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen yang begitu banyak memberikan ilmu dan pengetahuan.

12.Teman-teman selama di empat tahun kuliah di IPB, teman-teman BUD Kota Dumai, dan teman-teman SMU (khususnya Clara, Heri, Dian, Silvia, Farindra, Joendri, Vera) yang banyak membantu dan mendukung selama ini.

13.Guru-guru SMU Santo Tarcisius Dumai yang senantiasa mendukung dan menyemangati.

14.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang secara tidak langsung membantu saya dalam proses penyusunan skripsi ini.

(10)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus untuk segala kasih karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan judul ”Pola Asuh Anak Ditinjau dari Aspek Relasi Gender (Kasus pada Keluarga Etnis Minang, Jawa dan Batak di Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai)”.

Tujuan dari penyusunan skripsi ini untuk mengetahui persepsi orangtua terhadap nilai anak pada keluarga migran dari etnis Jawa, Minang dan Batak, mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan pola asuh anak dalam keluarga migran etnis Jawa, Minang dan Batak, serta menganalisis relasi gender dalam keluarga migran etnis Jawa, Minang dan Batak dan hubungannya dengan pembentukan karakter anak.

Penulis menyadari bahwa dalam proses penyusunan skripsi ini masih banyak keterbatasan, kekurangan dan kelemahan. Oleh karena itu, sangat diharapkan saran dan kritik yang membangun untuk membantu proses penyempurnaan skripsi ini.

Bogor, Agustus 2009

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Masalah Penelitian ... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

II. PENDEKATAN TEORITIS 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Definisi dan Fungsi Keluarga ... 6

2.1.2 Konsep Pengasuhan Anak dan Nilai Anak dalam Keluarga ... 7

2.1.3 Relasi Gender dalam Keluarga ………. 9

2.1.4 Relasi Gender dalam Pengasuhan Anak ………...12

2.1.5 Karakteristik Keluarga Etnis Minang Jawa dan Batak……….. 15

2.2 Kerangka Pemikiran ... 17

2.3 Definisi Operasional………. 21

2.6 Hipotesis Penelitian ... 26

III. METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian ... 28

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 28

3.3 Teknik Pemilihan Responden ... 28

3.4 Teknik Pengumpulan Data... 29

3.5 Validitas Instrumen Penelitian ... 30

3.6 Teknik Analisis Data ... 31

IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN PENELITIAN 4.1 Kondisi Umum Lokasi Penelitian ... 32

(12)

Halaman

4.1.1 Kondisi Umum Kelurahan Sukajadi, Kota Dumai ... 32

4.1.2 Sarana dan Prasarana ... 34

4.1.3 Kependudukan dan Kondisi Sosial Ekonomi ... 35

4.2 Karakteristik Responden Penelitian………... 37

4.2.1 Usia ... 37

4.2.2 Tingkat Pendidikan ... 37

4.2.3 Pekerjaan ... 38

4.2.4 Pengeluaran Pangan dan Non Pangan ... 39

4.2.5 Kepemilikan Aset dalam Keluarga ... 40

4.2.6 Pola Konsumsi Pangan ... 41

V. PERSEPSI NILAI ANAK PADA KELUARGA ETNIS MINANG, JAWA DAN BATAK 5.1 Nilai Psikologis Anak pada Keluarga Etnis Minang, Jawa dan Batak .... 44

5.2 Nilai Sosial Anak pada Keluarga Etnis Minang, Jawa dan Batak ... 48

5.3 Nilai Ekonomi Anak pada Keluarga Etnis Minang, Jawa dan Batak ... 51

VI. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN POLA ASUH ANAK PADA KELUARGA ETNIS MINANG, JAWA DAN BATAK 6.1 Keluarga Etnis Minang ... 54

6.2 Keluarga Etnis Jawa ... 56

6.3 Keluarga Etnis Batak ... 58

VII. RELASI GENDER DAN POLA PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM KELUARGA ETNIS MINANG, JAWA DAN BATAK 7.1 Keluarga Etnis Minang ... 61

7.1.1 Pembagian Kerja dan Curahan Waktu ... 61

7.1.2 Pola Pengambilan Keputusan dalam Keluarga ... 65

7.2 Keluarga Etnis Jawa ... 66

7.2.1 Pembagian Kerja dan Curahan Waktu ... 66

7.2.2 Pola Pengambilan Keputusan dalam Keluarga ... 70

(13)

Halaman

7.1.1 Pembagian Kerja dan Curahan Waktu ... 71

7.1.2 Pola Pengambilan Keputusan dalam Keluarga ... 73

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 75

6.2 Saran ... 77

DAFTAR PUSTAKA ... 78

(14)

DAFTAR TABEL

No Halaman

1. Kecamatan di Kota Dumai dan Luas Wilayahnya ... 33 2. Sarana Peribadatan di Kelurahan Sukajadi, Kecamatan

Dumai Timur ... 34 3. Sarana Pendidikan di Kelurahan Sukajadi, Kecamatan

Dumai Timur ... 35 4. Jenis Lembaga Kemasyarakatan di Kelurahan Sukajadi,

Kecamatan Dumai Timur ... 36 5. Jenis Industri dan Jumlah Tenaga Kerja yang Dipekerjakan

di Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Dumai Timur ... 36 6. Sebaran Responden Etnis Minang, Jawa dan Batak ... 37 7. Sebaran Tingkat Pendidikan Formal Kepala Keluarga (KK) dari

Keluarga Etnis Minang, Jawa dan Batak ... 38 8. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Pengeluaran untuk

Memenuhi Kebutuhan Pangan pada Keluarga Etnis Minang,

Jawa dan Batak ... 39 9. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Pengeluaran untuk

Memenuhi Kebutuhan Non Pangan pada Keluarga Etnis Minang,

Jawa dan Batak ... 39 10. Rasio Kepemilikan Aset pada Keluarga Etnis Minang,

Jawa dan Batak ... 39 11. Distribusi Frekuensi Makan/hari pada Keluarga Etnis Minang,

Jawa dan Batak ... 42 12. Distribusi Frekuensi Makan Daging, Ikan dan Telur/minggu pada

Keluarga Etnis Minang ... 42 13. Distribusi Frekuensi Makan Daging, Ikan dan Telur/minggu pada

Keluarga Etnis Jawa ... 43 14. Distribusi Frekuensi Makan Daging, Ikan dan Telur/minggu pada

(15)

Halaman 15. Skor Rata-rata Nilai Psikologi Anak (Pernyataan yang

Bersifat Umum) pada Keluarga Etnis Minang, Jawa dan Batak ... 46 16. Skor Rata-rata Nilai Psikologi Anak (Pernyataan yang Bersifat

Gender) pada Keluarga Etnis Minang, Jawa dan Batak ... 47 17. Skor Rata-rata Nilai Sosial Anak (Pernyataan yang Bersifat

Umum) pada Keluarga Etnis Minang, Jawa dan Batak ... 49 18. Skor Rata-rata Nilai Sosial Anak (Pernyataan yang Bersifat

Gender) pada Keluarga Etnis Minang, Jawa dan Batak... 50 19. Skor Rata-rata Nilai Ekonomi Anak (Pernyataan yang Bersifat

Umum) pada Keluarga Etnis Minang, Jawa dan Batak ... 51 20. Skor Rata-rata Nilai Ekonomi Anak (Pernyataan yang Bersifat

Gender) pada Keluarga Etnis Minang, Jawa dan Batak... 53 21. Aktivitas Produksi, Reproduksi dan Sosial pada Keluarga

Etnis Minang ... 62 22. Aktivitas Produksi, Reproduksi dan Sosial pada Keluarga

Etnis Jawa ... 68 23. Aktivitas Produksi, Reproduksi dan Sosial pada Keluarga

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

No Halaman

1. Kuesioner Penelitian ... 81

2. Hasil Uji ANOVA untuk Persepsi Nilai Psikologis Anak ... 90

3. Hasil Uji ANOVA untuk Persepsi Nilai Sosial Anak ... 91

4. Hasil Uji ANOVA untuk Persepsi Nilai Ekonomi Anak ... 92

5. Hasil Uji Korelasi Rank Spearman untuk Keluarga Etnis Minang ... 93

6. Hasil Uji Korelasi Rank Spearman untuk Keluarga Etnis Jawa ... 94

7. Hasil Uji Korelasi Rank Spearman untuk Keluarga Etnis Batak ... 95

(17)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keluarga adalah institusi pendidikan primer, sebelum seorang anak mendapatkan pendidikan di lembaga lain. Pada institusi primer inilah seorang anak mengalami pengasuhan. Keberhasilan seorang anak dalam hubungan sosialnya tergantung dari pola pengasuhan yang diterapkan orangtua dalam keluarga. Pada umumnya pengasuhan diwujudkan dalam bentuk merawat, memelihara, mengajar, dan membimbing anak.

Pola asuh anak antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lainnya berbeda-beda. Sa’diyyah (1998) mengemukakan bahwa pola pengasuhan anak dalam sebuah keluarga dipengaruhi oleh umur Kepala Keluarga (KK) dan istri, usia saat menikah, status pekerjaan istri, jenis pekerjaan utama, besarnya keluarga, pendapatan keluarga, usia anak, jenis kelamin anak dan nomor urut anak dalam keluarga. Hasil penelitian Siregar (2003) pada keluarga migran di salah satu kelurahan di Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor menunjukkan bahwa interaksi keluarga dengan masyarakat setempat akan mempengaruhi pola sosialisasi anak dalam hal penggunaan bahasa. Gunarsa dan Gunarsa (1991) menyebutkan bahwa tingkat pendidikan orangtua akan berpengaruh terhadap cara, pola dan kerangka berfikir, persepsi, pemahaman dan kepribadian orangtua tersebut yang secara langsung atau tidak akan mempengaruhi pola komunikasi antara orangtua dan anak dalam lingkungan keluarga.

Seorang anak di sebuah keluarga akan diasuh menurut nilai budaya dan agama yang diyakini oleh kedua orangtuanya. Proses sosialisasi nilai budaya dan agama tersebut dapat dilakukan melalui komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal antara orangtua dan anak. Pikunas (1976) seperti yang dikutip oleh Hastuti (2008) mendefinisikan sosialisasi sebagai proses belajar untuk mengenali nilai-nilai dan ekspetansi kelompok, dan meningkatkan kemampuan untuk mengikutinya (conform).

Penelitian Hernawati (2002) juga mengungkapkan bahwa persepsi dan harapan orangtua tentang perkembangan anak berbeda secara nyata menurut budaya. Pada etnis Jawa di Indonesia yang menganut budaya kolektivistik,

(18)

seorang anak dalam keluarga Jawa yang memiliki tingkat ekonomi menengah ke bawah dibutuhkan kontribusinya dalam hal pemenuhan kebutuhan keluarga. Pada keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke atas, anak dipandang sebagai simbol martabat sebuah keluarga. Keduanya menganggap anak menentukan masa depan keluarga. Berbeda dengan di Amerika Serikat yang menganut budaya individualistik, dimana seorang anak tidak dianggap sebagai masa depan kedua orangtuanya.

Pola asuh anak dalam sebuah keluarga juga berkaitan erat dengan pola komunikasi dan relasi gender di dalamnya. Pada keluarga-keluarga yang tanggung jawab ekonominya sepenuhnya dilakukan oleh ayah (suami) maka peran ibu dalam mengasuh anak-anak sangatlah dominan. Pada kasus semacam ini, ibu berperan penuh dalam sektor domestik dan ayah hanya mengurusi sektor produktif yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan materi keluarga tersebut. Pola pengasuhan yang diterapkan akan berbeda jika dalam sebuah keluarga ibu juga ikut mengurusi sektor produktif dan sektor domestik sekaligus atau yang disebut mengalami peran ganda.

Lingkungan tempat tinggal juga dapat mempengaruhi pola asuh yang diterapkan orangtua pada anak-anaknya. Situasi lingkungan tempat tinggal yang kondusif akan mendorong orangtua untuk memberikan pengasuhan yang baik bagi anak. Sebaliknya, lingkungan yang tidak kondusif cenderung akan mengakibatkan orangtua tidak terlalu memperhatikan aspek-aspek penting dalam pengasuhan. Pengaruh lingkungan sosial terhadap perkembangan anak mencakup faktor-faktor resiko dan faktor-faktor yang melindungi (protective and risk factors). Faktor resiko merupakan variabel-variabel yang berhubungan secara signifikan terhadap kegagalan pertumbuhan seorang anak, sedangkan faktor yang melindungi adalah kondisi yang berhubungan positif terhadap keberhasilan perkembangan anak meskipun terjadi peningkatan faktor resiko yang harus dihadapi (Alfiasari, 2008, p.5)

Cole (1993) dalam Brooks (1997) seperti yang dikutip oleh Alfiasari (2008) mengidentifikasi faktor resiko yang secara umum menyebabkan kegagalan perkembangan seorang anak, yang mana dalam jangka pendek akan menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan, kegagalan pertumbuhan, kegagalan perkembangan

(19)

kognitif, dan juga kegagalan perkembangan sosial pada anak. Faktor resiko yang dimaksud antara lain (1) faktor ekologi yang mencakup lingkungan pertetanggan yang tidak nyaman dan aman, ketidakadilan yang muncul akibat perbedaan ras/suku/etnik, komunitas yang sebagian besar anggotanya adalah pengangguran, dan kemiskinan yang ekstrim yang terjadi dalam komunitas; (2) keadaan keluarga yang mencakup rendahnya kelas sosial, konflik keluarga, gangguan mental yang ada dalam keluarga, jumlah anggota keluarga yang besar, rendahnya emotional bonding antara anak dan orangtua, perpecahan keluarga, dan adanya penyimpangan dalam komunikasi di dalam keluarga.

Merujuk pada konsep tersebut, lingkungan pemukimam kumuh (slum area) termasuk salah satu lingkungan tempat tinggal yang tidak kondusif bagi pembentukan karakter anak. Hal ini ditunjukkan dengan kondisi sosial demografis di kawasan kumuh seperti kepadatan penduduk yang tinggi, kondisi lingkungan yang tidak layak huni dan tidak memenuhi syarat serta minimnya fasilitas pendidikan, kesehatan dan sarana prasarana sosial budaya. Tumbuhnya kawasan kumuh terjadi karena tidak terbendungnya arus urbanisasi.

Perkotaan selalu menjadi tempat yang menarik bagi banyak orang. Daerah perkotaan, khususnya kota besar dan kota yang sedang berkembang, memiliki faktor penarik bagi kaum pendatang dari luar kota. Anggapan bahwa di perkotaan tersedia banyak lapangan pekerjaan, berbagai fasilitas pendidikan dan rekreasi serta tingkat budaya yang lebih tinggi menyebabkan banyak orang tertarik untuk bermigrasi ke kota. Kawasan pemukiman kumuh sudah banyak ditemui di kota-kota besar di Pulau Jawa seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan Bogor. Saat ini, di luar Pulau Jawa juga semakin banyak ditemui kawasan pemukiman kumuh khususnya di kota yang sedang berkembang. Kota Dumai, Provinsi Riau termasuk salah satu contohnya.

Salioso (2003) menyatakan bahwa Kota Dumai dirancang untuk menjadi “Pusat Pelayanan Industri dan Jasa di Pantai Timur Sumatera pada tahun 2020”. Peluang ini tentunya tidak disia-siakan oleh para pencari kerja yang kemudian mencoba peruntungannya dengan melakukan migrasi ke Kota Dumai. Data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Riau tahun 2007 menunjukkan bahwa penduduk Kota Dumai berjumlah 231.121 jiwa.

(20)

Meningkatnya jumlah pendatang ke Kota Dumai dapat membawa dampak pada munculnya kawasan pemukiman kumuh (slum area). Data dari Bappeda Kota Dumai pada tahun 2000 menunjukkan bahwa dari 32 kelurahan yang ada di Kota Dumai, kawasan kumuh terdapat di 2 kecamatan yaitu Kecamatan Dumai Barat (Kelurahan Pangkalan Sesai dan Kelurahan Rimba Sekampung) dan Dumai Timur (Keluarahan Teluk Binjai dan Kelurahan Sukajadi). Penduduk yang bermukim di kawasan tersebut rata-rata bekerja di sektor informal. Tata letak bangunan di kawasan tersebut tidak teratur, kepadatan penduduk sedang hingga tinggi, kerapatan bangunan sedang hingga tinggi, fasilitas dan sarana umum kurang memadai, dan rawan bencana terutama banjir, kebakaran dan penyakit. Kawasan pemukiman kumuh tersebut hingga saat ini masih ditemui di Kota Dumai. Atas dasar itulah, maka diteliti pola asuh anak dalam keluarga etnis Minang, Jawa dan Batak yang tinggal di Kelurahan Sukajadi. Kelurahan ini berbatasan langsung dengan daerah bantaran sungai Dumai. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi orangtua terhadap nilai anak dalam keluarga etnis Jawa, Minang dan Batak yang tinggal di kawasan tersebut. Relasi gender dalam pengasuhan anak di keluarga tersebut juga dikaji untuk melihat peran masing-masing pihak dalam pengasuhan dan kaitannya dengan pembentukan karakter anak.

1.2 Masalah Penelitian

Penduduk Kelurahan Sukajadi terdiri dari bermacam-macam etnis dan latar belakang budaya seperti Minang, Jawa, Batak dan Melayu. Pola hidup penduduk yang beragam etnis tersebut biasanya sudah diadaptasi dengan kebudayaan setempat sehingga nilai-nilai budaya asal mungkin tidak lagi kental. Suami dan istri dalam biasanya akan sama-sama bekerja untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup. Tentu dapat ditemukan adanya pembagian kerja yang sedemikian rupa antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga tersebut, termasuk dalam hal pengasuhan anak. Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan masalah penelitian ini adalah:

1. Apakah terdapat perbedaan persepsi orangtua terhadap nilai anak dalam keluarga etnis Minang, Jawa dan Batak?

(21)

2. Faktor-faktor apa sajakah yang berhubungan dengan penerapan pola asuh anak dalam keluarga keluarga etnis Minang, Jawa dan Batak?

3. Bagaimana relasi gender dalam keluarga dalam kaitannya dengan pola asuh anak pada keluarga etnis Minang, Jawa dan Batak?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang dirumuskan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk :

1. Menjelaskan persepsi orangtua terhadap nilai anak pada keluarga etnis Minang, Jawa dan Batak.

2. Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan pola asuh anak dalam keluarga etnis Minang, Jawa dan Batak.

3. Menganalisis relasi gender dalam keluarga etnis Minang, Jawa dan Batak dan hubungannya dengan pola asuh anak.

1.4 Kegunaan Penelitian

Secara akademis, penelitian ini dapat memperkaya pemahaman tentang konsep pengasuhan anak dalam keluarga. Melalui penelitian ini dapat diperoleh informasi mengenai keberagaman pola asuh anak dari latar belakang budaya orangtua yang beragam. Temuan penelitian ini dapat digunakan oleh pemerintah setempat untuk mengembangkan pendekatan kualitas anak dan relasi gender yang harmonis dalam keluarga.

(22)

II. PENDEKATAN TEORITIS

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Definisi dan Fungsi Keluarga

Keluarga merupakan unit kesatuan sosial terkecil yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam membina anggota-anggotanya. Setiap anggota dari suatu keluarga dituntut untuk mampu dan terampil dalam menanamkan peranan sesuai dengan kedudukannya. Pada dasarnya, keluarga dapat dibedakan menjadi dua yaitu keluarga inti (nuclear family) dan keluarga luas (extended family). Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak yang belum menikah. Keluarga ini dapat dikategorikan lagi menjadi keluarga inti yang tidak lengkap yang terdiri atas ayah dan anaknya atau ibu dan anak-anaknya, serta pasangan yang baru menikah atau tidak punya anak (Kerangka TOR, 1994 dalam Ritonga et al, 1996). Keluarga luas adalah keluarga yang terdiri dari keluarga inti senior dan junior baik karena ikatan darah, perkawinan maupun adopsi.

Hartoyo (1967) seperti yang dikutip dalam Ritonga et al, (1996) menyatakan bahwa dalam pengertian yang lebih luas, keluarga merupakan lembaga sosial yang terkecil dari masyarakat yang terdiri dari sekelompok manusia yang hidup bersama dengan adanya ikatan perkawinan, hubungan darah dan adopsi. Keluarga sebagai institusi primer merupakan tempat pertama dan utama bagi anak sebelum mengenal lingkungan luar. W. Bennet dalam Hastuti (2008) menyatakan bahwa keluarga adalah tempat paling efektif dimana seseorang anak menerima kebutuhan kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan bagi hidupnya, dan bahwa kondisi biologis, psikologis dan pendidikan serta kesejahteraan seorang anak amat tergantung pada keluarga.

Menurut Departemen Kesehatan RI (1998), keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Secara prinsip keluarga adalah unit terkecil masyarakat, terdiri atas dua orang atau lebih, adanya ikatan perkawinan dan pertalian darah, hidup dalam satu rumah tangga, di bawah asuhan seorang kepala rumah tangga,

(23)

berinteraksi diantara sesama anggota keluarga, setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing, menciptakan, mempertahankan suatu kebudayaan. Fungsi keluarga dapat bermakna ganda, yaitu fungsi keluarga terhadap masyarakat dan fungsi keluarga terhadap individu anggotanya. Horton dan Hunt menyebutkan beberapa fungsi keluarga yaitu fungsi pengaturan seksual, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi, fungsi afeksi, fungsi penentuan status, fungsi perlindungan dan fungsi ekonomi (Tangdilintin, 1996:49).

2.1.2 Konsep Pengasuhan Anak dan Nilai Anak dalam Keluarga

Keluarga merupakan lembaga yang melaksanakan tugas pengasuhan pada anak. Hastuti (2008) mengemukakan bahwa pengasuhan kerap didefinisikan sebagai cara mengasuh anak mencakup pengalaman, keahlian, kualitas dan tanggung jawab yang dilakukan orangtua dalam mendidik dan merawat anak, sehingga anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang diharapkan oleh keluarga dan masyarakat dimana ia berada atau tinggal. Tugas pengasuhan ini umumnya dilakukan oleh ayah dan ibu (orangtua biologis anak), namun bila orangtua biologisnya tidak mampu melakukan tugas ini, maka tugas ini diambil alih oleh kerabat dekat termasuk kakak, kakek dan nenek, orangtua angkat atau oleh institusi pengasuhan sebagai alternative care.

Tugas pengasuhan bukan hanya kegiatan memenuhi kebutuhan fisik anak seperti sandang, pangan dan papan. Tugas pengasuhan juga mencakup pemenuhan kebutuhan psikis anak dan pemberian stimulasi untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan anak secara maksimal. Beberapa aspek dalam pola pengasuhan yaitu mencakup pola asuh makan, pola asuh hidup sehat, pola asuh akademik atau intelektual, pola asuh sosial emosi serta pola asuh moral dan spiritual (Hastuti, 2008:76). Menurut Satoto (1990); Zeitlin, Collet, Megawangi dan Babatunde (1992) seperti yang dikutip oleh Hastuti (2008), diperlukan dua faktor yang saling berkaitan dalam pengasuhan yaitu interaksi ibu dan anak secara timbal balik dan pemberian stimulasi1.

1

Anak adalah sebagai penerima stimulus dari orang dewasa di sekitar kehidupan anak. Stimulus positiflah yang diharapkan berlangsung selama pengasuhan, misalnya dengan mensosialisasikan

(24)

Penelitian yang dilakukan oleh Sa’adiyyah (1998) pada keluarga etnik Jawa dan Minang yang tinggal di desa dan kota menemukan fakta bahwa anak yang tinggal di kota lebih banyak menerima stimulasi dari orangtuanya dibandingkan dengan anak yang tinggal di desa. Hal ini dipengaruhi oleh nomor urut anak, pendidikan orangtua dan pendapatan keluarga. Semakin besar nomor urut anak dan pendapatan keluarga, serta semakin tinggi pendidikan orangtua cenderung akan menyebabkan semakin banyaknya stimulasi yang diterima anak. Jadi, faktor karakteristik anak dan kondisi ekonomi serta pendidikan orangtua mempengaruhi pemberian stimulasi pada anak.

Faktor ketidaklengkapan anggota keluarga juga kemudian mempengaruhi pola pengasuhan anak yang dilakukan dalam keluarga tersebut yang juga akan mengakibatkan kurangnya stimulasi yang diterima anak. Rohman (1995) melakukan penelitian pada anak dari keluarga miskin di daerah “ledok” lereng sungai Gajahwong di dusun Papringan dan Caturtunggal, Depok, Sleman. Pada penelitian tersebut, ditemukan bahwa selain faktor ekonomi, faktor keadaan kehidupan keluarga juga mempengaruhi pola pengasuhan anak dalam keluarga tersebut. Pada kedua daerah penelitian, ditemukan bahwa banyak sekali keluarga yang tidak lengkap struktur keluarganya, namun di sisi lain juga ditemukan keluarga yang terlalu banyak anggota keluarganya. Jika dalam suatu keluarga tidak ditemukan peran seorang ibu maka peran ayah akan menonjol, demikian pula sebaliknya. Ketimpangan peran yang terlihat di sini dapat mempengaruhi penanaman konsep identitas gender pada anak dan berujung pada kualitas anak yang terbentuk.

Menurut Joshi dan MacClean (1997) seperti yang dikutip dalam Putri (2006), nilai anak merupakan persepsi dan harapan orangtua terhadap anak berdasarkan potensi yang dimiliki anak. Lebih lanjut mereka mengungkapkan bahwa persepsi dan harapan orangtua tentang perkembangan anak berbeda secara nyata menurut budaya (Hernawati, 2002). Becker (1995) seperti yang dikutip oleh Hernawati (2002) mengemukakan bahwa anak dipandang sebagai sumberdaya yang sangat berharga dan tahan lama. Secara alami anak memiliki nilai psikis dan

kata-kata positif yang diperdengarkan kepada anak sejak masih kecil, mengajarkan anak tentang suatu konsep, mensosialisasika tentang peraturan dan sebagainya.

(25)

nilai materi sehingga orangtua menganggap anak merupakan nilai investasi di masa depan yang efisien. Investasi pada anak diwujudkan dengan pengasuhan yang baik, perawatan, sekolah dan pemenuhan makan anak yang baik. Penilaian orangtua akan mempengaruhi cara mereka memperlakukan anak dan perlakuan mereka terhadap anak sebaliknya akan mempengaruhi penilaian anak terhadap orangtua. Pada dasarnya hubungan orangtua dengan anak bergantung kepada penilaian orangtua (Hurlock, 1997).

Latar belakang sosial yang berbeda tingkat pendidikan, kesehatan, adat istiadat atau kebudayaan suatu kelompok sosial serta penghasilan atau mata pencaharian yang berlainan, menyebabkan pandangan yang berbeda mengenai anak (Siregar, 2003). Anak memiliki nilai universal namun nilai anak tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor sosio kultural dan lain-lain. Siregar (2003) juga menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan persepsi nilai anak oleh orang tua adalah merupakan tanggapan dalam memahami adanya anak, yang berwujud suatu pendapat untuk memiliki diantara pilihan-pilihan yang berorientasi pada suatu hal yang pada dasarnya terbuka dalam situasi yang datangnya dari luar.

2.1.3 Relasi Gender dalam Keluarga

Konsep kedudukan atau status dalam lingkup ilmu sosiologi dapat diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Peranan (role) merupakan aspek dinamis dari kedudukan atau status. Apabila seseorang telah melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka seseorang tersebut dapat dikatakan telah menjalani suatu peranan (Prasodjo dan Pandjaitan, 2003:74).

Status dan peranan antara laki-laki dan perempuan seringkali menjadi bahan perdebatan yang masih terus dibahas. Pada kondisi normatif, laki-laki dan perempuan mempunyai status atau kedudukan dan peranan (hak dan kewajiban) yang sama. Pembedaan diantara keduanya dibentuk oleh norma sosial dan nilai sosial budaya yang berlaku dalam masyarakat. Norma sosial dan nilai budaya tersebut menciptakan status dan peranan perempuan hanya sebatas sektor domestik saja. Perempuan memiliki status sebagai ibu rumah tangga dan melaksanakan semua pekerjaan yang berkaitan dengan rumah tangga dan laki-laki

(26)

ditempatkan di sektor produksi dan berstatus sebagai kepala keluarga sekaligus sebagai pencari nafkah utama (Sudarta, 2008).

Pria dan wanita mempunyai persamaan kedudukan, hak, kewajiban dan kesempatan, baik dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara maupun dalam kegiatan pembangunan di segala bidang. Selanjutnya, kewajiban yang sama umpamanya seorang istri sama-sama berkewajiban untuk mencari nafkah dengan suaminya dalam upaya memenuhi beragam kebutuhan rumah tangga. Mencari nafkah tidak lagi hanya menjadi kewajiban suami (pria), begitu juga kewajiban melakukan pekerjaan urusan rumah tangga tidak semata-mata menjadi urusan istri (wanita).

Bicara mengenai gender memang tidak terlepas dari seks dan kodrat. Seks, kodrat dan gender mempunyai kaitan yang erat, tetapi mempunyai pengertian yang berbeda. Pengertian dari ketiga konsep itu sering disalahartikan dalam kaitannya dengan peranan laki-laki dan perempuan di masyarakat. Istilah seks dapat diartikan kelamin secara biologis, yakni alat kelamin laki-laki (penis) dan alat kelamin perempuan (vagina). Sejak lahir sampai meninggal dunia, laki-laki akan tetap berjenis kelamin laki-laki-laki-laki dan perempuan akan tetap berjenis kelamin perempuan (kecuali dioperasi untuk berganti jenis kelamin). Jenis kelamin itu tidak dapat ditukarkan antara laki-laki dengan perempuan. Kodrat adalah sifat bawaan biologis sebagai anugerah Tuhan, yang tidak dapat berubah sepanjang masa dan tidak dapat ditukarkan yang melekat pada laki-laki dan perempuan. Konsekuensi dari anugerah itu adalah manusia yang berjenis kelamin perempuan, diberikan peran kodrati yang berbeda dengan manusia yang berjenis kelamin laki-laki. Perempuan diberikan peran kodrati untuk mengalami menstruasi, mengandung, melahirkan, menyusui dengan air susu ibu dan menopause. Laki-laki diberikan peran kodrati membuahi sel telur perempuan. Jadi, peran kodrati perempuan dengan laki-laki berkaitan erat dengan jenis kelamin dalam artian ini (Arjani dan Agung Aryani, 2002).

Gender berasal dari kata “gender” (bahasa Inggris) yang diartikan sebagai jenis kelamin. Namun jenis kelamin di sini bukan seks secara biologis, melainkan sosial budaya dan psikologis. Pada prinsipnya, konsep gender memfokuskan perbedaan peranan antara laki-laki dengan perempuan, yang dibentuk oleh

(27)

masyarakat sesuai dengan norma sosial dan nilai sosial budaya masyarakat yang bersangkutan. Jadi gender bukan bicara perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan melainkan peranan yang dimainkan oleh laki-laki dan perempuan dalam hidup bermasyarakat.

White dan Hastuti (1980) mengemukakan bahwa dalam sistem kekerabatan patrilineal, terdapat adat dalam perkawinan dimana perempuan (istri) biasanya mengikuti laki-laki (suami) atau tinggal di pihak keluarga suami. Hal tersebut, merupakan salah satu faktor yang cenderung mempengaruhi status dan peranan perempuan dimana perempuan dipandang lebih rendah. Arjani dan Agung Aryani (2002) juga menyatakan bahwa beberapa kebudayaan juga tidak mengikutsertakan perempuan dalam hal pembagian warisan, sehingga secara ekonomi dan kepemilikan kekayaan pun perempuan masih saja lebih rendah dari laki-laki.

Berkaitan dengan etnik Minang yang menganut sistem kekerabatan matrilineal, Alfian dan D.F Anwar (1983) dalam Jendrius (2007) menjelaskan sebuah studi tentang masyarakat Minangkabau sangat dipengaruhi oleh pandangan Schneider tentang sistem matrilineal yang sebenarnya perlu dipertanyakan relevansinya untuk kasus masyarakat Minangkabau. Menurut Schneider seperti dikutip dari Tanner, dalam masyarakat matrilineal, keturunan dan kekuasaan merupakan dua hal yang terpisah dimana keturunan melalui perempuan sementara kekuasaan melalui laki-laki. Selanjutnya Schneider juga mengemukakan bahwa dalam sistem matrilineal kekuasan tidak terbagi melainkan terpusat pada seorang pemimpin. Dengan demikian berarti kedudukan perempuan dibandingkan dengan laki-laki tetap lebih rendah karena kekuasaan berada ditangan laki-laki dan segala keputusan diambil oleh laki-laki sedangkan perempuan tidak mempunyai suara. Alfian dan D.F Anwar (1983) dalam Jendrius (2007) menyatakan bahwa baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki peran yang penting dan analisis yang hanya memfokuskan perhatian pada satu dari dua kelompok ini tidak akan memberikan gambaran yang seutuhnya. Hal ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat yang menganut sistem matrilineal pun, peran perempuan sebenarnya masih tetap dipandang lebih rendah daripada laki-laki.

(28)

2.1.4 Relasi Gender dalam Pengasuhan Anak

Gender adalah perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh sistem sosial yang ada, yaitu perbedaan yang bukan kodrati atau bukan ciptaan Tuhan. Seorang anak akan mengenal konsep identitas gender pertama kali melalui keluarganya. Penanaman konsep identitas gender biasanya dilakukan melalui proses sosialisasi dan internalisasi. Agung Aryani (2002) dan Tim Pusat Studi Perempuan Universitas Udayana (2003) menyatakan bahwa peran gender adalah peran sosial yang tidak ditentukan oleh perbedaan kelamin seperti halnya peran kodrati. Oleh karena itu, pembagian peranan antara laki-laki dengan perempuan dapat berbeda di antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lainnya sesuai dengan lingkungan. Peran gender juga dapat berubah dari masa ke masa, karena pengaruh kemajuan pendidikan, teknologi, ekonomi, dan lain-lain. Hal itu berarti, peran gender dapat ditukarkan antara laki-laki dengan perempuan.

Banyak penelitian yang dilakukan telah mengidentifikasi adanya peran gender dalam di keluarga. Laki-laki (suami) akan cenderung menjadi kepala keluarga dan perempuan (istri) menjadi kepala rumah tangga. Laki-laki bertugas mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga (sektor produksi), sedangkan perempuan bertugas mengasuh anak dan mengurus rumah tangga (sektor domestik). Pada penelitian yang dilakukan oleh Adiwijaya et al. (1984) tentang struktur keluarga dan sosialisasi anak di Kotamadya Jambi Provinsi Jambi, menunjukkan bahwa ayah mutlak memegang peranan di sektor produktif dan sosialisasi dengan lingkungan luar. Ibu lebih banyak berada di rumah dan memegang peran dalam mengasuh anak dan mengatur ekonomi keluarga, namun pada kenyataannya masih ditemukan istri yang ikut membantu mencari penghasilan untuk keluarga.

Pada situasi seperti ini, dapat disebut bahwa perempuan mengalami beban ganda. Beban ganda dapat dilihat dari adanya perbedaan alokasi waktu yang terlihat antara laki-laki dan perempuan. Anggapan bahwa perempuan lebih bersifat memelihara, rajin dan tidak akan menjadi kepala rumah tangga mengakibatkan semua pekerjaan domestik menjadi tanggung jawab perempuan. Selain harus bekerja di sektor domestik, perempuan masih harus bekerja

(29)

membantu mencari nafkah di sektor produksi (Handayani dan Sugiarti, 2002:19-20). Meskipun demikian, banyak perempuan yang tidak merasakan hal tersebut sebagai beban.

Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan kepada keluarga Orang Waropen di Irian Jaya (Sangganafa et al., 1995). Pada penelitian ini ditemukan bahwa tanggung jawab sosial dan ekonomi ditanggung oleh keluarga batih secara bersama-sama dimana ayah dan ibu sama-sama berperan dalam sektor produksi. Pada kasus semacam ini, maka relasi gender antara suami dan istri dalam keluarga dapat dikatakan seimbang.

Profil akses dan kontrol dalam berbagai sumberdaya serta pola pengambilan keputusan antara laki-laki dan perempuan juga dapat digunakan untuk melihat konsep relasi gender yang ada dalam sebuah keluarga. Berdasarkan penelitian Agustrisno et al. (1995) pada kelompok keluarga dalam kehidupan bermasyarakat suku bangsa Melayu Asahan, terlihat bahwa laki-laki mempunyai akses dan kontrol dalam sektor produksi, pengambilan keputusan, pendidikan dan pengawasan anak, nama baik rumah tangga/keluarga, masalah krisis keluarga, hubungan dengan urusan di luar rumah tangga bahkan urusan domestik seperti pendapatan dan belanja rumah tangga. Perempuan hanya memiliki akses dan kontrol dalam peranan di sektor domestik seperti mengurus makanan dan minuman keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan masih memiliki akses dan kontrol yang terbatas dalam sektor produksi.

Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok, dan masyarakat. Iwan (2005) menjelaskan berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut:

1. Peranan Ayah.

Ayah sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anak, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.

(30)

2. Peranan Ibu.

Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya. Peran Ibu dalam mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia dan pembangunan sangat penting, karena besarnya peran ibu dalam melahirkan kehidupan dan memelihara kehidupan yang dilahirkannya. Pengaruh Ibu terhadap kehidupan seorang anak telah dimulai selama dia hamil, selama masa bayi, dan berlanjut terus sampai anak itu memasuki usia sekolah.

3. Peranan Anak.

Anak-anak melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial dan spiritual.

Saat ini di masyarakat telah terjadi pergeseran nilai-nilai sosial budaya berkaitan dengan peranan ayah dan ibu berkaitan dengan fungsinya di dalam keluarga. Semakin banyak wanita yang ikut terlibat secara langsung dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga, dan lebih banyak menghabiskan waktunya diluar rumah. Hal ini akan mengakibatkan berkurangnya kualitas pola asuh terhadap sang anak. Disisi lain sosok ayah belum tentu telah siap menggantikan ataupun membantu peran ibu dalam mengasuh anak baik dari segi psikologis, fisioligis maupun sosial. Pada situasi demikian untuk memenuhi kebutuhan pengasuhan anak muncullah sosok-sosok yang lain seperti kakek, nenek, kakak, saudara, bahkan mungkin seorang pengasuh anak profesional (baby sitter) yang berfungsi sebagai alternative care bagi anak. Namun demikian sosok pengasuh ini dalam banyak hal kenyataannya tidak sebaik apabila pengasuhan dilakukan oleh orang tua kandung, walaupun keberadaannya dalam konteks saat ini sangat dibutuhkan untuk membantu dalam pengasuhan anak. Dengan kata lain sosok pengasuh anak berfungsi untuk “membantu” orang tua kandung, sedangkan “fungsi utama” pengasuhan anak bagaimanapun juga merupakan peran dan tanggung jawab orang tua kandung.

(31)

Bagi orang tua kandung (ayah dan ibu) yang mempunyai pekerjaan ataupun kegiatan rutin diluar rumah harus kompak berbagi tugas. Seorang ibu tidak perlu sungkan untuk meminta bantuan suami dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab di rumah. Adanya persamaan persepsi dan komunikasi yang baik dalam hal pembagian tugas dan tanggung jawab ini merupakan kunci, sehingga diperoleh suatu kerja sama yang baik dalam melaksanakan peran ayah dan ibu sebagai orang tua.

Adanya pembagian tanggung jawab pengasuhan anak dan mengurus rumah tangga antara istri dan suami, berdampak positif bagi anak. Dengan keterlibatan suami dalam mengurus dan mengasuh anak maka akan tercipta pula hubungan yang erat dan hangat antara ayah dan anak. Hal ini akan membawa pengaruh yang baik pula bagi proses tumbuh kembang anak. Keterlibatan ayah dan ibu yang bersama-sama dalam mengasuh anak akan membuat pertumbuhan dan perkembangannya semakin sehat. Pengasuhan juga lebih seimbang bila pekerjaan kedua orang tua berada pada tingkat yang sejajar. Oleh karena itu, pada dasarnya keberadaan ibu di dunia kerja bukan alasan rendahnya kualitas pengasuhan ibu.

2.1.5 Karakteristik Keluarga Etnis Minang, Jawa dan Batak

Abidin (2008) menyatakan bahwa orang Minangkabau merasa terikat oleh satu keturunan yang ditarik menurut garis ibu atau perempuan (matrilineal). Hubungan kekerabatan matrilinial bersifat alamiah dan lebih awal munculnya dalam masyarakat dibanding tali kekerabatan lainnya. Sejak awal, anak-anak lebih mengenal ibunya. Ibu melahirkan, mengurus, mengasuh dan ibu membesarkan anaknya. Ibu menjadi pendidik keluarga. lbu menentukan perkembangan keturunan. Melalui garis Ibu (perempuan) terjalin ikatan keluarga matrilinial. Peran ibu di Minangkabau ada dua ; pertama melanjutkan keberadaan suku dalam garis matrilineal, dan kedua menjadi ibu rumah tangga dari keluarga, suami dan anak-anaknya. Etnis Batak menganut sistem patrilineal dimana garis keturunan ditarik mengikuti garis keturunan ayah.

Menurut Geertz (1961) dalam Zeitlin, Megawangi, Kramer, Colleta, Babatunde dan Garman (1995), dalam keluarga Jawa terdapat kerjasama ekonomi

(32)

yang dilakukan antara suami dan istri. Kegiatan mencari nafkah tidak hanya dilakukan oleh suami sendiri, tetapi istri juga ikut berperan dalam kegiatan mencari nafkah keluarga seperti membantu suami dengan bekerja sampingan. Pembagian kerja antara suami dan istri tidak begitu tegas terlihat. Suami boleh membantu pekerjaan rumah tangga khususnya jika dalam keluarga tersebut memiliki banyak anak kecil dan tidak ada pembantu yang dapat meringankan pekerjaan rumah tangga.

Geertz (1961) seperti yang dikutip oleh Zeitlin, Megawangi, Kramer, Colleta, Babatunde dan Garman (1995) menyatakan bahwa suami dan istri dalam pengambilan keputusan keluarga memiliki kedudukan yang setara. Hal tersebut terjadi karena istri juga ikut memberikan kontribusi ekonomi kepada keluarga sehingga istri juga memiliki kebebasan dan kekuasaan yang sama seperti yang dimiliki suami dalam pengambilan keputusan keluarga. Pendapatan yang diperoleh suami dan istri selama masa perkawinan berlangsung, termasuk harta milik perseorangan (milik suami atau istri sendiri sebelum perkawinan) merupakan milik bersama dan digunakan untuk kesejahteraan keluarga. Penggunaan dan pemanfaatan kekayaan keluarga diputuskan bersama oleh suami dan istri. Keputusan yang hanya dilakukan oleh suami atau istri sendiri akan mengakibatkan terjadinya konflik dalam keluarga tersebut.

Hermawati (2007) menyatakan bahwa pada keluarga, terdapat dinamika pembagian kerja antara individu-individu di dalamnya untuk mempertahankan kelangsungan hidup keluarga. Pembagian kerja di dalam keluarga akan membawa konsekuensi berupa adanya pengalokasian anggota keluarga (suami, istri, anak-anak, keluarga luas) untuk melakukan kegiatan produksi, reproduktif dan sosial. Keluarga dan masyarakat Jawa mempunyai pandangan dan harapan yang berbeda pada anak laki-laki dan perempuan. Pandangan ini mempengaruhi cara perlakuan masyarakat dan pengasuhan orangtua, yang telah mereka tanamkan sejak mereka bayi. Pembagian peran dalam masyarakat yang berhubungan dengan hal-hal ‘apa yang boleh dilakukan’ dan ‘siapa yang boleh melakukan’ mempengaruhi pemahaman mengenai partisipasi masing-masing jenis kelamin dalam kehidupan bermasyarakat. Bahkan hal ini menjadi sangat kuat di bidang pendidikan, biasanya anak laki-laki mendapat prioritas pendidikan yang lebih tinggi, dengan

(33)

anggapan anak laki-laki kelak akan mendapat pekerjaan, peran dan kedudukan yang tinggi, sementara anak perempuan kelak akan mengasuh anak dan mengurus rumah tangga (Goode, 1997). Hal yang senada dikatakan juga oleh De Jong (1976) yang menuturkan bahwa seperti layaknya dalam keluarga Jawa, lingkungan keluarga dan masyarakat juga lebih memprioritaskan kesempatan dan fasilitas bagi anak laki-laki untuk mengembangkan kemampuannya daripada anak perempuannya.

Zeitlin, Megawangi, Kramer, Colleta, Babatunde dan Garman (1995) menyatakan bahwa dalam budaya Jawa, peran suami dan istri mempunyai batasan yang jelas. Peran suami tidak lepas dari perannya sebagai laki-laki. Peran produksi merupakan peran yang berhubungan dengan kegiatan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup, merupakan peran untuk mencari nafkah bagi keluarganya di luar rumah. Peran sosial adalah peran yang dibawa dan dimainkan oleh seseorang dalam masyarakat, peran tersebut berkaitan dengan hidup sosial pada umumnya, seperti peran-peran dalam hukum, pemerintahan, agama, kepemimpinan lain dalam masyarakat. Sedang peran reproduktif adalah peran yang dimainkan oleh kaum perempuan. Peran ini berhubungan dengan kegiatan untuk mempertahankan dan melangsungkan kehidupan, tetapi tidak berhubungan dengan menghasilkan uang, misalnya melahirkan dan mengurus anak, memasak, dan mengurus anggota keluarga, membersihkan rumah dan lain-lain. Dengan adanya perbedaan peran tersebut, kaum istri atau perempuan menjadi lemah, bodoh, dan miskin. Kaum perempuan tidak mempunyai kekuasaan untuk ikut mengambil keputusan, karena posisinya secara sosial yang tidak menguntungkan tersebut, sehingga tidak jarang hal ini membuat mereka dalam posisi yang rapuh (Goode, 1997).

2.2 Kerangka Pemikiran

Pengasuhan anak dalam keluarga mutlak dibutuhkan untuk menghasilkan anak yang berkualitas. Proses membentuk dan menciptakan anak yang berkualitas, berkompeten dan dapat mandiri, membutuhkan lingkungan keluarga yang baik dan lingkungan di sekitar kehidupan anak yang kondusif (Hastuti, p.29). Peran ayah dan ibu sama-sama dibutuhkan untuk mewujudkan hal tersebut.

(34)

Pengasuhan anak dipengaruhi oleh karakteristik keluarga dimana anak tersebut tumbuh dan berkembang. Pada hakekatnya, sejak manusia dilahirkan ke dunia ia mulai dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang homogen tentu memungkinkan terjadinya sosialisasi yang serasi menurut pola yang sama. Keluarga migran yang tinggal di lingkungan pemukiman kumuh tidak mungkin dapat mengembangkan pola sosialisasi anak seperti pada keluarga yang tinggal di lingkungan yang bersifat homogen sebab akan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tempat tinggalnya tersebut.

Karakteristik sebuah keluarga mempengaruhi pola asuh anak yang diterapkan dalam keluarga tersebut. Latar belakang pendidikan dan usia orangtua dapat mempengaruhi pola pikir orangtua akan pentingnya menerapkan pola asuh yang tepat bagi anaknya. Tingkat pendidikan orangtua, formal maupun non formal, kemudian juga berpengaruh pada aspirasi atau harapan orangtua kepada anaknya. Semakin tinggi tingkat pendidikan orangtua, maka diasumsikan bahwa anak juga akan memperoleh pendidikan yang setara dengan orangtua atau jika memungkinkan lebih tinggi dari pendidikan orangtua.

Latar belakang budaya orangtua mempengaruhi nilai-nilai apa yang akan diwariskan pada anak dalam keluarga tersebut melalui pola asuh yang diterapkan. Jumlah pendapatan dan besarnya keluarga mempengaruhi dalam kaitannya dengan peran anak yang dikehendaki orangtua. Jika pendapatan orangtua dirasa kurang dapat memenuhi kebutuhan keluarga, maka terdapat kemungkinan anak juga ikut dilibatkan untuk memberi kontribusi pada pendapatan keluarga. Hal ini kemudian berkaitan dengan nilai anak dalam keluarga tersebut. Jumlah anak yang dimiliki keluarga akan mempengaruhi pola asuh yang diterapkan orangtua. Semakin banyak jumlah anak dalam sebuah keluarga maka ada kecenderungan bahwa orangtua tidak begitu menerapkan pola pengasuhan secara maksimal pada anak. Orangtua tidak begitu memperhatikan aspek-aspek pengasuhan karena perhatian dan waktunya terbagi antara anak yang satu dengan anak yang lainnya. Usia anak juga mepengaruhi bentuk pengasuhan yang akan mereka terima dari orangtua.

Faktor lain yang mempengaruhi adalah faktor yang berasal dari kondisi lingkungan di mana keluarga tersebut bermukim. Lingkungan fisik mempengaruhi

(35)

pertumbuhan dan perkembangan anak karena anak pasti akan melakukan interaksi dengan lingkungan fisik yang ada di sekitarnya. Dalam konteks lingkungan pemukiman kumuh, lingkungan fisik jelas tidak mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak secara positif. Lingkungan sosial berkaitan dengan pola hubungan sosial atau pergaulan yang dibentuk oleh orangtua maupun anak dengan lingkungan sekitarnya. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal bagi anak juga turut mempengaruhi, namun anak dari keluarga yang tinggal di pemukiman kumuh cenderung tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau bahkan tidak mengecap bangku pendidikan sama sekali karena terkendala oleh status ekonomi. Nilai-nilai religi juga menjadi salah satu hal yang penting yang ditanamkan orangtua pada anak dalam pengasuhan yang mereka lakukan sehingga lembaga keagamaan juga turut berperan di dalamnya. Lingkungan kekerabatan atau peran keluarga besar dan media massa memberikan pengaruh dalam hal penerapan pola asuh pada anak.

Kedudukan dan peranan laki-laki dan perempuan memang sejak dulu sudah ditetapkan, bahwa laki-laki mengurusi sektor produksi dan bertugas mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga sedangkan perempuan bertugas mengurus keluarga. Pengasuhan anak selama ini diketahui merupakan tugas seorang ibu semata dan banyak penelitian pun menunjukkan bahwa peran ayah di dalamnya masih sangat terbatas. Padahal dalam pengasuhan anak, tidak hanya peran ibu yang dituntut di dalamnya. Ayah juga turut memegang andil dalam mengasuh anak. Pembagian kerja dan curahan waktu antara ayah dan ibu secara tidak langsung ikut mempengaruhi bentuk pengasuhan yang diterima anak. Pada keluarga migran suami dan istri cenderung sama-sama mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Hal ini menyebabkan pembagian kerja tidak lagi berdasarkan stereotype bahwa laki-laki hanya mengurusi sektor produksi dan perempuan hanya mengurusi sektor reproduksi saja. Pada kasus suami dan istri sama-sama bekerja, maka pengasuhan anak dalam keluarga tersebut dapat dikatakan tidak maksimal. Orangtua hanya akan memiliki sedikit waktu untuk memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak. Anak bisa juga dititipkan pada anggota keluarga lain yang ada di rumah seperti kakak, paman/bibi, kakek/nenek atau bahkan mungkin dengan orang lain yang tidak

(36)

Karakteristik keluarga (X1) :

X11 : latar belakang pendidikan orangtua

(formal-non formal)

X12 : latar belakang budaya/etnis orangtua

(patrilineal, matrilineal, bilateral) X13 : jenis pekerjaan orangtua (pertanian-non

pertanian) X15 : pendapatan keluarga X16 : besarnya keluarga X17 : jumlah anak X18 : usia orangtua Kondisi Lingkungan (X2): X21 : lingkungan fisik X22 : lingkungan sosial X23 : peran sekolah X24 : peran lembaga keagamaan

X25 : peran keluarga besar

atau sistem kekerabatan

Relasi gender dalam keluarga (X3):

X31 : profil aktivitas, akses

dan kontrol (sektor produksi, reproduksi dan sosial) X32 : pengambilan keputusan X33 : pola komunikasi POLA ASUH ANAK (Y) : Y1 : fungsi prokreasi Y2 : penanaman nilai

Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG)

memiliki hubungan darah sama sekali. Bahkan tidak jarang anak juga ikut dilibatkan dalam pekerjaan orangtua.

Penelitian ini mengidentifikasi karakteristik keluarga migran yang mencakup latar belakang pendidikan orangtua (formal maupun non formal), latar belakang budaya/etnis orangtua (patrilineal, matrilineal, bilateral), jenis pekerjaan orangtua, pendapatan keluarga, besarnya keluarga, jumlah anak, usia anak dan usia orangtua. Penelitian ini juga melihat hubungan antara kondisi lingkungan yang mencakup lingkungan fisik, lingkungan sosial, peran sekolah, peran lembaga keagamaan, peran keluarga besar atau sistem kekerabatan dan peran media massa terhadap pola pengasuhan anak dalam keluarga migran etnis Minang, Jawa dan Batak. Profil aktivitas, profil akses dan kontrol, pola pengambilan keputusan dan pola komunikasi antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga migran etnis Jawa, Minang dan Batak yang tinggal di kawasan bantaran sungai juga dikaji hubungannya dengan pola asuh anak yang diterapkan yang kemudian akan berujung pada kualitas anak yang terbentuk.

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Keterangan :  hubungan mempengaruhi

(37)

2.3 Definisi Operasional

1. Keluarga migran didefinisikan sebagai kelompok sosial terkecil yang diikat oleh tali perkawinan dan diakui sah oleh masyarakat yang umumnya terdiri dari suami, istri dan anak-anaknya yang belum kawin dimana kepala keluarga atau seluruh anggota keluarga tersebut berasal dari luar daerah. Pada penelitian ini, yang digolongkan keluarga migran adalah keluarga yang kepala keluarganya bukan penduduk asli Kota Dumai. 2. Latar belakang pendidikan orangtua didefinisikan sebagai tingkatan

pendidikan terakhir (baik formal maupun non formal) yang pernah dijalani orangtua dan dinyatakan dalam ukuran tahun. Pendidikan formal diukur menggunakan skala rasio dan dinyatakan dalam ukuran tahun lulus, dikategorikan menjadi : 1) SD/sederajat-tidak tamat. 2) SD/sederajat-tamat. 3) SMP/sederajat-tidak tamat. 4) SMP/sederajat-tamat. 5) SMA/sederajat-tidak tamat. 6) SMA/sederajat-tamat.

Pendidikan non formal diukur dengan skala rasio untuk mengetahui frekuensi keikutsertaan responden dalam kursus atau pelatihan dalam 1 tahun terakhir.

3. Latar belakang budaya orangtua didefinisikan sebagai nilai-nilai budaya yang diyakini orangtua dan diwariskan kepada keturunannya melalui pengasuhan. Pada penelitian ini, responden yang dipilih adalah keluarga migran dengan Kepala Keluarga (KK) beretnis Minang (matrilineal), Jawa (bilateral) dan Batak (patrilineal).

4. Jenis pekerjaan orangtua didefinisikan sebagai segala bentuk aktivitas yang dilakukan orangtua yang dapat menghasilkan uang dan dinyatakan dalam rupiah. Variabel ini diukur menggunakan skala nominal yang dibedakan menjadi :

(38)

1) Pekerjaan di sektor pertanian mencakup pekerjaan di sektor pertanian itu sendiri, sektor perikanan, peternakan, kehutanan, perkebunan.

2) Pekerjaan di sektor non pertanian mencakup pedagang, buruh pabrik, buruh serabutan, tukang becak, tukang ojek, pembantu rumah tangga dan sejenisnya.

5. Pendapatan keluarga didefinisikan sebagai seluruh jumlah pendapatan yang berasal dari hasil pekerjaan utama maupun sampingan dari aktivitas ekonomi yang dilakukan suami dan istri dalam keluarga. Variabel ini akan didekati melalui data pengeluaran keluarga baik pengeluaran pangan maupun non pangan dan diukur dengan skala rasio.

6. Besarnya keluarga didefinisikan sebagai jumlah seluruh orang yang tinggal bersama dalam satu rumah baik keluarga inti maupun keluarga luas. Variabel ini dinyatakan dalam jumlah orang dan diukur menggunakan skala rasio.

7. Jumlah anak didefinisikan sebagai banyaknya anak yang tinggal dan masih berada di bawah pengasuhan orangtua. Dikategorikan menjadi anak kandung, anak tiri dan anak angkat. Mengacu pada Undang-Undang No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, anak didefinisikan sebagai

seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Pada penelitian ini, yang dikategorikan anak adalah yang masih tinggal bersama dengan orangtua dan masih berada di bawah tanggungan orangtua.

8. Usia orangtua didefinisikan sebagai lamanya hidup yang telah dijalani orangtua, dinyatakan dalam tahun.

9. Lingkungan fisik didefinisikan sebagai segala bentuk sarana dan prasarana fisik yang ada di sekitar keluarga dan dapat dimanfaatkan oleh anggota keluarga dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pertanyaan-pertanyaan dalam variabel ini mencakup ada/tidak adanya sarana dan prasarana fisik di lingkungan tempat tinggal mereka dan manfaat yang dirasakan dari keberadaan sarana prasarana tersebut. Selain itu, dilihat juga kondisi

(39)

rumah dan lingkungan sekitar rumah seperti ketersediaan sarana MCK, pembuangan sampah dan sumber air minum keluarga.

11.Lingkungan sosial didefinisikan sebagai lingkungan pergaulan yang dijalani oleh anggota keluarga tersebut dan memberi pengaruh pada pola hubungan antar anggota keluarga. Skala ordinal digunakan untuk mengukur apakah responden sering melakukan interaksi dengan lingkungan sekitarnya, keikutsertaan dalam organisasi/perkumpulan, pengaruh keikutsertaan dalam organisasi/perkumpulan topik interaksi, frekuensi interaksi responden dalam seminggu serta kualitas lingkungan sosial dalam kehidupan responden.

12.Peran sekolah didefinisikan sebagai peran yang ditunjukkan lembaga pendidikan formal bagi perkembangan kognitif anak. Pertanyaan-pertanyaan dalam variabel ini diukur menggunakan skala nominal untuk menunjukkan apakah sekolah berpengaruh terhadap pengasuhan anak. 13.Peran lembaga agama didefinisikan sebagai peran yang ditunjukkan

institusi keagamaan dalam mempengaruhi pola asuh anak. Pertanyaan-pertanyaan dalm variabel ini diukur menggunakan skala nominal untuk menunjukkan apakah lembaga agama berpengaruh terhadap pengasuhan anak.

14.Peran keluarga besar didefinisikan sebagai sejauh mana anggota keluarga besar memberi pengaruh dalam pola asuh yang diterapkan orangtua pada anak. Pertanyaan-pertanyaan dalam variabel ini diukur menggunakan skala ordinal untuk menunjukkan apakah keluarga besar memberi pengaruh dalam pengasuhan anak dalam keluarga responden.

15.Media massa didefinisikan sebagai segala bentuk media elektronik maupun non elektronik yang dapat memberikan pengetahuan dan informasi kepada anggota keluarga dan memberikan pengaruh pada penerapan pola asuh anak. Variabel ini dinyatakan dalam kategori jenis media massa yang dimiliki keluarga yaitu berupa media audio visual, audio dan cetak (skala ordinal), intensitas penggunaannya (skala rasio) dan pemanfaatan media massa tersebut dalam kehidupan keluarga (skala ordinal) dengan ukuran pemanfaatan untuk hiburan semata (skor 1), untuk

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :