1
Jurnal Studia
Akuntansi dan Bisnis
ISSN: 2337-6112
Vol.5 No.1
ANALISIS KINERJA PEMERINTAH DAERAH DALAM PENGELOLAAN
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DI KABUPATEN LEBAK
Rudiyanto* Delly Fauziah**
* STIE La Tansa Mashiro, Rangkasbitung
** STIE La Tansa Mashiro, Rangkasbitung
Article Info
Abstract
Keywords:
Performance, Regional
Budget, Financial Ratio
Corresponding Author:
This study aims to determine the Performance of Local
Governments in Managing Revenue and Expenditure Budget in
Lebak Regency in 2011-2016 as seen from: Regional Financial
Independence Ratios, Local Revenue Growth Analysis, Local
Revenue Efficiency and Efficiency Ratio, Analysis of Regional
Expenditure Growth and Efficiency Ratio Regional Expenditures.
This study uses quantitative descriptive analysis research.
This research was conducted at the Lebak Regency Regional
Revenue Agency (BAPENDA). Research data collection
techniques using the method of documentation and literature
study. The data analysis technique used is the formula: Regional
Financial Independence Ratio, Regional Revenue Growth
Analysis, Effectiveness and Efficiency of Regional Original
Revenues, Analysis of Regional Expenditure Growth and Regional
Expenditure Efficiency Ratio.
The results of the analysis show that the Performance of the
Lebak District Government is seen from: (1) the Independence
Ratio is classified as very low and included in the Instructive
category with an average ratio of 16.56%. (2) Regional Revenue
Growth Analysis shows a positive number even though it tends to
fluctuate with an average income growth of 16.22%. (3)
Effectiveness and Efficiency Ratios seen from the effectiveness
ratio with an average of 102.26%, the financial effectiveness of
Lebak Regency can be said to be very effective, and the efficiency
ratio of the financial efficiency level of Lebak Regency is
classified as efficient with an average of 93.86 %. (4) Shopping
Growth Analysis shows positive growth with an average of
12.37%. (5) Regional Expenditure Efficiency Ratio can be said to
be efficient with an average of 92.79%.
Penelitian
ini
bertujuan
untuk
mengetahui
Kinerja
Pemerintah Daerah dalam Mengelola Anggaran Pendapatan dan
Belanja di Kabupaten Lebak Tahun 2011-2016 yang dilihat dari :
Rasio Kemandirian Keuangan Daerah, Analisis Pertumbuhan
Pendapatan Daerah, Rasio Efektivitas dan Efisiensi Pendapatan
Asli Daerah, Analisis Pertumbuhan Belanja Daerah dan Rasio
Efisiensi Belanja Daerah.
Penelitian ini menggunakan penelitian analisis deskriptif
kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di Badan Pendapatan Daerah
(BAPENDA) Kabupaten Lebak. Teknik Pengumpulan data
penelitian menggunakan metode dokumentasi dan Studi
Kepustakaan.
©2017 JSAB. All rights reserved.
Teknik analisis data yang digunakan dengan rumus: Rasio
kemandirian
Keuangan
Daerah,
Analisis
Pertumbuhan
Pendapatan Daerah, Rasio Efektivitas dan Efisiensi Pendapatan
Asli Daerah, Analisis Pertumbuhan Belanja Daerah dan Rasio
Efisiensi Belanja Daerah.
Hasil analisis menunjukkan bahwa Kinerja Pemerintah Daerah
Kabupaten Lebak dilihat dari : (1) Rasio Kemandiriannya
tergolong masih rendah sekali dan termasuk kedalam kategori
Instruktif dengan rata-rata rasionya sebesar 16,56%. (2) Analisis
Pertumbuhan Pendapatan Daerah menunjukkan angka yang
poditif
meskipun
cenderung
fluktuatif
dengan
rata-rata
pertumbuhan pendapatannya sebesar 16,22%. (3) Rasio
Efektivitas dan Efisiensi dilihat dari rasio efektivitas dengan
rata-rata 102,26% maka efektivitas keuangan daerah Kabupaten Lebak
dapat dikatakan sangat efektif, dan pada rasio efisiensi tingkat
efisiensi keuangan daerah Kabupaten Lebak tergolong efisien
dengan rata-rata sebesar 93,86%. (4) Analisis Pertumbuhan
Belanja menunjukkan pertumbuhan yang positif dengan rata-rata
sebesar 12,37%. (5) Rasio Efisiensi Belanja Daerah dapat
dikatakan efisien dengan rata-rata sebesar 92,79%.
Pendahuluan
Pemerintah merupakan suatu organisasi yang memiliki kekuasaan untuk membuat dan menerapkan hukum serta undang-undang diwilayah tertentu, pemerintah terdiri atas pemerintah pusat dan pemrintah daerah. Sejak diberlakukannya otonomi daerah pemerintah daerah memiliki wewenang untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya dalam hal mengatur dan mengurus masyarakatnya yang bertanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya alam yang dimilikinya sesuai dengan potensi daerah itu sendiri sehingga meningkatkan kinerja keuangannya dalam rangka mewujudkan kemandirian daerah.
Pengelolaan keuangan daerah merupakan salah satu unsur utama dalam pelaksanaan otonomi daerah, dalam hal ini Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan instrument kebijakan utama yang harus disusun oleh pemerintah daerah. Pengelolaan keuangan daerah dipandang sangat penting dalam penyelenggaraan pemerintah daerah.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah merupakan suatu rencana operasional pemerintah daerah yang menggambarkan mengenai perkiraan pengeluaran pemerintah daerah dalam membiayai Dengan diberlakukannya otonomi daerah seharusnya pemerintah lebih dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki daerahnya, sehingga berbagai permasalahan tersebut kegiatan pelaksanaan tugas pembangunan daerah. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) menjadi pedoman bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan, dan sebagai standar dalam penilaian penyelenggaraan pemerintah daerah.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah harus dikelola dengan baik, pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja yang baik yaitu harus memperhatikan kepentingan publik maka realisasi pengalokasian dana terhadap kegaitan yang dibiayai akan memberikan manfaat sehingga
mampu memenuhi kebutuhan publik, maka Anggaran daerah harus diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja, mengurangi pemborosan sumber daya alam sehingga meningkatkan efesiensi dan efektivitas perekonomian. Kinerja pemerintah juga penting untuk dilihat dan diukur. Pengukuran kinerja sangat diperlukan untuk menilai keberhasilan pemerintah dalam melaksanakan kegiatan yang telah ditargetkan apakah telah mencapai keberhasilan dalam pelaksaaannya. Maka dari itu diperlukannya analisis terhadap kinerja pemerintah daerah dalam mengelola keuangan. sedikit demi sedikit dapat teratasi. Pengelolaan anggaran berdasarkan kinerja ini memberikan gambaran yang lebih khusus terkait dengan kemampuan suatu daerah untuk selalu menggali potensi daerah guna meningkatkan anggaran pendapatan, hal ini tentunya akan berdampak pada kemampuan penyelenggaraan
Kajian Pustaka
Pengelolaan Keuangan Daerah
Menurut Wahidah Niken Kusumadewi dan Vantje Ilat (2016:636) Ketentuan umum perturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 tahun 2005 yang menyatakan bahwa, “pengelolaan keuangan adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan dan pertanggungjawaban, pengawasan daerah”. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Menurut Grace Yunita Liando dan Anggriani Elim (2016:1475) dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah mendefinisikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sebagai berikut, “APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah
Pembiayaan Daerah
Brian Sagay (2013:1167) menurut undang-undang no. 32 tahun 2004, menyatakan bahwa : “Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang dijadikan tambahan pengetahuan dan sebagai bahan acuan untuk peneltian selanjutnya dalam bidang yang sama. daerah dan DPRD, dan ditetapkan dengan peraturan daerah.”
Pendapatan Daerah
Menurut Brian Sagay (2013:1167) dalam peratutan pemerintah No. 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, menyatakan bahwa “Pendapatan adalah semua penerimaan rekening kas umum Negara/daerah yang menmbah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali.”
Belanja Daerah
Dedi Nordiawan, Iswahyudi Sondi Putra dan Maulidah Rahmawati (2007:40) mengutarakan bahwa :Belanja daerah merupakan semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak akan diperoleh
pembayaran kembali. akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya”.
Kinerja
Brian Sagay (2013:1167) pengertian kinerja menurut Mahsun dkk (2011 : 141) menjelaskan bahwa “Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi”. Sedangkan menurut Mahmudi (2010:12) “kinerja merupakan alat untuk menilai kesuksesan organisasi”. Dalam konteks organisasi sektor publik, kesuksesan organisasi itu akan digunakan untuk mendapatkan legitimasi dan dukungan publik.
Analisis Kinerja Pendapatan
Menurut Brian Sagay (2013:1167), “analisis kinerja pendapatan dapat dilihat secara umum dari realisasi pendapatan dan anggarannya”. Apabila realisasi anggaran maka kinerjanya dapat dinilai dengan baik.
Metodologi Penelitian
Metode penelitian yang penulis terapkan yaitu metode analisis deskriptif. Metode analisis deskripif adalah analisis yang banyak digunakan untuk mengkaji satu variabel atau variabel mandiri. Moetode analisis deskriptif ini membahas yang sifatnya menguraikan hasil perhitungan dari Laporan Realisasi APBD. penguraian tersebut dimulai dari melakukan analisis kinerja pendapatan seperti : analisis kemandirian keuangan daerah, rasio pertumbuhan pendapatan, analisis efektif dan efisiensi pendapatan daerah. Analisis belanja seperti : analisis pertumbuhan belanja daerah dan analisis efisiensi belanja. Sehingga dapat ditarik kesimpulan yang dapat menjawab permasalahan dari peneltian ini.
Populasi dan sampel
Penelitian ini dilakukan dengan pencarian data sekunder yaitu dengan mengumpulkan data dengan cara mempelajari catatan – catatan dan dokumen-dokumen yang ada pada perusahaan yang diteliti. Sumber data yang digunakan dalam peneltian ini adalah laporan realisasi anggaran pemerintah kabupaten lebak tahun 2011 – 2016.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu : Dokumentasi
Yaitu dengan melakukan pengumpulan data dan arsip yang relevan tentanng objek yang diteliti berupa laoran realisasi APBD
Studi Kepustakaan
Yaitu melakukan pengumpulan data melalui kepustakaan dengan mengumpulkan data yang berkaitan dengan penelitian yang dikumpulkan serta memberi keterangan atas penelitian yang dilakukan dengan cara mempelajari teori dan informasi yang ada untuk tujuan mengumpulkan landasan teori yang berhubungan dengan permasalahan penelitian yang akan dipergunakan sebagai pembahasan masalah.
Teknik Analisa Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yaitu melakukan perhitungan-perhitungan terhadap data keuangan yang diperoleh untuk memecahkan masalah yang ada sesuai dengan tujuan penelitian.
Hasil Penelitian dan Pembahasan Rasio Kemandirian Keuanagan Daerah
Berdasarkan perhitungan rasio kemandirian keuangan daerah kabupaten lebak diketahui jika realisasi PAD kabupaten Lebak dari tahun 2011 sampai dengan 2016 terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2011 jumlah PAD kabupaten Lebak sebesar 93.065.058.829 mengalami kenaikan sebesar 36,78% pada tahun 2012, pada tahun 2013 mengalami kenaikan lagi sebesar 6,98% mengalami kenaikan sebesar 79,50% pada thaun 2014 naik kembali sebesar 23,36% pada tahun 2015 dan pada tahun 2016 naik sebesar 0,98%.
Berdasarkan dari rasio kemandirian keuangan daerah kabupaten lebak menunjukkan bahwa pendapatan transfer atau bantuan dari pemerintah provinsi maupun pusat terus mengalami peningkatan dari tahun 2011-2016. Pada tahun 2011 pendapatan transfer sebesar 859.990.344.602, mengalami kenaikan pada tahun 2012 sebesar 9,29%, pada tahun 2013 naik kembali sebesar 16,24% pada tahun 2014 mengalami kenaikan sebesar 6,90% pada tahun 2015 mengalami kenaikan kembali sebesar 13,13% dan pada tahun 2016 juga mengalami kenaikan sebesar 22,61%. ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan dari pos-pos dana perimbangan pemerintah pusat.
Berdasarkan hasil perhitungan pada rasio kemandirian keuangan Daerah kemampuan keuangan kabupaten Lebak masih tergpolong rendah sekali dan pola hubungannya termasuk kedalam kategori instruktif dimana berarti peran pemerintah pusat masih sangat dominan dari pada kemandirian pemerintah daerah. Dalam tahun 2011-2016 terjadi kenaikan dan juga penurunan rasio kemandirian keuangan daerah kabupaten lebak berawal dari tahun 2011 yaitu sebesar 10,82% kemudian pada tahun 2012 sebesar 13,54% mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya. Rasio keandirian pada tahun 2013 sebesar 12,47% mengalami kenaikan pada tahun 2014 menjadi 20,93%. Pada tahun 2015 naik kembali menjadi 22,82% dan mengalami penurunan pada tahun 2016 menjadi 18,80%. Dari data teersebut menunjukkan bahwa pemerintah daerah masih belum mampu mengembangkan PAD untuk membiayai sendiri kegiatan pemerintahannya.
Dari uraiain diatas dapat disimpulkan bahwa rasio kemandirian keuangan daerah kabupaten lebak selama enam tahun yaitu pada tahun 2011-2016 memiliki rata-rata kemandiriannya masih tergolong sangat rendah yaitu sebesar 16,56% itu berarati masih masuk kedalam interval 0-25% dengan pola hubungan instruktif yang berarti tingkat ketergantungan daerah masih sangat tinggi terhadap sumber dana ekstern sehingga daerah belum mampu mengoptimalkan PAD untuk mambiayai pembangunan daerahnya. Hal ini dikarenakan tingkat pasrtisipasi masyarakat dalam membayar pajak daerah cenderung masih sedikit yang mengakibatkan pemerintah daerah membutuhkan pendapatan transfer untuk membiayai pelaksanaan kegiatan pemerintahan dan juga pembangunannya maka dari itu untuk meningkatkan kemandirian daerah pemerintah harus mampu mengoptimalkan penerimaan dari potensi pendapatannya yang telah ada.
Analisis Pertumbuhan Pendapatan
Berdasarkan analisis pertumbuhan pendapatan realisasi PAD Kabupaten Lebak dari tahun 2011-2016 mengalami kenaikan setiap tahunnya yaitu Pada tahun 2011 jumlah PAD kabupaten Lebak sebesar 93.065.058.829 mengalami kenaikan sebesar 36,78% pada tahun 2012, pada tahun 2013 mengalami kenaikan lagi sebesar 6,98% mengalami kenaikan sebesar 79,50% pada thaun 2014 naik kembali sebesar 23,36% pada tahun 2015 dan pada tahun 2016 naik sebesar 0,98%.
Berdasarkan perhitungan analisis petumbuhan pendapatan daerah kabuparten Lebak selalu mengalami kenaikan tiap tahunnya dan mengalami pertumbuhan pendapatan yang positif. Pertumbuhan pendapatan pada tahun 2012 sebesar 9,03%, tahun 2013 sebsar 14,19% tahun 2014 sebesar 21,74% tahun 2015 24,57% dan tahun 2016 sebesar 11,57%. Dalam hal ini pemerintah daerah dapat dikatakan berhasil dalam meningkatkan pendapatan daerahnya meskipun sebagian besar pendapatan tersebut masih bersumber dari pemerintah pusat.
Pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2015 yaitu sebesar 24,57% dan tahun 2012 merupakan pertumbuhan yang terendah dibandingkan tahun yang lainnya yaitu sebsar 9,03% hal ini dikarenakan penerimaan PAD yang masih kecil dibandingkan bantuan dari pusat sehingga pertumbuhan pendapatan menjadi menurun. Maka dari itu agar kedepannya kinerja pemerintah daerah dapat meningkat lagi maka seharusnya pemerintah Kabupaten Lebak selalu mengoptimalkan pendapatan daerahnya dari sektor PAD agar tidak terlalu bergantung dari bantuan pemerintah pusat agar lebih bisa mandiri dalam mengelola daerahnya dengan PAD yang tinggi.
Rasio Efektivitas dan Efisiensi Pendapatan Asli daerah a. Rasio efektivitas Pendapatan Asli Daerah
Berdasarkan pada perhitungan rasio efektivitas PAD menunjukkan Realissasi PAD kabupaten Lebak dari tahun 2011 sampai dengan 2016 selalu mengalami kenaikan. Pada tahun 2011 realisasi PAD Kabupaten Lebak sebesar 93.065.058.829 mengalami kenaikan sebesar 36,78% pada tahun 2012, pada tahun 2013 mengalami kenaikan lagi sebesar 6,98% mengalami kenaikan
sebesar 79,50% pada thaun 2014 naik kembali sebesar 23,36% pada tahun 2015 dan pada tahun 2016 naik sebesar 0,98%.
Berdasarkan pada perhitungan rasio efektivitas PAD menunjukkan anggaran PAD selalu mengalami kenaikan. Pada tahun 2011 PAD dianggarkan sebesar 89.906.414.000 mengalami kenaikan pada tahun 2012 sebesar 39,48% pada tahun 2013 kembali mengalami kenaikan sebesar 17,38% pada tahun 2014 mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya sebesar 55,70% tahun 2015 juga mengalami kenaikan sebesar 15,11 dan pada tahun 2016 juga kembali mengalami kenaikan sebesar 21,35%.
Berdasarkan perhitungan rasio efektivitas PAD kabupaten lebak pada tahun 2011 sebesar 103,51% , tahun 2012 sebesar 101,51%, tahun 2013 sebesar 92,51%, tahun 2014 sebesar 106,65% tahun 2015 sebesar 114,29% dan tahun 2016 sebesar 95,10%. Pada tahun 2013 dan 2016 berada dalam kategori efektif sedangkan pada tahun 2011,2012,2014 dan 2015 berada dalam kategori sangat efektif. Rata- rata rasio efektivitas dari tahun 2011 samapai dengan 2016 sebesar 102,26% ini berarti rasio efektivitas PAD kabupaten Lebak sudah berada dalam kategori sangat efektif karena nilai yang diperoleh sudah lebih dari 100% yang berarti kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan Pendapatan Asli Daerah sudah baik karena penerimaan dari sektor pajak dan retribusi daerah melebihi dari yang dianggarkan sebelumnya, sehingga dapat dikatakan pemerintah kabupaten lebak memiliki kinerja yang baik dalam hal merealisasikan PAD sesuai dengan yang telah direncanakan.
b. Rasio Efisiensi Pendapatan Asli Daerah
Berdasarkan pada perhitungan rasio efisiensi 2011-2016 realisasi total belanja daerah kabupaten lebak selalu mengalami kenaikan tiap tahunnya. Pada tahun 2011 total belanja daerah kabupaten lebak yaitu sebesar 1.172.211.338.158 naik sebesar 8,73% pada tahun 2012. Kemudian pada tahun 2013 mengalami kenaikan sebesar 17,32% naik kembali pada tahun 2014 sebesar 13,53% kemudian tahun berikutnya total belanja daerah kabupaten lebak mengalami kenaikan lagi sebesar 13,02% pada tahun 2015 dan naik kembali pada tahun 2016 sebesar 9,22%.
Berdasarkan perhitungan pada rasio efisiensi kabupaten lebak tahun 2011 sampai dengan 2016 realisasi total pendapatan selalu mengalami kenaikan.pada tahun 2011 pendapatan daerah kabupaten lebak sebesar 1.185.100.258.482 naik sebesar 9,03% pada tahun 2012. Kemudian mengalami kenaikan kembali sebesar 14,19% pada tahun 2013 pada tahun 2014 mengalami kenaikan lagi sebesar 21,74% naik kembali sebesar 24,57% pada tahun 2015 dan kembali mengalami kenaikan pada tahun 2016 sebesar 11,57%.
Berdasarkan perhitungan rasio efisiensi kabupaten lebak diketahui bahwa efisiensi PAD pada tahun 2011 efisiensi keuangan pemerintah daerah kabupaten lebak sebesar 98,91, tahun 2012 sebesar 98,45% tahun 2013 sebesar 101,35% , tahun 2014 sebesar 94,32%, tahun 2015 sebesar 85,75% dan tahun 2016 sebsar 83,95%. Rasio efisiensi dari tahun 2011 sampai dengan 2016 secara keseluruhan dapat dikatakan efisien kecuali pada tahun 2013 berada dalam kategori tidak efisien
karena nilainya lebih dari 100%. Hal ini disebabkan total belanja daerahnya masih lebih besar dari pada pendapatan daerahnya. Meskipun rata-rata rasio efisiensi Keuangan daerah kabupaten lebak tergolong efisien karena rata-rata rasionya 93,86% namun pemerintah daerah diharapkan kedepannya dapat lebih meminimalisir jumlah belanjanya disesuaikan dengan pendapatannya sehingga kedepannya dapat terjadi peningkatan efisiensi.
Analisis Pertumbuhan Belanja Daerah
Berdasarkan analisis pertumbuhan belanja daerah kabupaten lebak, pertumbuhan belanja daerah dari tahun 2011 sampai dengan 2016 mengalami kenaikan dan penurunan. Pada tahun 2011 realisasi belanja daerah sebesar 1.172.211.338.158 pada tahun 2012 naik sebesar 8,73% kemudian mengalami kenaikan kembali pada tahun 2013 sebear 17,32% pada tahun 2014, 2015 dan 2016 mengalami penurunan sebesar 13,53% , 13,02% dan 9,22 %. Rata-rata pertumbuhan belanja daerah kabupaten Lebak dari tahun 2011 sampai dengan 2016 sebesar 12,37%. Pada umumnya belanja memiliki kecenderungan untuk selalu naik, namun pertumbuhan belanja kabupaten lebak tahun 2014-2016 cederung mengalami penurunan sehingga bisa dikatakan pemerintah kabupaten lebak sudah bisa mengendalikan belanja daerahnya.
Rasio Efisiensi Belanja Daerah
Berdasarkan perhitungan rasio efisiensi belanja daerah realisasi belanja dearah menunjukkan adanaya kenaikan tiap tahunnya yaitu dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016. Berawal dari tahun 2011 yaitu sebesar 1.172.211.338.158 pada tahun 2012 naik sebesar 8,73% kemudian mengalami kenaikan kembali pada tahun 2013 sebear 17,32% pada tahun 2014, 2015 dan 2016 mengalami penurunan sebesar 13,53% , 13,02% dan 9,22 %.
Total anggaran belanja daerah kabupaten lebak tahun 2011 sampai dengan 2016 selalu mengalami kenaikan tiap tahunya pada tahun 2011 anggaran belanja daerah kabupaten lebak sebesar 1.251.944.770.609 naik sebesar 6,61% pada tahun 2012. Kemudian pada tahun 2013 mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya sebesar 18,15% mengalami kenaikan pada tahun 2014 sebesar 13,84% naik kembali sebesar 19,94% pada tahun 2015 dan kembali mnegalami kenaikan pada tahun 2016 sebesar 9,19%.
Berdasarkan perhitungan rasio efisiensi belanja daerah kabupaten lebak dari tahun 2011 sampai dengan 2016 rasio efisiensi belanja daerah tahun 2011 sebesar 93,63%, tahun 2012 sebesar 95,49%, tahun 2013 sebesar 94,82%, tahun 2014 sebesar 94,57% tahun 2015 sebesar 89,11% dan tahun 2016 sebesar 89,13%. Rasio efisiensi belanja daerah kabupaten lebak dari tahun 2011 sampai dengan 2016 dapat dikatakan efisien karena nilainya kurang dari 100% dengan rata-rata nilai efisiensi belanja daerah kabupaten lebak sebesar 92,79% jadi secara keseluruhan rasio efisiensi belanja daerah kabupaten lebak termasuk dalam kategori efisien, walaupun sudah dikatakan efisien tingkat efisiensinya masih rendah oleh karena itu pemerintah daerah kabupaten lebak harus terus memperbaiki kinerjanya dalam hal pengelolaan anggaran.
Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan penelitian yang telah dipaparkan pada
Kinerja pemerintah daerah dalam mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah kabupaten lebak jika dilihat dari rasio kemandirian keuangan daerah masih tergolong sangat rendah dengan rata-rata sebesar 16,56% dan dalam pola hubungan instruktif, yang berarti pendapatan transfer masih mendominasi dari pada pendapatan daerah. Rasio kemandirian keuangan daerah terbesar pada tahun 2015 sebesar 22,82% dan terendah pada tahun tahun 2011 sebesar 10,82.
Kinerja pemerintah daerah dalam mengelola anggaran pendapatan dan belanja daerah dilihat dari analisis pertumbuhan pendapatan daerah menunjukkan pertumbuhan PAD dan Total Pendapatan daerah tumbuh secara positif dengan rata-rata pertumbuhan PAD sebesar 29,52% dan rata-rata pertumbuhan total pendapatan sebesar 16,22%. Dalam hal ini pemerintah daerah kabupaten lebak sudah bisa dikatakan baik dalam hal meningkatkan pendapatan daerahnya meskipun sebagian besar dana masih bersumber dari pemerintah pusat.
Kinerja pemerintah daerah dalam mengelola anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten lebak jika dilihat dari rasio efektivitas dan efisiensi pendapatan asli daerah tergolong efektif dan efisien. Dengan rata-rata rasio efektivitasnya berada diatas nilai 100% yaitu sebesar 102,26% dan rata-rata rasio efisiensi kurang dari 100% sebesar 93,86%. Ini menggambarkan kinerja yang sudah baik dalam pengelolaan PAD kabupaten Lebak.
Kinerja pemerintah daerah Kabupaten Lebak dalam mengelola pendapatan dan belanja daerah dilihat dari analisis pertumbuhan dan efisiensi belanja daerah selama tahun 2011 sampai dengan 2016 menunjukkan pertumbuhan yang positif dengan rata-rata 12,37% dan dapat dikatakan efisien dengan rata-rata 92,79%. Dilihat dari analisis pertumbuhan belanja daerah secara keseluruhan dapat dikatakan pemerintah daerah kabupaten lebak sudah bisa mengendalikan tingkat belanjanya, dan dalam melakukan efisiensi belanja daerahnya pemerintah Kabupaten Lebak sudah diakatan baik dilihat dari realisasi belanja yang tidak melebihi dari anggarannya. Namun Pemerintah daerah Kabupaten Lebak harus terus melakukan perbaikan dalam hal pengelolaan anggaran daerahnya untuk meningkatkan efisiensi belanja daerahnya.
Daftar Pustaka
Anastasia Friska Palilingan, Harijanti Sabijono, d.k.k. "Analsiis Kinerja Belanja dalam Laporan Realisasi Anggaran pada Dinas Pendapatan Kota Manado." Jurnal Emba, 2015: 17-25. Bambang Pujo Purwoko, Dede Suharna, d.k.k. Panduan Penulisan Proposal dan Skripsi.
Rangkasbitung: STIE LA TANSA MASHIRO, 2015.
Bastian, Indra. Akuntansi Sektor Publik Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga, 2010.
Daling, Marchelino. "Analisis Kinerja Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara." Jurnal Emba, 2013: 82-89.
Deddi Nordiaan, Iswahyudi Sondi Putra, d.k.k. Akuntansi Pemerintahan. Jakarta: Salemba Empat, 2007.
Eduard Junior Garry Santi, Jantje J. Tinangon, d.k.k. "Analisis Penyajian Laporan Realisasi Anggaran pada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sulawesi Utara." Jurnal Emba, 2015: 852-862.
Elim, Grace Yunita Liando dan Inggriani. "Analisis Kinerja Belanja Dalam Laporan Realisasi Anggaran pada Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Sangihe." Jurnal Emba, 2016: 1473-1484.
Hertianti, Deddi Nordiawan dan Ayuningtyas. Akuntansi Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat, 2009.
Ilat, Wahidah NIken Kusumadewi dan Vantje. "Analisis Kinerja Keuangan Pada Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara Tahun 2012-2014." Jurnal Emba, 2016: 634-644.
Kusufi, Abdul Halim MUhammad Syam. Akuntansi Keuangan Daerah. Jakarta : Salemba Empat, 2007.
Mahmudi. Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Jakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN, 2016.
Pangarepan, Indra Christian Lontaan dan Sony. "Analisis Belanja Daerah Pada Pemerintah Kabupaten Minahasa Tanhun Naggaran 2012-2014." Jurnal Emba, 2016: 898-906. Pramita, Puput Risky. Analisis Rasio Untuk Menilai Kinerja Keuangan Daerah Kabupaten
Kebumen Tahun 2009-2013. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2015.
Roinsulu, Kevin R.M Mandey dan ri Oldy. "Analisis Kinerja Pendapatan Asli Daerah Dikaitkan Dengan Belanja Daerah Pada Pemerintah Kota Bitumg." Jurnal Emba, 2015: 827-838. Sagay, Brian. "Kinerja Pemerintah Daerah dalam Pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja