• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMAHAMAN INDIVIDU: TEKNIK TES

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMAHAMAN INDIVIDU: TEKNIK TES"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)

PEMAHAMAN INDIVIDU:

TEKNIK TES

(Sebagai pijakan layanan Bimbingan Konseling)

(2)

(Sebagai pijakan layanan Bimbingan Konseling)

DR. Muhammad Japar, MSi. Desain Cover :

Layout Isi : Bagus Grama Cetakan Pertama, November 2013 ISBN: 978-...

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan kehadlirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Buku Pemahaman Individu: Teknik Tes (Sebagai pijakan layanan Bimbingan Konseling). Penyusunan buku ini didasarkan atas kebutuhan para guru pembimbing sekolah di lapangan dalam melaksanakan tugasnya memberikan layanan konseling kepada para siswa.

Pemahaman individu siswa melalui tes merupakan langkah penting dalam layanan bimbingan konseling. Agar layanan bimbingan konseling yang dilaksanakan oleh guru pembimbing efektif dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan, guru pembimbing perlu mengenal dan memahami potensi yang dimiliki individu siswa dengan baik. Potensi individu siswa mencakup antara lain: inteligensi, kepribadian, bakat, dan potensi aktual siswa yang berupa hasil belajar.

Buku ini mengantarkan para pembaca pada pemahaman mengenai pengertian, fungsi dan tujuan pemahaman individu, syarat tes (baik validitas, reliabilitas, indek kesukaran aitem dan kemampuan daya beda), sejarah tes psikologi, memahami inteligensi melalui tes, memahami kepribadian baik dengan tes proyektif maupun EPPS, memahami bakat, dan memahami hasil belajar individu siswa dengan menggunakan tes hasil belajar.

Harapan penulis, semoga buku ini bermanfaat bagi para pembaca khususnya bagi para calon guru pembimbing untuk mempersiapkan diri sebagai guru pembimbing profesional dan para guru pembimbing sekolah dalam meningkatkan kualitas layanan konseling bagi para siswa dan konseli lainnya.

Akhirnya, rasa terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah berkenan membantu penyusunan buku ini. Kritik dan saran untuk perbaikan penyusunan buku ini di masa yang akan datang sangat kami harapkan. Atas kritik dan saran yang membangun, kami sampaikan terimakasih.

(4)
(5)

Daftar Isi

Kata Pengantar ... iii

Daftar Isi ... v

Bab I PENGERTIAN, FUNGSI DAN TUJUAN PEMAHAMAN INDIVIDU DENGAN TES ... 1

A. Pengertian Tes Psikologis ... 1

B. Fungsi Tes Psikologi ... 3

C. Tujuan Pemahaman individu dengan Tes ... 5

D. Keterbatasan Tes ... 7

Bab II SYARAT TES SEBAGAI ALAT UKUR ... 9

A. Validitas ... 9

B. Reliabilitas ... 14

C. Tingkat Kesukaran dan Kemampuan Deskriminasi ... 18

Bab III SEJARAH TES PSIKOLOGI... 23

A. Pengantar ... 23

B. Perkembangan Pengukuran Psikologi ... 26

Bab IV PENGUKURAN INTELIGENSI ... 31

A. Pengertian Inteligensi ... 31

B. Teori-teori Inteligensi ... 33

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Inteligensi ... 34

D. Sejarah pengukuran inteligensi... 35

E. Jenis Tes Inteligensi ... 38

F. Intelligence Question atau IQ ... 42

G. Penggunaan Tes Inteligensi dalam Pendidikan dan Konseling ... 47

H. Keterbatasan Tes Inteligensi ... 47

Bab V PEMAHAMAN KEPRIBADIAN MELALUI TES KEPRIBADIAN ... 49

A. Pengertian Kepribadian... 49

(6)

C. Pengukuran Kepribadian ... 52

D. Aspek yang Diukur melalui Tes Kepribadian ... 57

E. Kebutuhan Pengukuran Kepribadian ... 59

F. Kelemahan Tes Kepribadian ... 59

Bab VI PEMAHAMAN KEPRIBADIAN MELALUI TES PROYEKTIF 61

A. Sejarah Tes Projeksi ... 61

B. Pengertian Tes Proyektif ... 63

C. Ciri–ciri Tes Proyektif ... 64

D. Fungsi Tes Proyektif ... 65

E. Klasifikasi Tes Proyektif ... 66

F. Jenis Tes Proyektif ... 66

G. Kelebihan dan Kekurangan Tes Proyektif ... 69

Bab VII PEMAHAMAN INDIVIDU MELALUI TES EPPS ... 71

A. Sekilas tentang Tes EPPS ... 72

B. Aspek – Aspek dalam Tes EPPS ... 72

C. Nilai Positif dan Negatif Aspek - aspek dalam EPPS. ... 74

D. Cara Menyajikan Test EPPS ... 76

E. TIPS Mengerjakan Tes EPPS ... 77

F. Kekurangan Tes EPPS ... 77

Bab VIII MEMAHAMI BAKAT INDIVIDU ... 79

A. Pengertian Tes Bakat ... 80

B. Jenis-Jenis Tes Bakat ... 81

C. Manfaat Memahami Bakat ... 98

Bab IX MEMAHAMI PRESTASI BELAJAR INDIVIDU MELALUI TES HASIL BELAJAR ... 99

A. Jenis dan Fungsi Tes Hasil Belajar ... 100

B. Penyusunan dan Pengembangan Test Hasil Belajar ... 101

C. Penyiapan Tes Hasil Belajar ... 108

D. Manfaat Pengukuran Hasil Belajar ... 110

(7)

Bab I

PENGERTIAN, FUNGSI DAN

TUJUAN PEMAHAMAN INDIVIDU

DENGAN TES

A. Pengertian Tes Psikologis

Pembicaraan mengenai tes tidak bisa dilepaskan dari pembicara-an me ngenai pengukurpembicara-an (measurement) dpembicara-an penilaipembicara-an (evaluation). Pengertian pengukuran, tes dan penilaian memiliki perbedaan, tetapi memiliki hubungan kuat satu dengan lainnya. Ketiga istilah tersebut dalam praktek sehari-hari sering dipertukarkan penggunaannya.

Pengukuran merupakan prosedur sistematis untuk memperoleh informasi yang dapat dikuantifikasikan, baik dengan menggunakan tes maupun dengan cara-cara lainnya. Pengukuran dimaksudkan untuk mendapatkan informasi tentang luas dan dalamnya sesuatu objek pengukuran. Berdasar pengertian tersebut dapat dikemukakan bahwa tes merupakan alat ukur untuk memperoleh informasi mengenai hal yang diukur. Contoh: ketika kita mengukur panjang suatu benda (misal: papan tulis, meja, ruang kuliah) dengan meteran sebagai alat ukur maka setelah proses pengukuran diperoleh panjang sesungguhnya dari benda yang diukur tersebut.

Tes merupakan seperangkat pertanyaan yang harus dijawab oleh orang yang di tes atau disebut testee dan dapat pula berupa tugas yang harus dikerjakan oleh testee. Apabila dilihat dari wujud fisiknya,

(8)

tes merupakan sekumpulan pertanyaan yang harus dijawab dan atau tugas yang harus dikerjakan oleh orang yang di tes, jawaban testee dan atau performansi pelaksanaan tugas akan memberikan informasi mengenai aspek psikologis  tertentu.

Penjelasan ini mungkin terlalu sederhana, karena pada kenyataannya tidak sembarang kumpulan pertanyaan terlalu berharga untuk dinamakan atau dikategorikan alat tes. Banyak syarat-syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu agar pertanyaan itu layak dikategorikan ke dalam kategori tes.

Anastasi (1976) mengatakan “A psychological test is essentially an objective and standardized measure of asample of behavior”. Tes pada dasarnya adalah suatu pengukuran yang objektif dan terstandar terhadap sampel perilaku. Brown 1976 (dalam Nurkancana dan Sumartana, 1983) menyatakan bahwa tes adalah suatu prosedur yang sistematis guna mengukur sampel perilaku seseorang. Nampaknya Brown menganggap bahwa ciri sistematis tersebut telah mencakup pengertian objektif, terstandar, dan syarat-syarat kualitas lainnya.

Definisi yang lebih lengkap dikemukakan oleh Cronbach. Cronbach (1970) mengemukakan dalam bukunya Essentials of psychological Testing: “….a systematic procedure for observing a person’s behavior and describing it with the aid of a numerical scale or a category system”. Tes merupakan prosedur sistematis untuk mengobservasi tingkah laku seseorang dan mendeskripsikannya dengan bantuan skala numerik atau sistem kategori.

Penilaian merupakan proses menentukan harga atau nilai sesuatu (sesuai dengan objek yang diukur) berdasar informasi yang diperoleh baik dengan tes maupun cara-cara lainnya, yang dapat diwujudkan dalam bentuk angka. Dalam penilaian pendidikan, nilai yang diberikan adalah hasil belajar yang dapat diwujudkan dalam bentuk angka sebagaimana tertuang dalam rapor siswa dan atau juga tertuang pada dokumen lainnya seperti surat tanda lulus.

Berdasar uraian di atas dapat dikemukakan bahwa tes merupakan alat ukur untuk mengumpulkan informasi, informasi hasil pengukuran dengan tes digunakan memberi nilai atau harga dari objek yang diukur. Akurasi hasil penilaian sangat ditentukan

(9)

Bab I — Pengertian, Fungsi dan Tujuan Pemahaman Individu dengan Tes

oleh kualitas alat ukur, sehingga alat ukur harus memenuhi berbagai persyaratan terutama validitas dan reliabilitas tes. Di samping kualitas alat ukur, akurasi hasil tes juga ditentukan orang yang melaksanakan tes, pelaksanaan tes dan kondisi yang mengerjakan tes (testee).

Tes psikologis merupakan alat ukut untuk mendapat informasi mengenai kemampuan potensial seseorang. Informasi hasil tes yang akurat dapat memberi gambaran tentang kemampuan potensial maupun non kemampuan individu.

B. Fungsi Tes Psikologi

Tes psikologi merupakan prosedur sistematis untuk membandingkan tingkah laku baik dengan suatu standar tertentu maupun dengan kelompoknya. Hasil tes psikologi berupa informasi mengenai subjek yang dikenai tes dan dapat diwujudkan dalam bentuk angka. Aspek yang dites dengan tes-tes psikologi meliputi antara lain aspek kepribadian, bakat, minat, sikap, dan prestasi belajar.

Hasil tes harus memiliki tingkat akurasi tinggi karena menjadi dasar bagi konselor atau guru pembimbing untuk memberikan layanan bimbingan dan konseling bagi para peserta didik dan atau konseli, baik secara kelompok maupun secara individual. Akurasi hasil tes rendah dapat menyebabkan bias dalam pemberian treatment terhadap peserta didik atau konseli dan berdampak kurang baik dalam proses dan hasil konseling.

Fungsi tes psikologi bagi individu konseli atau peserta didik antara lain membantu mereka mengenal dan mengerti potensi yang dimiliki, dalam hal ini dapat berupa keunggulan dan kelemahan yang dimiliki konseli dalam berbagai aspek. Hasil tes juga berfungsi membantu konseli mengenali prestasi dan potensi diri yang dapat dikembangkan melalui berbagai layanan bimbingan dan koseling yang dirancang bersama guru pembimbing atau konselor sekolah.

Tes psikologi bagi konselor, membantu konseli memahami potensi-potensi yang dimilikinya, termasuk keunggulan dan kelemahannya sehingga dapat menetapkan rancangan intervensi bersama-sama dengan konseli. Program intervensi yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan konseli dan dirancang bersama

(10)

konseli akan lebih efektif dalam mencapai tujuan konseling yang telah ditetapkan.

Fungsi tes dalam layanan konseling secara khusus meliputi fungsi: diagnostik, komparasi, prediksi, evaluasi, dan penelitian. Fungsi diagnostik tes psikologi adalah kemampuan hasil tes untuk menunjukkan kelemahan-kelemahan atau kekurangan yang dimiliki testee. Hasil tes juga mampu memberi informasi letak kekurangan atau kelemahan orang yang dites dan sebab-sebab permasalahan yang dihadapinya.

Hasil tes yang mampu menyediakan informasi letak gangguan dan sebab-sebab gangguan yang dialami seseorang individu berarti tes mampu menunjukkan fungsi diagnostik. Sebagai contoh seseorang anak memiliki gangguan pengenalan huruf, misal tidak dapat membedakan dua huruf (misal huruf b dan d) dan setelah dilakukan tes dapat diketemukan bahwa anak tersebut mengalami gangguan kemampuan persepsual, maka tes tersebut telah berfungsi diagnostik dengan baik.

Dua individu memiliki kemampuan inteligensi umum hampir sama atau mungkin bahkan sama, ternyata setelah dilakukan tes inteligensi menggunakan WISC dan atau WAIS dua individu dapat berbeda dalam logika matematika dan juga dalam digit span. Tes yang mampu membandingkan dengan baik dua individu yang memang memiliki kemampuan yang berbeda menunjukkan bahwa tes memiliki fungsi komparasi. Contoh lain, tes yang mampu membedakan kecenderungan kepribadian seseorang dengan lainnya, menunjukkan tes kepribadian memiliki fungsi komparasi.

Seseorang setelah melaksanakan tes psikologi dan hasilnya menunjukkan tinggi pada logika matematika dan prestasi belajar dikemudian hari tinggi dalam matematika berarti tes psikologi memiliki fungsi prediksi. Fungsi prediksi tes psikologi merujuk pada kemampuan tes memprediksi kemungkinan keberhasilan seseorang dimasa mendatang berdasar skor-skor tes yang ditunjukkan oleh orang yang bersangkutan.

Skor-skor hasil tes inteligensi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian, baik dalam rangka menguji suatu teori atau

(11)

Bab I — Pengertian, Fungsi dan Tujuan Pemahaman Individu dengan Tes

menemukan teori baru. Suatu teori dapat saja tidak berlaku lagi setelah hasil penelitian menunjukkan bahwa teori tersebut tidak didukung oleh fakta empirik atau hasil penelitian menemukan teori baru yang menggugurkan kebenaran teori sebelumnya.

C. Tujuan Pemahaman individu dengan Tes

Layanan bimbingan konseling dilakukan dengan mendasarkan pada prinsip (1) adanya perbedaan individual. Setiap individu memiliki kemampuan baik potensial maupun aktual serta memiliki masalah berikut latar masalah yang berbeda-beda sehingga layanan bimbingan konseling harus sesuai dengan potensi individu yang bersangkutan, (2) didasarkan pada informasi yang lengkap dan akurat tentang diri individu sehingga layanan yang diberikan sesuai dengan keadaan diri individu dan juga akurat, (3) adanya kenyataan bahwa terdapat individu yang kurang berhasil melakukan penyesuaian diri baik penyesuaian diri fisik, sosial, akademik, emosional, dan bahkan penyesuaian diri religius sehingga memerlukan pengukuran psikologis.

Berdasar hal di atas dapat dikemukakan bahwa pemahaman individu dengan tes sangat diperlukan, terutama dalam rangka layanan bimbingan konseling khususnya layanan bimbingan konseling di sekolah. Berkenaan dengan pentingnya penerapan pemahaman individu dengan tes tersebut maka dapat diidentifikasi tujuan pemahaman individu dengan tes antara lain sebagai berikut: (1) yang berkenaan dengan aspek kognitif, untuk mendapat informasi tingkat kecerdasan individu, bakat, dan hasil belajar, (2) aspek non kognitif, mencakup antara lain: informasi tentang kepribadian, motivasi, sikap, sistem nilai, dan minat individu.

Inteligensi sebagai kemampuan potensial berdasar beberapa hasil penelitian memiliki korelasi signifikan dengan hasil belajar sehingga memahami individu dari aspek inteligensi sangat penting dalam dunia pendidikan, meskipun diakui bahwa inteligensi bukan satu-satunya variabel penentu keberhasilan (belajar) sesorang. Hasil belajar sebagai kecakapan aktual dapat diukur dengan tes prestasi hasil belajar. Informasi yang diperoleh dengan tes hasil belajar sangat

(12)

berharga bagi guru, konselor, dan orang tua untuk memberikan layanan bagi individu baik dalam rangka mempertahankan hasil belajar, peningkatan prestasi belajar, layanan penempatan dan studi lanjut.

Bakat merupakan kemampuan potensial yang dapat diditeksi melalui tes bakat dan hasil pengukuran bakat merupakan informasi tentang kecenderungan keberhasilan individu pada satu dan atau lebih bidang keahlian atau pekerjaan. Informasi tentang bakat seseorang membantu orang tua, guru, dan terutama konselor dalam memberikan layanan studi lanjut dan pemilihan jabatan dan atau pekerjaan.

Kepribadian merupakan suatu sistem psikofisik yang dinamis yang menentukan cara khas seseorang dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan (Allport dalam Lindzey dan Hall, 1988). Pengukuran kepribadian dengan tes kepribadian akan memberikan informasi penting bagi konselor untuk memberikan layanan bimbingan konseling bagi individu ( para siswa) terutama untuk pengembangan diri.

Sikap merupakan kecenderungan berperilaku seseorang, yang mencakup aspek keyakinan, perasaan dan kecenderungan berperilaku terhadap sesuatu objek sikap. Sikap positif terhadap sesuatu objek mendorong perilaku orang yang bersangkutan ke arah positif. Perlu dipahami bahwa sikap dan perilaku seseorang belum tentu konsisten. Sikap juga belum tentu muncul dalam bentuk perilaku. Informasi mengenai sikap seseorang yang diperoleh dengan skala sikap akan bermanfaat, terutama bagi konselor.

Sistem nilai yang diyakini dan dianut oleh seseorang sangat berpengaruh terhadap perilakunya. Sistem nilai yang dimiliki seseorang merupakan hasil proses panjang yang dialami seseorang dan terus berkembang seiring dengan perkembangan seseorang. Untuk mendapatkan informasi tentang nilai yang dianut seseorang, konselor dapat mengumpulkannya dengan bantuan tes.

Kecenderungan senang dan atau tidak senang seseorang terhadap sesuatu objek merupakan kajian tentang minat seseorang individu. Dalam dunia pendidikan kecenderungan seorang siswa

(13)

Bab I — Pengertian, Fungsi dan Tujuan Pemahaman Individu dengan Tes

terhadap teman, jenis mata pelajaran tertentu, terhadap guru, aktivitas belajar misalnya, akan menentukan keberhasilan individu yang bersangkutan dalam belajar dan atau mengembangkan diri. Berdasar hal tersebut pengumpulan informasi dengan menggunakan tes merupakan satu langkah penting dalam rangka perencanaan dan penerapan layanan bimbingan kepada para siswa.

D. Keterbatasan Tes

Sering terjadi orang tua, guru, atau kebanyakan orang mengalami bias dalam memahami hasil tes, atau bahkan terlalu mendewa-dewakan hasil tes. Sebagai contoh: hasil tes inteligensi seorang anak menunjukkan yang bersangkutan dikategorikan sangat cerdas dan orang tua terlalu mengagungkan skor tes dengan menceritakan kepada orang lain tentang kecerdasan anaknya (dan anak ada di samping orang tuanya), anak tidak perlu belajar dengan rajin dan sungguh-sungguh (anak ada di samping orang tuanya ketika bercerita). Dari pembicaraan itu anak merasa dirinya hebat dan tidak perlu belajar, akibatnya prestasi belajar anak rendah.

Seseorang terlalu yakin dengan hasil tes dan dia menjadi kecewa karena prestasi yang dicapai tidak sesuai dengan hasil tes psikologi. Tes psikologi yang digunakan dalam dunia pendidikan dan bimbingan memang telah memenuhi persyaratan yang ditentukan baik dari validitas, reliabilitas dan indeks kesukaran item, namun tetap saja memiliki keterbatasan-keterbatasan.

Keterbatasan tes dapat dilihat dari alat tes, tester, testee, administrasi tes termasuk juga lingkungan saat tes berlangsung. Tes yang digunakan telah memenuhi syarat vailiditas, misal 0,7. Tes tersebut tidak mampu mengukur keseluruhan yang diukur karena validitasnya hanya 0,7. Validitas sama dengan 1 sangat sukar dipenuhi atau bahkan validitas tersebut hampir tidak dapat dipenuhi oleh suatu tes apapun, akibatnya tidak semua kemampuan individu terukur atau terditeksi. Keterbatasan dari sisi validitas juga dapat terjadi karena adanya kesalahan pengukuran.

Tester yang melakukan tes harus memiliki keahlian dan kewenangan yang dipersyaratkan. Jika tes dilakukan oleh orang yang

(14)

bukah ahlinya maka hasil tes tidak akurat dan dapat menyesatkan. Contoh: Tes yang dilakukan oleh orang yang tidak ahli dan tidak berwenang, ketika memberikan petunjuk cara mengerjakan salah dan waktu juga tidak tepat maka hasil tes tidak mampu menggambarkan potensi yang dimiliki oleh individu yang di tes.

Kondisi fisik dan pikis individu saat di tes sangat mempengaruhi hasil tes. Seseorang yang dalam kondisi sakit secara fisik akan mempengaruhi konsentrasi dan daya tahan yang bersangkutan saat mengerjakan tes dan selanjutnya akan berpengaruh pada hasil tes. Kondisi psikis individu saat tes seperti nervous, stres, tertekan dapat mempengaruhi kesiapan dan konsentrasi dalam mengerjakan tes akibatnya hasil tes tidak optimal dan atau tidak mencerminkan kondisi individu yang sesungguhnya.

Pedoman pengadministrasian tes baik yang berkenaan prosedur tes, skoring, dan interpretasi serta lingkungan saat dilakukan tes dapat mempengaruhi proses dan hasil tes. Sebagai contoh: prosedur tes berkenaan dengan petunjuk cara mengerjakan atau menjawab dan alokasi waktu mengerjakan yang tidak tepat dapat menyebabkan hasil tes tidak akurat. Penyekoran tes atau alat ukur berikut interpretasinya harus sesuai dengan pedoman, jika tidak sesuai dengan pedoman hasil tes tidak akurat dan bahkan dapat menyesatkan. Lingkungan yang bising dan mencekam dapat mempengaruhi hasi pengukuran.

Berdasar keterbatasan-keterbatasan tersebut maka perlu kehati-hatian dalam melaksanakan tes dan menyikapi hasil tes. Di samping itu perlu usaha mengatasi keterbatasan-keterbatasan tes tersebut agar hasil test akurat dan tidak menyesatkan.

(15)

Bab II

SYARAT TES SEBAGAI ALAT UKUR

Hasil pengukuran dengan menggunakan tes sebagai alat ukurnya diharapkan dapat menggambarkan keadaan yang sebenarnya objek yang diukur, karena hasil tes berkenaan dengan kridibilitas dan masa depan individu yang di tes dan juga tester (orang yang melakukan tes). Dalam layanan bimbingan konseling, hasil tes menjadi dasar penentuan model treatment terhadap individu dan akan menentukan kehidupan dan atau keberhasilnnya di masa yang akan datang. Oleh karena pentingnya hasil tes tersebut maka tes yang digunakan dalam pengukuran dan atau testing harus memenuhi syarat sebagai alat ukur yang terstandar. Syarat tes sebagai alat ukur yang terstandar antara lain validitas, reliabilitas, indeks kesukaran item dan indeks daya beda terutama untuk tes prestasi.

A. Validitas

Salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh tes sebagai alat ukur adalah validitas, sehingga tes yang digunakan dalam pengukuran psikologis harus benar-benar valid. Suatu tes memiliki validitas jika tes mampu mengukur apa yang seharusnya diukur (Allen, 1979). Contoh: tes yang digunakan untuk seleksi calon karyawan adalah valid, jika skor-skor hasil tes memiliki korelasi yang tinggi dengan hasil pengujian performansi kerja di masa yang akan datang. Tes inteligensi dikatakan valid, jika tes mampu membedakan di antara orang-orang

(16)

yang memiliki variasi dalam inteligensi. Tes kepribadian dikatakan valid jika tes menghasilkan skor-skor yang menunjukkan perbedaan bermakna dalam kepribadian. Pengembangan dan penggunaan tes harus dapat dipertanggung- jawabkan untuk menjamin bahwa tes yang digunakan benar-benar valid.

Pengujian validitas dapat dilakukan dengan beberapa cara, tergantung pada tes dan rencana penggunaannya. Menurut Allen (1979), ada tiga tipe utama validitas yaitu content validity, related validity, dan construct validity. Penentuan validitas criterion-related validity dan construct validity melibatkan perhitungan dan pengujian korelasi atau statistika lainnya, sedangkan content validity tidak melibatkan suatu perhitungan statistikal.

1. Content Validity

Validitas konten merupakan validitas yang tidak dipungkiri melalui suatu analisis rasional suatu tes, dan penentuannya didasarkan pada individu yaitu putusan subjektif. Ada dua tipe utama validitas konten yaitu face validity dan logical validity.

Face validity sering dinamakan “armchair” validity (Allen, 1979), atau juga sering disebut validitas semu. Validitas konten adalah validitas yang didasarkan ketika seseorang menguji tes dan kesimpulannya bahwa tes itu mengukur sifat-sifat yang relevan. Face validity dapat digunakan pada beberapa tes. Pada pengujian kelas, ketika persiapannya hati-hati, face validity dapat dicapai. Contoh, suatu tes aritmatika, tes tersebut mengukur performansi aritmatika, secara “face” dikatakan valid. Validitas face dapat efektif digunakan, meskipun dalam banyak kasus validitas face tidak esensial.

Logical or sampling validity merupakan versi yang lebih rumit atau canggih dari face validity. Validitas model ini melibatkan definisi yang cermat dari domain tingkah laku yang diukur dengan tes dan logikal desain dari itemnya mencakup seluruh domain penting. Validitas logikal terutama digunakan dalam pengembangan tes prestasi.

(17)

Bab II — Syarat Tes Sebagai Alat Ukur

2. Criterion-related validity

Criterion-related validity digunakan ketika skor-skor tes dapat dihubungkan dengan criterion. Criterion adalah beberapa tingkah laku yang skor-skor tesnya digunakan untuk mempredik. Contoh: untuk memperoleh criterion-related validity, skor-skor pada tes yang dirancang untuk menyeleksi pelamar kerja harus dihubungkan dengan criterion dari keefektifan kerja. Contoh lain: Skor-skor tes seleksi masuk sekolah harus dihubungkan dengan beberapa criterion yang relevan, seperti rata-rata nilai akhir siswa yang diterima atau persentase siswa yang mampu menyelesaikan program pendidikan dan tahap penerimaan.

Tipikal validitas criterion-related ditunjukkan dengan koefisien korelasi, yaitu korelasi antara skor tes sebagai prediktor dan skor criterion. Korelasi dilambangkan dengan ρxy, dimana X adalah skor tes dan Y adalah skor criterion. Koefisien validitas, ρxy, adalah estimasi satu dari dua cara yaitu hasil salah satu: estimasi validitas prediktif atau konkuren.

Validitas prediktif melibatkan penggunaan skor-skor tes untuk memprediksi tingkah laku masa datang. Koefisien validitas prediktif diperoleh dengan memberikan tes kepada seluruh individu yang relevan, sambil menunggu waktu, skor-skor criterion dikumpulkan, dan menghitung koefisien validitas. Contoh: validitas prediktif untuk tes pekerjaan akan meyakinkan apabila untuk menguji setiap pelamar kerja, setiap pelamar dikontrak (magang), menunggu beberapa minggu atau bulan sampai criterion dapat dinilai secara rasional dan reliabel (sebagai contoh, oleh rating penyelia atau oleh pengukuran performansi job lain), mengkorelasikan skor-skor prediktor (tes) dan criterion (job performansi). Prosedur tersebut memberi indikasi baik bagaimana skor-skor tes mempredik tingkah laku pada masa mendatang dengan baik, tetapi hal tersebut dapat menjadi mahal dan menghabiskan waktu. Jika tes digunakan untuk mempredik tingkah laku masa mendatang, validitas prediktif harus meyakinkan. Jika hal itu tidak diinginkan maka alternatif lain adalah menggunakan concurrent-validity coefficient.

(18)

Concurrent-validity coefficient adalah korelasi antara skor-skor tes dan criterion yang keduanya diukur dalam waktu yang sama. Concurrent-validity coefficient diperoleh dengan mengkorelasikan skor-skor prediktor dan criterion yang diperoleh dengan mengukur yang ditunjukkan pekerja pada waktu yang sama. Hal ini sering memerlukan batas range yang lebar, terutama pada criterion, sementara individu-individu dapat atau tidak dapat perform secara memuaskan pada pekerjaan yang tidak dibayar atau tidak semangat selama waktu studi validitas dilakukan. Koefisien validitas konkuren cenderung underestimate terhadap koefisien validitas prediktif.

Concurrent-validity coefficient sesuai, jika skor-skor tes digunakan untuk mengestimasi concurrent criterion daripada untuk mempredik criterion masa datang.

3. Construct validity

Validitas konstruk suatu tes adalah tingkat ukuran kontruk teoritik atau sifat yang dirancang untuk diukur. Penetapan vaiditas kontruk merupakan proses terus menerus. Berdasar teori umum dan memperhatikan dengan cermat sifat yang akan diiukur, tes dikembangkan menggunakan prediksi bagaimana skor-skor tes harus berfungsi dalam berbagai situasi. Prediksi tersebut akan diuji. Jika prediksi didukung oleh data, validitas kontruk akan besar. Jika prediksi tidak didukung data, paling tidak ada tiga alternatif kesimpulan yang dapat diambil: (1) eksperimen cacat, (2) teorinya salah dan harus direvisi, (3) tes tidak mengukur trait (Allen, 1979). Meskipun penetapan validitas konstruk adalah proses yang tidak berhenti, pengembang tes dapat menunjukkan validitas konstruk untuk pengujian pada situasi yang khusus.

Pengujian validitas dapat dilakukan dengan menguji validitas instrumen dan validitas butir. Untuk mengetahui apakah suatu instrumen yang memuat butir-butir pernyataan atau pertanyaan itu mengukur apa yang hendak diukur maka dilakukan analisis butir. Analisis butir dimaksud untuk mengetahui validitas butir dan termasuk dalam validitas internal.

(19)

Bab II — Syarat Tes Sebagai Alat Ukur

Validitas internal termasuk kelompok validitas kriteria yang merupakan validitas yang diukur dengan besaran yang menggunakan instrumen sebagai suatu kesatuan (keseluruhan butir) sebagai kriteria untuk menentukan validitas item atau butir dari instrumen tersebut. Selanjutnya dikatakan bahwa validitas butir (validitas internal) diperlihatkan oleh seberapa jauh hasil ukur butir tersebut konsisten dengan hasil ukur instrumen secara keseluruhan. Oleh karena itu, validitas butir tercermin pada besaran koefisien korelasi antara skor butir dengan skor total instrumen. Jika koefisien korelasi antara skor butir dengan skor total instrumen positif dan signifikan, maka butir dapat dianggap valid berdasarkan ukuran validitas internal.

Apabila besaran koefisien korelasi antara skor butir dengan skor total bernilai positif, makin besar koefisien korelasi maka validitas butir juga makin tinggi. Koefisien korelasi yang tinggi antara skor butir dengan skor total mencerminkan tingginya konsistensi antara hasil ukur keseluruhan instrumen dengan hasil ukur butir instrumen, atau dapat dikatakan bahwa butir instrumen tersebut konvergen dengan butir-butir lain dalam mengukur suatu konsep atau konstruk yang hendak diukur. Untuk menghitung koefisien korelasi antara skor butir dengan skor total instrumen, digunakan koefisien korelasi product moment (r) yang menggunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan :

rit = koefisien korelasi antara skor butir soal dengan skor total

∑xi = jumlah kuadrat deviasi skor xi ∑xt = jumlah kuadrat deviasi skor xt

(20)

B. Reliabilitas

Tes untuk mengukur atribut psikologis di samping harus valid juga harus reliabel, sehingga penelitian tentang kualitas psikometris baik validitas maupun reliabilitas tes menjadi penting untuk terus dilaksanakan. Hal tersebut menjadi penting agar diperoleh tes yang mampu mendiskripsikan objek yang diukur dan benar-benar sesuai dengan kondisi yang sesungguhnya. Pengujian reliabilitas instrumen dilakukan dengan harapan diperoleh instrumen yang memiliki tingkat keandalan yang tinggi.

1. Pengertian Reliabilitas

Reliabilitas atau keandalan adalah konsistensi dari serangkaian pengukuran atau serangkaian alat ukur.Hal tersebut bisa berupa pengukuran dari alat ukur yang sama (tes dengan tes ulang) dan akan memberikan hasil yang sama, atau untuk pengukuran yang lebih subjektif, apakah dua orang penilai memberikan skor yang mirip (reliabilitas antar penilai).

Reliabilitas berasal dari kata reliability. Tes yang memiliki reliabilitas tinggi menunjukkan bahwa tes tersebut reliabel. Reliabilitas memiliki arti yang luas, mencakup: kepercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan, dan konsistensi hasil pengukuran. Ide pokok yang terkandung dalam reliabilitas adalah kepercayaan hasil pengukuran yaitu sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya. Tes yang reliabel berarti tes tersebut dapat dipercaya.

Sejalan dengan uraian di atas, Suryabrata (2000) menyatakan bahwa reliabilitas alat ukur menunjuk pada sejauh mana hasil pengukuran dengan menggunakan alat tersebut dapat dipercaya. Hal ini ditunjukkan oleh taraf keajegan (konsistensi) skor yang diperoleh para subjek yang diukur dengan alat ukur yang sama, atau diukur dengan alat yang setara pada kondisi yang berbeda.

Hasil pengukuran dapat dipercaya hanya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama, selama

(21)

Bab II — Syarat Tes Sebagai Alat Ukur

aspek yang diukur dalam diri subjek memang belum berubah. Dalam hal ini, relatif sama berarti tetap adanya toleransi terhadap perbedaan-perbedaan kecil di antara hasil beberapa kali pengukuran. Apabila perbedaan itu sangat besar dari waktu ke waktu, maka hasil pengukuran tidak dapat dipercaya dan dikatakan sebagai tidak reliabel.

2. Jenis-Jenis Reliabilitas

Reliabilitas dapat dibedakan menjadi :

a. Reliabilitas Tes Re-Tes

Adalah seberapa besar derajat skor tes konsisten dari waktu ke waktu. Reliabilitas diukur dengan menentukan hubungan antara skor hasil penyajian tes yang sama kepada kelompok yang sama, pada waktu yang berbeda.

b. Reliabiltas Belah-Dua

Reliabiltas ini diukur dengan menentukan hubungan antara skor dua paruh yang ekuivalen suatu tes, yang disajikan kepada seluruh kelompok pada suatu saat. Karena reliabilitas belah dua mewakili reliabilitas hanya separuh tes yang sebenarnya, rumus Spearman-Brown dapat digunakan untuk mengoreksi koefisien yang didapat.

c. Reliabilitas Rasional Ekuivalen

Reliabilitas ini tidak ditentukan menggunakan korelasi tetapi menggunakan estimasi konsistensi internal. Reliabilitas ini diukur menggunakan Kuder-Richardson, biasanya Formula-20 (KR-20) atau Formula-21 (KR-21). Kedua rumus ini hanya dapat dipakai untuk tes yang aitem-aitemnya diskor dikotomi, yaitu benar atau salah, 0 atau 1.

d. Reliabilitas Penyekor/Penilai

Adalah reliabilitas dua (atau lebih) penyekor independen. Reliabilitas ini biasa ditentukan menggunakan teknik korelasi, tetapi juga dapat hanya dinyatakan dalam persentase kesepakatan.

(22)

3. Teknik Menguji Reliabilitas Instrumen

Ada tiga teknik untuk menguji reliabilitas instrumen, yaitu :

a. Teknik Paralel (Paralel Form Atau Alternate Form)

Disebut juga teknik “double test double trial“. Sejak awal peneliti harus sudah menyusun dua perangkat instrumen yang paralel (ekuivalen), yaitu dua buah instrumen yang disusun berdasarkan satu kisi-kisi. Setiap butir soal dari instrumen yang satu selalu harus dapat dicarikan pasangannya dari instrumen kedua. Kedua instrumen tersebut diujicobakan semua. Sesudah kedua uji coba terlaksana, maka hasil kedua instrumen tersebut dihitung korelasinya dengan menggunakan rumus product moment (korelasi Pearson).

b. Teknik Ulang (test re-test)

Disebut juga teknik “single test double trial”. Menggunakan sebuah instrumen, namun diteskan dua kali. Hasil atau skor pertama dan kedua kemudian dikorelasikan untuk mengetahui besarnya indeks reliabilitas. Teknik perhitungan yang digunakan sama dengan yang digunakan pada teknik pertama yaitu rumus korelasi Pearson.

c. Teknik Satu Kali Tes (“single test method”) atau single

trial. 

Peneliti boleh hanya memiliki seperangkat instrumen saja dan hanya diujicobakan satu kali, kemudian hasilnya dianalisis, yaitu dengan cara membelah seluruh instrumen menjadi dua sama besar. Cara yang diambil untuk membelah soal bisa dengan membelah atas dasar nomer ganjil-genap, atas dasar nomer awal-akhir, dan dengan cara undian. Di dalam perkembangannya, dalam metode pengujian reliabilitas ini dikembangkan beberapa teknik, antara lain:

1) Teknik Spearman-Brown

Reliabilitas tes dengan teknik belah dua dapat diperkirakan dengan rumus Spearman-Brown, seperti

(23)

Bab II — Syarat Tes Sebagai Alat Ukur berikut :

  2 (r½½)

R

11

=    ---   

         1 + r½½

       

R11       : koefisien yang diperkirakan

 r½½ : koefisien korelasi belahan bagian pertama dan kedua dari tes

(2) Reliabilitas Kuder-Richardson dan Koefisien Alpha

Metode ini didasarkan pada konsistensi respons terhadap semua butir soal dalam tes. Konsistensi antar soal ini dipengaruhi oleh dua sumber varians kesalahan  : (1) pencuplikan isi (sebagaimana dalam bentuk alternatif dan reliabilitas belah separuh)  ; dan (2) heterogenitas dari domain yang disampelkan. Semakin homogen domainnya, semakin tinggi konsistensi antar soal.

Rumus yang paling luas diterapkan, umumnya dikenal sebagai “rumus Kuder-Richardson 20” (Warkitri dkk., 1990), adalah sebagai berikut :

K Vt - ƩPq

r

11

= ﴾ --- ﴿ ﴾ --- ﴿

K – 1 Vt

r11 : koefisien reliabilitas seluruh tes K : jumlah soal dalam tes

Vt : varian total

P : proporsi subjek yang menjawab benar/skor 1 q : proporsi subjek yang menjawab salah/skor 0 (q=P-1)

Penghitungan reliabilitas dapat pula dilakukan dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach Djaali dan Muljono (2008). Untuk menghitung koefisien korelasi dengan menggunakan rumus koefisien Alpha, yaitu :

(24)

Keterangan :

rii = koefisien reliabilitas butir k = cacah butir

si² = varian skor butir st² = varian skor total

C.

Tingkat Kesukaran dan Kemampuan Deskriminasi

Tes hasil belajar, disamping harus memenuhi syarat validitas dan reliabilitas juga harus memiliki tingkat kesukaran tertentu dan memiliki kemampaun deskriminasi. Tingkat kesukaran suatu tes dan kemampuan deskriminatif dapat diperoleh dengan menganalisis aitem-aitem atau soal-soal. Hasil analisis dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan bahwa aitem-aitem tersebut memenuhi syarat atau belum. Jika suatu aitem belum memenuhi fungsinya dengan baik perlu dilakukan revisi atau bahkan tidak lagi dipergunakan.

Tingkat kesukaran (level of difficulty) suatu soal berkaitan dengan jumlah siswa yang dapat mengerjakan dengan benar. Tingkat kesukaran soal dapat juga disebut tingkat kemudahan (degree of succes). Suatu tes dikatakan baik jika tes tersebut tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Tes yang terlalu sukar tidak mengungkap apa yang telah diketahui peserta didik dan tes yang terlalu mudah tidak mampu mengungkap apa yang belum diketahui peserta didik.

Kemampuan deskriminasi suatu tes menunjukkan bahwa tes tersebut mampu membedakan peserta didik yang pandai dan yang tidak pandai. Untuk menentukan besar persentase kemampuan deskriminasi dan tingkat kesukaran tes pada tes-tes objektif lebih mudah. Analisis tingkat kesukaran aitem dan kemampuan deskriminasi dibicarakan di bawah ini.

(25)

Bab II — Syarat Tes Sebagai Alat Ukur

1. Analisis tingkat kesukaran aitem tes

Cara menentukan tingkat kesukaran aitem tes salah satunya dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

S B – n - 1 K = N Keterangan:

K = tingkat kesukaran aitem

B = banyaknya testee yang menjawab benar S = banyaknya testee yang menjawab salah n = jumlah option/aternatif jawaban N = jumlah testee keseuruhan

Contoh: Seorang guru Matematika melaksanakan tes. Untuk aitem nomor 5 dijawab benar oleh 60 orang peserta didik dan dijawab salah oleh 20 orang peserta didik. Tes tersebut adalah tes objektif dengan 5 option. Tingkat kesukaran aitem nomor 5 dihitung sebagai berikut:

B = banyaknya testee yang menjawab benar = 60 S = banyaknya testee yang menjawab salah = 20 n = jumlah option = 5

N = jumlah testee keseluruhan = 80, maka tingkat kesukaran item nomor 5 adalah: 20 60 - ---5 – 1 K = 80 K = 0,69

(26)

Aitem test memenuhi syarat apabila tingkat kesukaran aitem bergerak dari 0,10 sampai dengan 0,90. Aitem yang memiliki tingkat kesukaran kurang dari 0,10 atau di atas 0,90 maka tes tersebut kurang berfungsi dengan baik, sebaiknya aitem tes direvisi atau tidak digunakan. Berdasar hal tersebut aitem nomor 5 pada contoh di atas memenuhi syarat karena berada pada rentang 0,10 – 0,90.

Cara lain menentukan indeks kesukaran aitem adalah dengan menggunakan pedoman tabel di bawah ini:

Tabel Formulas for Finding (WL+WH) at three Difficulty levels

Percentase of Testee Who “Do Not Know “the” Correct Answer to The Item

Number of options

Each Item Has

2

3

4

5

16

50

84

0,160 n

0,500 n

0,840 n

0,213 n

0,667 n

1,120 n

0,240 n

0,750 n

0,1260 n

0,256 n

0,800 n

1,344 n

(Warkitri, dkk,1990)

Klasifikasi tingkat kesukaran aitem dapat ditetapkan sebagai berikut:

- Testee yang menjawab benar hanya sampai 27 % termasuk soal tes yang sukar,

- Testee yang menjawab benar antara 28-72 % termasuk soal tes yang sedang; dan

- Testee yang menjawab benar di atas 73 % termasuk soal tes yang mudah.

Misal, suatu tes Matematika jumlah testee 100 0rang. Berarti 27 % x N adalah 27 orang. Bentuk tes yang digunakan adalah benar-salah berarti opitonnya adalah 2. Jika kelompok atas yang menjawab benar 23 orang dan kelompok bawah yang menjawab

(27)

Bab II — Syarat Tes Sebagai Alat Ukur

benar 7 orang, jumlah yang menjawab benar adalah 30 orang. Tingkat kesukaran aitem dihitung sebagai berikut:

0,160 n = 0,160 x 30 = 4,8 = mudah 0,500 n = 0,500 x 30 = 15,0 = sedang 0,840 n = 0,840 x 30 = 25,2 = sukar

Oleh karena kelompok atas dan bawah yang menjawab benar aitem tersebut 30 orang dan berada pada 25,2 keatas maka aitem tersebut termasuk sukar.

2. Analisis kemampuan deskriminasi

Aitem tes yang baik terutama tes hasil belajar, disamping valid, reliabel, dan memenuhi tingat kesukaran aitem juga harus memiliki daya beda. Tes memiliki daya beda, jika tes lebih banyak dijawab benar oleh kelompok atas dibanding dengan kelompok bawah.

Cara sederhana menentukan daya beda suatu aitem tes adalah sebagai berikut:

Ba – Bb

D = --- x 100 % na atau nb

Keterangan: D = daya beda

Ba = kelompok atas yang menjawab benar Bb = kelompok bawah yang menjawab benar na = jumlah kelompok atas

nb = jumlah kelompok bawah

Besar persentase yang diperoleh dari perhitungan dengan rumus di atas dan hasilnya positif menunjukkan daya beda. Makin besar yang diperoleh dan positif maka makin besar pula kemampuan daya beda suatu aitem tes. Contoh: suatu aitem tes dikerjakan benar oleh 14 testee kelompok atas dan 6 orang

(28)

testee kelompok bawah maka kemampuan daya beda aitem tersebut adalah: 14 – 6 D = --- 20 8 D = --- 20 D = 0,40

Jika kriteria yang digunakan menentukan daya beda menggunakan kriteria sebagaimana dikemukakan Ebes (Warkitri 1990) seperti berikut:

- D ≥ 0,40 : butir tes berfungi sangat memuaskan - 0,30 ≤ D ≥ 0,39 : butir tes perlu direvisi sedikit/tidak direvissi

sama sekali

- 0,20 ≤ D ≥ 0,29 : butir tes harus direvisi sebagian

- D ≤ 0,19 : butir tes tidak digunakan atau direvisi total, Contoh butir aitem tes di atas memenuhi syarat atau butir tes memiliki daya beda yang baik atau memuaskan.

(29)

Bab III

SEJARAH TES PSIKOLOGI

A.

Pengantar

Penerapan tes psikologi di Indonesia, terutama dalam bidang pendidikan telah lama dilakukakan. Dewasa ini, penerapan tes telah dilakukan di berbagai bidang terutama untuk kepentingan penerimaaan pegawai atau rekrutmen dan promosi pegawai. Dalam pendidikan, tes digunakan antara lain untuk seleksi masuk sekolah dan perguruan tinggi, pengembangan pribadi, penempatan, dan pemilihan studi lanjut. Meskipun tes telah secara luas penggunaannya, tetapi pengembangan tes sebagai alat ukur tidak sepesat di Amerika Serikat. Amerika Serikat merupakan salah satu contoh negara yang gerakan testingnya sangat baik atau dapat dikatakan bahwa testing merupakan suatu gerakan nasional. Di Amerika gerakan testing psikologis berkembang sejak awal abad 19, karena kebutuhan akan instrumen pengukuran kemampuan orang sebagai akibat dari perkembangan industri. Dunia industri dan dunia usaha membutuhkan tenaga terampil dengan bakat dan kemampuan yang cocok untuk menjalankan mesin-mesin dan melakukan pekerjaan-pekerjaan usaha modern demi efisiensi dan produktivitas kerja. Dalam dunia kemiliteran, seperti pada saat Perang Dunia I juga memerlukan tenaga militer dengan kemampuan yang diidentifikasi secara cepat untuk ditempatkan atau menjadi tenaga di bagian-bagian yang ada seperti artileri, infantri, penerbang, nakhoda, dan sebagainya.

(30)

oleh Alfred Binet, seorang dokter Perancis. Binet tertarik melakukan pengukuran mental dan mulai meneliti anak-anak yang cerdas dan tidak cerdas pada tahun 1890. Usaha Binet bersama Theodore Simon yang juga berasal dari Perancis, membuahkan tes inteligensi yang terkenal dengan sebutan Test Binet-Simon. Usaha tersebut kemudian diteruskan di Amerika Serikat oleh L.M. Terman dari Universitas Stanford bersama dengan M.A. Merril, tujuannya untuk merevisi dan menyempurnakan tes buatan Binet. Hasilnya adalah tes kecerdasan Stanford-Binet. Pada tahun 1937, penyempurnaan penting dicapai, yaitu dengan ditemukannya ukuran kecerdasan oleh William Stern. Ukuran tersebut berupa rasio kecerdasan (intelligence quotient) yaitu perbandingan antara umur mental dengan umur kronologis. Sejak itu, usaha-usaha penyusunan tes meluas dan maju pesat mencakup bidang-bidang kepribadian yang luas untuk berbagai penggunaan dan dengan menggunakan teknologi yang makin canggih. Bidang penggunaan tes meluas, tetapi sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa pendidikan (sekolah) adalah pengguna yang utama. Diberlakukannya undang-undang pendidikan untuk pertahanan nasional (National Defense Education Act) dalam tahun 1958 dipicu oleh peluncuran Sputnik, satelit pertama dalam tahun 1957 oleh Rusia (Uni Soviet waktu itu).

Pemerintah Federal Amerika Serikat menyediakan dana besar untuk pengembangan testing dan juga untuk pengembangan program konseling di sekolah menengah. Di samping itu, bidang lain yang menggunakan tes adalah kedokteran, kehakiman, militer, manajemen, dan perdagangan. Ilmuwan terkemuka dalam gerakan bimbingan (guidance) di Amerika waktu itu, di antaranya Thorndike dengan teori pengukuran mentalnya, Terman dengan tes kecerdasan Stanford-Binetnya, A.S. Otis dengan tes Army Alphanya, Strong dengan tes atau inventory minatnya, Kuder dengan tes minat, Bennet, dkk dengan tes bakat differensialnya.

Di Indonesia, meski testing belum menjadi gerakan nasional, namun telah ada usaha-usaha pengembangan tes walaupun baru skala kecil dan masih bersifat rintisan. Sejumlah perguruan tinggi, khususnya fakultas psikologi dan IKIP (sekarang FKIP universitas) terdorong oleh kebutuhan akan cara-cara yang objektif

(31)

Bab III — Sejarah Tes Psikologi

untuk pengukuran kepribadian, melakukan usaha-usaha rintisan pengembangan tes. Kebutuhan itu terasa mendesak di lingkungan sekolah untuk penerimaan siswa dan penyelenggaraan bimbingan dan konseling (sekarang profesi konseling), di lingkungan industri, lembaga, dan militer untuk seleksi dalam rangka penerimaan dan penempatan personil. Usaha-usaha tersebut umumnya bukan untuk menghasilkan tes baru atau asli melainkan untuk mengadaptasikan tes-tes asing yang sudah ada. Pekerjaan adaptasi meliputi penerjemahan dengan mempertimbangkan faktor sosial budaya setempat, uji reliabilitas dan validitas.

Telah disebutkan bahwa usaha penyusunan tes telah dirintis di Indonesia oleh sejumlah lembaga pendidikan tinggi dalam rangka riset dan pengembangan. Di IKIP Malang (sekarang Universitas Malang) telah melakukan usaha pengembangan tes, bermula dalam tahun 1967 yang dilakukan atas kerja sama dengan ALRI untuk keperluan seleksi calon personil di lingkungan ALRI (sekarang TNI AL).

Usaha-usaha yang telah dilakukan berupa pengembangan tes prestasi belajar terstandar untuk seleksi masuk perguruan tinggi, yang mencakup Bateri Tes Bakat Okupasional yang terdiri atas Tes Bakat Personal-Sosial, Tes Bakat Mekanik, Tes Bakat Niaga, Tes Bakat Klerikal, Tes Bakat Numerikal, dan Tes Bakat Berpikir Ilmiah pada tahun 1979 yang dilakukan oleh Raka Joni dan Djoemadi; validasi dan penormaan tes PM (progressive matrices) dan DAT (Defferential Aptitude Test) dalam tahun 1990 dan 1992 (Munandir, 1995:12). Dalam pengembangan tes PM dan DAT berhasil disusun norma dengan sampel siswa sekolah menengah umum mencakup wilayah tujuh provinsi.

Untuk mendukung program bimbingan dan konseling di sekolah (sekarang profesi konseling) sejak tahun 1995 telah dilakukan beberapa angkatan program sertifikasi tes psikologi bagi konselor pendidikan (yaitu para lulusan program studi BP / PPB / BK) atas kerja sama IPBI (Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia) sekarang berubah menjadi ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia) dengan program Pascasarjana IKIP Malang (sekarang Universitas Malang) dan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah DepdikNas. Melalui usaha-usaha itu diharapkan semakin menguatkan kegiatan pendukung program Bimbingan dan Konseling.

(32)

B. Perkembangan Pengukuran Psikologi

Pengukuran psikologi pada awalnya sangat di pengaruhi oleh ilmu fisiologi dan fisika. Oleh karena itu tidak mengherankan jika pengukuran dalam ilmu ini mempengaruhi juga pengukuran dalam psikologi. Karya-karya tokoh dalam bidang psikofisika umumnya mencari hukum-hukum umum (generalisasi). Baru kemudian, terutama karena pengaruh Galton, gerakan “testing” yang mengutamakan ciri-ciri individual menjadi berkembang.

1. Kontribusi psikofisika

Psikofisika dianggap suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan kuantitatif antara kejadian-kejadian fisik dan kejadian-kejadian psikologis. Dalam arti luas yang dipelajari adalah hubungan antara stimulus dan respon. Seperti telah disebutkan di atas upaya mereka adalah untuk menemukan hukum-hukum umum, seperti misalnya hukum Weber dan Fechner tentang nisbah pertambahan perangsang menimbulkan pertambahan respon (sensasi).

Dalam psikofisika modern, kontribusi Thurstone mengenai “low of comparative judgment” merupakan model yang sangat berharga bagi pengembangan skala-sakala psikologi yang lebih kemudian. Aplikasinya langsung adalah penerapan metode perbandingan-pasangan (paired-comparison).

2 . Kontribusi Francis Galton

Sir Francis Galton adalah seorang ahli biologi yang berminat pada faktor hereditas manusia. Dia meneliti dan ingin mengetahui secara luas kesamaan orang-orang dalam satu keluarga, dan perbedaan orang-orang yang tidak satu keluarga. Untuk itu, dia mendirikan laboratorium antropometri guna melakukan pengukuran ciri-ciri fisiologis, misalnya ketajaman pendengaran, ketajaman penglihatan, kekuatan otot, waktu reaki dan lain-lain fungsi sensorimotor yang sederhana, serta fungsi kinestetik. Galton yakin bahwa ketajaman sensoris bersangkutan dengan kemampuan intelektual orang.

Galton juga merintis penerapan metode “rating” dan kuesioner. Kontribusi Galton yang lain adalah upayanya

(33)

Bab III — Sejarah Tes Psikologi

mengembangkan metode-metode statistik guna menganalisis data mengenai perbedaan-perbedaan individual. Upaya ini dilanjutkan oleh murid-muridnya di antara mereka itu kemudian menjadi sangat terkenal adalah Karl Pearson.

3. Awal Gerakan Testing Psikologi

Orang yang dianggap mempunyai kontribusi penting dalam gerakan testing psikologi adalah seorang ahli psikologi Amerika, James McKeen Cattell. Disertasinya di Universitas Leipzig mengenai perbedaan individual dalam waktu reaksi. Dia sempat kontak dengan Galton sehingga minatnya terhadap perbedaan individual semakin kuat. Dia sependapat dengan Galton bahwa ukuran fungsi intelektual dapat dicapai melalui tes diskriminasi sensoris dan waktu reaksi.

Tes yang dikembangkan di Eropa pada akhir abad XIX cenderung meliputi fungsi yang lebih kompleks. Salah satu contohnya adalah tes Kraepelin. Tes Kraepelin berupa penggunaan operasi-operasi arithmatik yang sederhana dirancang untuk mengukur pengaruh latihan, ingatan dan kerentanan terhadap kelelahan dan distraksi. Awalnya tes kraepelin dirancang untuk mengukur karakteristik pasien-pasien psikiatris. Oehr, mahasiswa kraepelin, menyusun tes persepsi, ingatan, asosiasi dan fungsi motorik guna meneliti interrelasi fungsi-fungsi psikologis seseorang. Ebbinghaus, ahli lain, kemudian mengembangkan tes komputasi aritmatik, luas ingatan, dan melengkapi kalimat.

Binet dan Henri mengajukan kritik terhadap tes yang ada dewasa itu terlalu sensoris, berkonsentrasi pada kemampuan khusus. Mereka menyatakan bahwa dalam pengukuran fungsi-fungsi yang lebih kompleks, presisi kurang perlu karena perbedaan individual dalam fungsi yang lebih besar. Yang perlukan adalah tes yang mengukur fungsi yang lebih luas, seperti ingatan, imajinasi, perhatian, pemahaman, kerentanan terhadap sugesti, apresiasi estetik, dan lain-lain. Gagasan inilah yang akhirnya menuntun dikembangkannya tes Binet, yang kemudian menjadi sangat terkenal.

4. Binet dan tes inteligensi

(34)

menghasilkan skala Binet-Simon. Skala Binet-Simon lebih dikenal dengan nama skala 1905. Skala Binet-Simon pada awalnya untuk mengukur dan mengidentifikasi anak-anak yang terbelakang agar mereka mendapatkan pendidikan yang memadai. Skala ini terdiri dari 30 soal disusun dari yang paling mudah ke yang paling sukar.

Pada skala versi kedua tahun 1908, jumlah soal ditambah jumlahnya. Soal-soal itu dikelompokkan menurut jenajng umur berdasar atas kinerja 300 orang anak normal berumur 3 sampai 13 tahun. Skor seorang anak pada seluruh perangkat tes dapat dinyatakan sebagai jenjang mental (mental level) sesuai dengan umur normal yang setara dengan kinerja anak yang bersangkutan. Dalam berbagai adaptasi dan terjemahan istilah jenjang mental diganti dengan umur mental (mental age), dan istilah inilah yang kemudian menjadi populer sampai sekarang.

Revisi skala ketiga skala Binet-Simon diterbitkan tahun 1911, beberapa bulan setelah Binet meninggal mendadak. Pada tahun 1912, dalam Kongres Psikologi Internasional di Genewa, William Stern, seorang ahli psikologi Jerman, mengusulkan konsep koefisien Inteligensi yaitu IQ = MA/CA. Konsep ini yang dipakai dalam skala Binet yang direvisi di Universitas Stanford, yang terkenal dengan nama Skala Stanford-Binet yang diterbitkan tahun 1916, kemudian revisinya tahun 1937 dan revisi selanjutnya tahun 1960. Skala Stanford-Binet inilah yang selanjutnya diadaptasikan ke dalam berbagai bahasa dan digunakan secara luas dimana-mana. Kecuali itu skalaStanford-Binet juga menjadi model pengembangan berbagai tes inteligensi lain.

5. Testing Kelompok

Tes Binet yang dijelaskan di atas adalah merupakan tes individual, artinya tes yang harus diberikan per orang. Karena kebutuhan yang makin mendesak, maka dikembangkanlah tes kelompok. Hal ini di latar belakangi pada saat perang dunia I, kebutuhan akan tes kelompok ini sangat dibutuhkan untuk tes calon tentara. Maka, komite psikologi yang diketuai Robert M. Yankes, menyusun instrument yang dapat mengklasifikasi

(35)

indi-Bab III — Sejarah Tes Psikologi

vidu tetapi diberikan secara kelompok. Dalam konteks semacam ini, tes intelgensi kelompok yang pertama dikembangkan. Di dalam tugas ini para ahli psikologi militer menghimpun semua tes yang ada, terutama tes inteligensi kelompok karya Otis yang belum dipublikasikan. Tes itu di susun Otis waktu dia menjadi mahasiswa Terman di Stanford. Dalam karya Otis itulah format pilihan ganda dan lain-lain format tes objektif mulai digunakan.

Tes yang dikembangkan oleh ahli psikologi dalam militer itu kemudian terkenal dengan nama Army Alpha dan Army Beta. Setelah perang berakhir maka tes-tes tersebut dilepaskan untuk umum. Dan ini lalu mendorong pengembangan dan penggunaan tes kelompok secara luas. Karena optimisme yang berlebihan, maka penggunaan tes kelompok itu seringkali didasarkan pada sikap naïf, dan ini ternyata merugikan perkembangan testing psikologi.

6. Pengukuran Potensi Intelektual

Tes inteligensi dirancang untuk fungsi-fungsi intelektual yang luas ragamnya guna mengestimasikan taraf intelektual umum individu, namun secara nyata bahwa kemampuan tes inteligensi untuk mengungkap objek yang diukur sangat terbatas. Kebanyakan tes inteligensi terutama mengukur kemampuan verbal, dan dalam kadar lebih sedikit kemampuan menangani relasi-relasi numeric, simbolik dan abstrak. Didalam praktek diperlukan instrument yang dapat mengukur kemampuan-kemampuan khusus, misalnya kemampuan mekanik, kemampuan klerikal, bahkan bakat music. Karena desakan kebutuhan praktis dalam berbagai bidang misalnya dalam bidang bimbingan dan konseling, dalam pemilihan program studi, dalam penempatan karyawan, dalam analisis klinis, dan sebagainya, maka upaya pengembangan tes potensial individu khusus itu harus dilakukan. Pemanfaatan metode analisis faktor mempercepat laju upaya tersebut. Hal lain yang perlu dicatat adalah kontribusi para psikolog militer Amerika selama Perang Dunia II. Kebanyakan penelitian di kalangan militer didasarkan pada analisis faktor dan diarahkan kepada pengembangan

(36)

multiple aptitude test batteries.

7. Tes Hasil Belajar

Pada waktu para ahli psikologi sibuk mengembangkan tes inteligensi dan tes potensial khusus, ujian-ujian tradisional di sekolah-sekolah mengalami perbaikan teknis. Terjadi pergeseran dari bentuk esai ke ujian tes objektif. Pelopor perubahan ini adalah penerbitan The Achievement Test pada tahun 1923. Dengan tes ini dapat dibuat perbandingan beberapa sekolah pada sejumlah mata pelajaran dengan menggunakan satu norma. Karakteristik yang demikian itu merupakan penerapan tes hasil belajar baku yang berlaku sampai sekarang.

8. Tes Proyektif

Pada awal abad XX kelompok psikiater dan psikolog yang berlatar belakang Psikologi Dalam di Eropa berupaya mengembangkan instrument yang dapat digunakan untuk mengungkapkan isi batin yang tidak disadari. Seperti telah diketahui, bahwa dalam Psikologi Dalam (terutama aliran Freudian dan Jungian) ada kelompok proyeksi sebagai salah satu bentuk mekanisme pertahanan. Dalam mekanisme pertahanan individu secara tidak sengaja menempatkan isi batin sendiri pada objek di luar dirinya dan menghayatinya sebagai karakteristik objek yang diluar dirinya itu. Berdasar atas konsep inilah tes proyeksi itu disusun.

Pelopor upaya ini adalah Herman Rorschach, seorang psikiater dari Swiss. Selama 10 tahun (1912 – 1922) Herman Rorschach mencobakan sejumlah besar gambar-gambar tak berstruktur untuk mengungkapkan isi batin tertekan pada pasien-pasiennya. Dari sejumlah besar gambar-gambar tersebut akhirnya dipilih 10 gambar yang dibakukan, dan perangkat inilah yang kemudian terkenal dengan nama Tes Rorschach. Setelah itu sejumlah upaya dilakukan untuk mengembangkan tes proyektif yang lain, dan hasilnya antara lain Holtzman Inkbold Technique, Themaatic Apperception Test, Tes Rumah Pohon dan Orang, Tes Szondi, dan yang sejenisnya.

(37)

Bab IV

PENGUKURAN INTELIGENSI

Tes inteligensi disusun dan dikembangkan dengan harapan mampu memprediksi kemampuan potensial pada aspek kognitif seseorang yang lebih dikenal dengan inteligensi. Tes untuk mengukur inteligensi seseorang kemudian dikenal dengan tes inteligensi. Tes inteligensi yang disusun dan dikembangkan oleh para ahli dan kemudian digunakan dalam praktek pengukuran kecerdasan memiliki beberapa keterbatasan. Keterbatasan tersebut antara lain dapat dilihat validitas, reliabilias, aspek yang diukur, tes tidak sepenuhnya bebas budaya, dan sebagainya. Oleh karena memiliki keterbatasan tersebut maka sebenarnya tes inteligensi tidak mampu mengukur kemampuan secara utuh.

Hasil pengukuran inteligensi dapat menunjukkan kemampuan umum dan kemampuan khusus, tergantung jenis alat ukur yang digunakan. Tidak semua jenis tes inteligensi mampu mengungkap kemampuan khusus seseorang. Hal tersebut terjadi karena setiap jenis tes inteligensi tergantung dari teori yang digunakan untuk menyusun dan mengembangkan tes. Berdasar hal tersebut perlu dikaji terlebih dahulu pengertian dan teori inteligensi, sebelum membicarakan pengukuran inteleigensi.

A. Pengertian Inteligensi

Robert L Solso, M Kimberly Maclin, dan Otto H.Maclin (2005) mengemukakan bahwa membicarakan inteligensi tidak cukup hanya

(38)

menggunakan satu definisi. Berdasar pendapat tersebut berikut ini disajikan beberapa definisi tentang inteligensi.

Inteligensi menurut Terman (dalam Suryabrata, 1997) merupakan kemampuan untuk berpikir abstrak. Wechsler (dalam Japar, 1994) mengemukakan bahwa inteligensi adalah kumpulan atau keseluruhan kapasitas individu untuk melakukan tindakan bertujuan, berpikir secara rasional, dan melakukan hubungan dengan lingkungannya. Inteligensi menurut Binet (dalam Suryabrata, 1997) adalah:

1. kecenderungan untuk menetapkan dan mempertahankan (memperjuangkan) tujuan tertentu,

2. kemampuan untuk mengadakan penyesuaian dengan maksud untuk mencapai tujuan itu, dan

3. kemampuan untuk otokritik, yaitu kemampuan mengkritik diri sendiri, kemampuan untuk belajar dari kesalahan yang telah dibuatnya.

Deaborn (dalam Japar,1994) mengemukakan bahwa inteligensi adalah kemampuan untuk belajar dan menggunakan pengalaman. Definisi yang dikemukakan oleh Deaborn tersebut lebih menekankan pada kondisi individu untuk menggunakan kemampuannya dalam menghadapi lingkungan. Definisi Deaborn berbeda dengan definisi yang dikemukakan Terman, Wechsler, dan Binet.

Definisi Deaborn dan Binet lebih rinci dibanding definisi yang diajukan oleh Terman. Definisi Terman dapat dikatakan bersifat sangat umum. Definisi inteligensi menurut Wechsler tampak lebih rinci, yaitu inteligensi melibatkan tindakan yang bertujuan, berpikir rasional, dan penyesuaian diri terhadap lingkungan.

Perkins dan Smith dalam Robert L.Solso, M.Kimberly Maclin dan Otto H.Maclin, mengkompilasi kemampuan yang menunjukkan inteligensi seseorang, yaitu kemampuan untuk : (1) mengklasifikasi pola-pola, (2) modifikasi penyesuaian perilaku untuk belajar, (3) penalaran secara deduktif, (4) penalaran secara induktif untuk generalisasi, dan (5) untuk mengembangkan dan menggunakan model-model konseptual.

Pendapat Perkins dan Smith tentang kemampuan penalaran deduktif – induktif dan kemampuan mengembangkan serta

(39)

Bab IV — Pengukuran Inteligensi

menggunakan model-model konseptual dapat diklasifikasikan ke dalam berpikir rasional menurut Wechsler.

Berdasar pendapat para ahli tersebut dapat dikemukakan bahwa pengertian inteligensi antara satu ahli dengan ahli lainnya berbeda. Mengenai perbedaan tersebut, Kolesnik seperti yang dikutip oleh Japar (1994), mengemukakan bahwa umumnya apabila seseorang mampu dalam hal yang disebutkan dalam salah satu definisi, maka yang bersangkutan akan mampu pula dalam hal lain yang disebutkan oleh definisi yang lain.

B. Teori-teori Inteligensi

1.) Inteligensi Umum

Spearman dalam Kendra Cherry, mendeskripsikan mengenai konsep inteligensi yang merujuk pada inteligensi umum atau faktor “g”. Hal tersebut dikemukakan setelah melakukan analisis faktor untuk menguji sejumlah tes sikap mental. Selanjutnya disimpulkan bahwa skor-skor tes adalah sama. Individu yang performansinya sangat baik pada satu kognitif tes cenderung performansinya baik pada tes lainnya. Sementara mereka yang skornya jelek pada satu tes cenderung rendah skornya pada aspek yang lain. Spearman menyimpulkan bahwa inteligensi merupakan kemampuan kognitif umum yang dapat diukur dan diujudkan dalam bentuk angka.

2.) Primary Mental Abilities

Thurstone mengajukan teori inteligensi yang berbeda, meskipun memandang inteligensi sebagai kemampuan umum. Teori Thurstone difokuskan pada tujuh primary mental abilities yang berbeda (Kendra Cherry). Kemampuan yang dimaksud adalah : (a) verbal comprehension, (b) reasoning, (c) perceptual speed, (d) numerical ability, (e) word fluency, (f) associative memory, (g) spatial visualization.

3.) Multiple Intelligences

(40)

mengenai inteligensi majemuk. Meskipun memfokuskan pada analisis skor tes, Gardner mengemukakan bahwa ekspresi numerical intelligence seseorang tidak sepenuhnya akurat menggambarkan kemampuan seseorang. Teori Gardner mendeskripsikan delapan inteligensi yang berbeda yang didasarkan pada keterampilan dan kemampuan. Delapan inteligensi digambarkan oleh Gardner adalah sebagai berikut : (a) kecerdasan keruangan, (b) kecerdasan bahasa, (c) kecerdasan kinestetik (d) kecerdasan logika matematika, (e) kecerdasan interpersonal, (f) kecerdasan musik, (g) kecerdasan intrapersonal.

4.) Triarchic Theory of Intelligence

Kemampuan mental mengarah pada tujuan adaptasi, untuk pemilihan dan pembentukan adaptasi terhadap lingkungan nyata yang relevan dengan kehidupan. Sternberg setuju dengan Gardner bahwa inteligensi adalah lebih luas dari faktor tunggal, faktor umum. Sternberg mendukung beberapa inteligensi Gardner, bahwa lebih baik memandangnya sebagai bakat individual. Selanjutnya Sternberg pendapatnya lebih mengarah bahwa inteligensi merupakan kemampuan untuk sukses yang terdiri dari tiga faktor yang berbeda, sebagai berikut : (a) inteligensi analitik: komponen ini merujuk pada kemampuan pemecahan masalah, (b) inteligensi kreatif: aspek ini melibatkan kemampuan berhubungan dengan situasi baru menggunakan pengalaman masa lalu dan keterampilan sekarang, (c) inteligensi praktis: elemen ini merujuk pada kemampuan untuk menyesuaikan terhadap perubahan lingkungan.

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Inteligensi

Faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah:

1. Faktor bawaan atau keturunan

Inteligensi dapat diturunkan dari orang tuannya melalui kromosom. Teori genetika dari mendel memperjelas bahwa inteligensi diturunkan dari orang tua. Setiap orang mempunyai 23 pasang kromosom (Wilerman, 1979). Pasangan suami isteri

(41)

Bab IV — Pengukuran Inteligensi

masing-masing memiliki 23 pasang kromosom dan anak akan mewarisi kecerdasan dari orang tua melalui gen yang diwariskan.

Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang di adopsi. IQ mereka berkorelasi antara 0,40 – 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 – 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mereka tidak pernah saling kenal.

2. Faktor Lingkungan

Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.

D. Sejarah pengukuran inteligensi

Penyusunan tes inteligensi sudah dimulai sejak lama. Menurut Gregory, pada tahun 2200 sebelum Masehi di China dilakukan pengujian layanan masyarakat. Pada tahun 1862 Masehi, Wilhelm Wund menggunakan pendulum untuk mengukur kecepatan berpikir. Francis Galton menyusun batteray pertama untuk 1000 warga negara di pusat kesehatan masyarakat. Pada tahun 1890, James Mekeen Cattel menggunakan istilah mental test dalam penyusunan batteray test galtonian.

Kendra Cherry, mengungkapkan bahwa tes inteligensi yang pertama disusun oleh Alfred Binet. Selanjutnya dikatakan bahwa pada awal tahun 1900, Alfred Binet membantu memecahkan kesukaran belajar di sekolah. Pemerintah meloloskan undang-undang yang mengharuskan seluruh anak-anak di Prancis bersekolah, oleh karena

Gambar

Tabel Formulas for Finding (WL+WH) at three Difficulty levels Percentase of Testee

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian yang diperoleh yakni: (1) perangkat tes keterampilan siswa SMK jurusan Audio-Video dalam menggunakan alat perbengkelan (multimeter untuk mengukur komponen

Dengan alat tes kita hanya dapat membandingkan persamaan dan perbedaan, tetapi dengan alat non tes kita tidak dapat mengambil data tentang in the light (kehidupan batin=

Deskripsi Mata Kuliah : Mata kuliah ini merupakan kegiatan praktikum untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan mahasiswa sebagai calon konselor dalam mempergunakan

Hasil validasi ahli praktisi dengan acuan penilaian berdasarkan indikator kejelasan pembahasan jawaban diperoleh skor 4,00. Hasil tersebut selanjutnya dikonversikan

Untuk mempermudah proses estimasi parameter butir dan indeks ketepatan model, unit analisis pada model yang diuji adalah skor komponen tes yang didapatkan dari rerata

Dalam suatu tes, penilaian didasarkan bahwa jawaban benar diberikan nilai 2, jawaban salah diberikan nilai -1, dan untuk soal yang tidak dijawab diberikan nilai

Jarak yang ditempuh selama lari 12 menit dicatat dalam satuan meter, sebagai hasil akhir peserta tes.. Hasil yang diperoleh dikonversikan pada table

Berdasarkan pemberian nilai bagi setiap jawaban masing-masing responden memiliki peluang memperoleh skor jawaban untuk pemahaman terhadap Adipura minimal 20 memilih semua jawaban