Dampak Tindak Pidana Pornografi Terhadap Tindak Pidana Kesusilaan Lainnya

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1

Novelina MS Hutapea

Staf Pengajar Kopertis Wilayah I Dpk FH USI

Dizaman globalisasi ini, banyak kemudahan-kemudahan yang diperoleh oleh manusia untuk mendapatkan kebutuhannya sebagai dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun komunikasi. Namun ternyata tidak hanya dampak positif yang dihasilkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun komunikasi, namun juga dampak negatif seperti pornografi yang sangat mudah dilihat atau diperoleh melalui berbagai media.

Pornografi sebagai suatu tindak pidana telah diatur dalam Undang-undang Nomor 48 Tahun 2008. Pornografi dapat memicu maraknya terjadi tindak pidana kesusilaan seperti zinah, perkosaan atau perbuatan cabul yang tidak hanya melibatkan orang dewasa tetapi juga anak dibawah umur baik sebagai pelaku maupun korbannya.

Kata Kunci : Pornografi, Tindak Pidana, Kesusilaan.

………..

Pendahuluan

Sejak dahulu kala bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang beradab, berbudaya, ramah tamah dan sangat sopan baik dalam bersikap, bertutur kata maupun berpakaian. Kemajuan zaman tampaknya mulai menggeser nilai-nilai yang sudah sejak lama itu tertanam di dalam kepribadian bangsa Indonesia dan hal itu dapat terlihat dari kebiasaan berperilaku, bertutur kata maupun cara berpakaian sebahagian masyarakat yang sudah mulai kebarat-baratan dan menjadi bahagian dari gaya hidup metropolis. Masalah pornografi pun bagi sebahagian besar masyarakat tidak dianggap sebagai suatu hal yang aneh ataupun tabu lagi.

Pergerseran nilai di dalam masyarakat didukung dengan canggihnya ilmu pengetahuan dan tehnologi di era globalisasi ini. Media massa cetak, media elektronik dan alat komunikasi media dapat dijadikan sebagai

alat atau sarana penyampaian informasi dan pesan-pesan berkaitan dengan pornografi. Tanpa disadari hal ini sebenarnya sangat berbahaya terutama bagi generasi muda. Bukan hanya masalah narkotika saja sebagaimana diakui selama ini yang dapat merusak masa depan generasi muda, akan tetapi masalah pornografi juga sangat berpengaruh terhadap bahayanya rusaknya mental/kepribadian bangsa terutama generasi muda. Berdasarkan hal ini perlu dikaji dampak tindak pidana pornografi terhadap tindak pidana kesusilaan lainnya dan cara menanggulanginya.

Rumusan Masalah

1. Bagaimana dampak tindak pidana pornografi terhadap tindak pidana kesusilaan lainnya?

2. Bagaimana upaya untuk menanggulangi tindak pidana kesusilaan akibat pornografi?

(2)

Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui dampak tindak pidana pornografi terhadap tindak pidana kesusilaan lainnya.

2. Untuk mengetahui upaya menanggulangi tindak pidana kesusilaan akibat pornografi.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif untuk mengumpulkan data sekunder dan penelitian hukum empiris dengan melakukan penelitian di Pengadilan Negeri Pematangsiantar untuk mengumpulkan data primer.

Pembahasan

1. Dampak Tindak Pidana Pornografi Terhadap Tindak Pidana Kesusilaan Lainnya

Pornografi menimbulkan dampak dalam kehidupan masyarakat, bahkan terhadap berbagai segi kehidupan yang meliputi segi agama, etika dan moral, budaya maupun psikologis. Ditinjau dari segi etika atau moral, maka pornografi akan merusak tatanan norma-norma dalam masyarakat, merusak keserasian hidup dalam keluarga dan masyarakat pada umumnya serta merusak nilai-nilai luhur dalam kehidupan manusia seperti nilai kasih, cinta, keadilan dan kejujuran.

Nilai-nilai itu sangat dibutuhkan masyarakat sehingga dapat tercipta dan terjamin hubungan yang sehat dalam masyarakat. Sebab masyarakat yang sakit

dalam nilai-nilai dan norma-norma akan mengalami kemerosotan kultur dan akhirnya akan runtuh. Dengan demikian berarti pornografi menyebabkan rusaknya sendi-sendi serta tatanan keluarga dan masyarakat yang beradab. Timbulah pergaulan bebas, perselingkuhan (perzinahan), kehamilan di luar nikah, aborsi, penyakit kelamin, kekerasan seksual, prilaku seksual yang menyimpang, dan sebagainya.

Selain berdampak dalam etika dan moral, pornografi dapat pula berdampak pada psikologis seseorang. Dampak psikologis ini bisa menjangkiti semua orang dan dapat pula berjangkit menjadi penyakit psikologis yang parah dan yang menjadi ancaman serta dapat membawa malapetaka bagi manusia. Sebagai contoh misalnya: semakin meningkatnya kekerasan seksual dalam rumah tangga, ataupun perkosaan. Perkosaan-perkosaan akibat porngrafi telah banyak dilakukan, meskipun pornografi bukan satu-satunya penyebab terjadinya perkosaan.

Perkosaan akibat pornografi tidak hanya dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai hubungan kekeluargaan dengan korban. Bahkan ada beberapa kasus perkosaan yang dilakukan oleh ayah kandung terhadap anak perempuan kandung (baik balita,anak-anak maupun sudah dewasa), kakek memperkosa cucu kandung yang masih balita, paman memperkosa keponakan perempuan yang masih anak-anak atau remaja, laki-laki remaja memperkosa anak perempuan tetangganya, laki-laki dewasa memperkosa teman wanitanya, supir angkutan umum memperkosa penumpangnya, guru memperkosa muridnya.

(3)

3 Demikian berita/informasi yang sering

didengar dan dilihat di televisi maupun koran-koran.

Masalah perzinahan atau perselingkuhan diantara orang-orang yang salah satu atau keduanya berstatus sebagai suami atau istri yang masih terikat dalam ikatan perkawinan yang sah dengan istinya atau suaminya juga bukan suatu hal yang aneh lagi didengar akhir-akhir ini. Bahkan banyak yang mengangap perbuatan itu sebagai perbuatan yang sudah biasa dilakukan di zaman modern ini dan tidak lagi menganggap perbuatan perselingkuhan atau perzinahan sebagai perbuatan dosa dan memalukan. Perbuatan ini juga besar sekali pengaruhnya akibat pornografi. Pasangan suami atau istri yang terangsang dengan adegan-adegan pornografi tetapi sebaliknya tidak mendapat respon dari suami atau istrinya kemudian mencari jalan untuk melampiaskan hawa nafsunya di luar rumah terhadap pasangan yang dapat memenuhi kebutuhannya tersebut.

Dengan demikian secara psikologis, pornografi membawa dampak terhadap timbulnya sikap dan perilaku anti sosial. Kaum pria menjadi lebih agresif terhadap kaum wanita. Dampak lain yang lebih parah lagi adalah bahwa manusia pada umumnya menjadi kurang tanggap terhadap penderita kekerasan dan tindakan-tindakan perkosaan. Akhirnya pornografi akan menimbulkan dampak yang lebih tinggi pada penggunaan kekerasan sebagai bagian dari seks. Pada akhirnya akibat penyimpangan seks ini, akan timbul berbagai penyakit yang mengerikan bahkan mematikan seperti penyakit kelamin dan HIV atau AIDS.

Dari uraian-uraian di atas tidak dapat dipungkiri bahwa pornografi berperan besar dalam memicu perkembangan berbagai tindak pidana di dalam masyarakat, khususnya tindak pidana kesusilaan yang sangat erat hubungannya dengan masalah seksual. Dengan kata lain bahwa pornografi memicu agresifitas seseorang dalam melakukan kejahatan kesusilaan.

Dampak pornografi juga telah dirasakan masyarakat di pedesaan, sejauh mana media massa cetak dan media massa elektronik dapat menjangkaunya. Dampak ini dirasakan paling mengkhawatirkan terhadap kehidupan dan pola pikir generasi muda yang sesungguhnya adalah para penerus harapan bangsa. Pornografi ini jelas sangat merusak akhlak dan moral, khususnya bagi generasi muda.

Orang yang sudah dewasa jika melihat dan/atau mendengar dan/atau menyentuh benda-benda pornografi akan berbeda dengan orang yang anak-anak atau belum dewasa. Bagi orang yang sudah dewasa, kemungkinan untuk mengendalikan diri dari pornografi masih ada dibandingkan dengan orang yang belum dewasa. Sedangkan orang yang belum dewasa terutama anak-anak yang berusia menjelang remaja dan usia remaja lebih mudah dipengaruhi oleh pornografi baik yang dilihat, didengar ataupun disentuh mereka.

Generasi muda yang sudah menyenangi pornografi akan menjadi ketergantungan sebagaimana halnya orang yang kecanduan narkotika, sehingga cenderung untuk selalu menghayal dari pada melakukan perbuatan positif yang nyata, atau sebaliknya dapat melakukan perbuatan nyata yang negatif dalam

(4)

upaya mewujudkan hasrat seksualnya yang sebenarnya belum pantas dilakukan.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, semakin jelas bahwa pornografi memang membawa dampak yang buruk bagi kehidupan manusia. Pornografi menyebabkan dekadensi moral yang berakibat tidak dihargainya nilai-nilai agama, kesopanandan kesusilaan. Harus ada usaha bersama dari seluruh lapisan masyarakat untuk menanggulangi pornografi, supaya tidak semakin jauh menjerumuskan masyarakat kepada keadaan pengingkaran akan hakikat kita sebagai manusia yang dikaruniakan segala sesuatu oleh Tuhan Yang Maha Kuasa termasuk seksualitas.

Tentang pengaruh pornografi terhadap timbulnya tindak pidana kesusilaan ini dapat diterima dari hasil penelitian di Pengadilan Negeri Pematangsiantar. Dari keterangan terdakwa di sidang pengadilan dapat diketahui bahwa hampir semua perbuatan persetubuhan yang dilakukan terhadap anak di bawah umur baik yang dilakukan dengan cara memaksa ataupun tidak adalah akibat pelaku sebelumnya telah menyaksikan film porno.

Diperoleh pula fakta bahwa tindak pidana kesusilaan yang terjadi di Pematangsiantar, dilihat dari segi korban dan pelakunya adalah:

1. Orang dewasa melakukan perkosaan terhadap anak yang masih di bawah umur. 2. Anak yang sudah remaja melakukan

persetubuhan dengan anak yang masih di bawah umur.

3. Remaja melakukan persetubuhan dengan sesama temannya remaja.

4. Zina.

Penerapan sanksi pidana bagi pelaku kejahatan kesusilaan ini adalah didasarkan pada ketentuan KUHP bila korbannya sudah dewasa sedangkan jika korbannya adalah anak yang masih di bawah umur, sesuai dengan Pasal 1 Butir 1 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak : Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas tahun) termasuk anak yang masih dalam kandungan (dalam tindak pidana kesusilaan ini tentu saja yang dimaksud hanyalah anak yang masih belum berusia 18 tahun saja). Terhadap pelakunya akan dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan undang-undang tersebut.

2. Upaya Penanggulangan Tindak Pidana Kesusilaan Akibat Tindak Pidana Pornografi.

Upaya penanggulangan tindak pidana kesusilaan sebagai akibat pengaruh pornografi tidak terlepas dari upaya penanggulangan terhadap tindak pidana pornografi yang juga merupakan tindak pidana kesusilaan. Hal ini disebabkan orang mengkonsumsi pornografi adalah akibat adanya pornografi yang diproduksi atau dihasilkan oleh pembuat pornografi sebagai pelaku tindak pidana pornografi yang telah diatur dalam Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi sebagai payung hukum untuk menindak secara tegas pelaku tindak pidananya.

Di dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 telah diatur tentang peran Pemerintah, Pemerintah Daerah dan

(5)

5 Masyarakat untuk mencegah pembuatan,

penyebarluasan dan penggunaan pornografi dalam Pasal 17 sampai dengan Pasal 22. Adapun upaya tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Pemerintah

Melakukan pemutusan jaringan pembuatan dan penyebarluasan produk pornografi atau jasa pornografi, termasuk pemblokiran pornografi melalui internet; melakukan pengawasan terhadap pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi; dan melakukan kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak, baik dari dalam maupun dari luar negeri, dalam pencegahan pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi.

2. Pemerintah Daerah

Melakukan pemutusan jaringan pembuatan dan penyebarluasan produk pornografi atau jasa pornografi, termasuk pemblokiran pornografi melalui internet di wilayahnya; melakukan pengawasan terhadap pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi di wilayahnya; melakukan kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak dalam pencegahan pembuatan, penyebar-luasan, dan penggunaan pornografi di wilayahnya; dan mengembangkan sistem komunikasi, informasi, dan edukasi dalam rangka pencegahan pornografi di wilayahnya. Masyarakat dapat berperan serta dalam melakukan pencegahan terhadap pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi. 3. Masyarakat

Melaporkan pelanggaran undang-undang pornografi; melakukan gugatan perwakilan ke pengadilan; melakukan sosialisasi peraturan perundang-undangan yang mengatur pornografi; dan melakukan pembinaan kepada masyarakat terhadap bahaya dan dampak pornografi.

Peran Pemerintah, Pemerintah Daerah dan Masyarakat akan lebih efektif jika didukung peran keluarga dalam upaya mencegah pembuatan, penyebarluasan dan penggunaan pornografi demikian juga guna mencegah tindak pidana kesusilaan akibat pornografi tersebut. Perlu diingat bahwa pelaku tindak pidana kesusilaan akibat pornografi dapat dilakukan oleh siapa saja baik orang yang sudah dewasa ataupun masih anak-anak, demikian juga korbannya.

Banyak ahli yang berpendapat bahwa keluarga atau rumah tangga mempunyai fungsi sebagai sekolah ataupun tempat pendidikan dasar yang pertama dan utama bagi pembentukan kepribadian anak-anak. Setiap orang belum menjadi makhluk sosial sebelum melalui proses belajar dan proses menyesuaikan diri kepada dan dalam kelompok keluarga. Di dalam kelompok keluarga ini lah anak-anak untuk pertama kalinya memasuki pergaulan hidup yang dinamakan dengan pergaulan sosial dengan ayah dan ibu, dengan kakak ataupun adik maupun saudara-saudara yang lain. Semasa ini seorang anak mulai mengembangkan sikap-sikapnya dalam hubungan-hubungan sesama anggota keluarga. Kemudian hubungan ini semakin meningkat atau meluas sampai kepada

(6)

hubungan-hubungan dengan masyarakat lainnya yang berada di luar keluarga.

Perobahan-perobahan atau gangguan-gangguan keseimbangan yang terjadi dalam suatu keluarga menyebabkan ketika dalam suatu keluarga terjadi keretakan maka hal ini sangat berpengaruh pula terhadap atau tingkah laku ataupun temperamen anak. Oleh sebab itu ketahanan diri dan keluarga perlu ditingkatkan dengan membina komunikasi yang baik dalam keluarga.

Anak dan remaja yang memiliki ketahanan diri, adalah produk dari orang tua yang berhasil membangun ketahanan keluarga. Dengan adanya ketahanan keluarga maka anak-anak tidak mudah terpengaruh dengan kondisi-kondisi ataupun pergaulan-pergaulan yang tidak baik yang dialaminya di luar rumah, seperti ajakan teman-teman untuk menyaksikan adegan pornografi.

Beberapa cara dapat ditempuh oleh keluarga untuk mencegah tindak pidana kesusilaan akibat pornografi :

1. Suami dan istri harus menjadi contoh teladan bagi anak-anaknya. Perilaku orang tua harus dijaga, harmonisasi hubungan suami istri harus tetap dipelihara sehingga setiap anggota keluarga tetap merasakan kehangatan kasih sayang.

2. Orang tua harus dekat dengan anak-anak.

3. Sejak dini anak harus dibekali dengan pendidikan/ajaran agama.

4. Membiasakan anak berfikir, memilih dan mengambil keputusan sendiri. Oleh

sebab itu orang tua harus mengenal watak anak-anaknya.

5. Tumbuhkan dan pelihara harga diri dan kepercayaan diri anak. Hal ini berarti orang tua jangan selalu mencurigai anak dan menyudutkan anak terhadap kesalahan ataupun kelemahannya. 6. Anak dibekali dengan pengetahuan dan

keterampilan untuk menjaga diri dan selalu waspada terhadap segala kemungkinan akan bahaya yang mengancam.

7. Tontonan, bacaan, isi telepon genggam anak maupun situs yang diakses anak juga harus diketahui oleh orang tua dengan cara yang bijak sehingga anak tidak merasa hak dan kehidupan pribadinya terlalu dicampuri. Oleh sebab itu orang tua juga harus menguasai teknologi dan informasi.

8. Orang tua perlu memberikan pendidikan seks, agar anak-anak memahami bahaya dan akibat pornografi, dengan demikian anak-anak pun dapat menghindarkan diri dari pornografi.

9. Harus diketahui dengan siapa anak bergaul, kegiatan-kegiatan anak di dalam ataupun di luar rumah.

Dengan pembinaan yang baik dari orang tua yang diperoleh anak dalam rumah tangga maka kepribadian seorang anak akan terbentuk pula dengan baik. Anak akan tumbuh dengan iman yang kuat, pendirian yang teguh, iman yang kuat serta rasa percaya diri yang kuat, sehingga orang tua tidak mengalami kesulitan dalam mengarahkan anak meniti jalan

(7)

7 kehidupan yang aman, karena ia telah memiliki

kemampuan untuk membedakan perbuatan-perbuatan yang baik dan yang buruk sehingga memiliki pula kemampuan untuk menghindari pengaruh-pengaruh buruk seperti pornografi yang dapat merusak pikirannya.

Sedangkan untuk mencegah anak menjadi korban tindak pidana kesusilaan akibat pornografi, setiap orang tua harus memberikan perhatian dan melindungi anak-anaknya dengan baik. Anak-anak di bawah umur sebaiknya tidak dibiarkan bepergian ataupun bermain leluasa tanpa pengawasan yang dilakukan dengan bijak demi kepentingan terbaik bagi anak.

Bagi anak-anak sebagai generasi muda beberapa langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk mencegah menjadi pelaku tindak pidana kesusilaan, misalnya memperkuat rasa percaya diri untuk meraih cita-cita, memahami dampak teknologi pada diri dan masa depan, menentukan sikap untuk melindungi diri dampak negatif media dan teknologi, untuk itu hindari mengkonsumsi segala bentuk pornografi, berkomunikasi dengan orang tua, guru ataupun saudara terdekat jika ada masalah sehingga dapat dicari jalan keluar yang terbaik bagi penyelesaian masalah itu serta memberdayakan setiap potensi yang ada dalam diri untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang positif sehingga pikiran dapat dijauhkan dari pornografi.

Dalam upaya pencegahan ini, aparat kepolisian harus mengadakan bimbingan/ penyuluhan hukum baik kepada masyarakat umum maupun anak/remaja tentang dampak pornografi terhadap tindak pidana kesusilaan.

Dengan penyuluhan/bimbingan yang diberikan ini, maka masyarakat maupun anak/remaja akan memahami arti pornografi dan bahayanya serta dapat menentukan sikap terhadap pornografi tersebut.

Di samping upaya pencegahan, maka harus pula dilakukan upaya penindakan kepada pelaku tindak pidana kesusilaan yang terjadi akibat pornografi yaitu dengan menerapkan hukum pidana melalui suatu proses peradilan pidana. Dengan upaya ini, maka pelaku yang terbukti bersalah harus diberikan sanksi pidana sebagaimana diatur dalam KUHP atau Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002.

Penutup

1. Kesimpulan

Bahwa tindak pidana pornografi dapat memicu terjadi dan berkembangnya tindak pidana kesusilaan lainnya seperti perkosaan, perbuatan cabul atau perzinahan, sebab pikiran dan nafsu seksualias seseorang sangat terpengaruh akibat pornografi dan mendorong agresifitas seseorang untuk melakukan berbagai tindak pidana kesusilaan.

Upaya penanggulangan tindak pidana kesusilaan akibat pornografi dapat dilakukan secara preventif yang harus melibatkan aparat penegak hukum, khususnya kepolisian, pemerintah, masyarakat juga keluarga. Selain itu sebagai jalan terakhir dapat ditempuh jalur hukum untuk mempertanggungjawabkan perbuatan pelaku.

(8)

2. Saran

Perlu dilakukan pengawasan terhadap peredaran pornografi terus dilakukan, meng-ingat pornografi sangat berdampak buruk terhadap pikiran, mental maupun perilaku manusia.

Agar diberikan sanksi yang tegas dan maksimal bagi setiap pelaku tindak pidana pornografi (produsen pornografi) karena tindak pidana kesusilaan akibat pornografi tersebut tidak terlepas akibat perbuatan mereka.

Orang tua harus peduli dan melindungi anak-anak dalam keluarga agar terhindar dari berbagai ragam dampak negatif dari pornografi.

Pustaka

Bungin Burhan, Pornomedia, Prenada Media, Jakarta, 2003.

Djubaedah Neng, Pornografi dan Pornoaksi

Ditinjau Dari Hukum Islam, Prenada

Media, Jakarta, 2009.

Gultom Elisatris, Tipologi Korban, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006.

Manan Abdul, Aspek-aspek Pengubah Hukum, Prenada Media, Jakarta, 2005.

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia,

Kamus Besar Bahasa Indonesia,

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Jakarta, 1988, hlm. 696.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi.

Catatan :

Tulisan ini telah dipublikasi pada Jurnal : Habonaron Do Bona, Edisi 3, Nopember 2012; ISSN : 2085-3424.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :