BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kelelahan Kerja 1. Pengertian
a. Kelelahan
Menurut Suma’mur (2009) kelelahan (fatigue) menunjukkan keadaan tubuh fisik dan mental yang berbeda, tapi semuanya berakibat pada daya kerja dan berkurangnya ketahan tubuh untuk bekerja.
Menurut Grandjen dan Kogi dalam Setyawati (2010) dari sudut Neurofisiologi diungkapkan bahwa kelelahan dipandang sebagai suatu keadaan sistematik syaraf sentral, akibat yang berkepanjangan dan secara fundamental dikontrol oleh aktifitas berlawanan antara sistem aktivitas dan sistem inhibisi pada batang otak.
b. Kelelahan Kerja
Menurut Tarwaka (2010), kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan sementara.
Menurut Cameron dalam Setyawati (2010) kelelahan kerja merupakan kriteria yang lengkap tidak hanya menyangkut kelelahan yang bersifat fisik dan psikis saja tetapi banyak kaitannya dengan adanya penurunan kinerja fisik, adanya
2. Jenis-Jenis Kelelahan
Menurut Suma’mur (2009), ada dua jenis kelelahan :
1) Kelelahan otot yang ditandai dengan tremor dan rasa nyeri yang terdapat pada otot. 2) Kelelahan umum, ditunjukkan dengan hilangnya kemauan untuk bekerja yang
disebabkan oleh karena monotoni, intensitas dan lamanya kerja fisik keadaan lingkungan, sebab-sebab mental, status kesehatan dan keadaan gizi.
Menurut Boediono, Jusuf, Pusparini (2005), jenis-jenis kelelahan umum, disamping kelelahan yang murni merupakan kelelahan otot, beberapa jenis kelelahan fisik secara umum dapat dikelompok sebagai berikut :
a. Kelelahan penglihatan, muncul dari terlalu letihnya mata.
b. Kelelahan seluruh tubuh, sebagai akibat terlampau besarnya beban fisik bagi seluruh organ tubuh.
c. Kelelahan mental, penyebabnya dipicu oleh pekerjaan yang bersifat mental dan intelektual.
d. Kelelahan syaraf, disebabkan oleh terlalu tertekannya salah satu bagian dari sistem psikomotorik.
e. Terlalu monotonnya pekerjaan dan suasana sekitarnya.
f. Kelelahan kronis, sebagai akibat terjadinya akumulasi efek kelelahan pada jangka waktu yang panjang.
g. Kelelahan siklus hidup sebagai bagian dari irama hidup siang dan malam serta pertukaran periode tidur.
Menurut Grandjean dan Kogi (1971) dalam Maurits (2010), berdasarkan waktu terjadinya kelelahan ada dua macam yaitu :
a. Kelelahan akut terutama disebabkan oleh kerja suatu organ atau seluruh tubuh secara berlebihan.
b. Kelelahan kronis adalah terjadi bila kelelahan berlangsung setiap hari dan berkepanjangan.
3. Gejala Kelelahan
Menurut Gilmen dan Cameron dalam Setyawati (2010) menyebutkan bahwa gejala-gejala kelelahan kerja antara lain :
1)Gejala-gejala yang mungkin berakibat pada pekerjaan seperti penurunan kesiagaan dan perhatian, penurunan dan hambatan persepsi, cara berfikir atau perbuatan anti sosial, tidak cocok dengan lingkungan, depresi, kurang tenaga dan kelilangan inisiatif.
2)Gejala umum yang sering menyertai gejala diatas adalah sakit kepala, vertigo, gangguan fungsi paru dan jantung, kehilangan nabsu makan serta gangguan pencernaan. Disamping gejala-gejala diatas terdapat gejala tidak spesifik berupa kecemasan, perubahan tingkah laku, kegelisahan, dan sukar tidur.
Boediono S., Jusuf R.M.S., Pusparini A. (2005), gambaran umum mengenai gejala kelelahan kerja (fatigue symtoms) secara subjektif dan Perasaan lesu, ngantuk dan pusing
1) Tidak/kurang mampu berkonsentrasi
2) Berkurangnya tingkat kewaspadaan
3) Persepsi yang buruk dan lambat
4) Tidak ada/berkurangnya gairah untuk bekerja 5) Menurunnya kinerja jasmani dan rohani
4. Faktor Pencetus Terjadinya Kelelahan
1)Faktor internal yang mempengaruhi terjadinya kelelahan adalah sebagai berikut:
a. Umur
Menurut Wignosoebroto (2008) energi yang mampu dihasilkan oleh seseorang juga dipengaruhi oleh usia, kapasitas maksimum seseorang bekerja pada usia 20 – 30 tahun yaitu 100%. Sedangkan menurut Horrington (2005) dalam Pertiwi (2010)menyatakan bahwa pada usia lebih dari 40 tahun kekuatan fisik biasanya telah menurun dan sehingga kegiatan yang dilakukan juga menurun. Pada usia muda proses-proses didalam tubuh sangat besar dan kemudian menurun secara perlahan menurut umur.
b. Jenis Kelamin
Suatu identitas, laki-laki atau wanita. Pada tenaga kerja wanita akan terjadi siklus biologis setiap bulan di dalam mekanisme tubuhnya, sehingga akan mempengaruhi turunnya kondisi fisik maupun psikisnya. Hal ini akan menyebabkan tingkat kelelahan wanita lebih besar dari pada laki-laki.
c. Masakerja
Masa kerja adalah waktu yang dihitung berdasarkan tahun pertama bekerja hingga saatpenelitian dilakukan dihitung dalam tahun. Semakin lama masa kerja seseorang maka akan semakin tinggi juga tingkat kelelahan, karena semakin lama bekerja menimbulkan perasaan jenuh akibat kerja monoton akan berpengaruh terhadap tingkat kelelahan yang dialami (Setyawati, 2010).
Secara garis besar masa kerja dapat dikategorikan menjadi 3 (Budiono, 2003) yaitu :
a. Masa kerja < 6 tahun. b. Masa kerja 6-10 tahun c. Masa kerja > 10 tahun. d. Kondisi Kesehatan
Kesehatan fisik sangat penting dalam menduduki suatu pekerjaan.Tidak mungkin seseorang dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik jika dalam keadaan sakit (Hasibuan, 2000).
2) Faktor eksternal yang mempengaruhi kelelahan antara lain : a. Beban Kerja
Setiap pekerjaan merupakan beban bagi pelakunya.Beban yang dimaksudnya adalah beban fisik, beban mental atau sosial.Setiap tenaga kerja mempunyai kemampuan tersendiri dalam hubungannya dengan beban kerja.Diantara mereka ada yang lebih cocok dengan beban kerja fisik, mental ataupun sosial (Suma’mur, 2009).
b. Lingkungan Kerja Fisik
Lingkungan kerja fisik yang baik memungkinkan tenaga kerja melihat objek yang dikerjakan itu dengan jelas, cepat dan tanpa upaya yang tidak perlu.Selain itu, penerangan yang memadai memberikan kesan pemandangan yang lebih baik dan keadaan lingkungan yang menyegarkan (Suma’mur, 2009).
Menurut Suma’mur (2009) penerangan yang buruk dapat mengakibatkan :
2) Kelelahan mental/psikis.
3) Keluhan-keluhan pegal di daerah mata dan sakit kepala sekitar mata. 4) Kerusakan mata.
5) Meningkatkan peristiwa kecelakaan. c. Keadaan psikologi
Faktor psikologi memainkan peran besar, karena penyakit dan kelelahan itu dapat timbul dari konflik mental yang terjadi di lingkungan pekerjaan, akhirnya dapat mempengaruhi kondisi fisik pekerja. Masalah psikologi dan sering sakit sangat mudah untuk mengidap suatu bentuk kelelahan kronis dan sangatlah sulit melepaskan keterkaitannya dengan masalah kejiwaan (Budiono, 2003).
d. Monotoni
Suatu kerja yang berhubungan dengan hal yang sama dalam waktu atau periode tertentu dan dalam jangka waktu yang lama dan biasanya dilakukan oleh produksi yang besar. Salah satu efek dari pekerjaan monoton adalah kemunduran dari kapasitas dan produktivitas kerja (Boediono, 2003). 5. Pencegahan Kelelahan Kerja
Pencegahan kelelahan kerja ini terutama ditujukan kepada upaya menekan faktor-faktor yang berpengaruh secara negatif pada kelelahan kerja dan meningkatkan fakor-faktor yang berpengaruh secara positif. Faktor-fakor-faktor yang berpengaruh secara negatif yang perlu ditekan misal adanya strees akut dan strees kronis yaitu dengan tidak menciptakan atau menghindarkan stress buatan manusia. Memilih usia-usia yang berpeluang baik dalam mengendalikan kelelahan kerja. Pemilihan pekerja yang
memiliki semangat kerja yang tinggi, pendidikan yang memadai sesuai jenis pekerjaannya (Maurits, 2010).
Menurut Tarwaka (2010) cara mengatasi kelelahan dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain yaitu :
1) Sesuai dengan kapasitas kerja fisik 2) Sesuai dengan kapasitas kerja mental 3) Redesain stasiun kerja ergonomis 4) Sikap kerja alamiah
5) Kerja lebih dinamis 6) Kerja lebih bervariasi 7) Redesain lingkungan kerja 8) Kebutuhan kalori seimbang
9) Istirahat setiap 2 jam kerja dengan sedikit kudapan 10) Dan lain-lain.
6. Penanggulangan Kelelahan Kerja
Penanggulangan terhadap kelelahan kerja Menurut Tarwaka, 2010 adalah sebagai berikut:
1) Waktu kerja diselingi istirahat pendek dan istirahat untuk makan serta kesehatan umum dijaga dan dimonitor.
2) Pemberian gizi kerja yang memadai sesuai dengan jenis pekerjaan dan beban kerja. 3) Beban kerja berat tidak berlangsung terlalu lama.
4) Tempat tinggal diusahakan sedekat mungkin dengan tempat kerja, kalau perlu bagi tenaga kerja dengan tempat tinggal jauh diusahakan transportasi dari perusahaan.
5) Pembinaan mental secara teratur dan berkala dalam rangka stabilitas kerja dan kehidupannya.
6) Disediakaan fasilitas rekreasi, waktu rekreasi dan istirahat dilaksanakan secara baik. 7) Cuti dan liburan diselenggarakan sebaik-baiknya.
8) Diberikan perhatian khusus pada kelompok tertentu seperti tenaga kerja beda usia, wanita hamil dan menyusui, tenaga baru pindahan .
9) Mengusahakan tenaga kerja bebas alkohol, narkoba dan obat berbahaya (Fitrihana, 2008).
7. Pengukuran Kelelahan Kerja
Menurut Suma’mur (2009) untuk mengetahui atau menilai kelelahan dapat dilakukan pengukuran/pengujian mengenai :
1) Waktu reaksi/reaction timer (reaksi sederhana atas rangsang tunggal atau reaksi kompleks yang memerlukan koordinasi).
2) EEG (Electroencepalhography)
3) Uji flicker fusion
4) Konsentrasi (Pemeriksaan Bourdon Wiersma)
5) Kuisioner (Tarwaka, 2010).
B. Stress kerja a. Definisi Stress
Menurut Morgan dan King (1986) dalam Waloyo (2009) stress adalah keadaan yang bersifat internal, yang biasa disebabkan oleh tuntunan fisik (badan), atau lingkungan, dan situasi sosial yang berpotensi merusak dan tidak terkontrol.
Stres dalam bahasa teknik diartikan sebagai kekuatan dari bagian-bagian tubuh. Stres dalam bahasa biologi dan kedokteran diartikan sebagai proses tubuh untuk beradaptasi terhadap pengaruh luar dan perubahan lingkungan terhadap tubuh. Stres secara umum diartikan sebagai tekanan psikologis yang dapat menimbulkan penyakit baik fisik maupun penyakit jiwa. Stres dapat digambarkan sebagai suatu kekuatan yang dihayati mendesak atau mencekam dan muncul dalam diri seseorang sebagai akibat ia mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri (Tarwaka, 2010).
Stres kerja merupakan suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berfikir dan kondisi seseorang dimana ia terpaksa memberikan tanggapan melebihi kemampuan penyesuaian dirinya terhadap suatu tuntutan eksternal (lingkungan) (Novitasari, 2009).
Stress kerja dapat diartikan sebagai sumber atau stressor kerja yang menyebabkan reaksi individu berupa reaksi psikologis, fisiologis dan perilaku. Seperti yang diungkapkan diatas, lingkungan pekerjaan berpotensi sebagai stressor kerja. Stressor kerja merupakan segala kondisi pekerjaan yang dipersepsikan karyawan sebagai suatu tuntutan dan dapat menimbulkan stress kerja (Waloyo, 2009).
b. Definisi Stres Akibat Kerja
Stres akibat kerja adalah stres yang terjadi karena suatu ketidak mampuan pekerja untuk menghadapi tuntutan tugas yang mengakibatkan ketidaknyamanan dalam kerja. Dalam kaitannya dengan pekerjaan, semua dampak dari stres kerja tersebut akan mengakibatkan menurunnya performansi, efisiensi dan produktivitas kerja tenaga kerja yang bersangkutan (Tarwaka, 2010).
c. Gejala-gejala Stres Kerja
Sebagai hasil dari adanya stress kerja karyawan mengalamibeberapa gejala stress yang dapat mengancam dan mengganggu pelaksanaan kerja mereka, seperti : mudah marah, agresif, tidak dapat santai, emosi yang tidak stabil, sikap tidak mau bekerjasama, perasaan tidak mampu terlibat, dan susah tidur (Novitasari, 2009). Sedangkan gejala stress ditempat kerja, meliputi :
1) Kepuasan kerja rendah,
2) Kinerja yang menurun
3) Semangat dan energi menjadi hilang, 4) Komunikasi tidak lancar,
5) Kurang tepat dalam pengambilan keputusan, 6) Kreaktifitas dan inovasi kurang,
7) Bergulat pada tugas-tugas yang tidak produktif.
Gejala stress kerja dapat berupa tanda-tanda (Gatniwa, 2007), berikut ini :
1) Fisik, yaitu nafas memburuk, mulut dan kerongkongan kering, tangan lembab, merasa panas, otot tegang, pencernaan terganggu, mencret-mencret, sembelit, letih yang tak beralasan, sakit kepala, salah urat, gelisah.
2) Perilaku, yaitu : bingung, cemas, sedih, jengkel, salahpaham, tak berdaya, gelisah, gagal, tidak menarik, tidak mampu berbuat apa-apa, kehilangan semangat, sulit konsentrasi, sulit berfikir jernih, sulit membuat keputusan, hilangnya kreatifitas, hilangnya gairah dalam penampilan, hilangnya minat terhadap orang lain.
3) Watak dan kepribadian, yaitu sikap hati-hati menjadi cermat yang berlebihan, cemas menjadi lekas panic, kurang percaya diri menjadi rawan, penjengkelan yang meledak-ledak.
Gejala individu yang mengalami stres kerja antara lain :
a. Bekerja melewati batas kemampuan.
b. Kelerlambatan masuk kerja yang sering dan ketidakhadiran pekerja. c. Kesulitan membuat keputusan.
d. Kesalahan yang sembrono.
e. Kelalaian menyelesaikan pekerjaan.
f. Lupa akan janji yang telah dibuat dan kegagalan diri sendiri. g. Kesulitan berhubungan dengan orang lain.
h. Kerisauan tentang kesalahan yang dibuat.
i. Menunjukkan gejala fisik seperti pada alat pencernaan, tekanan darah tinggi, radang kulit, radang pernafasan.
d. Faktor resiko Stress
1) Faktor Internal yang mempengaruhi Stress Kerja antara lain :
a. Umur
Secara empiris terbukti bahwa umur menentukan perilaku seorang individu.Umur juga menentukan kemampuan seseorang untuk bekerja. Pada usia muda individu akan lebih relatif mempunyai kemampuan dalam memikul tugas. (Sopiah, 2008).
Suatu identitas seseorang, laki-laki atau wanita. Pada tenaga kerja wanita akan terjadi siklus biologis setiap bulan di dalam mekanisme tubuhnya, sehingga akan mempengaruhi turunnya kondisi fisik maupun psikisnya. Hal ini akan menyebabkan tingkat kelelahan wanita lebih besar daripada laki-laki. c. Massa Kerja
Masa kerja adalah lamanya seorang karyawan menyumbangkan tenaganya pada perusahaan tertentu. Masa kerja dapat mempengaruhi pekerja baik positif maupun negatif. Akan memberikan pengaruh positif bila semakin lama seseorang bekerja maka akan semakin berpengalaman dalam melakukan pekerjaannya. Sebaliknya akan memberikan pengaruh negatif apabila semakin lama bekerja akan semakin menimbulkan kelelahan dan kebosanan (Boediono S., Jusuf R.M.S., Pusparini A., 2003).
2) Faktor Eksternal yang mempengaruhi Stress Kerja antara lain : a. Beban Kerja
Setiap pekerjaan merupakan beban bagi pelakunya.Beban yang dimaksudnya adalah beban fisik, beban mental atau sosial.Setiap tenaga kerja mempunyai kemampuan tersendiri dalam hubungannya dengan beban kerja.Diantara mereka ada yang lebih cocok dengan beban kerja fisik, mental ataupun sosial (Suma’mur, 2009).Bahkan banyak juga dijumpai kasus kelelahan kerja sebagi akibat dari pembebanan kerja yang berlebihan. (Boediono, Jusuf, Pusparini, 2003).
b. Hubungan kerja
Hubungan tidak baik antara karyawan di tempat kerja adalah faktor yang potensial sebagai penyebab terjadinya stress di tempat kerja. Kecurigaan antar pekerja, kurangnya komunikasi, ketidaknyamanan dalam melakukan pekerjaan merupakan tanda-tanda adanya stress akibat kerja (Tarwaka, 2004). c. Lingkungan kerja
Faktor-faktor yang ada di lingkungan kerja seperti kimia, fisik, biologi, fisiologi, serta psikis dapat menjadi beban tambahan akibat kerja (Moeljosoedarmo, 2008).
d. Organisasi kerja
Pengaturan waktu kerja, waktu istirahat, kerja bergilir, kerja malam, sistem pengupahan, sistem kerja, musik kerja, model struktur organisasi, pelimpahan tugas, tanggung jawab dan wewenang dapat mempengaruhi stress kerja (Tarwaka, 2010).
e. Status Gizi
Keadaan gizi yang baik merupakan salah satu ciri kesehatan yang baik, sehingga tenaga kerja yang produktif terwujud. Status gizi yang kurang baik salah satu penyebab kelelahan. Seorang tenaga kerja dengan keadaan gizi yang baik akan memiliki kapasitas kerja dan ketahanan tubuh yang lebih baik, begitu juga sebaliknya. Pada keadaan gizi buruk, dengan beban kerja berat akan mengganggu kerja dan menurunkan efisiensi dan ketahanan tubuh sehingga mudah terjangkit penyakit sehingga mempercepat timbulnya kelelahan.Status gizi seseorang dapat diketahui melalui nilai IMT (Indeks
Massa Tubuh). IMT merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi seseorang khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan.
e. Pencegahan Stres Kerja
Cara-cara mencegah stres akibat kerja secara lebih spesifik (Tarwaka, 2010) yaitu:
1) Redesain tugas-tugas pekerjaan. 2) Redesain lingkungan kerja.
3) Menerapkan waktu kerja yang fleksibel. 4) Menerapkaan manajemen partisipatoris.
5) Melibatkan karyawan dalam pengembangan karier.
6) Menganalisis peraturan kerja dan menetapkan tujuan. 7) Mendukung aktivitas sosial.
8) Membangun tim kerja yang kompak.
Cara pencegahan timbulnya stres di tempat kerja (Rahayu, 2010) yaitu: 1) Faktor promosi kesehatan di tempat kerja.
2) Penyesuaian pekerjaan dengan kemampuan dan kebutuhan.
3) Menaggulangi stres dalam organisasi. 4) Kontrol reaksi stres psikologis.
5) Peranan profesi kesehatan kerja di tempat kerja.
Program pencegahan strees akibat kerja dapat dilaksanakan dengan pendekatan (Roestam, 2003), yaitu :
1) Pemahaman dan pengenalan yang lebih baik tentang kesehatan mental bagi para eksekutif dan profesi kesehatan,
2) Pendekatanorganisasi dalam rangka mewujudkan suasana kerja yang
meminimalkan terjadinya stres kerja,
3) Pendidikan pada karyawan untuk melaksanakan berbagai adaptasi. f. Pengukuran Stress Kerja
Terdapat berbagai alat yang dapat digunakan untuk mengukur stress akibat kerja. Pengukuran tersebut antara lain :
1) Menggunakan Kriteria HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale)
Tingkat stress dapat dikelompokkan dengan menggunakan kriteria
Hamilton Anxiety Ranting Scale (HARS). Unsur yang dinilai antara lain : perasaan
ansietas, ketegangan, ketakutan, gangguan tidur, gangguan kecerdasan, perasaan depresi, gejala somatik, gejala respirasi, gejala kardiovaskuler, gejala respirasi, gejala gastrointestinal, gejala urinaria, gejala otonom, gejala tingkah laku. Unsur yang dinilai dapat mengunakan skoring, dengan ketentuan penilaian sebagai berikut :
a) 0: Tidak ada gejala dari pilihan yang ada b) 1: Satu gejala dari pilihan yang ada
c) 2: Kurang dari separuh dari pilihan yang ada d) 3: separuh atau lebih dari pilihan yang ada e) 4: semua gejala ada
Untuk selanjutnya skor yang dicapai dari masing-masing unsur atau item dijumlahkan sebagai indikasi penilaian derajat strees, dengan ketentuan sebagai berikut :
a) Skor < 14 tidak ada stres b) Skor 14-20 stres ringan c) Skor 21-27 stres sedang d) Skor 28-41 stres berat e) Skor 42-56 stres berat sekali 2) Kuisioner Stressor Individu
Kuisioner ini didesain dengan maksud untuk mengidentifikasi dan mengetahui secara lebih awal kemungkinan penyebab stress (stressor) dilingkungan kerja. Kuisioner ini dapat sebagai petunjuk atau dapat memberikan indikasi, bahwa ditempat kerja adalah telah terjadi stress atau tidak.Kuisioner stressor merupakan kuisioner yang bersifat individu, artinya harus diisi oleh setiap orang yang menadi target.Dengan demikian, kuisioner hanya merupakan metode identifikasi untuk mengetahui munculnya gejala stress ditempat kerja dan bukan menilai tingkat keparahan dari resiko stress akibat kerja (Tarwaka, 2010).
3) Penilaian Indikator Stress Kerja dengan Menggunakan Skoring
Dalam penelitian pengukuran stress kerja menggunakan Kuesioner Penilaian Stress Akibat Kerja dari Health and Safety Executive (HSE) dengan metode skoring. Pengisian kuesioner dilakukan dengan skala likert (tidak pernah, jarang, agak sering, sering, dan selalu) dari 35 daftar pertanyaan.Penempatan skor tergantung dari setiap pertanyaan yang diajukan.Dimana rentang jawaban skoring
dimulai dari “Tidak Pernah” sampai dengan “Selalu”. Selanjutnya setelah selesai melakukan pengisian kuisioner maka langkah selanjutnya adalah menghitung jumlah skor pada masing-masing kolom dari ke-35 pertanyaan yang diajukan dan menjumlahkannya menjadi total skor individu. Berdasarkan desain penilaian stress dengan menggunakan 5 skala likert ini, akan diperoleh skor individu terendah adalah sebesar 35 (tingkat resiko stress sangat tinggi) dan skor individu tertinggi adalah 175 (tingkat stress rendah atau tidak ada indikasi stress( Health and Safety
Executive, 2003) dalam Tarwaka (2010).
Tabel 1. Klasifikasi Tingkat Stress Kerja Berdasarkan Total Skor Individu No Total Skor Stres Individu Tingkat Stres 1 140 – 175 Rendah 2 105 – 139 Sedang 3 70 – 104 Tinggi 4 35 – 69 Sangat Tinggi Sumber : Health and Safety Executive (2003) dalam Tarwaka 2010 C. Hubungan Kelelahan Kerja dengan Stress Kerja
Dalam melangsungkan tugas fisik tubuh dipengaruhi oleh beberapa sistem yang bekerja sendiri-sendiri atau bersama-sama.Sistem tersebut adalah sistem peredaran darah, sistem pencernaan, sistem otot dan syaraf serta sistem pernafasan.Kelelahan dapat sebagai akibat akumulasi asam laktat di otot-otot, disamping zat ini juga berada di aliran darah.Akumulasi asam laktat dapat menyebabkan penurunan otot-otot dan kemungkinan faktor syaraf tepi dan sentral berpengaruh terjadinya kelelahan (Mautris,
Kondisi keadaan fisik yang lelah, pekerjaan yang panjang, pekerjaan jasmani yang berat, waktu istirahat yang kurang, dan jeda waktu serta irama kerja yang tidak ssuai dengan kondisi fisik pekerja.Semua faktor ini bisa membawa pekerja pada kondisi stress kerja. Apabila pekerjaan masih juga diteruskan, sedang kemampuan maksimum tidak mampu mengatasi kelelahan akan timbul kecemasan dan kekawatiran pada pekerja itu sendiri dan juga mengalami keluhan kaku leher dan punggung, otot-otot kepala, dan leher menjadi tegang yang menyebabkan sakit kepala, susah tidur sehingga saat bekerja mudah emosi. Dilihat dari gejala yang muncul, hal tersebut merupakan ciri-ciri kelelahan kerja, yang akhirnya dapat berpengaruh pada stress kerja (Wignjosoebroto, 2003).
Beberapa kasus stress pekerjaan menyimpulkan tiga faktor gejala yang dapat terjadi akibat stress kerja yang dialami oleh individu, yaitu terganggunya kesehatan fisik, kesehatan psikologis, faktor perilaku.Faktor kesehatan psikologi yang meliputi kecemasan, ketegangan, kebingungan, dan mudah tersinggung .Perasaan frustasi, rasa marah, sensitif dan dendam (kebencian).Gejala fisiologis yaitu meningkatnya denyut jantung, tekanan darah, meningkatnya sekrasi hormon stress (contoh adrenalin dan non adrenalin), gangguan gastrointestinal (misalnya gangguan lambung), menunda, menghindari pekerjaan, dan absen dari pekerjaan.Faktor perilaku meliputi menurunnya prestasi dan produktivitas, perilaku sabotase dalam pekerjaan, perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan) sebagai pelampiasan marah keobesitas (Beehr 1999 dalam Novitasari 2009).
D. Kerangka Pemikiran
Gambar 2. Kerangka Pemikiran
Keterangan : - - - = tidak diteliti : = diteliti
E. Hipotesis
Ada hubungan antara kelelahan kerja dengan stress kerja pada pekerja dibagian linting Perusahaan Rokok Gama, Surakarta.
Kelelahan kerja Akumulasi asam laktat
Keluhan kaku otot dan leher
Mudah emosi
Stress kerja Faktor eksternal: 1. Beban kerja 2. Lingkungan Kerja 3. Hubungan kerja 4. Organisasi Kerja 5. Status Gizi Faktor internal : 1. Umur 2. Jenis kelamin 3. Massa Kerja 4. Kondis kesehatan Susah tidur