• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambaran Umum Lokasi Penelitian"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Letak Geografis dan Luas Wilayah

Kabupaten Muna adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara yang secara geografis berada diantara 4o06'–5o15' Lintang Selatan (LS) dan 122o08'–123o15' Bujur Timur (BT). Secara administrasi di sebelah Utara berbatasan dengan Selat Tiworo dan Kabupaten Kendari, sebelah Selatan berbata-san dengan Kabupaten Buton, Sebelah Timur berbataberbata-san dengan Laut Banda dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Buton (Selat Spelman).

Luas wilayah Kabupaten Muna adalah 4.887.00 ha atau 12,8 persen dari luas Propinsi Sulawesi Tenggara. Luas kawasan hutan Kabupaten Muna adalah 235.759 ha (50.2 persen dari luas areal daratan Kabupaten Muna) terdiri dari hutan lindung seluas 46.363 ha, hutan konservasi seluas 82.009 dan hutan produksi seluas 95.431,36 ha.

Kawasan hutan lindung Jompi adalah salah satu kawasan hutan lindung yang masuk dalam wilayah kerja Dinas Kehutanan Kabupaten Muna dan sejak tahun 2004 berubah nama menjadi Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD). Secara geografis kawasan hutan lindung Jompi terletak pada garis lintang 40 45’ 38,18” sampai dengan 40 58’ 18,28” Lintang Selatan (LS) dan 1220 46’ 8,67” Bujur Timur (BT). Secara administrasi kawasan hutan lindung Jompi berada di wilayah Kabupaten Muna yang bersentu-han langsung dengan lima kecamatan yaitu: Kecamatan Batalaiworu, Katobu, Duruka, Kontunaga dan Watupute. Kawasan hutan lindung Jompi memiliki luas ± 1.927 ha atau 4, 2 persen dari luas kawasan hutan lindung di Kabupaten Muna. Dari luas Kawasan hutan lindung Jompi tersebut, ± 1.233 ha atau 64 persen adalah hutan jati alam dan ± 694 ha atau 36 persen adalah hutan campuran. Kawasan hutan lindung Jompi telah mengalami kerusakan yang cukup serius, ± 1.080 ha atau 56,1 persen (seluruhnya hutan jati) sudah rusak dan ± 263 ha atau 13,7 persen terancam rusak dan ± 578 ha atau 30 persen dalam keadaan aman (Dinas Kehutanan Kabupaten Muna, 2005).

63 63

(2)

Iklim dan Topografi

Iklim di wilayah kawasan hutan lindung Jompi adalah iklim tropis dengan suhu rata-rata antara 250C – 270C yang terbagi dalam empat tipe iklim dan memiliki dua musim, yaitu musim kemarau (bulan Nopember sampai Maret) dan musim hujan (bulan April sampai Oktober). Rata-rata curah hujan tahunan wilayah kawasan hutan lindung Jompi sebesar 1.636,2 mm per tahun dengan curah hujan maksimum 268,2 mm terjadi pada bulan Januari dan minimum 10,0 mm terjadi pada bulan Agustus dengan 3 Bulan Kering dan 5 Bulan Basah.

Schmid dan Ferguson mengklasifikasikan iklim di Indonesia berdasarkan nilai Q (Quation index) sebagai perbandingan antara jumlah bulan kering dengan jumlah bulan basah sebagai berikut :

a. 0.000 < Q < 0.143 : tipe A sangat basah b. 0.143 < Q < 0.333 : tipe B basah

c. 0.333 < Q < 0.600 : tipe C agak basah d. 0.600 < Q < 1.000 : tipe D sedang e. 1.000 < Q < 1.670 : tipe E agak kering f. 1.670 < Q < 3.000 : tipe F kering

g. 3.000 < Q < 7.000 : tipe G sangat kering h. Q > 7.000 : tipe H luar biasa kering

Nilai Q dirumuskan oleh Schmidt dan Ferguson sebagai berikut : Q = W/D; W = jumlah bulan kering (3 bulan) dan D = Jumlah bulan basah (5 bulan). Dari hasil perhitungan Nilai Q diperoleh sebesar 60 %. Berdasarkan nilai Q tersebut, maka kawasan hutan lindung Jompi adalah iklim C (agak basah).

Kawasan hutan lindung Jompi pada umumnya merupakan dataran rendah dengan ketinggian di bawah 50 meter dpl. Berdasarkan topografinya maka wilayah kawasan hutan lindung Jompi sangat cocok untuk pertumbuhan jati dan potensial untuk dikembangkan tanaman pangan dan perkebunan. Hardjodarsono (1982) mengatakan bahwa pertumbuhan jati di Indonesia tidak akan baik lagi pada ketinggian lebih dari 700 meter dpl, dengan demikian maka topografi di kawasan hutan lindung Jompi sangat layak untuk ditanami jati dan jenis kayu lainnya.

(3)

Jenis Tanah dan Hidrologi

Jenis tanah di kawasan hutan lindung Jompi cukup beragam, yaitu terdiri dari delapan asosiasi sub-ordo jenis tanah, yaitu Ultic Haplustalfs, Typic Paleustalf (P52); Typic Ustropepts, Typic Paleustalf (P41); Typic Ustropepts,Typic Haplustalf (H23); Typic Ustropepts, Typic Ustorthents, Udic Haplustalfs, Rock Outcrops (H14); Ustic Dystropepts, Typic Haplustalf (T23); Typic Ustropepts, Ustic Dystropepts (H42); Hydric Tropohemists, Sulfic Tropaquepts (B1); dan Rockland, Typic Ustropepts, Typic Ustorthents (C3). Jika dilihat dari asosiasi jenis tanah, maka Kawasan Hutan Lindung Jompi di dominasi asosiasi ordo jenis tanah Inceptisol-Alfisol, Inceptisol-Entisol-Alfisol-Rock, Inceptisol dan Histosol-Inceptisol. (BP-DAS Sampara, 2004).

Wilayah kawasan hutan lindung Jompi dilalui oleh beberapa sungai yaitu: sungai Jompi, Tula dan Labalano yang merupakan sumber mata air bersih bagi penduduk Kota Muna. Sumber mata air yang ada di dalam kawasan hutan lindung Jompi dikenal dengan nama Mata Air Jompi yang merupakan satu-satunya mata air yang merupakan sumber air bersih bagi penduduk Kota Muna saat ini yang kondisinya sudah kritis. Kawasan hutan yang menjadi penyangganya telah rusak akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Debit airnya semakin berkurang seiring berjalannya waktu dan kerusakan hutan di sekitarnya.

Data PDAM Kabupaten Muna menunjukkan bahwa sungai Jompi pada kondisi yang masih baik debit air kurang lebih 300 liter per detik dan pada saat ini dengan kondisi lingkungan kawasan hutan lindung Jompi mulai dirambah sehingga mengalami kerusakan yang cukup signifikan, debit air sungai Jompi turun drastis menjadi 28 liter per detik. Hal ini berarti telah mengalami penurunan debit sungai sebesar sepuluh kali sejak dekade terakhir ini. Indikator yang dapat dirasakan adalah terjadinya fluktuasi air sungai yang besar yakni pada musim kemarau debitnya sebesar 0,028 m3/detik atau 28 liter/detik sedang pada musim hujan terjadi genangan dan banjir yang dirasakan oleh masyarakat di muara sungai Jompi, sungai Tula dan sungai Labalano.

(4)

Berdasarkan data kondisi debit sungai Jompi, sungai Tula dan Labalano pada tahun 2004 bahwa ketersediaan air di Sub-DAS Jompi dapat dinyatakan sudah mulai dirasakan kekurangannya terutama untuk sarana air minum. Hasil pengamatan curah hujan di stasiun klimatologi nampak bahwa periode curah hujan lebih pendek dibandingkan dengan periode musim kemarau. Hasil analisis neraca air menunjukkan bahwa di Sub-DAS Jompi memiliki nilai surplus (kelebihan air) selama 4 bulan yakni bulan Januari dan April sebesar 147,9 mm dan nilai defisit (kekurangan air) selama 6 bulan yakni mulai bulan Mei sampai Oktober sebesar 334,6 mm.

Mata Air Jompi sebagai sumber air bersih penduduk Kota Muna terancam kering. Oleh karena itu, pemerintah, swasta dan masyarakat harus duduk bersama untuk menyatukan pikiran, sikap, dan tindakan dalam rangka menyelamatkan mata air Jompi dari kekeringan. Pemerintah daerah dengan kewenangannya harus menyiapkan program dan prangkat hukum yang berpihak pada pelestarian hutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat sekitar kawasan hutan. Pihak swasta dengan kekuatan ekonominya berpartisipasi dalam program pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan secara berkelanjutan dan memiliki komitmen yang jelas untuk selalu mendukung setiap upaya pelestarian hutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Demikian juga masyarakat dengan segala kemampuan dan potensi yang dimilikinya harus berpikir, bersikap dan bertindak sebagai subyek pembangunan dalam rangka kelestarian hutan dan peningkatan kesejahteraan keluarganya.

Jumlah dan Kepadatan Penduduk

Jumlah penduduk di lima kecamatan sekitar kawasan hutan lindung Jompi berjumlah 64.079 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebesar 30.932 jiwa atau 48,3 persen dan perempuan berjumlah 33.147 jiwa atau 51,7 persen dengan pertumbuhan penduduk sebesar 1,9 persen per tahun.

Kepadatan penduduk menunjukkan banyaknya penduduk pada satu satuan luas wilayah tertentu. Tingkat kepadatan penduduk didasarkan pada dua kriteria

(5)

yaitu tingkat kepadatan geografis dan kepadatan agraris. Kepadatan geografis adalah kepadatan penduduk terhadap luas wilayah secara keseluruhan. Kepadatan agraris adalah tingkat kepadatan penduduk terhadap luas lahan pertanian. Data tentang jumlah dan kepadatan penduduk lima kecamatan sekitar kawasan hutan lindung Jompi lebih rinci disajikan pada Tabel 13.

Tabel 13 Luas wilayah dan kepadatan penduduk kecamatan di sekitar kawasan hutan lindung Jompi

Luas Wilayah (km2) Kepadatan Penduduk (jiwa/km2) No. Kecamatan Jumlah Penduduk

(jiwa) Wilayah Lahan

Pertanian Geografis Agraris

1. Batalaiworu 9.251 227.1 100.9 41 92 2. Katobu 26.741 128.8 11.9 208 2247 3 Duruka 9.945 115.2 61.6 86 161 4. Kontunaga 7.308 422.3 358.5 14 20 5. Watopute 10.834 968.2 369.9 11 29 Jumlah 64.079 1861.6 902.8 34 71

Sumber: Analisis kecamatan dalam angka 2004

Tabel 13 menunjukkan bahwa Kecamatan Katobu dan Kecamatan Duruka merupakan kecamatan terpadat, baik secara geografis maupun agraris dibanding empat kecamatan lainnya. Kondisi ini tidak memungkinkan di Kecamatan Katobu dan Duruka untuk mengembangkan usaha pertanian sebagai tulang punggung sumber penghasilan masyarakat. Pengembangan sektor lain seperti sektor jasa dan perdagangan merupakan alternatif yang mungkin dikembangkan sebagai mata pencaharian utama masyarakat.

Tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi di Kecamatan Katobu, disebabkan oleh karena Kecamatan Katobu merupakan salah satu kecamatan di ibukota kabupaten yang merupakan pusat perkantoran dan perdagangan di Kabupaten Muna. Sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan tentunya mobili-tas masyarakat dan arus migrasi cukup tinggi sehingga pertambahan penduduk akan tinggi pula.

(6)

Gambaran lain tentang tingkat perkembangan penduduk di sekitar kawasan hutan lindung Jompi dapat dilihat dari tingkat kepadatan RT. Secara keseluruhan jumlah RT yang berada di sekitar kawasan hutan lindung Jompi adalah sekitar 12.814RT dengan tingkat kepadatan RT rata-rata 5 jiwa/RT. Data jumlah RT dan tingkat kepadatan RT dapat dilihat pada Tabel 14

Tabel 14 Jumlah rumah tangga (RT) dan tingkat kepadatan RT di kecamatan sekitar kawasan hutan lindung Jompi

No. Kecamatan Jumlah

Penduduk Jumlah RT Tingkat Kepadatan Jiwa/RT 1. Batalaiworu 9.251 1.845 5 2. Katobu 26.741 5.165 5 3 Duruka 9.945 2.081 5 4. Kontunaga 7.308 1.525 5 5 Watopute 10.834 2.198 5 Jumlah 64.079 12.814 5

Sumber: Analisis kecamatan dalam angka 2004

Tingkat kepadatan RT di sekitar kawasan hutan lindung Jompi masih dalam kondisi ideal yaitu rata-rata 5 jiwa per RT atau tiapa RT terdiri dari 3 anak dan ini masih tergolong sebagai keluarga kecil bahagia. Kondisi ini menggam-barkan bahwa program KB sekitar kawasan hutan lindung Jompi berhasil, hal ini diperkuat oleh data keikutsertaan pasangan usia subur dalam program Keluarga Berencana cukup tinggi. Misalnya di Desa Masalili Kecamatan Kontunaga dari 149 Pasangan Usia Subur (PUS) 70,5 persen diantaranya sebagai peserta aktif KB, Kelurahan Wali dari 292 PUS, 63,7 persen sebagai peserta aktif KB.

Angkatan Kerja

Salah satu aspek kependudukan yang penting untuk pembangunan wilayah adalah jumlah angkatan kerja. Ketersediaan tenaga kerja bisa berdampak positif ataupun negatif, tergantung situasi dan kondisi pada saat itu. Tenaga kerja

(7)

yang kurang sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja yang ada akan menyebabkan biaya operasional di lapangan menjadi mahal. Sebaliknya tenaga kerja melebihi ketersediaan lapangan kerja akan menimbulkan pengangguran.

Ketidakseimbangan jumlah tenaga kerja dengan ketersediaan lapangan kerja banyak dijumpai di daerah-daerah pedesaan termasuk. Bagi masyarakat pedesaan yang hidup sekitar kawasan hutan lindung, kurangnya lapangan kerja di luar sektor pertanian merupakan masalah tersendiri. Tingkat pendidikan, penge-tahuan, dan ketrampilan yang kurang memadai serta sarana dan prasarana yang kurang mendukung, terutama akses terhadap sumberdaya produktif, kesehatan dan pasar semakin menambah keterbatasan mereka. Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya adalah dengan memanfaatkan sumber daya hutan yang ada di sekitarnya dan tentu akan berdampak negatif terhadap kelestarian hutan atau lingkungan dalam jangka panjang.

Ethika (Triwibowo 2001) menggolongkan jumlah penduduk berdasarkan produktifitas kerja sebagai berikut:

(1) Golongan tidak produktif: usia muda: ≤14 tahun dan usia tua: ≥ 60 tahun. (2) Golongan produktif: usia 15 – 59 tahun

Berdasarkan penggolongan tersebut, maka komposisi penduduk berdasarkan umur produktifitas kerja disajikan pada Tabel 15.

Tabel 15 Komposisi penduduk berdasarkan golongan umur di kecamatan sekitar kawasan hutan lindung Jompi

Golongan tidak Produktif Gol Produktif

Kecamatan

Usia Muda (≤14th)

Usia Tua

(≥60) Jumlah (15 - 59th)

Jiwa % Jiwa % Jiwa % Jiwa %

Bata Laiworu 3.770 40,75 409 4,42 4.179 45,17 5.072 54,83 Katobu 9.582 35,83 1.084 37,71 10.666 39,89 16.075 60,11 Kontunaga 2.904 39,74 625 8,55 3.529 48,29 3.779 51,71 Dhuruka 3.913 39,35 1.790 18,00 5.703 57,35 4.242 42,65 Watupute 4.298 39,67 677 6,25 4.975 45,92 5.859 54,08

(8)

Jumlah 24.467 38,18 1.714 26,75 29.052 45,34 35.027 54,66 Sumber : Analisis kecamatan dalam angka 2004

Tabel 15 terlihat bahwa sebagian besar (55%) masyarakat sekitar kawasan hutan lindung Jompi merupakan golongan usia produktif (usia 15 – 59 tahun). Kondisi ini mengindikasikan bahwa di sekitar kawasan hutan lindung Jompi mempunyai tenaga kerja yang cukup memadai dan berpotensi meningkatnya tekanan penduduk terhadap hutan. Artinya bahwa jumlah golongan usia produktif yang tinggi dan lapangan kerja terbatas, kebutuhan semakin meningkat, maka mereka akan mencari sumber pendapatan alternatif misalnya memanfaatkan hasil hutan yang ada di sekitar mereka. Oleh karena itu, salah satu upaya yang dilaku-kan untuk mengurangi tedilaku-kanan penduduk terhadap hutan seperti pembaladilaku-kan liar dan perambahan hutan adalah dengan pembukaan lapangan kerja baru.

Pengembangan Pendidikan

Pengembangan pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam pembangunan suatu wilayah termasuk dalam pemberdayaan masyarakat. Tingkat pendidikan akan sangat menentukan kemampuan seseorang dalam memahami dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki termasuk dalam melaksanakan program pembangunan. Selain itu, tingkat pendidikan yang memadai akan mempengaruhi kreativitas seseorang untuk berkarya dan berinovasi dalam memenuhi kebutuhan.

Upaya peningkatan mutu pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang berkualitas. Perhatian Pemerintah Daerah terhadap pengembangan pendidikan dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan mulai dari jumlah gedung sekolah, dan guru. Sarana pendidikan dan tenaga pengajar (guru) yang sudah memadai untuk melayani penduduk di kecamatan yang bersen-tuhan langsung dengan kawasan hutan lindung Jompi akan berdampak pada kualitas sumberdaya manusia. Secara rinci sarana dan prasarana pendidikan di lima kecamatan yang bersentuhan langsung dengan kawasan hutan lindung Jompi disajikan pada Tabel 16.

(9)
(10)

Tabel 16 Jumlah sekolah, guru, dan murid di kecamatan sekitar kawasan hutan lindung Jompi

Kecamatan Tingkat Pendidikan

Jumlah Sekolah (buah) Guru

(orang) Murid (Orang) Rasio Murid/guru Batalaiworu TK 3 10 74 7 SD 7 91 1.069 12 SLTP 1 68 1.078 15 SMU 2 108 1.630 15 13 277 3.851 14 Katobu TK 14 61 463 8 SD 31 472 7.113 15 SLTP 8 165 3.449 21 SMU 10 224 4.577 20 63 919 15.602 17 Duruka TK 5 19 38 2 SD 11 106 1.389 13 SLTP 1 23 222 10 17 148 1.699 11 Kontunaga TK 2 6 57 10 SD 7 52 1.116 21 SLTP 1 18 322 18 10 76 1.505 20 Watupute TK 3 15 80 5 SD 10 88 1.706 19 SLTP 2 47 560 12 MADRASAH 1 11 56 5 SMU 1 22 402 18 18 183 2.804 15

Sumber: Kabupaten Muna dalam angka tahun 2004 setelah dianalisis

Tabel 16 menunjukkan semua kecamatan telah memiliki sarana dan prasarana pendidikan pada semua tingkatan kecuali perguruan tinggi. Rasio tenaga pengajar dengan murid yang tergolong rendah jika dibandingkan standar nasional yaitu 15-30 murid per satu orang guru. Kondisi ini merupakan potensi yang dapat dikelola dengan baik agar tercipta sumberdaya manusia yang berkualitas. Kualitas SDM yang rendah (pengetahuan, ketrampilan, sikap dan moral) akan berdampak terhadap semua aspek pembangunan termasuk proses pemberdayaan dan pemahaman mereka terhadap fungsi dan manfaat serta cara memelihara hutan.

(11)

Pembalakan liar dan perambahan bisa terjadi karena ketidaktahuan masya-rakat atau sikap dan moral masyamasya-rakat yang tidak bertanggung jawab terhadap kepentingan kelestarian hutan dan masyarakat di masa yang akan datang. Oleh karena itu, ke depan kualitas penyelenggaraan pendidikan terus ditingkatkan kompetensi dan tingkat kesejahteraannya serta mempertimbangkan agar materi tentang lingkungan menjadi bagian dari mata ajaran anak Sekolah Dasar dan Menengah secara nasional sehingga pengetahuan masyarakat tentang kelestarian lingkungan diperkenalkan sejak dini.

Keadaan Umum Desa Sampel.

Secara administrasi kawasan hutan lindung Jompi di kelilingi oleh lima kecamatan dengan tiga puluh dua kelurahan/desa. Penelitian ini dilakukan pada kelurahan/desa yang bersentuhan langsung dengan kawasan hutan lindung Jompi dan terletak di bagian hulu DAS Jompi yaitu; Kelurahan Wali, Desa Labaha (Kecamatan Watupute), Desa Bungi, Desa Masalili (Kecamatan Kontu-naga) dan Desa Ghonsume (Kecamatan Duruka). Secara rinci kondisi desa/kelura-han lokasi penelitian adalah sebagai berikut:

Letak Administrasi dan Luas Wilayah

Kelurahan Wali

Berdasarkan sejarah, nama Desa Wali berasal dari singkatan nama orang yaitu ”Watuputih-Bangkali” yang konon kabarnya mereka adik-kakak. Desa Wali mulai terbentuk pada tahun 1971 dan berubah status menjadi Kelurahan Wali tahun 1978. Secara administrasi Kelurahan Wali dibagian Utara berbatasan dengan kawasan hutan lindung Jompi. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Bangkali, Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Labaha, dan sebelah Timur berbatasan dengan kawasan hutan lindung Jompi. Berdasarkan topografinya, Kelurahan Wali sebagian besar wilayahnya (502) ha dataran dan lebihnya 150 ha perbukitan dengan ketinggian tempat 65 meter dpl dan curah hujan rata-rata per tahun 2.000-3.000 mm serta keadaan suhu rata-rata 28oC

(12)

Kelurahan Wali memanjang dari Timur ke Barat mengikuti jalan utama menuju Kecamatan Kusambi. Jarak dengan ibukota kecamatan 0,5 km dan ibukota kabupaten 5 km. Luas wilayah Kelurahan Wali adalah 652 ha yang terdiri dari 189,13 ha untuk ladang/tegalan, 255,16 ha perkebunan rakyat, 349.51 ha hutan asli, 5,50 ha hutan sekunder, 18,16 ha pemukiman, 1,34 ha perkantoran, sekolah, masjid, pasar dan makam, 2,7 ha jalan, 1 ha lapangan sepak bola dan 4.5 ha tanah kritis/padang ilalang.

Desa Labaha

Desa Labaha adalah salah satu desa yang terletak di bagian hulu DAS Jompi yang pada tahun 90-an masih merupakan wilayah Kelurahan Wali. Pada tahun 2000-an terbuka peluang bagi daerah atau kelurahan/desa yang memiliki wilayah yang luas untuk memisahkan, atau memekarkan daerah/kelurahan/desa berdasarkan UU 22 dan 25 tahun 1999. Peluang ini dimanfaatkan oleh masyarakat Labaha yang didukung oleh kelurahan induk untuk membentuk satu desa tersendiri. Pada tahun 2000 usaha dan kerjasama dari seluruh komponen masya-rakat yang didukung oleh kelurahan induk, maka Desa Labaha terbentuk sebagai salah satu desa yang ada di wilayah Kecamatan Watupute.

Secara administrasi Desa Labaha dibagian Utara berbatasan dengan Kelurahan Wali. Sebelah Barat dengan Desa Dana, Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Bungi, dan sebelah timur berbatasan dengan kawasan hutan lindung Jompi dan merupakan bagian hulu DAS Jompi. Sistem pemukiman Desa Labaha memanjang dari Utara ke Selatan mengikuti jalan utama ke arah Buton. Jarak dengan ibukota kecamatan 1 km, ibukota kabupaten 7 km.

Desa Labaha dengan luas wilayah 510 ha yang terdiri dari 328 ha perkebunan rakyat, 117 ha hutan asli, 56,75 ha pemukiman, 4,79 ha perkantoran, sekolah, masjid, pasar dan makam dan 3,38 ha jalan. Berdasarkan topografinya Desa Labaha sebagian besar wilayah atau 396 ha dataran dan lebihnya 114 ha perbukitan dengan ketinggian tempat 75 m dari permukaan laut dan curah hujan rata-rata per tahun 2.000-3.000 mm serta keadaan suhu rata-rata 28oC.

(13)

Desa Bungi

Nama Bungi diambil dari nama sebuah tempat yang pada zaman penjaja-han Belanda terkenal dengan wilayah atau tempat “bungi.” Wilayah atau tempat

bungi memiliki arti sebagai wilayah atau tempat yang bebas pajak dan dikelola oleh Kepala Kampung. Pada pertengahan tahun 40-an Jepang masuk di Pulau Muna Kampung Bungi di hapus dan mulai dikenai pajak.

Desa Bungi adalah salah satu desa tua yang ada di Kecamatan Kontunaga. Secara administrasi Desa Bungi terletak di dataran Pulau Muna dengan batas-batas sebagai berikut; sebelah Utara berbatas-batasan dengan Kelurahan Wali dan Bangkali, sebelah Barat berbatasan dengan Desa Lapodidi, sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Mabodo dan Kontunaga, sebelah Timur berbatasan dengan Desa Labaha dan Mabodo. Desa Bungi dengan ibukota kecamatan berja-rak 2,5 km dan dengan ibukota kabupaten berjaberja-rak 9 km.

Luas wilayah Desa Masalili adalah 1.389 ha yang terdiri dari 234 ha tegalan/ladang, 407 ha perkebunan rakyat, 303 ha hutan asli, 343.25 hutan sekun-der, 35 ha tanah kritis/tandus dan padang ilalang, 57.75 ha pemukiman, 3 ha perkantoran, sekolah, masjid, pasar, dan makam, 1ha lapangan sepak bola dan 6 ha jalan. Berdasarkan topografinya Desa Bungi sebagian besar wilayahnya atau 739 ha dataran dan lebihnya 650 ha perbukitan dengan ketinggian tempat 50 m dari permukaan laut dan curah hujan rata-rata per tahun 2.000-2.500 mm serta keadaan suhu rata-rata 26oC.

Desa Masalili

Desa Masalili merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Kontunaga yang bersentuhan langsung dengan dengan kawasan hutan lindung Jompi yang terletak dibagian tengah DAS Jompi. Secara administrasi Desa Masalili terletak di dataran Pulau Muna dengan batas-batas sebagai berikut; sebelah Utara berbatasan dengan kawasan hutan lindung Jompi, sebelah Barat berbatasan dengan Desa Mabodo, sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Liangkobori.

(14)

Luas wilayah Desa Masalili adalah 775 ha yang terdiri dari 258 ha tegalan/ladang, 126 ha perkebunan rakyat, 230 ha hutan asli, 110 hutan sekunder, 25 ha tanah kritis/tandus, 17,5 ha pemukiman, 3,13 ha perkantoran, sekolah, masjid, pasar, 1 ha lapangan sepak bola dan makam dan 5,4 ha jalan. Berdasarkan topografinya Desa Masalili terdiri dari 549 ha dataran dan lebihnya 246 ha perbukitan dengan ketinggian tempat 100 m dari permukaan laut dan curah hujan rata-rata per tahun 2.000-3.000 mm serta keadaan suhu rata-rata 28oC.

Desa Ghonsume

Desa Ghonsume adalah desa hasil pemekaran dari Kelurahan Palangga. Pembentukan desa Ghonsume melalui cerita dan perjuangan yang panjang. Ghonsume menurut cerita secara turun temurun merupakan perkampungan terisolir yang penduduknya kurang dari 30 KK di zaman pemerintahan Bone (Parintah Bone). Kampung Ghonsume juga dikenal sebagai tempat pelarian bagi orang-orang yang tidak mau tunduk pada perintah Belanda. Nama Ghonsume diambil dari nama pohon yaitu pohon koghonsumeno yang diyakini memiliki kekuatan dan bernilai sakral. Penduduk Kampung Ghonsume mulai bertambah dengan adanya pendatang baru dari Kampung Kasaka dan Kampung Lawa (Zaman Belanda). Kemudian penduduknya semakin bertambah setelah tahun 1971 Kampung Ghonsume menerima tambahan penduduk dari kegiatan Restlemen Desa yang berasal dari Kampung Lalemba. Seiring dengan perjalanan waktu maka pada tahun 1997, kampung Ghonsume mulai dipersiapkan sebagai desa defenitif dan pada tahun 1998 kampung Ghonsume resmi berdiri sebagai salah satu desa defenitif di wilayah Kecamatan Duruka saat ini.

Secara adminitrasi Desa Ghonsume terletak di dataran Pulau Muna dengan batas-batas sebagai berikut; sebelah Utara berbatasan dengan kawasan hutan lindung Jompi dan Kelurahan Palangga serta terletak dibagian tengah DAS Jompi, sebelah barat berbatasan dengan kawasan hutan lindung Jompi, sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Bolo dan Kondongia, dan sebalah Timur berbatasan dengan Desa Wapunto. Luas wilayah Desa Ghonsume adalah 218 ha yang terdiri

(15)

dari 26.78 ha tegalan/ladang, 60 ha perkebunan rakyat, 40 ha tanah kritis/tandus, 33,71 padang ilalang, 45 ha pemukiman, 2,01 ha perkantoran, sekolah, masjid, pasar, dan makam dan 10,50 ha jalan. Berdasarkan topografinya Desa Ghonsume sebagian besar wilayahnya atau 118 ha dataran dan lebihnya 100 ha perbukitan dengan ketinggian tempat 200 m dari permukaan laut dan curah hujan rata-rata per tahun 2.000-3.000 mm. .

Jumlah dan Kepadatan Penduduk

Jumlah dan kepadatan penduduk salah satu hal penting yang perlu diperhatikan, terutama berkaitan dengan pengembangan wilayah. Desa-desa yang merupakan desa sampel penelitian adalah desa-desa yang bersentuhan langsung dengan kawasan hutan lindung Jompi. Jumlah dan kepadatan penduduk desa sampel secara rinci disajikan pada Tabel 17.

Tabel 17 Persebaran dan tingkat kepadatan penduduk di Kelurahan/desa sampel Luas (km2) Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk Kelurahan/

Desa Wilayah Lahan Pertanian (Jiwa) (KK) Geografis (jiwa/km2) Agraris (jiwa/km2) Wali 65.2 40.3 2128 557 33 53 Labaha 51.0 32.8 826 179 16 25 Bungi 138.9 104.6 1550 380 11 15 Masalili 77.5 49.7 1145 270 15 23 Ghonsume 21.8 15.7 2006 292 92 128 Jumlah 354.4 243.1 7655 1679 22 32

Sumber: Hasil analisis profil desa tahun 2004

Tabel 17 menunjukkan bahwa persebaran dan tingkat kepadatan penduduk di sekitar kawasan hutan lindung Jompi bagian hulu DAS Jompi sangat tidak merata. Jumlah penduduk di sekitar kawasan hutan lindung Jompi bagian hulu DAS Jompi tahun 2004 mencapai 3544 jiwa dengan kepadatan penduduk secara geografis 22 jiwa/km2 dan secara agraris 32 jiwa/km2. Meskipun rata-rata

(16)

tingkat kepadatan penduduk masih relatif kecil namun ada beberapa desa yang tingkat kepadatannya relatif tinggi seperti Kelurahan wali dan Desa Ghonsume, terutama pada kepadatan agraris.

Desa Ghonsume merupakan desa dibagian tengah DAS Jompi yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung yang memiliki tingkat kepadatan penduduk secara geografis dan kepadatan agraris yang cukup tinggi dibanding desa sampel lainnya. Kepadatan agraris ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Ghonsume yang memiliki lahan pertanian yang sempit dikelola oleh 80 persen penduduk yang bermatapencaharian sebagai petani. Kepadatan agraris yang tinggi untuk pertanian lahan kering dengan kondisi tanah kurang subur tentunya masyarakat akan merasa kesulitan untuk mencukupi kebutuhannya dengan hasil pertanian yang mereka usahakan.

Kondisi kepemilikan lahan pertanian di bagian hulu DAS Jompi dan berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung Jompi seperti yang terlihat pada Tabel 17 akan memungkinkan masyarakat melakukan perluasan lahan pertanian kearah kawasan hutan lindung. Jika hal ini yang terjadi maka kerusakan hutan lindung tidak terhindarkan, seperti yang terjadi saat ini yaitu masyarakat mulai merambah dan membuka lahan pertanian di kawasan hutan lindung.

Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam pem-bangunan wilayah terutama pempem-bangunan sumberdaya manusia yang berkualitas. Tingkat pendidikan akan sangat menentukan kemampuan seseorang dalam hal memahami dan melaksanakan program-program pembangunan yang berarti pula akan berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan pelaksanaan suatu program. Selain itu, tingkat pendidikan dapat mempengaruhi kreativitas seseorang untuk berkarya dalam kehidupannya sehari-hari serta dapat mempengaruhi berkem-bangnya kesempatan kerja di bidang non pertanian. Tingkat pendidikan penduduk desa sampel secara rinci disajikan pada Tabel 18.

(17)

Tabel 18 Komposisi penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Kelurahan/desa sampel

Tingkat Pendidikan Penduduk Buta Aksara Blm Tamat

SD

Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA

Tamat PT Kelurahan/

Desa

Jiwa (%) Jiwa (%) Jiwa (%) Jiwa (%) Jiwa (%) Jiwa (%) Wali 277 13,02 863 40,55 415 19,50 475 22,32 46 2,16 52 2,44 Labaha 52 6,30 306 37,05 76 9,20 346 41,89 38 4,60 8 1,00 Bungi - - 839 54,13 306 19,74 287 18,52 89 5,74 16 1,03 Masalili - - 669 58,43 263 23,00 186 16,24 40 2,58 - - Ghonsume 53 2,64 1353 67,45 463 23,08 65 3,24 70 3,49 2 0,01 Jumlah 382 5,00 4030 52,65 1515 19,79 1359 17,75 283 3,70 78 0,10

Sumber : Hasil analisis profil desa tahun 2004

Tabel 18 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan penduduk sekitar kawasan hutan lindung Jompi yang bermukim di bagian hulu DAS Jompi seperti Desa Ghonsume, Masalili dan Bungi masyarakat yang belum tamat SD masih di atas 50 persen. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan penduduk yang bermukim di hulu DAS Jompi dan berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung Jompi masih tergolong rendah. Kondisi ini perlu perhatian dan penangan-an ypenangan-ang serius agar kualitas sumberdaya mpenangan-anusia sekitar kawaspenangan-an hutpenangan-an lindung Jompi meningkat dari kondisi sekarang.

Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat sekitar kawasan hutan lindung Jompi oleh rendahnya tingkat pendidikan masyarakat adalah motivasi dan kemampuan ekonomi masyarakat yang rendah. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat merupakan hal penting untuk dilakukan, misalnya pembukaan lapangan kerja, menumbuhkan jiwa wirausaha, bantuan modal dan sebagainya.

Mata Pencaharian

Mata pencaharian penduduk di desa sampel dapat digolongkan dalam enam macam, yaitu : pertanian (petani dan nelayan), PNS/TNI/POLRI, Pedagang, Tukang/pengrajin, Buruh/ojek/sopir, dan lainnya. Banyaknya KK di desa sampel menurut mata pencaharian disajikan pada Tabel 19.

(18)

Tabel 19 Komposisi penduduk berdasarkan jenis matapencaharian di Kelurahan/desa sampel

Jenis Matapencaharian Penduduk Petani/ Nelayan PNS/TNI-POLRI Pedangan Tukang/ pengrajin Buruh/Ojek / Supir Lainnya Kelurahan/ Desa (KK) (%) (KK) (%) (KK) (%) (KK) (%) (KK) (%) (KK) (%) Wali 294 52,78 191 34,29 22 3,95 37 6,65 11 1,97 2 0,36 Labaha 102 56,98 28 15,64 12 6,70 14 7,82 19 10,61 4 2,23 Bungi 291 76,58 25 6,58 20 5,26 17 4,47 17 4,47 10 2,63 Masalili 124 45,93 25 9,56 19 7,04 72 26,67 23 8,52 7 2,59 Ghonsume 170 58,22 16 5,48 60 20,55 31 10,62 9 3,08 6 2,05 Jumlah 981 58,46 285 16,98 133 7,93 171 10,19 79 4,71 29 1,73

Sumber : Hasil analisis profil desa tahun 2004

Tabel 19 menunjukkan bahwa sebagian besar (58.46 persen) penduduk desa sampel bermatapencaharian sebagai petani, terutama di Desa Bungi. Sistem pertanian yang digunakan masih tergolong sistem pertanian tradisional atau belum menggunakan teknologi modern. Sebagian besar usahatani yang dilakukan masyarakat adalah usahatani tanaman pangan dan perkebunan, seperti: jagung, kacang-kacangan, padi ladang, kelapa, coklat, jambu mete dan sebagainya. Selain berpetani, mata pencaharian penduduk terbesar lainnya adalah sebagai PNS/TNI-POLRI. Hal ini disebabkan karena desa-desa tersebut masih dekat dengan ibukota kabupaten sebagai pusat pemerintahan, sehingga kebanyakan PNS tersebar di desa-desa yang tidak jauh dari kota.

Angkatan Kerja

Salah satu aspek kependudukan yang penting untuk pembangunan wilayah adalah jumlah angkatan kerja yang berkualitas. Ketersediaan tenaga kerja yang berkualitas diharapkan berdampak positif terhadap pembangunan. Tenaga kerja yang kurang dibandingkan dengan ketersediaan lapangan kerja akan menimbulkan pengangguran. Oleh karena itu, keseimbangan antara jumlah tenaga kerja yang berkualitas dengan ketersediaan lapangan kerja menjadi sangat penting untuk berhasilnya pembangunan di suatu wilayah.

(19)

Ketidakseimbangan antara jumlah tenaga kerja dan ketersediaan lapangan mengakibatkan kawasan hutan lindung Jompi menjadi sasaran masyarakat untuk mencari pengahasilan tambahan dalam mempertahankan dan meningkatkan taraf hidup keluarga. Pemanfaatan sumber daya hutan yang ada di sekitarnya yang dilakukan secara illegal dalam bentuk perambahan maupun penebangan kayu secara liar. Pada akhirnya, kegiatan seperti ini akan berdampak negatif terhadap kelestarian hutan atau lingkungan.

Jumlah dan komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin yang berada di sekitar kawasan hutan lindung Jompi dapat dilihat pada Tabel 20. Ethika (Triwibowo 2001) menggolongkan jumlah penduduk berdasarkan produk-tifitas kerja sebagai berikut:

(1). Golongan tidak produktif terdiri dari Usia muda: 0 – 14 tahun dan Usia tua: 60 tahun ke atas

(2) Golongan produktif: usia 15 – 59 tahun

Berdasarkan penggolongan tersebut, maka komposisi penduduk di desa sampel disajikan pada Tabel 20.

Tabel 20 Komposisi penduduk berdasarkan golongan umur di Kelurahan/desa sampel

Golongan tidak Produktif Gol Produktif

Kelurahan/

Desa Usia Muda (0-14th) Usia Tua (60-up) Jumlah (15 - 59th)

Jiwa % Jiwa % Jiwa % Jiwa %

Wali 756 35,35 137 6,44 893 41,96 1228 57,71 Labaha 276 33,41 42 5,08 318 38,50 508 61,50 Bungi 678 43,74 119 7,68 797 51,42 753 48,58 Masalili 599 52,31 76 6,64 675 58,95 406 35,46 Ghonsume 942 46,96 176 8,77 1118 55,73 748 37,29 Jumlah 3251 42,47 550 7,18 3801 49,65 3643 47,59

Sumber : Hasil analisis profil desa tahun 2004

Tabel 20 terlihat bahwa di Kelurahan Wali memiliki jumlah penduduk golongan produktif terbesar dibanding desa-desa sampel lainnya. Jumlah usia non produktif yang jumlahnya lebih besar dari jumlah kelompok umur produktif

(20)

mengakibatkan beban tanggungan yang berat bagi kepala keluarga, sehingga masyarakat usia produktif harus tekun, ulet dan kreatif agar memenuhi kebutuhan keluarganya. Kondisi lapangan kerja di sekitar kawasan hutan lindung Jompi, terutama yang pada daerah atau desa-desa yang berada di bagian hulu DAS Jompi yang dominan pada sektor pertanian, sehingga masyarakat berpeluang untuk melakukan perambahan kawasan hutan menjadi lahan pertanian.

Kelestarian kawasan hutan lindung Jompi adalah penting, tetapi tingkat kesejahteraan masyarakat juga perlu diperhatikan. Oleh karena itu, perlu mencari alternatif model-model pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan dengan memanfaatkan potensi lokal serta memperhatikan kelestarian lingkungan. Pemerintah perlu merubah pola pemberdayaan yang telah dan sedang dilakukan saat ini yang berorientasi pada pencapaian target semata tanpa memperhatikan keberlanjutan program. Program sebaik apapun, jika tidak dilakukan berdasarkan potensi dan kebutuhan prioritas masyarakat sasaran, maka program tersebut tidak akan terjamin keberlanjutannya.

Tata Guna Lahan

Bagi masyarakat agraris, lahan merupakan modal utama untuk berproduksi. Luas lahan dan kesuburan tanah sangat menentukan tingkat pendapatan petani. Penggunaan lahan di sekitar kawasan hutan lindung Jompi yang bermukim dibagian hulu DAS Jompi disajikan pada Tabel 21.

Tabel 21 menunjukkan bahwa pola penggunaan lahan di sekitar kawasan hutan lindung Jompi di bagian hulu DAS Jompi semuanya dalam bentuk pertanian lahan kering, yaitu ladang/tegal, pekarangan, dan perkebunan rakyat. Rasio kepemilikan lahan pertanian ke lima desa sampel adalah berkisar 2.78 ha/jiwa atau 0.61 ha/KK. Angka ini menunjukkan bahwa luas kepemilikan lahan per jiwa di desa sekitar kawasan hutan lindung Jompi yang terletak dibagian hulu DAS Jompi sudah berada pada ambang batas normal (1ha/kk). Sistem pertanian lahan kering yang dilakukan oleh masyarakat saat ini dengan luas 0,6 ha/jiwa tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari, sehingga masyarakat mencari alternatif

(21)

matapencaharian lain, seperti: buruh pelabuhan, ojek, tukang kayu/batu dan lain sebagainya. Oleh karena itu, ke depan pemerintah bersama-sama swasta dan masyarakat mulai memikirkan sistem pertanian modern dan pembukaan lapangan kerja baru, jika tidak maka pemanfaatan hasil hutan akan menjadi alternatif dalam mencukupi kebutuhan masyarakat.

Tabel 21 Pola penggunaan lahan penduduk di Kelurahan/desa sampel.

Pola Penggunaan Lahan Penduduk

Wali Labaha Bungi Masalili Ghonsume Total

Kelurahan/ Desa ha (%) ha (%) ha (%) ha (%) ha (%) ha (%) Ladang/tegalan 189.13 30.3 - - 234 16.9 258 33.3 26.8 12.3 708 25.7 Perkebunan rakyat 255.16 40.8 328 64.3 407 29.3 126 16.3 60 27.5 1176 42.7 Hutan Asli 149.51 23.9 117 23 303 21.8 230 29.7 - - 100 3.6 Hutan Sekunder 5.5 0.9 - - 343.3 24.7 110 14.2 - - 459 16.7 Padang Rumput - - - 33.71 15.5 34 1.2 Pekarangan/ pemukiman 18.16 2.9 56.8 11.1 57.8 4.2 17.5 2.3 45 20.6 195 7.1 Bangunan pemerintah 1.34 0.2 4.79 1.0 3 0.2 3.13 0.4 2.01 0.9 14 0.5 Jalan 2.7 0.4 3.38 0.7 6 0.4 5.4 0.7 10.5 4.8 28 1.0 Tanah Tandus 3.5 0. 6 - 35 2.5 25 3.2 40 18.4 40 1.5 Jumlah 625 100 510 100 1389 100 775 100 218 100 2754 100

Sumber : Hasil analisis profil desa tahun 2004

Pola Usaha Tani

Desa-desa sekitar kawasan hutan lindung Jompi yang terletak dibagian hulu DAS Jompi merupakan desa yang tingkat pertumbuhan penduduknya cukup tinggi (1,9%/th). Tingkat pertumbuhan penduduk seperti ini merupakan suatu petunjuk bahwa desa-desa tersebut merupakan desa yang sedang berkembang. Sejalan dengan itu, maka kebutuhan masyarakat akan semakin beragam termasuk kebutuhan akan lahan pertanian, perkebunan dan pemukiman penduduk, pangan, kayu bakar dan kayu pertukangan.

(22)

Sebagian besar (58%) penduduk sekitar sekitar kawasan hutan lindung Jompi yang terletak dibagian hulu DAS Jompi kehidupannya masih bergantung pada sektor pertanian. Petani yang dimaksud adalah petani pemilik lahan. Masya-rakat biasanya melakukan penanaman dan pemanenan hasil pertanian dan perkebunan pada dua musim, yaitu musim hujan dan kemarau. Jenis tanaman yang dipanen sangat beragam seperti tanaman padi ladang, jagung, ubi-ubian, kacang-kacangan, coklat, jambu mete dan lain-lain.

Peternakan rakyat merupakan salah satu mata pencaharian bagi masya-rakat. Ternak memiliki banyak manfaat, seperti untuk mengolah lahan pertanian, penghasil pupuk kandang, maupun sebagai tabungan yang sewaktu-waktu dapat dijual apabila ada kebutuhan yang mendesak.

Bagi masyarakat tani sekitar kawasan hutan lindung Jompi, ternak yang dimiliki lebih bersifat sebagai tabungan. Jenis-jenis ternak yang dipelihara secara tradisional oleh petani sekitar kawasan hutan lindung Jompi yang terletak dibagian hulu DAS Jompi adalah kerbau, sapi, kambing dan unggas. Jumlah ternak di desa sampel disajikan pada Tabel 22.

Tabel 22 Populasi Jenis ternak penduduk di Kelurahan/desa sampel. Desa Lokasi Penelitian

Jenis Ternak

Wali Labaha Bungi Masalili Ghonsume Total

Kuda - - 1 - - 1

Sapi 30 32 15 4 7 88

Kambing 20 - 72 - 24 116

Ayam 315 2500 72.000 1235 1554 5676

Itik/bebek 13 - 10 - - 23

Sumber : Hasil analisis profil desa tahun 2004

Jenis-jenis ternak yang memerlukan Hijauan Makanan Ternak (HMT) di sekitar kawasan hutan lindung Jompi adalah sapi dan kambing. Tabel 22 menunjukkan bahwa populasi ternak yang membutuhkan HMT terbesar adalah sapi. Semua jenis ternak tersebut dikelola secara tradisional.

(23)

Bagi masyarakat pedesaan, peternakan rakyat mempunyai arti yang sangat penting dalam mendukung perekonomiannya. Namun bagi masyarakat kehutanan, hal itu akan dapat menimbulkan gangguan karena ternak dapat merusak tegakan hutan, khususnya tanaman yang berumur muda. Lebih dari itu, tanah-tanah yang berada di bawah tegakan juga menjadi padat sehingga pertumbuhan tegakan, baik tegakan tua maupun muda menjadi terganggu.

Di satu sisi, pembangunan hutan dituntut semakin intensif, namun penggembalaan ternak secara liar di dalam kawasan hutan tetap berlangsung. Pada masa yang akan datang, penggembalaan ternak di dalam kawasan hutan tidak dapat lagi diperkenankan. Akan tetapi dalam pembangunan kehutanan perlu memperhitungkan masalah peternakan tersebut dan memasukannya ke dalam perumusan tujuan pembangunan kehutanan. Hal ini tidak terlepas dari prinsip kehutanan sebagai satu kesatuan sistem dalam pembangunan wilayah.

Sarana dan Prasarana Perekonomian

Koperasi Unit Desa (KUD) telah dikembangkan di setiap kecamatan di sekitar kawasan hutan lindung Jompi belum berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini akibat lemahnya struktur permodalan koperasi dan rendahnya sumberdaya manusia yang mengelola koperasi, sehingga relatif tidak dinamis.

Fasilitas pasar hampir semua kecamatan telah tersedia, tetapi frekuensi dan kualitasnya bervariasi terutama sarana dan prasarana transportasi ke lokasi pasar masih kurang tersedia. Sarana dan prasarana ekonomi lainnya seperti lembaga perkreditan dan perbankan belum tersedia secara merata.

Fasilitas sarana komunikasi hampir semua daerah dibagian hulu DAS jompi dan berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung Jompi belum memadai. Sarana komunikasi yang ada hanya dimiliki oleh masyarakat yang kondisi ekonominya baik, seperti telpon seluler dan radio panggil.

(24)

Karakteristik Responden

Umur

Umur adalah salah satu faktor sosial yang berpengaruh terhadap aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kebanyakan orang berpendapat bahwa manusia dapat beraktivitas secara maksimal pada kisaran umur 15 – 59 tahun, atau sering dikenal dengan umur produktif, sedangkan umur di bawah 15 tahun disebut umur belum produktif dan di atas 60 tahun adalah umur tidak produktif pada kegiatan tertentu. Masyarakat yang termasuk dalam golongan usia produktif memiliki semangat dan kreatif untuk mencari berbagai alternatif usaha yang dapat menambah penghasilan dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarganya. Secara rinci penggolongan umur responden disajikan pada Tabel 23.

Tabel 23 Sebaran responden berdasarkan Golongan umur

Golongan Umur (tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

Belum produktif ( < 14 ) 0 0

Produktif ( 15-59 ) 161 71,20

Non produktif ( > 59 ) 65 28,80

Jumlah 226 100

Sumber : Analisis data primer

Tabel 23 menunjukkan bahwa sebagian besar (71,2%) umur responden berada pada kisaran golongan umur produktif ( umur 15-59 tahun). Golongan umur produktif merupakan potensi yang cukup penting dalam membuka usaha-usaha yang membutuhkan tenaga kerja, tetapi di sisi lain usia produktif ini meru-pakan ancaman bagi kelestarian hutan jika mereka tidak memiliki lapangan kerja yang dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. Mereka akan menjadikan hutan sebagai lapangan kerja alternatif untuk menambah penghasilan keluarga. Oleh karena itu pemerintah dan stakeholders yang lain agar memanfaatkan potensi tenaga kerja produktif ini kearah yang positif, misalnya membuka lapangan kerja baru, program padat karya dan sebagainya.

(25)

Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan dapat menjadi salah satu ukuran kemampuan seseorang dalam mengidentifikasi, merumuskan dan menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi. Pendidikan yang memadai diharapkan akan mampu membeda-kan jenis sumberdaya yang dapat dikelola secara bebas dan dapat mengenal kebutuhan prioritas dan potensi yang dimiliki sehingga dapat beraktivitas secara efektif dan efisien dalam rangka pemenuhan kebutuhan keluarganya. Variasi tingkat pendidikan responden secara rinci disajikan pada Tabel 24.

Tabel 24 Sebaran responden berdasarkan tingkat pendidikan formal. Tingkat Pendidikan Formal Jumlah Petani

(Jiwa)

Persentase (%)

Rendah (Tidak tamat-Tamat SD ) 134 59,30

Sedang (Tidak Tamat-Tamat SMP/SMA) 83 36,70

Tinggi (Tidak Tamat-Tamat PT) 9 4,00

Jumlah 226 100

Sumber : Analisis data primer

Tabel 24 menunjukkan bahwa sebagian besar (59,3%) tingkat pendidikan responden hanya sampai tamat SD. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas sumberdaya manusia di daerah penelitian jika dilihat dari indikator tingkat pendidikan yang pernah ditempuh, masih dalam kategori rendah. Berkaitan dengan kondisi ini, maka diperlukan usaha-usaha yang dapat mendorong peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dasar masyarakat agar proses pemberdayaan dapat berjalan sesuai yang diharapkan, seperti kegiatan pendam-pingan, pembimbingan, pelatihan, dan kursus-kursus yang berkaitan dengan profesi dan potensi sumberdaya yang lokal. Masyarakat yang berpendidikan SLTA dan perguruan tinggi dapat dibina dan dilatih dengan pengetahuan teknis, sehingga mereka menjadi motivator, mediator, fasilitator dan pelaku utama dalam proses pemberdayaan di daerahnya.

(26)

Luas Lahan Garapan

Tanah merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting dalam proses produksi di bidang pertanian. Masyarakat yang memiliki lahan yang luas akan lebih berani mengambil keputusan dan melakukan aktivitas yang dapat meningkatkan produksi pertaniannya dibanding masyarakat yang berlahan sempit. Masyarakat yang berlahan sempit biasanya hanya melakukan sesuatu yang sudah pasti akan berhasil, karena apabila gagal, maka hidupnya akan terancam. Distribusi luas lahan yang dari masyarakat berdasarkan kondisi luasan lahan setempat disajikan pada Tabel 25.

Tabel 25 Sebaran responden berdasarkan luas lahan garapan Luas Lahan (ha) Jumlah Responden (Jiwa) Persentase (%)

Sempit (0,25-1,16 ) 197 87,20

Sedang (1,17-2,08) 24 10,60

Luas (2,09-3,00) 5 2,20

Jumlah 226 100

Sumber : Analisis data primer

Tabel 25 menunjukkan bahwa sebagian besar responden tergolong petani yang berlahan sempit. Kondisi ini akan menyulitkan para pengambil kebijakan dalam memasukan suatu inovasi atau aktivitas lain yang tidak secara langsung berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari, seperti kegiatan rehabilitasi, reboisasi atau penghijauan. Masyarakat yang berlahan sempit akan lebih mementingkan pemenuhan kebutuhan primer daripada kebutuhan lainnya.

Status Kepemilikan Lahan

Berdasarkan hasil survei memperlihatkan bahwa semua responden memiliki status hak milik terhadap lahan yang digarapnya. Kondisi ini merupakan potensi yang baik untuk dikelola secara sungguh-sungguh oleh para stakeholder atau pelaku pemberdayaan dalam rangka menyusun suatau program yang dapat

(27)

memberdayakan masyarakat sekitar kawasan hutan lindung Jompi. Masyarakat dengan status sebagai penyewa atau penggarap mempunyai kecenderungan yang rendah dalam hal pemeliharaan lahan untuk jangka panjang. Masyarakat yang menggarap lahan dengan status sewa, penggarap atau bagi hasil cenderung lebih sulit diajak kerjasama dalam program pelestarian lingkungan dibanding masarakat yang mempunyai lahan milik sendiri. Upaya penghijauan, reboisasi dalam rangka menjaga kesuburan tanah dan keberadaan air akan lebih direspon ketika petani menyadari pentingnya kesuburan tanah dan keberadaan air dalam menjaga keberlanjutan usahataninya.

Kondisi Modal Fisik (Physical Capital) sekitar Kawasan Hutan Lindung Jompi

Modal fisik merupakan suatu hal yang penting dalam melakukan proses pemberdayaan. Modal fisik yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sarana produksi, pendidikan, kesehatan, komunikasi dan transportasi. Ketersediaan sarana produksi seperti lahan, alat-alat pertanian, pupuk, obat-obatan dan sarana pengairan yang memadai akan mendorong masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani untuk melakukan kegiatan usahataninya secara optimal. Usaha untuk menyediakan sarana fisik dibidang pertanian, merupakan suatu upaya untuk memberdayakan masyarakat sekitar kawasan hutan lindung agar mereka dapat memperoleh penghasilan yang dapat mencukupi kebutuhan keluarga melalui kegiatan usaha pertanian. Usaha pertanian yang dilakukan secara serius dan didukung oleh sarana yang memadai diharapkan dapat meningkatkan tingkat kersejahteraan keluarganya.

Sarana pertanian yang memadai akan lebih optimal pemanfaatannya jika didukung oleh sumberdaya manusia (petani) yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan terhadap bidang usaha yang ditekuninya. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat sekitar kawasan hutan lindung dapat dilakukan melalui pendidikan formal dan non formal. Untuk mendukung terselenggaranya pendidikan, maka pemerintah perlu menyediakan sarana pendidikan, kesehatan, ekonomi, komunikasi dan transportasi yang memadai.

(28)

Peningkatan kualitas sumberdaya manusia merupakan hal yang utama dalam usaha menuju terciptanya masyarakat yang berdaya dan mandiri. Oleh karena itu, agar masyarakat dapat meningkatkan sumberdayanya maka perlu didukung dengan kondisi kesehatan yang prima. Masyarakat yang memiliki kesehatan yang prima akan sangat mendukung dalam melakukan aktivitas pendidikan dengan baik. Oleh karena itu, jaminan kesehatan melalui pelayanan yang prima, kematangan ekonomi, interaksi dan mobilitas masyarakat yang terbangun dengan dasar saling menguntungkan merupakan pendukung untuk menigkatkan sumberdaya manusia yang berkualitas.

Pelayanan kesehatan yang prima hanya dapat dilakukan jika sarana kesehatan yang ada di desa-desa sekitar kawasan hutan lindung tersedia. Masyara-kat yang membutuhkan pelayanan kesehatan tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi dan komunikasi yang tinggi untuk mencari tempat berobat yang memiliki fasilitas yang baik, obat-obatan dan tenaga medis yang memadai.

Kematangan ekonomi masyarakat merupakan hal penting dalam mening-katkan tingkat pendidikan. Kematangan ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan akan tercapai, jika sarana ekonomi yang dibutuhkan dalam menciptakan dan memperkuat usaha-usaha produktif sudah memadai, misalnya adanya lembaga penyedia modal dengan prosedur administrasi yang mudah dan suku bunga yang terjangkau. Selain itu, sarana pasar juga sangat penting sebagai tempat terjadi proses jual beli hasil-hasil usaha yang dilakukan masyarakat. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa keberadaan pasar merupakan salah satu kendala bagi masya-rakat yang memiliki hasil usaha, terutama hasil pertanian untuk diperjual belikan. Kondisi ini salah satu faktor yang mendorong masyarakat untuk tetap melakukan kegiatan usaha pertanian yang konsumtif bukan untuk di perdagangkan.

Proses interaksi masyarakat melalui bentuk-bentuk komunikasi tertentu sangat berperan dalam menambah pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan masyarakat. Jika dikaitkan dengan era globalisasi saat ini, sarana komunikasi sangat membantu masyarakat untuk menambah pengetahuan, pengalaman dan ketrampilannya secara cepat melalui informasi, baik melalui media elektronik maupun media cetak. Tidak kecuali masyarakat desa yang ada di sekitar kawasan

(29)

hutan lindung, sarana komunikasi perlu menjadi perhatian yang serius bagi semua pihak yang memiliki kepentingan dengan kelestarian kawasan hutan lindung jompi. Demikian juga ketersediaan sarana transportasi merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dengan sarana-sarana yang lain yang mendukung kegiatan keseharian masyarakat. Transportasi yang memadai akan mendukung mobilitas masyarakat dalam beraktivitas dalam rangka pemenuhan kebutuhannya.

Data empiris menunjukkan bahwa persepsi masyarakat sekitar kawasan hutan lindung Jompi, terutama masyarakat desa yang bersentuhan langsung dengan kawasan hutan lindung Jompi dan terletak di bagian hulu DAS Jompi disajikan pada Tabel 26.

Tabel 26 Hasil Penilain (Skor) responden terhadap ketersediaan modal fisik Variabel dan Indikatornya Skor Tingkat Penilaian

Modal Fisik X1 44 Kurang tersedia

1. Ketersediaan sarana Produksi 49 Kurang tersedia 2. Ketersediaan sarana Pendidikan 51 Cukup tersedia 3. Ketersediaan sarana Kesehatan 57 Kurang tersedia 4. Ketersediaan sarana Ekonomi 33 Kurang tersedia 5. Ketersediaan sarana Komunikasi 17 Kurang tersedia 6. Ketersediaan sarana Transportasi 54 Cukup tersedia

Keterangan: Selang skor 0-100. Kategori penilaian: > 50 = Kurang tersedia, 50-75 = cukup tersedia, dan > 75 = tersedia

Tabel 26 menunjukkan bahwa secara umum sarana fisik di sekitar kawasan hutan lindung Jompi masih kurang tersedia (skor 44). Rendahnya modal fisik tersebut, terutama sarana produksi pertanian berupa bibit unggul, pupuk, pestisida dan pengairan, sarana ekonomi dan komunikasi. Sarana produksi tersebut hanya tersedia di ibukota kabupaten, sehingga jika masyarakat ingin memperoleh sarana produksi seperti bibit unggul, pupuk, dan pestisida harus mengeluarkan biaya yang cukup besar. Kondisi ini memaksa masyarakat (petani) untuk memilih menggunakan bibit lokal, membiarkan tanaman diserang hama penyakit atau jika melakukan pemberantasan hama penyakit dilakukannya secara

(30)

tradisional, seperti memasang jerat untuk hama babi, menggunakan sesajian dan sebagainya. Untuk sarana pengairan masyarakat sekitar kawasan hutan lindung Jompi yang ada dibagian hulu DAS Jompi belum ada dan sepenuhnya masih mengharapkan air hujan, sehingga tanaman yang masyarakat usahakan tidak dapat memberikan produksi yang optimal.

Kelembagaan ekonomi pada dasarnya hampir setiap desa memiliki KUD dan koperasi simpan pinjam. Namun baik KUD maupun koperasi simpan pinjam yang ada, hanya berfungsi sebagai wadah penyaluran bantuan dari pemerintah atau non pemerintah (penyandang dana) dan jika dana tersebut sudah habis maka KUD tersebut juga berhenti. Kondisi ini disebabkan oleh kemampuan dan mental masyarakat yang menjadi pengelola KUD maupun koperasi simpan pinjam tersebut kurang dipersiapkan, sehingga dana bantuan yang diberikan untuk dikelola dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat selalu kurang berhasil dan bahkan salah sasaran.

Sarana komunikasi seperti jaringan telpon, kantor pos dan media cetak belum menjadi perhatian yang serius dari pemerintah daerah. Di tiga kecamatan yang menjadi lokasi penelitian, tidak satupun dari ke tiga desa tersebut memiliki jaringan komunikasi yang memadai, padahal kecamatan-kecamatan tersebut hanya berjarak 5-15 km dari ibukota kabupaten. Kondisi ini bukan kesalahan pemerintah semata, tetapi juga disebabkan kondisi kebutuhan dan daya beli masyarakat yang rendah. Masyarakat lebih memprioritaskan pemenuhan kebutu-han pangan, sandang, papan, biaya pendidikan anak dan kesehatan.

Kondisi Modal Manusia (Human Capital) sekitar Kawasan Hutan Lindung Jompi

Di era globalisasi seperti sekarang ini, keberhasilan seseorang atau kelompok tidak hanya ditentukan oleh modal dalam bentuk fisik seperti bangunan, tanah, kendaraan dan modal fisik lainnya, tetapi modal manusia seperti pendidikan dan kesehatan yang memadai serta kemampuan membangun jaringan untuk memperkuat hubungan interaksi antar sesama akan memegang peranan

(31)

penting dalam keberhasilan suatu usaha. Hasil analisis tentang modal manusia disajikan pada Tabel 27.

Tabel 27 Hasil Penilain (skor) terhadap kualitas modal manusia yang dimiliki responden

Variabel dan indikator Skor Tingkat Penilaian

Modal Manusia X2 53 Sedang

1. Tingkat Pendidikan 46 Rendah

2. Tingkat kesehatan 46 Rendah

3. Tingkat keeratan hubungan antar sesama 68 Sedang Keterangan: Selang skor 0-100. Kategori penilaian: > 50 = rendah, 50-75 = sedang, dan > 75 = tinggi

Tabel 27 menunjukan bahwa secara umum modal manusia yang dimiliki responden adalah kategori sedang (skor 54). Kualitas modal manusia yang berada pada kategori sedang disumbangkan oleh hubungan antar sesama masyarakat sekitar kawasan hutan lindung Jompi masih cukup terpelihara. Hubungan antar masyarakat akan terlihat menonjol pada saat melakukan kegiatan pertanian terutama pada saat masyarakat mengarap lahan, menanam sampai pemanenan hasil. Masyarakat melakukannya secara bersama-sama, saling membantu dan bekerjasama antara satu dengan yang lainnya dengan aturan dan kesepakatan yang telah mereka tentukan secara bersama-sama. Selain itu, keeratan hubungan masyarakat juga terlihat pada saat seseorang melakukan hajatan, misalnya hajatan perkawinan atau syukuran keberhasilan anak dalam menyelesaikan pendidikan tinggi, mendapatkan pekerjaan tetap dan lain sebagainya. Masyarakat secara spontan tanpa diundang dengan suka rela datang membantu mensukseskan acara tersebut. Bantuan yang mereka berikan kepada masyarakat yang melakukan hajatan sangat beragam, misalnya tenaga, beras, ayam, uang dan sebagainya.

Tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat tergolong rendah (skor 46) karena masyarakat belum memahami bahwa pendidikan merupakan investasi masa depan. Dibenak sebagian masyarakat di pedesaan memahami bahwa pendidikan identik dengan mengeluarkan biaya yang cukup besar dan jika selesai

(32)

belum tentu menjamin hidup yang lebih baik. Biaya pendidikan yang semakin mahal dan kemampuan ekonomi yang rendah juga merupakan penyebab menurunnya keinginan masyarakat untuk meningkatkan kemampuannya melalui pendidikan formal. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat sangat terkait dengan tingkat kesehatan masyarakat. Masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan yang memadai akan lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan dan demikian sebaliknya masyarakat yang memiliki kesehatan yang baik akan lebih besar peluangnya untuk mengikuti pendidikan dengan baik dibanding yang kurang sehat. Penerimaan terhadap pelajaran disekolah juga akan berbeda antar yang memiliki tingkat kesehatan yang baik dengan yang kurang sehat. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Todaro (2005) yang menyatakan bahwa modal pendidikan yang lebih baik dapat meningkatkan pengembalian atas investasi kesehatan karena banyak program kesehatan bergantung pada ketrampilan dasar yang dipelajari di sekolah, termasuk kesehatan pribadi dan sanitasi. Di sisi lain, kesehatan yang baik dapat meningkatkan pengembalian atas investasi dalam pendidikan karena kesehatan merupakan faktor utama agar dapat mengikuti proses pembelajaran formal.

Pendidikan dan kesehatan yang memadai akan sangat membantu masya-rakat dalam meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya. Pengetahuan dan ketrampilan yang memadai terhadap usaha atau kegiatan yang akan dilakukan akan menentukan berhasil tidaknya usaha dan kegiatan tersebut. Misalnya seorang petani yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan bertani yang memadai cende-rung bertani lebih baik dan memperoleh hasil yang lebih memuaskan dibanding petani yang tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan sama sekali. Mereka akan lebih hati-hati dalam melakukan aktivitas pertanian yang mengakibatkan kerusakan lingkungan, karena mereka paham akibat yang ditimbulkan jika lingkungan (hutan) itu rusak.

Kaitannya dengan proses pemberdayaan, masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan dan kesehatan yang baik cenderung memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta kemampuan membangun jaringan/hubungan antar sesama yang memadai, sehingga mereka akan lebih berpartisipasi dalam kegiatan yang

(33)

memiliki nilai positif terhadap kehidupan bermasyarakat. Keterlibatan atau partisipasi masyarakat dalam proses pemberdayaan merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam membentuk masyarakat berdaya dan mandiri, baik berdaya secara sosial, ekonomi maupun politik.

Berdaya secara sosial artinya, masyarakat memiliki kemampuan mengak-ses sumber-sumber produktif, terbuka dengan dunia luar sehingga dapat bersaing secara rasional dengan masyarakat kapitalis atau masyarakat pengusaha. Berdaya secara ekonomis artinya, masyarakat dengan usaha yang dilakukannya dapat memperoleh keuntungan yang dapat memenuhi kebutuhan keluarganya dan dapat merencanakan kebutuhan masa depannya yang lebih baik. Berdaya secara politik artinya, masyarakat memiliki kebebasan dalam proses pengambilan keputusan terhadap sikap yang diambil dalam proses politik, tidak dalam keadaan tertekan, dipaksa atau diintimidasi oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap keberadaan dirinya.

Peningkatan kualitas modal manusia masyarakat merupakan hal penting dalam menghadapi perkembangan teknologi dan informasi saat ini. Semua pihak harus memahami bahwa modal manusia memiliki pengaruh terhadap keberhasilan dalam berusaha. Seperti yang pernah dikemukakan oleh Coleman (1998), Fukuyama (2002), Todaro (2005) bahwa modal untuk usaha tidak lagi melulu berwujud tanah, pabrik, alat-alat dan mesin melainkan akan segera didominasi oleh modal manusia seperti; pendidikan, kesehatan, pengetahuan dan ketrampilan serta keeratan hubungan antara sesama.

Kondisi Modal Sosial (Social Capital) sekitar Kawasan Hutan Lindung Jompi

Modal sosial dapat dipahami sebagai suatu norma atau nilai yang telah disepakati bersama oleh masyarakat yang dapat memperkuat jaringan kerjasama yang saling menguntungkan, menumbuhkan kepedulian dan solidaritas yang tinggi dan dapat mendorong tingkat kepercayaan antara sesama/kelompok/institusi dalam rangka tercapainya tujuan bersama. Modal sosial merupakan sumberdaya dan nilai yang dimiliki bersama untuk membangun demokrasi, meningkatkan

(34)

sumberdaya dan kesejahteraan manusia. Dalam penelitian ini, aspek modal sosial yang dikaji adalah terjalinnya kerjasama yang baik, tumbuhnya kepercayaan dan kepedulian antar sesama, kepatuhan terhadap norma yang ada dan keterlibatan dalam aktivitas organisasi sosial masyarakat. Aspek-aspek modal sosial tersebut diharapkan akan selalu tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih positif di kalangan masyarakat.

Hasil analisis data empiris menunjukkan bahwa secara umum masyarakat memiliki modal sosial yang tergolong kategori sedang/standar (skor 52) yaitu mereka dalam melakukan kerjasama masih mengedepankan kepentingan bersama, berprasangka baik (percaya) terhadap sesama, patuh terhadap norma bersama, peduli atas kondisi orang lain dan selalu terlibat dalam organisasi sosial masyarakat. Secara rinci hasil penilaian terhadap kualitas modal sosial yang dimiliki responden disajikan pada Tabel 28.

Tabel 28 Hasil Penilain (Skor) terhadap kualitas modal sosial responden Variabel dan indikator Skor Tingkat Penilaian

Modal Sosial X3 52 Sedang

1. Tingkat Kerjasama antar sesama 53 Sedang

2. Tingkat kepercayaan antar sesama 47 Rendah

3. Tingkat kepatuhan terhadap norma 52 Sedang

4. Tingkat kepedulian terhadap sesama 54 Sedang 5.Tingkat keterlibatan dalam aktivitas organisasi sosial 54 Sedang Keterangan: Selang skor 0-100. Kategori penilaian: > 50 = rendah,

50-75 = sedang, dan > 75 = tinggi

Tabel 28 menunjukkan bahwa hampir semua aspek-aspek modal sosial yang dikaji termasuk dalam kategori sedang (skor 52) kecuali aspek tingkat kepercayaan antara sesama. Aspek kerjasama antar sesama menunjukkan bahwa masyarakat di sekitar kawasan hutan lindung Jompi memiliki jiwa kerjasama yang baik yang diwujudkan melalui kerjasama dalam bidang pendidikan, pertanian dan kepentingan bersama dalam masyarakat.

(35)

Dalam bidang pendidikan masyarakat memiliki kearifan lokal yang disebut dengan istilah “tengki kupa.” Tengki kupa adalah suatu bentuk kerjasama dan kepedulian masyarakat Muna untuk menggalang dana pendidikan bagi masyarakat yang kurang mampu, terutama dalam lingkup keluarga. Pada bidang pertanian, masyarakat masih tetap memelihara kebiasaan kerjasama yang dikenal dengan istilah, rombonga, pokadulu, pokaowa, potulumi dan pohedepi.

Rombonga adalah kerjasama dalam kegiatan pertanian yang dilakukan dari awal sampai pada pemetikan hasil dan biasanya sering dilakukan oleh sekerabat atau teman/tetangga dekat. Hasil yang diperoleh menjadi milik bersama atau dibagi secara adil berdasarkan kesepakatan.

Pokadulu adalah suatu jenis kerjasama dalam kegiatan pertanian dan setiap orang yang terlibat memiliki kewajiban untuk membalas tenaga dan jasa yang telah diterimanya. Pokadulu dapat pula ditarapkan dalam kerjasama untuk kepentingan bersama dan kegiatan kemasyarakatan lainnya, seperti pembuatan balai desa, pembersihan kampung, pembuatan jembatan dan lain sebagainya.

Potulumi adalah suatu kegiatan anggota masyarakat secara bersama-sama dalam menyelesaikan pekerjaan seseorang baik diminta maupun tidak diminta dengan tidak mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun. Bantuan biasanya diberikan kepada masyarakat yang kurang berdaya atau kurang mampu dan dalam keadaan yang dianggap mendesak, misalnya pembangunan rumah tinggal, bantuan pendidikan (tengki kupa) dan lain-lain. Dalam kondisi sekarang kerjasama seperti ini kebanyakan hanya terjadi pada sesama keluarga, kerabat atau teman dan tetangga terdekat saja.

Pohedepi adalah kerjasama yang dilakukan dalam masyarakat Muna yang muncul secara spontanitas kepada masyarakat di sekitar tanpa memandang batas hubungan keluarga, suku, agama, masyarakat asli atau pendatang semua diperlakukan sama. Pohedepi biasanya berkaitan dengan kematian atau musibah yang terjadi di luar kemauan manusia, misalnya musibah kebakaran, kecelakaan lalulintas, wabah penyakit dan sebagainya. Bentuk-bentuk kerjasama tersebut, oleh masayarakat Muna masih tetap dipertahankan sampai sekarang.

(36)

Aspek tingkat kepercayaan terhadap sesama masyarakat di sekitar kawasan hutan lindung Jompi tergolong dalam kategori rendah (skor 47). Dalam lingkup keluarga dan tetangga/sahabat dekat masih terjalin rasa saling percaya, tetapi jika sudah berkaitan dengan orang luar, masyarakat sudah berhati-hati dalam melakukan interaksi. Tingkat kepercayaan masyarakat yang paling merosot adalah kepercayaan terhadap pemerintah atau pihak lain yang selalu mengobral janji. Masyarakat di sekitar kawasan hutan lindung Jompi terutama yang bermukim di bagian hulu DAS Jompi lebih percaya tokoh masyarakat dari pada pemerintah atau pihak luar (LSM) yang selalu mengobral janji yang tidak pernah diwujudkan. Hal ini terjadi karena pemerintah atau pihak luar (LSM) selama ini selalu menjanjikan masyarakat sesuatu tetapi jarang ditepati. Masyarakat menganggap pemerintah atau pihak luar hanya menjadikan masyarakat sebagai alat untuk memperoleh paket bantuan atau program. Setelah bantuan atau program tersebut didapatkan, masyarakat selalu dipihak yang dirugikan. Tidak jarang bantuan atau program itu hanya dinikmati oleh orang-orang tertentu yang sesungguhnya tidak pantas menerimanya (salah sasaran). Misalnya program RASKIN, GASKIN, BLT dan sebagainya banyak yang tidak tepat sasaran dan bahkan ada tidak sedikit oknum pemerintah terpaksa berurusan dengan pengadilan akibat adanya dugaan penyelewengan pelaksanaan program-program tersebut.

Aspek kepatuhan terhadap norma, kaidah atau aturan yang menjadi kesepakatan bersama tergolong kategori sedang (skor 52). Hal ini disebabkan karena responden atau masyarakat umumnya masih memiliki norma, kaidah atau aturan tertentu yang mengatur perilaku bermasyarakat. Masyarakat Muna mengenal norma, kaidah dan tata cara bertani yang harus ditaati oleh masyarakat, terutama yang bermata pencaharian sebagai petani. Pembukaan ladang baru misalnya, menurut kepercayaan masyarakat Muna hanya dapat dilakukan jika mendapat restu dari kepala-kepala adat setelah melalui musyawarah. Dalam musyawarah para kepala adat telah memperhitungkan untung rugi jika masyarakat membuka lahan baru tersebut sebagai lahan pertanian. Pertimbangan utama untuk mengizinkan atau tidak masyarakat membuka lahan baru pada kawasan hutan primer adalah sangat berkaitan dengan keberadaan mata air/sungai dilokasi

Gambar

Tabel 13 Luas wilayah dan kepadatan penduduk kecamatan                                   di sekitar kawasan hutan lindung Jompi
Tabel 14  Jumlah rumah tangga (RT) dan tingkat kepadatan RT                                            di kecamatan sekitar kawasan hutan lindung Jompi
Tabel 15  Komposisi penduduk berdasarkan golongan umur                  di kecamatan sekitar kawasan hutan lindung Jompi
Tabel 16 Jumlah sekolah, guru, dan murid di kecamatan                                 sekitar kawasan hutan lindung Jompi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Arahan pengendalian penggunaan lahan skenario kedua, dimana hutan yang berada di kawasan lindung dan sawah yang berada di kawasan pertanian lahan basah

penggunaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat di kawasan lindung menjadi penggunaan lahan yang secara ekonomi memberikan nilai yang lebih tinggi, sehingga pola penggunaan lahan

Khusus untuk Desa Gumpang Kecamatan Putri Betung, kebanyakan responden/masyarakat mengambil kayu bakar dari hutan alam campuran (kawasan TNGL), tetapi dalam dua-tiga tahun

Skor rata-rata perkembangan kognitif pada balita yang miskin lebih rendah (52.7) daripada balita yang berasal dari keluarga yang tidak miskin (63.8), sementara rata-rata

hasil hutan dengan jenis tertentu, misalnya rotan, kayu, serta penangkapan jenis hewan tertentu dalam wilayah kawasan TNLL yang berada dalam kawasan atau berbatasan dengan Desa

Pada GPP Padaido Atas, kawasan dan pulau-pulau yang berfungsi lindung adalah Pulau Samakur, Pulau Yeri, Pulau Pakreki, pantai timur Pulau Padaidori, pantai barat dan timur

Berdasarkan tabel, dapat dilihat bahwa kawasan studi didominasi oleh lahan dengan kemiringan lebih dari 40% atau sangat curam yang paling banyak terdapat di Kecamatan Lembang,

i. Menguatkan partisipasi masyarakat dan pengakuan terhadap masyarakat adat. Secara umum isi Perda ini meliputi ruang lingkup dan kriteria kawasan lindung, penetapan kawasan