• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara dan sebagian kecil di Kabupaten Pasir, pada awalnya adalah taman wisata alam yang ditetapkan sejak tahun 1991. Luas kawasan ini sebesar 61.850 ha, dan sejak Oktober 2004 telah ditetapkan sebagai Taman Hutan Raya (Tahura). Secara geografis terletak antara 0041’-1000’ LS dan 116055’ sampai 117003’ BT. Secara administratif pemerintahan termasuk dalam 2 kabupaten yaitu Kutai Kartanegara dan Kabupaten Panajam Paser Utara, Propinsi Kalimantan Timur. Secara umum keadaan lapangan Tahura Bukit Soeharto bervariasi dari bergelombang ringan sampai berbukit terjal dengan tingkat kemiringan 3% sampai dengan 30%.

Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson Tahura Bukit Soeharto termasuk ke dalam klasifikasi iklim type A dengan curah hujan berkisar antara 2.000 mm sampai 2.500 mm/tahun. Kondisi suhu berkisar antara 20°C - 30°C, dengan kelembaban rata-rata 67-95%.

Keadaan vegetasi di Tahura Bukit Soeharto merupakan tipe vegetasi hutan sekunder muda dengan semak dan alang-alang. Jenis pohon yang ada adalah hasil reboisasi, antara lain : Akasia (Acacia mangium), Sengon (Paraserianthes falcataria), Johar (Cassia siamea), Sungkai (Peronema canescen), Mahoni (Swietenia mahagoni).

4.1. Sejarah Kawasan Tahura Bukit Soeharto

Tahun 1976-1978, Gubernur Kalimantan Timur menetapkan kawasan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto diperuntukkan bagi zona pelestarian lingkungan hidup, kemudian mengusulkan statusnya untuk ditetapkan sebagai Hutan Lindung Bukit Soeharto seluas 33.760 Ha (Surat No. 004-DA-1978 tanggal 15 Juni 1978).

Tahun 1982, Menteri Pertanian menetapkannya sebagai Hutan Lindung Bukit Soeharto seluas 27.000 Ha (SK No. 818/Kpts/um/11/1982 tanggal 10 November 1982).

Tahun 1987, Perubahan status kawasan Hutan Lindung Bukit Soeharto seluas kira-kira 23.800 Ha menjadi Hutan Wisata dan penunjukan perluasannya dengan kawasan hutan sekitarnya seluas kurang lebih 41.050 Ha, sehingga luas

(2)

Hutan Wisata Bukit Soeharto kurang lebih 64.850 Ha oleh Menteri Kehutanan melalui SK Menhut No. 245/Kpts-II/1987 tanggal 18 Agustus 1987.

Tahun 1990, telah selesai dilakukan Tata Batas oleh BIPHUT Wilayah IV Samarinda dengan luas 61.850 Ha, sesuai BATB Tahun 1990.

Tahun 1991, ada usulan Kawasan Hutan Wisata untuk dikelola menjadi Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto bersama Hutan Pendidikan Samarinda (12.500 Ha) menjadi seluas 74.340 Ha dan terakhir, Menteri Kehutanan menetapkan kawasan hutan dengan fungsi sebagai Hutan Wisata Alam Bukit Soeharto seluas 61.850 Ha melalui SK. Menhut No. 270/Kpts-II/1991, tanggal 20 Mei 1991.

Tahun 2004, Usulan perubahan fungsi Kawasan Hutan Wisata Alam Bukit Soeharto menjadi Taman Hutan Raya Bukit Soeharto ditetapkan oleh Menteri Kehutanan sesuai dengan SK Menteri Kehutanan No. SK.419/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober 2004 dengan luas 61.850 Ha.

4.2. Risalah Kawasan Tahura Bukit Soeharto

4.2.1. Data Pokok Kawasan Tahura Bukit Soeharto

a. Nama Kawasan : Taman Hutan Raya Bukit Soeharto b. SK Penunjukan : SK Menteri Kehutanan

Nomor : 419/Menhut-II/2004 Luas Areal : 61.850 Ha

c. Letak geografis : 00º 46’ 00” LS s/d 01º 04’ 00” LS 116º 48’ 00” BT s/d 117º 06’ 00” BT

d. Letak berdasarkan Administrasi Pemerintah Kabupaten Kutai Kertanegara (Kecamatan Loa kulu, Loa Janan, Muara Jawa dan Kecamatan Samboja) dan Kabupaten Penajam Paser Utara (Kecamatan Sepaku)

e. Letak berdasarkan DAS

DAS : DAS Sungai Mahakam

Sub DAS : Bangsal, Loa Haur, Solok Cempedak, Seluang, Semoi, Serayu, dan Tiram

f. Keadaan Topografi : datar, bergelombang ringan s/d gelombang berat dan berawa yaitu sekitar sungai dengan tingkat kelerengan 0 % - 25 % dan ketinggian antara 0-100 m dpl

(3)

g. Geologi dan Tanah :

Formasi Geologi : Batuan Meosin Atas dan Batuan Meosin Bawah

h. Jenis Tanah : Organosol, Glei Humus, Podsolik Merah Kuning dan Komplek Podsolik Merah Kuning, Latosol dan Litosol dgn bahan induk Aluvial, batuan beku dan endapan serta metamort dengan fisiografi lapangan berbukit, pegunungan lipatan dan pegunungan patahan.

i. Iklim : Berdasarkan pencatatan data klimatologi ada stasiun Samarinda diketahui bahwa lokasi kegiatan memiliki tipe iklim A menurut Schmidt and Fergusson dengan karakteristik iklim sebagai berikut.

1. Curah hujan tahunan rata-rata 2.390 mm/thn 2. Bulan basah curah hujan di atas 100mm/

thn pada bulan Desember

3. Bulan sedang, curah hujan 60-100mm/thn pada bulan Agustus

4. Bulan kering, curah hujan kurang dari 60 mm/thn bulan Maret

5. Musim hujan setiap tahun Bulan Agustus sampai dengan Desember

6. Suhu rata- rata 200- 360 C 7. Kelembaban udara 85% (relatif)

4.2.2. Keadaan Sosial Ekonomi Budaya

Tahun 1990/1991 dilakukan pendataan jumlah penduduk di Tahura Bukit Soeharto untuk dipindahkan dengan hasil sebagai berikut : Tanggal 26 Maret 1990 sebanyak 50 KK, Tanggal 12 Juni 1990 sebanyak 123 KK, Tanggal 4 Juli 1990 sebanyak 182 KK, Tanggal 31 Januari 1991 sebanyak 145 KK Jumlah yang sudah dipindahkan 500 KK sehingga tersisa 197 KK, namun sebagian besar penduduk tersebut kembali lagi ke Tahura Bukit Soeharto.

(4)

Berikut data jumlah penduduk yang berada di dalam kawasan Tahura Bukit Soeharto :

Tabel 4.1. Jumlah Penduduk Desa di Dalam Kawasan Bukit Soeharto

NO NAMA DESA JUMLAH JIWA TAHUN

1 Semoi II 2.486 2006 2 Sukomulyo 2.700 2006 3 Bukit Merdeka 3.474 2008 4 Margomulyo 1.008 2008 5 Batuah 10.142 2006 6 Sungai Merdeka 6.742 2006 7 Karya Jaya 1.005 2006 8 Samboja Kuala 5.422 2006

Sumber Data : BKSDA 2006, UPTD PPA 2008

Mata pencaharian penduduk di dalam dan sekitar kawasan Tahura Bukit Soeharto beranekaragam antara lain petani, buruh tani, pedagang, Pertukangan, PNS, TNI/Polisi, dan swasta.

4.3. Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK)

Di dalam kawasan Tahura Bukit Soeharto terdapat 3 (tiga) kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK) yaitu :

1. Hutan Penelitian dan Pengembangan seluas 3.504 Ha, dikelola oleh Balai Penelitian Teknologi Perbenihan (BPTP) Samboja melalui SK. Menhut No. 290/Kpts-II/1991 tanggal 5 Juni 1991 jo SK. Menhut No. 201/Kpts-II/2004 tanggal 10 Juni 2004.

2. Hutan Pendidikan dan Pelatihan seluas 4.320 Ha, dikelola oleh Balai Pendidikan dan Latihan Kehutanan Samarinda melalui SK. Menhut No. 8815/Kpts-II/2002 tanggal 24 September 2002.

3. Hutan Pendidikan Universitas Mulawarman seluas 20.271 Ha, dikelola oleh Pusat Penelitian Hutan Tropis (PPHT) Universitas Mulawarman melalui SK. Menhut No. 160/Menhut-II/2004 tanggal 4 Juni 2004.

4.4. Potensi Kawasan Tahura Bukit Soeharto 4.4.1. Ekosistem

Tipe ekosistem yang berada pada kawasan Tahura Bukit Soeharto adalah : hutan campuran dipterocarpaceae, dataran rendah hutan kerangas, hutan pantai, semak belukar dan alang-alang.

4.4.2. Potensi Flora

Tahura Bukit Soeharto merupakan tempat sebaran beberapa jenis flora antara lain: Meranti (Shorea spp.), Keruing (Dipterocarpus sp.), Mahang (Hypoleuca), Mengkungan (Gigantea), Hora (Ficus sp.), Medang (Lauraceae),

(5)

Kapur (Dryobalanops spp.), Kayu tahan (Anisoptera costata), Nyatoh (Palaquium spp.), Keranji (Dialium spp.), Perupuk (Laphopetalum solenospermum).

4.4.3. Potensi Fauna

Tahura Bukit Soeharto merupakan tempat sebaran beberapa jenis fauna antara lain : Orang utan (Pongo pygmaeus), terdapat fasilitas rehabilitasi orang utan di Pusat Reintroduksi Orang utan WANARISET Samboja , Beruang madu (Helarctos malayanus), Macan dahan (Neofelis nebulosa), Landak (Hystrix brachyura) dan lain-lain.

4.4.4. Wisata/Rekreasi

Tahura Bukit Soeharto memiliki beberapa daerah yang dapat dijadikan tempat rekreasi, yaitu :Objek wisata pantai Tanah Merah Samboja, Hutan Pendidikan Universitas Mulawarman dan Pusat Reintroduksi Orangutan Wanariset Samboja.

4.4.5. Kandungan batu bara

Cadangan batubara juga terdapat di Tahura Bukit Soeharto yang potensinya diperkirakan mencapai 150 juta ton. Pada musim kemarau yang sangat kering, seringkali terjadi kebakaran hutan yang disebabkan karena sebab alami dengan terbakarnya lapisan batubara, sehingga menyebabkan hilangnya hutan primer sejak tahun 1991 dilaporkan kawasan Bukit Soeharto adalah tipe vegetasi hutan sekunder muda dengan semak dan alang-alang. Jenis pohon yang ada adalah hasil reboisasi, dan telah berubah dari vegetasi asalnya.

4.5. Penutupan Lahan Pada Kawasan Tahura Bukit Soeharto

Berdasarkan Peta Tutupan Lahan di Tahura Bukit Soeharto pada Gambar 4.1 dapat di sajikan pada Tabel 4.2. berikut :

Tabel 4.2. Data Tutupan Lahan

No. Jenis Penutupan Lahan Luasan

(Ha) (%)

01. Hutan 20.890 33,77

a. Hutan Sekunder Tua 6.000 34,17

b. Hutan Sekunder Muda 14.890 64,83

02. Tanaman reboisasi 5.449 8,81

03. Alang-alang dan semak belukar 25.691 41,54

04. Ladang dan kebun penduduk 3.782 6,12

05. Persawahan 50 0,08

06. Pemukiman penduduk 1.460 2,36

07. Lain-lain 4.528 7,32

Total Penutupan Lahan 61.850 100

(6)

Gambar 4.1. Peta Tutupan Lahan Tahura Bukit Soeharto (Sumber : Rencana pengelolaan kawasan HPPBS UNMUL 2009)

(7)

Dari data yang ada menunjukan bahwa kondisi kawasan yang berhutan pada Tahura Bukit Soeharto hanya seperempat dari luas kawasan yang ada, dan ini disebabkan kawasan Tahura Bukit Soeharto bukanlah hutan virgin atau primer karena pada kawasan ini merupakan kawasan eks HPH selain itu juga kawasan telah mengalami beberapa kali kebakaran hutan (log over area). Namun bila dilihat angka pemanfaatan lahan yang ada seperti persawahan, perladangan dan lain-lain menunjukkan bahwa kawasan telah mengalami tekanan oleh masyarakat sekitar dalam memenuhi kebutuhan lahan sebagai tempat bercocok tanam dan usaha. Alang-alang dan semak belukar sebagai kawasan yang paling luas merupakan areal bekas kebakaran hutan besar yang terjadi di tahun 1983 dan tahun 1997 dimana banyak vegetasi yang hilang karena terbakar.

4.6. Permasalahan Kerusakan Kawasan

Pada kawasan Tahura Bukit Soeharto terdapat beberapa deliniasi peta di lampiran SK Menhut 270/Kpts-II/1991 berbeda dengan deliniasi peta pada Berita Acara Tata Batas (BATB) tahun 1990. Berdasarkan SK. Menhut No. 270/Kpts-II/1991 ditetapkan menjadi Hutan Wisata Alam seluas 61.850 Ha, tanggal 20 Mei 1991, yang didasarkan pada BATB tanggal 26 Pebruari 1990. Dimana hasil tata batas Tahura berbeda dengan Peta Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Kaltim, SK Menhut No. 79/Kpts-II/2001 sehingga terjadi tarik menarik pengakuan lahan. Sebagaimana pada Gambar 4.2. Peta Lampiran SK Menhut No. 270/Kpts-II/1991, tanggal 20 Mei 1991 Luas : 61.850 Ha.

Selain itu terjadinya okupasi lahan untuk kebun, pemukiman, warung, restoran oleh masyarakat, Illegal Logging, Illegal Mining dan degradasi lahan sebesar 60 % akibat kebakaran tahun 1982 dan 1997. Disamping itu, terjadi penggunaan kawasan di luar kepentingan konservasi seperti bangunan jalan penghubung antar desa, Sekolah Dasar, kantor lurah, tiang/tower/menara/BTS Telekomunikasi, papan reklame/baliho dan tempat ibadah.

Namun kerusakan terparah adalah akibat kegiatan pertambangan batubara dimana 4 (empat) perusahaan pertambangan batubara yang beroperasi di dalam dan di sekitar kawasan konservasi Taman Hutan Raya Bukit Soeharto, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, terindikasi melanggar aturan kehutanan dan lingkungan. Ada indikasi kuat pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup Tahura Bukit Soeharto terjadi akibat pertambangan karena keempat perusahaan tidak mampu mengelola air asam tambang sehingga kolam penampung air asam

(8)

sering meluap dan mencemari lingkungan sekitar. Selan itu juga menemukan lubang-lubang bekas galian yang tidak direklamasi dengan baik. Ada yang sekadar ditimbun, tetapi tidak ditanami. kebanyakan operasi pertambangan dengan izin KP buruk. Hal itu termasuk dalam penanganan limbah, reklamasi dan vegetasi, penanganan limbah B3, dan minimnya corporate social responsibility. Keempat perusahaan juga dinilai gagal mengelola overburden atau lapisan atas tanah yang dikupas agar batubara dari dalam perut bumi bisa diambil dimana material overburden harus diletakkan di suatu tempat untuk suatu saat dikembalikan ke bekas lahan tambang untuk reklamasi dengan cara material overburden ditaruh di tepi Sungai Samboja bahkan bila hujan tiba dapat mencemari sungai itu. Seharusnya, tempat menaruh overburden minimal 50 meter dari tepi sungai (Akbar, 2010).

Akibat dari kerusakan yang terjadi tersebut Rustam (2010) menyatakan kerusakan Tahura Bukit Soeharto mengakibatkan setidaknya 20 spesies satwa punah. Binatang seperti landak, musang, dan rangkong (burung besar) sudah tidak dapat ditemui di kawasan ini, selain itu juga penelusuran penelitian macan dahan yang merupakan predator utama di rantai makanan di Kalimantan hanya tinggal 10 ekor di Tahura Bukit Soeharto (tahun 2009).

Kerusakan kawasan Tahura Bukit Soeharto juga disebabkan oleh kebakaran hutan yang selalu terjadi setiap tahun (Gambar 4.3) di kawasan ini baik kebakaran yang disengaja akibat pembukaan lahan untuk keperluan ladang bagi masyarakat maupun tidak disengaja (karena faktor alam terbakarnya batubara yang berada di lapisan permukaan tanah).

Pencurian kayu atau illegal logging juga merupakan faktor perusak kawasan Tahura Bukit Soeharto yang sering terjadi dalam kawasan mengingat potensi kayu yang ada masih cukup besar.

(9)

Gambar 4.2. Peta Lamp. SK Menhut No. 270/Kpts-II/1991, tgl 20 Mei 1991 Luas : 61.850 Ha (Sumber : Pengelolaan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto UPTD Pembinaan dan Pelestarian Alam 2009)

(10)

Gambar 4.3. Peta lokasi titik api di Kawasan Hutan Wisata Bukit Soeharto, Propinsi Kalimantan Timur (Sumber : Pemetaan Sebara n Batubara Di Kawasan Tahura Bukit Soeharto 2000)

Gambar

Tabel 4.2. Data Tutupan Lahan
Gambar 4.1. Peta Tutupan Lahan Tahura Bukit Soeharto  (Sumber : Rencana pengelolaan kawasan HPPBS UNMUL 2009)
Gambar 4.2. Peta Lamp. SK Menhut No. 270/Kpts-II/1991, tgl 20 Mei 1991 Luas :  61.850 Ha (Sumber  :  Pengelolaan  Taman  Hutan  Raya Bukit Soeharto UPTD Pembinaan dan Pelestarian Alam 2009)
Gambar 4.3.   Peta  lokasi  titik  api  di  Kawasan  Hutan  Wisata  Bukit  Soeharto,  Propinsi  Kalimantan  Timur  (Sumber  :  Pemetaan  Sebara n  Batubara Di Kawasan Tahura Bukit Soeharto 2000)

Referensi

Dokumen terkait

Pada tahun 1997 terjadi kebakaran lahan perkebunan karet masyarakat yang ikut dalam Proyek TCSDP seluas 76 hektar dengan jumlah petani sebanyak 38 kepala keluarga pada 4 desa

Habitat daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah yang dijadikan lokasi pengamatan terdiri dari dua lokasi yaitu Sekawat yang terdiri dari dua jalur pengamatan

Suka Jaya Makmur Kalimantan Barat sebagian besar merupakan Hutan Produksi Terbatas (HPT) yang memiliki tipe Hutan Huajan Tropika Basah (Low Land Tropical Rain Forest) didominasi

pemerintah (Departemen Kehutanan), melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan, SK.419/MENHUT- II/2004 sebagai kawasan konservasi Tahura Bukit Soeharto meliputi kawasan

Tumbuhan asing yang ditemukan di kawasan hutan TNGGP juga berasal dari kawasan yang berbatasan atau berdekatan dengan kawasan ini, namun diduga ada beberapa spesies yang berasal

Kawasan TNMB merupakan hutan hujan tropis dengan formasi hutan bervariasi yang terbagi kedalam lima tipe vegetasi yaitu vegetasi hutan pantai, vegetasi hutan mangrove, vegetasi

Sebelum tahun 1996, kawasan HLGN adalah sebuah kawasan hutan yang sebagai besar (18,75%) telah dijadikan pemukiman dimana terdapat 2 desa di dalamnya yaitu desa Amahusu

Kerusakan hutan khususnya hutan jati di sekitar kawasan hutan lindung Jompi didorong oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat (lahan pertanian dan kayu),