• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Hardiness dan Internal Locus Of Control terhadap Sel-Efficacy Pemain Sepak Bola dalam Melakukan Tendangan Penalti

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Peran Hardiness dan Internal Locus Of Control terhadap Sel-Efficacy Pemain Sepak Bola dalam Melakukan Tendangan Penalti"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh :

Ida Bagus Sidhi Wirtama ([email protected])

Yoyon Supriyono, S.Psi, M.Psi Ika Rahma Susilawati, S.Psi, M.Psi

Program Studi Psikologi Universitas Brawijaya Malang

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran hardiness dan internal locus of control terhadap self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti. Populasi penelitian ini adalah pemain sepak bola yang memiliki pengalaman melakukan tendangan penalti yang tergabung pada SSB (Sekolah Sepak Bola) dan lembaga atau organisasi pelatihan sepak bola yang ada di Malang, sedangkan sampel yang digunakan berjumlah 100 orang pemain sepak bola. Teknik pengambilan menggunakan purposive sampling. Variabel hardiness, internal locus of control, dan self-efficacy diukur menggunakan skala hardiness, internal locus of control, dan self-efficacy. Analisis data menggunakan teknik regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hardiness dan internal locus of control secara simultan berperan terhadap self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti sebesar 40,7%. Selain itu hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hardiness secara parsial berperan terhadap self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti sebesar 13,30%, begitu juga dengan internal locus of control berperan secara parsial terhadap self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti sebesar 27,43%.

(2)

ABSTRACT

This study aims to determine the role of hardiness and internal locus of control on self-efficacy football players in the penalty kick. The population of this study was a football player who has experience doing penalty incorporated in SSB (Soccer School) and the institution or organization football training in Malang, while the sample used was 100 football player. The sampling technique was purposive sampling. Variable hardiness, internal locus of control, and self-efficacy was measured using a scale of hardiness, internal locus of control, and self-efficacy. Analysis of data was used multiple regression techniques. The results of this study indicate that hardiness and internal locus of control simultaneously contributes to self-efficacy football players in a penalty of 40.7%. In addition, the results of this study indicate that hardiness partially contributes to self-efficacy football players in a penalty amounting to 13.30%, and internal locus of control also contribute partially to self-efficacy football players in a penalty of 27.43%.

Keywords: Hardiness, internal locus of control, self-efficacy LATAR BELAKANG

Sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga yang terkenal di dunia karena hampir seluruh masyarakat di dunia menyukai olahraga ini. Hal ini bisa dibuktikan dengan jumlah fans pada klub sepak bola yang mecapai ratusan juta orang, seperti pada klub asal Inggris, yaitu Manchester United yang memiliki jumlah fans melebihi angka 354 juta orang, klub asal Spanyol, Barcelona sebanyak 270 juta orang dan klub Real Madrid sebanyak 174 juta orang fans (Reihan, 2013). Skor yang didapat dalam permainan sepak bola adalah tim yang mampu memasukkan bola ke gawang lawan. Tim yang menang adalah yang mampu mencetak gol dengan jumlah yang lebih banyak dari tim lainnya. Gol dapat diperoleh dengan cara seperti free-kick (tendangan bebas), heading (sundulan kepala), dan tendangan titik putih atau yang biasa disebut dengan penalti. Tendangan penalti terlihat mudah dan hampir 99 % dapat terjadi gol, namun dalam kenyataannya tidak semua pemain sepak bola mampu mencetak gol melalui tendangan penalti. Pemain terkenal yang memiliki nama besar di dunia dengan keahliannya mencetak gol pernah gagal mencetak gol dari situasi tendangan penalti. Kesulitan dalam melakukan tendangan penalti terbukti dari gagalnya David Beckham pemain yang terkenal karena keahliannya mencetak gol dari tendangan bebas dan penalti

(3)

Kemampuan mencetak gol dan harga pemain yang tinggi tidak selalu menjadi jaminan pemain mampu mencetak gol dalam tendangan penalti. Terlihat bahwa ada faktor lain yang menyebabkan pemain gagal melakukan tendangan penalti seperti faktor psikologis. Kondisi psikologis mendapatkan tekanan dikarenakan jika pemain gagal mencetak gol akan mendapatkan cemooh dari pendukung klub tersebut atau bahkan dipertandingan Internasional yang mempertandingkan tim antar negara tidak jarang pemain tersebut menjadi public enemy setelah gagal mencetak gol dalam situasi tendangan penalti. Pemain Italia yaitu Roberto Baggio pernah mengalami kegagalan melakukan tendangan penalti pada saat melawan Perancis dan menjadi pemain yang disalahkan oleh public Italia. Salah satu artikel yang menyatakan kondisi psikologis pemain pada saat melakukan tendangan penalti di www.anggabudisaputra28.com tanggal 15 Februari 2014, menurut Roberto Baggio mengungkapkan bahwa :

“bila anda kalah di lapangan, itu hal yang bisa diterima dan tidak perlu menyesal, namun bila kalah karena adu penalti saya sungguh tak bisa menerima. Gara-gara tiga menit kalah dalam adu penalti, maka empat tahun persiapan tim menjadi lenyap sia-sia”.

Didukung oleh ungkapan Frank Lampard pemain timnas Inggris dan Chelsea, dalam menyikapi kekelahan klubnya saat menghadapi Manchester United di final Liga Champions 2007/2008 (Saputra, 2014).

“Tak peduli sehebat apapun kita bermain sepanjang 120 menit, tak perduli setangguh apapun kita bertarung, namun saat memasuki adu penalti pemain langsung terjangkit penyakit psikologis dan sangat sulit untuk mencetak gol dalam situasi seperti itu”

Kondisi tersebut dialami oleh pemain sepak bola dalam menghadapi situasi tendangan penalti. Ungkapan pemain dan pelatih terlihat bahwa salah satu faktor keberhasilan dalam melakukan tendangan penalti dipengaruhi oleh faktor psikologis.

Menurut Pesurnay (2000) prestasi diantaranya ditentukan oleh keadaan psikis olahragawan artinya bahwa prestasi olahraga ditentukan oleh aspek psikis, karena faktor psikislah yang menentukan pemenang suatu pertandingan. Faktor psikis yang dimaksudkan adalah kemampuan atlet untuk tampil dengan baik dalam keadaan yang diwarnai ketegangan serta persaingan seperti dalam pertandingan olahraga prestasi (Gunarsa, 1996). Tekanan

(4)

psikologis yang besar seperti yang diungkapkan oleh pemain dan pelatih sepak bola dalam situasi tendangan penalti dapat membuat pemain mengalami rasa cemas, stress, dan kehilangan kepercayaan diri, sehingga dapat mengganggu peforma dalam melakukan tendangan penalti. Kepribadian yang kuat dan tahan dalam menghadapi tekanan psikologis yang besar dibutuhkan untuk menghadapi situasi tersebut. Kepribadian yang mampu menghadapi situasi dengan tekanan yang tinggi yaitu hardiness dan internal locus of control. Kepribadian hardiness dan internal LOC yang dimiliki pemain diharapkan mampu mengatasi kondisi stress, memiliki kontrol perasaan yang baik, dan mampu menghadapi tantangan dalam hidup yaitu berupa tuntutan gol.

Atlet-atlet muda yang mengalami ketakutan akan kegagalan mengalami keadaan penuh tekanan. Ketakutan akan kegagalan memberikan dampak berupa kecemasan dan stres, sehingga diperlukan adanya karakteristik kepribadian yang mampu mengatasi stres yaitu hardiness. Karakteristik kepribadian hardiness berfungsi untuk mengurangi dampak dari terjadinya ketakutan akan kegagalan yang dialami para atlet. Hardiness tinggi dapat membantu atlet dalam mengatasi rasa ketakutan akan kegagalannya pada saat bertanding dan menghadapi lawan yang dirasa lebih baik darinya (Sagar, Lavallee & Spray, 2009). Pemain sepak bola membutuhkan latihan fisik dan mental yang dilaksanakan secara beriringan agar menjadikan pemain mampu melaksanakan setiap pertandingan dengan baik. Pertandingan kelas dunia, apalagi pada saat final semua pemain tampaknya memiliki kemampuan fisik dan teknik yang tidak jauh berbeda, namun bila salah seorang pemain kalah salah satu faktor yang sering dituding penyebab kekalahan ialah faktor psikis (Intan Sugih, 2001). Individu dengan internal locus of control cenderung mengangap bahwa ketrampilan (skill), kemampuan (ability), dan usaha (effort) lebih menentukan apa yang mereka peroleh dalam hidup mereka (Zulkaida dkk, 2007). Pemain dengan internal LOC diharapkan mampu mengoptimalkan keterampilan, kemampuan dan usaha yang sudah dimilikinya untuk mencetak gol karena pemain tersebut mampu mengontrol peristiwa yang terjadi kepadanya dengan karakteristik kepribadian yang dimilikinya.

Penelitian yang dilakukan oleh atlet bola basket menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara self-efficacy dengan ketepatan free throw pada pemain national basketball league klub CLS Knights. Jurnal penelitian dilakukan oleh Surbakti (2008) yang meneliti hubungan self-efficacy terhadap atlit berprestasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek yang memiliki self-efficacy merasa yakin dapat menyelesaikan setiap tugas

(5)

yang diberikan kepadanya dan mencapai sukses. Self-efficacy yang tinggi akan membuat seseorang akan berusaha semakin giat, diberbagai penelitian menunjukan kualitas individu akan mengalami peningkatan seiring pertumbuhan self-efficacy (Bandura, 1997). Menurut Hanton & Connaughton, keyakinan mempengaruhi kebimbangan dalam menentukan suatu pilihan dan menurut Hardy melalui keyakinan diri dapat mengurangi simptom kegugupan terhadap perilaku (Morazuki & Saarini, 2009). Atlet memerlukan keyakinan diri untuk memberi sokongan kepada diri sendiri untuk mencapai kejayaan dan menghilangkan rasa bimbang dalam menjalankan tugas seperti tugas dalam melakukan tendangan penalti (Morazuki & Saarini, 2009).

Uraian diatas dapat menjelaskan bahwa pemain yang bertugas untuk melakukan tendangan penalti mempunyai beban yang begitu besar. Beban tersebut dapat membuat pemain mengalami ketegangan dan kecemasan. Individu yang mengalami keadaan penuh ketegangan dan kecemasan memerlukan suatu karakteristik kepribadian yang dapat mengurangi tegangan dan kecemasan yaitu hardiness dan internal locus of control. Davies & Amstrong (1989) menyatakan kepribadian adalah salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kepercayaan diri seorang atlet. Hardiness dan internal locus of control berperan penting pada atlet sepak bola yang akan melakukan tendangan penalti karena kedua faktor tersebut adalah tipikal kepribadian yang efektif untuk mampu membentuk self-efficacy. Pemain dengan hardiness dan internal LOC diharapkan mampu mengubah semua ancaman menjadi tantangan, menghadapi semua resiko yang ada dan mampu mengurangi perasaan takut akan kegagalan. Pemain dengan kepercayaan diri yang tinggi diharapkan mampu mengatasi tekanan psikologis dan mampu mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki untuk mencetak gol dalam situasi tendangan penalti.

Berbagai penjelasan di atas mendorong peneliti untuk mencoba mengetahui adakah peran hardiness dan internal locus of control terhadap self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti. Guna memperoleh data tersebut, peneliti melakukan pengambilan data pada SSB (Sekolah Sepak Bola) dan lembaga/organisasi pelatihan sepak bola di Malang, Jawa Timur. Pemilihan data penelitian dilakukan di Malang karena kota Malang memiliki prestasi sepak bola yang baik, dengan klub yang bernama Arema. Prestasi yang pernah diraih oleh klub Arema diantaranya adalah Juara 1 tahun 1993 (Galatama), juara 1 tahun 2010 (Indonesia Super League), juara 2 tahun 2011,2013 (Indonesia Super

(6)

League) dan juara 1 tahun 2004 (Divisi Satu Liga Indonesia) serta berbagai prestasi yang lain (Hariandja, 2014).

LANDASAN TEORI Hardiness

Menurut Maddi (2007), hardiness merupakan suatu karakteristik kepribadian yang membuat individu menjadi lebih kuat, tahan, stabil dan optimis dalam menghadapi stres dan mengurangi efek negatif dari timbulnya stres yang harus dihadapi (Nurhidayah dan Hidayanti, 2009). Maddi dan Kobasa (2005) mengungkapkan bahwa terdapat tiga dimensi hardiness yaitu komitmen (commitment), kontrol (control), tantangan (challenge).

Internal Locus of Control

Menurut Lefcourt internal locus of control adalah keyakinan individu mengenai peristiwa-peristiwa yang berpengaruh dalam kehidupannya akibat tingkah lakunya sehingga dapat dikontrol (Smet, 1994). Menurut Rotter Phares, 1992 (Nurhidayah dan Hidayanti, 2009) dimensi dari internal locus of control yaitu kemampuan, minat dan usaha.

Self-Efficacy

Bandura (1997) mengungkapkan bahwa, self-efficacy adalah keyakinan seseorang tentang kemampuannya untuk mengorganisasi dan melakukan tindakan-tindakan yang perlu dalam mencapai tingkat kinerja tertentu (Zulkaida dkk, 2007). Menurut Bandura (Zulkaida, 2007) dimensi self-efficacy terdiri dari magnitude,generality dan strength.

METODE PENELITIAN

Partisipan dan Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah pemain sepak bola yang memiliki pengalaman melakukan tendangan penalti yang tergabung pada SSB (Sekolah Sepak Bola) dan lembaga atau organisasi pelatihan sepak bola yang ada di Malang, sedangkan sampel yang digunakan berjumlah 100 orang pemain sepak bola. Teknik pengambilan menggunakan purposive sampling. Variabel hardiness, internal locus of control, dan self-efficacy diukur menggunakan skala hardiness, internal locus of control, dan self-efficacy. Analisis data menggunakan teknik regresi berganda.

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah uji asumsi klasik dan uji hipotesis dengan menggunakan bantuan SPSS 17.0. Uji asumsi klasik terdiri dari uji normalitas, uji multikolinieritas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi sedangkan uji hipotesis terdiri dari metode analisis regresi linier berganda, uji F, dan uji t.

(7)

Alat Ukur dan Prosedur Penelitian Alat Ukur

a. Hardiness

Skala hardiness dibuat berdasarkan teori hardiness Maddi dan Kobasa (2005), terdiri dari dimensi utama yaitu kontrol, komitmen dan tantangan. Total aitem yang lolos sebanyak 18 aitem, dengan koefisien korelasi aitem-total bergerak dari 0,320 sampai dengan 0,701. b. Internal Locus of Control

Skala internal locus of control disusun dengan mengacu pada aspek-aspek internal locus of control Rotter; Phares, 1992 (Nurhidayah & Hidayanti, 2009), dimensi utama terdiri dari kemampuan, minat dan usaha. Total aitem yang lolos sebanyak 14 aitem, dengan koefisien korelasi aitem-total bergerak dari 0,301 sampai dengan 0,748.

c. Self-efficacy

Skala self-efficacy yang disusun dengan mengacu pada teori self-efficacy Albert Bandura 1997, dimensi utama terdiri dari magnitude, generality dan strength. Total aitem yang lolos sebanyak 20 aitem, dengan koefisien korelasi aitem-total bergerak dari 0,414 sampai dengan 0,784.

Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian pada penelitian ini bermula dari penyusunan alat ukur penelitian yang mengacu pada aspek-aspek teori hardiness, internal locus of control, dan self-efficacy, kemudian alat ukur tersebut dibagikan kepada subjek penelitian yaitu pemain sepak bola yang memiliki pengalaman melakukan tendangan penalti yang tergabung pada SSB (Sekolah Sepak Bola) dan lembaga atau organisasi pelatihan sepak bola yang ada di Malang. Data dari hasil penelitian dianalisa menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis data menggunakan analisis regresi linier berganda (multiple linier regression).

HASIL UJI SIMULTAN

Hasil Penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada peran yang signifikan antara hardiness dan internal LOC terhadap self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti., untuk membuktikanhipotesis penelitian maka digunakan analisis data regresi linier berganda (multiple linier regression) yang hasilnya adalah sebagai berikut:

(8)

a) Hipotesis Simultan

Hasil Hipotesis Peran Hardiness dan Internal LOC Secara Simultan terhadap Self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti.

R2 F hitung Ftabel Signifikansi Keterangan

0,407 33,335 2,70 0,000 Signifikan

Tabel di atas menunjukkan nilai Fhitung sebesar 33,335. Jika dibandingkan dengan Ftabel yakni 2,70 maka nilai Fhitung > Ftabel., sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima atau dengan kata lain variabel hardiness dan internal locus of cont.rol secara bersama-sama berperan terhadap self-efficacy.

Berdasarkan hasil olah data menggunakan SPSS 17.0 dapat diketahui nilai signifikansinya adalah 0,000 yang lebih kecil dari α (0,05), oleh karena itu, H01 ditolak dan

Ha1 diterima. Kesimpulannya bahwa hardiness dan internal locus of control secara

bersama-sama berperan terhadap self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti dengan pengaruh sebesar 0,407.

Selain uji hipotesis, dapat diketahui sumbangan dari variabel X terhadap Y melalui nilai regresi yang ditunjukkan pada nilai R square yakni 0,407. Hal ini menunjukkan bahwa hardiness dan internal locus of control menyumbang peran 40,7% terhadap self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti, sedangkan sisanya 59,3% dipengaruhi oleh faktor lain.

b) Hipotesis Parsial 1 :

Peran secara Parsial antara hardiness terhadap self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti.

thitung ttabel Signifikansi Keterangan

2,525 1.98422 0,013 Signifikan

Berdasarkan tabel uji t di atas, dapat diketahui bahwa thitung sebesar 2,252, jika dibandingkan dengan ttabel yang sebesar 1,98422 maka nilai thitung > ttabel, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis peneliti diterima, atau dengan kata lain bahwa variabel X1 yaitu hardiness berperan terhadap self-efficacy.

(9)

Hasil besarnya nilai peran ditunjukkan oleh nilai hasil dari (koefisien)x(zero-order Correlations)x(100%) yaitu 0,251x0,530x100% = 13,30%. Jadi hardiness berperan sebesar 13,30% terhadap self-efficacy.

Nilai signifikansi sebesar 0,013 lebih kecil dari α (0,05), maka dapat disimpulkan bahwa Ha2 diterima dan Ho2 ditolak. Hal ini berarti, bahwa hardiness secara parsial berperan terhadap self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti. Jika pemain sepak bola memiliki hardiness yang tinggi maka akan semakin tinggi self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti begitu juga sebaliknya.

c) Hipotesis Parsial 2

Peran secara Parsial antara internal LOC terhadap self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti.

thitung ttabel Signifikansi Keterangan

4,543 1.98422 0,000 Signifikan

Berdasarkan tabel uji t di atas, dapat diketahui bahwa thitung sebesar 4,543 jika dibandingkan dengan ttabel sebesar 1,98422 maka nilai thitung > ttabel, sehingga dapat disimpulkan bahwa Hipotesis peneliti diterima, atau dengan kata lain bahwa variabel X3 yaitu internal locus of control berperan terhadap self-efficacy.

Tabel di atas diperoleh hasil besarnya nilai pengaruh tersebut ditunjukkan oleh nilai hasil dari (koefisien)x(zero-order Correlations)x(100%) yaitu 0,452x0,607x100% = 27,43%. Jadi internal locus of control berperan sebesar 27,43% terhadap self-efficacy.

Nilai signifikansi sebesar 0,00 lebih kecil dari α (0,05), maka dapat disimpulkan bahwa Ha3 diterima dan Ho2 ditolak. Hal ini berarti, bahwa internal locus of control secara parsial berperan terhadap self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti. Jika pemain sepak bola memiliki internal locus of control yang tinggi maka akan semakin tinggi self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti begitu juga sebaliknya.

(10)

DISKUSI

1. Hardiness dan Internal Locus of Control secara bersama-sama (simultan) berperan terhadap self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti.

Berdasarkan hasil analisis data pada penelitian ini, menunjukan bahwa terdapat peran yang signifikan antara variabel X1 (hardiness) dan variabel X2 (internal locus of control) terhadap variabel Y yaitu self-efficacy, namun besarnya peran tidak sama. Berdasarkan hasil regresi berganda, perbandingan fhitung dengan ftabel, antara variabel hardiness dan internal locus of control terhadap self-efficacy adalah sebesar fhitung 33,335 dan ftabel 2,70. Terlihat bahwa kedua variabel mempunyai peran yang signifikan secara bersama-sama terhadap self-efficacy. Besarnya peran hardiness dan internal locus of control terhadap self-efficacy adalah sebesar r2 = 40,7%.

Hasil analisis data menyatakan hardiness dan internal locus of control secara bersama-sama memiliki peran terhadap self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti. Hal itu berarti sesuai dengan hipotesis awal yaitu dalam situasi tendangan penalti dapat menimbulkan keadaan yang penuh dengan ketegangan dan kecemasan, sehingga perlu adanya karakteristik kepribadian yang kuat dalam menghadapi situasi tersebut. Individu yang mengalami keadaan penuh ketegangan dan kecemasan memerlukan suatu karakteristik kepribadian yang dapat mengurangi ketegangan dan kecemasan yaitu hardiness dan internal locus of control.

Davies & Amstrong (1989) menyatakan kepribadian adalah salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kepercayaan diri seorang atlet. Hardiness dan internal locus of control berperan penting pada atlet sepak bola yang akan melakukan tendangan penalti karena kedua faktor tersebut adalah tipikal kepribadian yang efektif untuk mampu membentuk self-efficacy. Para pemain dengan hardiness dan internal LOC mampu mengubah ancaman menjadi tantangan, menghadapi semua resiko yang ada dan mampu mengurangi perasaan takut akan kegagalan. Pemain dengan kepercayaan diri yang tinggi diharapkan mampu mengatasi tekanan psikologis dan mampu mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki untuk mencetak gol.

Hasil olah data menunjukkan bahwa, pemain sepak bola yang memiliki self-efficacy tinggi memiliki keberhasilan mencetak gol yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemain sepak bola yang memiliki tingkat self-efficacy sedang ataupun rendah pada

(11)

situasi tendangan penalti. Hal itu sesuai dengan penelitian yang dilakukan pada atlet bola basket menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara self-efficacy dengan ketepatan free-throw pada pemain national basketball league klub CLS Knights. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Surbakti (2008), meneliti hubungan self-efficacy terhadap atlet berprestasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek yang memiliki self-efficacy merasa yakin dapat menyelesaikan setiap tugas yang diberikan kepadanya dan mencapai sukses. Self-efficacy yang tinggi akan membuat seseorang akan berusaha semakin giat, di berbagai penelitian menunjukan kualitas individu akan mengalami peningkatan seiring pertumbuhan self-efficacy (Bandura, 1997).

Tendangan penalti dilakukan secara individu, sehingga tugas dan beban terletak pada individu tersebut. Tugas dan beban tersebut menuntut pemain untuk memiliki kinerja individual yang baik. Kinerja individual adalah tingkat pencapaian atau hasil kerja sesorang dari sasaran yang harus dicapai atau tugas yang harus dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu (Engko, 2006). Penelitian oleh Erez dan Judge menyatakan bahwa terdapat hubungan yang positif antara self-efficacy dengan kinerja individual (Engko, 2006). Dengan demikian, dapat dikatakan self-efficacy berpengaruh terhadap kinerja individual dalam melakukan tendangan penalti. Jadi, meskipun pemain mendapatkan tekanan psikologis saat melakukan tendangan penalti, pemain yang memiliki self-efficacy tinggi akan mampu menyelesaikan tugas tendangan penalti dengan baik, begitu juga sebaliknya. Hal ini membuktikan bahwa self-efficacy juga berdampak pada keberhasilan pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti.

Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor hardiness dan internal LOC berperan secara signifikan terhadap kemunculan self-efficacy yaitu sebesar 40,7%, namun selain kedua faktor tersebut terdapat pula berbagai variabel lain yang memiliki peran sebesar 59,3%. Beberapa variabel lain yang berperan terhadap self-efficacy antara lain adalah :

1. Trik berupa gerak-gerik yang dimiliki penjaga gawang sebelum tendangan penalti dilakukan. (Penelitian dilakukan oleh Wood G & Wilson M. R (2010) menunjukkan bahwa gerak-gerik penjaga gawang terbukti memengaruhi pemain yang melakukan tendangan penalti. Sekitar 8% tembakan diselamatkan oleh penjaga gawang yang tidak melakukan gerak-gerik sebelum tendangan penalti, sementara penjaga gawang yang melakukan gerak-gerik sebelum tendangan penalti berhasil menyelamatkan sekitar 22% tembakan),

(12)

2. Reaksi penendang penalti setelah menciptakan gol saat adu penalti dapat mempengaruhi kemenangan tim. (Penelitian dilakukan oleh Moll G & Pepping G.J (2010) menunjukkan bahwa 66% pemain yang menunjukan reaksi selebrasi berpindah tempat dengan lengan diangkat atau reaksi kebanggaan lainnya lebih banyak berada di tim yang memenangkan adu penalti. Sedangkan hanya sekitar 2% pemain yang melakukan reaksi selebrasi melihat ke sekitar atau ke bawah sambil tersenyum setelah sukses menendang tercatat hanya sedikit yang berada di tim yang memenangkan adu penalti. Pemain melakukan reaksi kebanggaan mungkin akan dapat meningkatkan kepercayaan diri teman-teman satu tim dan semakin berani serta akan lebih terfokus saat menendang. Reaksi kebanggaan akan memunculkan gambaran lebih superior dan mungkin dapat menyebabkan lawan merasa sedikit inferior, serta kemudian dapat mengurangi harapan lawan untuk memenangkan adu penalti),

3. Perbedaaan usia pemain (Hasil uji beda kruskal wallis pada penelitian ini menunjukkan bahwa semakin banyak usia yang dimiliki pemain, memiliki nilai rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemain yang memiliki usia lebih sedikit),

4. Perbedaan pengalaman lama bermain sepak bola (Hasil uji beda kruskal wallis pada penelitian ini menunjukkan bahwa semakin lama pemain bergabung pada SSB, maka memiliki nilai rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan pemain yang memiliki sedikit pengalaman bergabung pada SSB.

Hasil pengujian hipotesa dan beberapa uraian teori diatas dapat disimpulkan bahwa hardiness dan internal locus of control secara simultan berperan terhadap self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti.

(13)

2. Hardiness Secara Parsial Berperan terhadap Self-efficacy Pemain Sepak Bola dalam Melakukan Tendangan Penalti

Berdasarkan hasil penelitian, peneliti melihat adanya peran hardiness yang cukup signifikan terhadap self-efficacy terhadap pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti. Hal ini terlihat dalam nilai thitung hardiness sebesar 2,525 yang lebih besar dari pada ttabel yang sebesar 1,98422. Besarnya nilai peran hardiness terhadap self-efficacy sebesar 13,30%.

Hasil uji statistika diketahui bahwa hubungan antar variabel hardiness dan variabel self-efficacy mempunyai hubungan yang positif. Artinya adalah semakin tinggi tingkat hardiness yang dimiliki oleh seseorang, maka akan semakin tinggi pula self-efficacy yang akan muncul.

Hasil olah data tersebut erat kaitannya dengan penelitian yang menyatakan bahwa hardiness yang tinggi dapat membantu atlet dalam mengatasi rasa ketakutan akan kegagalannya pada saat bertanding dan menghadapi lawan yang dirasa lebih baik darinya (Sagar, Lavallee & Spray, 2009). Hardiness merupakan salah satu karakteristik kepribadian yang membuat individu menjadi lebih kuat, tahan, stabil, dan optimis dalam menghadapi stress, jadi ketika pemain sepak bola mampu mengatasi rasa ketakutan akan kegagalan saat menghadapi suatu pertandingan, maka akan dapat meningkatkan self-efficacy pemain dalam menjalakan tugas sebagai penendang penalti.

Menurut Muhid (2009) mengatakan bahwa self-efficacy adalah keyakinan individu untuk dapat mengatasi dan menyelesaikan suatu tugas yang mungkin dapat membuat mereka malu atau gagal atau sukses. Pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti juga membutuhkan kepercayaan diri yang tinggi agar mampu mengoptimalkan kemampuan yang sudah dimilikinya. Seorang atlet yang mempunyai rasa percaya diri yang optimal biasanya mampu menangani situasi yang sulit dengan baik. Mereka akan mengembangkan sikap yang rasional, mau bekerja keras, melakukan persiapan yang memadai dan juga mempunyai banyak alternatif untuk memecahkan kesulitan yang muncul (Dosil & Joaquin, 2006). Pemain yang memiliki self-efficacy yang tinggi dapat membuat keberhasilan pemain dalam melakakukan tendangan penalti menjadi lebih besar, hal itu bisa terlihat dari tingkat keberhasilan mencetak gol pada pemain yang memiliki self-efficacy tinggi memiliki keberhasilan mencetak gol yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemain sepak bola yang memiliki tingkat self-efficacy sedang ataupun rendah dalam mencetak gol pada situasi tendangan penalti.

(14)

3. Internal Locus Of Control Secara Parsial Berperan terhadap Self-efficacy Pemain Sepak Bola dalam Melakukan Tendangan Penalti

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diolah, peneliti melihat adanya peran internal locus of control yang cukup signifikan terhadap self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti. Hal ini terlihat dalam nilai thitung internal locus of control sebesar 4,543 yang lebih besar daripada ttabel yang sebesar 1,98422. Besarnya nilai peran internal locus of control terhadap self-efficacy sebesar 27,43%

Hasil uji statistika dengan menggunakan software SPSS for Windows 17.0 diketahui bahwa hubungan antar variabel internal locus of control dan variable self-efficacy mempunyai hubungan yang positif. Artinya adalah semakin tinggi tingkat internal locus of control yang dimiliki oleh pemain sepak bola, maka akan semakin tinggi pula self-efficacy yang akan muncul.

Berdasarkan hasil analisis data tersebut erat kaitannya dengan teori Rotter (Zulkaida dkk, 2007) yang menyatakan bahwa Individu dengan internal locus of control cenderung menganggap bahwa ketrampilan (skill), kemampuan (ability), dan usaha (effort) lebih menentukan apa yang mereka peroleh dalam hidup mereka. Larsen & Buss menyatakan bahwa locus of control merupakan suatu konsep yang menunjuk pada keyakinan individu mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Locus of control menggambarkan seberapa jauh seseorang memandang hubungan antara perbuatan (action) sebagai sebab yang dilakukannya dengan hasil (outcome) sebagai akibatnya (Zulkaida dkk, 2007).

Hasil dari pengumpulan dan analisis data maka dapat ditarik kesimpulan mengenai hasil penelitian adalah hardiness dan internal locus of control secara bersama-sama berperan terhadap self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti, sedangkan faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini namun memiliki peran terhadap self-efficacy pemain dalam melakukan tendangan penalti dari beberapa penelitian adalah, trik berupa gerak-gerik yang dimiliki penjaga gawang sebelum tendangan penalti dilakukan (Wood & Wilson, 2010), reaksi penendang penalti setelah menciptakan gol saat adu penalti (Moll & Pepping, 2010). Hardiness secara parsial berperan terhadap self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti. Internal locus of control secara parsial berperan terhadap self-efficacy pemain sepak bola dalam melakukan tendangan penalti.

(15)

Analisis tambahan pada data demografis didapatkan hasil sebagai berikut terdapat perbedaan antara hardiness,internal locus of control dan self-efficacy berdasarkan perbedaan usia pemain pada subjek penelitian. Semakin banyak usia yang dimiliki pemain, memiliki nilai rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemain yang memiliki usia lebih sedikit. Terdapat perbedaan antara hardiness, internal locus of control, dan self-efficacy berdasarkan perbedaan lama bergabung pemain pada subjek penelitian. Semakin lama pemain bergabung pada SSB, maka memiliki nilai rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemain yang memiliki sedikit pengalaman bergabung pada SSB.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, S. (2012). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Bandura, A. (1997). Self Efficacy : The Exercise of Control. New York : Freeman and company. Davies, D. & Amstrong, M. (1989), Psychological Factors in Competitive Sport. Philadelpha : The

Falmer Press

Dosil, & Joaquin. (2006). The Sport Psychologist Handbook A Guide for Sport Spesific Performance Enhancement. England : John wiley & Sons, Ltd.

Engko, C. (2006), Pengaruh Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Individual. Makalah pada Simposium Akuntansi : Padang

Gunarsa, D. & Singgih. (1996). Psikologi Olahraga ; Teory dan Praktik. Jakarta : PT. BPK Gunung Mulia.

Maddi, R. S. (2007). Relevance Of Hardiness Assessment And Training To The Military Context. Journal of Military Psychology Vol. 19 No.1

Maddi, Salvatore. R & Kobasa. (2005). The Story of Hardiness : Twenty Years of Theorizing, Research and Practice. Consulting Psychology Journal Practice and Research Vol. 54. No. 3, 175-185

Moll, T. & Pepping, G. J. (2010). Emotional Contagion In Soccer Penalty Shootout : Celebration of Individual Succes is Associated with Ultimate Team Succes. Jurnal of Sports Sciences. 28:983-992

Morazuki, B. R., & Saarani, B. S. ( 2009) Kajian Tahap Kekuatan Mental di Kalangan Atlet Karate Peringkat Universiti.Skripsi Fakulti Pendidikan Universiti Teknologi Malaysia. Malaysia Muhid, A. (2009). Hubungan Antara Self-Control Dan Self-Efficacy Dengan Kecenderungan Perilaku Prokrastinasi Akademik Mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 18 No 1

(16)

Nurhidayah, S, & Hidayanti, N. (2009). Hubungan Antara Ketabahan dan Locus of Control External dengan Kebermaknaan Hidup pada Istri yang Bekerja di Bagian Sewing pada PT. Bosaeng Jaya Bantar Gebang Bekasi. Jurnal Soul Vol.2 No.2

Pesurnay, P. (2000). Reposisi dan Reaktualisasi Sistem Keolahragaan Menuju Indonesia Baru. Jawa Timur : Panitia Seminar Ilmiah PON XV

Reihan, M. (2013). Manchester United yang memiliki jumlah fans melebihi angka 354 juta orang, klub asal Spanyol Barcelona sebanyak 270 juta orang dan klub Real Madrid sebanyak 174 juta orang fans. Diperoleh tanggal 6 Oktober 2013

Sagar, S. S, Lavalle, D., & Spray, C. M. (2009). Coping with the effeccts of fear of failure : Apreliminary investigation of young elite athletes. Journal of Clinical Sport Psychology, 3, 1-27

Saputra, B. A. (2014). Sepak Bola-Tendangan Penalti.

http://anggabudisaputra28.blogspot.com/2014/01/sepak-bola-tendangan-pinalti.html. Diperoleh tanggal 15 februari 2014

Surbakti, M. N. & Sepjo. P. (2008). Self-efficacy pada Atlet Berprestasi. Universitas Gunadharma Wood, G. & Wilson M.R. (2010). A Moving Goalkeeper Distracts Penalty Takers and Impairs

Shooting Accuracy. Journal of Sprots Sciences. 28:937-946

Zulkaida, A, dkk. (2007). Pengaruh Locus of Control dan Efikasi Diri Terhadap

Kematangan Karir Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Jurnal Proceeding PESAT, 21-22

Gambar

Tabel  di  atas  menunjukkan  nilai  F hitung  sebesar  33,335.  Jika  dibandingkan  dengan  F tabel  yakni  2,70  maka  nilai  F hitung  >  F tabel.,  sehingga  dapat  disimpulkan  bahwa  hipotesis  diterima  atau dengan kata lain variabel hardiness da
Tabel  di  atas  diperoleh  hasil  besarnya  nilai  pengaruh  tersebut  ditunjukkan  oleh  nilai  hasil dari (koefisien)x(zero-order Correlations)x(100%)  yaitu 0,452x0,607x100% = 27,43%

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan paparan dan pembahasan menyimpulkan bahwa: 1) makna denotasi yang ada pada iklan adalah adanya hubungan keluarga antara anak dan orang tua khususnya anak dan ayah,

Puji Syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karuniaNya kepada kita semua, dan tidak lupa pula shalawat serta salam kita haturkan kepada

It means that there was a significant difference of students‟ achievement after implementation was better than before, the questionnaire result showed that the students gave the

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh pemberian corrective feedback pada pekerjaan rumah terhadap perubahan miskonsepsi siswa

Sementara data daftar observasi untuk dosen dan mahasiswa serta daftar catatan lapangan menginformasikan bahwa permasalahan yang dihadapi mahasiswa

1.1 PERSIAPAN YANG PERLU DIPERHATIKAN Ada beberapa hal yang mungkin perlu diperhatikan sebagai seorang pengajar sebelum mengakses E-learning UPU diantaranya yaitu

dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang saya cintai. Mufti Andri)...

c.' S eleksi protokorm setelah transform asi, dan d. P em buktian transform an dan transgenik anggrek. M etode transform asi genetik ke tanam an anggrek P. amabilis sesuai klaim 1,