IMPLEMENTASI PROGRAM BIRRUL WALIDAIN DI SMP IT QURRATA A YUN BATUSANGKAR SKRIPSI

94 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI PROGRAM BIRRUL WALIDAIN DI SMP IT QURRATA A’YUN BATUSANGKAR

SKRIPSI

DitulisSebagai Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana (S-1)

Jurusan Pendidikan Agama Islam

Oleh

YOPI CANDRA NIM. 14 101 144

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

BATUSANGKAR 2020

(2)
(3)
(4)
(5)

v ABSTRAK

Yopi Candra, Nim. 14 101 144, judul skripsi: “IMPLEMENTASI PROGRAM BIRRUL WALIDAIN DI SMP IT QURRATA A’YUN BATUSANGKAR”. Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar, 2020.

Pembahasan pokok dalam penelitian ini adalah bagaimana perencanaan pelaksanaan dan evaluasi program Birrul Walidain di SMP IT Qurrata A‟yun Batusangkar, tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan implementasi program Birrul Walidain di SMPI IT Qurrata A‟yun Batusangkar.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research, dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan wawancara dan dokumentasi. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah 4 orang yang terdiri dari 2 orang pimpinan, 1 orang pembina asrama dan 1 orang wali murid. Keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi.

Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan dapat di simpulkan bahwa: 1) Perencanaan program Birrul Walidain di SMP IT Qurrata A‟yun Batusangkar sudah memiliki perencanaan yang bagus, hal ini terlihat dari tujuan atau target yang ingin di capai, waktu pelaksanaan, materi yang disampaikan dan metode yang digunakan serta buku panduan pedoman integritas Perguruan Qurrata A‟yun Batusangkar. 2) Pelaksanaan program Birrul Walidain ini tidak hanya dilaksanakan di Sekolah atau di Asrama, melainkan juga dilaksanakan kembali kebiasaan baik siswa dari materi yang didapatkan, untuk di aplikasikan saat siswa berada di rumah masing-masing, di samping itu untuk memaksimalkan program Birrul Walidain agar terlaksana di rumah, Sekolah atau Asrama sudah membuat lembaran evaluasi sebagai bentuk acuan, lembaran ini di isi oleh orangtua dan di sertai tanda tangan sebagai penguat. 3) Evaluasi ini di lakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana target yang sudah tercapai pada lembaran evaluasi, evaluasi di lakukan dengan cara: pertama melalui lisan, kedua mengumpulkan lembaran evalusi yang telah di isi oleh siswa sepulang dari rumah yang di ketahui orangtua dan lembaran evaluasi ini di evaluasi oleh para penanggung jawab program yaitu pembina Asrama.

(6)

vi

D

DAAFFTTAARRIISSII

HALAMAN JUDUL ... i

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iv

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB 1 PENDAHULUAN A.Latar BelakangMasalah ... 1 B. FokusMasalah ... 8 C.Pertanyaan Penelitian ... 8 D.Tujuan Penelitian ... 8 E. Manfaat Penelitian ... 8 F. DefinisiOperasional ... 9

BAB II KAJIAN TEORITIS A. Gambaran Umum Birrul Walidain ... 11

1. PengertianBirrul Walidain... 11

2. Anjuran dan Keutamaan Birrul Walidain ... 20

3. Batas-batasan Birrul Walidain. ... 23

4. Adab Birrul Walidain ... 24

a. Adab Berbakti Kepada Orangtua yang Masih Hidup ... 24

b. Adab Berbakti Kepada Orangtua yang Sudah Wafat ... 27

c. Adab BerbaktiKepada Orangtua yang Berbeda Agama ... 27

(7)

vii

C. Hukum Birrul Walidain ... 31

D. Jenis Durhaka Kepada Kedua Orangtua ... 34

1. Pengertian Durhaka Kepada Orangtua ... 34

2. Bentuk-bentuk Kedurhakaan Kepada Kedua Orangtua ... 34

3. Akibat Durhaka Kepada Kedua Orangtua ... 37

E. Bentuk-Bentuk Birrul Walidain ... 38

1. Memuliakan Orangtua ... 39

2. Mengikuti Keinginan dan Mentaati... 41

3. Menghormati Kedua Orangtua ... 41

4. Membantu Fisik dan Material ... 41

5. Mendo‟akan Kedua Orangtua ... 42

6. Menunaikan Kewajiban Untuk Kedua Orangtua ... 42

F. Hikmah Birrul Walidain... 42

G. Penelitian yang Relevan ... 44

BAB IIIMETODE PENELITIAN A. JenisPenelitian ... 50

B. LatardanWaktuPenelitian ... 50

C. InstrumenPenelitian ... 50

D. Sumber Data ... 50

E. Teknik Pengumpulan Data ... 50

F. TeknikAnalisis Data ... 52

G. TeknikPenjaminKeabsahan Data... 56

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Temuan Penelitian 1. Profil Sekolah ... 59

2. Jumlah Guru ... 59

3. Jumlah Siswa ... 60

B. Temuan Khusus 1. Perencanaan Program Birrul Walidain ... 61

2. Pelaksanaan Program Birrul Walidain ... 65

(8)

viii C. Pembahasan

1. Perencanaan Program Birrul Walidain ... 72 2. Pelaksanaan Program Birrul Walidain ... 76 3. Evaluasi Program Birrul Walidain ... 76 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 79 B. Saran ... 80 DAFTAR KEPUSTAKAAN

(9)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Tenaga Pendidik dan Kependidikan...57 Tabel 4.2 Jumlah Siswa...57

(10)

x

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Kisi-Kisi Wawancara

Lampiran 2 Panduan Wawancara Lampiran 3 Transkip Wawancara Lampiran 4 Foto Dokumentasi

Lampiran 5 Surat Izin Penelitian Dari LP2M

Lampiran 6 Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian Lampiran 7 Blangko Kegiatan Birrul Walidain

Lampiran 8 Evaluasi Ibadah Harian Siswa Lampiran 9 Blangko Muroja‟ah Hafalan Siswa Lampiran 10 Rangkuman Materi Birrul Walidain

(11)
(12)

1 BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakangMasalah

Pengajaran pertama dalam Islam adalah ketika Malaikat Jibril dating menemui Nabi Muhammad Saw yang sedang berada di gua Hira. Dalam pengajarannya Jibril meminta kepada Nabi Saw. Untuk membaca dan mengikuti apa yang dibacakan kepadanya. Surat Al-alaq ayat 1 sampai 5 merupakan bukti bahwa kemunculan Islam ditandai dengan pengajaran dan pendidikan sebagai pondasi utama setelah iman, islam dan ihsan. Yaitu terdapat pada makna ayat Alquran surat Al-alaq:1-5





















“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, danTuhan mulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Pemahaman ayat di atas semakna jika dikaitkan dengan faktor-faktor yang berkaitan dengan proses pendidikan dalam arti mikro, yaitu: pendidik, anakdidik, danalat-alat pendidikan, baik yang bersifat materi maupun non materi. Pendidikan merupakan proses terus menerus dalam kehidupan manusia dari masa awal lahir sampai menuju manusia sempurna (dewasa). Pendidikan sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia; aspek rohaniah, dan jasmaniah, juga harus berlangsung secara bertahap. Sebab tidak ada satupun makhluk ciptaan Allah yang secara langsung tercipta dengan sempurna tanpa melalui suatu proses. (MuzayyinArifin, 2003:8)

Secara istilah hasil rumusan Konferensi Pendidikan Islam sedunia yang ke-2, pada tahun 1980 di Islamabad, bahwa pendidikan Islam harus di tujukan untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan jiwa, akal,

(13)

perasaan, dan fisik manusia. Dengan demikian pendidikan diarahkan untuk mengembang manusia pada keilmuan dan bahasa, baik secara individual maupun kelompok serta mendorong seluruh aspek tersebut untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan Islam diarahkan pada upaya merealisasikan pengabdian kepada Allah, baik pada tingkat individual, masyarakat dan kemanusian secara luas.

Berdasarkan hasil seminar pendidikan Islam se-Indonesia tahun 1960 dirumuskan, pendidikan Islam adalah bimbingan terhadap pertemuan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, mengawasi berlakunya semua ajaran Islam. Pengertian diatas dikomentari oleh Abdul Mujid pada pendidikan Islam berupaya mengarahkan pada keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, melalui bimbingan, pengarahan, pengajaran, pelatihan, pengasuhan, dan pengawasan, yang semuanya dalam koridor ajaran Islam. (Ramayulis, 2002:37)

Para pakar pendidikan islam sudah sepakat bahwa tujuan pendidikan serta pengajaran bukanlah memenuhi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang belum mereka ketahui, melainkan : 1) Untuk mengadakan pembentukan akhlak, karena akhlak adalah inti pendidikan Islam dan akhlak yang sempurna adalah tujuan pendidikan yang sebenarnya, 2) Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, 3) Menumbuhkan semangat ilmiah pada pelajar dan memuaskan keinginan tahu dan memungkinkan ia mengkaji ilmu dan ilmu itu sendiri, 4) Membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi,5) Mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya dengan penuh keikhlasan kejujuran. (Ramayulis, 2002:215)

Salah satu aplikasi pendidikan akhlak yang di inginkan adalah berbakti kepada kedua orangtua atauBirrul Walidain karena, berbuat baik kepada orangtua merupakan sifat yang terpuji dan memiliki kedudukan

(14)

yang tinggi dan mulia. Perintah berbuat baik kepada orangtuaterletak setelah perintah menyembah Allah Swt. Menghormati orangtua sangat ditegaskan dalam Islam. Banyak ayat di dalam Al-Quranyang menyatakan bahwa segenap mukmin mesti berbuat baik dan menghormati orangtua. Selain menyeru untuk beribadah kepada Allah semata, tidak meyekutukan-Nya dengan apapun.Al-Qur‟an juga menegaskan kepada kaum beriman untuk menunjukan rasa syukur kepada Allahuntuk menghormati keduanya. Begitupun dalam hadits di jelaskan :“Syurga berada di bawah telapak kaki ibu”. sebagaimana firman Allah dalam Qur‟an surat Al-isra‟:23-24.(Musthafa Bin Al„adawi, 2011:1)























































„‟Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".

Salah satu pembahasan akhlak dalam al-Qur‟an adalah Birrul

Walidain (berbuat baik kepada orangtua). Agama Islam sangat

memperhatikan, menghargaidan menghormati hak itu, sehingga menekankan kepada umatnya untukmengamalkan dengan baik. Hak yang sangat penting di antara sekian banyak hakitu ialah hak orangtua, karena perantaraan mereka kita hadir di dunia, mengasuh,mendidik dan

(15)

membesarkan, hingga kita menjadi manusia yang berguna. Olehsebab itu kita wajib menyayangi, menghormati dan membahagiakan keduanya,serta mendoakan kebahagiaannya di dunia dan akhirat, seperti yang diperintahkanDienul Islam.Justru itu seorang anak dituntut agar selalu bersikap hormat danberbuat baik kepada keduanya

Namun pemahaman tentang Birrul Walidain hanya menjadi sebuah konsep tanpa adanya pengamalan, dan hal inilah yang terjadi pada sebagian masyarakat saat sekarang. Banyak anak yang sanggup menganiaya dan memperlakukan secara kasar ibu kandungnya sendiri, bahkan ada yang sampai membunuhnya. Antara salah satunya kasus yang terjadi pada saat ini terdapat seorang anak tidak dapat menerima teguran dari ibunya meskipun itu merupakan hal yang di anggap sepele. Maka terjadilah pertengkaran antara keduanya. Keributan itu pun menjadi semakin besar, akhirnya pelaku mengambil senjata tajam dan menyerang ibunya secara membabi buta. Korban tewas akibat ditusuk menggunakan senjata tajam dengan motif yang tidak jelas. Pengorbanan dan kasih sayang seorang ibu sepertinya tidak ada arti hingga sang anak sanggup untuk membunuh orangtuanya sendiri.

Birrul walidain hanya dipahami sebagai sesuatu yang dituntut dalam masyarakat bukan kewajiban yang diperintahkan Allah kepada setiap manusia. Orangtua yang telah berusia lanjut akan kembali seperti anak kecil, memerlukan perhatian dan kasih sayang yang lebih terutama dari anak-anaknya. Namun realitasnya sering dijumpai pada saat demikian seorang anak akan merasa terbebani karena orang tuanya, padahal ketika masih kecil ia juga bersikap hal yang sama bahkan mungkin lebih banyak menuntut orang tua untuk memenuhi keinginannya, namun mereka tetap menyayangi anaknya dengan sepenuh hati.

Perkembangan zaman yang semakin canggih ikut mempengaruhi pola pikir kehidupan sosial masyarakat, sehingga sering dijumpai seorang anak yang mempunyai penghasilan berlimpah merasa cukup untuk membahagiakan orangtuanya dengan memberikan materi dan fasilitas

(16)

yang mewah tanpa memberikan perhatian dalam bentuk kasih sayang dan hal-hal lain yang lebih dibutuhkan orang tua. Konflik antara anak dan orang tua juga sering terjadi ketika anak telah berkeluarga, banyak orang tua yang diabaikan atau tidak mendapat perhatian dan kasih sayang dari anak-anaknya lagi, karena hanya mementingkan keluarga barunya saja. Banyak orang tua yang dibawa anaknya ke panti jompo, dengan alasan kesibukan sehingga tidak bisa menjaga dan merawat orang tuanya, sedangkan mereka mampu menjaga dan membesarkan anak-anaknya. Hal ini tidaklah diinginkan oleh orangua dan hanya memberikan tekanan perasaan yang berdampak pada psikologinya.

Dengan demikian, kebaktian anak kepada orangtua adalah sarana utama yang dapat mengantarkan anak kepada kesuksesan hidup, baik di dunia maupun akhirat. Sebaliknya, kedurhakaan anak kepada orang tua merupakan pintu utama yang dapat membawanya kepada kegagalan dan kesengsaraan.Hal ini karena kebaktian anak akan mendatangkan redha orang tua, sedangkan redha orangtua adalah redha Allah. Adapun kedurhakaan anak akan menimbulkan murka orangtua, sedangkan murka orangtua adalah murka Allah. Rasulullah saw., bersabda, “Redha Allah bergantung pada redha orang tua, dan murka Allah bergantungpada murka orang tua.” (HR. At-Tirmidzi)

Oleh karena itu, berbakti kepada orang tua merupakan ajaran penting dalam Islam setelah perintah menyembah Allah. Sebaliknya, durhaka kepada orangtua merupakan dosa besar setelah berbuat syirik kepada Allah. Rasulullah saw, pernah bertanya kepada para sahabat, “Maukah kalian jika aku tunjukkandosa yang paling besar?” Mereka menjawab, “Tentu, ya Rasulullah.” Beliaubersabda, “Yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada orangtua.” (HR.Bukhari)

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwasannya Birrul Walidain atau berbakti kepada orangtua adalah suatu kewajiban yang mesti dijalani oleh seorang anak kepada kedua orangtua, karena kedudukan Birrul Walidainbegitu tinggi dimata Allah, untuk menunjukkan akhlak yang

(17)

mulia kepada kedua orangtua anak mesti menuruti perintahnya selama masih dalam ta‟at yang baik (tidak menyimpang dari ajaran agama Islam), tidak menyia-nyiakan keberadaanya, mendoakannya dan tetap melakukan kebaikan kepadanya. Namun jika keduanya atau salah satunya telah tiada hendaklah seorang anak selalu mendoakannya.

SMP IT QurrataA‟yun Batusangkar merupakan Yayasan dari Wihdatul Ummah. SMP IT QurrataA‟yun ini merupakan sekolah tingkat menengah pertama sama dengan sekolah tingkat menengah pertama pada umumnya. Namun, yang membedakan sekolah ini adalah kegiatan siswa dan mata pelajaran, yang mana lebih menekankan pada aspek keagamaan seperti tafsir, hadits, bahasa Arab dan kitab standar lainnya. SMP IT Qurrata „Ayun merupakan salah satu sekolah yang menerapkan sistem pendidikan asrama atau Boarding School perpaduan antara sekolah dan asramayang manamewajibkansiswauntuktinggal di asrama.

Berdasarkan hasil wawancara pertama penulis pada hari rabu 23 Januari 2019 dengan Kepala Asrama ustadz Riyan Monda Putra Lc adalah SMP IT Qurrata A‟yun memiliki suatu program yang bernama Birrul Walidaian(berbakti kepada kedua orangtua)Program Birrul Walidaian ini adalah Program wajib siswa diasrama yang mana program Birrul Walidain ini dilaksanakan 2 kali sebulandengan jadwal pada minggu kedua khusus untuk siswi (perempuan) dan minggu keempat khusus siswa (laki-laki), adapun hari yang ditetapkan sabtu dan minggu, karena sekolah SMP IT Qurrata A‟yun ini adalah sistem Boarding School jadi siswa diberikan kesempatan untuk pulang menjalani program Birrul Walidain ini.

Program Birrul Walidaian ini dilaksanakan dengan tujuan melihat perkembangan siswa dalam aspek akhlak dan ibadah khususnya berbakti kepada orangtua ketika siswa pulang selama berada dirumah. Disekolah maupun diasrama siswa dibekali dengan pemahaman pembinaan sehingga memang program Birrul Walidaian ini bisa siswa terapkan dalam bentukakhlak yang mulia kepada kedua orangtua, dalam artian menuruti segala perintahnya selama masih dalam ta‟at yang baik (tidak

(18)

menyimpang dari ajaran agama Islam), tidak menyia-nyiakan keberadaanya, mendoakannya, dan tetap melakukan kebaikan kepadanya, namun jika keduanya atau salah satunya telah tiada hendaklah anak selalu mendoakannya.

Hasil wanacara kedua penulis, kamis 24 Januari 2019 pembincaraan langsung dengan Musyrif/pembina asrama bernama ustadz Roma Febrianto, beliau menyatakan awal masuk siswa kesekolah ini memang berbagai macam harapan orangtua. Saat memasukan anaknya ke SMP IT Qurrata A‟yun ini, yang menjadi harapan besar orangtua terhadap anaknya adalah agar anaknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah, bisa membahagiakan kedua orangtuanya baik semasa orangtuanya hidup maupun telah tiada.

Sebagai sekolah Islam yang baru memasuki usia lima tahun dengan segala harapan orangtua tertumpu kepada sekolah SMP IT Qurrata A‟yun ini, dengan melihat perkembangan zaman globalisasi saat ini yang begitu cepat mempengaruhi kehidupan sosial anak khusus terhadap orangtua, maka SMP IT Qurrata A‟yun Batusangkar membuat program dengan nama programBirrul Walidain, hal yang menarik dari program ini untuk penulis teliti adalah adanya pembinaan khusus terkait program Birrul Walidain ini serta adanya komunikasi berkala antara orangtua murid dengan pembina asrama SMP IT Qurrata A‟yun baik secara langsung maupun melalui alat komunikasi via Group Whatshap dan juga ada lembaran evaluasi dari program ini, sehingga terlihat sejauh mana ketercapaian program ini terlaksana.

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul“Implementasi Program Birrul Walidain di SMP IT Qurrata A’yun Batusangkar”

(19)

B. Fokus Masalah

Fokus masalah dari penelitian ini adalah: Implementasi Program Birrul Walidain di SMP IT Qurrata A‟yun Batusangkar

C. Pertanyaan Peneliti

Berdasarkan fokus masalah diatas, maka pertanyaan peneliti adalah:

1. Bagaimana Perencanaan program Birrul Walidain di SMP IT Qurrata A‟yun Batusangkar?

2. Bagaimana pelaksanaan program Birrul Walidain di SMP IT Qurrata A‟yun Batusangkar?

3. Bagaimana pelaksanaan evaluasi programBirrul Walidain di SMP IT Qurrata A‟yun Batusangkar?

D. Tujuan Penelitian

1. Untuk medeskripsikan perencanaan program Birrul Walidain di SMP IT Qurrata A‟yun Batusangkar?

2. Untuk medeskripsikan pelaksanaan program Birrul Walidain di SMP IT Qurrata A‟yun Batusangkar?

3. Untuk medeskripsikan evaluasi programBirrul Walidain di SMP IT Qurrata A‟yun Batusangkar?

E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah: 1. ManfaatTeoritis

Secara umum hasil penelitian ini dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan memberi wawasan baru dalam mengembangkan ilmu pengetahuan khusunya bagaimana implementasi program BirrulWalidain di SMP IT Qurrata A‟yun Batusangkar.

(20)

2. Manfaat Praktis

Adapun kegunaan praktis dari peneltian ini adalah berguna untuk: a. Dapat menambah wawasan khasanah ilmu pengetahuan bagi

peneliti sehingga dapat berperan dalam pembinaan akhlaq siswa. b. Memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan,

khususnya yang berkaitan dengan implementasi program BirrrulWalidain oleh guru dan siswa.

c. Memberikan kontribusi bagi lembaga Pendidikan lain dalam program Birrul Walidain pada siswa.

F. Definisi Operasional

Untuk menghindari terjadinya kesalahan pahaman tentang judul skripsi ini, maka penulis perlu menjelaskan istilah-istilah yang terdapat dalam judul ini yaitu sebagai berikut:

Implementasi adalahmenurut KBBI (KamusBesar Bahasa Indonesia) yaitu pelaksanaan/penerapan. Sedangkan pengertian umum adalah suatu tindakan atau pelaksana rencana yang telah disusun secara

cermat dan rinci (matang). Implementasi adalah bermuara pada

aktivitas,aksi,tindakan atau adanya mekanisme suatu sistem, implementasi bukan sekedar aktivitas, tapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan (Nurdin Usman, 2002:70).

Program Birrul Walidainadalah sebuah program yang dilaksanakan di SMP IT Qurrata A‟yun Batusangkar, pada pelaksanaan program ini pertama siswa dibekali ilmu tentang pentingnya BirrulWalidain, selanjutnya program ini siswa laksanakan di rumah dengan jadwal yang sudah ditetapkan oleh pihak perguruan yaitu dua kali/bulan, yang mana ada pemisahan jadwal antara siswa laki-laki dan perempuan. Untuk siswa laki-laki dilaksanakan pada pekan ke dua dan empat pada hari sabtu dan minggu, dan untuk siswa perempuan dilaksanakan pada pekan ke satu dan tiga, tujuan pemisahan ini agar tidak

(21)

ada komunikasi bahkan pertemuan antar siswa laki-laki dan perempuan saat menjalankan program Birrul Walidain ini.

Jadiyang penulis maksud dalam penelitian ini adalah bagaimana perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program Birrul Walidain di SMP IT Qurrata A‟yun Batusangkar

SMP IT QurrataA‟yun Batusangkar merupakan Yayasan dari Wihdatul Ummah. SMP IT QurrataA‟yun ini merupakan sekolah tingkat menengah pertama sama dengan sekolah tingkat menengah pertama pada umumnya. Namun, yang membedakan sekolah ini adalah kegiatan siswa dan mata pelajaran, yang mana lebih menekankan pada aspek keagamaan seperti tafsir, hadits, bahasa Arab dan kitab standar lainnya. SMP IT Qurrata „Ayun merupakan salah satu sekolah yang menerapkan sistem pendidikan asrama atau Boarding School perpaduan antara sekolah dan asramayang manamewajibkansiswauntuktinggal di asrama.

(22)

11 BAB II

KAJIAN TEORITIS A. Gambaran Umum Birrul Walidain

1. Pengertian Birrul Walidain

Di dalam ajaran agama Islam, hubungan atau relasi anak dan orang tua memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Orangtua memiliki kewajiban yang harus dipenuhi atas hak anak. Begitupun anak memiliki kewajiban yang harus dipenuhi atas hak orang tuanya. Melalui firman-Nya di dalam Al-Qur‟an, Allah SWT telah memerintahkan anak untuk memenuhi hak orang tua atas dirinya sebagaimana yang dikenal dengan Birrul Walidain atau berbuat iḥsan kepada orang tua.

Menurut bahasa, kata Birrul Walidain berasal dari penggabungan dua kata, yaitu kata al-bir dan al-walidain. Dalam kamus bahasa Arab, al-bir dimaknai dengan “menurut, patuh, dan berbuat baik”. Heri Gunawan (2014:02) dalam bukunya Keajaiban

Berbakti Kepada Kedua Orang Tua mengutip pendapat Ibnu Mandzur

dalam karyanya Lisan Al-Arab menyebutkan bahwa kata barra-yabarru adalah kata yang digunakan untuk menunjukkan bahwa seseorang berbuat baik. Sedangkan kata al-walidain berarti kedua orangtua, maksudnya adalah ayah dan ibu.

Birrul walidain adalah berbakti dan berbuat baik kepada kedua orangtua, mengasihi, menyayangi, mendoakan, taat dan patuh kepada apa yang mereka perintahkan, melakukan hal-hal yang mereka sukai, dan meninggalkan sesuatu yang tidak mereka sukai. Sebagian Mufassir menyatakan bahwa Birrul Walidain, berbakti, atau berbuat iḥsan kepada orang tua adalah perlakuan anak terhadap orang tua dengan tidak menunjukkan pertentangan atau durhaka kepada keduanya, taat kepada keduanya dalam perkara ma‟ruf, melayani keduanya,

(23)

memenuhi berbagai permintaan keduanya dan menjauhkan diri dari apa yang menyakiti keduanya. Sebab, keduanya merupakan perantara keberadaan anak (Heri Gunawan, 2014:02)

Birrul walidain merupakan hak kedua orang tua yang harus dilaksanakan anak, sesuai dengan perintah Islam, sepanjang kedua orang tua tidak memerintahkan atau menganjurkan anak-anaknya untuk melakukan hal-hal yang dibenci dan dilarang Allah SWT. Prof. Dr. Hamka dalam kitabnya Tafsir Al-Azhar ketika menafsirkan QS. Al-An‟am ayat 151 menyatakan bahwa maksud dari kata

نااسحا نيلداولباو

yang berarti “Dan dengan kedua ibu-bapak hendaklah berbuat baik” adalah berbuat baik, berkhidmat dan menghormati kedua ibu-bapak, tidak mengecewakan hati dan durhaka kepada keduanya. Karena, kalau sudah durhaka, nyatalah ia menjadi seorang yang rendah budi dan rusak akhlaknya, sebab berkata “uffin” saja, yang berarti “cis” atau “ah” terlarang dan haram, apalagi perbuatan-perbuatan lain yang dapat mengecewakan hati keduanya. (Hamka, 2015:319).

Demikian istimewa kedudukan orangtua dalam Islam karena perintah ihsan kepada ibu bapak diletakkan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur‟an langsung setelah perintah beribadah hanya kepada-Nya atau setelah larangan mempersekutukan-Nya. Oleh karena itu, hukum Birrul Walidain adalah wajib. Namun, dengan berdalih pada dalil tersebut, tak jarang para orang tua kerap kali memaksakan kehendaknya agar ditaati oleh sang anak. Rasyid Ridha dalam kitabnya Tafsir Al-Manar menanggapi persoalan tersebut ketika menafsirkan ayat-ayat tentang perintah Birrul Walidain atau berbuat ihsan kepada kedua orangtua, antara lain adalah:

(24)

a. Q.s Al-baqarah: 83



















































Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat,

anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta

ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling”.

Dalam Tafsir Al-Manar dinyatakan bahwa maksud dari firman Allah SWT

نااسحا نيلداولباو

(berbuat baiklah kepada orangtua) adalah “dan kalian berbuat baiklah terhadap kedua orangtua dengan sebaik-baiknya”. Ihsan (berbuat baik) adalah puncak kebaikan yang mana termasuk di dalamnya adalah sesuatu yang berkaitan dengan Ri‟ayah (melindungi orang tua) dan Inayah (menolong orang tua). Perintah berbuat baik kepada orangtua ini bersamaan dengan perintah mengesakan Allah SWT atau larangan berbuat syirik.

Menurut Rasyid Ridha, alasan yang benar terkait kewajiban anak untuk berbuat baik kepada orang tua adalah menolong orang tuanya dengan sungguh-sungguh karena orangtua telah berjasa dan berkorban atas pendidikan anaknya, merawat anaknya ketika masih lemah, tidak berdaya, tidak tahu apa-apa, tidak bisa bermanfaat sedikitpun dan tidak mampu menghindari bahaya. Mereka menjaganya dengan tekun dan merawatnya serta mencukupi kebutuhannya hingga sang anak mampu mandiri. Inilah yang

(25)

disebut “ihsan” yang dilakukan orangtua dengan pengetahuan dan usaha mereka, bahkan dengan semangat yang membara dan kasih sayang yang besar. Oleh karena itu, tidak ada balasan yang tepat atas kebaikan mereka kecuali berbuat baik kepada mereka.

Terkait ungkapan bahwa “Cinta orang tua terhadap anaknya adalah tanpa sebab, sebagaimana yang dikatakan orang-orang bahwasanya sang anak merupakan bagian dari orangtua”. Rasyid Ridha menyatakan bahwa itu merupakan ucapan penyair yang tidak sepenuhnya benar.

Sebenarnya, cinta orang tua terhadap anaknya berasal dari dua sumber, yaitu: Pertama, naluri rindu yang telah dititipkan oleh Allah SWT untuk menyempurnakan kebijaksanaan-Nya, Kedua, rasa bangga terhadap anak yang sudah umum di kalangan orang-orang yang disertai harapan orang-orangtua untuk bisa mengambil manfaat dari anaknya di masa depan. Manfaat tersebut tidak terbatas pada uang dan bantuan hidup saja, tetapi juga berkaitan dengan kemuliaan dan penghormatan (Rasyid Ridha, hal 365-366)

Berdasarkan penafsiran Rasyid Ridha terhadap ayat di atas, dapat diketahui bahwa seorang anak wajib berbuat baik kepada orang tuanya karena orang tua telah berbuat ihsan terhadap anaknya berupa usaha mereka dalam mendidik anaknya, merawat anaknya ketika masih lemah, tidak berdaya, tidak tahu apa-apa, tidak bisa bermanfaat sedikitpun, dan tidak mampu menghindari bahaya dengan penuh kasih sayang karena naluri rindu yang telah dikaruniakan Allah SWT kepada mereka dan harapan mereka untuk mengambil manfaat dari anaknya di masa depan.

(26)

b. Q.s An-Nisa‟: 36



































“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang

sombong dan membangga-banggakan diri”

Sebelum menjelaskan maksud dari pada ayat tersebut, Rasyid Ridha terlebih dahulu menggambarkan beberapa kasus terkait hubungan anak dan orang tua yang terjadi di kalangan masyarakat, seperti tindakan orang tua yang memaksakan kehendaknya terhadap anaknya dalam hal perjodohan, pendidikan, dan pekerjaan sang anak. Menurutnya, masalah ini jadi berlarut-larut karena orang-orang berfikir bahwa perintah orang tua merupakan sebuah hujjah bahwa orang tua boleh mengekang kebebasan anaknya sesuai dengan keinginan orang tua itu sendiri (Rasyid Ridha: 85-87).

Ridha menegaskan bahwa bukanlah merupakan menentang pendapat atau kehendak orang tuanya, ketika sang anak lebih mengetahui urusan bangsa dan agamanya dibanding kedua orang tua. Menurutnya, berbuat baik kepada orang tua yang diperintahkan agama adalah seorang anak harus bersopan santun dengan maksimal kepada orang tua dalam perkataan dan tindakan sesuai pengetahuannya sehingga kedua orangtua senang

(27)

terhadapnya dan memenuhi kebutuhan orang tua sebatas mengenai hal-hal yang disyariatkan sesuai dengan kemampuan sang anak.

Adapun kebebasan dan kemandirian anak dalam permasalahan pribadi dan rumah tangga tidak masuk ke dalamnya, dan tidak termasuk juga adalah tindakan anak untuk dirinya sendiri, agama, dan negaranya. Jadi, jika salah satu atau kedua orang tua ingin sewenang-wenang terhadap anak, Ridha menganggap bahwa bukan termasuk berbakti dan berbuat baik menurut syara‟ ketika sang anak meninggalkan apa yang menurutnya baik dengan mengerjakan pilihan dan keinginan kedua orang tua yang dia lihat terdapat kemudaratan di dalamnya. (Rasyid Ridha: 88)

Ridha mengumpamakan: Barang siapa yang melakukan perjalanan untuk mencari ilmu yang menurutnya itu adalah suatu keharusan untuk menyempurnakan dirinya, berkhidmah bagi agamanya, melayani/mengabdi negaranya, atau pergi untuk pekerjaan yang bermanfaat baginya dan bangsanya, sedangkan orang tuanya atau salah satu dari mereka tidak rela karena tidak mengetahui nilai pekerjaan itu, maka sesungguhnya dia tidak durhaka ataupun berbuat keburukan secara syara‟ maupun secara akal, karena berbakti dan berbuat baik tidak memerlukan perampasan kebebasan dan kemandirian anak.

c. Q.s Al-An‟am:151



















(28)













Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya)”.

Dalam Tafsir Al-Manar, lafaẓ

نااسحا نيلداولباو

berarti berbuat baik terhadap kedua orang tua dengan kebaikan maksimal dan sempurna, termasuk tidak menghina atau merendahkannya dan mencela atau menghardiknya. Semua ini membutuhkan kepastian untuk meninggalkan perbuatan yang menjengkelkan atau membuat sakit hati kedua orang tua, karena durhaka kepada keduanya sangat bertentangan dengan tujuan berbuat baik dan termasuk dosa besar yang diharamkan oleh Allah SWT.

Pada ayat tersebut, belum ada ketegasan larangan tentang

ةءاسإلا

(sikap menjengkelkan hati kedua orang tua) yang pada dasarnya membutuhkan penjelasan secara lengkap. Sehingga, maksud ayat tersebut masih khilafiyah dan tidak bisa dirumuskan secara tertulis, karena hal ini menuntut adanya kesucian hati dan kesempurnaan akhlak yang baik menurut perspektif mayoritas ummat.

Rasyid Ridha menguatkan tafsirannya tentang betapa pentingnya perintah berbuat baik kepada orang tua dengan mencantumkan hadis dari Abdullah bin Mas‟ud yang terdapat

(29)

dalam hadis Bukhari, Muslim, At-Tirmiżi, An-Nasa‟i. Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Walid telah menceritakan kepada kami Syu'bah berkata; Al-Walid bin 'Aizar telah mengabarkan kepadaku dia berkata; saya mendengar Abu 'Amru Asy-Syaibani berkata; telah mengabarkan kepada kami pemilik rumah ini, sambil menunjuk kerumah Abdullah bin Mas‟ud dia berkata:

ًِِّناَبٍَّْشلا ًٍزْمَع ًِبَأ ْنَع –

ًِنَثَّدَح : َلاَق

ٍساٌَإ ُنْب ُدْعَس ُوُمْساًَ

ِراَّدلا ِهِذَى ُبِحاَص

ٍدٌُعْسَم ِنْب ِ َّاللَّ ِدْبَع ِراَد ىَلإ ِهِدٍَِب َراَشَأًَ

َُّاللَّ ًَِضَر

ُوْنَع

ًَِّبَّنلا ُتْلَأَس : َلاَق

َمَّلَسًَ ِوٍَْلَع ُ َّاللَّ ىَّلَص

ِ َّاللَّ ىَلإ ُّبَحَأ ِلَمَعْلا ُّيَأ :

ُّيَأ َّمُث : ُتْلُق , ِنٌَْدِلاٌَْلا ُّزِب : َلاَق ؟ ُّيَأ َّمُث : ُتْلُق . اَيِتْقًَ ىَلَع ُةلاَّصلا : َلاَق ؟

ًِف ُداَيِجْلا : َلاَق ؟

ِ َّاللَّ ُلٌُسَر َّنِيِب ًِنَثَّدَح : َلاَق , ِ َّاللَّ ِلٍِبَس

ِوٍَْلَع ُ َّاللَّ ىَّلَص

َمَّلَسًَ

ًِنَداَزَل ُوُتْدَزَتْسا ٌَْلًَ

Dari Abu Amr asy-Syaibâni namanya Sa‟d bin Iyâs- berkata, “Pemilik rumah ini telah menceritakan kepadaku –sambil menunjuk rumah Abdullah bin Mas‟ud Radhiyallahu anhu dengan tangannya, ia berkata, Saya bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; "Amalan apakah yang paling dicintai Allah? Beliau bersabda: "Shalat tepat pada waktunya." Dia bertanya lagi; "Kemudian apa?" beliau menjawab: "Berbakti kepada kedua orang tua." Dia bertanya; "Kemudian apa lagi?" beliau menjawab: "Berjuang di jalan Allah." Abu 'Amru berkata; "Dia (Abdullah) telah menceritakan kepadaku semuanya, sekiranya aku menambahkan niscaya dia pun akan menambahkan (amalan) tersebut kepadaku"(H.R Bukhari)

Terkait fatwa para ulama yang secara tegas dan ketat menyatakan bahwa dalam berbakti kepada orangtua, keberadaan anak itu ibarat hamba yang hina/rendah bersama tuan yang keras

dan zalim. Ridha mengkritisi fatwa tersebut dengan

menggambarkan kondisi para orang tua dari kaum Jahiliyah yang menafkahi anak-anaknya yang akhlaknya rusak hingga mereka

(30)

menyimpang dari Zat yang memiliki agama Allah SWT, lalu sebagian dari mereka ada yang lebih keras dan menyimpang, yakni orang-orang yang paling lemah agamanya sebab kerasnya penerapan pola hidup terhadap anak-anaknya dengan mencaci makinya dan menghinanya.

Pendapat Ridha ini dikuatkan oleh pernyataan Hamka dalam kitabnya Tafsir Al-Azhar ketika mengkritisi fatwa ulama yang menyatakan bahwa hendaklah anak itu membuat dirinya laksana hamba sahaya jika dia berhadapan dengan ayah bundanya. Menurutnya, ijtihad ulama yang seperti ini haruslah diterima oleh orang tua dengan hati-hati. Sebab, banyak juga orang tua yang bersifat diktator kepada anaknya karena pendapat tersebut, beberapa diantara mereka menangani anaknya dengan kejam, menyepak, menerjang sehingga jiwa anak-anaknya sangat tertekan dengan perlakuan itu. Bahkan, terkadang karena mendapat hak yang begitu luas ini ada pula orang tua yang memaksa anak gadisnya menikah dengan laki-laki pilihannya sendiri, tidak peduli anak itu suka atau tidak. (Rasyid Ridha, jil 8: 184-186)

Hamka menegaskan bahwa yang benar ialah orang tua memberikan didikan kepada anak-anaknya dengan cara sikap hidupnya sendiri. Yaitu, sikap hidup yang menimbulkan hormat (respect) dan rasa cinta, karena orang tua menurut ilmu jiwa pendidikan ialah lingkungan pertama yang didapati oleh seorang anak ketika dia lahir di dunia (2015:320).

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Birrul Walidain, berbakti, atau berbuat ihsan kepada kedua orangtua adalah berlaku sopan santun dengan maksimal kepada orang tua dalam perkataan dan tindakan sehingga kedua orang tua senang. Memenuhi urusan yang dibutuhkan orang tua sebatas mengenai hal-hal yang disyariatkan sesuai dengan kemampuan anak. Sehingga kebebasan dan kemandirian dalam pribadi dan rumah tangga anak tidak masuk ke dalamnya. Jika salah satu atau kedua orang tua ingin

(31)

sewenang-wenang terhadap anak, maka bukan merupakan berbakti dan berbuat baik menurut syara‟ ketika sang anak meninggalkan apa yang menurutnya baik dengan mengerjakan pilihan dan keinginan kedua orang tua yang dia lihat terdapat kemudaratan di dalamnya, karena berbakti dan berbuat baik itu tidak memerlukan perampasan kebebasan dan kemandirian anak.

2. Anjuran dan keutamaan Birrul Walidain

Berbakti kepada orangtua merupakan amal baik yang memiliki tingkatan yang sangat tinggi. Dalil yang menunjukkan perintah berbakti kepada orang tua beriringan dengan perintah beribadah kepada Allah yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya. Berbuat baik kepada orang tua itu lebih tinggi dari pada amal-amal di bawah jihad di jalan Allah Swt. Berbakti kepada kedua orangtua juga adalah amal yang paling utama. (Yanuardi Syukur, 2013:175)

Berbakti kepada kedua orang tua atau Birrul Walidain dianjurkan oleh Allah Swt. Allah memerintahkan hal ini dan memuji sebagian Rasul-Nya yang telah berbakti kepada kedua orang tuanya. Salah satu contohnya Firman Allah sehubungan dengan Nabi Ismail as.(Mustafa bin Al‟adawiyi, 2011:3)



























„‟Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia

menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang

diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".(QS. Ash-Shaffat: 102)

(32)

Penetapan Islam atas kewajiban anak untuk berbakti kepada kedua orangtua, sesungguhnya adalah wujud nyata dari penghargaan Islam atas mulia dan tingginya kedudukan orangtua di hadapan Allah dan manusia. Berbuat baik terhadap kedua orangtua memiliki kedudukan yang amat tinggi dan mulia. Betapa pentingnya berbuat baik kepada kedua orangtua, karena perintah ini terletak setelah menyembah Allah Swt, semata tanpa mempersekutukan-Nya. Hal demikian terdapat pada beberapa ayat Al-Qur‟an salah satunya QS. An-Nisa‟: 36

































„‟Sembahlah Allah dan janganlah kamu

mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri‟‟,

Berdasarkan penjelasan ayat di atas maka dapat dipahami bahwa kedudukan berbakti kepada kedua orangtua itu lebih tinggi dari pada amal-amalan lain. Misalnya lebih tinggi dari pada amal bepergian jika bepergian itu tidak wajib seperti untuk haji fardu misalnya. Sedangkan untuk haji sunnah atau umrah sunnah maka berbuat baik kepada kedua orang tua itu masih lebih tinggi darinya. Demikian pula berbuat baik kepada kedua orangtua lebih tinggi atau mendahului kedudukan belajar sekalipun belajar agama, jika belajar ini fardhu kifayah hukumnya. Adapun jika orangtua belum mengetahui bagaimana cara beribadah kepada Allah, cara

(33)

mengesakan-Nya, cara shalat, bahkan cara menalak istrinya ketika perlu menalaknya; dalam hal-hal seperti ini maka belajar harus didahulukan daripada berbakti kepada kedua orangtua.

Dosa yang paling besar adalah dosa mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orangtua. Ini adalah ketetapan untuk makhluk-Nya. Sungguh antara dosa berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orangtua nyaris seimbang (Mustafa bin Al‟adawiyi, 2011:3)

Kunci berbakti kepada kedua orangtua adalah kesabaran, karena dalam hal berbakti banyak sekali cobaan dan godaan yang dilalui oleh seorang anak. Misalnya dalam hal menuruti permintaan orang tua, mengurus orang tua yang sudah lanjut usia, dan lain-lainnya. Jika seorang anak berhasil melalui ujian kesabaran maka Allah telah menjanjikan sebuah balasan yang baik yaitu surganya. Salah satu perbuatan positif (amal shaleh) yang akan menyebabkan pelakunya masuk ke dalam syurga dan menjauhkannya dari neraka adalah berbakti kepada kedua orang tua. Hal ini dikarenakan berbakti kepada mereka memiliki keutamaan sebagai berikut (Muhammad Ali Quthb, 2008:189)

a. Perintah berbuat baik kepada kedua orangtua datang setelah perintah beribadah kepada Allah.

b. Berbakti kepada kedua orang tua lebih utama dari pada jihad (berjuang di jalan Allah).

c. Bakti kepada kedua orangtua adalah kebaikan yang memediasi keterkabulan doa kepada Allah.

d. Bakti kepada kedua orang tua adalah karakteristik dasar para Nabi.

e. Ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua, dan kemarahan Allah terletak pada kemarahan kedua orang tua. f. Bakti kepada kedua orang tua menjadi sebab (kunci) untuk

(34)

g. Orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, Doa-doanya dikabulkan (diterima) Allah Azza wa jalla.

h. Bakti kepada kedua orang tua adalah kebaikan yang menghapus dosa-dosa besar.

i. Bakti kepada kedua orang tua membuahkan pahala dunia sebelum pahala akhirat. Durhaka akan melahirkan siksa dunia sebelum siksa akhirat.

1) Barang siapa yang berbakti kepada orang tuanya, kelak anak-anaknya akan berbakti kepadanya.

2) Bakti kepada kedua orang tua melahirkan berkah rizki dan memanjangkan umur.

j. Doa kedua orang tua Mustajabah (dikabulkan Allah).

k. Orang yang berbakti kepada kedua orangtuanya, dalam naungan kasih sayang Allah Azza wa jalla.

Sungguh luar biasa hikmah dan balasan berbakti kepada kedua orangtua yang telah melahirkan dan merawat selama ini.

3. Batas-batasan Birrul Walidain

Kewajiban taat kepada kedua orang tua adalah wajib, selagi perintah itu tidak mengarah terhadap kemaksiatan kepada Allah dan berbuat dosa. Jadi apapun perintah orang tua selagi tidak mengarah kepada kedua hal tersebut maka seorang anak wajib melakukannya. Kepatuhan terhadap orang tua akan melahirkan suasana perasaan hati senang dan bahagia bagi hati orang tua. Sebaliknya, ketidak patuhan anak akan menyebabkan hati orang tua menjadi sakit. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa inti kepatuhan anak terhadap orang tua adalah terletak pada perasaan kedua orang tua (Husain Zakaria Fulaifil, 2008:35-40)

Ketaatan seorang anak kepada kedua orangtua berlaku untuk umum, bagi laki-laki tuntutan untuk patuh terhadap kedua orang tua berlaku seumur hidup. Ketaatan ini bukan hanya kepada orang tua yang masih hidup, namun juga ketika mereka telah tiada. Dalam hal ini

(35)

berbeda dengan anak perempuan, saat anak perempuan menikah maka pertama kali yang harus dipatuhi adalah suami mereka kemudian baru kedua orang tuanya.

Terkadang antara anak dan orang tua terjadi perselisihan, ada banyak hal yang memicu konflik yang didasari oleh perbedaan cara pandang. Satu hal yang perlu diketahui bahwa tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya sengsara. Semua perintah orang tua pasti akan berakibat baik pada anaknya. Hal inilah yang kurang disadari oleh seorang sehingga timbullah konflik disebabkan anak kurang menerima kebijakan orang tua. Dalam hal ini anak harus menanamkan sebuah keyakinan pada diri mereka bahwa apa saja yang diperintahkan orang tua adalah demi kebaikannya sendiri. Meski terkadang menjalani perintah orang tua terasa berat di hati, namun justru di sinilah letak ukuran apakah anak benar-benar berbakti atau tidak.

Maka dari itu dapat disimpulkan sebagai seorang anak harus benar-benar yakin dan ikhlas berbakti atau berbuat baik kepada kedua orang tua.

4. Adab Birrul Walidain

Kedua orang tua adalah manusia yang paling berjasa dan utama bagi diri seseorang. Allah Swt telah memerintahkan dalam berbagai tempat di dalam Al- Qur'an agar berbakti kepada kedua orang tua. Allah menyebutkannya berbarengan dengan pentauhidan-Nya dan memerintahkan para hamba-Nya untuk melaksanakannya. Hak kedua orang tua merupakan hak terbesar yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim. Di sini akan dicantumkan beberapa adab yang berkaitan dengan masalah ini. Antara lain hak yang wajib dilakukan semasa kedua orang tua hidup, setelah meninggal dan adab berbakti terhadap orang tua yang berbeda keyakinan yaitu sebagai berikut.

a. Adab Berbakti Kepada Orangtua yang Masih Hidup

Sungguh beruntung jika kita memiliki orang tua yang masih hidup. Sebab, selain kita masih bisa meminta do‟a atau nasehat dari

(36)

mereka, kesempatan kita untuk berbakti kepada mereka juga sangat terbuka luas. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk berbakti kepada orang tua yang masih hidup sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada Allah Swt dan kepada mereka, yaitu: 1) Mentaati mereka selama tidak mendurhakai Allah

Cara terbaik berbakti kepada orang tua yang masih hidup adalah dengan menaati semua perintahnya, dan memenuhi segala keinginannya. Fudhali bin Iyadh mengatakan, “Setiap anak wajib memenuhi segala perintah orang tua, kecuali dalamhal kemaksiatan”.

2) Menasabkan diri pada kedua orang tua

Allah Swt telah menetapkan secara sunatullah bahwa manusia lahir dengan perantaraan kedua orang tua. Sunatullah ini tetap berlaku sampai hari akhir. Tidak ada anak yang lahir tanpa melalui perantara orang tua, pengecualian yang Allah Swt tegaskan hanya pada penciptaan Nabi Adam as dan Siti Hawa, serta Nabi Isa as. Oleh karena itu, Allah Swt menetapkan satu pertalian atau garis keturunan yang disebut dengan nasab.

3) Merendahkan diri di hadapan keduanya

Tawadhu‟ merupakan sikap yang sangat dicintai oleh Allah Swt. Sikap ini merupakan salah satu karakter orang beradab yang akan melahirkan satu hubungan yang harmonis, dan saling menghormati karena menganggap orang lain sama bahkan lebih. Sikap tawadhu‟ yang paling tepat adalah dilakukan di hadapan orang yang lebih tua dibandingkan kita, terutama kedua orangtua. Sikap tawadhu‟ kepada orangtua merupakan salah satu cara bakti kita kepada mereka, karena kita sadar bahwa orang tua memiliki peran dan kedudukan yang sangat istimewa di hadapan Allah Swt.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :