• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

23 BAB II

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

2.1 Demografi

Bali merupakan salah satu dari 34 provinsi yang terletak di bagian tengah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Provinsi Bali terdiri atas 8 kabupaten yaitu kabupaten Gianyar, Tabanan, Badung, Karangasem, Jembrana, Buleleng, Klungkung, Bangli dan 1 kota, yaitu kota Denpasar. Pulau Bali luasnya 5 636.66 Km2 terletak di antara 08º03'40" - 08º50'48" Lintang Selatan (LS) dan antara 114º25'53" - 115º42'40" Bujur Timur (BT) (sumber: Badan Pusat Statistik). Bali terletak di daerah khatulistiwa yaitu 213/2° Lintang Utara (LU) dan 231/2° Lintang Selatan (LS), tergolong daerah tropis dengan temperatur pantai dan pegunungan berkisar 5°C (Swarsi, 1997:14). Bagian utara Pulau Bali berbatasan dengan Laut Bali, bagian timur dengan Selat Lombok, bagian selatan dengan Samudera Indonesia dan bagian barat dengan Selat Bali.

Pulau Bali terbelah oleh pegunungan yang memanjang dari barat ke timur, seperti Gunung Merbuk, Gunung Batukaru, Gunung Batur, dan Gunung Agung. Dari keseluruhan gunung tersebut Gunung Batur dan Gunung Agung merupakan gunung berapi. Pegunungan ini membentuk dataran yang lebih sempit di sebelah utara dibandingkan dataran di sebelah selatan. Bagi masyarakat Bali, pegunungan tersebut mempunyai arti penting. Di wilayah pegunungan itulah terdapat banyak pura memiliki nilai historis yang tinggi, seperti Pura Pulaki, Pura Batukaru dan pura terbesar di Bali yang terletak di kaki Gunung Agung, Pura Besakih.

I Gusti Ngurah Bagus (2007:287) menuturkan, letak pegunungan yang membujur itu telah menyebabkan penunjukkan arah yang berbeda bagi masyarakat di Bali Utara dan Bali Selatan. Dalam Bahasa Bali, kaja berarti gunung dan kelod berarti ke laut. Maka, orang Bali utara akan menunjuk kaja sebagai selatan, sedangkan orang Bali selatan menunjuk kaja sebagai utara. Demikian pula sebaliknya, orang Bali utara

(2)

menunjuk kelod sebagai utara, sedangkan orang Bali selatan menunjuk kelod sebagai selatan. Konsep kaja-kelod berperan penting dalam keseharian masyarakat Bali, baik dalam upacara agama, letak-susunan bangunan-bangunan rumah, pura dan lain-lain.

Masyarakat Bali semakin majemuk dan multikultural, baik secara internal maupun eksternal. Dalam keluarga dan kekerabatan saja terjadi semakin majemuk dan multikultural (Sujana, 2004:101). Hal ini ditunjukkan dari peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Provinsi Bali pada Registrasi Penduduk tahun 2012 mencapai 3.686.665 jiwa. Secara lengkap data tersebut terpapar pada Tabel II.1 berikut ini:

Tabel II.1 Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin di Provinsi Bali tahun 2012 Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk Number of Population Regency/City Laki-laki Male Perempuan Female Jumlah Total 1. Jembrana 137 376 137 772 275 148 2. Tabanan 220 002 221 898 441 900 3. Badung 210 786 209 289 420 075 4. Gianyar 230 389 227 793 458 182 5. Klungkung 94 008 96 859 190 867 6. Bangli 108 143 108 661 216 804 7. Karangasem 229 206 227 998 457 204 8. Buleleng 346 283 347 342 693 625 9. Denpasar 273 880 258 980 532 860 Jumlah / Total : 1 850 073 1 836 592 3 686 665 2011 1 791 953 1 780 878 3 572 831 2010 1 760 556 1 761 819 3 522 375 2009 1 739 526 1 732 426 3 471 952

(3)

Tabel di atas menunjukan jumlah penduduk di Provinsi Bali terus mengalami peningkatan. Dalam rentang tahun 2009-2012, peningkatan jumlah penduduk yang cukup tajam terjadi pada tahun 2012, yaitu sebanyak 58.120 jiwa. Jumlah penduduk terbesar berada di Kabupaten Buleleng, sedangkan jumlah penduduk terkecil berada di Kabupaten Klungkung. Sementara itu, perbandingan jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin menunjukan jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari laki-laki. Namun, ditinjau dari kabupaten/kota jumlah penduduk laki-laki yang lebih tinggi ada di Kota Denpasar, Kabupaten Karangasem, Gianyar dan Badung.

2.2 Sistem Kemasyarakatan

Sama halnya dengan kabupaten/kota lainnya, setingkat di bawahnya adalah kecamatan. Setingkat di bawah kecamatan disebut kelurahan atau setara dengan desa. Bagus (2007: 289-290) menyebutkan desa di Bali didasarkan atas kesatuan tempat. Sebagian dari tanah di wilayahnya adalah milik para warga desa sebagai individu, tetapi sebagian lagi adalah tanah yang ada di bawah hak ulayat desa. Desa-desa di pegunungan biasanya mempunyai pola perkampungan yang memusat, sedangkan desa-desa di daerah dataran, mempunyai pola yang terpencar. Di samping kesatuan wilayah, sebuah desa merupakan pula kesatuan keagamaan yang ditentukan oleh suatu kompleks pura yang disebut Khayangan Tiga, yaitu Pura Desa, Puseh dan Dalem (Bagus, 2007: 289-290). Pemimpin suatu desa dipimpin oleh perbekel (kepala desa) yang mengurusi administrasi negara atau dinas dan bendesa (kepala adat) yang mengurusi kegiatan adat.

Tiap desa terdiri atas kesatuan-kesatuan adat yang disebut banjar. Sifat keanggotaan banjar tidak tertutup dan terbatas pada orang-orang asli yang lahir di situ. Pusat dari banjar adalah bale banjar di mana para warga saling bertemu dan rapat pada hari-hari yang tetap. Banjar dikepalai oleh seorang kepala yang disebut

(4)

(Bagus, 2007:298). Tugasnya menyangkut segala urusan kehidupan sosial, kehidupan keagamaan, hingga persoalan hukum adat dari warga banjar.

Organisasi sosial lainnya adalah subak yang berdiri lepas dari banjar dan mempunyai kepala sendiri. Warga subak adalah para pemilik atau penggarap sawah-sawah yang menerima air irigasinya dari bendungan-bendungan yang diurus oleh beberapa subak. Dengan demikian warga banjar tadi akan menggabungkan diri dengan subak di mana ia mempunyai sebidang sawah. Suatu rangkaian upacra-upacara dan suatu tempat pemujaan yang mengintensifkan rasa kesatuan antara warganya (Bagus, 2007:298).

Masyarakat Bali juga tergabung dalam organisasi yang bergerak dalam bidang tertentu, ialah seka. Seka (Bagus, 2007:298) dapat didirikan untuk waktu yang lama, bahkan meliputi angkatan yang turun-temurun, tetapi ada pula yang hanya bersifat sementara. Ada seka yang fungsinya adalah menyelenggarakan hal-hal atau upacara-upacara yang berkenaan dengan desa, misalnya seka baris (perkumpulan tari baris),

seka truna (perkumpulan para pemuda), seka daha (perkumpulan gadis-gadis). Seka

dalam arti ini tentu sifatnya permanen, tetapi ada juga seka-seka yang sifatnya sementara, ialah seka-seka yang didrikan berdasarkan atas kebutuhan tertentu, seperti misalnya seka mamula (perkumpulan menanam), seka manyi (perkumpulan menuai),

seka gong (perkumpulan gamelan) dan lain-lain. Seka-seka seperti ini biasanya juga merupakan perkumpulan yang terlepas dari organisasi desa dan banjar.

Masyarakat desa di Bali hidup bersama dengan sistem gotong royong atau

nguopin, baik antara individu dan individu atau antara keluarga dan keluarga. Kegiatan nguopin meliputi aktivitas di sawah (seperti menanam, menyiangi, panen dan sebagainya), pekerjaan rumah tangga (memperbaiki atap rumah, dinding rumah, menggali sumur dan sebagainya), kegiatan dalam perayaan atau upacara yang diadakan oleh suatu keluarga, atau dalam peristiwa kecelakaan dan kematian (Bagus, 2007:298).

(5)

Sistem pelapisan masyarakat di Bali didasarkan atas keturunan yang bersifat patrilineal. Pembagian klen berkaitan dengan sejarah penaklukan oleh Majapahit pada abad ke-14. Susunan tinggi-rendah dari klen di daerah dataran tampak pada gelar yang dipakai oleh warganya di depan nama mereka. Gelar itu dapat digolongkan menjadi tiga golongan berdasarkan atas sistem pelapisan wangsa. Sistem ini terpengaruh oleh sistem kasta yang termaktub dalam kitab-kitab suci agama Hindu Kuno, ialah sistem keempat kasta: Brahmana, Ksatrya, Waisya dan Sudra. Di Bali wangsa-wangsa dalam sistem pelapisan mempunyai sebutan yang sama, ialah

Brahmana, Ksatrya, Waisya dan Sudra, sedangkan ketiga lapisan yang pertama sebagai kesatuan disebut Triwangsa, lapisan keempat biasanya disebut jaba (Bagus, 2007:300). Gelar-gelar bagi warga klen-klen Brahmana adalah Ida Bagus untuk laki-laki dan Ida Ayu untuk wanita; gelar bagi warga klen Ksatrya adalah Cokorda; dan bagi warga klen-klen Waisya adalah Gusti. Selain itu, ada berbagai golongan dan warna seperti pande, pasek, dan sebagainya (Sujana, 2004:95).

2.3 Sistem Kekerabatan

Perkawinan yang ideal bagi masyarakat Bali bersifat endogami klen. Perkawinan dilakukan di antara warga se-klen, se-golongan atau setidak-tidaknya antara orang-orang yang dianggap sederajat dalam kasta atau warna. Keturunan diperhitungkan secara patrilineal (purusa), dan menjadi warga dari dadia si suami dan mewarisi harta pusaka dari klen itu (Bagus, 2007:295). Anjuran pemilihan jodoh pun berada di lingkungan keluarga ayah. Menurut Mark Hobart (1980:81), perkawinan jenis ini meningkatkan hubungan kekerabatan sekaligus menyempitkan pilihan pasangan di luar klen.

J.A. Boon dalam Hobart (1980:82) menjabarkan tiga jenis perkawinan yang dianggap positif oleh masyarakat Bali. Pertama, perkawinan suci yang dilakukan dengan sistem endogami (masih berada dalam satu kelompok keturunan). Kedua,

(6)

perkawinan romantis dilakukan dengan cara kawin lari oleh pasangan berbeda klen (eksogami). Terakhir, perkawinan strategis yang terjadi karena adanya perjanjian politik. Perbedaan bentuk perkawinan berkaitan dengan pihak-pihak yang setuju dengan yang bertentangan. Pemilihan jodoh biasanya didasari oleh keinginan dan kesenangan (kesenengan: istilah pada orang Bali dari klen yang lebih tinggi;

dedemenan: istilah pada orang Bali dari klen yang lebih rendah). Pada kasus yang lain, perkawinan juga didasari oleh persetujuan atau tekanan di luar kedua pasangan yang akan kawin.

Menurut Bagus (2007:295), ada dua cara yang dilakukan untuk mengawini seorang gadis secara adat. Cara pertama, pihak laki-laki meminang (memadik, ngidih) kepada keluarga gadis. Cara kedua dengan melarikan seorang gadis (mrangkat,

ngrorod, melaib). Hobart (1980: 108-109) menyebutkan istilah ngemaling anak luh

jika ada seorang laki-laki telah melarikan seorang gadis. Sementara itu, jika si gadis menyerahkan dirinya kepada laki-laki itu disebut makidihang awak (pada klen yang lebih rendah) atau nyerahang raga (pada klen yang lebih tinggi).

Geriya (2002:44) menambahkan cara-cara lain terjadinya suatu perkawinan, meliputi perjodohan (mejangkepan) dan pemindahan status laki-laki ke keluarga si gadis (nyeburin, nyentana). Proses mejangkepan dikenal pula dengan istilah adung-adungan rerama atau atepang rerama. Perjodohan ini terjadi karena adanya persetujuan kedua orang tua pasangan. Perkawinan jenis ini dapat disamakan dengan istilah perkawinan strategis seperti yang diungkapkan Boon. Sementara itu, perkawinan dengan sistem nyeburin atau nyentana terjadi karena pihak laki-laki masuk ke dalam silsilah keluarga si gadis. Penyebabnya antara lain si gadis merupakan anak tunggal atau seluruh saudara sekandungnya adalah perempuan. Demi terjaganya kelestarian keturunan, maka pihak gadis meminta laki-laki masuk ke dalam keluarganya.

Ada pula jenis perkawinan yang mulai diakui oleh masyarakat Bali, yaitu perkawinan pada gelahang. Windia (2008:23-26) menjelaskan pada gelahang berarti

(7)

pula duenang sareng atau dalam Bahasa Indonesia berarti memiliki bersama, yang mengandung makna saling menghargai. Perkawinan pada gelahang adalah perkawinan yang dilangsungkan sesuai ajaran agama Hindu dan adat Bali, yang tidak termasuk perkawinan biasa (kawin ke luar) dan juga tidak termasuk perkawinan nyentana (kawin ke dalam), melainkan suami dan istri tetap berstatus

purusa di rumahnya masing-masing, sehingga harus mengemban dua tanggung jawab (swadharma), yaitu meneruskan tanggung jawab keluarga istri dan juga meneruskan tanggung jawab keluarga suami, sekala maupun niskala, dalam jangka waktu tertentu, tergantung dari kesepakatan pasangan suami istri beserta keluarganya. Perkawinan jenis ini umumnya terjadi jika calon pasangan adalah anak tunggal.

Perkawinan adat Bali diawali dengan mesuwaka (kunjungan resmi dari keluarga si laki-laki kepada keluarga si gadis atau pemberitahuan kepada mereka bahwa si gadis telah dibawa lari untuk dikawin). Proses berikutnya berupa upacara perkawinan disebut masakapan. Terakhir, perkawinan ditutup dengan kunjungan resmi dari keluarga si laki-laki kepada keluarga si gadis untuk minta diri (mapamit) kepada para ruh nenek moyangnya. Di beberapa daerah di Bali (tidak di semua daerah), berlaku pula adat penyerahan mas kawin (patuku luh), tetapi rupa-rupanya adat ini sekarang terutama di antara keluarga-keluarga orang-orang terpelajar, sudah menghilang (Bagus, 2007:295).

Setelah perkawinan, suami istri baru biasanya menetap secara virilokal di kompleks perumahan (uma) dari orang tua si suami. Tak sedikit pula suami-istri baru menetap secara neolokal dengan mencari atau membangun rumah baru. Bagi pasangan yang menerapkan sistem nyentana, biasanya akan menetap secara uxorilokal di kompleks perumahan dari keluarga si istri. Tempat di mana suami dan istri itu menetap, menentukan perhitungan garis keturunan dan hak waris dari anak-anak dan keturunan mereka selanjutnya. Kalau suami istri tinggal secara virilokal, maka anak-anak mereka dan keturunan mereka selanjutnya akan diperhitungkan secara patrilineal (purusa), dan menjadi warga dadia si suami dan mewarisi harta

(8)

pusaka dari klen itu. Demikian pula pada anak-anak dan keturunan dari mereka yang menetap secara neolokal. Sebaliknya, keturunan dari suami istri yang menetap secara uxorilokal akan diperhitungkan secara matrilineal menjadi warga dadia si istri dan mewarisi harta pusaka dari klen itu. Dalam hal ini kedudukan si istri adalah sebagai

sentana (pelanjut keturunan) (Bagus, 2007:295).

2.4 Sistem Mata Pencaharian

Aneka golongan atau gelar tadi sebenarnya menggambarkan jenis mata pencaharian hidup masyarakat Bali. Misalnya klen Brahmana bekerja sebagai pemuka agama, klen Ksatrya bekerja di bidang pemerintahan, klen Waisya sebagai pedagang dan lain sebagainya. Tapi, saat ini mata pencaharian yang digeluti lebih beragam dan tidak selalu sesuai dengan gelar yang mereka sandang. Berdasarkan Sakernas 2013 BPS Provinsi Bali, tenaga kerja di Bali terserap pada bidang produksi, operator alat-alat angkutan, dan pekerja kasar, usaha pertanian, kehutanan, perburuan, dan perikanan, dan lain sebagainya. Bidang pekerjaan itu tidak lagi berdasarkan gelar, namun berdasarkan keahlian dan kesempatan kerja. Berikut data-data jumlah penduduk berdasarkan bidang pekerjaan yang dilakoni dan jenis kelamin:

(9)

Tabel II.2 Penduduk 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan/Jabatan dan Jenis Kelamin Dalam Pekerjaan Utama Tahun 2013

Jenis Pekerjaan/Jabatan Laki-laki Perempuan Jumlah

Main Occupation Male Female Total

1. Tenaga Profesional,

Teknisi, dan Tenaga Lain / Professional,

Technical, and Related Workers

101 591 67 420 169 011

2. Tenaga Kepemimpinan dan

Ketatalaksanaan

Administrative and Managerial Workers

37 021 10 156 47 177

3. Pejabat Pelaksana, Tenaga

Tata Usaha, dan Tenaga / Clerical and

Related Workers

95 532 90 533 186 065

4. Tenaga Usaha Penjualan /

Sales Workers

147 065 253 356 400 421

5. Tenaga Usaha Jasa /

Services Workers

96 067 84 150 180 217

6. Tenaga Usaha Pertanian, Kehutanan, Perburuan, dan Perikanan / Agriculture, Animal Husbandry, Forestry Workers, Fishermen, and Hunters

273 006 260 970 533 976

7. Tenaga Produksi, Operator Alat-alat Angkutan, dan Pekerja Kasar / Production and Related Workers, Transport Equipment Operators, and Laborers

485 345 244 999 730 344

8. Lainnya

Others

24 218 2 468 26 686

Jumlah / Total : 1 259 845 1 014 052 2 273 897 Sumber: BPS Provinsi Bali (berdasarkan hasil Sakernas 2013)

(10)

Jumlah penduduk sebanyak 2.273.897 jiwa merupakan jumlah penduduk produktif dan pekerja di Provinsi Bali. Laki-laki sebagai tulang punggung keluarga terlihat dari jumlah pekerjanya yang lebih banyak daripada perempuan. Namun, pekerja perempuan rupanya lebih banyak menggeluti bidang tenaga usaha penjualan daripada laki-laki. Secara keseluruhan, penduduk Provinsi Bali banyak terserap ke dalam bidang tenaga produksi, operator alat-alat angkutan, dan pekerja kasar. Bidang tenaga usaha pertanian, kehutanan, perburuan, dan perikanan menjadi bidang pekerjaan terbanyak kedua yang menyerap tenaga kerja di Provinsi Bali. Kemudian, bidang tenaga usaha penjualan menjadi bidang pekerjaan terbanyak ketiga.

2.5 Bahasa

Selain membagi mata pencaharian, sistem pelapisan masyarakat juga mempengaruhi tingkatan bebahasa. Pembagian tingkatan Bahasa Bali ada beberapa versi. Tim peneliti Fakultas Sastra Universitas Udayana menamakan tingkatan-tingkatan Bahasa Bali dengan istilah “Unda Usuk Bahasa Bali”. Dalam istilah Unda Usuk Bahasa Bali ini tingkat-tingkatan bahasa Bali itu menjadi dua, yaitu (1) basa kasar dan (2) basa alus (Mayuniawatni, 1992:3). Pembagian tingkatan ini cukup sering digunakan oleh masyarakat Bali. Tingkatan bahasa digunakan berdasarkan lapisan masyarakat. Ada kewajiban menggunakan basa alus ketika berbincang dengan lapisan masyarakat yang lebih tinggi.

Masyararakat Bali masih aktif berbahasa Bali hingga saat ini. Meskipun ada proyek nasionalisasi melalui sekolah dan pemerintah untuk menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Bali masih sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Bali kepara merupakan bahasa Bali yang lumrah digunakan masyarakat saat ini baik dalam komunikasi lisan maupun tulisan. I Wayan Geriya (2000:64) menyebutkan ada dua buah dialek, yaitu dialek bahasa Bali dataran dan dialek bahasa Bali aga. Dialek ini kemudian dibagi ke dalam sub-dialek sesuai dengan delapan daerah kabupaten di

(11)

Bali, yaitu dialek Buleleng, Karangasem, Klungkung, Bangli, Gianyar, Badung, Tabanan dan Jembrana.

2.6 Sistem Pengetahuan

Pendidikan sistem pengetahuan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia (Swarsi, 1997:21). Masyarakat Bali mengembangkan dua model pendidikan berupa sistem pengetahuan tradisional dan sistem pengetahuan modern. Masyarakat Bali masih tetap mempertahankan pengetahuan tradisional, seperti pengetahuan tentang ruang (Tri Angga, Tri Hita Karana), tentang waktu (wuku, sapta wara, panca wara), juga tentang fauna, flora, ekonomi, budaya, agama, dan seterusnya. Di samping itu, pengetahuan modern juga tak luput dari perhatian masyarakat karena adanya dampak pendidikan formal, dampak komunikasi, dan dampak interaksi masyarakat dalam rangka pariwisata (Geriya, 2000:65).

2.7 Agama

Mayoritas masyarakat Bali menganut agama Hindu. Data Sensus Penduduk 2010 BPS Provinsi Bali menunjukkan bahwa sebanyak 3.247.283 orang menganut agama Hindu. Hal ini berarti sebesar 83 persen masyarakat Bali menganut agama Hindu. Selain agama Hindu, ada pula masyarakat beragama Islam, Katolik, Protestan, Budha dan Kong Hu Cu. Sistem kepercayaan agama Hindu disebut Panca Sradha, meliputi kepercayaan akan adanya Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa; kepercayaan akan atman; kepercayaan akan adanya karma phala; kepercayaan akan adanya punarbhawa; dan kepercayaan akan adanya moksa. Sistem agama Hindu mengacu pada tiga kerangka utama, yaitu tatwa, tata susila, dan tata upacara. Upacara yang pokok dalam kehidupan masyarakat adalah Panca Yadnya, meliputi Dewa

(12)

Yadnya, Pitra Yadnya, Butha Yadnya, Manusa Yadnya, dan Resi Yadnya (Geriya, 2000:66).

Upacara agama Hindu di Bali tak lepas dari upakara atau banten. Banten

sebagai bagian yang amat vital bagi kelangan umat kebanyakan di Bali sebetulnya mengandung esensi nilai. Di antara nilai-nilai itu ada beberapa nilai yang dianggap menonjol, antara lain nilai kesungguhan, kesetiaan (welas asih), pengamalan ilmu pengetahuan, ketaatan dan kedisiplinan. Keseluruhan dari nilai-nilai yang disebutkan di atas telah terangkai sedemikian harmonis dalam suatu rangkaian banten, dari sejak menyiapkan sampai dengan mempersembahkannya (Arsana, 1994:87).

2.8 Kesenian

Kesenian Bali juga erat berhubungan dengan cara-cara untuk mencapai tujuan keagamaan (Arsana, 1994:35). Ada tiga kategori pertunjukkan seni, yaitu seni wali, sebagai seni bagian dari upacara keagamaan; seni bebali, sebagai seni pengiring upacara keagamaan; seni balih-balihan, untuk hiburan masyarakat (Geriya, 2000:64). Selain itu, ada beragam bidang seni yang berkembang di Bali seperti seni lukis, seni ukir, seni tari, seni tabuh, hingga kerajinan. Kini masyarakat Bali tak hanya menampilkan seni untuk upacara keagamaan, tetapi masyarakat menggunakan seni untuk atraksi wisata.

Gambar

Tabel II.1 Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin di Provinsi  Bali tahun 2012  Kabupaten/Kota     Jumlah Penduduk                                                     Number of Population  Regency/City  Laki-laki      Male  Perempuan    F
Tabel II.2 Penduduk 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut Jenis  Pekerjaan/Jabatan dan Jenis Kelamin Dalam Pekerjaan Utama Tahun 2013

Referensi

Dokumen terkait

Di sebelah timur berbatasan dengan selat lombok, sedangkan di sebelah utara berbatasan dengan laut Bali, dan di sebelah selatan dengan Samudra Indonesia, juga

Masyarakat suku Tengger di Desa Baledono yang mayoritas memeluk agama Islam, akan tetapi sebelum mereka masuk agama Islam mereka anut adalah agama Hindu, agama Hindu tidak lepas

Pada bagian ini dijabarkan kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah Kabupaten Sumedang Tahun 2013-2017 sesuai amanat Permendagri 86 Tahun 2017 dan format pembagian urusan

Salah satu bukti dari diberikannya Hak dalam aspek Spiritualitas, terjadi pada masyarakat Hukum adat di Bali yang sebagian besar dipengaruhi oleh ajaran agama Hindu, hal

Berdasarkan peta hidrogeologi Bali, pemetaan atas kandungan air tanah di Kota Denpasar dapat dilihat pada lampiran Gambar 2.4. Kandungan air tanah Kota Denpasar sesuai

Pemeliharaan rutin dilaksanakan setiap hari oleh petugas pemeliharaan sesuai dengan fungsi/tugas masing-masing sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan yakni dilaksanakan

Pada tahun 1987, beliau sudah ikut bermain musik bersama seniman-seniman pemusik tradisi Karo pada acara-acara adat perkawinan maupun adat orang meninggal, hanya saja beliau

“Kepariwisataan Budaya Bali memiliki hubungan yang sangat kuat dan berlandaskan Kebudayaan Bali. Ajaran Agama Hindu dan falsafah Tri Hita Karana dijadikan