1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyalahgunaan Psikotropika, narkotika maupun zat adiktif lainya, yang di dunia telah menjadi titik permasalahan yang besar dan bukan menjadi permasalahan di dunia bahkan masalah narkotika dan zat-zat lainya itu sudah menjadi permasalahan secara global. Rasa kecanduan seseorang menggunakan napsa dikarenakan barang tersebut mudah di dapat. Di Indonesia penyalahgunaan napsa sudah mulai memasuki ke kalangan strata dan sebagian remaja sudah berani menggunakan narkotika.
Informasi yang telah di dapatkan Pusat Penelitian Data Dan Iformasi Badan Narkotika Nasional (2017) penyalahgunaan narkotika psikotropika dan zat akdiftif lainya, telah ditemukan penyalahgunaan sejak setahun terakhir sebanyak 3.376.115 pengguna di seluruh Indonesia. Penggunaan obat-obatan terlarang di Indonesia sudah sangat megerikan. Pemakaian barang haram ini mencapai 90.000 pertahunya. Jawa Timur sendiri pengguna narkoba sudah mencapai 0,2 persen dari seluruh jumlah penduduk jatim yang kurang lebih jumlahnya 40 juta jiwa (Kululu & Buanasari, 2019).
Remaja dapat terlibat dalam penyalahgunaan barang haram tersebut dikarenakan masa remaja dimana seseorang mencari jati dirinya. Memasuki masa yang labil serta rasa ingin tahu yang sangat besar untuk mencoba sesuatu. Banyak latar belakang mengapa remaja menyalahgunaan narkoba, diantaranya terpengaruh informasi, stress, bosan, selalu ingin tahu dan latar belakang yang paling banyak mengapa remaja mencoba narkoba adalah memiliki masalah keluarga (April & Tari, 2019).
Badan Narkotika Nasional menilai kebiasaan “ngelem” atau menghirup aroma dari lem Vox sebagai pengganti narkoba. Di golongan remaja semakin mengkhawatirkan dan semakin marak penyalahgunaan lem sebagai pengganti narkoba. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) mengatakan, Kekhawatiran itu hadir karena semakin marak ditemukan kebiasaan remaja yang mengkonsumsi lem
“ngelem”. Kemungkinan, kebiasaan “ngelem” tersebut banyak dilakukan kalangan remaja maupun anak-anak karena mudah didapatkan dengan harga yang tidak terlalu mahal. Hasil penelitian berdasarkan yang dila-kukan oleh BNN yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia Tahun 2014, tentang Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia, diketahui bahwa angka penyalahguna Napza di Indonesia sudah mencapai kurang lebih sekitar 2,18%
atau sekitar 4.022.702 orang dari total populasi penduduk (berusia 10 - 59 tahun) (Aswadi, Kartini, & Sahrir, 2018).
Akhir-akhir ini, di golongan remaja sering muncul fenomena di beberapa kota yang berada di Jawa Timur. Dalam menikmati zat berbahaya itu, setelah kebiasaan ngelem atau penghirup lem tersebut sudah mulai di telusuri oleh pihak yang berwajib.
Untuk mengatasi masalah itu, pihak BNN Jawa Timur melakukan penyuluhan secara rutin dan remaja akan diberikan pembinaan. Penyuluhan dan pembinaan itu diberlakukan agar di kalangan remaja dan anak-anak yang akan menjadi generasi penerus bangsa tersebut tidak menjadi korban Narkoba maupun barang haram lainya.
“Secara nasional, 50 orang tewas setiap harinya akibat barang terlarang tersebut.
Contohnya ada yang overdosis, hingga terjangkit penyakit HIV/AIDS akibat menggunakan narkoba. Hampir setiap harinya kejahatan yang terjadi karena yang melatar belakangi dari semua itu akibat mengkonsumsi narkoba,” (Yanti, 2018a).
Bagi anak jalanan dari kalangan remaja maupun anak-anak, aktifitas menghirup aroma lem “ngelem” menjadi sesuatu yang sudah tidak asing bagi mereka contoh seperti Narkoba. Sudah banyak yang menjadi korban akibat penyalahgunaan lem tersebut, yang seharusnya untuk merekatkan suatu barang. Seperti merekatkan sepatu, menembel ban, kayu dan lainya. Kondisi tersebut semakin hari makin memprihatinkan saja, aktifitas ngelem bukan hanya dilakukan oleh anak jalanan saja, para pelajarpun sudah ada yang berani mengkonsumsinya. Awalnya coba-coba dan berakhir jadi candu yang sulit ditinggalkan.
Beredar kabar bahwa pengguna Lem VOX di kalangan remaja semakin memprihatinkan saja. Sebenarnya ngelem ini bukan masalah baru, kurangnya respon dari pemerintah Menyangkut penyalahgunaan barang tersebut membuat masyarakat
resah. Bebasnya penjualan dari Lem Vox ini membuat aparat kesulitan, sebenarnya jelas sipenjual tahu Lem Vox itu disalahgunakan dalam penggunaanya. Membahas sedikit tentang lem Vox yang disalah gunakan sangatlah berbahaya terutama bagi kesehatan, tulisan ini bukan untuk menjatuhkan Merk dagang tertentu, tapi lebih menjurus kepada bagaimana kita melakukan pencegahan agar pembelinya terhindar dari penyalahgunaan barang tersebut, mengingat sudah banyak yang menjadi korban.
Masa remaja, biasanya baik remaja laki-laki maupun perempuan, mereka beranggapan bahwa dirinya sudah besar, merasa mandiri, berfikiran bahwa mereka sudah bukan anak-anak lagi. Karena itu remaja cenderung sangat susah diatur, meskipun diatur oleh orangtuanya sendiri. Perubahan pada masa ini pasti dialami oleh semua di kalangan remaja, dimana masa perubahan itu para remaja mulai mengalami peralihan dari masa anak-anak menuju kemasa dewasa. Kelabilan remaja itu dapat menimbulkan sensasi dan mencari perhatian tentang keberadaanya mereka. Adapun sensasi yang positif, namun akan tetapi bagi remaja yang imanya lemah dan kurang baik akhlaknya , sensasi negatifpun seringkali mereka buat bahkan sudah ada yang menjurus kerana kriminalitas (Yanti, 2018a).
Adapun kebisasaan yang dialami oleh anak remaja, hal ini diakibatkan dari kelabilanya emosi mereka. Adapun kecenderungan yang dialami oleh anak di masa pubertas adalah sering meniru, mencari perhatian, tertarik pada lawan jenismya, selalu ingin mencoba apa yang belum mereka lakukan dan emosinya berapi-api.
Adanya golongan anak remaja yang melakukan tindakan kriminalitas dan sampai kecanduan barang terlarang, seperti narkotika itu bukanlah merupakan Bawaan sejak lahir. Namun penyebabnya ada 3 faktor yaitu lingkungan, pergaulan, dan pendidikanya. Bahan-bahan dari narkotika sendiri itu merupakan psycotrapi subtance yang dapat mengganggu dan merubah jiwa/mental pemakainya sampai-sampai bertingkah aneh maupun linglung dan tidak dapat mengenali dirinya sendiri (Kadir, 2018).
Rokok, alkohol, serta zat-zat lain yang dapat menimbulkan candu juga tergolong narkoba. Maka dari itu dari segi agama mengharamkan barang-barang yang dapat merusak tubuh, sebab kerugian yang timbul lebih besar daripada manfaatnya.
Hal itu juga bukan hanya merugikan diri sendiri tetapi dapat merugikan lingkungan masyarakat dan ketentraman orang lain yang akan terkena dampaknya.
Fenomena anak jalanan atau ANJAL semakin memperihatinkan. Anak jalanan merupakan sekumpulan anak-anak yang menghabiskan waktunya di jalanan. Data UNICEF pada tahun 2008 terdapat 100 juta anak jalanan di dunia. Di Indonesia berdasarkan data dari pusat data dan informasi kesejahteraan sosial kementrian Sosial RI, jumlah anak jalanan mengalami penurunan. Pada tahun 2006 sebanyak 232.894 anak, pada tahun 2010 159.230 anak, tahun 2011 sebanyak 67.607 anak, pada tahun 2015 sebnayak 33.400 anak. Penurunan jumlah ini tidak sepenuhnya bisa dikatakan fenomena anak jalanan berkurang. Fenomena anak jalanan sebagian besar akibat dari dua hal mendasar, yang pertama adalah masalah psikososial, yaitu hubungan keluarga tidak harmonis. Kurangnya perhatian orang tua kepada anaknya sehingga anak mencari perhatian di luar rumah, yakni dijalanan sebagai bentuk pelarian dari mereka yang kurang dapat perhatian oleh orang tuanya. Kedua, masalah sosial ekonomi yang latar belakangnya di sebabkan oleh masalah kemiskinan dan kebodohan, sehingga banyak keluarga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan untuk mendapatkan pendidikan secara layak (April & Tari, 2019).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan, maka masalah penelitian ini di rumuskan sebagai berikut “Bagaimana Gambaran Emosional Remaja pecandu lem di kelurahan Dringu kecamatan Dringu Kota Probolinggo?”.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui emosional para remaja penghisap (pecandu Lem) di kelurahan Dringu Kecamatan Dringu Kota Probolinggo.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan ini diharapkan akan memberikan beberapa manfaat untuk pihak diantaranya :
1. Bagi penulis
Memperoleh pengalaman dalam melaksanakan aplikasi ilmu keperawatan selama perkuliahan dan Melatih ketajaman analisis serta meningkatkan
ilmu pengetahuan terhadap kondisi riil di lapangan yang berkaitan dengan kenakalan anak remaja, terutama tentang perilaku ngelem.
2. Bagi Institusi Yang terkait (BNN)
Agar penelitian ini berguna sebagai bahan bagi pihak institusi yang terkait untuk penentuan kebijakan tentang perilaku menghisap lem pada remaja.
3. Bagi masyarakat
Agar berguna sebagai bahan bagi masyarakat untuk lebih tegas dalam menangani masalah perilaku ngelem dengan pemberian sanksi/melaporkanya kepada pihak yang berwajib.