• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANCANGAN INTERIOR RUANG BELAJAR DAN BERMAIN TAMAN KANAK-KANAK NASIONAL PLUS DI JAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERANCANGAN INTERIOR RUANG BELAJAR DAN BERMAIN TAMAN KANAK-KANAK NASIONAL PLUS DI JAKARTA"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

PERANCANGAN INTERIOR RUANG BELAJAR DAN BERMAIN TAMAN KANAK-KANAK NASIONAL PLUS DI

JAKARTA

Qoni’ah Azrina Masrur

Binus University, Jl. Kebon Jeruk Raya No. 27 Kemanggisan / Palmerah

Jakarta Barat 11530, +6221 534 5830/ +6221 530 0244, [email protected]

Abstrak

Lima tahun pertama kehidupan anak merupakan saat yang paling menentukan kualitas perkembangan anak. Dalam upaya mengembangkan kualitas anak, maka anak senantiasa membutuhkan aktivitas yang penuh dengan ide-ide kreatif.

Disinilah banyak bermunculan Taman Kanak-Kanak dengan slogan “belajar sambil bermain” yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan mengembangkan kreatifitas anak. Belajar sambil bermain sangat sesuai dengan karakteristik kurikulum untuk anak usia dini, terutama kurikulum untuk anak usia taman kanak- kanak. Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran pada anak usia dini. Upaya-upaya pendidikan dilakukan dalam situasi yang menyenangkan. Maka perlu diperhatikan dan dipertimbangkan fasilitas pendukung dan tampilan desain dari setiap ruang yang digunakan dan disesuaikan dengan fungsinya agar tempat belajar tersebut bisa menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak. Perancangan interior ruang belajar dan bermain taman kanak-kanak ini mengangkat tema alat musik tradisional Indonesia. Konsep itu sendiri dipakai untuk menciptakan suasana Indonesia sekaligus memperkenalkan alat musik tradisional dengan teknik pukul kepada anak yang diimplementasikan pada ruangan.

Kata kunci: Ruang belajar dan bermian, Taman Kanak-Kanak , Kreatifitas, Alat musik tradisional Indonesia

(2)

PENDAHULUAN

Diketahui bahwa lima tahun pertama kehidupan anak merupakan saat yang paling menentukan kualitas perkembangan anak. Perkembangan anak meliputi tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Kognitif berkaitan dengan kegiatan mental dalam memperoleh, mengolah, mengorganisasi dan menggunakan pengetahuan. Afektif berkaitan dengan perasaan atau emosi. Sedangkan psikomotorik merupakan aktivitas fisik yang berkaitan dengan proses mental. Belajar pada masa awal dalam pendidikan formal didapatkan di Taman Kanak-Kanak.

Dalam upaya mengembangkan kualitas anak, maka anak senantiasa membutuhkan aktivitas yang penuh dengan ide-ide kreatif. Dengan adanya hal tersebut, maka banyak bermunculan taman kanak-kanak dengan slogan “belajar sambil bermain” yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan mengembangkan kreatifitas anak. Belajar sambil bermain sangat sesuai dengan karakteristik kurikulum untuk anak usia dini, terutama kurikulum untuk anak usia taman kanak-kanak. Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran pada anak usia dini. Upaya-upaya pendidikan dilakukan dalam situasi yang menyenangkan. Maka perlu diperhatikan dan dipertimbangkan fasilitas pendukung dan tampilan desain dari setiap ruang yang digunakan dan disesuaikan dengan fungsinya agar tempat belajar tersebut bisa menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak. Tampilan desain itu meliputi penggunaan warna, gambar, bentuk, tekstur serta tambahan pendukung lainnya yang membuat anak tidak bosan berada di tempat tersebut dan dapat memberikan kesan lebih menarik bagi anak untuk mengembangkan kreatifitasnya.

Sehubungan dengan hal tersebut, penulis terdorong untuk membuat perancangan desain interior ruang belajar dan bermain pada taman kanak-kanak berstandar Nasional Plus di Jakarta, dengan menampilkan fasilitas lebih dan desain yang dapat membuat situasi belajar anak menjadi menyenangkan yang disesuaikan dengan fungsi dan tujuan tanpa mengesampingkan tujuan utama dari tempat tersebut.

(3)

TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Olds (2001:349) ruangan yang baik untuk perkembangan anak-anak TK, yaitu ruangan yang menyediakan area-area aktivitas tersendiri yang meliputi entry zone, messy zone, active zone dan quiet zone.

Preiser dalam Laurens (2004:1) menjelaskan bahwa kebiasaan mental dan sikap perilaku seseorang dipengaruhi oleh lingkungan fisiknya. Adapun lingkungan fisik tersebut antara lain berupa kondisi fisik hunian (bangunan), ruang (interior) beserta segala perabotnya, dan sebagainya. Jika bangunan itu memiliki ruang-ruang yang sangat nyaman untuk dihuni dan untuk beraktivitas didalamnya, maka dapat mempengaruhi pembentukan dan perkembangan perilaku manusia.

Lingkungan kelas hendaknya mendukung perkembangan yang kondusif terhadap program yang berisikan tujuan-tujuan pendidikan, contohnya: anak dapat mengalami kesulitan dalam belajar di lingkungan yang gaduh atau karena ia duduk diposisi yang tidak nyaman bila dibandingkan dengan mereka yang berada di lingkungan kelas yang tenang dan penuh perhatian (De Chiara, 1980:163).

IDENTIFIKASI PERMASALAHAN

1. Memenuhi fasilitas yang dibutuhkan untuk dapat mendukung proses belajar dan bermain taman kanak-kanak.

2. Menciptakan suasana ruang belajar dan bermain yang dapat memberikan suasana menyenangkan, aman dan nyaman bagi anak.

3. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam mendesain ruang belajar agar tampilan desain sesuai dengan karakteristik anak.

RUANG LINGKUP PENELITIAN Kawasan Penelitian

1. Studi Banding

Studi banding dibutuhkan untuk mendapatkan data informasi lainnya yang berhubungan dengan cara apa dan bagaimana kreatifitas anak dapat berkembang. Data didapatkan melalui pengamatan langsung ke lapangan.

2. Studi literatur

Bentuk pengumpulan data yang berhubungan dengan pembelajaran dan pengembangan kreatifitas anak usia dini, termasuk didalamnya penjelasan

(4)

mengenai cara yang dapat digunakan unutk mengembangkan kreatifitas anak.

Batasan Penelitian

1. Divisi kepengurusan Taman Kanak-Kanak Nasional Plus.

2. Fasilitas pendukung dari aktifitas Taman Kanak-Kanak Nasional Plus.

3. Sarana dan prasarana penunjang.

4. Pembagian area antar anak usia 3-4 tahun dan 5-6 tahun.

5. Konsep perancangan meliputi 3 elemen desain yaitu lantai, dinding dan ceiling termasuk didalamnya material, bentuk, tekstur, warna yang sesuai.

TUJUAN PERANCANGAN

1. Mengetahui bagaimana cara merancang interior yang dapat meberikan suasana belajar dan bermain yang menyenangkan, aman dan nyaman bagi anak.

2. Mendesain fasilitas pembelajaran dan pengembangan kreatifitas anak agar dapat meningkatkan motivasi belajar dan kualitas anak.

3. Mendesain ruangan dengan memperhatikan sirkulasi, warna dan bentuk furniture yang sesuai dengan karakteristik anak sehingga membuat anak merasa senang,aman dan nyaman saat berada di tempat itu.

MANFAAT PERANCANGAN

1. Menampilkan desain yang dapat membuat anak merasa nyaman pada saat belajar.

2. Menciptakan ketertarikan dalam belajar agar anak dapat meningkatkan kreatifitasnya dengan baik.

3. Memberikan pengalaman baru bagi penulis dalam rangka mengekspresikan pembuatan suatu desain.

4. Membuat kepercayaan pada masyarakat khususnya orang tua bahwa tempat ini merupakan sarana yang dapat digunakan untuk belajar dan pengembangan kreatifitas anak usia dini.

(5)

METODE PENELITIAN

Beberapa metode yang digunakan adalah : 1. Metode Pengumpulan Data

a. Studi Literatur

Bentuk pengumpulan data yang berhubungan dengan belajar dan bermain pada taman kanak-kanak nasional plus, termasuk didalamnya penjelasan mengenai fasilitas penunjang dan cara yang dapat digunakan untuk dapat menciptakan suasana belajar dan bermain yang menyenangkan.

b. Observasi Lapangan

Observasi lapangan yang dilakukan ada dua macam, yaitu mengamati elemen-elemen interior dan observasi terhadap perilaku anak selama berada dalam ruang belajar. Data tersebut meliputi foto dan aktifitas yang terjadi saat itu.

c. Wawancara

Dalam penelitian ini digunakan wawancara berstruktur. Peneliti menyusun daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada responden sebelum melakukan wawancara. Untuk memudahkan pengamatan, wawancara dilakukan kepada pengelola dan pengurus yang turut serta dalam taman kanak-kanak tersebut.

2. Metode Pengolahan Data

Data yang telah didapat melalui observasi, wawancara dan survey yang dikaitkan dengan studi literature dianalisa untuk memberi keterangan secara lebih detail dengan tujuan agar pemahaman tentang informasi yang didapat menjadi jelas.

3. Membangun Hipotesa

Setelah memperoleh data dan melalui proses pengolahan kemudian dapat dibangun suatu hipotesa.

4. Pengembangan Desain

Pada tahap ini menetapkan konsep atau ide gagasan perancangan desain yang kemudian akan di kembangkan dalam proses perancangan.

5. Pengerjaan Desain Akhir

Melakukan proses pengerjaan kedalam bentuk desain yang terdiri dari gambar kerja, sketsa maupun 3D.

(6)

PEMBAHASAN

Pengertian Taman Kanak-Kanak Nasional Plus

Sistem belajar modern lebih berpusat pada anak dan menggunakan metode bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain. Sesuai dengan lampiran Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0125/U/1994 Bab IV tentang pelaksanaan pendidikan, yaitu bermain merupakan cara yang paling baik untuk mengembangkan kemampuan anak didik karena mengandung rasa senang dan lebih mementingkan proses daripada hasil akhir. Taman Kanak-Kanak adalah jenjang pendidikan prasekolah yang bertujuan untuk meletakkan dasar pendidikan paling awal bagi anak usia 3 – 5 tahun dengan lama pendidikan antara 1 – 2 tahun.

Sebutan taman secara harifiah pada Taman Kanak-Kanak adalah arti tempat yang nyaman untuk bermain, dalam pengertian prilaku guru, penataan sarana dan prasarana serta program kegiatan belajar harus menciptakan suasana yang nyaman bagi pertumbuhan dan perkembangan anak (Depdikbud RI, 1992).

Nasional Plus merupakan sekolah nasional berstandar Internasional/SBI.

Kata ‘plus’ dibentuk oleh sebuah organisasi, yakni Association of National Plus School (ANPS). Kurikulum pada Taman Kanak-Kanak Nasional Plus tetap mengikuti kurikulum dasar yang ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Taman Kanak-Kanak Nasional Plus berbeda halnya dengan Taman Kanak- Kanak Nasional. Perbedaan ini terdapat pada Taman Kanak-Kanak Nasional Plus merupakan sekolah swasta yang memiliki jumlah murid kurang dari 20 anak dalam satu kelas, menggunakan bahasa pengantar utama adalah Bahasa Inggris dan memiliki akreditasi internasional. Menurut Lody Paat, Koordinator Koalisi Pendidikan, Taman Kanak-Kanak Nasional Plus haruslah unggul dalam hal fasilitas. Mulai dari ruang kelas yang memadai, komputer, laboratorium, ruang musik, sarana olahraga yang lengkap, perpustakaaan dengan koleksi beragam, sampai ke kantin dan toilet yang bersih.

(7)

Pengertian Belajar dan Bermain

Manusia belajar secara terus menerus untuk mampu mencapai kemandirian dan sekaligus mampu beradaptasi terhadap perubahan berbagai lingkungan. Belajar dapat dilakukan dengan berbagaicara. Belajar dapat dilakukan dentan melihat, mendengarkan, membaca, menyentuh, membaui, bergerak, berbicara, bertindak, berinteraksi, merefleksi, bahkan bermain.

Belajar dapat diartikan sebagai suatu aktivitas yang ditunjukan oleh perubahan tingkah laku. Sebagai hasil dari pengalaman, Klein menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif permanen yang dihasilkan oleh proses pengalaman yang tidak ditentukan oleh kematangan atau kecenderungan bawaan saja.

Anak menurut John Dewey, selalu ingin mengeksploitasi lingkungannya dan memperoleh manfaat dari lingkungan itu. Pada saat mengeksploitasi lingkungannya, anak menghadapi permasalahan pribadi dan sosial. Ini merupakan hal yang problematis yang mendorong anak untuk mempergunakan kemampuannya untuk menyelesaikan masalah dan memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya secara aktif. Anak usia taman kanak-kanak terlibat aktif dengan latihan organ-organ sensorik dan perkembangan koordinasi fisik, anak juga terlibat materi dan alat-alat yang ditemukan di lingkungannya dan anak menemukan ide-ide mengusi serta menggunakan ide-ide tersebut.

Proses belajar anak usia taman kanak-kanak menurut (Bredekamp &

copple, 1997) mengatakan bahwa anak belajar secara aktif dari kegiatan mengamati dan berpartisipasi dengan anak-anak lain dan orang yang lebih dewasa, termasuk guru dan orangtuanya. Anak perlu membuat hipotesis dan mengujinya melalui interaksi sosial, memanipulasi fisik, dan proses berfikir sendiri dengan mengamati apa yang terjadi, merefleksikan temuannya, membuat pertanyaan dan memformulasikan jawaban.

Sedangkan bermain adalah dunia sekaligus sarana belajar anak.

Memberikan kesempatan pada anak untuk bermain berarti memberikan kesempatan kepada mereka untuk belajar. Memberikan kesempatan anak untuk belajar dengan cara-cara yang dapat dikatagorikan sebagai bermain berarti telah membuat pengalaman belajar itu dirasakan dan diapresiasikan secara alami oleh

(8)

anak yang bersangkutan sehingga menjadi bermakna olehnya (solehuddin, 2000).

Melalui bermain itulah sesungguhnya anak belajar. . melalui bermain anak memiliki sempatan untuk membangun dunianya berinteraksi dengan orang lain dalam lingkungan sosial, mengekspresikan dan mengontrol emosinya serta mengembangkan kecakapan simboliknya. Anak juga dapat memperoleh kesempatan untuk mempraktekkoan ketermpilan-keterampilan yang baru diperolehnya dan juga fungsi kecakapan sosialnya untuk menerima peran sosial yang baru dan mencoba tugas baru yang menantang serta menyelesaikan masalah baru yang tidak dapat diselesaikan dengan cara yang lain.

(Mallory&New, 1994).

Hakikat Perkembangan Anak Usia Taman Kanak-Kanak

Perkembangan merupakan suatu proses yang bersifat kumulatif artinya perkembangan terdahulu akan menjadi dasar bagi perkembangan selanjutnya.

Oleh sebab itu apabila terjadi hambatan pada perkembanngan terdahulu maka perkembangan selanjutnya akan mendapat hambatan menurut Jamaris dalam (Sujiono Y. N., 2009)

Anak usia taman kanak-kanak berada dalam masa keemasan, selama masa inilah anak secara khusus mudah menerima stimulus dari lingukangannya.

Untuk itulah anak perlu diberi pendidikan yang sesuai dengan perkembangannya dengan cara memperkaya lingkungan bermainnya dan perlu memberi peluang untuk menyatakan diri, berekspresi dan berkreasi. Berdasarkan aspek perkembanganya seorang anak dapat belajar dengan baik apabila kebutuhan fisiknya dipenuhi. Diyakini para pakar agar pertumbuhan dan perkembangan tercapai secara optimal dibutuhkan situasi dan kondisi yang kondusif pada saat memberikan stimulasi dan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan.

(9)

Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak Usia Taman Kanak- Kanak

Adanya perbedaan perkembangan tumbuh kembang antara anak satu dengan anak lainya di pengaruhi oleh bebepara faktor diantaranya :

1. Faktor lingkungan yang menyenangkan anak

Hubungan anak dengan masyarakat yang menyenangkan terutama dengan anggota keluarga mengarah ke penyesuaian sosial yang lebih baik.

2. Faktor Emosi

Pemuasan emosional mendorong perkembangan kepribadian anak yang semakin stabil.

3. Metode mendidik anak

Anak yang diberikan pendidikan sejak kecil ketika besar cenderung lebih bisa bertanggung jawab.

4. Faktor rangsang lingkungan

Lingkungan yang merangsang merupakan salah satu pendorong tumbuh kembang anak dan dapat mendorong fisik dan mental anak.

Jenis Perkembangan Anak Usia Taman Kanak-Kanak

Jenis Perkembangan Anak Usia Taman Kanak-Kanak Sumber : (Sujiono Y. N., 2009)

Jenis perkembangan Penjelasan

Perkembangan Fisik

Perkembangan fisik meliputi bentuk tulang, dan pergerakan tubuh

Perkembangan Sosial

Perkembangan Sosial mempengaruhi perilaku yang di terima secara sosial.

Perkembangan sosial proses belajar menyesuaikan terhadap kelompok, tradisi lingkungan maupun moral dengan lingkungan yang lain

(10)

Perkembangan Emosional

Perkembangan emosional pada anak usia dini dilakukan dengan tangisan, rasa marah, dan rasa ingi tahu.

Perkembangan Kognitif

Perkembangan kognitif Merupakan dasar kemampuan anak untuk berpikir

Perkembangan Fisik Anak Usia Taman Kanak-Kanak

Perkembangan Fisik Anak Sumber : (Sujiono Y. N., 2009)

Jenis perkembangan Penjelasan

3-4 Tahun

-Peningkatan keterampilan fisik -Melompat dengan kedua kaki

-Dapat berjalan pada balok keseimbangan -Memanjat pada alat permainan

4-5 Tahun

-Melompat dengan kaki saling bergantian -Peningkatan pada motorik halus

-Memotong pada garis

-dapat menjiplak gambar geometris

5-6 Tahun

-Keterampilan fisik menjadi hal yang penting dalam perkembangan konsep diri -Adanya peningkatan energi yang tinggi -Pengendalian motorik halus sudah sangat bagus

(11)

Perkembangan Sosial

Perkembangan Sosial Anak Sumber : (Sujiono Y. N., 2009)

Usia Penjelasan

3-4 tahun

-Menjadi akan lebih sadar akan diri sendiri -mengembangkan perasaan rendah hati

-Dapat mengambil arah dan mengikuti beberapa aturan

-Menunjukan suatu pertumbuhan dalam hal perasaan atau pengertian dari kepercayaan pada diri sendiri

5-6 tahun

-Menyatakan gagasan yang kaku tentang peran jenis kelamin

-Memiliki teman baik meskipun untuk jangka waktu yang pendek

-ingin menjadi yang nomer satu

-menjadi lebih posesif dengan barang-barang kepunyannya

-Sering bertengkar dalam waktu yang singkat

Perkembangan Emosional Anak

Perkembangan Emosional Anak Sumber : (Sujiono Y. N., 2009)

Usia Penjelasan

3-4 tahun

-Mulai mengembangkan pengendalian diri -Menghargai kejutan dan peristiwa tertentu -Mulai menunjukan selera humor

-takut akan gelap, merasa diabaikan, atau pada situasi

(12)

yang belum dikenal

5-6 tahun

-Dapat mengendalikan agresi dengan lebih baik -Menyatakan selera humor di dalam lelucon, kata- kartta omongan kosong

-Belajar mengenai hal-hal yang benar dan yang salah -Mulai dapat menyatakan

Perkembangan Kognitif

Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini Sumber : (Sujiono Y. N., 2009)

Usia Penjelasan

3-4 tahun

-Dapat mengikuti dua perintah

-dapat membuat penilaian menghitung banyaknya kesalahan yang telah mereka buat

-Mengembangkan kosa kata dengan cepat -menggunakan angka-angka tanpa pemahaman

-Mulai meenanyakan pertanyaan ‘mengapa’ secara sering

5-6 tahun

-Menunukan perhatian pada masa pertumbuhan -Dapat mengurutkan objek dalam urutan yang tepat -Melakukan berbagai hal dengan sengaja, lebih sedikit menuruti kata hati

-Menjadi tertarik dalam menulis

Klasifikasi Aktifitas Pengguna

1. Anak – anak a. Belajar

Anak-anak belajar sesuai dengan pembagian usia dan fasilitas disediakan yang menunjang anak belajar.

(13)

b. Bermain

Anak-anak disediakan area bermain yang tentunya tetap mementingkan keamanan pada area bermain dan dalam pengawasan.

2. Orang tua / Pendamping a. Menemani anaknya b. Menunggu anaknya c. Makan dan Minum 3. Staff Pengajar (Guru)

a. Mengajar anak-anak b. Mengawasi anak-anak c. Melayani kebutuhan anak 4. Staff Karyawan

a. Mengurus administrasi b. Mengurus berkas-berkas 5. Pimpinan Sekolah

a. Memimpin sekolah

b. Mengawasi dan mengontrol aktifitas belajar mengajar 6. Penjaga Sekolah

a. Menjaga keamanan sekolah b. Membersihkan sekolah

Klasifikasi Fasilitas Pengguna A. Fasilitas Utama Pengguna

1. Anak – anak a. Ruang Kelas

Sebagai tempat untuk kegiatan pembelajaran anak.

Ruang kelas harus dilengkapi dengan fasilitas penunjang kegiatan yang berlangsung, ruang kelas di sediakan terdapat berbagai jenis.

(14)

b. Ruang Bermain

Sebagai ruang untuk bermain tentunya ruangan memiliki area yang cukup luas agar anak bebas bermain dan bergerak dengan bebas. Tentunya penggunaan material harus diperhatikan.

2. Orang Tua / Pendamping a. Ruang tunggu

Disediakan ruang tunggu sebagai tempat untuk orang tua atau pendamping menunggu anak saat belajar.

b. Kantin

Kantin disediakan untuk makan dan minum bagi orang tua, staff pengajar (guru) ketika membutuhkan.

3. Staff Pengajar (guru) a. Ruang Guru

Ruang guru disediakan untuk guru menyimpan file-file, barang-

barang ataupun berkas anak-anak.

4. Staff Karyawan

a. Ruang Tata Usaha

Ruang tata usaha disediakan untuk staff karyawan yang bekerja di tempat ini seperti, staff keuangan.

5. Pimpinan Sekolah

a. Ruang Kepala Sekolah

Ruang kepala sekolah disediakan untuk kepala sekolah yang sedang menjabat sebagai pimpinan sekolah tersebut.

B. Fasilitas Pendukung Pengguna 1. Lobby

2. Ruang Tunggu 3. Ruang Komputer 4. Ruang Keterampilan 5. Ruang Kesenian

(15)

6. Ruang Makan 7. Perpustakaan 8. Parent Lounge 9. Kantin

10. Outdoor Area 11. Sarana Olahraga 12. Ruang Serba Guna 13. UKS

14. Dapur 15. Toilet 16. Gudang

Standarisasi Ergonomi Anak

Anak memiliki ukuran standar yang berbeda dengan orang dewasa ukuran furniture yang dirancang harus disesaikan dengan ukuran tubuh anak. Dibawah ini adalah rata-rata tinggi dan berat anak.

Rata-Rata Tinggi dan Berat Anak (Sumber : George S Morrison, 2012)

Usia

Anak Laki-Laki Anak Perempuan Ting

gi

Berat Ting

gi

Berat

(cm) (kg) (cm) (kg)

3 tahun 100 13 98 13

4 tahun 104 15 102 14

5 tahun 109 18 107 18

6 tahun 115 21 115 20

(16)

Dibawah ini adalah gambar ergonomi anak :

Ukuran anak usia 3-5 Tahun (Sumber : Santi Hapasari, 2013)

Ukuran anak usia 5-7 Tahun (Sumber : Santi Hapasari, 2013)

Tinjauan Arsitektur

(Kementerian Pendidikan Nasional, 2011) aspek arsitektural tempat belajar anak harus menjawab kebutuhan Penggunanya meliputi beberapa hal diatanranya :

(17)

1. Aspek Bangunan

a. Bangunan untuk kegiatan belajar dan bermain yang memenuhi standar.

b. Kantor dan ruang guru beserta perlengkapannya.

c. Kamar mandi, kamar kecil dan air bersih.

d. Halaman dengan alat bermain yang memadai.

e. Luas lahan/tanah minimal yang diperlukan 300 m2.

2. Aspek Lokasi a. Keamanan b. Kebersihan

c. Ketenangan/kenyamanan d. Penduduk

e. Transportasi

Tinjauan Interior

Anak-anak memiliki kebutuhan lingkungan yang berbeda dengan orang dewasa, mereka tidak hanya memerlu-kan keindahan, namun lebih memerlukan lingkungan yang kreatif. Mereka lebih tertarik pada apa yang mereka lihat dan ini adalah proses belajar yang sangat penting, berkaitan erat dengan tahap-tahap perkem-bangan anak yang masih lebih tertarik pada sesuatu yang bersifat visual (Sari, 2005: 89).

UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya Pasal 45 ayat 1, menjelaskan bahwa sarana dan prasarana pendidikan yang ada di TK harus memenuhi kebutuhan anak didik akan pertumbuhan dan perkembangan fisik yang optimal, dapat merangsang kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan perkembangan psikologis atau jiwa mereka.

Adapun aspek interior ruang belajar dan bermain sebagain berikut : 1. Pembagian ruang berdasarkan Pengelompokan Usia

a. Usia 3-4 tahun

(18)

b. Usia 4-5 tahun c. Usia 5-6 tahun 2. Pembagian Pengguna ruang

a. Area untuk anak

Ruang belajar dan ruang bermain b. Area staff

Ruang kepala sekolah, guru, dan tata usaha c. Service area

3. Penggunaan Warna

warna primer, warna yang di mudah di perkenalkan kepada anak hanya saja sebaiknya tidak digunakan terlalu banyak, dapat di apliksasikan sebagai aksen.

4. Ukuran Furniture

Adapun ukuran furniture yang direkomendasikan (Astrini, 2005) yaitu :

a. Meja anak berukuran p = 120 cm, l = 75 cm, dan t = 47-50 cm.

b. Kursi anak berukuran p = 32-35 cm, l = 27-30 cm, dan t = 30 cm.

c. Rak untuk alat pendidikan berukuran p = 150 cm, l = 40 cm, dan t = 65 cm.

d. Rak simpan barang milik anak didik (loker) merupakan rak besar yang berkotak-kotak. Adapun ukuran tiap-tiap kotak tersebut, yaitu p = 30 cm, l = 30 cm, d = 35 cm, dan t = ± 100 cm (tiga tingkat).

e. Ketinggian meja/rak untuk kegiatan yang di-lakukan sambil berdiri adalah sekitar 60 cm.

f. Tinggi jangkauan anak terhadap perabot rata-rata 121 cm, maksimal 133 cm.

(19)

Ukuran perabot yang salah akan menimbulkan ketidaknyamanan.

Selain itu, sebaiknya perabot yang akan dipakai menggunakan material yang aman dan tidak mempunyai bentuk ujung yang runcing dan lancip karena hal ini berbahaya untuk anak-anak. Perabot juga harus memiliki daya tarik, dalam perancangan ini harus mempunyai ciri khas tersendiri bagi anak (Roth, 1966: 50).

Gambar dibawah menunjukkan ukuran standar meja dan kursi pada Taman Kanak-Kanak menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Dimensi Meja Kelas dan Meja Makan TK (Sumber : Depdikbud RI, 1992:9)

Dimensi Kursi Kelas dan Kursi Makan TK

(20)

(Sumber : Depdikbud RI, 1992:9) 5. Sirkulasi Ruang

Luas ruangan ideal adalah 40-50 m2 dan ruangan kelas diisi oleh 24 orang siswa. Namun, bila tidak memungkinkan dapat juga menggunakan batasan minimum 0,9 m2 untuk tiap anak (De Chiara, 1980: 1128).

Pengelompokan fungsi ruang/organisasi ruang berkaitan dengan terciptanya sirkulasi. Bentuk organisasi ruang dapat dibedakan, antara lain sebagai berikut (Suptandar, 1999: 112):

a. Organisasi ruang terpusat, yaitu sebuah ruang besar dan dominan sebagai pusat ruang di sekitar-nya, organisasi ini mengarah ke dalam.

b. Organisasi ruang linier, yaitu deretan ruang-ruang, masing- masing berhubungan langsung yang sifat-nya memanjang.

c. Organisasi ruang radial, yaitu kombinasi dari organisasi terpusat dan linier. Organisasi ini meng-arah ke luar.

d. Organisasi ruang mengelompok, yaitu merupakan pengulangan bentuk fungsi yang sama, tetapi komposisinya dari ruang-ruang yang berbeda ukuran, bentuk, dan fungsi.

e. Organisasi ruang secara grid, terdiri dari beberapa ruang yang posisi ruangnya tersusun dengan pola grid (3 dimensi), organisasi ruang membentuk hubungan antar ruang dari seluruh fungsi posisi dan sirkulasi.

Studi Warna dan Bentuk 1. Studi Warna

Warna-warna yang dibutuhkan untuk menun-jang perkembangan adalah warna yang dapat memberikan suasana aman, hangat, nyaman, bebas dan rangsang. Warna-warna pastel dengan intensitas yang berbeda-beda dapat menun-jang suasana ruang ruang tersebut di atas. Warna pastel aman dalam arti warna tidak menyilaukan, membuat mata cepat lelah, menyenangkan, tidak

(21)

menakutkan dalam arti warna dapat memotivasi anak untuk beraktifitas, bergembira dan kreatif (Sari, 2004: 32).

Psikologi Warna Yang Sesuai Untuk Ruang Anak (Sumber : Carey Jolliffe, 1990)

Warna Arti Positif Arti Negatif

Merah Hidup

Cerah Pemimpin

Kekuatan

Panas Bahaya

Emosi Agresif

Jingga Muda

Kreatif Persahabatan

Dinamis

Dominan Arogan

Kuning Segar

Cerah Energik Semangat

Inspiratif Tenang

Sinis Kritis

Hijau Segar

Stabil Formal Energik Harmonis

Pahit

Biru Kebenaran

Damai Intelegensi tinggi

Sejuk

Emosional Egosentris

(22)

Ungu Artistik Personal

Mistis Spiritual

Angkuh Sombong

Diktator

Cokelat Organik

Kekuatan Hangat

Tidak bersih Kering

Putih Jujur

Bersih Higienis Kebenaran

Sunyi Kekosongan

Abu-Abu Netral

Modern Teknologi

Bimbang Monoton

Hitam Kuat

Kreativitas Magis Idealis Fokus

Terlalu kuat Merusak Menekan

2. Studi Bentuk

A. Garis

Studi Garis

(Sumber : Dasar-Dasar Desain)

Jenis garis Arti

Garis Verikal Memberi sugerti

Stabilitas, kuat dan simpel, megah

(23)

Garis Horizontal Memberi sugesti ketenangan, serta respon pada hal yang tak bergerak

Garis Diagonal Memberi sugesti ketidakstabilan, atasu sedang bergerak.

Garis Lengkung Menimbulkan semangat, tetapi jika berlenihan menimbulkan kegelisahan.

B. Bentuk

Studi Bentuk (Sumber : Dasar-Dasar Desain)

Jenis Bentuk Arti

Segitiga Melambangkan kestabilan bentuk

Lingkaran Memberi kesan stabil, menguasai

lingkungan sekitar, memberi

Bujur Sangkar Memberi kesan netral,stabil, satis, dan rasional

Bentuk Orgnaik Berkesan tumbuh dan tidak terukur.

Elemen Pembentuk Ruang

a. Lantai

Lantai merupakan area favorit anak untuk bermain, karena adanya kecenderungan anak meng-ambil mainan yang jatuh ke lantai dan memasukan-nya kedalam mulut, maka sebaiknya lantai dilapisi alas yang bagus, tidak licin dan berkesan hangat. Lantai untuk ruang kelas

(24)

sebaiknya kuat, tidak licin, dan pemeliharaaannya harus mudah.

Lantai juga merupakanbagian dalam bangunan yang paling dasar dan berhubungan langsung dengan beban, baik beban mati maupun beban gerak. Lantai harus memiliki karakter, banyak jenis penutup lantai tentunya disesuain dengan fungsi ruang.

Jenis Penutup Lantai (Sumber : www.google.com)

Jenis Karakteristik

Karpet -Memberi kesan hangat -Dapat meredah suara -Perawatan agak sulit

-Tersedia banyak warna dan motif Vynil -Perawatan mudah

-Tahan noda dan mudah dibersihlan -Anti gores tapi bukan benda tajam -Semakin tebal lapisan, semakin bagus kualitasnya

Keramik -Terdapat pilihan bentuk dan warna -Mudah Perawatan

-Harga Variatif

(25)

b. Dinding

Adalah pembatas suatu ruang atau pembatas suatu kegiatan. Banyak jenis Material dinding yang dapat digunakan untuk tempat belajar anak tentunya sesuai dengan fungsi dan kegiatan didalamnya.

Jenis Penutup Dinding (Sumber : www.google.com)

jenis Karakteristik

Gypsum -Pemasangan mudah -Kuat terhadap api

-Umunya digunakan untuk sebagai sekat

Finishing Cat tembok -Tahan terhadap air -Mudah di bersihkan -Relatif murah -Warna Variatif Finishing Walpaper -Tahan lama

-Mudah dibersihkan -Variatif motif dan corak -Relatif mahal

Finishing Mural -Relatif mahal -Mudah dibersihkan

-Dapat dibuat sesuai keinginan

Kaca -Tahan Api

-Mudah dibersihan -Meberikan kesan Luas -Harga relatif mahal

(26)

c. Ceiling

Plafon pada ruang belajar dan bermain anak di-utamakan dari sisi fungsional, karena aktivitas di dalamnya membutuhkan konsentrasi.

Material yang sesuai adalah eternit polos, tripleks dan berbagai jenis softboard serta beton ekspos dengan finishing sederhana (Suptandar, 1999: 167).

Sistem Interior a. Pencahayaan

Cahaya menjadi syarat untuk melihat, tetapi apabila cahaya terlalu berlebih akan menimbulkan kesilauan. Sehinggga Penggunaan Cahaya Harus Diperhatikan. Cahaya terbagi menjadi 2 yaitu alami dan buatan.

Berdasarkan sumbernya :

1. Pencahayaan alami : berasal dari matahari langsung 2. Pencahayaan Buatan : Berasal dari lampu

Berdasarkan Jenisnya : 1. General Lighting 2. Task Lighting 3. Decoraing Light 4. Accent Lighting b. Penghawaan

Penghawaan dalam ruangan harus diperhatikan karena dengan udara yang tidak segar dapat menghambat kegiatan belajar. Penghawaan terbagi menjadi 2 yaitu penghawaan alami dan penghawaan buatan Berdasarkan jenisnya :

1. Penghawaan alami : menggunakan udara alami sebagai sumber penghawaan. Dapat dimanfaatkan melalui jendela, ventilasi atau bukaan-bukaan yang lain

2. Penghawaan buatan : Menggunakan udara bautan yang sifatnya hanya sementara, dan dapat disesuaikan kebutuhan.

Contoh AC dan kipas angin.

(27)

c. Akustik

Akustik bertujuan untuk mengurangi suara atau bunyi yang sifatnya menggangu. Agar kegiatan yang berlangsung dalam ruang lebih kondusif.

Konsep Desain

Kerangka Konsep Desain

Gambar 4.1 Kerangka Konsep

(Sumber : Qoni’ah Azrina,2015)

(28)

Tema

Tema yang digunakan dalam perancangan ini adalah alat musik tradisional Indonesia dengan teknik pukul. Konsep ini mengambil dari beberapa bentuk alat musik Indonesia bagian barat, timur dan tengah yang memiliki bentuk-bentuk serupa dan tidak asing bagi anak-anak. Alat musik dengan teknik pukul merupakan kegiatan yang mudah dilakukan anak usia dini untuk melatih motorik anak, selain itu hal ini juga dapat merangsang kepekaan pendengaran pada anak. Inilah salah satu konsep yang ingin diterapkan kepada anak. Anak-anak diperkenalkan kepada alat-alat musik Indonesia. Pengambilan tema ini juga bertujuan untuk memperkenalkan salah satu budaya Indonesia kepada anak berusia golden age, sehingga anak-anak tidak meninggalkan budayanya sendiri. Karena semakin banyak anak-anak dizaman ini yang sudah tercampur oleh budaya luar. Selain itu untuk menciptakan generasi penerus yang cinta akan Tanah Air.

Alat Musik Pukul Tradisonal Indonesia (Sumber : www.pinterest.com)

(29)

Gaya

Pengambilan gaya pada perancangan ruang belajar dan bermain taman kanak-kanak ini adalah modern. Ruang didesain secara sederhana, tidak terlalu banyak ornamen-ornamen, ukiran dan detail pada furniturenya. Gaya modern pada awalnya terispirasi dari gerakan kubisme yang sifatnya berbentuk kubus hingga sekarang berkembang menjadi berbagai bentuk namun tetap tidak menggunakan ukiran yang rumit.

Contoh Ruang Belajar dan Bermain Bergaya Modern (Sumber : www.pinterest.com)

Citra

Perancangan ruang belajar dan bermain taman kanak-kanak ini akan memberikan citra yang attractive, playfull dan fun. Dimana citra yang akan di timbulkan ini disesuaikan dengan sifat anak-anak yang selalu senang dan gembira.

Anak-anak sangat perlu ruangan yang membuatnya senang, nyaman dan aman pada saat belajar dan bermain. Penggunaan citra ini juga dikolaborasikan kedalam bentuk elemen interior yang diambil dari bentuk alat musik pukul Indonesia.

Contoh Ruang Belajar dan Bermain attractive, playfull dan fun (Sumber : www.pinterest.com)

(30)

Bentuk

Penggunan bentuk pada ruang belajar dan bermain taman kanak-kanak adalah perpaduan antara bentuk geometis dan organik. Bentuk-bentuk tersebut diadopsi dari penggunaan tema alat musik pukul indonesia yang dapat memeberikan pengetahuan alat musik Indonesia kedalam desain ruang. Konsep geometris dan organik yang diaplikasikan adalah bentuk lingkaran dan persegi panjang yang terinspirasi dari bentuk alat musik pukul Indonesia. Bentuk ini akan diaplikasikan pada elemen interior dan furniture.

Penggunaan konsep bentuk pada furniture tidak semata-mata memberikan kesan estetis pada suatu ruangan, tetapi juga harus memgutamakan keamanaan pada anak, seperti memperhatikan bagian sudut-sudut agar tidak menggunakan bentuk runcing yang membahayakan anak.

Warna

Penggunaan warna pada ruang belajar dan bermain taman kanak-kanak sangat penting, mengingat citra yang ingin di tampilkan tempat ini adalah fun, playful dan atractive tentunya warna merupakan peran utama untuk memberikan citra tersebut.

Konsep warna yang digunakan dalam perancangan ini adalah warna putih, kuning, orange, biru dan hijau. Warna-warna tersebut diambil dari penerapan gedung dan citra yang akan di implementasikan kepada elemen interior dan furniture.

Warna Ruang Belajar dan Bermain attractive, playfull dan fun (Sumber : Qoni’ah Azrina,2015)

(31)

Furniture

Dalam perancangan furniture ruang belajar dan bermain taman kanak-kanak banyak menggunakan furniture dengan sistem modular dengan bentuk lingkaran dan persegi panjang. Furniture yang di gunakan tentunya mengutamkan faktor keamanan, dari mulai bentuk hingga penggunaan bahan materialnya.

Contoh Furniture Terinspirasi dari Bentuk Alat Musik Pukul Indonesia (Sumber : Qoni’ah Azrina,2015)

Elemen Interior 1. Lantai

Penggunaan material lantai yang akan di gunakan sesuai dengan pertimbangannya seperti mudah di bersihkan, mudah perawatan dan tidak membahayakan anak. Beberapa alternatif material penetup lantai seperti pada gambar.

Contoh Lantai Ruang Belajar dan Bermain.

(Sumber : www.pinterest.com)

(32)

2. Dinding

Dinding pada ruang belajar dan bermain taman kanak-kanak dapat menggunakan beberapa macam material seperti cat, multipleks dan pvc . Bentuk dan warnanya akan disesuaikan dengan konsep agar memberikan suasana ruang fun, attractive dan playfull.

3. Ceiling

Sebagai penutup ruangan ceiling dapat di olah dengan penaikan penuruan ceiling, maupun bentuk-bentuk menarik yang disesuaikan dangan tema itu sendiri.

Contoh Ceiling yang Terinspirasi dari Bonang.

(Sumber : www.pinterest.com)

HASIL PERANCANGAN Ruang Kelas

(33)

Ruang Keterampilan

Ruang Kesenian

(34)

KESIMPULAN

Ruang belajar dan bermain taman kanak-kanak nasional plus merupakan sarana untuk membantu perkembangan dan pertumbuhan anak sebelum memasuki pendidikan dasar dengan kurikulum berbasis nasional plus dan bahasa pengantar adalah Bahasa Inggris.

Berdasarkan pada teori yang mengatakan bahwa perkembangan anak usia taman kanak-kanak lebih didekatkan pada dunia bermain. Sehinga taman kanak- kanak memiliki selogan “ Belajar Sambil Bermain.” Hal ini termasuk kedalam salah satu faktor upaya peningkatan kualitas anak di usia taman kanak-kanak.

Dalam kaitannya dengan faktor tersebut, maka selain pada sistem pembelajaran yang disusun dalam kurikilum taman kanak-kanak, fasilitas ruang belajar dan bermain pun turut serta dalam peningkatan kualitas anak. Ruang didesain dengan memperhatikan karakteristik anak sehingga dapat menciptakan ruang yang menyenangkan, aman dan nyaman bagi anak untuk bermain sambil belajar.

Desain ruang belajar dan bermain anak taman kanak-kanak nasional plus ini dirancangang dengan mengangkat alat musik tradisional Indonesia yang dimainkan dengan teknik pukul dengan tujuan melatih motorik anak dan merangsang pendengaran anak. Desain ini mengimplementasikan konsep tersebut dengan penggunaan bentuk geometrik yang di ambil dari bentuk alat-alat musik itu sendiri, yang kemudian di aplikasikan pada elemen interior seperti ceiling, dinding maupun bentuk-bentuk furniture pada ruang, yang bertujuan untuk memperkenalkan alat musik Indonesia yang diaplikasikan kedalam ruang belajar dan bermain anak serta dikombinasikan dengan citra attractive, fun dan playfull pada warna ruangan tersebut.

penerapan desain tersebut disesuaikan dengan dunia anak, dimana penyerapan pengetahuan anak di dapat melalui pengamatan secara langsung terhadap lingkungan yang menyenangkan bagi anak, sehingga anak bisa memaksimalkan potensi yang ada pada dirinya dalam mengembangkan kreativitasnya.

(35)

Dengan demikian dapat diambil suatu kesimpulan bahwa desain ruang belajar dan bermain anak sangat berpengaruh pada proses tumbuh kembang anak di taman kanak-kanak. Anak akan tumbuh secara maksimal apabila anak merasa senang dan nyaman saat berada di suatu tempat yang mendukung, baik secara desain maupun fasilitasnya.

DAFTAR PUSTAKA

Sujiono, Y. N. (2009). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Indeks.

Suyadi. (2014). Teori Pembelajaran Anak Usia Dini. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.

suyadi, & Ulfah, M. (2013). Konsep Dasar PAUD. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.

Munandar, U. (2009). Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: RINEKA CIPTA.

Sujiono, B., & Sujiono, Y. N. (2010). Bermain Kreatif Berbasis Kecerdasan Jamak. Jakarta:

Indeks.

Fajarwati, E. (2009). Hubungan Bermain Balok Denga Kreativitas.

Kotnik, J. (2010). Kindergarten Architecture.

Wiyani, N. A. (2013). Desain Pembelajaran Pendidikan. yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.

Wiyono, & Nursyahid, O. A. (2013). Rahasia Mendidik Anak Cerdas. Jakarta: PT. Suka Buku.

Mostaedi, A. (2006). preschool & kindergarten asrchitecture. spain: Carles Broto.

University, D. (2013). Kids Design. Dalian: Dalian University of Technology Pres.

Nuryanti, L. (2008). Psikologi Anak. Jakarta: PT. Indeks.

Pratisti, W. D. (2008). Psikologi Anak Usia Dini. Jakarta: PT. Indeks.

Karlen, M. (2007). Dasar-Dasar Perencanaan Ruang. Jakarta: Erlangga.

Irawan, B., & Tamara, P. (2013). Dasar-Dasar Desain. Jakarta: Griya Kreasi.

Olds, A. (2001). Child Care Design Guide.

De Chiara, J. (1980). Handbook Of Architectural Details For Commercial Buildings.

(36)

RIWAYAT PENULIS

Qoni’ah Azrina Masrur lahir di Surabaya 25 Juni 1992. Penulis menamatkan pendidikan S1 di Binus University dalam bidang ilmu desain interior khususnya dibidang hospitality and commercial pada tahun 2015.

Gambar

Gambar dibawah menunjukkan ukuran standar meja dan kursi pada  Taman  Kanak-Kanak  menurut  Departemen  Pendidikan  dan  Kebudayaan  Republik Indonesia
Gambar 4.1 Kerangka Konsep

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana manajemen kurikulum berbasis entrepreneurship di kelompok bermain dan taman kanak-kanak Daycare Khalifah 14 Yogyakarta,

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGGAMBAR MELALUI BERMAIN FINGER PAINTING PADA ANAK TAMAN KANAK – KANAK AISYIYAH IV RINGINANOM SRAGEN TAHUN 2014.. Naskah

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK TAMAN KANAK-KANAK MELALUI BERMAIN TANAH LIAT (Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pada Anak Kelompok B di TK PGRI.. Kecamatan

Berdasarkan hasil kuesioner, rata-rata responden guru berpendapat bahwa interior ruang belajar dan bermain di TK Kristen Petra 7 meliputi lantai, dinding, perabot (dari

Lingkungan kelas mempunyai nilai tertentu bagi anak didik, dalam konteks desain interior ruang secara psikologis dapat memotivasi dan merangsang anak untuk bermain sambil belajar

(6) Fenomena desain bahwa seragam identitas terdiri dari konsep perancangan, desain tekstil, dan desain busana yang sesuai bagi identitas anak, Taman Kanak-kanak,

Rinanti Resmadewi, 111214153041, Metode Bermain Peran untuk Meningkatkan Kemampuan Interaksi Sosial Siswa Taman Kanak-kanak, Tesis , Magister Profesi Psikologi Mayoring

Berdasarkan hasil kuesioner, rata-rata responden guru berpendapat bahwa interior ruang belajar dan bermain di TK Kristen Petra 7 meliputi lantai, dinding, perabot (dari