i
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) DISERTAI MEDIA KOMIK BIOLOGI UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA DALAM PELAJARAN BIOLOGI PADA SISWA KELAS VII-A
SMP NEGERI 14 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2011/2012
SKRIPSI
Oleh :
AGUNG JATMIKO K4308023
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA Oktober 2012 commit to user
ii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini
Nama : Agung Jatmiko
NIM : K4308023
Jurusan/ Program Studi : P. MIPA/ Pendidikan Biologi
menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) DISERTAI MEDIA KOMIK BIOLOGI UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA DALAM PELAJARAN BIOLOGI PADA SISWA KELAS VII-A SMP NEGERI 14 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2011/2012” ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri. Selain itu, sumber informasi yang dikutip dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
Apabila pada kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya.
Surakarta, Oktober 2012 Yang Membuat Pernyataan
Agung Jatmiko
commit to user
iii
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) DISERTAI MEDIA KOMIK BIOLOGI UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA DALAM PELAJARAN BIOLOGI PADA SISWA KELAS VII-A
SMP NEGERI 14 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2011/2012
Oleh :
AGUNG JATMIKO K4308023
Skripsi
diajukan untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar
Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA Oktober 2012 commit to user
iv commit to user
v commit to user
vi
PENGESAHAN
commit to user
vii MOTTO
Sukses tidak diukur dari posisi yang berhasil dicapai seseorang dalam hidupnya, melainkan dari hambatan-hambatan yang diatasinya
(Booker T. Washington)
Kita dilahirkan tanpa senjata.
Pikiran kita adalah satu-satunya senjata kita (Ayn Rand)
Semua impian kita dapat menjadi kenyataan jika kita memiliki keberanian untuk mengejarnya.
(Walt Disney)
Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.
Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).
Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap (QS. Al-Insyiroh : 6-8)
Kesuksesan seorang anak tak lepas dari doa kedua orang tua (Penulis)
commit to user
viii
PERSEMBAHAN
ALLOH Robbku Yang Maha Pengasih dan Penyayang, syukurku untuk setiap titik rahmat dan ampunan serta kasih sayang-Mu yang senantiasa menyertai setiap langkahku.
Kupersembahkan karya ini untuk:
Ayah (alm) dan Ibu (almh). Terimakasih atas kesabaran yang tiada batas, atas cinta yang tulus suci, atas lantunan do’a yang tiada pernah putus, atas air mata yang tiada pernah mampu terbalas, atas kerja keras dan usaha memberikan yang terbaik buat ananda
Kakakku tersayang. Terimakasih atas segala persaudaraan dan kasih sayang selama ini, pengorbanan sebagai seorang kakak kepada adik ..
Simbah Putri. terima kasih atas doa-doa yang senantiasa selalu mengiringi langkahku.
Keluarga besar di Pati dan Palembang yang memberi dukungan dan semangat sampai saat ini.
Bapak Dr. Maridi, M.Pd selaku pembimbing akademik terima kasih atas bimbingan dan nasehatnya.
Bapak Joko Ariyanto, S.Si, M.Si, terima kasih atas bimbingan dan nasehatnya.
Evin Yofitawulansari, seseorang yang selalu memotivasi, menemaniku di saat suka dan duka
Teman-teman kostku ‘kost mbretz’, terima kasih telah menjadi teman satu rumah tercinta.
Sahabat-sahabatku Teddy, Ardi, Risky, Pandu, Abdul, Bagus, Alan, Hantyan, Rofa, Taufik, Lukman, Purwo, Yasir, Anwari, Very, Eko, Dwito, Wawan, supriyanto, Abrari, Diah, Novia, Sintaria, terima kasih atas persahabatan dan dukungannya selama ini.
Teman-teman Bio Uhui angkatan 2008, kebersamaan, semangat, dan perjuangan kita tidak akan pernah terlupakan.
Para inspiratorku yang selalu membantuku.
Almamater. commit to user
ix ABSTRAK
Agung Jatmiko. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) DISERTAI MEDIA KOMIK BIOLOGI UNTUK MENINGKATAN MINAT BELAJAR SISWA DALAM PELAJARAN BIOLOGI PADA SISWA KELAS VII-A SMP NEGERI 14 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2011 / 2012. Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Januari 2013.
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan minat belajar siswa terhadap pelajaran biologi kelas VII A SMP Negeri 14 Surakarta melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC disertai media komik biologi pada materi Pencemaran Lingkungan.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang berlangsung dalam 3 siklus. Tiap siklus terdiri atas 4 tahapan dasar yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pengumpulan data penelitian menggunakan angket, lembar observasi, dan wawancara. Validitas data diukur dengan menggunakan teknik triangulasi yaitu triangulasi metode. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada siklus I berdasarkan lembar observasi rata-rata persentase capaian minat belajar siswa dalam kelas sebesar 57,53%, 65,12% pada siklus II (meningkat 7,59%), dan 83,28% pada siklus III (meningkat 18,16%). Sementara berdasarkan angket, rata-rata persentase capaian minat belajar siswa pada siklus I sebesar 71,04%, 71,77% pada siklus II (meningkat 0,73%), 73,66% pada siklus III (meningkat 1,89%). Hasil wawancara siswa dapat disimpulkan bahwa siswa lebih senang dan merasa lebih mudah dalam mempelajari pelajaran biologi. Siswa juga berminat dalam belajar, siswa juga merasa pembelajaran selama tindakan merupakan kegiatan yang menarik.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran CIRC disertai media komik biologi pada materi Pencemaran Lingkungan dapat meningkatkan minat belajar siswa pada siswa kelas VII A SMP Negeri 14 Surakarta tahun pelajaran 2011 / 2012.
Kata kunci : model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition, komik biologi, minat belajar siswa
commit to user
x ABSTRACT
Agung Jatmiko. THE IMPLEMENTATION OF COOPERATIVE MODEL CIRC (COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION) WITH BIOLOGICAL COMIC FOR INCREASING STUDENTS INTEREST IN BIOLOGY OF CLASS VII-A SMP NEGERI 14 SURAKARTA CLASS YEAR 2011/2012. Skripsi, Surakarta: Biology Education, Faculty Teacher Training and Education, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, June 2012.
The purposes of this research is to increase students interest in Biologu of class VII-A SMP Negeri 14 Surakarta through the implementation of Cooperative Model CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) with Biological Comic in the subject of Pollution.
This research is a Classroom Action Research with 3 cycles of action.
Each cycle consisting of 4 phases which is planning, acting, observing, , and reflecting. Observational data obtained from the questionnaire, observation paper, and interview. Data validation is use triangulation method. Technical analysis of data is technical descriptive.
Result of this research show that in the first cycle, according to the observation score, the average percentage of students interest in the class is 57,53%, 65,12% in the second cycle (worked up 7,59%), and 83,28% in the third cycle (worked up 18,16%). According to the questionnaire score, the average percentage of students interest in the first cycle is 71,04%, 71,77% in the second cycle (worked up 0,73%), and 73,66% in the third cycle (worked up 1,89%).
Result of interview show that students
Hasil wawancara siswa dapat disimpulkan bahwa siswa more pleased and find it easier to learn the lessons of biology. Students are also interested in learning, students also are learning during the action is exciting activities. The conclusion of this research is that the implementation of Cooperative Model CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) with Biological Comic in the subject of Pollution can increase students interest in Biology of class VII-A SMP Negeri 14 Surakarta class year 2011/2012.
Keyword: learning model Cooperative Integrated Reading and Composition, biological comic, students interest
commit to user
xi
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang mem beri ilmu, inspirasi, dan kemuliaan. Atas kehendak-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul ”PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) DISERTAI MEDIA KOMIK BIOLOGI UNTUK MENINGKATAN MINAT BELAJAR SISWA DALAM PELAJARAN BIOLOGI PADA SISWA KELAS VII-A SMP NEGERI 14 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2011 / 2012”
Skripsi ini disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan Gelar Sarjana pada Program Studi Pendidikan Biologi, Jususan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta.Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dan pengarahan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
3. Ketua Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
4. Dr. Maridi, M.Pd selaku Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan.
5. Joko Ariyanto, S.Si, M.Si selaku Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan.
6. Ratna Purwaningtyastutui, S.Pd, M.Pd selaku kepala SMP Negeri 14 Surakarta yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian. commit to user
xii
7. Subiyanto, A.Md selaku guru mata pelajaran Biologi yang senantiasa membantu kelancaran penelitian dan kerja samanya.
8. Siswa kelas VII-A SMP Negeri 14 Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012.
9. Keluargaku yang selalu memberikan dukungan.
10. Berbagai pihak yang tidak mungkin disebutkan satu-persatu yang telah membantu menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan penulis. Meskipun demikian, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya.
Surakarta, Oktober 2012
Penulis
commit to user
xiii DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ……….. i
HALAMAN PERNYATAAN……… ii
HALAMAN PENGAJUAN... iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... iv
HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI... v
HALAMAN MOTTO... vi
HALAMAN PERSEMBAHAN... vii
ABSTRAK... viii
KATA PENGANTAR... x
DAFTAR ISI ……….. xii
DAFTAR TABEL ……….. xv
DAFTAR GAMBAR ………. xviii
DAFTAR LAMPIRAN………... xx
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ……….. 1
B. Rumusan Masalah ………... 6
C. Tujuan Penelitian ………. 6
D. Manfaat Hasil Penelitian ………. 6
BAB II. KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka ……… 8
1. Tinjauan tentang Model CIRC …….……… 2. Tinjauan tentang Minat ………..……….. 8 14 3. Tinajauan tentang Media ……….. 22
B. Kerangka Berfikir ...……….. 24
C. Hipotesis Tindakan ...……… 27
BAB III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian………..… 28
B. Subjek Penelitian……….…. 29 C. Bentuk dan Strategi Penelitian ... commit to user 29
xiv
D. Data dan Sumber Data ……… 30
E. Pengumpulan Data ……….… 31
F. Uji Validitas Data ……… 35
G. Analisis Data ………...… 35
H. Target Penelitian ………. 36
I. Prosedur Penelitian ………...….. 38
BAB IV. HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Pratindakan ………..………..………. 42
B. Deskripsi Hasil Tindakan Tiap Siklus……….…. 48
1. Siklus I……… 48
a. Perencanaan Tindakan Siklus I ………...…. 48
b. Pelaksanaan Tindakan Siklus I .……… 49
c. Pengamatan Tindakan Siklus I .……....……… 50
d. Refleksi Tindakan Siklus I .……….………. 56
2. Siklus II………..… 58
a. Perencanaan Tindakan Siklus II .………...… 58
b. Pelaksanaan Tindakan Siklus II ……… 60
c. Pengamatan Tindakan Siklus II .……… 61
d. Refleksi Tindakan Siklus II ………... 66
3. Siklus III……….. 67
a. Perencanaan Tindakan Siklus III ...……… 67
b. Pelaksanaan Tindakan Siklus III ..……… 68
c. Pengamatan Tindakan Siklus III ...……… 70
d. Refleksi Tindakan Siklus III ………... 75
C. Deskripsi Antarsiklus .…..………... 76
D. Pembahasan………. 82
BAB V. SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan……….. 89
B. Implikasi……….. 89
C. Saran………..….. 89 commit to user
xv
DAFTAR PUSTAKA ……… 91
LAMPIRAN……… 94
commit to user
xvi
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Indikator Penilaian Wacana/Kliping ………. 10
Tabel 2.2 Perhitungan Skor Pengembangan ……….. 11
Tabel 3.1 Skor Penilaian Angket …..………. 32
Tabel 3.2 Teknik Pengumpulan Data ……….... 34
Tabel 3.3 Indikator Keberhasilan Penelitian ………. 37
Tabel 4.1 Persentase Capaian Aspek Minat Belajar SiswaBerdasarkan Lembar Observasi Prasiklus ….……… 43 Tabel 4.2 Persentase Capaian Indikator Minat Belajar Siswa Berdasarkan Lembar Observasi Prasiklus ………... 44 Tabel 4.3 Persentase Capaian Indikator Minat Belajar Siswa Berdasarkan Angket Prasiklus ……..………. 45 Tabel 4.4 Persentase Capaian Aspek Minat Belajar Siswa Berdasarkan Angket Prasiklus ..………...……….. 46 Tabel 4.5 Persentase Capaian Evaluasi Siswa Prasiklus ...……… 47
Tabel 4.6 Persentase Capaian Aspek Minat Belajar Siswa Berdasarkan Lembar Observasi Siklus I ……….…….. 51 Tabel 4.7 Persentase Capaian Indikator Minat Belajar Siswa Berdasarkan Lembar Observasi Siklus I ………... 51 Tabel 4.8 Keterlaksanaan Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif tipe CIRC disertai Media Komik Biologi .………. 53 Tabel 4.9 Persentase Capaian Indikator Minat Belajar Siswa Berdasarkan Angket Siklus I ...………...………... 54 Tabel 4.10 Persentase Capaian Aspek Minat Belajar Siswa Berdasarkan Angket Siklus I .……… 55 Tabel 4.11 Persentase Capaian Evaluasi Siswa Siklus I ………. 56 Tabel 4.12 Persentase Capaian Aspek Minat Belajar Siswa
Berdasarkan Lembar Observasi Siklus II ...………….……..
61
Tabel 4.13 Persentase Capaian Indikator Minat Belajar Siswa commit to user 62
xvii
Berdasarkan Lembar Observasi Siklus II ..………...
Tabel 4.14 Keterlaksanaan Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif tipe CIRC disertai Media Komik Biologi .……….
63
Tabel 4.15 Persentase Capaian Indikator Minat Belajar Siswa Berdasarkan Angket Siklus II ..………...………...
64
Tabel 4.16 Persentase Capaian Aspek Minat Belajar Siswa Berdasarkan Angket Siklus II ………
64
Tabel 4.17 Persentase Capaian Evaluasi Siswa Siklus II …...…………. 66 Tabel 4.18 Persentase Capaian Aspek Minat Belajar Siswa
Berdasarkan Lembar Observasi Siklus III ..………….……..
70
Tabel 4.19 Persentase Capaian Indikator Minat Belajar Siswa Berdasarkan Lembar Observasi Siklus III ..………..
71
Tabel 4.20 Keterlaksanaan Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif tipe CIRC disertai Media Komik Biologi .……….
72
Tabel 4.21 Persentase Capaian Indikator Minat Belajar Siswa Berdasarkan Angket Siklus III .………...………..
73
Tabel 4.22 Persentase Capaian Aspek Minat Belajar Siswa Berdasarkan Angket Siklus III ………..………
74
Tabel 4.23 Persentase Capaian Evaluasi Siswa Siklus III ...…………. 75 Tabel 4.24 Persentase Capaian Aspek Minat Belajar Siswa
Berdasarkan Lembar Observasi Prasiklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III ……….
77
Tabel 4.25 Persentase Capaian Indikator Minat Belajar Siswa Berdasarkan Lembar Observasi Prasiklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III ……….
78
Tabel 4.26 Persentase Capaian Indikator Minat Belajar Siswa Berdasarkan Angket pada Prasiklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III ………...……….
79
Tabel 4.27 Persentase Capaian Aspek Minat Belajar Siswa Berdasarkan Angket Prasiklus, Siklus I, Siklus II, dan
80 commit to user
xviii
Siklus III ………...……….
Tabel 4.28 Perbandingan Persentase Nilai Kognitif Siswa pada Evaluasi Siklus I, Siklus II, dan Siklus III ……….
81
commit to user
xix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Tahap Proses Pelaksanaan Model CIRC ………... 12 Gambar 2.2 Skema Kerangka Berpikir ……….. 26 Gambar 3.1 Waktu Persiapan Kegiatan Penelitian, Pelaksanaan Tahap
Penelitian dan Penyelesaian Kegiatan Penelitian Penerapan Model Pembelajaran Coopertaive Integrated Reading and Composition (CIRC) ……….
29
Gambar 3.2 Skema Triangulasi Metode Data ………... 35 Gambar 3.3 Komponen-komponen Analisis Data ...……….. 36 Gambar 3.4 Skema Prosedur Penelitian Tindakan Kelas .………….… 41 Gambar 4.1 Persentase Ketercapaian Tiap Indikator Minat Belajar
Siswa ………..
44
Gambar 4.2 Persentase Aspek MInat Belajar Siswa Prasiklus …..….. 46 Gambar 4.3 Persentase Ketercapaian Tiap Indikator Minat Belajar
Siswa ………..
52
Gambar 4.4 Persentase Rata-rata Aspek Minat Belajar Siswa Berdasarkan Angket Siklus I ……..….……….
55
Gambar 4.5 Persentase Ketercapaian Tiap Indikator Minat Belajar Siswa ………..
62
Gambar 4.6 Persentase Rata-rata Aspek Minat Belajar Siswa Berdasarkan Angket Siklus II ……..….……….
65
Gambar 4.7 Persentase Ketercapaian Tiap Indikator Minat Belajar Siswa ………..
71
Gambar 4.8 Persentase Rata-rata Aspek Minat Belajar Siswa Berdasarkan Angket Siklus III ..…..….……….
74
Gambar 4.9 Grafik Persentase Capaian Aspek Minat Belajar Siswa Berdasarkan Lembar Observasi pada Prasiklus, Siklus I, Siklus II, Siklus III ………..…...
76
Gambar 4.10 Diagram Persentase Rata-rata Capaian Indikator Minat 77 commit to user
xx
Belajar Berdasarkan Lembar Observasi pada Prasiklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III ………...………
Gambar 4.11 Diagram Persentase Rata-rata Capaian Indikator Minat Belajar Berdasarkan Angket pada Prasiklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III ……….
80
Gambar 4.12 Grafik Persentase Capaian Aspek Minat Belajar Siswa Berdasarkan Angket pada Prasiklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III ……….
81
Gambar 4.13 Perbandingan Persentase Nilai Kognitif Siswa pada Evaluasi Siklus I, Siklus II, dan Siklus III ………
82
Gambar 4.14 Persentase Nilai Evaluasi Siswa Siklus I, Siklus II, dan Siklus III ………
86
commit to user
xxi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Instumen Pembelajaran
a. Silabus ……….………... 94
b. Rpp Siklus I………... 104
c. Rpp Siklus II………. 139
d. Rpp Siklus III……… e. Komik Siklus I ………. f. Komik Siklus II ……… g. Komik Siklus III ……….. 184 215 228 244 Lampiran 2. Instrumen Penelitian a. Lembar Observasi Awal Kegiatan Belajar Mengajar untuk Siswa………. 250
b. Lembar Observasi Untuk Guru………. 251
c. Pedoman Wawancara Awal Guru dan Proses Pembelajaran Biologi………... d. Pedoman Wawancara Awal Siswa dan Proses Pembelajaran Biologi ………... 252 253 e. Kisi-Kisi Angket …………..……… 254
f. Angket Minat Belajar Siswa ……….. 255
g. Kisi-Kisi Lembar Observasi ………... 258
h. Lembar Observasi ……… 259
i. Rubrik Penilaian Lembar Observasi Minat Belajar Siswa .. 262 j. Lembar Observasi Guru Keterlaksanaan Sintak Model CIRC
Siklus I ………...………..
k. Lembar Observasi Siswa Keterlaksanaan Sintak Model CIRC Siklus I ………...………..
l. Lembar Observasi Guru Keterlaksanaan Sintak Model CIRC Siklus II ………...………..
m. Lembar Observasi Siswa Keterlaksanaan Sintak Model CIRC 264
265
266 commit to user
xxii
Siklus II ………...………..
n. Lembar Observasi Guru Keterlaksanaan Sintak Model CIRC Siklus III …………...………..
o. Lembar Observasi Guru Keterlaksanaan Sintak Model CIRC Siklus III ………...………
267
268
269 p. Kisi Wawancara Prasiklus …………..……….
q. Kisi Wawancara Siklus ………
270 271 r. Pedoman Wawancara Siswa Prasiklus ……… 272 s. Pedoman Wawancara Siswa Tindakan ………
t. Pedoman Wawancara Guru Tindakan ……….
275 278 Lampiran 3. Data Hasil Penelitian
a. Daftar Siswa Kelas VII-A SMP Negeri 14 Surakarta …….. 279 b. Daftar Kelompok Diskusi Mata Pelajaran Biologi………... 280 c. Daftar Presensi Siswa………... 281 d. Data Lembar Observasi Awal Kegiatan Belajar Mengajar
Untuk Guru ………...
e. Data Hasil Wawancara Awal untuk Guru ………
283 284 f. Data Lembar Observasi Awal Proses Pembelajaran untuk
Siswa ………. 286
g. Data Hasil Wawancara Awal Proses Pembelajaran Untuk
Siswa ………. 287
h. Analisis Data Lembar Observasi Minat Belajar Siswa dalam Kelas Prasiklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III ... 289 i. Analisis Data Lembar Observasi Keterlaksanaan Sintaks
Model CIRC ….……… 293
j. Analisis Data Angket Minat Belajar Siswa Prasiklus, Siklus I,
Siklus II, dan Siklus III……….. 296
k. Analisis Hasil Belajar Kognitif Siswa Siklus I, Siklus II, dan
Siklus III………. 306
commit to user
xxiii
l. Uji Validitas dan Realibilitas Angket ………. 310 Lampiran 4. Dokumentasi
a. Dokumentasi Proses Pembelajaran Prasiklus………... 312 b. Dokumentasi Proses Pembelajaran Siklus I……….. 314 c. Dokumentasi Proses Pembelajaran Siklus II…………... 315 d. Dokumentasi Proses Pembelajaran Siklus III………... 317 Lampiran 5. Perijinan
a. Surat Permohonan Izin Penyusunan Skripsi………. 320 b. Surat Keputusan Dekan FKIP tentang Izin Penyusunan
Skripsi………...
321
c. Surat Permohonan Izin Observasi………. 322 d. Surat Permohonan Izin Penelitian………. 327
commit to user
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini percepatan arus informasi sangat menuntut untuk menyesuaikan visi, misi, tujuan, dan strategi sesuai dengan kebutuhan dimaksudkan agar tidak ketinggalan jaman. Oleh karena itu kualitas pendidikan harus senantiasa dikembangkan baik ditingkat lokal, nasional, maupun global.
Peningkatan kualitas pendidikan berhubungan dengan perbaikan dan pembaharuan kurikulum sekolah. Kurikulum yang pernah berlaku di Indonesia antara lain: kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984, kurikulum 1994, dan kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Kurikulum tersebut dibuat secara sentralik, setiap satuan pendidikan harus dapat melaksanakan dan mengimplementasikannya sesuai dengan petunjuk teknis yang dibuat oleh pemerintah pusat. Hal tersebut ternyata menimbulkan kendala di sekolah-sekolah dan kurang mampu menyelesaikan permasalahan yang ada di sekolah kalangan bawah. Ternyata yang dipikirkan pemerintah pusat belum sepenuhnya sesuai dengan karakteristik, kondisi, dan potensi sekolah, masyarakat, terutama peserta didik.
KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) merupakan tindak lanjut kebijaksanaan pendidikan dalam konteks otonomi daerah dan desentralisasi.
KTSP merupakan suatu kurikulum operasional yang mana disusun dan dilaksanakan di masing-masing tingkat satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang sudah ditetapkan oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan). Kurikulum ini disesuaikan dengan karakteristik, kondisi, dan potensi sekolah, masyarakat, terutama peserta didik.
Kualitas pendidikan berhubungan dengan pembelajaran. Kualitas pembelajaran yang baik akan mempengaruhi belajar peserta didik. Faktor yang mempengaruhi belajar antara lain: faktor internal siswa, faktor eksternal siswa, faktor pendekatan belajar. Dimana faktor internal merupakan faktor yang berasal dari diri siswa sendiri terdiri dari aspek fisiologis dan aspek psikologis. Aspek commit to user
fisiologis meliputi kondisi jasmani siswa sedangkan aspek psikologis meliputi intelegensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa dan motivasi siswa.
Faktor yang berasal dari luar diri siswa antara lain lingkungan sosial, lingkungan non sosial, metode pembelajaran, dan media pembelajaran. Sedangkan faktor pendekatan belajar merupakan jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan.
Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMP Negeri 14 Surakarta, terdapat banyak permasalahan dalam proses belajar mengajar. Antara lain, pembelajaran masih terpusat pada guru (teacher center). Guru menjelaskan materi di depan kelas dengan metode ceramah dan kurang melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar. Siswa terlihat pasif, ada yang berbicara dengan teman sebangku dan ada juga yang membuat kegaduhan di dalam kelas. Selain observasi dilakukan wawancara dengan siswa kelas VII-A SMP Negeri 14 Surakarta menyatakan bahwa siswa kelas VII-A kurang memiliki minat untuk membaca dan belajar. Hal tersebut menunjukkan sikap dan minat siswa dalam pembelajaran biologi masih kurang. Permasalahan minat belajar dan membaca siswa merupakan permasalahan yang sangat mendasar yang harus segera diselesaikan. Penyebab yang paling menonjol, siswa kurang berkonsentrasi dan lebih sering berbicara dengan teman sebangkunya sehingga minat siswa terhadap pelajaran biologi menjadi terganggu.
Keberhasilan suatu pembelajaran tergantung pada proses sebelum dimulainya pelajaran, diantaranya terdapat minat, motivasi, dukungan keluarga.
Menurut Slameto (1995: 180) minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh. Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang studi tertentu. Misalnya seorang siswa yang menaruh minat besar terhadap biologi akan memusatkan perhatiannya lebih banyak dari pada siswa lainnya. Pemusatan perhatian yang intensif itulah yang memungkinkan siswa tadi untuk belajar lebih giat dan akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan. Minat merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa.
Hasil observasi yang dilakukan pada kelas VII-A SMP N 14 Surakarta menunjukkan bahwa pembelajaran masih berpusat pada guru (teacher center) commit to user
sehingga siswa yang menerima pelajaran dari guru menjadi bosan. Ditunjukkan oleh 9,37% (3 siswa) yang mengantuk pada saat pelajaran berlangsung. Siswa yang berbicara dengan temannya pada saat proses belajar mengajar berlangsung sebanyak 37,5% (12 siswa). Siswa yang membuat kegaduhan pada saat proses belajar mengajar berlangsung sebanyak 18,57% (6 siswa). Pada saat guru memberikan pertanyaan, tidak ada siswa yang menjawab pertanyaan guru tanpa disuruh. Siswa mau menjawab jika disuruh oleh guru. Jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, hanya 3,12% (1 siswa) yang bertanya kepada guru tentang pelajaran yang belum dipahami. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemauan siswa dalam proses belajar mengajar kurang optimal. Dilihat dari perhatian siswa, hanya 56,25% (18 siswa) yang memperhatikan pelajaran dari guru. Hal ini berkaitan dengan rasa bosan karena proses belajar mengajar yang menggunakan metode ceramah saja. Konsentrasi siswapun kurang optimal. Bisa dilihat terdapat 15,62% (5 siswa) yang sering melihat jam pada saat jam pelajaran.
Selain itu sebanyak 12,5% (4 siswa) melakukan aktivitas yang tidak berhubungan dengan pelajaran biologi, misalnya menggambar atau mencoret-coret meja atau buku pelajaran.
Perasaan siswa terhadap pelajaran biologi adalah kurang tertarik. Hal ini bisa dilihat dari perhatian, konsentrasi, dan kemauan siswa yang masih rendah.
Siswa kurang sadar akan tugasnya sebagai siswa untuk mengerjakan tugas dan mengumpulkannya tepat waktu. Selain itu dapat dilihat dari tidak ada siswa yang berani menjelaskan materi pelajaran yang diajarkan. Siswa yang berdiskusi sendiri dengan teman sebangku di luar topik pelajaran biologi saat proses belajar mengajar berlangsung sebanyak 37,5% (12 siswa). Berdasarkan hasil observasi yang diperoleh dapat diambil kesimpulan bahwa permasalahan yang ada di kelas VII-A yaitu minat siswa rendah.
Penyebab dari minat siswa yang masih rendah adalah kegiatan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru menggunakan metode ceramah dan belum bervariasi. Hal ini yang menyebabkan siswa kurang tertarik dengan pelajaran biologi, siswa kurang memperhatikan penjelasan guru, siswa kurang berkonsentrasi pada saat pelajaran berlangsung. Ditunjukkan dengan siswa yang commit to user
masih sering berbicara dengan teman sebangkunya. Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa minat belajar siswa khususnya pelajaran biologi pada kelas VII- A belum optimal dan perlu untuk ditingkatkan.
Salah satu usaha untuk meningkatkan minat belajar siswa dengan memilih metode pembelajaran yang menarik minat belajar, mampu mengaktifkan siswa serta sesuai dengan materi pelajaran. Hal ini merupakan faktor eksternal.
Metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam KTSP adalah metode pembelajaran kooperatif. Metode pembelajaran kooperatif merupakan kegiatan belajar mengajar dalam bentuk kelompok-kelompok kecil yang heterogen. Setiap kelompok akan saling membantu teman sekelompoknya yang mengalami kesulitan dalam belajar. Dengan metode pembelajaran kooperatif akan dapat mencapai prestasi belajar yang diinginkan.
Kelebihan dari pembelajaran kooperatif yaitu dapat menarik minat siswa, melatih siswa bekerja dalam kelompok, meningkatkan keakraban di antara siswa, meningkatkan rasa percaya diri, mengurangi kejenuhan dan meningkatkan keaktifan siswa. Siswa yang berkemampuan rendah akan banyak memperoleh manfaat jika ditempatkan dalam kelompok yang heterogen, karena mereka mendapatkan tuntunan oleh siswa yang memiliki kemampuan yang lebih tinggi.
Model pembelajaran kooperatif, antara lain: STAD (Student Teams Achievement Division), TGT (Teams Games Tournament), Jigsaw, CIRC (Coopertive Integrated Reading and Composition). Dalam hal ini, untuk menyelesaikan masalah yang ada di kelas VII-A SMP Negeri 14 Surakarta digunakan medel CIRC. Model CIRC merupakan model belajar kooperatif membaca dan menulis. Dengan menerapkan model CIRC diharapkan dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan memahami bacaan yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain meringkas, menjawab pertanyaan, menerangkan dan kemampuan memprediksi (Slavin, 2008: 203). Yang berdampak pada minat belajar siswa terhadap pelajaran biologi. Metode pembelajaran ini menuntut siswa untuk aktif berdiskusi serta guru harus mencari wacana yang sesuai dengan materi yang disampaikan kepada siswa. Siswa belajar untuk membaca pemahaman terhadap bacaan yang diperoleh. commit to user
Seperti yang telah dibuktikan oleh Wulandari (2010) berdasarkan penelitiannya dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran CIRC mempunyai dampak yang positif terhadap pembelajaran, khususnya bagi siswa. Siswa lebih percaya diri, kelas menjadi hidup, dan terbangunnya kerjasama kelompok.
Yustina Titik Purwanti juga melakukan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran CIRC pada tahun 2010 yang dilaksanakan di kelas IX SMPK 7 BPK Penabur Jakarta. Dari penelitian Yustina tersebut memiliki hasil bahwa pembelajaran CIRC lebih dinamis, variatif, dan menyenangkan. Hal ini karena kegiatan belajar dengan model tersebut menggabungkan antara kemampuan membaca dan menulis. Siswa benar-benar terlibat dalam kegiatan belajar yang telah diskenariokan. Siswa menjadi lebih tertarik untuk mengikuti pembelajaran dengan model tersebut.
Adanya minat yang tinggi terhadap materi pelajaran, membuat siswa belajar dengan sungguh-sungguh karena ada daya tarik yang membuat siswa bersemangat dan dapat berdampak positif terhadap prestasi belajarnya.
Penelitian yang relevan mengenai peningkatan minat belajar siswa dengan menggunakan model CIRC menurut Fakhrudin (2009) adalah bahwa model pembelajaran CIRC dapat memicu siswa untuk ikut serta secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam proses pembelajaran akan membuat siswa lebih aktif dan kreatif sehingga muncul keberanian untuk bertanya, menjawab pertanyaan guru dan mengerjakan soal di depan kelas. Dengan diterapkan model CIRC minat belajar siswa dapat meningkat.
Pokok bahasan pencemaran lingkungan merupakan materi biologi yang disampaikan pada kelas VII SMP semester II, yang cara penyampaiannya membutuhkan peran siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar. Partisipasi siswa tersebut terlihat dalam kegiatan pemecahan masalah dalam kelompok.
Kegiatan ini menuntut siswa mempunyai bekal materi yang diperoleh dari membaca dan mencari sumber belajar yang dapat meningkatkan minat belajar siswa, sehingga dengan memilih model pembelajaran CIRC dengan media komik biologi diharapkan materi ini dapat diterima dengan baik oleh siswa. Model ini memungkinkan untuk meningkatkan minat belajar siswa, sehingga akan commit to user
memberikan hasil yang optimal dalam mempelajari materi pencemaran lingkungan selanjutnya.
Bertolak dari latar belakang masalah yang diuraikan diatas, judul penelitian adalah “PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) DISERTAI MEDIA KOMIK BIOLOGI UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA DALAM PELAJARAN BIOLOGI PADA SISWA KELAS VII-A SMP NEGERI 14 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2011 / 2012”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut:
“Apakah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading Composition) disertai media komik biologi dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas VII-A SMP Negeri 14 Surakarta pada pelajaran biologi?”
C. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan perumusan masalah, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan minat belajar dalam pelajaran biologi siswa kelas VII-A SMP Negeri 14 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012 dengan model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading Composition) disertai media komik biologi.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi siswa
a. Memberikan suasana baru dalam pembelajaran sehingga dapat meningkatkan minat belajar Biologi siswa. commit to user
b. Mengajarkan siswa untuk bekerja sama.
c. Meningkatkan hasil belajar siswa.
d. Memberikan pengalaman secara nyata kepada siswa melalui penggunaan model Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) disertai media komik biologi sebagai peningkatan minat belajar siswa.
2. Bagi Guru
a. Memperkaya khasanah pengetahuan guru mengenai berbagai alternatif strategi pembelajaran yang dapat digunakan.
b. Memberikan masukan bagi guru mengenai manfaat model Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) disertai media komik biologi untuk meningkatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran Biologi.
c. Mengidentifikasi permasalahan pembelajaran di kelas.
d. Sebagai bahan kajian dan acuan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa.
3. Bagi Institusi
a. Memberikan sumbangan bagi sekolah dalam rangka perbaikan proses pembelajaran.
b. Memberikan masukan atau saran dalam meningkatkan minat belajar siswa dalam pelajaran bilogi pada siswa kelas VII-A SMP Negeri 14 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012.
c. Menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun program peningkatan proses pembelajaran pada tahap berikutnya.
commit to user
8 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Tinjauan Tentang Model Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dikembangkan oleh Stevans, Madden, Slavin dan Farnish (Slavin, 2008: 16).
Pembelajaran kooperatif tipe CIRC dari segi bahasa dapat diartikan sebagai suatu model pembelajaran kooperatif yang mengintegrasikan suatu bacaan secara menyeluruh kemudian mengkomposisikannya menjadi bagian-bagian yang penting.
CIRC merupakan program komprehensif untuk mengajarkan membaca dan menulis pada kelas sekolah dasar pada tingkat yang lebih tinggi dan juga pada sekolah menengah (Slavin, 2008: 16).
Menurut Chapman dan Cope (2004: 73) CIRC adalah salah satu model dari pendekatan student team learning yang masih harus dikembangkan dan dievaluasi.
CIRC menggunakan tim heterogen yang anggotanya bekerja bersama-sama, melakukan tes, dan memperoleh penghargaan atas prestasinya. Elaine dan Melissa menyebutkan juga bahwa CIRC merupakan program pengajaran khusus yang dirancang untuk meningkatkan kinerja siswa dalam membaca dan menulis.
Dalam laporan Calderon et all,. (1997: 2) kegiatan yang terdapat dalam model CIRC adalah siswa ditugaskan untuk belajar dalam kelompok yang anggotanya terdiri dari 4 orang siswa dan anggotanya heterogen. Kegiatan yang dilakukan siswa termasuk membaca, mengidentifikasi bacaan/topik utama dalam bacaan, kosa kata, latihan membaca pemahaman, dan menulis dengan menggunakan proses penulisan. Menurut Durukan (2011: 103) model CIRC adalah model pembelajaran yang berdasar pada kerjasama untuk mengembangkan membaca, menulis, dan keterampilan bahasa.
commit to user
9
CIRC merupakan suatu model yang termasuk dalam cooperative learning.
Dimana cooperative learning mempunyai lima persyaratan yang harus dipenuhi agar pembelajaran lebih produtif menurut Johnson & Johnson (1994) dalam Woods dan Chen (2010: 2) adalah sebagai berikut: a) saling ketergantungan antar anggota kelompok, b) interaksi terjadi saling bertatap muka (face-to-face), c) diperlukan tanggung jawab individu untuk mencapai tujuan kelompok, d) sering menggunakan keterampilan interpersonal dan kelompok kecil yang relevan, e) pengaturan kelompok yang bertujuan untuk efektifitas waktu.
Menurut Renny Dwi Jayanti (2008: 105), proses pelaksanaan model pembelajaran CIRC dilaksanakan dalam beberapa tahap sebagai berikut:
1) Tahap pertama persiapan, yang meliputi: (a) dalam segi materi pembelajaran CIRC dirancang untuk pembelajaran kelompok, (b) menetapkan siswa dalam kelompok dengan cara kelompok-kelompok dalam pembelajaran ini beranggotakan 4-5 orang siswa yang terdiri dari siswa pandai, sedang, dan rendah.
Disamping itu guru mempertimbangkan kriteria heterogenitas yang lain seperti jenis kelamin, latar belakang sosial, dan sebagainya, (c) menentukan skor awal dimana skor awal merupakan skor rata-rata secara individu pada test sebelumnya, dan (d) pembagian lembar hasil (book report) yaitu guru memberikan lembar hasil yang mana lembar hasil ini digunakan oleh siswa pada saat mengerjakan tugas yang berupa kliping.
2) Tahap kedua adalah tahap penyajian materi, yang meliputi: (a) pendahuluan, (b) pengembangan, guru melakukan pengembangan yang berupa pengembangan materi pembelajaran sesuai dengan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok, pembelajaran kooperatif menekankan bahwa belajar adalah memahami makna dan bukan menghafal, saling mengontrol pemahaman siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan, memberikan penjelasan mengapa jawaban pertanyaan tersebut benar atau salah, (c) latihan terbimbing, siswa disuruh untuk mengerjakan soal-soal atas pertanyaan yang diberikan dan guru memberikan tugas kepada siswa, tugas yang diberikan tidak boleh menyita waktu yang terlalu lama.
commit to user
10
Guru memberikan waktu + 10 menit untuk memberikan tugas kepada siswa.
Kegiatan selanjutnya adalah (d) kegiatan kelompok, pada kegiatan ini guru membagikan bahan diskusi yang berupa wacana/kliping untuk siswa kepada setiap anggota kelompok diharuskan untuk berdiskusi mencari ide pokok yang terdapat dalam berdiskusi mencari ide pokok yang terdapat dalam wacana/kliping yang telah diberikan oleh guru sebelumnya, kelompok menuliskan hasil pembahasan pada book report dan kemudian membacakan hasil tersebut di depan kelas, kelompok yang lain diharuskan untuk memberi umpan balik atas hasil pembahasan diksusi kelompok lain.
3) Tahap ketiga adalah tahap evaluasi, pada saat ini guru memberikan evaluasi kepada siswa yang harus dikerjakan secara individu dalam waktu yang telah ditentukan + 15 menit. Dalam memberikan evaluasi perlu menggunakan pedoman seperti tercantum pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Indikator penilaian Wacana/Kliping
Indikator Skor
Ide pokok >80 (sangat baik)
71 – 80 (baik) 60 – 70 (cukup)
Pesan tersirat >80 (sangat baik)
71 – 80 (baik) 60 – 70 (cukup) Ikhtisar rangkuman >80 (sangat baik)
71 – 80 (baik) 60 – 70 (cukup)
4) Tahap keekmpat adalah tahap pemberian penghargaan terhadap prestasi kelompok, terdapat tiga tingkat penghargaan sebagai berikut: (a) kelompok dengan rata-rata skor 15 disebut sebagai kelompok baik (good team), (b) kelompok dengan rata- rata 20 disebut sebagai kelompok hebat (great team), dan (c) kelompok dengan rata-rata skor 25 disebut kelompok super (super team).
Untuk pemberian penghargaan dipergunakan perhitungan skor seperti pada tabel 2.2.
commit to user
11
Tabel 2.2 Perhitungan Skor Perkembangan
Skor Tes Nilai perkembangan
Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 0
1 sampai 10 poin di bawah skor awal 10
Skor awal sampai dengan 10 poin di atasnya 20
Lebih dari 10 poin di atas skor awal 30
Nilai sempurna (tidak berdasarkan skor awal) 30 Ibrahim Muslimin dkk (2001: 39)
commit to user
12
Proses pelaksanaan CIRC dapat digambarkan:
Gambar 2.1. Tahap Proses Pelaksanaan Model CIRC
Fokus utama dari kegiatan CIRC adalah membuat penggunaan waktu kegiatan inti menjadi lebih efektif. Siswa yang bekerja dalam tim kooperatif dari kegiatan ini yang dikoordinasikan dengan pengajaran kelompok supaya dapat memenuhi tujuan-tujuan yang akan dicapai (Slavin, 2008: 201).
Menurut Slavin (2008: 203-204) tujuan utama dari CIRC adalah menggunakan tim-tim kooperatif untuk membantu para siswa mempelajari
TAHAP PERSIAPAN
1) Menyiapkan perangkat pembelajaran 2) Membagi siswa dalam kelompok kecil 3) Menentukan skor awal (dari
tes/pretest atau nilai raport) 4) Pembagian lembar hasil
TAHAP PENYAJIAN MATERI / INTI 1) Pendahuluan
2) Pengembangan materi pelajaran 3) Latihan terbimbing
4) Kegiatan kelompok
TAHAP EVALUASI
TAHAP PENGHARGAAN 1) Rata-rata skor = 15 (good team) 2) Rata-rata skor = 20 (great team) 3) Rata-rata skor = 25 (super team)
commit to user
13
kemampuan memahami bacaan yang dapat diaplikasikan secara luas. Dalam program CIRC, para siswa merencanakan, merevisi, dan menyunting karangan mereka dengan kolaborasi yang erat dengan teman satu tim mereka.
Menurut Purwanti (2010: 25), metode CIRC digunakan karena metode ini mendorong siswa berperan serta secara aktif sehingga pembelajaran membaca menjadi lebih menarik, dinamis, dan menyenangkan. Sedangkan menurut Slavin (2008: 5-11) CIRC merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang khusus diterapkan pada pembelajaran membaca dan menulis di sekolah.
Unsur-unsur dari program CIRC terdiri dari tiga, yaitu: kegiatan-kegiatan dasar terkait, pengajaran langsung pelajaran memahami bacaan, dan seni berbahasa dan menulis terpadu. Dalam hal ini siswa bekerja dalam tim yang heterogen. Semua kegiatan CIRC mengikuti siklus yang melibatkan presentasi dari guru, latihan tim, latihan independent, pra penilaian teman, latihan tambahan, dan tes (Slavin, 2008:
204). Sedangkan menurut Calderon et al. (1997: 4) CIRC terdiri dari tiga unsur utama, yaitu instruksi langsung pada pemahaman membaca, kegiatan Treasure Hunt, dan bahasa seni dan menulis yang terintegrasi.
Menurut Chapman dan Cope (2004: 74) CIRC akan menimbulkan efek yang positif pada prestasi siswa dalam membaca, terutama dalam membaca pemahaman.
Kelebihan Cooperative Integrated Reading and Cmposition (CIRC) menurut Wulandari (2010: 67) antara lain: kelebihan model CIRC adalah peserta didik lebih percaya diri, suasana kelas menjadi lebih hidup, dan terbangun kerjasama kelompok, dapat memberikan tanggapan secara bebas. Di sisi lain, kekurangan model CIRC adalah kelas menjadi agak gaduh/ramai dan banyak waktu yang terbuang. Adapun menurut Purwanti (2010: 22) CIRC dapat membuat proses pembelajaran lebih dinamis, variatif, dan menyenangkan yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Menurut Calderon et al. (1997: 2) telah menemukan efek positif yang konsisten yaitu meningkatkan prestasi siswa, terutama dalam pengukuran pemahaman membaca.
Kekurangan CIRC menurut Wulandari (2010: 67) adalah memerlukan waktu yang lama, memerlukan persiapan yang matang, serta memungkinkan adanya
commit to user
14
kegiatan-kegiatan yang tidak dikehendaki, misalnya berbicara dengan teman disebelahnya sehingga membuat kelas menjadi gaduh.
2. Tinjauan Tentang Minat a. Pengertian Minat
Minat atau interest senantiasa erat hubungannya dengan perasaan individu, obyek, aktivitas, dan situasi. Syah (1995: 136) mengemukakan minat merupakan kecenderungan atau kegairahan yang tinggi terhadap sesuatu. Menurut Slameto (1995: 180), “Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh”. Jadi, apabila seseorang berminat terhadap suatu hal atau aktivitas, ia akan merasa suka dan tertarik terhadap hal atau aktivitas tersebut tanpa ada suatu paksaan dari orang lain.
Menurut pernyataan tersebut, apabila seseorang berminat terhadap suatu obyek, maka ada aspek ketertarikan terhadap obyek tersebut.
Winkel (2007: 212) menyatakan, “Minat diartikan sebagai kecenderungan subyek yang menetap, untuk merasa tertarik pada bidang studi atau pokok bahasan tertentu dan merasa senang mempelajari materi itu”. Hilgrad dalam Slameto (1995: 57) merumuskan minat adalah suatu kecenderungan untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Pernyataan di atas mengandung pengertian bahwa apabila seseorang mempunyai minat terhadap suatu bidang atau pokok bahasan, maka ia cenderung untuk merasa tertarik dan senang mempelajarinya.
Jadi menurut pernyataan tersebut, apabila seseorang berminat terhadap suatu bidang studi atau pokok bahasan, maka ada aspek ketertarikan dan aspek kesenangan.
Menurut Sardiman (1996: 76), “Minat diartikan sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri”.
Jadi, seseorang akan berminat terhadap sesuatu apabila ia melihat suatu ciri-ciri atau arti yang berhubungan dengan keinginan dan kebutuhannya. Menurut
commit to user
15
pernyataan tersebut, apabila seseorang berminat terhadap suatu obyek, maka ada aspek keinginan atau kebutuhan terhadap obyek tersebut. Menurut Witherington (1982:122) “minat adalah kesadaran seseorang bahwa obyek, seseorang, sesuatu soal atau situasi, mengandung sangkut paut dengan dirinya”
Singer (1987: 78) mengemukakan bahwa “Minat adalah suatu landasan yang paling meyakinkan demi keberhasilan suatu proses belajar”. Menurut pernyataan tersebut, keberhasilan suatu diproses belajar ditentukan oleh adanya minat belajar, sehingga guru harus senantiasa membina kesediaan belajar para siswa demi keberhasilan belajar siswa tersebut.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa minat adalah motif yang mempengaruhi tingkah laku individu untuk merasa tertarik, memperhatikan dan menunjukkan keinginannya kepada obyek, seseorang, sesuatu soal dan situasi sehingga ada kecenderungan untuk memilih kegiatan yang diinginkan untuk memenuhi keinginannya.
Cara yang paling efektif untuk membangkitkan minat pada suatu subyek yang baru adalah dengan menggunakan minat-minat siswa yang telah ada dan berusaha membentuk minat-minat baru pada diri siswa (Slameto, 1995: 180-181).
Slameto (1995: 181) menambahkan cara untuk membentuk minat baru adalah dengan memberikan informasi pada siswa mengenai hubungan antara suatu bahan pengajaran yang akan diberikan dengan bahan pengajaran yang lalu, menguraikan kegunaannya bagi siswa di masa yang akan datang.
Jadi, minat dalam diri seseorang sesungguhnya dapat dikembangkan, salah satunya dengan membantu siswa melihat bagaimana hubungan antar materi yang diharapkan untuk dipelajari dengan dirinya sendiri dan dengan menjelaskan manfaat yang dapat diperoleh serta digunakan dalam kehidupan sehari-hari dari suatu materi tersebut. Apabila siswa menyadari bahwa belajar merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan yang dianggapnya penting dan hasil pengalaman belajarnya akan membawa kemajuan pada dirinya maka besar kemungkinan siswa tersebut akan memiliki minat lebih dan bersungguh-sungguh dalam belajar.
commit to user
16
b. Unsur-Unsur Minat
Untuk itu perlu diperhatikan pula unsur- unsur yang berperan dalam mengetahui minat siswa terhadap suatu mata pelajaran yang antara lain disebutkan sebagai berikut:
1. Perhatian
Seseorang yang menaruh minat terhadap suatu hal biasanya akan mempunyai kecenderungan untuk memperhatikan. Perhatian adalah pemusatan energi psikis yang tertuju pada suatu obyek pelajaran atau dikatakan sebagai banyak sediitnya kesadaran yang menyertai aktivitas belajar (Sardiman, 1996 : 44). Menurut Hilgard yang dikutip Slameto (1995:57), interest is peristing tendency to pay atention to and enjoy same activity or content. Minat yang dimaksud adalah suatu kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan seseorang atau kegiatan akan memperhatikan seseorang atau kegiatan akan memperhatikan terus menerus terhadap suatu yang diamati dengan diikuti rasa senang.
Perhatian dibagi menjadi dua macam, yaitu perhatian spontan dan perhatian yang disengaja. Dalam hal ini perhatian yang spontan akan bertahan lebih lama dibandingkan dengan perhatian yang sengaja dilakukan. Sehingga siswa dalam kelas lebih baiknya dibiasakan dengan perhatian yang spontan (Suryabrata, 1993: 18).
2. Perasaan
Menurut Slameto (1995:180) bahwa minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh. Sehingga pada dasarnya minat adalah adanya fase seseorang pada dirinya karena pengaruh sesuatu dari luar. Dalam penelitian ini minat yang dimaksud adalah minat untuk mempelajari mata pelajaran biologi. Tingkat kesenangan seseorang untuk mempelajari sesuatu dapat dilihat dari adanya raa senang, bisa juga kecenderungan untuk lebih mendahulukan aktivitas yang berhubungan dengan mata pelajaran. Sujanto (2004: 77) menyatakan bahwa
commit to user
17
perasaan senang seorang siswa merupakan ungkapan menyukai terhadap sesuatu hal.
3. Ingin Tahu
Slameto (1995: 9) menyatakan bahwa minat berarti sifat tertarik terhadap sesuatu hal karena menyadari pentingnya kegiatan tersebut. Adanya kesadaran dan kemauan untuk berbuat atau melakukan sesuatu hal menandakan minat seseorang. Karena adanya kesadaran maka timbul keingintahuan dan kemauan untuk melakukan sesuatu. Menurut Witherington (1982:122) minat adalah kesadaran seseorang bahwa obyek, seseorang, sesuatu soal atau situasi, mengandung sangkut paut dengan dirinya. Minat merupakan dorongan keinginan pada manusia untuk merealisasikan dirinya dalam rangka mengenal bakat kemampuannya untuk mencapai yang diinginkannya.
Sardiman (1996: 89) Apabila seseorang sudah menetapkan satu putusan untuk dikerjakan maka timbullah dorongan pada diri seseorang untuk bertindak melaksanakan putusan itu.
4. Teman
Singer (1987: 92-93) mengemukakan dasar timbulnya minat pada siswa, yaitu sebagi berikut: a) pelajaran akan menjadi menarik bagi siswa jika terlihat adanya hubungan antara pelajaran dengan kehidupan yang nyata, b) pelajaran yang menarik harus mempertimbangkan minat pribadi siswa, c) pelajaran akan lebih menarik bagi siswa jika siswa diberi kesempatan untuk dapat giat sendiri, d) minat siswa akan bertambah jika siswa dapat melihat dan mengalami bahwa dengan bantuan yang dipelajari itu ia dapat mencapai tujuan- tujuan tertentu, e) guru harus memberi kesempatan pada siswa untuk berperan serta dan menumbuhkan rasa keterlibatan yang aktif pada diri siswa tersebut.
5. Kelas
Siswa merupakan satu komponen yang menjadi sentral dalam proses pembelajaran. Siswa sebagai pihak yang ingin meraih cita-cita, memiliki tujuan dan keinginan untuk mencapainya secara optimal. Siswa merupakan
commit to user
18
faktor penentu bagi masa depannya, sehingga tanpa minat dari diri peserta didik dalam proses pembelajaran, maka tidak akan berhasil dengan maksimal karena menurut Sardiman (1996: 94) proses belajar baru akan berjalan dengan lancar jika disertai dengan minat belajar yang baik.
6. Sekolah
Faktor sosial atau lingkungan, meliputi lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah meliputi lingkungan fisik seperti bangunan sekolah, sarana dan prasarana yang ada, sumber belajar dan media belajar serta lingkungan sosial sekolah meliputi hubungan siswa dengan teman, guru dan staf sekolah (Sumiyati, 2010: 179).
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar
Minat belajar siswa dipengaruhi oleh kondisi-kondisi tertentu yang merupakan faktor penting untuk menumbuhan minat siswa. Singer (1987: 92) menyatakan persyaratan penting yang mempengaruhi minat belajar meliputi: a) pelajaran yang menari perhatian jika terlihat adanya hubungan antara pelajaran dengan kehidupan nyata, b) pelajaran menarik harus mempertimbangkan minat pribadi peserta didik, c) pelajaran akan lebih menarik bagi peserta didik jika mereka memberi kesempatan untuk giat dan mandiri, d) minat peserta didik akan bertambah jika ia dapat melihat dan mengalami bahwa yang dipelajari itu dapat mencapai tujuan tertentu.
Menurut Reber dalam Sumiyati (2010: 178), bahwa minat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:
1) Faktor-faktor dari dalam, kebutuhan dapat berupa kebutuhan yang berkaitan dengan jasmani dan kejiwaan yaitu faktor yang berhubungan erat dengan jasmani dan kejiwaan yaitu faktor yang berhubungan erat dengan fisik, kebutuhan untuk mempertahankan diri, dll.
2) Faktor motif sosial, yaitu faktor yang dapat membangkitkan minat untuk melakukan aktivitas-aktivitas demi kebutuhan sosial.
commit to user
19
3) Faktor-faktor emosional yaitu faktor emosi, perasaan yang erat dengan minat terhadap obyek tertentu. Suatu aktivitas yang berhubungan dengan obyek tertentu kemudian dapat menimbulkan perasaan tertarik dan senang.
Berdasakan pendapat-pendapat yang disampaikan di atas mengenai sesuatu yang berkaitan dengan minat, maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi minat belajar siswa yaitu:
1) Faktor yang berasal dari dalam siswa
2) Faktor yang berasal dari lingkungan termasuk budaya 3) Faktor motif sosial dari masyarakat
4) Faktor emosional yang berupa perasaan yang dapat menimbulkan adanya minat belajar.
d. Cara Mengetahui Minat Belajar
Ada empat cara untuk mengukur minat yaitu metode observasi, kuesioner, interview, dan inventori. (Wayan Nurkancana dan Sunartana, 1983 : 227-229). Pengukuran minat dengan menggunakan metode observasi dapat dilakukan dengan mengamati minat seseorang dalam kehidupan nyata. Pencatatan hasil observasi dapat dilakukan selama observasi berlangsung. Kelemahan observasi antara lain: tidak dapat dilakukan terhadap situasi yang berbeda atau beberapa anak dalam waktu yang sama, penafsiran terhadap hasil observasi bersifat subyektif. Pada metode kuesioner, daftar-daftar berupa pertanyaan tentang minat diajukan kepada responden untuk dijawab dengan menuliskan persyaratan.
Kuesioner ini jauh lebih dapat mengefisienkan waktu sebab kuesioner dilakukan secara tertulis dan guru menghadapi beberapa orang anak sekaligus. Metode berikutnya yaitu metode interview dilakukan untuk memperoleh informasi langsung dari responden. Pelaksanaan interview ini biasanya dilakukan pada situasi yang tidak formal, sehingga percakapan dapat berlangsung lebih bebas.
Selanjutnya metode yang terakhir yaitu metode inventori adalah metode pengukuran atau penilaian yang sejenis dengan kuesioner hanya saja responden
commit to user
20
memberi jawaban dengan memberi tanda lingkaran, menyilang, atau tanda lain yang berupa jawaban singkat dari pertanyaan lengkap.
e. Usaha-usaha yang Dilakukan untuk Membangkitkan Minat
Minat belajar yang dimiliki oleh peserta didik tidak serta merta datang dengan sendirinya, melainkan perlu dibangkitkan dan dikembangkan. Usaha-usaha yang dilakukan untuk membangkitkan minat menurut Winkel (2007: 212) antara lain:
1) Membina hubungan yang akrab dengan peserta didik.
2) Menyajikan bahan pelajaran yang tidak terlalu diatas daya tangkap siswa, namun juga tidak jauh di bawahnya.
3) Menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan materi ajar.
4) Tidak membodohkan peserta didik jika mereka belum bisa.
Lebih lanjut, Sardiman (1996:94) minat dapat dibangkitkan dengan:
1) Membangkitkan adanya suatu kebutuhan.
2) Menghubungkan dengan pengalaman masa lampau.
3) Memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
4) Menggunakan berbagai macam brntuk mengajar.
Agar dapat menarik minat belajar siswa hal yang perlu dilakukan antara lain merasionalkan apa yang masih menjadi perhatian ataupun menjelaskan materi pelajaran yang telah didiskusikan. Guru harus dapat menerapkan teknik dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi peserta didik.
Inti dari uraian di atas adalah untuk membangkitkan minat belajar peserta didik diperlukan suatu kondisi belajar yang menyenangkan, terbuka, dan memberikan pemahaman kepada peserta didik bahwa ilmu yang sedang dipelajari merupakan kebutuhan bagi peserta didik untuk sekarang ataupun nanti.
Mengembangkan minat siswa terhadap mata pelajaran IPA-Biologi pada dasarnya adalah membantu siswa melihat bagaimana hubungan antara materi yang diharapkan untuk dipelajari dengan dirinya sendiri sebagai individu. Proses ini berarti menunjukkan pada siswa bagaimana pengetahuan atau kecakapan tertentu
commit to user
21
mempengaruhi dirinya, melayani tujuan-tujuannya, dan memuaskan kebutuhan- kebutuhan. Bila siswa menyadari bahwa belajar merupakan alat untuk mencapai beberapa tujuan yang dianggapnya penting, dan bila siswa bahwa hasil dari pengalaman akan membawa kemajuan pada dirinya kemungkinan besar ia akan berminat dan bermotivasi untuk mempelajarinya. Beberapa ahli pendidikan berpendapat bahwa cara yang paling efektif untuk membangkitkan minat pada pada suatu subyek yang baru adalah dengan menggunakan minat-minat siswa yang telah ada (Slameto, 1995: 180).
Di samping memanfaatkan minat yang telah ada, Tanner (1975, dalam Slameto, 1995: 181) menyarankan agar para pengajar juga berusaha membentuk minat-minat baru pada diri sendiri. Ini dapat dicapai dengan jalan memberikan informasi kepada siswa mengenai hubungan antara suatu bahan pengajaran yang akan diberikan dengan bahan pelajaran yang lalu, menguraikan kegunaannya bagi siswa di masa yang akan datang. Roijjakkers (1980, dalam Slameto, 1995) berpendapat bahwa untuk menimbulkan minat-minat baru, dapat dicapai dengan cara menghubungkan bahan pengajaran dengan berita sensasional yang sudah diketahui kebanyakan siswa.
Bila usaha-usaha di atas tidak berhasil, pengajar dapat memakai insentif dalam usaha mencapai tujuan pengajaran. Insentif merupakan alat yang dipakai untuk membujuk seseorang agar melakukan sesuatu yang tidak mau dilakukannya atau yang tidak dilakukannya dengan baik.
f. Peranan Minat dalam Belajar
Peranan Minat dalam belajar dikemukakan oleh Zanikhan antara lain: a) menciptakan, menimbulkan kosentrasi atau perhatian dalam belajar, b) Menimbulkan kegembiraan atau perasaan senang dalam belajar, c) Memperkuat ingat siswa tentang pelajaran yang telah diberikan guru, d) Melahirkan sikap belajar yang positif dan kontruktif, e) Memperkecil kebosanan siswa terhadap studi / pelajaran.
commit to user
22
3. Tinjauan Tentang Media a. Pengertian Media
Arsyad (2004) mengatakan bahwa media pembelajaran adalah alat bantu apa saja baik itu berupa visual atau verbal yang dapat menyampaikan atau mengantarkan pesan-pesan pembelajaran yang dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemauan audien (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar guna mencapai tujuan pembelajaran (Fatra, 2008).
Menurut Asnawir (2002) kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media yaitu sebagai bentuk yang dipergunakan untuk suatu penyaluran informasi. Sedangkan Gagne mengatakan bahwa media berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar (Asnawir, 2002). Sejalan dengan pengertian tersebut National Education Asociation (NEA) berpendapat bahwa media adalah benda yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrumen yang digunakan untuk kegiatan tersebut (Rohani, 1997).
Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima baik berupa alat- alat atau benda yang bersifat fisik, yang dapat digunakan sebagai sarana untuk merangsang pikiran, perasaan, minat serta perhatian siswa didalam kegiatan pembelajaran
b. Komik Sebagai Media Pembelajaran
Ensiklopedia (1997) kata komik berasal dari Bahasa Perancis yaitu comique, yang sebagai kata sifat artinya lucu atau menggelikan dan sebagai kata benda artinya pelawak atau badut. Comique sendiri berasal dari bahasa yunani yaitu komikos. Dalam bahasa Inggris, komik sekali muat atau bersambung dalam penerbitan pers disebut comic strip atau strip cartoon. Komik yang diterbitkan
commit to user
23
dalam bentuk buku disebut comic book, tapi secara umum seluruhnya disebut comics (Fatra, 2008).
Sudjana dan Rifai (2002) mendefinisikan komik sebagai bentuk kartun yang mengungkapkan karakter dan memerankan suatu cerita dalam urutan yang erat dihubungkan dengan gambar dan dirancang untuk memberikan hiburan kepada pembaca. Singkatnya, komik dapat juga disebut dengan cerita bergambar.
Rengkuan (1997: 11) menjelaskan bahwa komik adalah suatu cerita yang disajikan dalam gambar. Komik yang dipaparkan materinya dihubungkan dengan kehidupan siswa. Cerita yang dimuat dalam komik harus cerita yang diminati siswa tersebut dimanipulasikan menjadi cerita yang bermuatan biologi (Junaidi, 2008: 77).
Komik umumnya berbentuk rangkaian gambar, masing-masing dalam kotak, yang seluruhnya merupakan rentetan atau cerita. Gambar-gambar itu biasanya dilengkapi dengan balon-balon ucapan dan ada kalanya masih disertai narasi sebagai penjelasan. Komik dimuat secara tetap sebagai cerita bersambung dalam majalah atau surat kabar atau diterbitkan sebagai buku.
Komik secara sepintas dipandang sebagai media visual yang hanya terdiri dari kumpulan gambar dan tulisan yang terjalin menjadi sebuah cerita. Namun, bagi para komikus, komik mempunyai komponen yang lebih besar artinya dari sekedar kumpulan gambar dan tulisan belaka. Komponen-komponen komik terdiri atas sampul depan, sampul belakang, dan halaman isi.
Pada umumnya orang membaca komik sebagai hiburan semata, akan tetapi karena semakin luasnya popularitas komik telah mendorong banyak guru bereksperimen dengan medium ini untuk maksud pembelajaran. Dalam Ensiklopedia Nasional Indonesia juka dikemukakan bahwa pada negara Jepang tidak hanya menerbitkan komik sebagai bacaan hiburan tetapi juga mengembangkan komik serius untuk membantu pembelajaran di kalangan masyarakat umum dan pendidikan disekolah. Temanya cukup berat, tetapi dapat dibaca dengan santai. Diantaranya mengenai masalah ekonomi, perbankan,
commit to user