1.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Banyak pasangan yang ingin sekali mendapatkan anak, namun banyak juga yang sudah menikah selama 8 tahun atau lebih namun belum dikaruniai anak.
Banyak yang bersedia mengeluarkan uang berjuta-juta bahkan berpuluh juta dan menanggung beban psikologis yang berat hanya untuk memiliki anak. Tetapi ironisnya, di sisi lain, ada banyak pasangan yang isterinya menjadi hamil, namun kehamilan tersebut tidak diharapkan dan justru mereka menempuh berbagai cara untuk menggugurkan kandungan tersebut. Mereka juga mengalami beban psikologis yang berat dan biaya finansial yang cukup besar untuk itu.
Di zaman modern seperti ini, barangkali tidak ada masalah etika biomedis yang ramai dan begitu intensif didiskusikan selama puluhan tahun seperti masalah aborsi. Aborsi adalah pengguguran, abortus provocatus. Secara medis aborsi adalah penghentian dan pengeluaran hasil kehamilan dari rahim sebelum janin bisa hidup di luar kandungan. Dengan kata “pengeluaran” itu dimaksudkan bahwa keluarnya janin disengaja karena campur tangan manusia, baik melalui alat mekanik, obat atau cara lainnya. Secara medis pengeluaran janin sebelum 20-24 minggu disebut aborsi, sedangkan sesudahnya disebut pembunuhan bayi (infanticide). Dalam peristilahan moral dan hukum, aborsi adalah pengeluaran janin sejak saat pembuahan sampai dengan kelahirannya yang mengakibatkan kematian.
Aborsi adalah suatu topik yang tidak pernah berhenti dibahas, masalah aborsi selalu ditentang, diperjuangkan, bahkan dilegalkan oleh kalangan tertentu.
Demikian juga di negara kita, perdebatan mengenai aborsi akhir-akhir ini menjadi semakin ramai karena dipicu oleh berbagai peristiwa yang mengguncang sendi- sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Salah satu peristiwa tersebut adalah maraknya korban pemerkosaan pada waktu kerusuhan terbesar terjadi di Indonesia sekitar 6 tahun yang lalu, dimana dampaknya sangat buruk bagi kondisi psikologis korban. Banyak orang mulai bertanya “Mengapa tidak boleh melakukan aborsi? Bagaimana dengan korban pemerkosaan yang hamil dan
tidak menginginkan bayinya? Bagaimana dengan keluarga miskin yang tidak mampu membiayai anaknya?” dan masih banyak pertanyaan lain. Sementara itu berita mengenai aborsi sering menghiasi koran-koran, yang memberitakan potongan-potongan janin hasil aborsi, yang dibungkus dalam kantong plastik dan dibuang ke tempat sampah.
Sementara itu banyak negara yang sudah melegalisasikan aborsi seperti Amerika dan Perancis namun hal itu pun tidak dapat meredakan masalah aborsi, legalisasi bukannya menghentikan perdebatan dan gerakan dalam masyarakat, tetapi malah membuka fase baru dalam perdebatan mengenai aborsi. Legalisasi tidak mematikan gerakan pencinta kehidupan (Pro Life), malah gerakan tersebut semakin menjamur dimana-mana, sebaliknya gerakan pro aborsi (Pro Choice) terus mengamankan posisinya.
Di Indonesia sendiri, juga bukan rahasia lagi jika masyarakat mengetahui adanya dokter-dokter atau klinik-klinik tertentu yang melakukan praktik aborsi, sehingga mereka dianggap sebagai pelaksana aborsi yang sah. Di Indonesia, secara resmi menurut Kode Etik Kedokteran Indonesia (kodeki), KUHP, dan UU Kesehatan, aborsi di negara kita dilarang karena alasan apapun, kecuali ada terdapat indikasi medis, sehingga praktik aborsi yang ada dan tetap berlangsung, sebenarnya adalah praktik ilegal.
Meskipun aborsi di Indonesia belum dilegalisasi, tetapi sering terdengar usulan agar aborsi diizinkan menurut hukum dengan syarat-syarat tertentu.
Bahkan hingga saat ini, telah terdengar berita bahwa ada sekelompok dokter anggota IDI sedang berusaha melegalisasi aborsi, hal ini tertuang melalui Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia (RUU RI) tentang kesehatan yang baru yang sedang dirapatkan oleh DPR, dimana pasal-pasal didalamnya dapat membuat usaha aborsi menjadi legal di Indonesia (ada pada lampiran).
Sementara itu tak gampang mencarikan jalan keluar bagi masalah aborsi, sebab aborsi menyangkut banyak dimensi dan harus ditinjau dari berbagai sudut pandang yaitu etika, moral, biologi, medis dan agama. Perlu diketahui bahwa 5 agama resmi di Indonesia semuanya anti aborsi. Adapun info aborsi di Indonesia yang berhasil dicatat adalah:
a. Pada tahun 1997 1.000.000 janin/tahun
b. Agustus 1998 1.750.000 janin/tahun c. Februari 2000 2.000.000 janin/tahun d. Mei 2000 2.600.000 janin/tahun
e. Media Indonesia 2 Oktober 2002 melaporkan 3.000.000 janin dibunuh per tahun
Hal inilah yang membuat Pro Life sebagai Gerakan Pecinta Kehidupan menjadi risau dan mengangkat masalah serius ini menjadi sesuatu yang harus dicegah, sebab melalui penelitian, legalisasi aborsi di beberapa negara justru menyebabkan semakin meningkatnya jumlah aborsi di negara-negara tersebut.
Adapun berbagai aktifitas Pro Life Indonesia yang telah dilakukan hingga saat ini adalah Safari Kehidupan, Petisi Kehidupan, Rumah Kehidupan, Konser Kehidupan, Sahabat Kehidupan, dan masih banyak lagi. Namun semua aktifitas tersebut dirasa masih belum efektif dan mengena di masyarakat.
Tindakan lain yang juga tidak kalah penting sebagai penunjang kampanye anti aborsi ini adalah menciptakan sebuah Iklan Layanan Masyarakat sebagai sarana kampanye yang secara langsung dan efektif dapat menginformasikan pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat. Public Service Advertising (PSA) atau Iklan Layanan Masyarakat (ILM) adalah jenis periklanan yang dilakukan oleh suatu organisasi komersial maupun nonkomersial (sering juga oleh pemerintah) untuk mencapai tujuan sosial atau sosio-ekonomis terutama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tujuan dari Iklan Layanan Masyarakat itu sendiri pada umumnya adalah untuk menghimbau, mengingatkan, mengajak masyarakat untuk tergerak melakukan sesuatu hal demi terwujudnya kesejahteraan bersama dalam masyarakat.
Adapun organisasi pendukung dalam perancangan iklan layanan masyarakat ini adalah Gerakan Pecinta Kehidupan atau Pro Life Indonesia. Pro Life merupakan suatu gerakan sejumlah besar orang yang kontra aborsi, dimana mereka akan mempertahankan kehidupan dan sayang akan kehidupan. Gerakan ini lahir dan muncul pertama kali di Amerika akibat kontroversi aborsi yang terjadi di negara itu pada tahun 1973. Gerakan pro aborsi menamakan diri Pro Choice yakni organisasi-organisasi yang mendukung supaya wanita bebas mempunyai pilihan untuk melakukan aborsi atau tidak. Adapun Pro Life
Indonesia juga mempunyai visi dan misi yang sama dengan Pro Life di seluruh dunia, yakni sama-sama menentang aborsi dan melahirkan generasi yang akan datang menjadi generasi yang Pro Life. Meningkatnya jumlah aborsi ilegal di Indonesia dari tahun ke tahun padahal aborsi di Indonesia masih di ilegalkan, apalagi bila draft RUU yang menjadi masalah tersebut disetujui, bisa dibayangkan berapa jumlah aborsi yang akan terjadi di negara kita. Oleh karena itu gerakan Pro Life Indonesia mulai menunjukkan eksistensinya dengan suatu kampanye anti aborsi untuk menentang hal ini.
Oleh karena itu, tema ini diangkat untuk mengingatkan pada masyarakat bahwa aborsi bukanlah jalan keluar terbaik, setiap pribadi harus selektif dalam memilih dan menentukan keputusannya, untuk masa depan bersama negara kita.
Hal yang melatar belakangi perancangan ILM ini adalah keinginan untuk memberikan kesan yang berbeda, khusus dan kreatif, agar tertanam dalam ingatan target audience dari ILM ini. Media merupakan sarana yang paling penting didalam suatu perancangan, dimana diharapkan perancangan ini akan menggunakan media yang bukan hanya efektif tetapi juga mengena.
1.2 Pembatasan Masalah
Obyek Perancangan kali ini adalah Pro Life, yaitu sebuah gerakan pecinta kehidupan. Pro Life merupakan suatu gerakan sejumlah besar orang yang kontra aborsi, dimana mereka akan mempertahankan kehidupan dan sayang akan kehidupan. Gerakan ini lahir dan muncul pertama kali di Amerika pada tahun 1973. Seiring dengan meningkatnya aborsi ilegal di Indonesia, maka gerakan ini muncul di Indonesia. Perancangan ini dibatasi hanya untuk masalah anti aborsi dan gerakan pendukungnya yaitu Pro Life, adapun ruang lingkup pembatasan adalah wilayah Surabaya.
Ruang lingkup perancangan dibatasi pada perancangan bentuk Iklan Layanan Masyarakat dan pemilihan medianya sebagai pendukung kampanye anti aborsi Pro Life yang akan digunakan di lingkungan yang terkait dan menjadi sasaran kampanye.
Pemilihan media meliputi Above the Line dan Below the Line yang disesuaikan dengan kebutuhan dan efektifitas sehingga dapat tercapai tujuan
perancangan. Produk rancangan yang akan dihasilkan berupa poster, TVC, print ad seperti koran, majalah, sarana lainnya melalui merchandise seperti sticker, pin, dan kaos, media interaktif yaitu email forward, cd presentasi,dan media lainnya seperti postcard, dan sebagainya.
Fungsi/manfaat yang paling penting dalam visualisasi ILM ini adalah dimana diharapkan perancangan ini akan menghasilkan media yang bukan hanya berisi pesan - pesan anti aborsi tetapi juga mempunyai dampak yang mendalam bagi orang yang melihat atau membacanya.
1.3 Rumusan Masalah
Bagaimana perancangan Iklan Layanan Masyarakat tentang anti aborsi yang akan dihasilkan beserta paduan medianya akan mampu mendukung kampanye anti aborsi Pro Life Indonesia secara keseluruhan terlebih melalui kemampuan media tersebut dalam menyampaikan pesan anti aborsi ?
1.4 Tujuan dan Manfaat Perancangan 1.4.1 Tujuan Perancangan
Tujuan perancangan secara umum adalah agar masalah aborsi yang ada dapat diselesaikan dengan solusi yang terbaik. Dari perancangan yang akan dilakukan, maka manfaat yang didapat adalah rumusan masalah dapat teratasi dan tercapai keberhasilan dalam penanaman tujuan awal di benak target audience.
Adapun tujuan dari perancangan kampanye Iklan Layanan Masyarakat anti aborsi ini adalah mendekatkan diri kepada masyarakat dengan media kampanye yang efektif dan mampu mempengaruhi masyarakat secara luas. Selain itu juga mengingatkan dan menginformasikan pada masyarakat bahwa melakukan tindak aborsi berarti juga menggagalkan suatu kehidupan baru. Tujuan lain adalah menginformasikan dan menyerukan kepada masyarakat mengenai adanya suatu kampanye Iklan Layanan Masyarakat tentang anti aborsi yang didukung oleh Pro Life Indonesia melalui iklan layanan masyarakat yang baik dan mengena.
Bagi Umum/Masyarakat, tujuan dari perancangan ini adalah untuk menyampaikan pesan dan memberikan gambaran mengenai aborsi itu sendiri
kepada khalayak umum dan menyampaikan juga gambaran dan hal negatif berkaitan dengan dampak dari aborsi.
Bagi Institusi/Pro Life Indonesia, tujuan dari perancangan ini ialah sebagai salah satu sarana Pro Life untuk menyerukan kampanye anti aborsinya kepada masyarakat Indonesia dengan menunjukkan fakta mengenai aborsi di Indonesia serta membantu Pro Life untuk menyampaikan pesan tersebut secara efektif kepada khalayak masyarakat sasaran dari tujuan kampanye anti aborsi ini.
Bagi Mahasiswa, tujuan dari perancangan ini adalah untuk memperkaya dunia komunikasi visual dengan suatu tema Iklan Layanan Masyarakat yang terus menjadi kontroversi, dengan memakai media yang masih jarang digunakan dalam kampanye Iklan Layanan Masyarakat pada umumnya. Selain itu perancangan komunikasi visual ini dibuat untuk memenuhi Tugas Akhir Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain, Universitas Kristen Petra, Surabaya.
1.4.2 Manfaat Perancangan
Manfaat yang diharapkan dari perancangan kampanye Iklan Layanan Masyarakat tentang anti aborsi sebagai pendukung kampanye anti aborsi Pro Life Indonesia ini adalah melalui iklan layanan masyarakat yang baik dan mengena diharapkan dapat mengubah pemikiran serta pandangan dari masyarakat, instansi maupun pemerintah yang pro aborsi (Pro Choice) untuk tidak melegalkan aborsi di Indonesia, menggerakkan moral dan membuat masyarakat sadar bahwa aborsi bukanlah jalan keluar yang terbaik.
Selain itu Pro Life sebagai gerakan pecinta kehidupan, diharapkan mampu menunjukkan kepeduliannya terhadap apa yang sedang terjadi di masyarakat, bangsa dan negara.
1.5 Metodologi Perancangan
Metode yang akan dipakai dalam perancangan Iklan Layanan Masyarakat Anti Aborsi ini meliputi :
1.5.1 Data yang diperlukan
Data awal yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan perancangan promosi, antara lain:
1. Data Verbal
a. Data-data mengenai aborsi dan hal-hal yang berkaitan dengan aborsi seperti permulaan hidup manusia, kesehatan reproduksi, peraturan mengenai aborsi, situasi di Indonesia, dan sebagainya.
b. Data-data mengenai Iklan Layanan Masyarakat, antara lain : pengertian, sejarah, ciri-ciri, dan sebagainya.
c. Data-data mengenai Pro Life, antara lain : latar belakang gerakan, visi dan misi, target audience, dan sebagainya.
2. Data Visual
a. Foto-foto lokasi, kampanye dan kegiatan yang sudah pernah dilakukan sebelumnya.
b. Informasi mengenai aborsi dan pro-kontranya dalam bentuk audio visual.
c. Bentuk publikasi kampanye dan kegiatan yang sudah pernah dilakukan sebelumnya.
1.5.2 Alat/Model
Model yang akan digunakan untuk mendapatkan data-data dalam perancangan ini menggunakan beberapa metode, yakni :
1. Metode Pengumpulan Data
Metode dalam pengumpulan data dibagi menjadi dua macam (Koentjaraningrat. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 1981. hal.310), yaitu :
a. Metode Kuantitatif adalah suatu cara berpikir dengan menggunakan science/ilmu. Ilmu sendiri mempunyai beberapa sifat. Cara berpikir kuantitatif ini mempunyai ciri khas dapat diukur dengan angka.
b. Metode Kualitatif adalah metode dimana nilai dari suatu penelitian kualitatif ini tidak dapat diutarakan dalam bentuk angka, melainkan dalam bentuk kategori. Metode ini juga tidak dapat dikwantifikasikan. Namun hal ini tak berarti bahwa metode kualitatif tidak dapat diukur dengan nilai dalam bentuk angka.
Dalam perancangan ini metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode kualitatif.
2. Pustaka
Melalui pelaksanaan penelitian pustaka, untuk mendukung dalam penelitian kali ini ada beberapa buku penunjang yang digunakan, dengan tujuan agar penelitian yang di lakukan lebih terarah dengan adanya data-data yang akurat ini. Sumber-sumber pustaka yang diambil memiliki hubungan dengan obyek penelitian secara relevan dengan masalah yang dibahas. Data dikumpulkan melalui sumber-sumber pustaka yang berhubungan dengan Iklan Layanan Masyarakat itu sendiri, aborsi dan hal-hal yang berkaitan dengan aborsi, gerakan pendukung aborsi dan gerakan anti aborsi (Pro Life), dan data-data yang berkaitan, misalnya melalui artikel-artikel koran, majalah, internet, dan buku teori, termasuk RUU RI tentang kesehatan yang baru yang dianggap dapat membantu melegalkan usaha aborsi di Indonesia.
3. Wawancara
Wawancara dilakukan untuk menggali lebih dalam mengenai informasi apa saja yang dibutuhkan. Wawancara dilakukan terhadap pihak/tokoh yang mengenal baik topik yang diangkat, serta pihak lainnya yang terkait.
4. Metode Analisis
Setelah data selesai kita peroleh, tahap selanjutnya yang harus kita masuki adalah tahap analisa. Pada tahap inilah data dikerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa, sampai berhasil menyimpulkan kebenaran yang dapat dipakai untuk menjawab persoalan yang diajukan dalam penelitian (Koentjaraningrat.
Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 1981. hal.328).
Metode analisis yang digunakan adalah analisis 5W+1H. Analisis 5W+1H merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk mengidentifikasi data yang diperoleh melalui What (Apa), When (Kapan), Where (Dimana), Why (Kenapa), Who (Siapa), dan How (Bagaimana). Dengan menggunakan analisis 5W+1H akan membantu menfokuskan tujuan dan target dari perancangan kampanye Iklan Layanan Masyarakat tentang anti-aborsi dan Pro Life sebagai pendukungnya.
Dengan data yang sudah dikumpulkan dapat dianalisis kelebihan dan kekurangan dari kampanye ILM anti aborsi yang akan dibuat ini nantinya.
1.5.3 Lokasi Pengumpulan Data
Adapun yang menjadi lokasi pengumpulan data diperoleh di wilayah Surabaya.
1.5.4 Subyek/Obyek Perancangan
Objek dari perancangan ini adalah pihak Pro Life sebagai gerakan pecinta dan penyayang kehidupan, dimana Pro Life tercatat sebagai gerakan kontra aborsi.
Selain itu juga aktivitas dan karateristik dari Pro Life serta kegiatan yang sedang maupun akan berlangsung sebagai pendukung dan bahan pertimbangan untuk perancangan ILM.
1.5.5 Konsep Perancangan
Perancangan yang akan dibuat adalah perancangan Iklan Layanan Masyarakat sebagai pendukung kampanye anti aborsi Pro Life Indonesia.
Kampanye dilaksanakan oleh jaringan Pro Life di Indonesia sampai akhir tahun 2004, wilayah kampanye adalah 6 kota besar di Indonesia. Tujuan utamanya adalah untuk mengurangi jumlah aborsi yang makin meningkat dan mencegah legalisasi aborsi di Indonesia melalui perancangan Iklan Layanan Masyarakat yang dibuat untuk mendukung kampanye anti aborsi Pro Life Indonesia, termasuk kegiatan-kegiatannya seperti pengumpulan petisi kehidupan, seminar dan penyuluhan, dan sebagainya. Adapun yang menjadi target sasaran dari perancangan ini terutama adalah kaum wanita usia produktif baik remaja sampai pada wanita dewasa.
1.6 Skema Perancangan
Latar Belakang Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Perancangan
Identifikasi
Identifikasi Masalah Analisa Masalah
Usulan Pemecahan Masalah
Konsep Perancangan
Perencanaan Media Perancangan Kreatif
Program Perancangan
Layout Pengembangan Ide
Alternatif Desain
Evaluasi/Seleksi
Final Artwork