8 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori
1. Keputusan Pembelian (Purchasing Decision)
Sesorang konsumen dalam mengambil keputusan pembelian terhadap suatu produk, konsumen akan melihat produk dari berbagai sudut pandang.
Keputusan pembelian merupakan suatu tindakan yang dipengaruhi oleh ekonomi keuangan, teknologi, politik, budaya, produk, harga, lokasi, promosi, physical evidence, people, dan proses, sehingga membentuk suatu sikap pada konsumen untuk mengolah segala informasi dan pengambilan keseimpulan berupa response yang muncul tentang produk apa yang akan dibeli (Alma, 2011). Keputusan pembelian merupakan proses pengambilan keputusan dan aktivitas fisik yang dilakukan oleh individu ketika mengevaluasi, memperoleh, menggunakan maupun tidak menggunakan produk dan jasa (Khuong & Duyen, 2016).
Keputusan pembelian merupakan tahap lanjutan setelah adanya niat
dan keinginan untuk membeli, namun keputusan pembelian tidak sama
dengan pembelian yang sebenarnya (Morissan A.M, 2015). Sementara itu
definisi menurut (Sanjaya, 2015) keputusan pembelian merupakan suatu
tindakan yang dilakukan konsumen untuk membeli produk, setiap
produsen pasti menjalankan strategi agar konsumen memutuskan membeli
produknya.
1.1 Proses Pengambilan Keputusan Pembelian
Proses pengambilan konsumen terdiri dari beberapa tahapan yang dilakukan konsumen sebelum melakukan keputusan pembelian (Kotler &
Keller, 2016). Tahapan-tahapan tersebut dapat dijelaskan seperti dibawah ini:
Gambar 2.1 Proses Keputusan Pembelian a. Pengenalan Masalah (Problem Recognition)
Pada tahap pertama, konsumen menyadari terdapat masalah yang harus diselesaikan atau kebutuhan yang harus dipenuhi. Masalah yang dimaksud adalah kebutuhan konsumen yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal.
Dorongan dari faktor-faktor itulah yang memicu tindakan konsumen untuk berusaha memenuhi kebutuhan tersebut.
b. Pencarian Informasi (Information Research)
Pada tahap kedua, pada tahap ini konsumen melakukan pencarian informasi lebih lanjut tentang suatu merek ketika dorongan untuk memenuhi kebutuhan itu semakin kuat. Terdapat empat sumber pencarian informasi bagi konsumen yaitu: sumber pribadi, komersial, public dan eksperimental.
Pengenalan Masalah
Pencarian Informasi
Evaluasi Alternatif
Keputusan Pembelian
Perilaku Pasca Pembelian
c. Evaluasi alternatif (Evaluation of Alternatives)
Pada tahap ketiga, konsumen akan mengevaluasi manfaat dari berbagai pilihan produk yang ditawarkan oleh suatu merek. Evaluasi alternatif konsumen melibatkan keyakinan untuk menilai alternatif mana yang lebih banyak manfaat dan sikap yang diambil apakah akan memilih merek tersebut atau tidak.
d. Keputusan Pembelian (Purchasing Decision)
Pada tahap keempat ini konsumen telah menetapkan pilihan dari alternatif-alternatif yang tersedia dan juga telah menentukan berbagai sub keputusan mereka seperti merek, penyalur, kuantitas, waktu dan metode pembayaran yang akan digunakan.
1. Pilihan merek, konsumen harus mengambil keputusan tentang merek mana yang akan dibeli. Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen membuat keputusan terhadap suatu merek, yaitu:
• Ketertarikan pada merek, yaitu ketertarikan pada merek yang sudah melekat pada produk yang dibutuhkan.
• Kebiasaan pada merek, yaitu konsumen memilih produk
dengan merek tertentu karena telah terbiasa dengan merek
tersebut pada produk yang dibelinya.
• Kesesuaian harga, yaitu konsumen selalu mempertimbangkan harga yang sesuai dengan kualitas dan manfaat produk yang akan dibelinya.
2. Pilihan penyalur, konsumen harus menentukan penyalur mana yang dipilih untuk membeli produk. Dalam hal ini konsumen memilih penyalur bisa dikarenakan faktor lokasi yang dekat, harga yang murah, tersedianya barang yang lengkap dan kenyamanan pada saat membeli.
• Kemudahan untuk memperoleh produk yang diinginkan, konsumen akan merasa lebih nyaman jika lokasi pendistribusian produk mudah dijangkau dalam waktu yang singkat.
• Pelayanan yang diberikan, dengan pelayanan yang baik maka akan menimbulkan kenyamanan konsumen sehingga konsumen akan selalu memilih lokasi tersebut.
• Ketersediaan barang, kebutuhan dan keinginan konsumen terhadap produk tidak dapat dipastikan kapan terjadi, namun dengan tersedianya barang yang memadai pada penyalur akan membuat konsumen memilih untuk melakukan pembelian di tempat tersebut.
3. Kuantitas pembelian, konsumen dapat menentukan kuantitas
barang yang akan dibeli. Dalam hal ini, perusahaan harus
mempersiapkan banyaknya produk yang sesuai dengan keinginan
konsumen yang berbeda-beda. Karena konsumen akan menentukan:
• Keputusan jumlah pembelian, selain keputusan pada pilihan merek yang ditentukan konsumen, konsumen juga menentukan kuantitas barang yang akan dibelinya.
• Keputusan pembelian untuk persediaan, konsumen memiliki produk selain untuk memenuhi kebutuhannya, juga melakukan beberapa persiapan dengan jumlah produk yang mungkin akan dibutuhkannya pada saat mendatang.
4. Waktu pembelian, pada saat konsumen menentukan waktu pembelian dapat berbeda-beda, ada yang membeli sebulan sekali, tiga bulan sekali, enam bulan sekali atau bahkan satu tahun sekali.
5. Metode pembayaran, konsumen dapat menentukan metode pembayaran yang akan digunakan pada saat transaksi pembelian.
Konsumen mungkin akan menggunakan cara pembayaran:
bayaar tunai, kartu kredit, kartu debit, kartu ATM, kredit melalui toko.
e. Perilaku pasca pembelian (Post-purchasing Decision)
Pada tahap kelima, konsumen telah merasakan kinerja dari
produk yang telah dibelinya. Apabila produk yang dibelinya sesuai
ekspektasi atau bahkan melebihi ekspektasi, maka kepuasan
konsumen akan tinggi dan terdapat kemungkinan untuk melakukan
pembelian di waktu yang akan datang. Sebaliknya, apabila kinerja dari
produk yang telah dibeli tidak sesuai dengan ekspektasi konsumen maka konsumen yang tidak puas, maka konsumen tidak akan melakukan pembelian di waktu yang akan datang dan berpindah ke produk lainnya.
Proses pengambilan keputusan konsumen pada setiap individu pada dasarnya sama, hanya saja tidak semua proses dilakukan oleh para konsumen.
1.2 Faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian
Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen pada suatu produk, antara lain:
a. Citra merek
Citra produk adalah gambaran produk di mata konsumen berdasarkan pengetahuan, tanggapan serta pengalaman konsumen terhadap suatu produk, ketika konsumen telah yakin akan image dari suatu produk, maka konsumen akan mulai masuk kepada tahap akhir yakni tahap keputusan pembelian. Sebuah merek yang memiliki citra positif dianggap dapat mengurangi resiko pembelian, hal ini yang menyebabkan konsumen seringkali menggunakan citra merek sebagai salah satu acuan dalam membuat keputusan pembelian (Kurniawan &
Arifin, 2018).
b. Kualitas produk
Kualitas produk adalah faktor yang paling penting dalam
pemilihan merek terutama dilingkungan pasar dimana tingkat
persaingan sangat ketat. Karena kualitas sebuah produk menjadi salah satu pertimbangan konsumen dalam membeli, apakah kualitas tersebut memberikan manfaat yang besar atau tidak bagi konsumen (Hartono & Wahyono, 2015).
c. Inovasi produk
Inovasi produk yang baik di mata konsumen akan mempengaruhi tingginya keputusan pembelian. Segala bentuk inovasi produk yang dilakukan oleh perusahaan melalui fitur, ukuran, desain, manfaat- manfaat produk yang mampu mendorong konsuemen untuk memilih dan menggunakan produk mereka. Sehingga dapat dikatakan bahwa inovasi produk berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian (Kharisma, 2017).
d. Pemasaran di media sosial
Faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian adalah strategi promosi melalui media sosial. Media sosial merupakan komponen yang sangat penting dari media pemasaran sebuah perusahaan.
Semakin baik promosi melalui media sosial, maka keputusan pembelian konsumen akan semakin meningkat (Saripuddin, 2020) e. Word of mouth
Word of mouth communication tetap menjadi praktik pemasaran
yang paling mendominasi keputusan pembelian konsumen terhadap
produk apapun. Pembicaraan orang-orang terhadap suatu produk
menjadi bagian dari pertimbangan konsumen dalam memilih suatu
produk. Evaluasi alternatif dilakukan konsumen ketika akan melakukan keputusan pembelian dengan word of mouth yang menarik (Pamungkas, 2017).
1.3 Faktor-Faktor Yang Dipengaruhi Keputusan Pembelian
Adapun faktor-faktor yang dapat dipengaruhi oleh keputusan pembelian, yaitu:
a. Kepuasan Konsumen
Keputusan pembelian yang dilakukan konsumen dapat mempengaruhi kepuasan konsumen. Tingkat kepuasan tersebut merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan. Apabila kinerja di bawah harapan, maka konsumen akan kecewa, Sebailknya juka kinerja sesuai harapan, maka konsumen akan merasa puas (Hartono & Wahyono, 2015).
b. Loyalitas Pelanggan
Seorang pelanggan yang melakukan keputusan pembelian akan membentuk perilaku loyal maupun tidak loyal. Hal ini tergantung bagaimana persepsi pelanggan terhadap produk yang telah dibeli. Jika pelanggan merasa positif dengan produk yang dibeli maka pelanggan akan loyal (Dachi, 2020)
1.4 Indikator Keputusan Pembelian
Indikator keputusan pembelian Menurut (Kotler & Keller, 2016) yang
dapat dijadikan rujukan untuk mengukur dalam penelitian ini sebagai
berikut:
a. Kemantapan akan informasi terkait produk
Keadaan dimana konsumen mulai mengenali masalah atau kebutuhan dikarenakan rangsangan dari pasar, seperti:
• Konsumen mengenali masalah sebelum melakukan keputusan pembelian
• Konsumen mencari informasi mengenai produk b. Kemantapan manfaat, kualitas dan reputasi produk
Pertimbangan yang akan menjadi dasar untuk membeli, seperti:
• Produk memberikan manfaat sesuai kebutuhan
• Produk memiliki kualitas yang baik
• Produk memiliki reputasi yang baik c. Kemantapan akan membeli produk
Kondisi dimana konsumen benar-benar mengambil keputusan pembelian, seperti:
• Kemantapan akan membeli produk yang telah dipilih d. Keputusan pembelian ulang
Ketika konsumen merasa kinerja suatu produk sama dengan ekspektasi, melebihi maupun diluar ekspektasi maka akan mempengaruhi sikap atau tindakan pembeli di masa yang akan datang, seperti:
• Melakukakan pembelian pada merek yang sama
• Merekomendasikan produk pada orang lain
• Tidak ingin pindah ke merek lain
2. Iklan di Media Sosial
Sebagai media baru untuk menjangkau konsumen kini suatu perusahaan menggunakan iklan melalui media sosial sebagai sarana promosi untuk mempermudah dalam memperkenalkan produk-produk kepada konsumen. Social media advertising merupakan sebuah upaya yang dilakukan pemasar dalam menyampaikan ide, gagasan, dan nilai kepada konsumen dengan berperan langsung dalam ikatan sosial masyarakat pada medium internet, sehingga dapat berinteraksi, berkomunikasi dan berkolaborasi dengan calon konsumen sasaran dan secara aktif mempromosikan produk atau jasa (Prakoso et al., 2016).
Advertising on social media adalah cara untuk mendapatkan perhatian dari pengguna media sosial melalui situs, ketika pengguna berpikir tentang membeli produk, pertama kali melihat internet (media sosial), mencari tentang produk tersebut, membandingkan harga dengan merek lain dan mengambil keputusan, salah satunya untuk membeli (Goya, 2013).
Social media marketing merupakan pemanfaatan teknologi, saluran
dan perangkat lunak dari media sosial yang bertujuan untuk menciptakan
suatu komunikasi, pengiriman, pertukaran serta penawaran yang bernilai
bagi pemangku kepentingan dalam suatu perusahaan (Solomon & Tuten,
2017). Pemasaran media sosial merupakan bentuk pemasaran yang dipakai
untuk menciptakan kesadaran, pengakuan, ingatan dan bahkan tindakan
terhadap suatu merek, produk, bisnis, individu, atau kelompok baik secara
langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan alat dari web sosial seperti jejaring sosial (Santoso et al., 2017). Sementara itu menurut Charly dalam jurnalnya, social media marketing mengacu pada proses mendapatkan kunjungan pada situs web atau mendapat perhatian melalui situs media sosial. Program social media marketing biasanya berpusat pada usaha untuk menciptakan konten yang menarik perhatian dan mendorong pembaca untuk berbagi dengan jaringan sosial mereka (Charly, 2014).
1.5 Dimensi Social Media Marketing
Social media marketing adalah system yang memungkinkan pemasar untuk terlibat, berkolaborasi, berinteraksi dan memanfaatkan kecerdasan orang-orang yang berpatisipasi didalamnya untuk tujuan pemasaran (Chikandiwa et al., 2013). Terdapat empat dimensi Social Media Marketing menurut (Udin & Yuliawati, 2020) antara lain:
a. Context
Context adalah penataan bahasa dengan format tertentu mengenai cara individu atau kelompok dalam penyampaian pesannya kepada orang lain.
b. Communication
Komunikasi merupakan sebuah proses dimana seseorang dalam
penyampaian pesannya kepada orang lain untuk menyampaikan
informasi, mengubah pendapat dan sikap serta perilaku baik secara
tidak langsung maupun secara langsung.
c. Collaboration
Kolaborasi merupakan aktivitas yang dilakukan secara bersama atau bekerja sama dengan orang lain, dimana masing-masing pihak saling memberikan timbal balik, baik memberikan pengalaman dan kemampuan supaya dapat terwujudnya tujuan Bersama yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berpartisipasi.
d. Connection
Koneksi merupakan sebuah hubungan yang telah terjalin secara berkelanjutan antara komunikator dan komunikan.
1.6 Elemen Social Media Marketing
Social media marketing merupakan tentang memahami bagaimana teknologi membuat lebih mudah bagi orang untuk berhubungan sosial dengan jaringan sosial mereka dan bagaimana bisnisnya mendapat keuntungan dari adanya pemahaman tentang sosial media marketing (Bashar & Wasiq, 2012). Menurut (Genelius, 2011) terdapat empat elemen yang dijadikan sebagai variabel kesuksesan Social Media marketing:
a. Content Creation
Konten yang menarik menjadi landasan strategi dalam melakukan
pemasaran atau pengiklanan di media sosial. Konten yang dibuat
harus menarik serta harus mewakili kepribadian dari sebuah bisnis
agar dapat dipercaya oleh target konsumen.
b. Content Sharing
Membagikan konten kepada komunitas sosial dapat membantu memperluas online audience. Berbagi konten dapat menyebabkan penjualan tidak langsung dan langsung tergantung pada jenis konten yang dibagikan.
c. Connecting
Jejaring sosial memungkinkan seseorang bertemu dengan lebih banyak orang yang memiliki minat yang sama. Jaringan yang luas dapat membangun hubungan yang dapat menghasilkan lebih banyak bisnis. Komunikasi yang jujur dan hati-hati harus diperhatikan saat melakukan social networking.
d. Community Building
Web sosial merupakan sebuah komunitas online yang besar dimana terjadi interaksi antar manusia yang tinggal di seluruh dunia dengan menggunakan teknologi.
1.7 Indikator Social Media Marketing
Social media marketing adalah bisnis yang menggunakan saluran
media sosial terpilih untuk memahami pelanggan dan kolaborasi dengan
cara yang mengarah pada pencapaian tujuan pemasaran dan bisnis utama
(Debra, 2015). Adapun indikator social media marketing Menurut (As’ad
et al., 2014) yang dapat dijadikan rujukan untuk mengukur dalam
penelitian ini, antara lain:
a. Online Communities
Sebuah perusahaan atau sejenis usaha dapat menggunakan media sosial untuk membangun sebuah komunitas disekitar minat pada produk atau bisnisnya. Semangat komunitas untuk membangun kesetiaan, mendorong diskusi-diskusi, dan berbagi informasi, hal ini sangat berguna untuk pengembangan dan kemajuan bisnis tersebut, seperti:
• Komunitas online dapat dipercaya
• Komunitas online dapat membangun kesetiaan pada produk b. Interaction
Di dalam media sosial memungkinkan terjadi interaksi yang besar dengan online communities, dengan informasi yang terbaru serta relevan dari konsumen, seperti:
• Ketangkasan dalam menjawab pertanyaan
• Cepat tanggap dalam menjawab pertanyaan c. Sharing of content
Berbagi pendapat mengenai lingkup dalam pertukaran individual, distribusi dan menerima konten dalam aturan media sosial, seperti:
• Konten yang di sajikan menarik
• Konten yang disajikan memberikan informasi
d. Accessibility
Kemudahan dalam mengakses dan biaya yang minimal untuk menggunakan media sosial.
• Kemudahan dalam mengakses iklan di YouTube e. Credibility
Credibility digambarkan sebagai pengiriman pesan yang jelas untuk membangun kredibilitas atas apa yang dikatakan atau dilakukan yang berhubungan secara emosional dengan terget audiens, seperti:
• Kesesuaian informasi pesan
• Kesesuaian informasi gambar
• Kesesuaian informasi aktifitas iklan
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa adanya social media yang digunakan sebagai alat pemasaran, dapat memudahakan para pelaku bisnis untuk berinteraksi dengan customer secara online, serta menghemat biaya pemasaran.
3. Inovasi Produk (Product Innovation)
Inovasi sebagai salah satu mekanisme perusahaan untuk beradaptasi
dengan lingkungan yang dinamis, oleh sebab itu setiap perusahaan dituntut
untuk bisa memunculkan pemikiran-pemikiran baru, ide-ide yang baru,
dan menawarkan produk yang inovatif agar selalu bisa memberikan solusi
pada setiap permasalahan konsumen. Menurut (Charles et al, 2012)
menyebutkan inovasi merupakan bagian dari kerangka kerja yang
menghubungkan aspek budaya perusahaan dengan kemampuan berinovasi
dan meningkatkan kinerja perusahaan melalui keputusan pembelian
konsumen. Sedangkan menurut (Nasir, 2017) inovasi merupakan fungsi penting dari pihak menejemen suatu perusahaan karena inovasi produk bisa menentukan kinerja pemasaran yang berkualitas.
Inovasi produk memiliki hubungan erat dengan peluncuran produk, Salah satu bentuk dari inovasi produk adalah adanya produk baru. Produk baru meliputi produk orisinil, produk baru yang dikembangkan melalui usaha riset dan pengembangan (Haryono & Marniyati, 2018). Inovasi yang berkelanjutan dalam suatu perusahaan merupakan kebutuhan mendasar yang akan mampu menciptakan keunggulan kompetitif, sehingga inovasi merupakan sebuah fungsi penting dari manajemen karena inovasi akan menentukan suatu kinerja bisnis yang superior (Utaminingsih, 2016).
Menurut (Sukarmen et al., 2013) inovasi produk merupakan sesuatu yang dapat dilihat sebagai kemajuan fungsional produk yang dapat membawa produk selangkah lebih maju dibandingkan dengan produk pesaingnya.
1.8 Dimensi Inovasi Produk
Menurut (Kotler & Keller, 2016) dimensi dari inovasi produk itu akan menentukan kecepatan difusi yang didukung oleh lima faktor, yaitu relative advantage (keuntungan relatif), compatibility (kesesuaian), complexity (kesulitan), divisibility (percobaan) dan communicability (ketampakan). Dari kelima dimensi inovasi produk tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Relative Advantage (keuntungan relatif)
Keuntungan relatif adalah seberapa jauh inovasi dianggap lebih baik daripada mengganti produk. Hal ini mengacu pada tujuan mendapatkan keuntungan pada produk baru namun dengan persepsi subyektif adobter terhadap keuntungan. Sebuah inovasi yang menawarkan keuntungan lebih besar, dipercayai memiliki penerimaan yang lebih besar juga.
b. Compability
Kompabiliitas adalah sejauh mana inovasi dianggap kompatibel dengan system nilai konsumen yang ada, pengalaman, dan kebutuhan.
Konsumen lebih cenderung untuk mengadopsi produk baru jika produk tersebut lebih kompatibel dengan nilai-nilai dan kebutuhan yang ada, dan mereka tidak tidak perlu menguba apapun untuk menggunakan produk.
c. Complexity
Kompleksitas adalah tingkat dimana suatu inovasi tampak sulit untuk dimengerti dan dipakai. Beberapa produk baru akan lebih mudah dipahami bagi kebanyakan konsumen, namun tampak sangat kompleks dan memerlukan waktu yang cukup lama untuk dipahami.
d. Divisability
Divisabilitas adalah tingkat inovasi yang dapat dicoba sedikit demi sedikit.
e. Communicability
Komunikabilitas adalah tingkat kemampuan hasil penggunaan inovasi yang bisa dijelaskan kepada orang lain.
1.9 Indikator Inovasi produk
Inovasi produk adalah sebagai gabungan dari berbagai macam proses yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya, Adapun indikator menurut (Cynthia & Hendra, 2014) yang dapat dijadikan rujukan untuk mengukur dalam penelitian ini, antara lain:
a. Perluasan Lini Produk (Line product extensions)
Perluasan lini produk adalah produk yang masih familiar bagi perusahaan tetapi baru bagi pasar, seperti:
• Perluasan lini produk sesuai kebutuhan
• Perluasan lini produk saling melengkapi b. Produk Baru (me-too-products)
Produk baru adalah produk yang dianggap baru oleh bisnis atau perusahaan tetapi familiar dengan pasar, seperti.
• Inovasi produk baru mampu memodifikasi bahan produksi
• Inovasi roduk baru memiliki keunikan
c. Produk Benar-Benar Baru (new to the world products)
Produk baru adalah produk yang dianggap baru oleh bisnis maupun oleh pasar, seperti:
• Produk baru memberikan solusi yang baru
• Produk baru dapat dijadikan andalan
B. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu merupakan suatu langkah yang digunakan sebagai sumber refrensi untuk mencari informasi dari hasil penelitian terdahulu serta teori-teori yang digunakan dalam penelitian sebelumnya.
No Judul & Peneliti Metode Analisis Hasil 1 (Haudi et al., 2020).
Effect of Product
Innovation and
Marketing Strategy on Consumer Purchase Decisions in Indonesia’s Lightweight Roof Steel Industry.
Regression testing, correlation,
determination, and hypothesis testing.
Inovasi Produk memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian.
2 (Lubis et al., 2020).
The Impact of Life Style and Social Media on Purchasing Decisions in B-One Café Medan.
Alat yang
digunakan pada penelitian ini adalah: Multiple Regression
Analysis
Media sosial memiliki pengaruh yang postif dan signifikan terhadap keputusan
pembelian.
3 (Ginting & Sembiring, 2018). The Effect of
Alat dan metode yang digunakan
Inovasi produk
berpengaruh positif
Product Innovation, Product Quality and City Image on Purchasing Decision of Uis Karo Woven Fabric.
dalam penelitian ini adalah: Multiple Linier Regression dengan SPSS Software.
dan signifikan terhadap
purchasing
decision in Uis
Karo Woven
Fabric.
4 (Caecilia at al., 2017).The Effect of Maybelline Social Media Marketing (Facebook, Youtube, Instagram) On Consumer Purchase Decision.
Alat dan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Multiple Regression
Analysis.
Pemasaran
Maybelline di youtube dan instagram
berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian.
Sementara itu faceboook
berpengaruh negatif.
5 (Saripuddin et al, 2020).
Pengaruh Akun Bisnis Media Sosial Instagram, Word of Mouth dan Inovasi Produk Terhadap Keputusan Pembelian
Regresi Linier Berganda
Media sosial
Instagram dan
inovasi produk
berpengaruh positif
dan signifikan
Kue Ulang Tahun Homemade Makasar.
terhadap keputusan pembelian.
6 (Setiawan et al., 2018), Pengaruh Gaya Hidup dan Inovasi Produk Terhadap Keputusan Pembelian
Regresi Linier Berganda
Inovasi produk berpengaruh
signifikan terhadap keputusan
pembelian 7 (Silalahi, 2020), Product
Innovation dan Brand
Image Terhadap
Keputusan Pembelian Produk Smartphone Oppo
Regresi Linier Berganda
Product innovation berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian
8 (Ghozali et al., 2019), Role of Product Innovation, Quality of Service and Promotion of influence on Purchase Decision on Omahmu Café Lumajang
Multiple Linier Regression
Analysis
The Variabel Product Innovation has a significantly influence on purchase decision
C. Kerangka Pikir dan Hipotesis
Kerangka konsep merupakan kerangka pemikiran dari susunan konsep
yang sudah diatur dalam rangka menjelaskan variabel-variabel yang diteliti.
Kerangka konsep ini menjelaskan bahwa adanya hubungan antara variabel iklan di social media youtube (X1) dan inovasi produk (X2) terhadap keputusan pembelian (Y). Berikut adalah kerangka konsep yang dapat peneliti sajikan dalam penelitian ini:
Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan kerangka konsep di atas dapat diketahui bahwa variabel bebas pada penelitian ini yaitu iklan di media sosial youtube dan inovasi produk, sedangkan untuk variabel terikat yaitu keputusan pembelian (purchasing decision).
Berdasarkan teori pendukung dan kerangka berfikir dalam penelitian ini, maka peneliti mengemukakan beberapa hipotesis sebagai jawaban sementara yang digunakan untuk mencari fakta yang harus ditemukan dalam penelitian ini, yaitu:
1. Pengaruh Konten Iklan di Media Sosial Youtube dan Inovasi Produk Terhadap Purchasing Decision pada produk Garnier Men.
Iklan di Media Sosial
Inovasi Produk
Purchasing Decision