Keadaan Umum Daerab Penelitian Kabupaten Sukabumi
!Cabupaten Sukabumi merupakan salab satu dari 25 kabupaten kota di Propinsi Jawa Barat. Seeara geografis terletak pada posisi 6°57'LS-7"25'LS dan 106°49'BT-107'00'BT, dengan ketinggian 2 960 meter di atos permukaan laut. Wilayab utara bergunung, wilayab tengab berbukit dan selatan bergelombang. Batos wilayab Kabupaten Sukabumi adalab sebelab utara berbatasan dengan !Cabupaten Bogor dan Cianjur, sebelab selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia, sebelab timur berbatasan dengsn !Cabupaten Cianjur dan sebelab barat berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Propinsi Banten.
Kabupaten Sukaburni bertemperatur IS-30°C, kelembaban rata-rata 85% dan curab hujan 2 000 - 4 000 mm.
Luas wilayab Kabupaten Sukabunti kurang lebih 408 560 Ha. Seeara admiDistrasi Kabupaten Sukabunti terbagi dalarn 45 kecarnatan diantaranya tiga kecamatan yang dijadikan lokasi penelitian yaitu Kecamatan Cikakak, Kecamatan Kadudampit dan Kecamatan Cisaat. Jumlab penduduk Kabupaten Sukabunti ada1ab 2 085 019 orang terdiri dari loki-loki I 052254 orang dan perempuan
I 032 765 orang. Laju pertarnbahan penduduk sebesar 1.42"10 dan rasio jeDis kelarnin 104.32 %.
!Cabupaten Sukabumi mempunyai sarana berupa jalan, listrik, air dan telepon serta prasarana berupa pendidikan urnurn, keagamaan dan kesebatan.
Sarana jalan yang ada di Kabupaten Sukabunti berupa jalan nasional sepanjang 43 112 km, jalan propinsi 354 869 km, jalan kabupaten I 506 000 km
dan jembatan 3 10 I km. Sel uruh ibu kota kecamatan sudab terpasang sarnbungan telepon, dan tinggal 20 desa (60%) belum teIjangkau PLN. Sedangkan PDAM baru melayani 134 115 sambungan di 9 kecamatan.
Prasarana pendidikan umum yang ada di !Cabupaten Sukabumi antara lain terdapat I 178 buah Sekolab Dasar Negeri dan Swasta, SL TP (Negeri dan Swasta) sebanyak 116 buah dan SLTA (Negeri dan Swasta) sebanyak 102 buah .
-Kabupaten Sukabumi mempunyai prasanma keagamaan berupa masjid sebanyak 4 643 buah, gereja II buab dan vihara sebanyak I bualt
Untuk menunjang kesebatan masyarakat, Kabupaten Sukabumi mempunyai fasililas kesebatan berupa Rumah Sakit sebanyak 3 buab, Puakesmas 53 buab, Puskesmas Pembantu (PUSTU) sebanyak 94 buab, Puskesmas Keliling (PUSLING) sebanyak 35 buah, Apotik 14 buab dan K1inik sebanyak 5 buab.
Berdasarkan basil palpasi gondok anak
SDIMI
tahun 2002, dan 45 kecamatan yang ada di kabupaten Sukabumi, 27 kecamatan tergolong daerab endemik GAKI, dan 18 kecamatan non endemik GAKI (Lampiran 2). Dari 45 kecamatan endemik tersebut, 18 kecamatan diantaranya tergolong daerab endemik ringan dengan prevaleosi total goitre rate (TGR) 5.0-19.9%, 7 kecamatan tergolong sedang dengan prevaleosi TGR 20.0- 29.9% dan 2 kecamatan tergolong endemik berat dengan prevalensi TGR ~ 30.0%Dalam penelitian ini ada 3 kecamatan yang terpilih sebagai lokasi penelitian yaitu 2 kecamatan yang sudah memperoleh interveosi yaitu
Desa
Cikakak, Kecamatan Cikakak yang mendapat ProgramSocial EnJorecement
UNICEF (TGR sebesar 17.2%), dan Desa Kadudampit, Kecamatan Kadudampit yang mendapat tnterveosi Pemerintah (TGR sebesar 27.7"10), serlaDesa
Sukaresmi, Kecamatan Cisaat yang tidak mendapat intervensi (TGR sebesar 8.3%) sebagai pembanding.Kecamatao Cikakak, Kadudampit, dao Ci .. at Kecamatao Cikakak
Luas wilayah Kecamatan Cikakak tercatat 12 599 Ha atau 3.08 persen
dan luas Kabupaten Sukabuini. Kecamatan Cikakak terletak pada ketinggian 170 meter di alas permukaan laut, dengan temperatur 34'C dan curab hujan I 680 mmltahun. Bontuk wilayah Kecamatan Cikakak adalah datar sampai berombak 15%, berombak sampai berbukit 70% dan berbukit sampai bergunung 15%.
Jarak Posat Pemerintaban Kecamatan dengan Desa/Keluraban yang terjauh 22 km, dengan ibu kota KabupatenIKota 6 km, dengan ibu kota Provinsi 126 km dan ibu kota Negara 186 km.
Wilayah Kecamatan Cikakak berbatasan dengan sebelah utara: Kabupaten Bogor, sebelah selatan: Samudera Indonesia, sebelah timor: Kecamatan Palabuban Ratu, dan sebelah bara!: Kecamatan Cisolok.
Secara administrasi Keeamatan Cikakak terdiri dan 7 desa, yaitu Cimaja, Cikakak, Ridogalih, Sukamaju, Cileungsing, Margalaksana dan Sirnarasa Desa Cikakak merupakan sa1ah salo desa yang terpilih sebagai lokasi dalam penelitian ini. Kecamatan Cikakak todiri dan 72 Rnkun Warga (RW) dan 197 buah Rnkun Tetangga (RT).
Berdasarkan hasil registrasi penduduk bulan Mei tahun 2004, jurnlah penduduk Kecamatan Cikakak ada1ah 35627 orang yang terdiri dan 18 135 orang laki-Iaki dan 17 492 orang perempuan yang merupakan anggota dan 4 099 kepala keluarga Tingkat kepadatan penduduk adalah 283 orang per km'.
Lapangan pekeIjaan utarna dan penduduk Kecamatan Cikakak meliputi petani 33.54%, nelayan 0.38%, pengosaba sedanl¥besar 0.04%, pengrajinlindustri keeil 3.71%, buruh 13.22%, pedagang 2.38%, pengangkutan 7.64%, Pegawai Negerl Sipil (PNS) 1.80%, ABRl 0.02%, pensiunan 0.35% petemakan 0.06% dan lain-lain 36.87%.
Pelaksanaan Program
Social Er!forcement-UNICEF di
Desa Cikakak Kegiatan program kesebatan da1am pembangunan menuju Cikakak Sebat 2008 diantaranya adalah Program TABULIN (Tabungan Ibu Bersalin) dan Kemitraan Bidan dengan Dukun Paraji; Program Sanilasi Dasar dan Sentra Pruduksi; Posyandu dan Mernasyarakatkan Garant Beriodiurn.Program memasyarakatkan garam beriodium atau yang dikenal dengan Program Social Enforcement merupakan salah salo program di bidang kesehatan dalam upaya penanggolangan GAKI keIjasama antara Pernerintah Daerah Kahupaten Sukaburni dengan UNICEF di Desa Cikakak, Kecarnatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi.
Program Social Enforccement (penegakan Norma Sosial) dapat dipahami sebagai suatu kondisi di mana warga masyarakat melakukan suatu tindakan kolektif untuk menegakkan nonna dan nilai yang dilandasi kesadaran mereka alas hak-haknya. Adapun Iojuan program ini adalah
supaya satu-satunya garam konsumsi rumah taogga yang tersedia di pasar secara memadai adalah yang beriodium dengan kandungan iodium yang cukup (~ 30 ppm) dan sesuai dengan Staodar Nasional Indonesia.
Pelaksanaan program Social Enforecement UNICEF garam beriodium ini dilaksanakan pada bulan Januari 2001 sampai Desember 2003. Adapun alasan dipilibnya Desa Cikakak sebagai tempat dilakukan uji coba program garam beriodium ini karena di Desa Cikakak sudah mempunyai suatu wadah kegiatao yang sudah beIjalan juga merupakan keIjasama dengan UNICEF yaitu Program TABULIN (Tabungan Ibu Bersalin) yang dilaksanakan pada bulan Januari 2001.
Melalui dana yang ada pada program T ABULIN dengan bantuan dana dari UNICEF inilah program Social Enforcement UNICEF garam beriodium di Desa Cikakak dilaksanakan. Pendanaan diperoleb dari pengrunpulan dana dari masyarakat sampai bulan Agustus 2002 yaitu sebesar Rp 20 626 500,-dan dana bantuan dari UNICEF sebesar Rp 37 500 000,-, sehingga jumlah total dana adalah sebesar Rp 58 126 500,-. Dana tersebut Rp 37 500 000,-disimpan di BPR dengan bunga sebesar 2% dan Rp 20 626 500,- diusahakan oleh pengusaba dan kader yang ada di Desa Cikakak dengan bunga sebesar 3% (Catatao 3% adalah basil usaha. penjualan garam beriodium). Pengalokasian dana tersebut antara lain digunakan untuk:
a. Jasa tenaga paramedis (Bidan) : Rp 100000,-ikasus b. Jasa tenaga paraji : Rp 50000,-ikasus c. BiayaATK
d. Biaya operasional
: Rp 25000,-ikasus : Rp 200 OOO,-ikasus
e. Pinjarnan modal dalarn rangka menyediakan garam beriodium untuk mensuplay masyarakat yang jauh dari warung/toko oleb kader.
Proses Pelaksanaan Program Garam Beriodium (Program Social
Etiforcement UNICEF) di Desa Cikakak ada1ab sebagai berikut:
1. Sosialisasi
a. Sasaran yaitu RT, RW, kepala dusun, tokoh masyarakat dan kader posyandu di Desa Cikakak.
-b. Pembentukan tim sweeping program ganun beriodiwn di Desa Cikakak.
c. Pelatiban karler untuk memasyarakatkan garam beriodiwn selama 4 ban di Desa Cikakak.
2. Kegiatan Sweeping
Mengadakan sweeping lapangan oleb tim dan
kader
selama 4 ban dengan sasaran:a. Warungltoko yang ada di Desa Cikakak sebanyak 87.
b. Warga masyarakat yang ada di Desa Ciakkak sebanyak 1 208 KK.
3. Melaksanakan Musyawarah Masyarakat
Deaa (MMD)a. Melaksanukao presentasi basil kegiatan sweeping oleh tim.
b. Membuat kesepakatan bersama untuk mengatasi permasalahao tentang gararn beriodium.
4. Penyuluban dan Promosi
a. Melakukao penyuluhan tentang ganun beriodium kepada masyarakat
dan pemilik warungltoko yang ada di Desa Cikakak.
b. Melakukian promosi produksi ganun yaog mengandung iodium secara kontinyu setiap kegiatan posyaodu dan pengajiao ibu-ibu yaog dilakukan oleh kader.
5. Evaluasi daD Pemantauan
a. Mengadakao sweeping oleh tim secara kontinyu per tri wulan kepada seroua warungltoko yaog ada di Desa Ciakakak.
b. Melakukao pengambilao sampel penggunaan ganun beriodium yang ada di masyarakat Desa Cikakak.
Berdasarkao basil evaluasi yaog dilakukao oleh tim pelaksana garam beriodiwn pada akhir tabun 2003 diperoleh basil bahwa sebelum adanya program memasyarakatkan garam beriodium melalui program Social Enforcement UNICEF, masyarakat Desa Cikakak yaog mengkonsumsi ganun beriodium hanya sebesar 22.26%, setelah adanya program memasyarakatkao ganun beriodium melalui program Social Enforcement UNICEF mengalarni peningkatan yang sangat berarti menjadi 98.7%. Selain
itu seluruh warungltoko yang ada di Desa Cikakak yaitu 87 toko, 100% menyediakan garam yang mengandung iodium.
Sampai saat ini penyediaan garam beriodium masih terus berlangsung melalui Posyandu-Posyandu dan warungltoko di Desa Cikakak. Bahkan pada saat penelitian berlangsung di Desa Cikakak tersedia pula garam beriodium 30-80 ppm diperkaya dengan zat besi 500 ppm dan vitamin A 50 ppm yang dikenal dengan nama Progizi. Harga garam Progizi ini dijual di Posyandu-Posyandu di Desa Cikakak dengan harga Rp I 500,- setiap bungkusnya (250 gram). Keuntungan hasil penjualan garam tersebut sebesar Rp 200,- tiap kantong dialokasikan untuk kepentingan sosial dana persalinan di Desa Cikakak. Penyediaan garam Progizi ini atas kerjasama Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi dengan Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat.
Kecamatan Kadudampit
Luas wilayab Kecamatan Kadudarnpit adalab 5 420 175 Ha yang meliputi 9 desa, 27 dusun, 63 Rukun Warga (RW) dan 265 Rukun Tetangga (R T). Kesembilan desa tersebut adalab Gedepangrango, Kadudarnpit, Sukamaju, Sukamanis, Citamiang, Cipetir, Cikahuripan, Muaradua dan Undrusbinangun. Salab satu desa diantaranya terpilih sebagai lokasi dalam penelitian ini yaitu Desa Kadudarnpit.
Kecamatan Kadudarnpit merupakan daerab berbukit dengan ketinggian lebih kurang 900 meter di atas permukaan laut dengan temperatur sekitar 40'C dan curab hujan 3 500 mm/tabuo. Sehingga dimungkinkan daerab ini delisit akan mineral iodium. Hal ini teIbukti babwa kecamatan Kadudarnpit merupakan daerab endemik gondok dengan kategori sedang (TGR sebesar 27.7%).
Batas-hatas wilayab Kecamatan Kadudarnpit adalab sebagai berikut sebelab utara berbatasan dengan kehutanan Desa Gede pangrango, sebelab timur beIbatasan dengan Kecamatan Sukaburni, sebelab selatan berbatasan dengan Kecarnatan Cisaat, dan sebelab barat beIbatasan dengan Kecamatan
Berdasarkan basil registrasi penduduk bulan Mei tahun 2004, jumlah penduduk Kecamatan Kadudampit adaIah 46 482 orang yang terdiri dati 23 282 orang lalti-Ialti dan 23 200 orang perempuan yang merupakan anggota dari II 832 kepala keluarga. Tingkat kepadatan penduduk adaIah 0.86 atau
I (satu) orang per km'.
Lapangan pekeIjaan utama dari penduduk Kecamatan kadudampit adaIah 40.11% bekerja sebagai petanilburub tani, 8.07";' bekerja sebagai pedagang, 9.0% bekeIja sebagai buruhlkaryawan, 1.11 % bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), 0.07% bekerja sebagai TNI/POLRI , pensiunan sebanyak 0.58% dan lain-lain sebanyak 41.06%.
Pelaksaoaan Program Intervensi Pemerintah di Dess Kadudampit Dari hasil pemantauan GAKI pada tahun 2002 Tolal Goitre Rate (TGR) Kecamatan Kadudampit sebesar 27.7% termasuk daerah endemik sedang. Pemerintah dalam upaya penanggu1angan GAKI sudah melakukan pelaksanaan kegiatan intervensi dalam dua tabap yaitu jangka pendek dengan pemberian kapsul minyak iudium dan jangka panjang dengan promosi garam beriodium.
Desa Kadudampit adalah merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Kadudampit
dimana
sejak tahun 1998 telah menerima intervensi dari Pernerintah. Dalam menanggulangi masalah GAKI kegiatan yang sudah dan sedang dilaksanakan oleh Puskesmas Kadudampit mengacu padaketentuan yang berlaku.
Penanggulangannya dilakukan dalam 2 tabap yaitu : I. Penanggulangan jangka pendek
Dilakukan melalui pemberian kapsul minyak iodium pada anak SDIMI, wanita usia subur (WUS) dan pada ibu bamil.
2. Penanggulangan jangka panjang
a. Melalui kegiatan iodisasi garam beriodium. b. Penyuluhan atau kampanye garam beriodium.
Adapun kegiatan yang dilaksanakan oleh Puskesmas Kadudampit adalah sebagai berikut:
I. Pemberian kapsul minyak iodium (kapsul iodol), sasaran wanita usia subur (WUS) dan ibu hamil (BUMIL) satu kah setahun dengan penanggungjawah Puskesmas dan Desa.
2. Palpasi gondok, sasaran anak sekolah dasar (SD) dengan penanggung jawab Puskesmas dan Sekolah.
3. PenyuluhanJkampanye garam beriodium, yang dilakukan tiap tiga bulan sekali dengan sasaran semua masyarakat dan penanggung jawab sektor terkait.
4. Pemantauan garam pada tingl<.at masyarakat dan warung, dengan sasaran
anak SDIMI, rumah tangga dan warung serla penanggung jawab Puskesmas, Sekolah dan Desa.
5. Pemantauan garam pada tingkat produsen, sasaran produsen garam dengan penanggungjawab sektor terkait dan Pemda Tingkat II.
6. Monitoring dan evaluasi, dilakukan tiap saat dengan sasaran sektor terkait dengan penanggungjawah adalah kecamatan
Kecamatan Cisaat
Luas wilayah Kecamatan Cisaat tereatat 2 163.04 Ha atau 0.52 persen
dari luas Kabupaten Sukabumi. Sebagian urnum wilayah berupa tanah sawah dan tanah kering, yaitu sekitar 55.60% dan 12.35% dari luas wilayah
Kecamatan Cisaat.
Kecamatan Cisaat terletak pada ketinggian 500-550 meter di atas permukaan laut. Kecamatan Cisaat yang mulanya adalah ibukota Kabupaten Sukaburni sebelurn pindah ke Pelahuhanratu terletak di bagian tengah Kabupaten Sukaburni. Secara geografis terletak di bagian selatan garis khatulistiwa, diantara 0'20'002"BB dan 0"17'30"BT.
Batas-batas wilayah Kecamatan Cisaat adalah sebagai berikut sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Kadudampit, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Gunungguruh, sebelah timur berbatasan dengan Kota Sukaburni, dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Cicantayan dan
Secara administratif Kecamatan Cisaat terdiri dari 13 desa, 134 Rukun Warga (RW), dan 492 Rukun Tetangga (RT). Desa yang tennasuk kategori pedesaan adalah Bahakan dan Gunungjaya, sedangkao yang tennasuk kategori perkotaan aclalah Nagrak, Cibatu, Sukamantri, Sukamanah, Padaasib, Cisaat, Cibolangkaler, Kutasirna, Selajambe, Sukasari, dan Sukaresmi. Salah satu desa diantaranya terpilih sebagai lokasi dalam
penelitian ini yaitu Desa Sukaresmi.
Berdasar Biro Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sukahumi pertengahan tahun 2003,jumlah penduduk Kecarnatan Cisaat adaIah 104 789 orang yang terdiri dari 52 754 orang laki-Iaki dan 52 035 orang perempuan yang merupakan anggota dari 24 567 kepala keluarga Rata-rata tingkat kepadatan penduduk adaIah 4 845 orang per km'.
Lapangan usaha yang ada di Wilayah Kecamatan Cisaat adaIah di bidang Pertanian, Pertambangan dan Penggalian, Industri Pengolahan, Listrik, Gas dan Air Bersib, Bangunan, Perdagangan, Hotel dan Restoran, Pengangkutan dan Komunikasi, Keuangan, Persewaan dan Jasa-jasa. Diman. sektor percIagangan, Hotel, dan Restoran mempunyai peranan yang culrup besar y.itu sekitar 27.05% dari pendapatan regional Kecamatan Cisaat. Sektor Pertanian menduduki peringkat kedua yaitu 25.70%, kemudian diikuti sektor Industri Pengolahan dan sektor J asa-jasa masing-masing sebesar 14.68% dan 14.03%. Sektor Listrik, Gas, dan Air Minum menempati urutan terbawah dengan peranan sebesar 1.69%.
Gambaran Keadaan Des. Sukaresmi yang belum mendapat Intervensi Pemerintah
Dalarn upaya penanggu1angan GAKJ, Desa Sukaresmi merupakan salah satu desa yang ada di Kecarnatan Cisaat yang sampai saat ini belum
mendapat intervensi pemerintah secara khusus. Berdasarkan survei GAKI
Dinas Kesebatan Kabupaten Sukahumi tahun 2002, Des. Sukaresmi termasuk kedalarn Kecamatan Cisaat dengan kategori daerah endemik ringan dengan TGR 8.3% . Narnun pihak Puskesmas Kecamatan Cisaat dalarn usahanya untuk meningkatkan kesebatan m.syarakat, penyuluban-penyuluhan mengenai masalah GAKJ dan gararn beriudium dilalrukan secara
integrasi dengan penyuluban di Posyandu Diantaranya penyuluban Desa Sehat meliputi Kesehatan Ibu dan ADak (KIA), imunisasi, sanitasi bersib dan gizi (sadar gizi).
Selain itu karena Desa Sukaresmi ini letaknya dekat dengan kota maka masyarakatnya dapat dengan mudah mengakses
garam
beriodium. Selain itu masyarakat memperoleh infonnasi tentang masalah GAKI dan gararnberiodium dari radio, televisi. koran dan lain-lain.
Karakteristik Contob
Contoh daIarn penelitian ini berjumlah 130 orang dengan perincian 70 orang dan daerah endemik yang mendapat program Social Enforcement UNICEF, 30 orang dari daerah endemik yang mendapat Intervensi pemerintah dan 30 orang dan daerah endemik yang tidak mendapat intervensi pemerintah. Umur contoh berkisar antara 22~5 tahun dengan persentase terbesar (50.8%) berada pada kelompok umur < 35 tahun, dengan rata-rata umur contob 35.12± 6.99 tahun, dimana 33.2 tahun di daerah yang mendapat program Social Enforcement
UNICEF, 37.7 tahun di daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah dan 37.1 di daerah yang tidak mendapat Intervensi Pemerintah. Secara keseluruban terlihat bahwa contoh dalarn hal ini ibu keluarga masih berada pada usia subur artinya kemarnpuan untnk reproduksi masih tinggi
(KaIyadi,
1992). Wanita usia subur (WUS) bila hamil dan menderita kekurangan iodium sering melahirkan bayi yang terganggu pertumbuban fisik, mental dan inte1ektualnya, selain itu banyak ibu hamil yang kekurangan iodium melahirkan hayi yang matisesaat
setelah dilahirkan dan dampak yang paling herat adaIah melahirkan bnyi yang bisu dantuli (JalaI, 1998).
Tingkat pendidikan contoh sebngian besar (65.4%) adaIah rendab (SD), dimana 61.4% di daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF, 66.7% di daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah dan 73.3% di daerah yang tidak mendapat intervensi. Persentase contoh yang berpendidikan meoengab dan
tinggi di daerah yang mendapat Program Social Enforcement UNICEF (38.5%), lebih tinggi di bandingkan pada daerah yang mendapat lntervensi Pemerintah
yaitu sebesar 33.3% dan hanya 26.7% di daerah yang tidak diintervensi, hanya sampai pada jenjang pendidikan menengah.
Sebaran contoh berdasarkan karakteristik contoh, serta daerah yang
mendapat program Social Enforcement
UNICEF.
Intervensi Pemerintahdan
yangtidak mendapat intervensi di daerah endemik GAKI dapat dilihat pada Tabel3. Tabel 3 Sebaran Contoh Berdasarkan Karakteristik Contoh, Serta
Jenis Intervensi
No. JENIS INTERVENSI
VARIABEL SE I IP n I % I n % Kel.omDOk Umur: 1. < 35 tabun 46 65.7 12 40.0 2. 35 45 tahun 23 32.9 15 50.0 3. >45 tabun I 1.4 3 10.0 Rata-rata 33.2±S.9 37.7±8.9 Tingkat Pendidikan : 1. Rendah(SD) 43 61.4 20 66.7 2. Menengah(SMP- 26 37.1 9 30.0 SMA) 3. Tin"'; (SI) I 1.4 I 3.3
Pekerjaan Kepala Keluarga :
1. Petani 2 2.9 I 3.3 2. 8wuh 22 31.4 17 56.7 3. I Karvawan 4 5.7
-
-4. PcdaganglWira- 35 50.0 9 30.0 swasta 5. P . . . waiNeoeri 7 100 3 100 6. Pcnsiunan-
-
-
-Pend.palaa Kel ulan (Rp):
1. <Rp 450 000 35 50.0 9 30.0 2. 450000-750000 27 38.6 14 46.7 3. > Ro 750000 8 11.4 7 23.3 Rata-ma .70000 593.333 BesarKelu : 1. Kecil ( S 4 orang) 42 60.0 12 40.0 2. Sedan, 5-8 Orang) 27 38.6 18 60.0 3. Besar ( > 8 Ol'lllm ) I 1.4
-
-Rata-"'" 4.60 ".90 Keterangan. SE" Program Social Enforcement UNICEFIP "" Intervensi Pemerintah TIP: Tidak: Diintervensi
TIP JUMLAH D % n 'Y. 8 26.7 66 50.8 21 70,0 59 45.4 I 3.3 5 3.8 37.106.0 35.1206.99 22 73.3 85 65.4 8 26.7 43 33.1
-
-
2 I.S I 3.3 4 3.1 21 70.0 60 46.2-
-
4 3 1 8 26.7 52 40.0-
-
10 7.6-
-
-
-18 60.0 62 47.7 8 26.7 49 37.7 4 13.3 19 14.6 456 667 495 385:U71 069 11 36.7 65 50.0 19 63.3 64 49.2 --
I 0.8 5.17 4.80,01.32PekeJjaan kepala keluarga (KK) sebagian besar (46.2%) adalah buruh, dimana di daerah yang mendapat Program Intervensi Pemerinlah dan di daerah
yang tidak mendapat intervensi adalah 56.7% dan 70.0%, sedangkan di daerah
daerah yang mendapat Program Social Enforcement UNICEF hampir separuhnya yaitu sekitar 50.0% kepala keluarga contoh bekerja sehagai pedagang/wiraswasta. Sekitar 7.6% dari keseluruhan KK contoh bekerja sehagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), dimana masing-masing sebenyak 10.0% KK contoh didaerah yang mendapat Program Social Enforcement UNICEF dan di daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah, namun di daerah yang tidak diintervensi tidak ada KK contoh yang bekerja sebagai PNS. Sementara KK contoh yang bekerja sehagai petani sangat sedikit sekali yaitu hanya ~.l %, dimana 2.9% di daerah yang mendapat Program Social Enforcement UNICEF, sedangkan di daerah yang mendapat Intervensi Pemerintab dan daerah yang tidak diintervensi masing-masing sebesar 3.3%. Sedangkan KK contoh yang bekerja sebagai karyawan hanya terdapat di daerah yang mendapat Program Social Enforcement UNICEF saja yaitu sebagai karyawan hotel yaitu sebanyak 5.7%, hal ini dikarenakan lokasi Desa Cikakak ylmg mendapat Program Social Enforcement UNICEF berada di Pantai Palabuhan Ratu tempat wisata banyak terdapat hotel untuk tempat istirahat
para
wisatawan.Pendapalan keluarga dalam hal ini adalah jumlah pendapatan yang diperoleh anggoia keluarga yang dihitung dalam rupiah (Rp) per bulan. Pendapalan keluarga per bulan umumnya (47.7%) kurang dari Rp 450 000,- dimana 50.0% di daerah yang mendapat Program Social Enforcement UNICEF, 30.0% di daerah yang
menciapat Intervensi Pemerintah
dan
60.0% didaerah
yangtidak
mendapatintervensi. Rata-rata pendapatan keluarga per bulan adalah Rp 495 385±27l 069; dimana Rp 470 000,- di daerah yang mendapat Program Social Enforcement
UNICEF, Rp 593 333,- di daerah yang mendapat Intervensi Pemerintab dan Rp 456 667,- di daerah yang tidak mendapat Intervensi Pemerintab.
Besar keluarga diukur dari jumlah anggota keluarga contoh yang terdiri dari
ayah, ibu dan anak yang berdiam dalam satu rumah langga. Jumlah anggota keluarga contoh bervariasi dari tiga sampai sepuluh orang dengan rata-rata 4.80±1.32 orang, dimana 4.6 orang di daerah yang mendapat Program Social Enforcement UNICEF, 4.9 orang di daerah yang mendapat Intervensi Pemerintab dan 5.2 orang di daerah yang tidak menerima intervensi pemerintab 4.6 dan 4.9.
Kadar lodium Urine Anak Seknlah Da .. r Keluarga Contoh Kadar iodium urine merupakan salah satu cara yang dapot digunakan untuk menentokan tingkat endemisitas GAKI suatu daerah (Dep Kes RI, 1997). Menurut Stanbwy dan Pinchero 1994 dalam Hartoyo dkk, 1994 menyatakan hahwa hampir semna (90%) iodinm dalam tubub diekskresikan melalui urine sehingga pengukuran kadar iodinm urine merupakan salah satu indikator yang baik nntuk menguknr jumlah asupan iodinm yang dikonsumsi.
Hasil analisa kadar iodium urine (urinary iodine excretion ~ VIE» anak sekolah dasar dari keluarga contoh pada daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF, lnterveosi pernerintah dan yang tidak diinterveosi dapat dilihat pada Tabe14.
Tabel 4 Seharan Hasil Analisa Kadar lodium Urine Sampel Anak Sekolah Dasar Dari Keluarga Contoh menurut Jenis Intervensi
Median Rata-rata
Jenis
1::1)
Kadar Iodium Urine KadarIntervensi Iadium Urine
< 100 I12fl 100-100ullfl > lOOI12fl (ullfll
n % n % n % Social Enforcement 201
.
.
7 46.7 8 53.3 224.53*70.861 Intervensi Pernetintah 173.5 2 20.0 5 50.0 3 30.0 182.4"78.269 Tidak Diintervensi 231-
.
4 40.0 6 60.0 239.7±79.040Dati Tabel 4 dapat dilihat bahwa dengan menggunakan batas kecnkupan nilai median VIE I 00 ~Wl, temyata populasi anak sekolah dasar dati daerah yang diteliti tidak mengaiami ke1rurangan iodium berarti status iodinnmya normal. Kadar iodium urine ini hanya memberikan gambaran kandungan iodium dalam urine sesaat pada waktu penelitian dilaknkan.
Tingginya kadar iodium urine diduga disebabkan oleh beberapa hal diantaranya karena pada saat diambil urine mereka baru saja mengkonsumsi makanan yang kandungan iodinnmya tinggi. Selain itu di duga karena kemungkinan mereka yang terambil sebagai sampel pada umumnya telah menggunakan garam beriodinm dengan kandungan iodium yang memenuhi
-persyaratan (2:30 ppm), dan selain itu berdasarkan data basil kuesioner diperoleh jawaban pada umumnya keluarga menggonakan garam beriodiwn dengan sesukanya, dimana berdasar hasH data kuesioner temyata keluarga contoh secara keseluruhan pada wnumnya frekuensi pemakaian garam beriodium 3-4 kali sehari adalah sebanyak 50% (TabeI6). Pada hal menurut Dep Kes RI (1999) menyatakan
bahwa setiap orang dianjurkan mengkonswnsi garam beriodium sekitar 6 gram atau satu sendok teh setiap hari. Sehingga apabila mereka terns menerus mengkonswnsi garam beriodiurn maka ada kemungkinan mereka akan kelebihan iodiwn dalam tubuhnya dan bisa menyebabkan hipertiroid.
Menurut Djokomoeljanto (1994), menyatakan bahwa kelebihan konsumsi mineral iodiwn juga dapat menyebabkan timbulnya gondok endernik. Kelebihan iodiwn teljadi apabila konsumsi iodiwn dalam dosis yang sangat tinggi, sehingga melebihi jwn1ah yang diperlukan untuk sintesis honnon secara fisioiogis. Cara kelja dari kadar iodiurn yang berIebihan ini sama dengan bahan makanan goitrogenik, yaitu dengan menghambat proses pembentukan hormon tiroksin.
Uji Statistik I-Iesl (Lampiran 9, 10 dan 11) menunjakkan bahwa rata-rata kadar iodium urine antara daerah penelitian dengan jenis intervensi yang
berbeda
tidak berbeda nyata (p>O.05). Dimana di daerab yang mendapat program Social Enforcement UNICEF rata-rata kadar iodiurn urine sebesar 224.53±70.861~gIl, di daerab Intervensi Pemetintah 182.40±78.269 ~gIl dan di daerab yang tidak di intervensi sebesar 239.70±79.040 ~gIl.
Peri1aku Keluarga T erhadap Kejadian GAKI dan Perlaknan lerhadap Penggunaan Garam Beriodium
Perilaku individu meliputi segala sesuatu yang menjadi pengetahuannya (knowledge). yang menjadi sikapnya (attitude) dan yang biasa dikeljakannya (action). Perilaku muneul sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya (Leageugs dalam Pranadji, 1988).
Tingkat pengetahuan, sir.ap, dan perilaku keluarga terbadap GAK! dan garam beriodiwn dinilai dari skor jawaban yang diberikan oleh contoh terhadap beberapa pertanyaan yang diajukan. Sebaran eontoh berdasarkan tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku keluarga (kebiasaan, tindakan, cora penyimpanan, dan penggunaan garam beriodiwn) terhadap kejadian GAK! dan
perlakuan terhadap penggunaan garam beriodiwn scrta jenis intervensi dapat dilihat pada Tabel 5. Dalam penelitian ini yang diuji secara statistik hanya daerah yang mendapat
prognun
Social Enforcement UNICEF dan daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah ,aja. Karena akan dilihat apakah ada perbedaan pengetahuan, sikap dan perilaku keluarga terhadap kejadian GAKI dan perlakuan terhadap penggunaan ganun beriodium ,etelab mereka mendapat penyuluhan yang diberikan oloh Puskesmas Kecamatan. Uji statistik yang digunakan adalab uji beda (t-test) dengan tand'kepercayaan 95% (a={).05).Tabel 5. Sebaran Contoh berdasarkan Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Keluarga (Kebiasaan, Tindakan, Cara Penyimpanan dan Penggunaan Garam Beriodium) Serta Jenis Intervensi
lEN!S INTERVENSI
No. VARIABEL SE 10-70) IP 10=30) TIP 10=30)
0 % n % I 0 %
Pemzetahuan Tentang GAK! dan R8I'8.IIl Beriodium 18
I. Rcndah
«
60%) (Skor 1-10) 6 8.6 2 6.7 9 30.02. S 6O-S00A) (Skor 11-14) 41 58.6 16 53.3 19 63.3 3. Baik (>800/0) (Skor 15-18) 23 32.8 12 40.0 2 6.7 Rata-rata Klasifikasi 13.5%2.03 13.97:U.92 11.40<1.59
Rata-rata Skor 0.75 0.78 0.64
Sika Terhadap OAKl dan aaram Beriodium 20
I. Ne~ 25 35.7 13 I 43.3 14 I 46.7
2. Positif 45 64.3 17 I 56.7 16 I 53.3
Rata-rata Skor 1.84 1.89 1.87
KcbWaanT OAK! dan Garam Bcriodium (7 un
I. Rondah 12 17.1 6 20.0 3 }O.O
2. Sedan. 45 64.3 19 63.3 27 90.0
3. Bail< I3 18.6 5 16.7
-
-Rata-rata Skor 3.10 3.06 3.05
Perilaku K meli
'II1dWn Terhadap OAK! dan guam beriodium (5 pertanyaanl
I. Rondah II IS.7 4 13.3 4 13.3
2. Sedano 43 61.4 26 86.7 24 80.0
3. Baik 16 22.9
-
-
2 6.7Rata-rata Skor 3.20 3.40 3.13
Cara Penyimpanan Garam Beriodium mefiputi: A. BeotuIi: wadah pcuyimpan.an garam
I. Salah Skor: 0 4 5.7
-
.
2 6.72. Benar Skor: I 66 94.3 30 100.0 28 93.7
Rata-rata Skor 0.94 1.00 0.93
B. Wama Tempat Garam
I. Sol"" (5'"", 0) 65 92.9 27 90,0 26 86.7
2. "'"" (5'"" I) 5 7.1 3 10.0 4 I 13.3
JENIS INTERVENSI
No. VARIABEL SE (n 70) IP (lP30)
n % n %
I
c. Bahan Wadah van. di
1. KuaIitas tidak baik (Skor: 1 5 7.1 -
-2. Kualitas baik (Skor: 2)_
-
- 19 63.3 3. Kualitas baik SkOT: 3} 52 74.3 5 16.74. Kualitas terbaik (Skor: 4) 13 18.6 6 20.0
Rata·rata SkOT 3.01 2.57
D. Tmmat Pen . Garam
1. Tidak sesuai haraoan (Skor:O) 4 5.7
-
-2 Kuraml sesuai haraoan SkoT: 1-
- - -3. Sesuai harapan (Skar: 2) 66 94.3 30 100.0Rata-rata SkoT f89 2.0
Pen Garam 8eriodium
A KanduIl28Jl Iodium Garam Konsumsi
1. Tidak beriodium Skor: 0 6 8.6
-
-2. < 30 Dom (Skor: 1) 15 21.4 3 10.0 3. > 30 ppm SkaT: 2 49 70.0 27 90.0Rata-rata SkoT 1.60 1.90
B. Frekuensi Pemakaian Garam Beriodium
1. Tidak Demah (Sker: 0 6 8.6 -
-2. 1-2 katiIbari Skar:}) 24 34.3 13 43.3
3. 3-4 kali1hari SkOT: 2 40 57.1 17
Rata-rata SkOT 1.53 1.57
-Keterangan. SE SocIQI Enforcement UNICef
IP Intervensi Pemerintah TIP "" Tidak Diintervensi
Skor pengetahuan: 0 = salah SkOT sikap: 1 = tidak setuju
1 = benar 2 = setuju SkoT kebiasaan dan tindakan: 0 = sangat tidak sesuai harapan
1 = tidak sesuai lwapan
56.7
2 ~ meragukanlcenderung salah 3 = agak sesuai harapan 4 = sesuai barapan Tingkat Pengetahuan Keluarga
TIP (n 30) n % -
--
-27 90.0 3 10.0 3.10 1 3.3 --29 96.7 1.93
-
-4 13.3 26 86.7 1.87 --22 73.3 8 26.7 1.27
Pengetahuan tentang kejadian GAK! dan perlakuan terhadap penggunaan garam beriodium mencal<up sumber informasi tentang GAK! dan garam beriodium, pengertian tentang GAK! dan garam beriodium, apa penyebab, akibat
kekurangan iodium, cam pencegahannya, siapa saja yang bisa terkena gondok,
dimana banyal< orang terkena gondok dan cara membedakan garam beriodium dengan yang tidal< mengandung iodium.
Tingkat pengetabuan keluarga tentang kejadian GAK! dan perlakuan terhadap penggunaan garam beriodium di daerab yang mendapat program Social Enforcement UNICEF sebanyal< 58.6% berada pada kategori sedang, dan 53.3% berkategori sedang di daerab yang mendapat Intervensi Pemenntab Sebagai
pembanding temyata di daerah yang tidak mendapat intervensi pemerintab berkategori sedang lebih tinggi yaitu 63.3%. Namun di daerah dengan program Social Enforcement UNICEF dan Intervensi Pemerintab yang berkategori baik lebih tinggi yaitu 32.8% dan 40.0% dibandingkan dengan di daerah yang tidak diintervensi banya 6.7%. Selain itu di daerah yang tidak diintervensi pengetabuan GAKI dan garam beriodium berkategori rendah cukup banyak yaitu sebesar
30.0%, sedangkan eli daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF hanya 8.6% dan di daerah Intervensi Pemerintab banya 6.7%. Hal ini menunjukkan bahwa di daerah penelitian yang telah mendapat suatu intervensi dalarn upaya penanggulangan GAKI menunjukkan tingkat pengetabuan contoh cukup baik dibandingkan dengan daerah yang belum mendapat intervensi dari pemerintah.
Hal ini diperlihatkan dengan data rata-rata skor dari pertanyaan yang diberika.~ di daerah yang mendapat Intervensi Pemerintab lebih tinggi yaitu 0.78, di daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF mta-mta skomya adalah 0.75, dan di daerah yang tidak mendapat intervensi mta-rata skomya banya 0.65 (Lampiran 5), artinya bahwa di daerah yang mendapat Intervensi pemerintab jawaban atas pertanyaan yang diberikan pada umumnya hampir mendekati benar. Narnun ada pertanyaan tentang bempa banyak garam beriodium yang dianjurkan untuk di konsumsi per orang per hari yang banya bisa dijawab oleh bebempa contoh dengan benar yaitu di daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF sebanyak 25.7% yang dapat menjawab dengan benar, di daerah yang mendapat Intervensi pemerintah dan
di
daerah
yang tidak mendapat intervensi masing-masing banya 10.0% .contoh yang bisa menjawab benar. Sedangkan pertanyaan tentang perubahan warna yang teljadi bila garam yang mengandung iodium dites dengan iodium tes. di daerah yang tidak mendapat Intervensi Pemerintab banya 3.3% contoh yang dapat menjawab pertanyaan dengan benar, hal ini di duga karena contoh belum mendapat pengetabuan tentang garam beriodium sehingga mereka tidak mengetahuinya (Lampiran 5).Pada umumnya contoh mengetabui dengan baik masalah GAKI tetapi masih kurang memaharni masalah gararn beriodium hal ini ditunjukkan oleh rendahnya persentase contoh yang menjawab pertanyaan tentang garam beriodium dengan
benar (Lampiran 5). Berdasarkan basil uji statistik t-test (Lampiran 8) menunjukkan bahw. tingk.t pengetabuan keluarga tentang GAK! dan garam beriodium antar. daerah yang mendapat prognun Social Enforcement UNICEF dengan daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah tidak berbeda nyata (p>O.05). Hal ini diduga karen. tingk.t pendidikan formal contoh dari basil uji statistik juga tidak berbeda nyala, yaitu pada umumnya sebagian besar di kedua daerah tersebut berpendidikan sekolah dasar sebanyak 61.4% di daerah yang mendapat prognun SocIal Enforcement UNICEF dan 66.7% di daerah yang
mendapat Intervensi Pemerintah, sehingga dalarn menyerap dan memahami
pengetahuan yang diberikan oleh tenaga penyuluh melalui penyuluhan tidakjauh berbed •. Rata-rata jumlah skor (rata-rata klasifIkasi) pengetahuan contoh tentang GAK! dan garam beriodium berdasarkan jawuhan yang benar di daerah yang mendapat prognun Social Enforcement UNICEF adalah 13.59_ lebih rendah dari daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah sebesar 13.97. Hal ini didug. karena adanya peran guru-guru di sekolah dasar di
daerah
yang mendapatIntervensi Pemerintah memberikan materi yang berhubungan dengan GAKI dan
garam beriodium dalaro mata pelajaran sekolah sehingga dimungkinkan pengetahuan contoh tentang GAK! dan garam beriodium juga diperoleh dari anak-anaknya yang bersekolah di sekolah tersebut.
Sikap Keluarga
Sikap keluarga terhadap kejadian GAK! dan perlakuan terbadap penggunaan
garam beriodiwn adalah mengenai penilaian contoh terhadap respon positif atau
negatif terhadap pemyataan-pemyataan yang mencakup akibat kekurangan iodium, penanganan GAK!, dan penanggulangan GAK!. Di daerah yang mendapat Program Social Enforcement UNICEF sebagian besar (64.3%) contoh bersikap positif dan 56.7% contoh bersikap positif di daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah. Sedangkan di
daerah
yang tidak diintervensi sehagai pembanding yang bersikap positif bonya 53.3%. Sementara basil skoring (Lampiran 6) menunjukkan bahwa rata-rata skor sikap di daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah adalah 1.89 (sikap positifisetuju), lebih tinggi dibandingkan dengan di daerah yang mendapat prognun Social Enforcement UNICEF yangbanya 1.84. Sedangkan di daerah yang tidak diintervensi rata-rata skor sikap agak tinggi yaitu 1.87.
Hasil uji statistik t-test (Lampiran 8) menunjnkkan bahwa sikap keluarga terhadap kejadian GAKI dan perlakuan terhadap penggunaan garam beriodium antara daerah yang mendapat Social Enforcement UNICEF dengan Intervensi Pemerintah berbeda sangat nyata p<0.01.
Dari 20 pemyataan (Lampiran 6) yang diajukan terdapat dua pemyataan yang ditanggapi negatif (tidak seluju) oleh contoh yaitu pemyataan tentang setiap orang menggunakan garam beriodiurn sesukanya, di mana di daerah yang mendapat pmgram Social Enforcement UNICEF terdapat sebanyak 64.3% menyatakan setuju sedangkan sisanya 35.7% menyatakan tidak setuju, sedangkan di daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah yang menyatakan setuju 53.3% dan 46.7% menyatakan tidak setuju. Menumt Dep Kes RI (1999) menyatakan bahwa setiap orang dianjurkan mengkonsumsi garam beriodium sekitar 6 gram atau satu sendok tch setiap hari berarti sikap contoh
tidak
sesuai dengan ketentuan yang benar.Pemyataan ke dua yang ditanggapi negatifltidak setuju oleh contoh adalah pemyataan tentang dikenakannya dendalhukuman kepada pedagang yang menjual garam konsumsi tanpa iodium. Dimana di daerab yang mendapat program Social Enforcement UNICEF sebanyak 54.3% contoh yang menyetujui, sedangkan di daerab yang mendapat Intervensi Pemerintah dan daerab yang tidak diintervensi banya 50.0% contoh yang menyetujui dikenakannya dendalhukuman bagi pedagang yang menjual garam konsumsi yang tidak mengandung iodium (Lampiran 6).
Perilaku Keluarg.
Perilaku keluarga terbadap kejadian GAKI dan perlakuan terhadap penggunaan garam beriodium dalam hal ini diamati dari kebiasaan, tindakan, cara penyimpanan dan penggunaan garam beriodium. Pada Tabel 5 dapat dilibat bahwa rata-rata skor kebiasaan keluarga terhadap GAKI dan garam beriodium di daerab yang mendapat program Social Enforcement UNICEF adalah 3.10, di daerab Intervensi Pemerintah 3.06 dan di daerab yang tidak diintervensi adalah 3.05
(Lampiran 7). Artinya kebiasaan keluarga di ke tiga daerah tersebut agak sesuai harapan (cenderung mendekati barapan).
Kebiasaan contoh teIhadap kejadian GAKI dan perlakuan terhadap penggunaan garam beriodium di ketiga daerah penelitian sebagian besar termasuk kategori sedang yaitu 64.3% di daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF, 63.3% di daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah dan 90.0% di daerah yang tidak diintervensi (Tabel 5). Berdasarkan hasil uji statistik
t-test (Lampiran 8), menunjukkan bahwa kebiasaan keluarga terhadap kejadian GAKI dan perlakuan terhadap penggunaan garam beriodium antara daerah yang mendapat
program
Social Enforcement UNICEF dengan Intervensi Pemerintah tidak berbeda nyata (p>O.05). Hal ini berarti bahwa kebiasaan keluarga terhadap kejadian GAKI dan perlakuan terhadap penggunaan gararn beriodium antara daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF dan Intervensi Pemerintah tidak beIbeda. Narnun ada kecenderungan perbaikan apabila aspek kebiasaan ini mendapatkan perhatian yaitu dengan lebih ditingkatkan lagi frekuensi penyuluhan-penyuluhan oleh Puskesmas kepada seluruh keluargaTindakan keluarga terhadap kejadian GAKI dan perlakuan terhadap penggunaan gararn beriodium di daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF mempunyai rata-rata skor 3.20 (tindakan agak sesuai barapan), di daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah adaIah 3.40 (tindakan sudah mengarah pada kesesuaian barapan), dan di daerah yang tidak diintervensi 3.13 (tindakan agak sesuai harapan) (Lampiran 5). Berdasakan basil uji statistik
t-test (Lampiran 8) menunjukkan bahwa tindakan keluarga terhadap GAKI dan garam beriodium antara daerah yang mendapat program Social Enforcement
UNICEF dengan daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah tidak berbeda nyata (p>O.05). Tindakan ini merupakan suatu perilaku keluarga dimana keluarga ini sudah mendapat pengetahuan dan penyuluhan dan mempunyai sikap positip sehingga keluarga bertindak mengarah pada agak kesesuaian harapan terhadap kejadianGAKI dan perlakuan terhadap penggunaan gararn beriodium, dan hal ini seperti ditunjukkan di daerah yang mendapat program Social Enforcement
UNICEF dan daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah mempunyai tindakan terhadap kejadiar. GAKI dan perlakuan terhadap penggunaan garam beriodium
relatif sama. Hal ini dikemukakan pula oleh Fishbein dan Ajzen (1975) yang menyatakan bahwa adanya pengetahuan tentang suatu hal akan rnenyebabkan orang tersebut mempunyai sikap positip, kemudian akan mempengaruhi niatnya untuk ikut serta dalam suatu kegiatan yang akan diwujudkan dalam suatu bentuk tindakan.
cara
penytmpanan garam yang benar adaIah seeara tertutup, untuk menghindari penguapan iodium yang ada dalam garam. Pada umumnya contoh sudab rnenyirnpan garam dengan benar yaitu dengan wadah tertutup seperti ytmg ditunjukkan oleh rata-rata skor 0.93 di daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF, 1.00 di daerah yang mendapat lntervensi Pemerintah dan 0.93 di daerah ytmg tidak diintervensi. (Tabel 5). Warna tempat wadab untuk menyinipan garam sebagian besar conloh menggunakan warna tempat garam yang terangibening dimana berdasarkan rata-rata skor di daerah yang mendapat program Social Enforcement adalah sebesar 0.07, di daerah yang mendapat Intervensi pemerintah O. I dan di daerah ytmg tidak diintervensi sebesar 0.13 (Tahel 5) termasuk salah. Menurut basil penelitian Samuel (1994) dan !rawali (1993) menyatakan bahwa kemasan plaslik bening akan menyebabkan kehilangan iodium ytmg terbanyak dibandingkan dengan kernasan berwama. Sedangkanbahan
wadah ytmg digunakan contoh di daerah penelilian pada umumnya termasuk kua1itas haik (Tabel 5) dan pada umumnya contoh menyimpan garam ditempat yang sejuk atau jauh dari perapian dengan rata-rata skor di daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF sebesar 1.89, di daerah yang mendapat lntervensi pernerintah 2.0 dan di daerah yang tidak diintervensi 1.93, termasuk sesuai harapan.HasiI uji statistik t-test (Lampiran 8) menunjukkan bahwa cara penyimpanan
garam beriodium antara daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF dengan daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah tidak berbeda nyata (p>O.05). Berarti eara penyimpanan garam di antara ke dua daerah penelitian relatif sama, dimana pada kedua daerah tersebut pada umumnya bentuk wadab penyimpanan garam yang dimiIiki contoh dengan wadah tertutup, bahan yang digunakan untuk menyimpan garam umtimnya terbuat dari plaslik, wama
tempat wadah untuk menyimpan garam adalah teranglbening dan keluarga contoh
pada umumnya menyimpan garam di meja.
Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa rata-rata skor penggonaan garam
beriodium dengan kandungan iodium " 30 ppm di daerah yang mendapat program
Social Enforcement UNICEF adalah 1.60, di daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah yang meneapai 1.90 sedangkan di daerah yang tidak diintervensi sebesar 1.87. Berarti penggunaan garam beriodium yang memenuhi persyaratan di daerah Intervensi Pemerintah sedikit lebih baik dibandingkan dengan di daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF dan yang tidak: diintervensi.
Dimana sebanyak 90.0% keluarga contoh di daerah yang mendapat Intervensi
Pemerintah sudah menggunakan garam beriodium memenuhi persyaratan
(kandungan iodium " 30 ppm, sedangkan di daerah yang mendapat program
Social Enforcement UNICEF banya sebanyak 70.0% eontoh menggonakan garam
beriodium dengan kandungan iodium " 30 ppm. Berdasarkan rata-rata skor frekuensi pemakaian garam beriodiurn di daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF dan di daerah yang mendapat Intervensi pemerintah adalah 1.53 dan 1.57 tennasnk 3-4 kalilhari. Sedangkan di daerah yang tidak diintervensi rata-rata skor pemakaian garam beriodium adalah 1.27 termasnk 1-2 kalilhari.
Berdasarkan basil uji statistik t-test (Lampiran 8) menunjnkkan bahwa
penggunaan garam beriodium antara daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF dengan daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah berbeda nyata (p<O.05). Hal ini di duga karena hampir 90% keluarga contoh di daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah menggonakan garam konsumsi dengan kandungan iodium " 30 ppm, sedangkan di daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF keluarga eontoh yang menggonakan garam
konsumsi dengan kandungan iodium" 30 ppm hanya 70% (Tabel 6). Selain itu
ada keluarga contoh di daerah yang menclapat program Social Enforcement UNICEF yang menggunakan garam konsumsi yang tidak mengandung iodium yaitu sebanyak 8.6%, sedangkan di daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah tidak ada keluarga eontoh yang menggunakan garam tidak beriodiurn. Bila dilihat dari frekuensi penggunaan garam beriodium temyata di daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF terdapat 57.1% keluarga contoh
memakai garam iodium sebanyak 3-4 kali se hari, sedangkan keluarga eontoh di
daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah yang memakai garam beriodium 3-4
kali se hari sebesar 56.7% (Tabel 5).
Bila dilihat dari perilaku keluarga secara keseluruhan yaitu dari indikator
kebiasaan, tindakan, cara penyimpanan dan penggunaan garam beriodium temyata dari basil statistik f-fest (lampiran 8), menunjukkan bahwa perilaku keluarga terhadap kejadian GAK! dim perlakuan terhadap penggunaan garam beriodium
antara daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF dengan
daerab yang mendapat Intervensi Pemerintah tidak berbeda nyata (p>O.05), karena berdasar basil uji beda rata-rata f-fest (Lampiran 8) kebiasaan, tindakan, dim penyimpanan garam beriodium antara daerab yang mendapat program Social Enforcement UNICEF dengan daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah tidak
berbeda nyata hanya penggunaan garam beriodium saja yang berbeda nyata. Hal inilah yang menyebabkan dari hasil uji statistik menunjukkan perlakuan antara daerab yang mendapat program Social Enforcement dengan daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah tidak berbeda nyata (p>O.05). Berarti dapat disimpulkan bahwa perilaku keluarga terhadap kejadian GAK! dim perlakuan pengiunaan garam beriodium antara daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF dengan daerah yang mendapat intervensi Pemerintah relatif sarna
Tingkat Penggunaan Garam Beriodium Di Daerah Penelitian
Ketersediaan Garam beriodium
Ketersediaan garam beriodium di pasar adaIah menentukan tersedia tidaknya garam beriodium pada tempat-tempat penjualan barang kebutuhan sehan-han seperti warung atau toko yang ada di lokasi penelitian. Namun ketersediaan garam beriodium dengan kandungan iodium yang memenuhi persyaratan (;0, 30 ppm) yang beredar di pasar tergantung pula oleh produsen yang
memproduksi garam tersebut. Bila ada sejumlah produsen memproduksi garam
dengan kualitas rendah atau garam dengan kandungan iodium < 30 ppm maka distributor dan pengeeer akan mengedarkan garam dengan kualitas rendah
Kandungan iodium dalam garam diketahui melalui test kandungan iodium pada garam konsumsi dengan Iodium Test buatan PT. Kimia Farma.
Garam konsumsi yang tersedia
di
daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF, Intervensi Pemerintahdan
daerah tidak diintervensi, dapat dilihat pada Lampiran 4.Pada daerab yang mendapat program Social Enforcement UNICEF merek garam konsumsi banyak beredar di warung dan pasar (pasar Palabuban Ratu) ada yang mengandung iodium 2: 30 ppm, dan < 30 ppm, seperti yang terlihat pada Lampiran 4. Apabila kita kaji lebih mendalam seharusnya daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF tidak akan ada garam yang dijual di warung dengan kandungan iodium < 30 ppm, dan ini ada pada garam-garam dengan merek tertentu seperti dari hasil penelitian merek garam yang mengandung iodium < 30 ppm diantaranya adalab 8.38 (bata), Sinar Berlian (bata), Sari Buana (bata), Super Special Sinar Bintang (bata), dan Sari Laut (bata) sedangkan merek-merek garam dengan kandungan iodium 2: 30 ppm diantaranya adalab Segi Tiga "G" (halus kemasan), RJS (halus kemasan), RJS (bata), Sinar Berlian (halus kemasan), 8.38 (halus kemasan), Cap Jempol (halus kemasan), "Anak Sehat" (halus kemasan), Cap Gerobak (bata), Cap Gerobak (halus kemasan), Dua Sarjana (halus kemasan), Cap Bintang (halus kemasan), Relina (halus kemasan), Anak Terbang (halus kemasan) dan Cap Karya Anak Nelayan (halus kemasan).
Sebenarnya program Social Enforcement UNICEF dilaksanakan dengan tujuan agar supaya satu-satunya gararn konsumsi rumab tangga yang tersedia di pasar/warung secara memadai adalab yang beriodium dengan kandungan iodium yang cukup (2: 30 ppm) dan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (Dep Kes RI, 2002). Namun pada kenyalaarmya di daerab yang mendapat program Social Enforcement UNICEF dan basil penelitian masih ada yang menggunakan garam dengan kandungan iodium <30 ppm sebanyak 21.43% dan 8.57% dari contoh yang menggunakan garam yang tidak beriodium. Bila kita amati
dari
kerangka operasional Social Enforcement apa yang akan dicapai oleh program ini belum tercapai yaitu garam konsumsi rumahtangga
yang tersedia hanya garam beriodium.Temyata dari hasil pengamatan dilapang ada beberapa bal yang menjadi kendala diantaranya adalah:
a. Belum dilakukannya boikot publik pada produsen, distributor dan
pengecer apabila norma-norma tersebut tidak
dipatuhi.
Boikot publik itubisa berupa tindakan kita untuk tidak rnembeli garam beriodium dengan kualitas rendah
«
30 ppm atau tidak mengandung iodium).b. Tidak adanya advokasi (tekanan sosial) dari elemen penggerak masyarakat (PKK, LSM, Organisasi Masy~t dan Sekolah) terhadap Regulator (pernerintah, DPR) sebagai pihak-pihak yang terlibat langsung dalam pembuatan keputusan dan pelaksanaan mengenai aturan yang mendukung
tujuan Social Enforcement garam konswnsi yakni garam konsumsi yang
tmedia hanya garam beriodium kualitas cnkup dan pihak-pihak terlibat langsung dalarn kegiatan ekonomi garam konsumsi (produsen, distributor dan pengecer gararn konsumsi).
c. Setelah program Social Enforcement UNICEF ini selesai maka tidak:
dilakukan lagi penyortiran terhadap gararn yang tidak memenuhi persyaratan yang dijual di warung dan tidak adanya sangsi atau denda . terhadap warung tersebut yang seharusnya dilakukan oleb team pelaksana
program.
Hal inilah yang menyebabkan masib adanya garam konsumsi dengan kualitas rendah beredar dan tersedia di warung dan pasar.
Sedangkan ketersediaan garam beriodium di warung dan pasar di daerah
yang mendapat Intervensi Pemerintah dan yang
tidak
mendapat intervensi pada umumnya hampir sama seperti yang terlihat pada Larnpiran 4. Hal ini disebahkan karena ke dua daerah lokasi penelilian ini pasar yang terdekatnya sarna yaitu pasar Cisaal dan garam yang dijual di pasar Cisaal tidak banyak macarnnya. Gararn yang dijual dipasar dengan kandungan iodium 2: 30 ppm adalah dengan merek Cap Bintang (balus kemasan), RJS (balus kemasan), RJS (hata), Dua SlIljana (halus kemasan), Refina (balus kemasan), dan Anak Sehal (balus kernasan). Sedangkan garam dengan kandungan iodium < 30 ppm yang ada di pasar Cisaal diantaranya Super Spesial Sinar Bintang (bata), B.38 (bata), Cap Bintang (bata), dan garam curai. Kemungkinan bila di warung/pasar lersedia garam denganberbagai merek dengan kadar iodium yang belum teotu memenuhi standar memungkinkan contoh bingung untuk memilih garam mana yang .kan dibeli apalagi mereka belum mengetahui garam mana yang memang benar-benar kandungan iodium sudah memenuhi persyaratan. Hal inilab yang menyebabkan masih adanya contoh yang menggunakan garam dengan kandungan iodium < 30 ppm. Ketersediaan garam yang memenuhi persyaratan yang tersedia di warunglpasar inilab yang mempengaruhi contoh untuk membeli garam konsumsi. Penggunaan Garam Beriodium
Tingkat penggunaan garam beriodium oleh keluarga contoh diukur dari jenis garam yang digunakan dan frekuensi penggunaan garam beriodiurn dalam sehari.
Pada Tabel 6 dapat dilihat babwa seeara keseluruhan ada 78.5% keluarga telab menggunakan gararn konsurnsi dengan kandungan iodium 2: 30 ppm (memenuhi syarat) dan 21.5% keluarga menggunakan garam dengan kandungan iodium < 30 ppm (tidal: memenuhi syarat). Hal ini te~adi perbaikan bila dibandingkan dengan basil Survei Garam lodium pada tahun 2000 dimana rurnab tangga di Kabupaten Sukabumi yang mengkonsumsi garam mengandung cukup iodium (2: 30 ppm) banya sebesar 56.2% dan yang mengkonsurnsi garam dengan kandungan iodium < 30 ppm sebanyal: 43.8%.
Sebaran tingkat peoggunaan garam konsurnsi dan frekuensi penggunaan garam beriodium berdasarkan
daerab
dengan jenis intervensi dan yang tidal: diintervensi dapa! dilihat pada Tabe16.Tabel 6 Sebaran Contoh Berdasarkan Jenis Garam Konsumsi yang Digunakan dan Frekuensi Pemakaian Garam Beriodium dalarn Sehari dan Jenis Intervensi
Jenis Intervensi Jumlab
VARIABEL Social Intervensi Tidak
Enforconen1 Pemerintah Dintervmsi
n
I
% n % n % n % Jenis Garam Iodium> 30 porn 49 70.0 27 90.0 26 86.7 102 78.5 Iodiurn < 30 Dorn 15 21.4 3 10.0 4 13.3 22 16.9 Tidak beriodium 6 8.6-
-
-
-
6 4.6 Iumloh 70 100.0 30 100.0 30 100.0 130 100.0 Frekuensi Pemakaian 3-4 ka1i 40 57.1 17 56.7 8 26.7 65 50.0 1-2 kali 24 34.3 13 43.3 22 73.3 59 45.4 Tklak pernah 6 8.6-
-
-
-
6 4.6 Iumlah 70 100.0 30 100.0 30 100.0 130 100.0Pada Tabel 6 dapat (Iilibat bahwa secara keseluruhan ada 78.5% keluarga telah menggunakan garam konsumsi dengan kandungan iodium 2: 30 ppm (memenuhi syarat) dan 21.5% keluarga menggunakan gararn dengan kandungan iodium < 30 ppm (tidak memenuhi syarat). Hal ini teIjadi perbaikan bila dibandingkan dengan hasil Survei Gararn Iodium pada tahun 2000 diman. rumah tangga di Kahupaten Sukahumi yang mengkonsumsi garam mengandung cukup iodium (~ 30 ppm) hanya sebesar 56.2% dan yang mengkonsumsi gararn dengan kandungan iodium < 30 ppm sebanyak 43.8%. Adany. perbaikan keluarga yang
mengkonsumsi garam beriodium yang memenuhi persyaratan diduga disebabkan
di Desa Cikakak telah mendapat program pemberdayaan masyarakat dalarn mengkonsumsi gararn beriodium (Program Social Enforcement UNICEF) dan di
Desa Kadudampit telah mendapat program inteJVensi dari pemerintah berupa
promosi gararn beriodium berupa penyuluban-penyuluhan.
Keluarga yang menggunakan gararn dengan kandungan iodium cukup
(~ 30 ppm) di daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF banya 70.0%, sedangkan di daerah yang mendap.t Intervensi Pemerintah dan tidak diintervensi lebih tinggi yaitu 90.0% dan 86.7%. Begitujuga dengan penggunaan gararn konsurnsi dengan kandungan iodium < 30 ppm di daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF lebih banyak yaitu sebesar 21.4%, sedangkan di daerah yang mendapat Intervensi pemerintah haoya 10.0% dan 13.3% di daerah yang tidak diintervensi. Bahkan ditemukan sebanyak 8.6% keluarga di daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF menggunakan gararn yang tidak beriodium, sedangkan di daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah dan yang tidak diintervensi tidak ada keluarga contoh yang menggunakan gararn yang tidak beriodium. Hal ini kemungkinan diduga disebahkan karena masih adanya warung yang menjual gararn bata yang tidak mengandung iodium. Biasanya ini teIjadi karena gararn beriodium di warung tersebut tidak tersedia (habis) dan warung belum menyediakannya lagi sehingga mereka terpaksa membeli gararn bata tersebut. Kemungkinan lain yang menyebabkan contoh menggunakan garam yang tidak beriodium ada1ah daya beli rendah, mereka menganggap harg. gararn beriodium lebib maha1 bila dibandingkan dengan harga gararn bata (gararn yang tidak mengandung iodium).
Perlu diketabui harga garam beriodium (memenubi persyaratan >30 ppm) adalah sebesar Rp 500,- per bungkus ukuran 250 gram, sedangkan harga garam bata (tidak beriodium) Rp 100,- per batao Sebenarnya apahila mereka mempunyai
kesadaran yang tinggi
dan
memahami pentingnya konsumsi garam beriodiummak. mereka tidak akan membeli atau menggunakan garam bata yang tidak mengandung iodium. Frekuensi penggunaan garam beriodium oleh keluarga dalam sehari, umumnya 3 sarnpai 4 kali sehari yaitu 50.0 %, dimana 57.1 % pada daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF dan lebih tinggi jika
dibandingkan pada daerah yang mendapat Intervensi pemerintah sebesar 56.7 % dan daerah yang tidak diintervensi yang hanya meneapai 26.7%. Namun persentase keluarga yang menggunakan garam beriodium 1-2 kali sehari justru lebih tinggi di daerah yang tidak diintervensi yaitu 73.3 % sedangkan pada daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF hany.34.3% dan 43.3%
pada keluarga di daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah.
Pelaksanaan program Social Enforcement UNICEF di Desa Cikakak, Kecamatan Cikakak dan di Desa Kadudampit, Kecamatan Kadudampit yang
mendapat program Intervensi Pemerin~ hasil penelitian menunjukkan bahwa program tersebut sudah memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat dimana ini terlihat bahwa keluarga di Desa Cikakak sudah sekitar 70.0% mengkonsumsi
garam beriodium dengan kandungan iodium yang cukup (memenubi persyaratan yaitu ~ 30 ppm) dan di Desa Kadudampit 90.0% keluarga sudah menggunakan
garam beriodium dengan kandungan iodium ~ 30 ppm. Selain itu bila dilihat dari hasil analisa kadar iodium urine anak sekolah SD di daerah penelitian nilai median UIE > 1 00 ~g/l yaitu di daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF 201 ~g/l, di daerah yang mendapat Intervensi Pemerintab 173.5 ~g/l dan di daerah yang tidak diintervensi 231 ~g/l. Berdasarkan WHO (1993) status iodiumnya tidak kekunmgan iodium. Namun perlu di waspadai
karena kadar iodium urinenya eukup (tidak kunmg) maka apahila terus meneros mengkonsumsi garam beriodium dengan kandungan iodium ~ 30 ppm akan ada
kecenderungan meningkat
kadar
iodium urinenya dan ini sangat berbahaya karenadapat menyebabkan hipertiroid yang juga dapat menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid (gondok).
Hubungan Antar Variabel-Variabel Penelitian
Untuk mengetahui hubungan antara karakteristik contoh (umur, tingkat pendidikan, besar keluarga dan tingkat pendapatan kepala keluarga), ketersediaan garam beriodium, kadar iodium urine, pengetahuan, sikap dan perilaku keluarga terhadap kejadian GAKI dan perlakuan terhadap penggunaan garam beriodiurn di daerah yang mendapat program Social Enforcement UNICEF dan di daerah yang mendapat Intervensi Pemerintah di gunakan analisis Korelasi Speannan (Lampiran 12 dan 13).
Daerah yang Mendapat Program Social Enforcement UNICEF
Ada hubungan signifikan negatif pada p<0.01 (r-0.439, p9l.000) antara urnur contoh dengan pendidikan contoh, artiny. semakin bertambah umur contoh mak. semakin rendah pendidikan formalnya.
Ada hubungan signifikan positif pada p<0.05 (FO.259, p9l.031) antara umur dengan besar keluarga. Contoh yang berusi. tua mempunyai jumlah anggota keluarga lebib banyak dibandingkan dengan contoh yang usianya masih muda.
Ada hubungan signifikan positif pada p<0.05 (FO.281, p9l.018) antara pendidikan contoh dengan pengetahuan tentang GAKI dan garam beriodiurn, artinya semakin tinggi pendidikan contoh maka akan semakin baik pengetahuan tentang GAKI dan garam beriodiurn. Mereka yang mempunyai latar belakang pendidikan formal yang lebih tinggi, maka akan lebib mudah menyerap, memahami dan menj.wab pertanyaan yang di.jukan dari pada yang pendidikanny. rendah. Hal ini sejalan dengan pendapat Ashari (1990) yang menyatakan bahwa pengetahuan adalah paharn subyek meogenai obyek yang dihadapi. Pengetahuan di dapatkan individu melalui proses belajar, dan
pengalaman yang kemudian disimpan dalam diri individu.
Berdasarkan basil uji Korelasi Spearman, ada hubungan signifikan negatif pada p<0.01 (r-0.340, p9l.004) antara pendidikan contoh dengan besar keluarga, artinya semakin rendah pendidikan contoh maka jurnlah anggota keluarganya semakin besar.
Ada hubULgan signifikan positif pada p<0.05 (FO.280, p9l.019) antara pendidikan contoh dengan perilaku garam beriodiurn. Semakin tinggi pendidikan
conloh makan akan semakin baik perilaku keluarga terhadap GAK! dan garam beriodium. Hal ini sesuai dengan pendapat Gunarsa dan Gunarsa (1991) yang meny.takan bahwa pendidikan adalah proses yang dilakukan secara s.dar, terus meneros. sistematis dan terarah akan mendorong terjadinya perubahan~perubahan di dalam setiap individu. Keterlib.tan seseorang dalam proses pendidikan .tau tingkat pendidikan yang die.painya akan mempengaruhi dan membentuk eara, pol. dan kerangka berfikir, persepsi, pemahaman, dan kepribadian. Berdasar basil penelitian Pranadji (1988) menyatakan bahwa pendidikan berhubungan positif dengan perilaku. Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu maka akan semakin baik pula perilaku konsumsi pangan keluarg •.
Ada hubungan signifikan negatif pada p<0.05 (r--0.264, jrO.027) antara besar keluarga dengan pengetahuan tentang GAK! dan garam beriodium, artinya semakin besar jumlah anggota keluarg. maka pengetahuan tentang GAK! dan
garam beriodium semakin kurang. Hal ini diduga pada umuntnya yang jumlah anggota keluarganya besar adalah contoh yang berumllr tua dan mempunyai pendidikan rendah. Sedangkan pendidikan eontoh berhubungan nyata positif dengan pengetahuan tentang GAK! dan garam beriodium.
Berdasarkan basil uji Korelasi Spearman ada hubungan signifikan negatif pada p<0.01 (r-O.403, jrO.OOl) antara besar kel=ga dengan perilaku garam
beriodium. Semakin besar jumlah anggota keluarga maka perilaku keluarga terhadap GAK! dan garam beriodium semakin kurang. Adapun jenis perilakunya adalah tindakan dan kebiasaan dimana berdasar hasil uji Korelasi Spearman ada hubungan signifikan negatif pada p<0.01 (r-O.349, jrO.OO3) antara besar keluarga deogan tindakan terhadap GAK! dan garam beriodium, arrinya semakin besar jumlah anggota keluarga maka tindakan terhadap GAK! dan garam beriodium semakin
tidak
baiklkurang dan ada hubungan signifIkan negatif (p<O.OI) antara besar keluarga dengan kebiasaan terhadap GAK! dan garam beriodium, artinya semakin besar jumlah anggota keluarga maka sernakin tidak baik kebiasaan keluarga terhadap GAK! dan garam beriodium.Ada hubungan signifikan positif pada p<O.05 (FO.266, jrO.026) antara kebiasaan lerhadap GAK! dan garam beriodium dengan pendidikan conloh, artinya semakin tinggi pendidikan contoh maka semakin baik kebiasaan keluarga
terhadap GAKI dan garam beriodium, hal ini diduga karena deogan pendidikan formal contoh yang tinggi maka ada kemungkinan contoh akan mudah menyerap pengetahuan yang diperoleh dari penyuluhan sehingga dipraktekan sehari-hari dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan; seperti kebiasaan menggunakan garam beriodium setiap memasak: atau tetap menggunakan garam beriodium walaupun harga garam beriodium lebih mahal dari pada garam tidak beriodium. Berdasarkan hasil uji Korelasi Spearman temyata ada hubungan signifikan positifpada p<O,OI (FO.355, jrO.003) antara perilaku kebiasaan terhadap GAKI dan garam beriodium dengan ketersediaan garam beriodium, hal ini berarti bahwa kebiasaan keluarga meoggunakan garam beriodium dirumalmya bila memasak karena mereka selalu menyediakan garam beriodium
dan
selalu mencari ditempat lain bila di warung tempat dia membeli tidak ada atau kehabisan garam beriodium.Ada hubungan signifikan positif pada p<O.05 (FO.242, jrO.043) antara tindakan terhadap GAKI dan garam beriodium dengan pendidikan contoh, artinya bahwa dengan semakin tingginya tingkat pendidikan formal contoh maka tindakan keluarga terhadap GAKI dan garam beriodium semakin baik. Begitu juga ada hubungan signifikan positif pada p<O.OI (FO.404, jrO.OOI) antara kebiasaan dengan tindakan, artinya dengan semakin baiknya kebiasaan keluarga terhadap GAKI dan garam beriodium maka tindakan keluarga terhadap GAKI dan garam beriodiumjuga akan bertarobah baik.
Ada hubungan signifikan positif pada p<O.05 (FO.276, jrO.021) antara pendapatan keluarga dengan pengetahuan tentang GAKI dan garam beriodium, artinya semakin tinggi pendapatan keluarga maka pengetahuan tentang GAKI dan garam beriodium semakin baik. Hal ini diduga karena dengan rnempunyai nang maka mereka mempunyai fasilitas seperti radio atau televisi sehingga mereka kemungkinan mendapat informasi tambahan tentang GAKI dan garam beriodium selain dari penyuluban mereka juga memperoleh informasinya dari mendengar di radio atau melihat iklan di televisi.
Ada hubungan signifikan positif pada p<O.OI (FO.494, jrO.OOO) antara pengetahuan tentang GAKI dan garam beriodium dengan sikap terhadap GAKI dan garam beriodium, artinya semakin baik pengetahuan tentang GAKI dan garam beriodium maka sikapnya akan semakin positif terhadap GAKI dan garam