• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISSN : Rizki Cintya Dewi1, Rita Hadi idyastuti2 Abstrak Kata kunci Abstract BHAMADA, JITK,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ISSN : Rizki Cintya Dewi1, Rita Hadi idyastuti2 Abstrak Kata kunci Abstract BHAMADA, JITK,"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Abstrak

Ulkus diabetic merupakan salah satu komplikasi lebih lanjut dari penyakit diabetes mellitus (DM) dan umumnya menimbulkan luka yang membentuk goa atau undermining. Luka undermining ini sangat rentan terhadap timbulnya infeksi sehingga membutuhkan perawatan luka yang intensif dan lebih teliti. Manajemen luka undermining dengan tanda-tanda infeksi ini dapat dilakukan dengan memberikan dressing yang memiliki prinsip

hydro-phobic yaitu dengan sorbact. Sorbact memiliki kemampuan hydrohydro-phobic yang mampu

mengikat bakteri secara efektif dan tanpa efek samping sehingga mampu mengurangi infeksi dan memproduksi jaringan granulasi yang signifikan pada dasar luka. Studi kasus ini dilakukan untuk mengidentifikasi perubahan tanda-tanda infeksi pada luka undermining pada pasien ulkus diabetes mellitus di Rumah Perawatan (RUMAT) luka Cikarang setelah diberikan intervensi pemakaian hydrophobic dressing. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien ulkus DM dengan luka undermining yang menjalani perawatan di RUMAT. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 3 responden yang diambil dengan purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Responden diberikan intervensi

hydrophobic dressing dengan sorbact yang diterapkan selama ± 2 minggu dan dianalisa

perubahan tanda-tanda infeksi pada pertemuan berikutnya. Hasil studi ini menunjukkan bahwa terdapat perubahan tanda-tanda infeksi pada luka undermining setelah pemberian intrvensi

hydrophobic dressing selama ± 2 minggu. Hasil penurunan tanda-tanda infeksi ini di pengaruhi

oleh keaktifan dan keteraturan responden dalam menjalani perawatan luka.

Kata kunci : hydrophobic dressing, luka undermining, tanda infeksi

Abstract

Diabetic ulcer is one further complication of diabetes mellitus (DM) and it is generally caused ulcer that formed caves or undermining. Undermining ulcer is very susceptible to the precipitation of infection and thus require more intensive and thorough wound care. Under-mining ulcer management with this signs of infection can be made by giving a dressing that has a hydrophobic principle is like sorbact. Sorbact has hydrophobic ability that capable of binding bacteria effectively and without any side effects so as to reduce infection and produce significant granulation tissue in the wound bed. This case study aimed to identify changes in the infection signs of undermining ulcer in patients with DM in RUMAT Cikarang after being given hydrophobic dressing intervention. The population of this study were all patients with undermining ulcer undergoing treatment in RUMAT. The samples were 3 respondents which taken by purposive sampling with inclusion and exclusion criteria. Respondents were given hydrophobic dressing intervention with Sorbact applied for ± 2 weeks and then analyzed

PEMAKAIAN HYDROPHOBIC DRESSING TERHADAP

PENURUNAN TANDA-TANDA INFEKSI PADA LUKA

UNDERMINING USING HYDROPHOBIC DRESSING TO

REDUCE INFECTION SIGNS OF UNDERMINING ULCER

Rizki Cintya Dewi1, Rita Hadi idyastuti2

1) Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran UNDIP Semarang 2) Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran UNDIP Semarang

(2)

changes in signs of infection at the next meeting. This study resulted that there are changes of infection signs in undermining ulcer after administration hydrophobic dressing intervention for ± 2 weeks. The decrease of this infection signs were influenced by the activity and the regularity of the respondents during wound treatment.

Keywords: hydrophobic dressing, undermining ulcer, sign of infection

PENDAHULUAN

Luka atau ulkus diabetic adalah ulkus yang umumnya terjadi pada kaki penderita dia-betes mellitus (DM) dan merupakan salah satu komplikasi lebih lanjut dari penyakit DM. DM memiliki berbagai macam komplikasi kronik dan 50 kali lebih mudah mengalami luka kaki diabetic (diabetic foot ulcer) yang sulit untuk sembuh.1 Di Amerika Serikat, penderita kaki

diabetik mendekati angka 2 juta pasien dengan diabetes setiap tahunnya. Sekitar 15% penderita DM di kemudian hari akan mengalami ulkus pada kakinya. Insiden ulkus diabetikum setiap tahunnya adalah 2% di antara semua pasien dengan diabetes dan 5 – 7,5% di antara pasien diabetes dengan neuropati perifer.2 Kenaikan jumlah penderita ulkus

dia-betic di Indonesia tidak tercatat dengan jelas namun dapat terlihat dari kenaikan prevalensi DM. WHO menyebutkan penderita DM pada tahun 2000 berjumlah 8,4 juta jiwa dan diprediksi akan meningkat menjadi 21,3 jiwa pada tahun 2030. Dari angka tersebut dapat diprediksi jumlah pasien yang mengalami ulkus diabetic dengan tingkat resiko 25% mencapai 5,3 juta jiwa.3

Kerusakan jaringan yang terjadi pada ulkus diabetic ini diakibatkan oleh gangguan neurologis (neuropati) dan vaskuler pada tungkai.1 Namun gangguan tersebut tidak

secara langsung menyebabkan ulkus diabetic, melainkan diawali dengan mekanisme penurunan sensasi terhadap nyeri, perubahan bentuk kaki (deformitas), atrofi otot kaki, pembentukan kalus, penurunan ketajaman penglihatan dan penurunan suplai oksigen-nutrisi ke jaringan.4 Perubahan-perubahan

tersebut dapat terjadi dalam jangka waktu ± 15 tahun bila kondisi hiperglikemia tidak

terkontrol dan membuat kaki lebih mudah terkena trauma eksternal.5 Ulkus diabetic ini

juga umumnya menimbulkan luka yang membentuk goa atau disebut luka undermin-ing. Seperti halnya luka pada umumnya, luka undermining juga sangat rentan pada terjadinya infeksi yang akan memperburuk kondisi luka jika hiperglikemi pasien tidak terkontrol sehingga membutuhkan perawatan luka yang lebih intensif dan teliti. Salah satu manajemen luka undermining dengan infeksi adalah dengan menggunakan dressing yang memiliki prinsip hydrophobic.

Hydrophobic dressing merupakan alter-native yang non-alergi dan non-toksik untuk mengurangi laju microbial pada luka terbuka tanpa meningkatkan penyebaran nosocomial dan dapat mengurangi penggunaan antibiotic. Dengan kemampuan hidrofobik yang mampu mengikat bakteri dan jamur dapat mengurangi infeksi pada luka secara efektif.6 Salah satu

dressing yang memiliki kemampuan hidrofobik adalah sorbact. Metode sorbact merupakan suatu mekanisme interaksi yang unik untuk mengikat dan meng-inaktifkan bakteri dan jamur pada luka melalui interaksi hidrofobik tanpa menggunakan zat antiseptik atau antibi-otic apapun. Sorbact dilapisi oleh DACC (dialkycarbamoylchloride) yang bersifat hidrofobik. Mayoritas mikroorganisme bersifat hidrofobik. Interaksi hidrofobik merupakan prinsip fisika dasar dimana saat dua partikel hidrofobik (menolak air) mengalami kontak dengan lingkungan yang aqueous, mereka akan berikatan satu sama lain dengan bantuan molekul air disekitarnya yang menyatukan mereka bersama.7 Penelitian oleh Martin T

tentang penggunaan Cutimed Sorbact dalam manajemen luka ulkus kaki diabetic menyebutkan bahwa cutimed sorbact mampu

(3)

mengikat bakteri dengan efektif dan aman serta tidak menimbulkan alergi.8 Penelitian lain oleh

A.Ljungh et.al menemukan bahwa dari lima pasien yang tidak dapat diberikan pengobatan antibiotic sistemik karena gangguan ginjal, maka metode yang tepat dan efektif adalah menggunakan hydrophobic dressing.2

Penelitian lebih lanjut oleh A.Johansson et.al menyimpulkan bahwa treatmen dengan hydro-phobic dressing dapat menjadi alternative treatmen yang bermakna untuk infeksi jamur pada ulkus kaki diabetic.9 Malin M. et.al juga

menyimpulkan bahwa sorbact merupakan al-ternative yang menarik dalam mengikat bakteri dan jamur pada luka dengan tekanan negative dan memproduksi jaringan granulasi yang signifikan pada dasar luka.10

METODE PENELITIAN

Desain studi yang digunakan yaitu studi kasus, dimana intervensi diberikan untuk luka undermining pada pasien-pasien dengan ulkus DM yang menjalani perawatan luka di RUMAT Cikarang. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien diabetes mellitus yang menjalani perawatan di RUMAT Cikarang dengan luka undermining dan dalam fase infeksi. Sampel yang diambil mengunakan metode purposive sampling disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah pasien RUMAT Cikarang yang mengalami diabetes melitus dengan luka undermining dan ditemukan tanda-tanda infeksi. Kriteria ekslusi adalah pasien yang drop out dari perawatan di RUMAT, pasien yang sudah sembuh sehingga tidak lagi menjalani kontrol dan pasien

baru dengan luka undermining yang tidak bisa menjalani treatment pemberian hydrophobic dressing selama 2 minggu. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 3 responden. Variabel bebas atau variable independent di dalam penelitian ini adalah hydrophobic dressing pada luka undermining penderita diabetes melitus. Variabel terikat atau variable depen-dent dalam penelitian ini adalah perubahan tanda-tanda infeksi setelah penerapan pemakaian hydrophobic dressing pada luka undermining yang diukur melalui observasi atau inspeksi visual dengan mengkategorikan dalam 4 skala yaitu deteriorated (memburuk), tidak berubah (<50% berkurang dari luas luka), meningkat ( > 50% berkurang dari luas luka) dan sembuh. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui tahap pengkajian yaitu dengan cara mengkaji tanda-tanda infeksi sebelum intervensi, tahap intervensi yaitu dengan memberikan intervensi hydrophobic dressing pada luka undermining dan tahap evaluasi dengan mengevaluasi hasil setelah pemakaian hydrophobic dressing. Data yang dianalisa adalah data perubahan tanda-tanda infeksi sebelum tindakan dan data perubahan tanda-tanda infeksi setelah intervensi. Data perubahan tanda-tanda infeksi pada luka un-dermining responden didokumentasikan dalam lembar observasi. Data yang terkumpul kemudian dibandingkan dengan foto perkembangan luka pasien.

HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian dapat dilihat pada tabel observasi sebagai berikut:

(4)

Tabel 1. Recall perubahan tanda-tanda infeksi dan gambaran perkembangan luka Tn.R

Recall perubahan tanda-tanda infeksi

dan gambaran perkembangan luka selama 2 minggu Pertemuan ke-1

( 17 Mei 2013) Pertemuan ke-2 ( 20 Mei 2013) Pertemuan ke-3 ( 22 Mei 2013) Pertemuan ke-5 (29 Mei 2013)

Gb.1a Gb.1b Gb.1c Gb.1d Tanda-tanda infeksi: Rubor: (+) Kalor: (+) Dolor: (+) Tumor: (+) Purulensi: (+), banyak, purulent, bau ringan. Tanda-tanda infeksi: Rubor: (+) Kalor: (+) Dolor: (+) Tumor: (+) Purulensi: (+), banyak, purulent, bau ringan. Tanda-tanda infeksi: Rubor: (+) Kalor: (+) Dolor: (-) Tumor: (+) Purulensi: (+), sedang, purulent, bau ringan. Tanda-tanda infeksi: Rubor: (+) Kalor: (+) Dolor: (-) Tumor: (+) Purulensi: (+), sedang, purulent, bau ringan.

*Interpretasi: Tidak berubah ( <50% berkurang dari luas luka)

luka dimana hal tersebut menjadi tanda-tanda adanya infeksi lokal dan sistemik. Intervensi pemberian hydrophobic dressing dengan sorbact diterapkan selama ± 5 kali perawatan tampak mengalami beberapa penurunan tanda-tanda infeksi. Tn.R mengatakan kakinya terasa lebih ringan dan sudah mampu berjalan secara mandiri tanpa menggunakan alat bantu. Tn.R juga mengatakan lukanya sudah tidak terasa nyeri dan tidak mengalami demam setelah perawatan luka, namun area sekitar luka masih terasa hangat yang menandakan masih ada infeksi local. Perubahan yang tampak signifikan yaitu tampak pada jumlah eksudat yang semula jumlahnya banyak, purulent dan bau sedang menjadi jumlah eksudat sedang sehingga intervensi pemberian hydrophobic dressing dengan sorbact tetap dilanjutkan sampai tanda-tanda infeksi menurun atau hilang. Kasus Tn.R (40 tahun) dengan 12 luka

undermining pada punggung kaki kiri, under-mining terbesar di jam 13.00 s.d 19.00 paling panjang di jam 13.00 dengan kedalaman 1 cm Kasus luka Tn.R (40 tahun) merupakan luka yang masih dalam fase akut. Perkembangan luka pada kasus Tn.R ini tidak mengalami perkembangan yang signifikan yaitu hanya mengalami penurunan tanda-tanda infeksi <50% dari luas luka. Setelah pemberian intervensi hydrophobic dressing dengan sorbact pertama kalinya, Tn.R mengatakan lukanya masih mengeluarkan banyak eksudat sehingga kunjungan perawatan luka dijadwalkan setiap 2 hari sekali dengan pertimbangan pada jumlah eksudat. Tn.R juga mengatakan kaki yang terdapat luka yang bengkak dan terasa berat untuk berjalan sehingga cara berjalan menggunakan kursi roda atau cruck, area sekitar luka terasa hangat dan Tn.R mengaku mengalami demam setiap selesai perawatan

(5)

Tabel 2. Recall perubahan tanda-tanda infeksi dan gambaran perkembangan luka Tn.A

Recall perubahan tanda-tanda infeksi dan gambaran perkembangan luka selama 2 minggu Pertemuan ke-1 ( 17 Mei 2013) Pertemuan ke-3 ( 24 Mei 2013) Pertemuan ke-4 ( 28 Mei 2013) Pertemuan ke-5 (31 Mei 2013) Gb.2a Gb.2b Gb.2c Gb.3d Tanda-tanda infeksi: Rubor: (+) Kalor: (+) Dolor: (+) Tumor: (+) Purulensi: (+), purulent, sedang, bau tidak ada. Tanda-tanda infeksi: Rubor: (+) Kalor: (-) Dolor: (-) Tumor: (+) Purulensi: (-), hemoserosa, minimal, bau tidak ada.

Tanda-tanda infeksi: Rubor: (+) Kalor: (-) Dolor: (-) Tumor: (+) Purulensi: (-), serous, moist, bau tidak ada. Tanda-tanda infeksi: Rubor: (+) Kalor: (-) Dolor: (-) Tumor: (+) Purulensi: (-), serous, moist, bau tidak ada.

*Interpretasi: Meningkat ( >50% berkurang dari luas luka) perlahan-lahan. Intervensi pemberian hydro-phobic dressing dengan sorbact diterapkan selama ± 5 kali perawatan tampak mengalami beberapa penurunan tanda-tanda infeksi. Tn.A mengatakan lukanya sudah tidak terasa nyeri dan area sekitar luka sudah tidak terasa hangat. Perubahan yang signifikan tampak pada kedalaman undermining yang sudah berkurang menjadi ± 1 cm. Selain itu, tipe eksudat yang berubah dari purulent menjadi serous mengindikasikan terjadi penurunan tanda-tanda infeksi dan jumlah eksudat yang sudah moist. Atas dasar perkembangan luka yang meningkat dan tanda-tanda infeksi yang mengalami penurunan sehingga pemberian intervensi hydrophobic dressing dengan sorbact digantikan dengan salep RPI dan iodosorb untuk mengatasi infeksi dan meningkatkan granulasi pada undermining. Kasus Tn.A (64 tahun) dengan 1 luka

un-dermining pada sela ibu jari dan telunjuk (kaki kanan) di jam 12.00 s.d 14.00 paling panjang di jam 14.00 dengan kedalaman 1 cm.

Kasus luka Tn.A (64 tahun) merupakan luka yang masih dalam fase inflamasi dan infeksi. Perkembangan luka pada kasus Tn.A ini mengalami perkembangan yang signifikan atau meningkat yaitu > 50% tanda-tanda infeksi berkurang dari luas luka. Sebelum diberikan intervensi hydrophobic dressing dengan sorbact luka undermining Tn.A tampak mengeluarkan eksudat dalam jumlah banyak, namun setelah rentang empat hari pemberian intervensi sorbact ternyata jumlah eksudat berkurang menjadi jumlah sedang dan area sekitar luka yang awalnya hypermoist sudah menjadi moist. Tn.A mengatakan lukanya tidak terasa nyeri, tidak mengalami demam selama mengalami luka tersebut, namun area sekitar luka undermining terasa lebih hangat yang mengindikasikan adanya infeksi local. Tn.A tampak mampu berjalan secara mandiri secara

(6)

Tabel 3. Recall perubahan tanda-tanda infeksi dan gambaran perkembangan luka Tn.K. Tn.K (45 tahun) dengan 1 luka undermining pada kaki kiri di jam 13.00 s.d 15.00 paling panjang di jam 13.00 dengan kedalaman 0,5 cm.

Recall perubahan tanda-tanda infeksi

dan gambaran perkembangan luka selama 2 minggu Pertemuan ke-1 ( 21 Mei 2013) Pertemuan ke-2 ( 24 Mei 2013) Pertemuan ke-3 ( 31 Mei 2013) Pertemuan ke-4 ( 3 Juni 2013) Gb.3a Gb3b Gb.3c Gb.3d Tanda-tanda infeksi: Rubor: (+) Kalor: (+) Dolor: (+) Tumor: (+) Purulensi: (+),

purulent, sedang, bau tidak ada. Tanda-tanda infeksi: Rubor: (+) Kalor: (-) Dolor: (+) Tumor: (+) Purulensi: (+),

purulent, sedang, bau tidak ada. Tanda-tanda infeksi: Rubor: (+) Kalor: (+) Dolor: (+) Tumor: (+) Purulensi: (-), bloody,

minimal, bau tidak ada. Tanda-tanda infeksi: Rubor: (+) Kalor: (+) Dolor: (+) Tumor: (+) Purulensi: (-), bloody,

minimal, bau tidak ada.

*Interpretasi: Tidak ada perubahan ( <50% berkurang dari luas luka)

Kasus luka Tn.K (45 tahun) merupakan luka yang masih dalam fase inflamasi dan infeksi. Perkembangan luka pada kasus Tn.K ini tidak mengalami perkembangan yang signifikan atau tidak berubah yaitu hanya < 50% tanda-tanda infeksi berkurang dari luas luka. Sebelum diberikan intervensi hydrophobic dressing dengan sorbact luka undermining Tn.K tampak mengeluarkan eksudat dalam jumlah sedang, namun setelah rentang tiga hari pemberian intervensi sorbact ternyata jumlah eksudat berkurang menjadi jumlah minimal dan tipe eksudat serous serta area sekitar luka moist. Tn.K mengatakan lukanya terasa nyeri, tidak mengalami demam selama mengalami luka tersebut, namun area sekitar luka undermin-ing terasa lebih hangat yang mengindikasikan adanya infeksi local. Tn.K tampak mampu berjalan secara mandiri secara perlahan-lahan. Intervensi pemberian hydrophobic dressing

dengan sorbact diterapkan selama ± 4 kali perawatan tampak mengalami beberapa penurunan tanda-tanda infeksi. Tn.K merupakan salah satu pasien yang tidak mentaati jadwal perawatan luka yang sudah ditentukan dan sering membuka serta merawat lukanya sendiri secara tradisional. Setelah 7 hari dari perawatan sebelumnya, Tn.K datang untuk melakukan perawatan luka dan mengaku telah membuka balutan lukanya serta mengobati luka dengan ramuan dari daun-daunan sehingga luka tampak muncul luka baru dan menjadi infeksi. Namun luka undermining yang telah dilakukan perawatan luka tampak mengalami kemajuan yaitu kedalaman semakin kecil dan hampir menutup serta mengeluarkan serous yang mini-mal dimana mengindikasikan terjadi penurunan tanda-tanda infeksi dan jumlah eksudat yang sudah moist. Atas dasar perkembangan luka undermining yang meningkat dan tanda-tanda

(7)

infeksi yang mulai mengalami penurunan sehingga intervensi pemberian hydrophobic dressing dengan sorbact tetap dilanjutkan sampai tanda-tanda infeksi benar-benar menurun atau hilang.

PEMBAHASAN

Studi kasus penerapan intervensi pemberian hydrophobic dressing dengan sorbact pada luka undermining terhadap perubahan tanda-tanda infeksi pada pasien ulkus diabetic di Rumat Pusat (Cikarang) dilakukan mulai tanggal 17 Mei s.d 31 Mei 2013 didapatkan 3 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Penerapan intervensi ini dilakukan dengan mengamati perubahan tanda-tanda infeksi yang meliputi kalor, dolor, rubor, tumor dan purulensi secara berkelanjutan. Seperti dijelaskan dalam penelitian oleh A.Johansson et.al (2009) yang menunjukkan bahwa sorbact dapat mengatasi infeksi jamur pada ulkus DM.9

Klien 1 merupakan klien dengan beberapa luka undermining yang masih dalam fase akut dan mengalami infeksi. Klien mendapatkan intervensi pemberian hydropho-bic dressing dengan sorbact selama ± 2 minggu. Tanda-tanda infeksi klien saat pengkajian adalah rubor (+), kalor (+), dolor (+), tumor (+), purulensi (+) banyak, purulent, dan bau ringan. Namun setelah diberikan intervensi hydrophobic dressing dengan sorbact pada luka undermining terjadi penurunan tanda-tanda infeksi sebanyak 40% dari luas luka yang meliputi rubor (+), kalor (+), dolor (+), tumor (+), purulensi (-) sedang, bloody, dan bau ringan. Pada klien 1, penurunan tanda-tanda infeksi ini dapat juga disebabkan penggunaan antibiotic pada perawatan luka yaitu irigasi Metronidazole, antibiotic oral dan intake nutrisi yang adekuat. Klien 2 merupakan klien dengan 1 luka undermining di sela antara ibu jari dan telunjuk kaki kanan yan mengalami infeksi. Klien mendapatkan intervensi pemberian

hydropho-bic dressing dengan sorbact selama ± 2 minggu. Tanda-tanda infeksi klien saat pengkajian adalah rubor (+), kalor (+), dolor (+), tumor (+), purulensi (+) sedang, purulent, dan bau tidak ada. Namun setelah diberikan intervensi hydrophobic dressing dengan sorbact pada luka undermining terjadi penurunan tanda-tanda infeksi sebanyak 60% dari luas luka yang meliputi rubor (+), kalor (-), dolor (-(-), tumor (+(-), purulensi (-) serous, moist dan bau tidak ada. Pada klien 2, penurunan tanda-tanda infeksi ini dapat disebabkan karena peran aktif klien yang patuh dan menjalani perawatan luka secara teratur 2 kali/ minggu sehingga pemberian intervensi hy-drophobic dressing dengan sorbact dapat lebih optimal dan memberikan pengaruh yang signifikan.

Klien 3 merupakan klien dengan 1 luka undermining di kaki kiri yang mengalami infeksi. Klien mendapatkan intervensi pemberian hydrophobic dressing dengan sorbact selama ± 2 minggu. Tanda-tanda infeksi klien saat pengkajian adalah rubor (+), kalor (+), dolor (+), tumor (+), purulensi (+) sedang, purulent, dan bau tidak ada. Namun setelah diberikan intervensi hydrophobic dressing dengan sorbact pada luka undermin-ing terjadi penurunan tanda-tanda infeksi sebanyak 20% dari luas luka yang meliputi ru-bor (+), kalor (+), dolor (+), tumor (+), purulensi (-) bloody, minimal dan bau tidak ada. Pada klien 3 hanya terjadi sedikit perubahan tanda-tanda infeksi dimana hal ini disebabkan oleh beberapa factor perancu yang meliputi ketidakpatuhan klien 3 untuk menjalani perawatan luka sesuai jadwal yang seharusnya 2 kali/ minggu. Selain itu, dari hasil wawancara klien 3 mengatakan selama dirumah sering membuka balutan lukanya sendiri dan melakukan perawatan luka tradisional menggunakan jamu-jamuan untuk diolesi pada luka. Hal ini sangat bertentangan dengan konsep modern dressing yang sangat menjaga prinsip kelembaban pada luka, sehingga pemberian

(8)

intervensi hydrophobic dressing dengan sorbact tidak dapat berfungsi dengan optimal dan tidak memberikan pengaruh yang signifikan Pada umumnya, hasil evaluasi dari ketiga pasien ditemukan bahwa terdapat perubahan tanda-tanda infeksi setelah pemberian intervensi hydrophobic dressing dengan sorbact selama ± 2 minggu. Penelitian oleh Martin T et.al (2009) menunjukkan bahwa sorbact mampu mengikat bakteri pada luka ulkus DM dengan efektif, aman dan tidak menimbulkan efek samping.8 Hal ini dibuktikan

oleh ketiga pasien tersebut dimana ketiganya tidak mengalami efek samping apapun selama penggunaan sorbact pada luka undermining. Lebih lanjut penelitian oleh Marlin M, et.al (2012) memaparkan bahwa sorbact selain mampu mengikat bakteri dan jamur pada luka dengan tekanan negative, sorbact juga mampu memproduksi jaringan granulasi yang signifikan pada dasar luka.10 Hal ini juga ditunjukkan oleh

2 pasien dalam penelitian ini yaitu klien 2 dan klien 3 dimana kedalaman undermining berkurang dikarenakan tumbuhnya granulasi pada undermining tersebut.

SIMPULAN DAN SARAN

Terdapat perubahan tanda-tanda infeksi dari intervensi pemberian hydrophobic dress-ing pada luka undermindress-ing pada pasien ulkus DM di Rumat Pusat Cikarang. Perubahan yang meningkat ( > 50% menurun dari luas luka) ditemukan pada 1 pasien dan 2 pasien tidak mengalami perubahan ( < 50% menurun dari luas luka).

Hasil studi kasus ini diharapkan dapat menjadi gambaran dan masukan bagi berbagai pihak yang dapat memanfaatkan hasil ini. Bagi RUMAT, hasil studi kasus ini diharapkan dapat menjadi gambaran referensi penanganan kasus luka infeksi dan manajemen luka undermin-ing pada pasien dengan ulkus DM. Bagi Perawat, khususnya spesialisasi perawatan luka dapat mengaplikasikan dan menjadikan hydro-phobic dressing yaitu sorbact untuk

manajemen luka undermining, untuk mengurangi infeksi, dan memproduksi jaringan granulasi yang signifikan pada dasar luka. Bagi Pasien, diharapkan berpartisipasi aktif dalam mematuhi jadwal perawatan luka sehingga pemberian intervensi dressing lebih optimal dan memberikan pengaruh yang signifikan. DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. (2005). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (8th ed.).

Jakarta: EGC.

Bryant, R. A & Nix, D. P. (2007). Acute and chronic wounds: current management concept (3th ed.). America: Mosby. BSN medical. (2012). Seputar mekanisme

cutimed sorbact. Diakses melalui http:// cutimed-sorbact.com/indonesia.

Foley, L. (2010). Where to the diabetic foot ulcer. 15(2). Diakses melalui http:// awma.com.au/journal/library pada tanggal 24 Mei 2013.

Frykberg, R.G. (2006). The high risk foot in diabetes mellitus. New York: Churcill Liivingstone.

Iversen, M.M., et.al. (2009). The Association between history of diabetic foot ulcer, perceived health and psychological dis-tress: the Nord Trondelag Health Study. Johansson, A, Ljungh, A, Apelqvist, J. (2009).

Open study on the topical treatment of interdigital fungal infections in diabetic patients. Journal of Wound Care Vol.18 No.11, November 2009.

Ljungh, A, Yanagisawa, N, Wadstrum, T. (2006). Using the principle of hydropho-bic interaction to bind and remove wound bacteria. Journal of Wound Care Vol.15 No.4, April 2006, Division of Bacteriol-ogy, Department Laboratory Medicine, Lund University, Lund, Sweden.

Malin, M, Sandra L, Lotta G. (2012). Bacte-ria and fungus binding mesh in negative pressure wound therapy: A review of the biological effect in the wound bed.

(9)

EWMA Journal Vo.12 No.3.

Martin, T. (2009). Cutimed sorbact in manag-ing an infected diabetic foot ulcer. Departement of Foot Health, Brighton General Hospital, Brighton.

Gambar

Tabel 1. Recall perubahan tanda-tanda infeksi dan gambaran perkembangan luka Tn.R
Tabel 2. Recall perubahan tanda-tanda infeksi dan gambaran perkembangan luka Tn.A

Referensi

Dokumen terkait

Pengujian yang dilakukan dalam sistem pakar diagnosis penyakit pada kambing menggunakan metode Dempster Shafer yaitu pengujian validasi kebutuhan fungsional,

Sa paghahanda ng guro ng pagsusulit saan makikita ang lawak ng nilalaman, bilang ng aytem, porsyento ng aytem at uri ng pagsusulit na gagawin.. Banghay

Acarbose yang bersifat sebagai pembanding, nilai energi binding affinity lebih tinggi daripada 4 ligan tersebut, yang berarti 4 ligan sambiloto tersebut memiliki

pelajaran matematika progam IPA SMAN 1 Gedangan. Menganalisis objek penelitian secara kualitatif. Teknik yang digunakan adalah teknik panel. Prosedur teknik panel

Dalam teknik ini penulis melakukan pengumpulan informasi yang berhubungan dengan teori-teori yang ada kaitannya dengan masalah variabel yang diteliti yaitu analisis

Temu bual bersama guru mata pelajaran Pendidikan Moral merujuk kepada sikap dan tingkah laku subjek terhadap pengajaran dan pembelajaran semasa berada di dalam

Pokok Bahasan : Ruang lingkup, Sistem, Peran Dan Fungsi Manajemen SDM Dalam Organisasi Sub Pokok Bahasan : Ruang Lingkup dan Sistem Manajemen SDM (Sesi 2)1. Kegiatan Pembelajaran

menginternalisasi biaya sosial dari aktivitas yang dilakukannya dan tidak memiliki insentif yang cukup untuk memilih tingkat pencegahan optimal sosial, sehingga dalam